Anda di halaman 1dari 8

Apakah bayi lahir hidup atu sudah mati saat dilahirkan.

Penentuan apakah seorang anak itu dilahirkan dalam keadaan hidup atau mati, dapat dilakukan
dengan pemeriksaan luar dan pemeriksaan dalam.
Pemeriksaan luar
Pada bayi yang lahir hidup, pada pemeriksaan luar tampak dada bulat seperti tong . biasanya tali
pusat masih melengket ke perut, berkilat dan licin. Kadang-kadang placenta juga masih bersatu
dengan tali pusat. Warna kulit bayi kemerahan.1
Pemeriksaan dalam
Insisi pada autopsi sedikit berbeda dengan orang dewasa. Insisi pada bayi dimulai dari perut agar
terlihat letak sekat rongga dada (diaphragma).
Penentuan apakah seorang anak itu dilahirkan dalam keadaan hidup atau mati, pada dasarnya
adalah sebagai berikut:2
1. Adanya udara di dalam paru-paru.
2. Adanya udara di dalam lambung dan usus,
3. Adanya udara di dalam liang telinga bagian tengah, dan
4. Adanya makanan di dalam lambung.
Paru-paru yang sudah mengembang karena terisi udara pernafasan dapat diketahui dari ciri-ciri
seperti tersebut di bawah ini yaitu:

memenuhi rongga dada sehingga menutupi sebagian kandung jantung,

berwarna merah unggu atau merah muda, dan tidak homogen,

memberikan gambaran mozaik atau seperti marmer karena adanya berbagai tingkatan
aerasi atau pengisian udara dan darah,

tepi paru-paru tumpul,

pada perabaan teraba derik udara (krepitasi), yang bila perabaan ini dilakukan atas
sepotong kecil jaringan paru yang dibenamkan dalam air akan tampak gelembunggelembung udara,

pada pemotongan jaringan paru, bila dipencet terlihat keluar darah bercampur buih,

pemeriksaan mikroskopik (patologi anatomi) yang hanya dilakukan pada keadaan


tertentu saja (meragukan), akan memperlihatkan adanya pengelembungan dari alveoli
yang cukup jelas (seperti sarang tawon).

Untuk menentukan apakah bayi pernah bernafas dapat dilakukan test hydrostatik atau test
apung paru (docimacia pulmonum hydrostatica), akan memberikan hasil yang positif.
Pemeriksaan ini berdasarkan fakta bahwa berat jenis paru-paru yang belum bernafas
berkisar antara 1.040 1.056, sedangkan paru-paru yang sudah bernafas 0,940 akibat
udara pernafasan telah memasuki alveoli. Oleh karena itu paru-paru yang belum bernafas
akan tenggelam sedangkan yang sudah bernafas akan mengapung.

Pada bayi yang telah mengalami pembusukan lanjut, pemeriksaan ini tidak berguna lagi. Bila
masih baru mengalami pembusukan, test apung paru ini masih bisa dipakai, karena udara
pembusukan akan keluar bila jaringan paru-paru ditekan, sedangkan udara pernafasan dalam
alveoli tetap disana, atu hanya sedikit yang keluar.
Cara melakukan test apung paru adalah sebagai berikut:
Keluarkan paru-paru dengan mengangkatnya mulai dari trachea sekalian dengan jantung dan
timus. Kesemuanya ditaruh dalam baskom berisi air. Bila terapung artinya paru-paru telah terisi
udara pernafasan.

Untuk memeriksa lebih jauh, pisahkan paru-paru dari jantung dan timus, dan kedua belah paru
juga dipisahkan. Bila masih terapung, potong masing-masing paru-paru menjadi 12 20
potongan-potongan kecil. Bagian-bagian ini diapungkan lagi. Bagian kecil paru ini ditekan
dipencet dengan jari di bawah air. Bila telah bernafas, gelembung udara akan terlihat dalam air.
Bila masih mengapung, bagian kecil paru-paru ditaruh di antara 2 lapis kertas dan dipijak dengan
berat badan. Bila masih mengapung, itu menunjukkan bayi telah bernafas. Sedangkan udara
pembusukan akan keluar dengan penekanan seperti ini, jadi ia akan tenggelam.
Ada beberapa keadaan dimana test ini diragukan hasilnya.
1. Paru-paru sudah berkembang, namun dalam pemeriksaan ternyata tenggelam.

Penyakit: pada edema paru atau pemadatan karena bronkopneumonia atau lues (sifilis).
Tetapi biasanya jarang melibatkan kedua bagian paru atau seluruh jaringan paru.
Sebagian tetap akan merapung. Lagi pula pemeriksaan ini secara patologi anatomi akan
menegaskan adanya penyakit tersebut.

Atelektase paru. Biasanya jarang terjadi.

1. Paru-paru yang belum berfungsi (bayi belum bernafas), tetapi pada pemeriksaan
mengapung:

Telah terjadi proses pembusukan. Ini mudah dikenal karena proses pembusukan pada
daerah lain juga didapati.

Dimasukkan udara secara artifisial. Susah melakukannya, apalagi oleh orang awam.

Tanda-tanda maserasi merupakan proses pembusukan intrauterin, yang berlangsung dari luar ke
dalam (berlainan dengan proses pembusukan yang berlangsung dari dalam ke luar). Tanda
maserasi baru terlihat setelah 8-10 hari kematian intrauterin. Bila kematian baru terjadi 3 atau 4
hari, hanya terlihat perubahan kulit saja, berupa vesikel atau bula yang berisi cairan kemerahan.
Bila vesikel atau bula memecah akan terlihat kulit bewarna merah kecokelatan. Tanda-tanda lain
adalah epidermis berwarna putih dan keriput, bau tengik, tubuh mengalami perlunakan sehingga

dada terlihat mendatar, sendi lengan dan tungkai lunak, sehingga dapat dilakukan hiperekstensi
otot atau tendon terlepas dari tulang. Pada bayi yang mengalami maserasi, organ-organ tampak
basah tetapi berbau busuk. Bila janin telah lama sekali meninggal dalam kandungan, akan
terbentuk litopedion.
Dada belum mengembang pada bayi lahir mati. Iga masih datar dan diafragma masih setinggi iga
ke 3-4. Sering sukar dinilai bila mayat telah membusuk. Namun pada bayi lahir hidup, dada
sudah mengembang dan diafragma sudah turun sampai sela iga 4-5, terutama pada bayi yang
telah lama hidup.3
Mikroskopik Paru
Setelah paru-paru dikeluarkan dengan teknik tanpa sentuh, dilakukan fiksasi dengan larutan
formalin 10%. Sesudah 12 jam, dibuat irisan-irisan melintang untuk memungkinkan cairan
fiksatif meresap dengan baik ke dalam paru. Setelah difiksasi selama 48 jam, kemudian dibuat
sediaan histopatologik. Biasaya digunakan pewarnaan HE dan bila paru telah membusuk
digunakan pewarnaan Gomori atau Ladewig.3
Tanda khas untuk paru bayi yang belum bernapas adalah adanya tonjolan, yang berbentuk seperti
bantal yang kemudian akan bertambah tinggi dengan dasar menipis sehingga tampak seperti
gada. Pada permukaan ujung bebas tonjolan tampak kapiler yang berisi banyak darah. Pada pariu
bayi belum bernapas yang sudah membusuk, dengan pewarnaan Gomori atau Ladewig, tampak
serabut-serabut retikulin pada permukaan dinding alveoli berkelok-kelok seperti rambut yang
keriting, sedangkan pada tonjolan berjalan di bawah kapiler sejajar dengan permukaan projection
dan membentuk gelung-gelung terbuka.3
Pada pemeriksaan mikroskopik paru pada bayi lahir hidup, paru sudah mengisi rongga dada dan
menutupi sebagian kandung jantung. Paru berwarna merah muda tidak merata dengan pleura
yang tegang (taut pleura), dan menunjukkan gambaran mozaik karena alveoli sudah terisi udara,
apeks paru kanan paling dulu atau jelas terisi karena halangan paling minimal. Gambaran
marmer terjadi akibat pembuluh darah interstisial berisi darah. Konsistensi seperti spons, teraba
derik udara. Pada pengirisan paru dalam air terlihat jelas keluarnya gelembung udara dan darah.2

Adanya udara dalam lambung dan usus merupakan petunjuk bahwa si-anak menelan udara
setelah ia dilahirkan hidup, dengan demikian nilai dari pemeriksaan udara di dalam lambung dan
usus ini sekedar memperkuat saja. Seperti halnya pada pemeriksaan untuk menentukan adanya
udara dalam paru-paru, maka pemeriksaan yang serupa terhadap lambung dan usus baru dapat
dilakukan bila keadaan si-anak masih segar dan belum mengalami proses pembusukan serta tidak
mengalami manipulasi seperti pemberian pernafasan buatan. Caranya adalah dengan mengikat
bagian bawah esofagus di bawah thyroid proksimal dari cardia dan colon, kemudian dilepaskan
dari organ lainnya. Bila yang terapung adalah lambung, hal ini tidak berarti apa-apa. Bila usus
yang terapung berarti bayi telah pernah menelan udara dan ini berarti bayi telah pernah bernafas.
Adanya udara di dalam liang telinga bagian tengah hanya dapat terjadi bila si-anak menelan
udara dan udara tersebut melalui tuba eustachii masuk ke dalam liang bagian tengah. Untuk
dapat mengetahui keadaan tersebut pembukaan liang telinga bagian tengah harus dilakukan di
dalam air; tentunya baru dilakukan pada mayat yang masih segar.
Adanya makanan di dalam lambung dari seorang anak yang baru dilahirkan tentunya baru dapat
terjadi pada anak yang dilahirkan hidup dan diberi makan oleh orang lain, dan makanan tidak
mungkin akan dapat masuk ke dalam lambung bila tidak disertai dengan aktivitas atau gerakan
menelan.
Adanya udara di dalam paru-paru, lambung dan usus serta di dalam liang telinga bagian tengah
merupakan petujuk pasti bahwa si-anak yang baru dilahirkan tersebut memang dilahirkan dalam
keadaan hidup. Sedangkan adanya makanan di dalam lambung lebih mengarahkan kepada
kenyataan bahwa si-anak sudah cukup lama dalam keadaan hidup; hal mana bila keadaannya
memang demikian maka si-ibu yang menghilangkan nyawa anak tersebut dapat dikenakan
hukuman yang lebih berat dari ancaman hukuman seperti yang tertera pada pasal 341 dan 342.
Apabila bayi dilahirkan dalam keadaan mati, ada 2 kemungkinan yang harus diperhatikan, yaitu:
1. Still birth, artinya dalam kandungan masih hidup, waktu dilahirkan sudah mati. Ini
mungkin disebabkan perjalanan kelahiran yang lama, atau terjadi accidental strangulasi
dimana tali pusat melilit leher bayi waktu dilahirkan.

2. Dead born child, di sini bayi memang sudah mati dalam kandungan. Bila kematian
dalam kandungan telah lebih dari 2 3 hari akan terjadi maserasi pada bayi. Ini terlihat
dari tanda-tanda:

Menentukan umur bila bayi lahir hidup


Apabila bayi tersebut sudah pernah bernafas atau lahir hidup, untuk mengetahui sudah berapa
lama bayi tersebut hidup sebelum dibunuh dengan memperhatikan kulit, kepala dan umbilicus
mayat tersebut.
Pada bayi yang baru lahir, warna kulit merah terang. Adanya vernix caseosa pada ketiak, sela
paha dan leher. Vernix akan menghilang setelah dua hari lalu kulit menjadi gelap dan menjadi
normal kembali.
Setelah 1 minggu, kulit akan mengelupas, terutama di bagian abdomen kulit akan mengelupas
setelah 3 hari. Caput succedaneum akan menghilang setelah 24 jam sampai 2 3 hari setelah
dilahirkan. Setelah 2 jam kelahiran, terdapat bekuan darah pada ujung pemotongan tali pusat.
Dua belas jam kemudian akan mengering. Setelah 36 48 jam terbentuk cincin peradangan pada
pangkal tali pusat. Tali pusat mengering setelah 2 3 hari. Enam sampai tujuh hari tali pusat
akan lepas membentuk sikatriks. Tali pusat akan sembuh sempurna lebih kurang 15 hari.1
Feses bayi juga dapat membantu menentukan sudah berapa lama bayi hidup. Feses bayi yang
baru lahir disebut meconium, biasa dikeluarkan dari usus setelah 24 28 jam, tetapi kadang kala
bisa lebih lama.1
Tempat Kejadian Perkara
Tempat kejadian perkara (TKP) adalah tempat ditemukannya benda bukti dan/atau tempat
terjadinya peristiwa kejahatan atau yang diduga kejahatan menurut suatu kesaksian. Disini hanya
akan dibicarakan TKP yang berhubungan dengan manusia sebagai korban, seperti kasus
penganiayaan, pembunuhan dan kasus kematian mendadak (dengan kecurigaan).

Diperlukan atau tidaknya kehadiran dokter di TKP oleh penyidik sangat bergantung oleh
kasusnya , yang pertimbangannya dapat dilihat dari sudut korbannya, tempat kejadian,
kejadiannya atau tersangka pelakunya.
Prinsip pemeriksaan kedokteran forensik di TKP , yaitu menjaga agar tidak mengubah keadaan
TKP. Selanjutnya dokter dapat memberikan pendapatnya dan mendiskusikannya dengan
penyidik untuk memperkirakan terjadinya peristiwa dan merencanakan langkah penyelidikan
lebih lanjut.
Bila korban telah mati, tugas dokter adalah menegakkan diagnosis kematian ,memperkirakan
saat kematian, memperkirakan sebab kematian, memperkirakan cara kematian, menemukan dan
mengamankan benda bukti biologis dan medis.

Pembahasan Kasus
Pada kasus ini, yang dilakukan adalah uji apung paru untuk mengetahui apakan bayi lahir hidup
atau mati. Pada uji apung paru, setelah diperiksa hasilnya adalah positif, yang menandakan
bahwa bayi telah bernapas spontan setelah lahir. Hasil ini akan menunjukkan kasus ke pasal
KUHP yang lebih sesuai untuk pelaku.
Pada kasus ini , mayat bayi ditemukan di tempat sampah dengan dibungkus oleh plastik hitam.
Tempat kejadian perkara disini adalah tempat sampah. Di TKP ini merupakan tempat yang biasa
menjadi lokasi pembuangan warga sekitar. Di lokasi tkp, ditemukan mayat bayi yang terbungkus
dengan plastik hitam yang diletakkan dengan posisi kepala mengarah ke jalan dan posisi kaki
mengarah ke tempat sampah. Pada lokasi juga ditemukan dan diduga bekas darah berwarna
merah yang berbentuk cair dan berbau amis berukuran 5 cm x 2 cm sehingga diperkirakan
bercak tersebut jatuh dengan kecepatan. Benda bukti yang berupa bercak kering di atas dasar
keras harus dikerok dan dimasukkan ke dalam amplop atau kantong plastik. Dalam hal ini,
penemuan bercak darah perlu ditelusuri lebih lanjut seperti 1.apakah benar bercak tersebut
merupakan bercak darah? 2. Apakah bercak darah tersebut merupakan darah manusia? 3. Jika
benar darah manusia, perlu ditentukan golongan darahnya. Selanjutnya ,mayat dan benda bukti

biologis/medis, termasuk obat atau racun, dikirimkan ke Instalasi Kedokteran Forensik atau ke
Rumah Sakit Umum setempat untuk pemeriksaan lanjutan.

1. Amir A. Infanticide. Dalam: Kapita Selekta Kedokteran Forensik. Medan: Fakultas


2.

Kedokteran Universitas Sumatera Utara; 1995.h.143 55.


Idries A.M. Infanticide. Dalam: Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta: Penerbit
Binarupa Aksara ; 1997.h.256 69.

3. Hertian S. Pembunuhan anak sendiri. Dalam: Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta:

Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 1997.h.165-76.