Anda di halaman 1dari 14

PERCOBAAN 12

RANGKAIAN LC DAN RESONANSI

I.

Tujuan

Mengetahui sifat dari rangkaian LC sebagai fungsi frekuensi.


II. Pengantar
Sifat dari kapasitor dan induktor telah dibahas pada percobaan sebelumnya.
Ketika sebuah induktor dan kapasitor, bersama dengan resistor, dari rangkaian
RLC seperti yang ditunjukkan pada gambar 12-1(a), hubungan fase antara X L dan
XC ditunjukkan pada gambar 12-1(b).

(a) Diagram rangkaian

(b) Hubunganfase

Gambar 12-1 Rangkaian RLC seri

Impedansi Z dari rangkaian di atas adalah

Pada persamaan di atas diasumsikan bahwa XL lebih besar dari XC. Jika tidak, itu
bias menjadi (XC-XL). Dalam rangkaian LC, baik L atau C harus memiliki tanda
minus. Alasan untuk tanda minus adalah perbedaan fase antara L dan C sebesar
180 derajat.
Contoh :
Pada gambar 12-1, R = 30 ohm, XL = 100 ohm dan XC = 90 ohm.

Jika XL = XC ,kemudian Z = 30 ohm yang sama seperti R , XL dan XC membatalkan


satu sama lain. Ketika R, L dan C terhubung secara paralel, karakteristik
rangkaian dapat dilihat pada gambar 12-2.

(a) Rangkaian

(b) Diagram Phase

Gambar 12-2 Rangkaianparalel RLC

Impedans irangkaian adalah

Ketika IL = IC , arus benar-benar membatalkan satu sama lain dan IT =IR.


Catatan :
Resistor R pada rangkaian dapat menjadi sebuah resistor eksternal atau kerugian
komponen pada L dan C. Hal ini berarti R mengalami kerugian komponen dari L
dan C, sehingga besar nilai R menjadi sangat tinggi. Hal ini berarti ketika I L = IC
(XL = XC) arus yang diberi dari sumber terlalu kecil. Keadaan seperti ini disebut
resonansi LC paralel dan frekuensinya disebut frekuensi resonansi.
Sejauh ini secara ringkas dapat dikelompokkan menjadi : impedansi rangkaian LC
seri bersifat minimum ketika XL = XC. impedansi rangkaian LC paralel bersifat
maksimum ketika XL = XC. Rangkaian RLC seri dan respon frekuensi dapat dilihat
pada gambar 12-3.

(a) Rangkaian

(b) Respon Frekuensi

Gambar 12-3 Rangkaian RLC seri

Pada gambar 12-3 (b) .jelas bahwa besarnya arus yang maksimum pada frekuensi
resonansi Fo karena ini adalah di mana XL dan XC membatalkan satu sama lain.
Oleh karena itu, R menjadi impedansi rangkaian dan I O =E / Z = E / R.
Meningkatnya frekuensi atau penurunannya berpusat di sekitar Fo, arus rangkaian
bervariasi dengan cepat. Rasio antara Fo dan bandwidth yang secara grafis
didefinisikan dalam gambar, disebut Q pada rangkaian. Pada gambar, Q
digunakan untuk mewakili selektivitas frekuensi dari rangkaian. Oleh karena itu :
Q = Fo / Bw atau Q = XL / R

(a) Rangkaian
Gambar 12-4 Rangkaian RLC paralel

(b) Karakteristik Frekuensi

NO-08 LC RANGKAIAN RLC DAN RESONANSI

Gambar 12-5 Percobaan rangkaian LC board NO-08 dan resonansi

Rangkaian RLC paralel ditunjukkan pada gambar 12-4. Terlihat bahwa susunan
paralel memberikan karakteristik yang berbeda.
Catatan pada gambar arus rangkaian diminimalkan pada Fo, karena pada frekuensi
ini, IL IC= 0

Q dari rangkaian RLC paralel ( rangkaian ) dapat didefinisikan dengan cara yang
sama
Q = F0 / BW atau Q = ZTANK / XL

III. Peralatan yang dibutuhkan

Board mount BR-3


Board NO-07 (LC CIRCUIT and RESONANCE)
Generator fungsi
Multimeter digital
Osiloskop
Kabel koneksi

IV. Langkah kerja


1. Pasang board NO-07 ke board mount

Gambar 12-6 Diagram pengukuran dari percobaan rangkaian RLC

Percobaan rangkaian RLC seri :


2. Mengacu pada gambar 12-5 dan 12-6, hubungkan keluaran (output) dari
generator fungsi ke terminal dimana semua keluaran itu diindikasikan
dengan f di sisi kiri bawah dari papan. Atur generator fungsi menjadi
gelombang sinus 20 Khz dan 20 Vp-p. Juga hubungkan CH-1 dan CH-2
dari osiloskop ke papan.

3. Atur osiloskop sehingga di sekitar 2 siklus sinyal 20 Khz terlihat di layar


osiloskop. Juga pastikan channel inputan semua diatur untuk dikalibrasi
dan osiloskop disesuaikan untuk mengukur fase 2 input.
Catatan :
Melihat tampilan di layar berada pada titik puncak ke puncak, sedangkan
voltmeter membaca nilai RMS

4. Ukur tegangan di Rd dan tentukan arus I. Juga ukur tegangan melintasi a-c
(Ea-c). Hitung impedansi yang melewati a-c.
Catatan :
Impedansi di a-c = tegangan Ea-c / I. Jika I berada di RMS maka tegangan harus
di RMS
5. Bandingkan tegangan Ea-c dari ke 4 langkah diatas dengan nilai yang
dihitung berdasarkan rumus berikut :
Ea-c = EL-EC
Catatan :

Gambar 12-7 I vs. F grafik rangkaian RLC seri

6. Gambar 12-7 disediakan untuk menghasilkan grafik frekuensi (f)


berbanding arus (I). Selesaikan grafik dengan merubah frekuensi dari 10
Khz- 100 Khz. Arus diperoleh dengan membagi tegangan di Rd oleh Rd.
Dalam hal ini output dari penurunan generator fungsi, meningkatkan
kerugian output.7
7. Hubungkan generator fungsi untuk rangkaian seperti yang ditunjukkan
pada gambar 12-8 mengatur output dari generator fungsi untuk gelombang
sinus 20 Khz dan 20 Vp-p. Dan tegangan Rd, menentukan arus rangkaian.

Gambar 12-8 Perangkat pengukuran untuk resonansi paralel (1)

8. Merubah rangkaian seperti yang ditunjukan pada gambar 12-9. Tanpa


mengubah frekuensi dan besarnya sinyal. Mengukur tegangan Rd 1 dan
Rd 2 dan menentukan IL dan IC. Bandingkan nilai IL dan IC dengan arus
yang diperoleh pada arus langkah nomer 7. Jika 2 nilai yang sama
menjelaskan mengapa arus tidak sama dengan IL + IL. Jika nilai R L dan C
menyimpang itu menyebabkan kesalahan dalam pengukuran.

Gambar 12-9 Perangkat untuk pengukuran resonansi paralel (2)

9. Kembali pada rangkaian gambar 12-8 dan ulangi langkah nomor 6.

Karakteristik Impedansi dan frekuensi pada rangkaian LCR


10. Membuat koneksi per gambar 12-10 dengan garis variasikan frekuensi
generator fungsi dan mencari frekuensi resonansi V0. Hitung resonansi (Q)
impedansi (Z) dari rangkaian tangki. Pastikan output dari generator dengan
kompensasi untuk mempertahankan keluaran konstan. Frekuensi diperoleh
dari hubungan berikut.

Sehingga

11. Membuat koneksi per gambar 12-10 dengan garis putus-putus. Rangkaian
ekuivalen ditunjukan pada gambar 12-11. Cari frekuensi resonansi K0 dan
impedansi paralel. Cari nilai resonansi (Q)

Gambar 12-10 Pengaturan untuk pengukuran rangkaian LCR

R = Hambatan resistansi DC

Gambar 12-11 Rangkaian ekuivalen pada langkah 11

Arus pada rangkaian, ketika tegangan puncak pada resistor 100 adalah sebagai
berikut :

12. Dengan cara yang sama seperti di atas, tentukan arus pada rangkaian I dengan
frekuensi dari
5 KHz sampai 50 KHz dengan kenaikan 2 KHz.
Gambarlah sebuah grafik dari F vs. I. Ulangi prosedur dengan menambahkan
tahanan 10 K dan 1 K pada saat dipasang paralel menjadi rangkaian
penuh. Saat keadaan manakah yang memberikan harga Q lebih tinggi ?
13. Gunakan elemen rangkaian pada gambar pada sisi kanan, hubungkan
rangkaian-rangkaian pada gambar 12-12 dan 12-13. Buatlah sebuah kurva
yang menunjukkan perbandingan F :Eo.

Gambar 12-12. Karakteristik Low Pass Filter

14. Bandingkan hasil dari langkah di atas dengan percobaan yang telah dilakukan
pada langkah 10 Percobaan 7 (LPF) dan pada langkah 11 Percobaan 6
(HPF). Apa perbedaannya ?

Catatan :
Filter- filter terdiri dari R dan L atau R dan C yang memiliki efek pertama.
Ketika frekuensi ganda ( 1 oktaf), terjadi perubahan pada output (keluarannya)
dengan faktor 2 atau . Namun, filter LC memiliki efek urutan kedua. Ketika
terjadi perubahan frekuensi maka faktornya berupa 2, perubahan outputnya adalah
berupa 4 atau . Efek kedua yang terjadi pada filter LC dapat ditunjukkan
dengan tingkat kemiringan yang lebih curam pada kurva.

Gambar 12-13.Karakteristik High Pass Filter

Rangkuman
1. Impedansi dari rangkaian LC adalah bernilai minimum ketika terjadi
resonansi pada rangkaian. Pada kenyataannya, impedansi dari rangkaian
paralel LC adalah bernilai maksimum ketika terjadi resonansi pada
rangkaian tersebut. Pada kedua kasus tersebut, diperlukan besar X L = XC
agar bias terjadi resonansi. Frekuensi resonansi dapat ditemukan dari
persamaan :

2. Ketika frekuensi lebih rendah dari frekuensi resonansi (Fr) maka terjadi
resonansi pada rangkaian LC, dimana XC lebih besar dari XL dan rangkaian
ini terjadi resonansi yang bersifat kapasitif. Ketika frekuensi lebih tinggi
frekuensi resonansi (fr), maka XL lebih besar dari XC, dan secara
keseluruhan impedansi dari rangkaian adalah bersifat induktif.
Berikut adalah hubungan antara XC dan XL yang ditunjukkan pada gambar
di bawah ini :

Capative reactance (reaktansi kapasitif)


Inductive reactance (reaktansi induktif)
Sifat pada gambar di atas menunjukkan bahwa resonansi pada rangkaian
dapat dibuktikan pada gambar 12-9 dan mengubah fungsi frekuensi
generator dari 20 sampai 100 KHz. Tegangan pada EL dan EC dapat
diamati pada Osiloskop sebagai fungsi frekuensi.
3. Pada rangkaian resonan LC paralel, energy dibebankan ke tangki
berisolasi secara bolak-balik antara L dan C. Seperti halnya, sejumlah
energy kecil yang melalui resistansi DC dari L dan kerugian dielektrik di
C pada setiap siklus. Berikut adalah ilustrasi yang terdapat pada gambar di
.bawah ini:
Arus beban emf yang
berlawanan dari L

Resistansi DC dari
L

Rugi-rugi dielektrik

Arus yang keluar dari


C

a) Rugi-rugi unsure pada resonansi LC

Gelombang arus beban dilepaskan


b) Hilangnya arus akibat rugi-rugi pada komponen
4. Berdasarkan gambar, Q pada resonan rangkaian RLC seri dapat
dirumuskan Q = XL / R, atau Q = EC / EL atau Q = EL / EI . Dengan kata
lain, tegangan pada XC atau XL diperkuat oleh adanya faktor Q.

5. Resonan pada rangkain paralel, Q = ZTank/ XL , atau Q = IL / ISumber atau Q =


IC / ISumber. Dengan kata lain, arus pada rangkaian diperkuat oleh adanya
faktor Q.

6. Menggunakan sifat frekuensi dari resonan rangkaian LC, rangkaian yang


dihubungkan atau filter rangkaian yang dapat dimodelkan. Dua tipe filter
ini adalah : Low pass dan high pass filter.