Anda di halaman 1dari 50

PENANGGUNGJAWAB

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

PEMIMPIN REDAKSI
Lukman Arifin

TIM PENYUNTING
Mimin Karmini
Dida Kusnida
Lili Sarmili
Hananto Kurnio
Hardi Prasetyo
Hariadi Permana

PENYUNTING PELAKSANA
Noor C.D Aryanto
Sutisna
Asep Makmur

ALAMAT REDAKSI
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan
Jalan Dr. Junjunan 236, Bandung-40174, Indonesia
Telepon : +62-22-6032020, 6032201, Ext 268, Fax : +62-22- 6017887
E-mail : p3gl@mgi.esdm.go.id

Dari Redaksi :

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur, kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat perkenanNya jualah, Jurnal
Geologi Kelautan pada edisi pertama di tahun 2007 ini dapat hadir dihadapan kita semua seperti biasanya.
Topik-topik yang dimuat dalam penerbitan ini sangat bervariasi merupakan hasil penelitian oleh Puslitbang
Geologi Kelautan. Topik-topik tersebut terangkum dalam 5 (lima) tulisan yang merupakan kontribusi survei
geologi kelautan sebagai data awal guna menunjang aspek-aspek seperti keteknikan, kemineralan, pengembangan
wilayah dan pendangkalan. Mudah-mudahan berbagai tulisan tersebut, dapat menambah wawasan dan
bermanfaat untuk kita semua khususnya para pembaca.
Akhir kata, kami mengucapkan terimakasih kepada semua pihak semoga kerjasama yang telah terjalin dengan
baik selama ini dapat terus ditingkatkan. Tantangan ke depan semakin berat, walaupun demikian mudahmudahan kita dapat meningkatkan status jurnal tercinta ini.
Kami yakin dengan dukungan dari kita bersama, tujuan mulia tersebut dapat tercapai.

Redaksi

JURNAL GEOLOGI KELAUTAN


Volume 5, No. 1, April 2007

DAFTAR ISI

KEDALAMAN BATUAN KERAS PERAIRAN SELAT LAUT SEBAGAI DATA AWAL UNTUK
RENCANA PEMBANGUNAN JEMBATAN PULAU LAUT - KALIMANTAN
Noor C.D Aryanto Y. Noviadi dan Syaefudin ........................................................................................1-9
KETERDAPATAN HALOYSIT DAN IKUTANNYA DI PERAIRAN UTARA JAWA TIMUR
Udaya Kamiludin dan Noor C.D Aryanto ..........................................................................................10-14
KETIDAKSTABILAN PANTAI SEBAGAI KENDALA PENGEMBANGAN DAERAH
PERUNTUKAN DI PERAIRAN LASEM JAWA TENGAH
D. Ilahude & E. Usman......................................................................................................................15-23
STRUKTUR DIAPIR BAWAH PERMUKAAN DASAR LAUT DI KAWASAN PESISIR
SELATAN KABUPATEN SAMPANG-PAMEKASAN, JAWA TIMUR
Prijantono Astjario dan Lukman Arifin.............................................................................................24-35
PROSES SEDIMENTASI SUNGAI KALIJAGA, DAN SUNGAI SUKALILA PERAIRAN
CIREBON
D. Setiady dan A. Faturachman ........................................................................................................36-42

ii

JURNAL GEOLOGI KELAUTAN


Volume 5, No. 1, April 2007

KEDALAMAN BATUAN KERAS PERAIRAN SELAT LAUT SEBAGAI DATA AWAL UNTUK
RENCANA PEMBANGUNAN JEMBATAN PULAU LAUT - KALIMANTAN
Oleh:
Noor C.D Aryanto 1), Y. Noviadi 1) dan Syaefudin2)
1)

2)

Puslitbang Geologi Kelautan, Jl. Dr. Junjunan No.236, Bandung


Badan Pengkajian Penerapan Teknologi, Teknologi Inventarisasi Sumber Daya Alam, Jl. MH Thamrin, Jakarta

SARI

Kotabaru merupakan ibukota Kabupaten Pulaulaut, Kalimantan Selatan. Guna mempercepat proses
pembangunan, diupayakan untuk membangun jembatan yang menghubungkan daratan Pulau Laut
dengan daratan Kalimantan.
Berdasarkan data seismik hasil survei pendahuluan diperoleh dua lokasi usulan untuk tapak fondasi
kaitannya dengan kedalaman batuan kerasnya yang dikenali dari perbedaan reflektor yang demikian
ekstrim, baik dari bentuk ataupun warna terhadap reflektor di atasnya. Lokasi-1 memiliki kedalaman
batuan keras berkisar antara 4 hingga 20 meter dan 12 hingga 22 meter di bawah dasar laut. Di lokasi
ini juga dikenali adanya struktur yang diperkirakan berupa sesar pada kedalaman 14 meter bawah
dasar laut. Lokasi-2 di sayap barat dan timur P. Suwangi, memiliki kisaran kedalaman batuan keras
antara 2 hingga 18 meter bawah dasar laut dengan kecenderungan makin dalam ke arah tengah
perairan Selat Laut.
Kata kunci : batuan keras, seismik, Selat Laut dan Pulau Laut, Kalimantan Selatan.
ABSTRACT
Kotabaru is the capital of the Pulaulaut regency, South Kalimantan. The construction of the bridge
that will connect Pulaulaut and Kalimantan is aimed to accelerate the development of the areas.
Based on the preliminary seismic data, two propose locations for bridge foundation relates to the
depth of hard rock that can be recognized by the extremely differences of acoustic impedance. Location-1
has a hard rocks depth between 4 to 20 meters and 12 to 22 meters beneath sea floor. In this location, it
is also recognized a fault structure at 14 meters depth. Location-2 in the west and east wings of Suwangi
Island has the acoustic basement depth between 2 to 18 meters from the sea floor and it is deeper toward
the centre of Selat Laut waters.
Keywords : hard rock, seismic, Laut Strait and Laut Isle, South Kalimantan.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Selat Laut memisahkan Pulau Laut dengan
daratan P. Kalimantan, sehingga peranan perairan
selat ini memegang peranan penting dalam
kehidupan perekonomian dan pemerintahan
Kabupaten Pulaulaut. Seiring dengan berjalannya
dinamika masyarakat yang terus berkembang, ada
keinginan dari pemerintah daerah setempat
membangun
jembatan
yang
langsung

menghubungkan daratan P. Laut dengan


Kalimantan sehingga dapat mempercepat proses
pertumbuhan yang sudah ada.
Maksud dan Tujuan
Tulisan ini merupakan bagian dari studi
pendahuluan hasil kerjasama kegiatan survei
antara Badan Pengkajian Penerapan Teknologi Teknologi Inventarisasi Sumber Daya Alam
(Tisda), Puslitbang Geologi Kelautan dan
Pemerintah Daerah Kabupaten Kota Baru dengan
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN
Volume 5, No. 1, April 2007

Gambar 1. Peta batimetri dan lintasan seismik terpilih daerah penelitian

maksud memperoleh data dan informasi dasar


yang diharapkan dapat memberikan gambaran
awal dalam rencana pembuatan jembatan Selat
Laut, yang menghubungkan Pulau Laut dengan
daratan Kalimantan. Data dan informasi dasar
yang dimaksud meliputi keberadaan kedalaman
batuan keras dan struktur geologi bawah
permukaan di perairan Selat Laut berdasarkan
metode seismik. Sedangkan tujuan dari studi ini
adalah untuk memperoleh jalur atau arah jembatan
yang baik (site selection), efisien dan efektif
dengan mempertimbangkan data dan informasi di
atas.

JURNAL GEOLOGI KELAUTAN


Volume 5, No. 1, April 2007

Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian masuk dalam perairan Selat
Laut yang secara geografis terletak di antara
1155800 dan 1161700 BT serta antara
31215 dan 33000 LS atau secara
administratif masuk dalam Kabupaten Kotabaru
propinsi Kalimantan Selatan (Gambar 1). Luas
Kabupaten Kotabaru lebih kurang 9.422,73 km2,
terletak di sebelah tenggara Ibu Kota Propinsi
Kalimantan Selatan, merupakan kabupaten yang
terluas dibandingkan kabupaten-kabupaten lain di
Propinsi Kalimantan Selatan (Syaefudin, drr.,
2004).

STRUKTUR DAN TEKTONIK


Struktur geologi yang terdapat di Kotabaru
adalah lipatan dan sesar. Sumbu lipatan umumnya
berarah baratdaya - timurlaut dan utara - selatan,
dan sejajar dengan arah sesar normal, sedangkan
sesar mendatar umunya berarah baratlaut tenggara dan baratdaya - timurlaut.
Menurut Turkandi, drr. (1995), kegiatan
tektonik di daerah ini diduga berlangsung sejak
jaman Jura, yang mengakibatkan bercampurnya
batuan ultramafik (Mub), batuan bancuh (Mb),
sekis garnet amfibolit (Mm) dan batupasir
terkersikan (Mr). Genang laut dan kegiatan
gunung api yang terjadi pada jaman Kapur Akhir
bagian bawah yang menghasilkan Formasi Pitap
(Ksp), Formasi Manunggul (Km), Formasi
Haruyan (Kvh) dan Formasi Paau (Kvp). Pada
Kapur Akhir bagian Atas terjadi kegiatan magma
yang menghasilkan terobosan diorit (Kdi). Diorit
ini menerobos batuan atas Formasi Pitap dan
batuan batuan yang lebih tua. Pengangkatan dan
pendataran terjadi pada Paleosen Awal Eosen
yang diikuti oleh pengendapan Formasi Tanjung
(Tet) bagian bawah, sedangkan bagian atas
formasi ini terbentuk saat genang laut. Gerakan
tektonik terakhir terjadi pada Miosen Akhir yang
mengangkat batuan tua ke atas dan membentuk
Tinggian Meratus dan melipatkan batuan sedimen
Tersier disertai dengan sesar normal. Selanjutnya
terjadi proses erosi dan pendataran kembali dan
diikuti oleh pengendapan Formasi Dahor pada
Kala Pliosen sampai Plistosen pada lingkungan
paralik. Paparan karbonat Formasi Berai terbentuk
dalam kondisi genang laut pada awal Oligosen
Miosen bersamaan dengan pengendapan Formasi
Warukin pada lingkungan darat. Kegiatan tektonik
terjadi lagi pada Miosen Akhir yang
mengakibatkan
hampir
seluruh
batuan
Mesozoikum membentuk Tinggian Meratus yang
memisahkan antara Cekungan Barito dengan
Cekungan Pasir. Pada akhir Miosen Akhir, batuan
batuan Pra-Tersier dan Tersier terlipat kuat dan
tersesarkan. Pada Plio-Plistosen berlangsung lagi
pendaratan dan pengendapan Formasi Dahor pada
Pliosen dan kemudian diikuti pengendapan
alluvium.
Stratigrafi daerah penyelidikan terdiri dari
batuan Pra-Tersier, terdiri dari batuan ultramafik
berumur Jura, batupasir dan radiolaria dan
endapan flysh, Batuan gunungapi bawah laut,
basal amigdaloidal, breksi gunungapi, tuff kaca

anggota Formasi Payau berumur Kapur Akhir dan


batuan Tersier berupa endapan klastik.
METODE
Sistem Penentuan Posisi
Penentuan posisi dan lintasan survey dari
seluruh kegiatan lapangan yang dipasang di kapal
menggunakan Global Positioning System (GPS)
type Garmin 235 dan GPS Map 210 yang telah
diintegrasikan dengan Personal Computer (PC)
atau laptop sehingga dapat langsung diakses dan
diproses di lapangan sedangkan untuk kegiatan di
darat dan pantainya menggunakan Garmin III
plus. Alat ini bekerja dengan dukungan minimal 8
(delapan) satelit, dimana setelah diaktifkan dan
diprogram akan terlihat posisi titik-titik koordinat
secara geografis dalam bentuk lintang dan bujur
dengan bidang proyeksi Universal Transver
Mercator (UTM) yang dapat disimpan dan
langsung dibaca pada layar monitor, dimana
ketepatan posisi (satelite status) yang dicerminkan
dengan Estimated Position Error (EPE) dan
Position Dilution of Precision (PDOP)
diupayakan tidak lebih dari 2 (dalam skala 1
hingga 10, makin rendah angkanya makin bagus
akurasinya).
Pengambilan data fixed point kedalaman
dasar laut dilakukan dengan rentang waktu setiap
1 (satu) menit, begitu pula untuk data lintasan
seismik. Sebelum melaksanakan pengambilan
data, target posisi kapal disesuaikan dengan
rencana lintasan yang telah diplot kedalam
perangkat GPS, sehingga semua gerak kapal,
termasuk arah haluan (heading), posisi kapal
(pos), arah terhadap target berikutnya (azimuth)
maupun jaraknya (destination) dapat dipantau dan
diikuti melalui monitor.
Pemeruman
Pemeruman (sounding) dimaksudkan untuk
mengukur kedalaman dasar laut daerah penelitian
berikut morfologi dasar lautnya. Kegiatan ini
menggunakan alat perum gema (echosounder)
200/ 50 KHz merk Odom Hydrotrack yang
bekerja dengan prinsip pengiriman pulsa energi
gelombang suara melalui transmitting transducer
secara vertikal ke dasar laut. Kemudian
gelombang suara yang dikirim ke permukaan
dasar laut dipantulkan kembali dan diterima oleh
receiver tranducer. Sinyal-sinyal tersebut
diperkuat dan direkam pada recorder dalam
bentuk analog maupun digital.
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN
Volume 5, No. 1, April 2007

Posisi transducer echosounder berada 0,5


meter dari permukaan air di sebelah kiri kapal dan
berjarak lebih-kurang 3 meter dari antena GPS.
Kalibrasi peralatan pemeruman (sounding)
berupa bar checking, dilakukan setiap hari pada
saat sebelum dan sesudah survey. Prosedur ini
dilakukan terutama untuk mengetahui kecepatan
rambat suara dalam air yang dapat dipengaruhi
oleh variasi harian dari salinitas atau temperatur
air laut.
Cara kalibrasi dilakukan dengan cara
menggantungkan sebuah pelat/bar di bawah
transduser echosounder sementara echosounder
dihidupkan. Dengan menurunkan kedalaman pelat
untuk interval-interval kedalaman yang telah
diketahui, kalibrasi echosounder dapat dilakukan
dengan mengubah kecepatan putaran perekaman
yang mencerminkan kecepatan suara dalam air.
Seismik
Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengetahui
kedalaman batuan keras berikut struktur geologi
bawah permukaan.
Metode ini menggunakan sistem perangkat
seismik pantul dangkal beresolusi tinggi
(uniboom) dengan sumber energi 300 Joule,
lintasan kurang lebih bersamaan dengan lintasan
pemeruman. Metoda ini merupakan metoda yang
dinamis dan menerus dengan memanfaatkan hasil
pantulan gelombang akustik oleh bidang pantul
akibat adanya perbedaan impedansi akustik pada
bidang batas antara lapisan sedimen yang satu
dengan yang lainnya. Gelombang atau signal yang
dipantulkan oleh permukaan dasar laut akan
ditangkap oleh hydrophone yang diletakkan di
belakang buritan kapal dan dikirim melalui kabel
hydrophone sepanjang 4-6 meter untuk direkam
oleh graphic recorder . Filter dibuka antara 800
hingga 6000 Hz. Perekaman menggunakan
kecepatan firing 1 detik dan kecepatan sweep
detik kemudian direkam menggunakan graphic
recorder EPC-3200.
Alat yang digunakan untuk kegiatan ini
berupa seismik pantul dangkal. Perangkat yang
dibutuhkan guna menunjang kegiatan ini adalah:
(1) Sumber Energi tipe EG & G 234; (2)
Graphic recorder EPC 3200; (3) Boomer plate 30J
tipe AA 200; (4) Hydrophone 10 elemen merk
Benthos; (5) Band pass filter merk Kronhite 3700;
dan (6) TVG Amplifier tipe TSS/307.

JURNAL GEOLOGI KELAUTAN


Volume 5, No. 1, April 2007

HASIL DAN ANALISIS


Selama kegiatan lapangan telah dihasilkan
total lintasan pemeruman sepanjang kurang-lebih
183.1 kilometer. Pada lokasi sekitar Tg. Ayun
diperoleh gambaran kedalaman dasar laut berkisar
antara 0,4 hingga 10 meter, bahkan di bagian
tengah agak ke selatan dari lokasi ini atau tepatnya
berada di muka muara S. Sambaluah diidentifikasi
adanya gosong pasir yang cukup dapat
menggangu arus lalulintas kapal karena
kedalamannya sangat dangkal sekali yaitu berkisar
antara 20-30 cm. Sedangkan di lokasi sekitar
Pulau Suwangi diketahui kedalaman dasar laut
berkisar antara 1,5 hingga 15 meter, dimana
kedalaman terdangkal dijumpai di sekitar sisi
timur P. Suwangi, sedangkan terdalam terdapat di
alur jalur masuk ke Pelabuhan Batulicin.
Secara umum kondisi topografi dasar
perairan Selat Laut berdasarkan interpretasi
rekaman pemeruman menunjukkan bahwa daerah
penyelidikan mempunyai kedalaman yang relatif
sama. Kedalaman terdangkal (2 meter) terdapat
dibagian utara dan tengah, sedangkan kedalaman
terdalam (20 meter) di bagian selatan daerah
penyelidikan (Gambar 1).
Pengamatan pada peta batimetri tersebut
memperlihatkan 2 (dua) pola kontur, yaitu
memanjang mengikuti garis pantai daratan
Kalimantan dengan kerapatan renggang. Hal ini
mencerminkan morfologi dasar laut relatif datar
dengan kemiringan 3. Pola kontur menutup
(closure) terdapat hampir diseluruh daerah
penyelidikan. Sedangkan dibagian selatan terlihat
adanya closure dengan nilai kedalaman rendah ke
arah tengah tutupan, hal ini mencerminkan bentuk
punggungan dasar laut. Kemungkinan adanya
suatu deformasi geologi yang terjadi sehingga
memunculkan batuan yang lebih tua. Closureclosure yang setempat-setempat menunjukkan
adanya terumbu karang yang menyebar di bagian
utara dan tengah daerah penyelidikan.
Untuk memudahkan dalam pembahasan,
daerah penelitian dibagi menjadi 3 zona lokasi,
yaitu: utara, selatan dan tengah (di luar utara dan
selatan). Berdasarkan hasil interpretasi terhadap
beberapa lintasan seismik terpilih di 3 zona lokasi
tersebut (Gambar 1) dengan mengasumsikan
kecepatan rambat gelombang sebesar 1600 m/
detik dan juga perbedaan acoustic impedance
yang disebabkan oleh adanya perbedaan
kekerasan batuan, maka diketahui kedalaman
batuan keras adalah sebagai berikut:

Gambar 2. Rekaman seismik L-39 & L-40 berikut interpretasinya

JURNAL GEOLOGI KELAUTAN


Volume 5, No. 1, April 2007

Lokasi utara, yang diapit Tg. Ayun di timur


dan muara S. Trusan memiliki kedalaman selat
hingga 14 meter dengan jarak horisontal antara ke2 sisinya (antara pantai Tg. Ayun di sisi selatan ke
pantai Trusan di sisi utara) sejauh 3 kilometer.
Membentuk dua pola kontur berupa tutupan
(closure) besar yang memanjang searah dengan
bentuk selat masing-masing memiliki kedalaman
maksimal 14 meter dan ke arah selatan masih pada
lokasi yang sama dijumpai closure yang lain
dengan kedalaman hingga 12 meter. Kedalaman
batuan keras yang diwakili oleh L-39 dan L-40
berkisar antara 12 hingga 22 meter bawah dasar
laut dengan kontrol struktur jauh di bawah dasar
akustiknya, namun demikian ke arah timur laut menuju L-40 strukturnya mendangkal ke arah
permukaan batuan kerasnya dengan pelamparan
lapisan yang diduga sebagai lapisan batubara
hanya dijumpai secara setempat-setempat.
(Gambar 2). Batuan keras yang dicirikan dengan
pola reflektor yang chaotic dan opaque serta
bentuk yang tak beraturan (irregular) ini diduga
berumur Kapur, dimana konfigurasi internal
pemantul ini sedikit banyak dipengaruhi oleh
aktivitas tektonik berupa kompresi dan ekstensi
yang terjadi selama Tersier (Kusnida, drr., 2004)
Lokasi tengah dan sekitar perairan
Kotabaru, diwakili oleh daerah sekitar P.
Tampakan. Memiliki kedalaman selat maksimal
12 meter - dijumpai di sisi timur P. Tampakan,
dengan bentuk lembah yang memanjang (Gambar
1).
Kisaran
kedalaman
batuan
keras
memperlihatkan di bagian paling utara (perairan
dekat Kotabaru) memiliki kisaran kedalaman
batuan keras hingga 24 meter bawah dasar laut.
Sedangkan untuk daerah di antara lokasi utara dan
selatan kedalaman batuan kerasnya relatif lebih
dangkal, yaitu berkisar antara 6 hingga 10 meter
bawah dasar laut dengan kontrol struktur terdapat
pada kedalaman 10 meteran dengan pelamparan
yang diduga lapisan batubara (coal seam)
sepanjang 2700 meter dari arah baratlaut ke
tenggara (sepanjang lintasan 16) walaupun dengan
ketebalan yang hanya berkisar 1 hingga 2 meteran.
(Gambar 3).
Lokasi selatan, di sayap barat dan timur P.
Suwangi. Memiliki kedalaman selat berkisar
antara 12 meter (di sisi timur P. Suwangi) hingga
14 meter (di sisi barat P. Suwangi) khususnya
yang menuju pelabuhan Batulicin - pola konturnya
membentuk alur memanjang menuju muara S.
Batulicin dengan pola tertutup memanjang.

JURNAL GEOLOGI KELAUTAN


Volume 5, No. 1, April 2007

Kisaran kedalaman batuan keras terdapat


antara 10 hingga 22 meter bawah dasar laut diwakili oleh L-24 (Gambar 1). Kecenderungan
batuan kerasnya makin dangkal ke arah tengah
lintasan tapatnya berjarak 2000 m dari awal
lintasan dengan pelamparan lapisan yang diduga
berupa lapisan batubara (coal seam) sepanjang
lintasan atau sepanjang 4750m dengan ketebalan
berkisar antara 1 - 1.5 meter (Gambar 4).
Struktur geologi bawah permukaan yang
mengkontrol batuan keras ini cukup rapat (hampir
di setiap jarak 250 meter dengan kisaran
kedalaman sekitar 18 hingga 10 meter bawah
dasar laut, kecuali pada bagian tengah lintasan
kedalaman struktur bawah permukaannya di
jumpai pada kedalaman yang cukup dangkal
(sekitar 10 meter bawah dasar laut) kemudian
makin dalam ke arah tenggara (ke arah daratan
P.Laut) dengan kisaran hingga 18 meter bawah
dasar laut (diwakili oleh L-24), (Gambar 4).
Secara umum ke tiga lokasi di atas
berdasarkan konfigurasi pola reflektornya dapat
dibagi dalam 2 (dua) pola yang disebut dalam
Sekuen A dan B (Mitchum, 1977).
Sekuen A, memperlihatkan pola internal
reflektor paralel sampai subparalel. Hal ini
mencerminkan bahwa material penyusunnya
berbutir halus hingga sedang dengan tingkat
energi yang rendah sampai sedang. Proses
sedimentasi yang terjadi di bagian utara relatif
stabil didukung dengan morfologi yang landai
dengan lapisan sedimen relatif datar.
Sekuen B, bisa dikatakan memperlihatkan
pola reflektor yang terkadang transparan hingga
menerus secara beraturan (disebut sebagai sekuen
B1) diinterpretasikan sebagai bagian dari Formasi
Berai yang secara stratigrafi regional disusun atas
sedimen berbutir halus dan pola reflektor yang
umumnya paralel hingga subparalel yang diduga
material penyusunnya berbutir sedang (disebut
sebagai sekuen B2) yang diindikasikan sebagai
pelamparan batubara (coal seam), dan merupakan
bagian dari Formasi Warukin Miosen Tengah
hingga Miosen Akhir (Kusnida, 2004)
SIMPULAN DAN DISKUSI
Secara umum kondisi topografi dasar
perairan Selat Laut berdasarkan interpretasi
rekaman pemeruman menunjukkan bahwa daerah
penyelidikan mempunyai kedalaman yang relatif
sama. Kedalaman terdangkal (2 meter) terdapat
dibagian utara dan tengah, sedangkan kedalaman

Gambar 3. Rekaman seismik L16 berikut interpretasinya

JURNAL GEOLOGI KELAUTAN


Volume 5, No. 1, April 2007

Gambar 4. Rekaman seismik L24 berikut interpretasinya

JURNAL GEOLOGI KELAUTAN


Volume 5, No. 1, April 2007

terdalam (20 meter) dibagian selatan daerah


penyelidikan dengan 2 (dua) pola kontur, yaitu
memanjang mengikuti garis pantai daratan
Kalimantan dengan kerapatan renggang, dan pola
kontur menutup (closure) yang setempat-setempat
membentuk pola memanjang menyerupai alur
kedalaman khususnya yang mengarah ke
pelabuhan Batulicin di Kalimantan dan pelabuhan
Kotabaru di pulau Laut, sedangkan untuk daerah
perairan di sekitar muara S. Sambaluah (bagian
tengah selat - di sisi timur P. Tampakan,
berdasarkan hasil pemeruman diketahui adanya
gosong pasir yang cukup dapat menggangu arus
lalulintas kapal karena kedalamannya sangat
dangkal sekali hanya berkisar 20-30 cm;
Berdasarkan hasil penafsiran rekaman
seismik di daerah sekitar Tg. Ayun,
memperlihatkan kisaran kedalaman batuan keras
antara 12 meter hingga 22 meter di bawah dasar
laut dengan kontrol struktur jauh di bawah alas
akustiknya, namun demikian ke arah timur laut struktur
geologi
bawah
permukaannya
mendangkal ke arah permukaan batuan kerasnya
dengan pelamparan lapisan yang diduga sebagai
lapisan batubara hanya dijumpai secara setempatsetempat.dengan ketebalan diduga tidak lebih dari
2 meter;
Untuk lokasi sekitar P. Suwangi berdasarkan
hasil pemeruman diketahui kedalaman dasar laut
berkisar antara 1,5 hingga 15 meter, dimana
kedalaman terdangkal dijumpai di sekitar sisi
timur P. Suwangi sedangkan terdalam terdapat di
alur jalur masuk ke Pelabuhan Batulicin;
Masih di lokasi yang sama, berdasarkan hasil
seismik diketahui kisaran kedalaman batuan keras
antara 10 hingga 22 meter bawah dasar laut
dengan kecenderungan makin dangkal ke arah
tengah lintasan dengan pelamparan lapisan yang
diduga berupa lapisan batubara (coal seam)
sepanjang 4750m dengan ketebalan berkisar
antara 1 - 1.5 meter dengan kedalaman struktur
yang mengkontrol batuan keras ini cukup rapat
dengan kisaran kedalaman sekitar 18 hingga 10
meter bawah dasar laut, kecuali pada bagian
tengah lintasan kedalaman struktur bawah
permukaannya di jumpai pada kedalaman yang

cukup dangkal (sekitar 10 meter bawah dasar laut)


kemudian makin dalam ke arah tenggara (ke arah
daratan P.Laut) dengan kisaran hingga 18 meter
bawah dasar laut;
Sedangkan untuk lokasi di sekitar Kotabaru
memperlihatkan kisaran kedalaman batuan keras
yang dalam hingga 24 meter bawah dasar laut;
Untuk melengkapi data kedalaman batuan
keras diusulkan dilakukan pemboran sebagai
kegiatan tindaklanjut.
UCAPAN TERIMAKASIH
Puji syukur ke hadiratNya, penulis panjatkan
dengan segala kerendahan hati dengan
terselesaikannya paper ini. Dalam kesempatan
yang berbahagia ini, penulis mengucapkan
terimakasih kepada: Ir. Subaktian Lubis, MSc
selaku
Kepala
Pusat
Penelitian
dan
Pengembangan Geologi Kelautan atas dorongan
dan dukungannya; serta anggota tim Puslitbang
Geologi Kelautan dan BPP Teknologi dalam
pengambilan data selama di lapangan juga tak
lupa teman-teman di Bapppeda Kabupaten
Kotabaru.
DAFTAR PUSTAKA
Kusnida, D. and A. Faturachman, 2004; Marine
acoustic Interpretations of the Selat Laut,
South Kalimantan, Indonesia; Bulletin of
Marine Geology, Vol. 19, No.1.
Mitchum, R., 1977; Seismic Processing - Short
course, AAPG Bangkok.
Syaefudin, Amirdan, Noor C.D Aryanto, Y.
Noviadi, B. Rachmat, 2004; Studi
Pendahuluan Rencana Pembuatan Jembatan
Lintas Selat Pulau Laut Kabupaten
Kotabaru, Unpub. Report; Deputy Bidang
Pengembangan Sumber Daya Alam BPP
Teknologi., Jakarta.
Turkandi, T., Sukarna, D., dan Bawono, S.S.,
1995; Peta Geologi Lembar Tepianbalai,
Kalimantan skala 1:100.000, Puslitbang
Geologi, Bandung

JURNAL GEOLOGI KELAUTAN


Volume 5, No. 1, April 2007

KETERDAPATAN HALOYSIT DAN IKUTANNYA DI PERAIRAN UTARA JAWA TIMUR


Oleh :
Udaya Kamiludin1) dan Noor C.D Aryanto1)
1)

Puslitbang Geologi Kelautan, Jl. Dr. Junjunan No.236, Bandung.

SARI

Perairan Utara Jawa Timur adalah perairan berenergi rendah yang berkaitan erat dengan
akumulasi sedimen berbutir halus. Berdasarkan hasil pengolahan data granulometri menunjukkan
sebagian besar percontohan sedimen diklasifikasikan kedalam lanau. Hasil Analisis X-ray
diffraction, lanau yang secara megaskopis sebagai lempung mengandung mineral lempung jenis
Haloysit; ikutannya yaitu kuarsa alfa, kalsit, feldspar, halit dan hematit. Hasil analisis mineral
menunjukan haloysit ini mempunyai persentase antara 38,57-55,79 % dengan penyusunnya terlihat
dari hasil analisis kimia unsur utama berupa aluminium dalam Al2O3 dan silikon dalam SiO2.
Keterdapatan haloysit terbentuk secara mekanik dari pelapukan mineral aluminosilikat, seperti feldspar
yang bersumber dari batuan volkanik di bagian barat dan bahan gunungapi di sebelah selatan daerah
penelitian.
Kata kunci : Lanau, haloysit, feldspar, perairan Utara Jawa Timur
ABSTRACT
North East Java waters is a low energy waters in relation to fine grain sediment accumulation.
Based on the processing results of granulometry data show the majority sample of sediment classified
into silt. Results of X-ray diffraction analysis, silt megascopically described as clay which is consisted of
clay mineral of halloysite type; its associations are quartz alpha, calcite, feldspar, halite and hematite.
Mineral analyses results show the halloysite has percentage between 38,57 - 55,79 % with composition
confirmed from major element chemical analysis which show aluminum content in Al2O3 and silicon in
SiO2. The occurrence of halloysite formed through mechanical processes from surface weathering of
aluminosilicate minerals, as feldspars which source from volcanic rock in the west part and from
volcanic materials in the south side of the investigation area.
Keywords : silt, halloysite, feldspar, Northeast Java waters.
PENDAHULUAN
Daerah penelitian merupakan bagian dari
Laut Jawa yang sebagian besar masuk ke dalam
wilayah perairan Jawa Timur. Ditinjau dari segi
pengembangan dan pembangunan, daerah
penelitian masih memiliki keterbatasan data
beraspek geologi, khususnya potensi Sumberdaya
mineral kelautan.
Haloysit (Halloysite) digunakan di banyak
industri, sebagai pengisi (filler) kertas dan karet,
kesehatan, kosmetik, semen dan keramik. Haloysit
mempunyai formula sama dengan kaolinit

10

JURNAL GEOLOGI KELAUTAN


Volume 5, No. 1, April 2007

(kaolinite) dan merupakan salah satu mineral


lempung yang termasuk ke dalam kelompok
kaolinit. Kaolinit sendiri adalah merupakan
lempung putih halus, dimana taksiran produk di
Indonesia sebesar 283,3 . 103 ton/tahun, kemudian
ekspor ke berbagai negara tujuan di Asia
sebesar 183,3 . 103 dan impor sebesar
95,6
3
. 10 ton/tahun.
Geologi daerah penelitian termasuk ke dalam
cekungan Utara Jawa Timur yang secara fisiografi
merupakan bagian dari
Zona Antiklinorium

Rembang-Madura, dan Zona Kendeng yang kaya


akan bahan gunungapi. Berdasarkan peta geologi
lembar
Jatiroto (Situmorang, 1992), Tuban
(Hartono,
1997)
dan
Surabaya-Sapulu
(Supandjono, 1992); batuannya terdiri dari
batugamping, batugamping dolomitan dan
dolomit (Formasi Paciran dan Formasi Madura),
batulempung dengan selingan batulanau (Formasi
Kujung), batupasir kuarsa (Anggota Ngrayong
Formasi Tuban), lava andesit (Andesit Lasem),
Breksi Gunungapi dan Aluvium Pantai-Sungai
berukuran kerikil hingga lempung.
Endapan permukaan dasar laut umumnya
berupa sedimen bertekstur
halus. Dari
keseragaman tekstur sedimen ini dicoba untuk
diketahui sampai sejauh mana keberadaan
kandungan mineral lempung dan ikutannya.
Maksud penyelidikan adalah mengumpulkan
dan menginventarisasi keterdapatan mineral
lempung dan ikutannya, untuk
memberikan
informasi potensi sumberdaya mineral, meliputi:
jenis, besaran dan bentukannya.
METODE PENELITIAN
Operasional lapangan, menggunakan Kapal
GEOMARIN milik Pusat Penelitian dan
Pengembangan Geologi Kelautan (PPPGL) yang
dilengkapi dengan perangkat penentuan posisi
Global Positioning System (GPS) dan penuntun
arah (kompas), untuk pengambilan contoh yang
telah direncanakan.
Pengambilan contoh sedimen dasar laut,
pemercontohan sedimen dilakukan dengan
menggunakan penginti gaya berat (gravity corer).
Analisis sedimen, contoh penginti gaya berat
dibagi menjadi dua bagian, bagian pertama
disimpan sebagai arsip dan bagian kedua untuk
berbagai analisis. Setelah pemerian megaskopis,
kemudian contoh dipreparasi
untuk analisis
granulometri, X-ray difraction (XRD), mineral
dan kimia.
Analisis granulometri dilakukan untuk
sedimen berukuran kerikil-pasir seberat 100 gram
dengan pengayakan kering. Bagi fraksi lumpur
yang tersisa di pan seberat 20 gram diambil
untuk pipetisasi. Interval kelas, untuk ayakan 0,5
phi dan pipet sebesar 1phi.
Analisis X-ray diffraction, selain untuk
mengetahui mineral kristalin, dilakukan untuk
mengidentifikasi jenis mineral lempung secara
kualitatif dari sedimen di daerah penelitian.

Analisis mineral, untuk mengetahui ragam


mineral secara kuantitatif. Sedangkan analisis
kimia unsur-unsur utama (major elements) untuk
pembentuk mineralnya.
Nomenklatur
Sedimen,
berdasarkan
diagram segitiga proporsi kerikil terhadap lumpur
dan pasir; dan proporsi pasir terhadap lanau dan
lempung (Folk , 1980) melalui pendekatan
statistika moment (Friedman, 1978).
Secara garis besar terdapat tiga fakta penting
mengenai batasan lempung; pertama berdasarkan
ukuran, mencakup sesuatu yang lebih halus
daripada 4 apakah itu mineral lempung, kuarsa
(quartz), kalsit (calcite), pirit (pyrite) atau unsur
lain; ini disebut sebagai lempung bila dikerjakan
oleh analisis besar butir; kedua berdasarkan
komposisi, disebut sebagai hydrous aluminum
silicates seperti kaolin (kaolinite,) monmorilonit
(monmorillonite) dan golongan ilit (illite); terakhir
berdasarkan petrografi, yang meliputi penamaan
umum lempung, baik sebagai mineral lempung,
termasuk serisit (sericite) dan muskovit
(muscovite) berbutir halus, biotit (biotite) dan
klorit (chlorite) jika lebih halus dari 20 .
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Nomenklatur Sedimen
Secara visual, sedimen di perairan daerah
penelitian umumnya dibentuk oleh fraksi
lempung. Pengolahan data dari hasil analisis
granulometri sebanyak 12 percontohan sedimen
pada kedalaman inti 0 - 20 Cm berdasarkan
nomenklatur sedimen dan parameter statistika
moment umumnya menunjukkan lanau,
sebagian lanau pasiran dan pasir lumpuran sedikit
kerikilan (Tabel 1).
Tabel 1 Nomenklatur sedimen (Folk,1980)
dan statistika moment
Lanau, dijumpai
pada sebagian besar
percontoh dengan persentase lanau antara 93 - 95
%. Menempati lepas pantai di kedalaman laut
berkisar antara 30 m dan 53 m. Satuan ini secara
megaskopis ditafsirkan sebagai lempung yang
mempunyai sifat fisik: abu-abu kehijauan, lunak
dan plastis. Pada bagian bawah contoh inti
dijumpai
kantong pasir yang berisi kumpulan cangkang
moluska jenis gastropoda dan pelecipoda, keadaan
cangkang utuh hingga pecah, berukuran pasir
sampai kerikil. Keberadaan cangkang hasil

JURNAL GEOLOGI KELAUTAN


Volume 5, No. 1, April 2007

11

Tabel 1 Nomenklatur sedimen (Folk,1980) dan statistika momen

LOKASI

STATISTIKA MOMENT

PERSENTASE

KLASIFIKASI

CONTOH

X (Phi)

Sorting

Skewnes
s

Kurtosis

Kerikil

Pasir

Lanau

Lempun
g

Folk (1980)

JTM 06-01

4.8

1.2

0.7

26.6

72.9

0.5

Lanau pasiran

JTM 06-02

5.2

1.2

0.8

3.4

11.6

84.7

3.6

Lanau pasiran

JTM 06-03

5.6

1.2

0.9

2.9

0.6

93

6.5

Lanau

JTM 06-04

5.6

1.2

0.8

2.7

0.1

93.8

Lanau

JTM 06-05

5.4

1.1

1.1

3.9

1.5

93.4

5.1

Lanau

JTM 06-06

5.7

1.3

0.6

2.2

0.5

93.6

5.9

Lanau

JTM 06-07

5.3

1.1

0.8

3.9

4.1

93.2

2.7

Lanau

JTM 06-08

2.2

-0.1

2.5

59.5

35.8

0.7

Pasir lumpuran
sedikit kerikilan

JTM 06-09

5.1

1.4

0.6

3.1

18.6

77.5

3.9

Lanau pasiran

JTM 06-10

5.5

1.2

3.1

0.9

93.1

Lanau

JTM 06-11

5.6

1.2

0.9

2.9

0.1

94.4

5.5

Lanau

JTM 06-12

5.5

1.2

1.1

3.2

0.1

95

4.9

Lanau

preparasi granulometri menunjukan persentase <


1%.
Lanau pasiran, ditemukan pada sebagian
percontoh, menempati lepas pantai di kedalaman
laut < 45 m. Persentase pasir, lanau dan
lempung, masing-masing 11,6 - 26,6 %, 72,9 84,7 % dan 0,5 - 3,9 %.
Lanau pasiran ini
secara megaskopis
dideskripsi sebagai lumpur yang mempunyai
sifat fisik: berwarna sama dengan lanau yaitu abuabu kehijauan; lunak, mengersik dan agak plastis.
Dalam contoh inti sedimennya, sebagian terdapat
kantong pasir yang berisi kumpulan cangkang
moluska, keadaan cangkang utuh hingga pecah,
berukuran pasir sampai kerikil. Pemisahan
cangkang hasil
preparasi
granulometri
menunjukan persentase antara 2 - 10 %.
Pasir
lumpuran
sedikit
kerikilan,
ditemukan pada satu lokasi, menempati
kedalaman laut >30 m. Persentase kerikil, pasir,
lanau dan lempung, masing-masing 4 %, 59,5 %,
35,8 % dan 0,7 %.
Satuan ini secara megaskopis dideskripsi
sebagai pasir lumpuran yang mempunyai sifat
fisik abu-abu kecoklatan, ukuran butir sangat

12

JURNAL GEOLOGI KELAUTAN


Volume 5, No. 1, April 2007

halus-sangat kasar, bentuk butir membundarmenyudut tanggung, pemilahan sangat buruk,


mengandung kuarsa, pecahan cangkang dan
sedikit mineral hitam. Secara berangsur, pada
bagian bawah intinya berkembang kantong pasir
yang berisi kumpulan cangkang moluska
berwarna putih kecoklatan, utuh hingga pecah,
berukuran pasir hingga kerikil. Kandungan
cangkang hasil preparasi menunjukan persentase <
5%.
Mineral Lempung dan Ikutannya
Secara kualitatif, berdasarkan hasil analisis Xray difraction yang dilakukan pada 9 percontoh
memperlihatkan bentuk grafis sama yang
menunjukan mineral lempung jenis haloysit
[Al2Si2O5(OH)4]. Mineral kristalinnya, yaitu
kuarsa alfa (SiO2), kalsit (CaCO3), feldspar, halit
(NaCl), dan hematit (Fe2O3), seperti diwakili oleh
salah satu hasil identifikasi grafis X-ray difraction
(Gambar 1).
Secara kuantitatif, kesembilan percontohan
tersebut di atas berdasarkan hasil analisis mineral
menunjukkan haloysit dengan persentase antara
38,57 - 55,79 %. Mineral ikutannya, antara lain:

Gambar 1. Grafis hasil X-ray difraction percontoh JTM 06-05

Gambar 2 Peta persentase halloysite

JURNAL GEOLOGI KELAUTAN


Volume 5, No. 1, April 2007

13

Tabel 2 Hasil analisis mineral

NOMOR CONTOH
MINERAL

JTM
06-01

JTM
06-02

JTM
06-03

JTM
06-04

JTM 0605

JTM
06-06

JTM
06-07

JTM
06-09

JTM
06-11

P e r s e n t a s e (%)
Halloysite

48,69

55.79

43.17

47.09

43.07

52.8

40.45

38.57

42.10

Alpha Quartz

18.03

9.82

25.48

18.92

17.88

10.13

21.21

19.98

20.21

Calcite

17.67

19.48

12.31

14.23

21.29

17.08

21.77

23.74

11.30

Feldspar

7.98

7.18

10.22

9.61

9.05

7.92

8.52

8.8

18.21

Halite

4.75

3.63

5.41

6.02

5.04

8.14

3.94

5.15

4.93

Hematite

2.88

4.10

3.41

4.13

3.67

3.93

4.11

3.76

3.25

kuarsa alfa 9,82 - 5,48 %, kalsit 11,30 - 23,74 %,


feldspar 7,18 - 18,21 %, halit 3,63 - 8,14 % dan
hematit 2,88 - 4,13 % (Tabel 2).
Haloysit dihasilkan oleh ubahan hidrotermal
(hydrothermal alteration) atau lapukan mineral
yang mengandung aluminosilikat (aluminosilicate
minerals), seperti feldspar yang terdapat dalam
batuan volkanik di daerah penelitian
Persentase Haloysit tampak semakin
mengecil ke arah timur di daerah penelitian
(Gambar 2). Mengecilnya persentase Haloysit
selaras dengan menghilangnya bahan gunungapi
di bagian timur daerah penelitian. Keterdapatan
haloysit bersumber dari batuan volkanik di
bagian barat dan bahan gunungapi di sebelah
selatan daerah penelitian. Haloysit diperkirakan
merupakan hasil lapukan feldspar. Ikutannya,
hematit merupakan mineral berat yang termasuk
ke dalam salah satu kelompok mineral opak,
dimana di bawah kondisi tropik dapat terbentuk
dari hasil oksidasi berupa ubahan mineral yang
mengandung besi atau residu setelah karbonat dan
batuan silikat (laterit) terlarut.
Kesembilan percontohan tersebut di atas
yang dianalisis kimia unsur-unsur utama
memperlihatkan adanya kandungan SiO2 dengan
persentase antara 38,34 - 48,01%, Al2O3 11,44 16,75%, Fe2O3 3,32 - 4,64%, TiO2 0,17 - 0,37%,
CaO 6,71 - 13,63%, MgO 1,10 - 3,89 % Na2O
2,42 - 3,95%, K2O 1,37 - 1,68% dan Cl 2,52 5.21%.
Hasil
analisis
memperlihatkan

14

JURNAL GEOLOGI KELAUTAN


Volume 5, No. 1, April 2007

kandungan sedimen kaya akan unsur utama SiO2,


Al2O3 dan CaO (Tabel 3).
Menonjolnya ketiga unsur utama tersebut di
atas berkaitan dengan penyusun batuan daratnya,
dimana dijumpai adanya batupasir kuarsa dan
batugamping dolomitan. Kemudian di bagian
barat dan di sebelah selatannya, masing-masing
disusun oleh
batuan volkanik dan bahan
gunungapi.
Unsur utama penyusun Haloysit ditunjukkan
oleh kandungan aluminium (Al) dalam Al2O3
(aluminum oxside) dan silikon (Si) dalam SiO2
(silicon oxside/silicate) yang dominan. Sedangkan
kuarsa alfa oleh SiO2; kalsit oleh CaO; feldspar
oleh Al2O3, SiO2, Na2O dan CaO; halit oleh Na2O
dan Cl-; hematit oleh Fe2O3. Alpha quartz
disebut sebagai low quartz. Rutil tidak
teridentifikasi, namun
tampak
ditemukan
penunjang pembentuk unsur utamanya berupa
titanium (Ti) dalam TiO2 (titanium oxside).
SIMPULAN
Sebagian
besar
contoh
sedimen
diklasifikasikan ke dalam tekstur lanau.
Lanau yang secara megaskopis dideskripsi
sebagai lempung, mengandung mineral lempung
jenis Haloysit; kristalinnya berupa kuarsa alfa,
kalsit, feldspar, halit dan hematit.
Haloysit mempunyai persentase antara 38,57
- 55,79 %, dengan unsur utama penyusunnya

berupa aluminium dalam Al2O3 dan silikon


dalam SiO2.
Penyusun sedimen didominasi oleh unsur
utama SiO2, Al2O3 dan CaO yang merupakan
salah satu pembentuk Haloysit , kuarsa alfa dan
kalsit.
Haloysit terbentuk secara mekanik dari hasil
pelapukan mineral aluminium silikat, seperti
feldspar.
DAFTAR PUSTAKA
Folk, R.L., 1980, Petrology of Sedimentary Rocks.
Hemphill Publishing company, Austin
Texas.

Friedman, G.M., dan Sanders, J.E., 1978,


Principles of Sedimentology. John Wiley
and Sons, USA.
Hartono dan Suharsono., 1997, Peta Geologi
Lembar Tuban, Jawa, Pusat Penelitian dan
pengembangan Geologi.
Situmorang, R.L., Smith, R., dan Van Vessem,
E.J., 1992, Peta Geologi Lembar Jatirogo,
Jawa, Pusat Penelitian dan Pengembangan
Geologi.
Supandjono, J.B., Hasan, K., Panggabean, H., dan
Sukardi, 1992, Peta Geologi Lembar
Surabaya dan Sapulu, Jawa,
Pusat
Penelitian dan Pengembangan Geologi.

JURNAL GEOLOGI KELAUTAN


Volume 5, No. 1, April 2007

15

KETIDAKSTABILAN PANTAI SEBAGAI KENDALA PENGEMBANGAN DAERAH


PERUNTUKAN DI PERAIRAN LASEM JAWA TENGAH
Oleh :
D. Ilahude1) dan E. Usman 1)
1)

Puslitbang Geologi Kelautan, Jl. Dr. Junjunan No.236, Bandung

SARI
Lokasi daerah studi secara geografis terletak di pesisir utara Pulau Jawa dan termasuk pantai
terbuka terhadap pengaruh energi gelombang dari arah barat laut dan timur laut. Proses abrasi di
sepanjang garis pantai Lasem khususnya di bagian timur laut relatif besar. Pasokan sedimen dari pesisir
pantai bagian timur laut Lasem tersebut cenderung diendapkan di bagian tengah dan barat daya daerah
penelitian.
Kata Kunci : abrasi, pasokan sedimen
ABSTRACT
The study area is geographically located on the northern coast of Jawa, which is an open beach
influenced by wave action from the northwest and northeast direction. The abrasion process occurre
relatively at the northeastern coastline of the the Lasem area. Sediment supply from the northeastern of
Lasem tend to be deposited in the central and the southwestern part of the study area.
Key words : abrasion, sediment supplay

PENDAHULUAN
Daerah yang diteliti secara geografis
terletak di pantai bagian utara Pulau Jawa
(pantura), yang dibatasi oleh koordinat 111o23 111o31 BT dan 6o26 - 6o34LS. Pesisir pantai
utara daerah ini dari tahun ke tahun mengalami
abrasi terutama di bagian timur Kabupaten
Rembang yaitu daerah Lasem bagian timur
(Usman, 2004). Aktifitas energi gelombang
tersebut ditandai dengan adanya indikasi abrasi
pada beberapa lokasi di bagian timur laut Lasem,
dan akumulasi sedimen di muara sungai.
Diperkirakan fenomena alam tersebut berlangsung
secara musiman (Foto 1). Ketidakstabilan garis
pantai akibat adanya abrasi gelombang musiman
tidak dapat dihindari terutama pada musim barat,
menyebabkan garis pantai di bagian timur
Kecamatan Lasem ini mengalami kemunduran
pada beberapa lokasi, terutama lahan pertanian
dan tumbuhan mangrove di kawasan tersebut.

16

JURNAL GEOLOGI KELAUTAN


Volume 5, No. 1, April 2007

Sebagian tumbuhan mangrove yang masih tersisa


di bagian timur Lasem ini cukup menahan laju
abrasi pantai di kawasan tersebut. Secara visual
proses abrasi dan akrasi di pesisir perairan Lasem
dan sekitarnya masih berjalan secara alami, akan
tetapi jika pada suatu ketika di daerah Lasem
bagian timur terjadi pembukaan lahan tambak
ataupun pengembangan daerah peruntukan, maka
laju abrasi pantai tersebut diperkirakan akan
meluas terutama ke arah bagian timur. Sementara
itu di pihak lain laju abrasi tersebut akan
melahirkan
material
(sedimen)
yang
mengambang, sehingga bersamaan dengan itu,
pada musim barat dan timur adanya arus
menyusur pantai yang cenderung memasok
sedimen tersebut ke beberapa lokasi yang
menimbulkan sedimentasi (akrasi) di sepanjang
pantai. Gejala sedimentasi ini dapat mengimbangi
laju abrasi yang telah terjadi di bagian timur laut
Lasem yang diperkirakan berlangsung pada
musim barat.

Gambar 1. Lokasi daerah penelitian

dan kedua adalah sedimen dari


daratan terutama yang dipasok
oleh sungai pada musim hujan.
Untuk mengkaji proses
abrasi dan sedimentasi di daerah
tersebut, diperlukan data dan
informasi mengenai
aspek
geologi dan oseanografi di
perairan tersebut, terutama data
litologi
pantai dan data
parameter oseanografi. Oleh
karena daerah penelitian tidak
termasuk dalam zona perairan
samudera maka tujuan dari
penelitian
hidro-oseanografi
yang dilakukan di daerah pesisir
pantai perairan Lasem ini,
diarahkan hanya untuk mengkaji
dua aspek yaitu yang pemicu
proses abrasi dan laju pasokan
sedimen
(Q)
serta
arah
pengendapannya yang berkaitan
dengan pengembangan daerah
peruntukan di daerah Lasem dan
sekitarnya.

Tatanan Geologi
Proses sedimentasi di kawasan tersebut
Menurut Kadar dan Sudijono (1993), daerah
ditunjukkan oleh endapan sedimen (gosong pasir)
Rembang
dan sekitarnya merupakan dataran
dengan bentuk melingkar dekat garis pantai
aluvium yang tersusun oleh endapan sungai dan
dengan luas mencapai
246,5 ha (Usman drr,
pantai yang terdiri atas kerakal, kerikil, pasir,
2004).
lanau dan lempung, sedangkan pada dataran
Gejala abrasi garis pantai di beberapa lokasi
di bagian timur laut Lasem
tersebut, merupakan indikasi
bahwa telah terjadi refraksi
penjalaran gelombang (wave
orbital refraction) menuju pantai
yang memicu arus sejajar pantai
(longshore current) yang bergerak
memasok sedimen cenderung ke
arah barat daya. Pasokan sedimen
secara periodik (musiman) ini
berdampak
terhadap
pendangkalan di pesisir pantai
Lasem dan sekitarnya. Terjadinya
pengendapan sedimen di muara
sungai maka diperkirakan paling
tidak, ada dua sumber pemasokan
material di pesisir perairan Lasem
ke arah barat daya yaitu yang
pertama adalah yang berasal dari Foto 1. Sedimentasi di muara sungai di lokasi B2 (pada gbr. 4) di bagian tengah
daerah telitian.
abrasi pantai di bagian timur laut
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN
Volume 5, No. 1, April 2007

17

rendahnya tersusun oleh batuan sedimen napal,


batupasir, batulempung, batulempung gampingan
dan serpih yang menempati daerah bagian utara,
barat dan timur.
Secara visual pesisir pantai daerah Lasem dan
sekitarnya mempunyai bentang alam yang
berhadapan dengan Laut Jawa dengan berbagai
tipe pantai. Tipe pantai dataran berlumpur terdapat
di bagian barat daerah penelitian, sedangkan tipe
pantai dataran berpasir dan berbakau serta pantai
bertebing berbatuan, terdapat di daerah bagian
timur Lasem (Usman drr, 2004).
Jika dilihat dari dinamika proses pantai dan
klasifikasi zona pantai (coastal zone) maka
horizon pantai daerah penelitian termasuk dalam
katagori zona pantai terbuka (open beach)
(Sulaiman drr, 1993).
Metode Penelitian
Sebagai dasar untuk memperoleh nilai
parameter oseanografi dan pergerakan sedimen di
sepanjang pantai (longshore drift), dilakukan
analisis kualitatif terhadap data angin di atas 10
knot yang diacu dari data angin Stasiun
Meteorologi Tanjung Perak Surabaya, Jawa Timur
selama lima tahun.
Nilai parameter tersebut
ditentukan dengan menggunakan kurva prediksi
gelombang perairan dalam (deep water wave
forecasting curve) (Bretschneider, 1954), guna
mendapatkan tinggi dan periode gelombang di
daerah penelitian. Untuk mendapatkan besaran
energi fluks gelombang sepanjang pantai,
digunakan formulasi Ijima dan Tang (1967).
Dengan menggunakan perangkat lunak energi
fluks, hasil analisis ini kemudian disajikan dalam
peta pergerakan sedimen sepanjang pantai.
Selanjutnya untuk mengetahui nilai laju pasokan
sedimen tererosi (Q) persatuan waktu, dilakukan
pendekatan dengan menggunakan persamaan
linier empiris yang diformulasikan oleh Komar
dan Inman dalam Bijker (1988). Nilai yang
diperoleh tersebut merupakan pasokan rata-rata
sedimen terangkut sepanjang pantai (longshore
transport rate) akibat abrasi gelombang dalam
satuan meter kubik pertahun.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Klimatologi dan Laju Sedimentasi
Dari data klimatologi, perairan ini sangat
dipengaruhi oleh dinamika iklim global terutama
pengaruh angin musim sepanjang tahun (Stasiun

18

JURNAL GEOLOGI KELAUTAN


Volume 5, No. 1, April 2007

Tabel 1. Analisis prosentase arah angin permukaan di atas


10 knot selama 5 tahun.
Arah

Prosentase %

Utara

3.01

Timur Laut

17.73

Timur

8.63

Tenggara

32.55

Selatan

0.98

Barat Daya

6.29

Barat

2.20

Barat Laut

28.57

Meteorologi Tanjung Perak Surabaya, 19811985).


Hasil analisis data angin permukaan di atas
10 knot yang bersumber dari jaringan Stasiun
Meteorologi Tanjung Perak Surabaya (Tabel 1),
menunjukkan bahwa daerah pantai utara Jawa
bagian timur, dipengaruhi oleh angin musim
(monsoon) secara periodik baik dari barat laut
maupun dari tenggara yang digambarkan dalam
diagram windrose (Gambar 2). Persentase arah
angin permukaan dari arah lainnya relatif kecil.

N
35
30
NW

NE

25
20
15
10
5

SW

SE

Ket. : 20 - Persentase arah dan kecepatan angin dalam knot


Gambar 2. Diagram windrose hasil analisis dari data
Stasiun Meteorologi Tanjung Perak Surabaya
(1982-1985).

Refraksi muka gelombang


LWL
HWL

Sketsa arah gerak material

L AS EM

Keterangan :
LWL : Low water level
HWL : High water level

Gambar 3. Arah gerak sedimen sepanjang pantai akibat refraksi gelombang di perairan Lasem dan sekitarnya
yang berosilasi antara surut terendah (LWL) dan pasang tertinggi (HWL).

Frekuensi angin ini cukup membangkitkan


komponen
parameter
oseanografi
secara
signifikan antara lain tinggi gelombang dan arus
sepanjang pantai (longshore current) di perairan
Lasem dan sekitarnya.
Secara visual arus sejajar pantai timbul
setelah energi gelombang mengalami refraksi
karena adanya perubahan kedalaman di lepas
pantai Lasem (Gambar 3). Umumnya energi
gelombang dan pergerakan sedimen tersebut
terjadi pada saat air menuju pasang hingga pasang
maksimum setelah melewati zona gelombang
pecah dan bergerak osilasi mengikuti arus sejajar
pantai dan sebagian bergerak ke arah lepas pantai.
Dari pengamatan di lapangan khususnya di
lepas pantai bagian barat daya Lasem, terjadi
pendangkalan yang ditandai dengan munculnya
endapan sedimen (gosong pasir) pada saat air
surut. Di pihak lain, bagian timurlaut Lasem
secara visual dijumpai adanya indikasi erosi
(abrasi) pada lereng pantai yang ditandai dengan
kemiringan pantai yang curam dengan sudut
kemiringan lebih besar dari 45 derajat, sedangkan
di bagian barat daya relatif landai karena adanya
sedimentasi. Pasokan sedimen yang membentuk
gosong pasir tersebut menunjukkan bahwa paling

tidak telah terjadi pasokan sedimen sebagai efek


dari proses abrasi pantai di bagian timur laut dan
pasokan sedimen dari muara sungai yang dipasok
ke arah barat daya. Pendangkalan tersebut
ditunjukkan dalam morfologi tepian dasar laut
pantai Lasem pada sisi bagian barat daya dan
tengah daerah penelitian (Gambar 4).
Dari beberapa data di lapangan tersebut maka
dilakukan pendekatan dengan menggunakan data
statistik frekuensi angin guna menentukan nilai
parameter gelombang yang berpengaruh terhadap
pesisir pantai Lasem dan sekitarnya. Untuk
mengkaji adanya endapan sedimen yang
terakumulasi di bagian barat daya Lasem tersebut
maka dilakukan pengumpulan data parameter
oseanografi dan data angin selama lima tahun
yang diambil dari Stasiun Meteorologi Tanjung
Perak Surabaya. Data tersebut kemudian dianalisis
dengan menggunakan kurva prediksi gelombang
perairan dalam (deep water wave forecasting).
Berdasarkan pendekatan kurva prediksi
gelombang perairan dalam, diperoleh tinggi
gelombang di daerah penelitian berkisar antara 0.5
hingga 2.5 meter dengan periode antara 1.5 hingga
5.5 detik. Sudut datang gelombang pada titik
pendugaan di sepanjang garis pantai sebagai
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN
Volume 5, No. 1, April 2007

19

Gambar 4. Morfologi tepian dasar laut pantai Lasem dan sekitarnya

faktor koreksi untuk mendapatkan besaran nilai


energi fluks dan arah arus sejajar pantai yang
bermuatan sedimen (longshore transport).
Nilai energi fluks gelombang dapat diperoleh
dengan mensubstitusikan nilai tinggi dan periode
gelombang signifikan di sepanjang pantai pada
persamaan linier empiris yang formulasikan oleh
Ijima dan Tang (1967).
Hasil analisis ini menunjukkan bahwa arah
pergerakan sedimen tersebut cenderung ke arah
barat daya dengan daerah abrasi meliputi kawasan
bagian timur laut daerah Lasem yang digambarkan
dalam peta pergerakan sedimen pantai sepanjang
tahun (Gambar 5).
Kecepatan arus pasang surut (tidal current)
yang terekam di daerah penelitian secara eksplisit
relatif kecil yaitu rata-rata 0,1 meter/detik pada
saat surut dan 0,05 meter/detik pada saat pasang.
Dengan
demikian
pengaruhnya
terhadap
pergerakan sedimen jauh lebih kecil jika
dibandingkan dengan kecepatan pasokan sedimen
yang ditimbulkan oleh komponen arus sepanjang
pantai. Oleh karena kecepatan arus pasang surut
tersebut relatif kecil maka prediksi tinggi

20

JURNAL GEOLOGI KELAUTAN


Volume 5, No. 1, April 2007

gelombang perairan dalam, khususnya pada tiga


lokasi (W1, W2 dan W3), diperlukan untuk
mengetahui seberapa besar pengaruh energi
Q=

Il
(s - )g (1 p)

gelombang yang memicu proses erosi dan arus


sepanjang pantai di daerah Lasem (Gambar 5).
Dengan mengacu dari litologi pantai yang
terdiri antara lain berupa sedimen pasir terutama
di bagian timurlaut Lasem (Usman drr, 2004)
maka volume pasokan sedimen rata-rata
sepanjang pantai (longshore transport rate) dapat
diperoleh dari formulasi yang diaplikasikan oleh
Komar dan Inman dalam Bijker (1988) sebagai
berikut :
Dimana
Q :Volume pasokan material rata-rata sepanjang
pantai (m3/tahun)
s : Densitas sedimen (Kg/m3)

g : Percepatan gravitasi (m/det2)

JURNAL GEOLOGI KELAUTAN

Volume 5, No. 1, April 2007

21

Gambar 5. Peta pergerakan sedimen pantai sepanjang tahun di perairan Lasem dan sekitarnya.

No.

Lokasi

Energi Fluks
(Pl )

Pasokan
Sedimen Rata-Rata Sepanjang
Pantai (Q)

(Newton-m/dt)

(m3 /tahun)

Barat daya (Zona W-1)

18.56

1308.8

Tengah (Zona W-2)

34.9

2461.4

Timur laut (Zona W-3)

41.86

2952

Tabel 2. Prediksi pasokan sedimen rata-rata pertahun di pantai perairan Lasem dan
sekitarnya.
3
PEMBAHASAN
: Densitas air (Kg/m )
Periode iklim pada musim barat dan timur
p : Porositas sedimen
sangat
berpengaruh terhadap perubahan garis
Il : Laju pasokan material akibat energi fluks
pantai
di
daerah penelitian yang ditandai dengan
sepanjang pantai : K x Pl,
lereng pantai yang tererosi dan proses sedimentasi
yang tampak di beberapa tempat.
Adanya
Dimana :
endapan
sedimen
di
sekitar
muara
sungai
K : Konstanta Komar dan Inman,
merupakan indikasi adanya sebagian material
Pl : Energi fluks sepanjang pantai.
yang dipasok dari darat terutama pada periode
musim hujan yang telah terbukti dengan lahirnya
Hubungan matematis di atas memperlihatkan
gosong pasir di bagian barat daya daerah
bahwa nilai kumulatif I l merupakan fungsi linier
penelitian. Endapan sedimen yang terbentuk di
dari nilai Q. Oleh sebab itu besaran energi fluks
muara sungai menunjukkan bahwa frekuensi
yang diperoleh di perairan Lasem dan sekitarnya
curah hujan pertahun relatif besar yaitu sebesar
(Tabel 2), merupakan salah satu acuan untuk
879 cm/tahun dengan rata-rata hari hujan 18 cm/
mendapatkan nilai pasokan material rata-rata
tahun (Usman drr, 2004).
persatuan waktu. Pada musim timur dan barat,
Dengan melihat kondisi di lapangan serta
nilai Q ini akan meningkat terutama laju pasokan
hasil prediksi tinggi gelombang dan pasokan
material sepanjang pantai ke arah bagian barat
sedimen rata-rata sepanjang tahun, maka di pesisir
daya daerah penelitian.
pantai Lasem dan sekitarnya terdapat titik-titik
Dari peta pergerakan arus bermuatan sedimen
yang berpotensi terjadi abrasi yang ditunjukkan
(Gambar 5) dan prediksi pasokan sedimen rataoleh zona abrasi dan pasokan sedimen sepanjang
rata sepanjang pantai (Tabel 2), menunjukan
tahun yang mengarah ke barat daya. Pasokan
bahwa dari barat daya ke timur laut nilai pasokan
sedimen rata-rata per tahun tersebut sangat erat
sedimen rata-rata pertahun (Q) adalah sebesar
kaitannya dengan frekuensi abrasi di pantai bagian
1308.8, 2461.4, dan 2952 m3/tahun. Energi fluks
timur laut Lasem. Adanya pasokan sedimen
gelombang terendah terdapat di bagian barat daya
bergerak ke arah barat daya maka tidak menutup
daerah penelitian yaitu pada zona W-1, sedangkan
kemungkinan akan mengakibatkan proses
tertinggi berada di bagian zona W-3. Besaran
sedimentasi di pesisir pantai tersebut semakin
energi fluks sepanjang pantai (Pl ) dan nilai
berkembang.
pasokan sedimen rata-rata (Q) pada tiga lokasi
Hasil prediksi pasokan sedimen pada zona
tersebut, bukan merupakan angka mutlak
W-3 (Tabel 2), menunjukkan bahwa nilai Q di
sepanjang tahun. Oleh sebab itu perubahan nilai
lokasi ini lebih besar dari pada di zona W-1 dan
energi flux (Pl) pada musim barat dan musim timur
W-2 dengan jumlah nisbih pasokan sedimen
akan berpengaruh pada besaran pasokan sedimen
cenderung bergerak ke arah barat daya, sesuai
rata-rata (Q) sepanjang tahun.
dengan pergerakan arus sepanjang pantai di
daerah Lasem dan sekitarnya (Gambar 5).

22

JURNAL GEOLOGI KELAUTAN


Volume 5, No. 1, April 2007

JURNAL GEOLOGI KELAUTAN

Volume 5, No. 1, April 2007

23

Gambar 6. Peta kedalaman dasar laut (batimetri) perairan Lasem dan sekitarnya.

Dengan demikian dari aspek parameter


oseanografi menggambarkan bahwa daerah bagian
barat daya Lasem diperkirakan akan menjadi zona
akumulasi
sedimen
sepanjang
tahun.
Perkembangan daerah sedimentasi tersebut
terpantau pada peta batimetri yang renggang di
bagian tengah hingga ke barat daya daerah
penelitian, dengan kedalaman 1 sampai dengan 2
meter jauh ke arah lepas pantai pada saat surut
(Gambar 6). Di pihak lain di bagian timur laut
menunjukkan pola kontur yang relatif rapat dan
lebih dalam jika dibandingkan dengan perairan di
bagian barat daya yaitu di atas 6 meter.
Kedalaman laut bertambah ke arah utara dan timur
laut dengan pola garis kontur cenderung berarah
barat daya-timur laut mengikuti progradasi
lengkungan daratan Lasem dan sekitarnya. Hal ini
menunjukkan bahwa proses pendangkalan yang
disebabkan oleh pasokan arus yang bermuatan
sedimen ke arah timur laut relatif kecil jika
dibandingkan dengan ke arah barat daya.
Dengan adanya endapan sedimen yang telah
membentuk gosong pasir di lepas pantai bagian
barat daya Lasem merupakan bukti bahwa
pergerakan arus yang bermuatan sedimen di
pesisir
pantai Lasem dan sekitarnya telah
berlangsung lama (Gambar 5). Terdapatnya titiktitik yang berpotensi abrasi di daerah bagian timur
laut Lasem maka perlu dipertimbangkan
pembuatan sistem proteksi pantai yang berkaitan
dengan daerah peruntukan di kawasan tersebut
sehingga tidak menambah luasnya daerah erosi.
SIMPULAN
Pengendapan sedimen kearah baratdaya
berdampak positif terhadap pengembangan lahan
pertumbuhan hutan mangrove sebagai peredam
alamiah dari aktifitas abrasi gelombang pada
musim barat. Akan tetapi perkembangan
sedimentasi tersebut berdampak negatif terhadap
pengembangan untuk alur pelayaran. Pasokan
sedimen rata-rata per tahun sangat erat kaitannya
dengan frekuensi abrasi di pantai bagian timur laut

24

JURNAL GEOLOGI KELAUTAN


Volume 5, No. 1, April 2007

Lasem, sehingga aktifitas abrasi menjadi kendala


utama jika di pesisir pantai Lasem tersebut akan di
buka menjadi kawasan tambak dengan
mengorbankan sisa-sisa tumbuhan mangrove di
sekitarnya.
DAFTAR PUSTAKA
Bijker, E.W., 1988, An international journal for
coastal, harbour and offshore engineers,
Coastal Engineering, Volume 12, No. 3
Bretschneider, C. L.,1954, Generation of wind
wave over a shallow bottom, US Army
Corps of Engineering, Beach Tech. Memo.,
no. 51.
Data angin dan curah hujan, 1981-1985, Stasiun
Meteorologi Tanjung Perak Surabaya,
Badan Meteorologi dan Geofisika, Laporan
bulanan, Tidak dipublikasikan.
Ijima and Tang F.L.W., 1967,
Numerical
calculation of wind wave at shallow water,
Proc. 10th Conf. Coastal Eng. P.3-45.
Kadar, D. dan Sudijono, 1993, Peta geologi
Lembar Rembang, Jawa, Pusat Penelitian
dan Pengembangan Geologi, Bandung.
Sulaiman, Dede, M., Syamsudin (1993), Coastal
Area Management in Indonesia, Proc. of
Seminar Nasional Peran Teknik Hidraulik
dan Hidrologi Dalam Pengembangan
Sumberdaya Air, PAU-UGM, Yogyakarta
pp.92-100.
Usman, E., Ilahude, D., Novico, F., Mirayosi,
Setyadi, D., Karmini, M., Tri Dewi, K.,
Hartono, Permanawati, Y., 2004. Kajian
aspek geologi dan geofisika pengembangan
pelabuhan Lasem, Kabupaten Rembang,
Pusat Penelitian dan Pengembangan
Geologi Kelautan, Laporan internal, Tidak
dipublikasikan.

STRUKTUR DIAPIR BAWAH PERMUKAAN DASAR LAUT DI KAWASAN PESISIR


SELATAN KABUPATEN SAMPANG-PAMEKASAN, JAWA TIMUR
Oleh :
Prijantono Astjario 1) dan Lukman Arifin 1)
1)

Puslitbang Geologi Kelautan, Jl. Dr. Junjunan No.236, Bandung.

SARI

Penelitian seismik pantul dangkal saluran tunggal (seismic profiling) dilakukan di lepas pantai
Kabupaten Sampang dan Pamekasan, pesisir selatan Madura dengan hasil rekaman sepanjang 300 km.
Interpretasi data seismik dilakukan dengan cara memisahkan runtunan-runtunan yang diduga
mempunyai karakter yang berbeda serta mencirikan urut-urutan pengendapan batuan sedimen.
Ciri dari runtunan Kuarter ditandai dengan sedimen yang mempunyai runtunan yang tidak
terganggu oleh aktivitas struktur geologi seperti perlipatan maupun pensesaran. Runtunan Tersier
dicirikan dengan adanya aktivitas struktur lipatan sangat ketat seperti antiklin, sinklin, dibarengi
dengan sesar-sesar, serta intrusi-intrusi diapir.
Data interpretasi seismik pantul dangkal saluran tunggal memberikan gambaran tentang struktur
geologi bawah dasar laut walaupun dengan penetrasi yang sangat terbatas (dangkal). Data tersebut
juga memberikan gambaran serta indikasi adanya jebakan-jebakan gas bumi dan diapir di kawasan
pantai Kabupaten Pemekasan dan Sampang.
Kata Kunci : seismik, runtunan, diapir, Sampang dan Pamekasan
ABSTRACT
Single channel seismic profiling activity carried out in the southern coast of Pamekasan and
Sampang District, southern coast of Madura, has recorded data of more or less 300 kilometres. The
interpretation of seismic profiling records have been done by separating the sequence of sediments which
have chronologically different character and depositional environments.
The characteristic of Quaternary sediment sequence is indicated by the sediment that did not
disturbed by geological structures, such as folding and faulting. The Tertiary sediment sequences in the
south coast of Pamekasan area have been tightly folded which consist of anticline, sincline shale diapir
and faulting phenomena.
The interpretation of seismic profiling data showed the indication of the geological structure under
the sea floor although by means of the shallow penetration energy. It still can be helpful to indicate
diapire and gas closures in the southern coast of Sampang and Pamekasan areas.
Key words : seismic, sequence, diapire, Sampang and Pamekasan
PENDAHULUAN
Pantai selatan Kabupaten Pamekasan hingga
Kabupaten Sampang merupakan kawasan pantai
yang landai dengan energi gelombang yang
rendah membuat wilayah ini menjadi kawasan
pantai yang relatif stabil terhadap erosi laut.

Di
kawasan
pantai
ini
tersingkap
batugamping terumbu dan endapan aluvium
berumur Kuarter, sementara di bagian darat
tersingkap Formasi Pamekasan khususnya di
sungai-sungai yang mengalir melalui kota
Pamekasan yang berumur Pliosen. Di bawah

JURNAL GEOLOGI KELAUTAN


Volume 5, No. 1, April 2007

25

Gambar 1. Peta lokasi daerah penelitian di kawasan pantai Pamekasan, Pulau Madura, Jawa Timur.

formasi tersebut adalah Formasi Madura berumur


Miosen Akhir Pliosen (Mulhadiono drr, 1984).
Kawasan pantai selatan Pulau Madura adalah
kelanjutan dari Cekungan Jawa Timur Madura,
yang merupakan cekungan busur dalam (back arc
basin). Batuan sedimen berumur Tersier
mengalami perlipatan yang ketat serta pensesaran
yang dapat dijadikan sebagai indikasi adanya
jebakan-jebakan gas bumi dan serpih lumpur di
bawahnya. Dua pemboran eksplorasi telah
dilakukan di kawasan selatan Madura yaitu
sumur-bor MS-1 dan sumur-bor Konang, akan
tetapi kedua sumur tersebut tidak menghasilkan
hidrokarbon akan tetapi hanya semburan gas bumi
yang kurang bernilai ekonomis.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
menginventarisasi sumber daya alam di kawasan
pesisir. Dalam penelitian ini ditemukan indikasi
struktur geologi bawah dasar laut. Struktur
geologi tersebut diduga sebagai jebakan-jebakan
hidrokarbon serta gas bumi, akan tetapi dengan
menggunakan perangkat seismik pantul dangkal
saluran tunggal struktur ini hanya merupakan

26

JURNAL GEOLOGI KELAUTAN


Volume 5, No. 1, April 2007

perlipatan sedimen yang mengandung lumpur dan


gas bumi. Perlu adanya penelitian lebih lanjut dan
rinci di perairan Selat Madura, dengan
menggunakan perangkat yang lebih baik dan
modern yang akan menghasilkan penetrasi lebih
dalam seperti perangkat seismik saluran banyak
(multi channel) untuk dapat merekam secara jelas
struktur geologi yang lebih luas dan dalam.
Daerah penelitian meliputi sebagian kawasan
pantai selatan bagian timur Kabupaten Sampang
dan kawasan pantai selatan bagian barat
Kabupaten Pamekasan, yang terletak pada
koordinat 07 00 - 07 35 Lintang Selatan dan
113 00 - 113 30 Bujur Timur atau terletak pada
lembar peta 1608 5. Luas daerah penelitian
mencakup kurang lebih 1500 km2 dengan garis
pantai sepanjang kurang-lebih 90 km (Gambar 1).
Tinjauan Geologi Umum
Secara geologi kawasan pesisir Pamekasan,
Madura, merupakan kumpulan struktur lipatan
dari Mandala Rembang bagian timur (van
Bemmelen, 1949), dicirikan oleh satuan

perbukitan lipatan bergelombang. Jajaran lipatanlipatan batuan sedimen dengan arah sumbu barattimur tersebut membentuk topografi dan struktur
geologi yang spesifik dari mandala ini. Secara
morfologi dapat dibagi menjadi satuan-satuan
morfologi punggungan sinklin, antiklin dan
lembah homoklin.
Formasi Kalibeng menurut penelitian
terdahulu yang dilakukan oleh Pringgoprawiro
(1980) disebut juga sebagai Formasi Paciran,
terdiri dari batugamping pasiran bersisipan
batugamping terumbu dan napal. Ketebalan
Formasi Paciran adalah 100 250 m; berumur
Miosen Akhir hingga Pliosen; terendam dalam
lingkungan litoral sublitoral.
Formasi Paciran ini ditutupi secara tidak
selaras
oleh
Formasi
Pamekasan
(Koesoemadinata, 1969) dengan setebal 250 m,
yang tersusun dari batulempung, batupasir kuarsa
dan konglomerat yang menempati morfologi
perbukitan landai; berumur Pliosen; dengan
lingkungan pengendapan litoral. Khususnya di
pesisir
pantai
selatan
Madura
yang
menyingkapkan Formasi Pamekasan yang ditutupi
secara tidak selaras oleh batugamping koral
berumur Kuarter dan pada dataran rendah ditutupi
oleh endapan aluvium (Mulhadiono drr, 1984).
Formasi Paciran tersebut terdiri atas
batugamping terumbu dan batupasir, terbentuk
akibat dari penurunan Pulau Madura pada Miosen
Akhir hingga Pliosen (Pringgoprawiro, 1983)
yang mengakibatkan
terjadinya genang laut
sehingga membentuk lingkungan litoral
sublitoral. Genang laut ini membentuk paparan
laut dangkal yang sangat luas dan memungkinkan
tumbuhnya terumbu karang. Pada Pliosen Akhir,
Pulau Madura mengalami pengangkatan kembali
hingga seluruh pulau tersebut berada dipermukaan
laut.
Formasi Pamekasan terdiri atas batulempung
pasiran yang banyak mengandung cangkang
moluska terendapkan pada kala Pliosen, saat
Pulau Madura mengalami penurunan kembali
hingga di bawah permukaan laut dalam
lingkungan litoral. Akibat proses penurunan
tersebut Pulau Madura mengalami kemiringan ke
arah bagian selatan (tilting) pada kala Plistosen.
Seluruh
Pulau
Madura
mengalami
pengangkatan kembali pada Holosen hingga saat
ini, hal tersebut ditandai oleh luasnya endapan
aluvial dan terumbu karang disepanjang pantai

selatan dan utara, mengakibatkan munculnya P.


Kambing .
Secara regional perairan Selat Madura
merupakan bentuk struktur graben, didominasi
oleh batuan sedimen dari Mandala Kendeng yang
banyak mengandung material volkanik dan
terlipat ketat, dengan arah sumbu barat- timur,
berpotensi menjadi jebakan-jebakan minyak dan
gas bumi. Sesar-sesar naik juga dijumpai di
mandala ini, rekahannya dimanfaatkan gas yang
bertekanan tinggi untuk merembes hingga
kepermukaan dasar laut. Tidak sedikit struktur
diapir ditemukan di perairan Selat Madura yang
berada dekat permukaan dasar laut terisi oleh
lumpur serpih cair dengan temperatur tinggi dan
bertekanan tinggi, potensi membentuk struktur
lumpur volkanik (mud volcanic) seperti yang
ditemukan di Blora dan daerah utara Mojokerto
tepatnya di Sidoarjo.
Gas alam banyak dijumpai di daerah
penyelidikan terutama dalam batupasir yang
berselingan dengan batugamping dari Formasi
Tawun berumur Miosen Tengah (Pringgoprawiro,
1980). Pemboran-pemboran telah dilakukan oleh
BPM dan Stanvac pada tahun 1936, diantaranya
sumur bor Konang-1 mencapai kedalaman 1440 m
menghasilkan semburan gas (Koesoemadinata,
1969)..
METODE PENELITIAN
Dalam kegiatan penelitian wilayah pantai
guna menginventarisasi sumberdaya alam
kawasan pesisir salah satu kegiatannya adalah
melakukan kegiatan penelitian geofisika, antara
lain melakukan rekaman pemeruman guna
mengetahui morfologi dasar laut dan rekaman
seismik guna mendapatkan data tentang perlapisan
endapan sedimen berumur Kuarter serta struktur
geologi bawah permukaan di sekitar kawasan
pesisir.
Pemeruman (sounding) dilakukan selama
pelaksanaan perekaman seismik pantul dangkal
saluran tunggal guna memantau kedalaman laut
selama penyelidikan berlangsung. Dalam
pemeruman ini digunakan peralatan Echosounder
IMC model 8001 yang termasuk tipe dual
frequensi dan dapat dioperasikan dengan
menggunakan transduser keramik 200 kHz
dengan lebar beam 12 derajat.
Penampang seismik pantul dangkal saluran
tunggal (seismic profiling) penelitian ini dilakukan
di lepas pantai Pamekasan dan sekitarnya
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN
Volume 5, No. 1, April 2007

27

Gambar 2. Kedalaman laut (bathymetry) di kawasan pantai selatan Kabupaten Pamekasan dan
Kabupaten Sampang

sepanjang 300 km. Kegiatan seismik pantul


dangkal saluran tunggal menggunakan sparker
dengan energi 300 Joule sampai dengan 500 Joule
dihasilkan dari spark-array EG & G 267 A dengan
tiga elektroda. Sistem perekaman dilakukan pada
laju satuan (sweep rate) tiap setengah detik dan
picu ledak ditentukan tiap satu detik, dengan
memakai bandpast filter yang dipisahkan antara
250 Hz sampai dengan 2500 Hz. Hidrophone yang
digunakan adalah jenis multy elements streamer
(MESH) Benthos, sedangkan luaran direkam
dengan alat perekam analog jenis EPC 3200 S.
Dari hasil penyelidikan ini didapatkan data
rekaman penampang seismik dangkal saluran
tunggal, berupa penampang waktu (time section)
yang merupakan data rekaman gelombang pantul
dari bidang-bidang pantul akibat adanya
perbedaan kepadatan (density contras) pada
interface antara lapisan atas dan bawahnya
Dengan menganalisis sifat-sifat serta wujud
pantulan setiap lapisan dengan ditunjang oleh data
acuan geologi yang ada maka akan dapat
dihasilkan penafsiran penampang geologi yang
menggambarkan adanya urut-urutan tatanan
stratigrafi, struktur geologi, jenis batuan dengan
ketebalan maupun sebarannya.
HASIL PENELITIAN
Koreksi data batimetri yang diterapkan
adalah elevasi pasang surut yang diperoleh dari
hasil
pengukuran
selama
penyelidikan

28

JURNAL GEOLOGI KELAUTAN


Volume 5, No. 1, April 2007

berlangsung. Adapun koreksi geometri + 0,5


meter ditambahkan pada seluruh raw dari
kedalaman laut sesuai dengan transduser yang
ditempatkan pada bagian kiri kapal.
Peta batimetri daerah penyelidikan yang
dihasilkan seperti pada Gambar 2. Kontur
kedalaman laut dengan interval 5 meter
memperlihatkan kedalaman laut dari 10 meter
sampai 50 meter. Morfologi dasar laut secara
umum sangat landai dengan perubahan kedalaman
5 meter sejauh 1 kilometer sampai 5 kilometer.
Di bagian tengah daerah penyelidikan
terdapat Pulau Kambing yang merupakan puncak
dari struktur diapir dan memiliki cekungan di
bagian timurnya dengan kedalaman hingga 40
meter sampai 50 meter yang saat ini terisi
endapan sedimen Resen, diduga cekungan
tersebut terbentuk karena adanya aktivitas lipatan
pada Zaman Tersier dan berkaitan dengan
pengangkatan Pulau Madura. Pola kontur
umumnya adalah timur barat memanjang hampir
sejajar pantai, sedangkan di bagian paling timur
pola kontur berubah arah baratlaut-tenggara.
Penampang seismik pantul dangkal saluran
tunggal (seismic profiling) penelitian ini dilakukan
di lepas pantai Pamekasan dan sekitarnya
sepanjang 300 km (Gambar 3.). Berdasarkan pada
konfigurasi reflektor dari hasil rekaman seismik
pantul dangkal saluran tunggal di perairan Selat
Madura ternyata tidak mudah untuk dikorelasikan
dengan struktur regional dan sebaran batuan yang

JURNAL GEOLOGI KELAUTAN

Volume 5, No. 1, April 2007

29

Gambar 3. Peta lintasan rekaman seismik pantul dangkal saluran tunggal di kawasan pantai selatan Kabupaten Pamekasan
dan Kabupaten Sampang.

30

JURNAL GEOLOGI KELAUTAN

Volume 5, No. 1, April 2007

Gambar 4. Rekaman Seismik saluran tunggal pada lintasan 4, memperlihatkan konfigurasi reflektor Sejajar atau paralel.

tersingkap di P. Madura. Hal ini disebabkan


karena penelitiannya tidak dilengkapi dengan data
pemboran dalam di sekitar perairan Selat Madura
yang dapat dijadikan pegangan untuk melakukan
korelasi antara data rekaman seismik, data
pemboran serta batuan sedimen yang tersingkap di
darat.
Interpretasi data seismik dilakukan dengan
cara memisahkan runtunan-runtunan yang diduga
mempunyai karakter yang berbeda serta
mencirikan urut-urutan pengendapan batuan
sedimen dan dicoba untuk disebandingkan dengan
batuan yang tersingkap di darat (Ringgis drr,
1985). Hasilnya diharapkan dapat memberikan
gambaran tentang keberadaan tatanan serta
struktur geologi yang ada di bawah dasar laut
kawasan pantai selatan Kabupaten Pamekasan dan
Sampang.
Bagian teratas dari perlapisan yang telah
mengalami struktur perlipatan pada rekaman
seismik ditafsirkan sebagai perlapisan batuan
sedimen berumur Tersier, adalah rombakan
batugamping terumbu maupun batugamping
klastik. Batugamping tersebut tersingkap sangat
luas di pantai selatan pulau Madura. Batuan
sedimen ini disebut oleh Situmeang (1979)
sebagai Formasi Madura yang memiliki kesamaan
dengan Formasi Paciran.
Pada kawasan pesisir ini juga, perlapisan
batugamping tersebut berada di atas batulempung
napalan, ditafsirkan sebagai perlapisan ke dua
dari perlapisan Tersier, yang telah mengalami
perlipatan. Menurut Situmeang (1979), perlapisan
napal yang berada di bawah batugamping dari
Formasi Madura tersebut disebandingkan dengan
Formasi Pasean. Di beberapa daerah di pulau
Madura, khususnya di kawasan pesisir selatan,
batugamping tersebut ditutupi secara tidak selaras
oleh batulempung gampingan berwarna gelap,
batulempung ini secara stratigrafi disebandingkan
dengan perlapisan yang berada di atas perlapisan
batugamping yang telah mengalami perlipatan.
Dari interpretasi tersebut dapat dipisahkan
runtunan seismik menjadi runtunan Kuarter dan
pra-Kuarter (batuan Tersier). Adapun ciri dari
runtunan Kuarter ditandai dengan sedimen yang
mempunyai konfigurasi sejajar (paralel reflector)
sampai dengan konfigurasi bebas (free reflector).
Runtunan ini tidak terganggu oleh aktivitas
struktur geologi seperti
perlipatan maupun
pensesaran. Endapan sedimen Kuarter bagian atas
memiliki pola reflektor paralel sedangkan pola

reflektor bebas dijumpai pada endapan sedimen


Kuarter di bagian bawahnya. Perlapisan Kuarter
merupakan endapan sedimen akibat naiknya muka
laut, sulit untuk menarik perlapisan-perlapisan
yang lebih rinci karena perlapisannya yang tipis
(Gambar 4). Walaupun demikian, masih dapat
terlihat di beberapa tempat secara samar-samar
bidang perlapisan yang tidak merata yang diduga
sebagai akibat dari menurunnya muka laut.
Pasokan material sedimen diduga berasal dari
endapan aluvium sungai Blega dari Kabupaten
Sampang serta sungai-sungai kecil yang bermuara
di kawasan pesisir pantai selatan Kabupaten
Pamekasan.
Runtunan Tersier dicirikan dengan adanya
aktivitas struktur terobosan seperti diapir yang
dibarengi dengan sesar-sesar. Batuan sedimen
Tersier memiliki pola konfigurasi divergent
reflector, konfigurasi free reflector dan chaotic
serta pola konfigurasi yang gelap. Daerah
kawasan pesisir selatan kabupaten Pamekasan
dan Sampang diduga merupakan bagian cekungan
dan lebih merupakan geosinklin, dengan ketebalan
sedimen Tersier mungkin lebih dari 6000 meter
(Koesoemadinata, 1980).
Pola konfigurasi gelap (opaque reflector)
umumnya memberikan indikasi adanya batuan
sedimen yang diduga mengandung gas.
Gelombang seismik pantul dangkal saluran
tunggal yang menjalar pada batuan sedimen
tersebut tidak dapat menembus perlapisan yang
lebih dalam (shallow penetration) karena
gelombang seismik yang dipancarkan akan
terserap dan menyebabkan sinyal seismik menjadi
lemah, sehingga runtunan Tersier yang terdapat di
bawahnya tidak dapat terdeteksi dan terekam
dengan baik.
Batuan sedimen yang diduga mengandung
gas (gas charged sediments) memiliki sebaran
sangat luas khususnya di bagian barat daerah
telitian, sedangkan di bagian timurnya
hanya
merupakan bagian-bagian terpisah di beberapa
tempat (sporadic).
Berdasarkan contoh
endapan sedimen
dasar laut, umumnya gas terakumulasi pada
endapan sedimen lepas (uncosolidated sediments),
yang ditutupi oleh endapan sedimen yang
memiliki butiran lebih halus sebagai lapisan
penutup (caprock). Di beberapa tempat di bagian
timur daerah telitian ditemukan batuan sedimen
yang diduga mengandung gas dan struktur diapir.
Sesar-sesar menyebabkan terbentuknya rekahanJURNAL GEOLOGI KELAUTAN
Volume 5, No. 1, April 2007

31

32

JURNAL GEOLOGI KELAUTAN

Volume 5, No. 1, April 2007

Gambar 5. Rekaman seismik saluran tunggal pada lintasan 11, merekam diapir yang mengangkat runtunan sedimen di atasnya ke
permukaan hingga tererosi pada bagian permukaannya

JURNAL GEOLOGI KELAUTAN

Volume 5, No. 1, April 2007

33

Gambar 6. Rekaman seismik dangkal saluran tunggal pada lintasan 5, merekam struktur diapir dari sisi lain yang merupakan
indikasi batuan sedimen yang telipat ketat dan terisi material lumpur.

34

JURNAL GEOLOGI KELAUTAN

Volume 5, No. 1, April 2007

Gambar 7. Rekaman seismik dangkal saluran tunggal pada lintasan 12, merekam diapir serta sesar-sesar pada runtunan sedimen
pra-Tersier yang diduga mengandung gas.

rekahan yang digunakan sebagai jalan bagi gas


untuk merembes ke lapisan paling atas, kemudian
berakumulasi di bawah sedimen yang berbutir
lebih halus.
Pada puncak-puncak
diapir tersingkap
batuan sedimen Tersier dengan permukaan yang
tidak rata karena pengikisan permukaan akibat
menurunnya muka laut, sehingga tampak sebagian
runtunan batuan sedimen Tersier menipis (Gambar
5). Dua runtunan Tersier yang mengalami
penipisan dan menghilang pada puncak diapir
dapat disebandingkan dengan Formasi Madura
yang terdiri dari rombakan batugamping pasiran
disisipi batugamping terumbu dan napal berumur
Miosen Akhir Pliosen dan Formasi Pasean yang
terdiri dari batulempung napalan.
Tektonika geologi bawah dasar laut daerah
telitian memperlihatkan adanya aktivitas struktur
geologi diapir, sesar dan akumulasi gas serta
adanya singkapan sedimen Tersier dan Kuarter
(Gambar 6). Sedimen Tersier tersingkap di dua
tempat, di bagian timur dan barat daerah telitian.
Jalur Kendeng Selat Madura, yang pada
umumnya berupa sedimen halus seperti serpihnapal, dengan tekanan yang berlebih (over
pressure), sehingga mengakibatkan terbentuknya
diapir serpih (Koesoemadinata, 1980). Yang
menarik dalam rekaman seismik kawasan pantai
Kabupaten Pamekasan dan Sampang ini adalah
membuktikan keberadaan struktur diapir yang
mengangkat lapisan sedimen Tersier kepermukaan
laut hingga mengalami erosi pada permukaan
lipatan.
Pada sayap kiri dan kanan puncak diapir,
umumnya runtunan batuan sedimen Tersier
menebal (Gambar 6). Struktur geologi bawah
dasar laut dengan
sumbu-sumbu lipatan
umumnya berarah timur-barat yang diduga
sebagai bagian timur dari antiklinorium Mandala
Kendeng Madura yang sebarannya hingga
selatan Pulau Madura. Lapisan tertua bahkan
dapat disebut sebagai dasar dari cekungan ini
adalah Formasi Pelang yang merupakan batunapal
dan batulempung dengan sisipan batugamping
yang hingga kini belum ditembus oleh aktivitas
pemboran. Bagian atas dari formasi tersebut
adalah Formasi Kerek dan Kalibeng berbentuk
batupasir turbidit dan batunapal yang diharapkan
merupakan reservoir minyak bumi di masa
mendatang.
Data interpretasi seismik pantul dangkal
saluran tunggal memberikan gambaran tentang

struktur geologi bawah dasar laut walaupun


dengan penetrasi yang sangat terbatas (dangkal).
Data tersebut juga memberikan gambaran serta
indikasi adanya jebakan-jebakan gas bumi bawah
permukaan dasar laut di kawasan pantai
Kabupaten Pemekasan dan Sampang (Gambar 7).
Penelitian rinci sebagai tindak lanjut dengan
menggunakan perangkat seismik saluran banyak
(seismic multi channel) atau penelitian rinci
perairan Selat Madura secara regional sangat
diperlukan guna mendapatkan data jebakan gas
bumi bahkan mungkin hidrokarbon yang lebih
akurat dengan penetrasi yang lebih dalam secara
tepat dan dapat menghitung volume cadangan
yang tersedia.
PEMBAHASAN
Cekungan Jawa Timur didominasi oleh
Mandala Rembang, Randublatung dan Kendeng,
di bawah dasar laut Selat Madura yang merupakan
graben tidaksetangkup di dominasi oleh batuanbatuan sedimen yang berasal dari Mandala
Kendeng. Mandala tersebut berada pada cekungan
Jawa Timur paling selatan dan telah mengalami
perlipatan yang ketat, terobosan diapir serta di
beberapa tempat ditemukan sesar-sesar besar.
Struktur geologi yang berkembang pada
mandala ini masih tergolong muda dan
kemungkinan masih aktif. Sumbu-sumbu
perlipatan juga mempunyai arah barat timur
sejajar dengan rantai gunungapi di Jawa Timur,
perlipatan tersebut mencirikan adanya tekanan
(kompresi) yang cukup kuat dan masih
berlangsung hingga saat ini.
Antiklinorium dan terobosan diapir banyak
ditemukan di kawasan perairan Selat Madura
akibat kompresi tersebut. Struktur antiklin dan
terobosan diapir banyak terisi oleh endapan
sedimen serpih dan lempung cair bertekanan dan
bertemperatur tinggi. Rembesan gas petrogenik
sering dijumpai di kawasan ini yang muncul ke
permukaan dasar laut melalui rekahan dan sesar
Kuarter. Endapan sedimen Kuarter dasar laut yang
cukup tebal berasal dari Pulau Madura bagian
timur sementara endapan sedimen volkanik
sebagai sisipan pada sedimen Kuarter banyak
dijumpai di bagian selatan.
Penetrasi yang dihasilkan dari rekaman
seismik yang dilakukan tidak cukup dalam untuk
memantau keberadaan hidrokarbon. Rekaman
seismik dangkal di kawasan pesisir Sampang dan
Pamekasan memberikan gambaran tentang tatanan
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN
Volume 5, No. 1, April 2007

35

endapan sedimen Kuarter. Sumber daya energi


dihasilkan oleh Formasi Wonocolo paling atas dan
anggota Formasi Mundu yang berada pada
kedalaman kurang lebih dari 3000 meter dibawah
permukaan dasar laut. Minyak bumi biasanya
terakumulasi pada lapisan pasir dari formasi
berumur Tersier, lapisan tersebut memiliki
perangkap struktur kubah dan perlu dilakukan
pemboran dalam.
Untuk kawasan Selat Madura tentunya masih
diharapkan memiliki potensi gas bumi yang cukup
besar, sementara pengeboran yang dilakukan di
Selat Madura baru mencapai 1440 meter dan
hanya menghasilkan semburan gas. Diharapkan
pencarian minyak dan gas bumi di kawasan ini
masih harus diupayakan hingga mencapai siklussiklus yang lebih dalam seperti Formasi Pelang,
Kerek ataupun Kalibeng.
SIMPULAN
Penelitian yang telah dilakukan di pantai
selatan Kabupaten Pamekasan dan Sampang
merupakan penelitian kawasan pesisir yang
menggunakan perangkat seismik pantul dangkal
saluran tunggal dengan penetrasi yang dangkal,
walaupun demikian telah menghasilkan rekaman
seismik yang mengindikasikan adanya terobosan
diapir di kawasan ini.
Keberadaan dan kemungkinan struktur
lipatan terobosan diapir di perairan Selat Madura
yang sumbunya berarah barat timur merupakan
indikasi akan keterdapatan hidrokarbon jauh di
bawah dasar laut. Tindak lanjut yang lebih fokus
pada keberadaan hidrokarbon merupakan
kebijakan yang paling tepat untuk melakukan
penelitian rinci di kawasan Selat Madura. Hingga
saat ini pemboran yang pernah dilakukan masih
pada siklus-siklus dangkal, pemboran yang lebih
dalam perlu dilakukan agar dapat mencapai
formasi sedimen Tersier yang berpotensi sebagai
jebakan pada perairan Selat Madura ini
diharapkan dapat menghasilkan cadangan minyak
dan gas bumi yang melimpah.

36

JURNAL GEOLOGI KELAUTAN


Volume 5, No. 1, April 2007

UCAPAN TERIMAKASIH
Ucapan terimakasih kami sampaikan kepada
Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan
Geologi Kelautan yang telah memberikan
kesempatan pada penulis untuk melakukan
penelitian
serta
mempublikasikan
hasil
penelitiannya di kawasan pantai selatan Madura,
Kabupaten Pamekasan dan Kabubaten Sampang.
Tidak lupa ucapan terimakasih ini kami
sampaikan kepada rekan-rekan Tim Penelitian
Pantai Selatan Madura yang telah banyak
memberikan masukan, kritik maupun saran pada
makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA
John Ringgis, 1985, Seismic stratigraphy I.
Proceedings of the joint ASCOPE/CCOP
workshop 1, June 1986 Jakarta, Indonesia.
Koesoemadinata, R.P., 1969. Outline of the
geologic occurrence of oil in Tertiary basins
of west Indonesia, Am. Assoc. Petrolium
Geol. Bull., v. 53, n. 11, p. 2368 2376.
Mulhadiono., Harsono, P. Dan Sukendar, A.,
1984. Tinjauan stratigrafi dan tataan
tektonik di Pulau Madura, Jawa Timur.
Dipresentasikan pada PIT XIII IAGI di
Bandung (tidak diterbitkan).
Pringgoprawiro, H., 1980. Stratigrafi cekungan
Jawa Timur Utara. Lap. Pend. No. 3475180,
ITB.
Pringgoprawiro, H., 1983. Biostratigrafi dan
paleogeografi Cekungan Jawa Timur Utara.
Suatu pendekatan baru, ITB, tidak
diterbitkan.
Situmeang, S.P., 1979. Geologi dan stratigrafi
daerah Juwangi Selatan, Pegunungan
Kendeng Barat, Jawa Tengah. Thesis
sarjana, Dept. Teknik Geologi, ITB,
Bandung.
Van Bemmelen, R.W., 1949. The geology of
Indonesia, The Hague, Martinus Nijhoff, v. I
A 732 p, v. II, 265 p.

PROSES SEDIMENTASI SUNGAI KALIJAGA, DAN SUNGAI SUKALILA PERAIRAN


CIREBON
Oleh :
D. Setiady 1), dan A. Faturachman 1)
1)

Puslitbang Geologi Kelautan, Jl. Dr. Junjunan No.236, Bandung

SARI

Berdasarkan hasil analisis besar butir sebanyak 36 percontoh sedimen permukaan dasar laut di
Perairan Cirebon, didapatkan 4 jenis sedimen: lanau, lanau pasiran, pasir lanauan dan pasir. Sedimen
lanau, lanau pasiran, dan pasir, tersebar di lepas pantai Cirebon dan muara Sungai Kalijaga, sedangkan
pasir lanauan di muara sungai Sukalila.
Dari Peta Batimetri terlihat daerah dangkal di sekitar muara Sungai Kalijaga. Sedimen paling tebal
terdapat di sekitar muara Sungai Kalijaga dan Sungai Sukalila. Sedimen tersebut tersebar ke arah lepas
pantai dan ke daerah rencana lokasi pelabuhan.
Di muara Sungai Kalijaga sedimennya berupa pasir. Berdasarkan plot pada grafik antara ukuran
besar butir terhadap persen frekuensi, didapatkan hasil sedimen dengan persen frekuensi yang tinggi
antara 2.25 phi - 2.75 phi atau pasir sedang sampai pasir halus. Berdasarkan grafik frekuensi kumulatif
terhadap besar butir terdapat 2 cara transpor yaitu traksi untuk butiran pasir sedang dan saltasi untuk
kisaran butiran lanau sampai pasir halus.
Kata Kunci : S. Kalijaga, S. Sukalila, Cirebon, besar butir, sedimen
ABSTRACT
Based on grain size analysis of 36 seafloor surficial sediment samples from Cirebon Water; there
are 4 types of sediments silt, sandy silt, silty sand and sand. Silt, sandy silt and sand are distributed
offshore of Cirebon and in the river mouth of Kalijaga, while silty sand is in the river mouth of Sukalila.
From the bathymetric map the shallow water can be observed in Kalijaga river mouth. The thicker
sediments are found in Kalijaga mouth and Sukalila river. These sediments have been transported to the
offshore and to the proposed Harbour location.
Sediment in Kalijaga river mouth is sand. Based on graphic presentation between grain size and
percent frequencies, it indicates that the percentage of higher frequencies ranges between 2.25 TO 2.75
phi.
Based on the cumulative frequency to grain size graphic, there are two transport modes: traction for
medium size sand and saltation for grain size range silt to fine sand.
Keywords : Kalijaga River, Sukalila River, Cirebon, grain size, sediment
PENDAHULUAN
Daerah Cirebon dari tahun ke tahun terus
berkembang, tampak terutama dari hasil buminya
yang meningkat dan pada saat ini dikenal sebagai
salah satu daerah dengan tingkat pembangunan
yang relatif tinggi dibanding dengan daerahdaerah lainnya di Propinsi Jawa Barat. Dalam hal

ini, diupayakan untuk memperoleh lokasi-lokasi


strategis bagi pengembangan dan peningkatan
perekonomian, khususnya upaya mengidentifikasi
lokasi untuk pengembangan dermaga tempat
tambat kapal, guna mendukung perencanaan dan
pengembangan kawasan Marine Center di
Cirebon (Franto, Drr., 2006). Penelitian lapangan

JURNAL GEOLOGI KELAUTAN


Volume 5, No. 1, April 2007

37

mengenai percontoh sedimen pantai dan dasar laut


sangat diperlukan untuk mendapatkan informasi
proses sedimentasi yang ada di daerah ini.
Perpindahan
sedimen
pantai
dapat
diakibatkan oleh arus sungai, gelombang, arus
pasang surut, angin, dan penambangan pasir di
sekitar pantai. Sedimen yang berasal dari erosi
sungai, tebing pantai, dasar laut kemungkinan
akan diangkut ke lepas pantai (rip current).
Sedimen dari lepas pantai ke garis pantai diangkut
oleh arus gelombang (mass transport) dan arus
sejajar pantai (longshore current) sedangkan ke
arah pesisir diangkut oleh angin. (Komar, 1998)
Berberapa faktor yang menyebabkan adanya
penambahan sedimentasi pantai (Komar, 1998)
adalah: Pasokan dari erosi tebing kemudian
ditranspor
melalui sungai, sedimentasi oleh
gelombang dari laut menjadi sedimen sejajar
pantai, serta reklamasi pantai.
Interpretasi besar butir dari Visher (1965)
didasarkan atas suatu kenyataan bahwa pada suatu
lingkungan pengendapan pantai terjadi lebih dari
satu proses sedimentasi yaitu dari arus traksi,
suspensi, saltasi, dan roling. Metode yang tepat
untuk menguraikan populasi majemuk menjadi
populasi yang normal adalah dengan pengeplotan
pada kertas probabilitas. Interpretasi besar butir
ini, dengan contoh dari pasir pantai dapat
dibedakan antara populasi suspensi, saltasi dan
traksi. Sedangkan di lepas pantai endapan terjadi
karena populasi suspensi (hukum stokes) dan butir
kasar (hukum impact). Lebih kasar besar butir,
maka hukum impact berlaku.
METODE PENYELIDIKAN
Analisis besar butir dilakukan untuk
mengetahui jenis sedimen sedangkan hasil analisis
yang diplot pada peta sebaran sedimen adalah
untuk mengetahui sebarannya di pantai dan
permukaan dasar laut. Dari sebaran tekstur
sedimen yang ada dapat diketahui hubungan
antara dinamika arus dan transport butiran klastik.
Metode yang digunakan dalam analisis besar butir
untuk fraksi kasar adalah metode ayakan, dimana
butiran dibagi atas interval-interval kelas yang
dibatasi oleh besarnya lubang ayakan (Lewis,
1984). Ukuran ayakan yang dinyatakan dalam
unsur mesh, digunakan mulai dari ukuran 2 phi
(4 mm, kerikil) hingga 4 phi (0,063 mm, lanau)
dari skala Wentworth. Sedangkan untuk fraksi (59phi) metode yang digunakan adalah pipet.

38

JURNAL GEOLOGI KELAUTAN


Volume 5, No. 1, April 2007

Lewis. (1984) memberikan contoh data


analisis besar butir yang telah di plot pada kurva
probabilitas pada daerah muka pantai dimana pada
daerah tersebut merupakan daerah yang komplek
terdiri dari traksi, saltasi dan suspensi. Di kisaran
pasir kasar dan kerikil mengikat hukum impact
dari segi pengendapan atau cara erosi (gaya untuk
mengangkat). Untuk pengendapan butiran lebih
halus, yang diperlukan adalah arus yang
kecepatannya rendah dan hukum stokes berlaku.
HASIL PENELITIAN
Sebanyak 36 percontoh sedimen dasar laut
(Gambar 1) telah diambil dengan menggunakan
penginti gaya berat (gravity) pada kedalaman
dasar laut di bawah 9,5 meter (Faturachman, drr,
2002). Dari hasil analisis megaskopis, terlihat
variasi warna dari sedimen dasar laut, dimana
warna abu-abu kehijauan yang terletak jauh di
lepas pantai
menunjukkan bahwa sedimen
tersebut dominan dipengaruhi oleh sedimen laut,
sedangkan sedimen dengan warna kecoklatan
dominan dipengaruhi oleh sedimen darat.
Berdasarkan hasil analisis besar butir contoh
sedimen di permukaan dasar laut terdiri dari pasir,
pasir lanauan, lanau pasiran dan lanau, di sekitar
muara sungai Kalijaga terdiri dari pasir, lanau dan
lanau pasiran, dengan pasir terdapat pada mulut
muara sungai. Di sekitar muara sungai Sukalila
terdiri dari pasir dan pasir lanauan. Peta sebaran
sedimen permukaan dasar laut Perairan Cirebon
(Gambar-1) hanya terdiri dari Lanau pasiran dan
lanau.Sedangkan di muara sungai Kalijaga dan
muara sungai Sukalila satuan-satuan sedimen di
sekitar muara sungai Kalijaga dan Sukalilah
tersebut tidak bisa ditampilkan pada peta sebaran
sedimen karena tidak terpetakan (Unmappable)
Satuan Pasir
Satuan pasir terdapat hanya di muara sungai
Kalijaga dan Sukalila dengan kedalaman kurang
dari 1 meter. Berdasarkan besar butirnya, satuan
ini mengandung fraksi pasir 94% - 100 %.
Satuan Pasir Lanauan
Satuan pasir lanauan terdapat di sekitar muara
sungai Kalijaga dan Sukalila pada kedalaman
kurang dari 2 meter. Satuan ini mengandung fraksi
pasir antara 64,5 70,9 %, lanau antara 18,8
28,4 % dan lempung 0,7 1 %.
Satuan Lanau Pasiran
Satuan lanau pasiran terdapat di daerah dekat
pantai dan muara S. Kalijaga dan muara S.

JURNAL GEOLOGI KELAUTAN

Volume 5, No. 1, April 2007

39

Gambar-1. Peta sebaran sedimen permukaan dasar laut Perairan Cirebon dan sekitarnya, Propinsi Jawa Barat

40

JURNAL GEOLOGI KELAUTAN

Volume 5, No. 1, April 2007

Gambar-2. Peta batimetri perairan Cirebon dan sekitarnya Propinsi Jawa Barat

grafik hubungan antara besar butir


dengan persen frekuensi dan grafik
hubungan besar butir dengan
frekuensi pada log probabilitas
(Faturachman, drr. 1987).
Plot pada grafik antara ukuran
besar butir terhadap persen
frekuensi (Gambar-3), dari pantai
muara Sungai Kalijaga pada
sampel KJ-01 yaitu berupa
sedimen lanau pasiran, didapatkan
hasil sebaran persen frekuensi
yang tinggi antara 1 phi (pasir
sedang) sampai 4 phi (lanau
kasaran). Sedangkan berdasarkan
grafik
frekuensi
kumulatif
terhadap besar butir (Gambar-4),
sistem transpornya adalah saltasi
untuk butiran lanau kasar (4,0 phi)
Gambar 3. Hubungan antara persen frekuensi dengan besar
hingga pasir halus (2,0 phi)
butir pada sedimen lanau pasiran (KJ-01)
sedangkan traksi untuk butiran
Sukalila. Satuan ini terdapat pada kedalaman laut
pasir sangat kasar (-1phi) sampai pasir sedang
kurang dari 2 meter. Mengandung fraksi pasir
(1phi).
antara 11 15,4%, lanau antara 80,5 86,2% dan
lempung antara 2,84,1%.
Satuan Lanau
Sebaran satuan ini menempati
hampir seluruh daerah selidikan
Di bagian utara sebarannya mulai
dari
dekat
pantai
hingga
kedalaman kurang 10 meter.
Satuan ini mengandung fraksi
pasir antara 0,1 5,1%, lanau 92,7
98,7 % dan lempung 1,1 3,3
%.
DISKUSI DAN PEMBAHASAN.
Berdasarkan Peta Batimetri,
(Gambar-2) endapan sedimen
yang paling banyak adalah di
sekitar muara Sungai Kalijaga
mengarah ke lepas pantai dan
sebagian mengarah ke daerah
rencana
lokasi
pelabuhan.
Berdasarkan data tersebut, maka
penyelidikan proses sedimentasi
ini di fokuskan di sekitar muara
sungai Kalijaga. Hasil analisa
besar butir di masukkan kedalam
Gambar 4. Hubungan antara persen kumulatif (KJ-01) dengan
besar butir
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN
Volume 5, No. 1, April 2007

41

Standar traksi dan saltasi,


(Visher, 1965)
Plot pada grafik antara
ukuran besar butir terhadap
persen frekuensi (Gambar-5), di
depan mulut muara Kalijaga
pada sampel KJ-07 yaitu
berupa
sedimen
pasir,
didapatkan hasil sebaran persen
frekuensi yang tinggi antara
2.25 phi (pasir sedang) sampai
2.75
phi
(pasir
halus).
Berdasarkan grafik frekuensi
kumulatif terhadap besar butir
(Gambar-6), terdapat 2 cara
transpor di pantai yaitu traksi
untuk butiran pasir sedang (1,0
phi) dan saltasi untuk butiran
lanau kasar sampai pasir halus
(2,0 4,0 phi).

Gambar 5. Hubungan antara persen frekuensi dengan besar


butir pada sedimen lanau pasiran (KJ-07)

Standar traksi dan saltasi, (Visher, 1965)


Berdasarkan hal tersebut di atas, maka
sedimen daerah kajian mempunyai
kisaran ukuran butir dari pasir kasar
sampai lanau, dengan dominan
persen frekuensi (sedimen yang
mengalami transportasi) antara pasir
sangat halus sampai lanau. Adanya 2
rezim arus traksi dan suspensi dalam
pengendapan
sedimen
tersebut
diakibatkan oleh adanya pengarus
arus pasang surut yang bekerja pada
waktu pengendapan. Dimana pada
waktu pasang tertinggi menuju surut
terendah diendapkan sedimen butir
halus (saltasi), sedangkan butiran
kasar diendapkan oleh rezim arus
sungai, sehingga tercampur menjadi
satu satuan sedimen dengan ukuran
butir yang berlainan.

Gambar 6. Hubungan antara persen kumulatif (KJ-07) dengan


besar butir

42

JURNAL GEOLOGI KELAUTAN


Volume 5, No. 1, April 2007

SIMPULAN
Ukuran besar butir terhadap
persen frekuensi di muara Sungai
Kalijaga pada sedimen Lanau
pasiran, didapatkan hasil sebaran
persen frekuensi yang tinggi antara 1
phi (pasir sedang) sampai 4 phi
(lanau kasaran). berdasarkan grafik
frekuensi kumulatif terhadap besar
butir, sistem transportnya adalah
saltasi untuk butiran lanau kasar (4,0

phi) hingga pasir halus (2,0 phi) sedangkan traksi


untuk butiran pasir sangat kasar (-1phi) sampai
pasir sedang (1phi).
Besar butir sedimen di perairan Cirebon
mempunyai kisaran ukuran butir dari pasir kasar
sampai lanau, dengan dominan persen frekuensi
(sedimen yang mengalami transportasi) antara
pasir sangat halus sampai lanau. Hal ini
kemungkinan diakibatkan oleh adanya pertemuan
arus sungai dan arus pasang laut maksimum yang
menyebabkan slack.
Slack mengakibatkan
sedimentasi berbagai fraksi butir pada tempat
yang sama.
Berdasarkan hal tersebut, maka sangat
disarankan pembuatan dermaga tambat kapal
tersebut menjorok jauh ke lepas pantai, sampai
kedalaman 7 meter. Pada kedalaman tersebut
proses pendangkalan sedimen tidak begitu
berpengaruh, karena terbawa oleh arus sejajar
pantai.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan banyak terimakasih
kepada Franto Novico dan rekan-rekan satu tim
dilapangan, Atas kerjasamanya selama di
lapangan sampai selesainya tulisan ini. serta
kepada editor yang telah membantu dalam
terbitnya tulisan ini.
DAFTAR PUSTAKA
Faturachman A., Purnomo R., Ai Yuningsih, Yogi
N., Riza R., Catur P., Snartono, 2002,
Laporan Kajian Proses Sedimentasi
Pelabuhan Cirebon, Jawa Barat, Puslitbang
Geologi Kelautan, Tidak Dipublikasi.

Franto, D. Setiady, Purnomo, Faturachman, 2006.


Penyelidikan Rencana Pelabuhan Cirebon,
Marine Center. Puslitbang Geologi
Kelautan, Laporan intern.
Friedman, G.M., 1967, Dynamic process and
statistical parameters compared for size
distribution of beach and river sands: Jour.
Sed. Petrology, V. 37, 42, P.327 354.
Friedman, G.M., Sanders, 1987, Principles of
sedimentology, John Wiley & Sons, p. 35
40
Komar, D. P. 1998, Beach Processes and
Sedimentation, second edition, Oregon State
University. p. 33 -71.
Lewis, D.W., 1984, Practical Sedimentology,
University of Canterbury, New Zealand.p.
58 125.
Nevin, C. 1946, Competency of moving water to
transport debris, Bull. Geological Survei.
Australia.., V.51 p. 651-674
Purnomo, D. Setiady, Faturachman, 2004,
Penyelidikan inventarisasi sumberdaya
alam Kabupaten Cirebon, Bappeda
Kabupaten Cirebon, Laporan intern.
Susilohadi., 1985, Perangkat lunak program
nomenklatur sedimen dan moment, Pusat
Pengembangan Geologi Kelautan. (laporan
intern PPPGL).
Visher, D.B., 1965, Fluvial processes on
interpreted from ancient and recent fluvial,
SEPM, Special Publication no. 12. p. 113132

JURNAL GEOLOGI KELAUTAN


Volume 5, No. 1, April 2007

43

PANDUAN PETUNJUK
PENULISAN NASKAH JURNAL GEOLOGI KELAUTAN

Jurnal Geologi Kelautan adalah publikasi yang diterbitkan setiap empat bulan oleh Pusat
Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan. Jurnal ini merupakan forum hasil penelitian ilmiah
mengenai geologi kelautan dan ilmu lain yang terkait.
NASKAH
Naskah berupa makalah dengan jumlah kata antara 1000 hingga maksimum 2000 kata yang
diketik dengan spasi ganda.
PENYUNTINGAN NASKAH
Naskah disunting oleh dua atau lebih penilai yang ditetapkan Dewan Redaksi. Kriteria penilaian
meliputi: originalitas, kebenaran isi, kejelasan uraian dan manfaat bagi masyarakat akademis. Dewan
Redaksi tidak menerima naskah dengan penulis tunggal. Dewan Redaksi berwenang untuk
mengirimkan kembali suatu naskah kepada penulis untuk direvisi, ataupun menolak suatu naskah.
PERSIAPAN NASKAH
Naskah diketik dengan spasi ganda, huruf Times New Roman, 12 points. Naskah dikirim dalam
bentuk cetakan (hard-copy) disertai disket/CD dimasukan kedalam map yang bertuliskan judul dan
penulis. Penulisan naskah menggunakan pengolah kata MS Word for Windows dengan 2 spasi dalam
kertas A4 (210 x 297 mm) dengan susur (margin) kiri 3,5 cm, margin kanan 3 cm, margin atas 4 cm,
dan margin bawah 4 cm. Setiap lembar hendaknya diberi nomor halaman secara berurutan. Naskah
yang sudah diperbaiki harap dimasukkan ke dalam disket/CD dan mengikuti petunjuk sebagai
berikut: copy file teks dalam format rtf, simpan file gambar dalam JPEG, dan tuliskan nama file dan
penulis di label disket/CD. Kirimkan naskah kepada Pemimpin Redaksi, Gedung I Lantai 4, Pusat
Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan, JI. Dr. Junjunan 236, Bandung 40174. Telp. (022)
6032020 ext. 268, Fax. (022) 6017887.
SUSUNAN NASKAH
Naskah hendaknya ditulis dalam susunan sebagai berikut: (1) judul, (2) sub judul, (3) penulis dan
alamat penulis, (4) sari dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, (5) pendahuluan (6) metoda, (7)
hasil penelitian (8) pembahasan (9) kesimpulan dan saran (10) ucapan terima kasih, (11) daftar
pustaka, (12) lampiran (jika ada), (13) keterangan gambar dan tabel, (14) gambar, dan (15) tabel.
PARAMETER NASKAH
Gunakan unit metrik dalam penulisan. Pengukuran laboratorium tidak perlu dikonversi. Jangan
gunakan singkatan kecuali untuk ukuran. Sari makalah tidak boleh lebih dari 200 kata. Gambar diberi
nomor dengan angka. Sebutkan acuan dalam teks dan masukkan informasi lengkap setiap acuan
dalam Acuan.
FORMAT ACUAN
Acuan disusun menurut abjad. Jika terdapat lebih dari satu acuan yang ditulis oleh orang yang
sama, acuan disusun berdasarkan tanggal (yang lebih awal disebut lebih dulu) dan kemudian menurut
abjad. Contoh acuan adalah sebagai berikut, mohon perhatikan tanda baca.
Untuk yang berkala:
Katili, J.A., 1 S78, Past and present geotectonic position of Sulawesi, Indonesia. Tectonophysics, 45
: 289322.

Untuk simposium, terbitan khusus, dll., yang diterbitkan berkala:


Silitonga, P.H., Pudjowaluyo, H., dan Molat, H., 1981, Geological Reconaissance and mineral
prospecting on Bacan Island (Mollucas, Indonesia). In: A.J. Barber and S. Wiryosujono
(Editors), The Geology and Tectonic of Eastern Indonesia, Pergamon Press : 373-381.
Untuk buku:
Bemmelen, R.W. van, 1949, The Geology of Indonesia. Netherlands Govt. Printing Office, The
Hague, 997p.
PERSIAPAN GAMBAR
Semua foto, grafik, peta dan gambar yang disertakan, disebut sebagai gambar. Gambar bisa
diserahkan jika dibuat secara profesional, merupakan hasil printer laser, atau dalam bentuk siap-foto.
Jangan mengirim gambar hasil printer ink-jet atau fotokopi. Serahkan foto dalam bentuk digital atau
foto asli. Tandai orientasi dan skala pada foto atau pada keterangan gambar. Beri label pada bagian
belakang gambar yang berisi tanda bagian atas gambar, nomor gambar, dan penulis pertama. Dalam
kertas terpisah, keterangan hendaknya diberi label nomor gambar dan keterangan singkat mengenai
ilustrasi. Seluruh ilustrasi hendaknya bisa diperkecil 50-66% dengan jelas. Jangan menyerahkan
gambar dalam ukuran lebih besar dari 14 cm x 22 cm. Setiap gambar hendaknya dibuat dalam format
hitam putih.

CALL FOR PAPER :


Redaksi menerima makalah ilmiah dari pembaca untuk diterbitkan dalam jurnal
ini dengan mengacu kepada persyaratan tersebut di atas.