Anda di halaman 1dari 5

JURNAL FISIKA LABORATORIUM - SP

Deteksi Anomali Bawah Permukaan Tanah di


Lapangan Pertamina ITS dengan Menggunakan
Metode Self Potential (SP)
Ahmad Farhan Farabi, Wildan
Institut
Manggara
Teknologi
Hidayatullah,
Sepuluh Nopember
Jordan Eko s
Jurusan Fisika, Fakultas Matematika
Jl. Arief Rahman
dan Ilmu
Hakim,
Pengetahuan
SurabayaAlam
60111
E-mail: farhan13@mhs.physics.its.ac.idcom

Abstrak-telah dilakukan percobaan yang berjudul


Deteksi Anomali Bawah Permukaan Tanah di Lapangan
Pertamina ITS dengan Menggunakan Metode Self
Potensial yang bertujuan mempetakan struktur geologi
lapisan tanah di area halaman Lapangan Pertamina ITS
dengan metode self potential. Pada percobaan ini terdapat
dua tahapan yaitu akuisisi data kemudian pengolahan data
dengan menggunakan software surfer 11. Percobaan
dilakukan di Lapnagan Pertamina ITS dengan beberapa alat
dan bahan yaitu larutan elektrolit (CuSO4), empat buah
elektroda porous pot, meteran, kabel, multimeter, stopwatch
dan GPS. Data yang didapatkan dari percobaan ini adalah
beda potensial dan waktu. Selain pengukuran beda
potensial, dilakukan juga pengukuran sumbu x dan y
dengan menggunakan GPS pada setiap titik pengukuran.
Setelah didapatkan data, kemudian diolah dengan
menggunakan software surfer 11 untuk mendapatkan peta
kontur daerah pengukuran. Setelah didapatkan peta kontur,
dapat di interpretasikan anomali bawah permukaan.
Terdapat nilai positif dan negatif, dimana pada daerah
bernilai positif berarti daerah tersebut sangat konduktiv,
dan pada daerah yang bernilai negatif berarti pada daerah
tersebut memiliki resistivitas yang tinggi.

Kata Kunci Anomali, Beda Potensial, Elektroda, Porous


pot, .
I. PENDAHULUAN

erdapat beberapa metode geofisika yang digunakan


untuk interpretasi struktur bawah permukaan, salah
satunya adalah metode geolistrik dimana metode
tersebut mempelajari tentang aliran listrik didalam bumi
dan bagaimana cara mendeteksinya di permukaan bumi.
Metode geolistrik sendiri ada beberapa macam metode
lagi salah satunya yaitu metode SP (Self Potential) atau
potensial diri. Metode Self Potential (SP) merupakan salah
satu metode geofisika yang prinsip kerjanya adalah
mengukur tegangan statis alam (static natural voltage)
yang berada pada titik - titik di permukaan tanah. Metode
Self Potential (SP) merupakan metode dalam Geofisika
yang paling sederhana dilakukan, karena hanya
memerlukan alat ukur tegangan yang peka dan dua
elektroda khusus (Porous Pot Electroda). Metode Self
Potential merupakan metode pasif dalam bidang geofisika
karena untuk mendapatkan informasi bawah tanah melalui

pengukuran tanpa menginjeksi arus listrik melalui


permukaan tanah. [1]
Prinsip kerja pada percobaan metode self potensial
yaitu dengan memanfaatkan empat elektroda, dimana dua
elektroda dihubungkan dengan voltmeter melalui kabel
sebagai base (elektroda tetap), dan elektroda lainnya
dihubungkan dengan voltmeter sebagai rover (elektroda
bergerak). Rover dipindah ke titik-titik pengukuran secara
berurutan sepanjang lintasan yang telah ditentukan dengan
jarak perpindahan elektroda konstan, sehingga panjang
lintasan akan mempengaruhi besarnya nilai rover. Metode
Self Potensial banyak diaplikasikan sebagai surver air
geothermal dan digunakan untuk membantu pemetaan
geologi, misalnya melihat delineasi zona geser, patahan
dekat permukaan dan anomali dibawah permukaan tanah.
Mengetahui sumber yang dapat menyebabkan terjadinya
perbedaan potensial sangat penting untuk mengurangi
noise. Pengolahan data biasanya dilakukan dengan
membuat peta potensial dengan antara elektroda base
dengan elektroda rover. [2]
Metode Self Potential (Self Potensial) pertama kali
ditemukan pada tahun 1830 oleh Robert Fox dengan
menggunakan elektroda tembaga yang dihubungkan ke
sebuah galvanometer untuk mendeteksi lapisan coppere
sulfida di Carnwall (Inggris). Metode self potensial
selama ini dimanfaatkan sebagai secondary tool dalam
eksplorasi logam dasar khususnya untuk mendeteksi
adanya bijih sulfida dan pada dekade terakhir metode Self
Potensial banyak digunakan untuk meneliti air tanah,
panas bumi, dan untuk membantu pendeteksian patahan
dekat permukaan. Suatu proses mekanik yang
menghasilkan potensial elektrolisis, terdiri dari tiga
elektrokimia yang terdiri dari potensial liquid-junction,
potensial shale dan potensial mineralisasi yang merupakan
suatu proses yang menjelaskan mekanisme dari Self
Potensial. [3]
Metode Self potential (SP) adalah metode pasif,
karena pengukurannya dilakukan tanpa menginjeksikan
arus listrik lewat permukaan tanah, perbedaan potensial
alami tanah diukur melalui dua titik dipermukaan tanah.
Potensial yang dapat diukur berkisar antar beberapa
millivolt (mV) hingga 1 volt. Self potensial adalah
potensial spontan yang ada di permukaan bumi yang
diakibatkan oleh adanya proses mekanis ataupun oleh
proses elektrokimia yang di kontrol oleh air tanah. Proses

JURNAL FISIKA LABORATORIUM - SP


mekanis akan menghasilkan potensial elektrokinetik
sedangkan proses kimia akan menimbulkan potensial
elektrokimia (potensial liquid-junction, potensial nernst)
dan potensial mineralisasi.[4]
Prinsip mekanisme yang menghasilkan potensial diri
ini adalah proses mekanik serta proses elektrokinetik atau
disebut dengan streaming potential. Sedang yang lainnnya
adalah proses elektrokimia, proses ini menghasilkan
potensial liquid junction, potensial serpih dan potensial
mineralisasi. Potensial

menggunakan dua elektroda dengan berpindah pindah


pada jarak yang tetap, sekitar 5 meter atau 10 meter.
Titik yang menjadi pengamatan adalah titik tengah
diantara kedua elektroda dengan satuan mV/m. Berbeda
dengan metode pertama, metode kedua yaitu metode
amplitudo potensial dengan membiarkan satu elektroda
tetap di base pada tanah yang bukan mineral dan juga
disertai dengan mengukur perbedaan potensial (mV)
dengan porous pot kedua berpindah pindah sepanjang
garis acuan pada jarak yang tetap. Seperti yang telah
disebutkan diatas, potensial diri mengandung komponen
alternatif yang tetap dan berubah-ubah. Potensial diri
dapat memiliki frekuensi sekitar 5-10 Hz yang
disebabkan oleh efek moneter dan periode yang lama
dan mungkin juga mendapatkan amplitudo yang sama
dengan potensial mineral.
II.

Gambar 1, Pengaruh Anomali SP terhadap kurva potensial

Salah satu yang mempengaruhi dalam eksplorasi


mineral yaitu potensi mineral itu sendiri. Anomali negatif
yang besar dapat diamati pada phryte, chalcopyrite serta
beberapa konduktor listrik yang baik. Walaupun sebagian
besar anomali pada mineral potensial memiliki sifat
konduktor yang bagus, ada juga yang memiliki sifat
sebagai konduktor yang kurang baik seperti yang terjadi
pada sphalerite[4]
Pengukuran self-potential sangatlah mudah. Dua
porous pot elektroda yang tidak berkutub dihubungan
pada multimeter dengan impedansi input lebih besar dari
108 ohm dan mampu mengukur paling kecilnya 1mV.
Masing-masing elektroda dibuat dari elektroda tembaga
yang dicelupkan pada larutan tembaga sulfide yang dapat
menyerap melalui porous base pada pot, agar dapat
mengalami hubungan listrik dengan tanah. Alternatif
lainnya dapat digunakan elektroda seng yang mengandung
sulfida seng atau perak pada perak klorida.[4]

METODE

Pada percobaan yang berjudul Deteksi Anomali


Bawah Permukaan Tanah di Lapangan Pertamina ITS
dengan Menggunakan Metode Self Potential (SP) ini
digunakan beberapa alat dan bahan yaitu larutan elektrolit
(CuSO4), 4 buah porous pot yaitu suatu elektroda
nonpolarisasi yang terdiri dari suatu logam tembaga yang
direndam dalam suatu larutan elektrolit (CuSO4) dalam
pot yang bagian bawahnya berupa lapisan semi permiabel
untuk menghindari terjadinya potensial kontak. Dalam
percobaan dengan metode self potential ini digunakan
elektroda porous pot yaitu untuk menghindari adanya efek
polarisasi. Kabel untuk menghubungkan arus dari
elektroda potensial diri di lapangan ke alat pengukur, dua
buah multimeter, meteran untuk mengukur jarak setiap
titik porous pot yang diberikan, empat buah palu geologi
untu menggali lubang tempat menanam porous pot,
stopwatch untuk mengetahui variasi beda potensial
terhadap waktu, dan GPS (Global Positioning System)
yang digunakan untuk mengetahui posisi lintang dan bujur
atau posisi XY di setiap titik pengukuran. Secara
keseluruhan proses penelitian ini terdiri dari dua tahapan
utama yaitu akuisisi data (penentuan titik pengambilatn
data) dan tahap pengolahan data.
A. Tahap Akuisisi Data
Proses pengambilan data dilakukan di Lapangan
Pertamina ITS. Sebelum menuju tempat pengukuran
dilakukan pengisian porous pot dengan larutan CuSO 4.
Kemudian langkah awal yang dilakukan setelah peralatan
siap yaitu membuat desain akuisisi dimana titik-titik yang
akan kita ukur. Pengambilan data dilakukan dengan 2 line
yaitu pada masing masing line nya sepanjang 40 meter
dengan spasi setiap titiknya 2 meter. Data yang didapatkan
yaitu beda potensial dan koordinat sumbu x dan y. Desain
akuisisi dapat dilihat pada gambar berikut,

Gambar 2, Porous Pot

Terdapat dua teknik pengambilan atau pengukuran


SP yaitu metode gradien potensial dan metode
amplitudo potensial. Metode gradien ppotensial

JURNAL FISIKA LABORATORIUM - SP


B. Pengolahan Data dan Analisa Data
Untuk prosesing atau pengolahan data menggunakan
komputasi yaitu dengan software Surfer 11. Berikut
adalah flowchart percobaan yang telah dilakukan,

Gambar 3, Lokasi Pengambilan Data

Setelah dibuat desain akuisisi, kita membuat lubang


pada tanah disetiap spasi 2 meter untuk tempat menanam
porous pot yang akan diukur beda potensialnya.
Kemudian dilakukan kalibrasi elektroda porous pot
dengan cara menanam dua porous pot pada dua lubang
sejajar dan diukur beda potensialnya dengan
menggunakan multimeter dimana harus lebih kecil atau
sama dengan 2 milivolt. Apabila menunjukkan ternyata
lebih besar dari 2 milivolt maka kedua elektroda porous
pot tersebut harus dibersihkan terlebih dahulu. Pada
pengambilan data kali ini menggunakan metode self
potential gradient atau leapfrog (lompat katak) atau
dapat disebut dengan metode dipole. Metode ini mirip
dengan metode wenner yang digunakan dalam
pengukuran resistivitas. Metode ini menggunakan dua
elektroda yang dipindahkan secara bergantian sesuai
dengan desain akuisisinya. Keuntungan dari metode
gradient ini adalah dapat mengurangi kesalahan komulatif
akibat polarisasi elektroda dan pengukurannya bisa lebih
cepat. Tetapi metode ini kurang dapat mengenali noise
yang bervariasi terhadapt waktu. Selain dilakukan
kalibrasi porous pot, dilakukan juga kalibrasi pada GPS.
Setelah kalibrasi alat selesai dilakukan pengambian data
dengan menghubungan dua porous pot yang sudah
ditanam pada lubang disetiap titik 4 meter dengan kabel.
Kabel penghubung porous pot tersebut dihubungkan
dengan voltmeter untuk mengetahui beda potensialnya.
Dilakukan pula pengukuran pada titik base, disini titik
base maksudnya adalah titik dimana porous pot tidak
bergerak, hanya diam dan di ukur setiap 5 menit sekali.
Setiap pengukuran pada titik tertentu dicatat waktunya.
Dilakukan pengukuran titik terhadap garis lintang dan
garis bujur (sumbu x dan sumbu y) dengan menggunakan
GPS. Kemudian dilakukan cara yang sama pada line 2,3
dan 4.

Gambar 4, flowchart Penelitian

III HASIL DAN PEMBAHASAN

JURNAL FISIKA LABORATORIUM - SP


Pada percobaan yang berjudul Deteksi Anomali
Permukaan Bawah Tanah di Halaman Belakang SCC ITS
dengan Menggunakan Metode Self Potential dengan
tujuan mengidentifikasi struktur geologi lapisan tanah di
area Pertamina ITS dengan metode self potential ini
didapatkan data-data sebagaimana terlampir. Berikut ini
merupakan sample contoh data yang didapatkan,
Tabel 1, Sample Data Hasil Percobaan

No
1
2
3
4
5
6
7
8

X
697857.5

9194449

1.366667

697862.5

9194445

0.64

697869.5

9194449

-11.7667

697873.5

9194449

-0.36667

697875.5

9194449

-12.1

697878.5

9194449

0.3

697881.5

9194449

1.033333

9194449

1.366667

697857.5

Data yang didapatkan yaitu beda potensial pada setiap


titik pengukuran, kemudian waktu pengukuran dan beda
potensial pada titik base yang diambil setiap lima menit
sekali. Pada data di titik base didapatkan data semakin
kecil, hal tersebut dikarenakan suhu. Suhu disini
maksudnya, saat kita mengambil data pada waktu sore
hari, pada sore hari dapat di identifikasi bahwa suhu
semakin turun karena sinar mataharipun berpengaruh pada
suhu saat itu. Dari data yang didapatkan dilakukan tahap
perhitungan untuk koreksi harian dengan cara
mengurangkan beda potensial setiap titik pengukuran
dengan beda potensial pada titik base. Koreksi harian ini
dilakukan untuk mengetahui pada saat pengukuran dengan
metode self potential ini terdapat gangguan telluric atau
tidak. Kemudian perhitungan untuk H juga dengan
menambahkan hasil koreksi harian dengan besar beda
potensial pada setiap titik pengukuran yang nantinya nilai
H ini menjadi nilai sumbu Z. Setelah dilakukan beberapa
koreksi, kemudian data yang berupa titik koordinat X, Y
dan Z yang berupa nilai H di masukkan ke worksheet
pada software surfer 11. Pengolahan data dengan
menggunakan software surfer ini melalui beberapa step
pula, setelah memasukkan data di worksheet data di
simpan dalam format bln, kemudian dijadikan data grid,
griding ini merupakan proses penggunaan titik data
pengamatan yang ada pada file data XYZ untuk
membentuk titik-titik data tambahan pada sebuah grid
yang tersebar secara teratur. Kemudian dimasukkan data
grid pada new kontur map dan didapatkan kontur sebagai
berikut, 8

Gambar 5, Peta kontur hasil percobaan


Berdasarkan gambar peta kontur daerah tempat
pengukuran seperti yang terlihat diatas, dapat diketahui
bahwa nilai SP pada daerah Lapangan Pertamina ITS
tersebut berada pada range -40 sampai 50 mV. Tidak
begitu ada warna yang mendominasi, terdapat warna biru,
merah, kuning, hijau dan yang lainnya. Dapat dilihat pada
kontur bahwa terdapat anomali pada sumbu Y: 919449 X:
697869 dimana terdapat warna biru dengan nilai 5 dan
biru dengan nilai -5. Disini anomali berarti kontur yang
berwarna dengan range nilai positif dan negatif berada
pada garis yang dekat. Pada range nilai negatif berarti
daerah tersebut lebih resistif, dan pada range nilai positif
berarti pada daerah tersebut sangat konduktiv. Dimana
daerah yang konduktif berarti terdapat anomali misalkan
berupa aliran air bawah tanah. Anomali SP yang menururn
dapat ditunjukkann dari kerapatan kontur. Dapat di
interpretasikan bahwa penurunan anomali SP disebabkan
karena penurunan energi air atau turunnya tekanan
hidrolis yang masuk ke dalam pori porous pot.
III.

KESIMPULAN

Berdasarkan data yang didapatkan, perhitungan dan


peta kontur, didapatkan kesimpulan bahwa nilai beda
potensial pada titik base semakin kecil, hal tersebut
dikarenakan faktor suhu. Bahwa semakin rendah suhu
maka semakin kecil beda potensialnya. Kemudian untuk
peta kontur yang didapatkan dapat di interpretasikan
terdapat anomali berupa aliran air tanah di sumbu Y:
919449 X: 697869.
UCAPAN TERIMAKASIH
Penulis mengucapkan terimakasih kepada asisten
Fisika Laboratorium Geofisika, khususnya kepada Wildan
Manggara Hidayatullah dan Jordan Eko S selaku asisten
percobaan yang telah membimbing dalam praktikum ini,
baik sebelum praktikum ataupun setelah praktikum serta
teman-teman sekelompok yang telah membantu
keberhasilaan penyelesaian percobaan ini.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Robinson, Coruh, 1988, Basics Exploration Geophysics,
John Willey And Son Inc., Canada.

JURNAL FISIKA LABORATORIUM - SP


[2] Telford, W.M., Geldart, L.P., and Sheriff, R.E., 1990,
Applied Geophysics, 2nd edition. Cambridge University
Press, Cambridge.
[3] Santoso, Djoko. 2002. Pengantar Teknik Geofisika. Penerbit
ITB. Bandung.