Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH PERENCANAAN PAJAK

FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKAT AGRESIVITAS PAJAK


DALAM PERUSAHAAN

Oleh :
Bani Alkausar

156020301111004

PROGRAM MAGISTER AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSIAS BRAWIJAYA
2016

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perusahaan sebagai salah satu wajib pajak memiliki kewajiban dalam membayar
pajak yang besarnya dihitung dari laba bersih yang diperolehnya. Semakin besar pajak
yang dibayarkan maka penerimaan negara akan semakin besar. Namun antara pihak
pemerintah dan wajib pajak (perusahaan) memiliki kepentingan yang berbeda. Dari
pihak pemerintah menginginkan agar wajib pajak dapat maksimal dalam membayar
pajak, namun dari segi wajib pajak perusahaan ingin mengefisienkan beban pajaknya
sehingga memperoleh keuntungan yang lebih besar dalam rangka menyejahterakan
pemilik dan untuk keberlanjutan hidup perusahaan (going concern). Mangoting (1999)
dalam Maretta (2013) menyatakan bahwa bagi perusahaan, pajak dianggap sebagai
biaya, sehingga perlu dilakukan usaha-usaha atau strategi-strategi tertentu untuk
menguranginya. Usaha-usaha atau strategi-strategi yang dilakukan merupakan bagian
dari tax planning. Tujuan yang diharapkan dengan adanya tax planning ini adalah
meminimalkan pajak terutang untuk mencapai laba yang optimal.
Penghematan pajak dapat dilakukan dengan cara legal (tax avoidance) maupun
secara illegal (tax evasion). Maretta (2013) menyatakan agresivitas pajak merupakan
keinginan perusahan untuk meminimalkan beban pajak melalui aktivitas tax planning
dengan tujuan untuk memaksimalkan nilai perusahaan. Aktivitas tax planning
dilakukan melalui cara yang legal, ilegal, maupun kedua-duanya. Jadi, agresivitas
pajak merupakan perilaku wajib pajak yang memiliki kecenderungan untuk
menghindari pajak agar beban pajak yang akan dibayarkan minimal.
Kasus agresivitas pajak tidak hanya dijumpai di Indonesia namun diseluruh dunia.
Hal ini telah diucapkan oleh Basri saat ditemui oleh majalah Tempo disela-sela acara "
6th Meeting of the Global Forum on Transparency and Exchange of Information for
Tax Purposes ", ia mengatakan bahwa penghindaran pajak tidak hanya menjadi
masalah di Indonesia, namun di semua negara. Ada perusahaan-perusahaan besar
dengan sistem yang seolah-olah dapat memindahkan pembayaran pajak ke negara lain
dan pada akhirnya perusahaan tersebut tidak membayar pajak (www.tempo.com).

Di Indonesia, salah satu kasus agresivitas pajak dengan melakukan penghindaran


pajak (tax avoidance) dilakukan oleh Toyota Motor Manufacturing Indonesia
(TMMIN) . Pada tahun 2004 TMMIN melakukan restrukturisasi perusahaan. Setelah
adanya restrukturisasi tersebut laba sebelum pajak (gross margin) TMMIN menjadi
lebih kecil yang awalnya laba sebelum pajak selalu mengalami peningkatan antara
11% hingga 14%, setelah restrukturisasi laba sebelum pajak hanya sebesar 7%. Dengan
laba sebelum pajak yang lebih kecil maka beban pajak yang ditanggung juga akan
semakin kecil.Dalam pemeriksaan oleh pihak fiskus ditemukan bahwa terjadi transfer
pricing yang tidak wajar dengan perusahaan afiliasi di Singapura (kontan.co.id).
Sedangkan kasus agresivitas pajak dengan melakukan penggelapan pajak (tax
evasion) dilakukan oleh PT.Asian Agri Group (AAG). AAG melakukan transfer
pricing ke perusahaan afliasi di luar negeri dengan harga di bawah harga pasar untuk
kemudian dijual lagi ke pembeli riil dengan harga tinggi. Dengan begitu beban pajak di
dalam negeri bisa ditekan. Selain itu, perusahaan-perusahaan luar negeri yang menjadi
rekanan AAG sebagian adalah perusahaan fiktif. Berdasarkan pemeriksaan dari pihak
fiskus, ditemukan terjadinya penggelapan pajak yang berupa penggelapan pajak
penghasilan (PPh) dan pajak pertambahan nilai (PPN). Pada tahun 2002-2005 terdapat
Rp 2,62 triliun penyimpangan pencatatan transaksi. Yaitu, penggelembungan biaya
perusahaan hingga 1,5 triliun, mendongkrak kerugian dari transaksi ekspor Rp 232
miliar, dan mengecilkan hasil penjualan sebesar Rp 889 miliar. (www.tempo.com).
Berdasarkan data pajak yang disampaikan oleh Dirjen Pajak pada tahun 2012
terdapat 50,9% perusahaan Penanaman Modal Asing yang melaporkan nihil nilai
pajaknya, perusahaan tersebut diketahui mengalami kerugian selama 7 tahun berturutturut. Perusahaan tersebut umumnya bergerak dalam bidang manufaktur dan
pengolahan bahan baku (Dirjen Pajak, 2013). Hal ini berpotensi merugikan negara
karena menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) selama lima tahun berturut-turut
penerimaan negara yang berasal dari pajak lebih dari 70% , sehingga dapat dikatakan
bahwa pajak mempunyai peranan yang penting untuk perekonomian negara serta
kemakmuran rakyat bergantung pada pajak itu sendiri. Semakin patuh seorang wajib
pajak memenuhi kewajiban perpajakannya maka akan semakin besar penerimaan
negara yang berasal dari pajak dan digunakan untuk kepentingan sebesar-besarnya bagi
kemakmuran rakyat.

Dari kasus agresivitas pajak tersebut, kemungkinan tujuan perusahaan untuk


memaksimalkan nilai perusahaan tidak akan tercapai, jika pihak fiskus mengetahui
tindakan agresif terhadap pajak dan melakukan pemeriksaan pajak. Dengan adanya
pemeriksaan pajak, citra perusahaan akan buruk dimata publik karena dianggap tidak
memenuhi kewajibannya sebagai warga negara. Ini merupakan tanggung jawab
manajemen perusahaan (agent) sebagai perantara yang mewakili prinsipal agar nilai
perusahaan maksimal (Jensen dan Meckling, 1976). Namun, antara pihak prinsipal
(pemegang saham) dan pihak agen (manajemen) sering terjadi perbedaan kepentingan.
Pemegang saham akan fokus pada peningkatan nilai sahamnya sedangkan manajer
fokus pada pemenuhan kepentingan pribadi.
Dalam teori keagenan Jensen dan Meckling (1976) menyatakan bahwa perusahaan
yang memisahkan fungsi pengelolaan dengan fungsi kepemilikan akan rentan terhadap
agency conflct. Konflik kepentingan yang terjadi antara manajer dan pemegang saham
dapat diminimumkan dengan suatu mekanisme pengawasan yang dapat mensejajarkan
kepentingan yang terkait tersebut. Akibat dari munculnya mekanisme pengawasan
tersebut menyebabkan timbulnya suatu biaya yang disebut agency cost.
Salah satu cara untuk mengurangi agency cost adalah dengan meningkatkan
kepemilikan saham oleh pihak manajemen (Jensen dan Meckling, 1976). Analisisnya
menyatakan bahwa proporsi kepemilikan saham yang dikontrol oleh manajer dapat
mempengaruhi kebijakan-kebijakan perusahaan. Selain itu, kepemilikan manajerial
akan mensejajarkan kepentingan manajemen dan pemegang saham, sehingga pihak
manajemen akan merasakan langsung manfaat dari keputusan yang diambil dengan
benar dan akan merasakan kerugian sebagai konsekuensi dari pengambilan keputusan
yang salah (Sari, 2010). Penelitian mengenai pengaruh kepemilikan manajerial
terhadap agresivitas pajak pernah diteliti oleh Hartadinata dan Tjaraka (2013), hasil
penelitian tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi kepemilikan manajerial maka
semakin rendah tingkat keagresifan terhadap pajak.
Selain kepemilikan manajerial, tindakan agresivitas pajak juga bisa muncul dari
berbagai faktor lain. Salah satunya adalah foreign operation yang cenderung
melakukan transfer pricing dengan tujuan meminimalkan beban pajak. Dalam PSAK
10 (2010:10.1) kegiatan usaha luar negeri (foreign operation) yaitu, suatu anak
perusahaan (subsidiary), perusahaan asosiasi (associates), usaha patungan (joint

venture) atau cabang perusahaan pelapor, yang aktivitasnya dilaksanakan di suatu


negara di luar negara perusahaan pelapor. Foreign operation dapat disebut sebagai
perusahaan multinasional.
Menurut Suandy, Erly (2013:70) perusahaan multinasional adalah perusahaan yang
beroperasi melewati lintas batas antarnegara, yang terikat hubungan istimewa, baik
karena penyertaan modal saham, pengendalian manajemen atau penggunaan teknologi;
dapat berupa anak perusahaan, cabang perusahaan, agen dan sebagainya, dengan
berbagai tujuan, antara lain untuk memaksimalkan laba setelah pajak (meminimalkan
pajak).
Cravens (1997) menyatakan sebesar 51% dari 542 sampel perusahaan
multinasional (179 perusahaan yang diidentifikasi dari The World Directory of
Multinationals dan 363 perusahaan yang terdaftar di US stock exchanges) melakukan
transfer pricing dengan tujuan untuk hal-hal yang berkaitan dengan pajak, terutama
me-manage beban pajak. Di Indonesia penelitian mengenai foreign operation
dilakukan oleh Kamila dan Martani (2014), hasil penelitian tersebut adalah foreign
operation tidak berhubungan langsung dengan manajemen laba melainkan dengan
manajemen pajak, hal tersebut dikarenakan perusahaan yang memiliki operasi di luar
negeri memang diyakini memiliki insentif lebih untuk melakukan manajemen pajak,
yaitu adanya perbedaan tarif pajak antar negara sehingga perusahaan dapat melakukan
income shifting dari negara yang memiliki tarif pajak tinggi ke negara yang memiliki
tarif pajak rendah.
Faktor lain yang diprediksi dapat meyebabkan agresivitas pajak adalah faktor
keuangan. Dalam penelitian ini, faktor keuangan yang digunakan adalah leverage dan
profitabilitas. Leverage menunjukkan penggunaan utang untuk membiayai investasi
(Sartono, 2002). Leverage merupakan rasio yang mengukur seberapa jauh perusahaan
menggunakan utang dalam pendanaan kegiatan operasionalnya. Semakin banyak
perusahaan menggunakan utang sebagai pembiayaan operasional perusahaan maka
perusahaan akan semakin menghemat pajak. Karena bunga pinjaman tersebut dapat
dikurangkan dalam menghitung penghasilan kena pajak. Hal tersebut tercantum dalam
Undang Undang Nomor 36 Tahun 2008 Tentang Pajak Penghasilan Pasal 6 Ayat 1
Huruf (a).

Pengaruh leverage terhadap agresivitas pajak perusahaan sebelumnya pernah


diteliti oleh Suyanto (2012) , hasil penelitiannya adalah leverage perusahaan
manufaktur berpengaruh positif dan signifikan terhadap agresivitas pajak perusahaan,
atau dengan kata lain adanya pengaruh yang kuat antara leverage perusahaan terhadap
tingkat agresivitas pajak perusahaan, dimana semakin tinggi leverage maka semakin
tinggi agresivitas pajak perusahaan.
Faktor keuangan selanjutnya adalah profitabilitas. Secara umum profitabilitas
diukur menggunakan rasio Return On Asset (ROA). Gibson (2007:285) dalam
Tjahyono (2014) menyebutkan bahwa ROA mengukur kemampuan perusahaan untuk
memanfaatkan

aset

perusahaan

untuk

menciptakan

keuntuangan

dengan

membandingkan keuntungan dengan aset yang menghasilkan laba. Semakin tinggi


rasio tersebut berarti profitabilitas perusahaan semakin tinggi, dan semakin tinggi pula
laba perusahaan. Semakin besar laba yang diperoleh maka akan semakin besar beban
pajak yang akan dibayarkan, sehingga hal tersebut menjadi faktor perusahaan untuk
melakukan tax planning agar beban pajak yang akan dibayarkan minimal. Tindakan
manusia yang didorong oleh faktor eksternal dan faktor eksternal ini terkait dengan
teori atribusi.
Perusahaan yang memiliki profitabilitas tinggi memiliki kesempatan untuk
memposisikan diri dalam tax planning yang mengurangi jumlah beban kewajiban
perpajakan (Chen et al., 2010 dalam Kurniasih dan Sari, 2013). Kurniasih dan Sari
(2013) telah melakukan penelitian mengenai profitabilitas dan pengaruhnya terhadap
tax avoidance, penelitian tersebut menggunakan rasio return on asset. Hasil penelitian
tersebut menunjukkan bahwa profitabilitas berpengaruh signifikan secara simultan dan
parsial terhadap tax avoidance.
Penelitian ini merupakan penelitian lanjutan berdasarkan penelitian sebelumnya
untuk mengetahui bagaimana variabel-variabel dalam penelitian sebelumnya
berpengaruh terhadap agresivitas pajak. Berdasarkan pertimbangan penelitian
sebelumnya, peneliti disini memilih variabel kepemilikan manajerial, leverage, foreign
operation, dan profitabilitas sebagai variabel yang akan diteliti lebih lanjut bagaimana
pengaruhnya terhadap tingkat agresivitas pajak.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas yang menjadi rumusan masalah di penulisan ini adalah
sebagai berikut :
1. Bagaimana variabel kepemilikan manajerial, leverage, foreign operation, dan
profitabilitas mempengaruhi tingkat agresivitas pajak dalam perusahaan?
C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah diatas yang menjadi tujuan penulisan adalah :
1. Mengetahui bagaimana variabel kepemilikan manajerial, leverage, foreign
operation, dan profitabilitas mempengaruhi tingkat agresivitas pajak dalam
perusahaan?

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. LANDASAN TEORI
1. Agency Theory
Menurut Jensen dan Meckling (1976) agency theory adalah teori yang menjelaskan
agency relationship dan masalah-masalah yang ditimbulkannya. Pada agency theory
yang disebut prinsipal adalah pemegang saham dan yang dimaksud agen adalah
manajemen yang mengelola perusahaan. Menurut Kim, Nofsinger, dan Mohr (2010)
dalam Hidayanti (2013) pada umumnya terdapat pemisahan antara pemilik perusahaan
(investor) dengan manajemen yang akan mempengaruhi pertumbuhan dari bisnis suatu
perusahaan. Adanya pemisahan kepemilikan antara pemilik perusahaan dengan
manajemen yang menjalankan perusahaan akan menimbulkan konflik di dalam
perusahaan. Konflik tersebut biasanya muncul karena perbedaan kepentingan antara
pihak manajemen dengan pemilik perusahaan.
2. Teori Tindakan Beralasan (Theory of Reasoned Action)
Theory of Reasoned Action atau biasa disebut TRA dikembangkan oleh Icek Ajzen
dan Martin Fishbein (1980). TRA menjelaskan bahwa perilaku dilakukan karena
individu mempunyai niat atau keinginan untuk melakukannya (behavioralintention).
Asumsi theory of reasoned action adalah manusia berperilaku dengan cara yang sadar,
bahwa mereka mempertimbangkan informasi yang tersedia, dan secara implisit dan
eksplisit juga mempertimbangkan implikasi dari tindakan yang dilakukan tersebut.
Dalam lingkungan bisnis, wajib pajak akan memiliki niat atau keinginan untuk
meminimalkan beban pajak dengan mempertimbangkan informasi yang tersedia,
karena beban pajak merupakan pembiayaan bagi perusahaan yang dapat mengurangi
laba perusahaan. Tolok ukur penilaian kinerja keuangan perusahaan dilihat dari laba,
jika laba kecil investor akan menilai bahwa kinerja perusahaan kurang baik,
lingkungan seperti ini akan mempengaruhi wajib pajak untuk agresif terhadap pajak.
3. Teori Ekonomi Bawah Tanah (Underground/Black Theory)
Beberapa pengertian tentang ekonomi bawah tanah diungkapakan oleh beberapa
ahli, diantaranya diungkapkan oleh Friedrich Schneider dan Bruno S. Frey serta Sam
Faknin. Menurut Friedrich dan Bruno, ekonomi bawah tanah terdiri dari semua

kegiatan produktif yang tidak tercatat yang seharusnya menjadi produk nasional.
Beberapa dari aktivitas tersebut legal, namun bukan merupakan objek pajak karena
tidak terukur oleh statistik yang resmi. Aktivitas lain merupakan legal dalam
perpajakan namun menghindari pajak. Pada akhirnya aktivitas ilegal (seperti produksi
dan distribusi obat-obatan) tidak dikenai pajak. Sedangkan menurut Sam, ekonomi
bawah tanah terdiri dari dua aktivitas, yaitu 1) Aktivitas yang legal yang tidak
dilaporkan pada fiskus dan pendapatan dari aktivitas tersebut tidak dilaporkan dan
tidak dibayar pajaknya, 2) Akivitas ilegal yang tidak perlu dilaporkan ke pemerintahan.
Dari dua definisi tersebut, Cahyadi (2006) menyimpulkan bahwa teori ekonomi
bawah tanah merupakan kegiatan produktif baik itu legal maupun ilegal yang tidak
tercatat baik dalam data produk nasional bruto maupun dalam administrasi otoritas
perpajakan. Ekonomi bawah tanah merupakan kegiatan agresif terhadap pajak karena
tidak melaporkan aktivitas produksi yang seharusnya dikenai pajak. Cahyadi (2006)
menyatakan dengan tidak mempunyai otoritas perpajakan memantau sumber-sumber
penerimaan yang menjadi dasar pengenaan pajak terutama yang berkaitan dengan
kegiatan informal, kriminal, dan transaksi dengan uang kas, dapat mendorong para
pelaku untuk mengambil keuntungan dengan cara menghindari pengenaan pajak.
4. Agresivitas Pajak
Frank, lynch, dan Rego (2006) dalam Hidayanti (2013) mendefinisikan agresivitas
pajak sebagai manajemen ke bawah dari kegiatan kena pajak penghasilan melalui
perencanaan pajak, mengelola pajak merupakan bagian penting dari pekerjaan seorang
manajer, karena pajak merupakan biaya yang signifikan untuk perusahaan dan
pemegang saham. an penghematan pajak yang akan dilakukan. Tindakan pajak agresif
erat kaitannya dengan aktivitas perlawanan terhadap pajak. Ada dua bentuk perlawanan
pajak yang dilakukan oleh warga negara menurut R. Santoso Brotihardjo (1993:13-14)
dalam Pohan (2013:23), yaitu perlawanan pasif dan perlawanan aktif. Dalam kaitannya
dengan perlawanan aktif, menurut Pohan (2013:23) ada beberapa modus yang biasanya
digunakan wajib pajak untuk menghindari pajak, yakni : 1. Tax Avoidance 2. Tax
Evasion 3. Tax Saving. Tingkat agresivitas pajak disini diukur berdasarkan tingkat ETR
sehingga semakin rendah tingkat ETR perusahaan maka semakin agresif pula
perusahaan terhadap pajak.

5. Keuntungan dan Kerugian Agresivitas Pajak


Dalam mengambil keputusan untuk melakukan tindakan agresif terhadap pajak,
pihak manajemen akan mempertimbangkan keuntungan dan kerugian dari tindakan
tersebut. Menurut Chen et al. (2010) dalam Fatharani (2012), ada tiga keuntungan yang
diperoleh jika melakukan tindakan pajak agresif, yaitu:
1) Penghematan pajak yang akan dibayarkan perusahaan kepada negara, sehingga
jumlah kas yang dinikmati pemilik/pemegang saham dalam perusahaan
menjadi lebih besar.
2) Keuntungan bagi manajer baik secara langsung maupun tidak langsung,
manajer bisa mendapatkan kompensasi yang lebih tinggi atas kinerjanya yang
menghasilkan beban pajak perusahaan yang harus dibayarkan menjadi lebih
rendah.
3) Keuntungan bagi manajer adalah mempunyai kesempatan untuk melakukan
rent extraction. Rent extraction adalah suatu tindakan manajer yang tidak
memaksimalkan kepentingan pemilik, tindakan ini dapat berupa penyusunan
laporan keuangan yang agresif, mengambil sumber daya atau aset perusahaan
untuk kepentingan pribadi ataupun melakukan transaksi dengan pihak
istimewa.
Sedangkan kerugian dari melakukan tindakan agresif terhadap pajak menurut Desai
dan Dharmapala (2006), yaitu:
1) Kemungkinan perusahaan mendapatkan sanksi/penalti administrasi yang
dikenakan oleh petugas

pajak, yang merupakan akibat dari kemungkinan

dilakukannya audit dan ditemukannya kecurangan-kecurangan di bidang


perpajakan pada perusahaan.
2) Rusaknya reputasi perusahaan akibat audit dari fiskus pajak.
3) Penurunan harga saham dikarenakan pemegang saham lainnya mengetahui
tindakan pajak agresif yang dijalankan manajer dilakukan dalam rangka rent
extraction.
6. Kepemilikan Manajerial
Kepemilikan manajerial adalah kondisi yang menunjukkan bahwa manajer
memiliki saham dalam perusahaan atau manajer tersebut sekaligus sebagai pemegang
saham perusahaan. Pihak tersebut adalah mereka yang duduk di dewan komisaris dan

dewan direksi perusahaan (Rustiarini, 2011). Kepemilikan manajerial diukur dengan


proporsi saham yang dimiliki perusahaan pada akhir tahun dan dinyatakan dalam
presentase. Semakin besar proporsi kepemilikan manajemen dalam perusahaan maka
manajemen akan berusaha lebih giat untuk kepentingan pemegang saham yang
notabene adalah mereka sendiri. Sehingga terdapat insentif bagi manajer untuk
memaksimalkan nilai perusahaan ketika kepemilikan manajerialnya meningkat (Jensen
dan Meckling, 1976).
Prasetyo (2009) dalam Murniati (2012) berpendapat bahwa kepemilikan manajerial
dapat mengurangi masalah agensi karena kinerja manajer akan lebih baik seiring
dengan peningkatan kepemilikan saham dalam perusahaan tersebut. Manajer akan
berusaha lebih giat untuk memperbaiki kinerja perusahaan, yang akhirnya dapat
meningkatkan nilai perusahaan dan meningkatkan kekayaannya sendiri. Hartadinata
dan Tjaraka (2013) menyatakan semakin tinggi rasio kepemilikan manjerial maka akan
semakin rendah tingkat keagresifan perusahaan terhadap pajak.
7. Foreign Operation
Foreign operation dalam PSAK 10 (2010:10.1) adalah kegiatan usaha luar negeri
(foreign operation) yaitu, suatu anak perusahaan (subsidiary), perusahaan asosiasi
(associates), usaha patungan (joint venture) atau cabang perusahaan pelapor, yang
aktivitasnya dilaksanakan di suatu negara di luar negara perusahaan pelapor. Menurut
Suandy (2013:70) perusahaan multinasional adalah perusahaan yang beroperasi
melewati lintas batas antarnegara, yang terikat hubungan istimewa, baik karena
penyertaan modal saham, pengendalian manajemen atau penggunaan teknologi; dapat
berupa anak perusahaan, cabang perusahaan, agen dan sebagainya, dengan berbagai
tujuan, antara lain untuk memaksimalkan laba setelah pajak (meminimalkan pajak).
Perusahaan Multinasional dapat saja menggunakan transfer pricing yang lebih
rendah dari arm's length price (tingkat harga antara pembeli dan penjual independen,
bebas melakukan transaksi), untuk tujuan mengefisienkan beban pajaknya atau
menggunakan harga yang lebih tinggi dari arm's length price untuk tujuan-tujuan
tertentu. Namun demikian, apapun alasannya, apabila terjadi transaksi antar-grup yang
menyimpang dari arm's length price, apakah harga tersebut lebih rendah atau lebih
tinggi, hal ini disinyalir sebagai usaha untuk menggeser laba perusahaan dari satu grup

10

ke grup lainnya dan hal ini berarti pula bahwa pajak yang terutang di kedua grup yang
terlibat tersebut akan mengalami perubahan (Permatasari, 2004).
8. Leverage
Rasio leverage digunakan untuk menjelaskan penggunaan hutang untuk membiayai
sebagian dari pada aktiva korporasi. Leverage dihitung dari total hutang jangka
panjang dibagi dengan total aset yang tujuannya adalah menggambarkan struktur
modal perusahaan dan menangkap keputusan pembiayaan perusahaan. Tingkat
leverage perusahaan dapat menggambarkan risiko keuangan perusahaan. Hal ini
disebabkan karena leverage merupakan alat untuk mengukur seberapa besar
perusahaan bergantung pada kreditur dalam membiayai aset perusahaan (Maretta,
2013). Pembiayaan dengan hutang mempunyai pengaruh bagi korporasi karena hutang
mempunyai beban yang bersifat tetap. Penggunaan hutang memberikan subsidi pajak
atas bunga (Tampubolon, 2013:41).
9. Profitabilitas
Dalam setiap operasional perusahaan, yang menjadi tujuan utama dari usahanya
yaitu mencari keuntungan atau profitabilitas (Nugrahani, 2012) dalam Kurniasih dan
Sari. Profitabilitas adalah kemampuan manajemen untuk memperoleh laba. Laba terdiri
dari laba kotor, laba operasi, dan laba bersih (Utari, dkk., 2014:63). Profitabilitas dalam
penelitian ini menggunakan rasio Return on Assets (ROA). Rasio ini merupakan suatu
indikator yang mencerminkan performa keuangan perusahaan, semakin tingginya nilai
ROA yang mampu diraih oleh perusahaan maka performa keuangan perusahaan
tersebut dapat dikategorikan baik. Menurut Chen et al., (2010) dalam Kurniasih dan
Sari (2013) perusahaan yang memiliki profitabilitas tinggi memiliki kesempatan untuk
memposisikan diri dalam tax planning dengan tujuan untuk mengurangi jumlah beban
kewajiban perpajakan.

11

10. Kerangka Konseptual


Kepemilikan
Manajerial

Foreign
Operation

Agresivitas
Pajak

Leverage

Profitabilitas

BAB III
12

METODE PENELITIAN
A. Sumber Data
1. Jenis dan Sumber Data
Jenis data dalam penelitian ini adalah data kualitatif, sedangkan sumber data yang
digunakan adalah data sekunder. Data sekunder yang digunakan pada penelitian ini
diperoleh dari jurnal-jurnal atau penelitian-penelitian yang terkait dengan agresivitas
pajak yang dapat diunduh melalui scholar.google.co.id. Pencarian sumber data lain
seperti literatur terkait penelitian diakses melalui internet.
2. Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu:
a. Studi Pustaka
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan mengkaji
berbagai literatur seperti buku-buku, jurnal, artikel, hasil penelitian terdahulu
dan sumber-sumber lain yang berkaitan dengan topik pembahasan dalam
penelitian ini.
b. Studi Dokumentasi
Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu
mengumpulkan seluruh data sekunder dan informasi yang dibutuhkan terkait
masalah yang diteliti.
B. Metode Penulisan
Metode penulisan yang digunakan dalam makalah ini adalah dengan cara
melakukan studi literatur berupa jurnal-jurnal yang berkaitan dengan agresivitas pajak.
Kemudian hasil dari penelitian tersebut akan coba disimpulkan oleh penulis dan
dimasukkan kedalam pembahasan.
C. Teknik Analisis
Teknik analisis yang digunakan yaitu berupa studi literatur yang dilakukan oleh
penulis terhadap beberapa hasil penelitian terkait dengan agresivitas pajak yang
nantinya akan disimpulkan dan akan dilakukan pembahasan oleh penulis berdasarkan
teori yang ada di tinjuan pustaka dalam makalah ini.
BAB IV

13

PEMBAHASAN
A. Pembahasan
1. Kepemilikan Manajerial
Dalam teori keagenan Jensen dan Meckling (1976) menyatakan bahwa perusahaan
yang memisahkan fungsi pengelolaan dengan fungsi kepemilikan akan rentan terhadap
agency conflct. Konflik kepentingan yang terjadi antara manajer dan pemegang saham
dapat diminimumkan dengan suatu mekanisme pengawasan yang dapat mensejajarkan
kepentingan yang terkait tersebut. Akibat dari munculnya mekanisme pengawasan
tersebut menyebabkan timbulnya suatu biaya yang disebut agency cost.
Salah satu cara untuk mengurangi agency cost adalah dengan meningkatkan
kepemilikan saham oleh pihak manajemen (Jensen dan Meckling, 1976). Analisisnya
menyatakan bahwa proporsi kepemilikan saham yang dikontrol oleh manajer dapat
mempengaruhi kebijakan-kebijakan perusahaan. Selain itu, kepemilikan manajerial
akan mensejajarkan kepentingan manajemen dan pemegang saham, sehingga pihak
manajemen akan merasakan langsung manfaat dari keputusan yang diambil dengan
benar dan akan merasakan kerugian sebagai konsekuensi dari pengambilan keputusan
yang salah (Sari, 2010). Penelitian mengenai pengaruh kepemilikan manajerial
terhadap agresivitas pajak pernah diteliti oleh Hartadinata dan Tjaraka (2013), hasil
penelitian tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi kepemilikan manajerial maka
semakin rendah tingkat keagresifan terhadap pajak.
Namun ada beberapa penelitian lain yang justru menunjukkan bahwa kepemilikan
manajerial tidak mempengaruhi tingkat agresivitas dalam perusahaan. Hasil penelitian
ini variabel kepemilikan manajerial tidak berpengaruh terhadap agresivitas pajak
karena disinyalir kepemilikan saham oleh pihak manajemen relatif sedikit atau kurang
dari 20%.
Menurut Tarigan (2013) kepemilikan saham kurang dari 20% dari keseluruhan
saham yang dikeluarkan perseroan termasuk saham minoritas. Dengan kepemilikan
saham yang relatif sedikit, pemegang saham minoritas tidak memiliki kontribusi yang
cukup besar dalam RUPS terkait penentuan kebijakan perusahaan dalam peningkatan
kinerja/nilai perusahaan. Sesuai dengan Undang Undang Nomor 40 Tahun 2007 Pasal
7 Ayat 2 menyatakan bahwa pemegang saham perseroan meminta diselenggarakannya

14

Rapat Umum Pemegang Saham, sedangkan pemegang saham minoritas hanya sekedar
mengusulkan tanpa ada kewenangan untuk memutuskan diadakannya RUPS. RUPS
memiliki kewenangan tertinggi dalam perseroan.
Dalam RUPS direksi mengajukan laporan tahunan yang telah ditelaah oleh dewan
komisaris mengenai keadaan dan jalannya kegiatan usaha perseroan, hasil yang telah
dicapai, kegiatan utama, dan masalah-masalah yang timbul yang mempengaruhi
kegiatan usaha perseroan. Sedangkan mekanisme pengambilan keputusan atas laporan
yang telah diajukan berdasarkan pemungutan suara. Dalam pengambilan keputusan
dapat dipastikan bahwa pemegang saham minoritas akan selalu kalah dengan
pemegang saham mayoritas. Hal tersebut dikarenakan pola pengambilan keputusan
dalam RUPS didasarkan atas besarnya persentase saham yang dimiliki. Pemegang
saham minoritas memiliki beberapa kepentingan, diantaranya: a) Pihak pemegang
saham minoritas tidak mempunyai kewenangan untuk mengurus perusahaan karena
tidak mempunyai cukup suara untuk menunjukkan direktur atau komisarisnya sendiri.
b) Pemegang saham minoritas tidak memiliki kewenangan untuk melakukan hal-hal
yang penting baginya. c) Pemegang saham minoritas sama sekali tidak berdaya dalam
suatu perseroan karena selalu kalah suara dengan pemegang saham mayoritas dalam
RUPS selaku pemegang kekuasaan tertinggi.
Karena kepemilikan saham manajerial yang rendah pada perusahaan yang
menjadikan

pemegang

saham

minoritas

tidak

memiliki

kewenangan

untuk

memutuskan suatu kebijakan untuk perseroan dalam RUPS. Kebijakan yang dimaksud
adalah kebijakan untuk diterapkan di perusahaan, salah satu diantara kebijakan tersebut
dapat berupa kebijakan untuk agresif atau tidak agresif terhadap pajak dengan tujuan
untuk meminimalkan beban pajak. Oleh karena itu, kepemilikan manajerial bisa jadi
tidak mempengaruhi tingkat agresivitas pajak dalam perusahaan.
2. Leverage
Faktor lain yang diprediksi dapat meyebabkan agresivitas pajak adalah faktor
keuangan. Dalam penelitian ini, faktor keuangan yang digunakan adalah leverage dan
profitabilitas. Leverage menunjukkan penggunaan utang untuk membiayai investasi
(Sartono, 2002). Leverage merupakan rasio yang mengukur seberapa jauh perusahaan
menggunakan utang dalam pendanaan kegiatan operasionalnya. Semakin banyak
perusahaan menggunakan utang sebagai pembiayaan operasional perusahaan maka

15

perusahaan akan semakin menghemat pajak. Karena bunga pinjaman tersebut dapat
dikurangkan dalam menghitung penghasilan kena pajak. Hal tersebut tercantum dalam
Undang Undang Nomor 36 Tahun 2008 Tentang Pajak Penghasilan Pasal 6 Ayat 1
Huruf (a).
Pengaruh leverage terhadap agresivitas pajak perusahaan sebelumnya pernah
diteliti oleh Suyanto (2012) , hasil penelitiannya adalah leverage perusahaan
manufaktur berpengaruh signifikan terhadap agresivitas pajak perusahaan, atau dengan
kata lain adanya pengaruh yang kuat antara leverage perusahaan terhadap tingkat
agresivitas pajak perusahaan, dimana semakin tinggi leverage maka semakin tinggi
agresivitas pajak perusahaan.
Namun dari penelitian lain ada yang menunjukkan bahwa leverage tidak
mempengaruhi agresivitas pajak. Hal ini disebabkan karena tingkat leverage
perusahaan tinggi maupun rendah perusahaan akan tetap agresif terhadap pajak.
Sehingga dianggap bahwa leverage disini tidak mempengaruhi tingkat agresivitas
pajak dalam perusahaan.
Hal tersebut dikarenakan beberapa sifat manusiawi yang tidak bisa dihindari yaitu:
1) kalau bisa tidak membayar pajak sama sekali, 2) kalau tidak bisa tidak membayar
pajak sama sekali, mereka akan mengurangi pembayaran pajaknya dengan tidak
melanggar Undang Undang perpajakan, 3) kalau bisa waktu pembayaran pajak digeser,
4) kalau ketiga cara tersebut tidak bisa dilakukan, baru membayar pajak.
Selain itu, sesuai dengan definisi pajak, yaitu pemungutan pajak bersifat memaksa
dan wajib pajak badan tidak mendapatkan imbalan secara langsung. Sehingga wajib
pajak tetap melakukan tindakan agresif terhadap pajak (penghematan beban pajak)
walaupun tingkat hutang tinggi maupun rendah. Bagi perusahaan pembayaran beban
pajak dapat mengurangi cahsflow perusahaan. Sedangkan,

Cash

flow

memiliki

fungsi penting dalam perusahaan yaitu untuk memenuhi kebutuhan perusahaan seharihari, pembayaran hutang kepada kreditur apabila jatuh tempo, untuk berjaga-jaga
untuk pengeluaran yang tak terduga, serta untuk menghindari penurunan daya beli
ketika terjadi inflasi. Jika cashflow perusahaan berkurang, maka biaya perusahaan
untuk pemenuhan segala kebutuhan juga akan terganggu. Sehingga perusahaan akan
meminimalkan beban pajak agar cashflow tetap stabil.
3. Foreign Operation

16

Berdasarkan beberapa penelitian yang ada foreign operation disinyalir bisa


mempengaruhi tingkat agresivitas pajak dalam perusahaan. Dari berbagai hasil
penelitian menunjukkan bahwa variabel foreign operation pada perusahaan manufaktur
yang menjadi sampel penelitian memiliki pengaruh yang signifikan terhadap
agresivitas pajak, hal ini menandakan bahwa perusahaan yang memiliki anak
perusahaan di luar negeri memiliki nilai ETR rendah. Hal tersebut menunjukkan bahwa
perusahaan yang memiliki anak di luar negeri agresif terhadap pajak. Tindakan agresif
tersebut dilakukan dengan melakukan transfer pricing. Transfer pricing merupakan
kebijakan perusahaan dalam menentukan harga transfer suatu transaksi baik itu barang,
harta, jasa, harta tak berwujud, ataupun transaksi finansial yang dilakukan oleh
perusahaan, secara peyoratif transfer pricing merupakan upaya untuk menghemat pajak
dengan taktik menggeser laba ke negara yang tarif pajaknya rendah (tax heaven
countries). Transfer pricing dibedakan menjadi dua, yaitu intra company dan inter
company transfer pricing. Intra company transfer pricing merupakan transfer pricing
antar divisi dalam satu perusahaan. Sedang inter company transfer pricing merupakan
transfer pricing antara dua perusahaan yang memiliki hubungan istimewa.
Pengertian hubungan istimewa menurut Undang Undang Dasar Nomor 36 Tahun
2008 Pasal 18 adalah hubungan istimewa dianggap ada apabila: a) Wajib pajak
mempunyai penyertaan modal langsung atau tidak langsung paling rendah 25% (dua
puluh lima persen) pada wajib pajak lain; hubungan antara wajib pajak dengan
penyertaan paling rendah 25% (dua puluh lima persen) pada dua wajib pajak atau
lebih; atau hubungan di antara dua wajib pajak atau lebih yang disebut terakhir. b)
Wajib pajak menguasai wajib pajak lainnya atau dua atau lebih wajib pajak berada di
bawah penguasaan yang sama baik langsung maupun tidak langsung. c) terdapat
hubungan keluarga baik sedarah maupun semenda dalam garis keturunan lurus
dan/atau ke samping satu derajat.
Perusahaan yang memiliki hubungan istimewa (grup, anak perusahaan) di luar
negeri memiliki kecenderungan melakukan transfer pricing untuk meminimalkan
beban pajak. Pada penelitian ini perusahaan sampel yang memiliki anak perusahaan di
luar negeri, berada pada kawasan tax heaven countries yaitu, The Netherlands, British
Virgin Island, Mauritius, dan Singapura. Sehingga bentuk transfer pricing yang dapat
dilakukan adalah menggeser laba ke anak perusahaan tersebut. Penggeseran laba

17

dilakukan dengan penjualan barang oleh perusahaan di Indonesia ke perusahaan di luar


negeri yang masih merupakan grup yang berada di negara yang tarif pajaknya rendah,
barang tersebut dijual dengan harga di bawah harga wajar. Dari perusahaan yang
berada di negara yang tarif pajaknya rendah di jual kepada pihak lain yang bukan
merupakan grup (independen) dengan harga wajar. Sehingga perusahaan di tax heaven
country akan mendapatkan laba atas penjualan tersebut, namun tidak dipungut pajak
atau dikenakan pajak lebih rendah. Sedangkan keuntungan dari perusahaan yang ada di
Indonesia berkurang dan beban pajaknya pun berkurang.
Jadi, transfer pricing dalam kasus ini dilakukan dengan penggeseran laba pada
perusahaan anak yang berada di tax heaven country, hal tersebut bertujuan untuk
meminimalkan laba sebelum pajak yang akan berdampak pada penghematan beban
pajak. Hal ini berdasarkan penelitian Kamila dan Martani (2014) yang menyatakan
perusahaan yang memiliki operasi di luar negeri diyakini memiliki insentif lebih untuk
melakukan manajemen pajak, hal ini dikarenakan adanya perbedaan tarif pajak antar
negara sehingga perusahaan dapat melakukan income shifting dari negara yang tarif
pajaknya tinggi ke negara yang memiliki tarif pajak rendah.
4. Profitabilitas
Berdasarkan beberapa penelitian yang dilakukan tingkat profitabilitas perusahaan
dianggap bisa mempengaruhi tingkat agresivitas pajak. Dari beberapa hasil pengujian
menunjukkan profitabilitas berpengaruh signifikan terhadap agresivitas pajak dengan
koefisien regresi negatif, ini menunjukkan semakin tinggi rasio profitabilitas maka
semakin rendah nilai ETR. Jadi, semakin tinggi rasio profitabilitas maka menunjukkan
bahwa perusahaan semakin agresif terhadap pajak.
Laporan laba rugi komprehensif terdiri dari laba sebelum pajak dan laba bersih
setelah pajak. Laba sebelum pajak digunakan untuk menentukan besarnya beban pajak,
yaitu tarif 25% dari laba sebelum pajak. Apabila laba sebelum pajak perusahaan
semakin tinggi maka beban pajak perusahaan juga semakin tinggi. Sedangkan
perusahaan memiliki pengeluaran-pengeluaran untuk kesejahteraan pemegang saham
dan juga bonus untuk karyawan. Dengan adanya pengeluaran tersebut manajemen
perusahaan akan muncul pemikiran untuk meminimalkan beban pajak dengan
memanfaatkan insentif pajak dan pengurang pajak yang lain. Hal ini terkait dengan

18

teori atribusi yang menyatakan bahwa individu melakukan suatu hal karena adanya
sebab yang berasal dari faktor internal maupun faktor eksternal.
Dengan meminimalkan beban pajak, maka laba perusahaan akan lebih tinggi
dibandingkan dengan tidak melakukan agresivitas pajak. Dengan laba yang tinggi
maka pembagian dividen dan pemeberian bonus kepada karyawan akan terpenuhi
dengan baik. Oleh karena itu semakin tinggi profitabilitas, maka akan semakin rendah
nilai ETR perusahaan karena perusahaan melakukan tax planning. Chen, et al., 2010
dalam Kurniasih dan Sari 2013 menyatakan, perusahaan yang memiliki profitabilitas
tinggi memiliki kesempatan untuk memposisikan diri dalam tax planning yang baik
untuk mengurangi jumlah beban kewajiban perpajakan.
Hal ini sesuai dengan Theory of Reasoned Action atau biasa disebut TRA
dikembangkan oleh Icek Ajzen dan Martin Fishbein (1980). Dimana manajer ingin
menjaga kinerja keuangan dalam perusahaan dengan meminimalkan beban pajak dari
perusahaan maka laba setelah pajak yang dihasilkan oleh perusahaan akan semakin
tinggi. Sehingga penilaian investor akan kinerja perusahaan akan semakin baik juga.

19

BAB V
SARAN DAN KESIMPULAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan mengenai beberapa hasil penelitian terkait dengan
agresivitas pajak, penulis disini membuat beberapa kesimpulan yaitu :
1. Kepemilikan manajerial bisa mempengaruhi tingkat agresivitas pajak yang
didukung oleh teori agensi, namun kepemilikan manajerial ini bisa tidak
mempengaruhi tingkat agresivitas pajak pajak karena beberapa perusahaanperusahaan yang ada di Indonesia disinyalir merupakan perusahaan keluarga
sehingga kepemilikan manajerial dalam perusahaan tidak ada.
2. Leverage perusahaan bisa jadi tidak mempengaruhi tingkat agresivitas pajak
karena disebabkan oleh sifat dasar manusia, sehingga disini perushaan akan
selalu berusaha untuk meminimalkan beban pajaknya tanpa memperhatikan
tinggi rendahnya tingkat leverage perusahaan.
3. Foreign operation mempengaruhi tingkat agresivitas pajak, hal ini biasanya
dilakukan oleh perusahaan-perusahaan MNC (Multinational Corporate) dengan
cara melakukan transfer pricing untuk meminimalkan beban pajaknya.
4.

Profiabilitas mempengaruhi tingkat agresivitas pajak karena tujuan dari


manajer untuk meminimalkan beban pajak sehingga laba yang diperoleh
semakin tinggi dan kinerja perusahaan dimata investor menjadi baik.

B. Keterbatasan penulisan
Keterbatasan penulisan yang dihadapai penulis adalah Pengukuran agresivitas
pajak dalam beberapa penelitian yang diambil oleh penulis hanya menggunakan ETR
(Effective Tax Rate) saja, sehingga hanya melihat agresivitas pajak dari satu sudut
pandang saja yaitu dari sudut pandang sebelum pajak dibayarkan. Padahal ada
indikator untuk mengukur tingkat agresivitas pajak yang lainnya misalkan dengan
menggunakan BTD (Book Tax Difference)
C. Saran
1. Bagi Peneliti Selanjutnya

20

Bagi peneliti yang akan melakukan penelitian mengenai agresivitas pajak bisa
memilih untuk menggunakan indikator BTD (Book Tax Difference) sebagai
alternatif dalam mengukur tingkat agresivitas pajak.
2. Bagi regulator
a. Terkait dengan transfer pricing pemerintah harus bisa membuat peraturan
yang ketat untuk membatasi aktivitas transfer pricing yang sering dilakukan
oleh perusahaan yang memiliki cabang diluar negeri.
b. Pemerintah harus membuat kebijakan terkit sanksi yang berat apabila
perusahaan melakukan tindakan agresivitas pajak melalui tindakan tax
evasion.

21

DAFTAR PUSTAKA
Agus Sartono, R. 2002. Manajemen Keuangan : Teori dan Aplikasi. Edisi keempat.
Yogyakarta : BPFE.
Ajzen, Icek. 1991. The Theory of Planned Behavior. Organizational Behavior and Human
Decision Processe. University of Massachusetts at Amherst. USA. DOI: 07495978/91Vol. 50, 179 211
Cravens, S.K. (1997). Examining The Role Of Transfer Pricing As A Strategy For
Multinational Firms, International Business Review, 6 (2), 127-145.
http://dx.doi.org/10.1016/S0969-5931(96)00042-X
Hartadinata, Okta S dan Heru Tjaraka. 2013. Analisis Pengaruh Kepemilikan Manajerial,
Kebijakan Hutang, dan Ukuran Perusahaan terhadap Tax Aggressiveness. Jurnal
Ekonomi dan Bisnis Tahun XXIII No. 3 Desember 2013.
Hidayanti. 2013. Pengaruh Antara Kepemilikan Keluarga Dan Corporate Governance
Terhadap Tindakan Pajak Agresif. Jurnal Akuntansi dan Auditting.
Ikatan Akuntan Indonesia. (2010). Pernyataan Standar Akuntansi Kuangan No. 10 (revisi
2010) Transaksi Dalam Mata Uang Asing. Jakarta
Jensen, M. and Meckling, W. 1976. Theory of the Firm: Managerial Behavior Agency
Cost, and Ownership Structure. Journal of Finance Economics 3
Kamila, Putri Almainda dan Martani, Dwi. 2014. Analisis Hubungan Agresivitas Pelaporan
dan Agresivitas Pajak. Jurnal Akuntansi Multi Paradigma (JAMAL)
Kurniasih, T., & Sari, M. M. (2013). Pengaruh Profitabilitass, Leverage, Corporate
Governance, Ukuran Perusahaan, dan Kompensasi Rugi Fiskal pada Tax Avoidance.
Buletin Studi Ekonomi , 18, 58 - 66.
Permatasari. 2004. Transfer Pricing Sebagai Salah Satu Strategi Perencanaan Pajak Bagi
Perusahaan Multi Nasional. Jurnal Bina Ekonomi.
Pohan, Chairil Anwar. 2013. Manajemen Perpajakan. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka
Utama.
Rustiarini. 2011. Pengaruh Struktur Kepemilikan Saham pada Pengungkapan Corporate
Social Responsibility. AUDI (Jurnal Akuntansi dan Bisnis).
Sari, I. (2010). Pengaruh Mekanisme Corporate Governance Terhadap Kinerja Perbankan
Nasional, Skripsi Fakultas Ekonomi Univer-sitas Diponegoro Semarang.
Sekaran, Uma. 2007. Metodologi Penelitian untuk Bisnis. Jakarta: Salemba Empat.
Suandy, Erly. 2003. Perencanaan Pajak. Edisi 3. Jakarta : Salemba Empat.

22

Suharso, puguh. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif Untuk Bisnis : Pendekatan Filosofi
dan Praktis.
Suyanto, K.D., & Supramono. 2012. Likuiditas, Leverage, Komisaris Independen dan
Manajemen Laba terhadap Agresivitas Pajak Perusahaan. Jurnal Keuangan dan
Perbankan, 2 (16), 167-177.
Yenni Mangoting. 1999. Tax Planning : Sebuah Pengantar Sebagai Alternatif
Meminimalkan Pajak. Universitas Kristen Petra : Semarang.
Yoehana, Maretta. 2013. Analisis Pengaruh Corporate Social Responsibility Terhadap
Agresivitas Pajak. Semarang.
http://bisnis.tempo.co/read/news/2013/11/21/087531337/120-negara-bahas-masalahpenghindaran-pajak
http://nasional.kontan.co.id/news/sengketa-pajak-toyota-motor-menanti-palu-hakim
http://www.tempo.co/topik/lembaga/688/Asian-Agri-Group

23