Anda di halaman 1dari 87

MANAJEMEN LOGISTIK

OBAT DI PUSKESMAS

Chantika Fecilia S (2013-021)


Yashinta Fadiah (2013-022)
Andriyanto Handyan (2013-023)
Andri Apriandi R (2013-025)
Eka Ismiyanti (2013-026)
Dina Pitaloka (2013-027)
Dina Parizqia P (2013-028)
Baiq Wafa Aulia (2013-029)
Nikmafiyanti Bumulo (2013-030)
Deny Dwi Wulandari (2013-033)
Lindasari Safitri (2013-034)
Faizah Amriana (2013-035)
Annisyah Wiradika
(2013-036)
Rika Desiananda (2013-038)
Dwi Fuji Lestari (2013-039)
Cynthia Anggi Pradita (2013-040)
Risa Andriani (2013-043)

PENGERTIAN
MANAJEMEN LOGISTIK

Manajemen logistik adalah suatu ilmu


pengetahuan dan atau seni serta
proses mengenai perencanaan dan
penentuan kebutuhan pengadaan,
penyimpanan, penyaluran dan
pemeliharaan serta penghapusan
material/alat-alat (subagya : 1994)

Martin (1988) mengartikan manajemen


logistik sebagai proses yang secara
strategik mengatur pengadaan bahan
(procurement), perpindahan dan
penyimpanan bahan, komponen dan
penyimpanan barang jadi (dan
informasi terkait) melalui organisasi
dan jaringan pemasarannya dengan
cara tertentu

MANAJEMEN LOGISTIK OBAT

Pengelolaan obat merupakan suatu


rangkaian kegiatan yang menyangkut
aspek perencanaan, pengadaan,
penyimpanan dan pendistribusian obat
yang dikelola secara optimal untuk
menjamin tercapainya ketepatan
jumlah dan jenis perbekalan farmasi
dan alat kesehatan

Menurut Indrawati (1999) Manajemen


logistik obat adalah proses pengelolaan
yang strategis mengenai pengadaan,
distribusi dan penyimpanan obat dalam
upaya mencapai kinerja yang optimal

Tujuan
Tujuan Manajemen Logistik Obat di
Puskesmas ialah terlaksananya
pelayanan obat kepada masyarakat
secara rasional dan menyeluruh.
Tujuan pengelolaan obat adalah
menjamin tersedianya obat dengan mutu
yang terjamin, aman, dan tersebar
secara merata dan teratur, sehingga
mudah diperoleh pada tempat dan waktu
yang tepat (Depkes, 2005).

Fungsi-fungsi Manajmen
Logistik
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Fungsi Perencanaan dan Penentuan


Kebutuhan (Peramalan obat)
Fungsi Penganggaran
Fungsi Pengadaan
Fungsi Penyimpanan dan Penyaluran
Fungsi Pemeliharaan
Fungsi Penghapusan
Fungsi Pengendalian

Fungsi perencanaan dan


penentuan kebutuhan

Fungsi perencnaan mencakup aktivitas


dalam
menetapkan
sasaran-sasaran,
pedoman-pedoman,
pengukuran
penyelenggaraan bidang logistik. Sementara
penentuan kebutuhan merupakan perincian
dari fungsi perencanaan, bilamana perlu
semua
faktor
yang
mempenagruhi
penentuan kebutuhan harus diperhitungkan.

Fungsi penganggaran

Fungsi penganggaran terdiri dari kegiatankegiatan dan usaha-usaha untuk


merumuskan perincian penentuan
kebutuhan dalam suatu skala standar, yakni
skala mata uang dan jumlah biaya dengan
memperlihatkan pengarahan dan
pembatasan yang berlaku terhadapnya.

Fungsi pengadaan

Fungsi pengadaan merupakan usaha-usaha


dan kegiatan-kegiatan untuk memenuhi
kebutuhan operasional yang telah digariskan
dalam fungsi perencanaan, penentuan
kebutuhan dan penganggaran

Fungsi penyimpanan dan


penyaluran

Fungsi ini merupakan pelaksanaan


penerimaan, penyimpanan dan penyaluran
perlengkapan yang telah diadakan melalui
fungsi-fungsi terdahulu untuk kemudian
disalurkan kepada instansi-instansi
pelaksana.

Fungsi pemeliharaan

Pemeliharaan adalah suatu usaha untuk


memaksimalkan umur kegunaan dari alat
sehingga peralatan dapat bekerja secara
memuaskan dan meminimalkan biaya
kerusakan. Fungsi pemeliharaan sendiri
adalah usaha atau proses kegiatan untuk
mempertahankan kondisi teknis, daya guna
barang inventaris

Fungsi penghapusan

Penghapusan suatu barang logistik dilakukan


apabila barang telah mencapai titik akhir
manfaatnya. Penghapusan logistik dapat
dilakukan tergantung dari kebijakan yang
diterapkan oleh instansi ataupun
perusahaan.

Fungsi pengendalian

Fungsi pengendalian merupakan fungsi inti


dari pengelolaan logistik yang meliputi
usaha untuk memonitor dan mengamankan
keseluruhan pengelolaan logistik. Dalam
fungsi pengendalian ini terdapat kegiatankegiatan yakni pengendalian inventarisasi
dan Expediting yang merupakan unsureunsur utamanya

PENGELOLAAN SUMBER DAYA


KEFARMASIAN DI PUSKESMAS
1.
2.
3.
4.

Sumber daya Manusia


Sarana dan Prasarana
Sediaan Farmasi dan Perbekalan
Kesehatan
Administrasi

Sumber daya Manusia


Mampu menyediakan dan
memberikan pelayanan kefarmasian
yang bermutu
Mampu mengambil keputusan secara
profesional

APOTEKER

Mampu berkomunikasi yang baik


dengan pasien maupun profesi
kesehatan lainnya
Selalu belajar sepanjang karier baik
pada jalur formal maupun informal,
sehingga ilmu dan keterampilan
yang dimiliki selalu baru (up to date).

ASISTEN
APOTEKER

Membantu pekerjaan apoteker dalam


melaksanakan pelayanan
kefarmasian

Sarana dan Prasarana


Prasarana:

Perencanaan obat

1.

2.
3.
4.
5.

Perencanaan dilakukan untuk menetapkan jenis dan


jumlah obat dan perbekalan kesehatan yang tepat sesuai
dengan kebutuhan pelayanan kesehatan dasar.
Tahap-tahap yang dilalui dalam proses perencanaan obat
adalah :
Tahap pemilihan obat, dimana pemilihan obat
didasarkan pada Obat Generik terutama yang tercantum
dalam Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN), dengan
harga berpedoman pada penetapan Menteri.
Tahap kompilasi pemakaian obat
Tahap perhitungan kebutuhan obat
Tahap proyeksi kebutuhan obat
Tahap penyesuaian rencana pengadaan obat

Pengadaan obat

1.

Pengadaan Obat Publik dan Perbekalan


Kesehatan Untuk Pelayanan Kesehatan
Dasar yaitu :
Kriteria obat dan perbekalan kesehatan
meliputi kriteria umum dan persyaratan
umum. Kriteria umumnya yaitu obat
termasuk dalam daftar obat pelayanan
kesehatan dasar (PKD), obat program
kesehatan, obat generic yang tercantum
dalam Daftar Obat Esensial Nasional
(DOEN) yang masih berlaku, telah memiliki
izin edar atau Nomor Registrasi dari
Depkes/Badan POM

Lanjutan ...
2. Persyaratan pemasok , yaitu :
Memiliki izin Pedagang Besar Farmasi (PBF) yang
masih berlaku.
Harus memiliki dukungan dari Industri Farmasi
yang memiliki sertifikat CPOB (Cara Pembuatan
Obat Yang Baik) bagi masing-masing jenis sediaan
obat yang dibutuhkan.
Harus memiliki reputasi yang baik dalam bidang
pengadaan obat.
Pemilik dan atau Apoteker/Asisten Apoteker
penanggung jawab Pedagang Besar Farmasi tidak
sedang dalam proses pengadilan atau tindakan
yang berkaitan dengan profesi kefarmasian.
Mampu menjamin kesinambungan ketersediaan
obat sesuai dengan masa kontrak.

Lanjutan ...
3. Penilaian dokumen data teknis meliputi : kebenaran dan keabsahan
Surat Ijin Edar (Nomor Registrasi) tiap produk yang ditawarkan,
terdapat fotokopi sertifikat CPOB untuk masing-masing jenis
sediaan yang dilegalisir oleh pejabat yang berwenang dari Industri
Farmasi
4. Penentuan waktu pengadaan dan kedatangan obat dan perbekalan
kesehatan ditetapkan berdasarkan hasil analisa dari data sisa stok
dengan memperhatikan tingkat kecukupan obat dan perbekalan
kesehatan, jumlah obat yang akan diterima sampai dengan akhir
tahun anggaran, kapasitas sarana penyimpanan, dan waktu
tunggu.
5. Pemantauan status pesanan dilakukan berdasarkan system VEN
dengan memperhatikan nama obat, satuan kemasan, jumlah obat
diadakan, obat yang sudah dan belum diterima
6. Penerimaan dan pemeriksaan obat dan perbekalan kesehatan
dilakukan oleh panitia penerima yang salah satu anggotanya
adalah tenaga farmasi. Pemeriksaan ini dilakukan secara
organoleptik, dan khusus untuk pemeriksaan label dan kemasan
perlu dilakukan pencatatan terhadap tanggal kadaluarsa, nomor
registrasi dan nomor batch terhadap obat yang diterima.

Contoh blanko

Prasarana dan sarana yang harus


dimiliki Puskesmas untuk meningkatkan
kualitas pelayanan kefarmasian:

Papan nama apotek atau kamar obat yang dapat terlihat jelas oleh pasien.
Ruang tunggu yang nyaman bagi pasien.
Peralatan penunjang pelayanan kefarmasian, antara lain timbangan gram dan
miligram, mortir-stamper, gelas ukur, corong, rak alat-alat, dan lain-lain.
Tersedia tempat dan alat untuk mendisplai informasi obat bebas dalam upaya
penyuluhan pasien, misalnya untuk memasang poster, tempat brosur, leaflet,
booklet dan majalah kesehatan.
Tersedia sumber informasi dan literatur obat yang memadai untuk pelayanan
informasi obat.
Tersedia tempat dan alat untuk melakukan peracikan obat yang memadai.
Tempat penyimpanan obat khusus seperti lemari es untuk supositoria, serum
dan vaksin, dan lemari terkunci untuk penyimpanan narkotika sesuai dengan
peraturan perundangan yang berlaku.
Tersedia kartu stok untuk masing-masing jenis obat atau komputer agar
pemasukan dan pengeluaran obat, termasuk tanggal kadaluarsa obat, dapat
dipantau dengan baik.
Tempat penyerahan obat yang memadai, yang memungkinkan untuk
melakukan pelayanan informasi obat.

Sediaan Farmasi dan Perbekalan Kesehatan

Administrasi

Merupakan rangkaian aktivitas pencatatan,


pelaporan,
pengarsipan
dalam
rangka
penatalaksanaan pelayanan kefarmasian yang
tertib baik untuk sediaan farmasi dan perbekalan
kesehatan maupun pengelolaan resep supaya
lebih mudah dimonitor dan dievaluasi.
Administrasi
untuk
sediaan
farmasi
dan
perbekalan kesehatan meliputi:

Perencanaan

Administrasi

Administrasi untuk resep meliputi:

1.

PENERIMAAN OBAT DI PUSKESMAS

Penerimaan adalah suatu kegiatan dalam


menerima obat-obatan yang diserahkan dari
unit pengelola yang lebih tinggi kepada unit
pengelola di bawahnya. Penerimaan obat
harus dilaksanakan oleh petugas pengelola
obat atau petugas lain yang diberi kuasa oleh
Kepala Puskesmas.
Penerimaan obat bertujuan agar obat yang
diterima sesuai dengan kebutuhan
berdasarkan permintaan yang diajukan oleh
Puskesmas

KEGIATAN
Setiap penyerahan obat oleh Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota kepada
Puskesmas dilaksanakan setelah mendapat persetujuan dari Kepala
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau pejabat yang diberi wewenang
untuk itu. Petugas penerima obat bertanggung jawab atas pemeriksaan
fisik, penyimpanan, pemindahan, pemeliharaan dan penggunaan obat
berikut kelengkapan catatan yang menyertainya. Pelaksanaan fungsi
pengendalian distribusi obat kepada Puskesmas Pembantu dan sub unit
pelayanan kesehatan lainnya merupakan tanggung jawab Kepala
Puskesmas. Petugas penerima obat wajib melakukan pengecekan
terhadap obat yang diserahterimakan, meliputi kemasan, jenis dan
jumlah obat, bentuk 17 Materi Pelatihan Manajemen Kefarmasian di
Puskesmas sediaan obat sesuai dengan isi dokumen (LPLPO), dan
ditanda tangani oleh petugas penerima serta diketahui oleh Kepala
Puskesmas. Petugas penerima dapat menolak apabila terdapat
kekurangan dan kerusakan obat. Setiap penambahan obat, dicatat dan
dibukukan pada buku penerimaan obat dan kartu stok.

Prosedur penerimaan

Penyimpanan Obat di
Puskesmas

Menurut Departemen Kesehatan


Republik Indonesia (2004)
penyimpanan obat adalah suatu
kegiatan pengamanan terhadap obatobat yang diterima agar aman (tidak
hilang), terhindar dari kerusakan fisik
maupun kimia dan mutunya tetap
terjamin

Tujuan Penyimpanan Obat

Menurut Warman (2004) tujuan dari penyimpanan


antara lain :

Mempertahankan mutu obat dari kerusakan akibat penyimpanan ya

Lanjutan...
Secara lebih terperinci, Depkes RI (2004) menyatakan bahwa
tujuan penyimpanan antara lain :
Aman, yaitu setiap barang/obat yang disimpan tetap aman
dari kehilangan dan kerusakan.
Awet, yaitu barang tidak berubah warnanya, baunya,
gunanya, sifatnya, ukurannya, fungsinya dan lain-lain.
Cepat, yaitu cepat dalam penanganan barang berupa
menaruh atau menyimpan, mengambil, dan lain-lainnya.
Tepat, dimana bila ada permintaan barang, barang yang
diserahkan memenuhi lima tepat, yaitu tepat barang, kondisi,
jumlah, waktu dan harganya.
Murah, yaitu biaya yang dikeluarkan sedikit untuk
menanganinya, yaitu murah dalam menghitung persediaan,
pengamanan dan pengawasannya.

Sarana Penyimpanan Obat

Persyaratan Gudang di Puskesmas

Beberapa ketentuan mengenai sarana penyimpanan obat menurut Dirjen


Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan (2010) antara lain :

Luas minimal 3 x 4 m2 dan atau disesuaikan dengan jumlah obat yang


disimpan. Kondisi ruangan harus kering dan tidak lembab. Memiliki
cahaya dan ventilasi yang cukup.

Kondisi Penyimpanan

a.

Terdapat ventilasi pada ruangan, jendela dibuka

b.

Simpan obat di tempat yang kering

c.

Wadah harus selalu tertutup rapat, janga terbuka

d.

Bila memungkinkan, pasang kipas angin atau AC. Karena makin panas
udara di dalam ruangan maka udara semakin lembab.

e.

Biarkan pengering tetap dalam wadah tablet atau kapsul.

Tata Ruang Penyimpanan Obat

Berdasarkan arah arus penerimaan dan pemgeluaran obat-obatan, rua

Prosedur Sistem
Penyimpanan Obat

Obat disusun secara alfabetis untuk setiap bentuk sediaan.


Obat dirotasi dengan sistem FEFO dan FIFO.

FIFO (First In First Out) yang berarti obat yang datang lebih awal harus
dikeluarkan lebih dahulu. Obat lama diletakkan dan disusun paling depan,
obat baru diletakkan paling belakang.

FEFO ( First Expired First Out) yang berarti obat yang lebih awal
kadaluarsa harus dikeluarkan lebih dahuu.

Obat Disusun Berdasarkan Volume

Barang yang jumlahnya banyak ditempatkan sedemikian rupa agar tidak


terpisah, sehingga mudah pengawasan dan penanganannya dan Barang
yang jumlahnya sedikit harus diberi tanda khusus agar mudah ditemukan

Dokumen Pencatatan
Penyimpanan Obat

LPLPO ( Laporan Pemakaian dan


Lembar Permintaan Obat)
Kartu Stok
Buku Penerimaan dan Pengeluaran
Obat
Catatan Obat Rusak atau Kadaluarsa
Laporan Mutasi Obat.

Distribusi Obat
Definisi

Pendistribusian obat mencakup kegiatan


pengeluaran dan pengiriman obat-obatan yang
bermutu, terjamin keabsahannya serta tepat
jenis dan jumlah dari gudang obat secara
merata
dan
teratur
untuk
memenuhi
kebutuhan unit-unit pelayanan kesehatan.
Obat yang berada di puskesmas nantinya akan
didistribusikan ke Pustu, Poskesdes dan Bides.
Penyaluran obat juga dilakukan dibagian subsub puskesmas seperti,(UGD), ruang rawat
inap, ruang poli umum dan poli gigi

Alur distribusi obat dan alat kesehatan dari Gudang Farmasi Kabupaten
(GFK) di puskesmas

Obat yang telah diterima dari GFK masuk ke gudang


obat puskesmas induk. Setelah diperiksa oleh
penanggungjawab obat puskesmas, lalu dilakukan
penyimpanan dan pencatatan. Obat-obatan tersebut
didistribusikan ke kamarobat, unit-unit seperti poli
gigi, UGD, KIA, laboratorium, rawat inap dan pustupustu sesuai dengan Laporan Pemakaian dan Lembar
Permintaan Obat (LPLPO).Dengan LPLPO, sub unit
puskesmas melaporkan penggunaan obatnya pada
bulan tersebut sekaligus juga melakukan permintaan
dengan mempertimbangkan jumlah penggunaan
bulan sebelumnya, kenaikan kunjungan, dan buffer
stock untuk memenuhi kebutuhan 1 bulan ke depan.

PENCATATAN DAN PELAPORAN


OBAT
Pengertian :
Merupakan rangkaian kegiatan dalam rangka penatalaksanaan obatobatan secaratertib, baik obat-obatan yang
diterima,disimpan,didistribusikan dan digunakan di RS/Puskesmas dan atau
unit pelayanan lainnya

1.
2.
3.

Tujuan :
Bukti bahwa suatu kegiatan yang telahdilakukan
Sumber data untuk melakukan pengaturandan
pengendalian
Sumber data untuk pembuatan laporan

Sarana Pencatatan dan pelaporan


- Di gudang obat Puskesmas :
Kartu stok obat
LPLPO (laporan pemakaian lembar permintaan obat
- Di kamar obatPuskesmas :
Catatan penggunaan obat
LPLPO
- Di Puskesmas pembantu :
Catatan penggunaan obat
LPLPO Sub unit
- Di kamar suntik :
LPLPO Sub unit
Catatan harian penggunaan obat suntik

Sarana Pencatatan dan


pelaporan
- Di gudang obat
Puskesmas:
Kartu stok obat
LPLPO (laporan pemakaian
lembar permintaan obat
- Di kamar
obatPuskesmas :
Catatan penggunaan obat
LPLPO
- Di Puskesmas pembantu
:
Catatan penggunaan obat
LPLPO Sub unit
- Di kamar suntik :
LPLPO Sub unit

Penyelenggaraan
Pencatatan :
a. Di gudang Puskesmas :
1). Setiap obat yang
diterima
dandikeluarkandari gudang
dicatat di dalam Kartu Stok
2). Laporan penggunaan
dan lembar permintaan
obat dibuat berdasarkan:
(a). Kartu Stok Obat
(b). Catatan harian
penggunaan obat
b. Di kamar obat
c. Di kamar suntik
d. Di Puskesmas keliling,
Puskesmas Pembantu
dan tempat perawatan
serta di ruang
pertolongan gawat
darurat, pencatatan
diselenggarkan seperti

Alur Pelaporan

FORM
PENCA
TATAN
DAN
PELAP
ORAN
YANG
DIGUN
AKAN
DI
PUSKE
SMAS
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Form LPLPO puskesmas


Form LPLPO unit
Kartu Stok
Catatan Harian
pengeluaranobat
Laporan Narkotika
Laporan Psikotropika

untuk mengetahui
perpindahan semua
barang : penerimaan,
distribusi, kadaluarsa,
rusak
Untuk mengetahui
secara teoritis
mengenai stok
Untuk memperkirakan
permintaan
Untuk menghitung ratarata pemakaian per

Pen
ggu
naa
n:

KA
RT
U Tuju
ST an :
O
K

Kartu stok diletakkan


ditempat di masingmasing tempat
penyimpanan obat
Isilah kartu stock setiap
kali adapemasukanpengeluaran (segera)
Satu baris untuk setiap
mutasi

Contoh form Kartu Stok

LAPORAN PEMAKAIAN DAN LEMBARPERMINTAAN OBAT(LPLPO)

Kartu

MONITORING DAN
EVALUASI

Monitoring merupakan kegiatan


pemantauan terhadap pelayanan
kefarmasian dan evaluasi merupakan
proses penilaian kinerja pelayanan
kefarmasian itu sendiri
Aktivitas monitoring perlu direncanakan
untuk mengoptimalkan hasil pemantauan.
Contoh: monitoring pelayanan resep,
monitoring penggunaan Obat, monitoring
kinerja tenaga kefarmasian

Evaluasi dilakukan terhadap data yang dikumpulkan yang


diperoleh melalui metode berdasarkan waktu, cara, dan teknik
pengambilan data.
Berdasarkan waktu pengambilan data, terdiri atas:
Retrospektif: pengambilan data dilakukan setelah pelayanan
dilaksanakan. Contoh: survei kepuasan pelanggan, laporan
mutasi barang.
Prospektif: pengambilan data dijalankan bersamaan dengan
pelaksanaan pelayanan. Contoh: Waktu pelayanan kefarmasian
disesuaikan dengan waktu pelayanan kesehatan di Puskesmas,
sesuai dengan kebutuhan.
Berdasarkan cara pengambilan data, terdiri atas:
Langsung (data primer): data diperoleh secara langsung dari
sumber informasi oleh pengambil data. Contoh: survei kepuasan
pelanggan terhadap kualitas pelayanan kefarmasian.
Tidak Langsung (data sekunder): data diperoleh dari sumber
informasi yang tidak langsung. Contoh: catatan penggunaan
Obat, rekapitulasi data pengeluaran Obat.

Berdasarkan teknik pengumpulan data,


evaluasi dapat dibagi menjadi:
Survei
Survei yaitu pengumpulan data dengan
menggunakan kuesioner. Contoh: survei
kepuasan pelanggan.
Observasi
Observasi yaitu pengamatan langsung
aktivitas atau proses dengan
menggunakan cek list atau perekaman.
Contoh: pengamatan konseling pasien.

Indikator Pengelolaan Obat

Pengelolaan obat di farmasi puskesmas


harus efektif dan efisien karena obat
harus ada saat dibutuhkan, dalam
jumlah yang cukup, mutu terjamin dan
harga yang terjangkau.
Tingkat kualitas pengelolaan obat di
farmasi puskesmas perlu dinilai dan
salah satu tolok ukur yang digunakan
untuk menilai adalah indicator.

Lanjutan

Sejumlah indikator pengelolaan obat


yang dipilih dapat dilihat pada table
berikut ini.

Pengkajian Resep, Penyerahan Obat


dan Pemberian Informasi Obat
Kegiatan pengkajian resep dimulai dari seleksi
persyaratan administrasi, persyaratan farmasetik
dan persyaratan klinis baik untuk pasien rawat inap
maupun rawat jalan.
Kegiatan Penyerahan (Dispensing) dan
Pemberian Informasi obat merupakan kegiatan
pelayanan yang dimulai dari tahap
menyiapkan/meracik Obat, memberikan
label/etiket, menyerahkan sediaan farmasi dengan
informasi yang memadai disertai
pendokumentasian.

Tujuan:
Pasien memperoleh Obat sesuai
dengan kebutuhan klinis/pengobatan.
Pasien memahami tujuan pengobatan
dan mematuhi instruksi pengobatan

Persyaratan administrasi

Nama, umur, jenis kelamin dan berat


badan
Nama, dan paraf dokter
Tanggal resep
Ruangan/unit asal resep

Persyaratan farmasetik

Bentuk dan kekuatan sediaan


Dosis dan jumlah Obat
Stabilitas dan ketersediaan
Aturan dan cara penggunaan
Inkompatibilitas (ketidakcampuran
Obat)

Persyaratan klinis

Ketepatan indikasi, dosis dan waktu


penggunaan Obat
Duplikasi pengobatan
Alergi, interaksi dan efek samping Obat
Kontra indikasi
Efek adiktif

PELAYANAN
OBAT

INFORMASI

Berdasarkan peraturan Menkes RI No. 30 tahun


2014 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian
di Puskesmas, seorang apoteker melakukan
pelayanan kefarmasian berupa pemberian
informasi obat. Pelayanan Informasi Obat (PIO)
merupakan kegiatan pelayanan yang dilakukan
oleh apoteker untuk memberikan informasi
secara akurat, jelas dan terkini kepada dokter,
apoteker, perawat, profesi kesehatan lainnya
dan pasien.

TUJUAN
PIO
Menyediakan informasi mengenai obat kepada tenaga kesehatan lain di li

KEGIATAN PIO

Memberikan dan menyebarkan informasi kepada konsumen secara pro a

Contoh Pharmacy Corner di Puskesmas Simpang Nangka

Contoh Poster
di Puskesma
Simpang
Nangka

Contoh brosur
di Puskesmas
Simpang
Nangka

KONSELING OBAT
Definisi

Proses Konseling

Siapa Saja Yang Diberikan Konseling?

Tahapan Konseling

Penggunaan Obat Rasional

Penggunaan Obat Rasional


Penggunaan obat

secara rasional
adalah pasien
menerima obat
yang sesuai dengan
kebutuhannya
untuk periode yang
adekuat dengan
harga yang
terjangkau. (WHO,
1985)

Pendekatan Penggunaan Obat Rasio

Penggunaan Obat Yang


Tidak Rasional

Penggunaan
obat
dikatakan tidak
rasional jika
kemungkinan
dampak
negatif yang
diterima oleh
pasien lebih
besar
dibanding
manfaatnya

Dampak
Klinis
Dampak
Ekonomi

Dampak
Sosial

Kriteria Penggunaan Obat


yang Tidak Rasional
Over prescribing

Mekanisme Pertanggungjawaban
Pada setiap akhir tahun anggaran, Kepala Puskesmas
harus
membuat
laporan
pertanggungjawaban
tahunan yang mencakup pelaksanaan kegiatan, serta
perolehan dan penggunaan berbagai sumberdaya
termasuk keuangan dan laporan akuntabilitas (LAKIP).
Laporan
tersebut
disampaikan
kepada
Dinas
kesehatan kabupaten/kota serta pihak terkait lainnya,
termasuk masyarakat melalui forum masyarakat.
Apabila terjadi penggantian Kepala Puskesmas
ataupun penanggungjawab program, maka Kepala
Puskesmas dan penanggungjawab program yang
lama
diwajibkan
membuat
laporan
pertanggungjawaban masa jabatannya.

Tugas dan Tanggungjawab Kepala Puskesmas

Tugas :
Membina petugas pengelola obat
Menyampaikan laporan bulanan pemakaian obat kepada
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat.
Melaporkan dan mengirimkan kembali semua obat yang
rusak/ kadaluwarsa dan atau obat yang tidak dibutuhkan
kepada Kepala Dinkes Kabupaten/Kota setempat.
Melaporkan obat hilang kepada Kepala Dinkes
Kabupaten/Kota.
Mengajukan permintaan obat dan perbekalan kesehatan
kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat
Tanggung jawab :
Pengelolaan dan pencatatan pelaporan obat dan perbekalan
kesehatan di Puskesmas.