Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Makrofag merupakan sel fagosit yang hampir ditemui pada setiap organ diseluruh
tubuh, terutama pada jaringan ikat longgar. Makrofag termasuk mononuklear fagosit system,
makrofag merupakan suatu system yang dulu disebut dengan Retikulo Endotelial System
(RES), ini merupakan istilah bersama untuk selsel yang sangat fagositik yang tersebar luas
diseluruh tubuh terutama pada daerah yang kaya akan pembuluh darah (Efendi, 2011).
Makrofag merupakan salah satu sel yang berperan penting dalam respon imun, baik perperan
fungsional dalam fagositosis maupun perannya sebagai antigen presenting cells (APC)
(Robinovitch, 2012).
Makrofag sebagai efektor sistem imun berperan memusnahkan kuman atau patogen
yang akan merusak tubuh (Harijanto, 2010). Peningkatan aktifitas makrofag, ditandai dengan
perubahan bentuk, perubahan biokimiawi, serta perubahan fungsi dari makrofag, merupakan
salah satu parameter untuk menilai peningkatan sistem imun (Ulya, 2012).
Fagositosis merupakan suatu proses atau cara untuk memakan bakteri atau benda
asing yang dilakukan dimana setelah benda asing atau bakteri melekat pada permukaan
makrofag maka makrofag membentuk sitoplasma dan melekuk kedalam membungkus bakteri
atau benda tersebut. Tonjolan sitoplasma yang saling bertemu itu akan melebur menjadi satu
sehingga benda asing atau bakteri akan tertangkap didalam sebuah vakuol fagostik intra sel.
Lisozom yang merupakan suatu system pencerna intera sel dengan kemampuan memcah
materi yang berasal dari luar maupun dari dalam. Jadi lisozom akan menyatu dengan vakuol
dengan demikian akan memusnahkan bakteri atau benda asing (Efendi, 2011).
Proses fagositosis adalah sebagian dari respons imun non spesifik dan yang pertama
kali menerima paparan dari benda asing. Fagositosis juga berarti dimana sel dalam tubuh
melawan infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme patogen. Sel yang ikut serta dalam
aktivitas tersebut juga dinamakan fagosit. Semuanya merupakan tipe sel darah putih
(leukosit) atau dihasilkan sel darah putih.
1.2 Tujuan
1. Untuk mengetahui dan dapat melakukan uji aktivitas fagositosis sel imun.
2. Untuk mengetahui proses fagositosis makrofag.
BAB II
METODE
2.1 Prinsip Kerja

Penggunaan trypan blue pada fagositosis sel makrofag pada praktikum ini adalah
untuk mengetahui bagaimana mekanisme pertahanan tubuh (makrofag terhadap benda asing)
(Efendi, 2011).
Hemositometer adalah alat yang dipakai untuk menghitung jumlah sel darah dan
terdiri dari kamar hitung, kaca penutupnya dan dua macam pipet. Mutu kamar hitung serta
pipet-pipet harus memenuhi syaratsyarat ketelitian tertentu. Kamar hitung yang sebaiknya
dipakai ialah yang memakai garis bagi improved Neubauer. Memakai kaca penutup yang
khusus diperuntukkan bagi kamar hitung. Kaca penutup itu lebih tebal dari yang biasa dan
sangat datar.
Pipet thoma untuk pengenceran leukosit (pipet leukosit) terdiri dari sebuah pipa
kapiler yang bergaris bagi dan membesar pada salah satu ujung menjadi bola. Dalam bola
itu terdapat sebutir kaca putih. Pada pertengahan pipa kapiler itu ada garis bertanda angka
0,5 dan ada bagian atasnya, yaitu dekat bola, terdapat garis bertanda 1,0. Di atas bola ada
angka lain lagi, yaitu pada garis tanda 11 (Gandasoebrata R., 2013).
2.2 Alat dan Bahan
1. Hemositometer
2. Spuit 1cc
3. Tabung sentrifus dan sentrifus
4. Glove dan masker
5. Cover slip
6. Mencit
7. NaCl fisiologis
8. Makrofag peritoneal
9. Tryphan blue (TB)

2.3 Cara Kerja


Dimasukkan NaCl fisiologis sebanyak 6 ml
Mencit
Digoyang mencit supaya makrofag pada area peritoneal rontok
Diambil dan dikoleksi cairan peritoneal
Disentrifugasi pada 1200rpm selama 10 menit sampai terbentuk pellet
Dicampur cairan yang sudah di sentrifugasi dengan TB (1:4)
Disedot menggunakan pipet thoma sampai batas 0,5
Diteteskan terlebih dulu 2-3 tetes diatas tissue
Diteteskan di ruang antara cover slip dan counting chamber
Diamati dan dihitung sel yang ada pada chamber

Hasil

BAB III
HASIL dan PEMBAHASAN
3.1 Hasil Pengamatan
HASIL (Foto Dokumentasi)

KETERANGAN

Pada perhitungan jumlah Makrofag pada


bagian kiri atas (D1) Counting Chamber
diperoleh perhitungan 36x16 dengan total
576 sel makrofag.
Sedangkan jumlah sel makrofag yang hidup
pada D1 diperoleh perhitungan + 26x16 =
416 sel

Pada perhitungan jumlah Makrofag pada


bagian kanan atas (D2) Counting Chamber
diperoleh perhitungan 37x16 dengan total
592 sel makrofag.
Sedangkan jumlah sel Makrofag yang hidup
pada D2, diperoleh + 28x16= 448

Pada perhitungan jumlah Makrofag pada


bagian kiri bawah (D4) Counting Chamber
diperoleh perhitungan 52x16 dengan total
832 sel makrofag.
Sedangkan jumlah Sel Makrofag yang hidup
pada D4 diperoleh + 46x16= 736 sel

Pada perhitungan jumlah Makrofag pada


bagian kanan bawah (D3) Counting
Chamber diperoleh perhitungan 51x16
dengan total
816 sel makrofag.
Sedangkan jumlah sel makrofag yang hidup
pada D3 adalah + 47x16=752 sel

Pada perhitungan jumlah Makrofag pada


bagian tengah (D5) Counting Chamber
diperoleh perhitungan 18x25 dengan total
450 sel makrofag.
Sedangkan jumlah sel Makrofag yang hidup
pada D5 + 16x25= 400 sel

TOTAL SEL MAKROFAG


3.266 sel
Total Sel Makrofag yang Hidup
2.752 sel (Bening)
Total Sel Makrofag yang Mati
3.226-2.752= 474 sel
*Setelah dilakukan perhitngan jumlah total sel makrofag, maka dilakukan perhitungan
jumlah sel makrofag per ml dan jumlah hidup sel makrofag.
3.1.1 Analisa Hasil
Berdasarkan Hasil dari pengamatan yang kami lakukan pada koleksi dan perhitungan
Sel Makrofag, hasil diperoleh dari koleksi cairan yang berasal dari cairan Intraperitoneal
dimana dilakukan sentrifugasi untuk penjernihan dan penambahan pewarna dengan Tryphan
Blue dengan perbandingan sebenarnya yaitu 5:1 yang digunakan untuk mewarnai Sel
Makrofag yangsudah mati. Pada perhitungan sel makrofag dilakukan perhitungan secara
beralur mulai dari bagian kiri dari kotak satuan pada Counting Chamber sampai akhir yang
nanti akan dikalikan sesuai tempat kotak satuan pada Counting Chamber, hasil yang
diperoleh untuk jumlah total sel makrofag (hidup+mati) diperoleh sebesar 3.226 sel. Pada
total sel makrofag yang hidup diperoleh sebesar + 2.752 sel, maka jumlah Sel Makrofag yang
mati sebesar + 474 sel.
3.2 Pembahasan
3.2.1 Cara Koleksi Makrofag pada Intra Peritoneal (IP)

Pada praktikum uji kemampuan fagositosis makrofag kali ini, perlakuan pertama yang
harus dilakukan adalah menginjeksikan NaCl fisiologis ke dalam ruang peritoneal mencit
sebanyak 6 ml, kemudian di goyang-goyangkan abdomen mencit secara perlahan agar
makrofag luruh dan bercampur dengan NaCl fisiologis. Setelah itu, disedot kembali pada
ruang peritoneal. Jika diperoleh cairan yang keruh berarti cairan tersebut banyak mengandung
makrofag. Setelah cairan ditampung dalam tabung reaksi, cuci dengan di sentrifugasi pada
1200 rpm selama 10 menit pada suhu 4C. Dilkakukannya sentrifugasi bertujuan untuk
pencucian atau pembersihan sel-sel makrofag sebelum dilakukan penambahanan pewarna
Tryphan Blue . Kemudian, endapan diresuspensi kembali sampai makrofag homogen.
Pengambilan koleksi makrofag dari bagian peritoneal dilakukan secara cepat agar Sel
Makrofag tidak masuk kembali kedalam jaringan (Gunarso,2014).
3.2.2 Cara Pengguaan Haemocytometer
Setelah dilakukan sentrifugasi,endapan diresuspensi kembali sampai makrofag
homogen. Setelah itu dihitung menggunakan hemositometer dengan cara menyedot cairan IP
yang sudah dicampur dengan TB (Trypan Blue) (perbandingan 1:4) dengan Pipet Throma.
Pipet throma Dibagi menjadi 2, yaitu pipet throma leukosit dan pipet throma eritrosit. Pipet
throma leukosit, berguna untuk mengencerkan darah dalam pemeriksaan jumlah leukosit dan
eosinofil. Ciri-cirinya antara lain, mempunyai skala dari 0,5; 1; 11 , didalamnya terdapat bola
kaca berwana putih, pengenceran darah yang dilakukan dengan menggunakan pipet ini yaitu
20X untuk hitung leukosit, dan 10X untuk hitung eosinophil. Pipet throma eritrosit berguna
untuk mengencerkan darah dalam pemeriksaan jumlah eritrosit dan trombosit. Ciri-cirinya
antara lain, mempunyai skala dari 0,5; 1; 101, didalamnya terdapat bola kaca beerwarna
merah, pengenceran darah yang dilakukan dengan pipet ini yaitu 200X untuk pemeriksaan
hitung eritrosit maupun trombosit ( Gunarso,2014). Kemudian di teteskan 2-3 tetes ke atas
tisu, hal ini bertujuan agar yang terhitung tidak hanya Trypan Blue saja, namun makrofag
juga terhitung. Azo bersifat asam yang umum dipakai untuk mempelajari sel-sel dari sistem
reticule-endothelial antara lain trypan blue, Trypan blue , trypan red, vital red serta choral red
( Fitri,2012 ). Hemasitometer adalah metode perhitungan secara mikroskopis. Ruang hitung
terdiri dari 9 kotak besar dengan luas 1 mm. Satu kotak besar di tengah, dibagi menjadi 25
kotak sedang dengan panjang 0,05 mm. Satu kotak sedang dibagi lagi menjadi 16 kotak kecil.
Dengan demikian satu kotak besar tersebut berisi 400 kotak kecil. Tebal dari ruang hitung ini
adalah 0,1 mm. Sel bakteri yang tersuspensi akan memenuhi volume ruang hitung tersebut
sehingga jumlah bakteri per satuan volume dapat diketahui (Mikapin, 2012 ). Kemudian,

teteskan diantara counting chamber dengan split cover. Perbandingan Trypthon Blue dan
Pellet makrofag 5:1. Perhitungan dilakukan dengan mikroskop perbesaran 400x, sehingga
dapat menghitung semua sel yang ada di dalam 5 kotak besar. Sel yang hidup tidak berwarna,
sel yang mati berwarna biru. Mulai menghitung sel dengan cara sebagai berikut :
-

Sel yang menempel garis kanan dan bawah dimasukkan dalam perhitungan,
sedangkan yang menempel pada garis kiri dan atas tidak dihitung. Sel yang

menggumpal dihitung sebagai satu sel.


Jumlah sel dalam satu kotak besar sekitar 20-60 atau 100-300 dalam 5 kotak besar.

3.2.3 Perbandingan Tryphan Blue dengan Pellet


Tryphan Blue (TB) merupakan zat pewarna dimana pada percobaan ini digunakan
sebagai pewarna Sel Makrofagyang telah mati, sedangkan Pellet merupakan larutan suspensi
makrofag yang telah dilakukan sentrifugasi sehingga terbentuk koleksi yang bersih. Pada
perhitungan jumlah makrofag, dilakukan penambahan Tryphan Blue pada Pellet sebelum
dilakukan perhitungan dengan menggunakan alat Haemositometer. Pencampuran Tryphan
Blue dengan Pellet dilakukan dengan perbandingan 5:1, atau dengan kata lain 4 bagian dari
pewarna Tryphan Blue dengan 1 bagian dari Cairan Intraperitoneal,namun jika ditotal ada 5
bagian.
3.2.4 Gambar Kamar Hitung
HASIL (Foto Dokumentasi)

KETERANGAN

Pada perhitungan jumlah Makrofag pada


bagian kiri atas (D1) Counting Chamber

Disamping merupakan gambaran dari bagian


kanan atas(D2) Counting Chamber

Disamping merupakan gambaran dari bagian


kiri bawah (D4) Counting Chamber

Disamping merupakan gambaran dari bagian


kanan bawah (D3) Counting Chamber

Disamping merupakan gambaran dari bagian


tengah (D5) Counting Chamber

3.2.5 Rumus Perhitungan Counting Chamber :

Total Sel/ml

Total sel
5

3 . 266
5

1
Faktor Pengenceran

x
1
5

x 104

x 104

= 130,64 x 104 CFU/ml

Jumlah Sel Hidup/ml =

Sel Hidup
5
2.752
5

x
1
5

1
faktor pengenceran
x 104

= 110,04 x 104 CFU/ml

x 104

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Sel Makrofag merupakan sel pada jaringan yang berasal dari sel darah putih yang
disebut monosit. Makrofag berasal dari monosit yang terdapat pada sirkulasi darah, yang
menjadi dewasa dan terdiferensiasi dan kemudian bermigrasi ke jaringan. Makrofaga dapat
ditemukan dalam jumlah besar terutama pada jaringan penghantar, seperti yang terhubung
dengan saluran pencernaan, di dalam paru-paru (di dalam cairan tubuh maupun alveoli), dan
sepanjang pembuluh darah tertentu di dalam hati seperti sel Kupffer, dan pada keseluruhan
limpa tempat sel darah yang rusak didaur keluar tubuh. Pada pengoleksian Sel Makrofag
dapat dilakukan dengan berbagai cara salah satunya dapat berasal dari cairan Intraperitoneal
dengan peluruhan menggunakan NaCl Fisiologis. Pada perhitungan Sel Makrofag dapat

dilakukan dengan menggunakan alat Haemositometer yang sebelumnya Sel Makrofag harus
dilakukan sentrifugasi dan penambahan pewarna Tryphan Blue dengan perbandingan 5:1,
penggunaan Tryphan Blue bertujuan untuk mewarnai sel makrofag yang masih hidup. Pada
pengambilan koleksi Sel Makrofag pada cairan Intraperitoneal dilakukan secara cepat agar
sel Makrofag tidak kembali ke jaringan lagi.
4.2 Saran
Pada praktikum selanjutnya alangkah baiknya pada seluruh praktikan agar lebih aktif
dan bekerja secara cepat pada saat melakukan percobaan,serta adanya kelengkapan
penyediaan alat dan bahan perlu dimaksimalkan kembali agar memperoleh hasil dan
perbandingan yang maksimal.

DAFTAR PUSTAKA
Efendi, Zukesti, Dr. 2011. Daya Fagositosis Makrofag Pada Jaringan Longgar Tubuh.
Bagian

Histologi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara: Medan.

Fitri, Yulia Djaribun. 2012. Laporan Praktek Laboratorium Histoteknik Tissue Processing
dan Pewarnaan. Bogor : IPB
Gandasoebrata. 2013. Penuntun Labiratorium Klinik. Dian Rakyat: Jakarta
Gunarso, Wisnu. 2014. Mikroteknik. Bogor: IPB
Harijanto, P. N. 2010. Malaria epidemiologi, Patogenesiss, Manifestasi Klinis dan
Penanganannya. ECG: Jakarta.
Nugrahalia, Meida. 2008. Penuntun Praktikum Struktur Perkembangan Hewan.

Medan :

FMIPA Universitas Negeri Medan

Mikapin. 2012. Tes Jurnal Praktikum Mikrobiologi Jilid VI (Perhitungan Jumlah Mikroba
Dengan Ruang Hitung). Artikel Teknis Kimia.
Robinovitch, M. 2012. Proffesional and non-Proffesional Phagocytes an Introduction. Trends
In Cell Biology. Vol : 5, P 85-87.
Siahaan, Panal.2011.Pengantar Imunologi.Medan:FMIPA Universitas Negeri Medan
Ulya, A.N. 2012. Efek Peningkatan Aktivitas Fagositosis Makrofag Fraksi KloroformEkstrak
Etanol Kelopak Rosella (Hibiscus ssabdarifa L) secara in vitro. Fakultas Farmasi.
UAD: Yogyakarta.