Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH EVOLUSI

Homo floresiensis

Disusun oleh:
Kelompok 4
Pendidikan Biologi C
Isrofah Ummi Fadhillah (13304241046)

Yustina Bangun R.W

(13304244002)

Aisyah Resita R

(13304241053)

Nurhayatun Nikmah

(13304244007)

Silvia Rosiana D

(13304241058)

Antika Nur Adi Wijaya

(13304244015)

Aghnan Pramudihasan

(13304241060)

Rahmayani Uswatun H

(13304244023)

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2016

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia purba atau yg biasa dinamakan bersama manusia prasejarah ialah manusia yg
hidup sebelum tulisan ditemukan. Trik hidup mereka tetap teramat sederhana & tetap amat
bergantung kepada alam. Di Indonesia sendiri terdapat sekian banyak website lokasi di mana
fosil manusia purba tidak sedikit ditemukan, seperti di Mojokerto, Solo, Ngandong, Pacitan,
atau yg paling populer adalah Sangiran. Penemuan-penemuan fosil di dunia banyak
disumbang oleh Indonesia. Hal ini dikarenakan Indonesia merupakan wilayah tropis dan
mempunyai iklim yang cocok di huni manusia kala itu. Penemuanpenemuan fosil sangat
berguna bagi perkembangan ilmu sejarah sekarang ini. Baik dalam hal menjelaskan
kehidupan manusia kala itu,. Hewan yang pernah hidup dan bagaimana evolusi manusia
hingga menjadi sekarang ini.
Indonesia sendiri termasuk negaraa yang banyak menyumbang fosil manusia manusia
purba. Dilihat dari hasil penemuan di Indonesia maka dapat dipastikan Indonesia
mempunyai banyak sejarah peradaban manusia mulai saat manusia hidup. Dengan begitu
ilmu sejarah akan terus berkembang sejalan dengan fosil- fosil yang ditemukan. Makalah ini
dibuat untuk mengetahui lebih jelas dan terperinci mengenai fosil- fosil manusia purba yang
ditemukan di Indonesia yaitu Penemuan terbaru mengenai Homo floresiensis.. Oleh karena
itu dalam makalah ini akan dijelaskan perkembangan manusia purba dari tahun hidup, ciriciri fisik Homo floresiensis dan persebaran Homo floresiensis.

B. Tujuan
1.

Mengetahui tahun hidup Homo floresiensis.

2.

Mengetahui ciri-ciri fisik Homo floresiensis.

3.

Mengetahui persebaran Homo floresiensis.

BAB II
ISI
A. Homo floresiensis
Homo floresiensis, hidup sekitar 100.000 sampai 12.000 tahun lalu, dinamai hobbit
karena berukuran kecil, mungkin akibat dwarfisme insular. Homo floresiensis menarik dari
ukuran tubuh dan umurnya, menjadi contoh konkret spesies baru genus Homo dengan sifatsifat turunan tidak dimiliki manusia modern (Hassan, Munif S, dkk. 2014)
Dengan kata lain Homo floresiensis berbagi moyang dengan manusia modern, tapi
memisah dari silsilah manusia modern dan mengikuti lintasan evolusi yang berlainan.

B. Ciri-ciri Fisik
Temuan utamanya adalah sebuah skeleton yang diduga seorang wanita berusia
sekitar 30 tahun. Ditemukan pada 2003, fosil ini diduga berumur 18.000 tahun. Ketika hidup
wanita ini diestimasi bertinggi satu meter, dengan volume otak hanya 380 cm 3 (dianggap
kecil untuk simpanse dan kurang dari sepertiga ukuran rata-rata Homo sapiens yang 1400
cm3).
Menurut Argue, Derbie et al. (2006), Setelah dilakukan penelitian dan perbandingan
dengan hasil penelitian sebelumnya berupa hominis yang lain seperti Homo erectus,
Australopithecus dan Paranthropus, diketahui Homo floresiensis tidak sama dengan spesies
yang lain yang telah diketahui tersebut. Homo floresiensis termasuk spesies baru dengan
ciri-ciri fisik:
1.
2.
3.
4.

Tubuh pendek (ukuran kurang lebih 1.04 m)


Volume endokrinal 380-410 cm3
Tengkorak dan gigi menyerupai Homo sapiens
Tidak memiliki dagu

Namun masih ada perdebatan mengenai apakah Homo floresiensis memang betul
spesies yang terpisah. Beberapa ilmuwan meyakini Homo floresiensis adalah Homo sapiens
modern dengan dwarfisme patologis. Hipotesis ini sebagian didukung karena beberapa
manusia modern yang hidup di Flores, pulau di mana skeleton ini ditemukan dengan alatalat yang biasanya dimiliki oleh Homo sapiens.
Namun hipotesis dwarfisme patologis gagal menerangkan fitur-fitur anatomi
tambahan yang berbeda dengan manusia modern (berpenyakit atau tidak) tetapi lebih mirip
fitur anggota lampau dari genus kita. Selain dari fitur cranial, fitur-fitur ini meliputi bentuk
tulang di pergelangan tangan, lengan bawah, bahu, lutut, dan kaki (Hassan, Munif S, dkk.
2014).

C. Persebaran
Homo floresiensis (manusia Flores, dijuluki hobbit) adalah nama yang diberikan
oleh kelompok peneliti untuk spesies dari genus Homo, yang memiliki tubuh dan volume
otak kecil, berdasarkan serial subfosil (sisa-sisa tubuh yang belum sepenuhnya membatu)
dari sembilan individu yang ditemukan di Liang Bua, Pulau Flores, pada tahun 2001.
Kesembilan sisa-sisa tulang itu (diberi kode LB1 sampai LB9) menunjukkan postur paling
tinggi sepinggang manusia modern (sekitar 100 cm).
Para pakar antropologi dari tim gabungan Australia dan Indonesia berargumen
menggunakan berbagai ciri-ciri, baik ukuran tengkorak, ukuran tulang, kondisi kerangka
yang tidak memfosil, serta temuan-temuan sisa tulang hewan dan alat-alat di
sekitarnya. Usia seri kerangka ini diperkirakan berasal dari 94.000 hingga 13.000 tahun
yang lalu.
Liang Bua, tempat ditemukannya sisa-sisa kerangka ini, sudah sejak masa
penjajahan menjadi tempat ekskavasi arkeologi dan paleontologi. Hingga 1989, telah
ditemukan banyak kerangka Homo sapiens dan berbagai mamalia (seperti makhluk mirip
gajah Stegodon, biawak, serta tikus besar) yang barangkali menjadi bahan makanan mereka.
Di samping itu ditemukan pula alat-alat batu seperti pisau, beliung, mata panah, arang, serta
tulang yang terbakar, yang menunjukkan tingkat peradaban penghuninya.

Kerja sama penggalian Indonesia-Australia dimulai tahun 2001 untuk mencari


jejak peninggalan migrasi nenek moyang orang Aborigin Australia di Indonesia. Tim
Indonesia dipimpin oleh Raden Pandji Soejono dari Puslitbang Arkeologi Nasional (dulu
Puslit Arkenas) dan tim Australia dipimpin oleh Mike Morwood dari Universitas New
England. Pada bulan September 2003, setelah penggalian pada kedalaman lima meter
(ekspedisi sebelumnya tidak pernah mencapai kedalaman itu), ditemukan kerangka mirip
manusia tetapi luar biasa kerdil, yang kemudian disebut Homo floresiensis. Tulang-tulang itu
tidak membatu (bukan fosil) tetapi rapuh dan lembab. Terdapat sembilan individu namun
tidak ada yang lengkap. Diperkirakan, Liang Bua dipakai sebagai tempat pekuburan. Untuk
pemindahan, dilakukan pengeringan dan perekatan terlebih dahulu.
Individu terlengkap, LB1, diperkirakan adalah wanita, ditemukan pada lapisan
berusia sekitar 18.000 tahun, terdiri dari tengkorak, tiga tungkai (tidak ada lengan kiri), serta
beberapa tulang badan. Individu-individu lainnya berusia antara 94.000 dan 13.000 tahun.
Walaupun tidak membatu, tidak dapat diperoleh sisa material genetik, sehingga tidak
memungkinkan analisis DNA untuk dilakukan. Perlu disadari bahwa pendugaan usia ini
dilakukan berdasarkan usia lapisan tanah bukan dari tulangnya sendiri, sehingga
dimungkinkan usia lapisan lebih tua daripada usia kerangka. Pendugaan usia kerangka
dengan radiokarbon sulit dilakukan karena metode konservasi tulang tidak memungkinkan
teknik itu untuk dilakukan.
Spesies ini diperkirakan bertahan di Flores setidaknya sampai 12.000 tahun
sebelum sekarang, menjadikannya sebagai manusia non-modern yang mampu bertahan
dalam durasi terpanjang. Karena berbatasan dengan berbagai selat, Flores tetap terisolasi
selama era es Wisconsin, meskipun permukaan air laut yang rendah karena era es
menyatukan berbagai dataran Sunda. Hal ini telah memberikan petunjuk kepada
penemu Homo floresiensis untuk menyimpulkan bahwa spesies, atau nenek moyang dari itu,
hanya bisa mencapai pulau terpencil dengan transportasi air, mungkin tiba dengan rakit
bambu sekitar 100.000 tahun yang lalu. Gagasan Homo floresiensis menggunakan teknologi
canggih dan kerjasama pada tingkat manusia modern telah mendorong para penemu untuk
berhipotesis bahwa Homo floresiensis hampir pasti memiliki bahasa. Saran ini telah menjadi
salah satu yang paling kontroversial bagi para golongan peneliti lainnya.

Peneliti geologi lokal menunjukkan bahwa pernah terjadi letusan vulkanik di


Flores, sekitar 12.000 tahun yang lalu, bertanggung jawab atas kematian Homo
floresiensis tersebut, bersama dengan fauna lokal lainnya, seperti gajah Stegodon. Gregory
Forth menduga bahwa Homo floresiensis mungkin telah bertahan lama di bagian lain dari
Flores, yang menjadi sumber cerita Ebu Gogo, cerita di kalangan masyarakat setempat. Ebu
Gogo dikatakan sebagai suatu makhluk yang sangat kecil, berambut lebat, miskin kosakata
bahasa dan penghuni goa-goa pada skala spesies ini. Dipercaya hadir sebelum saat
kedatangan kapal-kapal Portugis pertama pada abad ke-16, makhluk ini mengklaim untuk
menampilkan dirinya baru-baru ini pada akhir abad 19. Gerd Van Den Bergh, seorang
paleontolog bekerja dengan fosil, melaporkan mendengar Ebu Gogo itu, satu dekade
sebelum penemuan fosil. Di pulau Sumatera, ada laporan dari 1.5m tinggi humanoid-1,
Orang Pendek yang mungkin berhubungan dengan Homo floresiensis. Henry Gee,
berspekulasi bahwa spesies seperti Homo floresiensis mungkin masih ada di hutan tropis
yang belum dijelajahi di Indonesia.

D. Gambar Fosil

(Colin, 2007)

(Lyras, dkk, 2009)

(Lyras, dkk, 2009)

(Lyras, dkk, 2009)

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa: Homo floresiensis, hidup sekitar
100.000 sampai 12.000 tahun lalu. Homo floresiensis (manusia Flores, dijuluki hobbit)
adalah nama yang diberikan oleh kelompok peneliti untuk spesies dari genus Homo, yang
memiliki tubuh dan volume otak kecil, berdasarkan serial subfosil (sisa-sisa tubuh yang
belum sepenuhnya membatu) dari sembilan individu yang ditemukan di Liang Bua, Pulau
Flores, pada tahun 2001. Kesembilan sisa-sisa tulang itu (diberi kode LB1 sampai LB9)
menunjukkan postur paling tinggi sepinggang manusia modern (sekitar 100 cm). Homo
floresiensis memiliki ciri-ciri fisik sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.

Tubuh pendek (ukuran kurang lebih 1.04 m)


Volume endokrinal 380-410 cm3
Tengkorak dan gigi menyerupai Homo sapiens
Tidak memiliki dagu

B. Saran
Referensi mengenai Homo floresiensis masih kurang (tidak banyak dijumpai), sebaiknya
para ahli segera membukukan temuan Homo floresiensis. Sehingga memudahkan pembaca
untuk mengetahui lebih dalam dan lebih lengkap mengenai Homo floresiensis..

DAFTAR PUSTAKA

Argue, Derbie et al. 2006. Homo floresiensis : Microcephalic, pygmoid, Australopithecus or


Homo?. Journal of Human Evolution (51) 360-374. Australia : Elsevier.
www.nature.com/scitable/knowledge/library/homo-floreseiensis-making-sense-of-thesmall-91387735 diakses pada 17 April 2016
Groves, Colin. 2007. Jurnal of Biosciences vol.14 no.4 The Homo Floresiensis Controversy.
Hasan, Munif S,dkk. 2014. Pengantar Biologi Evolusi. Jakarta : Erlangga
Lyras, dkk. 2009. Jurnal Anthropological Science Vol.117 No. 1 The Origin of Homo
Floresiensis and Its Relation To Evolutionary Processes Under Isolation.
Sutikna, Thomas et al. Revised Stratigraphy and Chronology for Homo Floresiensis at Liang
Bua in Indonesia, Nature 17 April 2016, D01:10.1038/nature17179.