Anda di halaman 1dari 53

Edward Lee Thorndike ialah seorang fungsionalis.

Thorndike (1874-1949) mendapat gelar


sarjananya dari Wesleyan University di Connecticut pada tahun 1895, dan master dari Hardvard
pada tahun 1897. Ketika di sana, Thorndike mengikuti kelasnya Williyams James dan mereka
pun menjadi akrab. Thorndike menerima beasiswa di Colombia, dan dapat menyelesaikan gelar
PhD-nya tahun 1898. Kemudian dia tinggal dan mengajar di Colombiaa sampai pensiun tahun
1940. Thorndike berhasil menerbitkan suatu buku yang berjudul Animal intelligence, An
experimental study of associationprocess in Animal. Buku tersebut merupakan hasil penelitian
Thorndike terhadap tingkah beberapa jenis hewan seperti kucing, anjing, dan burung yang
mencerminkan prinsip dasar dari proses belajar yang dianut oleh Thorndike yaitu bahwa dasar
dari belajar (learning) tidak lain sebenarnya adalah asosiasi.
Teori yang dikemukakan Thorndike dikenal dengan teori stimulus-respon (S-R). Dalam teori S-R
dikatakan bahwa dalam proses belajar, pertama kali organisme (hewan, orang) belajar dengan
cara coba salah (trial end error). Apabila suatu organisme berada dalam suatu situasi yang
mengandung masalah, maka organisme itu akan mengeluarkan tingkah laku yang serentak dari
kumpulan tingkah laku yang ada padanya untuk memecahkan masalah itu. Berdasarkan
pengalaman itulah, maka pada saat menghadapi masalah yang serupa, organisme sudah tahu
tingkah laku mana yang harus dikeluarkannya untuk memecahkan masalah. Ia mengasosiasikan
suatu masalah tertentu dengan suatu tingkah laku tertentu. Sebagai contoh seekor kucing yang
dimasukkan dalam kandang yang terkunci akan bergerak, berjalan, meloncat, mencakar, dan
sebagainya sampai suatu ketika secara kebetulan ia menginjak suatu pedal dalam kandang itu
sehingga kandang itu terbuka dan kucing pun bisa keluar. Sejak saat itulah, kucing akan langsung
menginjak pedal kalau ia dimasukkan dalam kandang yang sama.
1. Definisi Belajar Menurut Thorndike
Menurut Thorndike (Budiningsih, 2005: 21) belajar adalah proses interaksi antara
stimulus dan respon. Stimulus yaitu apa saja yang dapat merangsang terjadinya kegiatan belajar
seperti pikiran, perasaan atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan
respon yaitu reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang juga dapat berupa
pikiran, perasaan, atau gerakan/tindakan. Thorndike dalam teori belajarnya mengungkapkan
bahwasanya setiap tingkah laku makhluk hidup itu merupakan hubungan antara stimulus dan
respon, adapun teori Thorndike ini disebut teori konesionisme. Belajar adalah pembentukan
hubungan stimulus dan respon sebanyak-banyaknya. Dengan artian dengan adanya stimulus itu
maka diharapkan timbul respon yang maksimal. Teori ini sering juga disebut dengan teori trial
dan error dalam teori ini orang yang bisa menguasai hubungan stimulus dan respon sebanyakbanyaknya maka dapat dikatakan orang ini merupakan orang yang berhasil dalam belajar.
Adapun cara untuk membentuk hubungan stimulus dan respon ini dilakukan dengan ulanganulangan.
Dalam teori trial dan error ini, berlaku bagi semua organisme dan apabila organisme ini
dihadapkan dengan keadaan atau situasi yang baru maka secara otomatis organisme ini
memberikan respon atau tindakan-tindakan yang bersifat coba-coba atau bisa juga berdasarkan
naluri karena pada dasarnya disetiap stimulus itu pasti ditemui respon. Apabila dalam tindakantindakan yang dilakukan itu menimbulkan perbuatan atau tindakan yang cocok atau memuaskan
maka tindakan ini akan disimpan dalam benak seseorang atau organisme lainnya karena dirasa
diantara tindakan-tindakan yang paling cocok adalah tindakan itu, selama yang telah dilakukan
dalam menanggapi stimulus adalah situasi baru. Jadi dalam teori ini pengulangan-pengulangan
respon atau tindakan dalam menanggapi stimulus atau stimulus baru itu sangat penting sehingga
seseorang atau organisme mampu menemukan tindakan yang tepat dan dilakukan secara terus-

2.
a.
b.
c.
d.
3.
a.

a.
b.
c.

menerus agar lebih tajam dan tidak terjadi kemunduran dalam tindakan atau respon terhadap
stimulus.
Dalam membuktikan teorinya Thorndike melakukan percobaan terhadap seekor kucing
yang lapar dan kucing itu ditaruh di kandang, yang mana kandang tersebut terdapat celah-celah
yang kecil sehingga seekor kucing itu bisa melihat makanan yang berada di luar kandang dan
kandang itu bisa terbuka dengan sendiri apabila seekor kucing tadi menyentuh salah satu jeruji
yang terdapat dalam kandang tersebut. Mula-mula kucing tersebut mengitari kandang beberapa
kali sampai ia menemukan jeruji yang bisa membuka pintu kandang, kucing ini melakukan
respon atau tindakan dengan cara coba-coba, ia tidak mengetahui jalan keluar dari kandang
tersebut, kucing tadi melakukan respon yang sebanyak-banyaknya sehingga menemukan
tindakan yang cocok dalam situasi baru atau stimulus yang ada. Thorndike melakukan percobaan
ini berkali-kali pada kucing yang sama dan situasi yang sama pula. Memang pertama kali kucing
tersebut dalam menemukan jalan keluar memerlukan waktu yang lama dan pastinya mengitari
kandang dengan jumlah yang banyak pula, akan tetapi karena sifat dari setiap organisme itu
selalu memegang tindakan yang cocok dalam menghadapi situasi atau stimulus yang ada, maka
kucing tadi dalam menemukan jeruji yang menyebabkan kucing tadi bisa keluar dari kandang, ia
pegang tindakan ini sehingga kucing ini dapat keluar untuk mendapatkan makanan dan tidak
perlu lagi mengitari kandang karena tindakan ini dirasa tidak cocok. Akan tetapi kucing tadi
langsung memegang jeruji yang menyebabkannya bisa keluar untuk makan.
Ciri-ciri Belajar Menurut Thorndike
Adapun beberapa ciri-ciri belajar menurut Thorndike (Kartika, 2013: 6), antara lain:
Ada motif pendorong aktivitas.
Ada berbagai respon terhadap sesuatu.
Ada eliminasi respon-respon yang gagal atau salah.
Ada kemajuan reksi-reaksi mencapai tujuan dari penelitiannya itu.
Hukum-hukum yang Digunakan Edward Lee Thorndike
Thorndike menyatakan bahwa belajar pada hewan maupun manusia berlangsung
berdasarkan tiga macam hukum pokok belajar, yaitu :
Hukum Kesiapan (Law of Readiness)
Dalam belajar seseorang harus dalam keadaan siap dalam artian seseorang yang belajar
harus dalam keadaan yang baik dan siap, jadi seseorang yang hendak belajar agar dalam
belajarnya menuai keberhasilan maka seseorang dituntut untuk memiliki kesiapan, baik fisik
maupun psikis. Siap fisik seperti seseorang tidak dalam keadaan sakit, yang mana bisa
mengganggu kualitas konsentrasi. Adapun contoh dari siap psikis adalah seperti seseorang yang
jiwanya tidak lagi terganggu, seperti sakit jiwa dan lain-lain. Disamping seseorang harus siap
fisik dan psikis seseorang juga harus siap dalam kematangan dalam penguasaan pengetahuan
serta kecalapan-kecakapan yang mendasarinya.
Menurut Thorndike (Ayuni, 2011: 9) ada tiga keadaan yang menunjukkan berlakunya
hukum ini, yaitu :
Bila pada organisme adanya kesiapan untuk bertindak atau berprilaku, dan bila organisme itu
dapat melakukan kesiapan tersebut, maka organisme akan mengalami kepuasan.
Bila pada organisme ada kesiapan organisme untuk bertindak atau berperilaku, dan organisme
tersebut tidak dapat melaksanakan kesiapan tersebut, maka organisme akan mengalami
kekecewaan.
Bila pada organisme tidak ada persiapan untuk bertindak dan organisme itu dipaksa untuk
melakukannya maka hal tersebut akan menimbulkan keadaan yang tidak memuaskan.

b.

c.

a.

b.

c.

Di samping hukum-hukum belajar seperti yang telah dikemukakan di atas, konsep


penting dari teori belajar koneksionisme Thorndike adalah yang dinamakan transfer of training.
Konsep ini menjelaskan bahwa apa yang pernah dipelajari oleh anak sekarang harus dapat
digunakan untuk hal lain di masa yang akan datang. Dalam konteks pembelajaran konsep
transfer of training merupakan hal yang sangat penting, sebab seandainya konsep ini tidak ada,
maka apa yang akan dipelajari tidak akan bermakna.
Hukum Latihan (Law of Exercise)
Untuk menghasilkan tindakan yang cocok dan memuaskan untuk merespon suatu
stimulus maka seseorang harus mengadakan percobaan dan latihan yang berulang-ulang, adapun
latihan atau pengulangan perilaku yang cocok yang telah ditemukan dalam belajar, maka ini
merupakan bentuk peningkatan existensi dari perilaku yang cocok tersebut semakin kuat (Law of
Use). Dalam suatu teknik agar seseorang dapat mentransfer pesan yang telah ia dapat dari sort
time memory ke long time memory ini dibutuhkan pengulangan sebanyak-banyaknya dengan
harapan pesan yang telah didapat tidak mudah hilang dari benaknya.
Hukum Akibat (Law of Effect)
Hukum akibat Thorndike mengemukakan (Dahar, 2011: 18) jika suatu tindakan diikuti
oleh suatu perubahan yang memuaskan dalam lingkungan, kemungkinan tindakan itu diulangi
dalam situasi yang mirip akan meningkat. Akan tetapi, bila suatu perilaku diikuti oleh suatu
perubahan yang tidak memuaskan dalam lingkungan, kemungkinan perilaku itu diulangi akan
menurun. Jadi konsekuensi perilaku seseorang pada suatu waktu memegang peranan penting
dalam menentukan perilaku orang itu selanjutnya.
Thorndike mengungkapkan bahwa organisme itu sebagai mekanismus yang hanya
bertindak jika ada perangsang dan situasi yang mempengaruhinya. Dalam dunia pendidikan Law
of Effect ini terjadi pada tindakan seseorang dalam memberikan punishment atau reward. Akan
tetapi dalam dunia pendidikan menurut Thorndike yang lebih memegang peranan adalah
pemberian reward dan inilah yang lebih dianjurkan. Teori Thorndike ini biasanya juga disebut
teori koneksionisme karena dalam hukum belajarnya ada Law of Effect yang mana di sini
terjadi hubungan antara tingkah laku atau respon yang dipengaruhi oleh stimulus dan situasi dan
tingkah laku tersebut mendatangkan hasilnya (effect).
Selain hukum pokok belajar tersebut di atas, masih terdapat hukum subside atau hukumhukum minor lainnya, yaitu :
Law of Multiple Response
Supaya sesuatu respons itu memperoleh hadiah atau berhasil, maka respons itu harus
terjadi. Apabila individu dihadapkan pada sesuatu soal, maka dia akan mencoba-coba berbagai
cara, apabila tingkah laku yang tepat (yakni yang membawa penyelesaian atau berhasil)
dilakukan maka sukses terjadi, dan proses belajar pun terjadi. Hal tersebut akan berlaku
sebaliknya.
Law of Attitude (Law of Set, Law of Disposition)
Respons-respons apa yang dilakukan oleh individu itu ditentukan oleh cara penyelesaian
individu yang khas dalam menghadapi lingkungan kebudayaan tertentu. Sikap (attitude) tidak
hanya menentukan apa yang akan dikerjakan oleh seseorang tetapi juga cara yang kiranya akan
memuaskan atau tidak memuaskan baginya. Proses belajar ini dapat berlangsung bila ada
kesiapan mental yang positif pada siswa
Law of Partial Activity (Law of Prepotency Element)

d.

e.

4.
a.

b.

c.
d.

e.
f.
5.
1.
2.

6.
1.

Pelajar dapat bereaksi secara selektif terhadap kemungkinan-kemungkinan yang ada


dalam situasi tertentu. Manusia dapat memilih hal-hal yang pokok dan mendasarkan tingkah
lakunya kepada hal-hal yang pokok itu serta meninggalkan hal-hal yang kecil.
Law of Response by Analogy (Law of Assimilation)
Orang bereaksi terhadap situasi yang baru sebagaimana dia bereaksi terhadap situasi yang
mirip dengan itu yang dihadapinya diwaktu yang lalu, atau dia bereaksi terhadap hal atau unsur
tertentu dalam situasi yang telah berulang kali dihadapinya. Jadi, respons-respons selalu dapat
diterangkan dengan apa yang telah pernah dikenalnya, dengan kecenderungan asli yang
berespons.
Law of Assosiative Shifting
Bila suatu respons dapat dipertahankan berlaku dalam serangkaian perubahan -perubahan
bahan dalam situasi yang merangsang, maka respons itu akhirnya dapat diberikan kepada situasi
yang sama sekali baru.
Prinsip-prinsip Belajar yang Dikemukakan oleh Thorndike
Pada saat berhadapan dengan situasi yang baru, berbagai respon ia lakukan. Adapun responrespon tiap-tiap individu berbeda-beda tidak sama walaupun menghadapi situasi yang sama
hingga akhirnya tiap individu mendapatlan respon atau tindakan yang cocok dan memuaskan.
Seperti contoh seseorang yang sedang dihadapkan dengan problema keluarga maka seseorang
pasti akan menghadapi dengan respon yang berbeda-beda walaupun jenis situasinya sama,
misalnya orang tua dihadapkan dengan perilaku anak yang kurang wajar.
Dalam diri setiap orang sebenarnya sudah tertanam potensi untuk mengadakan seleksi terhadap
unsur-unsur yang penting dan kurang penting, hingga akhirnya menemukan respon yang tepat.
Seperti orang yang dalam masa perkembangan dan menyongsong masa depan maka sebenarnya
dalam diri orang tersebut sudah mengetahui unsur yang penting yang harus dilakukan demi
mendapatkan hasil yang sesuai dengan yang diinginkan.
Apa yang ada pada diri seseorang, baik itu berupa pengalaman, kepercayaan, sikap dan hal-hal
lain yang telah ada pada dirinya turut menentukan tercapainya tujuan yang ingin dicapai.
Orang cenderung memberi respon yang sama terhadap situasi yang sama. Seperti apabila
seseorang dalam keadaan stress karena diputus oleh pacarnya dan ia mengalami ini bukan hanya
kali ini melainkan ia pernah mengalami kejadian yang sama karena hal yang sama maka tentu ia
akan merespon situasi tersebut seperti yang ia lakuan seperti dahulu ia lakukan.
Orang cenderung menghubungkan respon yang ia kuasai dengan situasi tertentu tatkala
menyadari bahwa respon yang ia kuasai dengan situasi tersebut mempunyai hubungan.
Manakala suatu respon cocok dengan situasinya maka relatif lebih mudah untuk dipelajari.
Keunggulan-keunggulan Teori Belajar Koneksionisme Thorndike
Teori ini sering juga disebut dengan teori trial dan error dalam teori ini orang bisa menguasai
hubungan stimulus dan respon sebanyak-banyaknya sehingga orang akan terbiasa berpikir dan
terbiasa mengembangkan pikirannya.
Dengan sering melakukan pengulangan dalam memecahkan suatu permasalahan, anak didik
akan memiliki sebuah pengalaman yang berharga. Selain itu dengan adanya sistem pemberian
hadiah, akan membuat anak didik menjadi lebih memiliki kemauan dalam memecahkan
permasalahan yang dihadapinya.
Kelemahan-kelemahan Teori Belajar Koneksionisme Thorndike
Terlalu memandang manusia sebagai mekanismus dan otomatisme belaka disamakan dengan
hewan. Meskipun banyak tingkah laku manusia yang otomatis, tetapi tidak selalu bahwa tingkah

laku manusia itu dapat dipengaruhi secara trial and error. Trial and error tidak berlaku mutlak
bagi manusia.
2. Memandang belajar hanya merupakan asosiasi belaka antara stimulus dan respon. Sehingga yang
dipentingkan dalam belajar ialah memperkuat asosiasi tersebut dengan latihan-latihan, atau
ulangan-ulangan yang terus-menerus.
3. Karena belajar berlangsung secara mekanistis, maka pengertian tidak dipandangnya sebagai
suatu yang pokok dalam belajar. Mereka mengabaikan pengertian sebagai unsur yang pokok
dalam belajar.
Implikasi dari teori behavioristik dalam proses pembelajaran dirasakan kurang
memberikan ruang gerak yang bebas bagi pelajar untuk berkreasi, bereksperimentasi dan
mengembangkan kemempuannya sendiri. Karena sistem pembelajaran tersebut bersifat otomatismekanis dalam menghubungkan stimulus dan respon sehingga terkesan seperti kinerja mesin
atau robot. Akibatnya pelajar kurang mampu untuk berkembang sesuai dengan potensi yang ada
pada diri mereka.
2. Teori Belajar Menurut Thorndike
Menurut Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus yaitu
apa saja yang dapat merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal
lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan respon yaitu reaksi yang dimunculkan
peserta didik ketika belajar, yang juga dapat berupa pikiran, perasaan, atau gerakan/tindakan.
Dari definisi belajar tersebut maka menurut Thorndike perubahan tingkah laku akibat dari
kegiatan belajar itu dapat berujud kongkrit yaitu yang dapat diamati, atau tidak kongkrit yaitu
yang tidak dapat diamati. Meskipun aliran behaviorisme sangat mengutamakan pengukuran,
namun ia tidak dapat menjelaskan bagaimana cara mengukur tingkah laku-tingkah laku yang
tidak dapat diamati. Namun demikian, teorinya telah banyak memberikan pemikiran dan
inspirasi kepada tokoh-tokoh lain yang datang kemudian. Teori Thorndike ini disebut juga
sebagai aliran Koneksionisme (Connectionism).
3. Teori Belajar Menurut Watson
Watson adalah seorang tokoh aliran behavioristik yang datang sesudah Thorndike. Menurutnya,
belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon, namun stimulus dan respon yang
dimaksud harus berbentuk tingkah laku yang dapat diamati (observabel) dan dapat diukur.
Dengan kata lain, walaupun ia mengakui adanya perubahan-perubahan mental dalam diri
seseorang selama proses belajar, namun ia menganggap hal-hal tersebut sebagai faktor yang tak
perlu diperhitungkan. Ia tetap mengakui bahwa perubahan-perubahan mental dalam benak siswa
itu penting, namun semua itu tidak dapat menjelaskan apakah seseorang telah belajar atau belum
karena tidak dapat diamati.
Watson adalah seorang behavioris murni, karena kajiannya tentang belajar disejajarkan dengan
ilmu-ilmu lain seperti fisika atau biologi yang sangat berorientasi pada pengalaman empirik
semata, yaitu sejauh dapat diamati dan dapat diukur. Asumsinya bahwa, hanya dengan cara
demikianlah maka akan dapat diramalkan perubahan-perubahan apa yang bakal terjadi setelah
seseorang melakukan tindak belajar. Para tokoh aliran behavioristik cunderung untuk tidak
memperhatikan hal-hal yang tidak dapat diukur dan tidak dapat diamati, seperti perubahanperubahan mental yang terjadi ketika belajar, walaupun demikian mereka tetap mengakui hal itu
penting.

4. Teori Belajar Menurut Clark Hull


Clark Hull juga menggunakan variabel hubungan antara stimulus dan respon untuk menjelaskan
pengrtian tentang belajar. Namun ia sangat terpengaruh oleh teori evolusi yang dikembangkan
oleh Charles Darwin. Bagi Hull, seperti halnya teori evolusi, semua fungsi tingkah laku
bermanfaat terutama untuk menjaga kelangsungan hidup manusia. Oleh sebab itu, teori Hull
mengatakan bahwa kebutuhan biologis dan pemuasan kebutuhan biologis adalah penting dan
menempati posisi sentral dalam seluruh kegiatan manusia, sehingga stimulus dalam belajarpun
hampir selalu dikaitkan dengan kebutuhan biologis, walaupun respon yang akan muncul
mungkin dapat bermacam-macam bentuknya. Dalam kenyataannya, teori-teori demikian tidak
banyak digunakan dalam kehidupan praktis, terutama setelah Skinner memperkenalkan teorinya.
Namun teori ini masih sering dipergunakan dalam berbagai eksperimen di laboratorium.
5. Teori Belajar Menurut Edwin Guthrie
Demikian juga dengan Edwin Guthrie, ia juga menggunakan variabel hubungan stimulus dan
respon untuk menjelaskan terjadinya proses belajar. Namun ia mengemukakan bahwa stimulus
tidak harus berhubungan dengan kebutuhan atau pemuasan biologis sebagaimana yang dijelaskan
oleh Clark dan Hull. Dijelaskannya bahwa hubungan antara stimulus dan respon cenderung
hanya bersifat sementara, oleh sebab itu dalam kegiatan belajar peserta didik perlu sesering
mungkin diberikan stimulus agar hubungan antara stimulus dan respon bersifat lebih tetap. Ia
juga mengemukakan, agar respon yang muncul sifatnya lebih kuat dan bahkan menetap, maka
diperlukan berbagai macam stimulus yang berhubungan dengan respon tersebut. Guthrie juga
percaya bahwa hukuman (punishment) memegang peranan penting dalam proses belajar.
Hukuman yang diberikan pada saat yang tepat akan mampu merubah kebiasaan dan perilaku
seseorang. Namun setelah Skinner mengemukakan dan mempopulerkan akan pentingnya
penguatan (reinforcemant) dalam teori belajarnya, maka hukuman tidak lagi dipentingkan dalam
belajar.
6.Teori Belajar Menurut Skinner
Konsep-konsep yang dikemukakan oleh Skinner tentang belajar mampu meng-ungguli konsepkonsep lain yang dikemukakan oleh para tokoh sebelumnya. Ia mampu menjelaskan konsep
belajar secara sederhana, namun dapat menunjukkan konsepnya tentang belajar secara lebih
komprehensif. Menurut Skinner, hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi melalui
interaksi dalam lingkungannya, yang kemudian akan menimbulkan perubahan tingkah laku,
tidaklah sesederhana yang digambarkan oleh para tokoh sebelumnya. Dikatakannya bahwa
respon yang diberikan oleh seseorang/siswa tidaklah sesederhana itu. Sebab, pada dasarnya
stimulus-stimulus yang diberikan kepada seseorang akan saling berinteraksi dan interaksi antara
stimulus-stimulus tersebut akan mempengaruhi bentuk respon yang akan diberikan. Demikian
juga dengan respon yang dimunculkan inipun akan mempunyai konsekuensi-konsekuensi.
Konsekuensi-konsekuensi inilah yang pada gilirannya akan mempengaruhi atau menjadi
pertimbangan munculnya perilaku. Oleh sebab itu, untuk memahami tingkah laku seseorang
secara benar, perlu terlebih dahulu memahami hubungan antara stimulus satu dengan lainnya,
serta memahami respon yang mungkin dimunculkan dan berbagai konsekuensi yang mungkin
akan timbul sebagai akibat dari respon tersebut. Skinner juga mengemukakan bahwa dengan
menggunakan perubahan-perubahan mental sebagai alat untuk menjelaskan tingkah laku hanya
akan menambah rumitnya masalah. Sebab, setiap alat yang digunakan perlu penjelasan lagi,
demikian dan seterusnya

Teori Belajar Skinner (Burrhus


Frederick Skinner)
A. Riwayat Hidup Burrhus Frederick Skinner
Skiner dilahirkan pada 20 Mei 1904 di Susquehanna, Pennsylvania, Amerika Serikat. Masa
kanak-kanaknya dilalui dengan kehidupan yang penuh kehangatan namun cukup ketat dalam
disiplin. Meraih sarjana muda di hamilton College, New York, dalam bidang sastra Inggris. Pada
tahun 1928, Skinner mulai memasuki kuliah psikologi di Universitas Harvard dengan
mengkhususkan diri pada bidang tingkah laku hewan dan meraih doktor pada tahun 1931.
Dari tahun 1931 hingga 1936, Skinner bekerja di Harvard. Penelitian yang dilakukannya
difokuskan pada penelitian mengenai saraf hewan. Pada tahun 1936 sampai 1945, Skinner meniti
karirnya sebagai tenaga pengajar pada Universitas Mingoesta. Dalam kariernya Skinner
menunjukkan produktifitas yang tinggi sehingga ia dikukuhkan sebagai pemimpin Behaviorisme
yang terkemuka di Amerika Serikat.
Bidang psikologi yang didalami Skinner adalah analisis eksperimental atas tingkah laku. Ia
melakukan penyilidikan terutama pada organisme infrahuman, biasanya tikus atau merpati. Di
samping itu, Skinner juga menerapkan prinsip-prinsip pengondisian operan (operant
conditioning) pada penyelidikan tentang psikotik pada orang dewasa, anak autis, analisis bahasa,
dan perancangan mesin-mesin pengajaran. Diantara peraalatan rancangannya yang terkenal
adalah kotak Skinner (Skinner Box). Skinner telah memberikan sumbangan yang berarti kepada
pemahaman tingkah laku, khususnya menyangkut belajar.
B. Karya- Karya Burrhus Frederick Skinner
1. The Behavior of Organisme (1938)
2. Walden Two (1948)
3. Science and Human Behavior (1953)
4. Verbal Behavior (1957)
5. Shedules of Reinforcement (1957), dll.
C. Teori Skinner : Operant Conditioning
Seperti Pavlov dan Watson, Skinner juga memikirkan tingkah laku sebagai hubungan antara
perangsang dan respons, tetapi berbeda dengan kedua tokoh yang terdahulu itu, Skinner
membuat perincian lebih jauh. Skinner membedakan adanya dua macam respons, yaitu:
a. Respondens Response (reflexive response), yaitu respons yang ditimbulkan oleh perangsangperangsang tertentu. Perangsang-perangsang yang demikian itu, yang disebut eleciting stimuli,
menimbulkan renspons-renspons yang secara relatif tetap, misalnya makanan yang menimbulkan
keluarnya air liur. Pada umumnya, perangsang-perangsang yang demikian itu mendahului
respons yang ditimbulkannya.
b. Operant respons (instrumental respons) yaitu respons yang timbul dan berkembangnya diikuti
oleh perangsang-perangsang tertentu. Perangsang yang demikian itu disebut reinforcing stimuli
atau reinforcer, karena perangsang-perangsang tersebut memperkuat renspons yang telah
dilakukan oleh organisme. Jadi, perangsang yang demikian itu mengikuti (dan karenanya
memperkuat) sesuatu tingkah laku tertentu yang telah dilakukan. Jika seorang anak belajar (telah
melakukan perbuatan), lalu mendapat hadiah, maka dia akan menjadi lebih giat belajar
(responsnya menjadi lebih intensif/kuat).

Perbedaan antara operant conditioning dengan classical conditioning adalah bahwa pada
classical, terbentuknya suatu tingkah laku yang diharapkan tidak memerlukan adanya reinforcer,
karena stimulusnya sendiri sudah menimbulkan respons yang diharapkan. Sedangkan pada
operant conditioning, suatu respons atau tingkah laku dibuat menjadi blebih kuat dengan
memberikan reinforcer (stimulus yang memperkuat renspons).
Dalam salah satu eksperimennya, Skinner menggunakan seekor tikus yang ditempatkan dalam
sebuah peti yang disebut dengan Skinner Box. Kotak Skinner ini berisi dua macam komponen
pokok, yaitu manipulandum dan alat pemberi reinforcement yang antara lain berupa wadah
makanan. Manipulandum adalah komponen yang dapat dimanipulasi dan gerakannya
berhubungan dengan reinforcement. Komponen ini terdiri dari tombol, batang jeruji, dan
pengungkit.
Dalam eksperimen tadi mula-mula tikus itu mengeksplorasi peti sangkar dengan cara lari kesana
kemari, mencium benda-benda yang ada disekitarnya, mencakar dinding, dan sebagainya.
Tingkah laku tikus yang demikian disebut dengan emmited behavior (tingkah laku yang
terpancar), yakni tingkah laku yang terpancar dari organism tanpa memedulikan stimulus
tertentu. Kemudian salah satu tingkah laku tikus (seperti cakaran kaki, sentuhan moncong) dapat
menekan pengungkit. Tekanan pengungkit ini mengakibatkan munculnya butir-butir makanan ke
dalam wadahnya.
Butir-butir makanan yang muncul merupakan reinforce bagi tikus yang disebut dengan tingkah
laku operant yang akan terus meningkat apabila diiringi reinforcement, yaitu penguatan berupa
butiran-butiran makanan kedalam wadah makanan.
Teori belajar operant conditioning ini juga tunduk pada dua hukum operant yang berbeda
lainnya, yaitu law operant conditioning dan law extinction. Menurut hukum operant
conditioning, jika suatu tingkah diriingi oleh sebuah penguat (reinforcement), maka tingkah laku
tersebut meningkat. Sedangkan menurut hukum law extinction, jika suatu tingkah laku yang
diperkuat dengan stimulus penguat dalam kondisioning, tidak diiringi stimulus penguat, maka
tingkah laku tersebut akan menurun atau bahkan musnah. Kedua hukum ini pada dasarnya juga
memiliki kesamaan dengan hukum pembiasaan klasik (classical conditioning).
D. Prinsip-prinsip belajar menurut Skinner
Hasil eksperimen yang dilakukan oleh Skinner menghasilkan beberapa prinsip-prinsip belajar
yang menghasilkan perubahan perilaku, yaitu:
a. Reinforcement
Reinfoecemen didefinisikan sebagai sebagai sebuah konsekuen ang menguatkan tingkah laku
(atau frekuensi tingkah laku). Keefektifan sebuah reinforcemen dalam proses belajar perlu
ditunjukkan. Karena kita tidak dapat mengasumsikan sebuah konsekuen adalah reinforcer sampai
terbukti bahwa konsekuen tersebut dapat menguatkan perilaku. Misalnya, pemen pada umumnya
dapat menjadi reinforce bagi perilaku anak kecil, tetapi ketika mereka beranjak dewasa permen
bukan lagi sesuatu yang menyenangkan, bahkan beberapa anak kecil juga tidak menyukai
permen.
Secara umum reinforcemen dibedakan menjadi tiga, yaitu:
a) Dari segi jenisnya, reinforcemen dibagi menjadi dua kategori yaitu, reinforcemen primer dan
reinforcemen sekunder. Reinforcemen primer adalah reinforcemen berupa kebutuhan dasar
manusia seperti, makanan, air, keamanan, kehangatan, dan lain sebagainya. Sedangkan
reinforcemen sekunder adalah reinforcemen yang diasosiakan dengan reinforcemen primer.
b) Dari segi bentuknya, reinforcemen dibagi menjadi dua, yaitu reinforcemen positif dan
reinforcemen negative. Reinforcemen positif adalah konsekuen yang diberikan untuk

menguatkan atau meningkatkan perilaku seperti hadiah, pujian, kelulusan dan lain sebagainya.
Sedangkan reinforcemen negative adalah menarik diri dari situasi yang tidak menyenangkan
untuk menguatkan tingkah laku. Misalnya, guru yang membebaskan muridnya dari tugas
membersihkan kamar mandi jika muridnya dapat menyelesaikan rumahnya.
c) Waktu pemberian reinforcement, keefektifan reinforcemen dalam perilaku tergantung pada
berbagai factor, salah satu diantaranya adalah frekuensi atau jadwal pemberian reinforcement.
Ada empat macam pemberian jadwal reinforcemen, yaitu:
Fixed Ratio
Variabel- Ratio
Fixed Interval
Variabel Interval
b. Punishment
Punishment adalah menghadirkan atau memberikan sebuah situasi yang tidak menyenangkan
atau situasi yang ingin dihindari untuk menurunkan tingkah laku.
c. Shaping
Istilah shaping digunakan dalam teori belajar behaviorisme untuk menunjukkan pengajaran
keterampilan-keterampilan baru atau perilaku-perilaku baru dengan memberikan penguatan
kepada siswa untuk menguasai keterampilan atau perilaku tersebut dengan baik.
Adapun langkah-langkah dalam pemberian shaping adalah:
1. Memilih tujuan yang ingin dicapai;
2. Mengetahui kesiapan belajar siswa;
3. Mengembangkan sejumlah langkah yang akan memberikan bimbingan kepada siswa untuk
melalui tahap demi tahap tujuannya dengan menyesuaikan kemampuan siswa;
4. Memberi feedback terhadap hasil belajar siswa.
d. Extinction
Extinction adalah mengurangi atau menurunkan tingkah laku dengan menarik reinforcement
yang menyebabkan perilaku tersebut terjadi. Extinction ini terjadi melalui proses perlahan-lahan.
Biasanya ketika reinforcement ditarik atau dihentikan perilaku individu sering meningkat
seketika
e. Anteseden dan perubahan perilaku
Dalam operant conditioning, anteseden dapat memberikan petunjuk apakah sebuah perilaku akan
mendapatkan konsekuen yang positif atau negatif.
Menurut Skinner, untuk menghasilkan perubahan perilaku pada diri individu, selain dengan
memerhatikan konsekuen (consecuens), dapat juga digunakan anteseden-anteseden. Karena,
sebagaimana telah disebutkan seebelumnya, perilaku manusia seperti sebuah sandwich atau
serangkaian antesedents-behavior-consequens (A-B-C). Dalam hal ini, ada dua cara untuk
mengontrol anteseden agar menghasilkan perilaku baru atau perubahan perilaku, yaitu dengan
cueing dan prompting.
E. Kritik Terhadap Teori Tingkah Laku
Namun, sudah terang bahwa teori tingkah laku ini tidak bebas dari kritik. Teori tingkah laku ini
dikritik karena sering tidak mampu menjelaskan situasi belajar yang kompleks, sebab banyak hal
di dunia pendidikan yang tidak dapat diubah menjadi sekedar hubungan stimulus dan respon.
Kita ambil contoh, suatu saat seorang mahasiswa mau beelajaar giat setelah diberi stimulus
tertentu. Tetapi karena satu dan lain hal, mahasiswa tersebut tiba-tiba tidak mau belajar lagi,
padahal kepadanya sudah diberikan stimulus yang sama atau yang lebih baik dari itu. Disinilah

persoalannya, ternyata teori tingkah laku ini dianggap tidak mampu menjelaskan alasan-alasan
yang mengacaukan hubungan antara stimulus dan respons tersebut. Tentu saja kita dapat
mengganti stimulus dengan stimulus lain sampai kita mendapatkan respon yang kita inginkan.
Tetapi kita tahu hal ini belum menjawab pertanyaan yang sebenarnya.
Disamping itu, teori belajar ini dianggap cenderung mengarahkan mahasiswa untuk berpikir
linier, konvergen, dan tidak kreatif. Dengan prosesnya yang disebut pembentukan (shaping).
Skinner dan ahli-ahli lain penyokong teori ini memang tidak meenganjurkan adanya hukuman
digunakan dalam proses belajar. Tetapi apa yang mereka sebut penguat negatif (negative
reinforcement) cenderung membatasi keleluasaan mahasiswa untuk berimajinasi dan berpikir.
Skinner tidak percaya terhadap asumsi Guthrie, yaitu hukuman memegang peranan penting
dalam proses belajar. Skinner lebih percaya kepada apa yang disebut sebagai penguat negatif. Ini
tidak sama dengan hukuman. Ketidaksamaan tersebut adalah bila hukuman harus diberikan
(sebagai stimulus) agar respons yang timbul berbeda dari biasanya ada, sedangkan penguat
negatif (sebagai stimulus) harus dikurangi agar espon yang sama menjadi semakin kuat.
Misalnya, seorang mahasiswa perlu dihukum untuk suatu kesalahan yang dibuatnya (teori
Guthrie). Jika mahasiswa masih bandel, maka hukuman harus ditambah. Tetapi, jika sesuatu
yang tidak mengenakkan si mahasiswa itu dikurangi (bukan malah ditambah), dan pengurangan
ini mendorong mahasiswa itu untuk memperbaiki kesalahannya, maka inilah yang disebut
penguat negatif (teori Skinner)
A. SEJARAH MUNCULNYA TEORI KONDISIONING OPERAN B.F SKINNER

Asas pengkondisian operan B.F Skinner dimulai


awal tahun 1930-an, pada waktu keluarnya teori S-R. Pada waktu keluarnya teori-teori S-R. pada
waktu itu model kondisian klasik dari Pavlov telah memberikan pengaruh yang kuat pada
pelaksanaan penelitian. Istilah-istilah seperti cues (pengisyratan), purposive behavior (tingkah
laku purposive) dan drive stimuli (stimulus dorongan) dikemukakan untuk menunjukkan daya
suatu stimulus untuk memunculkan atau memicu suatu respon tertentu.
Skinner tidak sependapat dengan pandangan S-R dan penjelasan reflex bersyarat dimana
stimulus terus memiliki sifat-sifat kekuatan yang tidak mengendur. Menurut Skinner penjelasan
S-R tentang terjadinya perubahan tingkah laku tidak lengkap untuk menjelaskan bagaimana
organisme berinteraksi dengan lingkungannya. Bukan begitu, banyak tingkah laku menghasilkan
perubahan atau konsekuensi pada lingkungan yang mempunyai pengaruh terhadap organisme
dan dengan begitu mengubah kemungkinan organisme itu merespon nanti.
Asas-asas kondisioning operan adalah kelanjutan dari tradisi yang didirikan oleh John Watson.
Artinya, agar psikologi bisa menjadi suatu ilmu, maka studi tingkah laku harus dijadikan fokus

penelitian psikologi. Tidak seperti halnya teoritikus-teoritikus S-R lainnya, Skinner menghindari
kontradiksi yang ditampilkan oleh model kondisioning klasik dari Pavlov dan kondisioning
instrumental dari Thorndike. Ia mengajukan suatu paradigma yang mencakup kedua jenis respon
itu dan berlanjut dengan mengupas kondisi-kondisi yang bertanggung jawab atas munculnya
respons atau tingkah laku operan.
B. KAJIAN UMUM TEORI B.F SKINNER
Inti dari teori behaviorisme Skinner adalah Pengkondisian operan (kondisioning operan).
Pengkondisian operan adalah sebentuk pembelajaran dimana konsekuensi-konsekuensi dari
prilaku menghasilkan perubahan dalam probabilitas prilaku itu akan diulangi. Ada 6 asumsi yang
membentuk landasan untuk kondisioning operan (Margaret E. Bell Gredler, hlm 122). Asumsiasumsi itu adalah sebagai berikut:
1. Belajar itu adalah tingkah laku.
2. Perubahan tingkah-laku (belajar) secara fungsional berkaitan dengan adanya perubahan
dalam kejadian-kejadian di lingkungan kondisi-kondisi lingkungan.
3. Hubungan yang berhukum antara tingkah-laku dan lingkungan hanya dapat di tentukan
kalau sifat-sifat tingkah-laku dan kondisi eksperimennya di devinisikan menurut fisiknya
dan di observasi di bawah kondisi-kondisi yang di control secara seksama.
4. Data dari studi eksperimental tingkah-laku merupakan satu-satunya sumber informasi
yang dapat di terima tentang penyebab terjadinya tingkah laku.
Tabel Perbandingan Respons Elisit dan Tingkah-Laku Operan
Respons Elisit ( Refleks )
Ada korelasi yang dapat diamati antara
stimulus dan respons; Respons yang
terpancing keluar terutama untuk menjaga
kesejahteraan organisme.

Respons Emisi atau Operan


Ada respons bertindak mengenai
lingkungan yang menimbulkan
konsekuensi yang berpengaruh pada
organisasi, dan dengan demikian mengubah
tingkah-laku yang akan datang; Tidak ada
korelasi nya dengan stimulus sebelumnya.
Di kondisikan dengan substitusi stimulus; Di kondisikan melalui konsekuensi respons
Kondisioning Tipe S
yang memperbesar peluang merespons;
Kondisioning Tipe R.
1. Tingkah-laku organisme secara individual merupakan sumber data yang cocok.
2. Dinamika interaksi organisme dengan lingkungan itu sama untuk semua jenis mahkluk
hidup.

Berdasarkan asumsi dasar tersebut menurut Skinner (J.W. Santrock, 272) unsur yang terpenting
dalam belajar adalah adanya penguatan (reinforcement ) dan hukuman (punishment).
Penguatan dan Hukuman. Penguatan (reinforcement) adalah konsekuensi yang meningkatkan
probabilitas bahwa suatu perilaku akan terjadi. Sebaliknya, hukuman (punishment) adalah
konsekuensi yang menurunkan probabilitas terjadinya suatu perilaku. (baca Teori penguatan
dan hukuman yang lebih lengkap di sini)
Penguatan boleh jadi kompleks. Penguatan berarti memperkuat. Skinner membagi penguatan ini
menjadi dua bagian:

Penguatan positif adalah penguatan berdasarkan prinsif bahwa frekuensi respons


meningkat karena diikuti dengan stimulus yang mendukung (rewarding). Bentuk-bentuk
penguatan positif adalah berupa hadiah (permen, kado, makanan, dll), perilaku (senyum,
menganggukkan kepala untuk menyetujui, bertepuk tangan, mengacungkan jempol), atau
penghargaan (nilai A, Juara 1 dsb).

Penguatan negatif, adalah penguatan berdasarkan prinsif bahwa frekuensi respons


meningkat karena diikuti dengan penghilangan stimulus yang merugikan (tidak menyenangkan).
Bentuk-bentuk penguatan negatif antara lain: menunda/tidak memberi penghargaan, memberikan
tugas tambahan atau menunjukkan perilaku tidak senang (menggeleng, kening berkerut, muka
kecewa dll).
Satu cara untuk mengingat perbedaan antara penguatan positif dan penguatan negatif adalah
dalam penguatan positif ada sesuatu yang ditambahkan atau diperoleh. Dalam penguatan negatif,
ada sesuatu yang dikurangi atau di hilangkan. Adalah mudah mengacaukan penguatan negatif
dengan hukuman. Agar istilah ini tidak rancu, ingat bahwa penguatan negatif meningkatkan
probabilitas terjadinya suatu prilaku, sedangkan hukuman menurunkan probabilitas terjadinya
perilaku. Berikut ini disajikan contoh dari konsep penguatan positif, negatif, dan hukuman (J.W
Santrock, 274).

Penguatan positif

Perilaku
Murid mengajukan
pertanyaan yang bagus

Konsekuensi
Guru menguji murid

Prilaku kedepan
Murid mengajukan lebih
banyak pertanyaan

Penguatan negatif

Perilaku

Konsekuensi

Prilaku kedepan

Murid menyerahkan PR
tepat waktu

Guru berhenti menegur


murid

Murid makin sering


menyerahkan PR tepat
waktu

Hukuman

Perilaku
Murid menyela guru

Konsekuensi
Guru mengajar murid
langsung

Prilaku kedepan
Murid berhenti menyela
guru

Ingat bahwa penguatan bisa berbentuk postif dan negatif. Dalam kedua bentuk itu,
konsekuensi meningkatkan prilaku. Dalam hukuman, perilakunya berkurang.
Kupasan yang dilakukan Skinner menghasilkan suatu sistem ringkas yang dapat diterapkan pada
dinamika perubahan tingkah laku baik di laboratorium maupun di dalam kelas. Belajar, yang
digambarkan oleh makin tingginya angka keseringan respons, diberikan sebagai fungsi urutan
ketiga unsure (SD)-(R)-(R Reinsf). Skinner menyebutkan praktek khas menempatkan binatang
percobaan dalam kontigensi terminal. Maksudnya, binatang itu harus berusaha penuh resiko,
berhasil atau gagal, dalam mencari jalan lepas dari kurungan atau makanan. Bukannya demikian
itu prosedur yang mengena ialah membentuk tingkah-laku binatang itu melalui urutan Sitimulusrespon-penguatan yang diatur secara seksama.
Dikelas, Skinner menggambarkan praktek tugas dan ujian sebagai suatu contoh menempatkan
pelajar yang manusia itu dalam kontigensi terminal juga. Skinner menyarankan penerapan cara
pemberian penguatan komponen tingkah laku seperti menunjukkan perhatian pada stimulus dan
melakukan studi yang cocok terhadap tingkah laku. Hukuman harus dihindari karena adanya
hasil sampingan yang bersifat emosional dan tidak menjamin timbulnya tingkah laku positif yang
diinginkan. Analisa yang dilakukan Skinner tersebut diatas meliputi peran penguat berkondisi
dan alami, penguat positif dan negative, dan penguat umum.
Dengan demikian beberapa prinsip belajar yang dikembangkan oleh Skinner antara lain:

Hasil belajar harus segera diberitahukan kepada siswa, jika salah dibetulkan, jika benar
diberi penguat.

Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar.

Materi pelajaran, digunakan sistem modul.

Dalam proses pembelajaran, lebih dipentingkan aktivitas sendiri.

Dalam proses pembelajaran, tidak digunakan hukuman. Namun ini lingkungan perlu
diubah, untuk menghindari adanya hukuman.

Tingkah laku yang diinginkan pendidik, diberi hadiah, dan sebagainya. Hadiah diberikan
dengan digunakannya jadwal variable rasio reinforcer.

Dalam pembelajaran, digunakan shaping.

Disamping itu pula dari eksperimen yang dilakukan B.F. Skinner terhadap tikus dan selanjutnya
terhadap burung merpati menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya :
1. Law of operant conditining yaitu jika timbulnya perilaku diiringi dengan stimulus
penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan meningkat.
b. Law of operant extinction yaitu jika timbulnya perilaku operant telah diperkuat melalui proses
conditioning itu tidak diiringi stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan menurun
bahkan musnah.
C. APLIKASI TEORI SKINNER TERHADAP PEMBELAJARAN.
Beberapa aplikasi teori belajar Skinner dalam pembelajaran adalah sebagai berikut:

Bahan yang dipelajari dianalisis sampai pada unit-unit secara organis.

Hasil berlajar harus segera diberitahukan kepada siswa, jika salah dibetulkan dan jika benar
diperkuat.

Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar.

Materi pelajaran digunakan sistem modul.

Tes lebih ditekankan untuk kepentingan diagnostic.

Dalam proses pembelajaran lebih dipentingkan aktivitas sendiri.

Dalam proses pembelajaran tidak dikenakan hukuman.

Dalam pendidikan mengutamakan mengubah lingkungan untuk mengindari pelanggaran


agar tidak menghukum.

Tingkah laku yang diinginkan pendidik diberi hadiah.

Hadiah diberikan kadang-kadang (jika perlu)

Tingkah laku yang diinginkan, dianalisis kecil-kecil, semakin meningkat mencapai tujuan.

Dalam pembelajaran sebaiknya digunakan shaping.

Mementingkan kebutuhan yang akan menimbulkan tingkah laku operan.

Dalam belajar mengajar menggunakan teaching machine.

Melaksanakan mastery learning yaitu mempelajari bahan secara tuntas menurut waktunya
masing-masing karena tiap anak berbeda-beda iramanya. Sehingga naik atau tamat sekolah
dalam waktu yang berbeda-beda. Tugas guru berat, administrasi kompleks.
D. ANALISIS PERILAKU TERAPAN DALAM PENDIDIKAN
Banyak aplikasi Pengkondisian operan telah dilakukan diluar riset laboratorium, antara lain
dikelas, rumah, setting bisnis, rumah sakit, dan tempat lain di dunia nyata.
Analisis Perilaku terapan adalah penerapan prinsip pengkondisian operan untuk mengubah
perilaku manusia. Ada tiga penggunaan analisis perilaku yang penting dalam bidang pendidikan
yaitu
1. Meningkatkan perilaku yang diinginkan.
2. Menggunakan dorongan (prompt) dan pembentukkan (shaping).
3. Mengurangi perilaku yang tidak diharapkan.
Meningkatkan perilaku yang diharapkan
Lima strategi pengkondisian operan dapat dipakai untuk meningkatkan perilaku anak yang
diharapkan yaitu:

Memilih Penguatan yang efektif: tidak semua penguatan akan sama efeknya bagi anak.
Analisis perilaku terapan menganjurkan agar guru mencari tahu penguat apa yang paling baik
untuk anak, yakni mengindividualisasikan penggunaan penguat tertentu. Untuk mencari
penguatan yang efektif bagi seorang anak, disarankan untuk meneliti apa yang memotivasi anak
dimasa lalu, apa yang dilakukan murid tapi tidak mudah diperolehnya, dan persepsi anak
terhadap manfaat dan nilai penguatan. Penguatan alamiah seperti pujian lebih dianjurkan
ketimbang penguat imbalan materi, seperti permen, mainan dan uang.

Menjadikan penguat kontingen dan tepat waktu: agar penguatan dapat efektif, guru harus
memberikan hanya setelah murid melakukan perilaku tertentu. Analisis perilaku terapan
seringkali menganjurkan agar guru membuat pernyataan jikamaka. penguatan akan lebih
efektif jika diberikan tepat pada waktunya, sesegera mungkin setelah murid menjalankan
tindakan yang diharapkan. Ini akan membantu anak melihat hubungan kontingensi antar-imbalan
dan perilaku mereka. Jika anak menyelesaikan perilaku sasaran (seperti mengerjakan sepuluh

soal matematika) tapi guru tidak memberikan waktu bermain pada anak, maka anak itu mungkin
akan kesulitan membuat hubungan kontingensi.

Memilih jadwal penguatan terbaik: menyusun jadwal penguatan menentukan kapan suatu
respons akan diperkuat. Empat jadwal penguatan utama adalah
a) Jadwal rasio tetap: suatu perilaku diperkuat setelah sejumlah respon.
b) Jadwal rasio variabel : suatu perilaku diperkuat setelah terjadi sejumlah respon, akan tetapi
tidak berdasarkan basis yang dapat diperidiksi.
c) Jadwal interval tetap : respons tepat pertama setelah beberapa waktu akan diperkuat.
d) Jadwal interval variabel : suatu respons diperkuat setelah sejumlah variabel waktu berlalu.

Menggunakan Perjanjian. Perjanjian (contracting) adalah menempatkan kontigensi


penguatan dalam tulisan. Jika muncul problem dan anak tidak bertindak sesuai harapan, guru
dapat merujuk anak pada perjanjian yang mereka sepakati. Analisis perilaku terapan menyatakan
bahwa perjanjian kelas harus berisi masukan dari guru dan murid. Kontrak kelas mengandung
pernyataan jika maka dan di tandatangani oleh guru dan murid, dan kemudian diberi
tanggal.

Menggunakan penguatan negatif secara efektif: dalam pengutan negatif, frekuensi


respons meningkat karena respon tersebut menghilangkan stimulus yang dihindari.seorang guru
mengatakanPepeng, kamu harus menyelesaikan PR mu dulu diluar kelas sebelum kamu boleh
masuk kelas ikut pembelajaran ini berarti seorang guru menggunakan penguatan negatif.
Menggunakan dorongan (prompt) dan pembentukan (shapping)
Prompt (dorongan) adalah stimulus tambahan atau isyarat tambahan yang diberikan sebelum
respons dan meningkatkan kemungkinan respon tersebut akan terjadi. Shapping (pembentukan)
adalah mengajari perilaku baru dengan memperkuat perilaku sasaran.
Mengurangi perilaku yang tidak diharapkan
Ketika guru ingin mengurangi perilaku yang tidak diharapkan (seperti mengejek, mengganggu
diskusi kelas, atau sok pintar) yang harus dilakukan berdasarkan analisis perilaku terapan adalah

Menggunakan Penguatan Diferensial.

Menghentikan penguatan (pelenyapan)

Menghilangkan stimuli yang diinginkan.

Memberikan stimuli yang tidak disukai (hukuman)

E. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN TEORI SKINNER


Kelebihan
Pada teori ini, pendidik diarahkan untuk menghargai setiap anak didiknya. hal ini ditunjukkan
dengan dihilangkannya sistem hukuman. Hal itu didukung dengan adanya pembentukan
lingkungan yang baik sehingga dimungkinkan akan meminimalkan terjadinya kesalahan.
Kekurangan
Beberapa kelemahan dari teori ini berdasarkan analisa teknologi (Margaret E. B. G. 1994)
adalah bahwa: (i) teknologi untuk situasi yang kompleks tidak bisa lengkap; analisa yang
berhasil bergantung pada keterampilan teknologis, (ii) keseringan respon sukar diterapkan pada
tingkah laku kompleks sebagai ukuran peluang kejadian. Disamping itu pula, tanpa adanya
sistem hukuman akan dimungkinkan akan dapat membuat anak didik menjadi kurang mengerti
tentang sebuah kedisiplinan. hal tersebuat akan menyulitkan lancarnya kegiatan belajarmengajar. Dengan melaksanakan mastery learning, tugas guru akan menjadi semakin berat.
Beberapa Kekeliruan dalam penerapan teori Skinner adalah penggunaan hukuman sebagai salah
satu cara untuk mendisiplinkan siswa. Menurut Skinner hukuman yang baik adalah anak
merasakan sendiri konsekuensi dari perbuatannya. Misalnya anak perlu mengalami sendiri
kesalahan dan merasakan akibat dari kesalahan. Penggunaan hukuman verbal maupun fisik
seperti: kata-kata kasar, ejekan, cubitan, jeweran justru berakibat buruk pada siswa
TEORI BELAJAR BEHAVIORISME CLARK LEONARD HULL

TEORI BELAJAR BEHAVIORISME


CLARK LEONARD HULL

Belajar merupakan sebuah kewajiban bagi manusia. Belajar telah dimulai dari
dalam kandungan hingga akhir hayat. Belajar merupakan suatu proses yang
ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Perubahan sebagai hasil
proses

belajar

dapat

ditunjukkan

dalam

berbagai

bentuk

seperti

berubah

pengetahuannya, pemahamannya, sikap dan tingkah lakunya, keterampilannya,


kecakapan dan kemampuannya, daya reaksinya, daya penerimaannya, dan aspek
yang ada pada individu. Belajar adalah proses yang diarahkan kepada tujuan,
proses berbuat melalui berbagai pengalaman (Sudjana, 2000). Menurut Parwira
(2012) belajar sebagai suatu aktivitas yang ditunjukkan oleh perubahan tingkah
laku sebagai hasil dari pengalaman. Jadi, belajar merupakan sebuah proses

perubahan pada diri manusia yang dapat dapat dilihat dari tingkah lakunya yang
merupakan hasil dari pengalaman.
Kegiatan

pembelajaran

memiliki

berbagai

masalah-masalah

yang

memerlukan solusi. Permasalahan belajar ini dapat diselesaikan dengan pendekatan


secara psikologi. Psikologi merupakan analisis ilmiah mengenai proses mental dan
struktur daya ingat untuk memahami perilaku manusia (Ahmad & Supriyono, 2008).
Menurut Iskandar (2012), psikologi adalah ilmu mengenai perilaku, tetapi hal yang
menarik pengertian perilaku yang telah mengalami perkembangan sehingga
sekarang ikut menangani hal yang pada masa lampau disebut pengalaman. Jadi,
psikologi merupakan ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia yang nampak.
Cabang psikologi yang memgkaji belajar adalah psikologi pendidikan. psikologi
pendidikan

memiliki

humanisme.

Kajian

beberapa
pada

pendekatan

makalah

ini

behaviorisme,

hanya

berfokus

kognitifisme,
pada

dan

pendekatan

behaviorisme. Pendekatan behavior menitik-beratkan pandangannya pada aspek


tingkah laku lahiriah manusia dan hewan, pendekatan ini melahirkan beberapa
teoriteori belajar. Salah satu teori belajar behaviorisme adalah

Systematic

behavior theory yang diperkenalkan oleh Clark Leonard Hull.


Permasalahan yang diangkat dalam makalah ini adalah apa saja teori
behaviorisme

menurut

Tujuannya adalah

Hull

dan

bagaimana

untuk mengetahui teori

aplikasinya
behaviorisme

dalam

pendidikan?

menurut Hull dan

aplikasinya dalam pendidikan.


Biografi Clark Leonard Hull
Clark Leonard Hull dilahirkan di Akron, New York pada 24 Mei 1884. Ia
dibesarkan di Michigan, dan mendiami satu kelas selama bertahun-tahun. Hull
mempunyai masalah kesehatan di mata, mempunyai orang tua yang miskin, dan
pernah menderita polio. Pendidikan yang ditempuhnya beberapa kali terputus
karena sakit dan masalah keuangan. Tetapi setelah lulus, dia memenuhi syarat
sebagai guru dan menghabiskan banyak waktunya untuk mengajar di sekolah yang
kecil (Cherry, 2011).
Setelah memperoleh bachelor dan gelar master di Universitas Michigan, ia
beralih ke psikologi, dan menerima Ph.D. psikologi di tahun 1918 dari University of

Wisconsin, dimana dia tinggal selama sepuluh tahun sebagai instruktur. Penelitian
doktornya pada "Aspek kuantitatif dari Evolution of Concepts" telah diterbitkan
dalam Psychological Monographs (Cherry, 2011).

Teori Behavioristik Menurut Hull


Sepanjang karirnya, Hull mengembangkan ide di berbagai bidang psikologi,
terutama psikologi belajar, hipnotis, teknik sugesti. Metode yang paling sering
digunakan adalah eksperimental laboratorium.
Teori belajar Hull berpusat pada perlunya memperkuat suatu pengetahuan
yang sudah ada. Inti tingkat analisis psikologis adalah gagasan mengenai "variabel
intervensi," yang dijelaskan sebagai "unobservable perilaku." Hull sangat berkeras
dan taat pada metode ilmiah, yaitu dengan rancangan percobaan yang dikontrol
dan analisis data yang diperoleh. Perumusan deduktif dari teori belajar melibatkan
serangkaian postulat yang akhirnya harus diuji oleh eksperimen (Parwira, 2012).
Salah satu aspek dari pekerjaan Hull adalah pada tes bakat yang akan
membuktikan

instrumental

dalam

perkembangan

behaviorismenya.

Untuk

memfasilitasi penghitungan dari correlations antara berbagai tes, ia membangun


sebuah mesin untuk melakukan perhitungan, menyelesaikan proyek pada tahun
1925 dengan dukungan dari National Research Council. Selain dari mesin praktis
manfaat, keberhasilan proyek Hull yang bersifat fisik dengan perangkat yang tepat,
susunan komponen yang mampu melakukan operasi karakteristik dari proses
mental tingkat tinggi (Parwira, 2012).
Prinsip-prinsip utama teorinya (Parwira, 2012):
1. Reinforcement adalah faktor penting dalam belajar yang harus ada. Namun fungsi
reinforcement bagi Hull lebih sebagai drive reduction daripada satisfied factor.
2.

Dalam mempelajari hubungan S - R yang diperlu dikaji adalah peranan dari


intervening variable (atau yang juga dikenal sebagai unsur O (organisma). Faktor O
adalah kondisi internal dan sesuatu yang disimpulkan (inferred), efeknya dapat
dilihat pada faktor R yang berupa output.

3. Proses belajar baru terjadi setelah keseimbangan biologis terjadi. Di sini tampak
pengaruh teori Darwin yang mementingkan adaptasi biologis organisma.
Hypothetico- deductive theory adalah teori belajar yang dikembangkan Hull
dengan menggunakan metode deduktif. Hull percaya bahwa pengembangan ilmu
psikologi harus didasarkan pada teori dan tidak semata-mata berdasarkan
fenomena individual (induktif). Teori ini terdiri dari beberapa postulat yang
menjelaskan pemikirannya tentang aktivitas otak, reinforcement, habit, reaksi
potensial, dan lain sebagainya (Iskandar, 2012).
Teori Hull mengandung struktur postulat dan teorema yang logis mirip seperti
geometri Euclid. Postulat itu adalah pernyataan umum tentang perilaku yang tidak
dapat diverifikasi secara langsung, meskipun teorema yang secara logis berasal dari
postulat itu dapat diuji. Hull mengajukan enam belas postulat dalam cakupan enam
hal yakni sebagai berikut:
1. Tanda-tanda luar yang mendorong atau membimbing tingkah laku dan representasi
neuralnya atau saraf
Postulat 1Impuls saraf afferent dan bekas lanjutannya
Jika suatu perangsang mengenai reseptor, maka timbullah impuls saraf afferent
dengan cepat mencapai puncak intensitasnya dan kemudian berkurang secara
berangsur-angsur. Sesaat saraf afferent berisi impuls dan diteruskan kepada saraf
sentral dalam beberapa detik dan seterusnya timbul respon. S-R diubah menjadi Ss-R atau S-s-r-R. Simbol s adalah impuls atau stimulus trace dalam saraf sensoris,
dan simbol r adalah impuls respon yang masih dalam saraf afferent.
Postulat 2: Interaksi saraf afferent
Impuls dalam suatu saraf afferent dapat diteruskan ke satu atau lebih saraf afferent
lainnya. R timbul tidak hanya karena satu stimulus, tetapi lebih dari satu S yang lalu
terjadi kombinasi berbagai stimulus. Rumusnya akan berubah menjadi S-r-R.
2. Respon terhadap kebutuhan, hadiah, dan kekuatan kebiasaan
Postulat 3: Respon-respon bawaan terhadap kebutuhan (tingkah laku yang tidak
dipelajari)
Sejak lahir organisme mempunyai hierarki respon penentu kebutuhannya yang
timbul karena ada rangsangan-rangsangan dan dorongan. Respon terhadap
kebutuhan tertentu bukan merupakan respon pilihan secara random, tetapi respon

yang memang ditentukan oleh kebutuhannya, misalnya mata kena debu maka
secara otomatis mata berkedip dan keluar air mata. Jika pola respons bawaan
pertama tidak memenuhi kebutuhan, maka akan muncul pola lainnya. Jika tidak ada
satupun pola-pola perilaku bawaan itu yang efektif dalam memenuhi kebutuhan,
maka organisme harus mempelajari pola respons baru.
Postulat 4: Hadiah dan kekuatan kebiasaan; kontiguitas dan reduksi dorongan
sebagai kondisi-kondisi untuk belajar
Kekuatan kebiasaan akan bertambah jika kegiatan-kegiatan reseptor dan efektor
terjadi dalam persamaan waktu yang menyebabkan hubungan kontiguitif dengan
hadiah pertama dan hadiah kedua. Jika satu stimulus diikuti dengan satu respons
yang kemudian diikuti dengan penguatan, maka asosiasi antara stimulus dan
respons itu akan semakin kuat yang disebut dengan habit strength (kekuatan
kebiasaan) [SHR]. Rumusan matematis yang mendeskripsikan hubungan antara SHR
dan jumlah pasangan S dan R yang diperkuat adalah :
HR = 1 10

-0.0305N

N adalah jumlah pemasangan antara S dan R yag diperkuat. Rumusan ini


menghasilkan kurva belajar yang terakselerasi secara negatif, yang berarti bahwa
pasangan yang lebih dahulu diperkuat memiliki lebih banyak efek terhadap belajar
ketimbang pasangan selanjutnya.
3. Stimulus pengganti (ekuaivalen)
Postulat 5: Generalisasi (penyamarataan)
Kekuatan kebiasaan yang efektif timbul karena stimulus lain daripada stimulus
pertama yang menjadi persyaratan bergantung kepada penindakan stimulus kedua
dari yang pertama dalam kesatuan yang terus menerus dari ambang perbedaan,
dengan kata lain yang ingin dibentuk merupakan hasil rata-rata persyaratan
stimulus

berikutnya.

Generalisasi

stimulus

ini

juga

mengindikasikan

bahwa

pengalaman sebelumnya akan mempengaruhi proses belajar yang sekarang. Hull


menyebutnya sebagai generalized habit strength (kekuatan kebiasaan yang
digeneralisasikan).
4. Dorongan-dorongan sebagai akitivator respon
Postulat 6: Stimulus dorongan

Hubungan dengan tiap-tiap dorongan adalah stimulus dorongan karakteristik yang


intensitasnya

meningkat

dengan

kekuatan

dorongan.

Contohnya

bibir

dan

tenggorokan kering yang mengiringi dorongan haus.


Postulat 7: Potensi reaksi yang ditimbulkan oleh dorongan
Kekuatan kebiasaan disintesiskan kedalam potensi reaksi dengan dorongandorongan primer yang timbul pada saat tertentu. Rumusannya adalah :
Potensi reaksi = SER = SHR x D
Jadi, potensi reaksi adalah fungsi dari seberapa sering respons diperkuat dalam
situasi itu dan sejauh mana dorongannya ada.
5.
Faktor-faktor yang melawan respon-respon
Postulat 8: Pengekangan reaksi
Respon memerlukan kerja, dan kerja menyebabkan keletihan yang pada akhirnya
akan menghambat respons. Reactive inhibiton (hambatan reaktif) [I R] disebabkan
kelelahan, tetapi secara otomatis akan hilang jika organisme berhenti beraktivitas.
Timbulnya suatu reaksi menyebabkan pengekangan reaksi yang lain. Suatu
kejemuan untuk mengulangi respon. Pengekangan reaksi adalah penghamburan
waktu yang spontan.
Postulat 9: Pengekangan yang dikondisikan (diisyaratkan)
Stimuli yang dihubungkan dengan penghentian respon menjadi pengekangan yang
dikondisikan. Respon untuk tidak merespon dinamakan conditioned inhibition ( SIR)
(hambatan yang dikondisikan). Baik itu I R maupun

S R

beroperasi melawan

munculnya respons yang telah dipelajari dan karenanya merupakan pengurangan


dari potensi reaksi (SER). Ketika IR dan SIR dikurangkan dari
potensi reaksi efektif (SER).
Potensi reaksi efektif = SER = SHR x D (IR+ SIR)
Postulat 10: Osilasi pengekangan

ER, hasilnya adalah

Potensial pengekangan dihubungkan dengan potensial reaksi yang bergoyang terus


menerus pada waktu itu. Potensi penghambat itu dinamakan efek guncangan ( SOR)
yang membahas sifat probabilistik dan prediksi perilaku.
Potensi reaksi efektif sementara = SER = (SHR x D [IR + SIR]) - SOR
6.
Bangkitnya respon
Postulat 11: Reaksi ambang perangsang
Potensi reaksi efektif yang momentum harus melampaui reaksi ambang perangsang
sebelum stimulus membangkitkan reaksi.
Postulat 12: Kemungkinan reaksi diatas ambang perangsang
Kemungkinan respon adalah fungsi normal dari potensi reaksi efektif melampaui
reaksi ambang perangsang.
Postulat 13: Latensi (keadaan diam atau berhenti)
Latensi [STR] adalah waktu antara presentasi stimulus ke organisme dan respon
yang dipelajarinya. Makin potensi reaksi efektif melampaui reaksi ambang
perangsang makin pendek latensi respon, artinya respon makin cepat timbul.
Postulat 14: Hambatan berhenti (ekstingsi)
Makin besar potensi reaksi efektif, makin besar respon yang timbul tanpa
perkuatan, sebelum berhenti atau ekstingsi.
Postulat 15: Amplitudo respon (besarnya respon)
Besarnya dorongan dilantari atau disebabkan oleh peningkatan kekuatan potensi
efektif reaksi dalam sistem saraf otonom.
Postulat 16: Respon-respon yang bertentangan
Jika potensi-potensi reaksi kepada dua atau lebih respon-respon yang bertentangan
terjadi dalam organisme pada waktu yang sama, maka hanya reaksi yang
mempunyai potensi reaksi yang lebih besar akan terjadi responnya (Parwira, 2012).

Aplikasi Teori Behavioristik Menurut Hull dalam Pendidikan


Aplikasi teori behavioristik dalam kegiatan pembelajaran tergantung dari
beberapa hal seperti: tujuan pembelajaran, sifat materi pelajaran, karakteristik
pebelajar, media dan fasilitas pembelajaran yang tersedia. Pembelajaran yang
dirancang dan berpijak pada teori behavioristik memandang bahwa pengetahuan
adalah obyektif, pasti, tetap, tidak berubah. Pengetahuan telah terstruktur dengan
rapi, sehingga belajar adalah perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah
memindahkan pengetahuan (transfer of knowledge) ke orang yang belajar atau
pebelajar (Jarvis, 2012).
Teori belajar Hull adalah teori reduksi dorongan atau reduksi stimulus
dorngan. Mengenai soal spesiafibilitas tujuan, keterlibatan kelas, dan proses belajar
dari yang sederhana ke yang kompleks, Hull sepakat dengan Thorndike. Menurutnya
belajar melibatkan dorongan yang dapat direduksi. Sulit membayangkan bagaimana
reduksi dorongan primer dapat berperan dalam belajar di kelas, tetapi, beberapa
pangikut Hull (misalnya, Janet Taylor Spence) menekankan kecemasan sebagai
sebentuk dorongan dalam proses belajar manusia. Berdasarkan penalaran ini, maka
mereduksi kecemasan murid adalah syarat yang diperlukan untuk belajar di kelas.
Tetapi, terlalu sedikit kecemasan tidak akan menimbulkan proses (karena tidak ada
dorongan yang akan direduksi), dan terlalu banyak kecemasan akan mengganggu.
Karenanya, siswa yang merasakan kecemasan ringan ada dalam posisi terbaik
untuk belajar dan karenanya lebih mudah untuk diajari.
Latihan harus didistribusikan dengan cermat agar hambatan tidak muncul.
Guru Hullian akan membagi topiktopik yang diajarkan sehingga pembelajaran
(siswa) tidak akan kelelahan yang bisa mengganggu proses belajar. Topik topik itu
juga diaturkan sedemikian rupa sehingga topik yang berbeda beda akan saling
berurutan. Misalnya, urutan pelajaran yang baik adalah matematika, pendidikan
olahraga, bahasa Inggris, seni, dan sejarah (Jarvis, 2012).
Miller dan Dollard (1941) meringkaskan aplikasi teori Hull untuk pendidikan
sebagai

berikut:

Pembelajaran

Driver:

harus

Pembelajaran

memerhatikan

harus

menginginkan

sesuatu.Response:

sesuatu.

Pembelajaran

Cue:
harus

melakukan sesuatu. Reinforcement: Respons pembelajaran harus membuatnya


mendapatkan sesuatu yang diinginkannya.

Menurut teori Hull, kondisi yang disusun secara optimal akan mempermudah
siswa untuk belajar. Belajar di kelas dapat diklasifikasikan dalam tiga tipe yaitu:
stimulus

discrimination,

respon

differentions,

dan

reward/punishment

konsequences. Proses belajar dibedakan menjadi belajar tentang kebiasaan dan


belajar tentang incentiv (Parwira, 2012).
Terdapat dua motivasi terhadap belajar siswa yaitu dorongan atau kebutuhan
siswa terhadap situasi belajar dan harapan murid terhadap konsekuensi belajar.
Adanya dorongan belajar, maka belajar merupakan penguatan. Makin banyak
belajar, makin banyak reinforcement (penguatan) menjuadi makin besar motivasi
untuk menggunakan respon yang menuju keberhasilan belajar. Oleh karena itu guru
atau kepala sekolah harus merencanakan kegiatan belajar berdasarkan pengamatan
yang dilakukan terhadap dorongan yang mendasari siswa.
Belajar

dipandang

sangat

erat

dengan

adaptasi

survival.

Beberapa

pertanyaan dasar yang menurut teori Hull sangat berperan dalam proses
pembelajaran di kelas adalah:
Bagaimana menyediakan stimuli di kelas dalam usaha membantu kegiatan belajar
siswa ke arah pencapaian tujuan pendidikan dan tujuan-tujuan pengajaran?
Apa kebutuhan yang paling penting dari setiap siswa?
Penghargaan apa yang harus disediakan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan
siswa?
Bagaimana cara untuk meningkatkan dorongan belajar pada siswa?
Bagaimana merencanakan kegiatan belajar dengan memperhitungkan kebutuhankebutuhan siswa dan penghargaan-penghargaan yang diperlukan?
Bagaimana cara meningkatkan kebutuhan membuat kegiatan di kelas agar lebih
sesuai dan lebih tepat dengan kebutuhan siswa? (Ahmad & Supriyono, 2008)
Pertanyaan-pertanyaan

tersebut

apabila

dikaji

secara

seksama

akan

memberikan arah dan rambu-rambu bagaimana pengajaran di kelas harus


dilakukan. Arah dan rambu-rambu tersebut adalah :

Pentingnya tujuan bagi siswa, yang dirumuskan melalui tujuan-tujuan pembelajaran


Pemberian stimulus oleh guru ditujukan pada pencapaian tujuan pengajaran
Keberhasilan belajar dipengaruhi oleh ada tidaknya kebutuhan belajar pada diri siswa
Motivasi sangat penting dalam pengajaran sesuai dengan kebutuhan siswa.
Program belajar-mengajar harus dirancang sedemikian rupa sesuai dengan
kebutuhan siswa.

Prinsip-prinsip

tersebut

hendaknya

dijadikan

dasar

dalam

menyusun

teori

pengajaran.

Kesimpulan
Teori behaviorisme menurut Hull dikelompokkan dalam enam kategori dan 16
postulat. (1) Tanda-tanda luar yang mendorong atau membimbing tingkah laku dan
representasi neuralnya atau saraf, (2) Respon terhadap kebutuhan, hadiah, dan
kekuatan kebiasaan, (3) Stimulus pengganti (ekuaivalen), (4) Dorongan-dorongan
sebagai akitivator respon, (5) Faktor-faktor yang melawan respon-respon, (6)
Bangkitnya respon. Aplikasi teori Hull dalam pendidikan yaitu: Driver: Pembelajaran
harus

menginginkan

sesuatu.Response:
Respons

sesuatu.

Pembelajaran

pembelajaran

harus

Cue:

Pembelajaran

harus

melakukan

membuatnya

harus

memerhatikan

sesuatu.

Reinforcement:

mendapatkan

sesuatu

yang

diinginkannya.
TEORI PEMBELAJARAN MENURUT EDWIN RAY GUTHRIE
by admin _brow 27/03/2014 | 12:45 0 Posted in Pendidikan

www.rangkumanmakalah.com
A.

Pendahuluan

(rangkuman) Teori belajar behavioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage
dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman.[1]Behaviorisme
merupakan salah satu pendekatan untuk memahami perilaku individu. Behaviorisme memandang
individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah, dan mengabaikan aspek-aspek mental. Dengan
kata lain, behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan, bakat, minat dan perasaan individu
dalam suatu belajar. Peristiwa belajar semata-mata melatih refleks-refleks sedemikian rupa
sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai individu. (makalah)

(rangkuman)Pandangan tentang belajar menurut menurut aliran tingkah laku, tidak


lain adalah perubahan dalam tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan
respons. Atau dengan kata lain, belajar adalah perubahan yang dialami siswa dalam hal
kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara
stimulus dan respons. (makalah)
(rangkuman)Diantara para penerus tradisi behavioristik yakni Erwin R. Guthrie ia
tergolong generasi yang lebih muda secra intelektual dan Guthrie tidak termasuk generasi yang
muncul sesudahnya dan menjadi penerus ide para perintis tersebut. (makalah)
(rangkuman)Pendidikan behaviorisme merupakan kunci dalam mengembangkan
keterampilan dasar dan dasar-dasar pemahaman dalam semua bidang subjek dan manajemen
kelas. Ada ahli yang menyebutkan bahwa teori belajar behavioristik adalah perubahan perilaku
yang dapat diamati, diukur dan dinilai secara konkret(makalah)
(rangkuman)Teori Belajar adalah deskriptif, karena tujuan utama teori belajar
menjelaskan proses belajar, teori belajar menaruh perhatian pada hubungan diantara variablevariabel yang menentukan hasil belajar. Behavior adalah prilaku manusia, sehingga teori belajar
behavioristik adalah belajar yang diartikan sebagai proses perubahan prilaku sebagai interaksi
antara stimulus dan respon, belajar menurut psikologi behavioristik suatu control instrumental
yang berasal dari lingkungan. (makalah)
B.

Konsep Dasar Teori Behavioristik

(rangkuman)Behaviorisme merupakan salah satu aliran psikologi yang memandang individu


hanya dari sisi fenomena jasmaniah, dan mengabaikan aspek-aspek mental, yang dengan kata
lain, behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan, bakat, minat dan perasaan individu dalam
suatu belajar. Peristiwa belajar semata-mata melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga
menjadi kebiasaan yang dikuasai individu. Dalam konsep Behavioral, perilaku manusia
merupakan hasil belajar, sehingga dapat di ubah dengan memanipulasi dan mengkreasi kondisikondisi belajar.[2] (makalah)
(rangkuman)Beberapa prinsip dalam teori belajar behavioristik, meliputi: (1) Reinforcement and
Punishment; (2) Primary and Secondary Reinforcement; (3) Schedules of Reinforcement; (4)
Contingency Management; (5) Stimulus Control in Operant Learning; (6) The Elimination of
Responses. (makalah)
(rangkuman)Teori behaviorisme sangat menekankan perilaku atau tingkah laku yang dapat
diamati. Teori-teori dalam rumpun ini sangat bersifat molekular, karena memandang kehidupan
individu terdiri atas unsur-unsur seperti halnya molekul-molekul.[3] (makalah)

(rangkuman)Ada beberapa ciri dari rumpun teori ini, yaitu :


1. Mengutamakan unsur-unsur atau bagian-bagian terkecil
2. Bersifat mekanistik
3. Menekankan peranan lingkungan
4. Mementingkan pembentukan reaksi atau respon
5. Menekankan pentingnya latihan

(rangkuman)Teori belajar behavioristik menjelaskan belajar itu adalah perubahan perilaku yang
dapat diamati, diukur dan dinilai secara konkret. Perubahan terjadi melalui rangsangan
(stimulans) yang menimbulkan hubungan perilaku reaktif (respon) berdasarkan hukum-hukum
mekanistik. Stimulans tidak lain adalah lingkungan belajar anak, baik yang internal maupun
eksternal yang menjadi penyebab belajar. Sedangkan respons adalah akibat atau dampak, berupa
reaksi fisik terhadap stimulans. Belajar berarti penguatan ikatan, asosiasi, sifat dan
kecenderungan perilaku S-R (stimulus-Respon). (makalah)
(rangkuman)Aliran psikologi belajar yang sangat besar pengaruhnya terhadap arah
pengembangan teori dan praktik pendidikan dan pembelajaran hingga kini adalah aliran
behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil
belajar. Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus responnya, mendudukkan orang
yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan
metode drill atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan
reinforcement dan akan menghilang bila dikenai hukuman. (makalah)
(rangkuman)Behaviorisme banyak menentukan perkembangan psikologi terutama dalam
ekperimen-eksperimen dan ini diakui secara luas sebagai jasa besar para behavioris dalam
penelitian tentang prilaku manusia termasuk juga ilmu komunikasi yang mengkaji manusia dan
prilakunya banyak dipengaruhi oleh konsepsi behavioris(makalah)
(rangkuman)Lahirnya paham ini merupakan reaksi terhadap introspeksionisme (yang
menganalisis jiwa manusia berdasarkan laporan-laporan subjektif) dan juga psikoanalisis (yang
berbicara tentang alam bawah sadar yang tidak tampak) yang sangat sulit diamati, diukur dan
diramalkan. Kaum Behavioris mencoret dari kamus ilmiah mereka semua peristilahan yang
bersifat subjektif, seperti sensasi, persepsi, hasrat, tujuan, bahkan termasuk berpikir dan emosi
sejauh kedua pengertian tersebut dirumuskan secara subjektif. (makalah)
(rangkuman)Belakangan, teori kaum behavioris lebih dikenal dengan nama teori belajar, karena
menurut mereka seluruh perilaku manusia kecuali instink adalah hasil belajar. Belajar artinya
perubahan perilaku organisme sebagai pengaruh lingkungan. Behaviorisme tidak mau

mempersoalkan apakah manusia baik atau jelek, rasional atau emosional; behaviorisme hanya
ingin mengetahui bagaimana perilakunya dikendalikan oleh faktor-faktor lingkungan. Dari
sinilah timbul konsep manusia mesin (Homo Mechanicus). (makalah)

C.

Biografi Edwin Ray Guthrie

(rangkuman)Guthrie lahir di Lincoln Nebrazka tanggal 9 januari pada tahun 1886 dan
meninggal pada tahun 1959 . setelah SMA kemudian meneruskan studinya ke universitas
Nebraska dan lulus dengan sarjana matematika dan kemudian mengajar matematika di beberapa
sekolah menengah sambil memperdalam filsafat di Universitas Pennsylvania dan lulus sebagai
doktor. Kemudian menjadi instruktur filsafat di Universitas Washington. Setelah lima tahun ia
pindah ke Departemen Psikologi sampai karirnya berakhir. Guthrie adalah profesor psikologi di
University of Washington dari tahun 1914 sampai pensiun pada tahun 1952. Gaya tulisan Gutrie
lebih mudah untuk dipelajari karena penuh humor, dan menggunakan banyak kisah untuk
menunjukkan contoh ide-idenya supaya mudah dipahami oleh mahasiswanya. Bersama dengan
Horton ia melakukan satu percobaan yang tekait dengan teori belajarnya.[4] (makalah)
(rangkuman)Pada usia 33 tahun Guthrie pemenang nobel yang diberikan asosiasi psikologi
Amerika dalam kontribusi terakhir. Karya dasarnya adalah The Psycholoy of Learning, yang
dipublikasikan pada 1935 dan direvisi pada 1952. (makalah)
(rangkuman)Pada publikasi terahirnya sebelum meninggal, Guthrie sempat merevisi hukum
kontiguitasnya menjadi, apa-apa yang dilihat akan menjadi sinyal terhadap apa- apa yang
dilakukan. Alasannya karena terdapat berbagai macam stimuli yang dihadapi oleh organisme
pada satu waktu tertentu dan organisme tidak mungkin membentuk asosiasi dengan semua
stimuli itu. Organisme hanya akan memproses secara efektif pada sebagian kecil dari stimuli
yang dihadapinya, dan selanjutnya proporsi inilah yang akan diasosiasikan dengan respons.
(makalah)
(rangkuman)Meskipun Guthrie menekankan keyakinannya pada hukum kontiguitas di sepanjang
karirnya, dia menganggap akan keliru jika kita menganggap asosiasi yang dipelajari sebagaian
hanya asosiasi antara stimuli lingkungan dengan prilaku nyata. Misalnya, kejadian di lingkungan
dan responsnya terkadang dipisahkan oleh satu interval waktu, dan karenanya sulit untuk
menganggap keduanya sebagai kejadian yang bersamaan. (makalah)
(rangkuman)Guthrie selanjutnya mengatasi problem tersebut dengan mengemukakan adanya
movement-product stimuli (stimuli yang dihasilkan oleh gerakan), yakni disebabkan oleh
gerakan tubuh. Contohnya, ketika mendengar telepon berdering kita berdiri dan berjalan
mendekati pesawat telepon. Sebelum kita sampai ke pesawat telepon, suara deringan tersebut
sudah tidak lagi bertindak sebagai stimulus. Kita tetap bergerak karena ada stimuli dari gerakan
kita sendiri menuju pesawat telepon. (makalah)

D.

Eksperience Guthrie dan Horton

(rangkuman)Guthrie dan Horton (1946) secara cermat mengamati sekitar delapan ratus kali tidak
melepaskan diri dari kotak teka-teki yang dilakukan oleh kucing yang kemudian observasi ini
dilaporan dalam sebuah buk yang berjudul cats in a Puzzle Box. Kotak yang ereka pakai sama
dengan yang dipakai Thorndike dalam melakukan eksperimennya. Guthrie dan Horton
menggunakan banyak kucing sebaai subyek percobaan, akan tetapi mereka melihat kucing kelar
dari kotak dengan cara sendiri-sendiri dan berbeda-beda.[5] (makalah)
(rangkuman)Dari percobaan diatas respon khusus yang dipelajari oleh hewan tertentu adalah
respon yang dilakukan hewan sebelum ia keluar dari kotak. Karena respon ini cenderung diulang
lagi saat kucing diletakkan di kotak di waktu yang lain, maka ia dinamakan stereotyped behavior
(perilaku strereotip). (makalah)
(rangkuman)Guhtrie dan Horton mengamati bahwa seringkali hewan, setelah bebas dari kotak
akan mengabaikan ikan yang diberikan kepadanya. Meskipun hewan itu mengabaikan obyek
yang disebut penguatan tersebut, kucing dapat keluar dari kotak dengan lancar ketika diwaktu
yang lain ia dimasukkan lagi ke dalam kotak. Observasi ini, menurut Guthrie memperkuat
pendapatnya bahwa penguatan hanyalah aransemen mekanis yang mencegah terjadinya
unlearning. Sehingga dapat disimpulkan bahwa setiap kejadian yang diikuti dengan respons yang
diinginkan dari hewan akan mengubah kondisi yang menstimulasi dan karenanya
mempertahankan respons di dalam kondisi yang menstimulasi sebelumnya.[6] (makalah)
E.

Teori Belajar Menurut Guthrie (1886-1959)

(rangkuman)Azas belajar Guthrie yang utama adalah hukum kontiguiti. Yaitu gabungan
stimulus-stimulus yang disertai suatu gerakan, pada waktu timbul kembali cenderung akan
diikuti oleh gerakan yang sama.[7] Hukum kontiguiti adalah satu prinsip asosionisme yaitu
respon atas suatu situasi cendrung diulang, bilamana individu menghadapi suatu yang sama.
Kunci teori guthrie terletak pada prinsip tunggal bahwa kontiguitas merupakan fondasi
pembelajaran. (makalah)
(rangkuman)Guthrie juga menggunakan variabel hubungan stimulus dan respon untuk
menjelaskan terjadinya proses belajar. Belajar terjadi karena gerakan terakhir yang dilakukan
mengubah situasi stimulus sedangkan tidak ada respon lain yang dapat terjadi. Penguatan
sekedar hanya melindungi hasil belajar yang baru agar tidak hilang dengan jalan mencegah
perolehan respon yang baru. (makalah)
(rangkuman)Hubungan antara stimulus dan respon bersifat sementara, oleh karena itu dalam
kegiatan belajar peserta didik perlu sering diberi stimulus agar hubungan stimulus dan respon
bersifat lebih kuat dan menetap dan karena itu pula diperlukan pemberian stimulus yang sering

agar hubungan itu menjadi lebih langgeng. Selain itu, suatu respon akan lebih kuat (dan bahkan
menjadi kebiasaan) bila respon tersebut berhubungan dengan berbagai macam stimulus.
(makalah)
(rangkuman)Hukum tersebut diusulkan oleh Guthrie karena menganggap kaidah yang
dikemukakan oleh Thorndike dan Pavlov terlalu rumit dan berlebihan. Thorndike
mengemukakan bahwa, jika respons menemukan kondisi yang memuaskan maka koneksi S-R
akan menguat. Disisi lain Pavlov mengemukakan dengan hukum belajarnya dengan model
kondisional berupa CR-CS-US-UR. Unsur- unsur itulah yang dianggap oleh guthrie
berlebihan.
(makalah)
(rangkuman)Stimulus dan respon cendrung bersifat sementara, persetujuan umum di kalangan
psikolog, bahwa kontiguitas stimulus dan respon merupakan kondisi yang penting bagi proses
belajar, maka dari itu diperlukan pemberian stimulus yang sering, agar hubungan itu menjadi
lebih langgeng, suatu respon akan lebih kuat dan menjadi kebiasaan bila respon tersebut
berhubungan dengan berbagaimacam stimulus, situasi belajar merupakan gabungan stimulus dan
respon, akan tetapi asosiasi ini bisa benar dan bisa salah. (makalah)
(rangkuman)Meskipun Guthrie menekankan keyakinannya pada hukum kontiguitas di sepanjang
karirnya, dia menganggap akan keliru jika kita menganggap asosiasi yang dipelajari sebagaian
hanya asosiasi antara stimuli lingkungan dengan prilaku nyata. Misalnya, kejadian di lingkungan
dan responsnya terkadang dipisahkan oleh satu interval waktu, dan karenanya sulit untuk
menganggap keduanya sebagai kejadian yang bersamaan. (makalah)
(rangkuman)Guthrie selanjutnya mengatasi problem tersebut dengan mengemukakan adanya
movement-product stimuli (stimuli yang dihasilkan oleh gerakan), yakni disebabkan oleh
gerakan tubuh. Contohnya, ketika mendengar telepon berdering kita berdiri dan berjalan
mendekati pesawat telepon. Sebelum kita sampai ke pesawat telepon, suara deringan tersebut
sudah tidak lagi bertindak sebagai stimulus. Kita tetap bergerak karena ada stimuli dari gerakan
kita sendiri menuju pesawat telepon. (makalah)
Hukuman menurut Guthrie
(rangkuman)Guthrie juga percaya bahwa hukuman (punishment) memegang peranan penting
dalam proses belajar. Hukuman yang diberikan pada saat yang tepat akan mampu mengubah
tingkah laku seseorang. Saran utama dari teori ini adalah guru harus dapat mengasosiasi stimulus
respon secara tepat. Pebelajar harus dibimbing melakukan apa yang harus dipelajari. Hukuman
yang diberikan dalam proses pembelajaran harus sesuai dengan asumsi dan ideologi yang ada
dalam diri siswa. (makalah)

(rangkuman)Meskipun menurut sekolah hukuman itu tidak edukatif dan tidak efektif, bisa saja
menurut sekolah yang lain sangat efektif. Hal ini disebabkan oleh asusmi ideologis yang diyakini
di kalangan siswa. Contoh jenis hukuman di pondok pesantren tidak sesuai jika diterapkan di
sekolah formal yang jauh dari budaya pondok pesantren.[8] (makalah)
(rangkuman)Sebagai contoh, seseorang yang memiliki kebiasaan merokok sulit ditinggalkan.
Hal ini dapat terjadi karena perbuatan merokok tidak hanya berhubungan dengan satu macam
stimulus (misalnya kenikmatan merokok), tetapi juga dengan stimulus lain seperti minum kopi,
berkumpul dengan teman-teman, ingin tampak gagah, dan lain-lain. (makalah)
(rangkuman)Menurutnya suatu hukuman yang diberikan pada saat yang tepat, akan mampu
mengubah kebiasaan seseorang. Sebagai contoh, seorang anak perempuan yang setiap kali
pulang dari sekolah, selalu mencampakkan baju dan topinya di lantai. Kemudian ibunya
menyuruh agar baju dan topik dipakai kembali oleh anaknya, lalu kembali keluar, dan masuk
rumah kembali sambil menggantungkan topi dan bajunya di tempat gantungannya. Setelah
beberapa kali melakukan hal itu, respons menggantung topi dan baju menjadi terasosiasi dengan
stimulus memasuki rumah. Meskipun demikian, nantinya faktor hukuman ini tidak dominan
dalam teori-teori tingkah laku. Terutama setelah Skinner makin mempopulerkan ide tentang
penguatan (reinforcement). (makalah)
(rangkuman)Menurut Guthrie hukuman memegang peranan penting dalam proses belajar.
Namun ada beberapa alasan mengapa Skinner tidak sependapat dengan Guthrie yaitu: (makalah)
1. Pengaruh hukuman terhadap perubahan tingkah laku sangat bersifat
sementara. (makalah)
2. Dampak psikologis yang buruk mungkin akan terkondisi (menjadi bagian dari
jiwa si terhukum) bila hukuman berlangsung lama. (makalah)
3. Hukuman yang mendorong si terhukum untuk mencari cara lain (meskipun
salah dan buruk) agar ia terbebas dari hukuman. Dengan kata lain, hukuman
dapat mendorong si terhukum melakukan hal-hal lain yang kadangkala lebih
buruk
daripada
kesalahan
yang
diperbuatnya.
Skinner lebih percaya kepada apa yang disebut sebagai penguat negatif.
Penguat negatif tidak sama dengan hukuman. (makalah)

(rangkuman)Ketidak samaannya terletak pada bila hukuman harus diberikan (sebagai stimulus)
agar respon yang muncul berbeda dengan respon yang sudah ada, sedangkan penguat negatif
(sebagai stimulus) harus dikurangi agar respon yang sama menjadi semakin kuat. (makalah)
(rangkuman)Misalnya, seorang siswa perlu dihukum karena melakukan kesalahan. Jika siswa
tersebut masih saja melakukan kesalahan, maka hukuman harus ditambahkan. Tetapi jika sesuatu
tidak mengenakkan siswa (sehingga ia melakukan kesalahan) dikurangi (bukan malah ditambah)

dan pengurangan ini mendorong siswa untuk memperbaiki kesalahannya, maka inilah yang
disebut penguatan negatif. Lawan dari penguatan negatif adalah penguatan positif (positive
reinforcement). Keduanya bertujuan untuk memperkuat respon. Namun bedanya adalah penguat
positif menambah, sedangkan penguat negatif adalah mengurangi agar memperkuat respon.
(makalah)
(rangkuman)Efektifitas hukuman ditentukan oleh apa penyebab apa penyebab tindakan yang
dilakukan oleh organisme yang dihukum itu. Hukuman bekerja dengan baik bukan kerena rasa
sakit yang dialami oleh individu yang terhukum, akan tetapi karena hukuman mengubah cara
indiviu merespons stimuli yang sama. Hukuman dikatakan berhasil ketika hukuman berhasil
mengubah perilaku yang tidak diinginkan karena hukuman menimbulkan perilaku yang tidak
kompatibel dengan perilaku yang dihukum. Dan hukuman dikatakan gagal apabila perilaku yang
disebabkan oleh hukuman selaras dengan perilaku yang dihukum.[9] (makalah)
(rangkuman)Karena pandangan Guthrie tentang asosiasi tergantung pada stimulus dan respon,
peran penguatan memiliki interpretasi unik. Guthrie percaya pada pembelajaran satu kali
mencoba, dengan kata lain kedekatan hubungan antara elemen-elemen stimulus dan respon
langsung menghasilkan ikatan asosiatif penuh.[10] (makalah)
Dorongan Menurut Guthrie
(rangkuman)Drives (dorongan) fisiologis merupkan apa yang oleh Guthrie dikatakan
maintaining stimuli (stimuli yang mempertahankan) yang menjaga organisme tetap aktif sampai
tujuan tercapai. Misalnya, rasa lapar menghasilkan stimuli internal yang terus ada sampai
makanan dikonsumsi. Ketika makan diperoleh, maintaining stimuli akan hilang, dan karenanya
kondisi yang menstimulasi telah berubah.[11] (makalah)
Lupa Menurut Guthrie
(rangkuman)Menurut Guthrie, lupa disebabkan oleh munculnya respons alternatif dalam
satu pola stimulus. Setelah pola stimulus menghasilkan respons alternatif, pola stimulus itu
kemudian akan cenderung menghasilkan respons baru. Jadi menurut Guthrie, lupa pasti
melibatkan proses belajar baru. Ini adalah bentuk retroactive inhibition (hambatan retroaktif)
yang ekstrem, yakni fakta bahwa proses belajar lama diintervensi oleh proses belajar baru.
(makalah)
(rangkuman)Untuk menunjukkan hambatan retroaktif, contohnya sebagai berikut: Seseorang
yang belajar tugas A dan kemudian belajar tugas B lalu diuji untuk tugas A. satu orang lainnya
belajar tugas A, tetapi tidak belajar tugas B, dan kemudian diuji pada tugas A. secara umum akan
ditemukan bahwa orang pertama mengingat tugas A lebih sedikit ketimbang orang kedua. Jadi,

tampak bahwa mempelajari hal baru (tugas B) telah mencampuri retensi dari apa yang dipelajari
sebelumnya (tugas A). (makalah)
(rangkuman)Guthrie menerima bentuk hambatan retroaktif ektrim ini. Pendapatnya adalah
bahwa setiap kali mempelajari hal yang baru, maka proses itu akan menghambat sesuatu yang
lama. Dengan kata lain, lupa disebabkan oleh intervensi. Tak ada intervensi, maka lupa tidak
akan terjadi. (makalah)
Transfer Training Menurut Guthrie
(rangkuman)Gutrhrie dalam hal ini kurang terlalu berharap. Karena pada dasarnya seseorang
akan menunjukkan respons yang sesuai dengan stimuli jika pada kondisi yang sama. Guthrie
selalu mengatakan pada mahasiswa universitasnya, jika anda ingin mendapat manfaat terbesar
dari studi anda, anda harus berlatih dalam situasi yang persis sama-dalam kursi yang sama-di
mana anda akan diuji. Jika anda belajar sesuatu di kamar, tidak ada jaminan pengetahuan yang
diperoleh disitu akan ditransfer ke kelas. (makalah)
(rangkuman)Saran Guthrie adalah selalu mempraktikkan perilaku yang persis sama yang akan
diminta kita lakukan nanti, selain itu, kita harus melatihnya dalam kondisi yang persis sama
dengan kondisi ketika nanti kita diuji. Gagasan mengenai pemahaman, wawasan dan pemikiran
hanya sedikit, atau tidak ada maknanya bagi Guthrie. Satu-satunya hukum belajar adalah hokum
kontiguitas, yang menyatakan bahwa ketika dua kejadian terjadi bersamaan, keduanya akan
dipelajari.[12] (makalah)
F.

Teori Conditioning dari Guthrie

(rangkuman)Guthrie mengemukakan bahwa tingkah laku manusia itu secara keseluruhan dapat
dipandang sebagai deretan-deretan tingkah laku yang terdiri dari unit-unit. Unit-unit tingkah laku
ini merupakan reaksi atau respons dari perangsang atau stimulus sebelumnya, dan kemudian unit
tersebut menjadi pula stimulus yang kemudian menimbulkan response bagi unit tingkah laku
yang berikutnya. Demikianlah seterusnya sehingga merupakan deretan-deretan unit tingkah laku
yang terus-menerus. Jadi pada proses conditioning ini pada umumnya terjadi proses asosiasi
antara unit-unit tingkah laku satu sama lain yang berurutan. Ulangan-ulangan atau latihan yang
berkali-kali memperkuat asosiasi yang terdapat antara unit tingkah laku yang satu dengan unit
tingkah laku yang berikutnya. (makalah)
(rangkuman)Sebagai penjelasan dari percobaan Pavlov sebagai berikut: Pada mulanya anjing
percobaan keluar air liur ketika disodorkan makanan. Setelah berkali-kali sambil menyodorkan
makanan dilakukan juga menyorotkan sinar merah kepada anjing itu; pada suatu ketika hanya
dengan menyorotkan sinar merah, anjing itu keluar juga air liurnya. Jadi, dalam hal ini terjadi
asosiasi yang makin kuat antara sinar merah (stimulus) dengan keluarnya air liur (respons). Yang

penting pula diperhatikan dalam percobaan itu ialah; dapat diubahnya suatu stimulus (unit)
tertentu dengan stimulus yang lain. Karena itu, menurut Guthrie untuk mengubah
kebiasaan-kebiasaan yang tidak baik, harus dilihat dalam rentetan deretan unit-unit tingkah
lakunya, kemudian kita usahakan untuk menghilangkan unit yang tidak baik itu atau
menggantinya dengan yang lain yang seharusnya. (makalah)
(rangkuman)Berikut ini sebuah contoh sebagai penjelasan. Seorang ibu datang menanyakan
kepada Guthrie, bahwa anak perempuannya setiap pulang dari sekolah selalu melemparkan tas
dan pakaiannya ke sudut kamarnya, kemudian ganti pakaian dan terus makan tanpa meletakkan
tas dan pakaiannya pada gantungan yang telah tersedia untuk itu. Teguran-teguran ibu untuk
menggantungkan tas dan pakaian pada tempatnya, hanya berlaku satu atau dua, hari saja, sesudah
itu kebiasaan yang buruk berulang lagi. Bagaimana cara memperbaiki kebiasaan buruk pada
anak tersebut? (makalah)
(rangkuman)Guthrie menyarankan (sesuai dengan teori conditioning) perbaikan seperti berikut:
(makalah)
(rangkuman)Teguran ibu jangan hanya menyuruh menggantungkan tas dan pakaiannya sesudah
anak itu makan, akan tetapi anak tersebut harus disuruh memakai pakaian itu lagi dan
menyandang tasnya dan kemudian anak itu masuk ke rumah lagi terus menggantungkan tasnya
dan pakaiannya, berganti pakaian, dan selanjutnya makan. Jadi, proses berlangsungnya unit-unit
tingkah(makalah)
G.

Teori Keterhubungan Guthrie

(rangkuman)Guthrie lebih menekankan pada hubungan antara stimulus dan respons, dan
beranggapan bahwa setiap respons yang didahului atau dibarengi suatu stimulus atau gabungan
dari beberapa stimulus akan timbul lagi bila stimulus tersebut diulang lagi. Lebih lanjut
dinyatakan bahwa suatu stimulus tertentu akan menimbulkan respons tertentu. Suatu respons
hanya terbina oleh satu kali percobaan saja, oleh karena itu pengulangan atau repetisi tidak
memperkuat hubungan stimulus respons. Namun demikian, Guthrie menekankan pada
pentingnya pengulangan atau drill. Pengulangan tersebut bukan dimaksudkan untuk memperkuat
hubungan, tetapi untuk membina atau memasangkan stimulus yang cocok dengan respons yang
diharapkan. Guthrie memulai proses pendidikannya dengan memaparkan tujuan-tujuannya serta
dengan mengemukakan respons-respons apa yang perlu dibuat terhadap rangsangan tertentu.
Kemudian dia akan menciptakan lingkungan belajar yang tertata sedemikian rupa sehingga
respons yang diinginkan dihasilkan sesuai dengan rangsangan yang ada. Motivasi bagi Guthrie
bahkan lebih tidak penting lagi sebagaimana yang dianggap penting oleh Thorndike. Apa yang
diperlukan dalam proses belajar hanyalah agar siswa memberikan respons yang tepat ketika hadir
suatu rangsangan. (makalah)

(rangkuman)Latihan dianggap penting sekiranya hal ini menyebabkan lebih banyak terjadinya
rangsangan yang menghasilkan perilaku yang diinginkan. Karena setiap pengalaman sifatnya
unik, maka siswa harus mempelajarinya berulang-ulang. Tidak ada jaminan bahwa siswa yang
sudab belajan dua tambah dua sama dengan empat (2 + 2 = 4) di papan tulis akan menjawab
sama ketika ia telah duduk di bangkunya. Dengan demikian siswa tidak hanya diharuskan belajar
bahwa dua balok tambah dua balok sama dengan empat balok, tetapi mereka harus juga
membuat pertambahan yang baru dengan menggunakan benda-benda lain, seperti apel, buku,
kucing, dll. (makalah)
(rangkuman)Meskipun pembelajaran secara konstan berlangsung terus, pendidikan dalam kelas
merupakan suatu usaha untuk menghubungkan stimulus tertentu dengan responsnya dengan
penuh tujuan. Seperti juga Thorndike, Guthrie percaya bahwa pendidikan formal harus
menyerupai situasi kehidupan nyata sebanyak mungkin. Para guru penganut teori Guthrie akan
diperbolehkan untuk kadang-kadang menggunakan hukuman untuk menangani perilaku siswa
yang menyimpang. Agar pemakaiannya efektif, hukuman harus digunakan ketika perilaku
menyimpang tadi terjadi. (makalah)
(rangkuman)Lebih jauh lagi hukuman harus menyebabkan timbulnya perilaku yang bertentangan
dengan perilaku menyimpang tadi. Jika misalnya siswa yang sedang membuat kegaduhan di
kelas dihukum dengan cara diteriaki oleh guru, tetapi reaksinya malah membuat kegaduhan yang
lebih besar, maka hukuman itu malah akan menguatkan perilaku yang sedang dilakukannya.
(makalah)
H.

Metode yang dirumuskan Gutrie

(rangkuman)Gutrie merumuskan beberapa metode yang diantaranya adalah:[13] (makalah)


1. Metode Threshold (Ambang) : yaitu metode mencari petunjuk yang memicu
kebiasaan buruk dan melakukan respons lain saat petunjuk itu muncul.
Misalnya, saat diketahui alasan merokok karena stres, maka ketika suatau
saat stres itu datang lakukan kegiatan lain. (makalah)
2. Metode Fatigue (kelelahan) : yaitu, membiarkan respons terus menerus
hingga tidak lagi menjadi fungsi dari stimulus. Misalnya, gadis kecil senang
menyalakan korek api, tugasnya adalah membiarkannya sampai dia merasa
menyalakan korek api tidak lagi menyenangkan. (makalah)
3. Metode Incompatible Stimuli (stimuli menyimpang): yaitu memberikan
penyandingan terhadap stimuli karena dianggap dapat menimbulkan respons
buruk. Misalnya, ibu memberi anaknya sebuah boneka, tetapi anak justru
takut dan gemetar. Jadi, ibu harus menjadi stimulus yang dominan agar
kombinasi keduanya berbentuk relaksasi. (makalah)

(rangkuman)Ketiga metode di atas menurut Guthrie efektif karena disajikan suatu petunjuk
tindakan yang tidak diinginkan dan berusaha mempengaruhi agar tindakan itu tidak dilakukan,
karena ada stimuli utuk perilaku lain yang terjadi dan membuat respons yang buruk menjadi
tersingkirkan. (makalah)
I.

Pendapat Guthrie Tentang Pendidikan

(rangkuman)Seperti halnya Thorndike, Guthrie menyarankan proses pendidikan dimulai dengan


menyatakan tujuan, yakni menyatakan respons apa yang harus dibuat untuk stimuli. Dia
menyarankan lingkungan belajar yang akan memunculkan respons yang diinginkan bersama
dengan adanya stimuli yang akan diletakkan padanya. Jadi motivasi dianggap tidak terlalu
penting, yang diperlukan adalah siswa mesti merespons dengan tepat dalam kehadiran stimuli
tertentu.
Latihan (praktik) adalah penting karena ia menimbulkan lebih banyak stimuli untuk
menghasilkan perilaku yang diinginkan.karena setiap pengalaman adalah unik, seseorang harus
belajar ulang berkali-kali. Guthtrie mengatakan bahwa belajar 2 ditambah 2 di papan tulis
tidak menjamin siswa bisa 2 ditambah 2 ketika dibangku. Karena memungkinkan siswa akan
belajar meletakkan respons pada setiap stimuli (di dalam atau di luar kelas). (makalah)
J.

Praktik latihan

(rangkuman)Dalam praktiknya guthrie memandang bahwa praktik latihan Meningkatkan


Performa, dan dalam hal ini Guthrie membedakan antara act (tindakan) dengan movement
(gerakan). Gerakan adalah kontraksi otot, tindakan terdiri dari berbagai macam gerakan. Tidakan
biasanya didefinisikan dalam term apa-apa yang dicapainya, yakni perubahan apa yang mereka
lakukan dalam lingkungan. Sebagai contoh tindakan, Guthrie menyebut misalnya mengetik surat,
makan pagi, dll. (makalah)
(rangkuman)Adapun untuk belajar tindakan membutuhkan praktik latihan. Belajar bertindak,
yang berbeda dari gerakan, jelas membutuhkan praktik sebab ia mengharuskan gerakan yang
tepat telah diasosiasikan dengan petunjuknya. Bahkan menurut Guthrie, tindakan sederhana
seperti memegang raket membutuhkan beberapa gerakan berbeda sesuai jarak dan arah posisi
subjek itu. Untuk itulah diperlukan sebuah latihan, karena dengan menguasai sebuah tindakan
tidak menjamin pada saat waktu, jarak, dan posisi yang berbeda tindakan itu masih dapat
dilakukan. (makalah)
(rangkuman)Seperti Guthrie dan Thorndike percaya bahwa pendidikan formal seharusnya
menyerupai situasi nyata semirip mungkin. Dengan kata lain guru meminta siswanya untuk
melakukan ata mempelajari hal-hal yang kelak akan mereka lakukan saat mereka lulus nanti.
Guthrie mendukung program magang atau monitoring dan mendorong progam pertukaran pelajar
untuk memperluas pengalaman pelajar. (makalah)

K.

Sifat Pengetahuan menurut Edwin Ray Guthrie

(rangkuman)Yang menggantikan kekuatan dalam teori Guthrie, Pada poin ini Gutrie
menggunakan isu yang dibahas Thorndike, ketika satu respons menimbulkan keadaan yang
memuaskan, maka selanjutnya terulangnya respons akan meningkat. Guthrie menganggap
hukum efek tidak dibutuhkan. Menurut Guthrie, reinformance (penguatan) hanyalah aransemen
mekanis, yang dianggap dapat dijelaskan dengan hukum belajaranya. (makalah
(rangkuman)Gutrie menganggap, penguatan mengubah kondisi yang menstimulasi, dan
karenanya mencegah terjadinya nonlearning. Misalnya, dalam kotak teka teki, hal yang
dilakukan hewan sebelum menerima satu penguat adalah menggerakkan satu tuas atau menarik
cincin, yang membuatanya bisa keluar dari kotak itu, dan seterusnya. Oleh karena itulah, Guthrie
dan Horton mengatakan, menurut pendapat mereka tindakan yang dilakukan oleh kucing itu akan
selalu sama, karena kucing itu menganggap itulah caranya membebaskan diri dari kotak. Oleh
karena itu, tidak memungkinkan adanya respons baru yang dihubungkan dengan kotak tersebut.
(makalah)
KESIMPULAN
(rangkuman)Dalam konsep Behavioristik, perilaku manusia merupakan hasil belajar, sehingga
dapat di ubah dengan memanipulasi dan mengkreasi kondisi-kondisi belajar. Teori behaviorisme
sangat menekankan perilaku atau tingkah laku yang dapat di amati. Teori-teori dalam rumpun ini
sangat bersifat molekular, karena memandang kehidupan individu terdiri atas unsur-unsur seperti
halnya molekul-molekul. (makalah)
(rangkuman)Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan
orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan
menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat
bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman. (makalah)

Teori Belajar Ivan Petrovich Pavlov


PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Teori belajar merupakan landasan terjadinya suatu proses belajar yang menuntun terbentuknya
kondisi untuk belajar. Teori belajar dapat didefenisikan sebagai integrasi prinsip-prinsip yang
menuntun di dalam merancang kondisi demi tercapainya tujuan pendidikan. Dengan adanya teori
belajar akan memberikan kemudahan bagi guru dalam menjalankan model-model pembelajaran
yang akan dilaksanakan. Banyak telah ditemukan teori belajar yang pada dasarnya menitik
beratkan ketercapaian perubahan tingkah laku setelah proses pembelajaran. Teori belajar
merupakan suatu ilmu pengetahuan tentang pengkondisian situasi belajar dalam usaha

pencapaian perubahan tingkah laku yang diharapkan.Teori belajar yang berpengaruh terhadap
pelaksanaan pembelajaran adalah teori belajar konstruktivisme dan teori belajar pemrosesan
informasi.Teori belajarkonstruktivisme adalah teori yang menyatakan bahwa siswa harus
menemukan sendiri dan mentranformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru
dengan aturan-aturan lama dan merevisinya apabila aturan-aturan lama itu tidak lagi sesuai.Teori
belajar pemrosesan informasi merupakan teori yang menitikberatkantentang bagaimana
informasi yang didapat tersebut dapat diolah oleh siswa dengan pemahamannya
sendiri.Pemanfaatan lingkungan sebebas-bebasnya untuk pencapaian tujuan belajar haruslah
diberikan pada siswa, sehingga kreatifitas siswa lebih tampak.
PEMBAHASAN
A.

Biografi Ivan Petrovich Pavlov

Ivan Petrovich Pavlov lahir 14 September 1849 di Ryazan Rusia yaitu desa tempat ayahnya Peter
Dmitrievich Pavlov menjadi seorang pendeta. Ia dididik di sekolah gereja dan melanjutkan ke
Seminari Teologi. Pavlov lulus sebagai sarjana kedokteran dengan bidang dasar fisiologi. Pada
tahun 1884 ia menjadi direktur departemen fisiologi pada Institute of Experimental Medicine dan
memulai penelitian mengenai fisiologi pencernaan. Ivan Pavlov meraih penghargaan nobel pada
bidang Physiology or Medicine tahun 1904. Karyanya mengenai pengkondisian sangat
mempengaruhi psikologi behavioristik di Amerika. Karya tulisnya adalah Work of Digestive
Glands (1902) dan Conditioned Reflexes (1927).Ia meninggal di Leningrad pada tanggal 27
Februari 1936. Sebenarnya ia bukan seorang sarjana psikologi dan ia pun tidak mau disebut
sebagai ahli psikologi, karena ia adalah seorang sarjana ilmu faal yang fanatik.Cara berpikirnya
adalah sepenuhnya cara berpikir ahli ilmu faal, bahkan ia sangat anti terhadap psikologi karena
dianggapnya kurang ilmiah. Dalam penelitian-penelitiannya ia selalu berusaha menghindari
konsep-konsep meupun istilah-istilah psikologi. Sekalipun demikian, peranan Pavlov dalam
psikologi sangat penting, karena studinya mengenai refleks-refleks akan merupakan dasar bagi
perkembangan aliran psikologi behaviorisme. Pandangannya yang paling penting adalah bahwa
aktivitas psikis sebenarnya tidak lain daripada rangkaian-rangkaian refleks belaka. Karena itu,
untuk mempelajari aktivitas psikis (psikologi) kita cukup mempelajari refleks-refleks saja.
Pandangan yang sebenarnya bermula dari seorang tokoh Rusia lain bernama I.M. Sechenov. I.M.
yang banyak mempengaruhi Pavlov ini, kemudian dijadikan dasar pandangan pula oleh J.B.
Watson di Amerika Serikat dalam aliran Behaviorismenya setelah mendapat perubahanperubahan seperlunya.
B.

Teori Belajar dan Eksperimen Ivan Petrovich Pavlov

Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936) adalah seorang behavioristik terkenal dengan teori
pengkondisian asosiatif stimulus-respons dan hal ini yang dikenang darinya hingga kini. Classic
conditioning (pengkondisian atau persyaratan klasik) adalah proses yang ditemukan Pavlov
melalui percobaannya terhadap anjing, dimana perangsang asli dan netral dipasangkan dengan
stimulus bersyarat secara berulang-ulang sehingga memunculkan reaksi yang diinginkan.
Ia menemukan bahwa ia dapat menggunakan stimulus netral, seperti sebuah nada atau sinar
untuk membentuk perilaku (respons). Eksperimen-eksperimen yang dilakukan Pavlov dan ahli

lain tampaknya sangat terpengaruh pandangan behaviorisme, dimana gejala-gejala kejiwaan


seseorang dilihat dari perilakunya. Hal ini sesuai dengan pendapat Bakker bahwa yang paling
sentral dalam hidup manusia bukan hanya pikiran, peranan maupun bicara, melainkan tingkah
lakunya. Pikiran mengenai tugas atau rencana baru akan mendapatkan arti yang benar jika ia
berbuat sesuatu.Bertitik tolak dari asumsinya bahwa dengan menggunakan rangsanganrangsangan tertentu, perilaku manusia dapat berubah sesuai dengan apa yang di inginkan.
Kemudian Pavlov mengadakan eksperimen dengan menggunakan binatang (anjing) karena ia
menganggap binatang memiliki kesamaan dengan manusia. Namun demikian, dengan segala
kelebihannya, secara hakiki manusia berbeda dengan binatang.
Eksperimen Pavlov:

Berikut adalah tahap-tahap eksperimen dan penjelasan dari gambar diatas:


Gambar pertama. Dimana anjing, bila diberikan sebuah makanan (UCS) maka secara otonom
anjing akan mengeluarkan air liur (UCR).
Gambar kedua. Jika anjing dibunyikan sebuah bel maka ia tidak merespon atau mengeluarkan
air liur.
Gambar ketiga.Sehingga dalam eksperimen ini anjing diberikan sebuah makanan (UCS) setelah
diberikan bunyi bel (CS) terlebih dahulu, sehingga anjing akan mengeluarkan air liur (UCR)
akibat pemberian makanan.
Gambar keempat. Setelah perlakukan ini dilakukan secara berulang-ulang, maka ketika anjing
mendengar bunyi bel (CS) tanpa diberikan makanan, secara otonom anjing akan memberikan
respon berupa keluarnya air liur dari mulutnya (CR).

Dalam ekperimen ini bagaimana cara untuk membentuk perilaku anjing agar ketika bunyi bel di
berikan ia akan merespon dengan mengeluarkan air liur walapun tanpa diberikan makanan.
Karena pada awalnya (gambar 2) anjing tidak merespon apapun ketika mendengar bunyi bel.
Jika anjing secara terus menerus diberikan stimulus berupa bunyi bel dan kemudian
mengeluarkan air liur tanpa diberikan sebuah hadiah berupa makanan. Maka kemampuan
stimulus terkondisi (bunyi bel) untuk menimbulkan respons (air liur) akan hilang. Hal ini disebut
dengan extinction atau penghapusan.
Pavlov mengemukakan empat peristiwa eksperimental dalam proses akuisisi dan penghapusan
sebagai berikut:
1. Stimulus tidak terkondisi (UCS), suatu peristiwa lingkungan yang melalui kemampuan
bawaan dapat menimbulkan refleks organismik. Contoh: makanan
2. Stimulus terkondisi (CS), Suatu peristiwa lingkungan yang bersifat netral dipasangkan
dengan stimulus tak terkondisi (UCS). Contoh: Bunyi bel adalah stimulus netral yang di
pasangkan dengan stimulus tidak terkondisi berupa makanan.
3. Respons tidak terkondisi (UCR), refleks alami yang ditimbulkan secara otonom atau
dengan sendirinya. Contoh: mengeluarkan air liur
4. Respos terkondisi (CR), refleks yang dipelajari dan muncul akibat dari penggabungan CS
dan US. Contoh: keluarnya air liur akibat penggabungan bunyi bel dengan makanan.
Kesimpulan yang didapat dari percobaan ini adalah bahwa tingkah laku sebenarnya tidak lain
daripada rangkaian refleks berkondisi, yaitu refleks-refleks yang terjadi setelah adanya proses
kondisioning (conditioning process) di mana refleks-refleks yang tadinya dihubungkan dengan
rangsang-rangsang tak berkondisi lama-kelamaan dihubungkan dengan rangsang berkondisi.
Dengan kata lain, gerakan-gerakan refleks itu dapat dipelajari, dapat berubah karena mendapat
latihan. Sehingga dengan demikian dapat dibedakan dua macam refleks, yaitu refleks wajar
(unconditioned refleks)-keluar air liur ketika melihat makanan yang lezat dan refleks bersyarat
atau refleks yang dipelajari (conditioned refleks)-keluar air liur karena menerima atau bereaksi
terhadap suara bunyi tertentu.
Dari eksperimen yang dilakukan Pavlov terhadap seekor anjing menghasilkan hukum-hukum
belajar, diantaranya:
1. Law of Respondent Conditioning yakni hukum pembiasaan yang dituntut. Jika dua
macam stimulus dihadirkan secara simultan (yang salah satunya berfungsi sebagai
reinforcer), maka refleks dan stimulus lainnya akan meningkat.
2. Law of Respondent Extinction yakni hukum pemusnahan yang dituntut. Jika refleks yang
sudah diperkuat melalui Respondent conditioning itu didatangkan kembali tanpa
menghadirkan reinforcer, maka kekuatannya akan menurun

Demikianlah maka menurut teori conditioning belajar itu adalah suatu proses perubahan yang
terjadi karena adanya syarat-syarat (conditions) yang kemudian menimbulkan reaksi (response).
Untuk menjadikan seseorang itu belajar haruslah kita memberikan syarat-syarat tertentu. Yang
terpenting dalam belajar menurut teori conditioning ialah adanya latihan-latihan yang continue
(terus-menerus). Yang diutamakan dalm teori ini adalah hal belajar yeng terjadi secara otomatis.
Menilik psikologi behavioristik menggunakan suatu pendekatan ekperimental, refleksiologis
objektif Pavlov tetap merupakan model yang luar biasa dan tidak tertandingi.
C. Penerapan Teori dalam Kehidupan Sehari-Hari
Penganut teori ini mengatakan bahwa segala tingkah laku manusia juga tidak lain adalah hasil
daripada conditioning. Yaitu hasil daripada latihan-latihan atau kebiasaan-kebiasaan mereaksi
terhadap syarat-syarat atau perangsang-perangsang tertentu yang dialaminya dalam
kehidupannya. Proses belajar yang digambarkan seperti itu menurut Pavlov terdiri atas
pembentukan asosiasi antara stimulus dan respons refleksif. Dasar penemuan Pavlov tersebut,
menurut J.B. Watson diberi istilah Behaviorisme. Watson berpendapat bahwa perilaku manusia
harus dipelajari secara objektif. la menolak gagasan mentalistik yang bertalian dengan bawaan
dan naluri. Watson menggunakan teori Classical Conditioning untuk semuanya yang bertalian
dengan pembelajaran. Pada umumnya ahli psikologi mendukung proses mekanistik. Maksudnya
kejadian lingkungan secara otomatis akan menghasilkan tanggapan. Proses pembelajaran itu
bergerak dengan pandangan secara menyeluruh dari situasi menuju segmen (satuan bahasa yang
diabstraksikan dari kesatuan wicara atau teks) bahasa tertentu. Materi yang disajikan mirip
dengan metode dengar ucap.
Ternyata dalam kehidupan sehari-hari ada situasi yang sama seperti pada anjing. Sebagai contoh,
suara lagu dari penjual es krim yang berkeliling dari rumah ke rumah.Awalnya mungkin suara itu
asing, tetapi setelah si pejual es krim sering lewat, maka nada lagu tersebut bisa menerbitkan air
liur apalagi pada siang hari yang panas.Bayangkan, bila tidak ada lagu tersebut betapa lelahnya si
penjual berteriak-teriak menjajakan dagangannya. Contoh lain adalah bunyi bel di kelas untuk
penanda waktu atau tombol antrian di bank. Tanpa disadari, terjadi proses menandai sesuatu
yaitu membedakan bunyi-bunyian dari pedagang makanan(rujak, es, nasi goreng, siomay) yang
sering lewat di rumah, bel masuk kelas-istirahat atau usai sekolah dan antri di bank tanpa harus
berdiri lama.Contohlain adalahuntuk menambah kelekatan dengan pasangan, Jika anda
mempunyai pasangan yang sangat suka (UCR) dengan coklat (UCS). Disetiap anda bertemu
(CS) dengan kekasih anda maka berikanlah sebuah coklat untuk kekasih anda, secara otonom dia
akan sangat suka dengan coklat pemberian anda. Berdasarkan teori, ketika hal itu dilakukan
secara berulang-ulang, selanjutnya cukup dengan bertemu dengan anda tanpa memberikan
coklat, maka secara otonom pasangan anda akan sangat suka (CR) dengan anda, hal ini dapat
terjadi karena pembentukan perilaku antara UCS, CS, UCR, dan CR seperti ekperimen yang
telah dilakukan oleh pavlov. Contoh lain bunyi bel di kelas untuk penanda waktu atau tombol
antrian di bank. Tanpa disadari, terjadi proses menandai sesuatu yaitu membedakan bunyibunyian dari pedagang makanan (rujak, es, nasi goreng, siomay) yang sering lewat di rumah, bel
masuk kelas-istirahat atau usai sekolah dan antri di bank tanpa harus berdiri lama.

Dari contoh tersebut dapat diketahui bahwa dengan menerapkan strategi Pavlov ternyata individu
dapat dikendalikan melalui cara mengganti stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk
mendapatkan pengulangan respon yang diinginkan, sementara individu tidak menyadari bahwa
ia dikendalikan oleh stimulus yang berasal dari luar dirinya.
D. Aplikasi Teori Belajar Pavlov dalam Pembelajran
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menerapkan teori belajar menurut Pavlov adalah ciri-ciri
kuat yang mendasarinya yaitu:
1. Mementingkan pengaruh lingkungan
2. Mementingkan bagian-bagian
3. Mementingkan peranan reaksi
4. Mengutamakan mekanisme terbentuknya hasil belajar melalui prosedur stimulus respon
5. Mementingkan peranan kemampuan yang sudah terbentuk sebelumnya
6. Mementingkan pembentukan kebiasaan melalui latihan dan pengulangan
7. Hasil belajar yang dicapai adalah munculnya perilaku yang diinginkan.
Sebagai konsekuensi teori ini, para guru yang menggunakan paradigma Pavlov akan menyusun
bahan pelajaran dalam bentuk yang sudah siap, sehingga tujuan pembelajaran yang harus
dikuasai siswa disampaikan secara utuh oleh guru. Guru tidak banyak memberi ceramah, tetapi
instruksi singkat yng diikuti contoh-contoh baik dilakukan sendiri maupun melalui simulasi.
Bahan pelajaran disusun secara hierarki dari yang sederhana sampai pada yang kompleks.
Tujuan pembelajaran dibagi dalam bagian kecil yang ditandai dengan pencapaian suatu
keterampilan tertentu. Pembelajaran berorientasi pada hasil yang dapat diukur dan diamati.
Kesalahan harus segera diperbaiki. Pengulangan dan latihan digunakan supaya perilaku yang
diinginkan dapat menjadi kebiasaan. Hasil yang diharapkan dari penerapan teori belajar Pavlov
ini adalah tebentuknya suatu perilaku yang diinginkan. Perilaku yang diinginkan mendapat
penguatan positif dan perilaku yang kurang sesuai mendapat penghargaan negatif.Evaluasi atau
penilaian
didasari
atas
perilaku
yang
tampak.
kritik terhadap teori belajar Pavlov adalah pembelajaran siswa yang berpusat pada guru, bersifaat
mekanistik, dan hanya berorientasi pada hasil yang dapat diamati dan diukur. Kritik ini sangat
tidak berdasar karena penggunaan teori Pavlov mempunyai persyaratan tertentu sesuai dengan
ciri yang dimunculkannya. Tidak setiap mata pelajaran bisa memakai metode ini, sehingga
kejelian dan kepekaan guru pada situasi dan kondisi belajar sangat penting untuk menerapkan
kondisi behavioristik.
Metode Pavlov ini sangat cocok untuk perolehan kemampuan yang membutuhkan praktek dan
pembiasaan yang mengandung unsur-unsur seperti: kecepatan, spontanitas, kelenturan, reflek,

daya tahan dan sebagainya, contohnya: percakapan bahasa asing, mengetik, menari,
menggunakan komputer, berenang, olahraga dan sebagainya. Teori ini juga cocok diterapkan
untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan dominansi peran orang dewasa, suka
mengulangi dan harus dibiasakan, suka meniru dan senang dengan bentuk-bentuk penghargaan
langsung seperti diberi permen atau pujian.
Penerapan teori belajar Pavlov yang salah dalam suatu situasi pembelajaran juga mengakibatkan
terjadinya proses pembelajaran yang sangat tidak menyenangkan bagi siswa yaitu guru sebagai
sentral, bersikap otoriter, komunikasi berlangsung satu arah, guru melatih dan menentukan apa
yang harus dipelajari murid. Murid dipandang pasif, perlu motivasi dari luar, dan sangat
dipengaruhi oleh penguatan yang diberikan guru. Murid hanya mendengarkan dengan tertib
penjelasan guru dan menghafalkan apa yang didengar dan dipandang sebagai cara belajar yang
efektif.
Kelemahan dari teori conditioning ini adalah, teori ini mengangaap bahwa belajar itu hanyalah
terjadi secarab otomatis, keaktifan dan penentuan pribadi dalam tidak dihiraukannya. Peranan
latihan atau kebiasaan terlalu ditonjolkan. Sedangkan kita tidak tahu bahwa dalam bertindak dan
berbuat sesuatu manusia tidak semata-mata tergantung kepada pengaruh dari luar. Aku atau
pribadinya sendiri memegang peranan dalam memilih dan menentukan perbuatan dan reaksi apa
yang akan dilakukannya. Teori conditioning ini memang tepat kalau kita hubungkan dengan
kehidupan binatang. Pada manusia teori ini hanya dapat kita terima dalam hal-hal belajar
tertentu. Umpamanya dalam belajar yang mengenai skills (kecekatan-kecekatan) tertentu dan
mengenai pembiasaan pada anak-anak kecil.

Albert Bandura Dan Teorinya


TeoriPembelajaranSosial
Teori pembelajaran sosial merupakan perluasan dari teori belajar perilaku yang tradisional
(behavioristik).TeoripembelajaransosialinidikembangkanolehAlbertBandura(1986).Teori
inimenerimasebagianbesardariprinsipprinsipteoriteoribelajarperilaku,tetapimemberilebih
banyakpenekananpadakesandariisyaratisyaratpadaperilaku,danpadaprosesprosesmental
internal. Jadi dalam teori pembelajaran sosial kita akan menggunakan penjelasanpenjelasan
reinforcementeksternaldanpenjelasanpenjelasankognitifinternaluntukmemahamibagaimana
kitabelajardarioranglain.Dalampandanganbelajarsosial,manusiaitutidakdidorongoleh
kekuatankekuatandaridalamdanjugatidakdipukulolehstimulusstimuluslingkungan.
Teori belajar sosial menekankan, bahawa lingkunganlingkungan yang dihadapkan pada
seseorangsecarakebetulan.lingkunganlingkunganitukerapkalidipilihdandiubaholehorang

itumelaluiperilakunyasendiri.MenurutBandura,sebagaimanayangdikutipoleh(Kardi,S.,
1997: 14) bahwa sebagian besar manusia belajar melalui pengamatan secara selektif dan
mengingat tingkah laku orang lain. Inti dari teori pembelajaran sosial adalah pemodelan
(modelling), dan permodelan ini merupakan salah satu langkah paling penting dalam
pembelajaranterpadu.
Adaduajenispembelajaranmelaluipengamatan(observationallearning).Pertama,pembelajaran
melalui pengamatan dapat terjadi melalui kondisi yang dialami orang lain atau vicarious
conditioning. Contohnya,seorang pelajarmelihat temannyadipujiatauditeguroleh gurunya
keranaperbuatannya,makaiakemudianmenirumelakukanperbuatanlainyangtujuannyasama
ingindipujiolehgurunya.Kejadianinimerupakancontohdaripenguatanmelaluipujianyang
dialami orang lain atau vicarious reinforcement2. Kedua, pembelajaran melalui pengamatan
meniruperilakusuatumodelmeskipunmodelitutidakmendapatkanpenguatanataupelemahan
padasaatpengamatitusedangmemperhatikanmodelitumendemonstrasikansesuatuyangingin
dipelajariolehpengamattersebutdanmengharapkanmendapatpujianataupenguatanapabila
menguasaisecaratuntasapayangdipelajariitu.Modeltidakharusdiperagakanolehseseorang
secaralangsung,tetapikitadapatjugamenggunakanseseorangpemeranatauvisualisasitiruan
sebagaimodel(Nur,M.1998a:43).
Samasepertipendekatanteoripembelajarananterhadapkepribadian,teoripembelajaransosial
berdasarkanpadahujahyangdiutarakanbeliaubahawasebahagianbesardaripadatingkahlaku
manusia adalah sebahagian daripada hasil pemerolehan, dan prinsip pembelajaranan sudah
mencukupiuntukmenjelaskanbagaimanatingkahlakuberkembang.Akantetapi,teoriteori
sebelumnyakurangmemberiperhatianpadakontekssosialdimanatingkahlakuinimunculdan
kurang memperihalkan fakta bahawa banyak peristiwa pembelajaranan terjadi dengan
perantaraan orang lain. Maksudnya, semasa melihat tingkah laku orang lain, individu akan
pembelajaranmenirutingkahlakutersebutataudalamhaltertentumenjadikanoranglainsebagai
modelbagidirinya.
LatarBelakangTeori

AlbertBandurasangatterkenaldenganteoripembelajaransosial,salahsatukonsepdalamaliran
behaviorismeyangmenekankanpadakomponenkognitifdarifikiran,pemahamandanevaluasi.
TeoriPembelajaranSosialyangdikemukakanolehBanduratelahmemberipenekanantentang
bagaimanaperilakumanusiadipengaruhiolehpersekitaranmelaluipeneguhan(reinforcement)
danpembelajaranpeniruan(observationallearning),dancaraberfikiryangkitamilikiterhadap
sesuatu maklumat dan juga sebaliknya, yaitu bagaimana tingkah laku kita mempengaruhi
persekitarandanmenghasilkanpeneguhan(reinforcement)danpeluanguntukdiperhatikanoleh
oranglain(observationalopportunity).
MenurutBanduraprosesmengamatidanmeniruperilakudansikaporanglainsebagaimodel
merupakan tindakan belajar. Teori Bandura menjelaskan perilaku manusia dalam konteks
interaksi timbal balik yang berkesinambungan antara kognitif, perilaku dan pengaruh
lingkungan.Kondisi lingkungansekitarindividusangatberpengaruhpadapolabelajarsosial
jenisini.Contohnya,seorangyanghidupnyadandibesarkandidalamlingkunganjudi,makadia
cenderunguntukmemilihbermainjudi,atausebaliknyamenganggapbahwajudiituadalahtidak
baik.
Teori belajar ini juga dikembangkan untuk menjelaskan bagaimana seseorang belajar dalam
keadaan atau lingkungan sebenarnya. Bandura menghipotesiskan bahwa tingkah laku,
lingkungandankejadiankejadianinternalpadapelajaryangmempengaruhipersepsidanaksi
adalahmerupakanhubunganyangsalingberpengaruhatauberkaitan.menurutAlbertBandura
lagi, tingkah laku sering dievaluasi, yaitu bebas dari timbal balik sehingga boleh mengubah
kesankesanpersonalseseorang.Pengakuansosialyangberbedamempengaruhikonsepsidiri
individu.
Hubunganyangaktifdapatmengubahaktivitiseseorang.Seterusnya,menurutBandura(1982),
penguasaankemahirandanpengetahuanyangkompleks tidakhanyabergantungpadaproses
perhatian,motorreproduksidanmotivasi,tetapijugasangatdipengaruhiolehunsurunsuryang
berdasarkandaridiripelajarsendiriyaitusenseofselfEfficacydanselfregulatorysystem.Sense

of self efficacy adalah keyakinan pembelajar bahwa ia dapat menguasai pengetahuan dan
keterampilansesuaisepertiyangberlaku.Selfregulatorypulamerujukkepada:
1)Strukturkognitifyangmemberigambarantingkahlakudanhasilpembelajaran.
2)Subproseskognitifyangdirasakan,mengevaluasi,danmengaturtingkahlakukita.
Dalam pembelajaran self regulatory akan menentukan goal setting dan self evaluation
pembelajardanmerupakandoronganuntukmeraihprestasibelajaryangtinggiatausebaliknya7.
MenurutBandura,untukBerjaya,pembelajarharusdapatmemberikanmodelyangmempunyai
pengaruh yang kuat terhadap pembelajar, Seterusnya mengembangkan self of mastery, self
efficacy, dan reinforcement bagi pembelajar. Berikut Bandura mengajukan usulan untuk
mengembangkanstrategiiprosespembelajaranyaitusepertiyangberikut:
1.StrategiProses
1).AnalisisTingkahLakuYangAkanDijadikanModelTerdiriDaripada:
a.Apakahkarakteristikdaritingkahlakuyangakandijadikanmodelituberupakonsep,kemahiran
motoratauefektif?
b.Bagaimanakahurutanatausekuendaritingkahlakutersebut?
c.dimanakahletaknyahalhalyangpenting(keypoint)dalamsekuentersebut?
2).Tetapkan Fungsi Nilai Dari Tingkah Laku Dan Pilihlah Tingkah Laku Tersebut Sebagai
Model.
a. Apakah tingkah laku (kemampuan yang dipelajari) merupakan hal yangpenting dalam
kehidupandimasadatang?(Successprediction)
b.Bilatingkahlakuyangdipelajarikurangmemberimanfaat(tidakbegitupenting)modelmanakah
yanglebihpenting?
c. Apakah model harus hidup atau simbol? Pertimbangan soal pembiayaan, pengulangan
demonstrasidankesempatanuntukmenunjukkanfungsinilaidantingkahlaku.
d.Apakahpeneguhanyangakandidapatmelaluimodelyangdipilih?
3).PengembanganSekuen

a.Untukmengajarmotorskill,bagaimanacarauntukmengerjakansesuatupekerjaan/kemampuan
yangdipelajari.
4).Implementasipengajaranuntukmenunutproseskognitifdanmotorreproduksi.
2.Kemahiranmotor
1)Hadirkanmodel
2)Berikesempatankepadatiaptiappembelajaruntuklatihansecarasimbolik
3)Berikesempatankepadapembelajaruntuklatihandengantimbalbalikvisual.
3.Proseskognitif
1)Tampilkanmodel,baik yangdidukungoleh kodkodverbal ataupetunjukuntuk mencari
konsistensipadaberbagaicontoh.
2) Jika yang dipelajari adalah pemecahan masalah atau strategi penerapan beri kesempatan
pembelajar untuk berpertisipasi secara aktif. 3) Beri kesempatan pembelajar untuk membuat
generalisasidalamberbagaisituasi.
Dariuraiantentangteoribelajarsosial,dapatdisimpulkansepertiberikut:
1)Belajarmerupakaninteraksisegitigayangsalingberpengaruhdanmengikatantaralingkungan,
faktorfaktorpersonaldantingkahlakuyangmeliputiprosesproseskognitifbelajar.
2) Komponenkomponen belajar terdiri dari tingkah laku, konsekuensi konsekuensiterhadap
modeldanprosesproseskognitifpembelajar
3)Hasilbelajarberupakodkodvisualdanverbalyangmungkindapatdimunculkankembaliatau
tidak(retrievel).
4) Dalam perancangan pembelajaran yang kompleks, disamping pembelajaran pembelajaran
komponenkomponenskillitusendiri,perluditumbuhkansenseofefficacydanselfregulatory
pembelajar.
5)Dalamprosespembelajaran,pembelajarsebaiknyadiberikesempatanyangcukupuntuklatihan
secaramentalsebelumlatihanfisik,danreinforcementdanhindaripunishmentyangtidakperlu.
TeoriPeniruan(Modeling)

AlbertBanduradanRichardWalters(1959,1963)10,telahmelakukaneksperimenlainyangjuga
berkenaandenganpeniruan.Hasileksperimenmerekamendapati,peniruanbolehberlakuhanya
melalui pengamatan terhadap perilaku model (orang yang ditiru) meskipun tanpa sebarang
peneguhan. Proses belajar semacam ini disebut "observational learning" atau pembelajaran
melaluipengamatan.Bandura,kemudianmenyarankanagarteoripembelajaransosialdiperbaiki
memandangkanteoripembelajaransosialyangsebelumnyahanyamementingkanperilakutanpa
memberipertimbanganterhadapprosesmentalseseorang.
MenurutBandura,perlakuanseseorangadalahhasilinteraksifaktordalamdiri(kognitif)dan
persekitaran.Bagimenjelaskanpandanganini,beliautelahmengemukakanteoripembelajaran
peniruan,dalamteoriinibeliautelahmenjalankankajianbersamaWalter(1963)keataskesan
perlakuankanakkanakapabilamerekamenontonorangdewasamemukul,mengetukdengan
tukulbesidanmenumbuksambilmenjeritjeritdalamvideo.Setelahmenontonvideokanak
kanakinidiarahbermaindibilikpermainandanterdapatpatungsepertiyangditayangkandalam
video. Setelah kanakkanak tersebut melihat patung tersebut, mereka meniru aksiaksi yang
dilakukanolehorangyangmerekatontondalamvideo(RamlahJantan&MahaniRazali2004).
1.UnsurUtamaDalamPeniruan
Untukpembelajaranpemerhatianwujudnyadalahpentinguntukindividuberkenaan
berbuatdemikian:
a,Tumpuan('Attention')
Subjek harus memberi tumpuan kepada tingkah laku model untuk membolehkannya
mempelajarinya.Samaadasubjekmemberiperhatianatautumpuantertaklukkepadanilai,harga
diri,sikap,danlainlainyangdimiliki.Contohnya,seorangpemainmusikyangtidakyakindiri
mungkinmenirutingkahlakupemainmusikterkenalsehinggatidakmewujudkanstailnyayang
tersendiri.
b.Penyimpanan('Retention')
Subjek yang memerhati harus mengekod peristiwa itu dalam sistem ingatannya. Ini
membolehkansubjekmelakukanperistiwaitukelakbiladiperlukanataudiinginkan.
c.Penghasilan('Reproduction')

Setelah mengetahui atau mempelajarai sesuatu tingkahlaku, subjek juga mesti mempunyai
kebolehan mewujudkan atau menghasilkan apa yang disimpan dalam bentuk tingkahlaku.
Contohnya, memandu kereta, bermain tenis. Bagi sesetengah tingkahlaku kemahiran motor
diperlukanuntukmewujudkankomponenkomponentingkahlakuyangtelahdiperhatikan.
d.Motivasi
MotivasijugapentingdalampemodelanAlbertBandurakeranaiaadalahpenggerak
individuuntukterusmelakukansesuatu.
2.CiriCiriTeoriPeniruan
a.Unsurpembelajaranutamaialahpemerhatiandanpeniruan.
b.Tingkahlakumodelbolehdipelajarimelaluibahasa,teladan,nilaidanlainlain
c.Pelajarmenirusesuatukemahirandaripadakecekapandemontrasigurusebagai
model.
d.Pelajarmemperolehkemahiranjikamemperolehkepuasandanpeneguhanyang
berpatutan.
e,Prosespembelajaranmeliputipemerhatian,peringatan,peniruandgntingkahlaku
ataugerakbalasygsesuai,diakhiridenganpeneguhanpositif.
3.EksperimenAlbertbandura
EksperimennyayangsangatterkenaladalaheksperimenBoboDollyangmenunjukkankanak
kanakmenirusepertiperilakuagresifdariorangdewasadisekitarnya.
AlbertBandura,seorangtokohmazhabsosialinimenyatakanbahawaprosespembelajaranakan
dapat dilaksanakan dengan lebih berkesan dengan menggunakan pendekatan permodelan.
Beliaumenjelaskanlagibahawaaspekpemerhatianpelajarterhadapapayangdisampaikanatau
dilakukanolehgurudanjugaaspekpeniruanolehpelajarakandapatmemberikankesanyang
optimumkepadakefahamanpelajar.
EksperimenPemodelanBandura
Disuruhmemerhatisekumpulanorangdewasamemukul,
menumbuk,menendangdanmenjeritkearahpatungbesarBobo.
Hasil=Meniruapayangdilakukanorangdewasamalahanlebihagresif,

4.JenisJenisPeniruan
a.Peniruanlangsung
Pembelajaranan langsung dikembangkan berdasarkan teori pembelajaran sosial dari Albert
Bandura. Pembelajaranan langsung adalah model pembelajaranan yang dirancang untuk
mengajarkanpengetahuandeklaratifdanpengetahuanproseduralyangdiajarkansetahapdemi
setahap. Ciri khas pembelajaranan ini adalah adanya modeling, iaitu suatu fasa di mana
seseorang memodelkan atau mencontohkan sesuatu melalui demonstrasi bagaimana suatu
keterampilanitudilakukan.
Menirutingkahlakuyangditunjukkanolehmodelmelaluiprosesperhatian.
Contoh:menirugayapenyanyiyangdisanjungi.
b.Peniruantaklangsung
Peniruanadalahmelaluiimaginasiataupemerhatiansecaratidaklangsung.Contoh:meniru
watakyangdibacadalambuku,memerhatiseoranggurumengajarrakannya.
c.Peniruangabungan.
Peniruanjenisiniadalahdengancaramenggabungtingkahlakuyangberlainanyaitupeniruan
langsungdantidaklangsung.
Contoh:pelajarmenirugayagurunyamelukisdancaramewarnadaripada
bukuyangdibacanya.
d.Peniruansekatlaluan
Tingkahlakuyangditiruhanyasesuaiuntuksituasitertentusahaja.
contoh:TirufesyenpakaiandiTV,tapitidakbolehdipakaidisekolah.
e.Peniruantaksekatlaluan
Tingkahlakuyangditirubolehditonjolkandalamapaapasituasi.
Contoh:pelajarmenirugayaberbudibahasagurunya.

5.FaktorfaktorPentingdalamPembelajaranMelaluiPemerhatian.
Mengamatioranglainmelakukansesuatutidakmestidiakibatkanolehpembelajaran,karena
pembelajaranmelaluipemerhatianmemerlukanbeberapafaktor.MenurutBandura,adaempat
prosesyangpentingagarpembelajaranmelaluipemerhatiandapatterjadi,yakni:

Perhatian(attentionprocess):Sebelummeniruoranglain,perhatianharusdicurahkanke
orangitu.Perhatianinidipengaruhiolehasosiasipengamatdenganmodelnya,sifatmodel
yangmenarik,danartipentingtingkahlakuyangdiamatibagisipengamat.

Representasi (representation process): Tingkah laku yang akan ditiru, harus


disimbolisasikan dalam ingatan. Baik dalam bentuk verbal maupun dalam bentuk
gambaran/imaginasi. Representasi verbal memungkinkan orang mengevaluasi secara
verbaltingkahlakuyangdiamati,danmenentukanmanayangdibuangdanmanayang
akancubadilakukan.Representasiimaginasimemungkinkandapatdilakukannyalatihan
secarasimbolikdalamfikiran,tanpabenarbenarmelakukannyasecarafisik.

Peniruantingkahlakumodel(behaviorproductionprocess):sesudahmengamatidengan
penuhperhatian,danmemasukkannyakedalamingatan.

Motivasidanpenguatan(motivationandreinforcementprocess):Pembelajaranmelalui
pengamatan menjadi efektif kalau pembelajaran memiliki motivasi yang tinggi untuk
dapat melakukan tingkah laku modelnya. Pemerhatian mungkin memudahkan orang
untukmenguasaitingkahlakutertentu,tetapikalaumotivasiuntukitutidakada,proses
daripadatingkahlakuyangdihukumtidakakanberlaku.Imitasitetapterjadiwalaupun
modeltidakdiberiganjaran,sepanjangpengamatanmelihatmodelmendapatciriciri
positif yang menjadi tanda dari gaya hidup yang berhasil, sehingga diyakini model
umumnyaakandiberiganjaran.

Metodologi
Bandura banyak meneliti masalah dunia nyata dalam makmalnya, seperti masalah fobia,
penyembuhan dari serangan jantung, perolehan kemampuan matematik pad a kanakkanak.
Tujuannyaadalahuntukmenyatukankerangkakonseptualyangdapatmencakupberbagaihal
yangmempengaruhiperubahantingkahlaku.Dalamsetiapkegiatan,keterampilandankeyakinan
diriyangmenjaminpemakaiankemampuansecaraoptimaldiperlukanagardiridapatberfungsi
sepenuhnya.
Kelemahan/KritikanTeoriAlbertBandura

Teori pembelajaran social Albert bandura sangat sesuai jika diklsifikasikan dalam teori
behavioristik.Inikarena,teknikpemodelanalbertbanduraadalahmengenaipeniruantingkah
lakudanadakalanyacarapeniruantersebutmemerlukanpengulangandalammendalamisesuatu
yangditiru.
Selainitujuga,jikamanusiabelajarataumembentuktingkahlakunyadenganhanya.melalui
peniruan (modeling), sudah pasti terdapat sesetengah individu yang menggunakan teknik
peniruan ini juga akan meniru tingkah laku yang negatif termasuklah perlakuan yang tidak
diterimadalammasyarakat.
KelebihanTeoriAlbertBandura
Teori Bandura lebih lengkap dibandingkan teori belajar sebelumnya karena itu menekankan
bahwalingkungandanperilakuseseorangdihubungkanmelaluisistemkognitiforangtersebut.
Bandura memandang tingkah laku manusia bukan semata mata refleks atas stimulus (SR
bond), melainkan juga akibat reaksi yang timbul akibat interaksi antara lingkungan dengan
skemakognitifmanusiaitusendiri.
Pendekatan teori belajar sosial lebih ditekankan pada perlunya conditioning (pembiasaan
merespon)danimitation(peniruan).Selainitupendekatanbelajarsosialmenekankanpentingnya
penelitianempirisdalammempelajariperkembangankanakkanak.Penelitianiniberfokuspada
prosesyangmenjelaskanperkembangankanakkanak,faktorsosialdankognitif.