Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH

HUKUM PERUSAHAAN DAN HUKUM ASURANSI


Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Hukum Komersial yang
Dibina oleh Ibu Siti Hamidah, SH., MM.

Disusun Oleh :
Phupung Prasiwi
155020301111045
Zuan Mareta Sari
155020301111047
Hanung Fathurrohman
155020301111048

JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2015
HUKUM PERUSAHAAN
A. Pengertian Perusahaan
Perusahaan adalah suatu pengertian ekonomi yang banyak dipakai
dalam Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD), namun KUHD
sendiri tidak memberikan penafsiran maupun penjelasan resmi tentang
apakah perusahaan itu.
Para pihak yang membentuk Undang-Undang agaknya berkehendak
menyerahkan perumusan perusahaan kepada para ilmuwan.
Seperti pendapat para ahli berikut ini mengenai perusahaan :
1. Menteri Kehakiman Belanda

Dikatakan adanya perusahaan apabila pihak yang berkepentingan


bertindak secara tidak terputusputus dan terang-terangan, serta didalam
kedudukan tertentu untuk memperoleh laba-rugi bagi dirinya sendiri.
2. Molengraaff
Barulah dikatakan ada perusahaan jika secara terus menerus bertindak
keluar

untuk

memperoleh

penghasilan

dengan

mempergunakan

atau

menyerahkan barang-barang atau mengadakan perjanjian perdagangan.


Suatu perusahaan harus mempunyai unsur-unsur :
a) Terus-menerus atau tidak terputus-putus
b) Secara terang-terangan (karena hubungannya dengan pihak ketiga)
c) Dalam kualitas tertentu (karena dalam lapangan perniagaan)
d) Menyerahkan barang-barang
e) Mengadakan perjanjian-perjanjian perdagangan
f)

Harus bermaksud memperoleh laba.

3. Polak
Dari hasil perumusan tersebut Polak menambahkan pernyataan bahwa
Suatu perusahaan mempunyai keharusan melakukan pembukuan.

B. Pengertian Hukum Perusahaan


Kompleks peraturan yang baik itu tertulis maupun tidak tertulis, yantg
sifatnya memaksa, mengatur perbuatan-perbuatan yang dilakukan secara terus
menerus dalam kedudukan tertentu dilingkungan perniagaan dengan tujuan
untuk mendapatkan keuntungan.
C. Dasar Hukum Perusahaan
Hukum perusahaan bisa diartikan sebagai keseluruhan hukum yang
mengatur seluk beluk yang bersangkutan dengan perusahaan. Pada hukum
perusahaan sudah tentu mempunyai dasar hukum sebagai landasannya. Dasar
hukum yang dimaksud yaitu segala apa saja yang dapat menimbulkan aturanaturan yang mempunyai kekuatan yang sifatnya memaksa, yakni aturan yang
apabila dilanggar akan mendapatkan sanksi yang tegas dan nyata (C.S.T.
Kansil, 1984:46). Jadi dapat disimpulkan bahwa, Dasar hukum perusahaan

adalah aturan-aturan yang didalamnya terdapat ketentuan yang bersangkutan


dengan perusahaan.
Dasar hukum perusahaan utama bersumber pada Kitab Undang-Undang
Hukum Dagang (KUHD) yang merupakan lex spesialis (hukum khusus) dari
KUHPerdata.KUHD ini merupakan warisan dari Hindia Belanda berupa
Wetboek van Koophandel (WvK), yang masih berlaku sampai ada peraturan
perundang-undangan Republik Indonesia yang menggantikannya.
Sumber hukum perusahaan berdasarkan tata urutan peraturan perundangundangan di Indonesia adalah sebagai berikut :
1. Undang-undang
Undang-undang merupakan peraturan yang dibuat oleh pemerintah dengan
persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat (Pasal 5 ayat (1) jo. Pasal 20 ayat (1)
UUD 1945. Hukum perusahaan telah diatur dalam beberapa perundangundangan diluar KUHD dan KUHPerdata sesuai dengan perkembangan
masyarakat dan perusahaan. Perundang-undangannya antara lain :
a.

UU No. 15 Tahun 1952 tentang Bursa

b.

UU No. 33 dan 34 Tahun 1984 tentang Asuransi Kecelakaan

c.

UU No. 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing

d.

UU No. 5 Tahun 1968 tentang Konvensi Washington mengenai Sengketa


Modal Asing di Indonesia

e.

UU No 6 Tahun 1968 tentang Penanaman Modal Dalam Negeri

f.

UU No. 9 Tahun 1969 tentang Badan Usaha Milik Negara

g.

UU No. 3 Tahun 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan

h.

UU No. 6 Tahun 1982 tentang Hak Cipta

i.

UU No. 7 Tahun 1987 tentang Penyempurnaan Undang-Undang No. 6


Tahun 1982 Tentang Hak Cipta

j.

UU No. 6 Tahun 1989 tentang Paten

k.

UU No. 2 Tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian

l.

UU No.3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja

m. UU No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan


n.

UU No. 19 Tahun 1992 tentang Merk

o.

UU No. 25 Tahun 1990 tentang Perkoperasian

2. Kebiasaan
Kebiasaan adalah sumber hukum yang diikuti oleh pengusaha guna untuk
memperoleh suatu keuntungan. Kebiasaan ini dapat menjadi sumber hukum
apabila perbuatan yang dilakukan itu dilakukan berulang kali dan apabila
bertentangan dengan hukum kebiasaan maka hal itu dapat menjadi sebuah
pelanggaran (perasaan hukum).
3. Yurisprudensi
Yurisprudensi adalah putusan pengadilan yang mempunyai kekuatan
hukum yang tetap, yang secara umum memutuskan suatu persoalan yang
belum ada pengaturannya pada sumber hukum yang lain. Dalam yurisprudensi
kewajiban dan hak yang telah ditetapkan oleh hakim dipandang sebagai dasar
yang adil untuk meyelesaikan sengketa kewajiban dan hak antara pihak-pihak.
Melalui yurisprudensi, hakim dapat melakukan pendekatan terhadap sistem
hukum yang berlainan, misalnya Anglo Saxon. Dengan demikian kekosongan
hukum dapat diatasi, sehingga perlindungan hukum terhadap kepentingan pihakpihak terutama yang berusaha di Indonesia dapat dijamin, misalnya perusahaan
penanaman modal asing di Indonesia.
Yurisprudensi yang terjadi di bidang hukum perusahaan, misalnya mengenai
penggunaan merek dagang, jual beli perdagangan, pilihan hukum leasing, seperti
Putusan Mahkamah Agung berikut ini : Perkara merek Nike, nomor
220/PK.Pdt/1986, 16 Desember 1986, Perkara pilihan hukum, Nomor
3253/Pdt/1990, 30 November 1993, dan sebagainya.
4. Perjanjian Internasional
Perjanjian Internasional adalah perjanjian yang dilakukan oleh dua negara
atau lebih (bilateral atau multilateral). Perjanjian Internasional dapat terjadi
apabil disetujui oleh DPR.
5. Doktrin atau Pendapat Para Ahli
Mengenai pendapat para ahli hukum, pernah dikenal pendapat umum yang
menyatakan bahwa orang tidak boleh menyimpang dari communis opinio

doctorum (pendapat umum para sarjana). Oleh karena itu, pendapat para
sarjana (doktrin) mempunyai kekuatan yang mengikat sebagai sumber hukum.
Pendapat para ahli ini dapat digunakan sebagai landasan untuk memecahkan
masalah-masalah yang langsung atau tidak langsung berkaitan dengan satu
sama lain.
D. Perusahaan Perseorangan dan Persekutuan Perdata
perusahaan diklasifikasikan menjadi perusahaan perseorangan dan
perusahaan persekutuan perdata, dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Perusahaan Perseorangan
Perusahaan perseorangan adalah perusahaan yang dimiliki oleh satu
pengusaha saja. Pemilik tunggal dari perusahaan perseorangan disebut
sole proprietor.
Keuntungan dari Kepemilikan Perseorangan :
A. Seluruh keuntungan akan diterima oleh pemilik tunggal.
B. Pajak yang lebih rendah. Karena keuntungan dalam suatu kepemilikan
perseorangan dianggap sebagai penghasilan pribadi, maka mereka
menjadi subyek pajak yang lebih rendah daripada yang dikenakan untuk
beberapa bentuk kepemilikan bisnis lainnya.
C. Pengendalian penuh. Dengan hanya seorang pemilik yang memiliki
kendali penuh atas perusahaan, maka peluang terjadinya konflik selama
proses pengambilan keputusan dapat dihilangkan.
Kerugian Kepemilikan Perseorangan :
A. Menanggung seluruh Kerugian
B. Kewajiban yang tidak terbatas. Yaitu tidak terdapat batasan atas utang
yang menjadi kewajiban dari pemiliknya.
C. Dana yang Terbatas. Seorang pemilik mungkin memiliki dana tersedia
yang terbatas untuk diinvestasikan dalam perusahaan.
D. Keahlian Terbatas. Seorang pemilik tunggal memiliki keahlian terbatas
dan mungkin tidak mampu mengendalikan seluruh aspek bisnisnya.
2. Perusahan Persekutuan Perdata

Perusahaan persekutuan ( Partnership ) adalah perusahaan yang dimiliki


secara bersama oleh dua atau lebih orang.
Keuntungan Persekutuan :
A. Tambahan Pendanaan. Adanya tambahan pendanaan dari sekutu atau
para sekutu. Oleh karena itu, tersedia lebih banyak uang yang dapat
digunakan untuk mendanai operasi bisnis.
B. Pembagian Kerugian. Setiap kerugian bisnis yang dialami oleh
persekutuan akan ditanggung oleh seluruh sekutu.
C. Lebih banyak Spesialisasi. Para sekutu dapat memudatkan perhatian
mereka pada masing-masing spesialisasi yang dimilikinya dan dapat
melayani berbagai macam pelanggan.
Kerugian Persekutuan :
A. Pembagian Pengendalian. Pengambilan keputusan dalam suatu
perusahaan persekutuan harus dibagi. Jika para sekutu tidak mencapai
kata sepakat mengenai cara begaimana bisnis tersebut dijalankan, maka
hubungan bisnis dan pribadi dapat terganggu.
B. Kewajiban yang Tidak Terbatas. Para sekutu umum dalam suatu
persekutuan menjadi subyek dari kewajiban yang tidak terbatas.
C. Pembagian Keuntungan. Setiap keuntungan yang dihasilkan harus
dibagi di antara semua sekutu.
E. Jenis-Jenis Badan Usaha
a. Badan usaha tidak berbadan hukum
a.1 CV (Persekutuan komanditer)
Persekutuan komanditer atau yang biasa disebut CV merupakan singkatan
dari commanditaire vennootschap, tercantum dalam pasal 19 sampai pasal 21
KUHD yang terletak di tengah pengaturan firma.
Menurut pasal 19 KUHD perseroan komanditer dibentuk untuk
menjalankan suatu perusahaan. Yang terdiri dari satu orang atau beberapa
orang persero yang secara tanggung menanggung bertanggung jawab untuk
seluruhnya (tanggung jawab solider) di satu pihak, dan satu orang atau lebih
sebagai pelepas uang di pihak lain. Pada dasarnya persekutuan komanditer

adalah persekutuan firma yang mempunyai satu atau lebih sekutu komanditer.
sekutu kommanditer adalah sekutu yang hanya menyerahkan uang atau barang
sebagai pemasukan pada persekutuan tapi tidak turut serta dalam pengurusan
atau penguasaan dalam persekutuan itu. Dengan kata lain, status seorang
sekutu komanditer dapat disamakan dengan seseorang yang menitipkan modal
pada suatu perusahaan dan hanya menantikan sedangkan ia sama sekali lepas
tangan dari pengurusan perusahaan.
Sekutu

komanditer

sering

disebut

juga

sepagai

selepas

uang

(geldschieter). Dalam istilah pelepasan uang, uang atau benda yang telah
diserahkan atau dititipkan kepada orang lain (yang bisa disebut sebagai
debitur) dapat dituntut kembali bila si debitur jatuh pailit. Tetapi, dalam
persekutuan komanditer, uang atau benda yang telah diserahkan tidak dapat
dituntut kembali jika persekutuan komanditer dinyatakan pailit. Oleh karena
itulah H.M.N Purwosutjipto tidak meyetujui penggunaan istilah orangg yang
meminjamkan uang atau pelepas uang untuk menyambut sekutu komanditer :
sekutu komanditer tidak sama dengan pelepas uang.
Kesimpulannya, persekutuan komanditer mempunyai dua macam sekutu
yaitu :
1. Sekutu komplementer : ikut aktif dalam mengurus persekutuan atau
menjadi pengurus persekutuan, sehingga sekutu inilah yang dikenal oleh pihak
ketiga. Pihak ketiga hanya dapat berhubungan dengan sekutu aktif ini saja,
sebab

yang

bertanggung

jawab

sampai

dengan

harta

pribadinya.

Hanyalahsekutu aktif.
2. Sekutu pasif atau sekutu komanditer : tidak mengurus persekutuan dan
hanya berada di belakang layar. Artinya sekutu pasif tidak dikenal oleh pihak
ketiga. Mereka hanya menyediakan modal untuk pembiayaan perusahaan
tersebut. Tanggung jawab seekutu komanditer terhadap utang-utang yang
dimiliki perusahaan kepada pihak ketiga hanya sebatas pada modal yang
dimasukkannya

dalam

perusahaan.

Sekutu

komanditer

tidak

bertanggungjawab secara pribadi untuk seluruhnya seperti halnya sekutu


komplementer.

Tata Cara Pendirian Persekutuan Komanditer


Mengingat persekutuan komanditer juga merupakan suatu firma dalam
bentuk khusus maka dapat menggunakan ketentuan pasal 22 KUHD tentang
pendirian firma.
Caranya sebagai berikut :
1. Pembuatan suatu akta pendirian yang disahkan oleh notari
Di dalam akta pendirian harus dimuat anggaran dasar yang menentukan
tentang:
A. Nama yang dipergunakan dan tempat kedudukannya
B. Maksuddan tujuan didirikannya persekutuan
C. Tanggal berdiri dan berakhirnya persekutuan
D. Modal persekutuan
E. Sekutu komplementer dan sekutu komanditer
F. Hak dan kewajiban serta tanggung jawab masing masing sekutu
G. Pembagian untung dan rugi persekutuan.
2. Didaftarkan ke kepaniteraan pengadilan negeri setempat.
3. Diumumkan dalam tambahan berita negara.
Kerangka anggaran dasar perseroan :
1. Pendirian perseroan
Nama para pendiri perseroan harus ditetapkan dengan ketentuan dibawah ini :
A. Jumlah pendiri minimal dua orang dan warga negara Indonesia.
B. Para pendiri juga dapat diangkat sebagai salah satu pengurus, baik
sebagai direktur atau komisaris. Kemudian, jika anggota direktur atau
komisaris lebih dari satu orang, salah satu dapat diangkat menjadi direktur
utama atau komisaris utama.
2. Nama perseroan
A. Pemakaian nama perseroan komanditer tidak diatur secara khusus
oleh undang - undang atau peraturan pemerintah, maka
kemiripan nama perseroan diperbolehkan.

kesamaan atau

B. Kedudukan perseroan harus berada di wilayah Republik

Indonesia,

menyebutkan nama kota/kabupaten sebagai tempat kegiatan usaha dan


kantor pusat perseroan.
3. Maksud dan tujuan serta kegiatan usaha
A. Setiap perseroan yang didirikan dapat melakukan kegiatan usaha
sama atau berbeda dibanding perseroan lain, bersifat
umum sesuai dengan keinginan para pendiri
beberapa bidang usaha yang hanya

khusus

yag
atau

perseroan. Namun, ada

bisa dilaksanakan dengan badan

hukum PT.
B. Untuk mempermudahkan, disediakan informasi mengenai maksud
dan tujuan serta kegiatan usaha perseroan.
Jenis jenis Persekutuan Komanditer
A. Persekutuan komanditer murni
Hanya terdapat satu sekutu komplementer, sedangkan yang

lainnya

adalah sekutu komanditer.


B. Persekutuan komanditer murni
Berasal dari bentuk firma yang membutuhkan tambahan modal.
Sekutu firma menjadi sekutu komplementer, sedangkan sekutu
lain atau sekutu tambahan menjadi sekutu komanditer.
C. Persekutuan komanditer bersaham
Mengeluaran saham yang tidak diperjualbelikan dan sekutu
komplementer ataupun sekutu komanditer mengambil satu

saham

atau lebih. Tujuan dikeluarkannya saham ini adalah

untuk

terjadinya modal beku, karena dlam persekutuan

komanditer

mudah untuk menarik kembali

menghidari
tidak

modal yang telah disetorkan.

a.2 Persekutuan Firma


Menurut pasal 6 KUHD, persekutuan firma adalah persekutuan yang
diadakan untuk menjalankan suatu perusahaan dengan nama bersama.
Firma mengandung unsur - unsur sebagai berikut

1. Menjalankan usaha bersama


Menjalankan suatu usaha bersama atau menjalankan perusahaan
merupakan unsur mutlak firma. Oleh karena itu semua ketentuan

yang

diwajibkan untuk suatu perusahaan berlaku juga bagi firma.


ketentuan yang mewajibkan untuk mengadakan

Misalnya

pembukuan.

2. Dengan nama bersama atau firma


Nama bersama yang dimaksud adalah nama dari mereka yag ikut

serta

dalam firma atau yang disebut sekutu.


Zaeni Asyhadie (2012: 31) memberikan contoh sebagai berikut:
A. Menggunakan nama seorang sekutu, misalnya Fa. Haldun.
B. Menggunakan nama seorang sekutu dengan tambahan yang
menunjukkan anggota sekutunya, misalnya Fa.Haldun and
Brothers ( disingkat Fa. Haldun & Bros.) artinya,
persekutuan ini beranggotakan Haldun dan keluarnganya.
C. Mengunakan himpunan nama semua sekutunya secara
singkatan. Misalnya, Fa. Asmi (singkatan dari Ahmad,
Suhandi Muhammad, dan Irwan).
3. Tanggung jawab sekutu secara pribadi atau keseluruhan
Dalam suatu persekutuan firma setiap sekutu berhak untuk melakukan
tindakan keluar atas nama persekutuan tersebut. Segala perjanjian yang
diadakan oleh seorang anggota sekutu juga mengikat kawan-kawan
persekutuan lainnya segala perolehan seorang sekutu menjadi harta kekayaan
firma yang berarti milik semua sekutu lainnya. Sesuai pasal 17 KUHD,
tindakan yang berkaitan dengan persekutuan dari seorang anggota sekutu
mengikat semua anggota sekutu lainnya.
Sesuai pasal 18 KUHD, tiap tiap anggota persekutuan secara tanggung renteng
bertanggungjawab secara menyeluruh atas segala transaksi pada persekutuan
firma.
Kesimpulannya, dapat dikemukakan bahwa ciri ciri dan sifat firma secara
umum :
A. Anggota firma biasanya sudah saling mengenal dan saling memperayai
B. Perjanjian firma dapat dilakukandihadapan notaris atau dibawah tangan
C. Firma memakai nama bersama dlam kegiatan usaha

D. Ada tanggung jawab dan risiko kerugian yang tidak terbatas


E. Apabila terdapat utang tak terbayar, setiap pemilik wajib melunasi dengan
harta pribadi
F. Setiap anggotta firma memiliki hak untuk menjadi pemimpin
G. Seorang anggota mempunyai hak untuk membubarkan firma
H. Pendiriannya tidak memerlukan akta pendirian
I. Mudah memperoleh kredit usaha.
Tata Cara Pendirian Firma
Telah diatur dalam pasal 22 sampai pasal 29 KUHD
1. Tiap tiap persekutuan firma harus didirikan dengan akta autentik
2. Akta tersebut harus didaftarkan dalam tegister yang disediakan pada
kepaniteraan pengadialn neggeri dalam daerah kukum firma

tersebut

berkedudukan ( pasal 23 KUHD)


Dari ikhtisar resmi akta pendirian firma dapat idlihat di pasal 26 KUHD yang
harus memuat hal hal diantaranya

A. Nama, nama kecil, pekerjaan, dan tempat tinggal para sekutu firma
B. Pernyataanfirma yang menunjukkan apakah persekutuan itu umum ataukah
terbatas pada suatu cabang khusus perusahaan tertentu, dan dalam hal terakhir
menunjukkan cabang khusus itu,
C. Penunjukkan para sekutu yang tidak diperkenankan bertanda tangan atas
nama firma
D. Saat mullai berlakunya persekutuan dan saat berakhirnya
E. Pada umumnya bagian - bagian dari perjanjian inilah yang harus dipakai
untuk menentukan hak hak pihak ketiga terhadap para sekutu.
Bentuk umum perjanjian yang tertuang dalam akta pendirian firma biasanya
berisi tentang hal hal antara lain:
A. Nama dan alamat firma
B. Jenis usaha firma
C. Hak dan kewajibanpara anggota
D. Jumlah modal yang ditanamkan pertama kali oleh anggota
E. Pembagian laba rugi

F. Syarat syarat pengambilan prive dan penambahan modal


G. Prosedur penerimaan anggota baru firma
H. Prosedurkeularnya anggota firma
I. Prosedur pembubaran firma apabila firma dilikuidasi
Pembubaran firma
Pasal 1646 sampai pasal 1652 KUH Perdata, dan pasal 31 sampai dengan
pasal 35 KUHD
Pasal 1646 KUH menyebutkan bahwa ada lima hal yang menyebabkan
persekutuan firma berakhir :
1. Telah berakhirnya jangka waktu firma sesuai yang telah ditentukan dalam
akta pendirian
2. Adanya pengunduran diri atau pemberhentian sekutunya
3. Musnahnya barang atau telah selesainya usaha yang dijalankan persekutuan
firma
4. Adanya kehendak dari seorang atau beberapa orang sekutu
5. Salah seorang sekutu meninggal dunia atau berada dibawah pengampunan
atau dinyatakan pailit.
B. Perusahaan Berbadan Hukum
Badan usaha dengan status badan hukum yang memiliki kekayaan, hak
dan kewajiban tersendiri terpisah dari kekayaan, hak dan kewajiban para
pendiri maupun pemilik badan usaha tersebut.
Badan Usaha yang berbentuk Badan Hukum terdiri dari :
(1)

Perseroan Terbatas (PT)

Memiliki ketentuan minimal modal dasar, dalam UU 40/2007 minimum


modal dasar PT yaitu Rp50.000.000 (lima puluh juta rupiah). Minimal
25% dari modal dasar telah disetorkan ke dalam PT;
Pemegang Saham hanya bertanggung jawab sebatas saham yang
dimilikinya;
Berdasarkan peraturan perundang-undangan tertentu diwajibkan agar
suatu badan usaha berbentuk PT.
(2)

Yayasan

Bergerak di bidang sosial, keagamaan dan kemanusiaan yang tidak

mempunyai anggota;
Kekayaan Yayasan dipisahkan dengan kekayaan pendiri yayasan.
(3)

Koperasi

Beranggotakan orang-seorang atau badan hukum Koperasi dengan


melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip Koperasi sekaligus
sebagai gerakan ekonomi rakyat berdasar atas asas kekeluargaan.
Sifat keanggotaan koperasi yaitu sukarela bahwa tidak ada paksaan
untuk menjadi anggota koperasi dan terbuka bahwa tidak ada
pengecualian untuk menjadi anggota koperasi.
(4)

BUMN
Badan usaha yang seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh

negara melalui penyertaan langsung yang berasal dari kekayaan negara yang
dipisahkan. Seperti Persero dan Perum.
PERSERO

Tujuan

PERUM
Pelayanan

umum

Menyediakan barang atau jasa dan dengan


mengejar keuntungan

harga

terjangkau
masyarakat

Terbagi

dalam

saham

yang

seluruh atau min 15% sahamnya


dimiliki oleh negara
Bentuk Modal

Untuk Perseo Terbuka, modalnya


juga didapat dari saham yang
ditawarkan ke masyarakat melalui

Seluruh modalnya
dimiliki negara dan
tidak terbagi atas
saham

Bursa Efek
Organ

RUPS, Direksi, Komisaris

Menteri,

Dewan Pengawas
Perum Perhutani,
Perum

Contoh

PT PLN, PT BNI, PT Jasa Marga

Direksi,

Pegadaian,

Perum Damri

Dasar hukum yang digunakan sebagai landasannya yaitu UU No. 19


Tahun 2003 tentang BUMN.
Keuntungan BUMN, sesuai amanat UUD 1945 yaitu keuntungan yang
diperoleh negara dari BUMN seharusnya dikembalikan ke negara dan rakyat
Indonesia.

(5) BUMD
Masih menggunakan UU Lama , UU No. 5 Tahun 1962 tentang
Perusahaan Daerah
Berdasarkan UU No. 5 Tahun 1962, Perusahaan daerah adalah perusahaan
yang seluruh atau sebagian besar modalnya berasal

dari kekayaan daerah

yang dipisahkan.
Berdasar Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 3 Tahun 1998 Tentang
Bentuk Hukum Badan Usaha Milik Daerah yaitu Badan Usaha Milik
Daerah dapat berupa Perusahaan Daerah (PD) yang tunduk pada UU
Perusahaan Daerah dan Perseroan Terbatas (PT) yang tunduk pada UU
Perseroan Terbatas. Contohnya adalah PDAM, PT. Jaya Ancol.
BUMD berbentuk PT, saham Perseroan Terbatas dapat dimiliki oleh
Pemerintah Daerah, Perusahaan Daerah, swasta dan masyarakat, dengan
bagian terbesar dimiliki oleh pemerintah daerah atau perusahaan daerah.
Keuntungan Pemerintah daerah dari BUMD yakni dapat menjadi bagian
dari Pendapatan Asli Daerah.
HUKUM ASURANSI
1.Pengertian Asuransi
Seperti kita tahu dalam hidup ini ada banyak hal terjadi yang sering luput
dari perencanaan yang sebelumnya sudah kita buat, banyak hal hal yang
tidak kita inginkan terjadi dalam keseharian kita menyebabkan kita berada
dalam bahaya, guna melindungi/ membentengi diri kita dari hal hal
bahaya itu maka diperlukannya pertanggungan atau yang biasa kita sebut
sebagai Asuransi.

Menurut Ketentuan Pasal 246 KUHD, Asuransi atau Pertanggungan adalah


Perjanjian dengan mana penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung
dengan menerima premi untuk memberikan penggantian kepadanya karena
kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan yang mungkin
dideritanya akibat dari suatu evenemen(peristiwa tidak pasti).
Menurut Ketentuan Undangundang No.2 tahun 1992 tertanggal 11 Pebruari
1992

tentang

Usaha

Perasuransian

(UU

Asuransi),

Asuransi

atau

pertanggungan adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih dimana pihak
penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung dengan menerima premi
asuransi untuk memberikan penggantian kepada tertanggung karena kerugian,
kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, atau tanggung jawab
hukum kepada pihak ketiga yang mungkin akan diderita tertanggung yang timbul
dari suatu peristiwa yang tidak pasti, atau untuk memberikan suatu pembayaran
yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan.
2.PENGATURANASURANSI
1. Pengaturan dalam KUHD
Dalam KUHD ada dua cara pengaturan asuransi, yaitu pengaturan bersifat umum
dan bersifat khusus. Pengaturan yang bersifat umum ada dalam Buku I Bab 9
Pasal 246-286 KUHD yang berlaku bagi semua jenis asuransi, baik yang sudah
diatur dalam KUHD maupun yang diatur di luar KUHD. Pengaturan yang bersifat
khusus terdapat dalam Buku II Bab 9 dan Bab 10 Pasal 592-Pasal 695 KUHD
dengan rincian:
a. Asuransi kebakaran Pasal 287-Pasal 298 KUHD
b. Asuransi hasil pertanian Pasal 299-Pasal 301 KUHD
c. Asuransi jiwa Pasal 302- Pasal 308 KUHD
d. Asuransi pengangkutan laut dan Perbudakan Pasal 592-685KUHD
e. Asuransi pengangkutan darat, sungai dan peraiaran pedalaman Pasal 686-695
KUHD.
2. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1992
Pengaturan usaha perasuransian dalam UU No. 2 Tahun 1992 terdiri dari 13 bab
dan 28 Pasal, dengan rincian:

a. Bidang usaha perasuransian, meliputi kegiatan usaha asuransi dan usaha


penunjang asuransi.
b. Jenis usaha perasuransian, meliputi usaha asuransi (asuransi kerugian, asuransi
jiwa, dan reasuransi); usaha penunjuang asuransi (pialang asuransi, pialang
reasuransi dan agen asuransi).
c. Perusahaan Perasuransian, meliputi Perusahaan Asuransi Kerugian, Perusahaan
Asuransi Jiwa, Perusahaan Reasuransi, Perusahaan Pialang Asuransi, Perusahaan
Pialang Reasuransi, Perusahaan Penilai kerugian Asuransi, Perusahaan Konsultan
Aktuaria, Perusahaan Agen Asuransi.
d. Bentuk Hukum usaha perasuransian terdiri dari Persero, Koperasi, Perseroan
Terbatas, Usaha Bersama (mutual).
e. Kepemilikan Perusahaan Perasuransian oleh WNI dan atau badan hukum
Indonesia; WNI dan atau badan hukum Indonesia bersama dengan perusahaan
perasuransian yang tunduk pada hukum asing.
f. Perizinan usaha perasuransian oleh Menteri Keuangan.
3. Undang-Undang Asuransi Sosial
Perundang-undangan yang mengatur asuransi sosial:
a. Asuransi Sosial Kecelakaan Penumpang (Jasa Raharja): (1) UU No 3 Tahun
1964 tentang Dana Pertanggungan Wajib Kecelakaan Penumpang; (2) UU No. 34
Tahun 1964 tentang Kecelakaan Lalu Lintas Jalan.
b. Asuransi Sosial Tenaga Kerja (Astek): (1) UU No. 3 Tahun 1992 tentang
Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek); (2) PP No. 18 Tahun 1990 tentang
Penyelenggraan Asuransi Sosial Tenaga Kerja; (3) PP No. 67 Tahun 1991 tentang
Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ASABRI); (4) PP No.
25 Tahun 1981 tentang Asuransi Sosial Pegawai Negeri Sipil (ASPNS).
c. Asuransi Sosial Pemeliharaan Kesehatan (Askes): PP No. 69 Tahun 1991
tentang Pemeliharaan Kesehatan Pegawai Negeri Sipil (PNS).
3. Asas-asas Perjanjian Asuransi
Asas Indemnitas

Adalah asas dalam asuransi yang menyatakan bahwa pembayaran klaim berupa
ganti rugi mutlak sebesar kerugian yang diderita. Tidak boleh mengganti lebih
dari kerugian yang diderita.
dilarang memperkaya diri melalui asuransi asas yg dipunyai dalam asas ini.
Asas Kepentingan
Bahwa asas yang menyatakan keharusan adanya hubungan kepentingan antara
tertanggung dengan obyek asuransi.
Adanya kepentingan = diasuransikan
Hubungan ini harus ada diantara tertanggung dengan objek asuransi.
Contoh : asuransi tanggung jawab ( terhadap mobil rentalan yang menjadi
tanggung jawab seseorang).
Asuransi jiwa = antara ada dan tidaknya hubungan kepentingan tergantung
situasi.
Asas Itikad baik
Dalam perjanjian biasa = adanya asas Itikad baik ini ada setelah dibuatnya
perjanjian
Dalam perjanjian asuransi = adanya asas Itikad baik ini ada sebelum dibuatnya
perjanjian.
-dalam asuransi tidak wajib membayar asuransi bila dia menyalahi asas Itikad
baik tersebut.

Asas subrogasi
Subrogasi adalah pengalihan hak untuk menuntut pihak ketiga penyebab
kerugian. Yang semula dari tertanggung menjadi hak tertanggung.
Subrogasi bias ada karena adanya perjanjian.
dalam asuransi yang dimaksud adalah subrogasi karena UU.
contoh :
A menabrak mobil B , maka si B meminta ganti rugi terhadap pihak asuransi
setelah itu asuransi meminta ganti rugi kepada si A. Subrogasi
apabila B meminta ganti rugi kepada a dan asuransi diperbolehkan asal tidak
melebihi kerugian yang diderita asas idemnitas

apabila A tidak bias membayar maka menjadi tanggung jawab pihak asuransi.
Dasar hukum asuransi
1.pasal 246sampai pasal 308 KUH Dagang
2.Pasal 1774 KUH Perdata
3.Peraturan perundang undangan diluar KUH Dagang dan KUH perdata
seperti
A. Undang undang nomor 2 tahun 1992 tentang usaha perasuransian
B. Undang undang nomor 33 tahun 1964 tentang dana pertanggung
wajib kecelakaan penumpang
C. Undang undang nomor 34 tahun 1964 tentang dana keeclakaan lalu
lintas jalan.
4. Pihak Pihak dalam Asuransi
A. Penanggung (Asuradur, Assurer, Ceding company) adalah
perusahaan

asuransi

jiwa

yang

memberikan pertanggungan dan

mengadakan perjanjian tanggung menanggung dengan Pemegang Polis.


Perusahaan asuransi adalah perusahaan yang mendapatkan izin usaha
perasuransian dari pemerintah atau regulator.
B. Pemegang polis (policy owner, policy hoder) adalah orang atau
badan yang mengadakan perjanjian asuransi dengan perusahaan
asuransi jiwa atau penanggung.
C. Tertanggung (Insured) adalah orang yang atas jiwanya diasuransikan
atau pihak yang ditanggung oleh polis asuransi jiwa.
D. Penerima manfaat (Beneficiary, Termanfaat) adalah seorang atau
badan yang ditunjuk dalam polis oleh pemegang polis asuransi jiwa untuk
menerima manfaat atau manfaat polis.
5. Jenis jenis Asuransi
1.

Asuransi Jiwa

Jenis asuransi ini akan memberikan keuntungan finansial jika pihak tertanggung

meninggal dunia. Jenis asuransi jiwa pun memiliki perbedaan dimana ada yang
bisa didapat setelah pihak tertanggung meninggal dunia ataupun bisa diklaim
sebelum pihak tertanggung meninggal.
Asuransi ini bisa dibelikan untuk diri sendiri ataupun orang lain. Contohnya
seperti suami yang mengansuransikan jiwanya pada pihak perusahaan. Setelah
meninggal dunia maka keluarga seperti anak dan istrinya yang menjadi pewaris
akan mendapatkan sejumlah dana atas kematian suaminya tersebut.
2.

Asuransi Kesehatan

Asuransi ini sudah cukup dikenal oleh masyarakat Indonesia dimana perusahaan
akan menangani masalah kesehatan tertanggung dikarenakan penyakit yang
diderita serta menanggung pula biaya perawatannya. Beberapa hal yang bisa
ditanggung perusahaan biasanya jika pihak tertanggung mengalami cedera, cacat,
sakit hingga kematian dikarenakan kecelakaan. Asuransi ini pun bisa digunakan
untuk diri sendiri atau pihak ketiga seperti untuk anak atau istri. Sekarang
asuransi kesehatan bisa juga menggunakan BPJS yang dikelola oleh pemerintah.
3.AsuransI Kendaraan
Asuransi kendaraan yang telah umum diketahui oleh masyarakat adalah pihak
perusahaan akan menanggung biaya atas cedera orang lain serta kerusakan
kendaraannya akibat ulah dari si tertanggung. Asuransi ini juga berfungsi untuk
membayar kehilangan ataupun kerusakan bagi kendaraan pemegang polis.
4.Asuransi

Kepemilikan

Rumah

Atau

Property

Rumah atau property merupakan aset yang sangat berharga entah untuk dijadikan
sebuah investasi ataupun sebagai hunian. Melihat pentingnya aset tersebut, maka
pihak pemilik akan segera memproteksi diri dan asetnya dari berbagai hal negatif
seperti kehilangan hingga kerusakan pada barang-barang tertentu milik si
pemegang polis. Asuransi ini juga memberikan keringanan jika rumah atau
properti yang diasuransikan mengalami musibah seperti kebakaran.
5. Asuransi Pendidikan
Inilah asuransi yang banyak dipilih oleh masyarakat untuk memberikan yang
terbaik bagi pendidikan anak-anaknya. Biaya yang harus dikeluarkan setiap
bulannya tentu berbeda-beda tergantung dari tingkat pendidikan yang akan

digapai.
Biaya pendidikan memang terus mengalami peningkatan dan berbanding terbalik
dengan perekonomian sehingga setiap orang tua harus mempersiapkan biaya
pendidikan sejak dini.
6. Asuransi Bisnis
Jenis asuransi ini memberikan layanan proteksi bagi bisnis seseorang dari
kerusakan, kehilangan maupun kerugian dalam jumlah yang besar. Asuransi ini
juga memberikan perlindungan bagi perusahaan dari bencana alam seperti
kebakaran, gempa bumi hingga kerusuhan.
Berbagai manfaat asuransi bisnis pun bisa untuk perlindungan karyawan yang
dianggap sebagai aset bisnis bahkan paket perlindungan untuk seluruh karyawan.
7.

Asuransi Kredit

Asuransi ini berguna untuk memproteksi kegagalan debitur saat harus melunasi
hutang modal kerja ataupun kredit lainnya. Penggunaan asuransi ini sangat erat
kaitannya dengan jasa perbankan dengan tujuan untuk melindungi bank atau
lembaga keuangan lain dari kemungkinan tidak mendapatkannya piutang yang
dipinjamkan kepada nasabah. Untuk asuransi jenis ini, pihak pemerintah
mempercayakan kepada PT Asuransi Kredit Indonesia.
Bentuk dan Isi perjanjian Asuransi
Benruk Isi polis atau perjanjian menyatakan :
a. Hari ditutupnya pertanggungan
b. Nama orang yang menutup pertanggungan atas tanggungan sendiri atau
tanggungan orang lain
c. Suatu uraian yang cukup jelas mengenai barang yang dipertanggungkan
d. Jumlah uang untuk diadakan pertanggungan
e. Bahaya-bahaya yang ditanggung oleh penanggung
f. Kapan bahaya mulai berlaku untuk penanggung dan saat berakhirnya
Suatu polis harus ditandatangani oleh pihak penanggung dan tertanggung.

DAFTAR PUSTAKA
Sutrisno,

Budi,

S.H.,

M.Hum.2012.Hukum

Perusahaan

Kepailitan.Erlangga:Jakarta
Dra. Hasyim, Farida, M.Hum.,_____. Hukum Dagang.Sinar Grafika:____.
Kansil, C.S.T, S.H.,_____.Hukum Perusahaan Indonesia.____:____.

Dan

Muhammad, Abdulkadir, S.H.,2011.Hukum Asuransi Indonesia.___:___.


Karttika,

Elsi

Sari,

S.H.,M.M.2007.Hukum
Indonesia:Jakarta

S.H.,
Dalam

M.H.,

&

Adverdi

Ekonomi.PT.Gramedia

Simangusung,
Widiasarana