Anda di halaman 1dari 15

Patologi - Proses Penuaan

Pengertian Penuaan
Penuaan (ageing) merupakan suatu konsekuensi (proses alamiah) yang tidak dapat dihindarkan dan pasti
terjadi pada setiap manusia. Tidak seorangpun yang dapat menghentikan proses penuaan. Siklus ini ditandai
dengan tahap-tahap mulai menurunnya berbagai fungsi organ tubuh karena setelah mencapai dewasa, secara
alamiah seluruh komponen tubuh tidak dapat berkembang lagi. Sebaliknya justru terjadi penurunan karena
proses penuaan. Penuaan merupakan suatu proses multidimensional, yang tidak hanya terkait dengan faktor
jasmani, tapi juga psikologis dan sosial. Penuaan itu sendiri adalah suatu proses alamiah kompleks yang
melibatkan setiap molekul, sel dan organ dalam tubuh.
Menua (menjadi tua) adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk
memperbaiki diri / mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap
infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita. (Constantindes, 1994)
Proses menua bukan merupakan suatu penyakit, melainkan suatu masa atau tahap hidup manusia yaitu: bayi,
kanak-kanak, dewasa, tua, dan lanjut usia. Orang mati bukan karena lanjut usia tetapi karena suatu penyakit,
atau juga suatu kecacatan.Akan tetapi proses menua dapat menyebabkan berkurangnya daya tahan tubuh
dalam menghadapi rangsangan dari dalam maupun luar tubuh. Walaupun demikian, memang harus diakui
bahwa ada berbagai penyakit yang sering menghinggapi kaum lanjut usia.
Proses menua sudah mulai berlangsung sejak seseorang mencapai usia dewasa. Misalnya dengan terjadinya
kehilangan jaringan pada otot, susunan saraf, dan jaringan lain sehingga tubuh mati sedikit demi sedikit.
Sebenarnya tidak ada batas yang tegas, pada usia berapa penampilan seseorang mulai menurun. Pada setiap
orang, fungsi fisiologis alat tubuhnya sangat berbeda, baik dalam hal pencapaian puncak maupun menurunnya.

2.2. Teori - Teori Penuaan dan Proses Menua


2.2.1. Teori Penuaan
Dari sudut pandang ilmiah, mengapa dan bagaimana tubuh kita mengalami penuaan masih merupakan misteri
yang terus menerus dicari jawabannya oleh para ilmuwan. Proses penuaan itu sendiri dapat melingkupi adanya
perubahan pada jaringan tubuh sampai dengan perubahan mekanisme pada tingkat sel. Selama bertahuntahun, banyak teori yang berusaha menjelaskan mengenai proses ini dan perubahan-perubahan apa yang
menyebabkan penuaan.
Teori penuaan pada dasarnya terbagi menjadi dua kelompok, yaitu teori Program dan Teori Wear and Tear.
1. Teori program menekankan prinsip bahwa di dalam tubuh manusia terdapat
suatu jam biologis, mulai dari proses janin sampai pada kematian dalam suatu model yang memiliki program
yang sudah tercetak. Peristiwa ini terprogram mulai dari tingkat sel sampai embrio, janin, masa bayi dan

anak-anak, remaja, dewasa menjadi tua dan akhirnya meninggal. Teori Program meliputi pembatasan replikasi
sel, proses imun, dan mekanisme neuroendokrin dari penuaan. Pada suatu penelitian laboratorium diketahui
bahwa sel normal memiliki kapasitas yang terbatas untuk melakukan pembelahan yang terus menerus, hal
inilah yang terjadi pada sel-sel tubuh orang dewasa yang akhirnya menjadi tua dan lemah, teori ini menjadi
dasar dari teori pembatasan replikasi sel. Mekanisme neuroendokrin mengatakan bahwa ketika manusia
menjadi tua, tubuh hanya mampu memproduksi hormon lebih sedikit akibatnya fungsi tubuh terganggu dan
muncul berbagai keluhan.
2. Teori Wear and Tear menganggap bahwa tubuh dan sel-selnya yang terlalu sering digunakan dan
disalahgunakan secara terus menerus akan menjadi lemah dan akan mengalami kerusakan dan akhirnya
meninggal. Organ tubuh seperti hati, lambung, ginjal, kulit dan yang lain akan menurun fungsinya karena
toksin di dalam makanan dan lingkungan yang kita terima setiap hari, selain itu juga akibat dari konsumsi
lemak, gula, kafein, nikotin, alkohol yang berlebihan. Dan yang tidak kalah penting adalah akibar dari paparan
sinar matahari serta stress fisik dan psikis. Yang harus diingat adalah bahwa kerusakan ini tidak terbatas pada
organ, melainkan juga terjadi pada tingkat sel.

2.2.2. Teori Proses Menua


A. Teori Biologi
1. Teori Seluler
Kemampuan sel hanya dapat membelah dalam jumlah tertentu dan kebanyakan sel-sel tubuh diprogram
untuk membelah 50 kali. Jika sebuah sel pada lansia dilepas dari tubuh dan dibiakkan di laboratorium, lalu
diobservasi, jumlah sel-sel yang akan membelah, jumlah sel yang akan membelah akan terlihat sedikit.
(Spence & Masson dalam Waton, 1992). Hal ini akan memberikan beberapa pengertian terhadap proses
penuaan biologis dan menunjukkan bahwa pembelahan sel lebih lanjut mungkin terjadi untuk pertumbuhan
dan perbaikan jaringan, sesuai dengan berkurangnya umur.
Pada beberapa sistem, seperti sistem saraf, sistem muskuloskeletal dan jantung, sel pada jaringan dan organ
dalam sistem itu tidak dapat diganti jika sel tersebut dibuang karena rusak atau mati. Oleh karena itu, sistem
tersebut berisiko mengalami proses penuaan dan mempunyai kemampuan yang sedikit atau tidak sama sekali
untuk tumbuh dan memperbaiki diri. Ternyata sepanjang kehidupan ini, sel pada sistem ditubuh kita cenderung
mangalami kerusakan dan akhirnya sel akan mati, dengan konsekuensi yang buruk karena sistem sel tidak
dapat diganti.

2. Teori Genetik Clock


Menurut teori ini menua telah diprogram secara genetik untuk species-species tertentu. Tiap species
mempunyai didalam nuclei (inti selnya) suatu jam genetik yang telah diputar menurut suatu replikasi tertentu.
Jam ini akan menghitung mitosis dan menghentikan replikasi sel bila tidak berputar, jadi menurut konsep ini
bila jam kita berhenti kita akan meninggal dunia, meskipun tanpa disertai kecelakaan lingkungan atau

penyakit akhir yang katastrofal. Konsep genetik clock didukung oleh kenyataan bahwa ini merupakan cara
menerangkan mengapa pada beberapa species terlihat adanya perbedaan harapan hidup yang nyata. (misalnya
manusia; 116 tahun, beruang; 47 tahun, kucing 40 tahun, anjing 27 tahun, sapi 20 tahun)
Secara teoritis dapat dimungkinkan memutar jam ini lagi meski hanya untuk beberapa waktu dengan pangaruhpengaruh dari luar, berupa peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit atau tindakan-tindakan tertentu. Usia
harapan hidup tertinggi di dunia terdapat di Jepang yaitu pria 76 tahun dan wanita 82 tahun (WHO, 1995)
Pengontrolan genetik umur rupanya dikontrol dalam tingkat seluler, mengenai hal ini Hayflck (1980) melakukan
penelitian melalaui kultur sel ini vitro yang menunjukkan bahwa ada hubungan antara kamampuan membelah
sel dalam kultur dengan umur spesies. Untuk membuktikan apakah yang mengontrol replikasi tersebut nukleus
atau sitoplasma, maka dilakukan trasplantasi silang dari nukleus. Dari hasil penelitian tersebut jelas bahwa
nukleuslah yang menentukan jumla replikasi, kemudian menua, dan mati, bukan sitoplasmanya. (Suhana,
1994)

3. Sintesis Protein (kolagen dan elastin)


Jaringan seperti kulit dan kartilago kehilangan elastisitasnya pada lansia. Proses kehilangan elastisitas ini
dihubungkan dengan adanya perubahan kimia pada komponen perotein dalam jaringan tersebut. Pada lansia
beberapa protein (kolagen dan kartilago, dan elastin pada kulit) dibuat oleh tubuh dengan bentuk dan
struktrur yang berbeda dari protein yang lebih muda. Contohnya banyak kolagen pada kartilago dan elastin
pada klulit yang kehilangan fleksibilitasnya serta menjadi lebih tebal, seiring dengan bertambahnya usia.
(Tortora & anagnostakos, 1990) hal ini dapat lebih mudah dihubungkan dengan perubahan permukaan kulit
yang kehilangan elastisitasnya dan cenderung berkerut, juga terjadinya penurunan mobilitas dan kecepatan
pada sistem muskuloskeletal.

4. Keracunan Oksigen
Teori tentang adanya sejumlah penurunan kemampuan sel didalam tubuh untuk mempertahankan diri dari
oksigen yang mengandung zat racun dengan kadar yang tinggi, tanpa mekanisme pertahan diri tertentu.
Ketidak mampuan mempertahankan diri dari toksik tersebut membuat struktur membran sel mangalami
perubahan dari rigid, serta terjadi kesalahan genetik. (Tortora & anagnostakos, 1990)
Membran sel tersebut merupakan alat untuk memfasilitasi sel dalam berkomunikasi dengan lingkungannya yang
juga mengontrol proses pengambilan nutrien dengan proses ekskresi zat toksik didalam tubuh. Fungsi
komponen protein pada membran sel yang sangat penting bagi proses diatas, dipengaruhi oleh rigiditas
membran tersebut. Konsekuensi dari kesalahan genetik adalah adanya penurunan reproduksi sel oleh mitosis
yang mengakibatkan jumlah sel anak di semua jaringan dan organ berkurang. Hal ini akan menyebabkan
peningkatan kerusakan sistem tubuh.

5. Sistem Imun

Kemampuan sistem imun mengalami kemunduran pada masa penuaan. Walaupun demikian, kemunduran
kamampuan sistem yang terdiri dari sistem limfatik dan khususnya sel darah putih, juga merupakan faktor yang
berkontribusi dalam proses penuaan.
Mutasi yang berulang atau perubahan protein pasca translasi, dapat menyebabkan berkurangnya kamampuan
sistem imun tubuh mengenali dirinya sendiri (self recognition). Jika mutasi somatik menyebabkan terjadinya
kelainan pada antigen permukaan sel, maka hal ini akan dapat menyebabkan sistem imun tubuh menganggap
sel yang megalami perubahan tersebut sebagi sel asing dan menghancurkannya. Perubahan inilah yang menjadi
dasar terjadinya peristiwa autoimun (Goldstein, 1989)
Hasilnya dapat pula berupa reaksi antigen antibody yang luas mengenai jaringan-jaringan beraneka ragam,
efek menua jadi akan menyebabkan reaksi histoinkomtabilitas pada banyak jaringan. Salah satu bukti yang
ditemukan ialah bertambahnya prevalensi auto antibodi bermacam-macam pada orang lanjut usia
(Brocklehurst, 1987)
Disisi lain sistem imun tubuh sendiri daya pertahanannya mengalami penurunan pada proses menua, daya
serangnya terhadap sel kanker menjadi menurun, sehingga sel kanker leluasa membelah-belah. Inilah yang
menyebabkan kanker yang meningkat sesuai dengan meningkatnya umur (Suhana, 1994)
Teori atau kombinasi teori apapun untuk penuaan biologis dan hasil akhir penuaan, dalam pengertian biologis
yang murni adalah benar. Terdapat perubahan yang progresif dalam kemampuan tubuh untuk merespons secara
adaptif (homeostatis), untuk beradaptasi terhadap stres biologis. Macam-macam stres dapat mencakup
dehidrasi, hipotermi, dan proses penyakit. (kronik dan akut)
B. Teori Psikologis
1. Teori Pelepasan
Teori pelepasan memberikan pandangan bahwa penyesuaian diri lansia merupakan suatu proses yang secara
berangsur-angsur sengaja dilakukan oleh mereka, untuk melepaskan diri dari masyarakat.
2. Teori Aktivitas
Teori aktivitas berpandangan bahwa walaupun lansia pasti terbebas dari aktivitas, tetapi mereka secara
bertahap mengisi waktu luangnya dengan melakukan aktivitas lain sebagai kompensasi dan penyesuaian.
2.3. Penyebab Proses Penuaan
Banyak faktor yang menyebabkan setiap orang menjadi tua melalui proses penuaan. Pada dasarnya berbagai
faktor tersebut dapat dikelompokkan menjadi faktor internal dan faktor eksternal. Beberapa faktor internal
adalah radikal bebas, hormon yang menurun kadarnya, proses glikosilasi, sistem kekebalan tubuh yang
menurun dan juga faktor genetik. Sedangkan faktor eksternal adalah gaya hidup yang tidak sehat, diet yang
tidak sehat, kebiasaan hidup yang salah, paparan polusi lingkungan dan sinar ultraviolet, stress dan penyebab
sosial lain seperti kemiskinan. Kedua faktor ini saling terkait dan memainkan peran yang besar dalam penyebab
proses penuaan.
Tubuh kita membentuk suatu reaksi kimia kompleks yang membentuk suatu molekul kimia yang tidak stabil
yang disebut radikal bebas. Molekul radikal bebas ini dapat menyebabkan kerusakan pada sel yang sehat

melalui suatu proses yang disebut dengan Oksidasi. Proses ini sama seperti proses yang kita lihat pada apel
hijau yang berubah warna menjadi coklat atau logam tembaga yang berubah warna dari emas kemerahan
menjadi biru kehijauan. Produksi radikal bebas ini dapat meningkat jumlahnya apabila kita sering terpapar
oleh sinar matahari, merokok, polusi udara dan mengkonsumsi makanan yang rendah nilai gizinya. Produksi
radikal bebas yang semakin meningkat dalam tubuh kita memberi kontribusi yang besar terhadap terjadinya
proses penuaan berbagai organ tubuh.
Stress juga berperan besar pada semakin cepatnya proses penuaan terjadi. Stress dalam hal ini tidak hanya
terkait dengan psikologis tetapi juga jasmani. Apabila tubuh kita mengalami kerusakan, maka tubuh akan
mencoba untuk memulihkan diri sendiri. Pada batas tertentu tubuh dapat pulih namun tidak seratus persen
dan tentu tidak pada semua kasus. Semakin sering tubuh kita mengalami stress maka makin kecil kemungkinan
tubuh untuk pulih akibatnya tubuh semakin menua dan menjadi rentan terhadap penyakit. Apa yang
menyebabkan tubuh kita tidak bisa sepenuhnya memulihkan kerusakan tadi, sebagian besar belum diketahui.
2.4. Perubahan Perubahan yang Terjadi Pada Lanjut Usia

Perubahan-perubahan Yang terjadi pada lanjut usia antara lain :


A. Perubahan-perubahan fisik
1. Sel
1. Lebih sedikit jumlahnya
2. Lebih besar ukurannya
3. Berkurangnya jumlah cairan tubuh dan berkurangnya cairan intraseluler
4. Menurunnya proporsi protein di otak, otot, darah, dan hati.
5. Jumlah sel otak menurun.
6. Terganggunya mekanisme perbaikan sel
7. Otak menjadi atrofi, beratnya berkurang 5-10%
2. Sistem persarafan
1. Berat otak menurun 10-20% (setiap orang berkurang sel otaknya dalam setiap harinya)
2. Cepatnyan menurun hubungan persarafan
3. Lambat dalam respon dan waktu untuk bereaksi, khususnya dengan stres.
4. Mengecilnya saraf panca indra. Berkurangnya penglihatan, hilangnya pendengaran, mengecilnya saraf
pencium dan perasa, lebih sensitif terhadap perubahan suhu dengan rendahnya dengan ketahanan terhadap
dingin.
5. Kurang sensitif terhadap sentuhan
3. Sistem pendengaran
1. Presbiakusis (gangguan pada pendengaran). Hilangnya kemampuan (daya) pendengaran pada telinga dalam,
terutama terhadap bunyi suara atau nada-nada yang tinggi, suara yang tidak jelas, sulit dimengerti kata-kata,

50% terjadi pada usia diatas 60 tahun


2. Membran timpani menjadi atrofi menyebabkan otosklerosis.
3. Terjadi pengumpulan serumen dapat mengeras karena menginkatnya keratin.
4. Pendengaran bertambah menurun pada lanjut usia yang mengalami ketegangan jiwa/stres.
4. Sistem penglihatan
1. Sfingter pupil timbul skelerosis dan hilangnya tespon terhadap sinar.
2. Kornea lebih berbentuk sferis (bola)
3. Lensa lebih suram (kekeruhan pada lensa) menjadi katarak, jelas menyebabkan gangguan penglihatan.
4. Meningkatnya ambang, pengamatan sinar, daya adaptasi terhadap kegelapan lebih lambat, dan susah
melihat dalam cahaya gelap
5. Hilangny daya akomodasi
6. Menurunnya lapangan pandang; berkurang luas pandangannya.
7. Berkurangnya daya membedakan warna biru atau hijau pada skala.
5. Sistem kardiovaskuler
1. Elastisitas dinding aorta menurun
2. Katup jantung menebal dan menjadi kaku
3. Kemampuan jantung untuk memompa menurun 1% setiap tahun sesudah berumut 20 tahun, hal ini
menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya.
4. Kehilangan elatisitas pembuluh darah; kurang efektifitas pembuluh darah perifer untuk oksigenisasi,
perubahan posisi dari tidur ke duduk (duduk ke berdiri) bisa menyebabkan tekanan darah menurun menjadi 65
mmHg (menyebabkan pusing mendadak)
5. Tekanan darah meninggi diakibatkan oleh meningkatnya resistensi dari pembuluh darah perifer; sistolis
normal 170 mmHg, diastolis normal 90 mmHg.
6. Sistem pengaturan temperatur tubuh
Pada sistem pengaturan suhu, hipotalamus dianggap bekerja sebagai suatu termostat, yaitu menetapkan suatu
suhu tertntu, kemunduran terjadi sebagai faktor yang mempengaruhinya. Yang sering ditemui antara lain;
1. Sistem metabolisme
35o ini akibat metabolisme yang menuruna. Temperatur tubuh menurun (hipotermia) secara fisiologik
b. Keterbatasan refleks menggigil dan tidak dapat memproduksi panas yang banyak sehingga terjadi rendahnya
aktivitas otot.
2. Sistem respirasi
a. Otot-otot pernapasan kehilangan kekuatan dan menjadi kaku
b. Menurunnya aktivitas dari silia
c. Paru-paru kehilangan aktivitas; kapasitas residu meningkat, menarik nafas menjadi berat, kapasitas
pernafasan maksimum menurun, dan kedalaman bernafas menurun
d. Alveoli ukurannya melebar dari biasa dan jumlahnya berkurang

e. O2 pada arteri menurun menjadi 75 mmHg.


f. CO2 pada arteri tidak berganti
g. Kemampuan untuk batuk berkurang
h. Kemampuan pegas, dinding, dada, dan kekuatan otot pernapasan akan menurun seiring degan
bertambahnya usia.
3. Sistem gastrointestinal
a. Kehilangan gigi; penyebab utama adalah Periodental disease yang bisa terjadi setelah umur 30 tahun,
penyebab lain meliputi kesehatan gigi yang buruk dan gizi yang buruk.
80%), hilangnya sensitifitas dari saraf pengecap di lidah terutama rasa tentang rasa asin, asam, dan pahit.b.
Indera pengecap menurun; adanya iritasi yang kronis, dari selaput lendir, atropi indera pengecap (
c. Esofagus melebar
d. Lambung, rasa lapar menurun (sensitifitas lapar menurun), asam labung menurun, waktu mengosongkan
menurun.
e. Peristaltik lemah dan biasanya timbul konstipasi
f. Fungsi absobsi melemah (daya absobsi terganggu)
g. Liver (hati) makin mengecil dan menurunnya tempat penyimpanan, berkurangnya aliran darah.
h. Sistem reproduksi
i. Menciutnya ovari dan uterus
j. Atrofi payudara
k. Pada laku-laki testis masih dapat memproduksi spermatosoa, meskipun adanya penurunan secara beransuransur
l. Dorongan seksual menetap sampai usia diatas 70 tahun (asal kondisi keksehatan baik), yaitu;
Kehidupan seksual dapat diupayakan sampai masa lanjut usia
Hubungan seksual secara teratur membantu mempertahankan kemampuan seksual
Tidak perlu cemas karena merupakan perubahan alami
m. Selaput lendir vagina menurun, permukaan menjadi halus, sekresi menjadi berkurang, reaksi sifatnya
menjadi alkali, dan terjadi perubahan-perubahan warna.
4. Sistem genito urinaria
a. Ginjal, merupaan alat untuk mengeluarkan sisa metabolisme tubuh, melalui urine darah yang masuk ke
ginjal, disaring oleh satuan unit terkecil dari ginjal yang disebut nefron (tepatnya di glumerulus, kemudia
mengecil dan nefron menjadi atrofi. Aliran darah ke ginjal menurun sampai 50%. Fungsi tubulus berkurang
akibatnya; kurang kemapuan mengkonsentrasi urine, berat jenis urine menurun, proten uria.
b. Vesika urinaria (kandung kemih); otot-ototnya menjadi lemah, kapasitasnya menurun sampai 200ml atau
menyebabkan frekuensi buang air kecil meningkat. Vesika urinari susah dikosongkan sehingga meningkatkan
retensi urine.
c. Pembesaran prostat kurang lebih 75% dialami oleh pria usia di atas 65 tahun

d. Atrofi vulva
5. Sistem endokrin
a. Produksi hampir semua hormon menurun
b. Fungsi paratiroid dan sekresinya tidak berubah
c. Pituitari; hormon pertumbuhan ada tetapi lebih rendah tetapi rendah dan hanya dalam pembuluh darah,
berkurangnya produksi dari ACTH, TSH, FSH, LH.
d. Menurunnya aktifitas tiroid, BMR menurun.
6. Sistem kulit
a. Kulit mengerut atau keriput akibat kahilangan jaringan lemak
b. Kulit kasar dan bersisik,
c. Mekanisme proteksi kulit menurun
Produksi serum menurun
Gangguan pigmentasi kulit
d. Kulit kepala dan rambut menipis
e. Kelenjar keringat berkurang jumlahnya
7. Sistem muskuloskeletal
a. Tulang kehilangan density (cairan) dan makin rapuh
b. Kifosis
c. Discus intervertebralis menipis dan menjadi pendek
d. Persendian membesar dan menjadi pendek
e. Tendon mengerut dan mengalami skelrosis
8. Perubahan mental
a. Faktor yang mempengaruhi perubahan mental
Perubahan fisik, organ perasa
Kesehatan umum
Tingkat pendidikan
Keturunan
Lingkungan
b. Memory: jangka panjang (*berhari-hari yang lalu) mencakup beberapa perubahan. Kenangan jangka pendek
(0-10 menit) kenangan buruk
c. Intelegency; tidak berubah dengan informasi matematik dan perkataan verbal.
d. Berkurangnya keterampilan psikomotor.
9. Perubahan psikososial

B. Penurunan Fungsi Fisiologis Kognitif Oleh Proses Penuaan

Penyakit neurodegeneratif sering terjadi pada orang tua, kemungkinan karena pada proses penuaan telah
terdapat banyak kelainan neuron. Sel/jaringan yang masih muda dibekali kemampuan untuk memperbaharui
diri, mempertahankan struktur dan fungsi, bertahan terhadap jejas dan mampu memperbaiki kerusakan yang
mengenainya. Pada proses penuaan kemampuan ini berkurang dan hilang secara bertahap. Beberapa penyakit
neurodegeneratif umumnya berhubungan dengan kelainan ini.
Banyak faktor yang mempengaruhi integritas susunan saraf pusat pada usia lebih dari 50 tahun, karena itu
periu pemeriksaan berkala mengenai fungsi memori dan kognitif.

Pada penuaan terdapat kelainan neuron yang sangat menonjol yaitu:


1. Hilangnya sel neuron.
2. Hilangnya bagian-bagian neuron serta akumulasi lipofuscin intra sitoplasmik.
3. Pembentukan protein fibril abnormal pada neuron (neurofibrillary tangle NFT) dan struktur abnormal yang disebut neurit plaque (NP).
Apabila dibanding dengan sel neuron orang muda, maka akibat proses penuaan selain jumlah neuron sangat
berkurang, juga terdapat NFT dan akumulasi lipofusin pada sitoplasma serta NP pada neurit. Bangunan
abnormal tersebut akan mengganggu fungsi neuron akibat mendesak organela dalam sitoplasma, maupun sistim
hantaran impuls.
Beberapa gangguan juga dapat menimbulkan demensia, seperti metabolik, infeksi, dan gangguan struktural
dapat menimbulkan gangguan kognitif/memori semata (isolated). Karena penyakit neurodegeneratif paling
sering menyerang pada subyek di atas 65 tahun, dan karena penyakit ini khususnya mengenai hipokampus,
maka memiliki andil besar dalam penurunan fungsi memori.
Beberapa penyebab yang masih dugaan antara lain adalah perubahan-perubahan hormon-hormon adrenal dan
gestasional, pasokan serebrovaskuler (demensia vaskuler), dan stres oksidatif, yang terkait dengan
kemunduran-kemunduran neuronal. Penurunan memori yang terkait usia ini diduga mempunyai komponen
genetik. Ringkasnya, latar belakang penurunan fungsi kognitif di usia lanjut mempunyai latar belakang yang
sangat beragam. Adapun gangguan kognitif sangat berpengaruh pada terjadinya penyakit dan kematian :

Parkinson

Penyakit neurodegeneratif merupakan kelompok kelainan yang secara khas ditandai adanya degenerasi neuron
secara progresif, timbul spontan mengenai daerah otak spesifik, medulla spinalis atau keduanya. Penyakit
neurodegeneratif yang banyak menimbulkan demensia adalah penyakit Alzheimer, demensia Lewy bodies (DLB)
dan penyakit Parkinson (Parkinson's disease = PD).

Stroke

Pada kelompok kelainan ini demensia terjadi akibat problema sirkulasi darah pada otak (penyakit
serebrovaskuler). Apabila dibandingkan dengan penyakit neurodegeneratif yang belum diketahui
patogenesisnya, maka pada kelompok ini penyebab demensia diketahui, misalnya hemoragi serebri, trombosis
atau emboli, atau iskemia yang menyebabkan kematian jaringan otak (stroke).

Demensia vaskuler di kepustakaan diperkirakan 20% dari kasus demensia. Kasus demensia vaskuler yang
ditemukan adalah demensia multi-infark (MID) 20% (prosentase MID bersama AD 30-60% dari seluruh demensia).
Penyakit Binswanger (demensia vaskuler subkortikal) termasuk kasus yang jarang ditemukan, dan yang paling
jarang adalah yang berhubungan dengan penyakit autoimun (SLE).

Trauma Kepala

Trauma kepala telah dibuktikan menyebabkan gangguan kognitif. Penelitian mendapatkan hubungan yang kuat
bahwa trauma kepala berat merupakan awal terjadinya demensia. Hal itu didapatkan banyak kehilangan
ingatan setelah beberapa tahun mengalami trauma kepala.

Tumor Otak

Tumor yang timbul lebih kedepan mungkin membesar sangat luas sebelum menyebabkan tanda fokal;
terkadang sedikit gangguan memori, intelek, personalitas, berkembang menjadi demensia berat. Tumor ini
dapat berasal dari jaringan otak sendiri ataupun dari metastasis.

Infeksi SSP

Infeksi pada susunan saraf pusat secara langsung akan menyebabkan kerusakan sel otak, selain itu karena
adanya vaskulitis akan menggangu aliran darah yang akhirnya akan menambah kerusakan sel saraf
mengakibatkan timbulnya demensia.

Epilepsi

Gangguan kognitif pada penyandang epilepsi secara umum telah banyak dilaporkan, dengan dampak utamanya
pada fungsi memori. Gangguan ini dapat bersifat sementara sampai gangguan memori yang permanen.

Depresi dan Ansietas

Demensia pada penderita depresi bisa sifatnya sebagai pseudodemensia. Dengan kata lain depresi, stress,
kecemasan bisa memperburuk kognisi, oleh sebab itu menegakkan diagnosa yang tepat sangat penting.

Obat yang mempengaruhi Susunan Saraf Pusat (SSP)

Penyalahgunaan obat berakibat intoksikasi obat yang akan memperburuk kemampuan kognitif. Beberapa jenis
obat diantaranya adalah anticholinergik, sedativa, anti aritmia, anti psikotik, anti hipertensi, narkotik,
antikonvulsan, anti histamin, kortikosteroid, agonis dopamine, anti depresan.21 Terpapar oleh carbon
monooksida, zat alumunium, merkuri, arsenic juga menyebabkan gangguan kognitif.

Mini Mental State Examination (MMSE) adalah metode pemeriksaan untuk menilai fungsi kognitif yang telah
digunakan secara luas oleh para klinisi untuk praktek klinik maupun penelitian.

Banyak penelitian telah menggunakan Global Deterioration Scale (GDS) dan Clinical Dementia Rating (CDR)
sebagai instrumen untuk mengetahui tingkat gangguan fungsi kognitif mulai dari yang normal karena aging
sampai dengan demensia berat.

Mini Mental State Examination (MMSE), Global Deterioration Scale (GDS) dan Clinical Dementia Rating (CDR)
adalah instrumen pemeriksaan untuk menilai fungsi kognitif yang digunakan dalam konsensus nasional
Pengenalan dan penatalaksanaan demensia Alzheimer dan demensia lainnya. Untuk menyingkirkan adanya
depresi digunakan instrumen skala depresi geriatrik. Pengelompokan skor instrumen MMSE, BSF bila skor: 2730, MCI: 23-26, demensia: <22; instrumen GDS, BSF bila skor: 1-2, MCI: 3, demensia : >4; dan instrumen CDR,
BSF bila sko : 0, MCI: (0,5), demensia: >1.
2.5. Tiga Fase Proses Penuaan
PENUAAN tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui beberapa tahapan atau fase, sehingga kita memiliki
kesempatan untuk menghambatnya, salah satunya dengan menjaga pola makan dan pemakaian krim atau
pelembab untuk melindungi kulit dari sengatan matahari agar kulit tidak cepat kering atau keriput. Menurut
Dr. Maria Sulindro, direktur medis Pasadena anti-aging, AS, Proses penuaan terjadi secara bertahap dan secara
garis besar dapat dibagi menjadi 3 fase :

Fase 1
Pada saat mencapai usia 25-35 tahun. Pada masa ini produksi hormon mulai berkurang (mulai mengalami
penurunan produksi). Polusi udara, diet yang tak sehat dan stres merupakan serangan radikal bebas yang dapat
merusak sel-sel tubuh. Di fase ini mulai terjadi kerusakan sel tapi tidak memberi pengaruh pada kesehatan.
Tubuh pun masih bugar terus. Penurunan ini mencapai 14 % ketika seseorang berusia 35 tahun.

Fase 2
Kedua transisi, yakni pada usia 35-45 tahun. Produksi hormon sudah menurun sebanyak 25%, sehingga tubuh
pun mulai mengalami penuaan. Biasanya pada masa ini, ditandai dengan lemahnya penglihatan (mata mulai
mengalami rabun dekat) sehingga perlu menggunakan kacamata berlensa plus, rambut mulai beruban, stamina
dan energi tubuh pun berkurang. Bila pada masa ini dan sebelumnya atau bila pada usia muda, kita melakukan
gaya hidup yang tidak sehat bisa berisiko terkena kanker.

Fase 3
Puncaknya pada tahap fase klinikal, yakni pada usia 45 tahun ke atas. Pada masa ini produksi hormon sudah
berkurang hingga akhirnya berhenti sama sekali. Kaum perempuan mengalami masa yang disebut menopause
sedangkan kaum pria mengalami masa andropause. Pada masa ini kulit pun menjadi kering karena mengalami
dehidrasi/kulit menjadi keriput, terutama di bagian samping dan di bawah mata kita, juga kulit tangan kita
yang tidak sekencang dulu, tubuh juga menjadi cepat lelah. Berbagai penyakit degeneratif seperti diabetes,
osteoporosis, hipertensi dan penyakit jantung koroner mulai menyerang dan menjadi sesuatu yang sangat
mengerikan.
Karena proses penuaan ini terjadi melalui beberapa tahapan, sebenarnya ada banyak waktu untuk
menghambatnya. Cepat lambatnya proses penuaan, 30% dipengaruhi oleh faktor genetika / keturunan dan 70 %
lebih dipengaruhi oleh gaya hidup. Kalau anggota keluarga cenderung awet muda. Kita pun besar kemungkinan
akan berpenampilan awet muda. Gaya hidup yang penuh stres, kurang istirahat, banyak makan makanan
berlemak dan berkalori tinggi, kurang gerak serta hidup di lingkungan yang penuh polusi akan merusak sel
sehingga menjadi lebih tua. Akibatnya, kita pun mengalami penuaan usia biologik. Namun, kondisi ini dapat
dihindari dengan program anti aging baik yang dilakukan sendiri maupun dengan bantuan medis. Misalnya :
Seseorang yang rajin berolahraga, terbukti bisa menangkal sejumlah penyakit kardiovaskuler. Olah raga ringan
di sela aktivitas seperti senam, lari atau jalan cepat sebaiknya sering dilakukan.
Semakin jauh seseorang dari derita penyakit jantung, stroke dan sejenisnya, Semakin berbahagia hidupnya.
Dan kebahagiaan itu merupakan salah satu peran terbesar penunda penuaan. Tidak mungkin rasanya orang bisa
terlihat sehat dan awet muda kalau tubuhnya dihinggapi berbagai jenis penyakit berbahaya. Penunda penuaan
lainnya adalah faktor diet dan nutrisi. Apa yang kita makan menentukan tubuh kita. Diet dan nutrisi sangat
berperan dalam menentukan proses penuaan dan kesehatan seseorang.

2.6. Batasan Lanjut Usia


Beberapa pendapat mengenai batasan umur lansia.
MENURUT ORGANISASI KESEHATAN DUNIA
Lanjut usia meliputi:
Usia pertengahan (middle age), ialah kelompok usia 45 sampai 59 tahun.
Lanjut usia (elderly) = antara 60 dan 74 tahun

Lanjut usia tua (old) = antara 75 dan 90 tahun


Usia sangat tua (very old) = diatas 90 tahun

MENURUT Prof. Dr. Ny. SUMIATI AHMAD MOHAMMAD


Membagi periodisasi biologis perkembangan manusia sebagai berikut:
0-1 tahun = masa bayi
1-6 tahun = masa prasekolah
6-10 tahun = masa sekolah
10-20 tahun = masa pubertas
40-65 tahun = masa setengah umur (prasenium)
65 tahun keatas = masa lanjut usia (senium)
2.7. Upaya Menghambat / Mencegah Proses Penuaan
2.7.1. Pencegahan Proses Penuaan

Banyak orang yang bertanya-tanya dalam hati, apakah proses penuaan itu dapat dicegah ? (Paradigma Baru).
Seiring bertambahnya usia hidup kita dan semakin terpakainya seluruh organ tubuh, kita memang tidak bisa
mengelak dari proses penuaan. Kita telah mengetahui bahwa proses penuaan disebabkan oleh berbagai faktor
baik internal maupun eksternal. Ini berarti bahwa proses penuaan bukanlah datang dengan sendirinya tanpa
penyebab. Dan karena itu lah proses penuaan adalah suatu proses yang dapat dicegah dan dihambat apabila
faktor-faktor pendukungnya juga dapat dihambat dan diatasi. Hal ini sesuai dengan paradigma baru dalam
kedokteran anti penuaan yang dikenalkan oleh American Academy of Anti Aging Medicine tahun 1993, dimana
tantangan dari paradigma baru ini adalah bagaimana mencegah, menunda, bahkan mengembalikan ke kondisi
semula semua proses yang membuat manusia menua dengan semua disfungsi, tanda dan gejala.
Tiga hal penting berkaitan dengan konsep kedokteran anti penuaan yang memberi harapan dalam menghambat
proses penuaan adalah pertama, penuaan adalah suatu proses yang dapat dicegah, ditangani bahkan
dikembalikan ke keadaan semula. Kedua, manusia bukanlah tahanan dari takdir genetik mereka, dan ketiga
gejala penuaan terjadi karena kadar hormon yang menurun, bukan kadar hormon menurun karena proses
penuaan.Kehadiran konsep ini memberikan fakta ilmiah yang menunjukkan bahwa proses penuaan bisa
diperlambat, ditunda, dan bahkan bisa dikembalikan. Dibandingkan dengan kedokteran konvensional yang
mengobati gejala atau akibat dari penuaan, maka kedokteran anti-aging lebih pada merubah proses penuaan
itu sendiri dan sekaligus membawa harapan baru bagi umat manusia.
Jadi penuaan adalah suatu proses yang dapat kita cegah, kita hindari dan kita minimalisasi. Dengan demikian
maka umat manusia tidak lagi harus membiarkan begitu saja dirinya menjadi tua dengan segala keluhan dan
penyakit. Sebaliknya, sebelum muncul keluhan dan gejala yang umumnya terjadi pada usia lanjut, perlu ada
upaya untuk menghambat proses penuaan.

2.7.2. Memperlambat Proses Penuaan

Proses penuaan dapat dicegah dan diperlambat apabila kita memiliki gaya hidup yang baik dan sehat dan
dengan konsisten kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, yang tentu saja harus dibarengin dengan
komitmen dan keinginan untuk hidup sehat.
1. Olahraga teratur, dan konsisten
Olah raga merupakan salah satu cara menjaga awet muda dan menghindari berbagai penyakit.Tidak pernah
terlambat untuk mulai membiasakan diri berolahraga. Dengan berolahraga teratur, tubuh dibiasakan untuk
selalu aktif dan sirkulasi darah ke seluruh tubuh tetap sehat. Sebuah studi yang dilakukan oleh ilmuwan di
Universitas Harvard menyebutkan bahwa orang-orang yang memulai kebiasaan olahraga lebih lambat pada usia
tua ternyata memiliki tingkat kesakitan dan kematian yang lebih rendah dibandingkan dengan orang-orang
yang pada usia mudanya rajin berolahraga tapi lalu menjadi malas berolahraga di usia tuanya. Hal ini
membuktikan bahwa orang tidak pernah terlalu tua untuk mulai berolahraga.

2. Makanlah makanan yang sehat


Apa yang kita makan sangat mempengaruhi seluruh proses dalam tubuh dan hal ini akan terpancar keluar.
Beberapa tips yang dapat digunakan dalam memilih makanan yang dapat membantu memperlambat proses
penuaan dalam tubuh kita : Batasi konsumsi gula olahan dan lemak terutama lemak jenuh hewani, konsumsi
makanan berserat tinggi (seperti, gandum, buah dan sayuran segar), lebih baik mengkonsumsi karbohidrat
kompleks/polisakarida dibandingkan glukosa (nasi, roti, pasta), Konsumsi kalsium yang cukup, perbanyak
minum air putih 10 gelas setiap hari, dan dianjurkan untuk mengkonsumsi ekstra antioksidan, seperti 100 IU
Vit.E.

3. Lakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala yang diperlukan dan


sesuai dengan kondisi masing-masing individu.
Bagaimana kita bisa mengetahui apakah kondisi tubuhnya kita fit atau tidak untuk tetap dapat menjalankan
kehidupan ? Tentu kita tidak bisa mengukurnya hanya dari diri kita sendiri yang merasa tidak ada keluhan dan
merasa tidak ada bagian dari tubuh kita yang terasa sakit, itulah pentingnya kita melakukan pemeriksaan
kesehatan secara berkala. Kesadaran akan pentingnya nilai kesehatan inilah yang merupakan salah satu bentuk
upaya dari menghambat proses penuaan.

4. Kelola / hindari stres dengan selalu berpikir positif


Apa yang kita rasakan akan tercermin pada wajah kita. Orang yang sedang bahagia, wajahnya akan terlihat
berseri-seri, santai dan kelihatan lebih muda dari usia sebenarnya. Maka dari itu, kita harus menghindari stress
/ harus bisa mengelola stress dengan selalu berpikir positif. Karena pikiran positif pasti akan menghasilkan
tindakan yang positif juga. Mulai sekarang cobalah untuk selalu berpikir positif dan buang jauh-jauh pikiran

buruk.
Banyak studi ilmiah sudah dilakukan yang menyatakan bahwa kondisi stress psikologis yang berlangsung lama
dapat mempercepat proses penuaan dan membuat orang menjadi lebih tua sebelum waktunya. Secara ilmiah
dikatakan bahwa, kondisi stress psikologis secara tidak langsung dapat merusak struktur telomere, yaitu suatu
komponen biokimia yang terdapat pada kromosom manusia yang berperan pada replikasi sel. Dengan setiap
replikasi sel, telomere memendek. Mekanisme telomere ikut menentukan rentang usia sel dan pada akhirnya
juga rentang usia organisme itu sendiri. Maka penting sekali untuk dapat mengelola stres kehidupan dengan
menjaga pikiran agar senantiasa berpikir positif dan optimis.

2.7.3. Adapun Tips Awet Muda lainnya


Istirahat cukup
Tidur yang cukup baik bagi tubuh. Luangkan waktu 6-8 jam sehari untuk istirahat malam. Tidur yang tak cukup
akan membuat tubuh tidak segar.
Tertawa
Semua pasti setuju bahwa tertawa merupakan obat awet muda yang paling mujarab. Tertawa juga bisa
membuat zat residu di paru-paru menurun dan berganti dengan oksigen yang lebih segar. Bukan hanya itu,
tertawa juga berkhasiat untuk menurunkan tekanan darah dan hormon stres.
Santai
Senda gurau dan curhat bisa jadi satu alternatif untuk melepaskan penat dalam pikiran. Bisa dengan
melakukan relaksasi, seperti memanjakan diri di spa atau di pijat. Aroma terapi juga ada bagusnya. Yang
penting kita bisa santai dan pikiran pun tenang.
Gunakan pelindung
Sinar matahari merupakan salah satu faktor utama penyebab penuaan dini. Oleh karena itu, gunakan selalu
lotion pelembab khususnya bila keluar rumah, agar kulit tetap segar, lembab dan tidak terbakar sinar
matahari, terutama sinar ultra violet.