Anda di halaman 1dari 12

A

J
R
E
K
R
U
T
S
PENILAIAN PO
E
D
O
T
E
M
N
A
K
A
N
U
G
G
N
E
M
)
(TUBUH
S
A
W
O
,
A
B
E
R
,
RU L A
OLEH :

ARO IGFAR
IV
G
P
R
H
H
A
M
TI
O
H
K
L
- USWATU
NOVINDRA
I
D
N
A
R
I
TR
U
P
- AYU ANNISA

POSTUR KERJA ADALAH POSISI TUBUH PEKERJA PADA SAAT MELAKUKAN


AKTIVITAS KERJA YANG BIASANYA TERKAIT DENGAN DESAIN AREA KERJA DAN
PERSYARATAN KEGIATAN KERJA (PULAT, 1992). POSTUR KERJA MENCERMINKAN
HUBUNGAN ANTARA DIMENSI TUBUH PEKERJA DAN DIMENSI ALAT PADA TEMPAT
KERJANYA (PHEASANT, 1986). BRIDGER, 1995 MENJELASKAN BAHWA TUJUAN
UTAMA DILAKUKANNYA PENELITIAN MENGENAI POSTUR ADALAH UNTUK
MENGEMBANGKAN PRINSIP-PRINSIP UNTUK MENDESAIN LINGKUNGAN KERJA
AGAR TINGKAT POSTURAL STRESS PADA PEKERJA RENDAH. PENGGUNAAN
DESAIN LINGKUNGAN KERJA TERSEBUT DIHARAPKAN DAPAT MENGURANGI
TINGKAT INSIDEN FATIGUE (KELELAHAN) DAN KETIDAKNYAMANAN DI TEMPAT
KERJA.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI POSTUR


KERJA
POSTUR ADALAH POSISI RELATIF BAGIAN TUBUH TERTENTU PADA SAAT BEKERJA YANG DITENTUKAN OLEH
UKURAN TUBUH, DESAIN AREA KERJA DAN TASK REQUIREMENTS SERTA UKURAN PERLATAN/BENDA
LAINNYA YANG DIGUNAKAN SAAT BEKERJA (PULAT, 1992). POSTUR DAN PERGERAKAN MEMEGANG PERANAN
PENTING DALAM ERGONOMI. SALAH SATU PENYEBAB UTAMA GANGGUAN OTOT RANGKA ADALAH POSTUR
JANGGAL (AWKWARD POSTURE). HAL-HAL YANG DAPAT MEMPENGARUHI POSTUR TUBUH KETIKA BEKERJA
ADALAH KARATERISTIK PEKERJAAN (KEBUTUHAN PEKERJA), DESAIN TEMPAT KERJA DAN FAKTOR PERSONAL
PEKERJA

Faktor

Contoh

Karakteristik pengguna

Umur

(faktor personal)

Antropometri
Berat badan
Pergerakan sendi (banyaknya persendian)
Masalah musculoskeletal terbaru
Cidera atau operasi awal
Penglihatan
Handedness
Kegemukan

Kebutuhan

Kebutuhan visual

pekerjaan/kegiatan

Kebutuhan manual (posisi tenaga)


Masa waktu
Periode istirahat
Pekerjaan yang mobile/tidak atau kecepatan
dalam bekerja

Desain tempat kerja

Dimensi tempat duduk


Dimensi permukaan tempat kerja
Desain tempat duduk
Dimensi ruang kerja (ruang untuk kepala,
ruang untuk kaki)
Keleluasaan pribadi
Kualitas dan tingkat iluminasi

Tabel II.1 Faktor yang mempengaruhi postur tubuh

Kebugaran (olah raga)

RISIKO POSTUR TUBUH YANG SALAH

POSTUR JANGGAL ADALAH DEVIASI (PERGESERAN) DARI GERAKAN TUBUH/ANGGOTA GERAK YANG
DILAKUKAN OLEH PEKERJA SAAT MELAKUKAN AKTIVITAS DARI POSTUR/POSISI NORMAL SECARA
BERULANG-ULANG DAN DALAM WAKTU YANG RELATIF LAMA. GERAKAN POSTUR JANGGAL INI ADALAH SALAH
SATU FAKTOR UNTUK TERJADINYA GANGGUAN, PENYAKIT, ATAU CIDERA PADA SISTEM MUSKULOSKELETAL
(HUMANTECH, 1995).
POSTUR JANGGAL DAPAT MENYEBABKAN TERJADINYA KELELAHAN DAN KETIDAKNYAMANAN. DILAKUKANNYA
POSTUR JANGGAL PADA JANGKA WAKTU PANJANG DAPAT MENYEBABKAN CIDERA DAN KELUHAN PADA
JARINGAN OTOT RANGKA MAUPUN SARAF TEPI (LEVY, 2006)

Tabel II.2 Postur-postur janggal dan alokasi kemungkinan


terjadinya sakit

Postur Janggal

Alokasi kemungkinan terjadinya

Berdiri

sakit
Pada kaku, region lumbal

Duduk tanpa dukungan lumbar

Pada region lumbar

Duduk tanpa dukungan punggung

Pada otot-otot punggung

Duduk tanpa tumpuan kaki

Pada lutut, kaki, dan region lumbar

yang baik
Duduk dengan mengistirahatkan bahu
pada permukaan alat kerja yang
terlalu

Pada bahu dan otot-otot leher

tinggi
Tangan meraih sesuatu yang sulit
terjangkau (jauh/tinggi)
Kepala mendongak
Posisi membungkuk, punggung yang
mengarah ke depan
Semua posisi tegang

Posisi ekstrim yang terus-menerus


pada
setiap sendi

Pada bahu dan lengan bagian atas

Pada region leher


Pada region lumbar dan otot-otot
punggung
Pada semua otot (karena semua otot
terlibat)
Pada semua sendi (karena semua
sendi terlibat)

METODE PENILAIAN POSTUR KERJA


PENILAIAN POSTUR KERJA DIPERLUKAN KETIKA DIDAPATI BAHWA POSTUR KERJA PEKERJA
MEMILIKI RISIKO MENIMBULKAN CEDERA MUSKULESKELETAL YANG DIKETAHUI SECARA
VISUAL ATAU MELALUI KELUHAN DARI PEKERJA ITU SENDIRI. DENGAN ADANYA PENILAIAN
DAN ANALISIS PERBAIKAN POSTUR KERJA, DIHARAPKAN DAPAT DITERAPKAN UNTUK
MENGURANGI ATAU MENGHILANGKAN RISIKO CEDERA MUSKULUSKELETAL YANG DIALAMI
PEKERJA. PENILAIAN POSTUR KERJA BISA DILAKUKAN DENGAN TIGA METODE :
1.

OVAKO WORKING POSTURES ANALYSIS SYSTEM (OWAS)

OWAS ADALAH SUATU METODE UNTUK MENGEVALUASI BEBAN POSTUR (POSTURAL LOAD)
SELAMA BEKERJA. METODE OWAS DIDASARKAN PADA SEBUAH KLASIFIKASI YANG
SEDERHANA DAN SISTEMATIS DARI POSTUR KERJA YANG DIKOMBINASIKAN DENGAN
PENGAMATAN DARI TUGAS SELAMA BEKERJA. PROSEDUR OWAS DILAKUKAN DENGAN
MELAKUKAN OBSERVASI UNTUK MENGAMBIL DATA POSTUR, BEBAN/TENAGA, DAN FASE
KERJA UNTUK KEMUDIAN DIBUAT KODE BERDASARKAN DATA TERSEBUT. KLASIFIKASI
POSTUR KERJA DARI METODE OWAS ADALAH PADA PERGERAKAN TUBUH BAGIAN BELAKANG
(TRUNKS), LENGAN (ARMS), DAN KAKI (LEGS). SETIAP POSTUR TUBUH TERSEBUT TERDIRI ATAS
4 POSTUR BAGIAN BELAKANG, 3 POSTUR LENGAN, DAN 7 POSTUR KAKI. BERAT BEBAN YANG
DIKERJAKAN JUGA DILAKUKAN PENILAIAN MENGANDUNG 3 SKALA POINT.

PERHITUNGAN LEVEL TINDAKAN


OWAS
PENILAIAN PADA BEBAN DIBERIKAN NILAI 1 3. DALAM HAL INI YANG
MEMBEDAKAN ADALAH BERAT BEBAN YANG DITERIMA DALAM SATUAN
KILOGRAM (KG).
Beban

Nilai

< 10 kg

10 20 kg

> 20 kg

2.

RAPID UPPER LIMB ASSESSMENT (RULA)

RAPID UPPER LIMB ASSESSMENT (RULA) MERUPAKAN SUATU METODE PENELITIAN UNTUK
MENGINVESTIGASI GANGGUAN PADA ANGGOTA BADAN BAGIAN ATAS. METODE INI
DIRANCANG OLEH LYNN MC ATAMNEY DAN NIGEL CORLETT (1993) YANG MENYEDIAKAN
SEBUAH PERHITUNGAN TINGKATAN BEBAN MUSKULOSKELETAL DI DALAM SEBUAH
PEKERJAAN YANG MEMILIKI RISIKO PADA BAGIAN TUBUH DARI PERUT HINGGA LEHER ATAU
ANGGOTA BADAN BAGIAN ATAS.
ADA EMPAT HAL YANG MENJADI APLIKASI UTAMA DARI RULA, YAITU UNTUK :
A)
MENGUKUR RISIKO MUSKULOSKELETAL, BIASANYA SEBAGAI BAGIAN DARI PERBAIKAN
YANG LEBIH LUAS DARI ERGONOMI.
B)
MEMBANDINGKAN BEBAN MUSKULUSKELETAL ANTARA RANCANGAN STASIUN KERJA
YANG SEKARANG DENGAN YANG TELAH DIMODIFIKASI.
C)
MENGEVALUASI KELUARAN MISALNYA PRODUKTIVITAS ATAU KESESUAIAN
PENGGUNAAN PERALATAN.
D) MELATIH PEKERJA TENTANG BEBAN MUSKULUSKELETAL YANG DIAKIBATKAN
PERBEDAAN POSTUR KERJA.

3.

REBA (RAPID ENTIRE BODY ASSESSMENT)

RAPID ENTIRE BODY ASSESSMENT ATAU YANG BIASA DISEBUT DENGAN REBA YAITU SALAH SATU
METODE YANG DIGUNAKAN UNTUK MENGANALISA PEKERJAAN BERDASARKAN POSISI TUBUH.
METODE INI DIDESAIN UNTUK MENGEVALUASI PEKERJAAN ATAU AKTIVITAS, DIMANA PEKERJAAN
TERSEBUT MEMILIKI KECENDERUNGAN MENIMBULKAN KETIDAKNYAMANAN SEPERTI KELELAHAN
PADA LEHER, TULANG PUNGGUNG, LENGAN, DAN SEBAGAINYA. METODE INI MENGEVALUASI
PEKERJAAN DENGAN MEMBERIKAN NILAI/SCORE PADA 5 AKTIVITAS LEVEL YANG BERBEDA.
LANGKAH-LANGKAH YANG DIPERLUKAN DALAM MENERAPKAN METODE REBA INI ANTARALAIN:

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

MENGAMBIL DATA GAMBAR POSISI TUBUH KETIKA BEKERJA DI LANTAI PRODUKSI.


MENENTUKAN BAGIAN-BAGIAN TUBUH YANG AKAN DIAMATI, ANTARA LAIN BATANG TUBUH,
PERGELANGAN TANGAN, LEHER, KAKI, LENGAN ATAS, DAN LENGAN BAWAH.
PENENTUAN NILAI UNTUK MASING-MASING POSTUR TUBUH DAN PENENTUAN ACTIVITY SCORE.
PENJUMLAHAN NILAI DARI MASING-MASING KATEGORI UNTUK MEMPEROLEH NILAI REBA.
PENENTUAN LEVEL RISIKO DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN UNTUK PERBAIKAN.
IMPLEMENTASI DAN EVALUASI DESAIN METODE, FASILITAS, DAN LINGKUNGAN KERJA.
PENILAIAN ULANG DENGAN MENGGUNAKAN METODE REBA UNTUK DESAIN BARU YANG
DIIMPLEMENTASIKAN.
EVALUASI PERBANDINGAN NILAI REBA UNTUK KONDISI SEBELUM DAN SETELAH IMPLEMENTASI
DESAIN PERBAIKAN.

PERHITUNGAN LEVEL TINDAKAN REBA

LEBIH LANJUT SKOR REBA DIPETAKAN KEDALAM LEVEL TINDAKAN (ACTION


LEVEL) SEPERTI TERTULIS PADA TABEL II.16, YANG DAPAT JUGA DIHITUNG DENGAN
MENGGUNAKAN PERSAMAAN :
REBA ACTION LEVEL = INT (REBA SCORE)
REBA ACTION LEVEL = INT (INT (NECK + TRUNK + LEGS + LOAD/FORCE + UPPER ARM
+ LOWER ARM + WRIST + COUPLING) + ACTIVITY SCORE)

Tabel II.16. Level Tindakan REBA

Reba skor

Level Risiko

Level Tindakan

Tindakan

Dapat diabaikan

Tidak
diperlukan

Kecil

Mungkin
diperlukan

2-3

4-7

Sedang

Perlu

8-10

Tinggi

Segera

11-15

Sangat tinggi

Sekarang juga

Sumber : Hignett, S., McAtamney, L. 2000