Anda di halaman 1dari 26

LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

SEKOLAH STAF DAN PIMPINAN MENENGAH


OPTIMALISASI PENGAMALAN NILAI-NILAI PANCASILA
MELALUI GOTONG-ROYONG POLRES X BERSAMA MASYARAKAT
GUNA MENGANTISIPASI KEBAKARAN LAHAN DAN HUTAN
DALAM RANGKA TERPELIHARANYA KAMTIBMAS

BAB I
PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang
Kebakaran lahan dan hutan adalah masalah menahun yang
menjadi momok bagi Provinsi Riau, ini berhubungan dengan iklim di
Indonesia pada umumnya dan dampaknya pada dareah di provinsi Riau
pada khususnya. Iklim di Indonesia memiliki 2 musim, yaitu musim panas
dan musim hujan, namun pada penghujung musim hujan, provinsi Riau
akan merasakan dampak El nino, yaitu fenomena peningkatan suhu muka
laut yang dapat memberikan dampak kekeringan. Sehingga dalam
setahun, wilayah-wilayah pada provinsi Riau bisa merasakan musim
kemarau lebih dari 6 bulan.
Pada saat kekeringan tersebutlah dapat terjadi kebakaran hutan
dan lahan, yang apabila tidak diantisipasi dampaknya, maka akan
menyebabkan gangguan kesehatan yang berat yaitu kabut asap.
Pada bulan September tahun 2015, yaitu puncak musim kemarau di
Provinsi Riau dinyatakan Riau sebagai provinsi Darurat Kabut Asap. 1 Hal
ini menandakan masalah Kebakaran lahan dan hutan yang tiada hentinya.
Polri sebagai bagian dari unsur pemerintahan Indonesia, yang
merupakan lembaga yang bertugas untuk memberikan perlindungan,
pelayanan dan pengayoman kepada masyarakat, memelihara kamtibmas,
serta melakukan penegakan hukum, turut bertanggung jawab agar
masalah yang ada di Indonesia ini, khususnya provinsi Riau, dapat

1 Menteri LHK: Hari Ini Riau Dinyatakan Darurat Asap, senin, 14


September 2015 <m.detik.com>

teratasi, oleh karena itu, Polri perlu melakukan langkah-langkah bersama


masyarakat, saling bahu membahu, tolong menolong, berpastisipasi untuk
mengatasi kebakaran lahan dan hutan.
Masyarakat adalah kekuatan utama Polri, mengutip slogan yang
sering kita dengar di Polri sebagai berikut, kekuatan utama Polri adalah
simpati masyarakat. Polri tidak dapat bekerja sendiri, perlu ada partisipasi
masyarakat agar apa yang diusahakan oleh Polri ini berhasil. Oleh karena
itu perlu upaya dari Polri untuk merangkul masyarakat, mengambil simpati
masyarakat dan bersama-sama bekerja untuk menciptakan situasi yang
diharapkan, yaitu mangantisipasi terjadinya kebakaran lahan dan hutan.
Dalam Negara kita, Republik Indonesia, terdapat nilai-nilai luhur
Pancasila, yang merupakan warisan leluhur kita, yang di rumuskan dalam
5 sila, sebagai dasar Negara, filosofi bangsa, dan moral bangsa. Pada sila
ke-4 yang berbunyi, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan
dalam

permusyawaratan/perwakilan,

mengharuskan

pemerintahan

Negara kita dijalankan dengan sistem Demokrasi, yaitu pemerintahan


yang berasal dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Pada pengertian
dan pelaksanaan nilai-nilai luhur Pancasila sila ke-4 ini pula terdapat asas
partisipasi didalamnya, yaitu pancasila sebagai moral Negara berarti
Negara melaksanakan peningkatan partisipasi rakyat dalam pelaksanaan
tugas-tugas nasional. Dan juga Pancasila sebagai moral perorangan
berarti setiap individu menyadari diri sebagai warga Negara dan ikut
bertanggung jawab atas keselamatan Negara dan pelaksanaan tugastugasnya memajukan kesejahteraan umum.2
Dengan adanya asas partisipasi sebagai salah satu moral bangsa,
yang merupakan warisan leluhur bangsa kita, maka dapat kita dilakukan
gotong-royong antara polri dengan masyarakat untuk mengantisipasi
kebakaran lahan dan hutan, yaitu suatu wujud partisipasi masyarakat dan
partisipasi Polri untuk bekerja bersama-sama, saling tolong-menolong,
bantu-membantu,3 untuk mewujudkan kegiatan dalam mengantisipasi
kebakaran lahan dan hutan.
2 Kirdi Dipoyudo, Pancasila dan Arti pelaksanaannya, Penerbit Yayasan
Proklamasi CSIS, Jakarta, 1979, h. 66.
3 Arti kata gotong royong menurut KBBI, KBBI.co.id <kbbi.co.id/artikata/gotong+royong

B.

Permasalahan
Bagaimana mengamalkan nilai-nilai Pancasila melalui kegiatan
gotong-royong yang dilaksanakan oleh Polres X bersama-sama dengan
masyarakat guna mengantisipasi kebakaran lahan dan hutan dalam
rangka terwujudnya Kamtibmas?

C.

Pokok Persoalan
Berdasarkan uraian permasalahan tersebut maka pokok persoalan
yang mendasari penulisan naskah ini adalah :
1.
Bagaimana kemampuan anggota Polres X dalam mengamalkan
nilai-nilai
2.

Pancasila melalui kegiatan gotong-royong bersama

masyarakat?
Bagaimana mengoptimalkan pengamalan nilai-nilai Pancasila di
Polres X melalui kegiatan gotong-royong agar dapat mengantisipasi
kebakaran lahan dan hutan?

D.

Ruang Lingkup Pembahasan


Ruang lingkup penulisan NKP ini dibatasi pada pembahasan
mengenai bagaimana mengoptimalkan pengamalan nilai-nilai Pancasila
melalui

kegiatan

gotong-royong

Polres

bersama-sama

masyarakat guna mengantisipasi kebakaran lahan

dengan

dan hutan dalam

rangka terwujudnya pemeliharaan Kamtibmas


E.

Maksud dan Tujuan


1.
Maksud
Maksud dari penulisan ini adalah yang pertama adalah untuk
memenuhi penugasan peserta didik Sespimmen dikreg ke-56 TA
2016, yang kedua adalah untuk memberikan gambaran tentang
pengamalan nilai-nilai Pancasila melalui kegiatan gotong-royong
2.

oleh Polres X.
Tujuan
Penulisan naskah ini bertujuan yang pertama adalah untuk
mengaplikasikan mata perkuliahan pengamalan Nilai-nilai Pancasila
dalam kegiatan yang dilaksanakan oleh Polres X, sedangkan tujuan
yang kedua adalah untuk memberikan gambaran serta masukan
kepada pimpinan mengenai pengamalan nilai-nilai Pancasila
melalui kegiatan gotong-royong oleh Polres X.

F.

Metode dan Pendekatan

1.

Metode
Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah metode
deskriptif analaitis. Metode ini merupakan metode yang mencoba
mendeskripsi fakta-fakta yang terjadi sekaligus memberikan analisis

2.

dan interpretasi terhadap fakta-fakta tersebut.


Pendekatan
Pendekatan yang digunakan penulis dalam naskah ini adalah
pendekatan manajemen sumber daya manusia dan manajemen
perubahan berdasarkan pengalaman penulis selama bertugas di
Polres X. Serta studi kepustakaan dengan menggali beberapa teori
dan konsep sebagai pedoman dalam mengupas permasalahan.

G.

Tata Urut
Agar penulisan tersusun secara sistematis maka urutan penulisan
pada naskah ini adalah sebagai berikut :
1. Bab I Pendahuluan
2. Bab II Landasan Teori
3. Bab III Kondisi Saat Ini Terkait Kemampuan Anggota Dan Metode Yang
Dilaksanakan Dalam Mengamalkan Nilai-nilai Pancasila Melalui
Kegiatan Bergotong-royong
4. Bab IV Faktor-faktor Yang Mempengaruhi
5. Bab V Kondisi Yang Diharapkan Terkait Kemampuan Anggota Serta
Metode Dalam Mengamalkan Nilai-nilai Pancasila Melalui Kegiatan
Bergotong-royong Guna Mengantisipasi Kebakaran Lahan Dan
Hutan.
6. Bab VI Optimalisasi Impelementasi Kegiatan Bergotong-royong Guna
Mengantisipasi Kebakaran Lahan Dan Hutan Dalam Rangka
Terwujudnya Kamtibmas.
7. Bab VII Penutup

H.

Pengertian - Pengertian
1.
Pengamalan
Pengamalan diartikan sebagai suatu proses, cara, perbuatan
2.

mengamalkan, penerapan, pelaksanaan.


Nilai-nilai Pancasila
Pancasila memuat nilai-nilai luhur yang telah menjadi milik bersama
bangsa Indonesia, karena nilai-nilai luhur Pancasila sudah ada

pada bangsa kita jauh sebelum Negara Republik Indonesia


terbentuk. Pada Pancasila sila ke-4 yaitu, kerakyatan yang dipimpin
oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan,
terdapat maksud bahwa Negara kita menganut paham demokrasi,
yaitu pemerintahan yang bersumber dari rakyat, untuk rakyat, dan
oleh rakyat. Demokrasi dalam arti yang luas memiliki asas pokok
yaitu asas partisipasi rakyat serta pengakuan akan harkat dan
martabat manusia yang berwujud
pemerintah
3.

yang

melindungi

adanya tindakan-tindakan

hak-hak

asasi

manusia

demi

kepentingan bersama.4
Gotong-royong
Gotong-royong merupakan akitivitas untuk bekerja-sama, saling
tolong-menolong,

serta

bantu-membantu.

Gotong-royong

merupakan pengamalan dari nilai-nilai Pancasila sila ke-4 dari asas


partisipasi masyarakat serta tindakan demi kepentingan bersama.
4.

Optimalisasi
Optimalisasi berdasarkan pemahaman dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia diartikan sebagai meningkatkan atau menjadikan lebih
baik Jadi dalam naskah ini optimalisasi berarti upaya meningkatkan

5.

atau menjadikan lebih baik.


Kemampuan
Kemampuan menurut Stephen P. Robbins adalah kapasitas
seorang individu untuk mengerjakan berbagai tugas dalam
pekerjaan. Lebih lanjut Robbins menyatakan bahwa kemampuan
(ability) adalah sebuah penilaian terkini terhadap apa yang dapat

6.

dilakukan seseorang.5
Masyarakat
Masyarakat adalah sekelompok orang/warga yang hidup dalam
sutu wilayah dalam arti yang lebih luas misalnya kecamatan, kota,
provinsi, atau bahkan yang lebih luas, sepanjang mereka memiliki
persamaan

kepentingan,

misalnya

masyarakat

pedesaan,

4 Drs. Burhanuddin Salam, Filsafat Pancasilaisme, Bina Aksara, 1988,


hal. 178.
5 Stephen P. Robbins, Perilaku Organisasi, PT. Indeks, Jakarta, 1996, hal.
114

masyarakat perkotaan, masyarakat tradisional, masyarakat modern


7.

dan sebagainya.
Kamtibmas
Keamanan dan ketertiban masyarakat merupakan kondisi dinamis
masyarakat sebagai salah satu prasyarat terselenggaranya proses
pembangunan nasional dalam rangka tercapainya tujuan nasional
yang ditandai oleh terjaminnya keamanan, ketertiban, tegaknya
hukum,

serta

terbinanya

ketentraman,

yang

mengandung

kemampuan membina serta mengembangkan potensi masyarakat


dalam menangkal, mencegah dan menanggulangi segala bentuk
pelanggaran hukum yang dapat meresahkan masyarakat. 6

BAB II
LANDASAN TEORI
A.

Teori Kerjasama
Menurut Thomson dan Perry dalam Keban (2007:28), Kerjasama
memiliki derajat yang berbeda, mulai dari kordinasi dan kooperasi
(cooperation) sampai pada derajat yang lebih tinggi yaitu collaboration.
Para ahli pada dasarnya menyetujui bahwa perbedaan terletak pada
kedalaman interaksi, integrasi, komitmen, dan kompleksitas dimana
cooperation terletak pada tingkatan yang paling rendah. Sedangkan
collaboration pada tingkatan yang tinggi.
Pendekatan ini diutarakan oleh Thomson dan Perry dengan maksud
bahwa dalam melakukan suatu kerjasama ternyata mempunyai tingkatan
yang berbeda-beda dalam hal bagaimana cara interaksinya, bagaimana
cara integrasinya, serta bagaimana komitmen dari dua belah pihak atau
lebih yang melakukan kerjasama, maka dalam hal ini diperlukan suatu

6 UU No. 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia,


pasal 1.

kordinasi dan kooperasi yang jelas serta apabila dimungkinkan dilakukan


suatu kolaborasi kepentingan diantara keduanya. 7
Dalam tulisan ini, teori kerjasama akan digunakan sebagai landasan
anggota Polres X untuk mengamalkan kegiatan gotong-royong bersama
masyarakat.
B.

Teori Motivasi
Motivasi

adalah

serangkaian

sikap

dan

nilai-nailai

yang

mempengaruhi individu untuk mencapai hal yang spesifik sesuai dengan


tujuan individu. Sikap dan nilai tersebut merupakan suatu invisible yang
memberikan kekuatan untuk mendorong individu bertingkah laku dalam
mencapai tujuan.8
Teori motivasi yang digunakan adalah teori ERG, teori ERG
(existence relatedness growth) mengansumsikan tiga kategori kebutuhan,
yakni kebutuhan akan eksistensi (E), kebutuhan untuk berhubungan
dengan pihak lain (R), dan kebutuhan akan pertumbuhan (G).
Dalam tulisan ini, teori motivasi akan digunakan sebagai pisau
analisis untuk mengetahui kebutuhan apa saja yang dapat memotivasi
masyarakat agar dapat bekerjasama dengan anggota Polres X dalam
bergotong-royong guna mengantisipasi kebakaran lahan dan hutan.
C.

Analisis SWOT
Sebagai

dasar

dalam

merumuskan

faktor-faktor

yang

mempengaruhi maka teori analisis SWOT digunakan sebagai dasar untuk


menjabarkan faktor tersebut secara sistematis.
Menurut freddy Rangkutin analisis SWOT merupakan sebuah
konsepsi

yang

digunakan

untuk

mengidentifikasi

berbagai

faktor

didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (strength)


dan kelemahan (weakness) serta peluang (opportunity) dan ancaman
(threats) secara sistematis.
Sehingga mengacu

pada

teori

tersebut

faktor-faktor

yang

mempengaruhi akan diidentifikasi berdasarkan unsur internal yang terdiri


7 Scribd.com/doc/60055605/teori-kerja-sama, diakses pada tanggal 1
Mei 2016, pkl 18:05 Wib.
8 Veithzal Rivai, Manajemen Sumber Daya Manusia untuk Perusahaan;
dari Teori ke Praktik, Raja Grafindo Utama, Jakarta, 2008, hal. 455.

dari faktor kekuatan dan kelemahan serta faktor eksternal yang terdiri dari
faktor peluang dan kendala.

BAB III
KONDISI SAAT INI POLRES X DALAM MENGAMALKAN NILAI-NILAI
PANCASILA MELALUI KEGIATAN BERGOTONG-ROYONG

A.

Kemampuan Anggota Polres X Dalam Mengamalkan Nilai-nilai


Pancasila melalui Kegiatan Bergotong-royong Saat Ini
1. Pengetahuan (Knowledge).
Anggota Polres X berjumlah 534 Personel, dengan jenjang
pendidikan 4 pers tamat S2, 200 pers tamat S1, dan 300 pers
tamatan SMU atau sederajat.
Bila dilihat dari pengetahuan/jenjang pendidikan, dapat kita
pahami bahwa seluruh anggota Polres X sebanyak 534 Pers telah
memahami nilai-nilai Pancasila, karena pada sistem pendidikan di
Indonesia pada setiap tingkatan memasukkan materi Pendidikan
Pancasila.

2. Keterampilan (Skill)
a. Pada saat berdinas, anggota Polres X belum pernah
mendapatkan

pelatihan

pengamalan Pancasila.

tentang

pemahaman

dan

b. Pengetahuan

tentang

Pancasila

tidak

pernah

secara

langsung didapatkan, melainkan secara tidak langsung


melalui pengarahan-pengarahan dari pimpinan mengenai
nilai-nilai bermasyarakat, yang didalamnya terkandung nilainilai Pancasila, seperti nilai persatuan, nilai kemanusiaan,
nilai toleransi, nilai kerjasama, nilai gotong-royong, dan
sebagainya.

3. Sikap (Attitude)
a. Anggota Polres X belum sepenuhnya mampu mengamalkan
nilai-nilai

Pancasila

dalam

kehidupan

sehari-hari

di

lingkungan masyarakat, hal ini terlihat dari masih adanya


keluhan/komplain masyarakat mengenai sikap dan perilaku
anggota yang tidak sesuai dengan harapan masyarakat.
b. Masih ditemukan sikap dan perilaku anggota Polres X yang
kurang peka, kurang memberikan simpati, acuh dan tidak
tanggap terhadap persoalan yang ada di masyarakat. Sikap
seperti ini dapat menjauhkan simpati masyarakat sehingga
akan membuat semakin susahnya anggota Polres X untuk
mengajak masyarakat bergotong-royong.
B.

Metode Yang Dilakukan Oleh Polres X Saat ini Dalam Mengamalkan


Nilai-nilai

Pancasila

melalui

kegiatan

Bergotong-royong

Guna

Mengantisipasi Kebakaran Lahan Dan Hutan


1. Pembinaan rohani dan mental yang bertujuan anggota dapat
melaksanakan tupoksi dengan kondisi mental dan kejiwaan yang
baik, saat ini tidak dilaksanakan secara konsisten, dari jadwal yang
direncanakan, binrohtal ini dilaksanakan seminggu sekali, namun
kadang dilaksanakan kadang tidak.
2. Pengawasan yang dilakukan pada keseharian anggota Polres X
memang terbatas, pengawasan dapat dilakukan secara langsung
yaitu pada kegiatan seperti operasi bersama, apel, pekerjaan rutin

di kantor, dan tugas yang dilakukan secara bersama oleh pimpinan


dengan anggota sesuai tupoksi anggota masing-masing.
3. Sosialisasi pemahaman nilai-nilai Pancasila tidak pernah diberikan
secara langsung kepada anggota, melainkan melalui arahan-arahan
oleh pimpinan mengenai nilai-nilai bermasyarakat, etos kerja,
semangat bekerjasama untuk institusi dan masyarakat serta nilainilai yang terdapat dalam Tribrata dan Catur Prasetya yang
kesemuanya bersumber kepada nilai-nilai luhur bangsa kita yaitu
Pancasila.
4. Pada Polres X dijalankan program Bhakti Bhabinkamtibmas yang
dilaksanakan

setiap

sebulan

sekali,

program

Bhakti

Bhabinkamtibmas ini merupakan program yang dilaksanakan untuk


mengajak

masyarakat

bergotong-royong

di

lingkungan

kerja

Bhabinkamtibmas, dengan sasaran yang ditentukan oleh Kepala


Desa, masyarakat dan Bhabinkamtibmas itu sendiri, kemudian saat
pelaksanaannya dilaksanakan oleh masyarakat dan juga oleh
anggota Polres dan Polsek, bukan hanya Bhabinkamtibmasnya.
5. Pada Polres X telah dibuat forum masyarakat untuk melaksanakan
gotong-royong melawan kebakaran lahan dan hutan, tetapi bukan
untuk mengantisipasi kebakaran lahan dan hutan, yaitu disebut
dengan Forum Masyarakat Gotong-royong melawan api (FMGR)
yang dibentuk di tingkat desa, namun belum semua desa telah
terbentuk, yang memiliki tugas apabila ada kebakaran lahan dan
hutan, maka FMGR membantu tugas pemerintah dalam hal ini
Polres X untuk mematikan api kebakaran diwilayahnya.
C.

Implikasi Belum Optimalnya pengamalan Nilai-nilai Pancasila melalui


kegiatan Bergotong-royong Guna Mengantisipasi Kebakaran Lahan
Dan Hutan
1. Implikasi Dari Segi Kemampuan
a. Implikasi dari belum dilaksanakannya pelatihan mengenai
pemahaman dan penerapan nilai-nilai Pancasila, maka anggota

Polres X belum dapat memahami dan melaksanakan nilai-nilai


Pancasila secara utuh.
b. Dari adanya pelanggaran yang dilakukan oleh anggota Polres X,
berimplikasi terhadap menurunnya kepercayaan masyarakat
terhadap Polres X, sehingga apabila anggota Polres X
melaksanakan program dengan mengajak masyarakat untuk
bergotong-royong mengantisipasi kebakaran lahan dan hutan
bisa berakibat program tersebut tidak diterima atau ajakan
tersebut tidak diikuti.

2. Implikasi Dari Segi Metode


a. Implikasi dari belum dilaksanakannya binrohtal secara konsisten
mengakibatkan belum optimalnya kondisi rohani dan mental
anggota yang baik dalam melaksanakan tupoksi sehari-hari.
b. Implikasi dari terbatasnya pengawasan maka dapat berakibat
adanya perbuatan yang dilakukan anggota Polres X yang tidak
sesuai dengan nilai-nilai luhur Pancasila.
c. Implikasi dari belum adanya program pelatihan dan penerapan
nilai-nilai Pancasila, namun telah adanya arahan-arahan dari
pimpinan mengenai nilai-nilai bermasyarakat, Tribrata dan Catur
Prasetya dapat berakibat kurangnya wawasan tentang nilai-nilai
Pancasila, perbuatan yang dilakukan terarah pada nilai-nilai
Tribrata dan Catur Prasetya, berdampak pada tidak optimalnya
penerapan nilai-nilai Pancasila kepada masyarakat.
d. Implikasi adanya Forum Masyarakat Gotong-royong (FMGR)
melawan api dapat menumbuhkan nilai-nilai gotong-royong pada
masyarakat, namun, nilai ini ada pada saat bila telah terjadi
kebakaran lahan dan hutan, sehingga ada kepasifan nilai-nilai
bergotong-royong bila hanya ada kebakaran saja. Hal ini
mengakibatkan kebakaran lahan dan hutan terus terjadi.

BAB IV
FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI OPTIMALISASI
PENGAMALAN NILAI-NILAI PANCASILA MELALUI GOTONG-ROYONG
POLRES X BERSAMA MASYARAKAT
A.

Internal
a.
Kekuatan
1)
Grand Staregy Polri yang telah memasuki tahap ke-3, yaitu
Strive For Exellence, merupakan landasan bagi Polri untuk
2)

terus melakukan perubahan ke arah yang lebih baik.


Adanya Kode Etik Profesi Polri yang tertuang dalam Perkap
No 14 Tahun 2011 sebagai pedoman etika profesi Polri

3)

termasuk didalamnya etika kemasyarakatan.


Adanya UU No 2 Tahun 2002 tentang Polri yang memberikan
landasan tugas dan wewenang bagi Polri untuk melindungi,
melayani

4)

dan

mengayomi

masyarakat,

memelihara

Kamtibmas serta melakukan penegakan hukum.


Adanya program Bhakti Bhabinkamtibmas dari Kapolres X
yaitu program bergotong-royang anggota Polres X bersama-

5)

sama dengan masyarakat.


Komitmen dari Kapolres X dalam melakukan pembinaan

6)

rohani dan mental kepada anggota Polres X.


Komitmen dari Kapolres X dalam melakukan
mengantisipasi kebakaran lahan dan hutan.

b.

Kelemahan

upaya

1.

Masih lemahnya kemampuan anggota Polres X dalam


mengamalkan nilai-nilai pancasila melalui kegiatan gotongroyong.

2.

Terbatasnya pengawasan dan pengendalian dari pimpinan


Polres X terhadap sikap dan perilaku anggota dalam
mengamalkan nilai-nilai Pancasila di masyarakat.

3.

Masih adanya pelanggaran yang dilakukan anggota Polres X


di

tengah-tengah

masyarakat

yang

menyebabkan

masyarakat tidak simpati kepada Polres X.


4.

Kurangnya dilakukan analisa dan evaluasi oleh Pimpinan


terhadap perilaku anggota Polres X dalam mengamalkan
nilai-nilai Pancasila.

B.

Eksternal
a.
Peluang
1)

Adanya kemauan yang sama antara pemerintah daerah,


serta intansi lainnya di wilayah Polres X untuk mengatasi
musibah kebakaran lahan dan hutan di wilayah X.

2)

Adanya FMGR melawan Api yang dibentuk oleh Polri di


setiap desa di wilayah Polres X. Hal ini akan sangat
membantu apabila Polres X merubah metode dalam
mengatasi kebakaran lahan dan hutan.

3)

Adanya nilai-nilai luhur yang dipegang oleh masyarakat, yang


dapat dibangkitkan agar mau bersama-sama mengantisipasi
kebakaran hutan dan lahan. Karena kebakaran lahan dan
hutan adalah masalah bersama yang harus diatasi bersama.

4)

Adanya lembaga pers dan LSM yang dapat diajak untuk


mengkampanyekan bahaya kebakaran lahan dan hutan,
serta mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama
berjuang mengatasi kebakaran lahan dan hutan.

b.

Kendala

1)

Masih adanya rasa tidak simpati masyarakat kepada Polres


X akibat dari pelanggaran yang dilakukan anggota Polres X
di tengah-tengah masyarakat.

2)

Adanya

ketergantungan

masyarakat

terhadap

peran

pemerintah, sehingga masyarakat merasa kebakaran lahan


dan hutan adalah tanggung jawab dari pemerintah saja.
3)

Adanya

rasa

ketidakpedulian

masyarakat

terhadap

kebakaran lahan dan hutan yang terjadi, diakibatkan


sebagian masyarakat merasa bahwa kebakaran lahan dan
hutan terjadi adalah tanggung jawab para pemilik lahan dan
kebun. Sehingga masyarakat enggan untuk mengantisipasi
kebakaran yang akan terjadi.
4)

Adanya anggapan bahwa perbuatan baik yang dilakukan


Polri adalah pencitraan, sehingga masyarakat kurang tertarik
dengan ajakan Polres X untuk melakukan gotong-royong
mengantisipasi kebakaran lahan dan hutan.

BAB V
KONDISI YANG DIHARAPKAN PADA POLRES X DALAM MENGAMALKAN
NILAI-NILAI PANCASILA MELALUI KEGIATAN BERGOTONG-ROYONG

A.

Kemampuan Anggota Polres X Dalam Mengamalkan Nilai-nilai


Pancasila melalui Kegiatan Bergotong-royong Yang Diharapkan
1. Pengetahuan (Knowledge).
a.

Diharapkan pengetahuan anggota Polres X mengenai

nilai-nilai

Pancasila

meningkat

begitu

juga

dengan

pemahaman tentang nilai-nilai Tribrata dan Catur Prasetya.


b.

Diharapkan anggota Polres X juga dapat memahami

Perkap No 14 tahun 2011 tentang kode etik profesi Polri.


2. Keterampilan (Skill)
1)

Diharapkan anggota Polres X pernah mendapatkan

pelatihan tentang pengamalan nilai-nilai luhur Pancasila.


2)

Diharapkan pimpinan Polres X dalam melakukan

pembinaan serta arahan mengenai tupoksi, mental dan


rohani serta disiplin, dapat memberikan pemahaman tentang
nilai-nilai luhur Pancasila serta keterkaitannya dengan
tupoksi Polri serta dengan Tribrata dan Catur Prasetya.
3. Sikap (Attitude)
1)

Anggota Polres X dapat mengamalkan nilai-nilai luhur

Pancasila dalam sikap perilaku sehari-hari, sehingga tidak


ada komplain mengenai sikap anggota Polres X yang
melakukan pelanggaran di tengah-tengah masyarakat.
2)

Anggota Polres X peduli, peka dan tanggap terhadap

persoalan yang ada di masyarakat, mau membantu kesulitan


yang ada di masyarakat, dan mendapat kepercayaan dari
masyarakat.

B.

Metode Yang Diharapkan Dalam Mengamalkan Nilai-nilai Pancasila


melalui kegiatan Bergotong-royong Guna Mengantisipasi Kebakaran
Lahan Dan Hutan oleh Polres X
1. Pembinaan rohani dan mental dilaksanakan secara konsisten,
dapat dilakukan dengan metode terjadwal serta tempat yang
variatif.
2. Pengawasan terhadap anggota ditingkatkan, tidak hanya pada saat
kegiatan di kantor, dan apel, dapat juga dilaksanakan dengan
melakukan pertemuan di luar jam kantor, perkumpulan dengan
keluarga serta kegiatan bersama anggota dengan masyarakat.
3. Melakukan sosialisasi terhadap nilai-nilai luhur Pancasila kepada
anggota

Polres

X,

kemudian

berusaha

di

amalkan

dalam

pelaksanaan tupoksi sehari-hari.


4. Pada program Bhakti Bhabinkamtibmas dapat dipadukan dengan
kegiatan Forum Masyarakat Gotong-royong (FMGR) melawan api,
dengan metode kerjasama untuk mengantisipasi kebakaran lahan
dan hutan, yaitu melakukan kegiatan-kegiatan untuk mengantisipasi
kebakaran lahan dan hutan agar tidak terjadi.
5. Forum Masyarakat Gotong-royong (FMGR) melawan api, dirubah
menjadi FMGR mengantisipasi api.
C.

Kontribusi Optimalnya pengamalan Nilai-nilai Pancasila melalui


kegiatan Bergotong-royong Guna Mengantisipasi Kebakaran Lahan

1.

Dan Hutan
Kontribusi Kemampuan
1)
Anggota Polres X dapat memahami dan mengamalkan nilai2)

nilai luhur Pancasila secara utuh.


Anggota Polres X memperoleh kepercayaan masyarakat,
sehingga dapat dengan mudah mengajak masyarakat untuk
melaksanakan

b.

lahan dan hutan.


Kontribusi Metode

gotong-royong

mengantisipasi

kebakaran

1)

Konsistennya pembinaan rohani dan mental menjadikan


anggota Polres X selalu siap dalam melaksanakan tugas

2)

sehari-hari dengan baik.


Kontribusi dari dikembangkannya

pola

pengawasan

menjadikan perbuatan anggota Polres X lebih terarah kepada


3)

pengamalan nilai-nilai luhur Pancasila.


Adanya pelatihan nilai-nilai Pancasila menjadikan anggota
lebih paham tentang penerapan nilai-nilai Pancasila dalam

4)

tugas sehari-sehari maupun tugas lain yang lebih berat.


Kontribusi dari adanya perpaduan program Bhakti
Bhabinkamtibmas

dengan

FMGR

mengantisipasi

api,

menjadikan wilayah Polres X dapat melakukan upaya


mengantisipasi kebakaran lahan dan hutan agar tidak terjadi
5)

di wilayah Polres X.
Kontribusi dari berubahnya FMGR melawan api menjadi
FMGR mengantisipasi api yaitu dari perubahan metode kerja
FMGR dari kerja pasif menunggu api menjadi kerja aktif
mengantisipasi agar tidak ada api.

BAB VI

OPTIMALISASI PENGAMALAN NILAI-NILAI PANCASILA MELALUI GOTONGROYONG POLRES X BERSAMA MASYARAKAT


GUNA MENGANTISIPASI KEBAKARAN LAHAN DAN HUTAN DALAM
RANGKA TERPELIHARANYA KAMTIBMAS

Optimalisasi pengamalan nilai-nilai Pancasila melalui kegiatan gotongroyong, oleh Polres X bersama dengan masyarakat, guna mengantisipasi
kebakaran lahan dan hutan, dalam rangka terpeliharanya Kamtibmas. Konsepsi
pemecahan masalah yang dikemukakan merupakan bentuk dari translation
process dengan menjabarkan elemen dasar dalam perumusan strategi (meliputi
pernyataan Visi, Misi, Tujuan, Sasaran, Strategi, Kebijakan dan Action Plan).9
Adapun untuk penjabaran lebih jelasnya yaitu sebagai berikut :
1.

Visi.
Visi yang dapat dirumuskan dalam penulisan ini adalah :
Terpeliharanya Kamtibmas dengan cara optimalisasi pengamalan nilainilai Pancasila melalui kegiatan gotong-royong Polres X bersama-sama
masyarakat guna mengantisipasi kebakaran lahan dan hutan.

2.

Misi.
Berdasarkan rumusan visi tersebut di atas, selanjutnya akan
diuraikan

tentang

penjabaran

misi

Polres

dalam

optimalisasi

pengamalan nilai-nilai Pancasila melalui kegiatan gotong-royong Polres X


bersama-sama masyarakat guna mengantisipasi kebakaran lahan dan
hutan adalah sebagai berikut :
a.

Mewujudkan kepercayaan masyarakat di wilayah Polres X melalui


pengamalan nilai-nilai luhur Pancasila oleh anggota Polres X.

b.

Terpeliharanya Kamtibmas di wilayah Polres X melalui kegiatan gotongroyong oleh Polres X bersama-sama dengan masyarakat dalam
mengantisipasi terjadinya kebakaran lahan dan hutan.

3.

Tujuan.

9 Crown Dirgantoro, 2001, Manajemen Stratejik konsep, kasus dan implementasi,


Grasindo, hal 9-10.

a.

Meningkatnya pemahaman anggota Polres X tentang nilai-nilai luhur


Pancasila.

b.

Terwujudnya anggota Polres X yang dapat mengamalkan nilai-nilai luhur


Pancasila dalam pelaksanaan tugas.

c.

Terciptanya kepercayaan masyarakat kepada anggota Polres X, guna


terjalinnya kerjasama anggota Polres X dengan masyarakat.

d.

Tersusunnya metode yang tepat dan sistematis dalam optimalisasi


pengamalan nilai-nilai Pancasila melalui kegiatan gotong-royong Polres X
bersama masyarakat guna mengantisipasi kebakaran lahan dan hutan.

4.

Sasaran.

a.

Meningkatkan kemampuan anggota dalam optimalisasi pengamalan nilainilai Pancasila.

b.

Membuat

metode

yang

tepat

dan

sistematis

dalam

optimalisasi

pengamalan nilai-nilai Pancasila melalui kegiatan gotong-royong Polres X


dengan masyarakat.
c.

Meningkatkan kepercayaan masyarakat melalui pengamalan nilai-nilai


Pancasila sehingga dapat mewujudkan kerjasama Polres X dengan
masyarakat dalam melakukan gotong-royong mengantisipasi kebakaran
lahan dan hutan.

5.

Kebijakan.

a.

Meningkatkan kemampuan anggota melalui pembinaan rohani dan mental


secara konsisten.

b.

Meningkatkan

kemampuan

anggota

melalui

pelatihan-pelatihan

pemahaman dan pengamalan nilai-nilai luhur Pancasila.


c.

Menyusun metode yang tepat dan sistematis berupa petunjuk untuk


meraih kepercayaan masyarakat melalui pengamalan nilai-nilai luhur
Pancasila.

d.

Menyusun metode yang tepat dan sistematis berupa kegiatan gotongroyong bersama Polres X dengan masyarakat guna mengantisipasi
kebakaran lahan dan hutan.

e.

Melakukan analisa dan evaluasi terkait kegiatan optimalisai pengamalan


nilai-nilai Pancasila melalui gotong-royong Polres X dengan masyarakat
guna mengantisipasi kebakaran lahan dan hutan.

6.

Strategi.
Sebelum merumuskan strategi yang akan diterapkan dalam
optimalisasi pengamalan nilai keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia guna meningkatkan perilaku anggota yang bermoral, maka
penulis menggunakan analisa Matrik TOWS (Threats-OpportunitiesWeakness-Strenght), yang dijelaskan pada tabel sebagai berikut:
Tabel 6.1
Matrik TOWS
KEKUATAN (S)

FAKTOR
INTERNAL

FAKTOR
EKSTERNAL

PELUANG (O)

1.

2.

3.

4.

Adanya kemauan yang sama antara


pemerintah daerah, serta intansi lainnya
di wilayah Polres X untuk mengatasi
musibah kebakaran lahan dan hutan di
wilayah X.
Adanya FMGR melawan Api yang
dibentuk oleh Polri di setiap desa di
wilayah Polres X. Hal ini akan sangat
membantu apabila Polres X merubah
metode dalam mengatasi kebakaran
lahan dan hutan.
Adanya nilai-nilai luhur yang dipegang
oleh masyarakat, yang dapat
dibangkitkan agar mau bersama-sama
mengantisipasi kebakaran hutan dan
lahan. Karena kebakaran lahan dan
hutan adalah masalah bersama yang
harus diatasi bersama.
Adanya lembaga pers dan LSM yang
dapat diajak untuk mengkampanyekan
bahaya kebakaran lahan dan hutan,
serta mengajak seluruh masyarakat
untuk bersama-sama berjuang
mengatasi kebakaran lahan dan hutan.

Grand Staregy Polri yang telah memasuki tahap


ke-3, yaitu Strive For Exellence, merupakan
landasan bagi Polri untuk terus melakukan
perubahan ke arah yang lebih baik.
Adanya Kode Etik Profesi Polri yang tertuang
dalam Perkap No 14 Tahun 2011 sebagai
pedoman etika profesi Polri termasuk
didalamnya etika kemasyarakatan.
Adanya UU No 2 Tahun 2002 tentang Polri yang
memberikan landasan tugas dan wewenang
bagi Polri untuk melindungi, melayani dan
mengayomi
masyarakat,
memelihara
Kamtibmas serta melakukan penegakan
hukum.
Adanya program Bhakti Bhabinkamtibmas dari
Kapolres X yaitu program bergotong-royang
anggota Polres X bersama-sama dengan
masyarakat.
Komitmen dari Kapolres X dalam melakukan
pembinaan rohani dan mental kepada anggota
Polres X.
Komitmen dari Kapolres X dalam melakukan
upaya mengantisipasi kebakaran lahan dan
hutan.

KELEMAHAN (W)
Masih lemahnya kemampuan anggota Polres X
dalam mengamalkan nilai-nilai pancasila
melalui kegiatan gotong-royong.
Terbatasnya pengawasan dan pengendalian
dari pimpinan Polres X terhadap sikap
dan
perilaku
anggota
dalam
mengamalkan nilai-nilai Pancasila di
masyarakat.
Masih adanya pelanggaran yang dilakukan
anggota Polres X di tengah-tengah
masyarakat
yang
menyebabkan
masyarakat tidak simpati kepada Polres
X.
Kurangnya dilakukan analisa dan evaluasi oleh
Pimpinan terhadap perilaku anggota
Polres X dalam mengamalkan nilai-nilai
Pancasila.

STRATEGI (SO)

STRATEGI (WO)

1. Kapolres bekerjasama dengan pemerintah daerah,


instansi lainnya untuk membuat metode
mengantisipasi kebakaran lahan dan hutan.
(S6+O1)

1.

Melakukan kegiatan pelatihan nilai-nilai


Pancasila
melalui
gotong-royong
bekerjasama dengan pemerintah daerah.
(W1+O1)

2. Kapolres bekerjasama dengan pemerintah daerah


dan instansi lainnya serta LSM dan pers untuk
mensosialisasikan
kegiatan
larangan
membakar lahan dan hutan dan mengajak
masyarakat mengantisipasi (S6+01+04)

2.

Melakukan
pengawasan
pengamalan
nilai-nilai Pancasila diluar jam kantor
dengan melakukan kegiatan bersama
pemerintah daerah, instansi lain, ataupun
dengan masyarakat. (W2+O1+O4)

3. Kapolres
memadukan
program
Bhakti
Bhabinkamtibmas dengan FMGR melawan api
dengan
merubah
metode
menjadi
mengantisipasi api. (S4+O2+O3)

KENDALA (T)
1.

2.

STRATEGI (ST)

Masih adanya rasa tidak simpati 1. Melakukan pembinaan rohani dan mental secara
masyarakat kepada Polres X akibat dari
disiplin, serta menerapkan sistem reward dan
pelanggaran yang dilakukan anggota
punishment yang efektif. (S5+T1+T4)
Polres X di tengah-tengah masyarakat.
2. Melaksanakan sosialisasi kepada masyarakat
Adanya ketergantungan masyarakat
tentang ancaman kebakaran lahan dan hutan,
terhadap peran pemerintah, sehingga
serta menimbulkan tanggungjawab bahwa
masyarakat merasa kebakaran lahan
kebakaran lahan dan hutan adalah masalah
dan hutan adalah tanggung jawab dari
bersama. (S6+T2+T3)
pemerintah saja.

3.

Adanya
rasa
ketidakpedulian
masyarakat terhadap kebakaran lahan
dan hutan yang terjadi, diakibatkan
sebagian masyarakat merasa bahwa
kebakaran lahan dan hutan terjadi
adalah tanggung jawab para pemilik
lahan dan kebun. Sehingga masyarakat
enggan untuk mengantisipasi kebakaran
yang akan terjadi.

4.

Adanya anggapan bahwa perbuatan


baik yang dilakukan Polri adalah
pencitraan,
sehingga
masyarakat
kurang tertarik dengan ajakan Polres X
untuk
melakukan
gotong-royong
mengantisipasi kebakaran lahan dan
hutan.

STRATEGI (WT)
1.

Melaksanakan kegiatan Kepolisian yang


dijiwai nilai-nilai luhur Pancasila secara
masiv dan konsisten.

Dari matrik TOWS diatas terlihat bagaimana kondisi peluang dan


ancaman dari luar Polres X yang dikaitkan dengan kekuatan dan
kelemahan, sehingga dapat dirumuskan strategi dalam optimalisasi
pengamalan nilai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dalam
meningkatkan perilaku anggota yang bermoral, adalah sebagai berikut :
a. Strategi Jangka Pendek
1) Melakukan pembinaan rohani dan mental secara disiplin, serta
menerapkan sistem reward dan punishment yang efektif.
2) Kapolres bekerjasama dengan pemerintah daerah dan instansi
lainnya serta LSM dan pers untuk mensosialisasikan kegiatan
larangan membakar lahan dan hutan dan mengajak masyarakat
untuk mengantisipasi kebakaran lahan dan hutan.
3) Kapolres memadukan program Bhakti Bhabinkamtibmas dengan
FMGR melawan api dengan merubah metode menjadi FMGR
mengantisipasi api.
b. Strategi Jangka Menengah
1) Melakukan kegiatan pelatihan nilai-nilai Pancasila melalui
gotong-royong bekerjasama dengan pemerintah daerah.
2) Kapolres bekerjasama dengan pemerintah daerah, instansi
lainnya untuk membuat metode mengantisipasi kebakaran
lahan dan hutan.

3) Melaksanakan sosialisasi kepada masyarakat tentang ancaman


kebakaran lahan dan hutan, serta menimbulkan tanggungjawab
bahwa kebakaran lahan dan hutan adalah masalah bersama.
c. Strategi Jangka Panjang
1) Melaksanakan kegiatan Kepolisian yang dijiwai nilai-nilai luhur
Pancasila secara masiv dan konsisten.
2) Melakukan pengawasan pengamalan nilai-nilai Pancasila diluar
jam kantor dengan melakukan kegiatan bersama pemerintah
daerah, instansi lain, ataupun dengan masyarakat.
7)

Action Plan
a. Action Plan Jangka Pendek
1) Melakukan kegiatan pelatihan nilai-nilai Pancasila melalui
gotong-royong bekerjasama dengan pemerintah daerah, yaitu
dengan :
a) Melaksanakan jadwal pelatihan.
b) Mengundang tokoh masyarakat untuk ikut berlatih
menanamkan nilai-nilai Pancasila.
c) Melaksanakan
kegiatan-kegiatan
mengimplementasikan nilai-nilai

yang

Pancasila melalui

gotong royong, seperti kegiatan penanaman pohon,


pasar bersih, sungai bersih, selokan bersih, fogging,
dan lain-lain.
2) Kapolres bekerjasama dengan pemerintah daerah dan
instansi lainnya serta LSM dan pers untuk mensosialisasikan
kegiatan larangan membakar lahan dan hutan dan mengajak
masyarakat untuk mengantisipasi kebakaran lahan dan
hutan, yaitu dengan:
a)

Memberitakan tentang kejadian kebakaran lahan dan hutan serta


dampaknya.

b)

Mengadakan pertemuan dengan toga, tomas, dan tokoh pemuda untuk


mensosialisasikan bahaya kebakaran lahan dan hutan serta dampaknya
serta mengajak masyarakat untuk mengantisipasi kebakaran lahan dan
hutan.

c)

Memberitakan

kegiatan-kegiatan

yang

dilaksanakan

dalam

rangka

sosialisasi mengantisipasi kebakaran lahan dan hutan.


3) Kapolres memadukan program Bhakti Bhabinkamtibmas
dengan FMGR melawan api dengan merubah metode
menjadi FMGR mengantisipasi api, yaitu dengan:
a)

Melaksanakan sosialisasi perubahan nama FMGR melawan api menjadi


FMGR mengantisipasi api.

b)

Melaksanakan gotong-royong Bhakti Bhabinkamtibmas bersama-sama


dengan FMGR mengantisipasi api dengan sasaran membuat embung dan
tanggul (canal blocking) di daerah-daerah yang rawan terjadi kebakaran
lahan dan hutan.
b. Action Plan Jangka Menengah
1) Melaksanakan pembinaan kejujuran dan keadilan kepada
anggota sebagai landasan dalam kehidupan sehari-hari di

a)

lingkungan masyarakat. Hal ini diwujudkan dengan :


Mengarahkan para Perwira Polres untuk memberikan contoh dan
keteladan mengenai sikap jujur dan adil dengan memperlakukan seluruh
anggota secara setara tanpa membedakan golongan atau kesamaan latar

b)

belakang.
Menerapkan sistem dan metode pengawasan secara melekat oleh setiap
atasan langsung secara berjenjang.
2) Kapolres bekerjasama dengan pemerintah daerah, instansi
lainnya untuk membuat metode mengantisipasi kebakaran lahan
dan hutan. Hal ini dilakukan dengan :
a)
Mengadakan rapat untuk

mencari

pemecahan

masalah guna mengantisipasi Kebakaran lahan dan


b)

hutan.
Membuat program pencegahan kebakaran lahan dan
hutan, seperti pembuatan embung dan tanggul
bersama-sama masyarakat

c)

di lahan-lahan yang

rawan terbakar.
Membuat program sosialisasi pencegahan kebakaran
lahan

dan

hutan

dengan

melibatkan

Forum

masyarakat gotong-royong mengantisipasi api serta


masyarakat peduli lainnya.
c. Action Plan Jangka Panjang
1) Melaksanakan kegiatan Kepolisian yang dijiwai nilai-nilai luhur
Pancasila secara masiv dan konsisten. Yaitu dengan membuat
program Polisi hadir ditengah-tengah masyarakat, seperti
pelayanan kegiatan masyarakat di pagi hari dan sore hari, Polisi
sahabat

anak,

Polisi

peduli

pendidikan,

Polisi

peduli

pengangguran dan lain-lain.


2) Melakukan pengawasan pengamalan nilai-nilai Pancasila diluar
jam kantor dengan melakukan kegiatan bersama pemerintah
daerah, instansi lain, ataupun dengan masyarakat, dengan cara:
a) Mengefektifkan
terhadap

sikap

pengawasan
dan

dan

perilaku

pengendalian

anggota

dalam

mengamalkan nilai-nilai luhur Pancasila baik dalam


pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan seharihari dilingkungan masyarakat
b) Melakukan kegiatan pengawasan non formal diluar kantor,
seperti family gathering, kunjungan ke rumah-rumah anggota
bersama-sama tokoh masyarakat dan sebaliknya.

BAB VII
PENUTUP
A.

Kesimpulan

a.

Kemampuan anggota Polres X dalam pengamalan nilai-nilai Pancasila


melalui gotong-royong guna mengantisipasi kebakaran lahan dan hutan
belum dapat terlaksana dengan optimal. Oleh karena itu perlu dilakukan
upaya untuk meningkatkan Kemampuan anggota Polres X melalui
peningkatan pengetahuan tentang pemahaman serta pelatihan nilai-nilai
luhur Pancasila agar dapat menjadi Polisi yang dipercaya masyarakat
serta dapat mengajak masyarakat bergotong-royong guna mengantisipasi
kebakaran lahan dan hutan.

b.

Penerapan metode yang digunakan oleh Polres X dalam mengantisipasi


kebakaran lahan dan hutan belum optimal. Untuk itu, dibutuhkan metode

yang tepat dan sistematis berupa pembentukan Forum Masyarakat


Gotong-royong mengantisipasi kebakaran lahan dan hutan yang bersamasama dengan Polres X melakukan tindakan-tindakan nyata dalam
mengantisipasi terjadinya kebakaran lahan dan hutan.
B.

Rekomendasi
a.
Merekomendasikan untuk membentuk Forum Masyarakat Gotongroyong di setiap Polres yang rawan terjadi kebakaran lahan dan
hutan, yang bertujuan untuk bekerja bersama-sama Polri dalam
b.

melakukan tindakan antisipasi kebakaran lahan dan hutan.


Merekomendasikan untuk dilakukan program peningkatan
kemampuan setiap anggota Polri dalam pengamalan nilai-nilai luhur
Pancasila agar dapat menjadi Polisi yang dipercaya dan dicintai
masyarakat.