Anda di halaman 1dari 16

Acara I

SUSU PASTEURISASI
LAPORAN RESMI PRAKTIKUM
TEKNOLOGI PENGOLAHAN SUSU
Disusun oleh :
Nama : Caecilia Eka Putri
NIM : 13.70.0018
Kelompok A1

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA
SEMARANG
2016

1.

TOPIK DAN TUJUAN PRAKTIKUM

Praktikum Susu Pasteurisasi dilakukan pada hari Senin, 16 Mei 2016 bersama dengan
praktikum Butter dan Buttermilk. Praktikum ini dilakukan di Laboratorium Rekayasa
Pangan mulai pukul 15.00 bersama asisten dosen Graytta Intannia dan Rr. Panulu P. M.
Susu segar dipasteurisasi dengan 2 perlakuan suhu yakni pada suhu 72 oC selama 15 detik
dan pada suhu 62oC selama 3 menit. Pasteurisasi merupakan proses pemanasan yang
hanya membunuh sebagian bakteri, yakni bakteri patogen, sebagian bakteri pembusuk,
dan bakteri yang tidak membentuk spora dengan suhu tidak sampai mendidih. Jumlah
total bakteri antara susu segar dan susu pasteurisasi dihitung dan dibandingkan. Susu yang
belum dipasteurisasi diencerkan hingga pengenceran 10 -5 dan 10-6, sedangkan susu yang
sudah dipasteurisasi diencerkan pada pengenceran 10 -1, 10-2, dan 10-3. Setelah
pengenceran, susu tersebut diinkubasi dalam cawan petri selama 1 hari menggunakan
metode spread plate. Tujuan dari praktikum susu pasteurisasi adalah untuk mengetahui
efektivitas susu dengan pemanasan metode pasteurisasi dalam mengontrol jumlah bakteri.

2.

HASIL PENGAMATAN

Hasil pengamatan jumlah total bakteri pada susu sebelum dan sesudah pasteurisasi dapat
dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Hasil Pengamatan Jumlah Total Bakteri pada Susu Sebelum dan Pasteurisasi
Kel
A1

A2

A3

A4

A5

Perlakuan
Susu sebelum pasteurisasi
Susu setelah pasteurisasi suhu 720C selama 15 detik
Susu setelah pasteurisasi suhu 620C selama 3 menit
Susu sebelum pasteurisasi
Susu setelah pasteurisasi suhu 720C selama 15 detik
Susu setelah pasteurisasi suhu 620C selama 3 menit
Susu sebelum pasteurisasi
Susu setelah pasteurisasi suhu 720C selama 15 detik
Susu setelah pasteurisasi suhu 620C selama 3 menit
Susu sebelum pasteurisasi
Susu setelah pasteurisasi suhu 720C selama 15 detik
Susu setelah pasteurisasi suhu 620C selama 3 menit
Susu sebelum pasteurisasi
Susu setelah pasteurisasi suhu 720C selama 15 detik
Susu setelah pasteurisasi suhu 620C selama 3 menit

Jumlah Total Bakteri


(CFU/ml)
<3,0 x 106 1,1 x 106
<3,0 x 102 8,0 x 10
<3,0 x 103 5,0 x 102
<3,0 x 106 1,1 x 106
<3,0 x 102 1,8 x 102
<3,0 x 102 2,0 x 10
<3,0 x 106 1,1 x 106
<3,0 x 102 3,0 x 10
<3,0 x 102 5,0 x 10
<3,0 x 106 1,1 x 106
5,7 x 102
<3,0 x 102 3,0 x 10
<3,0 x 106 1,1 x 106
3,3 x 102
2
<3,0 x 10 1,5 x 102

Pada Tabel 1 dapat diketahui jumlah total bakteri pada susu sebelum pasteurisasi, sesudah
pasteurisasi dengan suhu 72 oC selama 15 detik, dan sesudah pasteurisasi dengan suhu
62oC selama 3 menit. Jumlah total bakteri pada susu sebelum pasteurisasi adalah 1,1x10 6
CFU/ml. Pada kelompok A1, jumlah total bakteri pada susu setelah pasteurisasi dengan
suhu 72oC selama 15 detik adalah 8,0x10 CFU/ml, sedangkan setelah pasteurisasi dengan
suhu 62oC selama 3 menit adalah 5,0x102 CFU/ml. Pada kelompok A2, jumlah total
bakteri pada susu setelah pasteurisasi dengan suhu 72 oC selama 15 detik adalah 1,8x102
CFU/ml, sedangkan setelah pasteurisasi dengan suhu 62oC selama 3 menit adalah 2,0x10
CFU/ml. Pada kelompok A3, jumlah total bakteri pada susu setelah pasteurisasi dengan
suhu 72oC selama 15 detik adalah 3,0x10 CFU/ml, sedangkan setelah pasteurisasi dengan
suhu 62oC selama 3 menit adalah 5,0x10 CFU/ml. Pada kelompok A4, jumlah total
bakteri pada susu setelah pasteurisasi dengan suhu 72 oC selama 15 detik adalah 5,7x102
CFU/ml, sedangkan setelah pasteurisasi dengan suhu 62 oC selama 3 menit adalah 3,0x10
CFU/ml. Pada kelompok A5, jumlah total bakteri pada susu setelah pasteurisasi dengan
2

suhu 72oC selama 15 detik adalah 3,3x102 CFU/ml, sedangkan setelah pasteurisasi
dengan suhu 62oC selama 3 menit adalah 1,5x102 CFU/ml.

3.

PEMBAHASAN

Susu merupakan bahan pangan yang mempunyai nilai gizi yang tinggi (Widodo, 2003).
Susu sapi segar terdiri dari lemak 3,9%, protein 3,4%, abu 0,72%, dan air 87,10%. Selain
itu, terdapat pula asam sitrat, enzim-enzim, fosfolipid, vitamin A, B, dan C (Arpah,
1993). Terdapat berbagai macam faktor yang mempengaruhi komposisi dan kualitas dari
susu segar antara lain waktu pemerahan, prosedur saat dilakukannya pemerahan, aktivitas
ternak yang akan diperah, musim, usia ternak, penyakit yang diderita oleh ternak,
makanan ternak, dan kegiatan dari mikroorganisme yang berasal dari ternak maupun
lingkungan sekitar pemerahan (Buckle et al., 1987). Komposisi susu sapi yang kaya akan
nutrisi ini rentan terhadap kerusakan oleh mikroorganisme sehingga perlu pengolahan
agar tidak mudah rusak (Arpah, 1993). Pasteurisasi merupakan salah satu cara untuk
memperpanjang umur simpan dari susu. Faktor penyebab kerusakan susu dapat meliputi
faktor kimia, fisik, dan yang terutama mikrobiologi. Susu sangat mudah tercemar mikroba
saat pemerahan maupun pengolahan. Umur simpan susu relatif singkat yakni hanya
kurang dari 5 jam ketika disimpan dalam suhu ruang (Maitimu et al., 2012).

Dalam praktikum kali ini, dilakukan pasteurisasi dengan menggunakan 2 kombinasi suhu
dan waktu yang berbeda. Pertama-tama 2 botol kaca yang sudah disterilisasi diisi masingmasing dengan 200 ml susu segar. Kemudian, suhu awal diukur. Sebanyak 2 ml sampel
diambil untuk diuji jumlah mikroba awal susu. Kemudian botol berisi susu dipanaskan di
waterbath pada suhu 72oC selama 15 detik dan pada suhu 62 oC selama 3 menit. Sebanyak
2 ml sampel diambil untuk diuji jumlah mikroba susu setelah pasteurisasi. Untuk
pengujian susu secara mikrobiologis, susu yang belum dipasteurisasi diencerkan dengan
pengenceran 10-5 dan 10-6, sedangkan susu yang sudah dipasteurisasi diencerkan pada
pengenceran 10-1, 10-2, dan 10-3. Hasil pengenceran tersebut kemudian diinkubasi pada
media NA selama 1 hari dengan metode spread plate.

Tujuan pasteurisasi adalah untuk proses pengawetan susu. Susu yang tidak mengalami
pasteurisasi akan terkontaminasi oleh mikroba dan dapat mengalami penurunan kualitas.
Akan tetapi pasteurisasi memiliki kekurangan yakni mengurangi nutrisi dan kandungan
gizi susu. Untuk memperbaiki kualitas susu pasteurisasi dapat dilakukan dengan

penmbahan gula salah satunya sirup oligofruktosa. Penambahan sirup oligofruktosa


berpengaruh terhadap penurunan jumlah Total Plate Count, peningkatan kadar protein
susu, peningkatan laktosa, dan peningkatan kadar keasaman susu (Ningsih et al., 2014).
Pasteurisasi efektif membunuh bakteri-bakteri patogen dalam susu, namun tidak dapat
mematikan spora terutama spora bakteri termoresisten sehingga perlu proses pengawetan.
Salah satu cara untuk mempertahankan kualitas dan kuantitas susu adalah dengan
penambahan daun aileru. Daun aileru yang bersifat asam karena kandungan fenol yang
bersifat bakteriostatik dan bakteriosidal yang dapat menekan pertumbuhan dan
membunuh mikroba pada susu (Maitimu et al., 2013).

Pasteurisasi merupakan perlakuan pemanasan yang diberikan untuk membunuh sebagian


bakteri saja seperti bakteri patogen, sebagian bakteri pembusuk, juga bakteri yang tidak
membentuk spora (endospora) dengan suhu pemanasan tidak sampai mendidih, yaitu
pada kisaran 62-95C (Jay, 2000). Pasteurisasi dengan microwave memiliki keunggulan
dibandingkan dengan pemanasan konvensional yakni meminimalkan kerusakan karena
prosesnya singkat. Pasteurisasi HTST dengan microwave pada suhu 72oC selama 15 detik
mampu mengurangi jumlah total bakteri, bakteri psikotrof, dan E. coli (Al-Hilphy & Ali,
2013).

Terdapat beberapa macam metode pasteurisasi berdasarkan suhu dan waktu pemanasan.
Pada praktikum ini dilakukan pasteurisasi HTST dan LTLT. High Temperature Short
Time (HTST) merupakan pasteurisasi dengan suhu tinggi dan waktu singkat (pada suhu
71,7-75oC selama 15-16 detik). Low Temperature Long Time (LTLT) merupakan
pasteurisasi dengan suhu rendah dan waktu lama (pada suhu 61oC selama 3 menit). Ultra
High Temperature (UHT) merupakan pasteurisasi dengan suhu sangat tinggi (pada suhu
131oC selama 0,5 detik). Pemanasan UHT dilakukan di bawah tekanan tinggi untuk
menghasilkan perputaran dan mencegah terjadinya pembakaran susu pada alat pemanas
(Sirait, 1996).

Dari hasil pengamatan pada Tabel 1 dapat diketahui jumlah total bakteri pada susu
sebelum pasteurisasi, sesudah pasteurisasi dengan suhu 72 oC selama 15 detik, dan
sesudah pasteurisasi dengan suhu 62oC selama 3 menit. Jumlah total bakteri pada susu

sebelum pasteurisasi adalah 1,1x106 CFU/ml. Pada kelompok A1, jumlah total bakteri
pada susu setelah pasteurisasi dengan suhu 72oC selama 15 detik adalah 8,0x10 CFU/ml,
sedangkan setelah pasteurisasi dengan suhu 62oC selama 3 menit adalah 5,0x102 CFU/ml.
Pada kelompok A2, jumlah total bakteri pada susu setelah pasteurisasi dengan suhu 72 oC
selama 15 detik adalah 1,8x102 CFU/ml, sedangkan setelah pasteurisasi dengan suhu
62oC selama 3 menit adalah 2,0x10 CFU/ml. Pada kelompok A3, jumlah total bakteri
pada susu setelah pasteurisasi dengan suhu 72oC selama 15 detik adalah 3,0x10 CFU/ml,
sedangkan setelah pasteurisasi dengan suhu 62oC selama 3 menit adalah 5,0x10 CFU/ml.
Pada kelompok A4, jumlah total bakteri pada susu setelah pasteurisasi dengan suhu 72oC
selama 15 detik adalah 5,7x102 CFU/ml, sedangkan setelah pasteurisasi dengan suhu
62oC selama 3 menit adalah 3,0x10 CFU/ml. Pada kelompok A5, jumlah total bakteri
pada susu setelah pasteurisasi dengan suhu 72oC selama 15 detik adalah 3,3x102 CFU/ml,
sedangkan setelah pasteurisasi dengan suhu 62oC selama 3 menit adalah 1,5x102 CFU/ml.

Faktor yang mempengaruhi jumlah bakteri pada susu sebelum pasteurisasi adalah
komposisi nutrisi susu. Susu segar mengandung kadar air sangat tinggi dan nutrisi yang
sangat baik bagi pertumbuhan mikroorganisme (Arpah, 1993). Susu sapi segar terdiri dari
lemak 3,9%, protein 3,4%, abu 0,72%, dan air 87,10% (Arpah, 1993). Selain komposisi
nutrisi susu, pertumbuhan mikroorganisme sebelum dipasteurisasi juga dipengaruhi oleh
kondisi penyimpanan serta lama penyimpanan. Susu yang disimpan pada suhu ruang
memiliki pertumbuhan bakteri mencapai sekitar 100 kali lipat setiap 6 jam dengan waktu
generasi 58 menit. Jika susu disimpan pada suhu 10C, maka akan terjadi peningkatan
jumlah bakteri sekitar 10 kali lipat dalam 6 jam dengan waktu generasi 66 menit.
Sementara ketika susu disimpan pada suhu 4C terjadi perlambatan pertumbuhan bakteri,
yaitu kurang dari 10 kali lipat dalam waktu 6 jam dengan waktu generasi 195 menit
(Roswita et al., 2005).

Dari hasil pengamatan dapat diketahui bahwa rata-rata jumlah total bakteri susu
pasteurisasi dengan suhu 72oC selama 15 detik memiliki jumlah total bakteri yang lebih
tinggi dibandingkan dengan susu pasteurisasi dengan suhu 62 oC selama 3 menit.
Meskipun demikian jumlah total bakteri pada susu pasteurisasi dengan suhu 72oC selama
15 detik masih berada dalam ambang batas aman SNI 7388:2009. Sehingga meskipun

jumlah total bakteri susu pasteurisasi dengan suhu 72oC selama 15 detik lebih tinggi, cara
tersebut merupakan cara yang lebih baik. Karena selain jumlah mikroba pada susu,
karakteristik susu pasteurisasi seperti warna juga turut berperan dalam pertimbangan
pembelian susu oleh konsumen. Pemanasan yang lama dan berlebihan dapat merusak
susu (Eliza, 2004). Sehingga semakin singkat waktu pemanasan, maka semakin kecil
potensi kerusakan nilai gizi susu, serta semakin dapat mempertahankan warna, aroma,
dan rasa masih menyerupai susu segar (Astawan, 2005).

Dari hasil pengamatan susu yang dipasteurisasi mengalami penurunan jumlah total
bakteri daripada susu yang belum dipasteurisasi. Jumlah total bakteri susu sebelum
pasteurisasi adalah 1,1x106 CFU/ml. Sedangkan jumlah total bakteri susu sesudah
pasteurisasi berkisar antara 2,0x10 CFU/ml sampai 5,7x10 2. Hal ini sesuai dengan
pernyataan Al-Hilphy & Ali (2013) bahwa susu yang dipasteurisasi memiliki jumlah total
bakteri yang lebih sedikit dibandingkan susu segar karena pasteurisasi mampu membunuh
sebagian besar bakteri yang terdapat pada susu.

Media Nutrient Agar (NA) dibuat dengan cara melarutkan 28 gram di dalam aquades
kemudian disterilisasi dengan otoklaf pada suhu 121 oC selama 15 menit (Al-Hilphy &
Ali, 2013). Media Nutrient Agar (NA) terbuat dari ekstrak dan pepton dari daging. NA
merupakan media padat yang dapat digunakan untuk menumbuhkan seluruh tipe
mikroorganisme terutama bakteri, dan dapat digunakan untuk isolasi koloni. Tetapi NA
tidak dapat menumbuhkan mikroorganisme secara selektif (Merck & Darmstadt, 1998).

Pemindahan suatu biakan mikroorganisme harus dilakukan secara aseptis untuk


menghindari atau meminimalkan terjadinya kontaminasi oleh organisme yang tidak
diinginkan. Sebelum melakukan percobaan, tangan harus dibilas dengan alkohol sampai
bersih. Hal ini bertujuan agar tangan maupun peralatan praktikum tidak terkontaminasi
dengan mikroorganisme kontaminan, karena mikroorganisme luar yang tidak
dikehendaki itu dapat masuk melalui kontak langsung dengan permukaan tangan.
(Hadioetomo, 1993).

Ketika diisolasi dalam media cair, mikroorganisme susah untuk dipisahkan dari
koloninya karena tempatnya terlalu kecil dan juga karena merupakan media cair,
mikroorganisme tidak dapat tumbuh menetap pada suatu tempat. Oleh karenanya
dibutuhkan pengenceran hingga beberapa kali. Fungsi dari aquades adalah untuk
mengencerkan substrat cair yang mengandung mikroorganisme. Setelah dilakukan
pengenceran, mikroorganisme tadi ditumbuhkan dalam medium padat dan dibiarkan
membentuk koloni (Waluyo, 2010). Penggunaan Total Plate Count dilakukan untuk
mengetahui kualitas susu (Suwito, 2010).
Secara alami susu mengandung mikroorganisme < 5x10 3/ml. Mikroorganisme yg
biasanya tumbuh pada susu yaitu bakteri patogen dan bakteri pembusuk. Bakteri patogen
meliputi Staphylococcus aureus, Escherichia coli, dan Salmonella sp., sedangkan untuk
bakteri pembusuk antara lain adalah Micrococcus sp., Pseudomonas sp., dan Bacillus sp.
Staphylococcus aureus merupakan bakteri penyebab keracunan yang berasal dari kulit,
mukosa mulut, hidung, dan kulit kepala. Salmonella sp. berasal dari feses hewan dan
manusia. Escherichia coli merupakan bakteri berbahaya yang dapat menyebabkan diare.
Koliform merupakan parameter sanitasi susu yang berasal dari saluran pencernaan hewan
dan manusia (Suwito, 2010).

Menurut SNI 7388:2009 mengenai Batas Maksimum Cemaran Mikroba dalam Bahan
Pangan, angka lempeng total (Total Plate Count) susu segar yang tidak dipasteurisasi
yang akan digunakan sebagai bahan baku proses maksimal mengandung 1x10 6 koloni/ml
dengan rincian batas Coliform 2x10 koloni/ml, E. coli < 3/ml, keberadaan Salmonella sp.
negatif, dan Staphylococcus aureus 1x102 koloni/ml. Sedangkan untuk susu pasteurisasi,
batas maksimum angka lempeng total adalah 5x10 4 koloni/ml dengan rincian batas
Coliform 10 /ml, E. coli < 3/ml, keberadaan Salmonella sp. negatif, Staphylococcus
aureus 1x102 koloni/ml, dan Listeria monocytogenes negatif (Badan Standardisasi
Nasional, 2008). Dari hasil pengamatan, jumlah total bakteri pada susu sebelum
pasteurisasi melebihi standar SNI, yakni 1,1x106 CFU/ml. Sedangkan jumlah total bakteri
susu sesudah pasteurisasi berkisar antara 2,0x10 CFU/ml sampai 5,7x10 2. Range jumlah
total bakteri pada susu pasteurisasi yang dihasilkan selama praktikum masih sesuai
dengan batas syarat SNI.

4.

KESIMPULAN

Susu merupakan bahan pangan yang mempunyai nilai gizi yang tinggi.

Pasteurisasi merupakan salah satu cara untuk memperpanjang umur simpan dari
susu.

High Temperature Short Time (HTST) merupakan pasteurisasi dengan suhu tinggi
dan waktu singkat (pada suhu 71,7-75oC selama 15-16 detik).

Low Temperature Long Time (LTLT) merupakan pasteurisasi dengan suhu rendah
dan waktu lama (pada suhu 61oC selama 3 menit).

Faktor yang mempengaruhi jumlah bakteri pada susu sebelum pasteurisasi adalah
komposisi nutrisi susu, pertumbuhan mikroorganisme sebelum dipasteurisasi juga
dipengaruhi oleh kondisi penyimpanan serta lama penyimpanan.

Pemanasan yang lama dan berlebihan dapat merusak susu.

Susu yang dipasteurisasi memiliki jumlah total bakteri yang lebih sedikit
dibandingkan susu segar.

Media NA merupakan media padat yang dapat digunakan untuk menumbuhkan


seluruh tipe mikroorganisme terutama bakteri, dan dapat digunakan untuk isolasi
koloni.

Pemindahan suatu biakan mikroorganisme harus dilakukan secara aseptis untuk


menghindari atau meminimalkan terjadinya kontaminasi oleh organisme yang tidak
diinginkan.

Mikroorganisme yg biasanya tumbuh pada susu yaitu bakteri patogen dan bakteri
pembusuk.

Range jumlah total bakteri pada susu pasteurisasi yang dihasilkan selama praktikum
masih sesuai dengan batas syarat SNI.

Semarang, 25 Mei 2016


Praktikan,

Asisten Dosen:
-Graytta Intannia
-Rr. Panulu P. M.

Nama: Caecilia Eka Putri


NIM : 13.70.0018
9

5.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Hilphy, A. R. S. & H. I. Ali. (2013). Milk Flash Pasteurization by the Microwave and
Study its Chemical, Microbiological and Thermo Physical Characteristics.
Journal Food Processing & Technology. 4: 250. doi:10.4172/21577110.1000250
Arpah, M. (1993). Pengawasan Mutu Pangan. Tarsito. Bandung.
Astawan, M. (2005). Proses UHT: Upaya Penyelamatan Gizi Pada Susu.
http://www.waspada.co.id/serba_serbi/kesehatan/artikel.php?article_id=61177
diakses pada tanggal 23 Mei 2016
Badan Standardisasi Nasional. (2009). Batas Maksimum Cemaran Mikroba dalam Bahan
Pangan. SNI 7388:2009
Buckle, K. A., R. A. Edward, G. H. Fleet & M. Wotton. (1987). Food Science. Australia
Vicc.
Eliza, Saleh. (2004). Teknologi Pengolahan Susu & Hasil Ikutan Ternak. Fakultas
Pertanian Universitas Sumatera Utara. Sumatera Utara
Hadioetomo, R.S. (1993). Mikrobiologi Dasar dalam Praktek : Teknik dan Prosedur
Dasar Laboratorium. PT Gramedia. Jakarta.
Jay, JM. (2000). Modern Food Microbiology 8 Ed. Aspen Publikers, Inc. Maryland.
Maitimu, C. V., A. M. Legowo, & A. N. Al-Baarri. (2012). Parameter Keasaman Susu
Pasteurisasi dengan Penambahan Ekstrak Daun Aileru (Wrightia calycina).
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan. Vol. 1 No. 1.
Maitimu, C. V., A. M. Legowo, & A. N. Al-Baarri. (2013). Karakteristik Mikrobiologis,
Kimia, Fisik, dan Organoleptik Susu Pasteurisasi dengan Penambahan Ekstrak
Daun Aileru (Wrightia calycina) selama Penyimpanan. Jurnal Aplikasi
Teknologi Pangan. Vol. 2 No. 1.
Merck, E. & Darmstadt. (1998). Handbook of Microbiology 1st Suplement. Federal
Republic Germany.
Ningsih, M., T. R. Setyawati, & Mukarlina. Kualitas Susu Cair Pasca Pasteurisasi Setelah
Penambahan Sirup Oligofruktosa Umbi Talas Kimpul (Xanthosoma
sagittifolium_Schott.). Jurnal Protobiont. Vol. 3 (2) : 93-99
10

11

Roswita, Sunarlim, dan Widaningrum. (2005). Cara Pemanasan, Suhu dan Lama
Penyimpanan terhadap Masa Simpan Susu Kambing. Balai Besar Penelitian dan
Pengembangan Pascapanen Pertanian. Bogor
Sirait, C. H. (1996). Pengujian Mutu Susu. Balai Penelitian Ternak. Ciawi. Bogor.
Suwito, W. (2010). Bakteri yang Sering Mencemari Susu: Deteksi, Patogenesis,
Epidemiologi, dan Cara Pengendaliannya. Jurnal Litbang Pertanian. 29(3)
Waluyo, L. (2010). Teknik dan Metode Dasar dalam Mikrobiologi. UMM press. Malang.
Widodo. (2003). Bioteknologi Industri Susu. Lacticia Press. Yogyakarta.

6.

LAMPIRAN

6.1.

Perhitungan

Rumus:
CFU/ml =

1
jumlah koloni
faktor pengenceran

Sebelum Pasteurisasi
1
11 = 1,1 106
105
1
2 0 = 0
10

105
102

Total mikroorganisme = < 3,0 106 CFU/ml


1,1 106 CFU/ml

Kelompok 1
Setelah pasteurisasi suhu 72C selama 15 detik
101

1
8 = 8,0 10
101

102
103

1
28 = 2,8 104
103

Total mikroorganisme = < 3,0 102 CFU/ml


8,0 10 CFU/ml
Setelah pasteurisasi suhu 62C selama 3 menit
1
0=0
101
1
2 5 = 5,0 102
10
1
3 5 = 5,0 103
10

101
102
103

Total mikroorganisme = < 3,0 103 CFU/ml


5,0 102 CFU/ml

12

13

Kelompok 2
Setelah pasteurisasi suhu 72C selama 15 detik
1
18 = 1,8 102
101
1
2 0 = 0
10
1
3 0 = 0
10

101
102
103

Total mikroorganisme = < 3,0 102 CFU/ml


1,8 102 CFU/ml
Setelah pasteurisasi suhu 62C selama 3 menit
1
2 = 2,0 10
101
1
2 0 = 0
10
1
3 0 = 0
10

101
102
103

Total mikroorganisme = < 3,0 102 CFU/ml


2,0 10 CFU/ml

Kelompok 3
Setelah pasteurisasi suhu 72C selama 15 detik
1
3 = 3,0 10
101
1
2 1 = 1,0 102
10
1
3 1 = 1,0 103
10

101
102
103

Total mikroorganisme = < 3,0 102 CFU/ml


3,0 10 CFU/ml
Setelah pasteurisasi suhu 62C selama 3 menit
1
5 = 5,0 10
101
1
2 1 = 1,0 102
10

101
102

14

103

1
1 = 1,0 103
103

Total mikroorganisme = < 3,0 102 CFU/ml


5,0 10 CFU/ml

Kelompok 4
Setelah pasteurisasi suhu 72C selama 15 detik
1
57 = 5,7 102
101
1
2 0 = 0
10
1
3 1 = 1,0 103
10

101
102
103

Total mikroorganisme = 5,7 102 CFU/ml


Setelah pasteurisasi suhu 62C selama 3 menit
1
3 = 3,0 10
101
1
2 0 = 0
10
1
3 1 = 1,0 103
10

101
102
103

Total mikroorganisme = < 3,0 102 CFU/ml


3,0 10 CFU/ml

Kelompok 5
Setelah pasteurisasi suhu 72C selama 15 detik
1
33 = 3,3 102
101
1
2 1 = 1,0 102
10
1
3 11 = 5,0 104
10

101
102
103

Total mikroorganisme = 3,3 102 CFU/ml


Setelah pasteurisasi suhu 62C selama 3 menit
101

1
15 = 1,5 102
101

15

1
3 = 3,0 102
102
1
3 0 = 0
10

102
103

Total mikroorganisme = < 3,0 102 CFU/ml


1,5 102 CFU/ml

6.2.

Standar SNI

6.3.

Abstrak Jurnal

6.4.

Laporan Sementara