Anda di halaman 1dari 15

Acara II

SUSU PASTEURISASI
LAPORAN RESMI PRAKTIKUM
TEKNOLOGI PENGOLAHAN SUSU
Disusun oleh:
Nama

: Angela Putrihan S

NIM

: 13.70.0010

Kelompok

: A4

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN UNIVERSITAS
KATOLIK SOEGIJAPRANATA SEMARANG
2016
1. TOPIK DAN TUJUAN PRAKTIKUM
1.1.

Topik

Pada praktikum teknologi pengolahan susu, praktikum susu pasteurisasi yang


dilaksanakan oleh kloter A merupakan materi kedua yang dilakukan pada hari Senin, 16
Mei 2016 di Laboratorium Rekayasa Pengolahan Pangan bersamaan dengan materi
praktikum butter dan buttermilk. Menurut Novidia (2003), susu merupakan minuman
sumber karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral yang sangat baik untuk
kesehatan. Akan tetapi susu termasuk bahan pangan yang mudah rusak, maka susu perlu
diolah lebih lanjut (Saleh, 2004). Pasteurisasi merupakan salah satu metode pengolahan
dengan perlakuan panas pada suhu yang lebih rendah daripada suhu sterilisasi dan
biasanya dilakukan pada suhu dibawah titik didih air (Winarno, 1993). Tujuan proses
pasteurisasi hanya digunakan untuk membunuh semua mikroba patogen sedangkan
mikroba nonpatogen dan pembusuk masih ada dan dapat berkembang biak dalam susu
sehingga susu yang dipasteurisasi mempunyai masa simpan yang terbatas. Pada
praktikum susu pasteurisasi ini menggunakan bahan dasar berupa susu sapi segar yang
ditempatkan kedalam botol steril. Susu sapi setidaknya mengandung 8,25% padatan
bukan lemak (solid non fat) dan 3,25% lemak susu (fat) (Jenness, 1988). Terdapat dua
metode pemanasan yang dilakukan yaitu dengan suhu water bath 72oC selama 15 detik
dan 62oC selama 3 menit. Sebelum dan setelah proses pasteurisasi dilakukan, susu
dianalisis jumlah mikrobanya dengan menggunakan metode spread plate dan dihitung
koloninya dengan menggunakan hand counter. Dalam perhitungan jumlah total bakteri,
digunakan rumus CFU/ml dari susu sebelum (pengenceran 10-5 dan 10-6) dan sesudah
pasteurisasi (pengenceran 10-1, 10-2, dan 10-3).
1.2.

Tujuan Praktikum

Tujuan dari praktikum susu pasteurisasi adalah untuk mengetahui efektifitas susu
dengan pemanasan metode pasteurisasi dalam mengontrol jumlah bakteri.
2. HASIL PENGAMATAN
Hasil pengamatan susu pasteurisasi dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Hasil Pengamatan Susu Pasteurisasi
Ke
l
A1

Perlakuan
Susu sebelum pasteurisasi
Susu setelah pasteurisasi suhu 720C selama 15 detik
Susu setelah pasteurisasi suhu 620C selama 3 menit

Jumlah Total Bakteri


(CFU/ml)
<3,0 x 106 1,1 x 106
<3,0 x 102 8,0 x 10
<3,0 x 103 5,0 x 102

A2
A3
A4
A5

Susu sebelum pasteurisasi


Susu setelah pasteurisasi suhu 720C selama 15 detik
Susu setelah pasteurisasi suhu 620C selama 3 menit
Susu sebelum pasteurisasi
Susu setelah pasteurisasi suhu 720C selama 15 detik
Susu setelah pasteurisasi suhu 620C selama 3 menit
Susu sebelum pasteurisasi
Susu setelah pasteurisasi suhu 720C selama 15 detik
Susu setelah pasteurisasi suhu 620C selama 3 menit
Susu sebelum pasteurisasi
Susu setelah pasteurisasi suhu 720C selama 15 detik
Susu setelah pasteurisasi suhu 620C selama 3 menit

<3,0 x 106 1,1 x 106


<3,0 x 102 1,8 x 102
<3,0 x 102 2,0 x 10
<3,0 x 106 1,1 x 106
<3,0 x 102 3,0 x 10
<3,0 x 102 5,0 x 10
<3,0 x 106 1,1 x 106
5,7 x 102
<3,0 x 102 3,0 x 10
<3,0 x 106 1,1 x 106
3,3 x 102
2
<3,0 x 10 1,5 x 102

Berdasarkan tabel hasil pengamatan dapat dilihat hasil dari jumlah total koloni bakteri
setiap kelompok baik sebelum pasteurisasi maupun setelah pasteurisasi dengan dua jenis
kombinasi suhu dan waktu yang berbeda. Susu segar sebelum dipasteurisasi memiliki
jumlah total bakteri sebesar <3,0 x 106 1,1 x 106. Setelah dilakukan pasteurisasi
dengan suhu 720C selama 15 detik dan suhu 620C selama 3 menit didapatkan hasil
jumlah total bakteri yang berbeda oleh masing masing kelompok. Jumlah total bakteri
terbanyak pada suhu 720C selama 15 detik dimiliki oleh kelompok A4 yaitu 5,7 x 10 2,
sedangkan kelompok A3 memiliki jumlah total bakteri terkecil yaitu <3,0 x 10 2 3,0 x
10. Pada pasteurisasi menggunakan suhu 620C selama 3 menit, kelompok A2 memiliki
jumlah total bakteri terkecil yaitu <3,0 x 102 2,0 x 10. Sedangkan jumlah total bakteri
terbanyak pada pasteurisasi suhu ini diperoleh oleh kelompok A1 dengan jumlah <3,0 x
103 5,0 x 102.

3. PEMBAHASAN
Susu merupakan bahan pangan yang berkadar air tinggi serta mengandung berbagai
macam nutrisi yang berguna bagi tubuh manusia, sekaligus merupakan media yang baik
untuk pertumbuhan mikroorganisme. Maka dari itu, susu sangat mudah mengalami
kerusakan karena aktivitas mikroorganisme. Karenanya, banyak cara dilakukan untuk
menghindarkan susu dari resiko kerusakan ini, minimal memperlambatnya (Arpah,
1993).
Salah satu pengendalian mikroba yang dilakukan adalah dengan melakukan pasteurisasi.
Menurut Jay (2000) pasteurisasi merupakan perlakuan pemanasan yang diberikan
kepada bahan pangan. Prinsip serta tujuan dari proses pemanasan ini adalah tidak untuk
membunuh semua bakteri namun hanya membunuh bakteri patogen, sebagian bakteri
pembusuk,juga bakteri yang tidak membentuk spora (endospora) dengan temperatur
pemanasan tidak sampai mendidih, yaitu pada kisaran 62 - 95C. Aditama (2006)
menambahkan bahwa pada proses ini, susu dialirkan melewati suatu pipa yang ditutup
dengan pemanas dengan suhu 72C selama 15 detik hingga semua titik terpanaskan.
Ketika populasi bakteri berkurang umur simpan akan lebih lama karena aktivitas
perusakan oleh mikroorganisme berkurang. Susu hasil pasteurisasi memiliki
karakteristik yang tidak jauh berbeda dibandingkan dengan susu yang tidak
dipasteurisasi. Perbedaan mungkin hanya terjadi pada pH yang menjadi tidak terlalu
rendah, yaitu terdapat pada kisaran 6 - 7 karena bakteri asam laktat yang terdapat pada
susu mati akibat pasteurisasi (William& Dennis,1988)
3.1.

Prinsip pembuatan susu pasteurisasi

Pada praktikum susu pasteurisasi, bahan utama yang digunakan adalah susu sapi segar.
Langkah awal yang dilakukan adalah preparasi botol kaca sebagai wadah yang akan
digunakan untuk pasteurisasi. Preparasi yang dilakukan adalah melepaskan label botol,
mencucinya hingga bersih menggunakan sabun cuci, dan melakukan sterilisasi dengan
mesin autoclave. Menurut Suriawiria (2005), keadaan steril pada alat harus dilakukan
supaya tidak terdapat mikroba lain yang tidak diharapkan untuk dapat muncul, sehingga
tidak mengganggu atau merusak kondisi yang sedang diamati. Sterilisasi yang

dilakukan adalah sterilisasi basah karena menggunakan panas bersamaan dengan uap
air. Pada sterilisasi ini dibantu dengan adanya uap air jenuh bertekanan pada suhu 121C
selama 15 menit (Hadioetomo, 1993).
Sebanyak 200 ml susu sapi segar dimasukan kedalam botol kaca dan kemudian diukur
suhunya dengan menggunakan termometer. Setelah pengukuran suhu dilakukan,
sebanyak 2 ml susu sapi segar diambil untuk dianalisis jumlah mikroba awalnya
(CFU/ml). Setiap kelompok akan melakukan pasteurisasi menggunakan bantuan alat
water bath dengan 2 kondisi yang berbeda, yaitu dengan memanfaatkan suhu 72 oC
selama 15 detik dan suhu 62oC selama 3 menit.
Sesuai dengan yang diungkapkan Sirait (1996), pasteurisasi dapat dilakukan dengan
suhu tinggi dan waktu singkat serts pasteurisasi dengan suhu rendah dan waktu lama.
Pasteurisasi dengan suhu tinggi dan waktu singkat (High Temperature Short Time /
HTST), yaitu proses pemanasan susu selama 15 16 detik pada suhu 71,7 75 0C.
Sementara pasteurisasi dengan suhu rendah dan waktu lama (Low Temperature Long
Time / LTLT) dilakukan pada kisaran suhu 610C selama 30 menit.
Setelah proses pasteurisasi dilakukan, susu sapi kembali diambil sampelnya untuk
dianalisis jumlah mikroba setelah pasteurisasi pada kedua kombinasi suhu dan waktu
yang telah ditentukan. Dalam proses pasteurisasi hingga penyimpanan, botol kaca harus
ditutup dengan rapat dan penyimpanan dilakukan di dalam refrigerator (< 4oC).
Mikroorganisme akan banyak tumbuh ketika lingkungan susu kondusif bagi
pertumbuhan mikroorganisme.

Kondisi penyimpanan serta waktu simpan menjadi

faktor yang sangat berpengaruh juga. Ketika susu disimpan pada suhu kamar (sekitar
27,5C), pertumbuhan bakteri mencapai sekitar 100 kali lipat setiap enam jam dengan
waktu generasi 58 menit. Sedangkan pada suhu penyimpanan 10C, terjadi peningkatan
jumlah bakteri sekitar 10 kali lipat dalam 6 jam dengan waktu generasi 66 menit.
Sementara itu, ketika susu disimpan pada suhu 4C terjadi perlambatan pertumbuhan
bakteri, yaitu kurang dari 10 kali lipat dalam waktu 6 jam dengan waktu generasi 195
menit (Roswita et al., 2005).

Selama penyimpanan susu, dapat pula diberikan bahan tambahan seperti ekstrak daun
aileru (Wrightia calycina) yang merupakan jenis daun yang tumbuh di pulau Moa,
kabuparen Maluku Barat Daya, provinsi Maluku. Daun ini telah lama digunakan
sebagai media pengawetan susu selama bertahun tahun. Dari hasil pengujian
mikrobiologis, dapat dilihat bahwa bertambahnya konsentrasi daun aileru akan
membuat jumlah total mikroba pada susu semakin berkurang (Maitimu et al, 2013).
Akan tetapi penambahan daun ini akan menimbulkan penurunan pH sehingga dapat
mempengaruhi tingkat keasaman susu (Maitimu et al, 2012).
3.2.

Prinsip dan hasil pengujian susu secara mikrobiologi

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, sebanyak 2 ml susu sapi akan dianalisis
jumlah mirobanya baik sebelum maupun setelah pasteurisasi. Pengujian harus dilakukan
pada kondisi yang steril, maka praktikan diwajibkan menggunakan jas lab, masker,
alkohol, dan bunsen saat pengujian sesuai dengan teori yang diberikan oleh Hadioetomo
(1993). Beliau menambahkan bahwa alkohol yang digunakan dalam proses pemindahan
pemindahan media adalah alkohol yang memiliki konsentrasi 70%. Alkohol terssebut
digunakan untuk dapat mematikan mikroorganisme sehingga dapat menciptakaan
kondisi aseptis. Keaseptisan sangat penting diperhatikan pada keseluruhan proses ini.
Keaseptisan mempengaruhi efektivitas pasteurisasi karena keaseptisan membantu
mencegah adanya kontaminan yang mengkontaminasi sampel (William& Dennis,1988).
Penganalisisan jumlah mikroba akan lebih efektif apabila susu baik sebelum maupun
sesudah pasteurisasi diencerkan terlebih dahulu. Pada sampel susu sebelum
dipasteurisasi, susu diencerkan dengan pengenceran 10-5 dan 10-6, sedangkan pada
sampel susu yang telah dipasteurisasi diencerkan dengan pengenceran 10-1,10-2, dan10-3.
Menurut William& Dennis (1988), tujuan pengenceran dengan menggunakan akuades
ini adalah untuk memperkecil jumlah mikroorganisme yang terdapat pada produk
shingga mikroba dapat dihitung. Hal terpenting saat melakukan pengenceran adalah
melakukan vortex. Langkah vortex ini dapat menyatukan sampel susu yang akan diuji
dengan aquades karena ketika vortex dilakukan sampel susu yang akan diuji dan
aquades akan diberikan getaran yang besar sehinggga kandungan zat pada sampel susu

dan aquades ini akan bergerak kesegala arah sehinggga dapat tersebar secara homogen
(Waluyo, 2010)
Penganalisisan ini dilakukan dengan metode spread plate yang memanfaatkan cawan
petri yang diberikan media padat berupa NA. Media NA merupakan media yang padat,
cocok untuk menumbuhkan bakteri, ragi, jamur, dan bila memungkinkan mikroalga juga
dapat tumbuh (Suriawiria, 2005). Media NA (Nutrient Agar) dapat digunakan untuk
menumbuhkan seluruh tipe mikroba dan isolasi koloni koloni individu pengandung
spesies Proteus. Komposisinya berupa pepton dari daging sebanyak 10,0 g/liter dan
ekstrak dari daging sebanyak 3,0 g/liter (Merck & Darmstadt, 1998). Hal tersebut sesuai
karena didalam susu memungkinkan adanya bakteri dan yeast yang dapat
mengkontaminasi dan tumbuh didalamnya. Menurut Waluyo (2010) metode spread
plate adalah metode yang menuangkan agar pada cawan dan dibiarkan membeku
selama 10 15 menit baru kemudian sampel dapat ditumbuhka di atas media.
Kemudian setelah diinkubasi selama 1 hari, koloni pada cawan petri dapat dihitung
dengan menggunakn hand counter dengan rumus :
CFU/ml =

1
faktor pengenceran

x jumlah koloni

Pada hasil pengamatan telah diketahui bahwa pada susu sapi segar sebelum mengalami
pasteurisasi memiliki jumlah total bakteri sebanyak <3,0 x 106 1,1 x 106 CFU/ml.
Sedangkan setelah mengalami pasteurisasi, jumlah total bakteri pada susu mengalami
penurunan yang bervariasi. Hal ini disebabkan karena pasteurisasi dapat mematikan
bakteri patogen, sebagian bakteri pembusuk dan juga bakteri yang tidak membentuk
spora (endospora), sehingga populasi bakteri pada susu sangat jauh berkurang (Jay,
2000). Pada pasteurisasi yang menggunakan suhu 720C selama 15 detik jumlah total
bakteri pada tiap tiap kelompok secara berurutan dari A1 hingga A5 yaitu 8,0 x 10
CFU/ml; 1,8 x 102 CFU/ml; 3,0 x 10 CFU/ml; 5,7 x 10 2 CFU/ml dan 3,3 x 102 CFU/ml.
Sedangkan pada pasteurisasi dengan penggunaan suhu 620C selama 3 menit secara
berurutan dari kelompok A1 hingga A5 yaitu 5,0 x 10 2 CFU/ml; 2,0 x 10 CFU/ml; 5,0 x
10 CFU/ml; 3,0 x 10 CFU/ml; dan 1,5 x 102 CFU/ml.

Dari data tersebut dapat dilihat bahwa jumlah total bakteri yang ada pada susu
pasteurisasi pada kombinasi suhu 720C selama 15 detik, 3 dari 2 sampel menunjukan
lebih banyak jumlah total bakterinya daripada pada susu sapi yang dipasteurisasi pada
suhu 620C selama 3 menit. Maka dapat dikatakan, pada pasteurisasi 62 0C selama 3
menit lebih efektif bila dibandingkan dengan 720C selama 15 detik.
Banyak faktor mempengaruhi efektivitas pasteurisasi dalam mengurangi jumlah
mikroba, antara lain temperatur, waktu pasteurisasi, jumlah bakteri awal dalam sampel,
dan jenis mikroorganisme (apakah termasuk mikroorganisme berspora atau thermoduric
atau tidak). Temperatur serta suhu harus sesuai untuk bahan dengan karakteristiknya
masing-masing, termasuk mikroorganisme yang mungkin berada di dalam bahan
tersebut. Semakin banyak mikroorganisme serta semakin tahan panas mikroorganisme
tersebut, maka pasteurisasi pun harus semakin intens dan hati-hati, suhu serta lama
pemanasan yang diberikan juga bisa jadi berbeda dengan suhu serta lama pemanasan
pada mikroorganisme tidak tahan panas. Selain itu,keaseptisan dan kesterilan kemasan
serta cara pasteurisasi juga suhu penyimpanan juga membantu pasteurisasi lebih efektif
dan menghasilkan umur simpan yang lebih panjang (William& Dennis,1988).
Menurut Adil (2013), range bakteria pada susu yang dapat diterima adalah 910 5 9106 CFU/ml. Pada hasil pengujian, susu sapi segar yang tidak dipasteurisasi memiliki
jumlah total bakteri yang masuk dalam range tersebut. Hal ini baik, karena pada proses
pasteurisasi susu sapi segar diperlukan bahan baku susu yang jumlah mikrobanya tidak
terlalu tinggi, supaya pada susu yang akan dipasteurisasi memiliki hasil dibawah
ambang batas susu yang aman. Namun menurut jurnal tersebut, hasil susu sapi segar
yang menjadi bahan baku utama tidak termasuk dalam grade A maupun B, sehingga
pada hasil susu pasteurisasi tidak berhasil mencapai batas grade tersebut yaitu 110 3
CFU/ml.
Menurut Standar Nasional Indonesia (SNI) tahun 2000, batas maksimum cemaran
mikroba pada susu segar adalah 1 x 106 CFU/ml dan untuk susu pasteurisasi < 3 x 10 4
CFU/ml. Untuk total bakteri koliform pada susu segar 2 x 10 1 CFU/ml dan pada susu

pasteurisasi < 0,1 x 101 CFU/ml. Koliform ini merupakan parameter sanitasi susu dan
produk lainnya. Koliform termasuk bakteri yang dikeluarkan dari saluran pencernaan
hewan dan manusia. Pemeriksaan koliform dapat menggunakan metode Most Probe
Number (MPN) dan hitungan koloni dalam cawan. Bakteri patogen yang dapat tumbuh
didalam susu antara lain Staphylococcus aureus, Escherichia coli, dan Salmonella sp.,
sedangkan untuk bakteri pembusuk antara lain adalah Micrococcus sp., Pseudomonas
sp., dan Bacillus sp. (Suwito, 2010).
Dari data kedua metode pasteurisasi tersebut, ternyata sama sama berhasil
menurunkan jumlah total bakteri pada susu dibandingkan susu yang tidak dipasteurisasi,
akan tetapi terdapat pertimbangan lain yang digunakan untuk menentukan metode yang
lebih baik, yaitu pemanasan. Pemanasan yang lama dan berlebihan dapat merusak susu
(Eliza, 2004). Semakin singkat waktu pemanasan, maka semakin kecil potensi
kerusakan nilai gizi susu, serta semakin dapat mempertahankan warna, aroma, dan rasa
supaya tidak berubah seperti susu segar (Astawan, 2005).
Selain

menggunakan

metode

pasterurisasi,

menurut

Suwito

(2010)

langkah

pengendalian dapat dilakukan dengan menggunakan bakteriosin, pencucian peralatan


yang digunakan untuk pengolahan susu dengan NEW (Neutral Slectrolysed Water), dan
UHT (ultra high temperature).
Metode lain untuk mengurangi jumlah total mikroba pada susu pasteurisasi adalah
dengan melakukan penambahan sirup kimpul. Pembambahan sirup kimpul sebesar 40%
pada susu menunjukkan penurunan total bakteri hingga mencapai 26x10 3 CFU/mL,.
Penurunan jumlah bakteri pada susu setelah penambahan sirup terjadi karena adanya
penambahan gula hasil hidrolisis pati. Hal ini disebabkan karena gula dalam jumlah
banyak bersifat higroskopis atau menyerap air sehingga dapat menekan pertumbuhan
jumlah bakteri. Gula yang berperan dalam menghambat pertumbuhan bakteri tersebut
berasal dari hasil hidrolisis karbohidrat pati talas kimpul (Ningsih, 2014).

4. KESIMPULAN

10

Susu merupakan bahan pangan yang berkadar air tinggi serta mengandung berbagai
macam nutrisi sekaligus merupakan media yang baik untuk pertumbuhan

mikroorganisme.
Prinsip pasteurisasi adalah hanya membunuh bakteri patogen, sebagian bakteri

pembusuk,juga bakteri yang tidak membentuk spora (endospora).


Perlakuan pasteurisasi yang dilakukan pada saat praktikum adalah suhu 72 oC

selama 15 detik dan suhu 62oC selama 3 menit.


Sterilisasi harus dilakukan supaya tidak terdapat mikroba lain yang tidak
diharapkan untuk dapat muncul, sehingga tidak mengganggu atau merusak kondisi

yang sedang diamati.


Faktor yang mempengaruhi keefektifitasan pasteurisasi adalah temperatur, waktu

pasteurisasi, jumlah bakteri awal dalam sampel, dan jenis mikroorganisme.


Alkohol sebesar 70% dapat digunakan untuk dapat mematikan mikroorganisme

sehingga dapat memberikan kondisi aseptis.


Media NA digunakan pada praktikum karena mampu menumbuhkan seluruh tipe
mikroba dan isolasi koloni koloni individu pengandung spesies Proteus termasuk

mikroba pada susu.


Tujuan pengenceran adalah untuk memperkecil jumlah mikroorganisme yang

terdapat pada produk shingga mikroba dapat dihitung.


Susu yang dihasilkan pada saat pasteurisasi masih kurang dari < 3 x 104 CFU/ml,
sehingga produk susu pasteurisasi layak dan aman untuk dikonsumsi.

Semarang, 25 Mei 2016


Praktikan,
Asisten praktikum :
- Graytta Intannia
- Rr. Pamulu R.M
Angela Putrihan S.
13.70.0010
Kelompok A4
5. DAFTAR PUSTAKA

11

Adil, M. A. Salman and Eltaf, M. Hagar. 2013. Some Bacterial and Physical Quality of
Pasteurized Milk in Khartoum. Journal of Applied and Industrial Sciences,
2013, 1 (2): 30-37
Aditama, Cyberindo. (2006). Susu Menyebabkan Kanker? http:/CBN portal.com/.
Jakarta. Diakses pada tanggal 22 Mei 2016 pukul 22:22
Arpah, M. (1993). Pengawasan Mutu Pangan. Tarsito. Bandung.
Astawan, M. (2005). Proses UHT: Upaya Penyelamatan GIzi Pada Susu.
http://www.waspada.co.id/serba_serbi/kesehatan/artikel.php?article_id=61177
diakses pada tanggal 23 Mei 2016 pukul 23:17
Eliza, Saleh. (2004). Teknologi Pengolahan Susu & Hasil Ikutan Ternak.Fakultas
Pertanian Universitas Sumatera Utara. Sumatera Utara
Hadioetomo, R.S. 1993. Mikrobiologi Dasar dalam Praktek : Teknik dan Prosedur Dasar
Laboratorium. PT Gramedia. Jakarta.
Jay, J. M. (2000). Modern Food Microbiology. Aspen Publishers, Inc. USA.
Kualitas Susu Cair Pasca Pasteurisasi Setelah Penambahan Sirup Oligofruktosa Umbi
Talas Kimpul (Xanthosoma sagittifolium Schott.). Jurnal Protobiont 2014 Vol 3
(2) : 93 99.
Maitimu, C. V., A.M.Legowo, A.N.Al--Baarri. 2013. Karakteristik Mikrobiologis
Kimia, Fisika dan Organoleptik Susu Pasteurisasi dengan Penambahan Ekstrak
Daun Aileru
(Wrightia calycina) selama penyimpanan. Jurnal Aplikasi
Teknologi Pangan 2(1) 18-29.
Maitimu, C. V., A.M.Legowo, A.N.Al--Baarri. 2013. Parameter Keasaman Susu
Pasteurisasi dengan Penambahan Ekstrak Daun Aileru (Wrightia calycina).
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan 2(1) 18-29.
Merck, E. & Darmstadt. ( 1998 ). Handbook of microbiology1st Suplement. Federal
Republic Germany.
Ningsih, Mistia., Tri Rima Setyawati, Mukarlina. 2014.
Roswita, Sunarlim dan Widaningrum. (2005). Cara Pemanasan, Suhu dan Lama
Penyimpanan terhadap Masa Simpan Susu Kambing. Balai Besar Penelitian dan
Pengembangan Pascapanen Pertanian. Bogor
Sirait, C. H. (1996). Pengujian Mutu Susu. Balai Penelitian Ternak. Ciawi. Bogor.
Suriawiria, H.U. (2005). Mikrobiologi Dasar. Penerbit Papas Sinar Sinanti. Jakarta.
Suwito, Widodo. 2010 Bakteria yang Sering Mencemari Susu : Deteksi, pathogenesis,
Epidemiologi, dan Cara Pengendaliannya. Jurnal Litbang Pertanian, 29(3) 96100
Waluyo, L. (2008). Teknik Dan Metode Dasar Dalam Mikrobiologi. UMM Press.
Malang.
William, C.F. & Dennis C.W. (1988). Food Mikrobaiology 4 edition. McGraw-hill
Book. Singapore.
6. LAMPIRAN
6.1. Perhitungan

12

Rumus:
CFU /ml=

1
jumlah koloni
faktor pengenceran

Sebelum Pasteurisasi
105

1
11=1,1 106
5
10

102

1
0=0
102

Total mikroorganisme=3,0 106 CFU /ml


1,1 106 CFU /ml

Kelompok 1
-

Setelah pasteurisasi suhu 72C selama 15 detik


1
101 1 8=8, 0 10
10
2

10 spreader
103

1
28=2, 8 104
3
10
2

Total mikroorganisme=3,0 10 CFU /ml


8,0 10 CFU /ml

Setelah pasteurisasi suhu 62C selama 3 menit


1
1
10 1 0=0
10
102

1
5=5,0 102
2
10

103

1
5=5,0 103
3
10

Total mikroorganisme=3,0 103 CFU /ml

13

5,0 10 CFU /ml

Kelompok 2
-

Setelah pasteurisasi suhu 72C selama 15 detik


1
101 1 18=1,8 102
10
2

10
3

10

1
0=0
102
1
0=0
103
2

Total mikroorganisme=3,0 10 CFU /ml


2

1,8 10 CFU /ml


-

Setelah pasteurisasi suhu 62C selama 3 menit


1
101 1 2=2,0 10
10
2

10
3

10

1
0=0
102
1
0=0
103

Total mikroorganisme=3,0 102 CFU /ml


2,0 10 CFU /ml

Kelompok 3
-

Setelah pasteurisasi suhu 72C selama 15 detik


1
1
10 1 3=3,0 10
10
2

10

1
2
1=1,0 10
2
10

14

10

1
3
1=1,0 10
3
10
2

Total mikroorganisme=3,0 10 CFU /ml


3,0 10 CFU /ml

Setelah pasteurisasi suhu 62C selama 3 menit


1
1
10 1 5=5, 0 10
10
102

1
1=1,0 10 2
2
10

103

1
1=1,0 103
3
10

Total mikroorganisme=3,0 102 CFU /ml


5,0 10 CFU /ml

Kelompok 4
-

Setelah pasteurisasi suhu 72C selama 15 detik


1
101 1 57=5,7 102
10
102
3

10

1
0=0
2
10
1
3
1=1,0 10
3
10
2

Total mikroorganisme=5,7 10 CFU /ml


-

Setelah pasteurisasi suhu 62C selama 3 menit


1
101 1 3=3,0 10
10
102

1
0=0
2
10

103

1
1=1,0 103
3
10

15

Total mikroorganisme=3,0 10 CFU /ml


3,0 10 CFU /ml

Kelompok 5
-

Setelah pasteurisasi suhu 72C selama 15 detik


1
101 1 33=3,3 102
10
2

10
3

10

1
2
1=1,0 10
2
10
1
4
11=5,0 10
3
10
2

Total mikroorganisme=3,3 10 CFU /ml


-

Setelah pasteurisasi suhu 62C selama 3 menit


1
101 1 15=1,5 102
10
102

1
3=3,0 102
2
10

103

1
0=0
3
10

Total mikroorganisme=3,0 102 CFU /ml


1,5 102 CFU /ml

6.2.
6.3.

Abstrak
Laporan Sementara