Anda di halaman 1dari 35

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.

Latar belakang.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk dalam bidang
pengobatan merupakan hasil karsa dan karya manusia yang dihasilkan dengan
akalnya. Kemajuan pesat dalam bidang molekuler telah melahirkan beberapa
alternatif baru dalam usaha pengobatan dan memberikan harapan baru bagi
para penderita, bahkan untuk beberapa penyakit yang di masa lampau
mustahil untuk diobati, misalnya penyakit keturunan. Terapi gen merupakan
kemajuan teknologi yang cukup dapat memberikan harapan di bidang
pengobatan.
Penyakit-penyakit metabolik bawaan biasanya akibat tidak adanya gen
atau adanya kerusakan pada gen tertentu. Pengobatan yang paling radikal
adalah memberikan gen yang tepat, agar tubuh mampu membuat enzim atau
protein yang diperlukan, dengan demikian akar penyebab penyakit dapat
dihilangkan. Sejak ditemukan bahwa informasi genetik pada semua makhluk
hidup ternyata terdapat pada DNA, maka pengetahuan genetika dan biologi
molecular tumbuh dengan sangat pesat. Secara genetika sejumlah penyakit
keturunan telah diidentifikasi dan diharapkan gen penyebab dapat diklon dan
dikarakterisasi.

Dunia

pengobatan

merasakan

keuntungan

dengan

perkembangan biologi molekular melalui penemuan cara diagnosis dan


penemuan obat. Dengan cara memasukan gene terapetik kedalam sel pasien,
maka fungsi gen yang rusak digantikan oleh gen terapetik.
Terapi gen adalah teknik memperbaiki gen yang rusak atau cacat yang
bertanggungjawab atas timbulnya penyakit tertentu. Seorang ahli menyatakan
bahwa terapi gen merupakan teknologi masa kini yang membolehkan gen-gen
yang rusak diganti dengan gen-gen normal dimana kita menggunakan vektor
untuk menyisipkan DNA yang diingini ke dalam sel dan disuntikkan ke
dalam tubuh. Terapi ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 1990. Selama
ini pendekatan terapi gen yang berkembang adalah menambahkan gen-gen
normal ke dalam sel yang mengalami ketidaknormalan. Pendekatan lain

Terapi Gen untuk Penyembuhan Berbagai Penyakit 1

adalah melenyapkan gen abnormal dengan melakukan rekombinasi homolog.


Pendekatan ketiga adalah mereparasi gen abnormal dengan cara mutasi balik
selektif, sedemikian rupa sehingga akan mengembalikan fungsi gen tersebut.
Selain pendekatan-pendekatan tersebut, ada pendekatan lain untuk terapi gen
yaitu mengendalikan regulasi ekspresi gen abnormal tersebut.
Perkembangan terapi gen yang terkini untuk penyakit-penyakit adalah
lebih ke arah gagasan mencegah diekspresikannya gen-gen yang jelek atau
abnormal, atau dikenal dengan gene silencing. Untuk tujuan gene silencing
atau membungkam ekspresi gen tersebut, maka penggunaan RNA jika
dibandingkan dengan DNA lebih dimungkinkan, sehingga dikenal istilah
RNA therapeutic. Gagasan terapi gen dengan mereparasi mRNA (messenger
RNA) daripada mengganti gen yang cacat berarti menggunakan mekanisme
regulasi sel itu sendiri, sehingga efek samping yang merugikan lebih dapat
ditekan Setelah adanya laporan-laporan penelitian, maka dimulailah booming
dalam bisnis perusahaan-perusahaan yang berkaitan dengan riset RNA,
maupun perusahaan-perusahaan farmasi yang berharap RNA therapeutic ini
segera dapat diluncurkan sebagai sediaan obat. Namun, para pakar
memperkirakan masih sekitar tujuh sampai limabelas tahun lagi baru bias
terealisasi.
Terapi gen kini merupakan salah satu saran pengobatan yang dianjurkan
kepada penderita penyakit seperti kanker, HIV/AIDS, hemofilia, dan lainnya.
Oleh karna itu, makalah ini dibuat berdasarkan tinjauan terhadap
perkembangan biologi molecular dalam pengobatan farmasi klinis, dimana
terapi gen merupakan salah satu perkembangan dari biologi molekuler dalam
pengobatan.
1.2.

Rumusan masalah
a. Apakah yang dimaksud dengan terapi gen?
b. Bagaimana mekanisme kerja terapi gen?
c. Bagaimana prinsip-prinsip terapi gen ?
d. Bagaimana penanggulanan penyakit melalui beberapa gen oleh terapi gen?

Terapi Gen untuk Penyembuhan Berbagai Penyakit 2

1.3.

Tujuan.
Adapun tujuan dalam pembuatan makalah ini adalah:
a. Untuk mengetahui pengertian terapi gen.
b. Untuk mengetahui mekanisme kerja terapi gen.
c. Untuk mengetahui prinsip-prinsip terapi gen.
d. Untuk mengetahui penanggulanan penyakit melalui beberapa gen oleh
terapi gen?

1.4.

Manfaat.
Adapun manfaat yang diharapkan dari hasil penulisan makalah ini adalah
untuk meningkatkan pemahaman mengenai perkembangan biologi molekular
dan hubungannya dengan farmasi klinis.

BAB II
Terapi Gen untuk Penyembuhan Berbagai Penyakit 3

TINJAUAN PUSTAKA
2.1.

Sejarah Dari Terapi Gen


Pada awal 1970-an, para ilmuwan mengusulkan apa yang mereka sebut
"gen operasi" untuk mengobati penyakit warisan yang disebabkan oleh gen
yang cacat. Pada tahun 1983, sekelompok ilmuwan dari Baylor College of
Medicine di Houston, Texas, mengusulkan bahwa terapi gen suatu hari nanti
bisa menjadi pendekatan yang layak untuk mengobati penyakit Lesch-Nyhan,
gangguan neurologis langka. Para ilmuwan melakukan percobaan di mana
sebuah gen yang memproduksi enzim untuk memperbaiki penyakit itu
disuntikkan ke sekelompok sel. Para ilmuwan berteori sel-sel kemudian bisa
disuntikkan ke orang dengan penyakit Lesch-Nyhan.
Sebagai ilmu genetika maju sepanjang tahun 1980, terapi gen menjadi
suatu pijakan yang didirikan di benak para ilmuwan medis sebagai
pendekatan layak untuk pengobatan untuk penyakit tertentu. Namun, janjijanji yang lebih dari apa yang bisa memberikan. Salah satu impetuses utama
dalam pertumbuhan terapi gen adalah meningkatnya kemampuan untuk
mengidentifikasi kelainan genetik yang menyebabkan penyakit warisan.
Bunga tumbuh sebagai penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa cacat
genetik tertentu dalam satu atau lebih gen terjadi pada generasi-generasi
anggota keluarga tertentu yang menderita penyakit seperti kanker usus,
manik-depresi, penyakit Alzheimer , jantung penyakit, diabetes, dan banyak
lagi.. Meskipun gen mungkin bukan satu-satunya penyebab penyakit pada
semua kasus, mereka dapat membuat individu tertentu lebih rentan untuk
mengembangkan penyakit karena pengaruh lingkungan, seperti merokok,
polusi , dan stress Bahkan, banyak ilmuwan percaya bahwa semua penyakit
memiliki komponen genetik.
Meskipun gadis muda terus menunjukkan peningkatan kemampuan untuk
menghasilkan ADA, perdebatan muncul apakah perbaikan yang dihasilkan
dari terapi gen atau dari terapi obat tambahan yang ia terima. Namun
demikian, era baru terapi gen mulai ilmuwan karena semakin banyak dicari
untuk melakukan uji klinis di daerah ini. Pada tahun yang sama, terapi gen

Terapi Gen untuk Penyembuhan Berbagai Penyakit 4

diuji pada pasien yang menderita melanoma (kanker kulit). Tujuannya adalah
untuk membantu mereka memproduksi antibodi (zat memerangi penyakit
dalam sistem kekebalan tubuh) untuk melawan kanker.
Percobaan ini telah melahirkan semakin banyak upaya untuk memperbaiki
mengembangkan terapi gen baru. Sebagai contoh, gen terapi untuk cystic
fibrosis,

penyakit

yang

mempengaruhi

saluran

udara,

sedang

dikembangkan.Namun, karena komplikasi yang terlibat dalam menembus


hambatan alam yang menghambat masuknya virus ke dalam saluran udara,
tidak mungkin bahwa vektor saat ini digunakan untuk terapi gen cystic
fibrosis merupakan pendekatan yang masuk akal.Modifikasi vektor ini
dengan menambahkan senyawa yang secara alami mengikat ke daerah pada
selaput terluar dari pintu masuk paru-paru dan keuntungan ke dalam jaringan
saat ini sedang diselidiki. Pendekatan lain dikembangkan untuk mengobati
otak penderita kanker, di mana gen disisipkan dirancang untuk membuat selsel kanker lebih mungkin untuk merespon pengobatan obat. Selain itu, gen
terapi bagi pasien yang menderita penyumbatan arteri, yang dapat
menyebabkan stroke, yang menyebabkan pertumbuhan pembuluh darah baru
di dekat penyumbatan arteri meningkatkan sirkulasi darah normal juga
sedang diselidiki.
Di Amerika Serikat, baik berbasis DNA (in vivo) perlakuan dan berbasis
sel (ex vivo) perlakuan sedang diselidiki, terapi gen DNA berbasis
menggunakan vektor (seperti virus) untuk memberikan gen dimodifikasi
untuk menargetkan sel. Teknik gen Cell berbasis terapi menghapus sel-sel
dari pasien, yang diubah secara genetik dan kemudian memperkenalkan
mereka ke tubuh pasien.
Saat ini, gen terapi untuk penyakit berikut dikembangkan: cystic fibrosis
(menggunakan vektor adenoviral), infeksi HIV (berbasis sel), melanoma
ganas (sel-based), kanker ginjal (cellbased), Gaucher's Disease (vektor
retroviral), payudara kanker (vektor retroviral), dan kanker paru-paru (vektor
retroviral).
Para medis telah memberikan kontribusi untuk penelitian transgenik yang
didukung oleh dana pemerintah.

Pada tahun 1991, pemerintah AS

Terapi Gen untuk Penyembuhan Berbagai Penyakit 5

menyediakan $ 58.000.000 untuk penelitian gen terapi, dengan kenaikan


sebesar $ 15-40.000.000 dolar per tahun selama empat tahun berikutnya.
Dengan sengit persaingan atas janji manfaat kesehatan utama di samping
keuntungan yang besar, perusahaan farmasi besar pindah ke garis depan
penelitian transgenik.
Terapi gen adalah teknik eksperimental yang menggunakan gen untuk
mengobati atau mencegah penyakit gen. paling umum Bentuk terapi gen
melibatkan penyisipan gen normal untuk mengganti sebuah abnormal.
pendekatan lain termasuk: Gen abnormal untuk yang normal, Perbaikan gen
abnormal, Mengubah sejauh mana gen diaktifkan atau menonaktifkan.
2.2.

Perkembangan Terapi Gen


Selama 4 dekade terakhir, terapi gen telah pindah dari preklinik untuk studi
klinis untuk berbagai penyakit mulai dari gangguan resesif monogenik seperti
hemofilia terhadap penyakit yang lebih kompleks seperti kanker, gangguan
jantung, dan human immunodeficiency virus (HIV). Sampai saat ini, lebih
dari 1.340 uji klinis terapi gen telah selesai, sedang berlangsung, atau telah
disetujui di 28 negara, menggunakan lebih dari 100 gen. Kebanyakan dari
mereka uji klinis (66,5%) ditujukan untuk pengobatan kanker., kegagalan,
dan peristiwa tragis kini sebagian besar telah digantikan oleh kemajuan
stepwise yang diperlukan untuk menyadari manfaat klinis. Kita sekarang
lebih memahami kekuatan dan kelemahan dari vektor transfer berbagai gen,
ini memfasilitasi pilihan vektor yang tepat untuk penyakit individu.
Continuous kemajuan dalam pemahaman kita tentang biologi tumor telah
memungkinkan pengembangan strategi pengobatan elegan, lebih efisien, dan
kurang beracunDalam bab pendahuluan, kami meninjau sejarah terapi gen
sejak awal 1960-an dan hadir secara detail dua tema berulang utama dalam
terapi gen: (1) pengembangan sistem vektor dan pengiriman dan (2) desain
strategi untuk melawan atau menyembuhkan penyakit tertentu. Bidang terapi
kanker gen mengalami "remaja canggung." Meskipun bidang ini tentu belum
mencapai kematangan, masih memegang potensi meringankan penderitaan
banyak individu dengan kanker.

2.3.

Sejarah dan Masa Depan

Terapi Gen untuk Penyembuhan Berbagai Penyakit 6

Sebuah metode atau terapi di mana asam nukleat dipindahkan ke sel-sel


somatik, dalam rangka untuk mengobati penyakit tertentu, disebut sebagai
terapi gen. Selama mengekspresikan protein atau memperbaiki gen yang
cacat adalah dua perlakuan yang mungkin dalam terapi gen.
Sebuah terapi yang digunakan untuk mengobati kelainan genetik pada
manusia disebut sebagai terapi gen .Terapi gen memiliki potensi untuk
membawa perubahan besar dalam pengobatan berbagai penyakit dan
gangguan. Terapi bergantung pada penggantian gen sebagai solusi untuk
mengobati gangguan. Gen yang bertanggung jawab untuk penyakit akan
dihapus atau diganti dengan 'sehat' atau bekerja gen. Dengan demikian,
kebutuhan enzim atau protein tubuh terpenuhi.
Orang pertama yang diobati dengan terapi gen adalah seorang gadis
berusia empat tahun (nama tidak diketahui) dari Amerika Serikat. Kurangnya
produksi, dari adenosin deaminase (ADA), telah membuatnya sistem
kekebalan tubuh lemah. Dengan demikian, ia telah menjadi rentan terhadap
berbagai penyakit berat. Gadis itu dirawat pada 14 September 1990, di
National Institutes Kesehatan Klinis Center, Bathesda, Maryland. Dr W.
Perancis Anderson dan rekan-rekannya di pusat kesehatan, melakukan
proses.Sel darah putih yang diambil dari tubuh. Setelah implantasi gen yang
menghasilkan ADA, sel-sel ditransfer kembali ke tubuh gadis itu. perbaikan
yang cukup dalam sistem kekebalan tubuh gadis tersebut sudah diketahui.
Sementara itu, uji coba terapi gen terus berbagai penyakit. Para pasien
dengan kanker kulit, melanoma diperlakukan dengan cara terapi. Upaya
dilakukan untuk mengobati fibrosis kistik dengan terapi gen. cystic fibrosis
adalah penyakit yang mempengaruhi saluran udara hadir dalam sistem
pernapasan.Namun, proses menggunakan terapi gen rumit dalam kasus ini.

2.4.

Pengertian Terapi Gen.


Menurut Farida (2007), terapi gen adalah teknik untuk mengoreksi gengen yang cacat yang bertanggung jawab terhadap suatu penyakit. Terapi gen
atau gen therapy merupakan modifikasi materi genetik (DNA) dari sel untuk

Terapi Gen untuk Penyembuhan Berbagai Penyakit 7

tujuan pengobatan. Berbeda dengan pengobatan umumnya saat ini,


pengobatan ini dilakukan dengan cara mengubah struktur gen yang kemudian
disisipkan ke DNA target .
Tujuan dari terapi gen adalah untuk menambahkan, memperbaiki atau
menghilangkan ekspresi gen tertentu pada penyakit herediter dan non
herediter. Untuk membawa gen terapeutik diperlukan suatu vektor (Virus atau
non virus).
Dengan menggunakan sistem tersebut, klinik percobaan terapi gen
menunjukan bahwa terapi gen mampu mengobati beberapa jenis penyakit
diantaranya: penyakit kanker, peredaran darah, monogenik dan beberapa jenis
penyakit lainnya. Terapi gen merupakan pendekatan baru dalam pengobatan
kanker, yang saat ini masih bersifat eksperimental. Sejak mengetahui bahwa
kanker merupakan penyakit akibat mutasi gen, para ahli mulai berpikir bahwa
terapi gen tentu efektif untuk mengobatinya. Apalagi kanker jauh lebih
banyak penderitanya dibandingkan dengan penyakit keturunan akibat
kelainan genetis yang selama ini diobati dengan terapi gen.
Pada awalnya, terapi gen diciptakan untuk mengobati penyakit keturunan
(genetik) yang terjadi karena mutasi pada satu gen, seperti penyakit fibrosis
sistik. Penggunaan terapi gen pada penyakit tersebut dilakukan dengan
memasukkan gen normal yang spesifik ke dalam sel yang memiliki gen
mutan.
Terapi gen kemudian berkembang untuk mengobati penyakit yang terjadi
karena mutasi di banyak gen, seperti kanker. Selain memasukkan gen normal
ke dalam sel mutan, mekanisme terapi gen lain yang dapat digunakan adalah
melakukan rekombinasi homolog untuk melenyapkan gen abnormal dengan
gen normal, mencegah ekspresi gen abnormal melalui teknik peredaman gen,
dan melakukan mutasi balik selektif sehingga gen abnormal dapat berfungsi
normal kembali. Ada berbagai metode yang berbeda untuk mengganti atau
memperbaiki gen target dalam terapi gen.
Sebuah gen normal dapat dimasukkan ke lokasi yang spesifik dalam
genom untuk mengganti gen berfungsi. Pendekatan ini yang paling umum.
Sebuah gen abnormal bisa ditukar gen normal melalui rekombinasi homolog.

Terapi Gen untuk Penyembuhan Berbagai Penyakit 8

Gen abnormal bisa diperbaiki melalui mutasi reverse selektif, yang


mengembalikan gen berfungsi normal. Peraturan (sejauh mana gen diaktifkan
atau dimatikan) gen tertentu dapat diubah. Spindle transfer digunakan untuk
menggantikan seluruh mitokondria yang membawa DNA mitokondria cacat.
Terapi gen merupakan pendekatan baru dalam pengobatan kanker, yang
saat ini masih bersifat eksperimental. Sejak mengetahui bahwa kanker
merupakan penyakit akibat mutasi gen, para ahli mulai berpikir bahwa terapi
gen tentu efektif untuk mengobatinya. Apalagi kanker jauh lebih banyak
penderitanya dibandingkan dengan penyakit keturunan akibat kelainan
genetis yang selama ini diobati dengan terapi gen.
Saat ini para ilmuwan sedang mencoba beberapa cara kerja terapi gen
untuk pengobatan kanker:
a. Menambahkan gen sehat pada sel yang memiliki gen cacat atau tidak
lengkap. Contohnya, sel sehat memiliki gen penekan tumor seperti p53
yang mencegah terjadinya kanker. Setelah diteliti, ternyata pada
kebanyakan sel kanker gen p53 rusak atau bahkan tidak ada. Dengan
memasukkan gen p53 yang normal ke dalam sel kanker, diharapkan sel
tersebut akan normal dan sehat kembali.
b. Menghentikan aktivitas gen kanker (oncogenes). Gen kanker
merupakan hasil mutasi dari sel normal, yang menyebabkan sel tersebut
membelah secara liar menjadi kanker. Ada juga gen yang menyebabkan sel
kanker bermetastase (menjalar) ke bagian tubuh lain. Menghentikan
aktivitas gen ini atau protein yang dibentuknya, dapat mencegah kanker
membesar maupun menyebar.
c. Menambahkan gen tertentu pada sel kanker sehingga lebih peka terhadap
kemoterapi maupun radiasi, atau menghalangi kerja gen yang dapat
membuat sel kanker kebal terhadap obat-obat kemoterapi. Juga dicoba
cara lain, membuat sel sehat lebih kebal terhadap kemoterapi dosis tinggi,
sehingga tidak menimbulkan efek samping.
d. Menambahkan gen tertentu sehingga sel-sel tumor/kanker lebih mudah
dikenali dan dihancurkan oleh sistem kekebalan tubuh. Atau sebaliknya,

Terapi Gen untuk Penyembuhan Berbagai Penyakit 9

menambahkan gen pada sel-sel kekebalan tubuh sehingga lebih mudah


mendeteksi dan menghancurkan sel-sel kanker.
e. Menghentikan gen yang berperan dalam pembentukan jaringan pembuluh
darah baru (angiogenesis) atau menambahkan gen yang bisa mencegah
angiogenesis. Jika suplai darah dan makanannya terhenti, kanker akan
berhenti tumbuh, atau bahkan mengecil lalu mati.
f. Memberikan gen yang mengaktifkan protein toksik tertentu pada sel
kanker, sehingga sel tersebut melakukan aksi bunuh diri (apoptosis).
terapi gen dikelompokan sebagai berikut :
1. Terapi Gen Germ-Line
Terapi ini dimaksudkan untuk memasukkan gen ke dalam sel germ
atau sel embrioomnipoten. Dalam hal ini, sel-sel kuman yaitu sperma
dan sel telur dimodifikasi oleh pengenalan gen fungsional yang
biasanya diintegrasikan ke dalam genom mereka. Oleh karena itu,
perubahan akibat terapi akan diwariskan ke generasi berikutnya.
Namunatas dasar teknis dan etika, penerapan terapi dengan metode ini
masih belum dapat diaplikasikan pada manusia.
2. Terapi Gen Somatic
Dilakukan dengan memasukkan suatu gen kedalam sel somatik.
gen terapeutik dipindahkan ke dalam sel somatik pasien. Setiap
modifikasi dan efek dibatasi hanya pada pasien yang bersangkutan, dan
tidak diturunkan pada generasi berikutnya.
2.5.

Mekanisme Kerja Terapi Gen.

1. Terapi gen secara ex vivo dan in vivo


Transfer gen merupakan langkah penting dalam proses terapi gen. Gen
yang

akan

digunakan

mula-mula

diisolasi

dan

kemudian

di

transformasikan ke sel target dengan cara di kloning (Mohammad, 2008).

Terapi Gen untuk Penyembuhan Berbagai Penyakit 10

Gambar 1. Terapi gen secara ex vivo dan in vivo


Strategi utama dalam transfer gen somatik manusia dibedakan dalam
dua kelompok, yaitu : Ex vivo dan in vivo. Pada ex vivo, gen dibungkus
vektor kemudian dikenalkan ke sel yang diambil dari pasien (sel target)
dan dikembangkan secara invitro dan kemudian di transformasi ke sel
yang diinjeksi kembali. Pada invivo pengiriman gen dilakukan secara
langsung ke sel pasien tanpa dikembangkan dulu secara invitro.
Pada ex-vivo terdapat juga cara transfer gen nonviral yaitu pengiriman
gen tanpa menggunakan bakteri atau virus. Pengiriman gen dilakukan
dengan cara injeksi langsung, gen gun dan liposom. Injeksi secara
langsung dilakukan dengan mengirimkan DNA ke tempat ekstra seluler
yang memiliki perbedaan hipertonik solution salinitas dan sukrosa. Gen
gun digunakan dengan cara memanfaatkan ledakan kecil helium yang
membawa potongan DNA patogen yang berukuran sangat kecil sehingga
mampu masuk ke nukleus kulit dan sel otot. Teknik liposom dilakukan
dengan cara memanfaatkan virus yang mampu menginjeksi DNA nya ke
dalam nukleus sel target. Viral vektor yang digunakan dalam teknik ini
adalah Adenovirus, Adeno-associated Virus, Lentivirus dan Retrovirus.
Tipe virus tersebut digunakan dengan alasan mampu menginfeksi banyak
varietas tipe sel, mudah dimanipulasi, dan sebagainya.
Salah satu vektor dalam terapi gen adalah Sleeping beauty (SB).
Sleeping beauty (SB) merupakan gen yang dapat meloncat yang diisolasi
dari ikan. Loncatan dari gen ini dimanfaatkan dalam terapi gen karena
mampu melakukan mutasi pada transpos penerjemahan gen. Gen SB ini
akan terpotong jika bertemu dengan enzim transposase, kedua ujungnya
selanjutnya akan berikatan dengan enzim tersebut dan bersama-sama
berpindah ke rantai DNA yang lain. Transposase akan memotong rantai
DNA tersebut dan menyambungnya dengan gen SB. Apabila dalam gen
SB ini ditambahkan gen yang kita inginkan, gen tersebut juga akan ikut
melompat bersama dengan gen SB ke rantai DNA pasien, sehingga gen
tersebut dapat diekspresikanm dan mengembalikan fungsi tubuh pasien.

Terapi Gen untuk Penyembuhan Berbagai Penyakit 11

2. Mekanisme Terapi Gen Berdasarkan Sel Target


Berdasarkan sel target yang digunakan, terapi gen dibedakan dalam dua
tipe utama, yaitu Somatik dan Germ-line. Modifikasi gen yang tidak
melewati keturunan disebut dengan terapi gen somatik sedangkan
modifikasi gen yang mencakup sel reproduksi adalah terapi gen Germ-line.
Sel target dari terapi gen somatik adalah sel stem, fibroblas dan sel stem
lainnya. Target dari terapi gen germ-line adalah sperma atau sel telur.
3. Gene Transfer Agents (Agen Pembawa Gen)
Tanggal 24 Juni 2010, Eurekanetwork mempublikasikan penemuan
senyawa organik baru yang dapat menjadi agen pembawa gen dalam
proses terapi untuk penyembuhan penyakit genetik. Proyek penelitian yang
dinamakan EUREKA project E! 3371 Gene Transfer Agents telah berhasil
mengembangkan senyawa turunan dari kation amfifilik 1,4-dihidropiridin
atau 1,4-DHP (cationic amphiphilic 1,4-dihydropyridine) untuk menjadi
pengantar gen normal ke dalam inti sel dan mengganti gen sebelumnya
yang rusak.
Kelebihan derivat 1,4-DHP sebagai pembawa gen ini adalah kesiapan
untuk diproduksi dalam skala besar, lebih efektif dibanding senyawa
organik lain, dan karena bukan virus maka resistensi kekebalan tubuh
penerimanya dapat dihindari. Saat ini agen pembawa yang dianggap paling
efektif dalam terapi gen adalah virus yang telah dilemahkan.
Peneliti yang terlibat dalam proyek ini antara lain Professor Arto Urtti
dari Helsinki University, Finlandia; dan Dr. Aiva Plotniece, Dr. Arkadijs
Sobolevs serta kolega-koleganya dari Latvian Institute, Latvia. Selain itu
terlibat juga Bapeks, salah satu produsen di bidang industri kimia dari
Latvia. EUREKAnetwork didirikan tahun 1985, bertujuan untuk
meningkatkan produktivitas dan daya saing bisnis anggota-anggotanya
melalui pengembangan teknologi. Anggota-anggotanya berasal dari
negara-negara Eropa dan Turki.
Untuk memahami arti penting penemuan ini, terlebih dahulu harus
mengetahui permasalahan yang dihadapi metode terapi gen dalam

Terapi Gen untuk Penyembuhan Berbagai Penyakit 12

penyembuhan penyakit-penyakit genetik seperti hemofilia, diabetes, dan


berbagai jenis kanker.
Beberapa metode pengobatan penyakit genetik lainnya yaitu dengan
injeksi makromolekul organik. Contohnya adalah pemberian hormon
insulin untuk penderita diabetes atau pemberian faktor pembekuan darah
bagi pengidap hemofilia. Kelemahan cara ini yaitu, substansi tersebut
mudah terurai dalam darah dan adanya ketergantungan penderita terhadap
pasokan zat tersebut dari luar tubuhnya.
Pengidap kanker dan penyakit kronis lain memperoleh pemberian obat
beropium untuk meredakan rasa sakit yang hebat. Efek samping obat
beropium adalah rasa kantuk berlebihan, gangguan mental, dan halusinasi.
Aspek revolusioner dari terapi gen adalah terbukanya kemungkinan
bahwa penderita kelainan genetik dapat memproduksi senyawa-senyawa
terapeutik yang diperlukannya secara endogen (diproduksi tubuh sendiri).
Hal ini tentu lebih murah dibandingkan penyuntikkan senyawa terapeutik
secara berkala yang mahal biayanya. Selain itu penderita juga terlepas dari
ketergantungan sehingga dapat meningkatkan kualitas hidupnya.
Sayang sekali riset terapi gen ini bukanlah riset yang murah dan mudah.
Pada era sebelum tahun 1995 saja Amerika Serikat mengeluarkan dana 200
juta dollar tiap tahun untuk riset terapi gen. Sementara itu hasil yang
diperoleh masih jauh dari kategori memuaskan.
4. Masalah Gene Transfer Agents (Agen Pembawa Gen)
Pemetaan dan pengamatan genome manusia secara lengkap memberi
banyak manfaat dalam penelusuran penyakit genetik. Lokasi gen yang
mengalami kelainan dapat dilacak kaitannya dengan penyakit atau
gangguan yang ditimbulkannya.
Setelah lokasi gen pemicu masalah diketahui, langkah selanjutnya
adalah membawa gen normal pengganti gen rusak di dalam inti sel. Untuk
melaksanakan tugas ini diperlukan suatu agen pembawa atau pengantar
gen (gene transfer agents) yang dapat melakukannya secara efektif, tepat
sasaran, dan tanpa efek samping. Dewasa ini cara untuk melakukan

Terapi Gen untuk Penyembuhan Berbagai Penyakit 13

penggantian gen rusak yaitu dengan memanfaatkan agen virus yang telah
dilemahkan, senyawa kimia organik, atau dengan cara penyuntikkan.
Penggunaan virus sebagai agen pembawa gen disebut metode viral.
Metode ini memiliki keuntungan efektivitas yang tinggi. Metode ini dapat
memanfaatkan sifat serangan virus pada jaringan tertentu yang khas.
Sebagai contoh, retrovirus penyerang sel-sel yang membelah cepat,
mungkin cocok sebagai agen pembawa gen terapeutik untuk penyakit
tumor. Adenovirus penyerang sel dinding paru-paru mungkin cocok untuk
mengirim duplikat gen cystic fibrosis yang dibutuhkan dalam sistem
pernapasan.
Metode

viral

cukup

dapat

diandalkan

dari

segi

efektivitas.

Kelemahannya adalah pembiakkanya dalam skala besar memiliki potensi


bahaya yang serius. Bagaimanapun juga virus tetaplah virus yang
mempunyai kemampuan mutagenik dan karakteristik yang sukar
diramalkan. Selain itu, tubuh manusia juga memiliki sistem kekebalan
terhadap virus sehingga dapat mengganggu proses terapi.
Penggunaan senyawa kimia organik sebagai agen pengantar gen dapat
mengatasi masalah resistensi dari sistem kekebalan tubuh penerima.
Senyawa kimia juga memiliki kemudahan dalam produksi, baik dalam
skala kecil maupun skala besar. Hanya saja efektivitas metode ini sangat
rendah apabila dibandingkan dengan metode viral. Saat ini agen senyawa
kimia standar yang digunakan secara luas yaitu DOTAP (dioleoyl
trimethylammonium propane) dan PEI 25 (polyethylenimine).
Penemuan derivat 1,4-DHP sebagai senyawa organik pembawa gen
memiliki keunggulan gabungan metode viral dan metode kimiawi.
Derivat-derivat 1,4-DHP saat ini masih dalam tahap pengembangan,
namun efektivitasnya lebih tinggi dibanding senyawa organik lain yaitu
DOTAP dan PEI 25. Sebagai senyawa kimia organik tentu saja 1,4-DHP
akan lebih siap dan mudah diproduksi dalam berbagai skala.

Terapi Gen untuk Penyembuhan Berbagai Penyakit 14

Gambar 2. Terapi gen


2.6.

Prinsip Terapi Gen.


Prinsip-prinsip terapi gen adalah gen yang akan dipindahkan itu harus
diletakkan ke dalam sel yang akan berfungsi normal dan efektif. Untuk
hemofilia gen harus diletakkan ke dalam sel yang akan menghantarkan
protein faktor VIII atau faktor IX ke dalam peredaran darah. Saat ditransfer,
gen tersebut harus berfungsi dalam sel dalam jangka waktu yang lama,
demikian pula sel baru yang disebut transduced cell, harus pula bertahan
lama. Program terapi gen terbagi dalam dua jenis. Pertama, pemindahan gen
dilakukan di dalam tubuh pasien (in vivo transfer). Kedua, pemindahan gen
dilakukan di luar tubuh pasien (ex vivo transfer). Terapi gen in vivo transfer
bersandarkan pada kemampuan sel-sel untuk menyerap DNA. Peneliti
berharap

dapat

memetakan

gen

yang

berfungsi

normal

sehingga

memungkinkan sel-sel menerimanya sesegera mungkin, misalnya melalui


penyuntikan. Sedangkan ex vivo transfer, gen yang berfungsi normal
disisipkan ke dalam sel di dalam laboratorium. Kemudian sel yang telah
ditransferkan ke gen baru tadi di letakkan ke dalam tubuh pasien. Sel
penderita dapat digunakan untuk pemindahan gen ini. Tentu kedua cara ini
mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kelebihan in vivo transfer adalah
sangat sedikit membutuhkan manipulasi laboratorium dan dapat digunakan
dalam skala besar. Sedangkan ex vivo lebih sarat dengan operasi
pembedahan, seperti bagaimana mengangkat dan meletakkan kembali sel,
karena meletakkan gen baru ke tubuh pasien tidaklah segampang menelan pil
atau semudah menyuntikkannya ke dalam darah (Farida, 2007).

Terapi Gen untuk Penyembuhan Berbagai Penyakit 15

2.7.

Vektor dalam terapi gen.


Semua virus mengikat tuan rumah mereka dan memperkenalkan materi
genetik mereka ke dalam sel inang sebagai bagian dari siklus replikasi
merekaBahan genetik ini berisi dasar 'petunjuk' tentang bagaimana untuk
menghasilkan lebih banyak salinan virus ini, pembajakan produksi normal
tubuh mesin untuk melayani kebutuhan virus. Sel inang akan melaksanakan
petunjuk dan menghasilkan salinan tambahan virus, menyebabkan sel lebih
dan lebih menjadi terinfeksi. Beberapa jenis gen virus memasukkan mereka
ke genom inang, tetapi tidak benar-benar masuk ke dalam sel. Lain
menembus membran sel menyamar sebagai molekul protein dan masuk ke
dalam sel.
Sesaat setelah memasukkan DNA-nya, virus dari siklus litik cepat
menghasilkan lebih banyak virus, meledak dari sel dan menginfeksi sel lebih.
Virus lisogenik DNA mengintegrasikan mereka ke dalam DNA sel inang dan
dapat hidup dalam tubuh selama bertahun-tahun sebelum menanggapi
pemicu. Virus mereproduksi sebagai sel dilakukan dan tidak menimbulkan
kekerasan fisik sampai dipicu. Pemicunya melepaskan DNA dari bahwa dari
penderita dan mempekerjakan untuk menciptakan virus baru. HIV adalah
infeksi lisogenik. Beberapa ilmuwan percaya bahwa jika mereka menemukan
asal memicu, mereka akan mampu menghentikan virus dari yang pernah
memproduksi seluruh tubuh.
Yang menjadi persoalan adalah, bagaimana cara memasukkan gen yang
dikehendaki ke dalam sel yang dituju. Karena sejauh ini pekerjaan
menyelipkan langsung sebuah gen ke dalam sel masih belum mungkin. Harus
menggunakan jasa perantara (vektor), yaitu virus. Ya, virus. Virus memiliki
kemampuan lebih untuk mengenali sel tertentu, menembus masuk dan
mentransfer material genetik ke dalamnya (begitulah cara kerja virus dalam
menjangkitkan penyakit ke dalam tubuh seseorang.
Secara garis besar ada dua macam cara yang biasa digunakan untuk
memasukkan gen baru ke dalam sel.Pertama secara ex vivo. Sebagian sel
darah atau sumsum tulang penderita diambil untuk dibiakkan di laboratorium.
Sel itu diberi virus pembawa gen baru. Virus masuk ke dalam sel dan

Terapi Gen untuk Penyembuhan Berbagai Penyakit 16

menembakkan gen baru tersebut ke dalam rantai DNA sel yang dituju.Sel
tersebut masih dibiakkan beberapa saat lagi di laboratorium. Setelah gen
benar-benar menyatu dengan selnya, kemudian sel tersebut dikembalikan ke
dalam tubuh penderita dengan cara disuntikkan ke dalam pembuluh darah.
Kedua secara in vivo. Virus pembawa gen disuntikkan ke dalam tubuh
penderita. Virus yang telah diprogram tersebut akan mencari dan menyerang
sel yang dituju (kanker) dengan cara menembakkan gen baru yang dibawanya
ke dalam sel. Peran virus ini kadang digantikan oleh liposom atau plasmid
sebagai vektor buatan.
Ada beragam jenis virus yang digunakan untuk ujicoba terapi gen, antara
lain retrovirus, adenovirus, virus herpes, cacar, dan lain-lain. Masing-masing
memiliki kelebihan dan kekurangan. Sebelum digunakan semuanya
direkayasa terlebih dahulu sehingga tidak mampu menjangkitkan penyakit,
sekaligus ditingkatkan kemampuannya untuk mengenali dan memasuki sel
target, juga mentransfer gen.
Sekalipun memberi harapan besar, bahkan beberapa RS kanker telah
berani menjadikannya terapi unggulan, terapi ini juga bisa menimbulkan
masalah. Karena virus bisa menyerang lebih dari satu jenis sel, jika
disuntikkan ke dalam tubuh bisa saja virus tersebut memasuki sel tubuh yang
lain, bukan hanya sel kanker seperti yang diharapkan atau, kalau gen yang
ditransfer menempel pada lokasi yang salah dalam rantai DNA, hal ini bisa
menimbulkan mutasi yang berbahaya, bahkan kanker jenis baru. Jika gen
tersebut salah sasaran mengenai sel reproduksi, maka mutasi ini akan
diturunkan juga pada keturunan penderita, jika kelak si penderita punya anak.
Ada juga kemungkinan gen yang ditransfer tersebut bereaksi berlebihan di
lingkungan barunya (sel kanker) sehingga malah menimbulkan peradangan,
atau memicu reaksi pertahanan/perlawanan dari sel kankernya. Bagaimana
juga kalau virus yang telah direkayasa itu malah menular kepada orang lain
yang sehat?
Para ilmuwan terus mencari cara yang aman dan memberikan hasil paling
optimal sesuai dengan kondisi penderita yang berbeda-beda. Angiogenesis
berarti proses pembentukan pembuluh darah. Proses ini berjalan seiring

Terapi Gen untuk Penyembuhan Berbagai Penyakit 17

dengan proses tumbuh kembang manusia. Pada manusia dewasa, proses ini
terjadi pada saat penyembuhan luka dan perbaikan jaringan tubuh yang rusak.
Sebetulnya angiogenesis adalah sebuah proses yang sehat. Tetapi pada
penderita kanker, proses pembentukan pembuluh darah baru ini akan
membuat tumor memiliki jaringan pembuluh darah sendiri yang akan
membuatnya tumbuh dengan cepat dan ganas.
Anti-angiogenesis adalah terapi yang bertujuan untuk menghentikan
pembentukan pembuluh darah baru. Karena tanpa suplai darah, sel
tumor/kanker akan mati. Tanpa memiliki pembuluh darah sendiri, tumor
hanya dapat tumbuh maksimal satu milimeter saja.
Malangnya, sel kanker mengeluarkan zat-zat kimia yang memicu
pertumbuhan pembuluh darah baru.Contohnya, protein yang disebut vascular
endothelial growth factor (VEGF). VEGF akan menempel pada vascular
endothelial growth factor receptor (VEGFR), yang kemudian tumbuh dan
membentuk pembuluh darah baru. Pembuluh darah baru itu akan membuat sel
kanker tumbuh dengan cepat, semakin banyak mengeluarkan VEGF, dan pada
gilirannya semakin memicu tumbuhnya jaringan pembuluh darah baru lagi.
Riset anti-angiogenesis yang mulai dikembangkan tahun 1999 tampaknya
akan membawa terapi ini pada posisi penting untuk menghentikan
pertumbuhan tumor.
Penderita kanker otak, kanker payudara, kanker ginjal, melanoma, dan
beberapa jenis kanker lain yang mengikuti ujicoba klinis anti-angiogenesis
kebanyakan terhenti pertumbuhan penyakitnya, bahkan sebagian bisa
mengecil.
Sejauh ini telah ditemukan sekitar 300 jenis substansi yang bisa
menghambat angiogenesis.Ada yang berasal dari tubuh manusia sendiri
(interferon alfa/beta/gamma, interleukin-12, retinoid, heparinas, dsb), ada
yang berasal dari alam (teh hijau, kedelai, jamur, bawang putih, ginseng, sirip
ikan, bisa ular, kulit pohon, dsb), ada juga yang sintetis buatan manusia
(bevacizumab, sunitinib, sorafenib, dsb).
Mereka bekerja dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang menghambat
pembentukan pembuluh darah baru, ada yang menyerang pembuluh darah

Terapi Gen untuk Penyembuhan Berbagai Penyakit 18

lama yang memberi suplai darah ke jaringan kanker (sehingga mati


kelaparan), ada juga yang langsung menyerang sel kanker sekaligus
menghentikan suplai darahnya (beberapa jenis obat kemoterapi jika diberikan
dalam dosis rendah ternyata bisa memberikan efek anti-angiogenesis).

BAB III
PEMBAHASAN
3.1.

Terapi Gen untuk Pengobatan


Tujuan dari terapi gen adalah untuk menambahkan, memperbaiki atau
menghilangkan ekspresi gen tertentu pada penyakit herediter dan non

Terapi Gen untuk Penyembuhan Berbagai Penyakit 19

herediter. Berbagai penyakit yang dapat direkomendasikan untuk pengobatan


terapi gen adalah:
1. Hemofilia
Hemofilia merupakan suatu penyakit dengan kelainan faal koagulasi
yang bersifat herediter dan diturunkan secara X - linked recessive pada
hemofilia A dan B ataupun secara autosomal resesif pada hemofilia C.
Hemofilia terjadi oleh karena adanya defisiensi atau gangguan fungsi salah
satu faktor pembekuan yaitu faktor VIII pada hemofilia A serta kelainan
faktor IX pada hemofilia B dan faktor XI pada hemofilia C. Sedangkan
menurut Veny, Hemofilia adalah penyakit perdarahan akibat kelainan faal
koagulasi yang bersifat herediter dan diturunkan secara X-linked recessive
sehingga hanya bermanifestasi pada laki-laki, sedangkan wanita hanya
menjadi karier atau pembawa sifat penyakit ini.
Penderita hemofilia adalah manusia yang faktor VIII dalam darahnya
jumlahnya sedikit. Jika orang normal memiliki jumlah faktor VIII dalam
darahnya sebanyak 100 unit, maka penderita hemofilia ringan hanya
memiliki sekitar 30 unit saja (6-30 persen), sedangkan penderita hemofili
berat hanya memiliki faktor VIII dalam darahnya kurang dari 5 unit atau 1
persen saja.
Secara umum, insiden hemofilia pada populasi cukup rendah yaitu
sekitar 0,091% dan 85 % nya adalah hemofilia A. Disebutkan pada sumber
lain insiden pada hemofilia A 4-8 kali lebih sering dari hemofilia B. Angka
kejadian hemofilia A sekitar 1:10.000 dari penduduk laki-laki yang lahir
hidup, tersebar di seluruh dunia tidak tergantung ras, budaya, sosial
ekonomi maupun letak geografi. Insiden hemofilia A di Indonesia belum
banyak dilaporkan, sampai pertengahan 2001 disebutkan sebanyak 314
kasus hemofilia A. Sedangkan insiden hemofilia B diperkirakan 1:25.000
laki-laki lahir hidup. Hemofilia C yang diturunkan secara autosomal
resesif dapat terjadi pada laki-laki maupun pada perempuan, menyerang
semua ras dengan insiden terbanyak ras Yahudi Ashkanazi.
Berdasarkan info yang penulis ketahui dari berbagai informasi yang
didapat, manifestasi perdarahan yang timbul bervariasi dari ringan ,

Terapi Gen untuk Penyembuhan Berbagai Penyakit 20

sedang dan berat. Dapat berupa perdarahan spontan yang berat, kelainan
pada sendi, nyeri menahun, perdarahan pasca trauma atau tindakan medis
ekstraksi gigi atau operasi. Tanpa pengobatan sebagian besar penderita
hemofilia meninggal pada masa anak-anak.
Jenis hemofilia terbagi menjadi tiga jenis yaitu Hemofilia A, Hemofilia
B, dan hemofilia C. Berikut penjelasan jenis hemofilia berdasarkan jurnaljurnal yang telah didapat. Dikenal tiga tipe hemofilia yaitu hemofilia A, B,
dan C yang secara klinis ketiganya tidak dapat dibedakan. Hemofilia
terjadi oleh karena adanya defisiensi atau gangguan fungsi salah satu
faktor pembekuan yaitu faktor VIII pada hemofilia A serta kelainan faktor
IX pada hemofilia B dan faktor XI pada hemofilia C.
Klasifikasi hemophilia dibedakan atas 3 macam (Muscari.2005) :
1. Hemofilia A (hemofilia klasik) ditandai karena penderita tidak memiliki
zat anti hemofili globulin (factor VIII).Kira-kira 80 % dari kasus
hemophilia adalah tipe ini.Seseorang mampu membentuk antihemofilia
globulin (AHG) dalam serum darahnya karena ia memiliki gen dominan
H sedang alelnya resesif tidak dapat membentuk zat tersebut.Oleh
karena gennya terangkai X maka perempuan normal dapat mempunyai
genotif H.Perempuan hemophilia mempunyai genotif hh,sedangkan
laki-laki hemophilia h.
2. Hemofilia B atau penyakit Christmas Penderita tidak memiliki
komponen plasma tromboplastin (KPT;faktorIX).Kira-kira 20% dari
hemophilia adalah tipe ini.
3. Hemofilia C Penyakit hemophilia C tidak disebabkan oleh gen resesif
kromosom X melainkan oleh gen resesif yang jarang dijumpai dan
terdapatnya pada auotosom.Tidak ada 1% dari kasus hemophilia adalah
tipe ini.Penderita tidak mampu membentuk zat plasma,tromboplastin
anteseden (PTA).
Penyebab Hemofilia: Pria dan wanita masing-masing memiliki 23
pasang kromosom. Wanita memiliki dua kromosom X; pria memiliki 1
kromosom X dan 1 kromosom Y. Hemofilia merupakan penyakit genetik
terpaut X, yang berarti penyakit ini diwariskan dari ibu ke anak laki-laki

Terapi Gen untuk Penyembuhan Berbagai Penyakit 21

pada kromosom X. Jika si ibu membawa gen hemofilia pada salah satu
kromosom X-nya, setiap anak laki-lakinya memiliki peluang 50% untuk
menderita hemophilia.
Walaupun anak perempuan jarang sekali menunjukkan gejala hemofilia,
kasus, anak perempuan yang pembawa dapat mengalami gejala perdarahan
ringan. Bagi anak perempuan untuk menderita hemofilia, mereka harus
mendapat kromosom dari ayahnya yang hemofilia, dan juga kromosom X
dari ibunya yang merupakan pembawa. Walaupun ini sangat mungkin
terjadi namun sangat kecil kemungkinannya mereka dapat menjadi
pembawa penyakit ini. Pada beberapa. Berbagai faktor penyebab hemofilia
diantaranya yaitu ( Muscari . 2005):
a. Faktor Genetik
Hemofilia menurun dari generasi ke generasi lewat wanita
pembawa sifat (carier) dalam keluarganya, yang bisa secara langsung,
bisa tidak. Di dalam setiap sel tubuh manusia terdapat 23 pasang
kromosom dengan bebagai macam fungsi dan tugasnya. Kromosom ini
dapat menentukan sifat atau ciri organism. Sementara, sel kelamin
adalah sepasang kromosom di dalam inti sel yang menentukan jenis
kelamin. Seorang pria mempunyai satu kromosom X dan satu
kromosom Y, sedangkan wanita mempunyai dua kromosom X. Pada
kasus hemofilia, kecacatan terdapat pada kromosom X akibat tidak
adanya protein faktor VIII dan IX (dari keseluruhan 13 faktor), yang
diperlukan bagi komponen dasar pembeku darah (fibrin).
b. Faktor Komunikasi Antar Sel
Adanya interaksi/komunikasi antar sel, menyebabkan hilangnya satu
bagian saja atau kerusakan sekecil apapun padanya, akan menjadikan
keseluruhan proses tersebut tidak berfungsi. Dalam jalur intrinsic
menggunakan faktor-faktor yang terdapat dalam sistem vaskular atau
plasma. Pengaktifan salah satu prokoagulan akan mengakibatkan
pengaktifan bentuk seterusnya. Faktor XII, XI, dan IX harus diaktivasi
secara berurutan, dan faktor VIII harus dilibatkan sebelum faktor X
dapat diaktivasi.

Terapi Gen untuk Penyembuhan Berbagai Penyakit 22

Aktivasi faktor X dapat terjadi sebagai akibat reaksi jalur ekstrinsik


atau jalur intrinsik. Pada penderita hemofilia, dalam plasma darahnya
kekurangan bahkan tidak ada faktor pembekuan darah, yaitu faktor VIII
dan IX. Semakin kecil kadar aktivitas dari faktor tersebut maka,
pembentukan faktor X dan seterusnya akan semakin lama. Sehingga
pembekuan akan memakan waktu yang lama (terjadi perdarahan yang
berlebihan).
c. Faktor Epigenik
Hemofilia A disebabkan kekurangan faktor VIII dan hemofilia B
disebabkan kekurangan faktor IX. Kerusakan dari faktor VIII dimana
tingkat sirkulasi yang fungsional dari faktor VIII ini tereduksi. Aktifasi
reduksi dapat menurunkan jumlah protein faktor VIII, yang dapat
menimbulkan abnormalitas dari protein. Faktor VIII menjadi kofaktor
yang efektif untuk faktor IX yang aktif, faktor VIII aktif, faktor IX
aktif, fosfolipid dan juga kalsium bekerja sama untuk membentuk
fungsional aktifasi faktor X yang kompleks (Xase), sehingga
hilangnya atau kekurangan kedua faktor ini dapat mengakibatkan
kehilangan atau berkurangnya aktifitas faktor X yang aktif dimana
berfungsi mengaktifkan protrombin menjadi trombin, sehingga jika
trombin mengalami penurunan pembekuan yang dibentuk mudah pecah
dan tidak bertahan mengakibatkan pendarahan yang berlebihan dan sulit
dalam penyembuhan luka.
Ketika seseorang mengalami perdarahan berarti terjadi luka pada
pembuluh darah (yaitu saluran tempat darah mengalir keseluruh tubuh),
lalu darah keluar dari pembuluh. Pembuluh darah mengerut/ mengecil.
Keping darah (trombosit) akan menutup luka pada pembuluh. Faktorfaktor pembeku darah bekerja membuat anyaman (benang- benang
fibrin) yang akan menutup luka sehingga darah berhenti mengalir
keluar pembuluh.
Ketika penderita hemofilia mengalami perdarahan berarti terjadi
luka pada pembuluh darah (yaitu saluran tempat darah mengalir
keseluruh tubuh), lalu darah keluar dari pembuluh. Pembuluh darah

Terapi Gen untuk Penyembuhan Berbagai Penyakit 23

mengerut/ mengecil. Keping darah (trombosit) akan menutup luka pada


pembuluh. Kekurangan jumlah factor pembeku darah tertentu,
mengakibatkan anyaman penutup luka tidak terbentuk sempurna,
sehingga darah tidak berhenti mengalir keluar pembuluh.
Penyebab hemofilia berbeda-beda, bergantung pada tipe yang
diderita :
a. Hemofilia Tipe A.
Ini adalah tipe yang cukup umum. Disebabkan oleh kurangnya
faktor VIII dalam darah, salah satu komponen pembekuan darah.
b. Hemofilia Tipe B.
Tipe ini disebabkan oleh kurangnya faktor IX dalam darah, yang
juga berperan dalam pembekuan darah.
c. Hemofilia Tipe C.
Tipe ini disebabkan kurangnya faktor XI dalam darah, yang
berperan dalam pembekuan darah. Biasanya pengidap hemofilia tipe
ini mengalami gejala yang ringan.
Hemofilia juga dapat diturunkan dari orang tua pada anaknya. Anak
perempuan memiliki kromosom X dan X, sementara anak lelaki X dan
Y. Hemofilia tipe A dan B terdapat dalam kromosom X. Karena itu,
biasanya diturunkan oleh ibu ke anak lelakinya. Sementara, tipe C dapat
diturunkan oleh kedua orang tua pada anak lelaki maupun
perempuannya.
Cara Pengobatan Hemofilia Dengan Terapi Gen: Terapi gen
merupakan salah satu cara penyembuhan penyakit hemofilia dengan
memperbaiki kerusakan genetis, yaitu melalui penggantian gen yang
tidak rusak dan berfungsi normal. Penyembuhan melalui terapi gen ini
tidak dapat secara permanen dan masih harus dilakukan secara berkala.
Dalam hemofilia A dan B tersebut perubahan mempengaruhi
aktivitas faktor koagulasi VIII dan IX, masing-masing, dan bertanggung
jawab untuk pengembangan penyakit. Terapi canggih mungkin
melibatkan penggantian gen kekurangan oleh gen yang sehat sehingga
menghasilkan, struktural atau transportasi protein (terapi gen) tertentu

Terapi Gen untuk Penyembuhan Berbagai Penyakit 24

fungsional; penggabungan susunan gen yang sehat dan protein melalui


perfusi atau transplantasi sel-sel sehat (terapi sel); atau jaringan
transplantasi dan pembentukan organ yang sehat (rekayasa jaringan).
Prinsip-prinsip terapi gen adalah gen yang akan dipindahkan itu
harus diletakkan ke dalam sel yang akan berfungsi normal dan efektif.
Untuk hemofilia gen harus diletakkan ke dalam sel yang akan
menghantarkan protein faktor VIII atau faktor IX ke dalam peredaran
darah. Saat ditransfer, gen tersebut harus berfungsi dalam sel dalam
jangka waktu yang lama, demikian pula sel baru yang disebut
transduced cell, harus pula bertahan lama. Program terapi gen terbagi
dalam dua jenis. Pertama, pemindahan gen dilakukan di dalam tubuh
pasien (in vivo transfer). Kedua, pemindahan gen dilakukan di luar
tubuh pasien (ex vivo transfer). Terapi gen in vivo transfer bersandarkan
pada kemampuan sel-sel untuk menyerap DNA. Sedangkan ex vivo
transfer, gen yang berfungsi normal disisipkan ke dalam sel di dalam
laboratorium.
Penanganan penderita hemofilia dengan inhibitor bertujuan untuk
menghilangkan inhibitor, terdiri dari 2 komponen yaitu penanganan
perdarahan akut dan immune tolerance induction. Penanganan
perdarahan akut diberikan berdasarkan titer inhibitor. Terapi pengganti
yang bisa diberikan pada perdarahan yang sedang berlangsung antar
lain high purity factor VIII concentrates, konsentrat porcine faktor VIII,
prothrombin complex concentrates (PCCs) dan activated prothrombin
complex concentrates (aPCCs), recombinant human factor VIIa, terapi
immune tolerance induction, terapi gen10,21-23 Immune tolerance
induction dilakukan dengan cara penderita diberikan faktor VIII dosis
tinggi secara berulang dengan atau tanpa obat sitostatika
2. HIV/AIDS
Penyakit HIV-AIDS hingga kini tetap belum dapat disembuhkan.Terapi
kombinasi obat-obatan memang secara medis dapat mengendalikan
serangan penyakit AIDS, namun efeknya hanya untuk memperpanjang
umur penderita.

Terapi Gen untuk Penyembuhan Berbagai Penyakit 25

Kini sejumlah ilmuwan dari Amerika Serikat melakukan uji coba


pengobatan HIV-AIDS menggunakan terapi rekayasa genetika.Hasilnya
amat menjanjikan dan diharapkan dapat berfungsi memberantas virus
HIV.Jurnal ilmiah Science Transnational Medicine melaporkan para
peneliti virologi di City of Hope California, berhasil melakukan terapi
dengan sel punca yang kebal terhadap virus HIV.
Data yang diungkapkan dalam konferensi internasional penyakit AIDS
yang digelar baru-baru ini di ibukota Austria, Wina tetap amat
mencemaskan.Di seluruh dunia tercatat sekitar 34 juta orang pengidap
HIV-AIDS. Walaupun dilaporkan menurunnya prevalensi kasus infeksi
HIV, namun pada tahun 2009 lalu masih tercatat sekitar 2,7 juta penderita
baru. Setiap tahunnya rata-rata dua juta orang meninggal sebagai akibat
mengidap HIV-AIDS.
a. Satu Harapan untuk Perangi HIV/AIDS
Seiring dengan menurunnya kekebalan tubuh, para penderita AIDS
lebih mudah diserang penyakit mematikan.Yang paling umum
menyerang adalah kanker kelenjar getah bening.Kini sejumlah ilmuwan
dari Amerika Serikat melakukan uji coba pengobatan HIV-AIDS
menggunakan terapi rekayasa genetika.Hasilnya amat menjanjikan dan
diharapkan dapat berfungsi memberantas virus HIV.
Dalam penelitian di pusat riset City of Hope di California, tim
medis di bawah pimpinan pakar virologi John Rossi mula-mula
melakukan penelitian untuk mengatasi kanker kelenjar getah bening ini.
Metode yang lazim digunakan untuk memberantas sel kankernya adalah
dengan Chemoterapy dosis tinggi. Namun metode ini sama seperti obatobatan anti kanker lainnya, juga menimbulkan dampak samping
merugikan. Karena obatnya juga membunuh sel-sel sumsum tulang
belakang yang amat penting bagi kehidupan.
b. Membangun Kekebalan terhadap HIV
Rusaknya sumsum tulang belakang berarti juga runtuhnya seluruh
sistem pembangun sel darah.Karena itulah para dokter biasanya
mengambil jaringan sel punca pembentuk sel darah sebelum pasien

Terapi Gen untuk Penyembuhan Berbagai Penyakit 26

mendapat pengobatan chemoterapy.Sel punca ini diharapkan dapat


membangun jaringan sumsum tulang belakang baru dan sistem
pembentukan

darah

setelah

pasiennya

mendapat

pengobatan

chemoterapy.
Agar target dari pengobatannya tercapai, John Rossi dan tim
risetnya melangkah lebih jauh lagi. Mereka hendak membuktikan
bahwa dengan teknik rekayasa genetika, sistem pembentuk sel darah
dan sumsum tulang belakang yang baru dicangkokan ke tubuh pasien,
juga kebal terhadap virus HIV-AIDS.Atau juga tidak memberikan
peluang atau kemungkinan bagi virus HIV untuk menginfeksi dan
kemudian menghancurkan sel tubuh manusia tersebut.
John Rossi menggambarkan metodenya, Kami menyisipkan
informasi genetika tambahan pada sel punca darah.Sel punca yang
direkayasa secara genetika itu diharapkan berpindah ke sumsum tulang
belakang, dan secara bertahap membentuk berbagai sel pertahanan
tubuh. Semua sel ini juga mengandung informasi genetika tambahan
tsb. Dari uji coba di laboratorium dan pada binatang percobaan, kami
mengetahui bahwa sel yang direkayasa secara genetika ini, memiliki
resistensi tinggi terhadap infeksi HIV
c. Menghancurkan Virus
Sebagai sarana transportasinya, Rossi menggunakan virus Lenti
yang tidak berbahaya.Virus ini mengangkut kode genetika yang telah
direkayasa ke dalam sel dan mendorong agar kode genetika baru itu
menjadi bagian dari kode DNA sel. Yang disisipkan adalah kode
genetika yang memproduksi potongan RNA fungsional.Potongan RNA
ini terus menerus melakukan patroli dalam sel tubuh untuk mencari
RNA pembawa pesan dari virus HIV.
Jika menemukan target yang dicari, RNA patroli itu langsung
melekat pada unsur pembawa pesan virus HIV. Dengan itu, potongan
RNA maupun keseluruhan virusnya ibaratnya sudah diberi tanda agar
langsung dikirim ke bagian pemusnah sel. Artinya, virus HIV-nya

Terapi Gen untuk Penyembuhan Berbagai Penyakit 27

langsung dihancurkan sebelum melakukan serangan terhadap sel yang


sehat.
d. Terapi Tanpa Efek Samping
Sebuah kode genetika tambahan yang direkayasa oleh para peneliti,
juga berfungsi untuk menjaga jangan sampai virus HIV-AIDS dapat
menembus masuk ke dalam sel tubuh manusia.Dua tahun setelah para
peneliti melakukan terapi genetika ini, jejak kode genetika tambahan
yang disisipkan masih terlacak dalam sel pasien.Diperkirakan sel-sel
yang mengandung kode genetika yang telah direkayasa juga mampu
bertahan hidup dan memperbanyak diri di dalam tubuh pasien.
Laporan positif lainnya, baik setelah melakukan terapi genetika
maupun beberapa bulan sesudahnya, tidak muncul reaksi atau dampak
samping yang merugikan. Walaupun begitu, terapi genetika itu
dilaporkan tidak memicu efek yang menguntungkan dalam memblokir
proses perkembangan infeksi HIV. Akan tetapi para peneliti dari
California itu juga menyatakan, tidak memperhitungkan keuntungan
terapi itu bagi proses blokade infeksi HIV. Karena para peneliti hanya
merekayasa sebagian kecil dari sel punca pembentuk sel darah tersebut.
e. Tidak Tertumpu pada Satu Cara Pengobatan
John Rossi menegaskan, proses perawatan penyakit AIDS tidak
bolah hanya digantungkan pada terapi rekayasa genetika saja.Hal itu
supaya tidak menimbulkan ancaman bahaya yang tidak perlu pada
pasien.Metode yang digunakan adalah gabungan dari berbagai teknik
kedokteran yang dewasa ini lazim digunakan memerangi HIV-AIDS,
kata Rossi menambahkan.
Paling tidak dengan uji coba pertama pengobatan HIV-AIDS
menggunakan rekayasa genetika, para peneliti dari pusat riset City of
Hope di California itu hendak menunjukkan, bahwa sel punca
pembentuk darah yang mengalami rekayasa, dalam jangka panjang
tetap imun terhadap serangan virus HIV-AIDS. Namun belum
diketahui, apakah sel yang mengalami rekayasa genetika itu juga dapat
berfungsi serupa pada pasien yang tidak mendapat chemoterapy.Karena

Terapi Gen untuk Penyembuhan Berbagai Penyakit 28

dengan chemoterapy dosis tinggi, fungsi pembentukan sel darah dan


sumsum tulang belakang ibaratnya dinon-aktifkan.
f. Masih Perlu Dikembangkan
Para peneliti mengingatkan, metode pengobatan dengan rekayasa
genetika sejauh ini belum merupakan pengganti dari metode
pengobatan konvensional HIV-AIDS, berupa pemberian cocktail obatobatan.Tentu saja berbagai riset dan inovasi dalam upaya memerangi
atau

jika

bisa,

menyembuhkan

penyakit

AIDS,

tetap

harus

dihargai.Sebab data dari organisasi kesehatan dunia WHO dan


UNAIDS yang amat memprihatinkan, sudah membunyikan tanda
bahaya bagi semua umat manusia.
Selain itu, dampak dari krisis global juga semakin terasa terutama
di benua Afrika kawasan selatan Sahara. Jika krisis berlanjut, perang
melawan HIV-AIDS diperkirakan akan mengendor, karena warga lebih
terfokus pada upaya mempertahankan kehidupan sehari-hari. Selain itu
berita mencemaskan dari kawasan Eropa Timur, dimana prevalensi
pengidap HIV-AIDS terus meningkat, terutama di kalangan pecandu
narkoba pengguna jarum suntik, harus segera diantisipasi.
3. Thallasemia
Thallasemia

merupakan

suatu

penyakit

darah

bawaan

yang

menyebabkan sel darah merah pecah (hemolisis), sel darah merah


penderita mengandung sedikit hemoglobin dan sel darah putihnya
meningkat jumlahnya (Supriyadi, dkk, 1992 dalam Duwi, 2010)).
Thallasemia merupakan penyakit keturunan yang paling banyak dijumpai
di Indonesia dan Italia. 6 sampai 10% dari 100 orang Indonesia membawa
gen penyakit ini. Jika dua orang yang sama-sama membawa gen ini
menikah maka satu dari empat anak mereka akan menderita thallasemia
berat (Duwi, 2010).
Kelainan gen ini akan mengakibatkan kekurangan salah satu unsur
pembentuk hemoglobin (Hb), sehingga produksi Hb berkurang. Terdapat
tiga jenis thallasemia yaitu : mayor, intermediate dan karier. Pada
thallasemia mayor, Hb sama sekali tidak diproduksi. Akibatnya penderita

Terapi Gen untuk Penyembuhan Berbagai Penyakit 29

akan mengalami anemia berat. Dalam hal ini jika penderita tidak diobati,
maka bentuk tulang wajahnya akan berubah dan wama kulitnya menjadi
hitam. Selama hidupnya penderta akan tergantung pada transfusi darah.
Hal ini dapat berakibat fatal, karena efek samping dari transfuse darah
yang terus menerus akan mengakibatkan kelebihan zat besi (Duwi, 2010).
Terapi gen merupakan harapan baru bagi penderita thallasemia di masa
mendatang. Terapi dilakukan dengan menggantikan sel tunas yang rusak
pada sumsum tulang penderita dengan sel tunas dari donor yang sehat. Hal
ini sudah diujicobakan pada mencit.
Tipe-tipe thalassemia:
Hemoglobin tersusun dari 2 jenis rantai protein, yaitu rantai protein
alpha globin & rantai protein beta globin.
1. Bila yang terganggu pembentukannya adalah rantai protein alpha,
maka thalasemia yang timbul disebut thalasemia alpha.
2. Bila yang terganggu pembentukannya adalah rantai protein beta,
maka thalasemia yang timbul disebut thalasemia beta.
Kedua tipe ini bisa ditemukan dalam bentuk ringan hingga berat.
Pembagian thalassemia, dibagi menjadi:
1. Thalassemia mayor
Tanda dan gejala umumnya muncul beberapa bulan setelah
lahir,wajah pucat dan limpa membesar, perubahan bentuk muka, kulit
kehitaman, gangguan pertumbuhan, dan gizi kurang/buruk.Transfusi
berfungsi membantu penderita thalassemia mayor untuk memperbaiki
pasokan sel darah merah.

Namun biasanya pasien memerlukan

transfusi darah dan terapi pengobatannya dilakukan sepanjang hidup.


Ada penderita yang memerlukan transfusi setiap dua bulan sekali atau
sebulan sekali, tergantung dari berat ringannya.
2. Thalassemia minor (pembawa sifat)
Gen penyebab thalasemia hanya diturunkan dari salah satu
orangtua, umumnya anak tersebut hanya menderita thalasemia dengan
manifestasi klinis yang ringan, bahkan kadang tidak ada gejala klinis
yang timbul. Orang dengan gen pembawa thalasemia namun tanpa

Terapi Gen untuk Penyembuhan Berbagai Penyakit 30

gejala ini disebut pembawa sifat atau karier (carrier) thalasemia.


Walaupun tanpa gejala, karier thalasemia tetap akan menurunkan gen
pembawa sifat thalasemia ini pada keturunannya.
4. Memperpanjang Usia Sel/ Penanggulangan Penyakit-penyakit yang
Berkaitan dengan Keuzuran
The Sunday Times (15 Januari 1998) mengabarkan, seorang ilmuwan
AS telah berhasil menyingkap rahasia penuaan. Dari main-main dengan
materi genetik, mereka menemukan sumber zat awet muda untuk
membuat sel manusia hidup lebih lama. Usaha memperpanjang usia sel
manusia dpandang akan sangat bermanfaat bagi penanggulangan penyakitpenyakit yang berkaitan dengan keuzuran. Tim Dr. Woodring Wright,
professor biologi sel di niversity of Texas, Dallas, menggunakan enzim
telomerase. Enzim ini dihasilkan oleh sel kecambah, seperti sel telur dan
sperma, dan mempengaruhi telomerase (ujung kromosom). Sebagian kecil
telomer ternyata hilang setiap kali sel biasa pada tubuh manusia membelah
diri. Namun karena sel normal tidak menghasilkan enzim telomer,
telomere tidak tumbuh lagi. Tim Dr. Wright berhasil menemukan cara
untuk menumbuhkan kembali telomer ini dengan menggunakan enzim
telomerase. Hilangnya telomer berkaitan dengan keuzuran. Dengan
telomerase, telomer bisa diregenerasi sehingga penuaan (setidaknya
ditingkat sel) dapat dihentikan ini tidak berarti manusia dapat hidup
selamanya, karena matinya sel hanya salah satu saja dari sekian banyak
proses yang membuat seseorang menjadi tua. Penuaan ini dapat membantu
memperpanjang usia sel dengan cukup berarti. Kebutuhan akan sel yang
jauh lebih panjang umur dari yang sampai kini ada, memang amat
dibutuhkan oleh para terapis gendalam usahanya menyembuhkan pasien
berpenyakit menurun, misalnya cystic fibrosis. Dalam terapi ini yang biasa
dilakukan adalah mengambil sel-sel si pasien, memasukkan gen sehat ke
dalam sel-sel itu, lalu mengembalikan ke tubuh pasien. Diharapkan sel
yang telah dimanipulasi itu akan mengambil alih peran sel-sel yang
membawa kelainan penyakit tadi. Sayangnya, seringkali sel-sel sehatnya
keburu menua di saat terapis selesai menanganinya, sehingga mati

Terapi Gen untuk Penyembuhan Berbagai Penyakit 31

sebelum bisa berbuat banyak. Dengan mencegah kematian sel, proses


telomerase diharapkan juga akan merangsang sel-sel bekerja lebih baik
5. Terapi Gen Berpotensi Efektif Mengobati Penyakit Kronis
Di awal tahun ini, sebuah percobaan perawatan terapi gen untuk
penyakit kronis berhasil dilakukan. Percobaan yang diujikan pada tikus itu
berhasil membuat tubuh tikus bebas dari gejala penyakit selama tiga bulan.
Tikus-tikus percobaan tersebut disuntik dengan suatu gen yang
merangsang tubuhnya melepaskan endorfin, yaitu zat penawar rasa sakit
alami yang dikeluarkan tubuh suatu makhluk hidup. Gen yang
dimanipulasi itu disisipkan ke dalam sel saraf di sekitar sumsum tulang
belakang.
Percobaan itu meniru efek dari obat penawar rasa sakit, tetapi dengan
lingkup yang lebih khusus. Targetnya adalah sel-sel saraf di sepanjang
sumsum tulang belakang, bukan di otak ataupun di daerah lain yang
termasuk sistem saraf pusat.
Para peneliti berharap bahwa terapi semacam ini kelak berpotensi
besar untuk digunakan dalam penyembuhan penyakit kronis sebagai upaya
menyingkirkan efek obat ber-opium yang selama ini biasa dikonsumsi si
pasien.
Untuk eksperimen ini, para peneliti membungkus gen endorfin
prepro-b dalam suatu virus jinak dan menyuntikkannya ke dalam sumsum
tulang belakang tikus. Tikus percobaan yang mengidap sakit saraf
neuropatik, setelah disuntik menunjukkan hasil positif. Si tikus yang sakit
terbebas dari gejala kronis selama lebih dari tiga bulan.
Terapi semacam ini memang masih dalam wacana uji coba. Namun,
telah menunjukkan sebuah bukti bahwa cara ini akan aman dan efektif
juga bila diterapkan pada manusia. Terapi ini dapat langsung membantu
pasien yang tak mampu bertoleransi dengan efek samping obat-obat
penawar sakit yang ada selama ini. Atau mereka yang tak puas dengan
khasiat obat-obatan itu, tambah Beutler lagi. Bahkan, diperkirakan pasien
kanker akut akan merasa sangat terbantu dengan kinerja terapi gen
tersebut.

Terapi Gen untuk Penyembuhan Berbagai Penyakit 32

3.2.

Bahaya Terapi Gen


Seorang pasien yang menerima terapi gen mungkin menghadapi masalah
jumlah potensial. Salah satu risiko besar adalah potensi untuk infeksi atau
reaksi sistem kekebalan. Virus vektor, cara memberikan terapi gen untuk sel,
dapat menyebabkan infeksi dan / atau peradangan dari jaringan, dan
pengenalan buatan virus ke dalam tubuh dapat memulai proses penyakit lain.
Risiko lain adalah bahwa gen baru mungkin diperkenalkan di posisi yang
salah dalam DNA, mungkin menyebabkan mutasi genetik merusak DNA atau
bahkan kanker. Selain itu, ketika vektor digunakan untuk memberikan sel-sel
DNA ada sedikit kesempatan bahwa DNA ini dapat secara tidak sengaja
diperkenalkan ke dalam sel-sel reproduksi pasien. Jika hal ini terjadi, ada
kemungkinan bahwa perubahan mungkin akan diteruskan kepada-Nya /
keturunannya itu setelah perawatan.

BAB IV
PENUTUP
4.1.

Kesimpulan
Terapi gen adalah suatu teknik yang digunakan untuk memperbaiki gengen mutan (abnormal/cacat) yang bertanggung jawab terhadap terjadinya
suatu penyakit.

Terapi Gen untuk Penyembuhan Berbagai Penyakit 33

Pada awalnya, terapi gen diciptakan untuk mengobati penyakit keturunan


(genetik) yang terjadi karena mutasi pada satu gen, seperti penyakit fibrosis
sistik. Penggunaan terapi gen pada penyakit tersebut dilakukan dengan
memasukkan gen normal yang spesifik ke dalam sel yang memiliki gen
mutan.
Terapi gen kemudian berkembang untuk mengobati penyakit yang terjadi
karena mutasi di banyak gen, seperti kanker. Selain memasukkan gen normal
ke dalam sel mutan, mekanisme terapi gen lain yang dapat digunakan adalah
melakukan rekombinasi homolog untuk melenyapkan gen abnormal dengan
gen normal, mencegah ekspresi gen abnormal melalui teknik peredaman gen,
dan melakukan mutasi balik selektif sehingga gen abnormal dapat berfungsi
normal kembali.
4.2.

Saran
Suatu

kemajuan

teknologi

dapat

dimanfaatkan

untuk

perkembanganzaman. Namun, sebaiknya kemajuan teknologi juga harus


memperhatikan danmempertimbangkan keseimbangan ekologi lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA

Achamadullah. 2007. Penggunaan Terapi Gen Sebagai Pengobatan Kanker.


Bandung : Buletin Biotehnologi dan Genetika

Terapi Gen untuk Penyembuhan Berbagai Penyakit 34

Ariawati, Yantie. 2012. Inhibitor Pada Manusia. Denpasar. Departement of


Child Health Medical School

Mulyadi, Masan.

2007.

Buku Patologi

dan

Kedokteran

II.

Semarang:PT.Karya Toha Putra

Murakami, Kazuo. 2015. Rahasia DNA: kode bentuk kehidupan manusia.


Jakarta : PT. Gramedia Pustaka

Muscari, Mary.e. 2005. Panduan Belajar Keperawatan Pediatrik E/3. Jakarta.


Penerbit Buku Kedokteran ECG

Novilia, Ambarwati. 2006. Kemajuan IPTEK untuk Kemashalatan Umat.


Yogyakarta: UGM press

Suega.K, Renny. 2006. Seorang Penderita Hemofilia Dengan Perdarahan


Masif. Jakarta: penerbit Pena.

Terapi Gen untuk Penyembuhan Berbagai Penyakit 35