Anda di halaman 1dari 20

Mata Kuliah: Sastra Anak

ANALISIS UNSUR INSTRINSIK


SERTA DEFINISI DARI
CERITA DETEKTIF ANAK DAN
CERITA PETUALANGAN ANAK
Dosen Pengampu: Nas Haryati Setyaningsih
Disusun Oleh:
Nama
NIM
Prodi/Rom

: Hayah Anisa Ufitri


: 2101413087
: PBSI/III

bel

BAHASA DAN SASTRA INDONESIA


FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2014

ANALISIS UNSUR INSTRINSIK SERTA DEFINISI DARI


CERITA DETEKTIF ANAK DAN CERITA PETUALANGAN
ANAK

A. Contoh Cerita Detektif Anak dan Cerita Petualangan Anak


1. Contoh Cerita Detektif Anak
Cerpen: Pesan SOS di Layang
(Flipp Magazine Team)
Musim layang-layang sudah tiba. Hampir setiap sore hari, lapangan
kampung Dio dipenuhi oleh anak-anak yang
sedang

bermain

layang-layang.

Seperti

biasa, Dio akan mengajak Lia dan Rio untuk


bermain

di

lapangan

kampung

sambil

menunggu magrib. Tapi saat akan berangkat


bersama, Lia melihat sesuatu melintas di
atas kepalanya.
Lihat itu, teman-teman! Lia menunjuk
benda yang terbang ditiup angin. Itu layang-layang, ayo kita kejar!
Iya, itu layang-layang. Yuk kita kejar, seru Rio.
Dio, Lia, dan Rio mengejar layang-layang putus itu. Dibelakang mereka
sudah banyak anak-anak lain yang ikut mengejar. Memburu layang-layang
memang sangat mengasyikkan. Melompati parit, lari di pematang sawah
sampai akhirnya layang-layang itu tersangkut di dahan pohon mangga
golek. Dengan sigap, Dio dan beberapa anak laki-laki memanjat pohon
untuk mengambil layang-layang. Dengan susah payah, tangan mereka
menggapai dahan paling ujung pohon mangga golek tempat layang-layang
tergantung.
Dio yang paling cepat berhasil menggapai ekor layang-layang. Dio
turun dengan senyum penuh kemenangan. Anak-anak lain terlihat kecewa
tapi mereka menyelamati Dio.
Dio, Lia, dan Rio mengamati layang-layang itu. Layang-layang itu
bukan layang-layang biasa. Berwarna pelangi dengan bentuk bintang.
Ekornya berwarna silver metalic kalau terkena sinar matahari akan
berkilauan.
Wah ini layang-layang yang bagus banget. Kira-kira siapa yang punya
ya? Lia membolak-balik layangan itu. Eh teman-teman lihat! pekik Lia
1

sambil menunjukkan tulisan kecil di


ujung salah satu sisi layang-layang
bintang.
SOS! Rio membaca tulisan itu.
Maksudnya apa ya? kening Rio
berkerut.
SOS itu adalah tanda bahaya
kode Morse Intenasional, jawab Dio
dengan serius. Dio memang punya
hobi membaca buku. Jadi, Dio sering menjadi perpustakaan berjalan buat
teman-temannya.
Kita harus menolong orang ini! Lia memberi usul. Bisa saja yang
mengirimkan ini seorang anak yang sedang diculik, kata Lia paranoid
karena terlalu sering membaca berita penculikan.
Hush, jangan berpikir yang aneh-aneh, sergah Dio. Bagaimana kalau
kita sekarang cari darimana layang-layang ini berasal. Karena bisa aja ada
orang yang sedang membutuhkan bantuan.
Aku setuju, Rio mengacungkan tangan.
Dan dimulailah pencarian asal-usul layang-layang bintang dengan
pesan SOS itu.
Kita harus mulai mencari berlawanan dengan arah angin karena
layang-layang ini terbang mengikuti arah angin, Dio menganalisis sambil
menunjuk arah selatan.
Rio dan Lia hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Dio.
Mereka berjalan pelan-pelan menyusuri pematang sawah yang tadi mereka
lewati saat mengejar layang-layang.
Kira-kira ini layang-layang siapa ya? tiba-tiba Rio bertanya sambil
melompati parit kecil.
Aku juga penasaran, kira-kira yang menerbangkan layang-layang itu
ada masalah apa ya? timpal Lia.
Yang penting kita berharap saja, semoga siapa pun yang punya
layang-layang ini tidak kenapa-kenapa! kata Dio. Ayo kita bergegas!
Mereka mempercepat langkah. Akhirnya mereka sampai di tempat saat
pertama kali melihat layang-layang SOS itu terbang.
Sekarang bagaimana? Lia bertanya sambil menggaruk kepalanya
yang tidak gatal.
Dio dan Rio berpikir sambil melihat sekeliling. Hmm sepertinya
layang-layang ini terbang dari arah ini! jawab Rio sekenanya sambil
menunjuk arah kiri. Mata Lia dan Dio mengikuti arah telunjuk Rio.
Mungkin saja. Tapi coba kita amati sekali lagi layang-layang ini! Lia
memberi usul.
2

Sepertinya ada sesuatu yang ganjil pada layang-layang ini.


Rio dan Dio sepakat. Mereka mengamati dengan seksama layanglayang itu. Aku mencium bau sesuatu pada layang-layang! seru Rio tibatiba sambil mencium layang-layang. Seperti bau ikan goreng! katanya.
Lia dan Dio ikut mencium layang-layang. Hebat, Rio. Kamu jenius. Gak
percuma kamu hobi makan! canda Dio sambil tetawa menggoda Rio. Yang
digoda pura-pura cemberut.
Kalau begitu, pencarian kita lebih mudah. Kita tinggal mencari rumah
yang memasak ikan goreng, pekik Lia girang.
Dio, Lia, dan Rio semakin semangat. Satu persatu, mereka mencari
rumah yang memasak ikan goreng. Tapi tidak ada yang mempunyai layanglayang bintang itu. Akhirnya Detektif Tiga Sekawan memilih beristirahat di
bawah pohon mahoni.
Aku capek! Rio ngos-ngosan lagi.
Sudah

hampir

20

rumah

kita

datangi. Tapi tetap tidak ada yang


kehilangan layang-layang, keluh Lia
sambil memijit kakinya.
Tunggu dulu, teman-teman! Dio
memberikan isyarat diam pada Lia dan
Rio. Sepertinya aku tahu dimana asal
layang-layang ini.
Lia dan Rio saling bepandangan,
Dimana? tanya mereka serempak.
Ayo ikut aku! Kalian pasti akan tahu nanti.
Rumah yang mereka datangi adalah rumah Geo, teman sekelas
mereka. Rumah Geo sederhana dan semi permanen, separuh memakai
anyaman bambu dan separuhnya lagi memakai tembok. Halamannya luas
dengan ditumbuhi pohon-pohon buah. Dio mengetuk pintu rumah Geo
sambil mengucap salam. Seorang ibu paruh baya keluar. Dio, Lia, dan Rio
kaget karena ibu yang keluar itu bukan ibu Geo. Pikiran-pikiran buruk mulai
menghantui mereka. Lia menyikut Rio cemas.
Jangan-jangan Geo diculik ibu ini lalu mengirimkan pesan SOS pada
layang-layang, begitu arti tatapan mata Lia pada Rio.
Selamat sore Tante. Geo ada tidak, Tante? tanya Dio sopan sambil
memberikan layang-layang.
Si ibu paruh baya tersenyum kecil. Geo ada. Sebentar ya! katanya
sebelum masuk ke dalam rumah dan keluar membawa Geo.
Terimakasih teman-teman. Kalian menemukan layang-layangku! ucap
Geo bahagia sambil menerima layang-layang dari tangan Dio.
Kamu tidak apa-apa? bisik Rio pada telinga Geo sambil melirik ibu
3

paruh baya yang melihat mereka dari ruang tamu.


Apa kamu diculik oleh ibu itu ya? tanya Lia dengan suara pelan.
Pesan SOS ini kamu yang tulis kan? kali ini giliran Dio yang bertanya.
Geo melirik si ibu paruh baya. Astaga, kalian mengira aku diculik ya?
Geo hampir tertawa. Itu tanteku yang menjagaku selama ibu dan ayah
menjenguk nenek! Geo memegang perutnya yang tiba-tiba geli.
Lalu pesan SOS ini? tunjuk Rio masih penasaran.
Oh ini. Ini singkatan nama kakekku. Yang membuatkan layang-layang
ini. Samsul Oscar Supranata disingkat SOS, jelas Geo.
Dio, Lia, dan Rio menepuk dahi mereka. Geo tertawa. Tapi terimakasih
ya. Ini layang-layang kesayanganku. Padahal aku sudah ikat dengan benar
di dahan pohon, tapi ternyata tertiup angin juga. Darimana kalian tahu ini
punyaku?
Bau ikan goreng. Kamu paling suka ikan goreng! tebak Dio. Lia dan
Rio ber-o bersama. Jadi ini alasan Dio membawa mereka kemari.
Mendadak Geo menjadi pucat. Ia berlari ke arah tantenya. Oh! Ternyata
karena

terlalu

asyik

menonton

sinetron,

Tante

Geo

lupa

sedang

menggoreng ikan. Dan saat itu Geo dan Tante sedang flu berat jadi tidak
bisa mencium apa-apa. Nyaris saja terjadi kebakaran andai Dio, Lia, dan Rio
tidak datang. Petualangan mereka akhirnya tidak sia-sia.
(http://flippkids.com/2014/05/cerpen-pesan-sos-di-layang/)

2. Contoh Cerita Petualangan Anak


Dongeng: Petualangan Chaeleo dan Tera
(Flipp Magazine Team)
Pada suatu hari di dalam hutan belantara, seekor bunglon yang
bernama Chaeleo mendapatkan tugas dari ibunya untuk menangkap seekor
mangsa

untuk

membuktikan

ketangguhannya.

Sebelumnya

Chaeleo

beberapa kali sudah ditugaskan hal serupa, akan tetapi ia tak pernah
berhasil.
Kali ini adalah kesempatan terakhirmu, Chaeleo. Jika kali ini kau gagal,
maka ibu akan mengusirmu dari rumah, ucap ibunya ketika ia hendak
berangkat.
Chaeleo akhirnya berangkat dengan perasaan gundah gulana. Ada
satu rahasia yang disembunyikn Chaeleo dari keluarganya, termasuk sang
ibu. Rahasia yang menjadi salah satu alasannya tak pernah berhasil
menangkap

mangsa

seperti

saudara-saudaranya.

Chaeleo

memiliki

kelainan. Tubuhnya selalu berubah warna dengan warna kebalikan dengan


warna.

Akibatnya,

tak

pernah

ada

satu

ekorpun

mangsa

yang

mendekatinya. Alasan lainya adalah Chaeleo tidak pernah tega membunuh


4

mahluk hidup. Maka jadilah Chaeleo bunglon pemakan tumbuh-tumbuhan.


Setelah jauh berjalan, Chaeleo akhirnya tiba di sebuah pohon besar.
Menurut Chaeleo pohon tersebut adalah tempat berburu yang bagus
karena

bunga-bunganya

sedang

bermekaran.

Pasti

para

ngengat,

kumbang, kupu-kupu dan capung banyak berdatangan mendekati poho ini,


ucap Chaeleo seraya memanjat pohon tersebut. Benar adanya dugaan
Chaeleo. Tidak lama setelah Chaeleo berdiam di sebuah ranting, seekor
capung bersayap merah mendekatinya. Chaeleo bersiap menangkap si
capung bersayap merah. Namun betapa terkejutnya Chaeleo ketika sang
capung justru menyapanya dengan ceria.
Hai bunglon, warnamu sangat cantik, sapa capung tersebut seraya
hinggap di ranting kecil dekat Chaeleo. Dengan terbata-bata Chaeleo
mengucapkan terima kasih atas pujian capung itu. Chaeleo melihat warna
tangannya dan kemudian tersenyum masam. Bukannya berubah menjadi
warna coklat kehitaman seperti warna ranting yang ditempatinya, Chaeleo
justru berubah warna menjadi warna pink dengan garis-garis ungu yang
sangat cantik. Melihat wajah sedih Chaeleo capung tersebut kemudian
terbang mendekati Chaeleo dan berkata, Bunglon yang cantik, apa
gerangan yang membuatmu bersedih?
Chaeleo

kemudian

menceritakan

masalah

yang

sedang di hadapinya kepada si


capung.

Mendengar

Chaeleo,

capung

menawarkan
membantu

kemudian

dirinya
Chaeleo.

cerita
untuk
Capung

tersebut bersedia dibawa pergi oleh Chaeleo untuk ditunjukkan kepada


ibunya. Pada awalnya Chaeleo menolak tawaran capung karena khawatir
dengan keselamatannya. Akan tetapi, capung tersebut menyakinkan
Chaeleo bahwa dirinya akan baik-baik saja. Chaeleo pun akhirnya setuju
dengan tawaran si capung. Di dalam perjalanan menuju tempat ibunya,
Cheleo berbincang-bincang dengan capung tersebut. Dari perbincangan
mereka, Chaeleo mengetahui bahwa capung tersebut bernama Tera.
Tera, apakah kau tidak takut padaku? Aku adalah seekor bunglon dan
aku bisa saja memakanmu, tanya Chaelo kepada Tera.
Chaelo, ketika aku bertemu dengamu, aku dapat melihat bahwa kau
adalah seekor bunglon yang baik hati. Aku percaya bahwa kau tidak akan
memangsaku seperti bunglon-bunglon lainnya.
5

Demikianlah sepanjang perjalanan itu Chaeleo dan Tera asyik bertukar


cerita layaknya dua orang sahabat karib. Padahal, kali itu merupakan kali
pertama mereka bertemu.
Setibanya di rumah, Chaeleo mendapati rumahnya
dalam keadaan sepi dan berantakan. Chaeleo berteriak
memanggil ibu dan saudara-saudaranya, akan tetapi tak
ada

yang

burung

menyahut.

pipit

yang

Justru

muncul

tetangganya,
dengan

seeoker

wajah

penuh

kecemasan. Dia menceritakan hal buruk yang menimpa


keluarga

Chaeleo.

Penyihir

pemburu

bunglon

menangkap kaluargamu! Mereka membawanya ke arah


utara! seru si burung pipit kepada Chaeleo. Chaeleo
lemas mendengar berita itu. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Penyihir pemburu bunglon adalah musuh yang mustahil untuk dikalahkan,
bahkan oleh bunglon terkuat sekalipun.
Untungnya Tera tahu banyak tentang penyihir pemburu bunglon. Tera
bercerita kepada Chaeleo alasan mengapa Penyihir pemburu bunglon tidak
pernah bisa dikalahkan oleh para bunglon. Alasannya adalah karena
kemampuan menyamar bunglon tidak berlaku bagi penyihir pemburu
bunglon.
Penyihir pemburu bunglon justru dapat melihat di mana bunglon
bersembunyi karena bunglon biasanya mengubah warna dirinya sesuai
dengan

warna

sekitarnya.

Sedangkan

kamu

melakukan

hal

yang

sebaliknya. Artinya kamu pasti bisa menyelamatkan keluargamu. Bila kamu


mengubah warnamu seprti yang kamu lakukan ketika berburu, maka
penyihir tidak akan bisa mengetahui keberadaanmu. Ayuk ikuti aku! Aku
akan menunjukkan jalan menuju sarang penyihir pemburu bunglon. Kita
harus bergegas, Chaeleo, karena bila kita tidak sampai di sana sebelum
matahari

terbenam,

keluargamu

akan

maka

hilang.

kesempatan
Para

penyihir

kita

untuk

pemburu

menyelamatkan

bunglon

biasanya

memakan mangsa yang didapatkannya tepat ketika matahari terbenam,


ucap Tera dengan antusias.
Tanpa membuang-buang waktu, Chaeleo dan Tera segera berangkat
menuju sarang si penyihir pemburu bunglon. Setelah melewati sungai,
hutan dan lembah, akhirnya mereka tiba di sarang si penyihir pemburu
bunglon. Sarang para penyihir tersebut terlihat sangat mengerikan.
Matahari sudah hampir tenggelam Chaeleo, waktu kita tidak banyak.

Tunggu aku di sini! Aku akan terbang kedalam sarangnya untuk melihat
keadaan, bisik Tera kepada Chaeleo seraya terbang ke dalam sarang
penyihir pemburu bunglon. Tidak lama kemudian, Tera keluar dari sarang
dan menghampiri Chaeleo.
Chaleo, keluargamu ada di dalam sarang ini. Mereka diikat di sebuah
tiang, sedangkan si penyihir sedang merebus air dalam kuali untuk
memasak keluargamu. Aku akan masuk lagi untuk mengalahkan perhatian
si penyihir. Pada saat itu, kamu harus segera membebaskan keluargamu,
ucap Tera kepada Chaeleo.
Sesuai dengan rencana Tera, mereka kemudian masuk ke dalam sarang
si penyihir. Tera segera terbang ke hadapan si penyihir sambil berteriakteriak memanggil penyihir itu dengan sebutan penyihir jelek yang bau.
Sementara

itu,

tanpa

membuang

kesempatan,

Chaeleo

segera

membebaskan keluarganya. Tidak lupa Chaeleo meminta keluarganya


untuk bergegas meninggalkan tempat tersebut. Mendengar permintaan
Chaleo tersebut, ibunya menolak. Ia tidak ingin meninggalkan anak yang
dikasihinya itu di dalam sarang penyihir. Akan tetapi Chaeleo berkata,
Maafkan aku, Ibu. Akan tetapi aku tidak bisa meninggalkan sahabatku.
Jangan khawatir, Bu. Aku berjanji akan segera menyusulmu, ucap Chaeleo
kepada ibunya. Dengan berat hati ibu Chaeleo pergi meninggalkan sarang
penyihir

bersama

dengan

anak-anaknya

menyelamatkan diri terlebih dahulu.

yang

lain

yang

sudah

Sementara itu si penyihir masih


berusaha

menangkap

Tera

menggunakan puntung kayu bakar


yang masih panas merekah. Tanpa
sepengetahuan
menumpahkan

penyihir,
minyak

Chaeleo

di

sekitar

kuali, lalu memberi isyarat kepada


Tera agar memancing penyhir itu
mendekati kuali. Ketika si penyihir
tepat

berada

di

samping

kuali,

dengan cepat Chaeleo melompat ke


wajah penyihir kemudian menggigit hidungnya dan segera melompat ke
tanah.

Si

penyihir

yang

kaget

sekaligus

kesakitan,

kehilangan

keseimbanganya dan menginjak tumpahan minyak di dekat kuali yang


mengepulkan uap panas. Tidak terelakkan, air mendidih yang berada di
dalam kuali itu mengguyur badan si penyihir. Penyihir yang jahat tersebut
akhirnya meninggal karena air rebusannya sendiri. Melihat penyihir yang
sudah tidak berdaya, Chaeleo dipenuhi dengan kelegaan yang teramat
besar. Ia kemudian berterima kasih kepada sahabatnya, Tera.
Ini adalah petualangan pertama kita, Chaeleo, ucap Tera dengan
nada bahagia kepada Chaeleo dalam perjalanan menuju rumah Chaeleo.
Aku tidak sabar menunggu petualangan kita selanjutnya, timpal
Chaeleo penuh semangat.
Setibanya di rumah, Chaeleo disambut ibunya dengan penuh perasaan
haru. Ibunya sangat bersyukur karena Chaeleo selamat. Ia juga berterima
kasih kepada Chaeleo karena Chaeleo telah menyelamtkan nyawa keluarga
mereka.
Ibu juga minta maaf atas sikap ibu yang kurang baik selama ini, ucap
ibu Chaeleo dengan penuh sesal.
Tidak apa-apa, Bu. Aku telah memaafkan Ibu jauh dari sebelum ini.
Aku tahu bahwa Ibu selalu menyayangiku salama ini, balas Chaeleo.
Perkenalkan,

Bu,

memperkenalkan

ini

Tera

sahabatku,
kepada

ibu

Tera,
dan

tambah

Chaeleo

seraya

saudara-saudaranya.

Setelah

memperkenalkan sahabatnya, Chaeleo kemudian kembali berkata kepada


ibunya, Maafkan aku, Bu. Akan tetapi, aku sudah memutuskan untuk pergi
bersama dengan Tera dan berpetualang bersama. Ibu tidak usah khawatir,
aku berjanji bahwa aku akan selalu menjaga diriku baik-baik dan
mengunjungi kalian dari waktu ke waktu.
8

Sejak saat itu, dimulailah petualangan Chaeleo dan Tera bersama.


(http://flippkids.com/2014/09/dongeng-petualangan-chaeleo-dan-tera/)

B. Analisis Unsur Instrinsik Cerita Detektif Anak dan Cerita


Petualangan Anak
1. Analisis Unsur Instrinsik Cerita Detektif Anak Pesan SOS di
Layang
a. Tema
Cerita Detektif Anak yang berjudul Pesan SOS di Layang
bertemakan

pemecahan

teka-teki.

Hal

ini

secara

tersirat

terangkum dalam cerita tersebut. Pemecahan teka-teki di dalam


cerpen Pesan SOS di Layang merupakan rentetan kegiatan dari
awal, ketika para tokoh menemukan kode SOS di layang-layang
yang putus, kemudian memutuskan untuk melakukan pencarian
pemilik layang-layang berkode SOS, hingga akhirnya para tokoh
berhasil menemukan pemilik layang-layang berkode SOS. Berikut
penggalan ceritanya:

Dan dimulailah pencarian asal-usul layang-layang bintang dengan


pesan SOS itu.
Kita harus mulai mencari berlawanan dengan arah angin karena
layang-layang ini terbang mengikuti arah angin, Dio menganalisis
sambil menunjuk arah selatan.

b. Sudut Pandang
Sudut pandang yang digunakan dalam cerpen Pesan SOS di
layang adalah sudut pandang ornga ketiga serba tahu. Dalam
cerpen

ini

penulis

menggunakan

sudut

pandangnya

untuk

bercerita dan tahu tentang unsur-unsur dalam ceritanya seperti


lingkungan tokoh, sifat tokoh, dll. Berikut penggalan ceritanya:
1) Musim layang-layang sudah tiba. Hampir setiap sore hari, lapangan
kampung Dio dipenuhi oleh anak-anak yang sedang bermain
layang-layang. Seperti biasa, Dio akan mengajak Lia dan Rio untuk
bermain di lapangan kampung sambil menunggu magrib.

2) Dio memang punya hobi membaca buku. Jadi, Dio sering menjadi
perpustakaan berjalan buat teman-temannya.

c. Gaya Bahasa
Penulis menggunakan gaya bahasa sehari-sehari yang mudah
dipahami oleh anak-anak, sebagai subyek sasaran cerita. Berikut
penggalan ceritanya:
9

Kalau begitu, pencarian kita lebih mudah. Kita tinggal mencari rumah
yang memasak ikan goreng, pekik Lia girang.
Dio, Lia, dan Rio semakin semangat. Satu persatu, mereka mencari
rumah yang memasak ikan goreng. Tapi tidak ada yang mempunyai
layang-layang bintang itu. Akhirnya Detektif Tiga Sekawan memilih
beristirahat di bawah pohon mahoni.
Selamat sore Tante. Geo ada tidak, Tante? tanya Dio sopan sambil
memberikan layang-layang.

d. Tokoh dan Penokohan


1) Tokoh utama
a) Dio: sigap, pintar, berprasangka positif, suka bercanda.
Dio yang paling cepat berhasil menggapai ekor layang-layang.

Dio turun dengan senyum penuh kemenangan.


Dio memang punya hobi membaca buku. Jadi, Dio sering

menjadi perpustakaan berjalan buat teman-temannya.


Hush, jangan berpikir yang aneh-aneh, sergah Dio.
Lia dan Dio ikut mencium layang-layang. Hebat, Rio. Kamu
jenius. Gak percuma kamu hobi makan! canda Dio sambil
tetawa menggoda Rio.

b) Rio: penasaran, peka, suka makan.


Kira-kira ini layang-layang siapa ya? tiba-tiba Rio bertanya

sambil melompati parit kecil.


Aku mencium bau sesuatu pada layang-layang! seru Rio tibatiba

sambil

mencium

layang-layang.

Seperti

bau

ikan

goreng! katanya.
Hebat, Rio. Kamu jenius. Gak percuma kamu hobi makan!
canda Dio sambil tetawa menggoda Rio.

c) Lia: berprasangka buruk, suka memberikan usul, suka


mengeluh.
Bisa saja yang mengirimkan ini seorang anak yang sedang
diculik, kata Lia paranoid karena terlalu sering membaca

berita penculikan.
Mungkin saja. Tapi coba kita amati sekali lagi layang-layang

ini! Lia memberi usul.


Sudah hampir 20 rumah kita datangi. Tapi tetap tidak ada
yang kehilangan layang-layang, keluh Lia sambil memijit
kakinya.

2) Tokoh tambahan
a) Geo: Kurang hati-hati, suka ikan goreng.

10

Tapi terimakasih ya. Ini layang-layang kesayanganku. Padahal


aku sudah ikat dengan benar di dahan pohon, tapi ternyata
tertiup angin juga. Darimana kalian tahu ini punyaku?
Bau ikan goreng. Kamu paling suka ikan goreng! tebak Dio.

b) Tante Geo: Ramah, pelupa.


Si ibu paruh baya tersenyum kecil. Geo ada. Sebentar ya!
katanya

sebelum

masuk

ke

dalam

rumah

dan

keluar

membawa Geo.
Tante Geo lupa sedang menggoreng ikan.

e. Alur
Dalam cerpen Pesan SOS di Layang penulis menggunakan
alur maju. jadi, penulis menyajikan tiap peristiwa di dalam
ceritanya secara urut dari awal hingga akhir. Berikut tahapan
alurnya:
1) Perkenalan
Penulis
menggunakan

pola

pendeskripsian,

yaitu

penggambaran suasana lingkungan tokoh serta kebiasaankebiasaannya sebagai pemulai atau pembuka dari cerita. Pola
inilah yang mewakili tahap perkenalan.

Musim layang-layang sudah tiba. Hampir setiap sore hari, lapangan


kampung Dio dipenuhi oleh anak-anak yang sedang bermain
layang-layang. Seperti biasa, Dio akan mengajak Lia dan Rio untuk
bermain di lapangan kampung sambil menunggu magrib.

2) Konflik
Konflik terjadi atau masalah muncul saat Lia, Dio, dan Rio
menemukan layang yang putus dan terdapat pesan SOS di
sudut kanan atas.

SOS! Rio membaca tulisan itu. Maksudnya apa ya? kening Rio
berkerut.
SOS itu adalah tanda bahaya kode Morse Intenasional, jawab Dio
dengan serius. Dio memang punya hobi membaca buku. Jadi, Dio
sering menjadi perpustakaan berjalan buat teman-temannya.
Kita harus menolong orang ini! Lia memberi usul. Bisa saja yang
mengirimkan ini seorang anak yang sedang diculik, kata Lia
paranoid karena terlalu sering membaca berita penculikan.

3) Komplikasi
Tahap komplikasi adalah tahap saat masalah yang muncul
mulai merumit. Tahap ini terjadi saat detektif tiga serangkai
yang beranggotakan Dio, Rio, dan Lia melakukan proses
11

pencarian

pemilik

layang-layang

berkode

SOS

tersebut.

Kemudian atas bukti yang telah terkumpul mereka menduga


bahwa pemilik layang-layang itu adalah Geo, teman sekelas
mereka.

Sudah hampir 20 rumah kita datangi. Tapi tetap tidak ada yang
kehilangan layang-layang, keluh Lia sambil memijit kakinya.
Tunggu dulu, teman-teman! Dio memberikan isyarat diam pada
Lia dan Rio. Sepertinya aku tahu dimana asal layang-layang ini.
Lia dan Rio saling bepandangan, Dimana? tanya mereka
serempak.
Ayo ikut aku! Kalian pasti akan tahu nanti.

4) Klimaks
Puncak dari

permasalahan

adalah

ketika

detektif

tiga

serangkai tiba di rumah Geo dan bertemu dengan orang asing


yang membukakan pintu. Mereka berspekulasi bahwa orang
asing itu telah menculik Geo.

Dio mengetuk pintu rumah Geo sambil mengucap salam. Seorang


ibu paruh baya keluar. Dio, Lia, dan Rio kaget karena ibu yang
keluar itu bukan ibu Geo. Pikiran-pikiran buruk mulai menghantui
mereka. Lia menyikut Rio cemas.
Jangan-jangan Geo diculik ibu ini lalu mengirimkan pesan SOS pada
layang-layang, begitu arti tatapan mata Lia pada Rio.

5) Antiklimaks
Penurunan dari puncak masalah ditandai dengan penurunan
suasana ketegangan. Tahap ini terjadi saat Geo menceritakan
bahwa orang asing yang ada di rumahnya bukanlah seorang
penculik melainkan tantenya.

Geo melirik si ibu paruh baya. Astaga, kalian mengira aku diculik
ya? Geo hampir tertawa. Itu tanteku yang menjagaku selama ibu
dan ayah menjenguk nenek! Geo memegang perutnya yang tibatiba geli.

6) Resolusi
Titik terang dari masalah yang timbul adalah saat Geo
memberitahu rahasia
dari kode SOS yang tertulis di sudut kanan atas layanglayangnya.

Lalu pesan SOS ini? tunjuk Rio masih penasaran.


Oh ini. Ini singkatan nama kakekku. Yang membuatkan layanglayang ini. Samsul Oscar Supranata disingkat SOS, jelas Geo.

7) Penyelesaian
12

Cerita ditutup dengan penyelesaian masalah yang merupakan


bagian dari tahap penyelesaian. Detektif tiga serangkai
merasa pencariannya tidak sia-sia karena pada akhirnya
merekalah yang menyelamatkan rumah Geo yang hampir
terbakar.

Mendadak Geo menjadi pucat. Ia berlari ke arah tantenya. Oh!


Ternyata karena terlalu asyik menonton sinetron, Tante Geo lupa
sedang menggoreng ikan. Dan saat itu Geo dan Tante sedang flu
berat

jadi

tidak

bisa

mencium apa-apa.

Nyaris saja terjadi

kebakaran andai Dio, Lia, dan Rio tidak datang. Petualangan


mereka akhirnya tidak sia-sia.

f. Latar
Meliputi latar tempat, waktu, dan suasana.
1) Lapangan, sore hari, penuh keriangan.

Musim layang-layang sudah tiba. Hampir setiap sore hari, lapangan


kampung Dio dipenuhi oleh anak-anak yang sedang bermain layanglayang. Seperti biasa, Dio akan mengajak Lia dan Rio untuk bermain
di lapangan kampung sambil menunggu magrib.

2) Di bawah pohon mahoni, bersemangat kemudian kelelahan.

Dio, Lia, dan Rio semakin semangat. Satu persatu, mereka mencari
rumah yang memasak ikan goreng. Tapi tidak ada yang mempunyai
layang-layang bintang itu. Akhirnya Detektif Tiga Sekawan memilih
beristirahat di bawah pohon mahoni.
Aku capek! Rio ngos-ngosan lagi.
Sudah hampir 20 rumah kita datangi. Tapi tetap tidak ada yang
kehilangan layang-layang, keluh Lia sambil memijit kakinya.

3) Di rumah Geo, penuh ketegangan dan kecemasan.

Rumah yang mereka datangi adalah rumah Geo, teman sekelas


mereka. Rumah Geo sederhana dan semi permanen, separuh
memakai anyaman bambu dan separuhnya lagi memakai tembok.
Halamannya

luas

dengan

ditumbuhi

pohon-pohon

buah.

Dio

mengetuk pintu rumah Geo sambil mengucap salam. Seorang ibu


paruh baya keluar. Dio, Lia, dan Rio kaget karena ibu yang keluar itu
bukan ibu Geo. Pikiran-pikiran buruk mulai menghantui mereka. Lia
menyikut Rio cemas.

g. Amanat
1) Biasakanlah berprasangka positif, jangan berprasangka negatif
jika kita belum tahu kebenarannya.
2) Jadilah teman yang baik dan jadilah anggota kerjasama yang
baik.
13

3) Jadilah anak yang peduli terhadap nasib temannya dengan cara


menolongnya tanpa pamrih.
4) Jangan lupakan hal-hal yang bersifat detil walaupun hal
tersebut terkesan kurang atau bahkan tidak penting.
5) Berhati-hatilah dalam bertindak, jangan menjadi orang yang
ceroboh dan pelupa.
6) Jangan sampai lalai dalam melakukan pekerjaan karena akan
membahayakan diri sendiri dan orang lain.
2. Analisis

Unsur

Instrinsik

Cerita

Petualangan

Anak

Petualangan Chaeleo dan Tera


a. Tema
Tema dari dongeng Petualangan Chaleo dan Tera adalah
petualangan

dan

persahabatan.

Dalam

dongeng

tersebut

dikisahkan Chaeleo seekor bunglon bersama Tera seekor capung


yang

bersahabat

berpetualang

pada

dalam

pertemuan

mencari

dan

pertama

mereka

menyelamatkan

dan

keluarga

Chaeleo yang ditangkap oleh penyihir pemburu bunglon.

Ini adalah petualangan pertama kita, Chaeleo, ucap Tera dengan


nada bahagia kepada Chaeleo dalam perjalanan menuju rumah
Chaeleo.
Aku tidak sabar menunggu petualangan kita selanjutnya, timpal
Chaeleo penuh semangat.

b. Sudut Pandang
Sudut pandang yang digunakan oleh penulis dalam dongeng
Petualangan Chaeleo dan Tera adalah sudut pandang orang
ketiga serbatahu. Jadi, penulis menggunakan sudut pandangnya
untuk menceritakan semua kejadian yang terjadi pada para tokoh,
sesekali berganti dalam penyajian dialog-dialog antartokoh agar
dongeng terkesan hidup dan menarik untuk dibaca.
Chaeleo akhirnya berangkat

dengan perasaan gundah gulana. Ada

satu rahasia yang disembunyikn Chaeleo dari keluarganya, termasuk


sang ibu. Rahasia yang menjadi salah satu alasannya tak pernah
berhasil menangkap mangsa seperti saudara-saudaranya. Chaeleo
memiliki kelainan.

c. Gaya Bahasa
Karena bacaan ini merupakan jenis dongeng yang umumnya
dikonsumsi oleh anak-anak, maka bahasa yang penulis gunakan
juga disesuaikan dengan pengetahuan kebahasaan untuk usia
14

anak-anak. Tidak ada istilah-istilah yang mengkhususkan pada


satu bidang. Bahasa yang digunakan sangat gamblang serta
mudah dipahami.

Setelah jauh berjalan, Chaeleo akhirnya tiba di sebuah pohon besar.


Menurut Chaeleo pohon tersebut adalah tempat berburu yang bagus
karena bunga-bunganya sedang bermekaran. Pasti para ngengat,
kumbang, kupu-kupu dan capung banyak berdatangan mendekati poho
ini, ucap Chaeleo seraya memanjat pohon tersebut.

d. Tokoh dan Penokohan


Tokoh utama:
1) Chaeleo: penurut, tertutup, tidak tega, setiakawan.
a) Chaeleo akhirnya berangkat dengan perasaan gundah gulana.
Ada satu rahasia yang disembunyikn Chaeleo dari keluarganya,
termasuk sang ibu.

b) Ada satu rahasia yang disembunyikn Chaeleo dari keluarganya,


termasuk sang ibu. Rahasia yang menjadi salah satu alasannya
tak

pernah

berhasil

menangkap

mangsa

seperti

saudara-

saudaranya. Chaeleo memiliki kelainan.

c) Alasan lainya adalah Chaeleo tidak pernah tega membunuh


mahluk hidup. Maka jadilah Chaeleo bunglon pemakan tumbuhtumbuhan.

d) Akan tetapi Chaeleo berkata, Maafkan aku, Ibu. Akan tetapi aku
tidak bisa meninggalkan sahabatku. Jangan khawatir, Bu. Aku
berjanji akan segera menyusulmu, ucap Chaeleo kepada ibunya.

2) Tera: baik, ceria, suka menolong, rela berkorban.


a) Chaeleo bersiap menangkap si capung bersayap merah. Namun
betapa

terkejutnya

Chaeleo

ketika

sang

capung

justru

menyapanya dengan ceria.

b) Capung tersebut bersedia dibawa pergi oleh Chaeleo untuk


ditunjukkan kepada ibunya. Pada awalnya Chaeleo menolak
tawaran capung karena khawatir dengan keselamatannya.

c) . . . . Aku akan masuk lagi untuk mengalahkan perhatian si


penyihir. Pada saat itu, kamu harus segera membebaskan
keluargamu, ucap Tera kepada Chaeleo.

Tokoh tambahan:
1) Ibu: pemaksa kehendak, pengertian.
a) Kali ini adalah kesempatan terakhirmu, Chaeleo. Jika kali ini kau
gagal, maka ibu akan mengusirmu dari rumah, ucap ibunya
ketika ia hendak berangkat.

15

b) Dengan berat hati ibu Chaeleo pergi meninggalkan sarang


penyihir bersama dengan anak-anaknya yang lain yang sudah
menyelamatkan diri terlebih dahulu.

2) Penyihir pemburu bunglon: jahat, kejam, kuat.


a) Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Penyihir pemburu
bunglon adalah musuh yang mustahil untuk dikalahkan, bahkan
oleh bunglon terkuat sekalipun.

b) Sementara itu si penyihir masih berusaha menangkap Tera


menggunakan puntung kayu bakar yang masih panas merekah.

3) Burung pipit: tetangga yang baik.

Justru tetangganya, seeoker burung pipit yang muncul dengan wajah


penuh kecema san. Dia menceritakan hal buruk yang menimpa
keluarga

Chaeleo.

Penyihir

pemburu

bunglon

menangkap

kaluargamu! Mereka membawanya ke arah utara! seru si burung


pipit kepada Chaeleo.

e. Alur
Pada umumnya, bacaan sastra untuk anak-anak beralur
maju, sama seperti pada dongeng Petualangan Chaeleo dan
Tera ini. Digunakannya alur maju di dalam bacaan sastra anakanak dimaksudkan supaya anak-anak lebih mudah memahami
dan mencerna isi cerita. Berikut tahapan alur secara runtut:
1) Perkenalan
Tahap perkenalan dalam dongeng Petualangan Chaeleo dan
Tera dipaparkan pada awal cerita. Pada awal cerita dikenalkan
tokoh utama yaitu Chaeleo dan Ibunya serta lingkungan mereka
tinggal.

Pada suatu hari di dalam hutan belantara, seekor bunglon yang


bernama Chaeleo mendapatkan tugas dari ibunya untuk menangkap
seekor mangsa untuk membuktikan ketangguhannya. Sebelumnya
Chaeleo beberapa kali sudah ditugaskan hal serupa, akan tetapi ia
tak pernah berhasil.

2) Konflik
Masalah yang menjadi pokok penceritaan adalah setelah
Chaeleo bertemu dengan Tera dan pulang ke rumah, Chaeleo
menemui

bahwa

keluarganya

menghilang

ditangkap

oleh

penyihir pemburu bunglon.

Setibanya di rumah, Chaeleo mendapati rumahnya dalam keadaan


sepi dan berantakan. Chaeleo berteriak memanggil ibu dan saudarasaudaranya, akan tetapi tak ada yang menyahut.
16

3) Komplikasi
Masalah menjadi semakin rumit ketika mereka tahu bahwa
penyihir pemburu bunglon adalah makhluk yang kuat dan sulit
untuk dikalahkan, bahkan oleh bunglon terkuat sekalipun.

Chaeleo lemas mendengar berita itu. Dia tidak tahu apa yang harus
dilakukan. Penyihir pemburu bunglon adalah musuh yang mustahil
untuk dikalahkan, bahkan oleh bunglon terkuat sekalipun.

4) Klimaks
Puncak permasalahan terjadi ketika detik-detik penyelamatan
keluarga

Chaeleo.

Tera

mengorbankan

dirinya

untuk

mengganggu konsentrasi dari penyihir pemburu bunglon, ketika


sang penyihir lengah maka Chaeleo mendapat celah untuk
membebaskan keluarganya.

Chaleo, keluargamu ada di dalam sarang ini. Mereka diikat di


sebuah tiang, sedangkan si penyihir sedang merebus air dalam kuali
untuk

memasak

keluargamu.

Aku

akan

masuk

lagi

untuk

mengalahkan perhatian si penyihir. Pada saat itu, kamu harus segera


membebaskan keluargamu, ucap Tera kepada Chaeleo.

5) Antiklimaks
Penurunan puncak ketegangan terjadi ketika Tera berhasil lolos
dari pengejaran penyihir berkat kerjasama yang cerdik antara
Chaeleo dan Tera.

Ketika si penyihir tepat berada di samping kuali, dengan cepat


Chaeleo melompat ke wajah penyihir kemudian menggigit hidungnya
dan segera melompat ke tanah. Si penyihir yang kaget sekaligus
kesakitan, kehilangan keseimbanganya dan

menginjak tumpahan

minyak di dekat kuali yang mengepulkan uap panas.

6) Resolusi
Titik terang dari segala permasalahan adalah ketika Ibu
Chaeleo meminta maaf karena telah bersikap buruk terhadap
Chaeleo dan juga mengucapkan terima kasih karena Chaeleo
telah berhasil menyelamatkan keluarganya.

Ibu juga minta maaf atas sikap ibu yang kurang baik selama ini,
ucap ibu Chaeleo dengan penuh sesal.

7) Penyelesaian
Akhir cerita yang merupakan tahap terakhir dari alur yakni
tahap penyelesaian terjadi saat Chaeleo memutuskan untuk
pergi dari rumah karena ingin berpetualang bersama dengan

17

sahabatnya, Tera. Kemudian Ibu Chaeleo dengan tabah hati


mengizinkannya untuk berpetualang.

Akan tetapi, aku sudah memutuskan untuk pergi bersama dengan


Tera dan berpetualang bersama. Ibu tidak usah khawatir, aku berjanji
bahwa aku akan selalu menjaga diriku baik-baik dan mengunjungi
kalian dari waktu ke waktu.
Sejak saat itu, dimulailah petualangan Chaeleo dan Tera bersama.

f. Latar
Meliputi latar tempat, waktu, dan suasana.
1) Suatu hari di hutan belantara.

Pada suatu hari di dalam hutan belantara, seekor bunglon yang


bernama Chaeleo mendapatkan tugas dari ibunya untuk menangkap
seekor mangsa untuk membuktikan ketangguhannya.

2) Sebuah pohon besar.

Setelah jauh berjalan, Chaeleo akhirnya tiba di sebuah pohon besar.


Menurut Chaeleo pohon tersebut adalah tempat berburu yang bagus
karena bunga-bunganya sedang bermekaran.

3) Rumah Chaeleo.

Setibanya di rumah, Chaeleo mendapati rumahnya dalam keadaan


sepi dan berantakan. Chaeleo berteriak memanggil ibu dan saudarasaudaranya, akan tetapi tak ada yang menyahut.

4) Sarang penyihir pemburu bunglon.

Tanpa membuang-buang waktu, Chaeleo dan Tera segera berangkat


menuju sarang si penyihir pemburu bunglon. Setelah melewati
sungai, hutan dan lembah, akhirnya mereka tiba di sarang si penyihir
pemburu bunglon.

g. Amanat
1) Jadilah anak yang pemberani dan terbuka, terutama terbuka
akan masalah yang sedang dihadapinya.
2) Jadilah seorang anak yang penurut walaupun sikap dari orang
tua kurang mengenakkan.
3) Orang tua selalu menyeyangi anaknya dalam keadaan apapun.
4) Jadilah seorang teman dan sahabat yang baik dan setia.
5) Orang tua sebaiknya bersikap bijak terhadap anak bukan malah
bersikap buruk terhadap anak.
C. Persamaan dan Perbedaan Cerita Dektektif Anak dan Cerita
Petualangan Anak.
1. Persamaan:
Keduanya menceritakan tentang masalah yang harus mereka

selesaikan.
Keduanya mempunyai target pembaca yang sama yakni anakanak.
18

2. Perbedaan:
Pada cerita detektif, masalah yang dihadapi adalah masalah

pemecahan teka-teki.
Pada cerita petualangan, masalah yang dihadapi adalah masalah
yang

sifatnya

praktis

atau

berhubungan

langsung

dengan

masalah yang beragam polanya dan kompleks.


Dari segi tokoh, pada cerita detektif umumnya hanya beberapa

anak manusia.
Dari segi tokoh, pada cerita petualangan tokoh dapat berupa
manusia dan hewan yang mempunyai sikap dan bertindak seperti

manusia.
D. Definisi dari Cerita Detektif Anak dan Cerita Petualangan Anak
Cerita detektif anak adalah karya sastra untuk anak-anak, yang
tema masalahnya adalah mengenai pemecahan teka-teki. Proses
dari pemecahan dari teka-teki tersebut seringkali membawa
pembaca ke dalam rasa penasarannya. Kemudian di bagian akhir

semua teka-teki akan terjawabkan dan kebenaran pun terungkap.


Cerita petualangan anak adalah karya sastra untuk anak-anak,
yang temanya adalah tema mengenai petualangan sang tokoh
bersama keluarga atau sahabatnya. Jadi, kebersamaan para tokoh
ketika mendaki gunung, menyelam di laut, dsb. lebih disukai oleh
anak-anak, karena pihak dari gurulah yang akan mengulurkan
diri.

19