Anda di halaman 1dari 17

ANALISIS PENYERAPAN ANGGARAN PADA PEMERINTAH KOTA

BEKASI TAHUN ANGGARAN 2013 DAN 2014


Yunica Riana Mangowal
Jurusan Akuntansi program S1
STIE Tri Bhakti, Bekasi

ABSTRAK
Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui bagaimana penyusunan dan pelaksanaan,
serta bagaimana memaksimalkan penyerapan anggaran di Pemerintah Kota Bekasi untuk
tahun yang akan datang. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pada Proses Penyusunan
APBD Tahun 2013 dan 2014 Kota Bekasi mengalami keterlambatan yang disebabkan oleh
ketidakdisiplinan terhadap prosedur yang ditentukan dalam Permendagri Nomor 13 tahun
2006 dan Permendagri Nomor 59 tahun 2007.
Namun, dilihat dari realisasi anggaran Kota Bekasi tahun 2013 dan 2014 secara
keseluruhan dapat dikatakan cukup baik. Pada tahun 2013 penyerapan anggaran pendapatan
tercapai 99.54% sebesar Rp2,962,609,186,288.21 dan tahun 2014 tercapai 97.51% sebesar
Rp3,480,363,127,728.55. Pada tahun 2013 penyerapan anggaran belanja tercapai 87.69%
sebesar Rp 2,959,889,954,879.00 dan tahun 2014 tercapai 78.97% sebesar
Rp3,107,838,415,647.00.
Untuk memaksimalkan penyerapan anggaran Pemerintah Kota Bekasi perlu melakukan
perencanaan yang lebih baik dengan menggunakan instrumen penganggaran seperti analisis
standar belanja, dan peningkatan kualitas aparatur pemerintahan yang terlibat dalam
penyusunan dan pelaksanaan anggaran.
Kata Kunci : Penyusunan Anggaran, Pelaksanaan Anggaran, Laporan Keuangan

PENDAHULUAN
Indonesia sebagai negara yang sedang giat membangun, sangat membutuhkan peran
pemerintah untuk mengoptimalkan pengelolaan potensi setiap daerah agar memberikan
manfaat terhadap masyarakat. Untuk pengelolaan setiap daerah tidak hanya dibutuhkan
sumber daya manusia, tetapi juga sumber daya ekonomi berupa keuangan yang dituangkan
dalam APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah).
Jumlah APBD Kota Bekasi tahun 2015 yang disahkan mencapai Rp 3,5 triliun lebih yang
terdiri dari pendapatan asli daerah (PAD) sebesar Rp1,3 triliun, dana perimbangan mencapai
Rp1,3 triliun dan pendapatan lain-lain yang sah senilai Rp828 miliar. Sedangkan, sektor
belanja daerah pada 2015 dipatok sebesar Rp3,94 triliun yang meliputi belanja tidak langsung

senilai Rp1,57 triliun atau mencapai 60% dan belanja langsung sebesar Rp2,37 triliun atau
sekitar 40%.(Bisnis.com 26/12/2014)
Dalam pelaksanaan anggaran terdapat beberapa prosedur yang tidak terlaksana dengan
tepat, seperti lemahnya perencanaan awal yang menyebabkan penumpukan pencairan dana
pada akhir tahun. Seharusnya, program yang memiliki anggaran besar dilaksanakan diawal
tahun agar tidak menghalangi pencapaian sasaran-sasaran pembangunan dan mempengaruhi
kualitas infrastruktur yang dibangun. Minimnya pegawai yang memiliki sertifikat pengadaan
barang/jasa juga menjadi salah satu kendala dalam proses penyerapan anggaran daerah.
Rendahnya tingkat penyerapan anggaran secara umum disebabkan oleh mekanisme
pencairan dana. Kegagalan target penyerapan anggaran ini mengakibatkan terjadi inefisiensi
dan inefektivitas pengalokasian anggaran. Penyerapan anggaran yang terlambat ini perlu
mendapat perhatian yang serius dari pemerintah.
Adanya fenomena penyerapan anggaran yang masih rendah di Pemerintah Kota Bekasi,
perlu diketahui faktor-faktor yang mempengaruhi penyerapan anggaran di Pemerintah Kota
Bekasi agar dapat dievaluasi apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan pengelolaan
anggaran yang lebih cermat dan transparan kepada setiap penyelenggara pemerintahan. Tujuan
yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:
1)

Untuk mengetahui Bagaimana prosedur penyusunan anggaran dan masalah yang dihadapi
dalam penyusunan anggaran Pemerintah Kota Bekasi tahun 2013 dan 2014.

2)

Untuk mengetahui Bagaimana prosedur pelaksanaan anggaran dan masalah yang dihadapi
dalam pelaksanaan anggaran Pemerintah Kota Bekasi tahun 2013 dan 2014.

3)

Untuk mengetahui Bagaimana memaksimalkan penggunaan anggaran Pemerintah Kota


Bekasi untuk tahun selanjutnya.

TINJAUAN PUSTAKA
Akuntansi Pemerintahan
Menurut Renyowijoyo (2008, hal.42) Akuntansi pemerintahan pengertiannya adalah
berkaitan dengan anggaran Negara. Akuntansi pemerintahan dilaksanakan baik oleh unit-unit
pemerintah (Eksekutif) dan juga oleh lembaga Legislatif dan Yudikatif sepanjang membebani
anggaran Negara.
Menurut Nordiawan (2007, hal. 4) Akuntansi pemerintahan mengkhususkan dalam
pencatatan dan pelaporan transaksi-transaksi yang terjadi di badan pemerintah. Disamping itu,
bidang ini meliputi pengendalian atas pengeluaran melalui anggaran Negara, termasuk
kesesuaiannya dengan UU yang berlaku.

Menurut Mahmudi (2013, hal.22) Akuntansi sektor publik merupakan praktik akuntansi
yang berlaku dalam organisasi sector public yang dalam beberapa hal berbeda dengan
akuntansi pada oraganisasi bisnis maupun sektor sosial. Akuntansi sektor publik memiliki
peran penting dalam suatu Negara, yaitu untuk efisiensi dan efektivitas pengelolaan uang
Negara, pelaporan keuangan Negara, pemeriksaan keuangan Negara, dan perwujudan tata
kelola pemerintahan yang baik.
Berdasarkan penyataan pernyataan diatas, dapat disimpulkan bahwa akuntansi
pemerintahan adalah praktik akuntansi yang diselenggarakan oleh lembaga pemerintahan.
Akuntansi pemerintahan memiliki tuntutan yang lebih besar dibandingkan dengan akuntansi
pada entitas bisnis, hal ini dikarenakan dana yang dikelola merupakan dana publik. Sehingga
masyarakat menuntut dana tersebut untuk dikelola secara transparan dan bertanggung jawab.
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
Anggaran Pendapatan dan belanja daerah (APBD) merupakan rencana keuangan tahunan
pemerintahan daerah yang disetujui oleh DPRD dan ditetapkan dengan peraturan daerah.
Berdasarkan Permendagri nomor 13 tahun 2006 APBD mempunyai fungsi sebagai berikut :
1. Fungsi otorisasi, yaitu anggaran daerah menjadi dasar untuk melaksanakan pendapatan dan
belanja pada tahun yang bersangkutan.
2. Fungsi perencanaan, yaitu anggaran daerah menjadi pedoman bagi manajemen dalam
merencanakan kegiatan pada tahun yang bersangkutan.
3. Fungsi pengawasan, yaitu anggaran daerah menjadi pedoman untuk menilai apakah
kegiatan penyelengaraan pemerintahan daerah sesuai dengan ketentuan yang telah
ditetapkan.
4. Fungsi alokasi, yaitu anggaran daerah harus diarahkan untuk menciptakan lapangan
kerja/mengurangi penggangguran dan pemborosan sumber daya, serta meningkatkan
efisiensi dan efektifitas perekonomian.
5. Fungsi distribusi, yaitu kebijakan anggaran daerah harus memperhatikan rasa keadilan dan
kepatutan.
6. Fungsi stabilisasi, yaitu anggaran pemerintah daerah menjadi alat untuk memelihara dan
mengupayakan keseimbangan fundamental perekonomian daerah.
Strutur APBD
Menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006, struktur APBD
merupakan satu kesatuan yang terdiri dari:
1. Pendapatan Daerah ;
2. Belanja Daerah; dan
3. Pembiayaan Daerah.

Pengelolaan Keuangan Daerah


Menurut Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 (disempurnakan dengan Permendagri No
59 Tahun 2007), kegiatan pengelolaan keuangan daerah terdiri dari :
1.
2.
3.
4.
5.

Perencanaan
Pelaksanaan
Penatausahaan
Pertanggungjawaban
Pengawasan

Unsur Laporan Keuangan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005


1. Laporan Realisasi Anggaran
Laporan Realisasi Anggaran menyajikan ikhtisar sumber, alokasi, dan pemakaian sumber
daya ekonomi yang dikelola oleh pemerintah pusat/daerah, yang menggambarkan
perbandingan antara anggaran dan realisasinya dalam satu periode pelaporan.
2. Neraca
Neraca menggambarkan posisi keuangan suatu entitas pelaporan mengenai aset,
kewajiban, dan ekuitas dana pada tanggal tertentu. Unsur yang dicakup oleh neraca terdiri dari
aset, kewajiban, dan ekuitas dana.
3. Laporan Arus Kas
Laporan arus kas menyajikan informasi kas sehubungan dengan aktivitas operasional,
investasi aset non keuangan, pembiayaan, dan transaksi non anggaran yang menggambarkan
saldo awal, penerimaan, transaksi non anggaran yang menggambarkan saldo awal,
penerimaan, pengeluaran, dan saldo akhir kas pemerintah pusat / daerah selama periode
tertentu.
4. Catatan Atas Laporan Keuangan
Catatan Atas Laporan Keuangan meliputi penjelasan naratif atau rincian dari angka yang
tertera dalam Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, dan Laporan Arus Kas. Catatan Atas
Laporan Keuangan juga mencakup informasi tentang kebijakan akuntansi yang dipergunakan
oleh entitas pelaporan dan informasi lain yang diharuskan dan dianjurkan untuk diungkapkan
didalam Standar Akuntansi Pemerintahan serta ungkapan ungkapan yang diperlukan untuk
menghasilkan penyajian laporan keuangan secara wajar.
Unsur Laporan Keuangan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010
Laporan keuangan pemerintah terdiri dari laporan pelaksanaan anggaran (budgetary
reports), laporan finansial, dan CaLK. Laporan pelaksanaan anggaran terdiri dari LRA dan

Perubahan SAL. Laporan finansial terdiri dari Neraca, LO, LPE, dan LAK. CaLK merupakan
laporan yang merinci atau menjelaskan lebih lanjut atas pos pos laporan pelaksanaan
anggaran maupun laporan finansial dan merupakan laporan yang tidak terpisahkan dari
laporan pelaksanaan anggaran maupun laporan finansial.
1. Laporan Relalisasi Anggaran
Laporan Realisasi Anggaran menyajikan ikthisar sumber, alokaso, dan pemakaian
sumber daya keuangan yang dikelola oleh pemerintah pusat / daerah, yang menggambarkan
perbandingan antara anggaran dan realisasinya dalam suatu periode pelaporan.

2. Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih


Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih menyajikan informasi kenaikan atau
penurunan Saldo Anggaran Lebih tahun pelaporan dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
3. Neraca
Neraca menggambarkan posisi keuangan suatu entitas pelaporan mengenai asset,
kewajiban, dan ekuitas pada tanggal tertentu. Unsur yang dicakup oleh neraca terdiri dari
asset, kewajiban, dan ekuitas.
4. Laporan Operasional
Laporan operasional menyajikan ikhtisar sumber daya ekonomi yang menambah ekuitas
dan penggunaannya yang dikelola oleh pemerintah pusat/daerah untuk legiatan
penyelenggaraan pemerintahan dlm satu periode pelaporan.
5. Laporan Arus Kas
Laporan Arus Kas menyajikan informasi kas sehubungan dengan aktivitas operasi,
investasi, pendanaan, dan transitoris yang menggambarkan saldo awal, penerimaan,
pengeluaran, dan saldo akhir kas pemerintah pusat/daerah selama periode tertentu.
6. Laporan Perubahan Ekuitas
Laporan Perubahan Ekuitas menyajikan informasi kenaikan atau penurunan ekuitas tahun
pelaporan dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
7. Catatan Atas Laporan Keuangan
Catatan atas Laporan Keuangan meliputi penjelasan naratif atau rincian dari angka yang
tertera dalam Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Perubahan SAL, Laporan Operasional,
Laporan Perubahan Ekuitas, Neraca, dan Laporan Arus Kas. Catatan atas Laporan Keuangan
juga mencakup informasi tentang kebijakan akuntansi yang dipergunakan oleh entitas
pelaporan dan informasi lain yang diharuskan dan dianjurkan untuk diungkapkan di salam
Standar Akuntansi Pemerintahan serta ungkapan ungkapan yang diperlukan untuk
menghasilkan penyajian laporan keuangna secara wajar.

Kerangka Pemikiran

Penyusunan Anggaran

Pelaksanaan Anggaran

Realisasi Anggaran

Maksimalisasi Anggaran

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, hal ini dikarenakan peneliti
langsung masuk ke objek, melakukan penjelajahan dengan grant tour question, sehingga
masalah akan dapat ditemukan dengan jelas, untuk memahami makna yang tampak dibalik
data yang tampak, dan untuk memastikan kebenaran data. Sementara itu dilihat dari teknik
penyajian datanya, penelitian menggunakan pola deskriptif untuk menggambarkan secara
sistematis fakta dan karakteristik objek atau subjek yang diteliti secara tepat.
Tempat dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian ini adalah di kantor Pemerintah Kota Bekasi dengan pengambilan data
yang dilakukan pada Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kota Bekasi.
BPKAD Kota Bekasi beralamat dilingkungan Kantor Walikota Bekasi di Jalan Ahmad Yani
Nomor 1, Bekasi, Jawa Barat. Waktu pelaksanaan penelitian dimulai dari Bulan Mei hingga
Juli 2015.
Langkah Langkah Penelitian
Berikut adalah langkah langkah yang dilakukan peneliti untuk mendapatkan data :
1.

2.

3.
4.
5.
6.

7.

Membuat surat izin penelitian / surat pengantar dari STIE Tri Bhakti untuk melakukan
riset di Pemerintah Kota Bekasi. Waktu yang dibutuhkan untuk membuat surat izin
penelitian adalah 2 minggu.
Surat izin penelitian dari STIE Tri Bhakti diajukan peneliti kepada Sekretariat Daerah
Kota Bekasi. Surat izin penelitian dari STIE didisposisikan ke Badan Pengelola Keuangan
dan Aset Daerah (BPKAD) Kota Bekasi untuk meminta ketersediaan tempat untuk
melakukan penelitian.
Surat ketersediaan tempat dari BPKAD Kota Bekasi didisposisikan ke Kesbangpol
(Kesatuan Bangsa dan Politik) untuk membuat surat rekomendasi penelitian.
Kesbangpol memberikan surat rekomendasi penelitian sebanyak 3 rangkap, 1 untuk
BPKAD, 1 untuk STIE Tri Bhakti, dan 1 untuk arsip peneliti dalam melakukan penelitian.
Setelah surat rekomendasi dari Kesbangpol diberikan ke BPKAD, BPKAD membuatkan
surat disposisi yang langsung ditujukan ke bagian yang dituju untuk melakukan penelitan.
Pertama, peneliti bertemu dengan Bpk. Imam Yahdi, SE., MM selaku Kepala Sub Bidang
Anggaran Belanja tidak langsung dan pembiayaan. Peneliti melakukan wawancara
mendalam dan mendapatkan dokumen mengenai proses penyusunan APBD Kota Bekasi.
Kedua, peneliti bertemu Ibu Rini Desmiati, SE, M.Ak selaku Kepala Sub Bidang
Kebijkan Akuntansi dan Neraca Daerah dan Ibu Hesti Widiastuti, SE, M.Ak selaku
Kepala Sub Bidang Evaluasi dan Pelaporan Keuangan untuk melakukan wawancara dan
mendapatkan data berupa laporan keuangan Pemerintah Kota Bekasi tahun 2013 dan
2014.

Analisis Data
Analisis data dalam penelitian kualitatif, dilakukan pada saat pengumpulan data
berlangsung dan setelah selesai pengumpulan data dalam periode tertentu. Miles dan
Huberman (1984) dalam Sugiyono (2014, hal.246) mengemukakan bahwa aktivitas dalam
analisis data, yaitu data reduction, data display, dan conclusion drawing / verification.
a. Data Reduction (Reduksi Data)
Data yang diperoleh dari lapangan jumlahnya cukup banyak, untuk itu maka perlu dicatat
secara teliti dan rinci. Seperti telah dikemukakan, semakin lama peneliti ke lapangan, maka
jumlah data akan semakin banyak, kompleks dan rumit. Berikut adalah data yang diperoleh
dari lapangan, antara lain :
1. Cashflow APBD Kota Bekasi tahun 2014 dan 2015
2. Alokasi triwulan belanja langsung urusan dan non urusan masing masing SKPD
tahun 2014 dan 2015
3. Asusmsi Anggaran TKK (Tenaga Kerja Kontrak) tahun 2014
4. Alokasi Pengeluaran Pembiayaan APBD Kota Bekasi Tahun 2012
5. Perbandingan Pagu Anggaran Sementara dan RKA menurut Kegiatan Tahun 2011
6. Flowchart Proses Pencairan Dana Berdasarkan Permendagri Nomor 13 Tahun 2006
Dan Permendagri Nomor 59 Tahun 2007
7. Bagan Alur Penyusunan APBD Berdasarkan Permendagri Nomor 13 tahun 2006
dan Permendagri Nomor 59 Tahun 2007
8. Tahapan Proses Penyusunan APBD Kota Bekasi Tahun Anggaran 2010, 2011,
2012, dan 2013.
9. Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Kota Bekasi Tahun 2013 berupa, Neraca,
Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas, dan Catatan Atas Laporan
Keuangan.
10. Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Kota Bekasi Tahun 2014 berupa Neraca,
Laporan Realisasi Anggaran, dan Laporan Arus Kas.
11. Laporan Realisasi Anggaran Triwulanan Kota Bekasi Tahun 2014.
12. Hasil wawancara dengan Bapak Bpk. Imam Yahdi, SE., MM selaku Kepala Sub
Bidang Anggaran Belanja tidak langsung dan pembiayaan.
13. Hasil wawancara dengan Ibu Rini Desmiati, SE, M.Ak selaku Kepala Sub Bidang
Kebijkan Akuntansi dan Neraca Daerah.
14. Hasil wawancara dengan Ibu Hesti Widiastuti, SE, M.Ak selaku Kepala Sub Bidang
Evaluasi dan Pelaporan Keuangan.
Untuk itu perlu segera dilakukan analisis data melalui reduksi data. Mereduksi data
berarti merangkum, memilih hal hal yang pokok, memfokuskan pada hal hal yang penting,
dicari tema dan polanya.
Dalam penelitian ini, peneliti melakukan reduksi hasil pencatatan, wawancara, dan
dokumentasi mengenai penyusunan hingga pelaksanaan anggaran Pemerintah Kota Bekasi
yang diperoleh peneliti selama proses pengumpulan data dilapangan.

b.Data Display (Penyajian Data)


Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah mendisplaykan data. Menurut
Miles dan Huberman (1984) dalam Sugiyono (2014) menyatakanthe most frequent form of
display data for qualitative research data in the past has been narrative text. Yang paling
sering digunakan untuk menyajikan data dalam penelitian kualitatif adalah dengan teks yang
bersifat naratif. Dalam penelitian ini, penyajian data yang dilakukan sebagai berikut :
1. Menjelaskan prosedur penyusunan anggaran berdasarkan Permendagri nomor 13 tahun
2006 dan Permendagri Nomor 59 Tahun 2007 dan membandingkan dengan penyusunan
anggaran yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Bekasi melalui tahapan penyusunan
anggaran Kota Bekasi dan hasil wawancara dengan Bapak Imam Yahdi, SE., MM selaku
Kepala Sub Bidang Anggaran sehingga ditemukan masalah malasah yang dihadapi
Pemerintah Kota Bekasi dalam melakukan penyusunan anggaran.
2. Mendeskripsikan laporan keuangan Pemerintah Kota Bekasi tahun 2013 dan 2014 yang
terdiri dari Neraca, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas dan hasil wawancara
dengan Ibu Rini Desmiati, SE, M.Ak selaku Kepala Sub Bidang Kebijkan Akuntansi dan
Neraca Daerah dan Ibu Hesti Widiastuti, SE, M.Ak selaku Kepala Sub Bidang Evaluasi
dan Pelaporan Keuangan untuk mengetahui pengelolaan keuangan Pemerintah Kota
Bekasi tahun 2013 dan 2014.
3. Menganalisis Laporan Realisasi Anggaran untuk mengetahui bagaimana penyerapan
anggaran Pemerintah Kota Bekasi tahun 2013 dan 2014.
4. Mendeskripsikan bagaimana cara untuk memaksimalisasi penyerapan anggaran
Pemerintah Kota Bekasi yang efisien dan efektif.
c. Conclusion Drawing / Verification
Langkah ketiga dalam analisis data kualitatif menurut Miles dan Huberman adalah
penarikan kesimpulan. Kesimpulan dalam penelitian kualitatif adalah merupakan temuan baru
yang sebelumnya belum pernah ada. Temuan dapat berupa deskripsi atau gambaran suatu
objek yang seblumnya masih remang remang atau sehingga setelah diteliti menjadi jelas,
dapat berupa hubungan kausal atau interaktif, hipotesis, atau teori. Berikut adalah tabel
penarikan kesimpulan yang dilakukan dalam penelitian ini :
Berikut adalah tabel penarikan kesimpulan yang dilakukan dalam penelitian ini :

Tabel 3.1
Penarikan Kesimpulan
DATA
1. Bagan Alur Penyusunan
APBD berdasarkan
Permendagri Nomor 13
tahun 2006 dan Permendagri
Nomor 59 tahun 2007
2. Tahapan Penyusunan APBD
Kota Bekasi tahun 2013
3. Hasil wawancara dengan
Bapak Imam Yahdi, SE.,
MM selaku Kepala Sub
Bidang Anggaran

1. Laporan
Keuangan
Pemerintah Kota Bekasi
yang terdiri dari LRA,
Neraca, dan LAK tahun
2013 dan 2014
2. Hasil wawancara dengan
Ibu Rini Desmiati, SE,
M.Ak selaku Kepala Sub
Bidang Kebijkan Akuntansi
dan Neraca Daerah.
3. Ibu Hesti Widiastuti, SE,
M.Ak selaku Kepala Sub
Bidang
Evaluasi
dan
Pelaporan Keuangan.

KESIMPULAN
Dari ketiga data ini disimpulkan bagaimana Pemerintah
Kota Bekasi melakukan penyusunan anggaran, apakah sudah
sesuai dengan pedoman yang telah dibuat pemerintah dan
masalah apa saja yang menjadi kendala dalam penyusunan
anggaran di Pemerintah Kota Bekasi pada tahun 2013 dan
2014.

Dari Laporan Keuangan Pemerintah Kota Bekasi dapat


ditarik kesimpulan yaitu bagaimana pengelolaan keuangan
daerah yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Bekasi, karena
untuk menghasilkan laporan keuangan yang andal, relevan,
dapat dibandingkan, dan dapat dipahami tidak hanya
berdasarkan kemampuan teknis pengakuntansiannya
melainkan bagian dari penyusunan anggaran.
Dengan mengetahui bagaimana pegelolaan keuangan
daerah di Pemerintah Kota Bekasi, akan diketahui masalah
apa saja yang dihadapi dalam pelaksanaan anggaran, yang
kemudian akan ditarik kesimpulan untuk memaksimalkan
penyerapan anggaran / pengelolaan keuangan pada
Pemerintah Kota Bekasi.

PEMBAHASAN
Prosedur Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD ) Kota Bekasi
Tahun Anggaran 2013 dan 2014
Pemerintah Kota Bekasi melakukan penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja
Daerah (APBD ) tahun anggaran 2013 dan 2014 berdasarkan pada Permendagri Nomor 13
tahun 2006 dan permendagri Nomor 59 tahun 2007. Terdapat beberapa proses dalam
peyusunan APBD, yaitu penyusunan Kebijakan Umum APBD (KUA) dan Penyusunan
Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS), Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran
(RKA) SKPD, Penyiapan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) APBD, pembahasan
Raperda APBD dan Raper KDH Penjabaran APBD menjadi Perda APBD dan Peraturan
kepala daerah tentang penjabaran APBD. Masalah utama Pemerintah Kota Bekasi dalam
melakukan penyusunan anggaran adalah tidak adanya kedisiplinan terhadap pedoman yang
berlaku sehingga penetapan anggaran tidak tepat waktu.

Jadwal dan Pelaksanaan Penyusunan Perda APBD Kota Bekasi


Tahun Anggaran 2013 dan 2014

TAHAPAN
Penyampaian Raperda APBD
beserta Nota Keuangan

Menurut Permendagri
No 13/2006 jo 59/2007
Minggu pertama bulan Oktober

Persetujuan bersama RAPBD antara

Paling lama 1 bulan

Pemerintah Daerah dan DPRD

Sebelum TA bersangkutan

Penyampaian RAPBD ke Gubernur Jabar

3 hari kerja setelah


persetujuan bersama

Hasil Evaluasi Gubernur

15 hari kerja (bulan Desember)

Penyampaian tanggapan / penyempurnaan

Realisasi TA
2013
26-Nov-12
7-Des 2012
13-Des-12
10-Jan-13
14-Jan-13

hasil evaluasi Gubernur ke DPRD

Realisasi
TA 2014
Tidak ada
Data
Tidak ada
Data
Tidak ada
Data
Tidak ada Data
Tidak ada
Data

Pembahasan Hasil Evaluasi Gubernur


Dengan DPRD
Persetujuan DPRD atas penyempurnaan

7 (tujuh) hari kerja setelah

Hasil Evaluasi Gubernur

hasil evaluasi Gubernur

Tidak ada
23-Jan-13

Data

diterima
Penetapan Perda APBD

Paling lambat

25-Jan-13

Tidak ada Data

Penetapan Perwal ttg Penjabaran APBD

Akhir Desember (31 Des)

28-Jan-13

Tidak ada Data

Anggaran) SKPD (PAPBD) dan Anggaran

Paling lama 15 hari kerja

31-Jan-13

Kas serta penyampaian ke SKPD

sejak ditetapkan APBD

Tidak ada

Pengesahan DPA (dokumen Palaksana

Sumber : BPKAD Kota Bekasi

Data

Pelaksanaan Anggaran
Penyerapan APBD Kota Bekasi Tahun Anggaran 2014 per triwulan

URAIAN

ANGGARAN 2014

TRIWULAN
(%)

TRIWUL
AN II (%)

TRIWULAN
III (%)

TRIWULA
N IV (%)

PENDAPATAN
PENDAPATAN ASLI
DAERAH

3,569,307,346,689.40

16.01

40.79

65.61

97.51

1,170,134,918,800.00

18.5

46.36

72.08

103

Pendapatan Pajak Daerah

852,916,735,500.00

16.03

41.59

70.24

99.16

Pendapatan Retribusi Daerah


Pendapatan Hasil
Pengelolaan
Kekayaan Daerah Yang
Dipisahkan

49,087,421,850.00

17.85

35.78

65.04

102.65

39.42

39.42

99.31

31.52

72.12

81.09

116.02

15.77

40.51

66.7

96.05

26.25

55.11

78.66

95.61

41.23

64.48

88.16

31.25

47.22

70.77

114.6

11,827,021,850.00

Lain - lain Pendapatan Asli


Daerah yang Sah
PENDAPATAN
TRANSFER

256,303,739,600.00
2,240,785,878,034.40

Transfer Pemerintah Pusat Dana Perimbangan

1,345,695,937,116.00

Dana Bagi Hasil Pajak

112,012,926,900.00

Dana Bagi Hasil Bukan Pajak


(Sumber Daya Alam)

28,845,677,216.00

Dana Alokasi Umum

1,133,417,253,000.00

58.33

83.33

114.6

Dana Alokasi Khusus

71,420,080,000.00

30

30

30

Transfer Pemerintah Pusat Lainnya

252,836,721,000.00

19.66

75.68

100

Dana Penyesuaian

252,836,721,000.00

19.66

75.68

100

Transfer Pemerintah Provinsi

642,253,219,918.40

17.86

38.11

95.41

Pendapatan Bagi Hasil Pajak


LAIN - LAIN
PENDAPATAN
YANG SAH

642,253,219,918.40

17.86

38.11

95.41

158,386,549,855.00

0.24

2.42

77.56

Pendapatan Hibah

7,000,000.00

43.54

147.43

Pendapatan Lainnya

151,386,549,855.00

0.24

0.52

74.33

ANGGARAN 2014

TRIWULAN
I (%)

TRIWULAN
II (%)

TRIWULAN
III (%)

TRIWULAN
IV (%)

BELANJA

3,935,251,952,821.22

7.23

20.81

40.8

78.97

BELANJA OPERASI

2,807,125,467,412.22

10.02

28.72

52.11

84.98

Belanja Pegawai

1,805,680,183,764.22

12.83

32.28

59.36

87.96

Belanja Barang

892,099,490,648.00

5.23

22.99

40.97

79.4

Belanja Bunga

300,000,000.00

27.54

27.54

51.62

51.62

Belanja Hibah

83,815,635,000.00

9.87

17.6

78.2

Belanja Bantuan Sosial

24,261,323,200.00

21.2

43.54

91.8

Belanja Bantuan Keuangan

968,834,800.00

97.12

BELANJA MODAL

1,122,626,485,409.00

0.7

12.48

64.09

Belanja Tanah

99,584,854,680.00

0.05

6.28

41.85

Belanja Peralatan dan Mesin

172,863,498,835.00

3.18

21.41

65.08

Belanja Bangunan dan Gedung


Belanja Jalan, Irigasi, dan
Jaringan

378,944,936,433.00

0.06

0.35

39.87

445,770,718,061.00

0.47

21.4

90.9

Belanja Aset Tetap Lainnya

25,462,477,400.00

0.12

0.44

35.42

BELANJA TAK TERDUGA

5,500,000,000.00

58.48

60.81

45

50.23

Belanja Tak Terduga

5,500,000,000.00

58.48

60.81

45

50.23

SURPLUS / (DEFISIT)

(365,944,606,131.82)

-83.07

-184.8

-210.28

-101.8

URAIAN

URAIAN

ANGGARAN 2014

TRIWULAN
I (%)

TRIWULAN
II (%)

TRIWULAN
III (%)

TRIWULAN
IV (%)

111.03

111.03

100

100

111.03

111.03

100

100

0.42

39.3

54.89

80.85

39.23

54.59

80.74

47.28

47.28

94.55

94.55

123.45

119.09

105.46

102.32

PEMBIAYAAN
PENERIMAAN DAERAH
Penggunaan Sisa Lebih
Perhitungan
Anggaran (SiLPA)
PENGELUARAN
ANGGARAN

410,240,594,252.82
410,240,594,252.82
44,295,988,121.00

Penyertaan Modal (Investasi)


Pemerintah Daerah

43,965,618,321.00

Pembayaran Pokok Utang

330,369,800.00

PEMBIAYAAN NETTO

365,944,606,131.82

SISA LEBIH PEMBIAYAAN


ANGGARAN (SILPA)

Masalah yang dihadapi Pemerintah Kota Bekasi dalam melaksanakan Anggaran tahun
anggaran 2013 dan 2014
Dalam melakukan pelaksanaan anggaran pasti akan selalu ada perubahan perubahan
yang tidak terduga walaupun sudah ada mekanisme yang menjamin ketaatan dalam
melaksanakan realisasi anggaran. Berikut adalah beberapa masalah yang dihadapi Pemerintah
Kota Bekasi dalam melakukan realisasi amggaran pada tahun 2013 dan 2014 :
1.
Penetapan target pajak dan retribusi yang terlalu tinggi, hal ini dikarenakan terbatasnya
Sumber Daya Manusia yang memahami bagaimana menentukan penetapan target pajak
dan retribusi yang benar.
2.
Belum optimalnya pemanfaatan aset tetap yang dimiliki Kota Bekasi seperti Stadion
Gedung Olahraga (GOR)
3.
Kurangnya sosialisasi kepada masyarakat sehingga pemahaman masyarakat kurang
untuk mematuhi peraturan pembayaran pajak dan retribusi kepada pemerintah daerah.
4.
Kurang matangnya perencanaan kegiatan sehingga tidak terlaksana dengan optimal
karena kendala kendala teknis yang seharusnya dapat diantisipasi sebelumnya, seperti
kesalahan kode rekening.
5.
Keterbatasan Sumber Daya Manusia yang kompeten untuk menentukan pagu anggaran
yang sesuai dan melaksanakan kegiatan yang sudah dianggarkan.
6.
Keterlambatan dalam melakukan penyusunan anggaran menyebabkan kemuduran
jadwal lelang dan pelaksanaan konstruksi sehingga mempengaruhi penyerapan
anggaran.

Maksimalisasi Penyerapan Anggaran Pemerintah Kota Bekasi


Dalam rangka memaksimalkan penyerapan anggaran Pemerintah Kota Bekasi untuk tahun
anggaran yang akan datang diperlukan bebrapa upaya untuk mengatasi permasalahan yang
dihadapi diantaranya yaitu :
a. Melakukan peningkatan kapasitas sumber daya aparatur baik melalui pembinaan dan
pelatihan internal, ataupun melalui peningkatan jenjang pendidikan.
b. Penggalian sumber PAD yang baru perlu dioptimalkan seperti pemanfaatan aset yang
dimiliki Pemerintah Kota Bekasi untuk meningkatkan capaian pendapatan dimasa yang
akan dating.
c. Melakukan pendekatan secara konsisten baik melalui sosialisasi maupun dialog kepada
wajib pajak dan retribusi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya
pajak dan retribusi.
d. Dalam rangka memaksimalkan penyerapan anggaran belanja perlu pelatihan dan
pembinaan untuk aparatur yangbersangkutan langsung dengan belanja daerah agar
aparatur pemerintah memilki kompetensi yang memadai dalam menjalankan tugasnya.

KESIMPULAN
Prosedur Penyusun Anggaran dan Masalah yang Dihadapi Pemerintah
Kota Bekasi tahun 2013 dan 2014
Berdasarkan hasil penelitian terhadap proses penyusunan anggaran untuk Tahun Anggaran
2013 dan 2014 menunjukan bahwa Pemerintah Daerah Kota Bekasi belum sepenuhnya
melaksanakan tahapan kegiatan yang diatur dalam Permendagri Nomor 13 tahun 2006 dan
Permendagri Nomor 59 Tahun 2007. Hal ini terlihat dari keterlambatan penetapan APBD kota
Bekasi tahun anggaran 2013 dan 2014. Inti dari permasalahan yang dihadapi pemerintah kota
Bekasi dalam penyusunan anggaran adalah kurangnya pelatihan kepada pihak pihak yang
terlibat ketidaksinkronan antara rencana yang dibuat dengan kegiatan atau program yang akan
dilaksanakan, salah menentukan kode kegiatan atau program sehingga sering terjadi revisi
yang sangat memakan waktu, dan jumlah dokumen anggaran yang diperiksa tidak sebanding
dengan tenaga yang memeriksanya.
Prosedur Pelaksanaan Anggaran dan Masalah yang Dihadapi Pemerintah Kota Bekasi
tahun 2013 dan 2014
Pemerintah Kota Bekasi telah melaksanakan anggaran secara keseluruhan dilihat dari
tingkat realisasi anggarannya, Pemerintah Kota Bekasi dilihat cukup baik dalam melaksanakan
penyerapan anggarannya. Namun, tingkat pernyerapan ini bukanlah indikator kinerja
pelaksanaan anggaran pemerintah Kota Bekasi melainkan petunjuk awal yang harus
ditindaklanjuti dengan penelusuran belanja dan pengembangan analisis kinerja pelaksanaan
anggaran.
Laporan keuangan merupakan bentuk pertanggungjawaban dari pelaksanaan anggaran.
Pemerintah Kota Bekasi membuat laporan keuangan Tahun Anggaran 2013 dan 2014

berpedoman pada Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 yang menggunakan akuntansi
berbasis kas menuju akrual / cash toward accrual (CTA).
Dari pernyataan pernyataan diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa dalam melakukan
pengelolaan keuangan daerah seluruh tahapan dimulai dari penyusunan anggaran hingga
pelaporan harus tepat sesuai waktu yang dijadwalkan oleh peraturan yang berlaku, karena
anggaran yang sudah disusun dengan baik bisa terlaksana dengan tidak tepat, namun tidak
mungkin anggaran yang tidak disusun dengan baik dapat diterapkan secara tepat.
Maksimalisasi Anggaran Pemerintah Kota Bekasi
a. Melakukan peningkatan kapasitas sumber daya aparatur baik melalui pembinaan dan
pelatihan internal aparatur pemerintah memilki kompetensi yang memadai dalam
menjalankan tugasnya
b. Penggalian sumber PAD yang baru perlu dioptimalkan seperti pemanfaatan aset yang
dimiliki Pemerintah Kota Bekasi untuk meningkatkan capaian pendapatan dimasa yang
akan datang.
SARAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan serta kesimpulan yang telah
disampaikan dalam penelitian ini, saran yang dapat diberikan adalah sebagai berikut :
1. Dalam melakukan penyusunan anggaran Pemerintah Kota Bekasi diharapkan dapat
menentukan dan menetapkan peraturan yang jelas dan serempak ke seluruh satuan
kerja Kota Bekasi dan juga metode yang harus diterapkan sehingga tidak ada kesulitan
dalam menentukan pagu anggaran.
2. Perlu adanya pelatihan dan pembinaan rutin untuk seluruh aparatur yang terlibat dalam
pelaksanaan anggaran, dan Pemerintah Kota Bekasi harus memiliki jabatan fungsional
agar dalam pelaksanaan tugasnya didasarkan pada keahlian supaya tidak terjadi lagi
satu orang mengurus semua tugas shingga Pemerintah kota Bekasi memiliki mutu
sumber daya manusia yang profesionalisme yang memadai
3. Pemerintah kota Bekasi dan DPRD selaku pihak legislative dan eksekutif harus
memiliki hubungan yang baik sehingga dalam proses penyusunan, pelaksanaan
anggaran pendapatan dan belanja daerah pun dapat menjadi lebih efektif dan efisien
dan visi misi Pemerintah Kota Bekasi pun dapat tercapai.
4. Pemerintah Kota Bekasi diharapkan dapat menerapkan akuntansi berbasis akrual
dengan baik. Laporan keuangan sebagai bentuk pertanggungjawaban pengelolaan
keuangan yang dihasilkan dari penerapan akuntansi berbasis akrual akan memberi
manfaat lebih baik bagi para pemangku kepentingan, masyarakat, dan pemeriksa
laporan keuangan pemerintah.
5. Bagi peneliti selanjutnyadiharapkan memperpanjang waktu penelitian dan lebih
memfokuskan pada pokok masalah tertentu dalam penyerapan anggaran pendapatan,
belanja, atau pembiayaan saja dan menganalisis kinerja pelaksanaan anggaran tersebut
agar hasil penelitian dapat lebih valid.

DAFTAR PUSTAKA
Halim Abul, Kusufi M. Syam. 2014. Teori, Konsep, dan Aplikasi Akuntansi Sektor Publik
(Dari Anggaran hinga Laporan Keuangan, dari Pemerintah hingga tempat Ibadah).
Jakarta : Salemba Empat.
http://www-wds.worldbank.org/external/default/WDSContentServer
Komite Standar Akuntansi Pemerintahan. 2005. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005
tentang Standar Akuntansi Pemerintahan. Jakarta : Salemba Empat.
Mahmudi.2013. Akuntansi Sektor Publik. Yogyakarta : UII Press Yogyakarta
Noerdiawan D, Iswahyudi, Maulidah. 2008. Akuntansi Pemerintahan. Jakarta : Salemba
Empat.
_________________________Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006
tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah.
_________________________Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007
Pemerintah Kota Bekasi. 2013. Laporan Keuangan Audited Tahun Anggaran 2013. Bekasi.
__________________________Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang
Pengelolaan Keuangan Daerah.
_________________________Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar
Akuntansi Pemerintahan.
Raiborn, Cecily A.2011. Akuntansi biaya: dasar dan perkembangan. Jakarta : Salemba Empat.
Renowijoyo Muindro. 2008. Akuntansi Sektor Publik Organisasi Non Laba. Jakarta : Mitra
Wacana Media.
Suwanda Dadang, SantosaHendri. 2014. Kebijakan Akuntansi Berbasis Akrual Berpedoman
Pada SAP. Bandung : Rosda.
Sugiyono. 2014. Metode Penelitian Kualitatif, Kuantitatif, an R&D.Bandung :Alfabeta.
__________________________Undang Undang Nomor 17 Tahun 2003 Tentang Keuangan
Negara.
__________________________Undang Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang
Pemerintah Daerah.