Anda di halaman 1dari 20

TUGAS PENGANTAR AMDAL

LIMBAH BAHAN BERBAHAYA & BERACUN (B3)


(Studi Kasus Desa Bencah, Bangka Selatan, Bangka Belitung)
Disusun Untuk Melengkapi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Pengantar AMDAL

Disusun Oleh:
HAIKAL PUTRA TAMA
1113020010
RIZQI RAHAYU
1113020017
Kelas 3 SIPIL 2 PAGI

JURUSAN TEKNIK SIPIL


PROGRAM STUDI TEKNIK KONSTRUKSI SIPIL
POLITEKNIK NEGERI JAKARTA
DEPOK
2016

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kehadirat Allah S.W.T. atas segala nikmat dan karunia-Nya
sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Makalah ini
merupakan salah satu tugas mata kuliah Pengantar AMDAL (Analisis Mengenai
Dampak Lingkungan). Didalam makalah ini berisi pembahasan kami tentang studi
kasus mengenai Limbah Bahan Berbahaya & Beracun (B3).
Makalah ini dapat terselesaikan tentunya berkat bantuan dan dukungan dari berbagai
pihak yang terlibat. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini kami mengucapkan
terima kasih kepada:
1.

Ibu Ir. Wahyuni Susilowati, M.Si. selaku dosen pengajar mata kuliah
Pengantar AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) Jurusan

2.

Teknik Sipil, Politeknik Negeri Jakarta.


Kedua Orang Tua kami, atas Doa dan Motivasinya yang senantiasa
membantu kami dalam menyelesaikan makalah mengenai studi kasus
Limbah Bahan Berbahaya & Beracun (B3) ini dalam mata kuliah

3.
4.

Pengantar AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan).


Rekan - rekan yang telah memberikan semangat dan dukungan moril.
Berbagai pihak lain yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini.

Kami juga menyadari bahwa dalam penyelesaian makalah ini masih banyak
kekurangan yang dikarenakan kemampuan dan pengetahuan kami yang terbatas.
Untuk itu, kami mengharapkan berbagai kritik dan saran dari rekan - rekan pembaca
agar pada kesempatan berikutnya dapat lebih sempurna.
Kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat dan dapat dijadikan inspirasi
serta pelajaran yang berharga untuk kita semua.
Depok, Mei 2016

Penyusun

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI

ii

BAB I PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang

1.2 Rumusan Masalah

1.3 Tujuan Penulisan

BAB II DASAR TEORI

2.1 Pengertian Limbah B3

2.2 Identifikasi Limbah B3

2.2.1Limbah B3 Berdasarkan Sumber

2.2.2Limbah B3 Berdasarkan Karakteristik


2.3 Pengelolaan Limbah B3

2.4 Tujuan Pengelolaan Limbah B3

BAB III KASUS PENCEMARAN LIMBAH B3 8


3.1

Artikel Kasus

BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN

4.1 Pengelolaan Dan Pengolahan Limbah B3 Secara Umum

4.2 Analisa dan Pembahasan Cara Menangani Pencemaran Limbah B3 10


4.3 Standar Baku Mutu Tanah

12

BAB V PENUTUP 14
5.1 Kesimpulan

14

5.2 Saran 14
DAFTAR PUSTAKA

15

ii

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Industri di Indonesia sekarang ini berkembang dengan pesat dan baik.

Jumlahnya pun beragam. Serta saat ini Indonesia dapat dikategorikan sebagai Negara
yang perkembangan industrinya cukup tinggi dan dikategorikan sebagai Negara semi
Industri.
Meningkatnya pertumbuhan industri seperti industri pertambangan membawa
dampak terhadap meningkatnya permasalahan lingkungan yang disebabkan oleh
pencemaran B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun). Beberapa kasus pencemaran
lingkungan yang disebabkan oleh B3 yang dihasilkan industri pertambangan telah
menjadi topik hangat di media masa. Seperti lahan persawahan di daerah Bangka
Belitung yang sudah terkontaminasi limbah B3.
B3 bagi lingkungan hidup sangat tidak baik untuk kesehatan masyarakat
umum dan makhluk hidup yang ada di lingkungan tersebut. B3 yang dihasilkan
industri-industri sangat merugikan bagi lingkungan sekitar, jika tidak diolah dengan
baik untuk menjadikannya bermanfaat. Terutama B3 logam berat yang banyak
ditemukan di sekitar lingkungan industri pertambangan.
Kegiatan industri disamping bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan,
ternyata juga menghasilkan limbah sebagai pencemar lingkungan perairan, tanah,
dan udara. Limbah cair, yang dibuang ke perairan akan mengotori air yang
dipergunakan untuk berbagai keperluan dan mengganggu kehidupan biota air.
Limbah padat akan mencemari tanah dan sumber air tanah. Limbah gas yang
dibuang ke udara pada umumnya mengandung senyawa kimia berupa SOx, NOx,
CO, dan gas-gas lain yang tidak diinginkan. Adanya SO2 dan NOx diudara dapat
menyebabkan terjadinya hujan asam yang dapat menimbulkan kerugian karena
merusak bangunan, ekosistem perairan, lahan pertanian dan hutan.
Limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) yang sangat ditakuti adalah
limbah dari industri kimia. Limbah dari industri kimia pada umumnya mengandung
berbagai macam unsur logam berat yang mempunyai sifat akumulatif dan beracun
(toxic) sehingga berbahaya bagi kesehatan manusia (Dinkesjatim, 10 April 2011,
URL).

Dengan adanya permasalahan limbah B3 inilah yang melatarbelakangi


penulis untuk melakukan kajian mengenai limbah B3 sebagai salah satu unsur
perusak keseimbangan lingkungan hidup. Limbah B3 secara nyata telah menciptakan
dampak negatif bagi lingkungan hidup serta kelangsungan hidup dari semua mahluk
hidup yang ada. Agar seluruh masyarakat Indonesia dapat mengetahui mengenai
dampak negatif dari limbah B3 ini maka saya akan menyuguhkan pula contoh kasus
nyata mengenai pencemaran limbah B3 ini dan cara penanganan pengelolaan limbah
B3.
1.2

Rumusan Masalah
Adapun masalah yang dibahas dalam makalah ini adalah:
1. Apa saja jenis dan karakteristik limbah B3?
2. Bagaimana cara menangani pencemaran limbah B3?

1.3

Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah:
1. Untuk mengetahui jenis dan karakterikstik limbah B3.
2. Untuk mengetahui cara menangani pencemaran limbah B3.

BAB II
DASAR TEORI
2.1

Pengertian Limbah B3
Menurut PP No. 101 Tahun 2014, yang dimaksud dengan:
1. Bahan Berbahaya dan Beracun yang selanjutnya disingkat B3 adalah zat,
energi, dan/atau komponen lain yang karena sifat, konsentrasi, dan/atau
jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat
mencemarkan

dan/atau

merusak

lingkungan

hidup

dan/atau

membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup


manusia dan mahluk hidup lain.
2. Limbah adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan.
3. Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun yang selanjutnya disebut Limbah
B3 adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan yang mengandung B3.
Jadi, limbah B3 dapat diartikan sebagai sisa suatu usaha dan/atau kegiatan
yang mengandung bahan berbahaya dan/atau beracun yang karena sifat dan/atau
konsentrasinya dan/atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung,
dapat

mencemarkan

dan/atau

merusak

lingkungan

hidup,

dan/atau

dapat

membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia dan


makhluk hidup lain.
Limbah B3 terdiri dari bermacammacam fase, yaitu: limbah B3 berupa fase
cair (oli bekas), padat (baterai bekas), gas dan partikel.
2.2

Identifikasi Limbah B3

2.2.1 Limbah B3 Berdasarkan Sumber


Golongan limbah B3 yang berdasarkan sumber dibagi menjadi:
1. Limbah B3 dari sumber spesifik
Limbah B3 dari sumber spesifik adalah limbah B3 sisa proses suatu
industri atau kegiatan yang secara spesifik dapat ditentukan.
2. Limbah B3 dari sumber tidak spesifik
Limbah B3 dari sumber tidak spesifik adalah limbah B3 yang pada
umumnya berasal bukan dari proses utamanya:
a. kegiatan pemeliharaan alat,
b. pencucian,
c. pengemasan, dll.
3. Limbah B3 dari bahan kimia kedaluwarsa; tumpahan; sisa kemasan;
buangan produk yang tidak memenuhi spesifikasi
3

2.2.2

Limbah B3 Berdasarkan Karakteristik


Limbah yang termasuk limbah B3 adalah limbah yang memiliki salah satu

atau lebih dari karakteristik-karakteristik sebagai berikut:


1. Mudah Meledak (Explosive)
Limbah mudah meledak dalam suhu dan tekanan standar (25C, 760
mmHg) atau limbah yang dapat merusak lingkungan sekitarnya karena
gas panas dan bertekanan tinggi sebagai akibat dari reaksi kimia dan
fisika limbah tersebut.
2. Mudah Terbakar (Flammable)
Berikut ini adalah ciri-ciri limbah B3 yang tergolong mudah terbakar:
a. Limbah yang berupa cairan yang mengandung alkohol kurang dari
24% volume.
b. Pada titik nyala tidak lebih dari 60C (140F) akan menyala apabila
terjadi kontak dengan api, atau sumber nyala lain pada tekanan udara
760 mmHg.
c. Limbah yang bukan berupa cairan pada temperatur dan tekanan
standar (25C, 760 mmHg) mudah menyebabkan kebakaran melalui
percikan api, gesekan, penyerapan uap air atau perubahan kimia
secara spontan dan bila terbakar dapat menyebabkan kebakaran yang
terus menerus.
d. Merupakan limbah yang bertekanan yang mudah terbakar.
e. Merupakan limbah pengoksidasi
3. Bersifat Reaktif
Berikut ini adalah ciri-ciri limbah B3 yang tergolong sifat reaktif:
a. Limbah yang tidak stabil.
b. Limbah yang dapat bereaksi hebat dengan air.
c. Limbah yang apabila bercampur dengan air ledakan, uap, gas dan
asap beracun.
d. Sianida, Sulfida atau Amoniak yang pada kondisi pH antara 2 dan
12,5 ledakan, uap, gas dan asap beracun.
e. Limbah yang dapat mudah meledak atau bereaksi pada suhu dan
tekanan standar (25C, 760 mmHg)
f. Limbah yang menyebabkan kebakaran karena melepas atau
menerima oksigen atau limbah organik peroksida yang tidak stabil
dalam suhu tinggi.
4. Beracun (Toxic Waste)
Limbah beracun adalah limbah yang mengandung pencemar yang
berkemampuan meracuni, melukai, menjadikan cacat bahkan sampai
membunuh makhluk hidup atau sakit yang serius apabila masuk ke

dalam tubuh melalui panca indera dalam jangka panjang ataupun jangka
pendek.
5. Penyebab Infeksi/Penyakit
Limbah yang menyebabkan infeksi adalah limbah laboratorium yang
terinfeksi penyakit atau limbah yang mengandung kuman penyakit,
seperti bagian tubuh manusia yang diamputasi dan cairan tubuh manusia
yang terkena infeksi sehingga nantinya dapat menularkan penyakit dari
satu orang ke orang lainnya.
6. Bersifat Korosif (Menimbulkan karat)
Berikut ini adalah ciri-ciri limbah B3 yang tergolong sifat korosif:
a. Limbah yang menyebabkan iritasi pada kulit.
b. Menyebabkan proses pengkaratan pada baja dengan laju korosi >
6,35 mm/tahun dengan temperatur pengujian 55C
c. Memiliki pH 2,0 untuk limbah bersifat asam dan 12,5 untuk
yang bersifat basa.
7. Uji Toksikologi
Pengujian toksikologi yang dimaksud adalah dengan LD50 (Lethal Dose
Fifty) adalah perhitungan dosis (gram pencemar per kilogram berat
badan) yang dapat menyebabkan kematian 50% populasi makhluk
hidup

yang

dijadikan percobaan. Apabila LD 50 lebih besar dari 15

gram per kilogram maka limbah tersebut bukan limbah B3.


Sumber Limbah B3 adalah setiap orang atau Badan Usaha yang
menghasilkan Limbah B3 dan menyimpannya untuk sementara waktu di dalam
lokasi kegiatan sebelum Limbah B3 tersebut diserahkan kepada pihak yang
bertanggung jawab untuk dikumpulkan dan diolah. Sumber penghasil limbah B3
cukup beragam, diantaranya berasal dari rumah sakit, PLN, Laboratorium Pengujian,
dan Laboratorium Penelitian.
2.3

Pengelolaan Limbah B3
Pengelolaan limbah B3 adalah kegiatan yang meliputi pengurangan,

penyimpanan, pengumpulan, pengangkutan, pemanfaatan, pengolahan, dan/atau


penimbunan. Pengolahaan ini bertujuan untuk mencegah dan menanggulangi
pencemaran dan atau kerusakan lingkungan hidup yang diakibatkan oleh limbah B3
serata melakukan pemulihan kualitas lingkungan yang telah tercemar. (PP No.101
Tahun 2014 Pasal 1).
Perbedaan paling penting yang membedakan pengelolaan limbah bahan
berbahaya

dan

beracun

(B3)

dengan

pengelolaan

limbah

lain

adalah
5

pertanggungjawaban hukumnya (law liability). Pada limbah non-B3 hasil akhir


pengelolaan lebih penting dibandingkan dengan cara mencapai hasil tersebut.
Artinya, bila suatu perusahaan telah memenuhi baku mutu limbah, maka perusahaan
tersebut telah berhasil melakukan pengelolaan limbah. Namun, pada limbah B3,
selain hasil akhir, cara pengelolaan juga harus memenuhi peraturan yang berlaku.
Jadi, untuk berhasil mengelola limbah B3, tidak cukup hanya memenuhi baku mutu
limbah B3 saja, cara mengelola seperti pencatatan, penyimpanan, pengangkutan,
pengolahan dan pembuangan harus juga memenuhi peraturan yang berlaku. Sekali
lagi, dalam limbah B3 cara mengelola adalah suatu hal yang penting untuk
diperhatikan. Dalam tuntutan hukum, limbah B3 tergolong dalam tuntutan yang
bersifat formal. Artinya, seseorang dapat dikenakan tuntutan perdata dan pidana
lingkungan karena cara mengelola limbah B3 yang tidak sesuai dengan peraturan,
tanpa perlu dibuktikan bahwa perbuatannya tersebut telah mencemari lingkungan.
Sekali lagi, mengetahui cara pengelolaan limbah B3 yang memenuhi persyaratan
wajib diketahui oleh pihak-pihak yang terkait dengan limbah B3 (Anonim, 2007).
2.4

Tujuan Pengelolaan Limbah B3


Tujuan pengelolaan B3 adalah untuk mencegah dan menanggulangi

pencemaran atau kerusakan lingkungan hidup yang diakibatkan oleh limbah B3 serta
melakukan pemulihan kualitas lingkungan yang sudah tercemar sehingga sesuai
dengan fungsinya kembali.
Dari hal ini jelas bahwa setiap kegiatan/usaha yang berhubungan dengan B3,
baik penghasil, pengumpul, pengangkut, pemanfaat, pengolah dan penimbun B3,
harus memperhatikan aspek lingkungan dan menjaga kualitas lingkungan tetap pada
kondisi semula. Dan apabila terjadi pencemaran akibat tertumpah, tercecer dan
rembesan limbah B3, harus dilakukan upaya optimal agar kualitas lingkungan
kembali kepada fungsi semula.

BAB III
KASUS PENCEMARAN LIMBAH B3
3.1

Artikel Kasus

Artikel dari internet: http://bangka.tribunnews.com/2015/04/23/walhi-nilai-sumberair-di-babel-tercemar-limbah-tambang


Jumat, 24 April 2015 00:45
Walhi Nilai Sumber Air di Babel Tercemar Limbah Tambang
BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Direktur Walhi Babel Ratno Budi
menilai bahwa pemerintah gagal memastikan hak atas lingkungan yang baik dan
sehat.
Dia mencontohkan dilihat keberadaan aktifitas pertambangan timah di
wilayah PDAM Merawang Kabupaten Bangka.
Selain itu fakta-fakta pencemaran sumber mata air warga di Babel yang
sudah tercemar oleh limbah pertambangan timah. Bahkan, katanya beberapa wilayah
sudah terkontaminasi limbah B3.
Seperti terjadi di wilayah Desa Bencah Bangka Selatan, dimana aktifitas
pertambangan timah skala besar yang berdampingan dengan lokasi rencana
pembangunan lahan persawahan masyarakat.
"Sangat tidak masuk diakal, jika keduanya beraktifitas di dalam satu lokasi
dengan memanfaatkan satu sumber air," sesal Ratno, Kamis (23/4/2015) kepada
bangkapos.com.
Hingga kini, imbuhnya Walhi terus berkampanye tagline "Air Untuk Semua".
Dia mengulas maksud taglinenya itu bahwa privatisasi sumber daya alam ini telah
mencabut hak dasar publik dan menyebabkan semakin hari isue ini menjadi krisis.
Editor: Tarso

BAB IV
ANALISA DAN PEMBAHASAN
8

4.1

Pengelolaan Dan Pengolahan Limbah B3 Secara Umum


Bagan Pengelolaan Limbah B3 secara umum adalah sebagai berikut:

Prinsip Pengelolaan Limbah B3 adalah:


1. Meminimalisasi limbah
2. Pengelolaan limbah dekat dengan sumber
3. Pembangunan berkelanjutan berwawasan lingkungan
Sedangkan tujuan dari Pengolahan Limbah B3 adalah untuk mengurangi,
memisahkan,

mengisolasi,

dan/atau menghancurkan

sifat atau kontaminan

berbahaya.
Apabila Pengelolaan dan Pengolahan Limbah B3 dilakukan dengan tahap
yang benar maka diharapkan tidak ada lagi kasus-kasus mengenai pencemaran
lingkungan akibat tercemar oleh limbah B3.

4.2

Analisa dan Pembahasan Cara Menangani Pencemaran Limbah B3


Berdasarkan dari contoh kasus pencemaran diatas Direktur Walhi Babel

Ratno Budi menilai pemerintah gagal memastikan hak atas lingkungan yang baik
dan sehat. Dia mencontohkan adanya aktifitas pertambangan timah di wilayah
9

PDAM Merawang Kabupaten Bangka. Selain itu, juga terdapat fakta bahwa terdapat
pencemaran sumber mata air dan persawahan warga di Babel yang sudah tercemar
oleh limbah pertambangan timah. Pencemaran sumber mata air dan persawahan
warga terjadi akibat adanya limbah proses pertambangan timah yang proses
pengolahan limbahnya tidak memenuhi standar sehingga ketika dibuang ke
lingkungan mencemari lingkungan sekitar.
Oleh karena itu, kami akan membahas bagaimana proses pengelolaan
lingkungan yang telah tercemar limbah B3 agar kondisi kualitas lingkungannya
dapat kembali seperti fungsi sebelumnya.
Sesuai dengan tujuan dari pengelolaan limbah B3 yaitu untuk mencegah dan
menanggulangi pencemaran atau kerusakan lingkungan hidup yang diakibatkan oleh
limbah B3 serta melakukan pemulihan kualitas lingkungan yang sudah tercemar
sehingga sesuai dengan fungsinya kembali. Maka seharusnya setiap kegiatan/usaha
yang berhubungan dengan B3, baik penghasil, pengumpul, pengangkut, pemanfaat,
pengolah dan penimbun B3, harus memperhatikan aspek lingkungan dan menjaga
kualitas lingkungan tetap pada kondisi semula. Dan apabila terjadi pencemaran
akibat tertumpah, tercecer dan rembesan limbah B3, harus dilakukan upaya optimal
agar kualitas lingkungan kembali seperti fungsi semula.
Hal tersebut jelas telah melanggar peraturan yang ada karena dalam kegiatan
penambangannya menimbulkan pencemaran pada lingkungan sekitar

yang

disebabkan oleh adanya limbah proses pertambangan timah yang proses pengolahan
limbahnya tidak memenuhi standar. Oleh karena itu diperlukan upaya-upaya dalam
menanggulangi kasus pencemaran limbah B3 diatas agar kualitas lingkungan sekitar
dapat berfungsi seperti semula.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menanggulangi kasus
pencemaran dari artikel di atas adalah dengan melakukan pengelolaan dan
pengolahan terhadap tanah yang terkontaminasi oleh logam berat yaitu Timah. Hal
ini dilakukan untuk dapat mengembalikan keadaan tanah menjadi baik seperti
semula.
Logam berat tidak dapat didegradasi, sehingga untuk melakukan remediasi
area yang tercemar oleh logam berat dilakukan secara fisik, kimawi ataupun biologis
namun metode tersebut mahal, tidak efektif dan berdampak negatif bagi lingkungan
(Lasat, 2002). Oleh karena itu, perlu dilakukan tindakan pemulihan (remediasi) yang
mudah, murah dan efisien agar lahan yang tercemar logam berat dapat digunakan
kembali untuk berbagai kegiatan dengan aman.
10

Salah satu metode remediasi yang dapat digunakan adalah fitoremediasi.


Fitoremediasi merupakan teknik pemulihan lahan tercemar dengan menggunakan
tumbuhan untuk menyerap, mendegradasi, mentransformasi dan mengimobilisasi
bahan pencemar, baik itu logam berat maupun senyawa organik. Metode ini mudah
diaplikasikan, efisien, murah dan ramah lingkungan (Schnoor and McCutcheon,
2003).
Menurut Hidayati, dkk (2005) sejumlah tumbuhan terbukti dapat beradaptasi
terhadap lingkungan marginal dan ekstrim seperti tanah limbah yang banyak
terkontaminasi zat-zat beracun dan memiliki kualitas fisik, kimia maupun biologis
sangat rendah. Tumbuhan yang memiliki kemampuan untuk menyerap logam berat
dari tanah dikenal sebagai tumbuhan hiperakumulator (Hardiani,2008). Tumbuhan
yang termasuk hiperakumulator adalah Anturium merah/kuning, Alamanda
kuning/ungu, Akar wangi, Bambu air, Cana presiden merah/kuning/putih, Dahlia,
Dracenia

merah/hijau,

Heleconia

kuning/merah,

Jaka,

Lidah

mertua

loreng/sente/hitam, Kenyeri merah/putih, Lotus kuning/merah, Onje merah, Pacing


merah/mutih, Padi-padian, Papirus, Pisang mas, Ponaderia, Sempol merah/putih,
Spider lili, dll.
Proses penyerapan logam oleh tanaman sama seperti saat ia menyerap unsur
hara. Kebanyakan jenis tanaman menyimpan logam berat dalam akar yang kemudian
dipindahkan ke bagian lain seperti batang, tunas, dan daun. Sekali logam berat
terdapat dalam tubuh tanaman, kebanyakan logam berat membentuk endapan
karbonat, sulfat atau fosfat (Dhir, 2010). Logam berat tidak akan terlepas, kecuali
bila tanaman mati dan terdegradasi. Beberapa tanaman memiliki kemampuan untuk
menyerap kontaminan dengan konsentrasi sangat tinggi dari lingkungan. Tanaman
jenis diberi label sebagai hiperakumulator. Hiperakumulasi logam dihubungkan
dengan mekanisme hipertoleransi yang menyediakan berbagai strategi adaptasi
tanaman untuk bertahan terhadap toksisitas (Dhir, 2010).
4.3

Standar Baku Mutu Tanah


Baku mutu tanah (soil quality standard) belum tersedia karena sulit di

definisikan dan dikuantitatifkan serta tidak dikonsumsi langsung oleh manusia dan
hewan. Akibatnya di Indonesia, pemantauan dan pemulihan mutu lingkungan tidak
terlaksana secara terpadu karena hanya ada baku mutu udara dan air.

11

Masalah utama yang dihadapi dalam menentukan mutu tanah adalah tanah
mempunyai banyak fungsi sehingga kalau baku mutu tanah ditetapkan hanya
berdasarkan suatu fungsi dapat bertentangan dengan fungsi yang lain.
1. Batasan dan lingkup mutu tanah
Mutu tanah tidak dapat diukur, tetapi indikatornya dapat diukur secara
kuantitatif. Berbagai definisi indicator yang ditemukan dalam literature
intinya menekankan pada sifat tanah yang dapat diukur dan dipantau yang
mempengaruhi

kemampuan

tanah

untuk

memperagakan

fungsinya.

Departemen Pertanian Amerika Serikat mendefinisikan indikator mutu tanah


sebagai sifat-sifat fisik, kimia, dan biologi serta proses dan karakteristik yang
dapat diukur untuk memantau berbagai perubahan dalam tanah. Hal ini
mengindikasikan bahwa nilai indikator mutu tanah akan menentukan
kemampuan tanah untuk memenuhi fungsinya.
2. Kriteria indikator mutu tanah
Banyak indikator potensial yang dapat digunakan untuk menetapkan mutu
tanah. Namun, perlu dipilih indicator utama sehingga dapat diaplikasikan
pada pola monitoring baik pada tingkat nasional, propinsi atau kawasan DAS.
Indikator mutu tanah harus memenuhi kriteria:
a. berkorelasi baik dengan berbagai proses ekosistem dan berorientasi
pemodelan;
b. mengintegrasikan berbagai sifat dan proses kimia, fisika, dan biologi
tanah;
c. mudah diaplikasikan pada berbagai kondisi lapang dan diakses oleh para
pengguna;
d. peka terhadap variasi pengelolaan dan iklim;
e. sedapat mungkin merupakan komponen dari basis data
3. Indikator dan indeks mutu tanah
Berdasarkan pengetahuan saat ini maka minimum data indikator mutu tanah
terdiri atas tekstur tanah, kedalaman tanah, infiltrasi, berat jenis, kemampuan
tanah memegang air, C organic, Ph, daya hantar listrik, N, P, K, biomassa
mikroba, potensi N dapat dimineralisasi, dan respirasi tanah.
Dalam menentukan suatu lahan terkontaminasi dikatakan bersih atau
tidaknya dari limbah B3, maka diperlukan suatu kualitas tanah sebagai pembanding
ataupun acuan. Kualitas tanah yang sangat bervariasi serta beragamnya jenis limbah
industri menjadi salah satu faktor yang harus diperhatikan dalam menentukan standar
atau baku mutu tanah terkontaminasi limbah B3. Keberadaan titik referensi ataupun
acuan kualitas tanah sangat diperlukan dalam penanganan lahan tercemar limbah B3.
12

Standar yang dapat dipergunakan sebagai acuan tingkat keberhasilan dalam


penanganan lahan tercemar memenuhi salah satu dan atau gabungan sebagai berikut:
1. Titik Referensi
Metoda pengambilan titik referensi ini yaitu membandingkan tanah sekitar
yang belum tercemar untuk dijadikan acuan akhir. Kriteria unsur yang perlu
di analisa dari titik referensi sesuai dengan limbah B3 yang memiliki jenis
unsur atau senyawa utamanya.
2. Pendekatan Standar Penggunaan Lahan
Pendekatan standar penggunaan lahan, digunakan apabila kandungan unsur
atau senyawa utama limbah B3 pada titik acuan ataupun titik referensi tidak
dapat dicapai, karena pengangkatan limbah B3 di lahan tercemar pada suatu
lokasi dapat mengganggu fungsi air tanah , maka dapat digunakan
pendekatan standar penggunaan lahan dari di negara lain yang mendekati
kondisi tanah di Indonesia.
3. Tingkat Kajian Dasar Resiko (Risk Based Screening Level)
Tingkat Kajian Dasar Resiko (Risk Based Screening Level/RBSL) ditetapkan
berdasarkan perhitungan ilmiah, berdasarkan resiko, dan perlindungan untuk
komunitas terhadap paparan yang signifikan. Tahapan Penerapan Risk Based
Screening Level (RBSL) adalah Identifikasi Sumber atau Bahaya Racun,
Pengkajian

Kandungan

Racun,

Pengkajian

Penjalaran,

identifikasi

karakteristik resiko dengan RBSL atau SSTL (Site-Specific Target Levels ).

13

BAB V
PENUTUP
5.1

Kesimpulan
1. Limbah B3 adalah sisa usaha/kegiatan yang mengandung bahan
berbahaya dan beracun yang sifat/konsentrasi/jumlahnya baik secara
langsung maupun tidak langsung dapat merusak/membahayakan
kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya.
2. Timah merupakan logam berat yang termasuk dalam kategori limbah B3.
3. Pertambangan Timah yang terjadi di Babel menghasilkan jenis limbah
kimia (limbah B3) yang memiliki karakteristik bermacam-macam yaitu
mudah meledak, mudah terbakar, bersifat reaktif, beracun, penyebab
infeksi/penyakit, dan bersifat korosif (menimbulkan karat).
4. Dari kasus tersebut dapat diketahui cara menangani pencemaran limbah
B3 yang berasal dari logam berat yaitu dengan teknik fitoremediasi
secara in-situ (langsung ditempat) dan proses yang digunakan adalah
secara alamiah.

5.2

Saran
1. Sebaiknya Perusahaan Pertambangan Timah di Babel tersebut memiliki
instalasi pengolahan limbah, sehingga nantinya limbah B3 yang
dihasilkan dari proses produksi tidak terlalu mencemari lingkungan.
2. Sebaiknya Pemerintah Daerah setempat dengan pihak Perusahaan
Pertambangan Timah dilakukan koordinasi yang lebih tepat dalam
pengelolaan limbah B3 agar tidak terjadi lagi pencemaran B3 di
lingkungan sekitar.

DAFTAR PUSTAKA

14

Darmawanti, Riska. 2014. Mengenal Sungai. Fitoremediasi Logam Berat. (Online),


(http://mengenalsungai.blogspot.co.id/2014/02/fitoremediasi-logam-berat.html,

diakses 5 Mei 2016).


Diego,

Erza.

2011.

Bahan

Berbahaya

dan

Beracun

(B3)

Padat.

(Online),

(http://situsresmierzadiego.blogspot.co.id/2012/01/bahan-berbahaya-dan-beracun-b3-

padat.html?m=1, diakses 5 Mei 2016).


Manyun, Muchan. 2010. Baku

Mutu

Lingkungan

Tanah.

(Online),

(http://www.scribd.com/doc/53759011/Baku-Mutu-Lingkungan-Tanah, diakses 12
April 2016).
Nurhayati. 2015. Walhi Nilai Sumber Air Di Babel Tercemar Limbah Tambang,
(Online),

(http://bangka.tribunnews.com/2015/04/23/walhi-nilai-sumber-air-di-

babel-tercemar-limbah-tambang, diakses 11 April 2016).


Pengolahan
Limbah
B3.
http://dokumen.tips/documents/makalah-b35597941e04de0.html, diakses 12 April 2016).
Republik Indonesia. 2014. Peraturan Pemerintah No. 101 Tahun 2014 Tentang
Penglolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun. Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2014, No. 333. Sekretariat Negara. Jakarta
Suryani, Yuliana. 2013. Makalah Pengelolaan Limbah B3. Pengelolaan Limbah B3 PT.
Indominco

Mandiri.

(Online),

(https://www.academia.edu/5071765/MAKALAH_B3_BUAT_PAK_WELY, diakses

5 Mei 2016).
2009. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 33 Tahun 2009 Tentang
Tata Cara Penentuan Tingkat Keberhasilan Pemulihan Lahan Terkontaminasi
Limbah B3. Lampiran IV Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Tahun 2009,
No. 33. Kementerian Negara Lingkuhan Hidup Bidang Penataan Lingkungan.
(http://digilib.its.ac.id/public/ITS-Undergraduate-25782-3308100053-Chapter1.pdf,
diakses 5 Mei 2016).
(http://digilib.its.ac.id/public/ITS-Master-5377-3306201004-chapter1.pdf, diakses 5
Mei 2016).

15

Pertanyaan dan Jawaban:


1. Sebutkan contoh dari masing-masing karakteristik B3! (Yora Septiniar,
Kelompok 9 Penanya Wajib)
Jawab:
a. Mudah meledak
: kaleng bekas gas, kaleng bekas obat nyamuk, korek
isi gas yang terpakai, tangka elpiji, dll.
b. Korosif
: pemutih pakaian, pembersih porselen, cairan kimia
lainnya, aki mobil, dll.
c. Mudah terbakar
: cat yang mengandung alkohol < 24% volume < 60C.
d. Penyakit
: jarum suntik, selang infus, verban bekas luka pasien,
dll.
e. Racun
: pupuk kimia, herbisida, dll.
f. Reaktif
: tabung gas pada suhu dan tekanan 25C 760
mmHg
(Rizqi Rahayu)
2. Adakah dampak limbah B3 yang terjadi pada kasus tersebut dalam hal
kesehatan? (Yulianah Primadona, Kelompok 9 Penanya Wajib)
Jawab:
Pada kasus diatas, dalam rencana pembuatan persawahan yang nantinya akan
digunakan warga untuk bercocok tanam, hasil cocok tanamnya akan
mengandung zat-zat yang berbahaya jika masuk ke dalam tubuh manusia.
Contoh jika di area persawahan itu akan ditanami padi, ketika panen tiba, beras
yang dihasilkan akan mengandung zat-zat yang berbahaya, karena di dalam beras
tersebut mengandung logam (timah) akibat limbah B3, sehingga masyarakat
yang mengkonsumsi beras tersebut bisa terkena penyakit atau gangguan pada
otak ataupun ginjal. (Seperti yang pernah terjadi di salah satu kota di Jepang).
(Haikal Putra Tama)
3. Apa saja kelebihan dan keterbatasan/kekurangan dari aplikasi fitoremediasi?
(Rika Anggraini, Kelompok 7)
Jawab:
a. Kelebihan:
- Biaya fitoremediasi lebih
-

murah

dibandingkan

dengan

proses

pengolahan limbah secara tradisional baik in situ maupun exsitu


Tanaman mudah untuk dipantau
Kemungkinan untuk pemulihan dan penggunaan kembali logam yang
berharga

(terutama

untuk

perusahaan

yang

bergerak

dalam

pertambangan tanaman)

16

Lebih kecil kerusakan yang dihasilkan karena memanfaatkan organisme


yang terdapat secara alami di alam dan menjaga terjadinya proses secara

alami
b. Kekurangan:
- Fitoremediasi hanya terbatas pada permukaan dan kedalaman yang dapat
-

dicapai oleh akar


Pertumbuhan yang lama dan biomassa yang rendah membutuhkan

komitmen jangka panjang


Dengan memanfaatkan tanaman, mustahil mencegah secara keseluruhan
bocornya kontaminan hingga ke air tanah (kecuali dengan memindahkan

tanah yang terkontaminasi, namun hal ini tidak menyelesaikan masalah)


Ketahanan tanaman dipengaruhi oleh toksisitas kontaminan
Bioakumulasi kontaminan oleh tanaman, terutama logam, dimana
nantinya akan berlanjutan pada rantai makanan, membutuhkan tempat

pembuangan yang khusus.


(Rizqi Rahayu)
4. Berikan contoh limbah B3 dan cara pengolahan limbah B3 secara spesifik!
(Halimatur Rezita Abrar, Kelompok 2)
Jawab:
Contoh limbah B3 yang bisa dijumpai di kehidupan sehari-hari contohnya seperti
dari:
- Alat-alat kedokteran : bekas alat suntik yang terdapat cairan, jarum bekas
pakai
- Dapur
: pembersih saluran air, soda kostik, semin, gas elpiji,
minyak tanah, kaporit
- Kamar mandi
: obat kumur, deterjen, desinfektan.
- Kamar tidur
: parfum, kosmetik, kamper, obat nyamuk.
- Garasi/taman
: cat, peptisida, dan infektisida.
Pengolahan serta pengelolaan limbah B3 tergantung dari karakteristik limbah
tersebut, tidak bisa disamakan cara pengolahan serta pengelolaan antara limbah
bekas alat-alat rumah sakit dengan limbah B3 yang telah mencemari tanah atau
dengan limbah lainnya. Oleh karena itu jika ingin mengolah serta mengelola
limbah B3 agar tidak berbahaya dapat dilihat berdasarkan karakteristik limbah
tersebut terlebih dahulu.
(Haikal Putra Tama)

17