Anda di halaman 1dari 14

MANAJEMEN KEPERAWATAN

SISTEM PENGORGANISASIAN ASUHAN


KEPERAWATAN
METODE FUNGSIONAL

KELOMPOK 1
SRI RIZKI

04121003047

RIRI FARWANTI

04121003048

YULIA INDAH P S 04121003055


SULIANA MEGA L 04121003057

MADE AYU HARIATI04121003049

FITRI RAHMADANI04121003058

NURUL INTAN 04121003050

ARDILA SEPRIMA B04121003059

HIKMAH UTARI H 04121003051

M. SHOLIHHUDIN 04121003060

DWI INDRISKY FITRI04121003052

FERI ATMAJAYA

04121003062

DENNY YOAND A 04121003053


NIA SEPTIANI 04121003054

TIARA PUTRI Z

04121003063

DEFINISI

Metode fungsional Yaitu pengorganisasian


tugas pelayanan keperawatan yang
didasarkan kepada pembagian tugas
menurut jenis pekerjaan yang dilakukan.
Metode Penugasan fungsional merupakan
metode pemberian asuhan keperawatan
yang menekankan pada penyelesaian
tugas dan prosedur keperawatan.

Tindakan

ini didistribusikan berdasarkan


tingkat kemampuan masing-masing
perawat pelaksana.
Satu orang perawat bertugas untuk
semua pasien dengan satu atau lebih
tugas yang dikuasinya.
Prioritas utama yang dikerjakan adalah
pemenuhan kebutuhan fisik sesuai
kebutuhan pasien dan kurang
menekankan kebutuhan pasien secara
holistik

Sistem

tugas mengacu pada ilmu manajemen


dalam bidang administrasi bisnis yang berfokus
pada tugas yang harus diselesaikan. Artinya
Keperawatan fungsional (Functional Nursing)
dilakukan dengan tiap perawat bekerja
berdasarkan tugas spesifik dan bersifat teknis
seperti memberi obat, memandikan klien, atau
mengukur tanda vital. Perawat mengidentifikasi
tugas yang dilakukan pada tiap shift dinas.
Seorang perawat dapat melakukan dua jenis
tugas atau lebih untuk semua klien yang ada di
unit tersebut.

Perawat

dengan pendidikan kurang akan


melakukan tindakan yang lebih ringan
dibandingkan dengan perawatan profesional.
Dalam model ini dibutuhkan pembagian
tugas (job description), prosedur, kebijakan
dan alur komunikasi yang jelas.
Metode ini cukup ekonomis dan efisien serta
mengarahkan pemusatan pengendalian.

Contoh penerapan
Perawat

A tugas menyutik, perawat B


tugasnya mengukur suhu badan klien.
Seorang perawat dapat melakukan dua jenis
tugas atau lebih untuk semua klien yang ada
di unit tersebut.
Kepala ruangan bertanggung jawab dalam
pembagian tugas tersebut dan menerima
laporan tentang semua klien serta menjawab
semua pertanyaan tentang klien
Setiap perawat pelaksana bertanggung jawab
langsung kepada kepala ruangan.

Metode

fungsional dilaksanakan oleh


perawat dalam pengelolaan asuhan
keperawatan sebagai pilihan utama
pada saat perang dunia kedua. Pada
saat itu karena masih terbatasnya
jumlah dan kemampuan perawat maka
setiap perawat hanya melakukan satu
sampai dua jenis intervensi, misalnya
merawat luka kepada semua pasien di
bangsal.

Metode ini dibagi menjadi beberapa bagian


dan tenaga ditugaskan pada bagian tersebut
secara umum, sebagai berikut :
Kepala

Ruangan, tugasnya : Merencanakan pekeriaan,


menentukan kebutuhan perawatan pasein, membuat
penugasan, melakulan supervisi, menerima instruksi
dokter.
Perawat staf : Melakukan askep langsung pada pasien
dan membantu supervisi askep yang diberikan oleh
pembantu tenaga keperawatan
Perawat Pelaksana : Melaksanakan askep langsung
pada pasien dengan askep sedang, pasein dalam masa
pemulihan kesehatan dan pasein dengan penyakit
kronik dan membantu tindakan sederhana (ADL).

Cont

Pembantu Perawat : Membantu pasien


dengan melaksanakan perawatan mandiri
untuk mandi, menbenahi tempat tidur, dan
membagikan alat tenun bersih.
Tenaga Admionistrasi ruangan : Menjawab
telpon, menyampaikan pesan, memberi
informasi, mengerjakan pekerjaan
administrasi ruangan, mencatat pasien
masuk dan pulang, membuat duplikat
rostertena ruangan, membuat permintaan lab
untuk obat-obatan/persediaan yang
diperlukan atas instruksi kepala ruangan.

Skema : Sistem pemberian asuhan


keperawat Fungsional
Kepala Ruang

Perawat
Pengobatan

Perawat
Merawat Luka

Perawat
Pengobatan

Pasien / Klien

Perawat
Merawat Luka

Keuntungan
Sistem

fungsional yaitu secara administrative sangat


efisien karena setiap perawat mendapat tugas yang
spesifik untuk sejumlah pasien dan mudah dilakukan
serta tidak membingungkan.
Perawat terampil untuk tugas atau pekerjaan
tertentu.
Mudah memperoleh kepuasan kerja bagi perawat
setelah selesai melaksanakan tugas.
Kekurangan tenaga ahli dapat diganti dengan
tenaga yang kurang berpengalaman untuk satu
tugas sederhana.
Memudahkan kepala ruangan untuk mengawasi staf
atau peserta didik yang praktik untuk keterampilan
tertentu.

Kelemahan
Sistem ini tidak memungkinkan klien untuk menerima
asuhan keperawatan secara holistic dan manusiawi dengan
keunikan kebutuhan tiap klien sehingga sulit untuk
memuaskan klien.
Pelayanan keperawatan terpilah-pilah atau tidak total
sehingga proses keperawatan sulit dilakukan.
Apabila pekerjaan selesai perawat cenderung meninggalkan
klien dan melakukan tugas non-keperawatan.
Perawat dengan kompetensi professional cenderung merasa
bosan dan tidak dapat berkomunikasi dan berinteraksi
dengan klien. Walaupun secara ekonomi, sistem ini
menguntungkan karena pekerjaan dapat dibagi dan
diselesaikan oleh tenaga terampil yang tidak membutuhkan
pendidikan tinggi.
Kepuasan kerja keseluruhan sulit dicapai dan sulit
diidentifikasi konstribusinya terhadap pelayanan klien.
Perawat hanya melihat asuhan keperawatan sebagai
keterampilan saja.

TERIMA KASIH