Anda di halaman 1dari 30

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A.
1.

KONSEP ABSES RENAL


Pengertian

Abses adalah infeksi bakteri setempat yang ditandai dengan


pengumpulan pus
(bakteri,jaringan nekrotik dan sel darah putih)
( Smelltzer at.al, 2001: 496)
Abses adalah kumpulan nanah (netrofil yang telah mati yang terakumulasi
disebuah kavitas jaringan karena adanya proses infeksi). Proses ini
merupakan reaksi perlindungan oleh jaringan untuk mencegah
penyebaran/perluasan infeksi kebagian lain dari tubuh
(http://id.wikipedia.org/wiki/abses)
Abses ginjal adalah abses yang terdapat pada parenkim ginjal. Abses ini
dibedakan dalam 2 macam, yaitu abses korteks ginjal dan abses kortikomeduler. Abses korteks ginjal atau disebut karbunkel ginjal pada
umumnya disebabkan oleh penyebaran infeksi kumanStafilokokus aureus
yang menjalar secara hematogen dari fokus infeksi di luar sistem saluran
kemih (antara lain dari kulit). Abses kortiko-medulare merupakan
penjalaran infeksi secara asending oleh bakteri E. Coli,Proteus, atau
Klebsiella spp. Abses kortikomedulare ini seringkali merupakan penyulit
dari pielonefritis akut. (Basuki P. Purnomo, 2011)

2.

Etiologi

Menurut ahli penyakit infeksi penyebab abses antara lain :


1.

Infeksi Mikrobial

Merupakan penyebab paling sering terjadinya abses. Virus menyebabkan


kematian sel dengan cara multiplikasi. Bakteri melepaskan eksotoksin
yang spesifik yaitu suatu sintesis kimiawi yang merupakan awal radang
atau melepaskan endotoksin yang ada hubunganya dengan dinding sel
2.

Reaksi hipersensitivitas.

Terjadi bila ada perubahan respon Imunologi yang menyebabkan jaringan


rusak.

3.

Agen Fisik

Melalui trauma fisik, ultra violet, atau radiasi, terbakar, atau dinding
berlebih (frostbite).
4.

Bahan kimia iritan dan korosif

Bahan oksidan, asam, basa, akan merusak jaringan dengan cara


memprovokasi terjadinya proses radang, selain itu agen infeksi dapat
melepaskan bahan kimiawi spesifik yang mengiritasi dan langsung
menyebabkan radang
5.

Nekrosis jaringan

Aliran darah yang kurang akan menyebabkan hipoksia dan berkurangnya


makanan pada dearah yang bersangkutan.
Menyebabkan kematian jaringan yang merupakan stimulus kuat penyebab
infeksi pada daerah tepi infeksi sering memperlihatkan suatu respon
radang akut.
(Underwood,lC.E. 1999: 232 )

3.

Faktor Predisposisi
Faktor predisposisi dari abses yaitu :

1.

Penurunan daya tahan tubuh.

2.

Kurang gizi.

3.

Anemia.

4.

Diabetes

5.

Keganasan(kanker)

6.

Penyakit lainya

7.

Higienis jelek

8.

Kegemukan

9.

Gangguan kemotatik

10. Sindroma hiper IgE


11. Carier kronik Staphilococcus Aureus.
12. Sebagai komplikasi dari dermatitis atopi,. ekscoriasis, scabies,
pedikulosis.

(http//Imadeharyoga.com)

4.

Patofisiologi

Kuman yang masuk kedalam tubuh akan menyebabkan kerusakanakan


jaringan dengan cara mengeluarkan toksin. Bakteri melepaskan
eksotoksin yang spesifik (sintesis), kimiawi yang secara spesifik
mengawali proses peradangan atau melepaskan endotoksin yang ada
hubunganya dengan dinding sel. Reaksi hipersensitivitas terjadi bila ada
perubahan kondisi respon imunologi mengakibatkan perubahan reaksi
imun yang merusak jaringan. Agent fisik dan bahan kimia oksidan dan
korosif menyebabkan kerusakan jaringan,kematian jaringan menstimulus
untuk terjadi infeksi. Infeksi merupakan salah penyebab dari peradangan,
kemerahan merupakan tanda awal yang terlihat akibat dilatasi arteriol
akan meningkatkan aliran darah ke mikro sirkulasi kalor terjadi bersamaan
dengan kemerahan bersifat lokal. Peningkatan suhu dapat terjadi secara
sistemik.
Akibat endogen pirogen yang dihasilkan makrofaq mempengaruhi
termoregulasi pada suhu lebih tinggi sehingga produksi panas meningkat
dan terjadi hipertermi. Peradangan terjadi perubahan diameter pembuluh
darah mengalir keseluruh kapiler, kemudian aliran darah kembali pelan.
Sel-sel darah mendekati dinding pembuluh darah didaerah zona
plasmatik. Leukosit menempel pada epitel sehingga langkah awal terjadi
emigrasi kedalam ruang ekstravaskuler lambatnya aliran darah yang
mengikuti Fase hyperemia meningkatkan permiabilitas vaskuler
mengakibatkan keluarya plasma kedalam jaringan, sedang sel darah
tertinggal dalam pembuluh darah akibat tekanan hidrostatik meningkat
dan tekanan osmotik menurun sehingga terjadi akumulasi cairan didalam
rongga ekstravaskuler yang merupakan bagian dari cairan eksudat yaitu
edema. Regangan dan distorsi jaringan akibat edema dan tekanan pus
dalam rongga abses menyebabkan rasa nyeri. Mediator kimiawi, termasuk
bradikinin, prostaglandin, dan serotonin merusak ujung saraf sehingga
menurunkan ambang stimulus terhadap reseptor mekanosensitif dan
termosensitif yang menimbulkan nyeri. Adanya edema akan mengganggu
gerak jaringan sehingga mengalami penurunan fungsi tubuh yang
menyebabkan terganggunya mobilitas litas.
Inflamasi terus terjadi selama, masih ada pengrusakan jaringan bila
penyabab kerusakan bisa diatasi, maka debris akan difagosit dan dibuang
oleh tubuh sampai terjadi resolusi dan kesembuhan. Reaksi sel fagosit
yang berlebihan menyebabkan debris terkumpul dalam suatu rongga
membentuk abses di sel jaringan lain membentuk flegmon. Trauma yang

hebat menimbulkan reaksi tubuh yang berlebihan berupa fagositosis


debris yang diikuti dengan pembentukan jaringan granulasi vaskuler
untuk mengganti jaringan yang rusak (fase organisasi), bila fase destruksi
jaringan berhenti akan terjadi fase penyembuhan melalui jaringan
granulasi fibrosa. Tapi bila destruksi jaringan berlangsung terus akan
terjadi fase inflamasi kronik yang akan sembuh bila rangsang yang
merusak hilang.
Abses yang tidak diobati akan pecah dan mengeluarkan pus kekuningan
sehingga terjadi kerusakan Integritas kulit. Sedangkan abses yang diinsisi
dapat mengakibatkan resiko penyebaran infeksi.

5. Anatomi dan Fisiologi


Sistem perkemihan atau sistem urinaria, adalah suatu sistem dimana
terjadinya proses penyaringan darah sehingga darah bebas dari zat-zat
yang tidak dipergunakan oleh tubuh dan menyerap zat-zat yang masih di
pergunakan oleh tubuh. Zat-zat yang tidak dipergunakan oleh tubuh larut
dalam air dan dikeluarkan berupa urin (air kemih).
Susunan Sistem Perkemihan atau Sistem Urinaria :
1. GINJAL
Kedudukan ginjal terletak dibagian belakang dari kavum abdominalis di
belakang peritonium pada kedua sisi vertebra lumbalis III, dan melekat
langsung pada dinding abdomen.
Bentuknya seperti biji buah kacang merah (kara/ercis), jumlahnaya ada 2
buah kiri dan kanan, ginjal kiri lebih besar dari pada ginjal kanan. Pada
orang dewasa berat ginjal 200 gram. Dan pada umumnya ginjal laki
laki lebih panjang dari pada ginjal wanita.
Satuan struktural dan fungsional ginjal yang terkecil di sebut nefron. Tiap
tiap nefron terdiri atas komponen vaskuler dan tubuler. Komponen
vaskuler terdiri atas pembuluh pembuluh darah yaitu glomerolus dan
kapiler peritubuler yang mengitari tubuli. Dalam komponen tubuler
terdapat kapsul Bowman, serta tubulus tubulus, yaitu tubulus kontortus
proksimal, tubulus kontortus distal, tubulus pengumpul dan lengkung
Henle yang terdapat pada medula.
Kapsula Bowman terdiri atas lapisan parietal (luar) berbentuk gepeng dan
lapis viseral (langsung membungkus kapiler golmerlus) yang bentuknya
besar dengan banyak juluran mirip jari disebut podosit (sel berkaki) atau
pedikel yang memeluk kapiler secara teratur sehingga celah celah
antara pedikel itu sangat teratur.

Kapsula bowman bersama glomerolus disebut korpuskel renal, bagian


tubulus yang keluar dari korpuskel renal disabut dengan tubulus kontortus
proksimal karena jalannya yang berbelok belok, kemudian menjadi
saluran yang lurus yang semula tebal kemudian menjadi tipis disebut
ansa Henle atau loop of Henle, karena membuat lengkungan tajam
berbalik kembali ke korpuskel renal asal, kemudian berlanjut sebagai
tubulus kontortus distal.

a.

Bagian Bagian Ginjal

Bila sebuh ginjal kita iris memanjang, maka aka tampak bahwa ginjal
terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian kulit (korteks), sumsum ginjal
(medula), dan bagian rongga ginjal (pelvis renalis).
a)

Kulit Ginjal (Korteks)

Pada kulit ginjal terdapat bagian yang bertugas melaksanakan


penyaringan darah yang disebut nefron. Pada tempat penyarinagn darah
ini banyak mengandung kapiler kapiler darah yang tersusun bergumpal
gumpal disebut glomerolus. Tiap glomerolus dikelilingi oleh simpai
bownman, dan gabungan antara glomerolus dengan simpai bownman
disebut badan malphigi. Penyaringan darah terjadi pada badan malphigi,
yaitu diantara glomerolus dan simpai bownman. Zat zat yang terlarut
dalam darah akan masuk kedalam simpai bownman. Dari sini maka zat
zat tersebut akan menuju ke pembuluh yang merupakan lanjutan dari
simpai bownman yang terdapat di dalam sumsum ginjal.
b) Sumsum Ginjal (Medula)
Sumsum ginjal terdiri beberapa badan berbentuk kerucut yang disebut
piramid renal. Dengan dasarnya menghadap korteks dan puncaknya
disebut apeks atau papila renis, mengarah ke bagian dalam ginjal. Satu
piramid dengan jaringan korteks di dalamnya disebut lobus ginjal. Piramid
antara 8 hingga 18 buah tampak bergaris garis karena terdiri atas
berkas saluran paralel (tubuli dan duktus koligentes). Diantara pyramid
terdapat jaringan korteks yang disebut dengan kolumna renal. Pada
bagian ini berkumpul ribuan pembuluh halus yang merupakan lanjutan
dari simpai bownman. Di dalam pembuluh halus ini terangkut urine yang
merupakan hasil penyaringan darah dalam badan malphigi, setelah
mengalami berbagai proses.
c)

Rongga Ginjal (Pelvis Renalis)

Pelvis Renalis adalah ujung ureter yang berpangkal di ginjal, berbentuk


corong lebar. Sabelum berbatasan dengan jaringan ginjal, pelvis renalis
bercabang dua atau tiga disebut kaliks mayor, yang masing masing

bercabang membentuk beberapa kaliks minor yang langsung menutupi


papila renis dari piramid. Kliks minor ini menampung urine yang terus
kleuar dari papila. Dari Kaliks minor, urine masuk ke kaliks mayor, ke
pelvis renis ke ureter, hingga di tampung dalam kandung kemih (vesikula
urinaria).
b.

Fungsi Ginjal:

1.
Mengekskresikan zat zat sisa metabolisme yang mengandung
nitrogennitrogen,
misalnya amonia.
2.
Mengekskresikan zat zat yang jumlahnya berlebihan (misalnya
gula dan vitamin)
dan berbahaya (misalnya obat obatan, bakteri dan
zat warna).
3.

Mengatur keseimbangan air dan garam dengan cara osmoregulasi.

4.
Mengatur tekanan darah dalam arteri dengan mengeluarkan
kelebihan asam atau
basa.

Peredaran Darah
Ginjal mendapat darah dari aorta abdominalis yang mempunyai
percabangan arteria renalis, yang berpasangan kiri dan kanan dan
bercabang menjadi arteria interlobaris kemudian menjadi arteri akuata,
arteria interlobularis yang berada di tepi ginjal bercabang menjadi kapiler
membentuk gumpalan yang disebut dengan glomerolus dan dikelilingi leh
alat yang disebut dengan simpai bowman, didalamnya terjadi
penyadangan pertama dan kapilerdarah yang meninggalkan simpai
bowman kemudian menjadi vena renalis masuk ke vena kava inferior.

Persyarafan Ginjal
Ginjal mendapat persyarafan dari fleksus renalis (vasomotor) saraf ini
berfungsi untuk mengatur jumlah darah yang masuk ke dalam ginjal,
saraf inibarjalan bersamaan dengan pembuluh darah yang masuk ke
ginjal. Anak ginjal (kelenjar suprarenal) terdapat di atas ginjal yang
merupakan senuah kelenjar buntu yang menghasilkan 2(dua) macam
hormon yaitu hormone adrenalin dan hormn kortison.

2.

URETER

Terdiri dari 2 saluran pipa masing masing bersambung dari ginjal ke


kandung kemih (vesika urinaria) panjangnya 25 30 cm dengan
penampang 0,5 cm. Ureter sebagian terletak dalam rongga abdomen

dan sebagian terletak dalam rongga pelvis. Lapisan dinding ureter terdiri
dari :
a.

Dinding luar jaringan ikat (jaringan fibrosa)

b.

Lapisan tengah otot polos

c.

Lapisan sebelah dalam lapisan mukosa

Lapisan dinding ureter menimbulkan gerakan gerakan peristaltik tiap 5


menit sekali yang akan mendorong air kemih masuk ke dalam kandung
kemih (vesika urinaria).
Gerakan peristaltik mendorong urin melalui ureter yang dieskresikan oleh
ginjal dan disemprotkan dalam bentuk pancaran, melalui osteum uretralis
masuk ke dalam kandung kemih.
Ureter berjalan hampir vertikal ke bawah sepanjang fasia muskulus psoas
dan dilapisi oleh pedtodinium. Penyempitan ureter terjadi pada tempat
ureter terjadi pada tempat ureter meninggalkan pelvis renalis, pembuluh
darah, saraf dan pembuluh sekitarnya mempunyai saraf sensorik.
3.

VESIKULA URINARIA ( Kandung Kemih )

Kandung kemih dapat mengembang dan mengempis seperti balon karet,


terletak di belakang simfisis pubis di dalam ronga panggul. Bentuk
kandung kemih seperti kerucut yang dikelilingi oleh otot yang kuat,
berhubungan ligamentum vesika umbikalis medius. Bagian vesika urinaria
terdiri dari :
a.
Fundus, yaitu bagian yang mengahadap kearah belakang dan
bawah, bagian ini
b.
terpisah dari rektum oleh spatium rectosivikale yang terisi oleh
jaringan ikat duktus deferent, vesika seminalis dan prostate.
b.

Korpus, yaitu bagian antara verteks dan fundus.

c.
Verteks, bagian yang maju kearah muka dan berhubungan dengan
ligamentum vesika
umbilikalis.
Dinding kandung kemih terdiri dari beberapa lapisan yaitu, peritonium
(lapisan sebelah luar), tunika muskularis, tunika submukosa, dan lapisan
mukosa (lapisan bagian dalam).
4.

URETRA

Uretra merupakan saluran sempit yang berpangkal pada kandung kemih


yang berfungsi menyalurkan air kemih keluar.

Pada laki- laki uretra bewrjalan berkelok kelok melalui tengah tengah
prostat kemudian menembus lapisan fibrosa yang menembus tulang pubis
kebagia penis panjangnya 20 cm. Uretra pada laki laki terdiri dari :
a.

Uretra Prostaria

b.

Uretra membranosa

c.

Uretra kavernosa

Lapisan uretra laki laki terdiri dari lapisan mukosa (lapisan paling
dalam), dan lapisan submukosa. Uretra pada wanita terletak dibelakang
simfisis pubisberjalan miring sedikit kearah atas, panjangnya 3 4 cm.
Lapisan uretra pada wanita terdiri dari Tunika muskularis (sebelah luar),
lapisan spongeosa merupakan pleksus dari vena vena, dan lapisan
mukosa (lapisan sebelah dalam).Muara uretra pada wanita terletak di
sebelah atas vagina (antara klitoris dan vagina) dan uretra di sini hanya
sebagai saluran ekskresi.

5.

Manifestasi Klinis

a.

Nyeri pinggang

b.

Demam disertai menggigil

c.

Teraba massa sipinggang (pada abses peri atau pararenal)

d.
Keluhan miksi jika fokus infeksinya berasaal dari : saluran kemih,
anoreksia, malas
dan lemah.
Gejala ini sering didiagnosis banding dengan pielonefritis akut. Nyeri
dapat dirasakan pula di daerah (1) Pleura karena pleuritis akibat
penyebaran infeksi ke subprenik dan Intrathorakal (2) Inguinal (3)
abdominal akibat pada peritoneum posterior. Nyeri pada saat
hiperekstensi pada sendi panggul adalah tanda dari penjalaran infeksi ke
otot psoas. (Basuki P. Purnomo, 2011)

6.

Penatalaksanaan

Abses luka biasanya tidak membutuhkan penanganan


menggunakan antibiotik. Namun demikian, kondisi tersebut butuh
ditangani dengan intervensi bedah, debridemen atau kuretase. Suatu
abses harus diamati dengan teliti untuk mengidentifikasi penyebabnya,

utamanya apabila disebabkan oleh benda asing karena benda asing


tersebut harus diambil. Apabila tidak disebabkan oleh benda asing,
biasanya hanya perlu dipotong dan diambil absesnya, bersama dengan
pemberian obat analgetik. Drainase, abses dengan menggunakan
pembedahan biasanya diindikasi apabila abses telah berkembang dari
peradangan serasa yang keras menjadi tahap nanah yang lebih lunak.
Karena sering kali abses disebabkan oleh bakteri staphylococcus aureus,
antibiotik antistafilokokus seperti flucloxacillin atau didoxacillin sering
digunakan. Dengan adanya kemunculan stophylococcus aureus yang
dapat melalui komunitas, antibiotik biasa tersebut menjadi tidak efekif.

7.

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan Pembantu/Penunjang. Pemeriksaan ini terdiri atas:


a.

Laboratorium

1)

Urine dan kultur urine untuk melihat adanya infeksi

2)

Pemeriksaan darah,Hb, Ureum Kreatinin, Kalsium, Fosfat, Asam Urat

b.

Radiologi

Diagnosis pasti dapat dibuat dengan uretrografi, yaitu retrograde


uretrografi (RUG) dan voiding cysto uetrografi (VCUG).

B.

KONSEP KAMAR OPERASI

1.

Pengertian

Kamar operasi adalah salah satu ruang atau unit dalam suatu rumah sakit
yang khusus untuk melakukan tindakan pembedahan baik segera
(emergency) maupun berencana (elective). Oleh karena itu kamar operasi
harus dirancang secara khusus antara lain letak, bentuk dan luas sesuai
dengan kebutuhan. (Hipkabi, 2010).
Kamar bedah adalah ruangan dimana dilakukan tindakan-tindakan
sehubungan dengan pembedahan. Ruangan bedah merupakan ruangan
terbatas / ketat. Orang-orang yang bisa masuk hanyalah orang yang
sedang bertugas atau petugas. Orang yang tidak berkepentingan tidak
boleh masuk karena untuk menjaga kesterilan ruang bedah. (Hipkabi,
2010).
Jumlah kamar bedah tergantung beberapa hal yaitu :

1.

Jumlah dan lama waktu operasi yang dilakukan.

2.
Jumlah dokter bedah dan macam spesialisasi serta sub spesialisasi
bersama fasilitas penunjangnya (alat-alat)
3.

Perimbangan antara operasi berencana dan operasi segera

4.
Jumlah kebutuhan waktu pemakaian kamar bedah baik jam perhari
maupun perminggunya.
5.
Sistem dan prosedur yang ditetapkan untuk arus pasien petugas
dan penyediaan peralatan. (modul instrumentasi RSSA Malang : 2012)

2.

Pembagian Daerah Kamar Operasi

Secara umum kamar bedah dibagi 3 daerah menurut sterilitasnya :


1.

Daerah bebas (unrestricted area)

Pada daerah ini bila petugas dan pasien masuk tidak perlu mengganti
pakaian. Ini merupakan juga daerah peralihan dari luar kedalam kamar
bedah. Meliputi :
a)

Ruang tunggu pasien

b)

Ruang tata usaha

c)

Ruang kepala kamar bedah

d)

Ruang rapat

e)

Ruang ganti baju

f)

Ruang istirahat

g)

Gudang

h)

Kamar mandi dan WC

2.

Daerah semi terbatas (semirestricted area)

Daerah penghubung antara daerah bebas dan kamar bedah. Setiap orang
yang masuk daerah ini wajib ganti pakaian khusus dikamar operasi, topi
dan masker, demikian pula dengan pasien. Meliputi :
a)

Ruang persiapan premedikasi

b)

Ruang koridor

c)

Ruang pulih ( recovery room)

d)

Ruang penyimpanan alat steril

e)

Ruang penyimpanan alat tidak steril

f)

Ruang pencucian alat bekas pakai

g)

Ruang sterilisasi

h)

Ruang depo farmasi

i)

Ruang pembuang limbah operasi

3.

Daerah terbatas (restricted area), Meliputi :

a)

Ruang cuci tangan

b)

Ruang induksi

c)

Ruang tindakan pembedahan (O.K)

Maksud dari pembagian daerah pada kamar operasi adalah untuk


meminimalisasi kemungkinan kontaminasi udara luar dengan kamar
bedah yang steril.
Sehubungan dengan hal tersebut ada pula pustaka yang membagi kamar
bedah menjadi 3 daerah :

1.

Daerah pubik

Yaitu daerah yang boleh dimasuki oleh semua tanpa syarat khusus
misalnya:
a)

Kamar tunggu

b)

Depan komplek kamar operasi

2.

Daerah semi pubik

Daerah dimana bisa dimasuki oleh orang-orang tertentu saja yaitu


petugas. Dan sudah ada pembatasan tentang jenis pakaian yang
dikenakan petugas.
3.

Daerah aseptik

Daerah yang hanya bisa dimasuki oleh petugas yang bertugas dengan
kegiatan pembedahan. Dibagi 3 bagian, yaitu :

a)
Daerah aseptik 0 : yaitu lapangan operasi, daerah dilakukannya
pembedahan
b)
Daerah 1 : yaitu daerah memakai gown operasi, tempat doek/kain
steril, tempat instrumen dan tempat perawat instrumen mengatur dan
mempersiapkan alat (area 1 meter dari aseptic 0).
c)
Daerah aseptic 2 : tempat mencuci tangan, koridor penderita
masuk, daerah sekitar anesthesi dan daerah operasi.

3.

Persyaratan Kamar Bedah

Kamar operasi yang baik harus memenuhi syarat-syarat sebagai


berikut :
1.

Letak

Letak kamar operasi berada di tengah-tengah rumah sakit berdekatan


dengan unit gawat darurat (UGD), ICU, dan unit Radiologi.
2.

Bentuk

Kamar operasi tidak bersudut tajam, lantai, dinding, langit-langit


berbentuk lengkung dan warna tidak mencolok. Sedangkan lantai dan
dinding harus terbuat dari bahan yang rata, kedap air, mudah dibersihkan
dan tidak menampung debu.
3.

Ukuran

Ukuran kamar bedah bermacam-macam tergantung dari besar kecilnya


rumah sakit. Tetapi biasanya ditetapkan minimal 5,6 m x 5,6 m (=29,1
m), dan untuk kamar operasi khusus/ besar yaitu 7,2 m x 7,8 m (=56
m).
4.

Sistem ventilasi

Ventilasi kamar operasi harus dapat diatur dengan alat control dan
penyaringan udara dengan menggunakan filter. Idealnya menggunakan
sentral AC dan pertukran sirkulasi udara harus berbeda. Daerah tropis
suhu udara antar 19 C-20 C. Sedangkan daerah dingin antara 20 C-24
C.

5.

Sistem penerangan

Lampu operasi menggunakan lampu khusus, sehingga tidak menimbulkan


panas, cahaya terang, tidak menyilaukan dan arah sinar mudah diatur

posisinya. Lampu penerang menggunakan lampu pijar putih yang mudah


dibersihkan. Pencahayaan antara 300-500 lux, meja operasi 10.00020.000 lux.
6.

Peralatan

Semua peralatan yang ada didalam kamar operasi harus beroda dan
mudah dibersihkan. Untuk alat elektrik, petunjuk penggunaanya harus
menempel pada alat tersebut agar mudah dibaca. Sistem pelistrikan
dijamin aman dan dilengkapi dengan elektrode untuk memutuskan arus
listrikn,mencegah bahaya gas anathesi.
7.

Sistem instalasi gas medis

Pipa (out let) dan konnektor N2O dan oksigen, dibedakan warnanyadan
dijamin tidak bocor serta dilengkapi dengan sistem pembuangan/
penghisap udara untuk mencegah penimbunan gas aneshtesi.
8.

Pintu

Pintu masuk dan keluar pasien dan petugas harus berbeda. Setiap pintu
menggunakan door close. Dan setiap pintu diberi kaca pengintai untuk
melihat kegiatan kamar tanpa membuka pintu.
9.
Batas tegas antara area bebas terbatas, semi ketat dan area ketat
dan ada ruangan persiapan untuk serah terima pasien dari perawat
ruangan kepada perawat kamar operasi.
10.

Penentuan jumlah kamar operasi

Setiap rumah sakit meerancang kamar operasi disesuaikan dengan


bentuk dan lahan yang tersedia, sehingga dikatakan bahwa rancang
bangun kamar operasi setiap rumah sakit berbeda. Jumlah kamar operasi
tergantung pada :

Jumlah dan lama waktu operasi yang dilakukan.

Jumlah dokter bedah dan macam spesialisasi serta sub spesialisasi


bersama fasilitas penunjangnya (alat-alat)

Perimbangan antara operasi berencana dan operasi segera

Jumlah kebutuhan waktu pemakaian kamar bedah baik jam perhari


maupun perminggunya

Sistem dan prosedur yang ditetapkan untuk arus pasien petugas


dan penyediaan peralatan.

11.

Komunikasi

Sistem komunikasi dikamar bedah sangat vital, komunikasi setiap ruangan


menggunakan telepon pararel

4.

Tata Tertib Kamar Operasi

a. wajib memakai baju operasi


b. mengerti pembagian area
c. melaksanakan jadwal operasi
d. petugas bertugas sesuai urutan tugas
e. memberikan askep perioperatif
f. melakukan pemeliharaan alat
g. mendokumentasikan semua tindakan
h. berbicara seperlunya
i. wajib menjamin kerahasiaan informasi

5.

Penatalaksanaan Cara Kerja

Pelaksanaan atau tata kerja perawat instrumen merupakan tindakan yang


dilakukan perawat instrumen pada waktu sebelum, selama, dan sesudah
dilingkungan operasi. Tugas dan tanggung jawab yang dilakukan adalah
menyaipkan ruangan, pasien, personil maupun alat instrumen dan bahan
kebutuhan operasi lainnya. Meliputi :
a.

Persiapan ruangan sebelum dan selama operasi

Sesaat sebelum operasi perawat kamar operasi melakukan pengecekan


terhadap kebersihan lingkungan, meja mayo kelayakan alat, dll.
b.

Persiapan alat dan bahan kebutuhan operasi

Perawat kamar operasi sebaiknya mengetahui dan dapat menyiapkan alat


instrumen mulai dari instrumen dasar. Sesuai dengan macam dan jenis
operasi yang dilakukan. Sesaat sebelum operasi perawat instrumen
meneliti dan menghitung jumlah alat dan bahan yang akan digunakan dan
kemudian menyiapkan alat di atas meja mayo setelah sterilisasi
dilaksanakan.
c.

Persiapan pasien

Sesaat setelah pasien datang diruang persiapan, kemudian dipindah ke


brancart dan mengganti baju khusus ruang OK sehingga akhir operasi
berlangsung.
d.

Persiapan personil tim bedah

Personil yang dimaksud adalah operator, asisten, perawat instrumen dan


yang terlibat langsung dalam aseptik 0.
e.

Instrument

Adalah alat-alat yang digunakan untuk tindakan pembedahan.

6.

Instrumen Dasar :

Yaitu digunakan untuk pembedahan yang sifatnya sederhana dan tidak


memerlukan instrumen tambahan. Meliputi :

No

Nama instrumen

Jumlah

1.

Desinfeksi klem

2.

Duk klem

3.

Handvat mes no.3 1

4.

Handvat mes no.4 1

5.

Pinset anatomi

6.

Pinset cirurgi2

7.

Gunting jaringan

8.

Gunting metzemboum

9.

Gunting benang

10

Naldvoelder 2

11

Langenbeck 2

12

Klem pean mosquito

13

Hak tajam

Instrument tambahan :

1
1

Alat-alat yang digunakan untuk tindakan pembedahan yang sifatnya


kompleks dalam macam pembedahan maupun jenis pembedahan.

C.

Konsep Asuhan Keperawatan Perioperatif

1.

Pengertian

Pada fase preoperatif ini perawat akan mengkaji kesehatan fisik dan
emosional klien, mengetahui tingkat resiko pembedahan, mengkoordinasi
berbagai pemeriksaan diagnostik, mengidentifikasi diagnosa keperawatan
yang mengambarkan kebutuhan klien dankeluarga, mempersiapkan
kondisi fisik dan mental klien untuk pembedahan.

2.

Perawatan Preoperatif

Perawatan pre operatif merupakan tahap pertama dari perawatan


perioperatif yang dimulai sejak pasien diterima masuk di ruang terima
pasien dan berakhir ketika pasien dipindahkan ke meja operasi untuk
dilakukan tindakan pembedahan.
Persiapan pembedahan dapat dibagi menjadi 2 bagian, yang meliputi
persiapan psikologi baik pasien maupun keluarga dan persiapan fisiologi
(khusus pasien).
a.

Persiapan Psikologi

Terkadang pasien dan keluarga yang akan menjalani operasi emosinya


tidak stabil. Hal ini dapat disebabkan karena takut akan perasaan sakit,
narcosa atau hasilnya dan keadaan sosial ekonomi dari keluarga.
Penyuluhan merupakan fungsi penting dari perawat pada fase pra bedah
dan dapat mengurangi cemas pasien. Hal-hal dibawah ini penyuluhan
yang dapat diberikan kepada pasien pra bedah :
1)

Penjelasan tentang peristiwa

a)
Informasi yang dapat membantu pasien dan keluarganya sebelum
operasi :
b)

Pemeriksaan-pemeriksaan sebelum operasi (alasan persiapan).

c)

Hal-hal yang rutin sebelum operasi.

d)

Alat-alat khusus yang diperlukan

e)

Pengiriman ke ruang bedah.

f)

Ruang pemulihan.

2)

Kemungkinan pengobatan-pengobatan setelah operasi :

a)

Perlu peningkatan mobilitas sedini mungkin.

b)

Perlu kebebasan saluran nafas.

c)

Antisipasi pengobatan.

d)

Bernafas dalam dan latihan batuk

e)

Latihan kaki

f)

Mobilitas

g)

Membantu kenyamanan

b.

Persiapan Fisiologi

a)

Diet

8 jam menjelang operasi pasien tidak diperbolehkan makan, 4 jam


sebelum operasi pasien tidak diperbolehkan minum, (puasa) pada operasi
dengan anaesthesi umum.
Pada pasien dengan anaesthesi lokal atau spinal anasthesi makanan
ringan diperbolehkan. Bahaya yang sering terjadi akibat makan/minum
sebelum pembedahan antara lain :

Aspirasi pada saat pembedahan

Mengotori meja operasi.

Mengganggu jalannya operasi.

c.

Persiapan Perut.

Pemberian leuknol/lavement sebelum operasi dilakukan pada bedah


saluran pencernaan atau pelvis daerah periferal. Untuk pembedahan pada
saluran pencerrnaan dilakukan 2 kali yaitu pada waktu sore dan pagi hari
menjelang operasi.
Tujuan dari pemberian lavement antara lain :

Mencegah cidera kolon

Memungkinkan visualisasi yang lebih baik pada daerah yang akan


dioperasi.

Mencegah konstipasi.

Mencegah infeksi.

d.

Persiapan Kulit

Daerah yang akan dioperasi harus bebas dari rambut. Pencukuran


dilakukan minimal 1 jam sebelum operasi dan sebaiknya dilakukan di
kamar operasi setelah pasien di anesthesi.
e.

Hasil Pemeriksaan

Meliputi hasil laboratorium, foto roentgen, ECG, USG dan lain-lain.


f.

Persetujuan Operasi / Informed Consent

Izin tertulis dari pasien / keluarga harus tersedia. Persetujuan bisa didapat
dari keluarga dekat yaitu suami / istri, anak tertua, orang tua dan kelurga
terdekat.
Pada kasus gawat darurat ahli bedah mempunyai wewenang untuk
melaksanakan operasi tanpa surat izin tertulis dari pasien atau keluarga,
setelah dilakukan berbagai usaha untuk mendapat kontak dengan
anggota keluarga pada sisa waktu yang masih mungkin.
g.
Persiapan Akhir Sebelum Operasi Di Kamar Operasi (Serah terima
dengan perawat OK)
Untuk melindungi pasien dari kesalahan identifikasi atau cidera perlu
dilakukan hal tersebut di bawah ini :

Cek daerah kulit / persiapan kulit dan persiapan perut (lavement).

Cek gelang identitas / identifikasi pasien.

Lepas tusuk konde dan wig dan tutup kepala / peci.

Lepas perhiasan

Bersihkan cat kuku.

Kontak lensa harus dilepas dan diamankan.

Protesa (gigi palsu, mata palsu) harus dilepas.

Alat pendengaran boleh terpasang bila pasien kurang atau ada


gangguan
pendengaran.

Kaus kaki anti emboli perlu dipasang pada pasien yang beresiko
terhadap
tromboplebitis.

Kandung kencing harus sudah kosong

Pemberian Obat profilaksis

Status pasien beserta hasil-hasil pemeriksaan harus dicek meliputi :


catatan
tentang persiapan kulit, tanda-tanda vital (suhu, nadi,
respirasi, TN), pemberian
premedikasi, pengobatan rutin, data
antropometri (BB, TB), informed consent,
pemeriksan laboratorium
h.

Pengkajian Keperawatan Pra Bedah

Data Subyektif
a.
Pengetahuan dan Pengalaman Terdahulu. Misalnya: tempat, bentuk
operasi yang harus dilakukan, informasi dari ahli bedah lamanya dirawat
dirumah sakit, keterbatasan setelah di bedah, kegiatan rutin sebelum
operasi, kegiatan rutin sesudah operasi, pemeriksaan-pemeriksaan
sebelum operasi.
b.

Bentuk, sifat, roentgen

c.

Status Fisiologi

d.

Berbagai alergi medikasi, sabun, plester.

e.

Penginderaan : kesukaran visi dan pendengaran.

f.
Nutrisi : intake gizi yang sempurna (makanan, cairan) mual,
anoreksia.
g.
Motorik : kesukaran ambulatori, gerakan tangan dan kaki, arthritis,
bedah orthopedi yang terdahulu (penggantian sendi, fusi spinal).
h.

Alat prothesa : gigi, mata palsu, dan ekstremitas.

i.

Kesantaian : bisa tidur, terdapat nyeri atau tidak nyaman

Data Obyektif
a.
Pola berbicara : mengulang-ulang tema, perubahan topik tentang
perasaan (cemas), kemampuan berbahasa Inggris.
b.

Tingkat interaksi dengan orang lain.

c.
Perilaku : gerakan tangan yang hebat, gelisah, mundur dari aktifitas
yang sibuk (cemas).
d.

Tinggi dan berat badan.

e.

Tanda vital

f.

Tekanan darah, nadi, respiratory, suhu.

g.

Sistem integumentum

h.

Pucat, sianosis, adakah penyakit kulit di area badan.

i.

Sistem Kardiovaskuler

j.
Apakah ada gangguan pada sisitem cardio, validasi apakah pasien
menderita penyakit jantung, kebiasaan minum obat jantung sebelum
operasi, kebiasaan merokok, minum alcohol, oedema, irama dan frekuensi
jantung, pucat.
k.

Sistem pernafasan

l.
Apakah pasien bernafas teratur, batuk secara tiba-tiba di kamar
operasi.
m.

Sistem gastrointestinal

n.

Apakah pasien diare atau tidak.

o.

Sistem reproduksi

p.

Apakah pasien wanita mengalami menstruasi

q.

Sistem saraf

r.
Kesadaran (composmentis, somnolen, apatis, stupor, koma),
pemeriksaan neurologi fisiologis dan patologis.
s.

Penginderaan

t.

Kemampuan penglihatan dan pendengaran.

u.

Kulit

v.

Turgor, terdapat lesi, merah atau bintik-bintik.

w.

Mulut

x.

Gigi palsu, kondisi gigi dan selaput lendir.

y.

Thorak

z.
Bunyi nafas (terdapat, sisanya) pemekaran dada, kemampuan
bernafas dengan diafragma, bunyi jantung (garis dasar untuk
perbandingan pada pasca bedah).
aa.

Ekstremitas

bb.
Kekuatan otot (terutama) kaki, karakteristik nadi perifer sebelum
bedah vaskuler atau tubuh.

cc.

Kemampuan motorik

dd.
Adalah keterbatasan berjalan, duduk, atau bergerak di tempat
duduk, koordinasi waktu berjalan.

Masalah Keperawatan Yang Lazim Muncul

Takut

Cemas

Resiko infeksi

Resiko injury

3.

Perawatan Intra operatif

Perawatan intra operatif dimulai sejak pasien ditransfer ke meja bedah


dan berakhir bila pasien di transfer ke wilayah ruang pemulihan. Anggota
tim asuhan pasien intra operatif biasanya di bagi dalam dua bagian.
Berdasarkan kategori kecil terdiri dari anggota steril dan tidak steril :

a.

Anggota steril

1)

Ahli bedah utama / operator

2)

Asisten ahli bedah.

3)

Scrub Nurse / Perawat Instrumen

b.

Anggota tim yang tidak steril, terdiri dari :

1)

Ahli atau pelaksana anaesthesi.

2)

Perawat sirkulasi

3)
Anggota lain (teknisi yang mengoperasikan alat-alat pemantau
yang rumit).

Dalam pelaksanaan operasi ada beberapa prinsip tindakan keperawatan


yang harus dilakukan yaitu :
a.

Persiapan Psikologis Pasien

b.

Pengaturan Posisi

1)
Posisi diberikan perawat akan mempengaruhi rasa nyaman pasien
dan keadaan psikologis pasien.
2)
Faktor yang penting untuk diperhatikan dalam pengaturan posisi
pasien adalah :
a)

Letak bagian tubuh yang akan dioperasi.

b)

Umur dan ukuran tubuh pasien.

c)

Tipe anaesthesia yang digunakan.

d)
Sakit yang mungkin dirasakan oleh pasien bila ada pergerakan
(arthritis).
c.

Prinsip-prinsip didalam pengaturan posisi pasien :

(1)

Atur posisi pasien dalam posisi yang nyaman.

(2)
Sedapat mungkin jaga privasi pasien, buka area yang akan dibedah
dan kakinya ditutup dengan duk.
(3)
Amankan pasien diatas meja operasi dengan lilitan sabuk yang baik
yang biasanya dililitkan diatas lutut. Saraf, otot dan tulang dilindungi
untuk menjaga kerusakan saraf dan jaringan.
(4)
Jaga pernafasan dan sirkulasi vaskuler pasien tetap adekuat, untuk
meyakinkan terjadinya pertukaran udara.
(5)
Hindari tekanan pada dada atau bagain tubuh tertentu, karena
tekanan dapat menyebabkan perlambatan sirkulasi darah yang
merupakan faktor predisposisi terjadinya thrombus.
(6)
Jangan ijinkan ekstremitas pasien terayun diluar meja operasi
karena hal ini dapat melemahkan sirkulasi dan menyebabkan terjadinya
kerusakan otot.
(7)

Hindari penggunaan ikatan yang berlebihan pada otot pasien.

(8)
Yakinkan bahwa sirkulasi pasien tidak berhenti ditangan atau di
lengan.

(9)
Untuk posisi litotomi, naikkan dan turunkan kedua ekstremitas
bawah secara bersamaan untuk menjaga agar lutut tidak mengalami
dislokasi.
d.

Pengkajian psikososial

1)

Membersihkan dan menyiapkan kulit.

2)

Penutupan daerah steril

3)

Mempertahankan surgical asepsis

4)

Menjaga suhu tubuh pasien dari kehilangan panas tubuh

5)

Monitor dari malignant hyperthermia

6)

Penutupan luka pembedahan

7)

Perawatan drainase

8)

Pemindahan pasien ke ruang pemulihan, ICU atau PACU.

e.

Pengkajian fisik

1)

Tanda-tanda vital

Bila terjadi ketidaknormalan tanda-tanda vital dari pasien maka perawat


harus memberitahukan ketidaknormalan tersebut kepada ahli bedah.
2)

Transfusi

Monitor flabot transfusi sudah habis apa belum. Bila hampir habis segera
diganti dan juga dilakukan observasi jalannya aliran transfusi.
3)

Infus

Monitor flabot infuse sudah habis apa belum. Bila hampir habis harus
segera diganti dan juga dilakukan observasi jalannya aliran infuse.

4)

Pengeluaran urin

Normalnya pasien akan mengeluarkan urin sebanyak 1 cc/kg BB/jam.

4.

Perawatan Post Operatif

Perawatan post operasi merupakan tahap lanjutan dari perawatan pre dan
intra operatif yang dimulai saat klien diterima di ruang pemulihan.
Dibawah ini adalah petunjuk perawatan / observasi diruang pemulihan :

a)
Posisi kepala pasien lebih rendah dan kepala dimiringkan pada
pasien dengan pembiusan umum, sedang pada pasein dengan anaesthesi
regional posisi semi fowler.
b)

Pasang pengaman pada tempat tidur.

c)

Monitor tanda vital : TN, Nadi, respirasi / 15 menit.

d)

Penghisapan lendir daerah mulut dan trakhea.

e)

Beri O2 2,3 liter sesuai program.

f)

Observasi adanya muntah.

g)

Catat intake dan out put cairan.

Beberapa petunjuk tentang keadaan yang memungkinkan terjadinya


situasi krisis
a)
Tekanan sistolik < 90 100 mmHg atau > 150 160 mmH, diastolik
< 50 mmHg atau > dari 90 mmHg.
b)

HR kurang dari 60 x menit > 10 x/menit

c)

Suhu > 38,3 o C atau kurang dari 35 o C.

d)

Meningkatnya kegelisahan pasien

e)

Tidak BAK + 8 jam post operasi.

Pengeluaran dari ruang pemulihan / recovery room, kriteria umum yang


digunakan dalam mengevaluasi pasien :
a)

Pasien harus pulih dari efek anaesthesi.

b)

Tanda-tanda vital harus stabil.

c)

Tidak ada drainage yang berlebihan dari tubuh.

d)

Efek fisiologis dari obat bius harus stabil.

e)
Pasien harus sudah sadar kembali dan tingkat kesadaran pasien
telah sempurna.
f)
Urine yang keluar harus adekuat ( 1cc/ Kg/jam). Jumlahnya harus
dicatat dan dilaporkan.
g)

Semua pesan harus ditulis dan dibawa ke bangsal masing-masing.

h)
Jika keadaan pasien membaik, pernyataan persetujuan harus dibuat
untuk kehadiran pasien tersebut oleh seorang perawat khusus yang
bertugas pada unit dimana pasien akan dipindahkan.
i)
Staf dari unit dimana pasien harus dipindahkan, perlu diingatkan
untuk menyiapkan dan menerima pasien tersebut.

Hal-hal yang harus diperhatikan selama membawa pasien ke ruangan


antara lain : keadaan penderita usahakan pasien jangan sampai
kedinginan, dan kepala pasien sedapat mungkin harus dimiringkan untuk
menjaga bila muntah sewaktu-waktu, dan muka pasien harus terlihat
sehingga bila ada perubahan sewaktu-waktu terlihat.

5.

Diagnosa

a)

Pre Operasi Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan yang muncul pada keperawatan pre operatif, intra


operatif, post operatif : (Doenges M.E, 1999)

1)

Diagnosa keperawatan Pre operatif

a.
Resiko tinggi injury berhubungan dengan transfer + transport
pasien ke branchart / meja operasi
Hasil yang diharapkan : tidak terjadi injury padaperpindahan pasien
Intervensi :

Membantu pasien untuk berpindah dari branchart/kursi roda ke


meja operasi
R/ Menjaga pasien supaya tidak jatuh

Angkat pasien dari branchart ke meja operasi dengan 3 orang

R/ Memberikan keamanan kepada pasien

Berikan informasi yang dapat dipercaya dan diperkuat dengan


informasi yang telah diberikan
R/ Memberikan keamanan kepada pasien

2)
Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan dan stress
tentang tindakan pembedahan

Hasil yang diharapkan : pasien melaporkan takut dan ansietas menurun


sampai tingkat dapat ditanganin
Intervensi :

Mengidentifikasi kebutuhan pasien

Menjelaskan bahwa operasi ini sudah sering dilakukan dan


ditangani oleh tim ahli

Menjelaskan rangkaian kegiatan dan kejadian rutin

b)

Diagnosa Keperawatan Intra Operatif

1)

Resiko tinggi kekurangan cairan berhubungan dengan perdarahan

Hasil yang diharapkan : mempertahankan keseimbangan cairan, adekuat


yang dibuktikan dengan tanda vital stabil, nadi perifer normal, turgor kulit
baik dan membran mukosa lembab
Intervensi :

Awasi tanda vital, evaluasi nadi, pengisian kapiler, turgor kulit,dan


membran mukosa
R/ Sebagai indikator hidrasi atau volume sirkulasi dan kebutuhan
intervensi

Mengawasi pemasukan dan pengeluaran

R/ Membandingkan keluaran aktual dan yang diantisipasi membantu


dalam evaluasi stasis atau kerusakan ginjal

Memonitor jumlah perdarahan dengan melaporkan jumlah


pemakaian kasa

Mengobservasi kelancaran infuse

2)
Potensial injury (ketinggalan instrumen, kasa dan injury kulit)
berhubungan dengan tindakan operasi, pemasangan arde yang tidak kuat
Hasil yang diharapkan : Injury tidak terjadi pada tindakan operasi
Intervensi :

Mengatur posisi pasien sesuai dengan jenis operasinya

Memasang Arde secara adekuat pada posisi sesuai dengan jenis


operasinya

Menghitung instrument dan kasa sebelum dan sesudah operasi

c)

Diagnosa Keperawatan Post Operatif

1)
Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan tindakan bedah
terhadap jaringan atau otot dan pasca operasi
Hasil yang diharapkan : melaporkan nyeri hilang atau terkontrol,
menunjukkan kemampuan mengadakan relaksasi dan mengalihkan
perhatian dengan aktif sesuai situasi

Intervensi :

Kaji tanda-tanda adanya nyeri baik verbal maupun non verbal, catat
lokasi, intensitas (skala 0-10) dan lamanya

Bantu pasien menemukan posisi yang nyaman

Ajarkan teknik distraksi dan relaksasi

Kolaborasi dengan tim anastesi

2)
Resiko injury (jatuh, terlepasnya alat infus) berhubungan dengan
kesadaran yang menurun, gelisah dan berontak
Hasil yang diharapkan :tidak terjadi injury pada pasien
Intervensi :

Menjaga pasien dari jatuh dan bila perlu lakukan restain

Mengobservasi TTV dan tetesan infuse

Memasang perlindungan pada tempat tidur supaya pasien tidak


jatuh

d)

Perencanaan

Perencanaan keperawatan adalah pengembangan dari pencatatan


perencanaan perawatan untuk memenuhi kebutuhan klien yang telah
diketahui.Pada perencanaan meliputi tujuan dengan kriteria hasil,
intervensi, rasional, implementasi dan evaluasi.

e)

Implementasi

Merupakan pelaksanaan perencanaan keperawatan oleh perawat dan


klien. Hal-hal yang harus diperhatikan ketika melakukan implementasi
keperawatan adalah intervensi dilaksanakan sesuai dengan rencana
setelah dilakukan validasi, penguasaan keterampilan interpersonal,
intelektual dan teknikal, intervensi harus dilakukan dengan efisien pada
situasi yang tepat, keamanan fisik dan psikollogi dilindungi dan
didokumentasi keperawatan berupa pencatatan dan pelaporan (La Ode
Jumadi Gaffar, Skp. Pengantar Keperawatan Profesional : 65-66)

f)

Evaluasi

Tahapan evaluasi menentukan kemajuan pasien terhadap pencapaian


hasil yang diinginkan dan respons pasien terhadap dan keefektifan
intervensi keperawatan kemudian mengganti rencana perawatan jika
diperlukan. Tahap akhir dari proses keperawatan perawat mengevaluasi
kemampuan pasien ke arah pencapaian hasil.

D.

Konsep anestesi

Pengertian Anestesi

Anestesi adalah tindakan menghilangkan rasa nyeri atau sakit, baik


sentral maupun local dan kehilangan kesadaran/tidak disertai hilangnya
kesadaran dan dapat pulih kembali (reversible),
(Arif,mansjoer,2000).Anestesi dilakukan oleh dokter spesialis anestesi
atau anestesiologis.Dokter spesialis atau anestesiologis selama
pembedahan berperan memantau tanda-tanda vital pasien karena
sewaktu-waktu dapat ternjadi perubahan yang memerlukan penanganan
secepatnya.
Lima rangkaian kegiatan yang merupakan kegiatan sehari-hari dokter
anestesi adalah:
a.

Mempertahankan jalan nafas.

b.

Memberi jalan nafas Bantu.

c.

Membantu kompresi jantung

d.

Mempertahankan kerja otak pasien

Pembagian Anastesi

a.

Anestesi umum

Adalah tindakan rasa nyeri atau sakit secara sentral serta disertai
hilangnya kesadaran dan dapat pulih kembali (reversible).Cara pemberian
anestesi meliputi:
1)

Parenteral (intra muskuler/ intra vena)

2)

Parektral, dapat dipakai kepada anak atau tindakan singkat

3)
Anestesi inhalasi yaitu anestesi dengan menggunakan gas atau
cairan anestesi yang mudah menguap sebagai zat anastetik melalui udara
pernafasan.

b.

Anestesi lokal

Adalah tindakan menghilangkan nyeri atau sakit secara local tanpa


disertai hilangnya kesadaran,pemberian anestetik local dapat dengan
tehnik :
1)
Anestesi permukaan yaitu pengolesan atau penyemprotan
analgetik local diatas selaput mukosa seperti mata, hidung atau faring.
2)
Anestesi infiltrasi yaitu penyuntikan larutan analgetik local
langsung diarahkan disektor tempat lesi, luka, insisi.
3)
Anestesi blok yaitu penyuntikan larutan analgetik local langsung ke
saraf, hal ini bervariasi dari blocade saraf tunggal misalnya saraf aksipital
dan pleksus bracialis,anestesi spinal, analgetik local epidural dan anestesi
kaudal.Pada anestesi spinal, analgetik local disuntikkan kedalam ruang
sub arachnoid diantara konus medularis bagian akhir ruang
subarachnoid.Anestesi epidural diperoleh dengan menyuntikkan zat
analgetik kedalam ruang epidural.Pada anestesi kaudal, zat analgetik local
disuntikkan melalui hiatus skralis.
4)
Anestesi region al intravena yaitu larutan analgetik local intravena
ekstrimitas dieksnguinasi dan di isolasi bagian proksimalnya dari sirkulasi
dengan sisteknik dengan turniket pneumatic.

Komplikasi pasca Operasi

a.
Respiratory complication (airway obstruksi, hypoxemia,
hypoventilation)
b.

Circulation complication (hypotenion shok, hypertension, arytmia)

c.

Renal complication

d.

Nausea vomiting

e.

Hypothermia and shivening

f.

Bleeding complication

g.
Complication of spesifik of surgery (vaskuler surgery, cardiac neuro,
out pasien surgery)

Pemilihan tehnik Anestesi

Pemilihan teknik anestesi adalah suatu hal yang kompleks,


memerlukan kesepakatan dan pengetahuan yang dalam baik antara
pasien dan factor-faktor pembedahan.Dalam beberapa kelompok populasi
pasien, pembiusan regional ternyata lebih baik dari pada pembiusan
total.Blocade neuraksial bisa mengurangi resiko thrombosis vena, emboli
paru, transfuse, pneumonia, tekanan pernafasan, infark miokardinal dan
kegagalan jantung