Anda di halaman 1dari 29

MENGENAL DUNIA ANAK

MELALUI RAGAM BACAANNYA


Disusun guna memenuhi tugas akhir Mata Kuliah Sastra Anak
Dosen Pengampu: Nas Haryati S.

Oleh:
Nama
NIM
Rombel
Prodi

:
:
:
:

Hayah Anisa Ufitri


2101413087
III
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

BAHASA DAN SASTRA INDONESIA


FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2014

PRAKATA
Bismillahirrahmanirrahim
Segala puji bagi Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada
penulis, sehingga penulis mendapatkan kekuatan untuk menyelesaikan
makalah tugas akhir mata kuliah Sastra Anak dengan judul Mengenal
Dunia Anak Melalui Ragam Bacaannya ini.
Makalah ini penulis susun guna memenuhi tugas akhir Mata Kuliah
Sastra Anak yang diampu oleh Ibu Nas Haryati S..
Guna

memperlancar

penyusunan

makalah

ini,

penulis

telah

memeroleh banyak bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Untuk itu,
penulis merasa perlu menyampaikan terima kasih kepada Ibu Nas Haryati
S. selaku pengampu Mata Kuliah Sastra Anak yang telah membantu
penulis memperdalam materi dan juga teman-teman yang telah memberi
penulis dukungan untuk menyelesaikan makalah ini.
Penulis menyadari, bahwa makalah ini masih banyak kekurangan
dan kesalahan. Oleh karena itu, maka saran dan kritik yang bersifat
membangun

sangat

diharapkan.

Agar

penyusunan

untuk

makalah

selanjutnya dapat lebih baik lagi. Mudah-mudahan makalah ini dapat


bermanfaat bagi penulis dan pembaca pada umumnya.

Semarang,
Desember 2014
Penulis
Hayah Anisa Ufitri

DAFTAR ISI

Halaman Judul ................................................................................................................... i


PRAKATA .......................................................................................................................... ii
DAFTAR ISI ..................................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................................. 1
A. Latar Belakang .............................................................................................................1
B. Landasan Teori .............................................................................................................1
BAB II PEMBAHASAN ................................................................................................... 4
A. Analisis Cerita Anak Ketika Abe Belajar Marah Karya Nurhayati Pujiastuti
dengan Pendekatan Mimetik ...................................................................................... 4
B. Analisis Puisi Anak dengan Pendekatan Objektif .................................................... 9
C. Analisis Drama Anak Cermin Penunjuk Sifat Buruk gubahan dari cerpen Cermin
Penunjuk Sifat Buruk ............................................................................................... 17
BAB III PENUTUP ......................................................................................................... 22
A. Simpulan ..................................................................................................................... 22
B. Saran ........................................................................................................................... 22
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................... 23
LAMPIRAN ..................................................................................................................... 24

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penikmat karya sastra rasanya tidak terbatas pada faktor usia. Anak-anak pun
termasuk ke dalam jajaran penikmat karya sastra. Tetapi, sudah ditarik garis lurus bahwa
karya sastra untuk anak-anak tentu berbeda dengan karya sastra yang ditujukan untuk

kaum remaja apalagi dewasa. Perbedaan pada tiap jenjang usia tersebut bukan tanpa
alasan. Tentunya banyak faktor-faktor lain yang menjadi bahan pertimbangan.
Dengan mempelajari karya sastra yang dikhususkan bagi anak-anak maka kita akan
tahu seperti apa dunia anak-anak itu. Atau sebaliknya, dengan mengetahui dunia anakanak yang seperti ini dan itu kita akan dimudahkan dalam membuat atau memilih karya
sastra yang dikhusukan untuk anak-anak.
Sebagai pembuktian kecocokan karya sastra untuk anak-anak dilakukanlah suatu
analisis. Analisis tersebut dilakukan biasanya melalui beberapa pendekatan. Bergantung
pada tujuan yang ingin dicapai. Pendekatan karya sastra adalah cara kita mendekati atau
mengenal karya sastra secara lebih dekat.
Umumnya pendekatan yang sering digunakan adalah pendekatan yang dikemukakan
oleh Abrams. Pendekatan mimetik yang bertujuan mencari kaitan karya sastra dengan
alam semesta. Pendekatan objektif yang bertujuan mendalami seluk-beluk karya sastra itu
tanpa mengikutsertakan unsur-unsur lain. Pendekatan pragmatik yang bertujuan
menyampaikan maksud karya sastra ke pembaca. Terakhir, pendekatan ekspresif
bertujuan menuliskan pola pikir kreatif pengarang dalam menyusun karya sastra.
Kemudian, dengan menjamurnya ragam bacaan yang ditujukan untuk anak-anak.
Kita dituntut untuk bisa mengenal dunia anak. Dunia yang turut tergambar dalam cerita
mereka, puisi mereka, serta drama mereka. Untuk bisa membuat karya yang semacam itu,
sudah barang tentu, dibutuhkan pemahaman mengenai dunia anak beserta seluk-beluknya.
B. Landasan Teori
1. Model Sastra Abrams
Dalam buku yang berjudul The Mirror and the Lamp, M.H.
Abrams meneliti teori-teori mengenai sastra yang berlaku dan
diutamakan di masa Romantik, khususnya dalam puisi dan ilmu
sastra Inggris dalam abad ke-19. Abrams memeperlihatkan bahwa
kekacauan dan keragaman teori sastra tersebut lebih mudah
dipahami dan teliti jika kita berpangkal pada situasi karya sastra
secara menyeluruh.
(Semesta)
Universe
Work (Karya)
(Pencipta) Artist
Audience (Pembaca)
1. Pendekatan yang menitikberatkan karya itu sendiri, yaitu
pendekatan obyektif.
4

2. Pendekatan yang menitikberatkan penulis, yaitu pendekatan


ekspresif.
3. Pendekatan yang menitikberatkan semesta, yaitu pendekatan
mimetik.
4. Pendekatan yang menitikberatkan pembaca, yaitu pendekatan
pragmantik.
Istilah mimetik berasal dari Bahasa Yunani: mimesis yang sejak
dahulu dipakai sebagai istilah untuk menjelaskan hubungan antara
karya seni dan kenyataan. Istilah pragmantik menunjuk pada efek
komunikasi yang seringkali dirumuskan dalam istilah Horatius, seni
harus menggabungkan sifat bermanfaat dan manis. Pembaca kena,
dipengaruhi, digerakkan untuk bertindak oleh karya seni yang baik.
Pada

zaman

romantik,

pendekatan

yang

terkenal

adalah

pendekatan ekspresif, penulis menjadi sorotan utama sebagai


pencipta yang kreatif dan jiwa pencipta itu mendapat minat yang
utama dalam penilaian dan pembahasan karya sastra. Dalam aliran
strukturalisme,

karya

sastra

dianggap

sebagai

sesuatu

yang

otonom. Sebaliknya dalam kritik sastra aliran Marxis aspek mimetik,


yaitu hubungan karya seni dengan kenyataan menjadi ciri utama
dalam

penilaiannya.

Sastra

sebagai

ungkapan

bahasa

tidak

mungkin kita paham tanpa pengetahuan mengenai keadaan dan


fungsi bahasa. Ilmu sastra sebagai dasarnya memerlukan ilmu
bahasa.
2. Cerita Fiksi, Puisi, dan Drama Anak
a. Cerita Fiksi Anak
Teks fiksi berisi cerita tentang hidup dan kehidupan, manusia
dan kemanusiaan, yang semuanya itu ditulis secara prosais.
Cerita fiksi mesti menampilkan tokoh-tokoh cerita, yang tokoh
tersebut tidak harus anak tetapi juga orang dewasa. Misalnya
tokoh anak-anak dengan sebaya, orang tua, guru, kakak, dan lainlain yang mencerminkan situasi interaksi dalam kehidupan yang
nyata. Dalam kehidupan nyata anak tidak pernah terisolasi dalam
kehidupan khusus yang dihuni oleh anak-anak saja, melainkan
berbaur dengan siapa saja yang mereka jumpai, termasuk di
dalamnya dengan situasi lingkungan dan alam.
5

Pada hakikatnya sastra adalah citra kehidupan, gambaran


kehidupan. Dengan citra kehidupan itu sastra dapat dipahami
sebagai penggambaran secara konkret tentang model-model
kehidupan sebagaimana yang dijumpai dalam kehidupan yang
sesungguhnya di dunia sehingga mudah diimajinasika oleh
pembaca anak.
b. Puisi Anak
Puisi adalah sebuah genre sastra yang amat memperhatikan
pemilihan aspek kebahasaan. Tetapi, berbeda dengan puisi anak.
Puisi anak lebih mengutamakan unsur rima dan irama. Hal itu
secara jelas terlihat pada puisi-puisi lagu dan tembang-tembang
dolanan yang terlihat mengeksploitasi kedua aspek itu untuk
memeroleh efek keindahan puisi.
Akan tetapi, di samping kedua unsur itu. Masih ada unsurunsur lain yang tak kalah pentingnya, yakni unsur fisik dan unsur
batin. Unsur fisik meliputi diantaranya tipografi, pencitraan,
pemadatan

bahasa,

pemilihan

bahasa,

rima,

kata

konkret.

Sedangkan unsur batin meliputi tema, nada dan suasana,


perasaan, dan amanat.
c. Drama Anak
Drama sebagai alat untuk secara langsung mengekspresikan
diri dan sebagai sarana pengenalan diri. Karena melalui drama,
seorang anak dapat mendalami tokoh. Lazimnya, drama banyak
digunakan di sekolah sebagai alat dan cara untuk menerjemahkan
bacaan-bacaan

mereka.

Sebuah

objek,

pemikiran,

atau

pengalaman menjadi konkret dan terpahami melalui dramatisasi.


Drama

yang

secara

khusus

ditulis

untuk

anak

biasanya

menyangkut langsung persoalan mereka, atau persoalan besar


lain yang dianggap perlu mereka pahami dan maknai.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Analisis Cerita Anak Ketika Abe Belajar Marah Karya Nurhayati Pujiastuti
dengan Pendekatan Mimetik
Merujuk pada laman

http://rsbikaltim.blogspot.com/2012/02/analisis-teori-

mimetik.html. Kegiatan analisis cerita anak dengan pendekatan mimetik dilakukan dalam
empat tahap. Tahap pertama adalah tahap mengidentifikasi aspek sosial dalam cerita
anak Ketika Abe Belajar Marah karya Nurhayati Pujiastuti. Tahap kedua adalah analisis
aspek sosial dalam cerita anak Ketika Abe Belajar Marah karya Nurhayati Pujiastuti.
Tahap ketiga adalah pembuktian aspek sosial sebagai bentuk peniruan dari kehidupan
nyata dalam cerita anak Ketika Abe Belajar Marah karya Nurhayati Pujiastuti. Tahap
keempat adalah analisis aspek sosial dalam cerita anak Ketika Abe Belajar Marah karya
Nurhayati Pujiastuti yang dihubungkan dengan dunia nyata.
Permasalahan sosial dalam cerita anak Ketika Abe Belajar Marah karya Nurhayati
Pujiastuti, yang merupakan bentuk penggambaran dunia anak dapat diidentifikasikan
menjadi: 1) bentuk pelampiasan kemarahan anak, 2) imitasi anak terhadap orang tuanya,
3) pemberian bimbingan dan nasihat oleh orang tua, dan 4) keinginan memeroleh
pengakuan dari orang lain.
1. Bentuk Pelampiasan Kemarahan Anak
Bentuk pelampiasan kemarahan tiap individu berbeda-beda. Perbedaan itu
dipengaruhi oleh sifat bawaan dan lingkungan. Pelampiasan kemarahan dan perasaan
yang lainnya merupakan bentuk cerminan dari pribadi seseorang. Pelampiasan
kemarahan dan perasaan pribadi tipe introvert (tertutup) tentu berbeda dengan
pelampiasan pribadi extrovert (terbuka).
Dalam cerita anak Ketika Abe Belajar Marah karya Nurhayati Pujiastuti,
diceritakan bahwa bentuk kemarahan dari tiap anak itu berbeda-beda. Abe, tokoh
utama dalam cerita itu juga memiliki karaktristik pelampiasan yang berbeda dengan
teman-temannya yang lain. Tetapi, Abe tidak menyadarinya dan malah berniat belajar
agar bisa melampiaskan kemarahannya seperti teman-teman yang lain. Hal ini secara
tersurat tertulis dalam cuplikan berikut:
Aku ingin sekali belajar marah. Marah, seperti Tino yang kalau marah suka
berteriak dan membuat teman-temannya takut. Marah seperti Ojay yang kalau
marah bias melempar batu dan kadang-kadang batu itu kena kaca jendela orang.

Atau marah seperti Ninis yang kalau marah suka menangis berguling-guling di
depan rumahnya. (Majalah Bobo 36, 2014: 50-51)
Karakteristik tokoh Abe juga terdapat di kehidupan nyata. Banyak Abe Abe lain
di sekitar kita. Anak yang kesulitan mengekspresikan kemarahan dan perasaannya.
Kemudian mereka belajar dari lingkungan dan teman-temannya untuk belajar
mengekspresikan hal itu. Anak-anak butuh untuk melampiaskan kemarahan dan
perasaannya agar mereka merasa puas serta lega, tugas orang dewasa adalah
membimbing dan mengawasi proses pelampiasan itu agar tidak merugikan
lingkungan sekitar atau pihak manapun. Sedangkan bentuk pelampiasan/penyaluran
umumnya terbagi menjadi dua, yakni:
Mengenai penyaluran perasaan marah dapat dibagi menjadi dua kategori,
yakni kemarahan dinyatakan dan kemarahan yang tidak dinyatakan. Emosi marah
anak yang dinyatakan akan diungkapkan secara spontan dalam tindakan. Seperti
berteriak, memukul, mencakar, dan lainnya. Sementara emosi marah anak yang
tidak dinyatakan biasanya akan dipendam di dalam hatinya. Anak yang jarang
diberi kesempatan untuk mengekspresikan kemarahannya cenderung seperti ini.
Pada keluarga yang terlalu banyak aturan, contoh. Alhasil, perasaan kesal, dongkol,
tersinggung

dan

sebagainya

akan

dipendam

rapat-rapat.

(http://www.kancilku.com/Ind//index.php?option=com_content&task=view&id=214)
Bentuk pelampiasan perasaan tiap individu berbeda. Hal itu salah satunya
bergantung pada cara orang tua mendidik dan membimbing emosi anak-anaknya.
Bimbingan emosi dan segala aspek lain yang terkait merupakan sesuatu yang penting
bagi proses tumbuh kembang anak. Pentingnya pelampiasan emosi anak juga tertulis
di dalam artikel berikut:
Bagaimanapun, pada prinsipnya, perasaan marah anak mesti disalurkan agar
ia tidak frustasi. Namun penyalurannya harus dengan cara yang bisa diterima.
Tidak dengan cara-cara kasar, membanting-banting, berteriak, berkata kasar dan
lainnya. Karena itulah penting bagi anak untuk dapat mengendalikan dirinya.
(http://www.kancilku.com/Ind//index.php?

option=com_content&task=view&id=214)
Anak yang memiliki kendali emosi yang baik akan mampu menjalani proses
tumbuh kembang yang baik dan mampu mengenali dan menyikapi keadaan di
sekitarnya dengan lebih tepat. Dengan mempunyai kendali emosi yang baik, proses
pelampiasan juga bisa dilakukan dengan cara yang tepat tanpa merugikan lingkungan
sekitar.
2. Imitasi Anak Terhadap Orang Tuanya
8

Cerita anak Ketika Abe Belajar Marah karya Nurhayati Pujiastuti menceritakan
pula interaksi sosial yang dilakukan Abe dengan teman-temannya. Mereka membina
hubungan pertemanan. Mereka melakukan proses sosialisasi. Mereka melakukan
interaksi sosial satu sama lain.
Proses interaksi sosial yang dilakukan para tokoh di dalam cerita tersebut juga
terjadi di kehidupan nyata. Individu tidak mungkin bisa hidup dengan mengandalkan
dirinya sendiri, tentu kita butuh orang lain untuk memenuhi dan membantu kita
dalam menjalani kehidupan.
Pada saat manusia lahir ia belum mempunyai diri (self). Diri manusia
berkembang tahap demi tahap melaui interaksi dengan anggota masyarakat lain. Ada
4 tahap perkembangan manusia, yaitu: 1) tahap persiapan (preparatory stage), 2)
tahap meniru (play stage), 3) tahap bertindak (game stage), dan 4) tahap menerima
norma (generalized others). (Modul IPS untuk SMK Kelas X).
Sesuai penjelasan di atas, anak-anak mengalami tahap meniru, yang pada tahap
tersebut anak-anak akan meniru peran/perilaku orang-orang yang ada di sekitarnya,
terutama orang tua, karena orang tualah agen pertama yang dikenal dan sangat dekat
dengan anak-anak.
Dalam tahap meniru ini dikenal istilah yang popular yakni imitasi, yang berarti
proses belajar dengan cara meniru atau mengikuti perilaku orang lain. Anak-anak
pun belajar dengan cara meniru perilaku orang lain, juga perilaku orang tuanya.
Banyak yang mengatakan bahwa perilaku anak merupakan cerminan perilaku orang
tuanya, peribahasa menyebutkan buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Pun dengan hal
yang dilakukan anak-anak dalam mengekspresikan dan membawa dirinya dalam
pergaulan sehari-hari.
Dalam cerita anak Ketika Abe Belajar Marah karya Nurhayati Pujiastuti secara
implisit dituliskan bahwa cara anak-anak melampiaskan dan mengekspresikan
kemarahan serta perasaannya merupakan tiruan dari cara orang tua melampiaskan
dan mengekspresikan perasaannya, dan anak-anak meniru hal itu. Hal ini merupakan
fenomena yang fakta dan memang ada di kehidupan nyata. Berikut potongan hal itu
dalam cerita anak Ketika Abe Belajar Marah.
Emak aku suka marah, jadi aku ikut-ikutan, Wawan bercerita sambil tertawa.
Enak rasanya?
Wawan memandangi Abe. Lalu menggeleng. Kalau habis marah, aku jadi
capek.
Abe mengangguk. Capek itu yang Abe tidak ketahui.

Kemarin aku kena jewer Bapak karena teriak-teriak di rumah waktu ada tamu.
Tamunya sampai kaget dan Bapak bilang aku sudah bikin malu. Habis, Bapak juga
suka teriak kalau di rumah, Wawan melanjutkan.
Abe mendengarkan sambil memandangi wajah Wawan. (Majalah Bobo 36,
2014: 50-51)
3. Pemberian Bimbingan dan Nasihat Oleh Orang Tua
Memberi bimbingan dan nasihat kepada anak adalah salah satu tugas dari orang
tua. Pemberian bimbingan dan nasihat ini diberikan guna mendidik, mengarahkan
serta mengendalikan perilaku anak-anak. Seperti apa perilaku baik dan seperti apa
perilaku buruk.
Pemberian bimbingan dan nasihat sebaiknya dilakukan dengan cara yang anak
sukai dan tidak memaksa atau mengekang anak-anak. Orang tua sebaiknya tidak
menghakimi dan menghukum secara berlebihan ketika anak-anak berbuat sesuatu
yang keliru dan merugikan orang lain. Nasihat yang sifatnya mengekang justru akan
mematikan sikap eksplorasi dari anak. Cara membimbing dan menasihati yang baik
dilakukan oleh Bunda Abe. Berikut penggalannya:
Tidak apa-apa, asal kamu marah yang benar, ya? ujar Bunda ketika
mengantar Abe sampai di pintu pagar rumahnya. Marah itu juga tidak selalu harus
teriak atau memukul. (Majalah Bobo 36, 2014: 50-51).
Dalam kehidupan sehari-hari, bayak orang tua yang keliru dalam menasihati
anak-anaknya. Kebanyakan mereka menasihati dengan melarang, memaksa, dan
menyuruh. Padahal hal tersebut justru akan membuat anak memberontak atau malah
merasa terkekang dan tertutup serta hanya memendam emosinya. Akhirnya, ketika
emosi itu diluapkan akan berdampak buruk bagi diri anak sendiri maupun sekitarnya.
4. Keinginan Memeroleh Pengakuan dari Orang Lain
Dilansir dari situs http://www.pendidikankarakter.com/pentingnya-memahamikebutuhan-emosional-anak/, anak-anak memiliki 3 kebutuhan emosional yang
utama. Kebutuhan itu adalah: kebutuhan untuk merasa aman, kebutuhan akan
pengakuan (merasa penting) dan diterima atau dicintai, dan kebutuhan untuk
mengontrol (merasa mandiri atau keinginan untuk mengontrol).
Salah satu alasan mengapa Abe ingin marah adalah karena dia ingin sama
seperti teman-temannya yang lain, yang bisa melampiaskan kemarahannya dengan
menangis, berteriak, memukul, dsb. Dan hal yang melatarbelakangi keinginan Abe
untuk marah adalah Abe ingin memeroleh suatu pengakuan dari teman-temannya
bahwa Abe juga bisa marah tidak diam saja. Berikut penggalan ceritanya:

10

Akan tetapi Abe juga ingin marah. Abe ingin belajar teriak, Abe ingin belajar
menangis, Abe juga ingin membuat teman yang nakal padanya jadi tahu kalau Abe
bisa marah. (Majalah Bobo 36, 2014: 50-51).
Selain hal-hal yang telah dipaparkan di atas, kebutuhan akan pengakuan juga
melingkupi kebutuhan anak atas kasih saying dan perhatian dari orang tua dan
lingkungan sekitar. Anak-anak ingin merasa bahwa diri serta perannya bisa diterima
dan direspon dengan baik oleh lingkungannya. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi
akan berdampak buruk bagi diri anak dan lingkungan sekitarnya, seperti penggalan
berita berikut:
Ada kasus ekstrim pada 16 april 2007, seorang siswa US Virginia Tech, Cho
Seng-hui. Menembak dan menewaskan 32 siswa. Apa yang mendorong perilaku
tersebut, sehingga dia melakukan hal yang begitu luar biasa gila? Dia melakukan
hanya karena kebutuhan pengakuan dan rasa pentingnya begitu besar, tetapi tidak
terpenuhi oleh orang-orang yang mengabaikannya dan menghinanya. Hal itu
memaksanya keluar dari dunia logika dan merenggut nyawa orang lain serta dirinya
sendiri, dalam pikirannya dia berpikir lebih baik mati bersama nama buruk dari
pada

hidup

bukan

sebagai

siapa-siapa.

(http://www.pendidikankarakter.com/pentingnya-memahami-kebutuhan-emosionalanak/)
Adanya kasus tersebut menyadarkan orang dewasa untuk lebih memerhatikan
anak-anak. Memberi mereka kasih sayang dan perhatian. Jika tidak bisa memberikan
pengjaran secara langsung, dapat kita alihkan melalui cerita yang dibacanya, film
yang ditontonnya, dan teman-teman yang bergaul dengannya.
Dari keempat identifikasi aspek sosial tersebut, dapat disimpulkan bahwa
peristiwa-peristiwa dalam cerita anak Ketika Abe Belajar Marah karya Nurhayati
Pujiastuti adalah cerita/peristiwa yang benar-benar ada di kehidupan nyata. Seperti itulah
sepotong gambaran dunia anak.
B. Analisis Puisi Anak dengan Pendekatan Objektif
Ada tiga buah puisi yang dianalisis dengan pendekatan objektif. Dengan dianalisis
menggunakan pendekatan objektif, maka akan diketahui struktur-struktur pembentuknya
yang mirip juga unsur-unsur berbeda lainnya yang menjadi ciri khas dari tiap-tiap puisi.
Puisi pertama berjudul Satu Indonesiaku karya Eva Nudaeva. Puisi kedua berjudul
Bencana Alam karya Ardianto. Puisi yang ketiga berjudul Selamat Tidur karya Novy
Dwi Anggraini. Sedangkan aspek-aspek yang akan dianalisis meliputi dua unsur utama,
unsur fisik dan unsur batin.
1. Unsur Fisik Puisi
a. Pemadatan bahasa
11

Pemadatan bahasa yang merupakan ciri khas dari puisi tidak ditemukan pada
ketiga puisi anak-anak. Hal ini membuktikan bahwa aspek-aspek puisi yang telah
diteorikan tidak serta merta berlaku di semua jenis puisi.
Puisi anak adalah puisi dengan bahasa yang lugas dan apa adanya. Dalam
ketiga puisi anak itu memang tak ditemukan pemadatan bahasa, tetapi terdapat
penyingkatan bahasa, artinya, penyair menggunakan bahasa yang lugas tetapi
singkat dan ringkas.
b. Pemilihan kata khas (diksi)
Selugas dan sesederhana apapun puisi anak, seorang penyair pasti berusaha
memilih kata-kata yang dianggap indah olehnya yang kemudian disusunnya
menjadi puisi. Salah satu media yang bisa digunalan adalah pemajasan. Dengan
menggunakan majas, akan diperoleh efek bahasa yang terkesan indah dan apik.
Pada puisi pertama yang berjudul Satu Indonesiaku karya Eva Nudaeva
terdapat majas pertentangan pada bait kedua.
Satu ....
Satu impianku
Bangsaku makmur dan sejahtera
Walau tangis kelaparan
Walau rintih kemiskinan
Semua tenang
Semua senang
Pada larik keempat sampai larik ketujuh, terdapat pertentangan keadaan yang
sangat jelas. Pada larik keempat dan kelima tertulis walau tangis kelaparan dan
walau rintih kemiskinan. Keadaan yang bertentangan ada pada larik selanjutnya
yaitu larik keenam dan ketujuh. Pada larik keenam dan ketujuh tertulis semua
tenang dan semua senang. Pertentangan keadaan tersebut mudah dinalar. Adalah
suatu hal yang tidak mungkin dalam keadaan yang lapar dan miskin, semua bisa
tenang apalagi senang. Namun, penggunaan pertentangn tersebut mampu
membuat efek bahasa yang indah dalam puisi tersebut.
Pada puisi kedua yang berjudul Bencana Alam karya Ardianto pada bait
kedua, terdapat penguraian bahasa yang justru mampu meningkatkan nilai rasa.
Air laut pun bertumpahan
Gunung-gunung meletus
Gempa bumi bergoncangan
Angin topan berhembus
Penggunaan uraian bahasa yang mampu meningkatkan nilai rasa ada pada larik
pertama Air laut pun bertumpahan. Penggunaan uraian itu memiliki nilai rasa
lebih jika dibandingkan hanya menggunakan istilah tsunami.
Pada puisi keempat yang berjudul Selamat Tidur karya Novy Dwi Anggraini
pada bait satu dan dua terdapat majas personifikasi.
12

Ketika cerahnya sinar mentari kau tinggalkan


Tanpa kau sadari, kau pun meninggalkan ramainya suasana
Menyambut keheningan
Sebuah keheningan tercipta saat malam tiba
Angin malam berhembus dingin
Dan kabut menyelimuti alam semesta
Tiada yang dapat menghangatkan
Doapun kupanjatkan
Ketika malam tiba
Bintang-bintang bermunculan
Menebarkan senyuman ke seluruh dunia
Mengisi kekosongan hati setiap insan
Membuatku ingin mengucapkan sepatah kata
Selamat tidur kawan
Pada larik keenam bait satu Dan kabut menyelimuti alam semesta. Kata
menyelimuti lazimnya digunakan oleh manusia. Tetapi, dalam puisi itu, kata
menyelimuti digunakan oleh kabut. Kemudian pada larik keempat yang
merupakan kelanjutan dari larik ketiga Bintang-bintang bermunculan dan
Menebarkan senyuman ke seluruh dunia. Penggunaan frase menebarkan
senyuman adalah lazim dilakukan oleh manusia. Sedangkan dalam puisi itu, frase
menebarkan senyuman justru dilakukan oleh bintang-bintang.
c. Kata konkret
Kata konkret banyak digunakan dalam ketiga puisi anak. Penggunaan kata
konkret diperlukan untuk memperkonkret maksud yang disampaikan penyair.
Penggunaan kata konkret dalam puisi anak mengerucut guna mempermudah
dalam penafsiran dan mempertegas suatu makna.
Pada puisi pertama yang berjudul Satu Indonesiaku karya Eva Nudaeva
terdapat beberapa kata konkret. Misalnya pada bait satu larik pertama, kata subur
mengkonkretkan keadaan tanah Indonesia yang memang subur, banyak tanaman
yang tumbuh subur di tanah Indonesia.
Satu ....
Indonesiaku subur dan bersatu
Meski bencana dan kekerasan
Engkau tetap bangsaku
Pada puisi kedua yang berjudul Bencana Alam karya Ardianto terdapat
beberapa kata konkret. Misalnya kata mengerikan pada bait satu larik ketiga yang
mengkonkretkan penggambaran suasana yang mencekam dan menakutkan. Juga
kata bertumpahan, meletus, bergoncangan, dan berhembus pada bait dua larik
13

pertama sampai keempat. Kata bertumpahan mengkonkrekan keadaan air laut


yang tumpah. Kata meletus mengkonkretkan keadaan gunung-gunung yang tak
tenang dan memuntahkan materialnya. Pun begitu dengan gempa yang
berguncangan dan angina topan yang berhembus.
Tuhan telah memberi peringatan
Dengan menurunkan bencana
Bencana yang sangat mengerikan
Diturunkan kepada umatnya
Air laut pun bertumpahan
Gunung-gunung meletus
Gempa bumi bergoncangan
Angin topan berhembus
Pada puisi ketiga yang berjudul Selamat Tidur karya Novy Dwi Anggraini
terdapat beberapa kata konkret. Misalnya kata Bintang-bintang pada bait satu larik
ketiga. Kata bintang-bintang mempertegas makna bahwa yang bermuculan adalah
bintang-bintang, yang menebarkan senyuman adalah bintang-bintang, yang
mengisi kekosongan hati adalah bintang-bintang, dan bintang-bintanglah yang
membuat penyair ingin mengucapkan kata selamat tidur kepada kawan-kawannya.
Doapun kupanjatkan
Ketika malam tiba
Bintang-bintang bermunculan
Menebarkan senyuman ke seluruh dunia
Mengisi kekosongan hati setiap insan
Membuatku ingin mengucapkan sepatah kata
Selamat tidur kawan
d. Pengimajian (pencitraan)
Pada puisi pertama yang berjudul Satu Indonesiaku karya Eva Nudaeva
terdapat imaji visual, imaji auditif, dan imaji taktil. Imaji visual terdapat pada bait
satu larik kedua dan ketiga. Subur, bencana, dan kekerasan merupakan imaji yang
dapat ditangkap oleh indera penglihatan. Imaji auditif terdapat pada bait dua larik
keempat dan kelima. Tangis dan rintih merupakan imaji yang dapat ditangkap oleh
indera pendengaran. Terakhir, imaji taktil terdapat pada bait dua larik keenam dan
ketujuh. Tenang dan senang merupakan imaji yang dapat dirasakan.
Satu ....
Indonesiaku subur dan bersatu
Meski bencana dan kekerasan
Engkau tetap bangsaku
Satu ....
Satu impianku
14

Bangsaku makmur dan sejahtera


Walau tangis kelaparan
Walau rintih kemiskinan
Semua tenang
Semua senang
Pada puisi kedua yang berjudul Bencana Alam karya Ardianto terdapat imaji
visual, imaji auditif, dan imaji taktil. Imaji visual terdapat pada bait dua larik
pertama, air laut yang bertmpahan merupakan imaji yang dapat dilihat. Imaji
auditif terdapat pada bait tiga larik kedua, tangisan merupakan imaji yang bisa
didengar. Imaji taktil terdapat pada bait tiga larik pertama, ketakutan merupakan
imaji yang bisa dirasakan.
Air laut pun bertumpahan
Gunung-gunung meletus
Gempa bumi bergoncangan
Angin topan berhembus
Sedangkan orang-orang ketakutan
Yang terdengar hanya tangisan
Dari orang-orang yang kehilangan
Pada puisi ketiga yang berjudul Selamat Tidur karya Novy Dwi Anggraini
terdapat imaji visual, imaji auditif, dan imaji taktil. Imaji visual terdapat pada bait
satu larik pertama dan bait dua larik ketiga, cerahnya sinar mentari dan bintangbintang bermunculan merupakan imaji yang bisa dilihat. Imaji auditif terdapat
pada bait dua larik keenam sampai ketujuh, mengucapkan sepatah kata, selamat
tidur kawan merupakan imaji yang bisa didengar. Imaji taktil terdapat pada bait
satu larik kelima, angin berhembus dingin merupakan imaji yang bisa dirasakan.
Ketika cerahnya sinar mentari kau tinggalkan
Tanpa kau sadari, kau pun meninggalkan ramainya suasana
Menyambut keheningan
Sebuah keheningan tercipta saat malam tiba
Angin malam berhembus dingin
Dan kabut menyelimuti alam semesta
Tiada yang dapat menghangatkan
Doapun kupanjatkan
Ketika malam tiba
Bintang-bintang bermunculan
Menebarkan senyuman ke seluruh dunia
Mengisi kekosongan hati setiap insan
Membuatku ingin mengucapkan sepatah kata
Selamat tidur kawan
e. Irama (ritme)
Banyak lagu anak-anak yang mengutamakan pengulangan bunyi. Sarana
pengulangan bunyi pada lagu anak-anak yang mulanya adalah sebuah puisi sangat
disukai dan berhasil menarik perhatian anak-anak.
15

Aspek rima dan irama meliputi pengulangan bunyi maupun pengulangan kata,
frasa, serta larik. Di samping itu, ada suatu pola akhir dari tiap larik dan bait yang
dapat membuat efek pengulangan yang apik.
Pada puisi pertama yang berjudul Satu Indonesiaku karya Eva Nudaeva
terdapat pola pengulangan kata. Kata satu diulang-ulang tiap baitnya dan
diletakkan diawal tiap bait. Hal ini sekaligus berfungsi sebagai penegasan.
Pada puisi kedua yang berjudul Bencana Alam karya Ardianto terdapat pola
pengulangan bunyi diakhir larik. Permainan pola pengulangan bunyi ditata secara
apik oleh penyair. Pada bait satu pola pengulangannya a-a-a-a. Pada bait dua pola
pengulangannya a-s-a-s. Pada bait tiga pola pengulangannya a-a-a. Pada bait
empat pola pengulangannya juga sama seperti bait tiga, yaitu a-a-a.
Pada puisi ketiga yang berjudul Selamat Tidur karya Novy Dwi Anggraini
terdapat pola pengulangan akhir larik. Pada bait satu pola pengulangannya a-a-aa-i-a-a. Pada bait dua pola pengulangannya a-a-a-a-a-a-a.
f. Tata wajah (tipografi)
Ketiga puisi anak yang penulis analisis menggunakan tipografi yang rapidan
unik tetapi tidak rumit. Bentuk puisi seperti ini banyak diadopsi oleh puisi-puisi
anak yang lain. Selain itu, dari segi penulisannya pun, banyak puisi anak yang
menggunakan penulisan yang sesuai dengan kaidah penulisan. Banyak puisi anak
yang di larik awal selalu menggunakan huruf kapital.
Tipografi pada puisi pertama yang berjudul Satu Indonesiaku karya Eva
Nudaeva, terkesan rapi. Diawali huruf kapital pada tiap larik. Kemudian diberi
jarak satu spasi antarbait sebagai pemisah.
Tipografi pada puisi kedua yang berjudul Bencana Alam karya Ardianto,
terlihat unik tetapi tetap teratur mengikuti pola zigzag. Pola susunan larik
perbaitnya terbilang konsisten. Bait satu dan dua masing-masing empat larik. Bait
tiga dan empat masing-masing tiga larik. Bait-bait tersebut kemudian disusun
dengan pola zigzag. Bait satu dan bait tiga berada sejajar condong kiri. Bait dua
dan bait empat berada sejajar agak menjorok ke dalam dan condong kanan.
Tipografi pada puisi tiga yang berjudul Selamat Tidur karya Novy Dwi
Anggraini memiliki pola yang mirip dengan puisi dua. Hanya saja jumlah larik
dari tiap baitnya lebih banyak. Puisi tiga memiliki dua bait yang masing-masing
terdiri dari tujuh larik. Jumlah kata perlariknya pun lebih banyak sehingga terlihat
rapat, padat, dan sesak. Sedangkan dari pola penyajiannya adalah sama. Bait satu
disajikan dengan condong ke kiri. Sedangkan bait dua disajikan dengan agak
condong ke kanan.
2. Unsur Batin Puisi
16

a. Tema
Secara umum, tema-tema yang diangkat dalam puisi anak adalah yang
berhubungan erat dan berada di dekat anak-anak. Tema-tema puisi anak juga
merupakan hal yang diketahui oleh anak. Isi dari puisi anak adalah hal-hal yang
berhasil anak-anak amati. Dalam proses pengamatannya pun anak-anak hanya
melihat pada satu hal saja, focus pada satu objek saja. Jarang sekali yang
mengaitkan denga hal atau objek yang lain. Sehingga, apa yang mereka lihat dan
apa yang mereka dengar adalah apa yang akan mereka katakana, ungkapkan, dan
mereka ketahui.
Puisi pertama bertemakan Tanah Air. Dalam puisi tersebut penyair
menyebutkan keinginannya agar Indonesia makmur dan sejahtera. Keinginan yang
tertuang dalam puisi itu bukan tanpa dasar. Di larik selanjutnya kita akan tahu
bahwa penyair memiliki keinginan itu karena dia melihat banyak orang-orang
yang kelaparan dan berkeadaan miskin. Apa yang anak-anak amati merupakan apa
yang anak-anak ketahui.
Puisi kedua bertemakan

Peristiwa.

Dalam

puisi

tersebut

penyair

menyampaikan bahwa Tuhan memberi peringatan kepada manusia dengan


menurunkan berbagai bencana alam. Hal-hal semacam ini memang dekat dan
sering anak-anak saksikan lewat televisi, mendengar dari cerita orang dewasa,
atau bahkan anak-anak mengalaminya langsung.
Puisi ketiga bertemakan persahabatan. Dalam puisi tersebut penyair
mengawali dengan mengutarakan kekagumannya pada bintang-bintang di malam
hari. Kemudian karena bintang yang sangat indah itulah, penyair menjadi teringat
kepada kawannya, dan ingin mengucapkan sepatah kata, yaitu selamat tidur,
kawan. Teman, kawan, sahabat adalah hal yang dekat dengan kehidupan anakanak. Dalma dunianya, mereka membina hubungan itu, meskipun mereka tidak
tahu peristilahannya. Mereka hanya tahu bahwa teman, kawan, dan sahabat adalah
orang yang mereka sayangi dan mau saling mengerti dan membagi.
b. Nada dan Suasana
Puisi pertama yang berjudul Satu Indonesiaku karya Eva Nudaeva bernada
menginginkan bangsanya makmur, sejahtera. Sikap penyair terhadap pembaca
adalah mengajak. Mengajak pembaca untuk bersama-sama mewujudkan Indonesia
yang satu, makmur, dan sejahtera. Jadi, suasana dalam puisi itu adalah penuh
dengan

semangat

yang

berkobar-kobar. Semangat

mewujudkan cita-cita.

17

dalam

meraih

serta

Puisi kedua yang berjudul Bencana Alam karya Ardianto bernada serius.
Penyair bersikap memberitahu kepada pembaca bahwa Tuhan telah memberi
peringatan dengan meurunkan bencana alam. Oleh karena itu, penyair
menginginkan supaya manusia sadar akan kesalahan yang telah diperbuatnya.
Sedangkan suasana dalam puisi itu adalah sedih dan penuh penyesalan.
Puisi ketiga yang berjudul Selamat Tidur karya Novy Dwi Anggraini bernada
kagum. Kagum pada keindahan alam semesta, kagum pada sinar mentari yang
cerah juga malam yang indah bertabur bintang. Sedangkan suasana yang
digambarkan dalam puisi itu adalah suasana yang santai, riang dan gembira. Riang
dan gembira menyambut malam dan kemudian mengakhirinya dengan
mengucapkan selamat tidur kepada kawannya.
c. Perasaan
Perasaan penyair terlukis dalam suasana puisi. Kita mengetahui perasaan
penyair manakala kita mampu untuk menafsirkan isi puisi. Apa yang ingin
disampaikan oleh penyair.
Perasaan penyair yang penuh semangat yang mengapi-api tergambar pada
puisi pertama. Perasaan penyair yang penuh dengan kesedihan dan penyesalan
terdapat pada puisi kedua. Lalu perasaan penyair yang penuh keriangan dan
kegembiraan terdapat pada puisi ketiga.
d. Amanat
Puisi pertama yang berjudul Satu Indonesiaku karya Eva Nudaeva mengajak
kita sebagai pembaca untuk semangat dalam menggapai cita-cita dan saling bahumambahu mewujudkan Indonesia yang makmur dan sejahtera.
Puisi kedua yang berjudul Bencana Alam karya Ardianto menydarkan kita
bahwa bencana alam yang terjadi adalah karena kesalahan kita yang sudah tidak
peduli terhadapa kelestarian lingkungan. Selain itu karena kelalaian kita terhadap
Tuhan Yang Maha Esa.
Puisi ketiga yang berjudul Selamat Tidur karya Novy Dwi Anggraini
mengajak kita untuk bersyukur atas keindahan alam yang dapat kita nikmat. Juga
limpahan kekayaan alam yang merupakan ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Di
samping itu, kita tidak boleh melupakan teman-teman kita. Kita harus menjadi
teman yang baik agar mendapat perlakuan yang baik pula dari teman-teman kita.
C. Analisis Drama Anak Cermin Penunjuk Sifat Buruk gubahan dari cerpen
Cermin Penunjuk Sifat Buruk dengan Pendekatan Pragmatik
Tujuan yang ingin disampaikan penulis melalui naskah drama Cermin Penunjuk
Sifat Buruk, terangkum ke dalam dua tujuan. Yakni tujuan pendidikan dan tujuan moral.
1. Tujuan Pendidikan
18

Istilah pendidikan sudah tidak asing lagi untuk kita dengar. Dalam Kamus Besar
Bahasa Indonesia kata pendidikan mempunyai makna proses pengubahan sikap dan
tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia
melalui upaya pengajaran dan pelatihan.
Dalam naskah drama Cermin Penunjuk Sifat Buruk, tokoh Ratu mendapatkan
pengajaran yang berupa nasihat yang baik dari tokoh Pemuda. Atas nasihat dari
tokoh Pemuda, tokoh Ratu pun sadar kemudian mengubah sikap dan perilakunya
menjadi lebih baik. Berikut penggalan naskah dramanya:
Pemuda : Hamba tahu, tanpa cermin pun Ratu tetap terlihat cantik. Tapi, jangan
sampai itu membuat Ratu lupa akan rakyat yang Ratu pimpin.
Ratu : (terdiam sejenak mendengar jawaban pemuda. Ia tersenyum) Kau benar anak
muda. Aku memang telah melupakan tanggung jawabku kepada rakyat. Apakah aku
harus membuang semua cermin milikku?
Pemuda : Lebih baik diberikan kepada rakyat saja. Agar setiap kali mereka
bercermin, mereka akan selalu teringat pada Ratu mereka yang bijaksana.
Ratu mengangguk-angguk. Ia bahagia mendengar jawaban pemuda tersebut.
Ratu : Lalu, bolehkah aku meminta cermin milikmu ini?
Pemuda : Untuk apa? Bukankah cermin ini dapat membuat Ratu takut?
Ratu : Dengan cermin ini, aku berharap dapat memperbaiki sisi buruk yang ada
dalam hatiku.
Dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan yang ingin
disampaikan oleh penulis adalah sebaiknya kita bersedia untuk membuka diri kita
dengan menerima nasihat serta pendapat lalu mencernanya dengan baik sebagai
bahan introspeksi diri. Dengan hal tersebut, maka kita secara tidak langsung akan
memeroleh pendidikan, yang jika kita dapat menyadarinya maka kita akan dapat
berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Anak-anak biasanya akan lebih memahami suatu nasihat bila ada gambarannya
secara langsung. Membaca naskah drama atau menonton film yang kaya akan
muatan pendidikan akan merangsang anak untuk berbuat, bersikap dan bertindak
dengan sepatutnya.
2. Tujuan Moral
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, moral diartikan sebagai ajaran tentang
baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, dsb. Setiap
penulis pasti menyematkan tujuan moral ke dalam ceritanya.
Pun naskah drama Cermin Penunjuk Sifat Buruk. Penulis menyampaikan tujuan
moralnya terhadap anak-anak. Penulis menyampaikan seperti apa sifat buruk yang
harus dihindari dan seperti apa sifat baik yang harus diteladani.
a. Sifat buruk
19

Anak-anak sudah mengerti dan paham tentang konsep bahwa sifat buruk
harus dihindari dan tidak pernah dilakukan karena akan merugikan diri sendiri dan
orang lain. Akan tetapi, anak-anak mungkin belum mengerti perwujudan dari sifat
yang buruk itu. Jadi, hadirnya berbagai bacaan cerita, salah satunya naskah drama
akan membantu anak-anak dalam memahami wujud dari berbagai sifat buruk.
Berikut adalah sifat buruk para tokoh di dalam naskah drama Cermin Penunjuk
Sifat Buruk beserta penggalannya:
1) Pemarah
Orang yang suka, sering, dan mudah/lekas marah bila mendapati keadaan yang
tidak menyenangkan hati.
Tanpa sengaja sang Ratu menjatuhkan cermin yang dipegangnya, dan cermin
itu pecah. Sang Ratu kaget dan marah.
Ratu : Pengawal cepat ke sini! (Dua orang pengawal datang tergopoh).
Pengawal 1 : A-ada apa, Ratu?
Ratu : (menunjuk ke bawah) Kau lihat, satu cermin milikku pecah, kalian
harus segera mencari penggantinya!
Pengawal 2 : (kebingungan) Ke mana kami harus mencarinya, Ratu?
Ratu : Aku tak mau tahu! Cepat kalian cari lagi cermin untuk ku!
2) Serakah
Serakah artinya adalah selalu ingin memiliki lebih dari yang sudah dimiliki.
Orang yang serakah tidak akan merasa puas apalagi bersyukur. Orang yang
serakah selalu ingin mendapatkan lagi dan lagi.
Pemuda : (berkata sambil menunduk) Maaf Ratu, cermin itu memang bukan
cermin biasa. Cermin itu dapat menunjukkan sisi buruk sisi orang.
Ratu : (memandang ke arah pemuda) Lalu, apa maksudnya cermin itu
menunjukkan ada banyak ulat di wajahku?
Pemuda : Ulat itu adalah lambang dari keserakahan Ratu.
Ratu : (marah) Kau ingin bilang kalau aku serakah?
Pemuda : Hamba hanya mengingatkan. Selama ini, Ratu sering membeli
barang berlebih walaupun sebenarnya tidak begitu penting.
3) Melupakan tanggung jawabnya
Dalam drama Cermin Penunjuk Sifat Buruk menggambarkan tokoh sang ratu
yang lupa akan tanggung jawabnya. Tokoh Ratu lupa tidak mengurusi dan
memperhatikan rakyatnya karena terlena mengurus kecantikannya saja. Sifat
ini tentu saja adalah sifat yang tercela.
20

Pemuda : Hamba tahu, tanpa cermin pun Ratu tetap terlihat cantik. Tapi,
jangan sampai itu membuat Ratu lupa akan rakyat yang Ratu pimpin.
Ratu : (terdiam sejenak mendengar jawaban pemuda. Ia tersenyum) Kau
benar anak muda. Aku memang telah melupakan tanggung jawabku kepada
rakyat. Apakah aku harus membuang semua cermin milikku?
b. Sifat baik
Adanya penggambaran sifat buruk dengan segala macam akibatnya di dalam
suatu cerita ank merupakan

bentuk pengajaran kepada anak-anak agar tidak

berbuat hal yang buruk tetapi berbuat hal baik. Di dalam cerita anak, tokoh yang
berbuat baik akan mendapat sesuatu yang bersifat baik pula, seperti disayangi,
dihormati, memeroleh banyak teman, dimudahkan dalam segala urusan, dll.
1) Jujur
Jujur adalah lurus hati, bila berkata maka berkata yang sebenarnya (benar),
bila bermain berarti tidak curang dan mengikuti aturan. Dengan bersikap jujur,
orang lain akan mempercayai kita. Sifat jujur dimiliki oleh tokoh pemuda
dalam naskah drama Cermin Penunjuk Sifat Buruk.
Ratu : Apakah cermin itu milikmu?
Pemuda : (berkata dengan takut takut) Benar Ratu, tapi hamba ragu kalau
Ratu menyukai cermin ini.
Sang Ratu menghampiri cermin milik pemuda tersebut. Ia segera berkaca.
Tapi tiba-tiba, mukanya berubah pucat pasi.
Ratu : Hah
Pemuda : (berkata sambil menunduk) Maaf Ratu, cermin itu memang bukan
cermin biasa. Cermin itu dapat menunjukkan sisi buruk sisi orang.
2) Bijaksana dan Mengakui Kesalahannya
Orang yang bijaksana adalah seseorang selalu menggunakan akal budinya
(pengalaman dan pengetahuannya) dalam menghadapi dan menyikapi suatu
permasalahan. Orang yang menyadari akan kesalahan yang telah diperbuatnya
akan mengaku bahwa dia bersalah. Juga dia akan berkomitmen untuk tidak
mengulangi kesalahannya lagi. Dalam naskah drama Cermin Penunjuk Sifat
Buruk diceritakan bahwa berkat nasihat dari tokoh pemuda, tokoh ratu pun
sadar bahwa yang diperbuatnya selama ini adalah salah, dan tokoh ratu sadar
lalu berubah menjadi seorang pemimpin yang bijaksana.
Ratu : (terdiam sejenak mendengar jawaban pemuda. Ia tersenyum) Kau
benar anak muda. Aku memang telah melupakan tanggung jawabku kepada
rakyat. Apakah aku harus membuang semua cermin milikku?

21

Pemuda : Lebih baik diberikan kepada rakyat saja. Agar setiap kali mereka
bercermin, mereka akan selalu teringat pada Ratu mereka yang bijaksana.
Ratu mengangguk-angguk. Ia bahagia mendengar jawaban pemuda tersebut.
3) Sederhana
Sederhana adalah penggambaran sikap yang dalam bertindak tidak berlebihan,
tampil apa adanya, bersahaja, dan lugas. Sifat sederhana ditunjukkan oleh
tokoh ratu setelah dia sadar akan kesalahan yang perbuatnya.
Ratu : Dengan cermin ini, aku berharap dapat memperbaiki sisi buruk yang
ada dalam hatiku.
Pemuda itu tersenyum dan memberikan cerminnya pada sang Ratu. Sejak saat
itu, tak ada lagi seribu cermin yang menghias istana sang Ratu. Hanya ada
satu cermin yang tersisa di istana, yaitu cermin penunjuk sifat buruk.

BAB III
PENUTUP

A. Simpulan
Model sastra Abrams menawarkan empat jenis pendekatan dalam menganalisis karya
sastra.

Pendekatan

mimetik

(menitikberatkan

semesta),

pendekatan

objektif

(menitikberatkan pada karya itu sendiri), pendekatan ekspresif (menitikberatkan


penulis), dan pendekatan pragmatik (menitikberatkan pembaca).
Teks fiksi berisi cerita tentang hidup dan kehidupan, manusia dan
kemanusiaan, yang semuanya itu ditulis secara prosais. Puisi adalah
sebuah genre sastra yang amat memperhatikan pemilihan aspek
kebahasaan. Tetapi, berbeda dengan puisi anak. Puisi anak lebih
mengutamakan unsur rima dan irama. Drama sebagai alat untuk
secara langsung mengekspresikan diri dan sebagai sarana pengenalan
diri. Karena melalui drama, seorang anak dapat mendalami tokoh.
Dalam menganalisis cerita anak dengan pendekatan mimetik kegiatan
analisis dilakukan dengan empat tahap, tahap pertama adalah
identifikasi aspek-aspek social, tahap kedua adalah analisis aspek
social dalam cerita, tahap ketiga adalah pembuktian aspek social,
tahap keempat adalah analisis aspek social dengan menghubungkan
dengan dunia nyata.
22

Dalam menganalisis puisi anak dengan pendekatan objektif kegiatan


yang dilakukan adalah menguraikan tiap unsur puisi, baik unsur fisik
maupun unsur batin puisi.
Dalam menganalisis drama anak dengan pendekatan pragmatic
kegiatan yang dilakukan adalah menyampaikan tujuan sebagai
penulis/pengarang.
B. Saran
Setelah mengetahui ragam sastra anak serta seluk-beluknya diharapkan kita dapat
memilih bacaan yang tepat untuk anak-anak sesuai kebutuhan usia, keefisienan, serta
pertimbangan-pertimbangan yang lain.

DAFTAR PUSTAKA
A. Buku
1. Nurgiyantoro, Burhan. 2005. Sastra Anak. Yogyakarta: Gadjahmada University Press.
2. Sarumpaet, Riris K. 2010. Pedoman Penelitian Sastra Anak. Jakarta: Pustaka Obor
Indonesia.
3. Teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.
4. Marheni, Sri, dkk. 2009. Bahasa Indonesia SD/MI untuk Kelas VI. Jakarta: Pusat
Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional. ((e-book) diunduh pada 23 Desember
2014).
5. Warsidi, Eki, dan Farika. 2008. Bahasa Indonesia Membuatku Cerdas SD/MI untuk
kelas VI. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pemdidikan Nasional. ((e-book)
diunduh pada 26 Desember 2014).
B. Majalah
Nurhayati, Pujiastuti. 2014. Ketika Abe Belajar Marah. Bobo. XLII.
C. Internet
1. http://rsbikaltim.blogspot.com/2012/02/analisis-teori-mimetik.html. (diakses pada 16
Desember 2014).
2. http://www.kancilku.com/Ind//index.php?option=com_content&task=view&id=214
(diakses pada 26 Desember 2014).
3. http://www.pendidikankarakter.com/pentingnya-memahami-kebutuhan-emosionalanak/ (diakses pada 26 Desember 2014).

LAMPIRAN

23

A. Cerita Anak: Ketika Abe Belajar Marah Karya Nurhayati Pujiastuti


Ketika Abe Belajar Marah
oleh Nurhayati Pujiastuti
Aku ingin sekali belajar marah. Marah, seperti Tino yang kalau marah suka
berteriak dan membuat teman-temannya takut. Marah seperti Ojay yang kalau marah
bias melempar batu dan kadang-kadang batu itu kena kaca jendela orang. Atau marah
seperti Ninis yang kalau marah suka menangis berguling-guling di depan rumahnya.
Abe ingin sekali belajar marah. Tidak diam saja. Abe juga ingin merasakan
melotot, mencubit atau menangis.
Tidak apa-apa kalau Abe ingin marah, ujar Bunda ketika menyediakan roti
berlapis mentega, keju dan telur dadar. Itu namanya kamu punya perasaan.
Abe memandangi Bunda.
Bunda sudah tua sebenarnya. Namun Abe tidak melihat muka Bunda penuh
kerutan. Bunda bilang, tetangga depan rumah umurnya sama sepeti Bunda. Namun Abe
dan anak-anak yang lain suka seram melihatnya. Mukanya galak.
Marah itu artinya menyimpan api
Abe cemberut. Bunda selalu bilang begitu. Kalau marah itu artinya ada api di
dalam hati. Panas rasanya. Kalau tidak marah itu seperti ada lautan di dalam hati.
Akan tetapi Abe juga ingin marah. Abe ingin belajar teriak, Abe ingin belajar
menangis, Abe juga ingin membuat teman yang nakal padanya jadi tahu kalau Abe bisa
marah.
Tidak apa-apa, kali ini Bunda mengelus kepala Abe. Abe harus banyak belajar
tentang perasaan. Kalau ada teman kamu yang nakal, kamu boleh marah. Apalagi kalau
teman kamu itu sampai membuat kamu terluka.
Abe mendengarkan.
Siapa, ya, temannya yang pernah membuatnya marah?
Aha, Tito. Tito pernah mendorong tubuh Abe sampai Abe jatuh ke dalam selokan.
Abe ingin marah pada saat itu, tetapi ibu Tito cepat dating dan menolong Abe. Di
depan Abe, Tito juga dijewer oleh ibunya. Melihat Tito kesakitan dijewer, Abe merasa
tidak perlu marah lagi karena Tito sudah mendapat balasannya.
Tidak apa-apa, asal kamu marah yang benar, ya? ujar Bunda ketika mengantar
Abe sampai di pintu pagar rumahnya. Marah itu juga tidak selalu harus teriak atau
memukul.
Abe mengangguk. Hari ini Abe niatkan untuk belajar marah.
Emak aku suka marah, jadi aku ikut-ikutan, Wawan bercerita sambil tertawa.
Enak rasanya?
Wawan memandangi Abe. Lalu menggeleng. Kalau habis marah, aku jadi capek.
Abe mengangguk. Capek itu yang Abe tidak ketahui.
Kemarin aku kena jewer Bapak karena teriak-teriak di rumah waktu ada tamu.
Tamunya sampai kaget dan Bapak bilang aku sudah bikin malu. Habis, Bapak juga
24

suka teriak kalau di rumah, Wawan melanjutkan.


Abe mendengarkan sambil memandangi wajah Wawan.
Aku suka berteman dengan kamu karena kamu tidak nakal. Emak bilang, aku
boleh berteman sama kamu saja soalnya kamu baik, kali ini Wawan merangkulkan
tangannya di bahu Abe.
Abe tersenyum.
Teman yang lain juga sering berkata seperti itu.
Marah.
Abe ingin marah. Mara seperti teman-temannya yang lain. Namun Abe tidak tahu
bagaimana caranya.
Bunda dan Ayah tidak pernah mengajarkan marah dengan teriak-teriak atau
memukul. Bunda dan Ayah kalau marah hanya diam.
Awas Abe! tiba-tiba sebuha bola mendarat di kepala Abe.
Sosro berlari mendekat sambil tertawa.
Abe cemberut. Diam dan langsung berlari pulang.
Abe marah. Rasanya seperti ada api di hatinya.
Mungkin ini yang Bunda maksudkan. Marah setiap orang itu tidak selalu sama.
Dan marahnya Abe adalah dengan diam.
(Sumber: Majalah Bobo Edisi 36, 11 Desember 2014, halaman 50)

B. Tiga Puisi Anak


Puisi Anak 1
Satu Indonesiaku
Oleh: Eva Nudaeva
Satu ....
Indonesiaku subur dan bersatu
Meski bencana dan kekerasan
Engkau tetap bangsaku
Satu ....
Satu impianku
Bangsaku makmur dan sejahtera
Walau tangis kelaparan
Walau rintih kemiskinan
Semua tenang
25

Semua senang
Satu ....
Satu harapanku
Memohon pada Tuhan Yang Maha Esa
Berusaha, rajin belajar, dan giat bekerja
Keinginanku kan ku raih
Cita-cita kan ku gapai
(Sumber: Bahasa Indonesia SD/MI untuk Kelas VI, 2009: 112)

Puisi Anak 2
Bencana Alam
Tuhan telah memberi peringatan
Dengan menurunkan bencana
Bencana yang sangat mengerikan
Diturunkan kepada umatnya
Air laut pun bertumpahan
Gunung-gunung meletus
Gempa bumi bergoncangan
Angin topan berhembus
Sedangkan orang-orang ketakutan
Yang terdengar hanya tangisan
Dari orang-orang yang kehilangan
Harta benda ditinggalkan
Mayat-mayat berserakan
Itulah bencana dari Tuhan
Karya:
Ardianto
(Sumber: Bahasa Indonesia SD/MI untuk Kelas VI, 2009: 112)
Puisi Anak 3
Selamat Tidur
26

Ketika cerahnya sinar mentari kau tinggalkan


Tanpa kau sadari, kau pun meninggalkan ramainya suasana
Menyambut keheningan
Sebuah keheningan tercipta saat malam tiba
Angin malam berhembus dingin
Dan kabut menyelimuti alam semesta
Tiada yang dapat menghangatkan
Doapun kupanjatkan
Ketika malam tiba
Bintang-bintang bermunculan
Menebarkan senyuman ke seluruh dunia
Mengisi kekosongan hati setiap insan
Membuatku ingin mengucapkan sepatah kata
Selamat tidur kawan
Karya: Novy Dwi Anggraini
(Sumber: Bahasa Indonesia SD/MI untuk Kelas VI, 2009: 116)
C. Drama Anak: Cermin Penunjuk Sifat Buruk
Cermin Penunjuk Sifat Buruk
Suasana di kamar seorang ratu sebuah kerajaan. Di kamar tersebut, banyak sekali
cermin besar terpasang di dindingnya. Matahari baru saja terbit dan sinarnya masuk
ke kamar membangunkan sang Ratu dari tidurnya. Ia segera bangun dan menghampiri
salah satu cermin yang terpasang di dinding kamarnya. Sang Ratu tersenyum melihat
bayangannya sendiri. Ia lalu duduk di atas tempat tidurnya. Ia mengambil sebuah
cermin kecil bergagang yang tergeletak di atas sebuah meja. Ia memandangi
bayangan dirinya sambil tersenyum. Tanpa sengaja sang Ratu menjatuhkan cermin
yang dipegangnya, dan cermin itu pecah. Sang Ratu kaget dan marah.
Ratu : Pengawal cepat ke sini! (Dua orang pengawal datang tergopoh).
Pengawal 1 : A-ada apa, Ratu?
Ratu : (menunjuk ke bawah) Kau lihat, satu cermin milikku pecah, kalian harus segera
mencari penggantinya!
Pengawal 2 : (kebingungan) Ke mana kami harus mencarinya, Ratu?
Ratu : Aku tak mau tahu! Cepat kalian cari lagi cermin untuk ku! Kedua pengawal
itu lalu segera pergi ke pasar kota. Suasana pasar kota ramai. Kedua pengawal
27

berjalan menuju toko tempat sang Ratu biasa membeli cermin. Di sana mereka segera
menghampiri seorang bapak tua yang juga pemilik toko.
Pengawal 1 : Kami sedang mencari sebuah cermin untuk sang Ratu. Dapatkah kau
membantuku?
Pemilik toko : Sebuah cermin? Bukankah sang Ratu telah memiliki banyak cermin?
Pengawal 2 : Tapi sekarang, sebuah cerminnya pecah dan sang Ratu ingin
mendapatkan penggantinya.
Pemilik toko : Oh maaf, Tuan! Sejak dibeli oleh Ratu, cermin di sini sudah habis.
Pengawal 1 : Jadi, di mana lagi kami bisa menemukan toko yang menjual cermin?
Pemilik toko : (kebingungan) Entahlah, aku pun sedang kesusahan mencari persediaan
cermin untuk dijual.
Kedua pengawal itu lalu keluar dari toko cermin. Wajah mereka penuh kebingungan.
Ketika sedang berjalan, mereka tanpa sengaja melihat seorang pemuda yang sedang
duduk di bawah pohon. Di dekatnya, bersandar sebuah cermin dengan bingkai kotak
dari kayu. Kedua pengawal menghampiri pemuda itu.
Pengawal 2 : Apakah cermin itu akan kau jual?
Pemuda : (menoleh ke cermin di sampingnya) Benar Tuan, tapi sejak tadi tak juga ada
orang yang mau membeli.
Pengawal 1 : (tersenyum) Kau mujur, sang Ratu akan membeli cerminmu.
Pemuda : (kaget) Tapi, tuan cermin itu bukan cermin biasa. Aku takut sang Ratu tidak
menyukainya.
Pengawal 1 : ( berkatasambil membentak) Cermin, ya, tetap cermin. Apa bedanya?
Pengawal 2 : Sudahlah, kau ikut kami saja ke istana.
Si pemuda lalu berjalan menuju istana. Setibanya di istana, kedua pengawal tersebut
segera mengantarkan si pemuda ke hadapan Ratu.
Ratu : Apakah cermin itu milikmu?
Pemuda : (berkata dengan takut takut) Benar Ratu, tapi hamba ragu kalau Ratu
menyukai cermin ini.
Sang Ratu menghampiri cermin milik pemuda tersebut. Ia segera berkaca. Tapi tibatiba, mukanya berubah pucat pasi.
Ratu : Hah
Pemuda : (berkata sambil menunduk) Maaf Ratu, cermin itu memang bukan cermin
biasa. Cermin itu dapat menunjukkan sisi buruk sisi orang.
Ratu : (memandang ke arah pemuda) Lalu, apa maksudnya cermin itu menunjukkan
ada banyak ulat di wajahku?
Pemuda : Ulat itu adalah lambang dari keserakahan Ratu.
Ratu : (marah) Kau ingin bilang kalau aku serakah?
Pemuda : Hamba hanya mengingatkan. Selama ini, Ratu sering membeli barang
berlebih walaupun sebenarnya tidak begitu penting.
Ratu : Aku memang mempunyai banyak cermin. Apakah itu serakah?
Pemuda : Hamba tahu, tanpa cermin pun Ratu tetap terlihat cantik. Tapi, jangan
sampai itu membuat Ratu lupa akan rakyat yang Ratu pimpin.
28

Ratu : (terdiam sejenak mendengar jawaban pemuda. Ia tersenyum) Kau benar anak
muda. Aku memang telah melupakan tanggung jawabku kepada rakyat. Apakah aku
harus membuang semua cermin milikku?
Pemuda : Lebih baik diberikan kepada rakyat saja. Agar setiap kali mereka bercermin,
mereka akan selalu teringat pada Ratu mereka yang bijaksana.
Ratu mengangguk-angguk. Ia bahagia mendengar jawaban pemuda tersebut.
Ratu : Lalu, bolehkah aku meminta cermin milikmu ini?
Pemuda : Untuk apa? Bukankah cermin ini dapat membuat Ratu takut?
Ratu : Dengan cermin ini, aku berharap dapat memperbaiki sisi buruk yang ada dalam
hatiku.
Pemuda itu tersenyum dan memberikan cerminnya pada sang Ratu. Sejak saat itu, tak
ada lagi seribu cermin yang menghias istana sang Ratu. Hanya ada satu cermin yang
tersisa di istana, yaitu cermin penunjuk sifat buruk.
Naskah drama ini adalah hasil pengubahan dari cerpen
Cermin Penunjuk Sifat Buruk
Sumber: Bobo, 22 Februari 2007
(Sumber sekunder: Bahasa Indonesia Membuatku Cerdas, 2008: 83-85).

29