Anda di halaman 1dari 26

TREMATODA HATI DAN PARU

M. Ibnu Kahtan

TUJUAN PEMBELAJARAN
TIU :
Mahasiswa dapat menjelaskan cacing trematoda hati dan paru yang dapat
menginfeksi manusia
TIK :
Mahasiswa dapat :
1. Menjelaskan morfologi telur, larva dan cacing dewasa trematoda hati
dan paru
2. Menjelaskan siklus hidup cacing trematoda hati dan paru
3. Menjelaskan epidemiologi cacing trematoda hati dan paru
4. Menjelaskan terapi farmakologi cacing trematoda hati dan paru

TREMATODA HATI (Liver flukes)

Distribusi
Spesies

Geografi
Negara

Ophistorchis felineus

Eropa Timur dan Tengah, Siberia

Ophistorchis viverini

Eropa Timur dan Tengah, Siberia

Clonorchis sinensis
Faciola hepatica

Jepang, RRC dan Korea


Amerika latin, Perancis, negara sekitar laut tengah

Cacing dewasa

Morfologi Trematoda Hati

C.sinensis

O.viverrini

Ukuran : 10-25 mm x 3-5 mm


Bentuk : pipih, lonjong, menyerupai daun

O. felineus

F. hepatica

Anatomi
Trematoda Hati

Faciola hepatica

C. sinensis
Egg ovoidal (light-bulb-shaped)
with pronounced shoulders:
narrow, raised operculum
abopercular end with a buttonhook projection
sometimes incomplete
size : 27 to 35 x 12 to 20 m
in feces or duodenal drainage .

O.viverini

Egg ovoidal (light-bulb-shaped);


with a slightly raised
relatively broad operculum
abopecular end with or without
prominent papilla
Size : 23 to 33 x 12 to 20 m
from feces or duodenal drainage.

Faciola hepatica
Bentuk bulat
Ukuran : 140 x 90 mikron
Keluar dari saluran empedu ke
dalam tinja dalam keadaan
belum matang

Siklus Hidup
Trematoda

Siklus hidup Faciola hepatica

Hospes Definitif
Spesies

HP 1

HP 2

HD

Opistorchis felineus

Bulinus spp

Ikan air tawar


Cyprinus carpio

Opistorchis viverini

Bulinus spp

Ikan air tawar


Cyprinus carpio

Kucing

Clonorchis sinensis

Keong air

Ikan air tawar

Manusia dan
mamalia

Tumbuhan air

Manusia, sapi,
domba

Faciola hepatica

Lymnaea spp

Anjing, kucing,
rubah dan manusia

Patologi Trematoda Hati


Spesies

Patologi

Patologi klonorkiasis terjadi di saluran empedu bagian distal di dekat


lobus kiri hati.
Clonorchis sinensis
Lesi utama disebabkan oleh aksi iritasi dan sekresi toksik cacing.
Opistorchis felenius Iritasi menyebabkan proliferasi adenomatous epitel empedu dan
Opistorchis viverrini
pembentukan kriptus.
Dilatasi saluran empedu yang besar, fibrosis periductal, hiperplasia
epitel, pembentukan saluran empedu baru dan kolangitis.
Rongga sering ditempati oleh parasit , telur dan leukosit.
Epitel saluran tersebut mengalami atropi.
Ulserasi terjadi karena bakteri patogen

Faciola hepatica

Migarasi cacing dewasa muda ke saluran empedu menimbulkan


kerusakan parenkim hati.
Saluran empedu mengalami peradangan, penebalan dan sumbatan
sehingga menimbulkan serosis semiportal.
Sekresi prolin oleh cacing dewasa diduga menjadi penebalan dinding
saluran empedu.

Gejala Klinis
Spesies

Gejala Klinis

O. felineus

Stadium akut: demam, sakit perut, mual, muntah.


Stadium kronik: penyumbatan saluran empedu, inflamasi, fibrosis sal. empedu,
abses hati, pankreatitis, cholangitis bernanah.

O.viverini

C.sinensis

Faciola hepatica

Stadium akut: lesu, letih, lemas, dispepsia (gangguan pencernaan), sakit perut, tidak
nafsu makan, hepatomegali sedang.
Stadium kronik: jaundice, sirosis, cholangitis bernanah, cholecystitis, peritonisitis
empedu. Risiko menjadi tumor malignan/ganas pada saluran empedu.
Stadium akut: demam, diare, tidak nafsu makan,rash, edema, buta malam hari,
pembesaran hati, swollen abdominal.
Stadium kronik: penyumbatan empedu, pembentukan batu intrahepatika,
cholangitis bernanah, cholecystitis, cholelithiasis, abses hati dan empedu,
pankreatitis, dan hepatitis. Risiko menjadi tumor malignan/ganas pada saluran
empedu.
Demam, nyeri bagian kanan atas abdomen, hepatomegali, malaise, urtikaria,
eosinofilia

Epidemiologi
Spesies

Epidemiologi

Ophistorchis felineus

Manusia dan hewan reservoar terinfeksi karena memakan ikan air


tawar mentah yang mengandung metaserkaria.
Penyaji makanan ikan/tukang ikan memasukan metaserkaria ke
mulut dari tangan yang terkontaminasi.
Pemeliharaan ikan di kolam. Ikan diberikan tinja manusia.
Prevalensi pada anak balita rendah.

Ophistorchis viverini
Clonorchis sinensis

Faciola hepatica

Menelan/memakan tanaman air tawar yang terinfeksi


metaserkaria seperti watercress.
Negara Sedang Berkembang; kebiasaan bercocok tanam di
Greenhouse, tanaman air atau tanaman lain terinfeksi oleh hewan
dengan fasciolosis.
Kebiasaan memakan daging hati mentah di timur tengah

Diagnosis
Diganosis ditegakkan :
1. Menemukan telur dalam tinja, cairan duodenum, atau cairan
empedu
2. Serologi : ELISA
3. USG : menegakkan diagnosis fasioliasis bilier

Trematoda Paru

Paragonimus westermani
Umumnya ditemukan di negara
1. Asia
2. Afrika
3. Amerika Selatan.
Hospes definitive (HD) : manusia dan karnivora peliharaan
Cara penularan : makan daging kepiting/udang batu yang
mengandung metaserkaria.

Morfologi

Cacing bulat coklat kemerah-merah spt kopi/buah plum.


Ukuran cacing 4-10 mm. Telur berukuran 55x85

Siklus Hidup
P. westermani

DAUR HIDUP
DAUR HIDUP DI TUBUH MANUSIA

Metserkaria usus halus ekskistasi trematoda


muda menembus dinding usus diafragma
penetrasi ke paru-paru menjadi kista (1-2 cm)
matang bertelur telur dikeluarkan bersama sputum
(Jika sputum tertelan, telur ditemukan di dalam tinja)

Hospes
Spesies

HP 1

P. westermani Keong air tawar

HP 2
Kepiting air tawar, udang air
tawar, daging babi hutan yang
liar

HD
manusia dan
mamalia

Gejala Klinis
Stadium akut

Stadium kronik

Batuk
Demam
sputum berdarah
kehilangan selera makan.

batuk dengan sputum kecoklat-coklatan


sakit dada
berkeringat pada malam hari
paragonimiasis ektopik misal ke otak
Cacing meletakan telur shg menyebabkan
abses Granulomatous gejala seperti epilepsi.

DIAGNOSIS
1. Diagnosis klinis didasarkan pada riwayat
dan gejala klinis.
2. Diagnosis fakta/sebenarnya (diagnosis
secara parasitologi); menemukan telur di
dalam sputum (dahak).
3. Pemeriksaan serologi

Pengobatan dan pencegahan


Pengobatan dan Pemberantasan
Praziquantel 3 x 25 mg/kg bb selam 2 hari.
Pencegahan
1. Memasak crustaceans (udang, kepiting).
2. Kondisi sanitasi diperbaiki.

TERIMA
KASIH