Anda di halaman 1dari 15

Acara III

SUSU KENTAL MANIS


LAPORAN RESMI PRAKTIKUM
TEKNOLOGI PENGOLAHAN SUSU
Disusun oleh :
Nama : Caecilia Eka Putri
NIM : 13.70.0018
Kelompok A1

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA
SEMARANG
2016

1.

TOPIK DAN TUJUAN PRAKTIKUM

Praktikum Susu Kental Manis dilakukan pada hari Rabu, 18 Mei 2016. Praktikum ini
dilakukan di Laboratorium Rekayasa Pangan mulai pukul 15.00 bersama asisten dosen
Tjan, Ivana Chandra. Bahan yang digunakan untuk membuat susu kental manis adalah
susu full cream dan gula pasir. Susu kental manis merupakan produk susu yang dibuat
melalui proses evaporasi dengan penambahan gula hingga 40-50% dari berat total susu.
Dalam praktikum ini dilakukan variasi penambahan gula, yakni di awal proses evaporasi,
dan di akhir proses evaporasi. Tujuan dari praktikum susu kental manis adalah untuk
mengetahui cara pembuatan susu kental manis dan karakteristik susu kental manis yang
baik.

2.

HASIL PENGAMATAN

Hasil pengamatan karakteristik dan kandungan gula susu kental manis dapat dilihat pada
Tabel 1.

Tabel 1. Karakteristik dan Kandungan Gula Susu Kental Manis


Kel
A1
A2
A3
A4
A5

Warna
++++
++
+++
+++
+++

Rasa
+++
+++
++++
++
++

Aroma
+++
+
++
++
+

Kekentalan
++++
++
+++
+
++

Kandungan gula (obrix)


57,7
54,5
57,0
51,5
53,9

Keterangan:
Warna
+
: agak putih
++
: putih
+++
: putih kekuningan
++++ : kuning

Rasa
+
++
+++
++++

: kurang manis
: agak manis
: manis
: sangat manis

Aroma
+
++
+++
++++

Kekentalan
+
++
+++
++++

: kurang kental
: agak kental
: kental
: sangat kental

: aroma susu kurang kuat


: aroma susu agak kuat
: aroma susu kuat
: aroma susu sangat kuat

Pada Tabel 1 dapat diketahui hasil karakteristik dan kandungan gula susuk kental manis
yang terbuat dari susu full cream yang diberi gula pasir. Karakteristik susu kental manis
yang diamati meliputi warna, rasa, aroma, dan kekentalan. Pada kelompok A1, A2, dan
A3 gula pasir diberikan pada saat awal proses evaporasi. Sedangkan pada kelompok A4
dan A5 gula pasir ditambahkan pada saat terakhir dari proses evaporasi. Kandungan gula
tertinggi dapat dilihat pada susu kental manis kelompok A1 yakni 57,7obrix. Sedangkan
kandungan gula terendah dapat dilihat pada susu kental manis kelompok A4 yakni
51,5obrix. Susu kental manis kelompok A1 memiliki warna kuning, rasa manis, aroma
susu kuat, dan sangat kental. Susu kental manis kelompok A2 memiliki warna putih, rasa
manis, aroma susu kurang kuat, dan agak kental. Susu kental manis kelompok A3
memiliki warna putih kekuningan, rasa sangat manis, aroma susu agak kuat, dan kental.
Susu kental manis kelompok A4 memiliki warna putih kekuningan, rasa agak manis,
aroma susu agak kuat, dan kurang kental. Susu kental manis kelompok A5 memiliki
warna putih kekuningan, rasa agak manis, aroma susu kurang kuat, dan agak kental.
2

3.

PEMBAHASAN

Susu merupakan suatu produk pangan yang dihasilkan oleh kelenjar mammae. Susu
merupakan bahan pangan yang mempunyai nilai gizi yang tinggi (Widodo, 2003). Susu
mengandung makronutrien berupa lemak, protein, dan laktosa, vitamin, dan mikronutrien
yang berupa mineral (Krupa et al., 2011). Susu merupakan bahan pangan yang memiliki
kandungan air yang tinggi. Pada umumnya, komposisi susu sapi terdiri dari lemak 3,9%,
protein 3,4%, abu 0,72%, dan air 87,10%. Selain itu, terdapat pula asam sitrat, enzimenzim, fosfolipid, vitamin A,B, dan C (Arpah, 1993). Komposisi dan kualitas susu
dipengaruhi oleh berbagai macam faktor, diantaranya waktu pemerahan, prosedur saat
dilakukannya pemerahan, aktivitas ternak yang akan diperah, musim, usia ternak,
penyakit yang diderita oleh ternak, makanan ternak, dan kegiatan dari mikroorganisme
yang berasal dari ternak maupun lingkungan sekitar pemerahan (Buckle et al., 1987).

Komposisi susu sapi yang kaya akan nutrisi ini rentan terhadap kerusakan oleh
mikroorganisme sehingga perlu pengolahan. Salah satunya adalah dibuat menjadi susu
kental manis (Arpah, 1993). Susu kental manis merupakan susu yang diawetkan dengan
cara menambahkan gula sebanyak 40-50% dari total berat susu (Husaini et al., 1986).
Susu kental manis merupakan salah satu jenis susu kental evaporasi yang dibuat dengan
cara pengkonsentrasian dengan menggunakan gula yang dilanjutkan dengan pengalengan
dan sterilisasi. Susu kental evaporasi memiliki umur simpan yang lebih panjang
dibandingkan susu segar ataupun susu skim (Hassan et al., 2015). Umur simpannya
berkisar antara 1-3 tahun pada suhu ruang (Herawati, 2008).

Selain susu sapi, susu kental manis dapat juga dibuat dari sari kacang kedelai. Penggunaan
bahan dasar sari kacang kedelai juga membuat seseorang yang intoleran terhadap laktosa
dan vegetarian dapat mengonsumsi susu kental manis. Cara pembuatan susu kental manis
dari sari kacang kedelai adalah dengan memanaskan larutan gula 70-80% terlebih dahulu,
kemudian dicampur menjadi satu bersama sari kacang kedelai yang sudah dipanaskan
pada akhir evaporasi dengan perbandingan 1:1 (Olaoye, 2015). Selain itu seseorang yang
intoleran terhadap laktosa juga dapat mengonsumsi susu kental manis yang laktosanya
sudah terhidrolisa menjadi glukosa dan galaktosa. Dalam pembuatan susu kental manis

terhidrolisa, penambahan sukrosa dalam formulasi dapat dikurangi. Meskipun terdapat


pengurangan jumlah sukrosa pada awal formulasi, berat kering produk tidak mengalami
perubahan. Viskositas dari susu kental manis terhidrolisa dapat ditingkatkan dengan
penambahan stabilizer (Kalinina et al., 2014). Susu kental manis dapat digunakan sebagai
bahan untuk pembuatan groundnut burfi, dan karamel pada pembuatan produk permen.
Susu kental manis digunakan sebagai flavor, pewarna, dan pengontrol dalam pembuatan
karamel (Krupa et al., 2011)

Dalam praktikum kali ini, susu kental manis dibuat dengan menggunakan bahan berupa
susu full cream dan gula pasir. Pertama-tama 215 ml susu full cream dan 45 gram gula
pasir disiapkan. Susu full cream berperan sebagai bahan baku pembuatan susu kental
manis. Terdapat 2 jenis susu kental manis yakni sweetened condensed milk yang terbuat
dari susu utuh atau disebut juga sweetened condensed full cream milk dan sweetened
condensed skim milk yang terbuat dari susu skim. Untuk susu skim, sebelum dibuat
menjadi susu kental manis, susu skim ditambahkan lemak mentega sebanyak 8% dan
beberapa vitamin agar komposisi susu skim mendekati susu utuh (Husaini et al., 1986).
Penambahan gula bertujuan untuk memberi rasa manis dan mengentalkan susu karena
gula dapat memicu terjadinya kristalisasi. Gula dapat mengawetkan susu karena gula
meningkatkan tekanan osmosis sehingga dinding sel mikroba mengalami lisis dan
akhirnya mati. Berkurangnya jumlah mikroba tersebut akan menyebabkan umur simpan
susu yang lebih lama (Spreer, 1998). Selain itu gula juga dapat mengikat air dan
menurunkan aw (Lay, 1994).
Kemudian susu sapi dipanaskan pada suhu 80oC sampai tersisa separuh dari volume awal.
Untuk kelompok A1, A2, dan A3 gula ditambahkan dan dilarutkan pada saat awal
evaporasi, kemudian dipanaskan hingga tersisa volume susu sebanyak 100 ml.
Sedangkan untuk kelompok A4 dan A5 gula pasir ditambahkan dan dilarutkan ketika
volume susu sudah mencapai 120 ml, lalu dipanaskan kembali hingga tersisa volume susu
sebanyak 100 ml. Hal ini sudah sesuai dengan pernyataan Husaini et al. (1986) bahwa
pemanasan dilakukan sebelum dan sesudah penambahan gula pada suhu 80 oC selama 15
menit. Pemanasan merupakan hal penting dalam pembuatan susu kental manis. Proses
pemasakan merupakan salah satu proses dengan menggunakan panas yang bertujuan

untuk meningkatkan cita rasa. Proses pemasakan juga merupakan salah satu metode
pengawetan karena makanan yang matang umumnya memiliki umur simpan yang lebih
panjang dibandingkan bahan mentahnya. Pemasakan mampu mengurangi jumlah
mikroba dan menginaktifkan enzim-enzim tertentu. Selama proses pembuatan susu kental
manis, produk awal yang berupa cairan encer, berubah menjadi kental. Proses tersebut
dinamakan evaporasi. Evaporasi merupakan proses pemanasan bahan pangan, di mana
air diuapkan dari bahan pangan. Evaporasi bertujuan untuk mengentalkan produk
sehingga mudah disimpan, meningkatkan total padatan, dan mengurangi aktivitas air
(Estiasih & Ahmadi, 2009). Dalam pembuatan susu kental manis, susu dipanaskan
dengan suhu tinggi untuk menghilangkan setengah kandungan air dan juga dilakukan
penambahan gula dalam jumlah besar. Susu yang dihasilkan steril dan dapat disimpan
karena kekentalannya mampu menghambat pertumbuhan bakteri. Susu kental manis
merupakan produk dengan kandungan energi tinggi, tapi tidak cocok untuk bayi karena
kandungan lemak susunya rendah (Castilho & Filho, 2010).

Selama proses pemanasan, susu harus terus diaduk dan diangkat sesekali apabila suhu
terlalu tinggi. Pemanasan dengan suhu pasteurisasi (65-95oC) selama 10-15 menit
bertujuan untuk membunuh bakteri patogen yang terdapat dalam susu. Selain itu, suhu
susu yang panas juga berfungsi untuk melarutkan sukrosa secara sempurna (Buckle et al.,
1987). Pengecekan volume dapat dilakukan dengan cara menuangkan susu pada gelas
ukur. Kandungan 45 gram gula dalam 100 ml susu full cream sudah sesuai dengan
pernyataan Husaini et al. (1986) bahwa susu kental manis mengandung 40-50% gula dari
berat total susu.

Kemudian susu kental manis didinginkan di atas wadah berisi es batu sambil diaduk
dengan menggunakan sendok. Pengadukan bertujuan untuk mempercepat pendinginan
dan menghindari pembentukan kristal laktosa. Proses pengadukan terus-menerus akan
menghasilkan susu kental manis yang memiliki hasil akhir yang homogen dan tidak
berpasir. Selain itu, proses pengadukan yang disertai pendinginan dapat mencegah
tumbuhnya mikroorganisme pada susu kental manis yang dihasilkan (Hadiwiyoto, 1983).
Selanjutnya karakteristik susu kental manis diamati dan kandungan gula diukur
menggunakan refraktometer.

Dari hasil pengamatan pada Tabel 1 dapat diketahui hasil karakteristik dan kandungan
gula susuk kental manis yang terbuat dari susu full cream yang diberi gula pasir.
Karakteristik susu kental manis yang diamati meliputi warna, rasa, aroma, dan
kekentalan. Pada kelompok A1, A2, dan A3 gula pasir diberikan pada saat awal proses
evaporasi. Sedangkan pada kelompok A4 dan A5, gula pasir ditambahkan pada saat
terakhir dari proses evaporasi. Kandungan gula tertinggi dapat dilihat pada susu kental
manis kelompok A1 yakni 57,7 obrix. Sedangkan kandungan gula terendah dapat dilihat
pada susu kental manis kelompok A4 yakni 51,5obrix. Susu kental manis kelompok A1
memiliki warna kuning, rasa manis, aroma susu kuat, dan sangat kental. Susu kental
manis kelompok A2 memiliki warna putih, rasa manis, aroma susu kurang kuat, dan agak
kental. Susu kental manis kelompok A3 memiliki warna putih kekuningan, rasa sangat
manis, aroma susu agak kuat, dan kental. Susu kental manis kelompok A4 memiliki
warna putih kekuningan, rasa agak manis, aroma susu agak kuat, dan kurang kental. Susu
kental manis kelompok A5 memiliki warna putih kekuningan, rasa agak manis, aroma
susu kurang kuat, dan agak kental.

Warna susu kental manis yang dihasilkan dari penambahan gula di awal pemasakan pada
kelompok A1, A2, dan A3 berturut-turut kuning (A1), putih (A2), dan putih kekuningan
(A3). Sementara warna susu kental manis yang dihasilkan dari penambahan gula di akhir
pemasakan pada kelompok A4 dan A5 adalah putih kekuningan. Seharusnya susu kental
manis yang dihasilkan dengan penambahan gula di akhir evaporasi memiliki warna yang
lebih cerah dibandingkan susu kental manis dengan penambahan gula di awal evaporasi.
Hal ini dikarenakan susu kental manis dengan penambahan gula di awal evaporasi
mengalami reaksi Maillard yang lebih tinggi. Perlakuan penambahan gula di akhir
evaporasi bertujuan untuk mengurangi reaksi Maillard. Reaksi Maillard adalah reaksi
yang terjadi antara kelompok amino dan gula sederhana yang memiliki dampak yang
signifikan terhadap kualitas dari bahan pangan (Boekel,1998). Reaksi Maillard dapat
terjadi ketika pemanasan dimana setelah dipanaskan warna susu menjadi lebih
kekuningan dibanding sebelum dipanaskan. Hal ini dikarenakan pemanasan
menyebabkan terjadinya reaksi antara laktosa dan protein. Gugusan reduksi dari laktosa
dapat bereaksi dengan gugusan amino yang bebas dari kasein, yang 96 % terdapat pada

asam amino lisin. Pada waktu reaksi ini terjadi mula-mula dihasilkan zat yang tidak
berwarna kemudian laktosa mengalami dekomposisi akhirnya terjadi suatu senyawa
kompleks yang berwarna coklat (Adnan, 1984). Semakin tinggi suhu dan semakin lama
waktu pemanasan akan menyebabkan warna kuning yang menandakan susu yang
semakin matang (Herchdoerfer, 1986).

Rasa dan aroma susu kental manis yang dihasilkan dari penambahan gula di awal
pemasakan pada kelompok A1, A2, dan A3 berturut-turut adalah adalah manis dan
memiliki aroma susu yang kuat, manis dan memiliki aroma susu yang kurang kuat, dan
sangat manis dan memiliki aroma susu yang agak kuat. Sementara rasa dan aroma susu
kental manis yang dihasilkan dari penambahan gula di akhir pemasakan pada kelompok
A4 dan A5 adalah agak manis dan aroma susu agak kuat serta manis dan aroma susu
kurang kuat. Seharusnya susu kental manis yang dihasilkan dengan penambahan gula di
awal evaporasi memiliki rasa yang lebih manis dan aroma susu yang lebih kuat
dibandingkan susu kental manis dengan penambahan gula di awal evaporasi. Hal ini
sesuai dengan pernyataan Shimamura & Ukeda (2012) bahwa reaksi Maillard akan
mengubah warna, rasa, dan aroma dari susu tersebut. Rasa sebanding dengan kandungan
gula pada susu kental manis. Hal ini dapat dilihat pada kelompok A1 dengan kandungan
gula 57,7obrix memiliki rasa manis dan kelompok A1 dengan kandungan gula 51,5obrix
memiliki rasa agak manis. Menurut Hassan et al. (2015), susu kental manis memiliki
flavor karamel yang dapat mempengaruhi kesukaan konsumen.

Kekentalan susu kental manis yang dihasilkan dari penambahan gula di awal pemasakan
pada kelompok A1, A2, dan A3 berturut-turut adalah adalah sangat kental, agak kental,
dan kental. Sementara kekentalan susu kental manis yang dihasilkan dari penambahan
gula di akhir pemasakan pada kelompok A4 dan A5 adalah kurang kental dan agak kental.
Rendahnya tingkat kekentalan susu kental manis yang dihasilkan disebabkan oleh kurang
lamanya proses pemanasan susu dan proses pengadukan serta pendinginan yang kurang
cepat. Menurut Van Den Berg (1990) penambahan gula pada saat proses pre-heating susu
dapat menyebabkan terjadinya age-thickening pada produk akhir. Penambahan gula di
akhir juga dapat membuat larutan menjadi kental. Selain itu kekentalan dipengaruhi oleh
waktu pemanasan. Semakin lama pemanasan, maka semakin banyak air yang teruapkan

sehingga larutan semakin kental. Penambahan gula juga memicu terjadinya kristalisasi
yang mengakibatkan pengentalan larutan (Spreer, 1998).

Menurut standar SNI-01-2971-1998 tentang susu kental manis, susu kental manis tanpa
ganda rasa memiliki bau normal, rasa normal, warna putih kekuningan, dengan
konsistensi kental dan homogen. Susu susu kental manis dengan ganda rasa memiliki bau
normal, rasa normal, warna sesuai ganda rasa yang ditambahkan, dengan konsistensi
kental dan homogen. Susu kental manis tanpa ganda rasa memiliki kandungan 20-30%
air, 1,4-2,2% abu, 7-10% protein, minimal 8% lemak, minimal 10% laktosa, dan sakarosa
43-48% (Badan Standardisasi Nasional, 1998). Data dari hasil pengamatan selama
praktikum susu kental manis mengenai warna sudah sesuai dengan standar. Sementara
untuk rasa (kelompok A4 dan A5) dan aroma (kelompok A2, A3, A4, dan A5) masih
belum sesuai dengan standar karena memiliki rasa kurang manis dan aroma susu kurang
dan agak kuat.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas susu kental manis antara lain:


1.

Suhu dan waktu pemanasan


Semakin tinggi suhu yang digunakan dan semakin lama waktu yang digunakan untuk
memanaskan susu dapat meningkatkan tingkat kekentalan susu kental manis menjadi
sangat kental. Selain itu, suhu dan waktu pemanasan akan berpengaruh terhadap
warna produk susu kental manis juga akan semakin matang atau semakin coklat,
aroma, dan rasa yang semakin meningkat (Herchdoerfer, 1986).

2.

Komposisi susu
Warna susu kental manis komersial yang baik adalah yang berwarna putih susu. Hal
ini dipengaruhi oleh kasein, garam tak larut, globula lemak, serta warna terlarut
dalam susu, seperti misalnya riboflavin (Van den Berg, 1990). Selain mempengaruhi
warna, komposisi susu juga akan mempengaruhi rasa dan aroma. Susu dengan
kandungan lemak yang tinggi memiliki tingkat flavor yang tinggi juga (Hassan et al.,
2015).

3.

Kondisi penyimpanan

Penyimpanan dengan suhu 7C akan menyebabkan warna putih susu dapat bertahan
lama. Susu yang disimpan dalam suhu tinggi akan mengalami perubahan warna
menjadi kecoklatan (Van den Berg, 1990).
4.

Waktu penambahan gula / Metode evaporasi


Penambahan gula di akhir proses evaporasi mampu mengurangi efek dari reaksi
Maillard (warna kecoklatan).

4.

KESIMPULAN

Susu merupakan bahan pangan yang mempunyai nilai gizi yang tinggi.

Susu kental manis merupakan produk dengan kandungan energi tinggi, tapi
kandungan lemak susunya rendah.

Susu kental manis merupakan salah satu jenis susu kental evaporasi yang dibuat
dengan cara pengkonsentrasian dengan menggunakan gula yang dilanjutkan dengan
pengalengan dan sterilisasi.

Terdapat 2 jenis susu kental manis yakni sweetened condensed milk/ sweetened
condensed full cream milk dan sweetened condensed skim milk.

Penambahan gula bertujuan untuk memberi rasa manis, mengentalkan susu karena
gula dapat memicu terjadinya kristalisasi, dan mengawetkan susu karena gula
meningkatkan tekanan osmosis sehingga dinding sel mikroba mengalami lisis dan
akhirnya mati.

Proses evaporasi dengan suhu 80oC mampu mengurangi jumlah mikroba dan
menginaktifkan enzim-enzim tertentu serta mengentalkan produk.

Proses pengadukan terus-menerus dan akan menghasilkan susu kental manis yang
homogen dan tidak berpasir.

Warna susu kental manis yang dihasilkan dengan penambahan gula di akhir memiliki
warna yang lebih cerah dibandingkan susu kental manis dengan penambahan gula di
awal evaporasi.

Penambahan gula di awal evaporasi menyebabkan reaksi Maillard yang lebih tinggi.

Reaksi Maillard mampu mengubah warna, rasa, dan aroma produk.

Rasa sebanding dengan kandungan gula pada susu kental manis.

Penambahan gula pada saat proses pre-heating susu dapat menyebabkan terjadinya
age-thickening pada produk akhir.

Kekentalan dipengaruhi oleh suhu dan waktu pemanasan.

Standar susu kental manis tanpa ganda rasa memiliki bau normal, rasa normal, warna
putih kekuningan, dengan konsistensi kental dan homogen.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas susu kental manis antara lain suhu dan
waktu pemanasan, komposisi susu, kondisi penyimpanan, dan waktu penambahan
gula/metode evaporasi.
10

11

Semarang, 25 Mei 2016


Praktikan,

Nama: Caecilia Eka Putri


NIM : 13.70.0018

Asisten Dosen:
-Tjan, Ivana Chandra

5.

DAFTAR PUSTAKA

Adnan, M. (1984). Kimia dan Teknologi Pengolahan Air Susu. Andi Offset.
Arpah, M. (1993). Pengawasan Mutu Pangan. Tarsito. Bandung.
Badan Standardisasi Nasional. (1998). Standar Susu Kental Manis. SNI-01-2971-1998
Boekel, M. A. J. S. (1998). Effect of Heating on Maillard reactions in Milk. Food
Chemistry Vol.62(4):403-414.
Buckle, K. A., R. A. Edward, G. H. Fleet & M. Wotton. (1987). Food Science. Australia
Vicc.
Castilho, S. D. & A. D. A. B. Filho. (2010). The History of Infant Nutrition. Jornal de
Pediatria. 0021-757/10/86-03/179
Estiasih, T. & Ahmadi, K. (2009). Teknologi Pengolahan Pangan. Bumi Aksara. Jakarta.
Hadiwiyoto, S. (1983). Hasil-Hasil Olahan Susu, Ikan, Daging, dan Telur. Liberty.
Yogyakarta.
Hassan, S. M., Khaskheli M., Shah, A. H., Shah M. G., Umer M., Nisha A. R., Tariq M.,
Rahman A., & Khan M. S. (2015). Physio-chemical Evaluation of Skimmed and
Condensed Milk of Buffalo. Journal of Chemical and Pharmaceutical Research.
7(2):698-707.
Herawati, H. (2008). Penentuan Umur Simpan pada Produk Pangan. Jurnal Litbang
Pertanian.
Herchdoerfer, S. M. (1986). Quality Control in Food Industry Volume 2. Academic Press.
London.
Husaini, Yayah K., Anwar, Husaini Mahdin. (1986). Makanan Bayi Bergizi. Gadjah
Mada University Press. Yogyakarta.
Kalinina, O., O. Kovalenko, & O. Kornilova. (2014). Investigation of viscosity of whole
milk hydrolyze sweetened condensed milk. Ukrainian Food Journal. Volume 3
Issue 2.

12

13

Krupa, H., J. Atanu H., & Patel H. G. (2011). Synergy of Dairy with Non-Dairy
Ingredients or Product: A review. African Journal of Food Science. Vol 5(16), pp.
817-832
Lay, B. W. (1994). Analisis Mikroba di Laboratorium. PT Raja Grafindo Persada.
Jakarta.
Olaoye, O. A. (2015). A Study on Quality Parameters and Shelf Stability of Sweetened
Condensed Vegetable Milks Produced from Four Varieties of Soybeans (Glycine
max). International Food Research Journal. 22(6): 2212-2218
Shimamura, T. dan Ukeda, H. (2012). Maillard Reaction in Milk-Effect of Heat
Treatment. Intech. Jepang.
Spreer, E. (1998). Milk and Dairy Products Technology. Marcel Dekker, Inc. New York.
Van Den Berg, J.C.T. (1990). Evaporated and Condensed Milk. Ministry of Agriculture
and Fisheries. Netherlands.
Widodo. (2003). Bioteknologi Industri Susu. Lacticia Press. Yogyakarta.

6.

LAMPIRAN

6.1.

SNI Susu Kental Manis

6.2.

Abstrak Jurnal

6.3.

Laporan Sementara

14