Anda di halaman 1dari 28

MANAJEMEN FISIOTERAPI

HEMiPARESE

OLEH :

PROGRAM STUDI S1 FISIOTERAPI PROFESI


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
2016

BAB I
ANATOMI DAN FISIOLOGI OTAK
A. Anatomi
Otak memiliki berat 2% dari seluruh Berat Badan, tapi
mengkonsumsi darah 15% dari curah jantung & 25% dari oksigen yang
inspirasi. Darah membawa O2, glukose dan nutrisi lainnya serta
mengangkut CO2, asam laktat dan sisa metabolisme lainnya.
Darah membawa oksigen (O2), zat makanan, zat penting lainnya
ke jaringan tubuh sehingga berfungsi dengan baik. Aliran darah ke otak
yang terhenti dalam tidak menit dapat menyebabkan perubahan yang
Irreversible, sedangkan penghentian aliran darah selama sepuluh detik
menyebebkan kesadaran menghilang.Vaskularisasi Otak yang utama terdiri
dari sistem karotis sinistra dan dextra dan sistem vertebra basilaris sinistra
dan dextra.
Gambar 1.1 Vaskularisasi Otak

Sumber : Sobotta, 2006


Otak memperoleh darah melalui 2 sistem, yakni sistem arteri
karotis (a.karotis interna kanan dan kiri), dan sistem vertebral. Arteri
karotis interna, setelah memisahkan diri dari Arteri karotis komunis, naik

masuk ke rongga tengkorak melalui kanalis karotikus, berjalan dalam


sinus kavernosus, mempercabangkan arteri ofthalmika untuk nervus
optikus dan retina, akhirnya bercabang dua yaitu arteri serebri anterior dan
arteri serebri media. Untuk otak sistem ini memberi darah bagi lobus
frontalis, parietalis dan beberapa bagian lobus temporalis.
Gambar 1.2 Vaskularisasi Otak

Sumber : Netter,

2004

Sistem vertebral dibentuk oleh Arteri vertebralis kiri dan kanan


yang berpangkal di a.subklavia, menuju dasar tengkorak melalui kanalis
transversalis di kolumna vertebralis servikalis. Arteri vertebralis masuk
rongga kranium melalui foramen magnum, lalu mempercabangkan masing
masing ke sepasang arteri serebelli inferior.
Pada batas medulla oblongatadan pons, keduanya bersatu menjadi
a.basilaris. Setelah mengeluarkan tiga kelompok cabang arteri, pada
tingkat mesensefalon, a.basilaris berakhir sebagai sepasang cabang
a.serebri posterior, yang melayani darah bagi lobus oksipitalis, dan bagian
medial lobus temporalis.
Ketiga pasang arteri serebri ini, bercabang cabang menelusuri
permukaan otak, dan beranastomosis satu dengan yang lainnya. Cabangcabang yang lebih kecil menembus ke dalam jaringan otak dan juga saling
berhubungan dengan cabang cabang arteri serebri lainnya.
Gambar 1.3 Arteri

Sumber : Netter, 2004


Untuk menjamin pemberian darah ke otak, ada sekurang
kurangnya tiga sistem kolateral antara sistem karotis dan sistem vertebral
yaitu
1. Sirkulus willisi, yakni lingkungan pembuluh darah yang tersusun
oleh serebri media kanan dan kiri, kommunikans anterior yang
menghubungkan kedua serebri anterior, sepasang serebri posterior,
dan kommunikans posterior (yang menghubungkan serebri media
dan posterior kanan dan kiri). Anyaman arteri ini terletak di dasar
otak.
2. Anastomosis antara a.serebri interna & karotis eksterna di daerah
orbita, masing masing,melalui ophthalmika dan fascialis ke
Maksillaris eksterna.
3. Hubungan antara sistem vertebral dengan karotis eksterna
(pembuluh darah ekstrakranial).

Selain itu masih terdapat lagi hubungan antara cabang cabang


arteri tersebut, sehingga menurut Buskirk tak ada arteri ujung (true end
arteries) dalam jaringan otak.Darah vena dialirkan dari otak melalui 2
sistem: kelompok vena interna, yang mengumpulkan darah ke vena
Gallen dan sinus rektus, dan kelompok vena eksterna yang terletak di
permukaan hemisfer otak, dan mencurahkan darah ke sinus sagitalis
superior dan sinus basalis laterales, dan seterusnya melalui vena vena
jugularis, dicurahkan menuju ke jantung.
B. Fisiologi
Sistem karotis terutama melayani kedua hemisfer otak, dan sistem
vertebrobasiler terutama memberi darah bagi batang otak, serebellum dan
bagian posterior hemisfer.Aliran darah di otak (ADO) terutama
dipengaruhi oleh 3 faktor. Dua yang paling penting adalah tekanan untuk
memompakan darah dari sistem arteri-kapiler ke sistem vena, dan tahanan
(perifer) pembuluh darah otak. Faktor ketiga adalah faktor darah sendiri,
yakni viskositas darah dan koagulobilitasnya (kemampuan untuk
membeku).
Dari faktor pertama, yang terpenting adalah tekanan darah sistemik
(faktor jantung, darah, dan pembuluh darah dll), dan faktor kemampuan
khusus pembuluh darah otak (arteriol) untuk menguncup bila tekanan
darah sistemik naik dan berdilatasi bila tekanan darah sistemik menurun.
Daya akomodasi sistem arteriol otak ini disebut daya otoregulasi
pembuluh darah otak yang berfungsi normal bila tekanan sitolik antara 50150 mmHg).Faktor darah, selain viskositas darah dan daya membekunya,
juga diantaranya seperti kadar/tekanan parsial CO2 dan O2 berpengaruh
terhadap diameter arteriol.
Kadar atau tekanan parsial CO2 yang naik, PO2 yang turun, serta
suasana jaringan yang asam (pH rendah), menyebabkan vasodilatasi,
sebaliknya bila tekanan parsial CO2 turun, PO2 naik, ata suasana pH
tinggi, maka terjadi vasokonstriksi.Viskositas atau kekentalan darah yang
tinggi mengurangi aliran darah otak. Sedangkan koagulabilitas yang besar
juga memudahkan terjadinya trombosis, dan aliran darah lambat, akibat
aliran darah otak yang menurun.

BAB II
PATOLOGI HEMIPARESE
A Definisi
"stroke menurut WHO didefinisikan sebagai tanda-tanda
klinis yang berkembang cepat akibat gangguan fungsi otak fokal
maupun global dengan gejala-gejala yang berlangsung selama 24 jam

atau

lebih

ataupun

menyebabkan

kematian

tanpa

adanya

penyebab lain yang jelas selain askuler!


Hemiparese adalah kondisi dimana terjadinya kelemahan padah
sebelah/sebagian kanan/kiri tubuh (lengan,tungkai dan wajah) yang
berlawanan dari lesi yang terjadi di otak.
B Epidemiologi
stroke

merupakan

penyebab

kematian

kedua

t e r b a n y a k d i n e g a r a m a j u d a n k e t i g a terbanyak di negara
berkembang! #erdasarkan data WHO tahun 2002 lebih dari 5,47' juta
orang meninggal karena stroke di dunia.Dari data yang dikumpul oleh
American Heart Association tahun 2004 setiap . menit satu orang
meninggal akibat stroke
Di Indonesia stroke merupakan penyakit nomor tiga yang
mematikan setelah jantung dan kanker
C Etiologi
Biasanya disebabkan oleh :
a. Trombosit ( bekuan darah di dalam pembuluh darah otak dan leher)
b. Embolisme cerebral (bekuan darah atau material lain yang dibawah ke
otak dari bagian tubuh yang lain
c. Iskemia (penurunan aliran darah ke otak)
d. Hemoragi cerebral (pecahnya pembuluh darah serebral dengan
perdarahan ke dalam jaringan otak atau ruang sekitar otak)

D Patomekanisme
1 Klasifikasi
a. Berdasarkan waktu

TIA (Trancient Ischemic Attack )

yaitu gangguan neurologi sesaat beberapa menit


atau beberapa jam saja dan gejala akan hilang
sempurna dalam waktu kurang dari 24 jam
2

RIND( Reversible Ischemic Neurologis Deficit )


Ga n g g u a n

neurologi

setempat

yang

akan

h i l a n g s e c a r a s e m p u r n a d a l a m w a k t u 1 minggu
dan maksimal 3 minggu
3

Stroke in Evolution (Progressive Stroke)


stroke yang terjadi masih terus berkembang dimana
gangguan yang muncul semakin berat dan bertambah
buruk! proses ini biasanya berjalan dalam beberapa jam
atau beberapa hari

Completed
-

Gangguan pembuluh darah yang menyebabkan


deficit neurologis akut yang berlangsung lebih dari
24 j

Meninggalkan gejala sisa

Sebab perdarahan atau infark

3-6 bln setelah TIA/RIND 5-10% pasien akan


mengalami stroke infark, tp tak semua stroke infark
didahului TIA

E Patofisiologi
Infark serebral adalah kehilangan suplai darah pada bagian tertentu
dari jaringan otak. Luasnya infark bergantung pada faktor lokasi dan
paembuluh darah yang mengalami sumbatan tertentu serta tidak
adekuatnya sirkulasi ke lateral pada area yang di suplai oleh pembuluh
darah yang tersumbat.
Gangguan suplai darah ke otak dapat cepat atau lambat :
a.

Trombus terjadi sebagai akibat plague aterosklerosis atau bekuan

darah pada area stenosis dimana aliran darah akan menjadi lambat atau

terjadi turbulensi. Trombus dapat pecah atau terlepas dari dinding


pembuluh darah dan di bawah oleh aliran darah. Trombus menyebabkan:
-

Iskemia jaringan otak

Edema dapat terjadi setelah beberapa jam atau beberapa hari

Edema dapat menyebabkan disfungsi serebral dan setelah edema

hilang, maka secara perlahan lahan akan berfungsi kembali


b.

Embolus,

oklusi

pembuluh

darah

cerebral

oleh

embolus

menyebabkan nekrosis dan edema yang diakibatkan sama dengan trombus


c.

Perdarahan dalam otak diakibatkan oleh ruptur dan intersklerosis

dan hipertensi pembuluh darah, sering terjadi setelah usia 60 tahun.


Perdarahan intracerebral dapat menjadi total, misalnya terjadi herniasi otak
menyebabkan kematian 50% klien dalam 3 hari pertama setelah
perdarahan intracranial jika sirkulasi serebral terputus
d.

Anoreksia serebral akan terjadi dimana kekurangan oksigen pada

otak. Anoreksia cerebral dapat reversible bila kekurangan oksigen hanya


terjadi dalam 4-6 menit, lebih dari itu terjadi irreversible

F Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi antara lain statik pneumonia chest
terjadi karena immobilisasi selama 2-3 minggu, kontraktur, frozen
shoulder, drop foot, scoliosis, drophand, atropi otot, gangguan psikis,
decubitus, dan gangguan perkemihan.
G Gambaran Klinis
a)

Nyeri kepala bagian oksipital

b)

Vertigo

c)

Gangguan motorik dan sensorik

d)

Kehilangan komunikasi

a.

Disatria (kesulitan bicara) ditunjukkan dengan bicara yang sulit

dimengerti yang disebabkan oleh paralisis otak yang bertanggungjawab


untuk menghasilkan suara.
b.

Disfagia atau afasia (bicara defektif atau kehilangan bicara

Afasia sensorik

Adalah

kehilangan

kemampuan

pemahaman,

menulis,

menciptakan,mengucapkan kata-kata pada area werniek


-

Afasia motorik

Adalah klien dapat memahami kata-kata tetapi tidak dapat menguraikan


dengan kata-kata, kerusakan pada area brocca
e)

Homes sindrome

Paralisis saraf simpatis pada bagian mata menyebabkan tenggelamnya bola


mata sebagian akibat prosis kelopak mata atas
f)

Agnosia adalah gangguan mengintropeksi objek

BAB II
ASSESMENT FISIOTERAPI HEMIPLEGI
Assesment atau pemeriksaan fisioterapi dilakukan untuk menentukan
diagnosis dan problematik fisioterapi sebagai dasar untuk menyusun dan
menentukan jenis intervensi yang akan dilakukan. Jenis pemeriksaan fisioterapi
yang dapat dilakukan berkaitan dengan kondisi hemilpegi menggunakan metode
CHARTS sebagai berikut.
A. Chief of Complain
Pada kasus ini pasien mengeluh adanya kelemahan setengah badan sisi
kiri.(LENGAN KEBAWAH)
B. History Takini
1. Anamnesis Umum
Nama

Andi

Umur

65

Jenis Kelamin :

Laki-laki

Agama

Islam

Alamat

Jln. Sahabat

Pekerjaan

Polisi

Hobby

Membaca

Status

Kawin

Adapun data vital sign yang diperoleh adalah sebagai berikut :


Tekanan Darah

: 160/100 mmHg

Denyut Nadi

: 96 kali/menit

Pernafasan

: 26 kali/menit

Temperatur

: 37 C

2. Anamnesis Khusus

Fisioterapis mengumpulkan informasi terkait keluhan pasien dan


riwayat perjalanan penyakit yang pernah atau sedang dialami oleh pasien
dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan pada tabel di bawah ini.
Tabel 3.1 Daftar Informasi Anamnesis
Khusus
No.

Pertanyaan

1.

Kapan

2.

bergerak?
Bagaimana

Saat 1bulan yang lalu saya tiba-tiba

kronologinya?

mengalami kelemahan, mulai saat itu

3.

Informasi

mulai

sulit 1 bulan yang lalu.

badan sebelah kiri saya sulit digerakkan


dengan Tubuh sebelah kanan saya masih

Bagaimana

tubuh sebelah kanan?

normal. Saya selalu menggunakan tubuh


sebelah kanan saya untuk beraktivitas.

4.
5.

6.

Apakah ada rasa nyeri?


Dimana

rasa

nyerinya?

Apakah

menjalar?
Apakah

Bapak

Ada
Pada seluruh tubuh saya bagian
kiri.
Tidak.

mengalami
gangguan
7.

8.

pernafasan?
Apakah Bapak sudah

Iya.

ke dokter? Jika iya

kelemahan tutuh kiri saya

kapan?
Apa
yang

dokter

Kata dokter saya mengalami stroke

tentang

karena factor kegemukan, lalu karena

katakan

kondisi Bapak?

Sejak

pertama

mengalami

pembuluh darah saya tersumbat saya


menjadi lumpuh setengah badan.

9.

Apakah Bapak sudah

Iya.

di foto roentgen dan


diperiksa
10.

laboratorium?
Bagaimana menurut

Hasil

dokter

kadar kolestrol saya tinggi.

hasil

mengenai
roetgen

dan

roetgennya

normal,

tetapi

11.

12.

laboratorium Bapak?
Apakah Bapak diberi

Iya. Saya diberi obat Librium untuk

obat oleh dokter?

relaksan

Apakah

mengandung Omega 3.
Iya,
saya
rasa
saya

ada

perubahan

yang

Bapak

obat?
Apakah Bapak punya

Semuanya

tidur,

terganggu.

BAB,

kesulitan

kegiatan

hari-

semua hal sendiri, sehingga saya

hari Bapak?
Bagaimana perasaan

butuh bantuan dari istri saya.


Saya sangat terganggu, cemas dan

Bapak

depresi karena saya tidak bisa

setelah

Bagaimana

peran
dan

dan

malas

Saya

makan,

keluarga

16.

Hipertensi dan kolesterol tinggi.

penyakit

terkena penyakit ini?


16.

mulai

membaik.

lain?
Bagaimana keadaan
dan

15.

yang

meminum

riwayat
14.

obat

rasakan

setelah
13.

dan

beraktivitas seperti biasa.


Keluarga dan teman-teman saya

teman- sangat

mendukung

teman Bapak saat ini?

cepat sembuh.

Masih

Sudah tidak ada.

ada

keluhan

melakukan

saya

agar

lain Pak?

Sumber : Data Primer, 2014


C. Asymmetric
1. Inspeksi
a. Inspeksi Statis
Inspeksi statis atau inspeksi saat pasien dalam posisi diam.Posisi
penderita duduk di atas kursi roda, posisi kepala sedikit miring ke sisi
yang lemah dan bahu terlihat asimetris.

b. Inspeksi Dinamis

Inspeksi dinamis yaitu inspeksi saat pasien bergerak. Pasien


bergerak di kursi roda dibantu oleh istrinya. Sisi tubuh kiri semuanya
nampak kaku sedangkan yang kanan normal.
2. Tes Orientasi
Tes orientasi ini bertujuan untuk mengungkap letak kelainan yang
dikeluhkan oleh pasien.Tes orientasi ini dilakukan dengan meminta pasien
melakukan gerakan-gerakan aktivitas sehari hari seperti menyisir, makan,
mengambil dompet. Pada kasus ini pasien secara umum masih bisa
melakukannya karena pasien tidak kidal dan sisi tubuh kanannya masih
normal, namun pada saat meminta pasien membilas diri seperti setelah
BAB dan BAK pasien mengalami kesulitan.
3. Pemeriksaan Fungsi Gerak Dasar
a) Pemeriksaan Fungsi Gerak Dasar Aktif
Pemeriksaan ini dilakukan dengan meminta pasien untuk
melakukan gerakan dengan keinginan dan kekuatannya sendiri
tanpa bantuan pemeriksa atau mekanis. Hasilnya pada kasus ini
gerakan aktif sisi kanan tubuh pasien normal, sedangkan sisi kiri
tubuh pasien mengalami kekakuan.
b) Pemeriksaan Fungsi Gerak Dasar Pasif
Pemeriksaan ini dilakukan dengan meminta pasien untuk
melakukan gerakan denga bantuan pemeriksa atau mekanis. Pada
kasus ini pasien masih bisa digerakkan semua sendi-sendinya,
tetapi pasien mengeluh nyeri ketika sisi kiri tubuhnya digerakkan.
c) Pemeriksaan Isometrik Melawan Tahanan
Pemeriksaan ini dilakukan dengan memberikan tahanan pada
regio yang akan digerakkan oleh pasien. Pada kasus ini sisi kanan
tubuh pasien dapat melawan tahanan, namun sisi kiri tubuh pasien
tidak bisa melawan tahanan sama sekali.

4. Palpasi
Tabel 3.2 Data Informasi Tindakan Palpasi
No.
1.

Palpasi
Suhu

Hasil
Suhu pada bagian kanan dan kiri pasien

2.
3.

Kontur kulit
Jaringan parut

sama
Normal
Tidak ada

Sumber : Data Primer, 2014

D. Restrictive
Restrictive atau keterbatasan pada kasus ini yaitu :
1. Keterbatasan ROM : Keterbatasan pada semua sisi kiri tubuh pasien
2. Keterbatasan ADL : Keterbatasan pasien untuk dressing, sex dan
toiletting.
3. Keterbatasan Pekerjaan : Pasien kesulitan dalam bekerja.
4. Keterbatasan

Rekreasi

Pasien

mengalami

keterbatasan

dalam

melakukan hobby nya dikarenakan kondisinya yang tidak mendukung.


E. Tissue Impairment
No.
1.
2.
3.

4.

Tabel 3.3 Data Informasi Tissue


Impairment

Tissue Impairment
Musculotendinogen
Osteoarthrogen
Neurogen
Psikogenik

Hasil
Kekakuan otot
Limitasi ROM
Nyeri
Gangguan kepercayaan diri dan
kecemasan

Sumber : Data Primer, 2014


F. Spesific Test
1. Pain Grading Scale
No.
1.
2.
3.

Jenis Nyeri
Nyeri Diam
Nyeri Tekan
Nyeri Gerak

Hasil
1
7
6

Sumber : Data Primer, 2014

2. MMT (Manual Muscle Testing)


Tabel 3.5 Grade of MMT
Grade

Definition

5 = Normal

Pasien

mampu

mempertahankan

posisi melawan gravitasi dan melawan


maximal tahan yang diberikan oleh
4= baik

pemeriksa dengan
Gerakan full ROM melawan tahanan

3+=cukup

sedang
Gerakan full ROM melawan Gravitasi

dan

3=cukup
3-=cukup -

minimal
Gerakan full ROM melawan Gravitasi
Gerakan full ROM tanpa pengaruh

mampu

melawan

Gravitasi,lebih

dari

tahanan

separuh

ROM

2+=lemah

melawan gravitasi
Gerakan full ROM tanpa pengaruh

Gravitasi,kurang dari separuh ROM

2=lemah

melawan Graviasi
Bergerak full ROM, tanpa pengaruh

2-=lemah -

grafitasi
Bergerak

1 = sangat

pengaruh gravitasi
Ada sedikit kontraksi, ada sedikit atau

lemah
0

tidak ada pergerakan sendi.


Tidak ada kontraksi sama sekali

tidak

full

ROM,

tanpa

Sumber : Buku Proses dan Pengukuran Fisioterapi, 2013


GROUP OTOT
KANAN
M. Fleksor Carpi Radialis & 5

KIRI
2

Fleksor carpi Radialis


M. Ekstensor Carpi Radialis 5

& Ekstensor carpi Radialis


M. Biseph Brachii
M. Triseph Brachii
M.Supinator
M. Pronator Teres
M. Deltoid pars ant.
M. Deltoid pars post
M. Deltoideus Pars middle
M.Pectoralis Major
M.Gastrocnemius
M. Tibialis Ant.
M. Hamstring

2+
2+
2
2
33332+
1
2+

5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5

M. Quadriseph Femoris
M. Iliopsoas
M. Gluteus Maksimus
M. Gracilis
M. Tensor Facia Latae

5
5
5
5
5

33333-

3. Tes Keseimbangan
Pada tes ini menunjukkan sisi tubuh bagian kiri pasien tidak memiliki
keseimbangan yang baik.
4. Tes Asosiasi
Pada tes ini menunjukkan sisi tubuh bagian kiri pasien tidak
berasosiasi menghasilkan gerakan dengan baik.
5. Tes Tonus
Pada tes ini sisi tubuh bagian kiri pasien hipertonus.
6. Tes Sensorik
a. Tes rasa posisi
b. Tes rasa gerak
c. Tes arah gerak
d. Tes beda dua titik
e. Tes vibrasi
Pada semua tes diatas sisi tubuh bagian kiri pasien tidak dapat
melakukan dengan baik.
7. Tes Refleks
Tes refleks meliputi tes fisiologis yaitu tes glabela, rahang bawah,
biseps, triseps, brakhioradialis, ulna, fleksor jari-jari, pattela menandakan
refleks pasien hiporefleks. Sedangkan untuk refleks patologis yaitu refleks
babinski, oppenheim, gordon, chaddock menunjukkan hasil positif.
8. HRS-A (Hamilton Rating Scale for Anxiety)
Alat ukur ini terdiri 14 kelompok gejala yang masing- masing
kelompok dirinci lagi dengan gejala-gejala yang lebih spesifik.
Keempatbelas kelompok tersebut adalah sebagai berikut:
Tabel 3.6 Hamilton Rating Scale for Anxiety

No.
1.

Kelompok
Perasaan cemas

2.

Ketegangan

3.

Ketakutan pada

4.

Gangguan tidur

5.
6.

Gangguan kecerdasan
Perasaan depresi

Gejala
a. Cemas
b. Takut
c. Mudah tersinggung
d. Firasat buruk
a. Lesu
b. Tidur tidak tenang
c. Gemetar
d. Gelisah
e. Mudah terkejut
f. Mudah menangis
a. Gelap
b. Ditinggal sendiri
c. Orang asing
d. Binatang besar
e. Keramaian lalulintas
f. Kerumunan
orang
banyak
a. Sukar tidur
b. Terbangun malam hari
c. Tidak puas, bangun
d.
e.
a.
a.
b.
c.
d.

lesu
Sering mimpi buruk
Mimpi menakutkan
Daya ingat
Kehilangan minat
Sedih
Bangun dini hari
Berkurangnya

kesenangan pada hobi


e. Perasaan
berubah7.

Gejala somatic

8.

Gejala sensorik

9.

Gejala kardiovaskuler

a.
b.
c.
d.
a.
b.
c.
d.
e.
a.
b.
c.
d.
e.

ubah sepanjang hari


Nyeri otot kaki
Kedutan otot
Gigi gemertak
Suara tidak stabil
Tinitus
Penglihatan kabur
Muka merah dan pucat
Merasa lemas
Perasaan di tusuk-tusuk
Tachicardi
Berdebar-debar
Nyeri dada
Denyut nadi mengeras
Rasa lemas seperti mau

f.

pingsan
Detak
jantung
sekejap

hilang

10.

Gejala pernapasan

a. Rasa tertekan di dada


b. Perasaan tercekik
c. Merasa napas pendek
atau sesak
d. Sering
menarik

11.

Gejala saluran pencernaan


makanan

a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

napas

panjang
Sulit menelan
Mual, muntah
Enek
Konstipasi
Perut melilit
Defekasi lembek
Gangguan pencernaan
Nyeri lambung sebelum

dan sesudah
i. Rasa panas di perut
j. Berat badan menurun
k. Perut terasa panas atau
12.

13.

14.

Gejala urogenital

Gejala vegetative/Otonom

Perilaku sewaktu wawancara

kembung
a. Sering kencing
b. Tidak
dapat

menahan

a.
b.
c.
d.

kencing
Mulut kering
Muka kering
Mudah berkeringat
Sering
pusing

atau

e.
a.
b.
c.
d.

sakit kepala
Bulu roma berdiri
Gelisah
Tidak tenang
Jari gemetar
Mengerutkan dahi

atau

e.
f.
g.
h.

kening
Muka tegang
Tonus otot meningkat
Napas pendek dan cepat
Muka merah

Sumber : http://komprehensifnursing.blogspot.com/2013/05/scoring-kecemasan-menurut-harshamilton.html (Diakses tanggal 22 Februari 2014)


Masing- masing kelompok gejala diberi penilaian angka (skore) antara 04, yang artinya adalah:
a. Nilai 0 = tidak ada gejala / keluhan
b. Nilai 1 = gejala ringan / satu dari gejala yang ada

c. Nilai 2 = gejala sedang / separuh dari gejala yang ada


d. Nilai 3 = gejala berat / lebih dari separuh dari gejala yang ada
e. Nilai 4 = gejala berat sekali / semua dari gejala yang ada
Masing- masing nilai angka (skore) dari 14 kelompok gejala tersebut
dijumlahkan dan dari hasil penjumlahan tersebut dapat diketahui derajat
kecemasan seseorang, yaitu:
Total nilai (skore):
a. < 14

= tidak ada kecemasan

b.

14 20

= kecemasan ringan

c.

21 27

= kecemasan sedang

d.

28 41

= kecemasan berat

e.

42 56

= kecemasan berat sekali / panik

Berdasarkan hasil pengukuran yang telah dilakukan pada pasien, nilai


yang diperoleh adalah 18 yang menginterpretasikan bahwa pasien mengalami
kecemasan tingkat ringan.
9. Tes ADL (Indeks Barthel)
Indeks Barthel menggunakan 10 indikator dalam mengkaji kemampuan
ADL, yaitu sebagai berikut:
Tabel 3.7 Indikator Indeks Barthel
No.
1.

Indikator
Makan (Feeding)

Grade
a. 0 = Tidak mampu
b. 1 = Butuh bantuan
memotong, mengoles

2.

3.

Mandi (Bathing)

mentega dll
c. 2 = Mandiri
a. 0 = Tergantung orang

Perawatan diri (Grooming)

lain
b. 1 = Mandiri
a. 0
=
Membutuhkan
bantuan orang lain
b. 1 = Mandiri dalam
perawatan
rambut,

muka,
gigi

dan

4.

Berpakaian (Dressing)

bercukur
a. 0 = Tergantung orang
lain
b. 1 = Sebagian dibantu
(misal

5.

Buang air kecil (Bowel)

mengancing

baju)
c. 2 = Mandiri
a. 0
=
Inkontinensia
atau

pakai

kateter

dan tidak terkontrol


b. 1
=
Kadang
inkontinensia

6.

Buang air besar (Bladder)

(maksimal, 1x24 jam)


c. 2 = Mandiri
a. 0 = Inkontinensia (tidak
teratur

atau

perlu

pencahar)
b. 1 = Kadang inkontensia
(sekali seminggu)
c. 2
=
Terkendali
7.

Penggunaan toilet

teratur
a. 0 = Tergantung bantuan
orang lain
b. 1 = Membutuhkan
bantuan, tapi dapat
melakukan beberapa

8.

Transfer

hal sndiri
c. 2 = Mandiri
a. 0 = Tidak mampu
b. 1 = Butuh bantuan
untuk bias duduk (2
orang)
c. 2 = Bantuan kecil (1

9.

Mobilitas

orang)
d. 3 = Mandiri
a. 0 = Immobile

(tidak

mampu)
b. 1 = Menggunakan
kursi roda
c. 2 = Berjalan

dengan

bantuan satu orang

d. 3 = Mandiri (meskipun
menggunakan
10.

Naik turun tangga

alat

bantu seperti tongkat)


a. 0 = Tidak mampu
b. 1
=
Membutuhkan
bantuan
c. 2 = Mandiri

Sumber : http://hilalsetyawan.blogspot.com/2012/11/instruments-pengkajian-adldengan_5109.html (Diakses tanggal 22 Februari 2014)


Interpretasi hasil:
20

Mandiri

12-19

Ketergantungan ringan

9-11

Ketergantungan sedang

5-8

Ketergantungan berat

0-4

Ketergantungan total

Berdasarkan hasil pengukuran yang telah dilakukan pada pasien, nilai


yang diperoleh adalah 5 yang menginterpretasikan bahwa pasien mengalami
ketergantungan berat.
10. Pemeriksaan MRI dan CT-scan

BAB

IV

INTERVENSI FISIOTERAPI
A. Diagnosis Fisioterapi
Berdasarkan

assessment

yang

telah

dilakukan,

dapat

ditentukan

diagnosisnya, yaitu Ganggan fungsional ekstremitas sisi sinistra akibat


hemiparese post stroke non hemiregik
B. Problem Fisioterapi
1

Problem primer : Nyeri

2. Problem sekunder : Gangguan kepercayaan diri dan kecemasan,


keterbatasan ROM, stiffness,kontraktur, spastic dan flaccid ankle, knee,
hip, elbow, shoulder joint sisi kiri tubuh pasien.
3. Problem kompleks : Gangguan ADL yang melibatkan fungsi sisi kiri tubuh
pasien seperti dressing, toileting, dan sex.
C. Program Fisioterapi
Setelah diketahui problem fisioterapi maka fisioterapis perlu menentukan
rencana intervensi yang akan diberikan nantinya.
1. Program jangka pendek:
a. Membangun rasa percaya diri dan mengurangi kecemasan pasien
b. Mengurangi nyeri
c. Memperlancar aliran pernafasan
d. Menjaga kondisi/kemampuan sisi kanan tubuh pasien agar tidak
menurun
2. Program jangka panjang :
Mengembalikan kapasitas fisik dan kemampuan fungsional pasien

D. Intervensi Fisioterapi
Tabel 4.1 Intervensi Fisioterapi

No

Problem/Tujuan

Modalitas

.
1.

Fisioterapi
Gangguan

Terpilih
Komunikasi

kepercayaan

diri

Terapeutik

dan kecemasan

2.

Dosis
F : 1 x sehari
I : pasien fokus
T
:
wawancara,
motivasi
T : 5 menit

Gangguan

Breathing

F : 1x sehari

pernapasan

Exercise

I : 6-8 kali repetisi


T : deep breathing
T : 60 detik

IRR

Nyeri

F : 1x sehari
I : 30-40 cm(dengan
IRR 2 lampu)
T : non lominous
T : 5 menit

4.

Tonus

otot

kekuatan

& Elektrical
otot stimulans

menurun
5.

Kelemahan

Manual terapi

6.

Kontraktur

manual
Exercise

7.

Stifnes(kekakuan

Manual

sendi)

exersice(ROM)

F = 1 x / hari
I = rangsang tipe
saraf IIIa
T = Miuscle grup
T = 8 sekon
F = 1 x / hari
I = 8*repitisi
T = strethening
T = 10 menit
F = 3 x / hari
I = 8 kali repitisi
T =streching
T = 10 menit

F = 3 x /Seminggu
I = 8 kali repitisi
T
=
AROMEX,PROMEX.
T = 10 menit

F = 3 x /Seminggu
I = 8 kali repetisi
T = finger to finger,

Gangguan
keseimbangan

finger

to

finger

Gangguan

Bridging

keseimbangan

exersice

merubah posisi tidur

mouth,

to

nose,

finger to therapist
T = 5 menit
F = 3 x / hari
I = posisi fokus
T =Bridging
T = 3 menit

ke duduk - berdiri
10

Gangguan ADL / PNF


Koordinasi:
-

Makan

minum
Berpakaia

minum,
pakaian,

Kamar

mandi
Memelihar

berkamar

mandi berhias.
T = 30 menit

n
-

F = 3 x / hari
I = posisi fokus
T = pola makan

a diri
11

Kesulitan Berjalan

Latihan ADL

F: 2 kali sehari
I: 3 kali repetisi
T:Latihan berjalan
T: 6 menit

Sumber : Data Primer, 2014


E. Evaluasi
Evaluasi adalah proses untuk membandingkan kondisi awal pasien
sebelum diintervensi dan kondisi setelah pasien diintervensi. Evaluasi yang
dilakukan mengacu pada interval tertentu.
F. Dokumentasi

Data-data tentang riwayat medis klien, hasil-hasil pemeriksaan klinis,


program intervensi fisioterapi yang telah dilaksanakan pada klien dan
catatan penting tentang hasil perkembangan terapi, dapat dilihat dan
tercantum pada kartu kontrol pemeriksaan kesehatan klien.
G. Modifikasi
Dalam modifikasi, fisioterapis melakukan modifikasi pada program
intervensinya apabila tidak terdapat peningkatan kondisi yang baik pada
pasien dengan melihat hasil evaluasi.
H. Kemitraan
Pengembangan kemitraan dapat dilakukan dengan profesi kesehatan
lainnya dalam rangka memberikan pelayanan kesehatan sepenuhnya terhadap
kondisi klien. Hal ini dilakukan sesuai dengan kebutuhan klien dan
perkembangan patofisiologinya. Dalam memberikan intervensi klien tersebut,
fisioterapis dapat bermitra dengan dokter spesialis saraf, dokter spesialis
patologi klinik, ahli okupasional, perawat, psikolog, ahli gizi, dan pekerja
social medis lainnya.

DAFTAR PUSTAKA
Chasa. 2014.Hemiplegia (online),
http://www.chasa.org/medical/hemiplegia/, diakses 9 April 2014
Kenyon, Jonathan and Karen Kenyon. 2004. The Physiotherapists Pocket Book.
China : Elsevier.
Kisner, Carolyn dan Lynn Allen Coiby. 1996. Therapeutic Exercise Foundation
and Techniques. Philadelphia : F. A. Davis Company
Tumiwan, Gabriel. 2011. Hemiplegia (online),
http://gabriel-tumiwan.blogspot.com/2011/10/hemiplegia.html, diakses 9
April 2014
Yudisfira, Riki. 2011. Gejala, Penyebab, dan Akibat Stroke (online),
http://epidemiologipenyakit.blogspot.com/2011/10/epidemiologipenyakit-tidak-menular_12.html, diakses 9 April 2014
_____ . 2005. Hemiplegia and Cerebral Palsy(online),
http://www.cerebralpalsysource.com/About_the_Source/index.html,
diakses 9 April 201