Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PRAKTIKUM

PEMULIAAN TANAMAN
ACARA II
KORELASI ANTARA DUA SIFAT PADA TANAMAN

Semester:
Genap 2016

Oleh:
Muhammad Sofyan Ardiansyah
A1L014139/ 6

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
LABORATORIUM PEMULIAAN TANAMAN DAN BIOTEKNOLOGI
PURWOKERTO
2016

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2013, terjadi peningkatan laju
pertumbuhan penduduk di Indonesia dengan rata-rata 1,49% per tahunnya.
Namun peningkatan jumlah penduduk tidak diiringi dengan peningkatan produksi
pangan sehingga kebutuhan pangan tidak tercukupi. Maka dari itu, banyak
dilakukan usaha-usaha untuk meningkatkan produksi pangan.
Keberhasilan usaha peningkatan produksi pangan salah satunya dipengaruhi
oleh pengetahuan yang dimiliki tentang tanaman. Tanaman tersusun dari berbagai
macam sifat. Produksi yang tinggi disebabkan oleh terintegrasinya sifat-sifat
unggul yang menyusun tanaman. Penting untuk mengetahui sifat-sifat yang
dimiliki oleh tanaman, lalu dicari hubungannya untuk menentukan sifat-sifat yang
akan dikembangkan.
Tujuan pemuliaan tanaman adalah untuk mendapatkan tanaman yang lebih
baik. Pengetahuan yang cukup mengenai tanaman yang bersangkutan sangat
diperlukan. Sifat tanaman baik morfologis, anatomis maupun fisiologis perlu
dipelajari. Kenyataan menunjukkan bahwa diantara sifat-sifat yang ada pada
tanaman sering kali ada hubungannya satu dengan yang lain. Adanya hubungan
diantara sifat- sifat tanaman ini sangat membantu usaha-usaha pemuliaan tanaman
khususnya dalam pekerjaan seleksi. Agar langkah-langkah yang ditempuh dalam
rangka usaha pemulian tanaman tepat, maka derajat hubungan yang ada diantara

sifat-sifat perlu diketahui. Untuk itu, sangat diperlukan adanya data-data akurat.
Pada kegiatan seleksi, korelasi antar karakter tanaman memiliki arti yang sangat
penting. Seleksi akan efektif bila terdapat hubungan erat anatar karakter penduga
dengan karakter yang dituju dalam satu program seleksi, praktiknya biasanya
digunakan karakter morfologis.
Korelasi yang sempurna jarang terjadi pada sifat-sifat kuantitatif, karena
lingkungan sangat berpengaruh terhadap sifat-sifat tersebut. Contohnya, hubungan
antara tinggi tanaman dengan bobot tanaman. Tanaman yang tinggi belum tentu
bobotnya akan berat, sebaliknya tanaman yang pendek belum tentu bobotnya
rendah.
Koefisien korelasi dapat digunakan untuk mengetahui tingkat kemiripan
atau resemblance dalam variabilitas antara tanaman induk dengan keturunannya,
misal sifat daya hasil tinggi, jumlah anakan dan sebagainya. Analisi korelasi dari
sifat-sifat tanaman tersebut akan dapat diketahui tingkat kemiripan antara tetua
dan keturunannya.

B. Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah
1. Mengetahui derajat hubungan antara dua sifat tanaman
2. Mengetahui bentuk hubungan yang ada diantara dua sifat yang
bersangkutan.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Koefisien korelasi digunakan untuk mengetahui tingkat kemiripan dalam


variabilitas antar tanaman induk dengan keturunannya. Fungsi uji korelasi
menurut Soepomo (1968) adalah untuk mengkaji hubungan satu sifat dengan sifat
yang lainnya.
Korelasi merupakan salah satu teknik statistik yang digunakan untuk
mencari hubungan antara dua variabel atau lebih, yang sifatnya kuantitatif
(Yitnosumarto, 1994). Pada pemuliaan tanaman, koefisien korelasi digunakan
untuk mengetahui tingkat kemiripan dalam variabilitas antar tanaman induk
dengan keturunannya.
Regresi linier, nilai-nilai dari beberapa populasi itu ditentukan oleh nilai x
tertentu. Peubah y itu disebut peubah tidak bebas, karena setiap y bergantung pada
populasi yang diambil contohnya, peubah x disebut peubah bebas atau argumen.
Adapun

persamaan regresi sendiri dirumuskan sebagai berikut (Steel

1991):
Y = a + bx, dimana :
Y

: peubah tak bebas

: peubah bebas

: konstanta

: koefisien regresi

et.al.,

Korelasi antar sifat mengukur derajat keeratan hubungan antara sifat-sifat.


Pendugaan sifat-sifat korelasi genotip dan fenotip berguna dalam perencanaan dan
evaluasi di dalam program-program pemuliaan tanaman. Korelasi antar sifat
penting dan yang kurang penting dapat mengungkapkan bahwa beberapa dari sifat
yang penting berguna sebagai indikator bagi satu atau beberapa sifat lain yang
kurang penting (Johnson et.al., 2006).
Korelasi antar sifat tanaman yang biasanya diukur dengan koefisien korelasi
sangat penting dalam pemuliaan tanaman karena koefisien itu mengukur derajat
hubungan antara dua sifat atau lebih, baik dari segi genetik maupun nongenetik.
Penyebab timbulnya korelasi adalah faktor genetik maupun faktor lingkungan.
Sebab genetis timbulnya korelasi antar sifat ialah peristiwa pleitropi dan linkage
disequilibrium (Soemartono et.al., 1992).
Daya hasil dipengaruhi oleh beberapa komponen yang saling berasosiasi,
sehingga seleksi terhadap hasil harus mempertimbangkan sifat-sifat yang
berkorelasi dengannya. Pendugaan korelasi genotipik dan fenotipik antarsifat
berguna untuk perencanaan dan evaluasi program pemuliaan. Pada umumnya nilai
korelasi genotipik lebih tinggi dibandingkan nilai korelasi fenotipik. Hal ini
menunjukkan walaupun korelasi genotipik besar namun bila dipengaruhi oleh
lingkungan akan berubah. Informasi tentang adanya korelasi antarsifat dapat
digunakan untuk memahami hasil yang akan dicapai dan memberikan prosedur
seleksi yang tepat (Nugrahaeni, 2001).

Sifat-sifat koefisien korelasi antara lain nilai koefisien korelasi berkisar dari
-1 sampai dengan 1 atau -1 r 1. Bila nilai r = 0 atau mendekati 0, berarti antara
dua peubah yang diobservasi (misal X atau Y) tidak terdapat hubungan atau
hubungannya sangat lemah. Bila r = -1 atau mendekati -1, berarti X dan Y sangat
kuat tetapi hubungannya bersifat negatif (berlawanan) dan bila r = 1 atau
mendekati 1 berarti hubungan X dan Y juga besar dan hubungannya bersifat
positif (Haryono, 2001).
Korelasi antara dua karakter dapat dibagi dalam Korelasi Fenotipik dan
Korelasi Genotipik. Korelasi Fenotipik dapat dipisahkan menjadi korelasi
Genotipik dan Korelasi Lingkungan. Oleh karena ini, Korelasi Fenotipik ini
selanjutnya diharapkan dapat menunjukkan korelasi genotipik yang lebih berati
dalam Program Pemuliaan Tanaman. Korelasi ini dapat diartikan sebagai korelasi
nilai Pemuliaan dari dua karakter yang diamati. Sedangkan korelasi lingkungan
merupakan sisaan galat yang juga memberikan konstribusi terhadap Fenotip
(Nasir,2001).
Saat mengolah data, peneliti akan selalu berkepentingan menentukan
hubungan antara dua atau lebih peubah. Hubungan tersebut mungkin renggang
atau erat. Pada satu pihak dua peubah mungkin bebas antara satu sama lain, dalam
keadaan seperti itu korelasinya nol. Pada pihak lain kedua peubah bergantung
sepenuhnya pada yang lain, maka harga mutlak korelasinya adalah satu
(Sembiring, 1995).

Menurut Prajitno (1981) koefisien korelasi harus memenuhi syarat antara


lain, koefisen korelasi harus besar apabila kadar hubungan tinggi atau kuat, dan
harus kecil apabila kadar hubungan kecil atau lemah. Koefisien korelasi harus
bebas dari satuan yang digunakan untuk mengukur variabel-variabel baik
prediktor maupun respon.
Padi (Oryza sativa L.) merupakan salah satu yang paling penting tanaman
pangan di dunia dan makanan lebih dari setengah dari global yang populasi.
Kurangnya investasi yang cukup untuk meningkatkan varietas dan hasil adalah
salah satu faktor yang telah menunda peningkatan produksi beras. Untuk
mengalahkan tantangan ini dan memenuhi permintaan dengan cara ini tanaman,
baik klasik dan molekuler metode pemuliaan harus digunakan. Salah satu
kerugian dari pemuliaan tanaman klasik adalah transfer gen yang tidak diinginkan
bersama-sama dengan yang diinginkan.

III.

METODE PRAKTIKUM

A. Bahan dan Alat


Bahan yang digunakan dalam praktikum Korelasi Dua Sifat Pada Tanaman
adalah padi dengan varietas Ciherang. Alat yang digunakan dalam praktikum
Korelasi Dua Sifat Pada Tanaman antara lain adalah penggaris, timbangan, dan
counter.
B. Prosedur Kerja
1. Bahan-bahan dan sifat yang hendak dicari koefisien korelasinya diamati dengan
cara diukur, dihitung, ditimbang, dan sebagainya.
2. Semua hasil pengamatan, pengukuran, penimbangan dan perhitungan ditulis
dengan baik pada table yang telah disiapkan sebelumnya.
3. Data hasil pengamatan dimasukkan dalam table frekuensi.

IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Tabel 1. Panjang Malai dan Jumlah Biji


No
X

.
1
2
3
4
5

33
37
34
36
40
180

104
96
90
104
140
534
106,

36
8
Ttabel= 3,182

xi-

-3
1
2
0
4
0

x
(xi- )2

9
1
4
0
16
30

yi-

-2,8
-10,8
-16,8
-2,8
33,2
0

y
(yi- )2

xy

y
x
(xi- ).( yi- )

7,84
116,64
282,24
7,84
1102,24
1516,8

3432
3552
3060
3744
5600
19388

8,4
-10,8
33,6
0
132,8
164

X= panjang malai

y= jumlah biji

Perhitungan
y i

x i = 41

a.)Ragam x = Sx2

x i 2

= 7,5

b.)Ragam y = Sy2

y i 2
Sxy

=
379,2d.)r

Sx 2 Sy 2
x =

e.)r2 = 0,59
g.)t =

r
Sr

c.)Sxy

= 0,77

f.)Sr = 0,37
= 2,08

Kesimpulan : t hitung < t tabel, maka koefisien korelasi tidak berbeda nyata

Tabel 2. Jumlah Biji dan Berat Biji


No
X

.
1
2
3
4
5

104
96
90
104
140
534

1,65
1,9
1,95
1,7
2,2
9,4

106,8

1,88

xi-

Ttabel= 3,182

-2,8
-10,8
-16,8
-2,8
33,2
0

x
(xi- )2

yi-

7,84
116,64
282,24
7,84
1102,24
1516,8

-0,23
0,02
0,07
-0,18
0,32
0

X= jumlah biji

y
(yi- )2

xy

y
x
(xi- ).( yi- )

0,053
0,0004
0,0005
0,032
0,102
0,1879

171,6
182,4
175,5
176,8
308
1014,3

0,644
-0,216
-1,176
0,504
10,624
10,38

y= berat biji

Perhitungan :

a.)Ragam x = Sx2

b.)Ragam y = Sy

e.)r2 = 0,378
g.)t =

r
Sr

x i 2

= 379,2

y i 2

= 0,047

x =

c.)Sxy

y i

x i = 41

Sxy

d.)r
Sx 2 Sy 2

= 0,615

f.)Sr = 0,454
= 1,32

Kesimpulan : t hitung < t tabel, maka koefisien korelasi tidak berbeda nyata

Tabel 3. Panjang Malai dan Berat Biji


No
.
1
2
3
4
5

33
37
34
36
40
180

1,65
1,9
1,95
1,7
2,2
9,4

36

1,88

xi-

-3
1
-2
0
4
0

Ttabel= 3,182

x
(xi- )2

9
1
4
0
16
30

yi-

-0,23
0,02
0,07
-0,18
0,32
0

y
(yi- )2

xy

y
x
(xi- ).( yi- )

0,053
0,0004
0,0005
0,032
0,102
0,1879

54,45
70,3
66,3
61,2
88
340,25

0,69
0,02
-0,14
0
1,28
1,85

X= panjang malai

y= berat biji

Perhitungan :
y i

x i =0, 462

a.)Ragam x = Sx2

x i 2

= 7,5

b.)Ragam y = Sy2

y i 2
Sxy

= 0,047d.)r Sx 2 Sy 2

x =

e.)r2 = 0,603
g.)t =

r
Sr

c.)Sxy

= 0,777

f.)Sr = 0,363
= 2,140

Kesimpulan : t hitung < t tabel, maka koefisien korelasi tidak berbeda nyata

B. Pembahasan

Korelasi merupakan teknik analisis yang termasuk dalam salah satu teknik
pengukuran asosiasi / hubungan (measures of association). Pengukuran asosiasi
merupakan istilah umum yang mengacu pada sekelompok teknik dalam statistik
bivariat yang digunakan untuk mengukur kekuatan hubungan antara dua variabel.
Diantara sekian banyak teknik-teknik pengukuran asosiasi, terdapat dua teknik
korelasi yang sangat populer sampai sekarang, yaitu Korelasi Pearson Product
Moment dan Korelasi Rank Spearman. Selain kedua teknik tersebut, terdapat pula
teknik-teknik korelasi lain, seperti Kendal, Chi-Square, Phi Coefficient,GoodmanKruskal, Somer, dan Wilson (Murwani, 2007)
Korelasi adalah suatu ukuran derajat bervariasinya kedua peubah secara
bersama-sama atau ukuran keeratan hubungan antara kedua peubah tersebut
(Steel, 1991). Sedangkan menurut Allard (1989), korelasi merupakan suatu kata
yang dapat menggantikan kata hubungan. Yaitu hubungan antara 2 faktor (X
dan Y). Tujuan Analisis korelasi dalam pemuliaan tanaman adalah untuk
mengetahui keeratan hubungan antara dua ciri atau lebih (Nasoetion dan Barizi,
1976). Analisis korelasi yang hanya mencakup dua variabel atau ciri-ciri disebut
analisis korelasi linier sederhana (simple linear correlation), sedangkan yang
mencakup lebih dari dua variabel disebut analisis korelasi berganda atau multiple
linear correlation.
Korelasi adalah istilah statistik yang menyatakan derajat hubungan linear
antara dua variabel atau lebih, (Usman,2006:197). Hubungan antara dua variabel

di dalam teknik korelasi bukanlah dalam arti hubungan sebab akibat (timbal
balik), melainkan hanya merupakan hubungan searah saja. Misalnya tinggi
tanaman dengan bobot tanaman . Sehingga dalam korelasi dikenal penyebab dan
akibatnya. Data penyebab atau yang mempengaruhi disebut variabel bebas,
disebut juga dengan independen yang biasa dilambangkan dengan huruf X atau X1
X2 X3,... Xn. Sedangkan data akibat atau yang dipengaruhi disebut variabel terikat,
disebut

juga

dependen

yang

biasa

dilambangkan

dengan

huruf

Y,

(Usman,2006:197)
Koefisien korelasi digunakan untuk mengetahui tingkat kemiripan dalam
variabilitas antar tanaman induk dengan keturunannya.

Fungsi uji korelasi

menurut Soepomo (1968) adalah untuk mengkaji hubungan satu sifat dengan sifat
yang lainnya. Ada dua macam koefisien korelasi, yaitu :
1.Koefisien korelasi positive
Apabila derajat hubungan antara dua sifat tanaman menunjukan hal yang
nyata. Artinya bertambahnya nilai sifat yang satu akan bertambah pula sifat yang
lain. Hal itu juga berlaku sebaliknya, yaitu berkurangnya sifat yang satu akan
berkurang pula sifat yang lain.
Contoh : Hubungan antara panjang malai dengan jumlah bulir. Padi yang
mempunyai malai yang panjang tentu jumlah bulirnya akan banyak. Sebaliknya
Padi yang mempunyai malai yang pendek akan mempunyai jumlah bulirnya akan
sedikit.

2.Koefisien korelasi negative


Apabila derajat hubungan antara dua sifat tanaman menunjukan hal yang
berlawanan. Artinya bertambahnya nilai sifat yang satu akan diikuti berkurangnya
nilai sifat yang lain.
Contoh : Hubungan antara Tinggi tanaman dengan bobot tanaman. Tanaman yang
tinggi akan mempunyai bobot yang rendah.
Ditinjau dari sifat-sifat yang berhubungan, korelasi dibedakan menjadi tiga,
yaitu :
1.Korelasi sederhana
Korelasi sederhana terjadi apabila satu sifat dipengaruhi oleh satu sifat
yang lain, misalnya panjang malai dengan banyaknya gabah per malai pada
tanaman padi. Korelasi sederhana digunakan untuk menguji hipotesis hubungan
antara dua variabel, untuk melihat kuat lemahnya hubungan dan arah hubungan
antara dua variabel.
2.Korelasi partial
Korelasi partial terjadi apabila dua sifat dipengaruhi oleh sifat-sifat yang
lain. Misalnya tingginya produksi dan tingginya sterilitas biji dipengaruhi oleh
bobot malai dan serangan penyakit. Korelasi partial digunakan untuk mengetahui
derajat hubungan antara suatu variable bebas dengan satu veriabel terikat, dengan
cara mengkondisikan variable bebas lainnya dibuat tetap/konstan/ dikendalikan
dalam analisis multiple correlation.

3.Korelasi berganda
Korelasi berganda terjadi apabila satu sifat dipengaruhi oleh banyak sifat
yang lain. Korelasi ganda (multiple correlation) adalah korelasi antara dua atau
lebih variable bebas secara bersama-sama dengan suatu variable terikat. Angka
yang menunjukkan arah dan besar kuatnya hubungan antara dua atau lebih
variable bebas dengan satu variable terikat disebut koefisien korelasi ganda, dan
biasa disimbolkan R.
Contoh korelasi antara dua sifat pada tanaman adalah hubungan antara
panjang malai dengan jumlah bulir. Padi yang mempunyai malai yang panjang
tentu jumlah bulirnya akan banyak. Sebaliknya Padi yang mempunyai malai yang
pendek akan mempunyai jumlah bulirnya akan sedikit.
Chatterjee dan Bahattacharyya (1986) mengatakan bahwa analisa korelasi
bertujuan untuk mengukur "seberapa kuat" atau "derajat kedekatan" suatu relasi
yang terjadi antar variabel. Analisa regresi ingin mengetahui pola relasi dalam
bentuk persamaan regresi. Analisa korelasi ingin mengetahui kekuatan hubungan
tersebut dalam koefisien korelasinya. Adanya hubungan diantara sifat-sifat
tanaman ini sangat membantu usaha-usaha pemuliaan tanaman khususnya dalam
pekerjaan seleksi.
Sifat sifat yang diamati pada praktikum korelasi antara dua sifat
merupakan sifat sifat kuantitatif. Sifat kuantitatif merupakan sifat yang dapat
terukur, sifat

ini

memiliki

ciri

keragamannya

sempit

dengan

tingkat

heritabilitasnya yang kurang dan sifat kuantitatif ekspresinya dipengaruhi oleh


banyak gen. Adanya hubungan ini sangat membantu dalam kegiatan seleksi dalam

rangka kegiatan pemuliaan tanaman. Derajat hubungan antar sifat sering disebut
koefisien korelasi. Selain untuk mengetahui hubungan antar sifat koefisien
korelasi juga dapat pula digunakan untuk mengetahui tingkat kemiripan
(resemblance) dalam variabilitas antara tanaman induk dengan keturunannya,
misalnya daya hasil tinggi, jumlah anakan dan sebagainnya. Dari hasil analisis
korelasi dapat diketahui tingkat kemiripan antara tetua atau tidak dari
keterunannya.
Berdasarkan hasil praktikum pada perhitungan panjang malai dengan jumlah
biji didapat t hitung (2,08) < t tabel (3,182) . Hal ini berarti koefisien korelasi
tersebut tidak berbeda nyata atau nonsignifikan pada varietas padi yang diamati.
Artinya antara panjang malai dan jumlah biji tidak ada hubungan. Bertambah
panjangnya malai tidak akan diikuti dengan bertambahnya jumlah biji. Jenis
korelasi ini termasuk dalam jenis korelasi sederhana karena satu sifat dipengaruhi
oleh satu sifat yang lain, misalnya panjang malai dengan banyaknya gabah per
malai pada tanaman padi. Hal ini sesuai dengan literatur yang di kemukakan oleh
Gomez dan Gomez (2002) yang menyatakan bahwa bila nilai korelasi antar dua
karakter yaitu panjang malai dan jumlah bulir semakin mendekati -1 atau +1,
maka dua karakter tersebut semakin erat hubungannya. Pada penelitian ini,
hubungan antar karakter diatas tidak ada yang mendekati -1 ataupun +1 dengan
nilai korelasi yang terdapat pada hubungan antar karakter panjang malai dengan
jumlah bulir/malai (r = 0.377)
Berdasarkan hubungan jumlah biji dengan berat biji didapat t hitung (1,32)
< t tabel (3,182) maka koefisien korelasinya tidak berbeda nyata. Ini berarti tidak

adanya hubungan antara jumlah biji (X) dengan berat biji (Y). Sifat jumlah biji
dengan berat biji tidak saling mempengaruhi. Bertambahnya jumlah biji tidak
akan diikuti dengan bertambahnya berat biji. Jenis korelasi ini termasuk dalam
jenis korelasi sederhana karena satu sifat dipengaruhi oleh satu sifat yang lain,
misalnya jumlah biji dengan berat biji pada tanaman padi.
Berdasarkan hubungan panjang malai dengan berat biji didapat t hitung
(2,140) < t tabel (3,182) maka koefisien korelasinya menunjukkan tidak berbeda
nyata. Ini berarti tidak adanya hubungan antara panjang malai (X) dengan berat
biji (Y). Sifat Panjang malai dengan berat biji tidak saling mempengaruhi.
Bertambahnya Panjangnya malai tidak akan diikuti dengan bertambahnya berat
biji. Jenis korelasi ini termasuk dalam jenis korelasi sederhana karena satu sifat
dipengaruhi oleh satu sifat yang lain, misalnya panjang malai dengan bobot biji
pada tanaman padi.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Korelasi adalah suatu ukuran derajat bervariasinya kedua peubah secara


bersama-sama atau ukuran keeratan hubungan antara kedua peubah
tersebut
2. Analisis korelasi bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dua
variabel atau lebih
3. Besarnya korelasi antar dua sifat pada tanaman bervariasi, yaitu antara -1
sampai +1
4. Berdasarkan hasil praktikum pada perhitungan Tabel 1. Korelasi panjang
malai dengan jumlah biji didapat t hitung (2,08) < t tabel (3,182). Artinya
antara pajang malai dan jumlah biji tidak ada hubungan.
5. Berdasarkan hasil praktikum pada perhitungan Tabel 2. Korelasi jumlah
biji dengan berat biji didapat t hitung (1,32) < t tabel (3,18). Artinya antara
jumlah biji dan berat biji tidak ada hubungan.
6. Berdasarkan hasil praktikum pada perhitungan Tabel 3. Korelasi panjang
malai dengan berat biji didapat t hitung (2,140) < t tabel (3,182). Artinya
antara panjang malai dan berat biji tidak ada hubungan

B. Saran
Praktikan harus teliti dan cermat dalam melakukan perhitungan agar tidak
terjadi kesalahan

DAFTAR PUSTAKA

Allard, R.W. 1989. Pemuliaan Tanaman. Bina Aksara. Jakarta.


Chatterjee, S.D and B. Bhattacharyya. 1986. Selection Index in Indian Mustard.
Indian J. Agr. Sci. 56 (3): 208-209.
Gomez, K.A. dan A.A. Gomez. 2002. Prosedur Statistik untuk Penelitia
Pertanian.Jakarta: UI Press.
Haryono, S. K. 2001. Heritabilitas dan korelasi genotipe jemponan indeks panen
dan indeks beberapa nomor contoh kecipir. Zuriat 22 (1):38-47.
Johnson, H. W., H. F. Robinson dan R. C. Comstock. 2006. Genotipe and
Phenotipic Correlation in Soybean and Their Aplication in Selection.
Agriculture Journal 160:447-483.
Murwani. 2007. Analisis Korelasi dan Regresi. Gramedia: Jakarta
Nasoetion, Andi Hakim dan Barizi. 1976. Metode Statistika. Gramedia, Jakarta.
Nasir, M. 2001. Pengantar Pemuliaan Tanaman. Jakarta : Departemen Pendidikan
Nasional.
Nugrahaeni, N. 2001. Korelasi dan keheritabilitas beberapa sifat kuantitatif
kacang tanah di lingkungan cekaman air dan cekaman lingkungan. Jurnal
Penelitian Pertanian Tanaman Pangan 14(1):32-38.
Prajitno, D. 1981. Analisis Korelasi-Regresi. Liberty, Yogyakarta.
Sembiring, R. K. 1995. Analisis Regresi. Penerbit ITB, Bandung.
Soemartono, Nasrullah dan H. Kartika. 1992. Genetika Kuantitatif Dan
Bioteknologi Tanaman. PAU Bioteknologi Universitas Gadjah Mada,
Yogyakarta.
Steel, R. G. D and Torrie. 1991. Principle And Prosedures of Statistics (Prinsip
dan Prosedur Statistik, alih bahasa : B. Sumantri). Gramedia, Jakarta.
Usman, H. 2006. Pengantar Statistika. Bumi Aksara: Jakarta.
Yitnosumarto, Suntoyo. 1994..Dasar - Dasar Statistika. PT. Raja Grafindo Persada:
Jakarta.