Anda di halaman 1dari 19

SEJARAH HUKUM DAGANG

Sejarah Perdagangan
Manusia adalah zoon politicon
Kebutuhan abstrak dan konkrit
Model perdagangan :
- Pada awalnya Dagang Tukar
Sejarah Perdagangan (2)
Kesulitan dalam Dagang Tukar :
1. Orang yang satunya harus mempunyai barang yang diminta oleh orang yang nilainya dan
nilai pertukarannya kira-kira harus sama.
2. Barang yang akan dipertukarkan harus dapat dibagi-bagi.

Sehingga diperlukan alat tukar.


Perdagangan
Pengertian :
Perdagangan atau perniagaan pada umumnya adalah pekerjaan membeli barang dari suatu
tempat atau pada suatu waktu dan menjual barang itu di tempat lain atau pada waktu berikutnya
dengan maksud memperoleh keuntungan
Perdagangan (2)
Pasal 2 (lama) KUHD mendefinisikan perdagangan sebagai mereka yang melakukan perbuatan
perniagaan sebagai pekerjaannya sehari-hari.
Sedangkan pada Pasal 3 (lama) KUHD menyatakan undang-undang memberikan arti pada
perbuatan perniagaan, pada umumnya, membeli barang untuk dijual kembali, dalam jumlah
banyak atau sedikit, masih bahan atau sudah jadi, atau hanya untuk disewakan pemakaiannya.
Perdagangan (3)
Perdagangan adalah :
Pemberian perantaraan kepada produsen dan konsumen untuk membeli dan menjual
barang-barang yang memudahkan dalam memajukan pembelian dan penjualan itu
Perdagangan (4)
Model transaksi dagang yang kompleks yang disebabkan oleh kemajuan teknologi informasi.
Selain melakukan transaksi dagang dalam lingkup nasional juga melakukan perdagangan
internasional.
Dasar Filosofi
Esensi untuk melakukan perdagangan ini adalah karena adanya fundamental freedom
Yang berarti :
Bahwa setiap orang mempunyai kebebasan untuk berdagang dengan tanpa adanya
pembatasan karena perbedaan agama, suku, kepercayaan, politik, dan sistem hukum.
Perdagangan dalam Islam

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu
dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka
diantara kamu.
(QS An-Nisa 29)
Perdagangan dalam Islam (2)
Kota Mekah pernah hampir memonopoli pusat perdagangan di Lautan India dengan Laut Tengah,
dan dengan Afrika serta Laut Merah tempat penyeberangan mereka.
Sesudah Nabi Muhammad SAW berada di Madinah kemudian membuka Sawq ul Madinah untuk
menyaingi Qainuqa.
Pengertian Hukum Dagang
Beberapa definisi :
Hukum Dagang adalah hukum yang mengatur hubungan antara manusia-manusia dan badanbadan hukum satu sama lainnya, dalam lapangan perdagangan. (CST Kansil)
Hukum Dagang adalah keseluruhan dari aturan hukum mengenai perusahaan dalam lalu lintas
perdagangan, sebagaimana diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Dagang (KUHD) dan
beberapa undang-undang tambahan. (Fockema Andreae)
Hukum Dagang adalah hukum perikatan yang timbul khusus dari lapangan perusahaan (HMN
Purwosutjipto)
Pengertian Hukum Dagang (2)
Sehingga dapat disimpulkan :
Hukum Dagang merupakan keseluruhan aturan dalam lalu lintas perdagangan yang dilakukan
antara orang/badan hukum dengan orang/badan hukum lainnya sebagaimana diatur dalam Kitab
Undang-undang Hukum Dagang (KUHD) dan beberapa undang-undang tambahan yang timbul
khusus dari lapangan perusahaan.
Subjek Hukum
Subjek Hukum :
Pihak sebagai pendukung hak dan kewajiban.
Siapakah Subjek Hukum itu?
Orang dan Badan Hukum
Siapakah Subjek Hukum dalam Hukum Dagang?
Dalam Hukum Dagang yang bertindak sebagai Subjek Hukum biasanya adalah Badan
Hukum.
Pembagian Badan Hukum
Badan Hukum (Rechtpersoon) dibedakan dalam 2 (dua) bentuk :
1. Badan Hukum Publik (Publiek Rechtspersoon)
Contoh : Negara RI, Pemerintah Daerah, Perusahaan Negara.
2. Badan Hukum Sipil/Privat (Privaat Rechtspersoon)

Contoh : Perseroan Terbatas (PT), Koperasi, dan Yayasan.


Sumber Hukum Dagang di Indonesia
Hukum Dagang di Indonesia terutama bersumber pada :
1. Hukum Tertulis yang dikodifikasikan :
Kitab Undang-undang Hukum Dagang atau Wetboek van Kophandel (WvK)

Kitab Undang-undang Hukum Perdata atau Burgerlijk Wetboek (BW)


2.
Hukum Tertulis yang belum dikodifikasikan :
peraturan-peraturan khusus yang mengatur tentang hal-hal yang berhubungan dengan
perdagangan.
Ruang Lingkup Hukum Dagang

Sejarah Hukum Dagang


Zaman Romawi pada 50 Tahun sebelum Masehi
Romawi ditaklukkan pada sekitar abad 6-10 M
Banyak bangsa yang mendiami daerah bekas Romawi
Sejarah Hukum Dagang (2)
Lahirnya kota-kota perdagangan di Italia, seperti Peruggia, Venetia, Milan, Florence, Pisa, Padua,
dan Genoa
Perdagangan menjadi semakin ramai
Permasalahan semakin kompleks maka diperlukan kodifikasi.
Sejarah Hukum Dagang (3)
Di Perancis:
Dilakukan atas perintah Raja Lodewijk XIV di Perancis, yaitu Ordonance du Commerce dan
Ordonance de la Marine pada Tahun 1673.
Kemudian pada tahun 1807 di Perancis telah dibuat lagi suatu Kitab Undang-undang Hukum
Dagang tersendiri, yakni Code de Commerce disamping Code Civil Perancis.
Sejarah Hukum Dagang (4)
Di Belanda
Direncanakan adanya 3 (tiga) kitab dalam KUHDagang Belanda.
Adanya usulan dari Prof. Molengraaf untuk dijadikan 2 (dua) kitab saja.
Sejarah Hukum Dagang (5)
Di Indonesia
Adanya usaha mempunyai kesatuan sistem hukum atas dualisme Hukum Perdata di Indonesia,
yaitu BW dan Hukum Adat.
Landasan hukum berlakunya Hukum Perdata dan Hukum Dagang yang berlaku pada saat ini di
Indonesia
Kenyataan yang sekarang terjadi pada ketentuan Hukum Perdata dan Hukum Dagang
Kedudukan Hukum Dagang
Pengelompokkan besar, yaitu Hukum Publik dan Hukum Privat.
Letak Hukum Perdata adalah di dalam lapangan hukum Privat.
Hukum Dagang lebih banyak bersinggungan dengan Hukum Perikatan
Pengertian Perikatan
Perikatan adalah suatu hubungan hukum yang bersifat harta kekayaan antara dua orang atau
lebih, atas dasar mana pihak yang satu berhak (kreditur) atas sesuatu dan pihak lain berkewajiban
(debitur) atas sesuatu prestasi.
(A. Pitlo)
Hubungan Hukum Perdata dan
Hukum Dagang

Pasal 1 KUHDagang menyatakan bahwa Kitab Undang-undang Hukum Perdata, selama dalam
Kitab Undang-undang Hukum Perdata tidak diadakan penyimpangan khusus, maka berlaku juga
terhadap hal-hal yang dibicarakan dalam Kitab Undang-undang Hukum Dagang ini.
Pasal 15 KUHDagang menyatakan bahwa segala perseroan yang disebut dalam bab ini dikuasai
oleh perjanjian pihak-pihak yang bersangkutan, oleh Kitab ini dan oleh Hukum Perdata.
Hubungan Hukum Perdata dan
Hukum Dagang (2)
KUHDagang merupakan suatu Lex Specialis terhadap KUHPerdata yang Lex Generalis.
Maka sebagai Lex Specialis, kalau andaikata dalam KUHDagang terdapat ketentuan mengenai
sesuatu hal yang juga terdapat aturannya pula dalam KUHperdata, maka ketentuan dalam
KUHDagang itulah yang diberlakukan
Hubungan Hukum Perdata dan
Hukum Dagang (2)
Menurut Prof. Subekti :
Bahwa terdapatnya KUHD disamping KUHPerdata sekarang ini dianggap tidak pada tempatnya,
oleh karena sebenarnya Hukum Dagang tidaklah lain dari Hukum Perdata, sedangkan perkataan
dagang bukanlah suatu pengertian hukum, melainkan suatu pengertian perekonomian, yaitu
segala perbuatan perantara antara produsen dan konsumen
Hukum Dagang dalam KUHPerdata

Dalam Buku II KUHPerdata


Pasal 3 (lama) KUHD
Door daden van koophandel verstaat de wet, in het algemen, het kopen van waren, om dezelve
weder te verkopen, in het groof of in het klein, het zij ruw, het zij bewerkt, of om alleen het
gebruik daarvan te verhuren.
Undang-undang memberikan arti pada perbuatan perniagaan, pada umumnya, membeli barang
untuk dijual kembali, dalam jumlah banyak atau sedikit, masih bahan atau sudah jadi, atau hanya
untuk disewakan pemakaiannya.
Pasal 60 KUHD
Dari perundingan dan kesepakatan yang diadakan pada bursa disusunlah ketentuan-ketentuan
tentang kurs wesel, harga barang-barang daganan, asuransi-asuransi dan muatan kapal laut,
biaya pengangkutan laut dan darat, obligasi dalam dan luar negeri, dana-dana, dan surat-surat
berharga lainnya yang dapat digunakan untuk menetapkan kurs
Dalam KUHPerdata
Pasal 504 KUHPerdata menyatakan bahwa :
Tiap-tiap kebendaan adalah bergerak atau tak bergerak, satu sama lain menurut
ketentuan-ketentuan dalam kedua bagian berikut.
Dalam KUHPerdata (2)
Pasal 505 KUHPerdata menyebutkan bahwa:
Tiap-tiap kebendaan bergerak adalah dapat dihabiskan atau tak dapat dihabiskan;
kebendaan dikatakan dapat dihabiskan, bilamana karena dipakai, menjadi habis.
Dalam KUHPerdata (3)
Pasal 506 KUHPerdata menyatakan bahwa :
Kebendaan tak bergerak ialah pekarangan-pekarangan dan apa yang ada diatasnya,
penggilingan-penggilingan, pohon-pohon dan tanaman lading, kayu tebangan dan kayu dari

pohon-pohon yang berbatang tinggi, serta pipa-pipa dan got-got yang diperuntukkan guna
menyalurkan air dari rumah atau pekarangan.
Pembagian Benda
Undang-undang membagi benda-benda dalam beberapa macam :
1.
Benda yang dapat diganti (contoh : uang) dan yang tidak dapat diganti (contoh : seekor
kuda);
2.
Benda yang dapat diperdagangkan (praktis tiap barang dapat diperdagangkan) dan yang
tidak dapat diperdagangkan atau di luar perdagangan (contoh : jalan-jalan dan lapangan
umum);
3.
Benda yang dapat dibagi (contoh : beras) dan benda yang tidak dapat dibagi (contoh :
seekor kuda)
4. Benda yang bergerak (contoh : perabot rumah tangga) dan yang tak bergerak (contoh :
tanah)
Dari pembedaan diatas, mana yang paling penting?
Yang paling penting adalah benda bergerak dan tak bergerak
Pentingnya Pembedaan tersebut
1.
Bezit
Mengenai bezit, misalnya, terhadap barang bergerak berlaku azas seperti yang tercantum
dalam Pasal 1977 KUHPerdata, yaitu bezitter dari barang bergerak adalah sebagai eigenaar dari
barang tersebut. Sedangkan kalau mengenai barang tak bergerak tidak demikian halnya.
2.
Levering (Penyerahan)
Mengenai levering terhadap benda bergerak itu dapat dilakukan dengan penyerahan
nyata, sedangkan terhadap benda tak bergerak dilakukan dengan balik nama.
3.
Verjaring (daluarsa)
Terhadap benda-benda bergerak itu tidak dikenal verjaring sebab bezit adalah sama
dengan eigendom atas benda bergerak itu, sedang untuk benda-benda tak bergerak mengenal
adanya verjaring.
4.
Bezwaring (pembebanan)
Terhadap benda bergerak harus dilakukan dengan pand sedang terhadap benda tak
bergerak harus dilakukan dengan hipotik.
Pentingnya Pembedaan Tersebut (2)
5.
Beslag (penyitaan)
Beslag ini ada 2 (dua) macam yaitu Revindicatoir Beslag, untuk benda bergerak dan
Conservatoir Beslag, untuk benda tak bergerak.
Dalam Buku III KUHPerdata
Sistematika Buku III KUHPerdata
Buku III KUHPerdata terdiri atas:
18 bab dan 631 pasal.
Dimulai Pasal 1233 dan diakhiri Pasal 1864.
Hal-hal yang diatur
1. Pasal 1233:
Tiap-tiap perikatan dilahirkan baik karena persetujuan, baik karena undang-undang.

2. Pasal 1234 :
Tiap-tiap perikatan adalah untuk memberikan sesuatu, untuk berbuat sesuatu, atau untuk
tidak berbuat sesuatu.
3. Pasal 1243 :
Penggantian biaya, rugi dan bunga karena tak dipenuhinya suatu perikatan, barulah mulai
diwajibkan, apabila si berutang, setelah dinyatakan lalai memenuhi perikatannya, tetap
melalaikannya, atau jika sesuatu yang harus diberikan atau dibuatnya, hanya dapat diberikan atau
dibuat dalam tenggang waktu yang telah dilampaukannya.
Hal-hal Yang Diatur (2)
4.
Pasal 1253 :
Suatu perikatan adalah bersyarat manakala ia digantungkan pada suatu peristiwa yang
masih akan datang dan yang masih belum tentu akan terjadi, baik secara menangguhkan
perikatan hingga terjadinya peristiwa semacam itu, maupun secara membatalkan perikatan
menurut terjadi atau tidak terjadinya peristiwa tersebut.
5.
Pasal 1320 :
Untuk sahnya suatu perjanjian diperlukan 4 (empat) syarat
6.
Pasal 1338 : Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang
bagi mereka yang membuatnya.
Hal-hal Yang Diatur (3)
7.
Pasal 1381 :
Hapusnya perikatan karena pembayaran, pembebasan utang, musnahnya barang,
berlakunya suatu syarat batal, karena kebatalan.
8.
Pasal 1382 :
Tiap-tiap perikatan dapat dipenuhi oleh siapa saja yang berkepentingan.
9.
Pasal 1457 :
Jual-beli adalah suatu perjanjian, dengan mana pihak yang satu mengikatkan dirinya
untuk menyerahkan suatu kebendaan, dan pihak yang lain untuk membayar harga yang telah
ditetapkan.
Hal-hal Yang Diatur (4)
10.
Pasal 1548 :
Sewa-menyewa adalah suatu perjanjian, dengan mana pihak yang satu mengikatkan
dirinya untuk memberikan kepada pihak yang lainnya kenikmatan suatu barang, selama suatu
waktu tertentu dan dengan pembayaran sesuatu harga, yang oleh pihak tersebut disanggupi
pembayarannya.
11.
Pasal 1618 :
Persekutuan adalah suatu perjanjian dengan mana dua orang atau lebih mengikatkan diri
untuk memasukkan sesuatu dalam persekutuan, dengan maksud untuk membagi keuntungan
yang terjadi karenanya.
Pengertian Perusahaan (1)
Perusahaan :

Perusahaan dan Pengusaha

Barulah dapat dikatakan adanya perusahaan, apabila pihak yang berkepentingan


bertindak secara tidak terputus-putus dan terang-terangan serta di dalam kedudukan tertentu
untuk mendapatkan laba bagi dirinya sendiri.
( Minister van Justitie di Nederland )
Pengertian Perusahaan (3)
Perusahaan :
Perbuatan-perbuatan yang direncanakan lebih dulu tentang laba-ruginya dan segala
sesuatunya dicatat dalam buku.
(Polak)
Pengertian Perusahaan (3)
Perusahaan :
Secara terus-menerus bertindak ke luar untuk memperoleh penghasilan dengan
memperniagakan atau menyerahkan barang-barang atau mengadakan perjanjian-perjanjian
perniagaan.
(Molengraaff)
Unsur-unsur nya :
1. Terus-menerus atau tidak terputus-putus (regelmatig)
2. Secara terang-terangan (openlijk)
3. Berhubungan dengan pihak ketiga (optreden naar buiten)
4. Dalam kualitas tertentu (in zekere kwaliteit)
5. Menyerahkan barang-barang
6. Mengadakan perjanjian-perjanjian dalam perdagangan
7. Bermaksud memperoleh laba.
Pengertian Perusahaan Lainnya
Perusahaan:
Setiap bentuk usaha yang menjalankan setiap jenis usaha yang bersifat terus-menerus
yang didirikan serta berkedudukan dalam wilayah negara RI dengan tujuan memperoleh
keuntungan atau laba.)
(Pasal 1 huruf b UU Nomor 3 Tahun 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan)
Perusahaan :
Setiap bentuk usaha yang dilakukan dengan kegiatan tetap dan terus menerus dengan
tujuan memperoleh keuntungan atau laba baik diselenggarakan oleh perseorangan maupun badan
usaha yang berbentuk badan hukum dan/atau bukan berbadan hukum yang didirikan atau
berkedudukan dalam wilayah negara RI.
(Pasal 1 angka 1 UU Nomor 8 Tahun 1997 tentang Dokumen Perusahaan)
Perdagangan, Perusahaan, dan Pekerjaan (1)
Perdagangan adalah perbuatan membeli barang untuk dijual kembali.

Pengertian mengenai perdagangan ini adalah sempit, karena hanya terkait dengan
perbuatan membeli barang yang kemudian barang itu dijual kembali.
Perdagangan, Perusahaan, dan Pekerjaan (2)
Perusahaan adalah perbuatan-perbuatan yang direncanakan lebih dulu tentang laba-ruginya dan
segala sesuatunya dicatat dalam buku.
Perbuatan perusahaan lebih luas daripada perdagangan, karena perusahaan juga dapat
bersinggungan dengan suatu perbuatan usaha yang bukan termasuk dalam pengertian
perdagangan.
Perdagangan, Perusahaan, dan Pekerjaan (3)
Pekerjaan :
Perbuatan/kegiatan yang direncanakan lebih dulu dengan tidak semata-mata mencari
keuntungan.
Misalnya : seorang dokter
Pengusaha
Pengertian :
Orang yang menjalankan perusahaan perdagangan atau orang yang memberikan kuasa
perusahaannya kepada orang lain.
Seseorang yang melakukan atau menyuruh melakukan suatu perusahaan.
Pengusaha (2)
Seseorang baru dapat dikatakan menjalankan suatu perusahaan, apabila ia dengan teratur dan
terang-terangan bertindak keluar dalam pekerjaan tertentu untuk memperoleh keuntungan
dengan suatu cara, di mana ia menurut imbangan lebih banyak mempergunakan modal daripada
mempergunakan tenaganya sendiri.
(C.S.T. Kansil)
Pengusaha (3)
Pengusaha adalah:
Setiap orang/pihak yang memiliki modal serta memiliki perusahaan dimana dalam
menjalankan perusahaan itu dia bisa menjalankan sendiri atau menyuruh orang lain untuk
menjalankan perusahaannya.
Pengusaha (4)
Seseorang dapat dikatakan sebagai seorang pengusaha apabila ia dapat melakukan hal-hal sbb :
1. Orang itu dapat menjalankan perusahaannya sendiri (tanpa ada yang membantu)
2. Orang itu dapat menjalankan perusahaannya dengan bantuan dari pembantupembantunya.
3. Orang itu dapat menyuruh orang lain untuk menjalankan perusahaannya, sedangkan ia
tidak turut serta dalam menjalankan perusahaan itu.
Kewajiban Pengusaha
1. Membuat pembukuan (sesuai dengan Pasal 6 KUHDagang jo Undang-undang Nomor 8
Tahun 1997 tentang Dokumen Perusahaan).

2. Mendaftarkan perusahaannya (sesuai dengan Undang-undang Nomor 3 Tahun 1982


tentang Wajib Daftar Perusahaan)
Pembukuan
Pasal 6 KUHDagang menjelaskan makna pembukuan.
Pembukuan yaitu mewajibkan setiap orang yang menjalankan perusahaan supaya
membuat catatan atau pembukuan mengenai kekayaan dan semua hal yang berkaitan dengan
perusahaan, sehingga dari catatan tersebut dapat diketahui hak dan kewajiban para pihak.
Sedangkan UU Nomor 8 Tahun 1997 menggunakan istilah dokumen perusahaan.
Dokumen perusahaan adalah data, catatan, dan atau keterangan yang dibuat dan atau
diterima oleh perusahaan dalam rangka pelaksanaan kegiatannya, baik tertulis di atas kertas atau
sarana lain, maupun terekam dalam bentuk corak apa pun yang dapat dilihat, dibaca, dan
didengar
Wajib Daftar Perusahaan
Daftar perusahaan adalah daftar catatan resmi yang diadakan menurut atau berdasarkan ketentuan
undang-undang ini atau peraturan-peraturan pelaksanannya, memuat hal-hal wajib didaftarkan
oleh setiap perusahaan, dan disahkan oleh pejabat yang berwenang dari kantor pendaftaran
perusahaan.
Perusahaan yang wajib daftar dalam daftar perusahaan adalah setiap perusahaan yang
berkedudukan dan menjalankan usaha di wilayah negara Republik Indonesia menurut ketentuan
perundang-undangan yang berlaku
Pengusaha dan Pembantunya
1. Pembantu di dalam perusahaan
Mempunyai hubungan yang bersifat subordinasi, yaitu hubungan atas dan bawah
sehingga biasanya berlaku suatu perjanjian perburuhan/ketenagakerjaan.
2. Pembantu di luar perusahaan
Mempunyai hubungan yang bersifat koordinasi, yaitu hubungan yang sejajar, sehingga
berlaku suatu perjanjian pemberian kuasa antara pemberi kuasa dan penerima kuasa yang akan
memeperoleh upah.

Pengusaha dan Perantara


Pengusaha dan Pemimpin Perusahaan
Pengusaha merangkap Pemimpin Perusahaan.
Pengusaha terlibat langsung dalam menjalankan perusahaannya, dengan dibantu oleh
orang lain.
Pengusaha tidak merangkap Pemimpin Perusahaan.
Pengusaha tidak terlibat langsung dalam menjalankan perusahaannya.
Perantara Perusahaan
Pengertian :
Orang-orang yang membantu pengusaha dalam menjalankan perusahaannya.

Perantara muncul sebagai akibat dari pertumbuhan perusahaan yang pesat dewasa ini. Sehingga
pengusaha-pengusaha kebanyakan tidak lagi berusaha seorang diri.
Perantara Perusahaan (2)
Ada 2 jenis perantara perusahaan :
1. Perantara di dalam perusahaan.
Perantara dalam perusahaan adalah orang-orang yang membantu pengusaha dalam
menjalankan perusahaannya yang berada di dalam lingkungan perusahaan
Misalnya: pelayan toko, pekerja keliling, pengurus filial, pemegang prokurasi, dan
pimpinan perusahaan.
2. Perantara di luar perusahaan.

Perantara dalam perusahaan adalah orang-orang yang membantu pengusaha dalam


menjalankan perusahaannya yang berada di luar lingkungan perusahaan
Misalnya: agen perusahaan, pengacara, notaris, makelar, dan komisioner.
Perantara dalam Perusahaan (1)
1. Pelayan Toko.

Semua pelayan yang membantu pengusaha dalam menjalankan perusahaannya di toko.


Misalnya yang melayani penjual, yang melayani pembayaran, yang melakukan
penyerahan barang, dan lain-lain
Perantara dalam Perusahaan (2)
2.
Pekerja Keliling
Perantara pengusaha yang bekerja keliling di luar kantor untuk memperluas dan
memperbanyak perjanjian-perjanjian jual beli antara majikan (pengusaha) dengan pihak ketiga.
Perantara dalam Perusahaan (3)
3.
Pengurus Filial
Petugas yang mewakili pengusaha mengenai semua hal, tetapi terbatas pada satu cabang
perusahaan atau satu daerah tertentu.
Perantara di dalam Perusahaan (4)
4.
Pemegang Prokurasi
Pemegang kuasa dari perusahaan. Dia adalah wakil pimpinan perusahaan atau wakil
manager, dan dapat mempunyai kedudukan sebagai kepala satu bagian besar dari perusahaan itu.
Perantara di dalam Perusahaan (5)
5.
Pimpinan Perusahaan
Pemegang kuasa pertama dari pengusaha (manager)
Orang kedua setelah pengusaha di dalam perusahaan.
Hubungan Hukum
Hubungan hukum Pengusaha dan Perantara yang ada di dalam perusahaan adalah :
Hubungan perburuhan
Didasarkan atas Perjanjian Melakukan Pekerjaan (Bab VII A, BUKU III BW).
Perjanjian ini meliputi perjanjian pelayanan berkala (psl.1601 BW), perjanjian
perburuhan (psl.1601a BW) dan perjanjian pemborongan (psl.1601b jo.psl.1604-1617BW).

Hubungan perburuhan ini bersifat sub ordinat (atas bawah)


Perantara di Luar Perusahaan
1. Agen Perusahaan

Agen perusahaan adalah orang yang melayani beberapa pengusaha sebagai perantara dengan
pihak ketiga.
Orang ini mempunyai hubungan tetap dengan pengusaha dan mewakilinya untuk mengadakan
dan selanjutnya melaksanakan perjanjian dengan pihak ketiga.
Hub.hukumnya berupa pemberian kuasa dan tetap
Perantara di Luar Perusahaan (2)
2.
Makelar
Makelar adalah orang yang menjalankan perusahaan dengan menghubungkan pengusaha
dengan pihak ketiga untuk mengadakan berbagai perjanjian.
Dalam perjanjian yang dibuat itu, makelar bukan merupakan pihak. Yang menjadi pihak
adalah pengusaha yang diwakilinya.
Makelar mengadakan hubungan dengan pihak ketiga atas nama pengusaha yang
berkepentingan.
Makelar
Makelar mendapat upah yg disebut dgn provisi
Makelar harus membuat buku harian & buku saku dan catatan makelar ini mempunyai kekuatan
pembuktian (psl.66)
Makelar dilarang berdagang dimana ia diangkat dan dilarang menjadi penjamin perjanjian yg
dibuat dgn perantaranya (psl.65)
Perantara di Luar Perusahaan (3)
3.
Komisioner
Komisioner adalah orang yang menjalankan perusahaan dengan membuat perjanjian atas
namanya sendiri berdasarkan perintah dan pembiayaan komiten dengan menerima upah atau
provisi.
Ciri khas Komisioner :
1. Tidak ada pengangkatan dan sumpah
2. Komisioner menghubungkan komiten dng pihak ketiga atas namanya sendiri (psl.76)
3. Komisioner tdk berkewajiban u/ menyebut namanya komiten
4. Komisioner jg bertindak atas nama pemberi kuasanya

Komisioner
Pemberian kuasa dan pelayanan berkala
Menurut Polak hubungan hukumnya bersifat perjanjian pemberian kuasa khusus, yg terletak pd :
1. Komisioner bertindak atas nama sendiri
2. Komisioner mndpt provisi bila pekerjaannya selesai

Hak Khusus Komisioner


Hak Retensi, hak komisioner untuk menahan barang-barang komiten apabila provisi dan biaya
yang lain blm dibayar (psl.85 jo.1812 BW)
Hak Privelege (psl.80-83), komisioner mempunyai hak istimewa pada barang-barang komiten yg
ada ditangan komisioner Untuk : dijualkan, untuk ditahan bagi kepentingan lain yg akan datang,
yg dibeli dan diterimanya komiten
Perbedaan
Makelar
1. Berusaha atas nama pemberi amanat
2. Tidak memikul resiko keuangan
3. Komisinya lebih kecil dibandingkan komisioner
4. Tidak mendapat upah tambahan
5. Pengangkatan melalui sumpah
6. Pekerjaan tertutup dan terbatas pada suatu barang tertentu
7. Upah disebut provisi

Komisioner
1. Berusaha atas nama sendiri
2. Memikul resiko keuangan
3. Komisi lebih besar
4. Mendapatkan upah tambahan yang disebut delkrdere
5. Tidak perlu mengangkat sumpah
6. Pekerjaan bebas dan tidak terbatas pada suatu barang
7. Upah disebut komisi

Perantara di Luar Perusahaan (4)


4. Pengacara/Advokat

Advokat adalah orang yang berprofesi memberi jasa hukum, baik di dalam maupun di luar
pengadilan yang memenuhi persyaratan berdasarkan ketentuan Undang-undang ini.

Advokat berstatus sebagai penegak hukum, bebas, dan mandiri yang dijamin oleh hukum dan
peraturan perundang-undangan.
Hubungan hukum berupa pemberian kuasa dan pelayanan berkala
Perantara di Luar Perusahaan (5)
5. Notaris

Notaris adalah pejabat umum yang berwenang membuat akta otentik mengenai segala perbuatan
hukum, perjanjian-perjanjian, dan ketetapan-ketetapan, yang diperintahkan oleh peraturan
perundangan atau dikehendaki oleh orang yang berkepentingan.
Akta Notariil adalah akta otentik dan mempunyai kekuatan pembuktian yang sempurna bagi yang
berkepentingan, ahli warisnya dan para orang yang mendapat hak tentang segala hal yang
tersebut dalam akta itu.
Hubungan hukum yakni pemberian kuasa dan pelayanan berkala
Hubungan Hukum
Hubungan hukum antara Pengusaha dengan perantara di luar lingkungan perusahaan.
Diatur di pasal 1792 BW, pengusaha sbg pemberi kuasa dan pihak luar perusahaan sbg pemegang
kuasa.
Pemberian kuasa adalah suatu perjanjian dimana seseorang memberikan kekuasaan kpd org lain
untuk menyelenggarakan urusan atas nama pemberi kuasa.
Perjanjian pemberian kuasa ini bersifat sederajat atau koordinasi

Urusan Perusahaan
Pengertian
Urusan perusahaan adalah terjemahan dari istilah aslinya dalam bahasa Belanda
handelszaak.
Urusan perusahaan adalah segala urusan yang berada di dalam suatu perusahaan.
Urusan perusahaan cakupannya melingkupi segala objek yang ada dalam lingkungan
perusahaan, baik berupa harta kekayaan perusahaan maupun usaha perusahaan.
Aspek-aspek Urusan Perusahaan
1. Aspek Ekonomi
Urusan perusahaan adalah segala kekayaan dan usaha yang terdapat dalam
lingkungan perusahaan sebagai satu kesatuan dengan perusahaan, yang digunakan untuk
memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya dengan pengorbanan yang sekecilkecilnya.
Aspek-aspek Urusan Perusahaan (2)
2.
Aspek Hukum
Urusan perusahaan yang berupa kekayaan dan usaha perusahaan itu dapat
dialihkan pada pihak lain atau dapat dilakukan tanpa merugikan orang lain atau tidak.
Kekayaan Perusahaan

Pengertian:
Kekayaan :
Benda milik orang, mempunyai nilai ekonomi, diakui dan dilindungi oleh hukum,
serta dapat dialihkan kepada pihak lain.
Setiap benda mempunyai nilai ekonomi, yaitu nilai kebutuhan yang diukur dengan
sejumlah uang. Apabila benda itu benda itu tidak mempunyai nilai ekonomi, benda
tersebut bukan merupakan kekayaan.
Pengakuan dan Perlindungan Hukum terhadap Benda
Diakui hukum:
Hukum mengakui sehingga masyarakat memberikan penghargaan dengan cara
tidak akan mengambil, mengganggu, atau merugikan benda milik orang lain.
Dilindungi hukum:
Hukum itu mencegah adanya perbuatan dari pihak luar yang akan mengambil,
mengganggu, atau merugikan benda milik orang lain tersebut
Usaha Perusahaan
Pengertian :
Segala urusan yang termasuk dalam lingkungan perusahaan yang tidak dapat
dialihkan kepada pihak lain karena merupakan satu kesatuan dengan perusahaan.
Namun, jika diperhatikan, sebenarnya ada di antara usaha perusahaan itu yang dapat
dialihkan tersendiri, tanpa bersama dengan perusahaan.
Usaha Perusahaan meliputi :
1. Perbuatan hukum berupa kontrak dengan pihak ketiga.
2. Produk dari kontrak tersebut berupa piutang perusahaan (produk kontrak
penjualan) dan utang perusahaan (produk kontrak pembelian) serta hak-hak lain
(hak lisensi, hak merek).
3. Produk usaha perusahaan terdiri atas mutu produksi, rahasia perusahaan, goodwill,
bonafiditas, dan relasi/pelanggan.
Mengenai yang Tidak Dapat Dialihkan
Dari aspek hukum :
1. Utang Perusahaan
2. Rahasia Perusahaan
Dari aspek ekonomi :
Mengalihkan usaha perusahaan tidaklah selalu menguntungkan
Pada usaha perusahaan melekat unsur subjektif yang dimiliki pengusaha. Misalnya,
bonafiditas, kejujuran, keahlian, atau keterampilan, dan kemauan yang baik
Goodwill
Goodwill adalah salah satu unsur dari urusan perusahaan, yang termasuk dalam
kelompok benda bergerak tak bertubuh atau benda yang bersifat immaterial.

Goodwill itu baru ada pada perusahaan yang berkembang baik, sehingga mendapat
banyak laba.
Goodwill (2)
Goodwill adalah suatu benda ekonomis tak bertubuh, yang terjadi daripada hubungan
antara perusahaan dengan para langganan dan kemungkinan perkembangan yang akan
datang.
Goodwill itu dapat dipindahtangankan bersama dengan urusan perusahaan dan menjelma
dalam balans sebagai laba.
(Mr. S.J. Fockema Andrea)
Goodwill (3)
Goodwill:
Hubungan perusahaan dengan pelanggan atau konsumen yang menciptakan
keuntungan perusahaan.
Goodwill dari Aspek Ekonomi
Dari segi ekonomi, goodwill adalah benda tidak berwujud hasil kemajuan perusahaan
yang digambarkan sebagai nilai lebih.
Oleh karena itu, goodwill dicatat dalam pembukuan sebagai keuntungan atau laba.
Keuntungan atau laba ini adalah hasil kegiatan ekonomi perusahaan
Goodwill dari Aspek Ekonomi (2)
Goodwill dapat terjadi karena hal-hal berikut ini:
1. Hubungan baik antara perusahaan dan konsumen
2. Manajemen perusahaan yang baik dan teratur
3. Pemilihan tempat penjualan yang strategis
4. Pemasangan iklan yang tepat dan menarik pelanggan
5. Produksi yang bermutu tinggi memenuhi selera konsumen dengan harga layak
6. Pelayan perusahaan yang ramah dan menarik para pembeli
7. Barang produksi perusahaan dibutuhkan orang terus-menerus karena vital, jumlah
penduduk bertambah, dan daya beli masyarakat meningkat
Goodwill dari Aspek Hukum
Dari aspek hukum, goodwill adalah usaha perusahaan bukan benda dalam arti hukum
karena tidak dapat dialihkan (dijual) kepada pihak lain.
Goodwill bukanlah kekayaan yang dapat dijadikan objek hak, jadi dari segi hukum tidak
relevan.
Dokumen Perusahaan
Pengertian :
Dokumen perusahaan adalah data, catatan, dan atau keterangan yang dibuat dan
atau diterima oleh perusahaan dalam rangka pelaksanaan kegiatannya, baik tertulis di

atas kertas atau sarana lain maupun terekam dalam bentuk corak apa pun yang dapat
dilihat, dibaca, atau didengar.
Jenis Dokumen Perusahaan
Secara umum dikenal 2 (dua) jenis dokumen perusahaan, yaitu dokumen keuangan dan
dokumen lainnya.
Dokumen keuangan terdiri atas:
1. Catatan
2. Bukti Pembukuan
3. Data Pendukung administrasi keuangan
Jenis Dokumen Perusahaan (2)
Catatan adalah setiap tulisan yang berisi keterangan mengenai hak dan kewajiban serta
hal-hal lain yang berkaitan dengan kegiatan usaha suatu perusahaan.
Bukti pembukuan terdiri dari warkat-warkat yang digunakan sebagai dasar pembukuan
yang mempengaruhi perubahan kekayaan, utang, dan modal.
Data pendukung administrasi keuangan merupakan data administratif yang berkaitan
dengan keuangan untuk digunakan sebagai pendukung penyusunan dan pembuatan
dokumen keuangan
Pembuatan Dokumen Perusahaan
Setiap perusahaan wajib membuat catatan sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
(Pasal 8 ayat (1) UU Nomor 8 Tahun 1997)
Mengenai catatan wajib dibuat dengan menggunakan huruf Latin, angka Arab, satuan
mata uang rupiah, dan disusun dalam bahasa Indonesia.
(Pasal 8 ayat (2) UU Nomor 8 Tahun 1997)
Penyimpanan Dokumen Perusahaan
Catatan, bukti pembukuan, dan data pendukung administrasi keuangan wajib disimpan
selama sepuluh tahun terhitung sejak akhir tahun buku perusahaan yang bersangkutan.
(Pasal 11 UU Nomor 8 Tahun 1997)
Data pendukung administrasi keuangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2)
huruf (b), jangka waktu penyimpanannya disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan yang
bersangkutan.
(Pasal 11 ayat (2) UU Nomor 8 Tahun 1997)
SELESAI
http://hukumkusuka.blogspot.com/2012/11/sejarah-hukum-dagang.html

Sejarah Hukum Dagang

Artikel mengenai sejarah hukum dagang ini dimaksudkan untuk mengurai sejarah hukum
dagang secara umum. Namun, sebelum menguraikan sejarah hukum dagang, sebelumnya perlu
dijelaskan keterkaitan antara hukum perdata dan hukum dagang dalam sejarah hukum dagang.

Pembagian Hukum Perdata dan Hukum Dagang

Pembagian hukum privat ke dalam hukum perdata dan hukum dagang sebenarnya bukanlah
pembagian yang asasi, tetapi pembagian yang berdasarkan sejarah hukum dagang.
Bahwa pembagian tersebut bukanlah bersifat asasi dapat kita lihat dalam ketentuan yang
tercantum dalam Pasal 1 KUHD yang menyatakan bahwa peraturan-peraturan KUH Perdata
dapat juga dijalankan dalam penyelesaian masalah yang disinggung dalam KUHD terkecuali
dalam penyelesaian masalah yang semata-mata diadakan oleh KUHD.
Kenyataan lain yang membuktikan bahwa pembagian itu bukan pembagian asasi adalah:
1. Perjanjian jual beli yang merupakan perjanjian terpenting dalam bidang
perdagangan tidak ditetapkan dalam KUHD tetapi diatur dalam KUH Perdata.
2. Perjanjian pertanggungan (asuransi) yang sangat penting juga bagi soal
keperdataan ditetapkan dalam KUHD.

Selanjutnya mari kita lihat seperti apa sejarah hukum dagang dalam tahap perkembangan
kodifikasi hukum di dunia.

Selayang Pandang Sejarah Hukum Dagang

Sejarah hukum dagang sebenarnya telah dimulai sejak abad pertengahan di Eropa, kira-kira dari
tahun 1000 sampai tahun 1500. Asal mula perkembangan hukum dagang ini dapat kita
hubungkan dengan terjadinya kota-kota di Eropa Barat. Pada zaman itu di Italia dan Prancis
Selatan telah lahir kota-kota sebagai pusat perdagangan (Genoa, Florence, Venesia, Marseille,
Barcelona, dan lain sebagainya).
Hukum romawi ternyata tidak dapat menyelesaikan seluruh perkara-perkara yang timbul di
bidang perdagangan. Oleh karena itulah di Kota-Kota Eropa Barat disusun peraturan hukum baru
yang berdiri sendiri disamping hukum romawi yang berlaku.
Hukum yang baru ini berlaku bagi golongan pedagang dan disebut hukum pedagang. Kemudian
pada abad 16 dan 17 sebagian besar kota di Prancis mengadakan pengadilan istimewa khusus
menyelesaikan perkara-perkara di bidang perdagangan.
Hukum pedagang ini pada mulanya belum merupakan unifikasi, berlakunya suatu sistem hukum
untuk seluruh daerah, karena berlakunya masih bersifat kedaerahan. Tiap-tiap daerah mempunyai
hukum pedagangnya sendiri-sendiri yang berlainan satu sama lainnya. Kemudian disebabkan

bertambah eratnya hubungan perdagangan antar daerah, maka dirasakan perlu adanya suatu
kesatuan hukum di bidang hukum pedagang ini.
Oleh karena itulah, sehingga di Prancis pada abad 17 diadakanlah kodifikasi dalam hukum
pedagang. Menteri Keuangan dari Raja Louis XIV (1643-1715) yaitu Colbert membuat suatu
peraturan, yaitu Ordonnance du Commerce (1673).
Peraturan tersebut mengatur hukum pedagang itu sebagai hukum golongan tertentu yakni kaum
pedagang. Ordonnance du Commerce ini dalam tahun 1681 disusul dengan suatu peraturan lain,
yakni Ordonnance de la Marine, yang mengatur hukum perdagangan laut (untuk pedagangpedagang kota pelabuhan).
Pada tahun 1807 di Prancis di samping adanya Code Civil des Francais, yang mengatur hukum
perdata Prancis, telah dibuat lagi suatu Kitab Undang-Undang Hukum Dagang tersendiri, yakni
Code de Commerce.
Dengan demikian, dalam sejarah hukum dagang di Prancis pada tahun 1807 terdapat hukum
dagang yang dikodifikasikan dalam Code de Commerce yang dipisahkan dari hukum perdata
yang dikodifikasikan dalam Code Civil. Code de Commerce ini memuat peraturan-peraturan
hukum yang timbul dalam bidang perdagangan sejak zaman pertengahan. Adapu yang menjadi
dasar bagi penyusun Code de Commerce (1807) itu antara lain: Ordonnance du Commerce
(1673) Ordonnance de la Marine (1681).

Kemudian kodifikasi-kodifikasi hukum Prancis tahun 1807 (yakni Code Civil dan Code de
Commerce) dinyatakan berlaku juga di Netherlands sampai tahun 1838.
Itulah sekilas mengenai sejarah hukum dagang secara umum. Untuk selanjutnya uraian mengenai
sejarah hukum dagang hingga masuk ke Indonesia akan kami jelaskan pada artikel yang berbeda.
Artikel mengenai sejarah hukum dagang ini disadur dari buku yang berjudul Pokok-Pokok
Hukum Dagang Indonesia yang ditulis oleh Prof. Drs. C.S.T. Kansil, SH dan Christine S.T.
Kansil, SH.MH., yang diterbitkan oleh Sinar Grafika, Jakarta, tahun 2010.

Demikianlah artikel mengenai sejarah hukum dagang ini dibuat. Semoga materi mengenai
sejarah hukum dagang ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
http://statushukum.com/sejarah-hukum-dagang.html