Anda di halaman 1dari 36

LAPORAN HASIL DISKUSI KELOMPOK KECIL

BLOK 18 KEDOKTERAN GIGI FORENSIK DAN GERIODONTOLOGI


MODUL 2 BITEMARKS

Disusun oleh : Kelompok 2


Hosana A. M

NIM 1310015095

Dera Armedita

NIM 1310015101

Khemal Ilham R

NIM 1310015102

Devi Sarfina

NIM 1310015105

Daivy Putri A.M

NIM 1310015112

Betrik Sefyana

NIM 1310015120

Mirsa Herdiani

NIM 1310015119

Tutor : drg. Cicih Bhakti, M.Med.Ed

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN GIGI


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MULAWARMAN
SAMARINDA
2016
0

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena
terselesaikannya laporan DKK (Diskusi Kelompok Kecil) mengenai Manajemen Praktik
Kedokteran Gigi.
Laporan ini dibuat sesuai dengan gambaran jalannya proses DKK kami, lengkap
dengan pertanyaan pertanyaan dan jawaban yang disepakati oleh kelompok kami.
Kami mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu kami
dalam proses pembuatan laporan DKK ini. Pertama, kami berterima kasih kepada drg.
Cicih Bhakti, M.Med.Ed selaku tutor kami yang telah dengan sabar menuntun kami
selama proses DKK. Terima kasih pula kami ucapkan atas kerja sama rekan sekelompok
di Kelompok 2. Tidak lupa juga kami berterima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu kami dalam mencari informasi maupun membuat laporan DKK.
Akhir kata, kami sadar bahwa kesempuranaan tidak ada pada manusia oleh sebab
itu, kami mohon kritik dan saran dari pembaca untuk perbaikan di kemudian hari. Semoga
laporan ini bermanfaat bagi pembaca, baik sebagai referensi atau perkembangan
pengetahuan.
Hormat Kami,

Kelompok 2

DAFTAR ISI
1

BAB I...................................................................................................................................3
PENDAHULUAN...............................................................................................................3
1.1 LATAR BELAKANG...............................................................................................3
1.2 TUJUAN....................................................................................................................3
1.3 MANFAAT................................................................................................................3
BAB II..................................................................................................................................4
PEMBAHASAN.................................................................................................................4
2.1

STEP 1 (IDENTIFIKASI ISTILAH ASING).....................................................4

2.2

STEP 2 (IDENTIFIKASI MASALAH)..............................................................5

2.3

STEP 3 (CURAH PENDAPAT)..........................................................................5

2.4

STEP 4 (KERANGKA KONSEP)......................................................................7

2.5 STEP 5 (LEARNING OBJECTIVE)...................................................................8


2.6

STEP 6 (BELAJAR MANDIRI).........................................................................8

2.7 STEP 7 (SINTESIS).............................................................................................8


BAB III..............................................................................................................................38
PENUTUP.........................................................................................................................38
3.1 KESIMPULAN..................................................................................................38
3.2

SARAN.............................................................................................................38

DAFTAR PUSTAKA........................................................................................................39

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Gigi merupakan hal yang penting, dari gigi-geligi kita akan dapat mengetahui dan
mendapatkan berbagai informasi menenai jenis kelamin, ras, usia, pekerjaan, dan lain
sebagainya. Bahkan gigi yang meninggalkan bekas gigitan pun merupakan hal yang
sangat penting bagi dunia forensik. Bekas gigitan, yang disebut juga dengan Bite Marks
dapat digunakan untuk mengidentifikasi tersangka dalam kasus-kasus kejahatan.
Bagi seorang dokter gigi, penting untuk mengetahui bagaimana gigi dapat
berperan dalam dunia forensik. Begitu juga dengan bite mark, dokter gigi harus
mengetahui apa saja klasifikasinya, jenisnya, dan juga tahapan-tahapannya.
1.2 TUJUAN
1. Mahasiswa dapat mengerti dan memahami apa saja kegunaan gigi-geligi dalam
dunia forensik.
2. Mahasiswa dapat mengerti dan memahami tentang bite marks, baik dari definisi,
klasifikasi, jenis, dan tahapan pemeriksaannya.
1.3 MANFAAT
Melalui pembahasan ini, diharapkan dapat menambah khasanah ilmu bagi
mahasiswa tentang kedokteran gigi dalam dunia forensik.

BAB II
PEMBAHASAN
SKENARIO
Rubrik kriminalitas
Arif membaca artikel dibawah ini :

Pada November 2004, seorang wanita berusai 25 tahun diperiksa telah melaporkan
dirinya telah diperkosa. Terdapat cedra termasuk memar parah pada wajah, lengan dan
punggung. Dalam posis pertengahan scapula ada setengah pola memar berukuran sekitar
30x45 mm, menunjukkan karakteristik kelas 1 gigitan manusia. Bukti DNA dan foto dari
cidera diambil. Model study tersangka di cetak di stone gips. Teknik Overlay Digital
digunakan oleh Johansen dan Browers dan dibandingkan dengan cedera. Lebar arch, baik
untuk gips rahang atas dan bawah, konsisten dengan cedera pada korban. Fitur ini bisa
memperlihatkan dengan jelas adanya Bitemark tersangka yang sudah di identifikas. Ini
sebagai bukti bahwa dia yang membuat Bitemark pada tubuh korban.
Timbul pertanyaan di benak Arif.. Apakah bitemark sinonim dengan teethmark?
Bagaimana cara mengambil bukti DNA dari cidera? Tentu lebih banyak lagi pertanyaan
yang timbul dbenak anda membaca artikel diatas.
2.1

STEP 1 (IDENTIFIKASI ISTILAH ASING)


1. Bitemark : Tanda gigtan pelaku yang tertera pada kulit korban dalam bentuk
luka jaringan kulit maupun jaringan ikat di bawah kulit sebagai akibat dari
pola permukaan gigtan dari gigi-gigi pelaku melalui kulit korban.
2. Cedera : Suatu kerusakan struktur atau fungsi tubuh karena suatu paksaan
atau tekanan.
3. Scapula : Tulang belikat.
4. Kelas 1 gigtan manusia : Bitemark terdapat jarak dari gigi incisivus dan
caninus.
5. Teknik Overlay Digital : Prosedure software analisis adobe photoshop dan
dental print. Menampilkan suatu peta digital pada poto digital dan
menampilkan haslnya di layar komputer.
6. DNA : Asam nukleat yang menyimpan informasi genetik dan menentukan
perkembangan bentuk biologis dari seluruh kehidupan bentuk sel.
7. Lebar arch : Lebar lengkung rahang.
8. Memar : Terjad benturan karena benda tumpul dan di permukaan tubuh

2.2

STEP 2 (IDENTIFIKASI MASALAH)


Sesuai teks yang disajikan pada skenario, kami dapat mengidentifikasikan beberapa

masalah yang timbul dalam kasus tersebut sebagai berikut.


1. Apakah bitemark sama dengan teethmark ?
4

2. Apa saja karakteristik klasifikasi gigtan manusa?


3. Apa keuntungan gigi dalam identifikasi forensk ?
4. Apa saja yang bisa kita identifikas dari bitemark?
5. Apakah ada lagi selain bitemark untuk identifikas forensik ?
6. Bagaimana Teknik Overlay Digital ?
7. Teknik apa saja yang dilakukan untuk forensik selain overlay digital ?
8. Bagaimana cara membuat model cetakan dari gigitan ?
9. Tahap apa saja yang dilakukan pada pasien d skenario ?
10. Bagaimana cara mengambil bukti DNA dari cedera ?
11. Bagaimana membedakan gigitan manusia dan gigtan hewan ?
12. Apakah pelaku penggigitan pelaku pemerkosaan ?
13. Batasan dokter gigi dalam forensik ?
2.3

STEP 3 (CURAH PENDAPAT)

1. Berbeda. Bitemark bentuk gigi tanpa otot bekerja secara tidak sadar. Bitemark tanda
gigitan otot bekerja dan sengaja.
2. Klasifikasi gigitan manusia ada 6 kelas :
a. Kelas I : Bitemark terdapat jarak dari gigi incisivus dan caninus.
b. Kelas II : Bitemark kelas II seperti bitemark kelas I, tetapi terlihat cusp bukalis
dan palatal maupun cusp bukalis dan lingualis tetapi derajat bitemarknya masih
sedikit.
c. Kelas III : Bitemark kelas III derajat luka lebih parah dari kelas II yaitu
permukaan incisivus telah menyatu akan tetapi dalamnya luka gigitan mempunyai
derajat lebih parah dari bitemark kelas II.
d. Kelas IV : Bitemark kelas IV terdapat luka pada kulit dan otot bawah kulit yang
sedikit terlepas atau rupture sehingga terlihat bitemark irregular.
e. Kelas V : Bitemark kelas V terlihat luka yang menyatu incisive, caninus, premolar
baik pada rahang atas maupun rahang bawah.
f. Kelas VI : Bitemark kelas VI memperlihatkan luka dari seluruh gigtan dari rahang
atas dan rahang bawah dan jaringan kulit serta jaringan otot terlepas sesuai dengan
kekerasan oklus dan pembukaan mulut.

3. Cepat untuk mengidentifikasi, dapat mengidentifikasi ras umur jenis kelamin, pada
gig geligi tidak ada yang sama apabila sama sangat jarang dan gig geligi tahan
terhadap asam dan kebakaran.
4. Lengkung rahang, lebar gigi, bentuk gigi, pola susunan gigi, saliva.
5. Gigi, benda yang dia punya, dan dari morfologi gigi
6. Bitemark difoto dengan kamera dan dental print lalu di scan dan dibandngkan dengan
menggunakan adobe photoshop lalu di cocokkan dengan cetakan rahang pelaku.
7. Ada 2 teknik, yaitu :
Teknik manual : model cetakan yang di cuigai di cocokkan dengan bitemark
Teknik digital : teknik overlay digital
8. PR
9. Cek memar pada korban, periksa adanya tanda kekerasan seksual, pada bitemark
dilakukan pengecekkan oleh dokter gigi forensik dengan beberapa cara yaitu : foto
bitemark lalu pilih jenis cetakan biasanya dengan polyeter, cetak rahang pelaku
dengan gips tipe IV berwarna kuning, lalu cetakan di scan, cetakan positif di campur
polyeter dengan kuas cat kecil untuk memastikan semuanya tercetak, lalu bandingkan
bitemark menggunakan teknik overlay digital.
10. PR
11. Membedakan dari morfologi gigi manusia dan hewan.
12. Tidak bisa ditentukan kita harus memeriksa lagi dari bukti yang ada.
13. PR

2.4

STEP 4 (KERANGKA KONSEP)

Pelapor
Pemerkosaan
Identifik
asi
Bitemar
ks

Klasifika
si

Jeni
s
Hasil Pemeriksaan

Peran Gigi dalam


Forensik
Langkah
Pemeriksaan

2.5

STEP 5 (LEARNING OBJECTIVE)


Identifikasi sasaran belajar mahasiswa mampu mengetahui dan memahami

mengenai :
1. Peran gigi dalam forensik.
2. Bitemark (definisi, klasifikasi, jenis, tahapan pemeriksaan)
3. Visum (definisi, isi)
2.6

STEP 6 (BELAJAR MANDIRI)


Pada step ini, kami melakukan pembelajaran mandiri secara individu dan

kelompok serta mencari jawaban learning objective dari berbagai referensi.


2.7

STEP 7 (SINTESIS)

2.7.1 Peran Gigi Dalam Forensik


Ada beberapa jenis identifikasi melalui gigi geligi dan rongga mulut yang dapat
dilakukan dalam terapan semua disiplin ilmu kedokteran gigi yang terkait pada
penyidikan demi kepentingan umum dan peradilan serta dalam membuat surat keterangan
ahli.
Identifikasi ilmu kedokteran gigi forensik terdapat beberapa macam antara lain :
1. Identifikasi ras korban maupun pelaku dari gigi geligi dan antropologi ragawi
2. Identifikasi sex atau jenis kelamin korban melalui gigi-geligi dan tulang rahang
serta antrolopogi ragawi
3. Identifikasi umur korban (janin) melalui benih gigi
4. Identifikasi umur korban melalui gigi sementara
5. Identifikasi umur korban melalui gigi campuran
6. Identifikasi umur korban melalui gigi tetap
7. Identifikasi korban melaluikebiasaan menggunakan gigi
8. Identifikasi korban dari pekerjaan menggunakan gigi
9. Identifikasi golongan darah korban melalui pulpa gigi
10. Identifikasi golongan darah korban melalui air liur
7

11. Identifikasi DNA korban dari analisa air liur dan jaringan dari sel dalam rongga
mulut
12. Identifikasi korban melalui gigi palsu yang dipakainya
13. Identifikasi wajah korban dari rekontruksi tulang rahang dan tulang facial
14. Identifikasi wajah korban
15. Identifikasi korban melalui pola gigitan pelaku
16. Identifikasi korban melalui eksklusi pada korban massal
17. Radiologi ilmu kedokteran gigi forensik
18. Fotografi ilmu kedokteran gigi forensik
IDENTIFIKASI RAS KORBAN MAUPUN PELAKU DARI GIGI-GELIGI DAN
ANTROPOLOGI RAGAWI
A. Ras secara umum
Ras didunia ini dahulu kala terdapat 3 ras besar yaitu ras caucasoid, mongoloid,
dan ras negroid. Kini oleh karena dahulu kala terjadinya peperangan antar negara (perang
dunia I dan perang dunia II) disertai dengan jaman penjajahan dari ras caucasoid maupun
ras mongoloid serta ras negroid maka terjadilah kawin campur akibatnya terdapat ras
khusus dan ras australoid yaitu ras amborigin dan ras-ras kecil dikepulauan pasifik.
Ras-ras tersebut mempunyai ciri-ciri sendiri yang dapat digunakan sebagai sarana
identifikasi.
Menurut Hoebel bahwa ciri-ciri ras yang berbeda tersebut disebabkan karena
sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.

Dari komponen masyarakat sekitarnya / setempat


Dari komponen perkawinan (pernikahan / garis keturunan)
Dari komponen genetik
Dari komponen ciri-ciri fisik, gigi dan mulut

B. Identifikasi ras atau korban dari ciri-ciri gigi


Identifikasi ras tersebut antara lain :
1. Ras Caucasoid dengan ciri-ciri sebagai berikut :
a. Permukaan lingual rata pada gigi seri / insisive 1.21.1,2.1 2.2
b. Sering gigi-geligi -> crowded
c. Gigi molar pertama bawah (3.6,4.6), lebih panjang, tapered
d. Dalberg (1956) : buko-palatal < (P2, 1.5, 2.5), mesio-distal
e. Sering cups carabeli pada 1.6,2.6 -> palatal
f. Lengkung rahang sempit
2. Ras Mongoloid dengan ciri-ciri sebagai berikut :
8

a. Menurut Herdlicka (1921) bahwa gigi insisive mempunyai perkembangan


penuh pada permukaan palatal bahkan lingual sehingga shovel shaped insicor
cungulum jelas dominan (pada gigi 1.1,1.2,2.1,2.2)
b. Fissure-fissure gigi molar
c. Bentuk gigi molar -> segiempat dominan
3. Ras Negroid dengan ciri-ciri sebagai berikut :
a. Menurut R.Biggerstaf bahwa premolar akar premolar (1.4,1.5,2.4,2.5)
cenderung membelah atau terdapat tiga akar -> trifurkasi
b. Bahwa cenderung bimaxillary protrusion -> monyong
c. Bahwa molar ke-4 sering ditemukan (banyak)
d. Premolar pertama bawah (1.4,2.4) terdapat 2 atau 3 cups
e. Gigi molar berbentuk segiempat membuat (mirip dmk)
4. Ras Australoid
Yang termasuk dalam ras ini adalah : suku amborigin dan suku-suku dikepulauan
kecil pacifik
5. Ras khusus
a. Bushman
Suku ini bermukim dinegara Spanyol
b. Vedoid
Yang termasuk suku ini bermukim di Afrika Tengah
c. Polynesian
Yang termasuk suku ini bermukim dipulau-pulau kecil di lautan Himdia dan
dilautan Afrika.
IDENTIFIKASI SEX ATAU JENIS KELAMIN DARI GIGI-GELIGI,TULANG
RAHANG DAN ANTROPOLOGI RAGAWI
A. Identifikasi jenis kelamin melalui gigi-geligi
Identifikasi jenis kelamin melalui gigi-geligi menurut Cotton (1982) antara pria dan
wanita dapat di buat table sebagai berikut:

Gigi-geligi
Outline Bentukgigi
Lapisan Email dan Dentin
Bentuk Lengkung gigi
Ukuran Cervico-incisal distal caninus bawah
Outline incisive pertama atas
Lengkung gigi

Wanita
Relatif Lebih Kecil
Relatif Letih Tipis
Cendrung Oval
Lebih Kecil
Lebih Bulat
Relatif Lebih Kecil

Pria
Relatif Lebih Besar
Relatif Lebih Tebal
Tapered
Lebih Besar
Lebih persegi
Relatif Lebih Besar

B. Identifikasi Jenis Kelamin Melalui Tulang Rahang


9

Selain dengan pemeriksaan internal dan eksternal, perbedaaan pria dan wanita dapat
dilihat dari tulang-tulang yang ada. Salah satu tulang yang dapat diidentifikasi untuk
membedakan jenis kelamin tersebut adalah tulang rahang.
1. Identifikasi jenis kelamin melalui Lengkung Rahang atas
Pada pria lengkung rahang lebih besar dari pada wanita karena relative gigigeligi pria jarak mesio distal lebih panjang dibandingkan dengan wanita.
Sedangkan palatum pada wanita lebih kecil dan bentuk parabola. Pada pria
palatum lebih luas serta bentuk huruf U.
2. Identifikasi jenis kelamin melalui Lengkung Rahang bawah
Lengkung rahang bawah pria lebih besar dari wanita karena gigi-geligi wanita
jarak mesio distalnya lebih kecil dari pada pria
3. Identifikasi jenis kelamin melalui tulang rahang
Terdapat berbagai sudut pandang pada setiap region dan bentuk serta besar dari
rahang pria maupun wanita yang sangat berbeda. Hal ini dapat digunakan
sebagai sarana atau data identifikasi jenis kelamin melalui tulang rahang bawah.
a. Identifikasi jenis kelamin melalui sudut gonion
Sudut gonion pria lebih kecil dibandingkan sudut gonion wanita.
b. Identifikasi jenis kelamin melalui tinggi Ramus Ascendens
Ramus ascendens pria lebih tinggi dan lebih besar dari pada wanita
c. Identifikasi jenis kelamin melalui Inter Processus
Jarak prosessus Condyloideus dangan prosessus Coronoideus pada pria lebih
jauh dibandingkan dengan wanita. Dengan kata lain pada pria mempunyai
jarak lebih panjang dibandingkan dengan wanita
d. Identifikasi jenis kelamin melalui Lebar Ramus Ascendens
Identifikasi jenis kelamin melalui Ramus Ascendens pada pria mempunyai
jarak yang lebih lebar dibandingkan dengan wanita
e. Identifikasi jenis kelamin melalui Tulang Menton (dagu)
Identifikasi jenis kelamin melalui tulang Menton pria atau tulang dagu pria
yang dimaksud lebih ke anterior dan lebih besar.
f. Identifikasi jenis kelamin melalui Pars Basalis Mandibula
Pada pria pars basalis mandibular lebih panjang dibandingkan dengan wanita
dalam bidang horizontal.
g. Identifikasi jenis kelamin melalui Processus Coronoideus
Tinggi prosessus Coronoideus pada pria lebih tinggi dibandingkan dengan
wanita dalam bidang vertical.
h. Identifikasi jenis kelamin melalui table tulang Menton

10

Tulang menton pria dalam ukuran pabio lebih tebal dibandingkan denngan
wanita, hal ini kemungkinan masa pertumbuhan dan perkembangan rahang
pria lebih lama dibandingkan dengan wanita
Ukuran ini sanganlah relative tergantung dari ras, sub ras dan hanya
dibandingkan sesama etnik-etnik saja.
i. Identifikasi jenis kelamin melalui lebar dan tebal Prosessus Condyloideus
Bentuk prosessus condyloideus bermacam-macam, baik pria maupun wanita.
Tetapi mempunyai tebal dan lebar yang sama. Pada pria ukuran diameter
prosessusnya lebih besar dibandingkan dengan wanita, hal ini karena ukuran
anterior posterior dan Latero medio lebih besar dibandingkan dengan wanita
C. Identifikasi Jenis Kelamin melalui Antropologi ragawi
Identifikasi jenis kelamin melalui antropologi ragawi menurut Schwartz
(1980) dapat dibuat tebel sebagai berikut:
Tulang Facial dan tulang Tengkorak

Pria

Wanita

Ukuran keseluruhan
Supra orbita Ridge
Proc. Mostoideus
Region dan foramen occipitalis
Eminentia frontalis
Eminentia parietalis
Tulang Orbita
Tulang ubun-ubun
Tulang pip

Besar
Agak rata
Sedang ke besar
Kasar dan sedikit kasar
Kecil
Kecil
Segiempat dengan tepi bulat
Landai sedikit bulat kecil
Tebal lengkung kelateral

Kecil
Menonjol kecil ke sedang
Kecil ke sedang
Lebih halus dan kecil
Besar
Besar
Bundar dengan tepi tajam
Bentuk vertical
Halus, cekung kecil

Identifikasi jenis kelamin melalui antropologi ragawi akan sangat akurat


apabila mayat korban telah menjadi tengkorak.dalam hal ini korban ditemukan
telah lama dari peristiwa kejadian (bertahun-tahun) pada identifikasi bongkar
kubur, sama halnya identifikasi jenis kelamin dengan tulang rahang dengan
kata lain tidak terdapat jaringan ikat pada tulang tersebut
Akan tetapi, identifikasi jenis kelamin melalui gigi-geligi dapat dilakukan
berbagai kondisi.

IDENTIFIKASI UMUR KORBAN ( JANIN ) DARI BENIH GIGI


A. Perkembangan janin dan benih gigi
11

Identifikasi umur dari benih gigi haruslah melalui janin, menurut Perdanakusuma
(1984), terdapat beberapa kemungkinan usia janin yaitu:
1. Dalam arti janin pada umurnya, yakni sejak berusia dua, tiga atau empat minggu
sampai dengan 40 minggu.
2. Dalam arti embrio murni, yaitu sejak pembuahan sampai dengan akhir minggu ke8 usia janin.
3. Dalam arti embrio lanjutan, yaitu sejak janin berusia 9 minggu sampai mendekati
16 minggu.
4. Dalam arti fetus murni, yaitu saat janin mulai berusia 16 minggu.
Pada bulan pertama kehidupan intra-uterin, diameter ovum masih sekitar
0,625 cm.
Akhir bulan ke-2, diameter ovum sekitar 1,875 cm,jari dan kepala bisa
dikenali,bagian leher belum terbentuk.
Pada bulan ke-3, perkembangan janin sudah mulai lengkap dan
panjangnya sekitar 7,5-10 cm, leher sudah terbentuk, anggota gerak sudah
terbentuk, jari kaki dan tangan juga sudah terlihat.
Pada akhir bulan ke-4 panjang ubun ubun sampai pantat kira kira 10 cm,
wajah melebar.
Akhir bulan ke-5 panjang ubub ubun kira kira 13 cm, panjang janin sekitar
22,8 cm, berat janin kurang dari 500 gram.
Pada bulan ke-6, ukuran janin sekitar 25-27,5 cm.
Pada bulan ke-7 ukuran janin sekitar 35 cm, pusta penulangan terlihat pada
tulang talus, kelopak mata tidak lagi berlekatan.
Pada bulan ke-8 ukuran janin sekitar 40 cm, bagian paling akhir dari tulang
sacrum telah menunjukan adanya pusat penulangan, bulu bulu pada
seluruh tubuh, vulva telah terbuka, kuku telah muncul.
Pada bulan ke-9 kepala mempunyai lingkaran yang terbesar dari semua
bagian tubuh, ukuran janin kira kira 50 cm, berat janin 3000-3500 gram.
Peride periode pertumbuhan gigi:
1. Periode proliferasi.
Periode ini terjadi kira kira 6 minggu sebelum lahir, untuk gigi susu sampai
dengan 3 atau 4 bulan.
2. Periode formasi benih gigi
12

Dimulai dari puncak cusp dan insisal edge.formasi ini terus berkembang sesuai
dengan periode proliferasi kea rah cervical, ke arah akar, berakhir di foramen
periapikal.
3. Periode klasifikasi
Mula mula terlihat pada pembentukan crypt terus berlanjut hingga periode
erupsi berakhir pada gigi desidui.
B. Interpretasi benih gigi pada janin
Teknik roentgen foto harus dilakukan demi memperoleh roentgenogram rahang
janin ( fetus ) yaitu dengan proyeksi true oclusal proyeksi dengan menggunakan
film oclusal tetapi kekuatan sinarnya separuh dari kekuatan sinar dalam
memproyeksi gigi sementara atau balita.
IDENTIFIKASI UMUR KORBAN MELALUI GIGI SEMENTARA (DECIDUI)
Identifikasi umur korban melalui gigi sementara , dengan interpretasi roentgenogram
yang berdasarkan atas periode-periode pertumbuhan gigi antara lain periode proliferasi,
periode kalsifikasi, periode formasi, dan periode erupsi gigi.
A. Periode erupsi
Pada identifikasi perkiraan umur seseorang yang berdasarkan periode-periode
pertumbuhan gigi hendaknya mengingat beberapa faktor penunjang berikut ini:
1. Nolla tahun 1958, telah membagi periode-periode pertumbuhan gigi menjadi
sepuluh stadium, stadium-stadium ini dibuat berdasarkan pengamatan mulamula terbentuknya benih gigi sampai dengan penutupan foramen apical gigi.
2. Schour dan Massler tahun 1941, telah membuat diagram gambar perkiraan
usia waktu erupsi gigi geligi yang berdasarkan terjadinya proses klasifikasi
gigi susu dan gigi tetap, formasi pembentukan mahkota gigi susu dan gigi
tetap serta formasi pembentukan akar gigi susu dan gigi tetap.
3. Menurut Logan dan Kronfeld, bahwa permulaan erupsi gigi sampai dengan
umur 8 tahun.
Pada periode erupsi harus mengingat order of eruption. Periode erupsi ini sangat
bervariasi, tergantung dari berbagai faktor, yaitu
1. Faktor pertumbuhan memanjang dari gigi
2. Faktor multiplikasi dari jaringan pulpa
3. Faktor deposisi dari lapisan baru jaringan semen
13

4. Faktor pertumbuhan jaringan tulang rahang


B. Penentuan usia
penentuan umur korban dari gigi sementara melalui interpretasi roentgenogram
periapikal dan topografi oclusal.
1. Untuk penentuan usia balita /bayi berumur 5-6 bulan yaitu
a. Interpretasi roentgenogram topografik oclusal anterior rahang atas
balita 5-6 bulan memperlihatkan mulai erupsi gigi insisivus sentral kiri
dan kanan dan memperlihatkan formasi mahkota semua gigi decidui
serta kalsifikasi seluruh gigi.
b. Interpretasi roentgenogram topografik oclusal anterior rahang bawah
balita 5-6 bulan memperlihatkan mulai erupsi gigi insisivus sentral kiri
dan kanan dan memperlihatkan formasi mahkota semua gigi decidui
serta kalsifikasi seluruh gigi
2. Untuk penentuan usia bayi berumur 12 bulan yaitu:
a. Interpretasi roentgenogram periapikal rahang atas balita umur 12 bulan
memperlihatkan erupsi gigi cebtral lateran bahkan gigi kaninus atas.
b. Interpretasi roentgenogram periapikal rahang bawah balita umur 12
bulan memperlihatkan erupsi gigi cebtral lateran bahkan gigi kaninus
bawah
Perkiraan umur dari jaringan gigi, terdapat suatu diagram yang dapat dipakai
untuk panduan perkiraan umur dari:
1. Pertumbuhan dan perkembangan gigi yang ditandai dengan terbentuknya
formasi cups dan mahkota
2. Pertumbuhan dan perkembangan gigi yang ditandai dengan terbentuknya akar
gigi dalam formasi dari cervical kea rah apek
3. Pertumbuhan dan perkembangan gigi yang dimaksud dengan penutupan
foramen apical gigi.
Ketiga hal tersebut dituangkan dalam suatu diagram yang disebut dengan
Incremental Line.
IDENTIFIKASI UMUR KORBAN MELALUI GIGI CAMPURAN
Pembentukan gigi tetap di mulai pada usia balita 10 bulan sampai 12 bulan yaitu
pembentukan crypt dari gigi tetap molar pertama dan incicive central. Bila pada balita
14

umur 12 bulan dimulailah pembentukan crypt gigi tetap molar kedua, dan klasifikasi
formasi cusp gigi molar pertama.
Apabila belita berumur 12 bulan maka telah terjadi erupsigigi molar pertama dicidui
atas dan bawah kemudian telah terjadi formasi gigi tetap mahkota gigi incicive dan lateral
rahang atas maupun rahang bawah
IDENTIFIKASI UMUR KORBAN MELALUI GIGI TETAP
Identifikasi ini dimulai pada umur 13 tahun sampai dengan 21 tahun menurut
periode erupsi, tetapi ada metode lain.
A. Identifikasi umur melalui gigi tetap menurut periode erupsi
Identifikasi ini dengan menggunakan interpretasi roentgenogram mengenai
formasi, kalsifikasi, erupsi serta penutupan foramen apical gigi.
1. Interpretasi roentgenogram periapikal pada umur 13 tahun sebagai berikut:
a. Interpretasi roentgenogram periapikal seluruh rahang atas anak
umur 13 tahun memperlihatkan penutupan periapikal gigi yang
telah erupsi, gigi depan telah sempurna dengan gigi belakang
hamper sempurna. Gigi molar ketiga formasi mencapai cervical
sedangkan

pada

rontgenogram

proximal

memperlihatkan

interdigitasi gigitan antara cusp gigi atas dengan cusp gigi bawah
telah terbentuk.
b. Interpretasi roentgenogram periapikal seluruh rahang bawah anak
umur 13 tahun memperlihatkan kalsifikasi akar seluruh gigi telah
sempurna sehingga formasi akar telah sempurna pula dengan
penutupan foramen apical telah sempurna.
2. Interpretasi roentgenogram periapikal gigi pada dewasa berumur 21 tahun
a. Interpretasi roentgenogram periapikal seluruh rahang atas pada
dewasa umur 21 tahun memperlihatkan bahwa telah erupsi semua
gigi hanya gigi molar ketiga tetap penutupan foramen belum
sempurna. Sedangkan interpretasi roentgenogram proximal gigi
belakang tetap memperlihatkan interdigitasi seluruh gigi rahang
atas dan bawah tetapi gigi molar ketiga kiri atas hanya oclusal
mahkota bagian mesial saja.
B. Identifikasi umur melalui gigi tetap menurut metode Gusstafson
15

Menurut Gusstafson (1996), identifikasi umur dari gigi tetap terdapat 6 kriteria
yang disebut sebagai six change of the physiological age process in teeth
dengan perkataan lain terdapat 6 kriteria dari perubahan jaringan gigi akibat
penggunaan gigi sesuai dengan usia, yaitu sebagai berikut:
1. The degress of attrition
2. Alteration in the level of the gingival attachment
3. The amount of secondary dentine
4. The thickness of cementum around the root
5. Transluecency of the roor
6. Root resoption
Identifikasi umur menurut Gusstafson, bahwa 6 kriteria perubahan
fisiologis dari gigi merupakan perubahan perubahan karena faktor alamiah.
Identifikasi umur berdasarkan faktor-faktor alamiah khususnya malalui atrisi serta
faktor-faktor yang menyebabkan menyempitnya rongga pulpa disebabkan karena
proses ausnya atau atrisi lapisan email dan dentin disertai dengan proses
terbentuknya sekunder dentin yang memerlukan waktu demi waktu. Hal ini dapat
diperkirakan usia dari korban apabila ia mengalami kesulitan
C. Identifikasi umur melalui gigi tetap menurut metode Johanson
Atas dasar penelitian dari Gusstafson dan Koch, Johanson membuat diagram
pada tahun 1971 yang disimpulkan sebagai Triangle One yaitu: empat
landmark dari formasi gigi, stadium mineralisasi gigi, tahap formasi akar, dan
penutupan foramen apical gigi.
D. Penelusuran secara kronologis tumbuh dan perkembangan gigi tetap
Identifikasi umur mulai dari janin sampai dengan gigi dewasa, penelusuran
waktu ke waktu bahkan tahun ke tahun mempunyai derajat pertumbuhan dan
perkembangan bila janin secara roentgenografis, gigi decidue dan campuran
secara roentgenografis pula, tetapi untuk gigi tetap menurut metode Gustafson
bahwa

derajat

identifikasi

umur

akibat

proses

psikologis

menurut

penelitiannya tahap demi tahap kerusakan jaringan ia memberikan kode


IDENTIFIKASI

KORBAN

MELALUI

GIGI

BERDASARKAN

KEBIASAAN

MENGGUNAKAN GIGI

16

A.

Bagi perokok, dengan menggunakan pipa dalam menghisap tembakau, maka


akan menyebabkan ausnya gigi yang digunakan untuk menggigit pipa. Dengan
demikian bertahun tahun akan terlihat open bite diantara gigi.

B.

Bagi mereka yang kebiasaannya brezism yaitu menggerakan aclusi aktif pada
waktu tidur maka akan terlihat atrisi di sekitar gigi atas dan bawah sesuai dengan
interdigitasi antara gigi atas dan bawah.

C.

Bagi mereka yang mempunyai kebiasaan Brezism yang terbesar tekanan oclusi
pada gigi molar atau geraham maka permukaan kunyah gigi tersebutlah akan
terlihat atrisi derajat keparahan.

D.

Bagi mereka yang mempunyai gigitan open bite satu maupun beberapa gigi maka
gigi tersebut tidak akan terlihat adanya atrisi, sedangkan gigi yang mempunyai
kontak oclusi gigi atas dengan gigi bawah akan terjadi atrisi

IDENTIFIKASI KORBAN MELALUI GIGI BERDASARKAN PEKERJAAAN


MENGGUNAKAN GIGI
Bagi mereka yang mempunyai pekerjaan dengan menggunakan gigi antara lain tukang
jahit, piata rambut/pegawai salon, tukang kayu, maka akan terlihat atrisi permukaan
aclusi sesuai dengan benda keras yang digunakan dalam pekerjaannya.
a. Misalnya tukang jahit akan menggigit jarum baik diameter kecil sampai diameter
besar

Pada tukang jahit, ujung gigi seri yang dekok ini karena terlalu sering menggigit
jarum pentul, pada tukang sol sepatu karena menggigit jarum jahit dan memotong
benang jahit dengan giginya dan pada tukang kayu karena menggigit paku pada
17

waktu dia sedang bekerja. Kebiasaan ini dilakukan hampir setiap hari bertahuntahun sehingga terjadilah efek ujung gigi seri yang bergoyang dangdut ini.
b. Bagi penata rambut atau yang biasa disebut caster maka akan terlihat pada gigi
incicive central khususnya, umumnya gigi incicive centra lateral, suatu atrisi pada
gigi atas dan bawah yang berbentuk ronggga sesuai dengan jepit rambut karena ia
sebelum menata rambut tamunya ia menggigit jepit rambut beberapa buah pada
gigi insisivusnya, rongga tersebut sesuai dengan jepit rambut yang besar maupun
yang besar.
c. Bagi pekerja bangunan khususnya yang dianggap sebagai tukang kayu maka ia
dalam melakukan pekerjaannya sebelum memaku kayu atau papan ia menggigit
paku pada gigi depannya. Maka gigi depannya tersebut akan atrisi berbentuk bulat
sesuai dengan paku yang digunakan, derajat atrisi bias kecil sampai dengan besar
sesuai dengan diameter paku.
Tukang kayu ini biasanya memaku kayu dengan menggunakan tang pada
bangunan tingkat satu atau lebih sehingga ia membawa paku pada saku celana kiri
dan kanan mungkin seberat satu kg atau lebih dan kemudian ia mengambil
beberapa paku untuk digigit sebelum digunakan untuk memaku papan atau kayu.
Data-data ini dicatat ke dalam odontogram yang terdapat kolom-kolom catatan untuk
rongga mulut sehingga tim identifikasi akan segera mengetahui bahwa ia mempunyai
pekerjaan sesuai dengan bentuk atrisi pada gigi atas dan bawah.

IDENTIFIKASI GOLONGAN DARAH KORBAN MELALUI PULPA GIGI


Menurut James dan Standison pada tahun 1982, ideentifikasi golongan darah
dapat dibuat dari sediaan yang diambil dari bagian tubuh sebagai berikut : akar rambut,
jaringan tulang, jaringan kuku, jaringan ikat, air mata, saliva dan cairan darah sendiri.
Akan tetapi dalam ilmu Kedokteran gigi forensik, identifikasi golongan darah
dapat diketahui dari analisa jaringan pulpa gigi.
Menurut Alfonsius dan penelitian Ladokpol pada tahun 1992 dan Forum Ilmiah
Internasiomnal FKG Usakti tahun 1993, bahwa analisa golongan darah dari pulpa gigi

18

merupakan identifikasi golongan darah untuk pelaku maupun korban adalah dengan cara
Absorbsi Ellusi.
Sejarah Absorpsi Ellusi dari jaringan pulpa gigi
Analisa laboratoris dengan metode absorbsi ellusi dari jaringan pulpa gigi dibuat sebgai
berikut :
1. Gigi yang masih terdapat jaringan pulpa diambil sebagai bahan
2. Gigi ditumbuk kedalam lubang besi sehingga hancur menjadi bubuk
3. Bubuk gigi tersebut dimasukkan kedalam tabung reaksi yang terbagi menjadi 3
tabung
4. Kemudian ke dalam masing-masing tabung dimasukkan Antisera :
Alfa ke tabung I, Beta ke tabuing II , Gamma ke tabung III
5. Ketiga tabung tersebut dimasukkan / disimpan dalam lemari pendingin dengan
6.
7.
8.
9.

suhu 5 derajat celcius selama 24 jam sehari semalam


Kemudian dicuci dengan Saline Solution sebanyak 7 kali
Larutan Saline dibuang dari tabung tetapi endapan tidak terbuang
Ketiga tabung diteteskan aquades sebanyak 2 tetes dengan pipet.
Kemudian ketiga tabung tersebut dipanaskan dengan suhu 56 derajat celcius

selama 12 menit.
10. Tabung-tabung tersebut kemudian diangkat dari tungku pemanas
11. Kemudian ke dalam ketiga tabung tersebut dimasukkan sel indikator :
A,B dan O dengan konsentrasi 3% - 5%
12. Kemudian ketiga tabung tersenut disentrifugasi dengan alat pemutar agar terjadi
penggumpalan (agulutinasi)
13. Dan akhirny dilihat pada tabung mana yang menjadi penggumpalan (aglutinasi)
Pada tabung yang terlihat penggumpalan merupakan identifikasi goglongan darah
dari hasil analisa laboratorium tersebut. Apabila hasil tersebut sebagai beritkut :
1. Dikatakan positif adalah jelas terlihat dengan visual terjadinya aglutinasi
2. Apabila hasilnya meragukan maka penggumpalan tidak jelas
3. Hasilnya dikatakan negatif bila tidak terjadi aglutinasi

2.7.2 Bite Mark


A.

Definisi Bite mark


Pola gigitan ialah bekas gigitan dari pelaku yang tertera pada kulit korban
dalam bentuk luka, jaringan kulit maupun jaringan ikat di bawah kulit sebagai akibat

19

dari pola permukaan gigitan dari gigi-gigi pelaku dengan perkataan lain pola gigitan
merupakan suatu produksi dari gigi-gigi pelaku melalui kulit korban (Eckert, 2008).
Pola gigitan baik pola permukaan kunyah maupun permukaan hasil gigitan
yang mengakibatkan putusnya jaringan kulit dan dibawahnya baik pada jaringan
tubuh manusia maupun pada buah-buahan tertentu misalnya buah apel dapat
ditemukan baik korban hidup maupun yang sudah meninggal.
Analisis pola gigitan pada buah hanyalah buah tertentu saja misalnya pada
apel yang dikenal dengan Apple Bite mark, dapat pula dengan buah pear dan
bengkuang. Pola gigitan ini adalah penapakan dari hasil gigtan yang putus akibat gigi
atas yang beradu dengan gigi bawah, sehingga terlihat hasil dari gigitan permukaan
bukalis dari gigi atas dengan gigi bawah (Lukman, 2006).
Menurut Bowers (2004), analisis pola gigitan berdasarkan pada dua konsep,
yakni:
1. Karakteristik gigi anterior pada gigitan setiap individu unik atau khas.
2. Keunikan tersebut dapat tercatat pada luka yang ditinggalkan.
Gigi-geligi setiap manusia berbeda antara satu dengan yang lain karena
masing-masing memiliki ciri khas. Ciri khas ini dapat berupa ada tidaknya malposisi,
bentuk lengkung gigi, lebar/besar gigi, jumlah gigi, dan lain sebagainya Pola gigitan
yang terbentuk pada objek dibandingkan dengan kontur, bentuk, ukuran, dan susunan
gigi yang ada pada model gigi.. Pemeriksaan pola gigitan juga dapat dilakukan
analisis terhadap: gigi yang hilang, ruang antar gigi, rotasi gigi, adanya kondisi
spesifik seperti gigi supernumerari, fraktur. Teknik analisis ini dapat dimanfaatkan
dalam bidang kedokteran gigi forensik. Analisis dan perbandingan bitemark
merupakan hal yang rumit. (Van der Velden et al, 2006).
Untuk membedakan gigitan dewasa dengan anak di bawah 8 tahun harus
diingat bahwa jarak intercaninus (jarak antara kedua gigi taring kiri dan kanan) lebih
besar dari 3 cm pada dewasa atau anak yang sudah dewasa dan kurang dari 3 cm
pada anak dengan gigi susu. Perbedaan jarak intercaninus di rahang atas baik pada
orang dewasa dan anak-anak adalah 4.4 mm. Sedangkan perbedaan jarak tersebut
pada rahang bawah pada keduanya adalah 2.5 mm (Brogdon, 1998).
B. Karakteristik dan Klasifikasi Bite mark
20

Menurut Bowers (2004), karakteristik fisik pola catatan gigitan adalah:


1. Lebar gigi
Merupakan jarak mesial-distal terlebar dari suatu gigi.
2. Tebal gigi
Adalah jarak dari labial ke lingual suatu gigi.
3. Lebar rahang
Ialah jarak pada rahang yang sama dari satu sisi ke sisi lainnya (antartonjol).
Karakteristik gigi pada catatan gigitan:
1. Gigi anterior adalah gigi yang umumnya tercatat pada pola catatan gigitan.
Gigi anterior rahang: Incisivus sentral lebar, incisivus lateral lebih sempit,
kaninus berbentuk konus.
Gigi anterior rahang bawah: Lebar incisivus sentral dan incisivus lateral hampir
sama, kaninus berbentuk konus.
2. Rahang atas lebih lebar dibandingkan rahang bawah.
3. Jumlah gigi pada bekas gigitan biasanya berjumlah 12 sebanyak jumlah gigi
anterior kedua rahang (6 anterior rahang atas dan 6 anterior rahang bawah).
Lukman (2006) mengatakan bahwa karakteristik catatan gigitan meliputi:
1. Bentuk empat gigi anterior rahang atas adalah segi empat dengan gigi sentral
memiliki bentuk yang lebih lebar.
2. Bentuk kaninus atas adalah bulat atau oval.
3. Bentuk gigi anterior rahang bawah adalah segi empat dengan lebar gigi yang
hampir sama.
4. Bentuk kaninus bawah adalah bulat atau oval.
5. Adanya jarak kemungkinan disebabkan oleh:
Pelaku tidak memiliki gigi.
Gigi lebih pendek dari ukuran normal.
Terdapat benda yang menghalangi gigitan.
Obyek yang digigit bergerak.

C. Klasifikasi Pola Gigitan


Pola gigitan mempunyai derajat perlakuan permukaan sesuai dengan kerasnya
gigitan, pada pola gigitan manusia terdapat 6 kelas (Lukman, 2006), yaitu:
a. Kelas I : pola gigitan terdapat jarak dari gigi incisivus dan kaninus.

21

b. Kelas II : menyerupai pola gigitan kelas I tetapi terlihat pola gigitan cusp bukal
dan palatal maupun cusp bukal dan cusp lingual gigi P1, tetapi derajat pola
gigitannya masih sedikit.

c. Kelas III : derajat luka lebih parah dari kelas II, yaitu permukaan gigit incisivus
telah menyatu akan tetapi dalamnya luka gigitan mempunyai derajat lebih parah
dari pola gigitan kelas II.

22

d. Kelas IV : terdapat luka pada kulit dan otot di bawah kulit yang sedikit terlepas
atau rupture sehingga terlihat pola gigitannya irreguler.

e. Kelas V : terlihat luka yang menyatu pola gigitan incisivus, kaninus, dan premolar
baik pada rahang atas maupun rahang bawah.

f. Kelas VI : memperlihatkan luka dari seluruh gigitan dari gigi rahang atas dan
bawah, serta jaringan kulit dan otot terlepas sesuai dengan kekerasan oklusi dan
pembukaan mulut

23

D. Berbagai jenis pola gigitan pada manusia.


Pola gigitan pada jaringan manusia sangatlah berbeda tergantung organ tubuh
mana yang terkena, apabial pola gigitan pelaku seksual mempunyailokasi tertentu,
pada penyiksaan anak mempunyai pola gigitan pada bagian tubuh tertentu pula akan
tetapi pada gigitan yang dikenal sebagai child abuse maka pola gigitannya hampir
semua bagan tubuh.
1. Pola gigitan heteroseksual.
Pola gigitan pada pelaku-pelaku hubungan intim antar lawan jenis dengan
perkataan lain hubungan seksual antara pria dan wanita terdapat penyimpangan
yang sifatnya sedikit melakukan penyiksaan yang menyebabkan lawan jenis
sedikit kesakitan atau menimbulkan rasa sakit.
a. Pola gigitan dengan aksi lidah dan bibir.
Pola gigitan ini terjadi pada waktu pelaksanaan birahi antara pria dan wanita.
b. Pola gigitan pada organ genital
Pola gigitan ini bila terjadi pada pria biasanya dilakukan gigitan oleh orang
yang dekat dengannya misalnya istrinya atau teman selingkuhnyanya yang
mengalami cemburu buta.
c. Pola gigitan pada sekutar organ genital.
Pola gigitan ini terjadi akibat pelampiasan dari pasangannya atau istrinya
akibat cemburu buta yang dilakukan pada waktu suaminya tertidur pulas
setelah melakukan hubungan seksual.
d. Pola gigitan pada organ genital.
Pola gigitan ini modus operandinya yaitu pelampiasan emosional dari lawan
jenis atau istri karena cemburu buta. Biasanya hal itu terjadi pada waktu
korban tertidur lelap stelah melakukan hubungan intim.
e. Pola gigitan pada mammae.
Pola gigitan ini terjadi pada waktu pelaksanaan senggama atau berhubungan
intim dengan lawan jenis. Pola gigitan ini baik disekitar papilla mammae dan
lateral dari mammae. Oleh karena mammae merupakan suato organ tubuh
setengah bulatan maka luka pola gigitan yang dominan adalah gigitan kaninus.
Sedangkan pola gigitan gigi seri terlihat sedikit atau hanya memar saja.
24

2. Pola gigitan pada penyikasaan anak.


Pola gigitan ini dapat terjadi pada seluruh lokasi atau di sekeliling tubuh anakanak atau balita yang dilakukan oleh ibunya sendiri. Hal ini disebabkan oleh suatu
aplikasi dari pelampiasan gangguan psikis dari ibunya oleh karena kenakalan
anaknya atau kerewelan anaknya ataupun kebandelan dari anknya.
3. Pola gigitan child abuse.
Pola gigitan ini terjadi akibat faktor-faktor iri dan dengki dari teman ibunya, atau
ibu anak tetangganya oleh karena anak tersebut lebih pandai, lebih lincah, lebih
komunikatif dari anaknya sendiri maka ia melakukan pelampiasan dengan
menggunakan gigitannya dari anak tersebut. Hal ini terjadi dengan rencana oleh
karena ditunggu pada waktu korban tersebut melewati pinggir atau depan
rumahnya dan kemudian setelah melakukan gigitan itu, ibu tersebut melarikan
diri.
Lokasi pola gigitan pada bagian tubuh tertentu yaitu daerah punggung, bahu atas,
leher.
4. Pola gigitan hewan
Pola gigitan hewan umumnya terjadi sebagai akibat dari penyerangan hewan
peliharaan kepada korban yang tidak disukai oleh hewan tersebut. Kejadian
tersebut dapat terjadi tanpa instruksi dari pemeliharanya atau dengan instruksi dari
pemeliharanya. Beberapa hewan yang menyerang korban karena instruksi dari
pemeliharanya biasanya berjenis herder atau doberman yang memang secara
khusus dipelihara pawang anjing di jajaran kepolisian untuk menangkap pelaku
atau tersangka. Pola gigitan hewan juga disebabkan sebagai mekanisme
pertahanan diri maupun sebagai pola penyerangan terhadap mangsanya.
a. Pola gigitan anjing biasanya terjadi pada serangan atau atas perintah
pawangnya atau induk semangnya. Misalnya dijajaran kepolisian untuk
mengejar tersangka atau pelaku dan selalu pola gigitan terjadi pada muka sama
seperti hewan buas lainnya antara lain harimau, singa, kucing, serigala.
25

b. Pola gigitan hewan pesisir pantai.


Pola gigitan ini terjadi apabila korban meninggal di tepi pantai atau korban
meninggal dibuang di pesisir pantai sehingga dalam beberapa hari atau
beberapa minggu korban tersebut digerogoti oleh hewan-hewan laut antara
lain kerang, tiram.
c. Pola gigitan hewan peliharaan.
Pola gigitan ini terjadi karena hewan peliharaan tersebut tidak diberi makan
dalam beberapa waktu yang agak lama sehingga ia sangat lapar sehingga
pemeliharanya dijadikan santapan bagi hewan tersebut.
5. Pola gigitan homoseksual atau lesbian.
Pola gigitan ini terjadi sesama jenis pada waktu pelampiasan birahinya. Biasanya
pola gigitan ini di sekitar organ genital yaitu paha, leher dan lain-lain.
6. Luka pada tubuh korban yang menyerupai luka pola gigitan.
Luka-luka ini terjadi pada mereka yang menderita depresi berat sehingga ia secara
nekat melakukan bunuh diri. Yang sebelumnya ia mengkonsumsi alkoholdalam
jumlah overdosis.
E. Analisa pola gigitan pada manusia.
Analisa pola gigitan dilakukan hanya pada korban yang terdapat pola gigitan manusia.
Sedangkan pola gigitan oleh hewan dapat segera diketahui. Tim identifikasi maupun
tim penyidik harus dapat dengan cepat membedakan pola gigitan hewan maupun
gigitan manusia di tempat kejadian perkara atau pada tubuh korban.
1. Bahan-bahan analisa.
Apabila dilakukan pencetakan pada pola gigitan manusia harus menggunakan
bahan cetak yang flow system antara lain alginate dan sejenisnya. Kemudian
untuk tubuh korban yang bulat adalah yang paling sulit dilakukan pencetakan.
Sehingga perlu penggunaan masker dari kain keras yang digunting dibentuk sesuai
dengan sekitar pola gigitan sehingga bahan cetak yang flow system tidak

26

berhambur keluar dari sekitar pola gigitan karena dijaga oleh masker yang
digunakan tersebut.
2. Cara mencetak pola gigitan
Mencetak pola gigitan dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain dengan
menggunakan mangkuk cetak dari masker kain keras atau dengan mengguanakan
kain kasa sepanjang diameter pencetakan dan berlapis-lapis. Berikutnya diaduk
bahan cetak yang flow system ditempatkan dan ditekan dengan getaran pada
sekitar pola gigitan kemudian mangkok cetak diisi setengah dari mangkok oleh
bahan yang flow system sekitar pola gigitan.
3. Hasil cetakan
Hasil cetakan dari pola gigitan menghasilkan suatu model dari gips yang telah
dicor dari model negatif kemudian dicekatkan pada okludator atau artikulator
apabila gigitannya tidak stabil. Hal ini dapat diketahui terdapat pola gigitan rahang
atas maupun pola gigitan rahang bawah.
4. Kontrol pola gigitan.
Kontrol pola gigitan dilakukan melalui artikulator dengan model cetakan pada
selempeng wax atau keju sehingga akan menampak pola gigitan.
F. Analisa pola gigitan pada buah
Analisa pola gigitan pada buah hanyalah buah tertentu saja misalnya pada apel yang
dikenal dengan Apple Bite Mark, dapat pula pada buah pear dan bangkuang. Pola
gigitan ini adalah penapakan dari hasil gigitan yang putus akibat gigi atas yang beradu
dengan gigi bawah. Sehingga terlihat hasil dari gigitan permukaan bukalis dari gigi
atas dengan gigi bawah.
Hal ini akan dilakukan pencetakan hasil gigitan apabila buah tersebut belum rusak.
Keadaan ini telah dilakukan identifikasi pola gigitan Apple Bite Mark pada peristiwa
terbunuhnya

pelukis nasional Basuki Abdullah, pelaku setelah melakukan

pembunuhan ia memakan makanan di meja makan kemudian menggigit apel dari


lemari es.
Pertama-tama dilakukan pencetakan bekas gigitan pada buah apel tersebut, kemudian
dicekatkan pada okludator. Para tersangka dilakukan pencetakan gigi geligi rahang
27

atas dan rahang bawah kemudian model rahangnya dicekatkan pada okludator, bila
tersangka lebih dari satu maka terdapat banyak model pada okludator dengan diberi
nomor A, B, C, D atau I, II, III, IV dan seterusnya. Satu per satu tersangka diintergrasi
sambil diperlihatkan model rahangnya serta diminta untuk menggigit buah apel
dengan diameter sebesar yang ditempat kejadian perkara. Apabila mereka tidak bisa
menolak atau tidak mengelak dari yang dilihatnya yaitu berupa model giginya pada
okludator, hasil gigitannya dari buah apel yang disediakan serta buah apel bekas
gigitan dari pelaku maka dialah pelakunya. Proses ini dilaksanakan diruang tertutup
oleh penyidik Polri dan Tim Identifikasi dengan penjagaan secukpnya. Data-data
semua itu dicacat kedalam formulir baku mutu, dontogram, serta lampiranlampairannya, ini semua penting untuk menyusun berita acara tuntutan dalam proses
suatu peradilan. Pada peristiwa Basuki Abdullah, hal tersebut terungkap tukang
kebunnya adalah pelaku pembunuhan serta pencuri koleksi jam antiknya dengan
emukul kepala korban menggunakan senapan angin yang tergantung di dinding. Dari
tujuh tersangka kesemuanya adalah orang dalam.
CARA KERJA ANALISA BITE MARK
a. Model gigi rahang atas (RA) dan rahang bawah (RB) masing-masing anggota
dikumpulkan terkebih dahulu pada pembimbing.
b. Salah satu anggota kelompok melakukan gigitan (gigitan dangkal dan gigitan
dalam) pada apel hijau yang telah disediakan.
c. Hasil gigitan dicetak dengan alginate dengan perluasan tepi area gigitan 1 cm.
cetakan kemudian diisi gips stone.
d. Identifikasi pola gigitan dan cirri spesifik gigi-gigi yang terlihat pada cetakan bite
mark.
e. Dilakukan penapakan (tracing) pada cetakan bite mark menggunakan plastic
transparan dan kemudian dihitung lebar mesiodistal gigi yang teridentifikasi pada
bite mark.
f. Membandingkan ciri spesifik yang telah diidentifikasi pada cetakan bite mark
dengan model gigi RA dan RB milik masing-masing anggota kelompok.
g. Menentukan satu anggota kelompok sebagai pelaku gigitan sesuai dengan hasil
perbandingan yang telah dilakukan.
28

h. Dilakukan hasil perhitungan lebar mesiodistal dari model gigi orang yang
dianggap sebagai pelaku gigitan.
i. Membandingkan hasil pengukuran lebar mesiodistal gigi dari hasil penapakan bite
mark dan dari model gigi, kemudian distorsi yang diperoleh dicatat dalam tabel.
TKP bekas gigitan
Untuk idenifikasi TKP bekas gigitan tujua utamanya yaitu untuk merakan bekas gigitan
yang ada dan mengambil sampel air liur pelaku di TKP. Tindakan ini dilakukan setelah
TPTKP umum sudah dilaksanakan dan jangan menyentuh bekas gigitan. Setelah itu
dibuat foto khusus close up pada bekas gigian yang ditemukan tanpa merubah posisi
objek/jenazah, gunakan tolak ukur sedekat mungkin dengan bekas gigitan (perhatikan
teknik pemotretan). Jika bentuk bekas gigitan diduga distorsi karena posisi objek/jenazah,
perbaiki posisi demikian rupa sehingga bentuk bekas gigitan berada pada posisi normal,
lalu ulangi pemotretan. Untuk mengambil sampel air pelaku, ambil kapas, basahi dengan
larutan saline, peras hingga cairan habis. Usap di daerah bekas gigitan dan sekitarnya
yang tidak mengalami luka dengan arah memutar searah jarum jam sebanyak satu putaran
penuh. Lalu segera masukkan kapas tersebut ke dalam kantong plastik yang baru, tutup
dan segel. Beri catatan apakah ada darah korban yang mungkin terambil pada kapas
tersebut, kirim untuk pemeriksaan golongan darah. Jika memungkinkan untuk melakukan
pencetakan bekas gigitan, dapat dilakukan setelah pemotretan dan pengambilan sampel
saliva. Setelah itu korban dikirim ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut.
Pemeriksaan kedokteran gigi forensik pada kasus bekas gigitan
Foto bekas gigitan yang dibuat di TKP, dicetak alam ukuran yang sesungguhnya (life
size), dan selanjutnya menunggu data gigi dari tersangka. Lalu sampel saliva pelaku dari
TKP diperiksa goongan darahnya, selanjtnya menunggu golongan darah tersangka. Jika
tersangka ditemukan lakukan perbandingan golongan darah dengan data dari TKP. Bila
tidak sesuai, tersangka dapat dibebaskan, jika sesuai buat cetakan gigi tersangka. Untuk
setiap tindakan, buat informasi consent/surat pernyataan tidak berkeberatan. Buat jejas
permukaan gigi model gigi tersangka di atas lembar transparan. Pelajari kemungkinan
kesesuaian setara jejas gigitan tersangka dengan foto life size bekas gigitan. Bila terdapat
29

kesesuaian, tersangka adalah mungkin pelaku, jika tidak kesuaian, tersangka bukan
pelaku.
2.7.3 Visum Et Repertum
Definisi
Visum et repertum berasal dari kata latin yang diterjemahkan ke dalam bahasa
Inggris yaitu something seen atau appearance (visum) dan inventions atau find out
(repertum). Menurut istilah, visum et repertum berarti laporan tertulis yang dibuat oleh
dokter berdasarkan sumpah jabatannya terhadap apa yang dokter lihat dan periksa
berdasarkan keilmuannya. Laporan tersebut dokter buat atas permintaan tertulis dari pihak
berwenang untuk kepentingan penyidikan atau pemeriksaan perkara di pengadilan.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pihak berwenang yang berhak meminta
pembuatan visum et repertum kepada dokter adalah polisi, jaksa dan hakim. Jaksa dan
hakim meminta pembuatannya melalui polisi.
Struktur Visum et Repertum
Unsur penting dalamVeR yang diusulkan oleh banyak ahli adalah sebagai berikut :
1. Pro Justitia
Kata tersebut harus dicantumkan di kiri atas, dengan demikian VeR tidak perlu
bermeterai.
2. Pendahuluan
Pendahuluan memuat: identitas pemohon visum et repertum, tanggal dan pukul
diterimanya permohonan VeR, identitas dokter yang melakukan pemeriksaan,
identitas subjek yang diperiksa : nama, jenis kelamin, umur, bangsa, alamat,
pekerjaan, kapan dilakukan pemeriksaan, dan tempat dilakukan pemeriksaan.
3. Pemberitaan (Hasil Pemeriksaan)
Memuat hasil pemeriksaan yang objektif sesuai dengan apa yang diamati,
terutama dilihat dan ditemukan pada korban atau benda yang diperiksa.
Pemeriksaan dilakukan dengan sistematis dari atas ke bawah sehingga tidak ada
yang tertinggal. Deskripsinya juga tertentu yaitu mulai dari letak anatomisnya,
koordinatnya (absis adalah jarak antara luka dengan garis tengah badan, ordinat
adalah jarak antara luka dengan titik anatomis permanen yang terdekat), jenis luka
30

atau cedera, karakteristik serta ukurannya. Rincian tersebut terutama penting pada
pemeriksaan korban mati yang pada saat persidangan tidak dapat dihadirkan
kembali.
Pada pemeriksaan korban hidup, bagian pemberitaan terdiri dari:
1. Pemeriksaan anamnesis atau wawancara mengenai apa yang dikeluhkan dan
apa yang diriwayatkan yang menyangkut tentang penyakit yang diderita
korban sebagai hasil dari kekerasan/tindak pidana/diduga kekerasan.
2. Hasil pemeriksaan yang memuat seluruh hasil pemeriksaan, baik
pemeriksaan fisik maupun pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan
penunjang lainnya. Uraian hasil pemeriksaan korban hidup berbeda dengan
pada korban mati, yaitu hanya uraian tentang keadaan umum dan perlukaan
serta hal-hal lain yang berkaitan dengan tindak pidananya (status lokalis).
3. Tindakan dan perawatan berikut indikasinya, atau pada keadaan sebaliknya,
alasan tidak dilakukannya suatu tindakan yang seharusnya dilakukan. Uraian
meliputi juga semua temuan pada saat dilakukannya tindakan dan perawatan
tersebut. Hal tersebut perlu diuraikan untuk menghindari kesalahpahaman
tentang tepat/tidaknya penanganan dokter dan tepat/tidaknya kesimpulan yang
diambil.
4. Keadaan akhir korban, terutama tentang gejala sisa dan cacat badan
merupakan hal penting untuk pembuatan kesimpulan sehingga harus diuraikan
dengan jelas.
Pada bagian pemberitaan memuat 6 unsur yaitu anamnesis, tanda vital, lokasi
luka pada tubuh, karakteristik luka, ukuran luka, dan tindakan pengobatan atau
perawatan yang diberikan.
4. Kesimpulan
Memuat hasil interpretasi yang dapat dipertanggung- jawabkan secara ilmiah
dari fakta yang ditemukan sendiri oleh dokter pembuat VeR, dikaitkan dengan
maksud dan tujuan dimintakannya VeR tersebut. Pada bagian ini harus memuat
minimal 2 unsur yaitu jenis luka dan kekerasan dan derajat kualifikasi luka. Hasil
pemeriksaan anamnesis yang tidak didukung oleh hasil pemeriksaan lainnya,

31

sebaiknyatidakdigunakandalammenarikkesimpulan.Pengambilankesimpulanhasil
anamnesis hanyabolehdilakukandenganpenuhhati-hati.
Kesimpulan VeR adalah pendapat dokter pembuatnya yang bebas, tidak terikat
oleh pengaruh suatu pihak tertentu. Tetapi di dalam kebebasannya tersebut juga
terdapat pembatasan, yaitu pembatasan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi,
standar profesi dan ketentuan hukum yang berlaku. Kesimpulan VeR harus dapat
menjembatani antara temuan ilmiah dengan manfaatnya dalam mendukung
penegakan hukum. Kesimpulan bukanlah hanya resume hasil pemeriksaan,
melainkan lebih ke arah interpretasi hasil temuan dalam kerangka ketentuanketentuan hukum yang berlaku.
5. Penutup
Memuat pernyataan bahwa keterangan tertulis dokter tersebut dibuat
dengan mengingat sumpah atau janji ketika menerima jabatan atau dibuat dengan
mengucapkan sumpah atau janji lebih dahulu sebelum melakukan pemeriksaan
serta dibubuhi tanda tangan dokter pembuat VeR.

32

Contoh Visum Et Repertum

BAB III
PENUTUP
3.1

KESIMPULAN
33

Gigi-gelligi dapat berperan banyak dalam dunia forensik. Gigi dapat digunakan
untuk mengidentifikasi ras korban maupun pelaku dari gigi geligi dan antropologi ragawi,
mengidentifikasi sex atau jenis kelamin korban melalui gigi-geligi dan tulang rahang serta
antrolopogi ragawi, mengidentifikasi umur korban (janin) melalui benih gigi, mengidentifikasi
umur korban melalui gigi sementara, mengidentifikasi umur korban melalui gigi campuran,
mengidentifikasi umur korban melalui gigi tetap, mengidentifikasi korban melaluikebiasaan
menggunakan gigi, mengidentifikasi korban dari pekerjaan menggunakan gigi, mengidentifikasi
golongan darah korban melalui pulpa gigi, mengidentifikasi golongan darah korban melalui air
liur, mengidentifikasi DNA korban dari analisa air liur dan jaringan dari sel dalam rongga mulut,
mengidentifikasi korban melalui gigi palsu yang dipakainya, mengidentifikasi wajah korban dari
rekontruksi tulang rahang dan tulang facial, mengidentifikasi wajah korban, mengidentifikasi
korban melalui pola gigitan pelaku, mengidentifikasi korban melalui eksklusi pada korban missal.
Bite marks yang ada harus diperiksa saat melakukan visum, dan terdapat 6 klasifikasi
untuk setiap bentuk dari bite marks. Bite marks juga memiliki berbagai jenis pola, baik dari pola
gigitan manusia maupun hewan. Dalam hal ini dokter gigi hanya melakukan pemeriksaan pada
bite marks dari manusia, sehingga dokter gigi harus dapat segera membedakan antara gigitan
manusia dan gigitan hewan.

3.2

SARAN
Dalam pembahasan ini masih terdapat keterbatasan-keterbatasan dari segi materi,

sehingga mahasiswa disarankan untuk mempelajari lebih mendalam untuk dapat lebih
memahaminya.

DAFTAR PUSTAKA
Afandi, D. 2010. Visum et Repertum Perlukaan: Aspek Medikolegal dan Penentuan
Derajat Luka. Diakses pada Selasa, 10 Mei 2016 Pukul : 23.37 WITA.
http://indonesia.digitaljournals.org/index.php/idnmed/article/viewFile/722/717
34

Bowers, M. 2004. Forensic Dentistry: A Field Investigators Handbook. Elsevier


Publishing
Brogdon, B. G. 1998. Forensic Radiology. New York: CRC Press
Eckert, W. G. 2008. Forensic Dentistry. International Reference Organization in Forensic
Medicine and Sciences. Michigan
Lukman, D. 2006. Ilmu kedokteran gigi forensik jilid 1. Yogyakarta : Sagung Seto
Lukman, D. 2006. Ilmu kedokteran gigi forensik jilid 2. Yogyakarta : Sagung Seto
Van der Velden, A., Spiessens, M., and Williems, G. 2006. Bite Mark Analysis and
Comparison Using Image Perception Technology. The Jurnal of Forensic OdontoStomatology. 24 (1):14-17

35