Anda di halaman 1dari 40

BAB I

DEFINISI

A. Latar belakang
Air adalah unsur penting yang sangat berperan dalam semua kehidupan, termasuk
kehidupan manusia. Tidak saja karena sekitar (65-80) % dari tubuh manusia, terdiri dari,
cairan, tetapi juga karena di dalam air itu terdapat berbagai mineral dan unsur kimia.
seperti Ca, Fe, F, J, dan lain-lain yang diperlukan untuk pertumbuhan dan untuk menjaga
kesehatan manusia.
Selain dari pada itu air juga merupakan tempat hidup binatangbinatang air, mulai dari
ikan sampai mikroorganisme. Mikroorganisme - mikroorganisme yang hidup di dalam air
sangat bermacammacam, ada yang pathogen (membahayakan bagi kesehatan manusia)
dan ada yang tidak pathogen. Oleh karena itu, air disamping sebagai kebutuhan hidup juga
sebagai media/sarana penularan penyakit. Sejumlah penyakit menular, terutama penyakitpenyakit perut yang tergolong dalam Water borne deseases , seperti typus, cholera, dan
gastrolenteritis ( common diarhea ), adalah penyakitpenyakit yang dapat berkembang
dan ditularkan melalui air. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut :
Bila sumur tidak hygienis dan letaknya dekat sekali dengan kakus, dimana pada kakus
itu ada faeses (kotoran manusia) yang mengandung kuman-kuman cholera, maka kumankuman cholera tadi akan ikut dengan air yang merembes masuk kedalam sumur. Bila air
sumur yang telah terkontaminasi oleh kuman-kuman cholera digunakan oleh manusia
tanpa pengolahan terlebih dahulu , maka kuman-kuman cholera itu akan masuk kedalam
perut manusia dan akan berkembang biak, maka manusianya akan sakit.
Disamping air sebagai media penularan penyakit perut, air pun merupakan pelarut yang
sangat baik. Oleh karena itu di dalam air banyak dijumpai zat-zat kimia atau mineralmineral. Zat kimia dan mineral-mineral itu kadar di dalam air tergantung dari daerah yang
di laluinya.
Agar supaya air itu bisa digunakan oleh manusia secara aman (tidak mengganggu /
membahayakan kesehatan), maka organisme-organisme, bahan-bahan kimia dan mineralmineral tadi keberadaannya harus pada batas-batas tertentu, dengan kata lain air tersebut
harus memenuhi syarat-syarat tertentu. . Syarat ini dinamakan syarat kualitas air
minum.
Air minum bisa didefinisikan sebagai berikut : Air minum adalah air yang telah
memenuhi syarat kualitas air minum (syarat fisik, kimiawi dan bakteriologi ), yang
dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 16 tahun 2005, tentang
Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum, pasal 1 ayat 2. Air Minum adalah air
minum rumah tangga yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang
1

memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum.


Syarat-syarat kualitas air minum adalah :
Syarat fisik

: jernih, tidak berwarna, tidak berasa, tidak berbau, dansejuk (temperatur


dibawah suhu kamar).

Syarat kimiawi : air mengandung zat-zat kimia atau mineral-mineral dalam kadar
tertentu.
Syarat bakteriologi : air tidak boleh mengandung bakteri-bakteri pathogen.
Didalam bangunan gedung air minum digunakan untuk berbagai keperluan
yangmenunjang kegiatan penghuninya, diantaranya adalah : keperluan untuk memasak,
mandi,minum, mencuci, penggelontor kakus, menyiram tanaman, kolam renang, dan lain
sebagainya.
B.MAKSUD dan TUJUAN
1. Panduan utilitas air rumah sakit ini dimaksudkan sebagai acuan pemenuhan
Persyaratan teknis prasarana utilitas air rumah sakit yang berkualitas,sesuai dengan
Fungsinya,andal,serasi,selaras dengan lingkunganya.
2. Panduan utilitas air rumah sakit ini bertujuan untuk terselenggaranya fungsi Prasarana
utilitas air rumah sakit selamat,sehat,nyaman dan memberikan kemudahan Bagi
pengguna utilitas di rumah sakit.

BAB II
RUANG LINGKUP

Ruang lingkup dari Utilitas ketersediaan air diantaranya adalah:


A. Sistem plambing air minum
B. Sistem plambing air kotor
C. Sistem plambing air hujan

BAB III
TATA LAKSANA
1.1 SISTEM PENYEDIYAAN AIR MINUM

Jenis penyediaan air minum didalam bangunan gedung ada 2 (dua), yaitu:
1. Penyediyaan air minum dingin
2. Penyediyaan air minum panas
A. SISTEM PENYEDIYAAN AIR MINUM DINGIN

Sistem penyediaan air minum dingin dalam suatu bangunan gedung ada 3 (tiga)sistem, yaitu :
a) Sistem sambungan langsung

b) Sistem tangki tekan


c) Sistem tangki atap
a) Sistem sambungan langsung
Sistem sambungan langsung adalah sistem dimana pipa distribusi kebangunan gedung
disambung langsung dengan pipa cabang dari sistem penyediaan air minum secara
kolektif/sistem perpipaan (dalam hal ini pipa cabang distribusi PDAM).
Karena terbatasnya tekanan air di pipa distribusi PDAM, maka sistem ini hanya bisa untuk
bangunan kecil atau bangunan rumah sampai dengan 2 (dua) lantai.
Pada umumnya sumber air yang digunakan pada sistem ini adalah, air yang berasal dari pipa
cabang sistem penyediaan air minum secara kolektif, (dalam hal ini pipa cabang distribusi
PDAM). Untuk lebih jelasnya sistem ini dapat dilihat pada Gambar 1.
b) Sistem tangki tekan
Biasanya sistem ini digunakan bila air yang akan masuk kedalam bangunan,
pengalirannya menggunakan pompa.
Prinsip kerja sistem ini dapat dijelaskan sebagai berikut :
Air dari sumur atau yang telah ditampung dalam tangki bawah dipompakan ke dalam suatu
bejana (tangki) tertutup, sehingga air yang ada didalam tangki tertutup tersebut dalam keadaan
terkompresi. Air dari tangki tertutup tersebut dialirkan ke dalam sistem distribusi bangunan.

GAMBAR : 1
SISTEM SAMBUNGAN LANGSUNG

Pompa bekerja secara otomatis yang diatur oleh suatu detektor tekanan, yang
menutup/membuka saklar motor listrik penggerak pompa. Pompa berhenti bekerja kalau
tekanan dalam tangki telah mencapai suatu batas maksimum yang ditetapkan, dan bekerja
kembali setelah tekanan dalam tangki mencapai suatu batas minimum yang ditetapkan.
Daerah fluktuasi tekanan biasanya ditetapkan antara 1,00 kg/cm2 sampai 1,50 kg/cm2.
Pada umumnya sumber air yang digunakan pada sistem ini adalah, air yang berasal
dari reservoir bawah (yang sumbernya bisa dari PDAM atau dari sumur atau dari PDAM dan
sumur) atau langsung dari sumur (air tanah).
Untuk lebih jelasnya sistem ini dapat dilihat pada Gambar 2, dan Gambar 3.
c)

Sistem tangki atap

Apabila sistem sambungan langsung oleh berbagai hal tidak dapat diterapkan, maka dapat
diterapkan sistem tangki atap.
Dalam sistem ini, air ditampung terlebih dahulu pada tangki bawah, lalu dipompakan ke
tangki atas. Tangki atas dapat berupa tangki yang disimpan diatas atap atau dibangunan yang
tertinggi, dan bisa juga berupa menara air.
Pada umumnya sumber air yang digunakan pada sistem sumur ini adalah, air yang berasal dari
reservoir bawah (yang sumbernya bisa dari PDAM atau dari sumur atau dari PDAM dan
sumur) atau langsung dari (air tanah).
Untuk lebih jelasnya sistem ini dapat dilihat pada Gambar 4, dan Gambar 5
GAMBAR : 2
SISTEM TANGKI TEKAN DENGAN SUMBER AIR DARI SUMUR

GAMBAR : 3
SISTEM TANGKI TEKAN DENGAN SUMBER AIR DARI PDAM

GAMBAR : 4
SISTEM DENGAN TANGKI ATAP

GAMBAR : 5
7

SISTEM DENGAN MENARA AIR

Agar supaya sistem penyediaan air minum di dalam bangunan gedung ( plambing air minum)
dapat berfungsi secara optimal, , maka perlu memenuhi beberapa persyaratan diantaranya
adalah :
a)

Syarat kualitas

b) Syarat kuantitas
c) Syarat tekanan
a) Syarat kualitas :

Air minum yang masuk kedalam bangunan atau masuk kedalam sistem plambing air minum,
harus memenuhi syarat kualitan air minum, yaitu syarat fisik, syarat kimiawi, dan syarat
bakteriologi, yang sesuai dengan peraturan pemerintah, dalam hal ini Departmen Kesehatan.
b) Syarat kuantitas :

Air minum yang masuk kedalam bangunan atau masuk kedalam sistem plambing air minum,
harus memenuhi syarat kuantitas air minum, yaitu kapasitas air minum harus mencukupi
berbagai kebutuhan air minum bangunan gedung tersebut.
Untuk menghitung besarnya kebutuhan air minum dalam bangunan gedung
didasarkan pada pendekatan sebagai berikut :
Jumlah penghuni gedung , baik yang permanen maupun yang tidak permanen
Unit beban alat plambing
Luas lantai bangunan
Perhitungan kebutuhan air berdasarkan luas lantai banguan hanya digunakan untuk
menentukan kebutuhan air pada waktu pra rancangan, tidak untuk bangunan gedung yang
sudah selesai rancangannya. Perhitungan berdasarkan jumlah penghuni, dipakai untuk
bangunan gedung rumah tinggal.

Contoh perhitungan :
8

a) Menentukan banyaknya kebutuhan air minum untuk rumah tinggal sederhana dengan

jumlah penghuni sebanyak 5 jiwa.


Asumsikan kebutuhan air sebesar 100 l/jiwa/hari.
Kebutuhan air sebesar : 5 jiwa X 100 l/jiwa/hari = 500 l/hari
b) Menentukan banyaknya kebutuhan air minum untuk rumah tinggal mewah dengan
jumlah penghuni sebanyak 8 jiwa.
Asumsikan kebutuhan air sebesar 250 l/jiwa/hari.
Kebutuhan air sebesar : 8 jiwa X 250 l/jiwa/hari = 2.000 l/hari.
Perhitungan berdasarkan Unit Beban Alat Plambing, dipakai untuk bangunan gedung
berlantai banyak.
Contoh perhitungan berdasarkan Unit Beban Alat Plambing (UBAP).
Menentukan banyaknya kebutuhan air minum untuk bangunan hotel dengan jumlah lantai
sebanyak 8 lantai.
Asumsikan dalam hotel tersebut terdapat peralatan plambing sebagai berikut :

Kakus dengan tangki gelontor sebanyak 50 unit

Peturasan sebanyak 10 unit

Bak cuci tangan sebanya 50 unit

Bak mandi sebanyak 50 unit

Dus sebanyak 10 unit

Untuk menghitung besarnya kebutuhan air digunakan Tabel 1, dan Gambar/Grafik 6


Dari Tabel 1, didapat jumlah Unit Beban Alat Plambing (UBAP) sebagai berikut :
Kakus dengan tangki gelontor

50 unit X 5

250 UBAP

Peturasan sebanyak

10 unit X 10

100 UBAP

Bak cuci tangan sebanya

50 unit X 2

100 UBAP

Bak mandi sebanyak

50 unit X 2

200 UBAP

Dus sebanyak

10 unit X 4

40

690 UBAP

Jumlah total unit beban alat plambing

UBAP

Dari Gambar/Grafik 6, didapat besarnya kebutuhan air minum, sebesar 680 l/menit
TABEL : 1
9

BEBAN KEBUTUHAN ALAT PLAMBING

No

Alat Plambing

Hunian

Jenis Katup

Unit
Bebang
Alat
Plambing
(NUAP)

Kakus

Umum

Katup Gelontor

10

Kakus

Umum

Tangki Gelontor

Peturasan

Umum

Katup Gelontor 25 mm (1 inci)

10

Peturasan

Umum

Katup Gelontor 20 mm (1/2 inci)

Peturasan

Umum

Tangki Gelontor

Bak cuci Tangan

Umum

Kran

Bak mandi

Umum

Kran

Dus

Umum

Katup Pencampur

Bak cuci

Kantor, dan sebagainya

Kran

10

Bak cuci Dapur

Hotel, Restoran

Kran

11

Kakus

Pribadi

Katup Gelontor

12

Kakus

Pribadi

Tangki Gelontor

13

Bak cuci Tangan

Pribadi

Kran

14

Bak Mandi

Pribadi

Kran

15

Pancuran

Pribadi

Katup Pencampur

16

Kelompok Kamar Mandi

Pribadi

Katup Gelontor untuk Kakus

17

Dus Terpisah

Pribadi

Katup Campuran

18

Kelompok Kamar Mandi

Pribadi

Tangki Gelontor untuk Kakus

19

Bak cuci Dapur

Pribadi

Kran

20

Bak cuci Pakaian

Pribadi

Kran

21

Alat Plambing Gabungan

Pribadi

Kran

Beban alat plambing yang tidak tercantum dalam Tabel 1 harus diperkirakan dengan membandingkan alat
plambing
tersebut dengan alat plambing yang memakai air dalam debit yang sama. Beban yang tercantum dalam Tabel 1
adalahuntuk seluruh kebutuhan.
Alat plambing yang dilengkapi dengan air panas dan air dingin mempunyai beban masing-masing sebesar dari
bebanyang tercantum dalam Tabel 1

GAMBAR : 6
10

GRAFIK HUBUNGAN ANTARA KEBUTUHAN AIR MINUM DENGAN


UNIT BEBAN ALAT PLAMBING

c) Syarat tekanan

11

Tekanan air yang kurang mencukupi akan menimbulkan kesulitan dalam pemakaian
air.Tekanan yang berlebihan dapat menimbulkan rasa sakit terkena pancaran air serta
mempercepat kerusakan peralatan plambing, dan menambah kemungkinan timbulnya pukulan
air. Besarnya tekanan air yang baik berkisar dalam suatu daerah yang agak lebar dan
bergantung pada persyaratan pemakaian atau alat yang harus dilayani Tekana air yang berada
pada sistem plambing (pada pipa) tekanannya harus sesuai dengan ketentuan yang berlaku,
diantaranya yaitu :

Untuk Perumahan dan hotel antara 2,5 kg/cm 2 atau 25 meter kolom air (mka) sampai
3,5 kg/cm2 atau 35 meter kolom air (mka)

Untuk Perkantoran 4,0 kg/cm2 atau 40 meter kolom air (mka) sampai 5,0 kg/cm2 atau 50

meter kolom air (mka)


Tekanan tersebut tergantung dari peraturan setempat.

Tekanan yang dibutuhkan alat plambing dapat dibaca pada Tabel 2


TABEL : 2
TEKANAN YANG DIBUTUHKAN ALAT PLAMBING

No

Nama alat Plambing

Tekanan yang dibutuhkan


2
(kg/cm )

Tekanan standar
2
(kg/cm )

1) 2)

Katup gelontor kloset

0,70

Katup gelontor peturasan

0,40

Keran yang menutup sendiri, otomatik

0,70

Pancuran mandi, dengan pancaran halus/tajam

0,70

Pancuran mandi (biasa)

0,35

Keran biasa

0,30

Pemanas air langsung, dengan bahan bakar gas

2)
3)

1.00

4)

0,25 0,70

Untuk bangunan yang berlantai banyak, misalnya 64 tingkat, maka tekanan air dilantai bawah
12

(untuk sistem pengaliran air dengan menggunakan tangki atap) akan sangat besar, yaitu
sebasar 64 X 3,50 m = 224 meter kolom air (mka). Oleh karena itu, agar tekana air tidak
melampoi batas yang ditentukan, maka bangunan tersebut harus dibagi menjadi beberapa
bagian atau zona, dimana setiap zona tekanan airnya tidak melampoi tekanan yang terlah
ditentukan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 7.
GAMBAR : 7
PEMBAGIAN ZONA TEKANAN

2.3.2

Komponen-komponen yang penting


13

Komponen-komponen atau bagian-bagian yang penting didalam sistem penyediaanair


minum suatu bangunan diantaranya adalah :
1) Sumber air
2) Pompa air
3) Pipa air dan perlengkapannya (assesories)
4) Tangki air
5) Peralatan plambing air minum
2.3.2.1 Sumber air

Sumber air untuk sistem penyedian air minum suatu bangunan gedung ada 2 (dua)
macam yaitu :
Secara individu : : adalah sistem penyediaan air minum yang sumber airnya diambil
secara perorangan atau rumah tangga/bangunan.
Secara kolektif : adalah sistem penyediaan air minum yang sumber airnya diambil
secara bersama-sama atau kolektif yang diselenggarakan oleh suatu badan atau
perusahaan, yang pada umumnya badan atau perusahaan yang menyelenggarakannya
adalah Perusahaan Daerah Air Minum(PDAM). Sistem yang digunakan untuk
mendistribusikan airnya menggunakan sarana perpipaan. Oleh
karena itu sistem ini juga disebut : penyediaan air minum sistem perpipaan.
Sistem penyediaan air minum dengan sumber air secara individu dapat dijelaskan
sebagai berikut :
Air dari sumber air yang ada didalam tanah melalui sumur diangkat kepermukaan
tanah dengan menggunakan timba/pompa, lalu air tersebut digunakan untuk kebutuhan
sehari-hari. Ada juga air dari sumber air yang ada didalam tanah melalui sumur di
pompa langsung ke alat-alat plambing atau di pompa ke menara air, lalu air dari
menara air dialirkan secara gravitasi ke alat-alat plambing. Ada juga yang
menggunakan sumber air dari mata air atau dari air permukaan (sungai atau kolam).
Sistem penyediaan air minum dengan sumber air secara kolektif dapat dijelaskan
sebagai berikut :
Air dari sumber air (air tanah tertekan, mata air, atau air permukaan) di alirkan melalui
saluran transmisi (saluran pembawa) air baku, baik secara gravitasi maupun secara
pemompaan ke bangunan atau unit pengolahan air minum (water treatment plan)
untuk diolah agar supaya air dari sumber air yang belum memenuhi syarat kualitas air
minum menjadi memenuhi syarat kualitas air minum. Air minum dari unit pengolahan
air minum (water treatment plan) dialirkan melalui pipa transmisi (pipa pembawa) air
minum secara gravitasi atau pemompaan ke reservoir.
Air minum dari reservoir didistribusikan ke konsumen atau pemakai melalui pipa atau
14

jaringan pipa distribusi (pipa atau jaringan pipa pembagi) secara gravitasi atau secara
pemompaan atau gabungan pemompaan dan gravitasi. Tekanan air pada pipa
distribusi, maksimal 40 meter kolom air (mka),dan pada ujung pipa distribusi minimal
10 meter kolom air (mka).
Dari pipa distribusi air dialirkan ke bangunan gedung, bisa secara langsung
keperalatan plambing, bisa juga secara tidak langsung (menggunakan menara air).
Air dari sistem penyediaan air minum kota (PDAM) pada umumnya kualitasnya sudah
memenuhi persyaratan kualitas air minum, kalau air dari sumber air individu, ada yang
sudah memenuhi syarat kualitas air minum ada juga yang belum memenuhi. Kalau
belum memenuhi syarat kualitas air minum, maka air tersebut harus diolah terlebih
dahulu agar memenuhi persyaratan air minum, sebelum masuk ke dalam sistem
plambing bangunan gedung.
2.3.2.2 Pompa air
Pompa air adalah suatu alat untuk menaikan air dari level yang rendah ke level yang lebih
tinggi. Dilihat dari jenisnya dapat dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu pompa hisap dan
pompa hisap-tekan. Pompa hisap hanya menaikan air dari level dibawah pompa kelevel
sama dengan level pompa. Pompa hisap-tekan menaikan air dari level dibawah pompa ke
level diatas pompa.
Dari cara kerjanya, pompa dapat dibedakan menjadi pompa tangan dan pompa mekanik
(digerakan dengan cara mekanik).
Untuk lebih jelasnya pompa tangan dapat dilihat pada Gambar 8 dan Gambar 9
Dilihat dari cara meletakan pompa, pompa mekanik dibedakan menjadi 2 (dua) golongan,
yaitu :
Pompa yang diletakan diatas permukaan air (pompa centrifugal dan pompa jet).
Pompa yang diletakan didalam air, yang disebut pompa rendam (submersiblepump).
Untuk lebih jelasnya pompa mekanik dapat dilihat pada Gambar 10 sampai dengan
Gambar 16.
Pompa centrifugal akan efektif digunakan untuk menaikan air dari kedalaman lebih kecil
atau sama dengan 7.00 meter (jarak dari pompa sentrifugal dengan permukaan air yang akan
di pompa < 7.00 meter). Untuk menaikan air, bila kedalaman muka air lebih besar dari 7.00
meter dari permukaan tanah, sebaiknya digunakan pompa jet (jet pump), atau pompa
rendam (submersible pump).
Agar pompa bisa berfungsi secara optimal (terutama pada pompa centrifugal), maka udara
tidak boleh masuk kedalam pipa hisap.

15

Peralatan (assesories) yang harus ada sekitar pompa adalah :

Foot valve
Pipa hisap dan peralatannya
Pompa itu sendiri
Fleksible joint
Sambungan peredam getaran
Pipa tekan
Katup (valve)
Katup searah (swing valve)
Saringan (strainer)
Kadang-kadang manometer

Fungsi dari peralatan-peralatan yang ada sekitar pompa tersebut diatas diantaranya adalah
sebagai berikut :

Foot valve, dari jenis katup searah


kembali.

Pipa hisap dan peralatannya (soket, knie) : berfungsi sebagai jalan air ke pompa

Air
Pompa air

: berfungsi untuk menaikan air.

Fleksible joint

: : berfungsi agar pada waktu pompa

: berfungsi untuk mencegah air turun

akan dipasang setelah diperbaiki (dilepas), pada waktu pemasangnya kembali tidak

mengalami kesulitan.
Sambungan peredam getaran

: berfungsi untuk meredam getaran

pompa agar tidak merambat ke pipa. Sambungan peredam getaran biasanya dipasang
pada pompa dengan kapasitas yang besar.

Pipa tekan
: berfungsi sebagai jalan air dari pompa
air.
Katup (valve)
: berfungsi untuk mengatur aliran air,
biasanya yang digunakan adalah dari jenis gate valve (katup sorong).

Katup searah (swing valve)


tidak menekan pompa.

: berfungsi untuk menahan air balik agar

Saringan (strainer)
agar tidak masuk kedalam pompa.

Manomete

: berfungsi untuk mengukur tekanan air.

berfungsi untuk menyaring kotoran

Biasanya dipasang pada pompa dengan kapasitas yang besar.


Pipa hisap yang tegak harus dipasang tegak lurus, dan pipa hisap yang mendatar harus
dipasang agak miring ke atas kearah pompa agar udara tidak terjebak pada pipa hisap.
Pada pipa hisap, udara tidak boleh masuk kedalam pipa, oleh karena itu pada pipa hisap
sedapat mungkin jangan terlalu banyak sambungan. Karena pada sambungan tersebut udara
mudah masuk.

2.3.2.3 Pipa air dan peralatannya (assesories)


16

Air yang mengalir dalam pipa, mengalir dibawah tekanan (under pressure) atau
disebut juga air mengalir dengan tekanan, yaitu air mengalir dalam pipa dalam kondisi pipa
terisi penuh oleh air, jadi tidak ada udara didalam pipa. Oleh karena itu air bisa mengalir
kebawah, keatas, atau kesamping. Jadi pipa dapat dipasang tegak, miring keatas, miring
kebawah, atau mendatar.
Pada waktu air mengalir dalam pipa, akan timbul gesrekan-gesrekan antar molekul air
dan gesrekan-gesrekan antara air dengan dinding pipa, hal ini mengakibatkan timbulnya
kehilangan tekanan (head loss) pada waktu air mengalir didalam pipa.
Besarnya kehilangna tekan dalam pipa tergantung dari :

Kekasaran dinding pipa


tekanannya.

: makin kasar dinding pipa makin besar kehilangan

Panjang pipa
tekanannya.

: makin panjang pipa, makinbesar kehilangan

Kecepatan air dalam pipa

: makin cepat air mengalir dalam pipa makin besar

kehilangan tekanannya.

Banyaknya perlengkapan (assesories) pipa : makin banyak perlengkapan pipa makin besar
kehilangan tekanannya.

Pipa yang digunakan untuk digunakan dalam sistem plambing air minum harus memenuhi
persyaratan sebagai berikut :

Pipa yang terbuat dari bahan yang kuat menahan tekanan air

Tidak mudah berkarat

Tidak mudah bocor

Tidak merubah kualitas air dalam pipa

Tidak berubah kualitasnya oleh cuaca (terutama kalau pipa dipasang diluar
bangunan
gedung).

Peralatan (assesories) pipa harus terbuat dari bahan yang sama dengan bahan pipa
yang akan dipasang.

Peralatan pipa diantaranya terdiri dari : soket, knie, tee, reduser, croos, valve, dan Dop.
Soket

: berfungsi untuk menyambung 2 (dua) pipa lurus.

Knie

: berfungsi untuk menyambung 2 (dua) pipa berubah arah

Tee

: berfungsi untuk menyambung 3 (tiga) pipa yang bertemu

Reduser

: berfungsi untuk menyambung 2 (dua) pipa dengan garis tengah berbeda.

Croos

: berfungsi untuk menyambung 4 (empat) pipa lurus

17

Valve

: berfungsi untuk mengatur atau menutup aliran air

Dop

: berfungsi untuk menutup ujung pipa

Macam-macam peralatan pipa dapat dilihat pada Gambar 20. Dan cara penempatan katup
(valve) di dalam sistem plambing air minum. Pada umumnya garis tengan pipa air minum
bergaris tengan kecil, oleh karena itu pipa air minum dapat dipasang dengan cara menanam
pipa dalam dinding bangunan.

TABEL : 5

UKURAN MINIMUM PIPA PENYEDIAAN AIR ALAT PLAMBING

No

Alat Plambing

Ukuran Nominal
mm

inci

Bak mandi

15

Gabungan bak cuci dan dulang cuci pakaian

15

Pancuran air minum

15

Mesin cuci piring untuk rumah tangga

15

Bak cuci dapur untuk rumah tangga

15

Bak cuci dapur komersiil

20

Bak cuci tangan

15

Bak cuci pakaian (1,2 atau 3 bagian)

15

Dus (untuk tiap dus)

15

10

Bak cuci (service slop)

15

11

Bak cuci (jenis bibir penggelontor)

20

12

Peturasan (katup glontor )

20

13

Peturasan (katup glontor 1 )

25

14

Peturasan tangki glontor

15

15

Kakus (tangki glontor)

15

16

Kakus (katup glontor)

25

17

Kran untuk penyembung slang

15

18

Hidran dinding

15

TABEL : 6
18

THE NUMBER OF IN PIPES THAT WILL DISCHARGE AS MUCH AS


A SINGLE PIPE OF ANY OTHER SIZE FOR THE SAME PRESSURE LOSS

Size of pipe (inch)


Number of inch.
Pipes with same
capacity

5/8

1,7

2,9

6,2

10,9

17,4

2
37,8

2
65,5

3
110,5

189

527

8
1.200

10
2.090

2.3.2.3 Tangki air


Tangki air biasa disebut juga reservoir, berfungsi sebagai tempat menyimpan air minum
sementara. Tangki air bisa diletakan dibawah atau diatas tanah (ground reservoir), pada atap
bangunan atau bangunan yang tertinggi, dan pada menara air. Sebaiknya tangki bawah untuk
bangunan gedung tidak diletakan didalam tanah (ditanam), tetapi diletakan diatas tanah
dengan ketinggian sekitar 45 cm sampai 60 cm diatas tanah, agar tidak mudah terkotori, dan
mudah untuk pemeliharaan. Untuk lebih jelasnya perletakan tangki diatas tanah.
Dalam pemasangan tangki air diperlukan ruang bebas yang cukup sekeliling tangki untuk
pemeriksaan dan perawatan, seperi : disebelah atas, disebelah dinding, dan di bawah dasar
reservoir, agar supaya dapat dilakukan pemeriksaan dan perawatan dengan baik. Ruang bebas
tersebut sekurang-kurangnya 45 cm, tetapi lebih baik dibuat sekitar 60 cm agar mamudahkan
pengecatan dinding luar tangki.
Pada tangki air harus dilengkapi perlengkapan sebagai berikut :

Penutup tangki

: agar tangki terhindar dari pengotoran.

Ventilasi
tangki.

: agar ada hubungan antara udara didalam tangki dan udara diluar

Man hole

: agar orang bisa masuk untuk membersihkan tangki.

Pipa peluap

: agar air bisa meluap kaluar tangki bila tangki sudah penuh.

Pipa inlet

: untuk memasukan air kedalam tangki.

Pipa outlet

: untuk mengalirkan air kebangunan gedung.

Pipa drain

: untuk pengurasan.

Tangki-tangki yang digunakan untuk menyimpan air minum harus dibersihkan secara
19

teratur, agar kualitas air minum tetap terjaga. Disamping itu sinar matahari tidak boleh masuk
atau menembus kedalam tangki, agar lumut (ganggang) tidak tumbuh. Disyaratkan juga agar
tangki air tidak merupakan bagian struktural dari bangunan, serta lokasinya tidak berdekatan
dengan tempat pembuangan air kotor atau kotoran lainnya. Serta lokasi tangki juga tidak
boleh di tempat yang sering didatangi orang, kecuali petugas yang akan melakukan perawatan
dan pembersihan.
Tangki air harus terbuat dari bahan sebagai berikut :

Tidak mudah bocor

Tahan terhadap tekanan air

Tahan terhadap perubahan cuaca (bila tangki air diletakan diluar bangunan)

Tidak menyebabkan air berubah kualitasnya

Didalam tangki air tidak boleh ada air mati, jadi air yang masuk duluan harus keluar
duluan (antri). Kedalam tangki air tidak boleh ada binatang atau serangga yang masuk, oleh
karena itu lubang ventilasi harus ditutup oleh bahan yang tidak bisa ditembus serangga, tetapi
udara bisa masuk (biasanya bahan yang digunakan adalah kasa nyamuk).
A. Menentukan volume tangki air
Untuk menentukan volume tangki air, perlu data-data mengenai :

Kebutuhan air per orang per hari,

Jumlah penghuni bangunan gedung,

Lama waktu pemompaan.

Contoh perhitungan :
Misalnya jumlah penghuni bangunan gedung sebanyak 7 jiwa Kebutuhan air sebanyak 200
l/hari/jiwa Maka kebutuhan air sebanyak : 7 jiwa X 200 l/hari/jiwa = 1.400 l/hari. Kalau
pompa dijalankan 1 kali dalam 1 hari, maka volume tangki air sebesar minimal 1.400 l atau
1, 4 m3 . Kalau pompa dijalankan 2 kali dalam 1 hari, maka volume tangki air sebesar
minimal 700 l atau 0,70 m3 . Kalau pompa dijalankan 3 kali dalam 1 hari, maka volume
tangki air sebesar minimal 467 l atau 0,47 m3 , atau 500 l.
Berat tangki air adalah berat tangki itu sendiri ditambah berat air di dalam tamgki. Kalau
volume air 1 (satu) liter sama dengan berat air 1 (satu) kg, jadi bila volume air 1.000 liter,
atau 1 m3 sama dengan berat air sebesar 1.000 kg atau 1 ton.

B. Menentukan tinggi tangki atas air (menara air)


20

Untuk menentukan tinggi tangki atas air atau menara air, diperlukan datadatadiantaranya adalah :

Tinggi statis peralatan plambing

Kehilangan tekanan dalam pipa

Sisa tekanan pada peralatan plambing

Contoh perhitungan
Misalnya tinggi statis peralatan plambing dalam hal ini dari jenis water heater setinggi 5.00
meter. Kehilangan tekanan air pada pipa diperhitungkan 1,50 meterSisa tekanan pada water
heater 7,00 meter (lihat Tabel 2). Tinggi tangki atas air (menara air) =Tingggi statis peralatan
plambing + Kehilangan tekanan pada pipa + Sisa tekanan pada peralatan plambing. Tinggi
tangki atas air (menara air) = 5 m + 1,50 m + 7,00 m = 13,50 m.
Yang disebut tinggi menara air, adalah jarak vertikal antara permukaan tanah setempat
dengan dasar tangki air.
2.3.2.5 Peralatan plambing air minum
Peralatan plambing adalah peralatan yang dipasang di dalam maupun di luar bangunan
gedung, untuk menyediakan (mengeluarkan) air minum, atau dengan kata lain peralatan yang
dipasang pada ujung akhir pipa untuk menyediakan (mengeluarkan) air minum.
Peralatan plambing tersebut diantaranya adalah : Katup (kran), dan Shower.
LANGKAH-LANGKAN PERANCANGAN SISTEM PLAMBING AIR MINUM
1. Tentukan letak masing-masing alat plambing air minum
2. Buat gambar lay out jaringan pipa air minum
3. Buat gambar isometri jaringan pipa air minum
4. Tentukan garis tengan pipa air minum dengan mengacu pada Tabel 5 (Ukuran
minimum pipa penyediaan air alat plambing) dan Tabel 6 (The number of inch pipes
that will discharge as much as a single pipe of any other size for the same pressure
loss)
5. Tentukan letak peralatan pipa (accessories pipes) pada gambar isometri jaringan pipa
air minum
6. Tentukan sisa tekanan pada masing-masing alat plambing sesuai dengan sisa tekan
yang dibutuhkan oleh masing-masing alat plambing sesuai denga Tabel 2 (Tekanan
yang dibutuhkan alat plambing)
7. Hitung kehilangan tekanan pada pipa dan peralatannya (kehilangan tekanan pada pipa
dan peralatannya untuk rumah tinggal sebesar 1 mka sampai 2 mka)
8. Untuk menentukan Head Pompa (Hp) digunakan rumus sebagai berikut :
Hp = Kehilangan tekanan + sisa tekan pada alat plambing + Hst

Hst adalah jarak vertikal antara pompa dan pipa out let pada menara

9. Untuk menentukan tinggi menara air digunakan rumus sebagai berikut :


Hst adalah jarak vertikal antara permukaan tanah dan alat plambing yang tertinggi atau

21

alat plambing dengan total kehilangan tekanan (kehilangan tekanan dalam pipa + sisa
tekanan) yang paling besar.
B. SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM PANAS
Sistem penyediaan air minum yang panas (air panas) dalam bangunan gedung ada 2(dua)
sistem, yaitu : sistem individu dan sistem kolektif.
Sistem individu adalah sistem penyediaan air panas dalam bangunan gedung secara
parsil, dimana setiap alat plambing yang membutuhkan air panas, mempunyai sumber air
panas tersendiri. Misalnya untuk kamar mandi mempunyai satu sumber air panas sendiri,
yaitu berupa unit water heater, dimana sumber pemanasnya bisa dari gas atau listrik.
Sistem kolektif adalah sistem penyediaan air panas secara bersama-sama dalam satu
bangunan gedung, dimana setiap alat plambing yang membutuhkan air panas, memperoleh air
panas dari satu sumber.
Pipa yang dipergunakan untuk mengalirkan air panas harus terbuat dari bahan yang tahan
terhadap air panas, biasanya dari bahan besi (cast iron). Bila pipanya panjang untuk menjaga
agar air panas tidak terlalu banyak kehilangan kalornya (panasnya), maka pipa tersebut harus
diisolasi oleh bahan yang bisa menahan panas. Untuk bangunan gedung yang memerlukan air
panas selama 24 jam terus menerus, diperlukan pengaliran air panas secara tertutup.

1.2 SISTEM PLAMBING AIR KOTOR


A. U M U M

22

Sebelum melanjutkan pada materi sistem pembuangan air kotor dalam bangunan gedung,
ada beberapa istilah yang perlu diketahui, diantaranya adalah :
Limbah : adalah bahan buangan (bahan yang sudah tidak terpakai). Limbah terdiri dari
limbah padat dan limbah cair.
Limbah padat : adalah bahan buangan yang berbentuk padat, biasanya disebut sampah.
Limbah cair : adalah bahan buangan yang berbentuk cair. Termasuk dalam limbah cair
diantaranya adalah : air kotoran, air bekas, dan air hujan.
Air kotoran : adalah air buangan yang mengandung kotoran manusia.
Air bekas : adalah air buangan yang berasal dari alat-alat plambing lainnya, seperti bak
mandi (termasuk bath tub), bak cuci tangan, bak cuci dapur, dan lain-lainnya yang tidak
mengandung kotoran manusia.
Air kotor : adalah air buangan yang terdiri dari air kotoran dan air bekas.
Air hujan : adalah air yang jatuh dari atas (langit).
Riol (riool) : adalah pipa yang digunakan untuk menyalurkan air limbah. Sistem yang
digunakan di indonesia adalah sistem terpisah, oleh karena itu riol (riool) hanya digunakan
untuk mengalirkan air kotor.
Riol Gedung : adalah bagian dari sistem pembuangan air kotor yang membentang dari ujung
saluran pembuangan gedung dan menyalurkan buangannya ke saluran pembuangan kota,
pribadi, atau tempat pembuangan lainnya yang dibenarkan.
Riol (riool) kota : adalah jaringan saluran pembuangan air kotor di kota, yang
menghubungkan saluran riol gedung dengan unit pengolahan air kotor kota. Karena di
Indonesia sistem pengaliran air kotor dengan sistem pengaliran air hujan terpisah. Oleh karena
itu fungsi dari riol kota hanya untuk mengalirkan air kotor, lebih spesifik lagi air kotor rumah
tangga atau limbah cair rumah tangga.
Air kotor dari bangunan gedung disebut juga air limbah domestik atau air limbah
rumah tangga.
Seperti telah dijelaskan diatas, air kotor adalah air bekas atau air buangan yang berasal
dari kegiatan sehari-hari rumah tangga, yaitu semua jenis air buangan rumah tangga yang
berasal dari : mandi, dapur, mencuci, kakus, dan lain sebagainya. Jadi air kotor juga
mengandung kotoran manusia (excreta, faeces).

Faeses mengandung zat organik, anorganik, bakteri (baik yang pathogen, maupun
yang tidak pathogen, seperti bakteri coli) dan kadang-kadang juga cacing atau telur cacing.
Disamping itu, proses pembusukan faeses, terutama didalam air terus berlangsung sehingga
23

akan menimbulkan bau yang kurang baik. Oleh karena itu faeses, perlu dikelola dengan baik
dan benar, agar tidak menimbulkan bau yang kurang baik, dan penyebaran penyakit. Karena
air kotor mengandung faeses, maka air kotor pun perlu dikelola secara baik dan benar.
Sistem pembuangan air kotor pada bangunan gedung ada 2 (dua) cara yaitu :

Sistem individu (on site)


Sistem terpusat (of site)

Sistem individu atau disebut juga on site system adalah sistem pembuangan air kotor
rumah tangga dari tiap-tiap rumah tangga/bangunan gedung atau beberapa rumah/bangunan
gedung.
Sistem terpusat atau disebut juga off site system adalah sistem pembuangan air kotor
dari

tiap-tiap

rumah/bangunan

gedung,

dialirkan/dibuang

bersama-sama

dengan

menggunakan sistem perpipaan (disebut sistem rioolering) ke unit pengolahan air kotor untuk
suatu kawasan atau kota.
B. SISTEM PEMBUANGAN AIR KOTOR
Bagian-bagian yang penting dalam sistem plambing air kotor diantaranya adalah sebagai
berikut :
Perpipaan (sistem perpipaan)

Perangkap

Pipa ven

Lubang pembersih

Bak penampung dan pomp

3.2.1 Perpipan (Sistem perpipaan)


Sistem pembuangan air kotor dalam bangunan gedung dapat dijelaskan sebagai
berikut :
Air kotor yang dibuang malalui alat-alat saniter, dialirkan melalui pipa pembuangan air kotor
ke tempat pengolahan air kotor (septic tank atau unit pengolahan air kotor melalui riool
kota).
Pada umumnya air kotor mengalir secara gravitasi, penggunaan pompa hanya untuk
memompa air kotor dari bak penampung air kotor yang berlokasi di bagian bawah bangunan
(basement) ke unit pengolahan air kotor. Sarana pengaliran air kotor pada umumnya berupa
perpipaan. Bahan pipa yang digunakan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :

Tidak mudah bocor

Tahan terhadap asam

Tahan terhadap cuaca, untuk pipa yang diletakan di luar bangunan gedung.

Nama-nama perpipaan yang ada dalam sistem plambing air kotor diantaranya adalah :
24

Pipa cabang mendatar

Pipa tegak

Saluran pembuangan gedung

Pipa ven

Fungsi dari pipa-pipa tersebut adalah :


Pipa cabang mendatar : adalah pipa pembuangan mendatar yang menghubungkan
pipa pembuangan alat plambing dengan pipa tegak air buangan. Berfungsi untuk mengalirkan
air kotor dari alat plambing ke pipa tegak air kotor. Dalam sistem plambing air kotor, sistem
pembuangan harus mampu mengalirkan air buangan dengan cepat, dan biasanya air buangan
mengandung bagian-bagian padat. Oleh karena itu pipa pembuangan cabang mendatar harus
mempunyai ukuran dan kemiringan yang cukup, sesuai dengan banyaknya dan jenis air
buangan yang harus dialirkan. Pada umumnya kemiringan pipa pembuangan cabang mendatar
sebesar 2 %.
Pipa tegak : adalah pipa pembuangan air kotor yang menghubungkan pipa cabang
mendatar dengan pipa saluran pembuangan gedung.
Saluran pembuangan gedung : adalah bagian jaringan pipa terendah dari system
pembuangan air kotor yang menerima air kotor dari seluruh jaringan pipa air kotor, dan
menyalurkannya ke tempat pengolahan air kotor. Kemiringan saluran pembuangan gedung
sebesar (0,50 4) %.
Pipa ven : adalah pipa yang dipasang untuk sirkulasi udara ke seluruh bagian system
pembuangan air kotor, dan mencegah terjadinya kerja sifon dan tekanan balik pada
perangkap.
Garis tengah pipa air kotor pada umumnya lebih besar dari garis tengah pipa air
minum, untuk garis tengah air kotor yang terkacil adalah 2 inci, bila tidak mengangkut faeses.
Untuk pipa yang bersal dari 1(satu) kloset (wc), diameter pipa terkecil adalah 3 inci. Oleh
karena itu pemasangan pipa air kotor tidak dapat ditanam didalam dinding, tetapi harus diluar
dinding, agar tidak terlihat perlu ditutup oleh penutup yang serasi dengan kondisi dinding
yang bersangkutan. Bisa juga pipa mendatar diletakan pada lokasi antara lantai atas dengan
plafon. Dan pipa tegak diletakan pada shaf.
Perlengkapan (assessoris) pipa air kotor diantaranya adalah sebagai berikut : Soket,
belokan (elbow), reducer, tee, dop, Cleanout (CO) atau lubang pembersih.

Fungsi dari perlengkapan tersebut adalah sebagai berikut :


Soket , berfungsi untuk menyambung 2(dua) pipa yang lurus.
25

Belokan (elbow), berfungsi untuk menyambung 2(dua) pipa yang berubah arah (belok).
Dalam sistem pembuangan air kotor, karena yang terangkut dalam pengaliran air adalah
benda kasar (faeses), maka belokan tidak boleh terlalu tajam, oleh karena itu untuk belokan
dipergunakan elbow, bukan knie seperti air minum.
Reducer, Pada sistem pengaliran air kotor sebenarnya tidak dikenal reducer, tetapi
pembesaran pipa, dimana fungsinya untuk menyambung pipa kecil dengan pipa yang lebih
besar. Reducer yang dipergunakan juga dari type long radius reducer.
Tee, berfungsi untuk menyambung 3 (tiga) buah pipa menjadi satu. Dalam sistem
pembuangan air kotor, karena yang terangkut dalam pengaliran air adalah benda kasar
(faeses), maka pertemuan pipa tidak boleh terlalu tajam, oleh karena itu untuk sambungan ini
dipergunakan Tee Y, bukan tee seperti air minum.
Dop, berfungsi untuk menutup ujung pipa.
Lubang pembersih (cleanout), berfungsi untuk pemeliharaan pipa.
Untuk menentukan ukuran pipa air kotor baik pipa cabang mendatar, pipa tegak,
saluran pembuangan gedung, dan pipa ven tergantung dari banyaknya dan jenisnya alat- alat
saniter yang ada didalam bangunan gedung tersebut.
Contoh perhitungan:
Diasumsikan bangunan gedung 3 (tiga) lantai dengan alat-alat plambing air kotor yang ada
adalah sebagai berikut :
No 1. Peturasan dengan tangki gelontor
No 2. Bak mandi dengan perangkap 50 mm
No 3. Kakus dengan katup gelontor
No 4. Bidet dengan perangkap 40 mm
No 5. Kakus dengan tangki gelontor
No 6. Lubang pengering lantai
No 7. Kakus dengan katup gelontor
No 8. Bak cuci tangan dengan lubang pengeluaran air kotor sebesar 40 mm
No 9. Kakus dengan tangki gelontor
No 10. Dus pada ruang dus
Yang akan dihitung adalah dimensi pipa, baik pipa cabang mendatar, pipa tegak,
maupun pipa pembuangan gedung.
Untuk menentukan dimensi pipa dapat digunakan Tabel 17 (Beban maksimum yang
diizinkan untuk perpipaan drainasi saniter, dinyatakan dalam unit alat plambing).
Dan untuk menentukan besarnya nilai unit alat plambing (NUAP), dapat dipergunakan Tabel
16 (Nilai unit alat plambing untuk drainasi saniter).
26

C. Perangkap
Tujuan utama dari sistem pembuangan air kotor dalam bangunan gedung adalah

mengalirkan air kotor dari dalam bangunan gedung keluar, ke dalam unit pengolahan air kotor
(septic tank) atau riol kota, tanpa menimbulkan pencemaran kepada lingkungannya maupun
dalam bangunan gedung itu sendiri.
Pipa pembuangan air kotor didalam bangunan gedung tidak terus menerus
mengalirkan air kotor, jadi tidak selamanya pipa tersebut terisi dengan air, hal ini akan
menyebabkan masuknya gas yang berbau atau beracun dari septic tank atau dari riol,
disamping gas juga ada kemungkinan serangga bisa masuk. Untuk mencegah hal tersebut
diatas, maka pada sistem pembuangna air kotor didalam bangunan gedung perlu dipasang
suatu alat yang disebut perangkapatau trap, biasanya berbentuk leher angsa atau U,
yang akan menahan bagian terakhir dari air penggelontor, sehingga merupakan suatu
penyekat atau penutup air yang mencegah masuknya gas.
Fungsi perangkap adalah, untuk mencegah bau busuk (gas) dari septic-tank atau roil masuk ke
dalam ruangan dimana alat-alat plambing air kotor (alat-alat saniter) berada.
Agar perangkap dapat berfungsi dengan baik, maka perangkap tersebut harus
memenuhi beberapa persyaratan diantaranya adalah sebagi berikut :
a) Kedalaman air penutup.

Kedalaman air penutup ini biasanya berkisar antara 50 mm sampai 100 mm.
b) Konstruksinya harus sedemikian rupa agar dapat selalu bersih dan tidak menyebabkan
kotoran tertahan atau mengendap.

Aliran air buangan harus menimbulkan efek membersihkan diri, jadi perangkap
tersebut dan permukaan dalamnya harus cukup licin agar kotoran tidak tersangkut
atau menempel pada permukaannya.
c) Konstruksi perangkap harus sedemikian rupa sehingga fungsi air sebagai penutup tetap
dapat dipenuhi.
d) Konstruksi perangkap harus cukup sederhana agar mudah membersihkannya

karena endapan kotoran lama kelamaan tetap akan terjadi.

D. Pipa ven
Didalam sistem pembuangan air kotor dalam bangunan gedung, terutama untuk
bangunan gedung dengan jumlah lantai sebanyak 2 (dua) lantai atau lebih, perlu dipasang pipa
27

ven.

Tujuan pemasangan pipa ven dalam plambing air kotor adalah sebagai berikut :

Menjaga sekat perangkap dari efek sifon atau tekanan

Menjaga aliran yang lancar dalam pipa pembuangan

Mensirkulasikan udara dalam pipa pembuangan

Pipa ven dipasang pada ujung pipa tegak sebelah atas, dan sedekat mungkin dengan
unit perangkap.
Pipa ven dipasang sampai keluar bangunan gedung, baik diatas atap maupun pada
dinding bagian atas bangunan gedung tersebut.

E. Lubang pembersih (cleanout) dan bak kontrol


Kotoran dan kerak akan mengendap pada dasar dan dinding pipa pembuangan setelah
digunakan untuk jangka waktu yang lama. Disamping itu kadang-kadang ada juga bendabenda kecil yang sengaja atau tidak jatuh dan masuk kedalam pipa. Semua itu akan
menyebabkan tersumbatnya pipa, sehingga perlu dilakukan tindakan pengamanan.
Oleh karena itu di dalam sistem pembuangan air kotor dalam bangunan gedung perlu
dipasang lubang pembersih (cleanout), biasa titulis CO , untuk diluar bangunan gedung
(pada riol gedung) dipasang bak kontrol.
Baik lubang pembersih maupun bak kontrol harus dipasang pada tempat yang mudah
dicapai, dan sekelilingnya cukup luas untuk orang membersihkan pipa. Untuk pipa ukuran
sampai 65 mm jarak bebas sekeliling lubang pembersih sekurang-kurangnya 30 cm, dan untuk
ukuran pipa 75 mm atau lebih besar jarak tersebut sekurang-kurangnya 45 cm.
Lubang pembersih (cleanout) harus dipasang pada lokasi sebagai berikut :
Awal dari cabang mendatar atau pipa pembuangan gedung
Pada pipa mendatar yang panjang
Pada tempat di mana pipa pembuangan membengkok (belok) dengan sudut
lebih dari 450
Bagian bawah dari pipa tegak atau di dekatnya
Untuk bangunan yang bertingkat, maka lubang pembersih sebaiknya dipasang
pada setiap 2 (dua) atau 3 (tiga) lantai pada pipa tegak gedung
Dekat sambungan antara pipa pembuangan gedung dengan riol gedung

Ukuran lubang pembersih adalah sebagai berikut : Untuk ukuran pipa sampai dengan
100 mm, ukuran lubang pembersihnya sama dengan ukuran pipa. Untuk pipa yang lebih besar
28

dari 100 mm, ukuran lubang pembersihnya minimal 100 mm.


Bak kontrol dipasang pada pipa yang ada dibawah tanah. Oleh karena air yang
mengalir didalam pipa yang melewati bak kontrol ini mengandung kotoran manusia (faeses),
maka dasar bak kontrol harus sedemikian rupa sehingga jalannya faeses tidak terganggu,
untuk itu pipa yang melintasi bak kontrol harus menerus.
Ukuran bak kontrol pada umumnya 30 cm x 30 cm (lebar x panjang)
Bak kontrol harus dipasang pada lokasi sebagai berikut :

Pada pertemuan saluran

ada perubahan arah (belokan) saluran

Pada saluran yang lurus, setiap jarak 5.00 meter

Pada perubahan ketinggian

Pada tempat sebelum masuk septic tank atau sebelum masuk riol kota

F. Bak penampung dan pompa


Air kotor yang letaknya lebih rendah dari pada riol gedung atau riol kota dimasukan
terlebih dahulu ke dalam penampungan (bak penampung) dan kemudian dialirlan ke luar
dengan pompa atau alat lainnya.
Bak penampung ini harus dibuat dengan konstruksi kedap air, tidak membocorkan gas
dan bau, serta harus dilengkapi dengan pipa ven. Bak penampung ini tidak boleh dibuat
sehingga salah satu dindingnya merupakan dinding pemisah dengan bak penampung air
minum.
G. SEPTIC-TANK DAN RESAPAN
3.3.1. Septic-tank
Septic-tank atau tangki septic disebut juga tangki pembusuk, karena pada tangki ini
timbul proses pembusukan faeses oleh bakteri pembusuk dengan bantuan oxygen menjadi
lumpur dan gas (H2S dan NH4).
Disebagian besar negara-negara diluar negri, seperti di Amerika, Inggris, dan lainlain, septic-tank berfungsi untuk menampung semua air kotor dari rumah tangga kecuali air
hujan (dari kamar mandi, kakus, dapur, bak cuci tangan, dan alat-alat pembuangan rumah
tangga lainnya). Penyaluran semua air kotor rumah tangga kedalam septic-tank juga
dianjurkan oleh W.H.O.
Air sabun tidak akan mengganggu bekerjanya septic-tank dalam hal pengendapan
maupun pembusukan, demikian juga halnya dengan detergents synthetic (syndet) tidak
semuanya mengganggu, yang mengganguu hanya persenyawaan-persenyawaan ammonium
kwarterne (quaternary ammonium compounds), yang terkenal mempunyai daya bactericide.
29

Akan tetapi persenyawaan-persenyawaan ammonium kwarterner pun ternyata hanya


menghentikan sebagian saja dari proses pembusukan, oleh karena itu proses pembusukan
masih dapat berlangsung dengan baik, karena didalam septic-tank, persenyawaan tersebut
telah diencerkan lagi dengan air kotor rumah tangga lainnya yang tidak mengandung
detergent.
Dari pengalaman dilapangan, ternyata bahwa pemakaian air yang sedikit sekali
menyebabkan terdapatnya zat-zat padat yang banyak sekali pada air kotor dan ini akan
menyebabkan tersumbatnya pipa saluran air kotor, dengan mengalirkannya semua air kotor
rumahtanga kedalam septic-tank bahaya tersebut akan sangat diperkecil, juga dapat
diharapkan, bahwa dengan lebih banyaknya lagi kotor yang dapat melarut kedalam air,
sehingga jumlah lumpur yang harus ditampung didalam septic-tank akan dapat diperkecil.
Oleh karena itu, sebaiknya semua air kotor yang berada dalam rumah tangga, baik dari
kamar mandi dan kakus, maupun dari dapur, bak cuci tangan, dan lainnya seluruhnya
dibuang atau dialirkan ke septic-tank.
Septik-tank terbuat dari bahan yang rapat air, kuat, dan tahan terhadap asam, pada
umumnya terbuat dari konstruksi beton atau pasangan batu bata.
Agar fungsi septic-tank dan bidang resapan atau sumur resapan bisa optimal, maka
septic-tank harus diletakan pada lokasi dimana ketinggian muka air tanah lebih besar lebih
dari 2.00 meter.
Dasar-dasar perencanaan septic-tank adalah sebagai berikut :
1. Waktu tinggal (detention time) air kotor didalam septic-tank ditetapkan selama 24 jam
(satu hari penuh)

2. Pemakaian air setiap orang setiap hari sebesar 100 liter. (pada seminar on sewage disposal
W.H.O di kandy-ceylon telah ditetapkan, bahwa agar septic-tank dapat bekerja dengan

baik, diperlukan suatu persediaan air sedikit-dikitnya 20 imperial gallons atau 91


liter untuk setiap orang seharinya).
3. Volume septic-tank yang paling kecil ditetapkan untuk pemakaian oleh 10 orang sesuai
dengan anjuran W.H.O.

4. Untuk ruang penyimpanan Lumpur disediakan 30 liter untuk setiap pemakai setiap
tahunnya. (menurut W.H.O besar ruang lumpur sekurang-kurangnya 1 cb ft atau

sebesar 28,8 liter per capita per tahun).


5. Frekwensi pembuangan lumpur menurut W.H.O antara 1 tahun sampai 4 tahun.

30

6. Untuk ruang gas dan busa disediakan tempat yang tinginya sekurang- kurangnya 30 cm
diatas permukaan air (menurut W.H.O, seminar di Ceylon ruang antara permukaan air

di septic-tank dan tutupnya harus antara 6 inch samapai 1 ft atau antar 15 cm


sampai 30 cm).
7. Kedalaman air pada septic-tank sekurang-kurangnya 1,00 meter.
8. Panjang septic-tank sekurang-kurangnya 1,25 meter. Untuk septic-tank yang berbentuk
bulat, diameter (garis tengah) septic-tank sekurang- kurangnya 1,25 meter.

9. Lebar septic-tank sekurang-kurangnya 0,80 meter.


10. Untuk septic-tank yang besar, perbandingan antara panjang : lebar sebesar 2 : 1 sampai
3:1.
11. Beda tinggi antara pipa inlet dan permukaan air di dalam septic-tank sebesar 7 cm
12. Septic-tank harus dilengkapi dengan : pipa ven, dan lubang pemeriksa yang berfungsi juga
sebagai lubang penyedot lumpur tinja.

Contoh perhitungan untuk menentukan volume septic-tank.

A. Rumah tangga yang dihuni oleh 5 (lima) orang, dan lumpur dibuang (disedot) setiap 2
(dua) tahun.

Oleh karena menurut peraturan volume septic-tank harus menampung minimal untuk
jumlah penghuni 10 orang, maka untuk perhitungan selanjutnya jumlah orang yang dihitung
sebanyak 10 orang.
Cara perhitungan :
Volume septic-tank adalah : volume air ditambah volume lumpur ditambah ruang busa.
Volume air : 10 orang X 100 l/orang/hari = 1.000 liter = 1 m3
Panjang

: 1,25 m

Lebar

: 0,80 m

Tinggi air : 1,00 m


Volume lumpur : 10 orang X 30 l/orang/tahun X 2 tahun = 600 liter = 0,60 m3
Panjang

:1,25 m

Lebar

: 0,80 m

Tinggi lumpur : 0,60 m


Ruang busa diambil 0,30 m diatas permukaan air
Tinggi septic-tank adalah : tinggi air + tinggi lumpur + ruang busa.
Tinggi septic tank adalah : ( 1,00 + 0,60 + 0,30 ) m = 1,90 m
Dimensi septic-tank adalah sebagai berikut :
31

Panjang

: 1,25 m

Lebar

: 1,00 m

Tinggi

: 1,90 m

B. Rumah tangga yang dihuni oleh 20 (dua puluh) orang, dan lumpur dibuang
(disedot) setiap 4 (empat) tahun.
Cara perhitungan :
Volume septic-tank adalah : volume air ditambah volume lumpur ditambah ruang busa.
Volume air

: 20 orang X 100 l/orang/hari = 2.000 liter = 2 m3

Panjang

: 2,00 m

Lebar

:1,00 m

Tinggi air

: 1,00 m

Volume lumpur : 20 orang X 30 l/orang/tahun X 4 tahun = 2.400 liter = 2,40 m3


Panjang

: 2,00 m

Lebar

: 1,00 m

Tinggi lumpur : 1,20 m


Ruang busa diambil 0,30 m diatas permukaan air
Tinggi septic-tank adalah : tinggi air + tinggi lumpur + ruang busa.
Tinggi septic tank adalah : ( 1,00 + 1,20 + 0,30 ) m = 2,50 m
Dimensi septic-tank adalah sebagai berikut :
Panjang

: 2,00 m

Lebar

: 1,00 m

Tinggi

: 2,50 m

3.3.2. R e s a p a n
Air yang keluar dari septic-tank kandungan BOD nya masih cukup tinggi, dan ada
kemungkinan masih mengandung bakteri-bakteri pathogen atau telur cacing, dan masih
berbau. Oleh karena itu bila air yang keluar dari septic-tank dibuang keperairan terbuka
(badan air terbuka) maka akan menyebabkan pencemaran terhadap perairan terbuka tersebut.
Melihat hal-hal seperti tersebut diatas, maka air yang keluar dari septic-tank (efluen) tidak
boleh dibuang langsung ke badan-badan air, tanpa pengolahan terlebih dahulu.

Untuk mencegah pencemaran badan air terbuka , maka air yang keluar dari septictank perlu diolah terlebih dahulu sampai memenuhi persyaratan kualitas air kotor yang
diizinkan oleh peraturan setempat sebelum dibuang ke perairan terbuka. Pengolahan ini
sangat sulit untuk dilakukan, karena kapasitas air yang keluar dari septic-tank sangat sedikit
32

dan tidak terus menerus.


Oleh karena itu cara yang paling mudah untuk mengolah air yang keluar dari septictank, yaitu dengan cara, air yang keluar dari septick-tank diresapkan kedalam tanah
dengan cara meresapkan melalui sumur resapan atau bidang resapan.
Agar supaya baik sumur resapan, bidang resapan, maupun septic-tank tidak
mengganggu lingkungan sekitarnya maka lokasi dari sumur resapan, bidang resapan, dan
septic-tank ada persyaratan jarak tertentu. Persyaratan jarak minimum dari septic-tank, dan
peresapan untuk kondisi tanah biasa dapat dibaca pada Tabel 3.1
TABEL : 3.1
PERSYARATAN JARAK MINIMUM DARI SEPTIC TANK DAN RESAPAN
UNTUK KONDISI TANAH NORMAL

SEPTIC-TANK
(meter)
1,50

RESAPAN
(meter)
3,00

N0
1

U RAIAN
Bangunan

Batas-batas pemilikan

Sumur

Aliran air

7,50

30,00

Pemotongan/Peninggian

7,50

30,00

Pipa air minum

3,00

3,00

Sumber data : Cotteral dan Norris (1969)

1,50
10,00 *)

1,50
10,00

7
1,50karang
*) Sampai
dengan Jalan
30,00setapak
meter untuk pasir dan kerikil, dan 1,50
lebih besar lagi untuk batu
8 tersusun atau Pohon
besar
3,00
3,00
yang
tidak tersususn.
Panjang bidang resapan minimal 10,00 meter, dan maksimal 15,00 meter. Bila dari
hasil penelitian diperlukan panjang bidang resapan lebih dari 15,00 mater, maka bidang
resapan harus dibuat beberapa dengan panjang masing-masing maksimal 15,00 meter, dan
jarak antara bidang resapan dari as ke as sebesar 2,50 meter. Kemiringan bidang resapan
sebesar 0,20 %.
1.3 SISTEM PLAMBING AIR HUJAN
Dengan adanya radiasi dari mata hari maka sejumlah air yang berada pada tubuh
manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, tanah, sungai, danau, dan laut munguap kedalam
33

atmosfeer, uap air tersebut kemudian tertiup oleh angin naik ketempat yang lebih tinggi lalu
terkumpul menjadi awan. Dalam kondisi tertentu uap air tersebut terkondensasi dan akhirnya
dapat kembali lagi kebumi berupa air hujan, dan salju.
Air hujan yang jatuh ke permukaan bumi tersebut, sebagian akan mengalir di
permukaan (surface runoff) dimana kelak akan terkumpul di sungai-sungai, rawa-rawa,
danau-danau, dan laut. Sebagian lagi akan segera menguap kembali, dan selebihnya akan
meresap masuk kedalam tanah, dan menjadi air tanah.
Melihat dari terjadinya air hujan, maka air hujan pada umumnya mempunyai kualitas
yang cukup baik, terutama pada daerah dimana kondisi udaranya belum tercemar oleh gasgas lain. Namun yang perlu diperhatikan adalah air hujan yang mengalir dipermukaan bumi
(tanah), yang biasa disebut aliran permukaan (run off atau surface runof). Kalau run off tidak
ditanggulangi secara baik dan benar, terutama di daerah permukiman, maka akan
menimbulkan hal-hal yang kurang baik, diantaranya akan timbul genangan-genangan air, bila
genangan itu besar disebut banjir.
Besarnya genangan air tergantung dari besarnya ron off atau yang disebut debit run
off, dan besarnya debit run off tergantung dari hal-hal sebagai berikut :

Intensitas hujan

Luas daerah pengaliran

Coefisien pengaliran

Besarnya debit aliran permukaan dapat dihitung dengan menggunakan beberapa rumus,
diantaranya rumus RATIONAL.
Rumus Rational :

Q = 0,00278 C . I . A

Dimana :
Q : Debit aliran permukaan (run off), dinyatakan dalam m3/detik
C : Coefisien pengaliran, dinyatakan dalam %
I : Intensitas hujan, dinyatakan dalam mm/jam
A : Luas daerah pengaliran, dinyatakan dalam Ha

Kalau melihat rumus Rational, besaran atau nilai Intensitas hujan ( I ), dan luas daerah
pengaliran ( A ), pada umumnya konstan (tetap), akan tetapi besaran atau nilai Coefisien
pengaliran ( C ) bisa berubah-rubah, tergantung dari bahan lapisan penutup permukaan tanah.
Bila lapisan penutup permukaan tanah terdiri dari bahan yang mudah meresapkan air hujan,
34

maka besaran atau nilai coefisien pengaliran ( C ) akan kecil, artinya air hujan lebih banyak
yang masuk kedalam tanah dari pada yang menjadi aliran permukaan, akan tetapi kalau
lapisan penutup permukaan tanah terdiri dari bahan yang sulit meresapkan air hujan, maka
besaran atau nilai coefisien pengaliran ( C ) akan besar, artinya air hujan lebih sedikit yang
masuk kedalam tanah dari pada yang menjadi aliran permukaan. Dengan kata lain makin
besar nilai coefisien pengaliaran ( C ), maka akan makin besar debit ( Q ) aliran permukaan,
makin kecil nilai coefisien pengaliran makin kecil debit ( Q ) aliran permukaan.
Oleh karena itu untuk memperkecil besarnya debit aliran permukaan (run off), maka
nilai coefisien pengaliran harus kecil, jadi lapisan penutup permukan tanah harus terbuat dari
bahan yang mudah meluluskan air hujan kedalam tanah. Untuk mengetahui besarnya nilai
coefien pengaliran dapat dibaca pada Tabel 4.1.

Dari bangunan gedung air hujan bisa dalirkan dengan 3 (tiga) cara, yaitu :
1) Air hujan dari atap bangunan dijatuhkan langsung ke tanah, tidak melalui talang atap.
2) Air hujan dari atap bangunan dialirkan melalui talang atap, lalu ke talang tegak, lalu
ke saluran air hujan dihalaman gedung, dan akhirnya dialirkan ke saluran drainase
kota.
3) Air hujan dari atap bangunan dialirkan melalui talang atap, lalu ke talang tegak, lalu
ke saluran air hujan dihalaman gedung, dan akhirnya dialirkan ke sumur resapan.

Kalau memungkinkan sistem yang baik adalah sistem no 1, dan no 3, hal ini dikarenakan
air hujan akan lebih banyak meresap kedalam tanah, sehingga ketersediaan air tanah cukup
terjamin dan jumlah aliran permukaan akan sangat sedikit sekali, sehingga akan mengurangi
genangan air (banjir akibat air hujan).
Bentuk sumur resapan dapat dilihat pada Gambar 43 dan persyaratan lokasi sumur resapan
dapat dibaca pada Tabel 4.2.

TABEL : 4.2
A.KOEFISIEN PENGALIRAN ( C ) UNTUK BERBAGAI PENGGUNAAN BAHAN
LAPISAN PENUTUP PERMUKAAN TANAH

35

No

Type daerah aliran/jenis penggunaan lahan

NO
1

RerumputanJENIS
: Tanah
BANGUNAN
pasir, datar, 2 %
Tanah pasir, rata-rata (2-7)%

1
2
3
4
5
6
2
7
Business

Bangunan gedung
Tanah pasir, curam, 7 %
Batas pemilikan
Tanah gemuk, datar 2 %
Sumur air minum
gemuk, rata-rata (2 7) %
Aliran Tanah
air (sungai)
Pipa air minum
Tanah gemuk, curam 7 %
Jalan
Pohon besar
: Daerah kota lama (pusat perdagangan)

Perumahan

Harga
C(%)
JARAK
MINIMAL
DENGAN SUMUR
5 10
RESAPAN
10 15
(meter)
3,00
15
20
1,50
13 17
10,50
18 22
30,00
3,00
25
35
1,50
3,00
75 95

Daerah pinggiran

50 70

: Daerah single family

30 50

Multi units, terpisah-pisah

40 60

Multi units, tertutup

60 75

Sub-urban

25 -40

Daerah rumah-rumah apartemen

50 70

Daerah pinggiran

50 70

4
Kawasan Industri : Daerah ringan

50 80

Daerah berat

60 90

Pertamanan, kuburan

10 25

Tempat bermain

20 35

Atap rumah

75 95

Jalan

: Beraspal

70 95

Beton

80 95

Batu

70 85

TABEL : 4.2
B.JARAK MINIMAL SUMUR RESAPAN AIR HUJAN
DENGAN BANGUNAN LAINNYA

36

1.4 SISTEM PEMBUANGAN SAMPAH


Sampah adalah bahan buangan padat yang sudah tidak terpakai lagi pada saat itu.
Sampah yang dihasilkan dari bangunan gedung disebut juga sampah rumah tangga, dimana
sampah tersebut terdiri dari sampah organik dan sampah an organik.
Sampah organik adalah sampah yang terdiri dari bahan-bahan yang mudah membusuk,
apalagi kalau tercampur oleh air. Pada umumnya sampah organik berasal dari dapur,
diantaranya sisa sayuran, sisa buah-buahan, sisa makanan, dan lain-lain.
Sampah an organik terdiri dari bahan-bahan yang tidak mudah membusuk atau bahkan
tidak akan membusuk, seperti sisa kertas, sisa kaca, sisa kayu, sisa logam, dan lain- lain.
Di Indonesia yang perlu diperhatikan adalah sampah organik, karena sampah organic
akan cepat membusuk, terutama kalau sampah organik tersebut terkena air dalam hal ini air
hujan. Pembusukan sampah organik akan menimbulkan bau yang kurang sedap, pandangan
yang tidak baik, ada kemungkinan air sampah (lindi) akan mencemari lingkungan, dan akan
menimbulkan penyakit yang ditularkan oleh binatang pembawa, seperti lalat, tikus, kecoa, dan
lain sebagainya.
Sistem pembuangan sampah dari bangunan gedung dapat dijelaskan sebagai berikut :
37

Untuk bangunan gedung yang kecil, misalnya dari rumah tinggal, sampah yang dihasilkan
dibuang ketempat pembuangan sampah masing-masing rumah, biasanya yang ada di depan
rumah, bisa berbentuk bak sampah, bin, atau dibungkus plastik. Untuk bangunan gedung
bertingkat banyak, sampah yang dihasilkan dibuang ketempat pembuangan sampah, melalui
shaf, lalu dibuang ketempat pengumpulan sampah disekitar bangunan gedung. Untuk lebih
jelasnya dapat dilihat pada Gambar 44.

BAB IV
DOKUMENTASI

Dalam setiap kegiatan sangatlah perlu adanya dokumentasi, karena dokumentasi akan
menjadi bukti pelaksanaan kegiatan tersebut. Dokumen panduan utilitas air masing masing
staf medis akan diarsip di map masing masing staf medis bersama dengan dokumen
penunjang lainnya. Laporan akan dilaporkan oleh Sub komite ips kepada komite medis setiap
satu tahun sekali.

38

BAB V
PENUTUP

Kredensial staf medis harus dilakukan diawal penerimaan staf medis di Rumah Sakit
Umum Lirboyo dan berlaku untuk semua staf ips staf medis harus dilakukan secara berkala
setiap satu tahun sekali untuk menjaga mutu staf medis di rumah sakit ini. Diharapkan baik
proses kredensial maupun rekredensial dapat berjalan dengan baik sesuai dengan peraturan
yang telah ditetapkan.

39

DAFTAR PUSTAKA

--------. 2009.Kredensial dan Rekredensial RS Staf Medis Bethsaida. http//www.scribd.com.


DiperolehNovember 2015.

40