Anda di halaman 1dari 29

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengertian HIV
HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah

virus yang menginvasi

tubuh yang menyerang kekebalan tubuh manusia yang menyebabkan penurunan


daya tahan tubuh sehingga bila dibiarkan dalam jangka lama dapat jatuh kedalam
keadaan AIDS. HIV termasuk kedalam golongan lentivirus atau retrovirus. Virus
ini termasuk virus RNA, sehingga dalam penyebarannya virus ini membutuhkan
enzim reverse transcriptase agar dapat berplikasi dan menginfeksi tubuh
manusia.HIV nantinya akab terus berkembang biak dan akan terus menyerang sel
yang memiliki reseptor CD4. Virus HIV terdiri dari 2 subtipe yaitu HIV1 dan
HIV2. HIV1 merupakan jenis yang paling banyak menginfeksi manusia. Pada
penjelasan berikutnya akan di jelaskan bagaimana struktur dari virus HIV ini
secara lebih detail.
2.2. Pengertian AIDS
AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome). Berdasarkan bahasa
Acquired

berarti didapat bukan penyakit turunan. Immuno berarti sistem

kekebalan tubuh. Deficiency artinya kekurangan dan syndrome adalah kumpulan


gejala. Dari pengertian tersebut maka dapat ditarik pengertian bahwa AIDS adalah
kumpulan gejala maupun penyakit yang disebabkan oleh virus HIV yang merusak
sistem kekebalan tubuh manusia, sehingga tubuh mudah diserang penyakit
penyakit lain yang dapat berakibat fatal. Tubuh manusia secara fisiologi memiliki
pertahanan terhadap serangan dari luar tubuh. Namun pada AIDS terjadi kelemahan
terhadap sistem pertahanan tersebut sehingga menyebabkan penyakit lain mudah
menyerang.

2.3. Epidemiologi
Saat ini HIV/AIDS merupakan penyakit pandemi dimasyarakat dunia.
HIV/AIDS merupakan masalah yang sangat mendunia dan sangat kompleks.
Lebih dari jutaan orang yang terkena HIV/AIDS dan hal ini sangat berpotensi
untuk menyebarkan kepada orang lain. HIV/AIDS pertama kali dilaporkan oleh

Center For Disease Control (CDC) di Amerika Serikat pada sekelompok kaum
homoseks di California dan New York City pada tahun 1981. Sampai saat ini
kasus HIV/AIDS ini masih terus berkembang dan penyebarannya juga masih terus
terjadi sehingga tingginya kasus HIV/AIDS yang dijumpai pada saat ini.
2.3.1. HIV/AIDS di Dunia
Setiap tahunnya kasus HIV/AIDS semakin bertambah. Hal ini sangat
meresahkan dunia kesehatan internasional karena penyakit yang berstatus
pandemi ini sudah menginfeksi lebih dari jutaan orang. Menurut laporan terbaru
setiap tahunnya jumlah kasus HIV/AIDS diseluruh dunia terus meningkat. Hal ini
terntunya sangat mengejutkan masyarakat dunia akan cepatnya infeksi penyakit
ini. Menurut perkiraan WHO sekitar 6300 kasus baru infeksi HIV perhari pada
tahun 2012 (WHO/UNAIDS,2012). Tercatat 35,3 juta orang yang hidup dengan
HIV, 2,3 juta orang dengan infeksi baru dan 1,6 juta orang mati pada tahun 2012
( WHO/UNAIDS,2012). Sub-Saharan Afrika adalah Negara yang menduduki
peringkat pertama sebagai Negara dengan jumlah penderita HIV/AIDS tertinggi.
Sub-Saharan Afrika tercatat memiliki 25 juta orang hidup dengan HIV/AIDS pada
tahun 2012 (WHO/UNAIDS). Tingginya prevalensi HIV/AIDS di dunia yang
telah dikemukakan oleh WHO/UNAIDS sangat mengkhawatirkan, walaupun telah
dilakukan upaya pencegahan namun penyebarannya masih tetap terjadi dan
bertambah setiap tahunnya

Adults
Adults
Adult Adult
and
and
preval &
childre
childre
ence child
n newly
million
25.0
million
4.7%
1.6 deaths
million 1.2
n
living
(15
Sub-Saharan Africa 000infected
260
000
32
0.1%
000 17 1.1]
[million
[26.6
million
million
1.8
]5.0%
23.5
million
[million
]270
4.4%
1.4][ 1.3
million
Middle East
and North
Africa
million
3.9
000
0.3%
00012
220
49)
due
to
]000 380with
Asia
]000
000
47
200
]
0.2%

[
000

22
0.1%
]
[
000
26
[

000
South and South-East
with
000
880
000
81
0.1%
>AIDS
000150
41[ [
[
million

5.2
]
000
million
440
]
0.4%

2.9
000
]

160
]
000
0.2%
[
310
[

000
HIV
]%[
East Asia
million
1.5
000
86
0.4%
000
52
HIV
million 1.2]000
000
000
160
]250
650
0.1%
000
000
] 12
34
0.1%
]1.0%
000
[ >[
64 000
Latin[America
000 25
11[[
[
million

1.9
]
000
million
150
]
0.5%

1.2
000
]

57
0.3%
]
000
[
75
[

000
35
Caribbean
million
000
0.7%
000 91
000 Central
280 ]000
000
220
14
]1.1%
[1.3
9400
130
[0.9%
]000[14 7600
9400
[
Eastern Europe ]and
Asia
000
860
000
29
0.2%
[million
1.7
]000
million
190]1.0%
1.0
000
] 89
]48
0.6%
000
[ 120
[ 000
66
[
Western and
Central
Europe
million
1.3
000
0.5%
000
20
]000 930 ]000
000
35
800
]0.2%
[000
250.2%
[ ]8300
[ 6900
[
North America
000
51
2100
0.2%
1200
[million 1.9]000
million
000
100]980
0.8%
000
]million
15
0.4%
]0.8%
000
[ 2.327
[ 000
16[
Oceania
35.3
million
]000 59 000
]2700
43]0.3%
[ 1500
[ 0.2%
]1800
[ 1000
>[ 1.6
TOTAL
[million [million
38.8 million
2.7
]0.9%
32.2
million
[million
]- 0.7%
1.9][ 1.9 million 1.4]

Tabel 2.1 Epidemiologi HIV/AIDS ( WHO/UNAIDS,2012)


Dari tabel diatas didapati bahwa Sub-Saharan Afrika merupakan Negara
yang paling tinggi yang diprediksi oleh WHO/UNAIDS pada tahun 2012. SubSaharan Afrika merupakan suatu Negara bagian yang terdapat di benua Afrika.
Hal ini tentunya tidak hanya dipengaruhi oleh satu faktor saja. Kebudayaan
masyarakat , faktor geografis, faktor sosial, faktor kurangnya pengetahuan
masyarakat akan HIV/AIDS, kurangnya kesadaran akan infeksi HIV.AIDS, serta
kemajuan tekhnologi merupakan faktor faktor yang diduga sebagai penyebab
masih tingginya penyebaran HIV/AIDS. Asia tenggara dan asia selatan pada tabel
diatas dapat kita lihat menduduki peringkat kedua dalam jumlah infeksi
HIV/AIDS. Asia Tenggara sendiri memiliki Negara-negara anggota yang terdiri
dari 11 negara. Hal ini dapat kita lebih cermati pada Indonesia yang merupakan
salah satu anggota Negara Asia Tenggara. Indonesia juga merupakan negara
dengan jumlah penduduk yang sangat banyak, bahkan Indonesia merupakan
negara

ketiga penduduk terbanyak di dunia. Nantinya pada bagian yang

selanjutnya akan dibahas mengenai epidemiologi HIV/AIDS di Indonesia.

2.3.2. HIV/AIDS di Indonesia

Di Indonesia, infeksi HIV merupakan salah satu masalah kesehatan utama


dan salah satu penyakit menular yang dapat mempengaruhi kesehatan masyarakat.
Human Immunodeficiency Virus (HIV) sudah ada di Indonesia sejak kasus
pertama ditemukan tahun 1987. Sampai saat ini kasus HIV/AIDS telah dilaporkan
oleh 341 dari 497 kabupaten/kota di 33 provinsi di Indonesia. Indonesia
merupakan salah satu negara Asia dengan penyebaran HIV/AIDS yang
berkembang paling cepat (UNAIDS, 2012), dan merupakan negara dengan tingkat
epidemi HIV terkonsentrasi, karena terdapat beberapa daerah dengan prevalensi
HIV lebih dari 5% pada subpopulasi tertentu, dan prevalensi HIV tinggi pada
populasi umum 15-49 tahun terjadi di Provinsi Papua dan Papua Barat (2,4%).
Gambar 2.1 Jumlah Kasus HIV/AIDS Serta Kematian Karena HIV/AIDS di

Indonesia Tahun 2005-September 2012

Jumlah kasus HIV/AIDS di Indonesia terus mengalami peningkatan.


Penghitungan kembali terhadap data-data mengenai infeksi HIV/AIDS pun terus

dilakukan. Pada tahun 2013 didapati peningkatan jumlah kasus HIV/AIDS. Hal
ini jelas terlihat pada grafik 2.2 berikut ini.
Gambar 2.2 Jumlah HIV/AIDS Yang Dilaporkan Pertahun Sampai Dengan
Maret 2013

Dari tabel diatas kita dapat membandingkan dengan tahun sebelumnya


dimana terjadi perubahan jumlah pasien yang didapati menderita HIV/AIDS. Pada
grafik 2.1 pada tahun 2012 didapati jumlah pasien yang terkena HIV berjumlah
9.883 orang sedangkan menurut data kemenkes tahun 2013, jumlah pasien yang
menderita HIV pada tahun 2012 berjumlah 21.511 orang. Hal ini terjadi karena
diadakannya validasi data oleh pihak pengumpul untuk mendapatkan hasil yang
akurat.
Pada tahun 2013 sampai bulan Maret, sudah ditemukan sekitar 5.369
orang yang terkena HIV dan 460 orang yang menderita AIDS. Hal ini dapat
menjadi gambaran perkiraan kita akan potensi semakin bertambahnya kasus
HIV/AIDS sampai akhir tahun 2013 dan sampai tahun 2014.

Tabel
2.2

Jumlah

Kasus

HIV

Yang

Dilaporaknan Sampai Maret 2013


Tabel diatas hanya memperlihatkan kasus HIV di Indonesia. Berikut ini
pada tabel 2.2 akan mempaparkan jumlah kasus AIDS sampai Maret 2013.

Tabel
2.3 Jumlah Kasus AIDS Yang Dihitung Sampai Maret 2013
Kasus AIDS berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa kasus tertinggi
yang terjadi pada tahun 2011. Hal ini menunjukkan

Tabel 2.4 Jumlah Infeksi HIV Yang Dilaporkan Sampai Maret 2013

Pada tabel 2.4 hanya dipaparkan penderita HIV sampai Maret 2013.
Berikutny pada tabel 2.5 akan dipaparkan penderita AIDS sampai Maret 2013.
Tabel 2.5 Jumlah Penderita AIDS Sampai Maret 2013.

2.3.3 HIV/AIDS di Sumatera


Sumatera

merupakan

suatu

pulau

di

sebelah

barat

dari

Indonesia yang terdiri atas beberapa provinsi. Pada bagian ini akan
lebih dibahas pada Provinsi Sumatera Utara. Sumatera Utara memang

belum memasuki provinsi yang penyebarannya tinggi. Pada tahun 2010 jumlah
kasus baru untuk HIV (+) yaitu 171 kasus dan AIDS sebanyak 468 kasus (Dinkes
Provsu). Penambahan kasus baru pada tahun 2011 menyebabkan peningkatan
jumlah kasus HIV/AIDS secara keseluruhan menjadi 3.237 kasus. Pada tahun
2012, jumlah kasus HIV/AIDS meningkat tajam menjadi 6.430 kasus dengan
rincian, 2.189 kasus HIV dan 4.241 kasus AIDS(Dinkes Provsu). Penderita baru
HIV/AIDS 3 tertinggi tahun 2012 secara berturut-turut adalah kota Medan yaitu
506 kasus atau sekitar 34,56%, Kabupaten Karo 347 kasus (23,70%) dan
Kabupaten Deli Serdang sebanyak 172 kasus (11,75%) dari total seluruh penderita
baru (Dinkes Provsu).

Grafik 2.3 Jumlah Kasus HIV/AIDS Provinsi Sumatera Utara Pada Tahun
1994-2013
Grafik 2.4 Jumlah Infeksi Baru HIV/AIDS Provinsi Sumatera Utara Tahun
2012

2.4. Transmisi
Setiap benda asing yang merusak tubuh manusia pastinya memiliki jalan
masuk tertentu agar dapat menginvasi tubuh dan berinteraksi dengan tubuh.
Seperti halnya HIV, virus ini tentunya memiliki jalan masuk untuk menginfeksi
tubuh manusia. HIV dapat masuk kedalam tubuh manusia melalui kontak
langsung dengan

darah ataupun cairan tubuh seperti cairan semen, secret

vagina,cairan serviks dan cairan otak. Namun virus ini juga dapat masuk melalui
air mata,urin,keringat dan ASI tetapi hanya dalam jumlah yang sangat sedikit.
Terdapat beberapa cara penularan HIV yaitu :
1. Melalui hubungan seksual baik secara vaginal, oral maupun anal dengan
pengidap HIV. Ini adalah cara yang paling umum terjadi iaitu meliputi 80
90% total kasus sedunia.
2. Kontak langsung dengan darah, produk darah atau jarum suntik. Hal ini
termasuklah transfusi darah yang tercemar, pemakaian jarum suntik yang
tidak steril dan penyalahgunaann narkoba dengan jarum suntik yang
dipakai secara bersamaan. Kecelakaan tertusuk jarum pada petugas
kesehatan juga salah satu cara penularan melalui kontak langsung dengan
darah.
3. Transmisi secara vertikal dari ibu pengidap HIV kepada bayinya, (selama
proses kelahiran dan melalui ASI). (Sudoyo AW et al., Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam)
2.5. Etiologi
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya HIV merupakan suatu virus
golongan lentivirus subklas retrovirus yang menyerang sisitem kekebalan tubuh
manusia yang nantinya dapat menyebabkan turunnya daya tahan tubuh penderita
sampai muncul gejala-gejala maupun sindrom yang dapat memungkinkan infeksi
penyakit lain (infeksi oppurtinistik) yang disebut dalam keadaan AIDS (Acquired
Immune Deficiency Syndrom). Luc Montagnier dkk. tahun 1983 telah
menemukan LAV ( Lymphadenopathy Associated Virus). Pada tahun 1984 sejenis

virus yang disebut HTVL 3 (Human T cell Lymphotropic Virus Type 3)


ditemukan dari pasien AIDS di Anerka Serikat oleh Robert Gallo dkk. Kemudian
didapati bahwa kedua virus ini sama, dan oleh committee taxonomy international
pada tahun 1985 disebut sebagai HIV (Human Imuno-deficiency Virus). Pada
tahun 1994 dikenal terdapat 2 jenis virus HIV yaitu HIV 1 dan HIV 2.
HIV1 dan HIV2 merupakan suatu virus RNA yang termasuk kedalam
retrovirus. HIV1 penebaranny lebih luas dibandingkan dengan HIV 2. HIV1
penyebarannya hampir diseluruh dunia , sedangkan HIV 2 ditemukan pada
pasien-pasien Portugal dan Afrika Barat. HIV2 lebih mirip dengan monkey virus
yang disebut SIV (Simian Imunodeficiency Virus). Kedua jenis virus HIV ini
sebenarnya memiliki banyak kemiripan. Kedua virus ini memiliki inti yang mirip,
tetapi kedua virus ini memiliki selubung luar yang berbeda.
2.6. Patogenesis
HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah golongan lentivirus yang
merupakan subgroup dari retrovirus. Seperti yang telah dibahas sebelumnya,
terdapat dua jenis virus HIV yang ditemukan yaitu HIV-1 dan HIV-2. HIV1
merupakan jenis yang paling banyak menginfeksi manusia. Infeksi HIV memiliki
target sel utama yaitu penempelan virus pada sel-sel yang mempunyai molekul CD4.

HIV memiliki partikel ikosahedral bertutup (envelope) dengan ukuran


100-140 nanometer. Inti virus terdapat

untaian RNA serta enzim reverse

transcriptase, integrase dan protease yang dibutuhkan untuk replikasi virus.


Selubung virus tersusun oleh lapisan bilayer yang mempunyai tonjolan - tonjolan
yang tertanam pada permukaan selubung lipid dan terdiri dari glikoprotein Gp120
dan Gp41. Gp120 berperan pada pengikatan HIV dengan reseptor CD4 dari sel.
GP41 mengadakan fusi antara virus dengan membran sel host pada saat virus
masuk ke sel host. Struktur genom RNA yaitu struktur pasang basanya terdiri dari
3 gen utama yang mengkode pembentukan struktur struktur virus yaitu gen gag,
pol dan env. Selain itu, terdapat gen tambahan yaitu tat, rev dan nef. Struktur
polipeptida utama dari inti virus adalah p24. Polipeptida lain adalah p17 yang ada
di sekeliling inti dan p15 yang membentuk kompleks dengan RNA virus.

Gambar

2.5.

Ilustrasi
skematik struktur HIV-1 (Pathologic Basic of Disease )
HIV menginfeksi tubuh manusia dengan menempel pada sel-sel yang
mempunyai molekul CD4 sebagai reseptor utama yaitu limfosit T4. Adapun sel
lain yang memiliki reseptor CD4 yaitu sel monosit, sel makrofag dan sel sel
dendritik, sel retina, sel leher rahim serta sel langerhans. Gp120 yang merupakan
reseptor permukaan virus akan berikatan dengan CD4. Kemudian GP120 akan
berinteraksi dengan koreseptor yang tertanam dalam membrane sel dan terpapar
dengan peptide dari Gp41 dan mulailah terjadi fusi antara virus dan membrane
sel. Setelah fusi, internal virion core akan dilepaskan ke sitoplasma sebagain suatu
kompleks ribonukleoprotein. (Pathologic Basic of Disease)

Gambar 2.6.

Mekanisme HIV Menginfeksi

Sel (Pathologic Basic Of

Disease )
HIV mempunyai enzim reverse transcriptase. Enzim ini nantinya akan
mengubah RNA virus menjadi DNA. DNA ini akan memasuki inti sel inangnya
dan dengan bantuan enzim integrase akan berintegrasi dengan DNA sel host dan
membentuk provirus. Integrasi materi genetik ini biasanya akan terjadi dalam 210 jam setelah infeksi. Setelah terjadi integrasi, DNA provirus mengadakan
transkripsi dengan bantuan enzim polymerase sel host menjadi mRNA untuk
selanjutnya mengadakan translasi dengan protein protein struktural sampai
terbentuk protein mRNA. Genomik RNA dan protein virus ini akan membentuk
partikel virus, yang nantinya akan menempel pada bagian luar sel. Melalui proses
budding pada permukaan membrane sel, virion akan dikeluarkan dari sel host
dalam keadaan matang. (Pathologic Basic of Disease)
Segera setelah infeksi HIV, sebagian virus yang bebas maupun yang
berada dalam sel sel CD4 T yang terinfeksi akan mencapai kelenjar limfe
regional dan akan merangsang imunitas seluler dan humoral dengan cara antara
lain merekrut limfosi limfosit. Pengumpulan sel limfosit ini justru akan
menyebabkan sel sel CD4 yang terinfeksi akan semakin banyak. Pada akhinya
monosit dan limfosit yang terinfeksi akan beredar ke seluruh tubuh dan
menyebarkan virus ke seluruh tubuh. HIV juga dapat memasuki otak melalui

monosit Yang terdapat dan beredar di otak ataupun melalui infeksi sel endotel
pada otak (Pathologic Basic of Disease).
Pada beberapa hari setelah manusia terinfeksi HIV, akan terjadi limfopenia
yang disebabkan oleh penurunan kadar CD4 limfosit T dalam darah. Selama
periode awal ini, virus virus bebas dan protein virus p24 dapat dideteksi dalam
kadar yang tinggi dalam darah dan jumlah sel sel CD4 yang terinfeksi HIV
meningkat. Pada fase ini, virus bereplikase secara cepat dengan sedikit control
dari respon imun. Kemudian setelah 2-4 minggu akan terjadi peningkatan
dramatis jumlah limfosit total yang diakibatkan oleh peningkatan jumlah sel CD8
T (sel sitotoksik) yang merupakan bagian dari respon imun terhadap virus.
Adanya sel T sitotoksik merupakan tanda rangsang neutralising antibodi. Antibodi
akan terbentuk setelah minggu kedua atau ketiga namun kadang kadang terjadi
sampai beberapa bulan. Penurunan virus bebas dan sel yang terinfeksi disebabkan
oleh lisis sel yang terinfeksi HIV oleh CD8 T. Sel CD8 yang teraktivasi pada
individu yang terinfeksi HIV juga memproduksi sejumlah sitokin terlarut yang
dapat menghambat replikasi virus dalam sel sel CD4 T tanpa menyebabkan lisis
sel. Setelah itu, jumlah sel CD4 akan kembali ke kadar semula seperti sebelum
terinfeksi HIV. Selama fase akut, kebanyakan kasus menunjukkan gejala infeksi
virus akut pada umumnya yaitu berupa demam, letargi, mialgia dan sakit kepala
serta gejala lain berupa faringitis, limfadenopati dan ruam. (Pathologic Basic of
Disease)
Setelah terserang fase akut, selanjutnya akan memasuki fase asimtomatik
yang nantinya akan terjadi penurunan kadar CD4 secara perlahan lahan. Hal ini
dapat terjadi selama berbulan-bulan maupun bertahun-tahun tergantung dari
kondisi kekebalan tubuh orang yang terinfeksi. Menurunnya imunitas seseorang
dapat dilihat dari kadar CD4 dalam darah. Oleh karena itu pada fase asimptomatik
ini jumlah virus dalam darah dan sel sel perifer yang dapat dideteksi dalam
kondisi yang rendah. Penurunan jumlah CD4 dalam darah rata rata 65 sel/ul
setiap tahun. Didapatkan kerusakan pada sistem imun tapi tidak bersifat laten dan
masih dapat mengalami perbaikan terutama dalam limfonoduli. Penurunan jumlah
sel CD4 T selama infeksi HIV secara langsung dapat mempengaruhi beberapa

reaksi imunologik yang diperankan oleh sel CD4 T seperti hipersensitivitas tiper
lambat, transformasi sel muda limfosit dan aktivitas sel limfosit T sitotoksik.
Munculnya strain HIV yang lebih pathogen dan lebih cepat bereplikasi pada host
merupakan faktor utama dalam mengontrol kemampuan sistem imun. Dikatakan
juga bahwa jumlah dan fungsi sel T sitotoksik akan menurun bila jumlah sel CD4
menurun sampai < 200 sel/ul. Karena sel sel ini berperan dalam mengontrol sel
yang terinfeksi virus dan membersihkan virus pada tahap awal infeks sehingga
dikemukakan hilangnya aktivitas sel ini mempunyai dampak dalam peningkatan
jumlah virus. Kemungkinan lain disebabkan karena terjadi mutasi dari virus
sehingga tidak dikenal oleh sel T sitotoksik.
2.7. Manifestasi klinis
Menurut KPA (2007) gejala klinis terdiri dari 2 gejala yaitu gejala mayor
(umum terjadi) dan gejala minor (tidak umum terjadi):
Gejala mayor:
a. Berat badan menurun lebih dari 10% dalam 1 bulan
b. Diare kronis yang berlangsung lebih dari 1 bulan
c. Demam berkepanjangan lebih dari 1 bulan
d. Penurunan kesadaran dan gangguan neurologis
e. Demensia/ HIV ensefalopati

Gejala minor:
a. Batuk menetap lebih dari 1 bulan
b. Dermatitis generalisata
c. Adanya herpes zoster multisegmental dan herpes zoster berulang
d. Kandidias orofaringeal
e. Herpes simpleks kronis progresif
f. Limfadenopati generalisata
g. Retinitis virus Sitomegalo
Menurut Mayo Foundation for Medical Education and Research
(MFMER) (2008), gejala klinis dari HIV/AIDS dibagi atas beberapa fase.
a. Fase awal
Pada awal infeksi, mungkin tidak akan ditemukan gejala dan tanda-tanda
infeksi. Tapi kadang-kadang ditemukan gejala mirip flu seperti demam, sakit
kepala, sakit tenggorokan, ruam dan pembengkakan kelenjar getah bening.
Walaupun tidak mempunyai gejala infeksi, penderita HIV/AIDS dapat
menularkan virus kepada orang lain.
b. Fase lanjut
Penderita akan tetap bebas dari gejala infeksi selama 8 atau 9 tahun atau
lebih. Tetapi seiring dengan perkembangan virus dan penghancuran sel imun
tubuh, penderita HIV/AIDS akan mulai memperlihatkan gejala yang kronis seperti
pembesaran kelenjar getah bening (sering merupakan gejala yang khas), diare,
berat badan menurun, demam, batuk dan pernafasan pendek.
Gejala yang dapat ditimbulkan seperti demam, sakit tenggorokan, letargi, batuk,
mialgia,keringat malam, keluhan GIT (Gastrointestinal Tract) berupa mual,
muntah, sakit menelan, dan diare.
c. Fase akhir

Selama fase akhir dari HIV, yang terjadi sekitar 10 tahun atau lebih setelah
terinfeksi, gejala yang lebih berat mulai timbul dan infeksi tersebut akan berakhir
pada penyakit yang disebut AIDS.
2.8. Masa Inkubasi
Masa inkubasi merupakan suatu waktu yang dihitung mulai dari seseorang
terinfeksi HIV sampai kepada memberikan gejala. Gejala yang dapat ditimbulkan
seperti demam, sakit tenggorokan, letargi, batuk, mialgia,keringat malam, keluhan
GIT (Gastrointestinal Tract) berupa mual, muntah, sakit menelan, dan diare.
Berdasarkan penelitian didapati bahwa masa inkubasi virus HIV ini sangat
bervariasi yaitu antara 6 bulan sampai lebih dari 10 tahun, namun dikatakan
bahwa masa inkubasi rata-rata adalah 5-10 tahun.
Selama masa inkubasi, orang yang terinfeksi HIV disebut penderita HIV.
Pada fase ini terdapat masa dimana virus HIV tidak dapat terdeteksi dengan
pemeriksaan laboratorium kurang lebih 3 bulan sejak tertular virus HIV yang
dikenal dengan masa wndow periode. Selama masa inkubasi penderita HIV
sudah berpotensi untuk menularkan virus HIV kepada orang lain dengan berbagai
cara sesuai pola transmisi virus HIV. Mengingat masa inkubasi yang relatif lama,
dan penderita HIV tidak menunjukkan gejala-gejala sakit, maka sangat besar
kemungkinan penularan terjadi pada fase inkubasi ini.

Menurut Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam UI ( Universitas Indonesia) membagi


lagi manifestasi klinis penyakit HIV/AIDS yaitu :
1. Infeksi Akut
Pasien yang terinfeksi HIV sekitar 30-50% pasien akan
memberikan gejala infeksi akut yang mirip dengan gejala infeksi
mononucleosis. Gejala yang dapat ditimbulkan seperti demam, sakit
tenggorokan, letargi, batuk, mialgia,keringat malam, keluhan GIT
(Gastrointestinal Tract) berupa mual, muntah, sakit menelan, dan diare.
2. Infeksi Kronik Asimptomatik
Fase akut akan diikuti fase kronik asimptomatik yang lamanya bias
bertahun-tahun. Walaupun tidak ada gejala, kita tetap dapat mengisolasi
virus dari darah psien dan selama fase ini pasien juga infeksius. Selama
fase ini tetap jelas bahwa aktivitas HIV tetap terjadi dan ini dibuktikan
dengan

menurunnya

imunitas

tubuh

penderita

dari

waktu

ke

waktu.kemungkinan sampai jumlah virus tertentu ,tubuh masih dapat


mengompensasi sistem imun.
3. PGL (Pembengkakan Kelenjar Getah Bening)
Pada kebanyakan kasus, gejala pertama yang muncul adalah PGL. Hal ini
menunjukkan adanya hiperaktivitas sel limfosit B dalam kelenjar limfe.
Hal ini dapat persisten selama bertahun-tahun, dan pasien tetap merasa
sehat. Terjadi progresivitas yang bertahap dari adana hyperplasia folikel
dalam kelenjar limfe saat timbulnya involusi dengan adanya invasi sel
limfosit T. Hal ini merupakan suatu reaksi tubuh untuk menghancurkan sel
dendritik folikuler yang terimfeksi HIV.
4. Gejala-gejala Akibat Penyakit Lain
a) Gejala yang disebabkan oleh hal-hal yang tidak langsung berhubungan
dengan HIV,seperti : diare, demam lebih dari satu bulan, keringat
malam, rasa lelah berlebihan, batuk kronik lebih dari satu bulan, dan
penurunan berat badan 10% atau lebih. Apabila yang mencolok adalah
penurunan berat badan, maka ini merupakan salah satu indikator

penyakit AIDS, dan disebut sebagai slim disease, gejala ini paling
banyak di Afrika.
b) Gejala yang langsung akibat HIV, misalnya : mielopati, neuropati
perifer dan penyakit susunan saraf otak. Hampir 30% pasien dalam
stadium akhir akan menderita AIDS dementia kompleks,yaitu menurun
sampai menghilangnya daya ingat, gangguan fuingsi motorik dan
fungsi kognitif,sehingga pasien sulit untuk berkomunikasi dan
keterbtasan pergerakan.
c) Infeksi opportunistik dan neoplasma. Pada stadium kronik simptomatik
ini sangat sedikit keluhan dan gejala yang benar-benar sebagai akibat
langsung dari HIV. Akibat menurunnya daya tahan tubuh maka infeksi
opportunistik masuk dan menambah berat penyakit yang diderita orang
yang terinfeksi HIV.
Karena masa inkubasi yang memiliki waktu yang relatif lama ini biasanya
para penderita tidak menyadari bahwa dirinya telah terinfeksi HIV. Seperti yang
telah dijelaskan sebelummnya, pada masa inkubasi ini penderita sangat berpotensi
untuk meyebarkan ataupun sebagai reservoir pengakit ini. Hal inilah yang dapat
menyebabkan tingginya penyebaran virus ini baik dari sektor manapun.
2.9. Diagnosis
Setiap penyakit pada umumnya menggunakan anamnesa sebagai langkah
awal untuk mengetahui dan sebagai media pendekatan kepada pasien mengenai
penyakit yang dideritanya sehingga kita dapat menggali lebih dalam masalah yang
dikemukakan pasien agar dapat menjadi bahan acuan dalam penegakan diagnosa.
Anamnesa berperan kurang lebih 80% dalam penegakan diagnosa. Begitu pula
dengan kasus HIV/AIDS. kebanyakan pasien HIV/AIDS di diagnosa sementara
oleh dokter setelah melakukan anamnesis. Adapun hal yang akan ditanyakan
dalam anamnesa seperti kapan melakukan hubungan sexual terakhir, kebiasaan
memakai alat pengaman seperti kondom, sesering apa pasien melakukan sex tanpa
menggunakan pengaman, melakukan hubungan sex dengan sesama jenis atau
heterosex, bagaimana pasien melakukan hubungan sex yaitu kelamin-

kelamin,kelamin anus , maupun secara oral. Pada anamnesa juga tidak dapat
dilupakan mengenai penyakit maupun keluhan tambahan yang dirasakan pasien.
Setelah pemeriksa selesai melakukan Tanya jawab kepada pasien , maka untuk
diagnosa yang lebih pasti akan dilakukan pemeriksaan fisik.
Pemeriksaan fisik untuk mendiagnosa infeksi HIV adalah tidak terlalu
penting. Hal ini karena tiada penemuan yang spesifik untuk infeksi HIV. Secara
umum, hal yang mungkin didapati pada infeksi HIV akan menyebabkan
limfadenopati di seluruh tubuh dan berat badan yang menurun. Infeksi minor yang
oppurtunistik seperti oral candidiasis yang luas juga merupakan petunjuk awal
untuk infeksi HIV. Pemeriksaan fisik pada pasien HIV/AIDS menjadi kurang
spesifik seperti yang telah dikemukakan diatas dikarenakan adanya fase-fase
asimptomatik pada pasien HIV/AIDS. Pemeriksaan fisik hanya dapat membantu
bilamana pasien dalam kondisi infeksi akut dan AIDS. Dalam pemeriksaan fisik,
akan dilakukan inspeksi pada seluruh tubuh mulai dari bagian tubuh paling atas
sampai bagian tubuh yang paling bawah, selanjutnya dilakukan palpasi pada
daerah yang didapati kelainan, selanjutnya akan dilakukan perkusi dan yang
terakhir auskultasi.bila telah selesai melakukan pemeriksaan fisik maka untuk
diagnose yang lebih pasti maka dapat dilakukan pemeriksaan penunjang pada
pasien-pasien HIV/AIDS.
Pemeriksaan penunjang pada pasien HIV/AIDS yang sering dilakukan
adalah pemeriksaan laboratorium. Salah satu tes yang dijalankan adalah tes
antibodi HIV yaitu dengan menggunakan test enzyme-linked immunoabsorbent
assay ( ELISA ). Hasil tes yang positif berarti pernah terinfeksi, bukan adanya
kekebalan terhadap virus. Sensitivitas ELISA sebesar 98 100%. Hasil positif
ELISA harus dinkonfirmasi dengan Western Blot. Western Blot lebih spesifik
mendeteksi antibodi terhadap komponen antigen permukaan virus. Spesifisitas
Western Blot sebesar 99.6 100%. Hasilnya dinyatakan positif, negative atau
indeterminate. CDC merekomendasikan reaksi dengan dua dari band berikut
sebagai kriteria untuk hasil positif; p24, Gp41, Gp 120. Hasil indeterminate
dihasilkan dari reaksi nonspesifik sera HIV negatif dengan beberapa protein HIV.
Hasil indeterminate harus dievaluasi dan diperiksa secara serial selama 6 bulan

sebelum menyatakan negatif. Untuk mendeteksi antigen virus digunakan


pemeriksaan PCR. ( Harrison, 2005)
Staging HIV adalah berdasarkan kepada manifestasi klinisnya,tetapi
pemeriksaan lab lain bisa membantu untuk memulakan pengobatan. Antaranya
adalah menghitung CD4 T sebagai indicator terhadap risiko untuk infeksi
oppurtunistik. Biasanya selepas serokonversi, jumlah CD4 akan menurun secara
perlahahan lahan dan apabila CD4 menurun sehingga kurang dari 200/ul, ini
didefiniskan sebagai AIDS. Tes alternatif yang lain adalah menghitung virus bebas
pada pembuluh darah perifer. Tes ini disebut tes alternative karena tidak terlalu
tepat. Hal ini karena replikasi virus berlaku di kelenjar limfa dan bukannya di
pembuluh darah perifer. ( Harrison, 2005)
Selain pemeriksaan penunjang yang telah dikemukakan diatas terdapat
juga tes tes laboratorium yang lain yang jarang digunakan dalam praktek
kesehatan saat ini. Hal ini dikarenakan biaya untuk melakukan pemeriksaan yang
terlalu mahal. Biopsi kelenjar limfa juga bisa dilakukan. HIV DNA, RNA dan
proteinnya bisa dideteksi dengan teknik molekular dan dengan menggunakan
mikroskop elektron untuk melihat virions. ( e-medicine, 2010).
2.10. Pengobatan
Pengobatan terhadap HIV/AIDS mencakup preventive dan kuratif. Namun pada
bab ini akan dibahas pengobatan terhadap HIV/AIDS secara kuratif. Pada
prinsipnya pengobatan infeksi HIV terdiri dari pengobatan terhadap virus dan
pencegahan agar tidak terjadinya infeksi oportunistik. Tujuan pengobatan adalah
untuk mengurangi viral load sebanyak mungkin dengan target <20-50 kopi/ml
sehingga dapat menghentikan atau memperlambat progresivitas selama mungkin,
memperbaiki status imun dalam segi kuantitas dan kualitas CD4, serta
memperpanjang usia hidup dan memperbaiki kualitas hidup. Pengobatan yang
sekarang ini banyak dipergunakan adalah pengobatan dengan kombinasi tiga
obat, yaitu terdiri dari dua nucleoside reverse transcriptase inhibitor (NRTI) dan
satu protease inhibitor (PI) atau satu non-nucleoside reverse transcriptase inhibitor
(NNRTI). Hal ini dimaksudkan untuk mengontrol replikasi virus dalam jaringan

dan plasma serta memperbaiki sistem imun. Saat memulai pengobatan anti
retroviral adalah pada keadaan simptomatik AIDS dan pada keadaan CD4
<200/mm3 dengan atau tanpa gejala klinis.
Obat golongan NRTI yaitu Zidovudine (AZT), Lamivudine (3TC),
Didanosine (ddL), Zalcitabine (ddC) dan lain lain bekerja melalui fosforilasi
interselluler menjadi bentuk trifosfat dan bergabung ke DNA selanjutnya dapat
menghambat pemanjangan rantai RNA virus. Obat golongan NNRTI seperti
Nevirapine (NVP), Delavirdine (DLV) dan Efavirenz (EFV) bekerja dengan
menghambat enzim reverse transcriptase melalui ikatan dengan tempat aktivitas
enzim. Obat ini dapat menghambat atau menginduksi aktivitas sitokrom p450
sehingga dapat berinteraksi dengan obat obatan yang lain. Obat golongan PI
seperti Saquinavir (SQV), Indinavir (IDV), Ritonavir (RTV) dan lain lain
bekerja dengan mencegah pelepasan polipeptida pasca translasi menjadi protein
virus fungsional. PI dapat menghambat sitokrom p450, dan ini akan meningkatkan
potensi interaksi dengan banyak obat.
2.11. Pencegahan
Selain upaya pengobatan terhadap penyakit (kuratif) para pihak petugas
kesehatan seharusnya tidak dapat melupakan hal yang lebih penting untuk di
lakukan yaitu pencegahan terhadap penyakit HIV/AIDS ini. Pencegahan menjadi
lebih

penting

dikarenakan

dengan

melakukan

pencegahan

maka

kita

meminimalkan kemungkinan terinfeksi HIV. Upaya pencegahan dapat berupa :


a) Melakukan sex yang aman
b) Menghindari kontak darah ataupun sexual dengan penderita HIV
c) Melakukan penyuluhan kepada masyarakat awam mengenai penyakit
HIV/AIDS dan bahayanya
d) Meningkatkan pelayanan di sektor penanggulangan khusus HIV/AIDS
2.12. Peranan Faktor Risiko Penyebaran
Saat ini sudah banyak ditemukan faktor risiko penyebaran HIV/AIDS.
faktor risiko merupakan faktor yang dianggap sebagai faktor yang kuat untuk
memicu terjadinya suatu keaadaan. Faktor risiko tentunya berhubungan erat

dengan jalan masuk virus HIV ke dalam tubuh manusia. Faktor risiko HIV/AIDS
yang sering ditemukan seperti sex bebas (Heterosex), pengguna narkoba suntik
(Penasun), homosexual, melalui ibu keppada anaknya,transfusi darah dan banyak
lagi. Faktor risiko sex bebas (Heterosex) merupakan faktor yang paling tinggi
menyebabkan HIV/AIDS. Menurut laporan Kemenkes RI tahun 1987- Maret 2013
sex bebas menempati urutan pertama (59,8%), diikuti oleh pengguna narkoba
suntik (Penasun) (18%), perinatal (2,7%), dan homosexual (2,4%).
Tabel 2.6 Jumlah Infeksi HIV Yang Dilaporkan Menurut Faktor Risiko
Sampai Maret 2013
Tabel diatas hanya memaparkan infeksi HIV namun tidak memaparkan
infeksi AIDS sampai Maret 2013. Berikut ini pada tabel 2.11.2 akan dipaparkan
mengenai jumlah infeksi AIDS yang dilaporkan menurut faktor risiko sampai
dengan Maret 2013.
Tabel 2.7 jumlah infeksi AIDS yang dilaporkan menurut Faktor Risiko
Sampai Maret 2013
Sebelumnya telah terjadi pergeseran potensi faktor risiko dari tahun 2006
sampai tahun 2013 ini. Pada tahun 2006 dilaporka faktor yang tertinggi

menyebabkan HIV/AIDS adalah pengguna narkoba suntik (Penasun) (50,3%),


diikuti oleh sex bebas (40,3%), homosex (4,2%),dan perinatal (1,5%)
(Depkes,2006). Sedangkan sampai bulan Maret 2013 didapati sex bebas
menempati urutan pertama (59,8%), diikuti oleh pengguna narkoba suntik
(Penasun) (18%), perinatal (2,7%), dan homosexual (2,4%).

BAB 3
KERANGKA KONSEP PENELITIAN DAN DEFINISI OPERASIONAL
3.1 Kerangka Konsep Penelitian
Variabel Independen
Faktor Risiko penyebaran
HIV/AIDS
-

Sex bebas (Heterosex)


Pengguna NAPZA suntik
(Penasun)
Homosexual
Transfusi darah
Dari ibu ke anak
Bisexual
Tidak diketahui

Variabel Dependen

Penyakit
HIV/AIDS

Gambar 3.1 Kerangka Konsep Penelitian


Dalam penelitian ini akan dilihat bagaimana potensi faktor risiko dalam
bentuk perbandingan antar faktor risiko (Variabel independen) memengaruhi dan
menyebabkan penyakit HIV/AIDS (Variabel dependen). Faktor risiko yang dilihat
adalah sex bebas, pengguna NAPZA suntik (Penasun), homosexual, transfuse
darah, ibu ke anak, bisexual, dan faktor lain yang tidak diketahui. Nantinya pada

penelitian ini akan dilihat bagaimana pengaruhnya faktor risiko sex bebas sebagai
faktor risiko yang menurut data Dinkes merupakan faktor risiko tertinggi sampai
maret 2013, dan selanjutnya akan dibandingkan dengan faktor risiko yang lainnya
dalam hal menyebabkan HIV/AIDS.
3.2 Defenisi Operasional
3.2.1Defenisi
Perbandingan adalah gambaran perbedaan 2 hal atau lebih yang berfungsi
untuk melihat perbedaan hal tersebut. Perbandingan dapat dibuat dalam bentuk
persentase, dalam bentuk narasi, bentuk desimal dan pecahan. Pada penelitian ini,
perbandingan tersebut dibuat dalam bentuk persentase.
Faktor risiko adalah faktor-faktor yang dapat menyebabkan ataupun
berhubungan langsung terhadap suatu keadaan tertentu. Pada penelitian ini akan
dilihat faktor risiko penyebaran HIV/AIDS yang berarti faktor-faktor yang
menjadi penyebab penyebaran HIV/AIDS. Dalam penelitian ini akan dilihat
beberapa faktor risiko yang berhubungan langsung dalam penyebaran HIV/AIDS.
Prevalensi adalah jumlah sampel yang mengalami suatu penyakit yang
diambil dalam kurun waktu tertentu. Prevalensi mencakup seluruh kasus penyakit
baik kasus lama maupun kasus baru selama rentang waktu tertentu. Pada
penelitian ini akan dilakukan pengamatan terhadap perbandingan faktor risiko
HIV/AIDS pada prevalensi HIV/AIDS dari tahun 2012-2014.
HIV seperti yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya yaitu virus yang
menyerang kekebalan tubuh manusia yang menyebabkan penurunan kondisi
kekebalan tubuh manusia sehingga dapat jatuh dalam keadaan AIDS bila tidak
dideteksi atau diobati lebih dini. AIDS adalah kondisi gampangnya seseorang
untuk terserang penyakit yang disebabkan infeksi HIV yang menurunkan
kekebalan tubuh manusia sehingga lebih mudah untuk terserang penyakit yang
lain (infeksi opportunistik).
Maka dari pengertian diatas , pada penelitian ini peneliti ingin melihat
bagaimana perbandingan faktor risiko sex bebas dengan faktor risiko lainnya
dalam potensinya menyebarkan HIV/AIDS yang dilihat melalui prevalensi
HIV/AIDS pada tahun 2012-2014 yang mana perbandingan tersebut akan dibuat

dalam bentuk persentase. Persentase ini dimaksudkan untuk mempermudah


pembaca untuk memahami perbandingan antar faktor risiko nantinya.
3.2.2Cara Pengukuran
Pada penelitian ini pengukuran dilakukan melalui pengamatan secara
langsung terhadap hasil anamnesa dokter pasien yang tetulis pada rekam medik
pasien yang menderita HIV/AIDS di RSUP H Adam Malik Medan. Rekam medis
merupakan catatan terhadap segala sesuatu hal yang ditemukan dari anamnesa,
pemeriksaan fisik dan lainnya yang dituliskan dokter yang memeriksa yang dapat
menjadi bukti tindakan medis yang dilakukan. Dalam rekam medis pasien seorang
dokter tentunya akan menuliskan kemungkinan penyebab penyakit atau dengan
kata lain adalah faktor risiko suatu penyakit. Dari rekam medis inila peneliti akan
mengamati secara teliti masing-masing rekam medis pasien.
3.2.3Alat pengukuran
Pada penelitian ini tidak menggunakan alat-alat kesehatan medis, hal ini
disebabkan oleh karena penelitian ini khusus mengamati pada faktor resiko
penyebaran HIV/AIDS sebagai variabel independen. Untuk melihat faktor risiko
tersebut tidak ada alat khusus yang dapat mendeteksinya. Faktor risiko ini hanya
dapat didapat dari hasil tanya jawab dokter pasien. Oleh karena itulah penelitian
ini menggunakan rekam medik sebagai acuan alat untuk melihat faktor penyebab
penyebaran HIV/AIDS pada pasien-pasien.
Rekam medik dijadikan sebagai alat untuk melihat faktor risiko
penyebaran HIV/AIDS dikarenakan rekam medik berisi segala hal yang
ditemukan dari pasien baik dari hasil anamnesis, pemeriksaan fisik, tindakan yang
sudah dilakukan, dan anjuran kepada pasien. Rekam medis keabsahannya sangat
terjaga. Penulisan rekam medis dilakukan oleh dokter yang memeriksa sebagai
tenaga kesehatan yang terampil dan bertanggung jawab. Penyimpanan rekam
medis juga mendukung untuk menjaga cacatan yang tertulis di rekam medis.
Kerahasiaan atas isi rekam medis juga dijaga dengan baik oleh pihak rumah sakit.
Oleh karena hal diataslah yang menyebabkan peneliti mengambil keputusan untuk
melihat faktor risiko sex bebas ini melalui rekam medis pasien.
3.2.4Hasil Pengukuran
Adapun hasil yang diharapkan dari penelitian ini adalah bagaimana
gambaran potensi masing masing faktor risiko HIV/AIDS yang dituliskan dalam

bentuk persentase yang nantinya hasil persentase ini akan dibandingkan. Sesuai
dengan judul penelitian ini maka hasil penelitian ini berupa perbandingan dalam
bentuk persentase antara faktor risiko sex bebas dengan faktor risiko lainnya.
Diambilnya faktor risiko sex bebas dikarenakan sex bebas menurut data
Kemenkes RI merupakan faktor yang paling tinggi menyebarkan HIV/AIDS yaitu
sekitar 59,8 % (Kemenkes RI, 1987- Maret 2013). Melalui hasil penelitian ini
nantinya akan didapatkan apakah data Kemenkes RI tersebut sesuai dengan hasil
pengamatan di RSUP H Adam Malik Medan.
3.2.5Skala Ukur
Skala ukur yang digunakan pada penelitian ini adalah skala nominal. Skala
nominal bersifat hanya membedakan antara 2 hal atau lebih, namun belum ada
jenjang dalam data yang diamati. Data yang diambil pada penelitian ini berupa
data kualitatif yaitu faktor risiko yang menyebabkan penyebaran HIV/AIDS. Oleh
karena data yang diambil pada penelitian ini merupakan data kualitatif dan belum
memiliki jenjang maka peneliti menetapkan skala ukur pada penelitian ini
merupakan skala nominal.

BAB 4
METODE PENELITIAN
4.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif. Desain penelitian
deskriptif merupakan suatu desain penelitian yang hanya melakukan deskipsi
mengenai fenomena yang ditemukan. Hasil pengukuran disajikan apa adanya,
tidak dilakukan analisis mengapa fenomena tersebut terjadi. Alasan diambilnya
desain penelitian deskriptif pada penelitian ini karena pada penelitian ini peneliti
hanya melihat suatu fenomena yaitu berupa faktor-faktor risiko penyebaran
HIV/AIDS lalu membandingkan faktor risiko tersebut. Hal yang dibandingkan
berupa faktor risiko sex bebas dan faktor risiko lainnya yang telah dipaparkan
pada bab sebelumnya.
Desain penelitian pada setiap penelitian merupakan rancangan penelitian
yang disusun sedemikian rupa sehingga desain ini menuntun peneliti agar dapat
memperoleh jawaban terhadap pertanyaan dalam penelitian. Sama halnya pada
penelitian ini, dengan diambilnya jenis penelitian deskriptif sebagai desain
penelitian, desain ini diharapkan mampu membantu peneliti dalam memperoleh
jawaban terhadap pertanyaan dalam penelitian ini.
4.2 Waktu dan Tempat Penelitian
4.2.1 Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Juli 2014 sampai dengan
4.2.2

bulan Desember 2014.


Tempat Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan pada bagian rekam medis RSUP H Adam

Malik Medan.
4.3 Populasi
Populasi pada penelitian ini adalah seluruh pasien-pasien HIV/AIDS yang
tercatat pada rekam medik RSUP H Adam Malik Medan. Pasien-pasien yang
diambil adalah seuruh pasien yang tercatat berobat dari tahun 2012-2013 baik
berobat jalan, rawat inap di klinik VCT ataupun pasien-pasien yang meninggal
pada rentan tahun tersebut.
4.4 Teknik Pengumpulan data
Teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini yaitu
tinjauan langsung terhadap rekam medis oleh peneliti.

4.5 Pengolahan dan analisa Data


Pada penelitian ini, pertama sekali peneliti akan mengumpulkan seluruh
rekam medis pasien-pasien yang menderita HIV/AIDS pada tahun 2012-2013.
Tahap selanjutnya peneliti akan melihat masing-masing rekam medis dan
mengelompokkan masing-masing data pasien berdasarkan faktor risiko masingmasing pasien HIV/AIDS. Hasil pengelompokan ini nantinya akan dianalisa
secara statistic deskriptip dan akan disajikan dalam
frekuensi.
S

bentuk tabel distribusi