Anda di halaman 1dari 25

Kata Pengantar

Puji syukur penulis ucapkan dan puja bagi Tuhan yang maha Esa atas segala berkat-NYA
lah kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan segala kemampuan penulis, dengan judul
Peran dan Pengaruh Arsitektur Kolonial pada Bangunan Museum Kota Makassar.
Dalam penyusunan makalah ini, penulis memperoleh banyak bantuan dari berbagai
pihak. Penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang tidak dapat disebutkan satu
per satu yang telah membantu dalam melancarkan proses pengerjaan tugas kami ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak terdapat kekurangan-kekurangan.
Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar makalah ini dapat
lebih baik lagi. Akhir kata penulis berharap kerangka acuan makalah ini dapat memberikan
wawasan dan pengetahuan kepada para pembaca pada umumnya dan pada penulis pada
khususnya.

Jimbaran, 2014

penulis

BAB I
Pendahuluan
1.1 latar belakang
Keberagaman dunia arsitektur di Indonesia, dimulai dari masa kerajaan hingga sekarang,
merupakan satu kekayaan yang dimiliki Indonesia selain kekayaan alamnya yang berlimpah.
Banyak bangunan daerah maupun peninggalan masa kolonial yang memiliki nilai arsitektural
dan sejarah yang tinggi. Sebut saja rumah tradisional seperti rumah Tongkonan dan
bangunan bergaya kolonial seperti gereja Pohsarang & istana Bogor. Contoh contoh
bangunan tersebut telah memberikan inspirasi bagi banyak arsitek untuk berkarya, dengan
menatap masa lalu kemudian merencanakan masa depan.
Namun, keberlangsungan bangunan kuno/peninggalan bersejarah berada di ujung tanduk.
Dikarenakan banyaknya perrubahan fungsi lahan, sehingga terjadi pembongkaran, alih
fungsi, ataupun terlupakannya bangunan tersebut. Sehingga karya-karya tersebut tidak dapat
terekspos apalagi dijadikan inspirasi bagi arsitek mendatang.
Maka, untuk mengetahui lebih lanjut mengenai bangunan bersejarah, penulis membuat
penelitian mengenai bangunan kolonial. Pada tulisan ini penulis ingin membahas bagaimana
pengaruh dan peran arsitektur kolonial terhadap bangunan di Indonesia. Hingga tercipta
bentuk dan rancangan arsitektur yang kita lihat saat ini.
Kolonial yang akan dibahas pun akan dipersempit menjadi kolonial Belanda.
Dikarenakan merupakan bangsa yang paling lama menjajah Indonesia, sehingga dapat lebih
mudah mencari informasi bangunan peninggalannya/bangunan pengaruh Belanda.
Mengingat banyak perbedaan kebudayaan di tiap daerah, maka timbul pertanyaan,
apakah peran dan pengaruh arsitektur kolonial sama di setiap daerahnya? Maka, penulispun
menerucutkan peran dan pengaruh arsitektur kolonial ini pada satu daerah di Sulawesi.
Dikarenakan agar berbeda dengan satu teman-teman satu kelas Arsitektur Indonesia yang
sebagian besar mengambil lokasi di Jawa. Dan secara lebih mengerucut lagi, hanya akan
dibahas satu bangunan, yaitu Museum Kota Makassar di Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

1.2 Perumusan Masalah


Berdasarkan penjabaran latar belakang di atas, maka permasalahan pada penelitian kali ini
akan dibatasi menjadi beberapa poin utama, antara lain:
1. Bagaimanakah ciri/identitas arsitektur kolonial pada bangunan Museum Kota Makassar?
2. Apa peran dan pengaruh Arsitektur Kolonial terhadap Bangunan Museum Kota
Makassar?

1.3 Tujuan Penelitian


Dengan terbitnya tulisan ini, maka diharapkan penulisan ini apat memberikan manfaat skala
mikro (kampus) maupun makro (masyarakat umum), antara lain:
1. Memenuhi tugas Arsitektur Indonesia, semester genap 2013/2014.
2. Mengetahui peran dan pengaruh arsitektur kolonial terhadap bangunan Museum Kota
Makassar.

1.4 Manfaat Penelitian


Mengetahui identitas arsitektur kolonial bangunan kantor bupati
Memberikan pengetahuan lebih luas kepada masyarakat tentang arsitektur kolonial, terlebih
lagi perannya terhadap bangunan kantor bupati.

1.5 Sistematika penelitian


Berdasarkan standar yang telah ditentukan dalam ketentuan tugas. Maka penulis menyusun
sistematika penulisan sebagai berikut:
BAB I Pendahuluan
1.1 Latar belakang penelitian
1.2 Perumusan masalah
1.3 Tujuan penelitian
1.4 Manfaat penelitian
1.5 Sistematika penulisan

BAB II Landasan teori & hasil penelitian


Dasar teori yang digunakan untuk membahas peran dan pengaruh arsitektur kolonial
pada bangunan Museum Kota Makassar.
BAB III Pembahasan
Analisa hasil penelitian, menjawab perumusan masalah.
BAB IV Penutup
Berisi kesimpulan dan saran penelitian.

BAB II
Landasan teori & Hasil Penelitian
2.1 Landasan Teori

Penelitian kali ini menggunakan dasar teori yang didapat dari studi pustaka. Penulis
menghimpun data dari internet maupun buku referensi. Penyampaian dasar teori akan dibagibagi per segmen judul yang telah ditentukan. Maka berikut ini penjelasan awal sebelum
membahas lebih lanjut mengenai arsitektur kolonial dan bangunan Museum Kota Makassar.

Pengertian pengaruh
Menurut www.kbbi.web.id, pengaruh merupakan daya yg ada atau timbul dr sesuatu

(orang, benda) yg ikut membentuk watak, kepercayaan, atau perbuatan seseorang

Pengertian peran
Menurut www.kbbi.web.id, peran merupakan n 1 pemain sandiwara (film): -- utama; 2

tukang lawak pd permainan makyong; 3 perangkat tingkah yg diharapkan dimiliki oleh


orang yg berkedudukan dl masyarakat; -- ganda pemain yg membawakan dua macam peran
dl suatu cerita drama; -- watak peran yg terutama ditentukan oleh ciri-ciri individual yg
sifatnya khas dan istimewa

Pengertian Arsitektur
Kata arsitektur dalam bahasa Yunani archi yang berarti kepala, ketua dan tecton yang

berarti tukang, sehingga architecton berarti kepala tukang, merujuk kepada profesi,
kemahiran dan keahlian menukang dalam hal bangunan.Pekerjaan merancang dengan
memperhitungkan segala sesuatu yang berhubungan dengan rancang bangun, sehingga
menjadikan arsitektur sebagi ilmu pengetahuan yang menggabungkan seni dan teknologi.
Cabang ilmu aplikatif yang merancang dan merencanakan ruang sebagai wadah aktifitas
kehidupan manusia yang nyaman dan memberikan rasa aman serta kebahagiaan pada waktu
dan periode tertentu.

Arsitektur kolonial Belanda


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kolonial adalah sesuatu yang bersifat jajahan.

Dari pengertian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa Arsitektur Kolonial adalah suatu karya
arsitektur yang berkembanga pada masa penjajahan. Pada masa penjajahan Belanda,
Indonesia mengalami pengaruh Occidental (Barat) dalam berbagai segi kehidupan termasuk
dalam tata kota dan bangunan. Para pengelola kota dan arsitek Belanda banyak menerapkan
konsep lokal atau tradisional dalam perencanaan dan pengembangan kota, permukiman dan
bangunan-bangunan, Wardani (2009).
Wardani (2009) menyebutkan bahwa adanya pencampuran budaya, membuat arsitektur
kolonial di Indonesia menjadi fenomena budaya yang unik. Arsitektur kolonial di berbagai
tempat di Indonesia apabila diteliti lebih jauh, mempunyai perbedaan-perbedaan dan ciri
tersendiri antara tempat yang satu dengan yang lain.
Arsitektur kolonial lebih banyak mengadopsi gaya neo-klasik, yakni gaya yang
berorientasi pada gaya arsitektur klasik Yunani dan Romawi. Ciri menonjol terletak pada
bentuk dasar bangunan dengan trap-trap tangga naik (cripedoma). Kolom-kolom dorik, ionik
dan corinthian dengan berbagai bentuk ornamen pada kapitalnya. Bentuk pedimen, yakni
bentuk segi tiga berisi relife mitos Yunani atau Romawi di atas deretan kolom. Bentukbentuk tympanum (konstruksi dinding berbentuk segi tiga atau setengah lingkaran)
diletakkan di atas pintu dan jendela berfungsi sebagai hiasan.
Arsitektur kolonial merupakan arsitektur yang memadukan antara budaya Barat dan
Timur. Arsitektur ini hadir melalui karya arsitek Belanda dan diperuntukkan bagi bangsa
Belanda yang tinggal di Indonesia, pada masa sebelum kemerdekaan. Arsitektur yang hadir
pada awal masa setelah kemerdekaan sedikit banyak dipengaruhi oleh arsitektur kolonial
disamping itu juga adanya pengaruh dari keinginan para arsitek untuk berbeda dari arsitektur
kolonial yang sudah ada. Safeyah ( 2006).
Arsitektur klonial Belanda adalah gaya desain yang cukup popular di Netherland tahun
1624-1820. Ciri-cirinya yakni (1) fasad simetris, (2) material dari batu bata atau kayu tanpa
pelapis, (3) entrance mempunyai dua daun pintu, (4) pintu masuk terletak di samping
bangunan, (5) denah simetris, (6) jendela besar berbingkai kayu, (7) terdapat dormer (bukaan
pada atap) Wardani, (2009). (8) bangunan ditutup dengan atap perisai , (9) pilar di serambi
depan dan belakang, di dalam terdapat serambi tengah yang menuju ke ruang tidur dan
6

kamarkamar lainnya, (10) pilarnya menjulang ke atas (bergaya Yunani), barisan kolom gaya
Doric/Ionic/lainnya yang menjulang tinggi di depan dengan mahkota.
Maka, secara umum, arsitektur kolonial adalah arsitektur cangkokan dari negeri induknya
(Eropa) ke daerah jajahannya,

Arsitektur kolonial Belanda adalah arsitektur Belanda

yang dikembangkan di Indonesia, selama Indonesia masih dalam kekuasaan Belanda sekitar
awal abad 17 sampai tahun 1942 (Soekiman,2011).
Atau, dengan kata lain, Arsitektur kolonial Belanda merupakan bangunan peninggalan
pemerintah Belada dan bagian kebudayaan bangsa Indonesia yang merupakan aset besar
dalam perjalanan sejarah bangsa.

Aspek arsitektur pada bangunan kolonial Belanda


Widyati (2004) mengklasifikasikan arsitektur bangunan bersejarah yang tidak akan

terlepas dari fungsi, material dan style atau gaya. Hal ini diperkuat oleh teori Barry dalam
Widayati (2004) yang menekankan pada empat komponen utama yang perlu analisis atau
diteliti studi terhadap fasade bangunan yaitu: pattern, alligment, size dan shape dalam
melakukan klasifikasi arsitektur bersejarah.
Dalam bahasan selanjutnya komponen yang dapat digunakan untuk membandingkan
arsitektur bangunan kolonial Belanda di Makassar dengan dasar-dasar teori yang ada, dengan
mengambil pendapat beberapa pakar, atau arsitektur kolonial Belanda dapat diperoleh
melalui studi pustaka.
Handinoto menyebutkan bahwa hal-hal pokok yang perlu dibahas dalam arsitektur
kolonial Belanda adalah sebagai berikut:
a. Periodesasi
Handinoto (1996) membagi periodisasi perkembangan arsitektur kolonial Belanda di
Indonesia dari abad ke 16 sampai tahun 1940-an menjadi empat bagian, yaitu:
- Abad 16 sampai tahun 1800-an
Pada waktu ini Indonesia masih disebut sebagai Nederland Indische (Hindia Belanda)
di bawah kekuasaan perusahaan dagang Belanda yang bernama VOC (Vereenigde Oost
Indische Compagnie). Selama periode ini arsitektur kolonial Belanda kehilangan
orientasinya pada bangunan tradisional di Belanda serta tidak mempunyai suatu orientasi

bentuk yang jelas. Yang lebih buruk lagi, bangunan-bangunan tersebut tidak diusahakan
untuk beradaptasi dengan iklim dan lingkungan setempat.
- Tahun 1800-an sampai tahun 1902
Ketika pemerintah Belanda mengambil alih Hindia Belanda dari perusahaan dagang
VOC. Setelah pemerintahan Inggris yang singkat pada tahun 1811-1815. Hindia Belanda
kemudian sepenuhnya dikuasai oleh Belanda. Indonesia waktu itu diperintah dengan
tujuan untuk memperkuat kedudukan ekonomi negeri Belanda. Oleh sebab itu, Belanda
pada abad ke-19 harus memperkuat statusnya sebagai kaum kolonialis dengan
membangun gedung-gedung yang berkesan grandeur (megah). Bangunan gedung dengan
gaya megah ini dipinjam dari gaya arsitektur neo-klasik yang sebenarnya berlainan
dengan gaya arsitektur nasional Belanda waktu itu.
- Tahun 1902-1920-an
Antara tahun 1902 kaum liberal di negeri Belanda mendesak apa yang dinamakan
politik etis untuk diterapkan di tanah jajahan. Sejak itu, pemukiman orang Belanda
tumbuh

dengan

cepat.

Dengan

adanya

suasana

tersebut,

maka indische

architectuur menjadi terdesak dan hilang. Sebagai gantinya, muncul standar arsitektur
yang berorientasi ke Belanda. Pada 20 tahun pertama inilah terlihat gaya arsitektur
modern yang berorientasi ke negeri Belanda.
- Tahun 1920 sampai tahun 1940-an
Pada tahun ini muncul gerakan pembaruan dalam arsitektur, baik nasional maupun
internasional di Belanda yang kemudian mempengaruhi arsitektur kolonial di Indonesia.
Hanya saja arsitektur baru tersebut kadang-kadang diikuti secara langsung, tetapi kadangkadang juga muncul gaya yang disebut sebagaiekletisisme (gaya campuran). Pada masa
tersebut muncul arsitek Belanda yang memandang perlu untuk memberi ciri khas pada
arsitektur Hindia Belanda. Mereka ini menggunakan kebudayaan arsitektur tradisional
Indonesia sebagai sumber pengembangannya.
b.

Gaya bangunan
Gaya berasal dari bahasa Latin stilus yang artinya alat bantu tulis, yang maksudnya

tulisan tangan menunjukan dan mengekspresikan karakter individu. Dengan melihat


tulisan tangan seseorang, dapat diketahui siapa penulisnya. Gaya bisa dipelajari karena
sifatnya yang publik dan sosial Wardani (2009).
8

Gaya desain ini timbul dari keinginan dan usaha orang Eropa untuk menciptakan
negara jajahan seperti negara asal mereka. Pada kenyataannya, desain tidak sesuai dengan
bentuk aslinya karena iklim berbeda, material kurang tersedia, teknik di negara jajahan,
dan kekurangan lainnya. Akhirnya, diperoleh bentuk modifikasi yang menyerupai desain
di negara mereka, kemudian gaya ini disebut gaya kolonial (wardani, 2009).
Gaya atau langgam adalah suatu hal yang tampak dan mudah dikenali dalam desain
arsitektur, seperti bentuk (wujud), tampak, elemen-elemen dan ornamen yang biasa
menyertainya.
Menurut Sumalyo (1995), terdapat beberapa arsitek dan firma arsitek yang karyanya
cukup banyak dan bernilai tinggi, yang juga berperan dalam pengaruh arsitektur kolonial
di Indonesia, seperti Henry maclaine Pont, Herman Thomas Karsten, C.P. Wolff
Schoemaker, W. Lemei, Biro Insinyur Arsitek Ed. Cuypers & Hulswit Batavia dan
lainnya. Yang mana menurut Sumalyo memiliki ciri khas tersendiri dalam berkarya yang
memadukan unsur Eropa dan unsur local yang menjadi ciri khas arsitektur kolonial.
Dari beberapa arsitek dan firma arsitek yang Sumalyo sebutkan dalam bukunya,
Arsitektur Kolonial Belanda di Indonesia, Sumalyo menyimpulkan gaya klasik Eropa,
khususnya Belanda, memiliki ciri bentuk yang simetris, bata merah tanpa diplester dan
dekorasi-dekorasi

klasok

cornice,oculus,

amortizement

dan

lain-lain.

Terdapat

penyesuaian dengan iklim tropis, seperti orientasi angin dan matahari, system ventilasi,
gang yang berfungsi sebagai isolasi panas, aliran udara di atas plafond. Elemen-elemen
bangunan Eropa antara lain terdiri atas pelengkung dan menara namun, dalam arsitektur
kolonial, dimaksudkan untuk mencapai kenikmatan dalam hal pencahayaan dan
penghawaan alami. Plafond sangat tinggi, atap yang kemiringannya tajam, jendela dan
ventilasi memenuhi hampir seluruh permukaan dinding.
Yang mana hampir sama dengan karakteristik yang telah disebutkan pada paragraph
sebelumnya. Selain itu, menurut penelitian dalam web https://digilib.its.ac.id disebutkan
pula bahwa Warna yang mendukung dalam penerapan interior bernuansa kolonialisme
adalah warna putih, putih gading, beige, krem muda dan warna yang mengandung unsur
terang atau cerah.Beberapa elemen warna diatas mendukung terbentuknya suasana dan
nuansa interior yang bergaya kolonial. Motif atau corak yang umum digunakan pada style
kolonial adalah floral, burung, mawar, dll
9

2.2 Hasil Penelitian

Penelitian dilakukan melalui studi literatur. Baik lewat internet maupun buku dan hasil
penelitian.
Sebuah bangunan dua lantai bergaya Eropa abad ke-17 berdiri dengan kokoh dan gagah tepat
di tengah Kota Makassar. Itulah Museum Kota Makassar. Di dalam gedung ini tersimpan ratusan
koleksi benda bersejarah yang merekam perjalanan Kota Makassar dari zaman ke zaman. Masuk
ke dalam gedung, suasana zaman kolonial Belanda akan segera terasa. Dinding-dindingnya yang
tebal, jendela-jendela kayu yang lebar, beberapa ornamen gantung, seluruhnya masih utuh
terjaga.
Gedung tua ini dibangun tahun 1918. Berarsitektur asli Eropa. Yang saat itu dibangun untuk
balai kota, dengan tujuan mengukuhkan status kota Makasssar yang baru saja mendapatkan
status daerah otonom pada tahun 1906. Saat ini museum Kota Makassar menyimpan koleksi
benda bersejarah, antara lain terdiri dari benda-benda arkeologi, benda-benda pusaka, foto-foto
Makassar masa lalu, dan salinan naskah bersejarah. (http://wisata.makassarkota.go.id/)
koleksi yang dimiliki Museum Kota Makassar dikelompokkan berdasarkan jenis koleksi,
yaitu artefak masa pemerintahan Kerajaan Makassar (Gowa-Tallo), artefak masa pemerintahan
Belanda, artefak masa pemerintahan NKRI, numismatik, keramik, naskah, etnografi,
transportasi, teknologi, PDAM, TVRI, geografi (peta), seni rupa, dan foto-foto. Artefak masa
pemerintahan kerajaan Makassar berjumlah 97 koleksi; artefak masa pemerintahan Belanda
berjumlah 38 koleksi, artefak masa pemerintahan NKRI berjumlah 162 koleksi; serta artefak
pada kelompok lain yang seluruhnya berjumlah 514 koleksi, sehingga keseluruhan berjumlah
811 koleksi.
Dalam hal penyajian koleksi Museum Kota Makassar disesuaikan dengan bangunan museum
yang berlantai dua, lantai pertama terdapat 13 ruangan dengan memanfaatkan 6 ruangan untuk
penyajian pameran. Ruangan-ruangan lain pada lantai pertama ini dimanfaatkan sebagai kantor
pengelola Museum Kota Makassar. Sementara itu, pada lantai kedua terdiri dari 5 ruangan
dengan memanfaatkan 3 ruangan untuk penyajian koleksi. Pelaksanaan penyajian koleksi
dilakukan oleh seksi kurator dan koleksi. Uraian berikut ini akan menggambarkan kondisi
penyajian tiap lantai yang dimanfaatkan sebagai ruang penyajian Museum Kota Makassar.
Adapun penyajian koleksi Museum Kota Makassar dapat dilihat pada denah berikut ini:
10

Lantai 1:

Gambar 1: Denah Lt. 1 pada Museum Kota Makassar

Ruang A:

Gambar 2: Ruang A, menampilkan foto para walikota Makassar

Ruangan ini merupakan ruangan sayap kanan bangunan. Koleksi yang ditampilkan
adalah foto-foto figur yang pernah menjabat sebagai pejabat (Walikota dan Wakil Walikota)
11

Kota Makassar baik pada masa Pemerintah Belanda maupun pada masa setelah kemerdakaan
hingga sekarang.

Ruang B:

Gambar 3: Ruang B, Koleksi Medalion dan Patung Ratu Wilhelma

Ruangan ini berada pada bagian belakang ruangan A. Koleksi yang ditampilkan pada
ruangan ini adalah hiasan dinding berupa medalion Ratu Wilhelmina serta Patung Ratu
Wilhelmina. Koleksi-koleksi tersebut adalah sumbangan dari Suaka Peninggalan Sejarah dan
Purbakala (saat ini BP3) Makassar.

Ruang C:
Ruangan ini adalah ruangan yang berhadapan langsung dengan pintu masuk bangunan
museum. Koleksi yang ditampilkan adalah foto yang bertemakan tentang sejarah Kota
Makassar pada awal kemerdekaan. Pada dinding ruangan ini ditampilkan juga lukisan Sultan
Hasanuddin yang merupakan pahlawan nasional yang berasal dari daerah ini

12

Gambar 4: Ruang C, Panel yang menampilkan foto peristiwa penting pada masa kemerdekaan

Gambar 5: Ruang C, Panel yang menampilkan foto tentang Makassar saat ini.

Gambar 6: Ruang C, Panel yang menampilkan panorama alam Kota Makassar

13

Ruang D:
Ruangan ini merupakan bagian sayap kiri bangunan Museum Kota Makassar. Beberapa
koleksi yang ada di ruangan ini adalah koleksi yang terkait sejarah awal Makassar sebagai
sebuah kerajaan. Koleksi-koleksi tersebut diantaranya sebuah peta buatan VOC yang
menggambarkan tempat-tempat khusus yang ada di pusat kerajaan ketika itu masih berada di
Somba Opu, diantaranya: Istana, Kediaman Raja dan para petinggi Kerajaan, Masjid
Kerajaan, Kantor kantor dagang bangsa asing serta daerah-daerah permukiman yang ada di
sekitarnya. Koleksi lain adalah sebuah peta udara yang berukuran besar yang menempel di
dinding ruangan. Koleksi berikutnya adalah meriam dan beberapa bola meriam serta gambargambar yang memperlihatkan suasana perang pada saat itu.

Gambar 7: Peta udara yang


menunjukkan Kota Makassar

Gambar 8: koleksi meriam

Ruang E:
Koleksi-koleksi yang ditampilkan pada ruangan ini lebih bervariasi diantaranya, koleksi
numismatik baik mata uang koin maupun mata uang kertas yang berasal dari masa kerajaan
Gowa-Tallo, VOC, Masa Pemerintahan Belanda, serta masa setelah kemerdekaan. Ruangan
ini juga menampilkan beberapa foto yang menggambarkan kondisi Makassar pada masa
pemerintahan Belanda, diantaranya rumah para pejabat Belanda. Koleksi laian adalah
beberapa naskah perjanjian antara Kerajaan Gowa-Tallo dan Pemerintah Belanda.

14

Gambar 9: Koleksi mata uang

Gambar 10: koleksi foto & naskah

Gambar 11: Koleksi alat music tradisional (Ganrang Bulo)

Ruang F:
Ruangan ini berada di belakang ruangan E yang terletak pada sayap kiri gedung museum.
Pada ruangan ini ditampilkan diorama yang menggambarkan perangkat pelaminan
pernikahan serta pakaian adat Makassar.

15

Gambar 12: Diorama yang menggambarkan pelaminan perkawinan adat Makassar

Lantai 2:

Gambar 13: denah lantai 2, bangunan Museum Kota Makassar

Ruang G:
Ruangan ini adalah ruangan Patompo Memorial Room, yang menggambarkan situasi
ruangan ini pada saat Patompo menjabat sebagai Walikota Makassar periode tahun 1965

16

1978. Patompo sendiri adalah Walikota Makassar yang dianggap sebagai Walikota yang
berjasa besar membawa perubahan signifikan pada Kota Makassar.

Gambar 14: Patomo Memorial Room

Ruang H:
Koleksi yang ditampilkan pada ruangan ini adalah beberapa foto yang menggambarkan
kegiatan-kegiatan resmi beberapa Walikota yang pernah menjabat di Kota Makassar sejak
masa kemerdekaan hingga saat ini.

Gambar 15: Koleksi foto kegiatan resmi walikota & wakil walikota

Ruang I:
Ruangan ini berada di sebelah kiri dari Patompo Memorial Room. Ruangan ini adalah
ruangan yang lebih besar jika dibanding dengan ruangan ruangan lain yang ada di gedung
museum. Ruangan ini ditata sesuai dengan penataan ketika ruangan ini digunakan sebagai
17

ruang rapat pada masa jabatan Patompo sebagai Walikota Makassar. Ruangan ini dapat
disebut sebagai Guide Room. Pengelola museum,memanfaatkan ruangan ini sebagai ruang
pertemuan ketika pengelola museum memberikan informasi tentang sejarah Kota Makassar
serta informasi lain terkait dengan koleksi yang ada di museum kepada para pengunjung
museum yang terdiri dari rombongan baik pelajar, mahasiswa maupun masyarakat yang
berkunjung ke Museum Kota Makassar.

18

BAB III
Pembahasan
Museum Kota Makassar dibangun pada tahun 1918, yang berarti, menurut teori Handinoto (1996)
masuk pada periodesasi tahun 1902 -1920, sebagai bangunan kolonial Indonesia.

Gambar: tampak Museum Kota Makassar dari depan

Dimulai dari fasad bangunan, tampak bahwa pola simetris diterapkan pada bangunan ini.
Terdapat tiga jendela pada bagian terdepan, dengan jendela di tengah terbagi sama rata. Lalu
terdapat masing-masing dua jendela di bagian bangunan yang menjorok ke dalam.
Jendela pun dihias dengan bentuk lengkung di atasnya, dan dilihat dari jumlahnya, sesuai
dengan teori Sumalyo yang menyatakan bahwa bangunan kolonial memiliki bukaan yang banyak
pada permukaan dindingnya.
Bentuk atap yang cukup curam, memberikan ruang yang besar di bawahnya, untuk
memernyaman sirkulasi udara. Namun, dikarenakan digunakan system atap perisai, maka jelas
atap bangunan Museum Kota Makassar ini tidak menggunakan atap gevel (gable).

19

Gambar: bentuk kolom pada bangunan, menggunakan ornamen Romawi

Kolom mengambil bentuk kolom Romawi, yaitu Tuscan. Dengan bentuk ornament kotak di
atas. Meskipun bentuk tidak bulat, namun ciri khas utama dengan hiasan di atas menunjukkan
kekhasan arsitektur Eropa-nya.

Gambar: ventilasi udara di atas pintu

Pada gambar terlihat adanya ventilasi udara yang memungkinkan sirkulasi udara yang lancar.
Tampak juga kolom yang timbul, menunjukkan kekokohan bangunan ini. Warna pastel pada
lantai, menunjukkan warna klasik yang dibuat senada dengan warna dinding dan warna kayu
pada kusen, perabotan dan handrail tangga.

20

Gambar: diperlihatkan pada sebelah kiri, bangunan Museum Kota Makassar pada tahun 1924, dan pada
masa kini di sebelah kanan.

Renovasi tentunya dilakukan pada bangunan ini, namun, seperti terlihat pada gambar di atas,
tampak tidak begitu banyak perubahan. Sehingga dapat dikatakan bahwa bangunan ini
terkonservasi dengan baik.

Gambar: Tangga pada Museum Kota Makassar untuk mencapai lantai 2

Tangga, merupakan satu ciri pada bangunan kolonial. Meskipun biasanya terekspos, namun
tangga di bangunan ini hanya digunakan sebagai akses ke lantai 2. Sehingga posisinya
tersembunyi dalam bangunan.
21

Gambar: interior Museum pada ruang A

Gambar di atas menunjukkan interior ruang A, yang memajang wajah para walikota yang
pernah menjabat di Makassar. Terlihat balok dan kolom yang besar dan kokoh. Jelas ini
merupakan kejujuran struktur yang menjadi ciri khas bangunan kolonial.
Terlihat juga pencahayaan yang tembus melalui jendela maupun ventilasi. Sesuai dengan
pernyataan sumalyo yang mengedepankan pencahyaan, penghawaan, lewat hibridasi gaya Eropa
dan Nusantara, yang menghasilkan arsitektur kolonial.

22

Gambar: Interior Museum Kota Makassar

Terlihat pada gambar di atas, bahwa daun pintu terbuka 2 rah (ke kiri dan kanan, terbelah di
tengah) yang merupakan ciri arsitektur kolonial, yang dijabarkan oleh Wardani (2009). Pintu
juga terletak di samping, sesuai dengan ciri khas bangunan kolonial.
Bentuk hiasan pada bagian atas kolom dan pintu, menunjukkan gaya Romawi, dengan
lekukan yang mirip gaya Tuscan.
Secara umum, gaya arsitektur kolonial pada bangunan Museum Kota Makassar ini lebih
mirip gaya periode tahun 1800an-1902. Dikarenakan penggunaan atap perisai dan kolom/pilar
yang menjulang. Namun, terlihat penggunaan dormer pada bagian depan bangunan, yang
menguatkan identitasnya sebagai periode 1902-1920.
Dari karakteristiknya sebagai bangunan kolonial, maka sangat terlihat jelas pengaruh
kolonial pada bangunan ini, dan penggabungannya dengan unsur alam di sekitarnya yang berupa
pencahayaan dan penghawaan. Peran arsitektur kolonial tentunya telah jelas terlihat, dan kita
semua sangat bersyukur, bahwa bangunan ini masih dapat terus berdiri dan terjaga dengan baik
sebagai warisan nenek moyang kita.

23

BAB IV
Penutup & Kesimpulan
Peran dan Pengaruh arsitektur kolonial pada bangunan Museum Kota Makassar, telah
berhasil ditelusuri lewat kajian pustaka berupa identifikasi karakteristik bangunan kolonial.
Melalui penjabaran karakter arsitektur kolonial secara umum, maka disimpulkan bahwa
bangunan Museum Kota Makassar telah dipengaruhi arsitektur kolonial, karena: memiliki ciri
khas atap perisai dan dormer, pilar yang menjulang di serambi depan dan belakang bergaya
Romawi (Tuscan diturunkan dari Pilar bergaya Yunani), bukaan yang banyak pada permukaan
dinding, penggunaan warna soft seperti cream dan putih pada bangunan, dibangun pada tahun
1918 (periode 1902-1920).
Maka, dapat dikatakan bahwa arsitektur kolonial telah memberikan pengaruh bentuk dan
konsepsi pada bangunan Museum Kota Makassar. Arsitektur kolonial telah memainkan perannya
dengan baik pada masa itu, karena bangunan ini telah mengikuti karakter arsitektur kolonial
dengan baik. Sehingga apa yang kita lihar\t sekarang, merupakan bentuk dan ekspresi wajah
arsitektur kolonial.
Semoga masyarakat dapat lebih memahami arsitektur nusantara lewat peran dan
pengaruh arsitektur kolonial. Dan menambah wawasan dan kepedulian kita semua akan
khazanah arsitektur nusantara yang kaya ini.

24

Daftar Pusataka

Sumalyo, Yulianto.1995.Arsitektur Kolonial Belanda di Indonesia.Yogyakarta:Gadjah


Mada University press.

http://deni-nusantara.blogspot.com/2010/05/arsitektur-kolonial.html
http://digilib.its.ac.id/public/ITS-Undergraduate-16449-Paper-pdf.pdf
http://funnie.blogdetik.com/2011/06/15/model-bangunan-kolonial/
http://lontar.ui.ac.id/file?file=digital/135597-T%2027943-Konstruksi%20baru-Metodologi.pdf
http://makassarnolkm.com/perkembangan-kota-makassar-abad-18-19/
http://sejarah.kompasiana.com/2011/04/21/meneropong-makassar-tempo-dulu-356968.html
http://www.skyscrapercity.com/showthread.php?t=1440340&page=37
http://wisata.makassarkota.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=48&Ite
mid=39, diakses pada 4 Mei 22.14 WITA

25