Anda di halaman 1dari 12

KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KOTA LANGSA

NOMOR : 445/65/SK/2015
TENTANG
KEBIJAKAN PELAYANAN RUMAH SAKIT UMUM DAERAH
KOTA LANGSA
DIREKTUR RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KOTA LANGSA
Menimbang

Mengingat

a.

bahwa dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan


Rumah Sakit Umum Daerah Kota Langsa, maka
diperlukan penyelenggaraan pelayanan yang bermutu
tinggi;

b.

bahwa agar pelayanan di Rumah Sakit Umum Daerah


Kota Langsa dapat terlaksana dengan baik, perlu
adanya Peraturan Direktur tentang Kebijakan Pelayanan
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Langsa sebagai
landasan bagi penyelenggaraan seluruh pelayanan di
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Langsa;

c.

bahwa
berdasarkan
pertimbangan
sebagaimana
dimaksud dalam a dan b, perlu ditetapkan dengan
Peraturan Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Kota
Langsa.

1.

Undang Undang Nomor 36

2.

Kesehatan;
Undang-Undang

3.

2009 tentang Rumah Sakit;


Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1438/Menkes/

4.

PER/IX/2010 tentang Standar Pelayanan Kedokteran;


Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 129 Tahun 2008

5.

tentang Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit;


Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 51

6.

Tentang Pekerjaan Kefarmasian;


Keputusan Menteri Kesehatan
Nomor

Tahun 2009 tentang

Republik Indonesia Nomor 44 tahun

Republik

1197/Menkes/SK/X/2004

tentang

Indonesia
Standar

Pelayanan Farmasi Di Rumah Sakit;


Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1203/Menkes/
SK/XII/2008 tentang Standar Pelayanan Intensif Care
Unit;
Peraturan

Menteri

Kesehatan

Nomor

Per/III/2008 tentang Rekam Medis;

269/Menkes/

7.

Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1203/Menkes/


SK/XII/2008 tentang Standar Pelayanan Intensif Care
Unit;
8 Peraturan. . . .

8.

Peraturan

Menteri

9.

Per/III/2008 tentang Rekam Medis;


Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1087/Menkes/
SK/VIII/2008

Kesehatan

tentang

Nomor

Standar

269/Menkes/

Keselamatan

dan

Kesehatan Kerja di Rumah Sakit;


11. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1014/Menkes/
SK/XI/2008

tentang

Standar

Pelayanan

Radiologi

Diagnostik Di Standar Pelayanan Kesehatan;


12. Keputusan Presiden Nomor 40 Tahun 2001 tentang
Pedoman Kelembagaan dan Pengelolaan Rumah Sakit
Daerah;
13. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2002
tentang Pedoman Susunan Organisasi dan Tata Kerja
Rumah Sakit;
14. Qanun Kota Langsa Nomor 5 Tahun 2014 tentang
Pelayanan Kesehatan;
15. Keputusan Walikota Langsa

Nomor

450/900/2014

tentang Penerapan Status Pola Pengelolaan Keuangan


Badan Layanan Umum Daerah secara penuh pada
Rumah Sakit Umum Daerah Kota langsa;
16. Peraturan Walikota Langsa Nomor 17 Tahun 2014
tentang Tata Kelola Rumah Sakit Umum Daerah Kota
Langsa.

MEMUTUSKAN
Menetapkan :
Pertama

: PERATURAN DIREKTUR RUMAH SAKIT UMUM DAERAH


KOTA LANGSA TENTANG KEBIJAKAN PELAYANAN RUMAH
SAKIT UMUM DAERAH KOTA LANGSA.

Kedua

: Kebijakan

pelayanan

Rumah Sakit Umum Daerah Kota

Langsa sebagaimana tercantum dalam Lampiran Keputusan


Ketiga

ini.
: Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pelayanan
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Langsa dilaksanakan oleh
Kepala Bidang Pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah Kota

Langsa.

Keempat . . . .

Keempat

Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkannya, dan


apabila di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan
dalam

penetapan

ini

akan

diadakan

perbaikan

sebagaimana mestinya

Ditetapkan di Kota Langsa


Pada Tanggal 13
Januari 2015 M
03 Rabiul Akhir 1437 H
DIREKTUR RSUD KOTA LANGSA

dr. HERMAN I
NIP. 19630923 200003 1 001

LAMPIRAN
NOMOR
TANGGAL

:
:
:

KEPUTUSAN DIREKTUR RSUD KOTA LANGSA


445/65/SK/2015
13 Januari 2015 M
03 Rabiul Akhir 1437 H

Tentang
Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit Umum Daerah Kota Langsa
I. Jenis Pelayanan medis yang disediakan adalah :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Pelayanan
Pelayanan
Pelayanan
Pelayanan
Pelayanan
Pelayanan
Pelayanan

Gawat Darurat
Rawat Jalan Spesialistik
Rawat Inap
Instalasi Bedah Sentral (IBS)
Kamar Bersalin (KB)
Intensiv (ICU/ICCU/NICU)
Haemodialisa

II. Jenis Pelayanan keperawatan yang disediakan adalah :


1.
2.
3.
4.
5.
6.

Pelayanan
Pelayanan
Pelayanan
Pelayanan
Pelayanan
Pelayanan

keperawatan umum (nursing care)


keperawatan kebidanan dan maternitas (midwife care)
keperawatan anestesi
keperawatan anak
keperawatan khusus (Intensif)
Keperawatan Medikal dan Bedah

III. Jenis Pelayanan penunjang medis yang disediakan adalah :


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Pelayanan
Pelayanan
Pelayanan
Pelayanan
Pelayanan
Pelayanan
Pelayanan
Pelayanan

Laboratorium klinik
Radiologi
Farmasi
Konsultasi gizi
Rehabilitasi medik/Fisioterapi
Ambulance
Kamar jenazah
kerohanian, Pelayanan Kesehatan Islami

IV. Jenis Pelayanan Administrasi


1. Pendaftaran/Pusat Administrasi
2. Pelayanan administrasi kesehatan
3. Pelayanan administrasi mediko legal

4. Pelayanan Informasi System Rumah Sakit


V. Kelompok profesi pemberi layanan kesehatan di RSUD Kota Langsa
1. Medis
1.1. Dokter Karyawan dan Medical Check Up
1.1. Dokter Karyawan yang terdiri dari :
1.1.1. Dokter Umum
1.1.2. Dokter Gigi
1.1.3. Dokter Spesialis

1.2. Dokter Non Karyawan yg terdiri dari Pelayanan Umum:


1.2.1. Dokter Umum
1.2.2. Dokter Gigi
1.2.3. Dokter Spesialis
2. Farmasi
2.1. Apoteker
2.2. Asisten Apoteker
3. Keperawatan yang terdiri dari :
3.1. Perawat Umum
3.2. Bidan
3.3. Perawat anestesi (Khusus)
4. Keteknisian medis yg terdiri dari :
4.1. Analis Laboratorium
4.2. Radiografer
5. Ahli/ tenaga gizi yaitu : Dietisien/nutritionis
6. Keterapian fisik yaitu : Fisioterapis
7. Petugas Non Medis
7.1.

Administrasi, Keuangan dan Akuntansi

7.2.

Petugas kerohanian

7.3.

Petugas teknis yang terdiri dari :


7.3.1. Teknisi IT
7.3.2. Teknisi Sanitasi
7.3.3. Teknisi Elektro medis
7.3.4. Teknisi Sarana
7.3.5. Supir Ambulance

VI. Kebijakan Umum Pelayanan Kesehatan RSUD Kota Langsa


(medis, keperawatan, penunjang)

1. Pelayanan

kesehatan

harus

diberikan

kepada

pasien

sesuai

ilmu

kedokteran, keperawatan, farmasi, nutrisi yang teruji dan terjangkau.


2. Pelayanan kesehatan dalam mengupayakan kesembuhan dilakukan secara

optimal dan dapat dipertanggung jawabkan.


3. Pelayanan kesehatan dilakukan secara komprehensif dan holistik mulai

dari promosi kesehatan, preventif, kuratif dan rehabilitatif.


4. Pelayanan kesehatan yang diberikan mengacu pada panduan praktik klinis

(PPK) yang telah ditetapkan di RSUD Kota Langsa berdasarkan PNPK/SPM


dan SAK, SAG,SPF.
5. Dalam

melakukan pelayanan kesehatan semua pihak harus selalu

memperhatikan konsep keselamatan pasien, Mutu dan berfokus pasien


(Pasien Center).

VII. Kebijakan Operasional Pelayanan di RSUD Kota Langsa


1.

Pelayanan Instalasi :
Pelayanan

Instalasi

Gawat

Darurat,

Rawat

Inap,

Rawat

Intensif,

Laboratorium, farmasi dan Radiologi dilaksanakan dalam 24 jam.


Pelayanan Rawat Jalan sesuai dengan jadwal praktik dokter.
Pelayanan Kamar Operasi dilaksanakan dalam jam kerja, dan diluar jam

Kerja dengan system Emergency On Site.

Pelayanan harus selalu berorientasi pada mutu dan keselamatan pasien.

Seluruh staf Rumah Sakit harus bekerja sesuai dengan standar profesi,

pedoman/panduan dan standar prosedur operasional yang berlaku,


serta sesuai dengan etika profesi, etika Rumah Sakit dan peraturan
perundangan yang berlaku.
Seluruh staf Rumah Sakit dalam melaksanakan pekerjaannya wajib

selalu sesuai dengan ketentuan Kesehatan dan Keselamatan Kerja


Rumah Sakit (K3), termasuk dalam penggunaan alat pelindung diri
(APD).
2.

Skrining dan triase :


Skrining dilakukan pada kontak pertama untuk menetapkan apakah

pasien dapat dilayani oleh Rumah Sakit, dan memastikan kebutuhan


pasien akan pelayanan darurat atau reguler/elektif.

Skrining dilaksanakan melalui kriteria triase, visual atau pengamatan,

pemeriksaan fisik, psikologik, laboratorium klinik atau diagnostik


imajing sebelumnya.
Kebutuhan darurat, mendesak, atau segera diidentifikasi dengan proses

triase berbasis bukti untuk memprioritaskan pasien dengan kebutuhan


emergensi.
3.

Identifikasi :

Setiap pasien yang masuk rawat inap harus dipasangkan gelang


identitas pasien.

Pasien selalu diidentifikasi sebelum pemberian obat, sebelum transfusi

darah atau produk darah lainnya, sebelum pengambilan darah dan


spesimen

lain

untuk

pemeriksaan

laboratorium

klinis,

sebelum

pemeriksaan radiologi, serta sebelum dilakukan tindakan.


4.

Transfer/ perpindahan di dalam rumah sakit :


Transfer dilaksanakan sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan.
Pasien yang ditransfer harus dilakukan stabilisasi terlebih dahulu

sebelum dipindahkan.
Dilakukan serah terima pasien yang ditransfer, dan dicatat dalam rekam

medis.

5.

Transfer keluar rumah sakit / rujukan :


Stabilisasi terlebih dahulu sebelum dirujuk.
Rujukan ke rumah sakit atau sarana kesehatan ditujukan kepada unit

atau individu secara spesifik.


Merujuk berdasarkan atas kondisi kesehatan dan kebutuhan akan

pelayanan berkelanjutan.
Rujukan menunjuk siapa yang bertanggung jawab selama proses

rujukan serta perbekalan dan peralatan apa yang dibutuhkan selama


transportasi.
Kerjasama yang resmi atau tidak resmi dibuat dengan rumah sakit

penerima.
Proses rujukan didokumentasikan di dalam rekam medis pasien.

6.

Penundaan pelayanan :

Memperhatikan kebutuhan klinis pasien pada waktu menunggu atau

penundaan untuk pelayanan diagnostik dan pengobatan


Memberikan informasi apabila akan terjadi penundaan pelayanan atau

pengobatan
Memberi informasi alasan penundaan atau menunggu dan memberikan

informasi tentang alternatif yang tersedia sesuai dengan keperluan klinis


mereka.
7.

Pemulangan pasien :
DPJP yang bertanggung jawab atas pelayanan pasien tersebut, harus

menentukan kesiapan pasien untuk dipulangkan.


Keluarga pasien dilibatkan dalam perencanaan proses pemulangan yang

terbaik atau sesuai kebutuhan pasien.


Rencana pemulangan pasien meliputi kebutuhan pelayanan penunjang

dan kelanjutan pelayanan medis.


Identifikasi organisasi dan individu penyedia pelayanan kesehatan di

lingkungannya yang sangat berhubungan dengan pelayanan yang ada di


rumah sakit serta populasi pasien.
Resume pasien pulang dibuat oleh DPJP sebelum pasien pulang.
Resume berisi pula instruksi untuk tindak lanjut.
Jadwal Konsultasi Ulang
Salinan resume pasien pulang didokumentasikan dalam rekam medis.
Salinan resume pasien pulang diberikan kepada praktisi kesehatan yang

dirujuk.

8.

Transportasi :
Transportasi milik rumah sakit, harus sesuai dengan hukum dan

peraturan yang berlaku berkenaan dengan pengoperasian, kondisi dan


pemeliharaan
Transportasi disediakan atau diatur sesuai dengan kebutuhan dan

kondisi pasien
Semua kendaraan yang dipergunakan untuk transportasi, baik kontrak

maupun milik rumah sakit, dilengkapi dengan peralatan yang memadai,

perbekalan dan medikamentosa sesuai dengan kebutuhan pasien yang


dibawa.
9.

Hak pasien dan keluarga :


Menghormati kebutuhan privasi pasien.
Melindungi barang milik pasien dari pencurian atau kehilangan.
Melindungi pasien dari kekerasan fisik.
Anak-anak, individu yang cacat, lanjut usia dan lainnya yang berisiko,

mendapatkan perlindungan yang layak.


Membantu mencari second opinion dan kompromi dalam pelayanan

didalam maupun diluar rumah sakit.


Pernyataan persetujuan (lnformed Consent) dari pasien didapat melalui

suatu proses yang ditetapkan rumah sakit dan dilaksanakan oleh staf
yang terlatih, dalam bahasa yang dipahami pasien.
Informed

consent

diperoleh

sebelum

operasi,

anestesi,

sedasi,

penggunaan darah atau produk darah dan tindakan serta pengobatan


lain yang berisiko tinggi.
10.

Penolakan pelayanan dan pengobatan :


Memberitahukan hak pasien dan keluarga untuk menolak atau tidak

melanjutkan pengobatan.
Memberitahukan

tentang

konsekuensi,

tanggung

jawab

berkaitan

dengan keputusan tersebut dan tersedianya alternatif pelayanan dan


pengobatan.
Memberitahukan

pasien

dan

keluarganya

tentang

Menghormati

keinginan dan pilihan pasien untuk menolak pelayanan resusitasi atau


memberhentikan pengobatan bantuan hidup dasar ( Do Not Resuscitate )

Setiap tindakan medis yang tidak mendapat persetujuan dari pasien dan
keluarga termasuk resusitasi hanya akan dilaksanakan apabila telah
mendapat persetujuan dari pasien atau keluarga.

11.

Pelayanan pasien tahap terminal :


Mendukung hak pasien untuk mendapatkan pelayanan yang penuh

hormat dan kasih sayang pada akhir kehidupannya


Perhatian terhadap kenyamanan dan martabat pasien mengarahkan

semua aspek pelayanan pada tahap akhir kehidupan


Semua staf harus menyadari kebutuhan unik pasien pada akhir

kehidupannya yaitu meliputi pengobatan terhadap gejala primer dan


sekunder, manajemen nyeri,

respon terhadap aspek psikologis, sosial,

emosional,

agama

dan

budaya

pasien

dan

keluarganya

serta

keterlibatannya dalam keputusan pelayanan.


12.

Asesmen pasien :
Semua pasien yang dilayani rumah sakit harus diidentifikasi kebutuhan

pelayanannya melalui suatu proses asesmen yang baku.


Asesmen awal setiap pasien meliputi evaluasi faktor fisik, psikologis,

sosial dan ekonomi, termasuk pemeriksaan fisik dan riwayat kesehatan


Hanya mereka yang kompeten sesuai perizinan, undang-undang dan

peraturan yang berlaku dan sertifikasi dapat melakukan asesmen


Asesmen awal medis dilaksanakan dalam 24 jam pertama sejak rawat

inap atau lebih dini/cepat sesuai kondisi pasien atau kebijakan rumah
sakit.
Asesmen awal keperawatan dilaksanakan dalam 24 jam pertama sejak

rawat inap atau lebih cepat sesuai kondisi pasien atau kebijakan rumah
sakit.
Asesmen awal medis yang dilakukan sebelum pasien di rawat inap, atau

sebelum tindakan pada rawat jalan di rumah sakit, tidak boleh lebih dari
30 hari, atau riwayat medis telah diperbaharui dan pemeriksaan fisik
telah diulangi.
Untuk asesmen yang berumur kurang dari 30 hari, apabila ada

perubahan kondisi pasien yang signifikan, maka perubahan dicatat


dalam rekam medis pasien pada saat masuk rawat inap
Asesmen awal termasuk menentukan kebutuhan rencana pemulangan

pasien (discharge planning)


Semua pasien dilakukan asesmen ulang pada interval tertentu atas

dasar kondisi dan pengobatan untuk menetapkan respons terhadap


pengobatan

dan

untuk

merencanakan

pengobatan

atau

untuk

pemulangan pasien.
Data dan informasi asesmen pasien dianalisis dan diintegrasikan.

13.

Manajemen obat :
Elektrolit konsentrat tidak boleh berada di unit pelayanan pasien kecuali

jika dibutuhkan secara klinis dan tindakan diambil untuk mencegah


pemberian yang tidak sengaja di area tersebut, bila diperkenankan
dengan kebijakan khusus.
Elektrolit konsentrat yang disimpan di unit pelayanan pasien diberi label

yang jelas dan disimpan dengan cara yang membatasi akses (restricted
access).

14.

Manajemen nutrisi :
Pasien di skrining untuk status gizi.
Respon pasien terhadap terapi gizi dimonitor.
Makanan disiapkan dan disimpan dengan cara mengurangi risiko

kontaminasi dan pembusukan.


Produk nutrisi enteral disimpan sesuai rekomendasi pabrik.
Distribusi makanan secara tepat waktu, dan memenuhi permintaan

khusus.
15.

Manajemen nyeri:
Semua pasien rawat inap dan rawat jalan di skrining untuk rasa sakit

dan dilakukan asesmen apabila ada rasa nyerinya.


Pasien dibantu dalam pengelolaan rasa nyeri secara efektif.
Menyediakan pengelolaan nyeri sesuai pedoman dan protokol.
Komunikasi

dengan

dan

mendidik

pasien

dan

keluarga

tentang

pengelolaan nyeri dan gejala dalam konteks pribadi, budaya dan


kepercayaan agama masing-masing.
16.

Surgical Safety Checklist :


Digunakan suatu tanda yang segera dikenali untuk identifikasi lokasi

operasi dan melibatkan pasien dalam proses penandaan / pemberian


tanda.
Menggunakan suatu checklist untuk melakukan verifikasi praoperasi

tepat-lokasi, tepat-prosedur, dan tepat-pasien dan semua dokumen serta


peralatan yang diperlukan tersedia, tepat/benar, dan fungsional.
Tim

operasi

yang

lengkap

menerapkan

dan

mencatat/

mendokumentasikan prosedur sebelum insisi / time-out tepat sebelum


dimulainya suatu prosedur / tindakan pembedahan.
17.

Hand hygiene :
Mengadaptasi pedoman hand hygiene terbaru

yang baru-baru ini

diterbitkan dan sudah diterima secara umum (al.dari WHO Patient


Safety).
Menerapkan program hand hygiene yang efektif.

18.

Risiko jatuh :
Penerapan asesmen awal risiko pasien jatuh dan melakukan

asesmen

ulang terhadap pasien bila diindikasikan terjadi perubahan kondisi atau


pengobatan.
Langkah-langkah diterapkan untuk mengurangi risiko jatuh bagi mereka

yang pada hasil asesmen dianggap berisiko.

Langkah-langkah

dimonitor

hasilnya,

baik

tentang

keberhasilan

pengurangan cedera akibat jatuh maupun dampak yang berkaitan secara


tidak disengaja.
19.

Komunikasi efektif :
Perintah lisan dan yang melalui telepon ataupun hasil pemeriksaan

dituliskan

secara

lengkap

oleh

penerima

perintah

atau

hasil

pemeriksaan tersebut.
Perintah lisan dan melalui telpon atau hasil pemeriksaan secara lengkap

dibacakan kembali oleh penerima perintah atau hasil pemeriksaan


tersebut.
Perintah atau hasil pem
eriksaan dikonfirmasi oleh individu yang memberi perintah atau hasil

pemeriksaan tersebut.
20.

Manajemen di instalasi :
Semua petugas instalasi wajib memiliki izin sesuai dengan ketentuan

yang berlaku.
Penyediaan tenaga harus mengacu kepada pola ketenagaan.
Melaksanakan koordinasi dan evaluasi wajib dilaksanakan rapat rutin

bulanan minimal satu bulan sekali.


Setiap bulan Instalasi wajib membuat laporan.

21.

Peralatan

di

instalasi

harus

selalu

dilakukan

pemeliharaan

dan

kaliberasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku, untuk menjamin semua


peralatan tetap dalam kondisi yang baik.
22.

Dalam

melaksanakan

tugasnya

setiap

petugas

wajib

mematuhi

ketentuan dalam K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja)


Ditetapkan di Kota Langsa
Pada Tanggal 13
Januari
2015 M
03 Rabiul Akhir 1437 H
DIREKTUR RSUD KOTA LANGSA

dr. HERMAN I
NIP. 19630923 200003 1 001