Anda di halaman 1dari 25

LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

SEKOLAH STAF DAN PIMPINAN MENENGAH

Topik 1 :
PARADIGMA POLISI SIPIL DAN REVOLUSI MENTAL
Judul:
OPTIMALISASI PERAN BHABINKAMTIBMAS MELALUI KEGIATAN PROBLEM
SOLVING YANG PRO AKTIF GUNA MENGANTISIPASI GANGGUAN
KAMTIBMAS
DALAM RANGKA TERPELIHARANYA KAMTIBMAS

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada bulan Agustus 2015, di Polsek K, terjadi perusakan kantor Sekuriti
PT GAS serta perusakan palang pintu masuk PT GAS oleh sekelompok orang
dari SPTI (Serikat Pekerja Transport Indonesia), yang menarik ternyata
permasalahan

yang

terjadi

akibat

perpecahan

dari

kelompok

SPTI,

permasalahan yang terjadi telah cukup lama hingga kelompok SPTI terpecah
menjadi 2 (dua) kubu, yang kemudian berimbas pada siapa yang berhak untuk
bekerja di perusahaan PT GAS, karena hanya satu kelompok yang diterima
oleh PT GAS, maka kelompok lainnya tidak bisa menerima keputusan PT GAS
dan melakukan perusakan.
Pada bulan dan tahun yang sama, Polsek Z didatangi oleh 200 lebih
masyarakat yang terdiri dari berbagai suku bangsa, guna menanyakan
perkembangan kasus pembunuhan korban A dari suku batak, yang diduga
pelakunya berasal dari suku Nias, hal ini diakibatkan pada bulan Mei
sebelumnya di tahun 2015 juga terjadi pembunuhan mutilasi di wilayah Polsek
Z yang pelakunya berasal dari suku Nias. Tidak puas dengan jawaban dari
Polisi, massa bertambah menjadi 1000 orang lebih yang juga terdiri dari
berbagai suku, apabila Polisi tidak memberikan jawaban yang jelas maka
massa berencana melakukan sweeping terhadap suku Nias diwilayah Polsek
Z.

Pada bulan Desember 2015, Kantor Bhabinkamtibmas di salah satu


kampung di wilayah Polsek Z, didatangi oleh para Ketua RT, tokoh masyarakat,
dan puluhan pemuda lainnya, tujuan adalah untuk menunjukkan kepada
petugas Bhabikamtibmas tempat-tempat yang diduga tempat para remaja
melakukan balap liar, mabuk-mabukan tempat yang diduga terjadi perbuatan
mesum, serta tempat yang kerap terjadi perkelahian remaja.
Peristiwa-peristiwa

diatas

adalah

contoh

dari

kurangnya

peran

Bhabinkamtibmas di suatu daerah, dari peristiwa itu juga nampak bahwa perlu
ada perencanaan dan tindakan untuk mewujudkan Bhabinkamtibmas yang
professional. Oleh karena itu Kapolres X perlu mengambil langkah-langkah
nyata untuk meningkatkan peran Bhabinkamtibmas diantaranya adalah
optimalisasi problem solving pada Bhabinkamtibmas agar kamtibmas dapat
terwujud di wilayah hukum Polres X.
Pada penulisan ini, penulis mencoba untuk mengoptimalisasikan peran
Bhabinkamtibmas Polres X, secara umum, khususnya pada tugas problem
Solving, karena Bhabinkamtibmas merupakan tulang punggung suatu Polres
dalam menangani permasalahan-permasalahan langsung di masyarakat,
melalui giat problem solving Bhabinkamtibmas dapat menyelesaikan masalah
dengan tehnik mediasi atau negosiasi antara kedua belah

pihak. Semakin

lama, semakin banyak masalah dalam masyarakat, apabila masalah itu tidak
diselesaikan, maka masalah tersebut akan menjadi bom waktu, yang pada
suatu saat mencapai puncak masalah dan meledak menjadi gangguan
kamtibmas. Oleh sebab itu perlu dilakukan optmalisasi pada giat problem
solving Bhabinkamtibmas, yang dapat mendeteksi adanya masalah pada
masyarakat, serta pro aktif mengajak masyarakat untuk menyelesaikan
masalahnya.
B.

Permasalahan
Berdasarkan dari latar belakang tersebut di atas, penulis menentukan
permasalahan dalam naskah ini adalah bagaimana mengoptimalkan peran
Bhabinkamtibmas melalui kegiatan problem solving yang pro aktif guna
mengantisipasi
terpelihara?

gangguan

Kamtibmas

sehingga

kamtibmas

dapat

C.

Pokok-Pokok Persoalan
Guna menggali permasalahan yang telah ditentukan, penulis menentukan
pokok-pokok persoalan terkait dengan permasalahan tersebut diatas adalah:
a.

Bagaimana

dukungan

mengoptimalkan

peran

Sumber

Daya

Bhabinkamtibmas

Manusia
yang

pro

(SDM)

untuk

aktif

dalam

mengantisipasi gangguan kamtibmas?


b.

Bagaimana metode yang dilaksanakan untuk mengoptimalkan peran


Bhabinkamtibmas yang pro aktif dalam mengantisipasi gangguan
kamtibmas?

D.

Ruang Lingkup Pembahasan


Ruang lingkup pembahasan naskah ini adalah optimalisasi peran
Bhabinkamtibmas di Polres X melalui problem solving yang pro aktif, guna
mengantisipasi gangguan kamtibmas dalam rangka terpeliharanya kamtibmas
di wilayah hukum Polres X, yang dikaitkan dengan kemampuan Polres X dalam
mengoptimalkan peran Bhabinkamtibmas yang pro aktif serta metode
optimalisasi

peran

Bhabinkamtibmas

dalam

mengantisipasi

gangguan

kamtibmas.
E.

Maksud dan Tujuan


Maksud disusunnya naskah ini adalah untuk memenuhi penugasan mata
pelajaran: Polisi Sipil sebagai Paradigma Baru Polri, Perubahan Paradigma,
dan Manajemen Perubahan. Pada kurikulum pendidikan Sespimmen Polri
dikreg ke-56, serta tujuannya adalah untuk mencoba melakukan kajian
terhadap upaya optimalisasi peran Bhabinkamtibmas melalui problem solving
untuk mengantisipasi terjadinya gangguan kamtibmas .

F.

Metode dan Pendekatan


Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode deskriptif
analitis. Metode ini merupakan metode yang mencoba mendeskripsikan faktafakta yang terjadi sekaligus memberikan analisis dan interpretasi terhadap
fakta-fakta tersebut.

G.

Tata Urut
BAB I

PENDAHULUAN

BAB II

LANDASAN TEORI

BAB III

KONDISI FAKTUAL

BAB IV FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI


BAB V

KONDISI IDEAL

BAB VI PEMECAHAN MASALAH


BAB VII PENUTUP
H.

Pengertian-Pengertian
1.

Optimalisasi.
Optimalisasi memiliki kata dasar optimal yang artinya terbaik; tertinggi;
paling menguntungkan.1 Optimalisasi yang dimaksud di sini berarti suatu
proses untuk menjadikan Bhabinkamtibmas lebih berperan pro aktif
dalam mengantisipasi gangguan kamtibmas.

2. Peran mempunyai pengertian sebagai suatu seperangkat tingkat yang


diharapkan dimiliki oleh orang yang berkedudukan di dalam masyarakat. 2
Peran yang dimaksud di sini adalah seperangkat tingkat yang diharapkan
dimiliki Bhabinkamtibmas dalam melaksanakan perannya sebagai salah
satu pengemban fungsi Polmas yang memiliki tugas melakukan
kunjungan/sambaing, melakukan FGD, dan melakukan problem solving.
3.

Bhabinkamtibmas

adalah

penyelenggara

tugas

Kepolisian

di

Desa/Kelurahan yang mendasari kepada pemahaman bahwa untuk


menciptakan kondisi aman dan tertib tidak mungkin dilakukan oleh Polri
sendiri, melainkan harus dilakukan bersama oleh Polisi dan masyarakat
dengan cara memberdayakan masyarakat melalui kemitraan Polisi dan
masyarakat,
menimbulkan

sehingga

mampu

permasalah,

mendeteksi

mampu

gejala

mendapatkan

yang

dapat

solusi

untuk

1 Surayin. Kamus Umum Bahasa Indonesia, Cetakan VII, Bandung : Yrama Widy.
2011. Hal. 347.
2 Surayin. Kamus Umum Bahasa Indonesia, Cetakan VII, Bandung : Yrama Widy.
2011. Hal 383.

mengantisipasi permasalahannya dan mampu memelihara keamanan


dan ketertiban di lingkungannya.3

4. Problem Solving.
Problem Solving diartikan sebagai pemecahan masalah. Dalam Perkap
no. 3 tahun 2015 tentang pemolisian masyarakat, disebutkan bahwa
Pasal 16 (d): Pengemban Polmas bertugas melaksanakan konsultasi dan
diskusi dengan masyarakat tentang pemecahan masalah kamtibmas.
Juga pada pasal 17 ( c ) : Pengemban Polmas berwenang membantu
menyelesaikan perselisihan warga.
5.

Mengantisipasi.
Mengantisipasi asal kata dari antisipasi, adalah membuat perhitungan
(ramalan, dugaan) tentang hal-hal yang belum (akan) terjadi 4. Sehingga
mengantisipasi dapat diartikan sebagai suatu upaya yang dilakukan oleh
Bahbinkamtibmas

melalui

kegiatan

preemtif

dan

preventif

untuk

mencegah terjadinya gangguan kamtibmas.


5. Keamanan dan Ketertiban Masyarakat atau Kamtibmas, sesuai dengan
UU Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia
pada pasal 1 angka 5, adalah suatu kondisi dinamis masyarakat sebagai
salah satu prasyarat terselenggaranya proses pembangunan ditandai
oleh terjaminnya keamanan, ketertiban, dan tegaknya hukum, serta
terbinanya ketenteraman, yang mengandung kemampuan membina serta
mengembangkan potensi dan kekuatan masyarakat dalam menangkal,
mencegah, dan menanggulangi segala bentuk pelanggaran hukum dan
bentuk-bentuk gangguan lainnya yang dapat meresahkan masyarakat
(Pasal 1 Angka 5 UU Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara
Republik Indonesia).
3 Keputusan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia, No Pol: Kep/8/XI/2009
tanggal 24 November 2009 tentang perubahan Buku petunjuk Lapangan Kapolri
No Pol : Bujuklak/17/VII/1997 tanggal 18 Juli 1997 tentang Bintara Polri Pembina
Keamanan dan Ketertiban Masyarakat di Desa/Kelurahan.
4 http://kbbi.web.id/antisipasi, diunduh pada hari Sabtu, Kamis 18 Mei 2016, pada pukul 01.28 WIB.

BAB II
LANDASAN TEORI
A.

Teori Kompetensi
Menurut Edy Sunarno yang mengatakan bahwa untuk membangun
kinerja Polri yang berbasis kompetensi maka perlu dilaksanakan dengan
pendekatan aspek pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill) dan sikap
(attitude)5. Kompetensi adalah karakteristik dasar yang ditampilkan dalam
pengetahuan, keterampilan, sikap, manajerial dan kepemimpinan yang
memungkinkan individu menunjukkan kinerja terbaiknya. Knowledge diartikan
sebagai pengetahuan yang diperoleh melalui pendidikan formal maupun
pengetahuan eksperiental berdasarkan pengalaman, dimana pengetahuan
akan menjadi kekuatan bilamana diubah menjadi tindakan yang membuahkan
hasil. Skill adalah keterampilan atau cara untuk melakukan sesuatu yang
didasarkan pada pengalaman dan pembelajaran secara praktek lapangan
melalui pelatihan. Attitude merupakan acuan pertimbangan dalam merekrut
anggota/karyawan, karena attitude memiliki kecenderungan sikap sesesorang
yang mempengaruhi cocok atau tidaknya dalam suatu peran pekerjaan
tertentu. Pembinaan attitude akan lebih efektif jika dilaksanakan melalui
proses penanaman nilai-nilai.
Teori kompetensi dalam penulisan Naskap ini digunakan sebagai pisau
analisa dalam membedah permasalahan sumber daya manusia dalam
mengoptimalkan peran Bhabinkamtibmas.

5 Edy Sunarno. Berkualitas, Professional Dan Proporsional, Jakarta: Pencil. 2010.


Hal. 51.

B.

Teori Peran
Menurut Horton dan Hunt (1987), peran (role) adalah perilaku yang
diharapkan dari seseorang yang memiliki suatu status. 6 Peran (role)
merupakan aspek yang dinamis dari kedudukan (status). Artinya, seseorang
telah menjalankan hak-hak dan kewajiban-kewajibannya sesuai dengan
kedudukannya, maka orang tersebut telah melaksanakan suatu peran.
Keduanya tidak dapat dipisahkan karena satu dengan yang lain saling
tergantung, artinya tidak ada peran tanpa status dan tidak ada status tanpa
peran. Peran yang melekat pada diri seseorang, harus dibedakan dengan
posisi atau tempatnya dalam pergaulan kemasyarakatan. Posisi atau tempat
seseorang dalam masyarakat (social-position) merupakan unsur statis yang
menunjukkan tempat individu dalam organisasi masyarakat. Sedangkan
peran lebih banyak menunjuk pada fungsi, artinya seseorang menduduki
suatu posisi tertentu dalam masyarakat dan menjalankan suatu peran.
Teori ini digunakan sebagai pisau analisis untuk menggambarkan
perilaku seperti apa seharusnya ditampilkan seseorang Bhabinkamtibmas
dalam melaksanakan peran sebagai pengemban tugas problem solving.

C.

Teori Kerjasama
Menurut Thomson dan Perry dalam Keban (2007:28), Kerjasama
memiliki derajat yang berbeda, mulai dari kordinasi dan kooperasi
(cooperation) sampai pada derajat yang lebih tinggi yaitu collaboration. Para
ahli pada dasarnya menyetujui bahwa perbedaan terletak pada kedalaman
interaksi, integrasi, komitmen, dan kompleksitas dimana cooperation terletak
pada tingkatan yang paling rendah. Sedangkan collaboration pada tingkatan
yang tinggi.
Pendekatan ini diutarakan oleh Thomson dan Perry dengan maksud
bahwa dalam melakukan suatu kerjasama ternyata mempunyai tingkatan
yang berbeda-beda dalam hal bagaimana cara interaksinya, bagaimana cara
integrasinya, serta bagaimana komitmen dari dua belah pihak atau lebih yang
melakukan kerjasama, maka dalam hal ini diperlukan suatu kordinasi dan

6 J. Dwi Narwoko dan Bagong Suyanto. Sosiologi (Teks Pengantar dan Terapan),
Edisi Keempat, Cetakan ke-6, Jakarta : Kencana Prenada Media Group, 2013. Hal
158-159.

kooperasi yang jelas serta apabila dimungkinkan dilakukan suatu kolaborasi


kepentingan diantara keduanya.7
Dalam tulisan ini, teori kerjasama digunakan untuk menganalisis
hubungan Bhabinkamtibmas dengan masyarakat dalam mengidentifikasi
permasalahan, menganilisis serta mencari pemecahan masalah.
D. Teori Manajemen Strategis
Dalam proses manajemen strategis terdapat 4 (empat) elemen dasar,
yaitu pengamatan lingkungan (lingkungan eksternal dan internal), perumusan
strategis (meliputi pernyataan misi, tujuan, strategi, dan kebijakan),
implementasi strategis (meliputi program, anggaran, dan prosedur), serta
evaluasi dan pengendalian8.
Yang dimaksud dengan manajemen strategis menurut Fred R. Davis
adalah seni dan ilmu untuk formulasi-implementasi dan evaluasi keputusankeputusan yang bersifat lintas fungsional yang digunakan sebagai panduan
tindakan agar organisasi dapat mencapai tujuannya 9. Manajemen strategis
juga dapat dipandang sebagai proses untuk mengelola strategi agar rumusan
strategi dapat dijalankan dengan baik, sehingga tujuan organisasi dapat
tercapai.
Dalam tulisan ini teori manajemen strategis tersebut akan digunakan
untuk

merumuskan visi, misi, tujuan, sasaran, kebijakan, strategi sampai

dengan upaya/action plan yang berhubungan dengan optimalisasi peran


Bhabinkamtibmas

melalui

giat problem

solving

untuk mengantisipasi

gangguan kamtibmas.
E. Teknik Analisis Swot
Analisis SWOT adalah suatu metoda analisis yang digunakan untuk
menentukan dan mengevaluasi, mengklarifikasi dan memvalidasi perencanaan
7 Scribd.com/doc/60055605/teori-kerja-sama, diakses pada tanggal 1 Mei 2016,
pkl 18:05 Wib.
8 J.David Hunger & Thomas L.Wheelen, 2003, Manajemen Strategis,ed bahasa
Indonesia, Hal. 133
9 Tedjo Tripomo, ST.,MT., 2005, Manajemen Strategis, Bandung: Penerbit
Rekayasa Sains. Hal. 27

yang telah disusun, sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai (Rangkuti, 1997:1819). Analisis SWOT bertujuan untuk mengidentifikasi berbagai faktor secara
sistematis untuk merumuskan suatu strategi. Secara umum, penyusunan
perencanaan

strategik

tersebut

melalui

(tiga)

tahapan,

yaitu:

(a)

pengumpulan data; (b) tahap analisis; dan (c) tahap pengambilan keputusan.
Kata SWOT merupakan kependekan dari variabel-variabel penilaian,
yaitu: S merupakan kependekan dari Strengths, yang berarti potensi dan
kekuatan

yang

dimiliki

organisasi;

merupakan

kependekan

dari

Weaknesses, yang berarti masalah dan tantangan yang dihadapi organisasi; O


merupakan kependekan dari Opportunities, yang berarti peluang yang dapat
diraih organisasi; dan T merupakan kependekan dari Threats, yang merupakan
faktor eksternal yang berpengaruh terhadap organisasi. Matriks TOWS atau
Matrik SWOT merupakan pendekatan yang paling sederhana dan cenderung
bersifat subyektif-kualitatif. Matriks ini menggambarkan secara jelas bagaimana
peluang dan ancaman eksternal yang dihadapi organisasi dapat disesuaikan
dengan kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya. Matriks ini pada intinya
adalah mengkombinasikan peluang, ancaman, kekuatan, dan kelemahan
dalam sebuah matriks.

10

BAB III
KONDISI FAKTUAL
A.

Kondisi SDM Bhabinkamtibmas Polres X.


Polres X dengan 13 (tiga belas) Polsek melayani lebih dari 758.609
jiwa penduduk. Bila dibandingkan dengan jumlah personel Polres X yang saat
ini hanya 605 orang maka rasio personel Polres X dan masyarakat adalah 1 :
1.254. Kondisi masyarakat Polres X sangat heterogen. Hal tersebut tentunya
menjadi tantangan tersendiri bagi jajaran Polres X dalam melindungi
masyarakat dari berbagai ancaman gangguan keamanan.
1. Kuantitas.
Dari 605

pers

Polres

X,

131

diantaranya

adalah

petugas

Bhabinkamtibmas, namun dari 131 pers tersebut tidak seluruhnya focus


mengemban

tugas

Bhabinkamtibmas,

karena

ada

61

pers

Bhabinkamtibmas yang masih tugas rangkap.


2. Kualitas.
a. Ketrampilan
1) Sebanyak 131 petugas Bhabinkamtibmas di Polres X, terdapat 6
pers Bhabinkamtibmas yang pernah mengikuti pelatihan Polmas
yang terdiri dari pelatihan kunjungan dan pemecahan masalah.
2) Sebagai pers Polres X secara umum dan khususnya sebagai
Bhabinkamtibmas, tidak satupun dari petugas Bhabinkamtibmas
pernah mengikuti pelatihan Revolusi Mental.
b. Pengetahuan
Dari 131 petugas Bhabinkamtibmas, semuanya adalah lulusan SPN,
dengan pendidikan terakhir SMA sederajat sebanyak 124 personel,
dan pendidikan terakhir S1 sebanyak 7 personel.
c. Sikap

11

Dari data Seksi Propam Polres X di tahun 2015, terdapat 12


pelanggaran selama setahun, namun dari 12 pelanggaran tersebut,
tidak

ada

pelanggaran

yang

dilakukan

oleh

petugas

Bhabinkamtibmas.
B.

Kondisi Metode yang dilaksanakan Bhabinkamtibmas Saat ini.


Metode yang dilaksanakan oleh Bhabinkamtibmas dalam pelaksanaan
tugasnya untuk melakukan problem solving adalah sebagai berikut:
1. Komunikasi.
Saat ini komunikasi yang dilakukan oleh Bhabinkamtibmas
hanya

pada

saat

tugas

kunjungan,

kemudian

apabila

ada

permasalahan yang ditindak lanjuti maka Bhabinkamtibmas mencatat


dalam lembar laporan kunjungan, namun saat ini masyarakat belum
secara

terbuka

melaporkan

permasalahannya

kepada

Bhabinkamtibmas, sehingga hasil menemukan problem solving saat


kunjungan nihil.
Selain itu Bhabinkamtimas juga mengetahui permasalahan
apabila dihubungi oleh pak RT nya, dan itupun akhirnya permasalahan
itu telah mencapai puncak karena ketidakmampuan Bhabinkamtibmas
mendeteksi permasalahan.
2. Kordinasi.
Saat ini metode kegiatan problem solving yang dilaksanakan
Bhabinkamtibmas hanya sebatas kordinasi, yaitu hubungan kerjasama
yang

terbatas

antara

Bhabinkamtibmas

dengan

masyarakat,

keterbatasan ini diakibatkan oleh penyampaian masalah yang diterima


oleh Bhabinkamtibmas masih melalui perantaraan RT, adalah tokoh
masyarakat lainnya, tidak secara langsung dari masyarakat yang
bermasalah ke petugas Bhabinkamtibmas.
Berikut ini adalah tabel hasil giat petugas Bhabinkamtibmas
selama tahun 2015 :
Table 1
Kesatuan

Jumlah
Bhabin

Jumlah
Desa

Polres X
131
131
Sumber: Sat Binmas Polres X

Sambang/
kunjungan
7161

Problem

Jumlah

FGD

Solving
20

Himbauan
5076

12

12

Terlihat pada tabel diatas, banyaknya kunjungan tidak sebanding


dengan banyaknya problem solving, disini terlihat adanya masalah dalam
C.

metode yang dilaksanakan saat ini.


Implikasi
Dengan kondisi yang ada pada saat ini maka dapat kita lihat
implikasinya yaitu:
1. Implikasi Kondisi SDM Bhabinkamtibmas saat ini.
Walaupun jumlahnya memenuhi, namun ada 61 petugas yang tugas
rangkap, hal ini mngakibatkan tidak optimalnya pelaksanaan tugas
pemolisian masyarakat di daerah tertentu, yang dapat mengakibatkan
gangguan kamtibmas yang tidak terdeteksi.
2. Implikasi Metode yang Dilaksanakan saat ini.
Bhabinkamtibmas di Polres X belum dapat melaksanakan tugasnya
dengan baik, akibatnya Bhabinkamtibmas belum dapat mengantisipasi
gangguan

kamtibmas

yang

akan

terjadi,

terutama

gangguan

kamtibmas yang berasal dari masalah perselisihan yang ada


dimasyarakat, yang sebenarnya dapat dilakukan problem solving,
sehingga

banyak

kejadian-kejadian

yang

terjadi

seperti

yang

dipaparkan pada latar belakang bab I, seperti masyarakat yang


mendatangi Polsek hingga 1000 orang karena kurangnya komunikasi
yang dilakukan oleh Bhbinkamtibmas, begitu juga dengan masyarakat
yang

berramai-ramai

mendatangi

pos

Bhabinkamtibmas

untuk

melakukan razia terhadap kenakalan-kenakalan remaja, akibat tidak


mampunya

Bhabinkamtibmas

mendapatkan

informasi-informasi

kamtibmas di wilayahnya, juga ditandakan dengan kejadian pada


Polsek K, yaitu kejadian perusakan pada kantor security dan palang
pintu PT GAS, yang ternyata merupakan masalah lama yang berlarut
yang belum diselesaikan hingga kini.

BAB IV
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

13

Kekuatan dan kelemahan adalah dimensi internal organisasi yang harus


dikenali secara akurat sehingga kekuatan yang dimiliki dapat dikelola dan
dimanfaatkan secara optimal guna menghadapi tantangan maupun memanfaatkan
peluang yang ada. Berdasarkan hal tersebut yang jadi tujuan penerapan analisis
SWOT dalam penulisan ini adalah untuk mengetahui kondisi internal Polres X dalam
mengoptimalkan peran Bhabinkamtibmas melalui kegiatan problem solving, yang
diarahkan pada penilaian faktor-faktor kekuatan dan kelemahan,serta lingkungan
eksternal yaitu peluang dan kendala yang ada dan mungkin dihadapi organisasi, halhal tersebit dapat digambarkan sebagai berikut:
A.

Faktor Internal
1. Kekuatan
a.
Kebijakan Grand Strategy Polri tahap ke-3, yaitu strive for
excellence. Saat ini Polri telah memasuki tahap ke-3 yaitu
b.

kemampuan pelayanan publik yang unggul.


Adanya Perkap No. 3 tahun 2015 tentang Pemolisian Masyarakat

c.

yang mengatur tugas-tugas Bhabinkamtibmas.


Adanya Komitmen Kapolres X untuk mewujudkan kepercayaan
masyarakat melalui pelaksanaan tugas Bhabinkamtibmas yang

d.

professional.
Adanya 131 petugas Bhabinkamtibmas yang saat ini memiliki sikap

yang baik, yaitu tanpa pelanggaran selama tahun 2015.


2. Kelemahan.
a.
Dari aspek kekuatan, personel Bhabinkamtibmas terdiri dari 131
personel, namun masih ada sebanyak 61 personel dari 131 tersebut
b.

yang memiliki tugas rangkap pada fungsi Kepolisian lainnya.


Bhabinkamtibmas belum mendapatkan pelatihan Polmas, yang juga
berarti belum memahami Perkap No. 3 tahun 2015 tentang

c.
d.

Pemolisian Masyarakat.
Bhabinkamtibmas belum mendapatkan pelatihan Revolusi Mental.
Masih kurangnya pengawasan dan pengendalian dalam
pelaksanaan tugas Bhabinkamtibmas.

B.

Faktor Eksternal
1.
Peluang
a. Adanya program Nawacita dari Presiden yang dijalankan oleh
seluruh instansi dan lapisan masyarakat.
b. Hubungan kordinasi yang baik antara Polres X dengan Pemkab X.

14

c. Kemajuan tekhnologi informasi yang dapat mendukung pelaksanaan


tugas Bhabinkamtibmas.
d. Suasana masyarakat wilayah Polres X yang sebagian besar masih
wilayah perkampungan masih memiliki semangat kekeluargaan
2.

yang tinggi sangat mendukung tugas Bhabinkamtibmas.


Ancaman
a. Peningkatan
gangguan
kamtibmas
akibat
permasalahanpermasalahan yang belum dapat problem solvingnya dan dibiarkan.
b. Adanya sebagian masyarakat lainnya yang tidak acuh terhadap
masalah keamanan, membuat lebih sulit dalam kunjungan dan
kegiatan problem solving.
c. Masih rendahnya perhatian stake holder (pemkab dan DPRD)
terhadap masalah keamanan di wilayah Polres Siak.

BAB V
KONDISI IDEAL
A. Kondisi SDM yang diharapkan.
1. Kuantitas
Sebanyak 131 pers Bhabinkamtibmas semuanya tidak ada yang tugas
2.

rangkap.
Kualitas
a. Ketrampilan

15

1) Sebanyak

131

petugas

Bhabinkamtibmas

di

Polres

X,

seluruhnya telah mengikuti pelatihan Polmas yang terdiri dari


pelatihan kunjungan dan pemecahan masalah.
2) Sebagai pers Polres X secara umum dan khususnya sebagai
Bhabinkamtibmas, seluruh petugas Bhabinkamtibmas Polres X
telah mengikuti pelatihan Revolusi Mental.
b. Pengetahuan
Dari 131 petugas Bhabinkamtibmas, diharapkan semuanya dapat
mengikuti pendidikan S1.
c. Sikap
Personel Bhabinkamtibmas diharapkan dapat menjadi contoh bagi
rekan-rekannya yang lain dalam bersikap prilaku, mempertahankan yang
baik, dan meningkatkannya lagi menjadi contoh bagi masyarakat.
B.

Kondisi Metode yang dilaksanakan Bhabinkamtibmas Yang diharapkan.


Pada kondisi metode yang diharapkan, telah dilaksanakan optimalisasi
metode baik dari komunikasi, kordinasi, dan adanya metode baru yaitu pro
aktif dan kolaborasi yang diharapkan dapat menyatukan kerjasama
Bhabinkamtibmas dengan masyarakat dalam rangka melakukan kegiatan
problem solving, mulai dari mengidentifikasi adanya masalah, menganalisis
masalah, sehingga bersama-sama mencari pemecahan masalah.
Berikut ini adalah tabel hasil giat yang diharapkan dari petugas
Bhabinkamtibmas pada tahun 2016 :
Tabel 2.
Kesatuan
Polres X

Jumlah
Bhabin

Jumlah
Desa

Sambang/
kunjungan

131

131

62.880

Problem

Jumlah

FGD

Solving
1.572

Himbauan
5.076

120

Pada tabel ini terlihat adanya peningkatan jumlah sambang/kunjungan


dari 7161 menjadi 62880, hal ini dapat dilaksanakan apabila kondisi ideal
jumlah Bhabinkamtibmas dipenuhi dan Bhabinkamtibmas melaksanakan
kunjungan minimal 2 kali setiap hari.
Pada tabel ini juga terlihat adanya peningkatan jumlah problem solving
dari 20 menjadi 1572, hal ini dapat dilaksanakan apabila masing-masing dari
131
C.

Bhabinkamtibmas

pro

aktif

mengidentifikasi

permasalahan

melaksanakan problem solving minimal 1 kali dalam sebulan.


Kontribusi

dan

16

Dengan kondisi yang diharapkan, Bhabinkamtibmas di Polres X


diharapkan dapat melaksanakan tugasnya secara professional, serta dapat
mengantisipasi

terjadinya

gangguan

kamtibmas,

dengan

metode

dilaksanakannya kunjungan dan tehnik problem solving yang sesuai dengan


petunjuk di Perkap no 3 tahun 2015 secara pro aktif, dengan aktif komunikasi,
aktif kordinasi, dan berkolaborasi dalam melaksanakan problem solving.

BAB VI
PEMECAHAN MASALAH
A.

Visi dan Misi


1. Visi
Terpeliharanya Kamtibmas melalui kegiatan problem solving yang
dilaksanakan secara pro aktif oleh Bhabinkamtibas, sehingga dapat
mengantisipasi terjadinya gangguan kamtibmas .
2. Misi
a. Meningkatkan peran Bhabinkamtibmas dalam tugas memelihara
keamanan dan ketertiban di masyarakat.
b. Memelihara
kamtibmas
melalui

pelaksanaan

tugas

Bhabinkamtibmas yang pro aktif.


c. Meningkatkan peran pimpinan dalam membimbing, mengawasi,
memberi solusi, dan memberi motivasi petugas Bhabinkamtibmas
dalam pelaksanaan tugas Bhabinkamtibmas di masyarakat.

17

d. Menjalin kerjasama dengan pemerintah, instansi terkait, Babinsa,


lembaga masyarakat serta komponen masyarakat di wilayah Polres
B.

X untuk dapat mendukung pelaksanaan tugas Bhabinkamtibmas.


Tujuan dan Sasaran
1. Tujuan
a. Mewujudkan personel Bhabinkamtibmas yang berintegritas, loyal,
santun, humanis, serta memiliki kemampuan problem solving dan
mampu bekerjasama dengan masyarakat untuk menciptakan
keamanan dan ketertiban masyarakat.
b. Mewujudkan pengawasan dan pengendalian secara intensif dan
komprehensif terhadap pelaksanaan tugas Bhabinkamtibmas untuk
menjamin tugas Bhabinkamtibmas tetap professional.
c. Terselenggaranya pelatihan Pemolisian masyarakat dan revolusi
mental kepada personel Bhabinkamtibmas.
d. Terjalin dan terbinanya kerjasama dalam pelaksanaaan tugas
Pemolisian Masyarakat oleh Bhabinkamtibmas dengan pemerintah
dan

instansi

terkait,

Babinsa,

Lembaga

Masyarakat,

serta

komponen masyarakat.
2. Sasaran
a.
Meningkatnya pemahaman petugas Bhabinkamtibmas terhadap
tugas-tugas Pemolisian Masyarakat seperti yang dicantumkan
b.

dalam Perkap No. 3 tahun 2015 tentang Pemolisian Masyarakat.


Telah dipahaminya prinsip-prinsip Revolusi Mental oleh seluruh

c.
d.

petuga Bhabinkamtibmas.
Tersusunnya program dan kegiatan problem solving yang pro aktif.
Tersedia dan terlaksananya pengawasan dan pengendalian secara
intensif dan komprehensif terhadap

e.

Bhabinkamtibmas.
Terjalin dan terbinanya

kerjasama

pelaksanaan tugas-tugas
Bhabinkamtibmas

dengan

masyarakat dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat di


wilayahnya.
C.

Kebijakan dan Strategi


1. Kebijakan
1) Mengalokasikan

dukungan

anggaran

yang

memadai

dalam

melaksanakan pendidikan dan pelatihan Polmas dan Revolusi


Mental.
2) Menyediakan tenaga pengajar dan pelatih yang kompeten untuk
mendidik dan melatih Polmas dan Revolusi Mental.

18

3) Mengalokasikan anggaran untuk program problem solving yang pro


aktif.
4) Menjalin dan membina kerjasama dengan pemerintah daerah dan
instansi terkait guna mendukung program pelatihan Polmas dan
Revolusi Mental.
5) Menjalin dan membina kerjasama dengan pemerintah daerah dan
instansi terkait guna mendukung tugas problem solving yang
dilaksanakan oleh Bhabinkamtibmas.
6) Melaksanakan evaluasi secara berkala dan berkesinambungan serta
komprehensif terhadap setiap pelaksanaan dan hasil kegiatan
problem solving

Tabel 3. Matrik TOWS


KEKUATAN

INTERNAL

EKSTERNAL

1. Kebijakan Grand
Strategy Polri tahap ke3, yaitu strive for
excellence. Saat ini Polri
telah memasuki tahap
ke-3 yaitu kemampuan
pelayanan publik yang
unggul.
2. Adanya Perkap No. 3
tahun 2015 tentang
Pemolisian Masyarakat
yang mengatur tugastugas Bhabinkamtibmas.
3. Adanya Komitmen
Kapolres X untuk
mewujudkan
kepercayaan masyarakat
melalui pelaksanaan
tugas Bhabinkamtibmas
yang professional.
4. Adanya 131 petugas
Bhabinkamtibmas yang
saat ini memiliki sikap
yang baik, yaitu tanpa
pelanggaran selama
tahun 2015.

PELUANG
1. Adanya program
Nawacita dari
Presiden yang
dijalankan oleh
seluruh instansi dan

STRATEGI SO
1.

KELEMAHAN
1. Dari aspek kekuatan,
personel
Bhabinkamtibmas terdiri
dari 131 personel, namun
masih ada sebanyak 61
personel dari 131 tersebut
yang memiliki tugas
rangkap pada fungsi
Kepolisian lainnya.
2. Bhabinkamtibmas belum
mendapatkan pelatihan
Polmas, yang juga berarti
belum memahami Perkap
No. 3 tahun 2015 tentang
Pemolisian Masyarakat.
3. Bhabinkamtibmas belum
mendapatkan pelatihan
Revolusi Mental.
4. Masih kurangnya
pengawasan dan
pengendalian dalam
pelaksanaan tugas
Bhabinkamtibmas.

STRATEGI WO

Jalin & bina kerma


1.
Jalin
kerma
dalam
dgn pemerintah, lembaga
bidang pelatihan Revolusi
masyarakat & komponen
Mental
dan
Pemolisian
masy utk mendukung
Masyarakat.
program problem solving
(W2+W3+O2+O4)1

19

lapisan masyarakat.
2. Hubungan kordinasi
yang baik antara
Polres X dengan
Pemkab X.
3. Kemajuan
tekhnologi informasi
yang dapat
mendukung
pelaksanaan tugas
Bhabinkamtibmas.
4. Suasana
masyarakat wilayah
Polres X yang
sebagian besar
masih wilayah
perkampungan
masih memiliki
semangat
kekeluargaan yang
tinggi sangat
mendukung tugas
Bhabinkamtibmas.

ANCAMAN
1. Peningkatan
gangguan
kamtibmas akibat
permasalahanpermasalahan yang
belum dapat
problem solvingnya
dan dibiarkan.
2. Adanya sebagian
masyarakat lainnya
yang tidak acuh
terhadap masalah
keamanan,
membuat lebih sulit
dalam kunjungan
dan FGD (focus
gropup discussion).
3. Masih rendahnya
perhatian stake
holder (pemkab dan
DPRD) terhadap
masalah keamanan
di wilayah Polres
Siak.

Bhabinkamtibmas.
(S3+S4+O2+O4) 1
2.
Menjadikan
tekhnologi informasi
sebagai kekuatan untuk
mendukung tugas
Bhabinkamtibmas agar
professional.
(S4+O3+O4)2

STRATEGI ST

2.

Jalin kerma dengan


masyarakat
untuk
melaksanakan
program
Pemolisian Masyarakat di
setiap kampung, terutama di
kampung
petugas
Bhabinkamtibmas
yang
tugas
rangkap.
(W1+O3+O4)2

STRATEGI WT

1. Tingkatkan kemampuan 1.
Melakukan pendataan
permasalahanproblem solving
permasalahan yang perlu
Bhabinkamtibmas
problem solving. (W2+T1)1
melalui pelatihan,
2.
Melakukan FGD dan
bimbingan, ikut
problem solving terhadap
memberi solusi, serta
permasalahanpengawasan dan
permasalahan
yang
berpotensi
ganggunan
pengendalian dari
keamanan. (W2+T1)
Kapolres.(S3+T1)1
2. Melakukan programprogram Pemolisian
Masyarakat kepada
masyarakat yang
kurang memahami
pentingnya keamanan.
(S4+T2)2
3. Melakukan rapat kerja
dengan stake holder
(S3+T3)

2. Strategi
a. Jangka Pendek (0-6 bulan)

20

1) Jalin dan bina kerma dgn pemerintah, lembaga masyarakat &


komponen masy utk mendukung program problem solving yang
pro aktif oleh Bhabinkamtibmas.
2) Jalin kerma dalam bidang pelatihan Revolusi Mental dan
Pemolisian Masyarakat.
3) Tingkatkan kemampuan problem solving melalui pelatihan,
bimbingan, ikut memberi solusi, serta pengawasan dan
pengendalian oleh Kapolres.
4) Melakukan pendataan permasalahan-permasalahan yang perlu
problem solving.
5) Melakukan FGD dan problem solving terhadap permasalahanpermasalahan yang berpotensi ganggunan keamanan.
b. Jangka Sedang (0-12 bulan)
1)
Jalin kerma dengan masyarakat untuk melaksanakan
program Pemolisian Masyarakat di setiap kampung, terutama di
kampung petugas Bhabinkamtibmas yang tugas rangkap.
2)
Menjadikan tekhnologi informasi sebagai kekuatan untuk
mendukung tugas Bhabinkamtibmas agar professional.
3)
Melakukan program-program Pemolisian Masyarakat
kepada

masyarakat

yang

kurang

memahami

pentingnya

keamanan.
c. Jangka Panjang (0-24 bulan)
Melakukan rapat kerja dengan stake holder dalam rangka
mewujudkan wilayah hukum Polres X yang aman.
D.

Action Plan
1. Action Plan Jangka Pendek
a. Jalin dan bina kerjasama dengan pemerintah, lembaga masyarakat
dan komponen masyarakat utk mendukung program

problem

solving yang pro aktif oleh Bhabinkamtibmas.


1) Kapolres mensosialisasikan program problem solving yang pro
aktif;
2) Kapolres

melaks

workshop

bersama

pemerintah

dan

komponen masyarakat tentang pentingnya problem solving


terhadap masalah kamtibmas.
3) Kapolres memberikan contoh dan mensosialisasikan contoh
problem solving yang berhasil kepada pemerintah, lembaga
masyarakat dan komponen masyarakat.

21

b. Jalin kerjasama dalam bidang pelatihan Revolusi Mental dan


Pemolisian Masyarakat.
1) Kapolres bersama Muspida mengadakan kesepakatan untuk
melakukan pelatihan bersama.
2) Kapolres
bersama
Muspida

menjadwalkan

dan

memprogramkan materi serta pengisi pelatihan Pemolisian


masyarakat dan Revolusi Mental.
3) Kapolres bersama Muspida mengawasi kegiatan pelatihan
Pemolisian Masyarakat dan Revolusi Mental.
c. Tingkatkan kemampuan problem solving melalui
bimbingan,

ikut

memberi

solusi,

serta

pelatihan,

pengawasan

dan

pengendalian oleh Kapolres.


1) Kapolres bersama Wakapolres, Kabag Sumda, Kabag Ren,
Kasat Binmas dan para Kapolsek menyusun program untuk
melakukan pelatihan, bimbingan, ikut memberi solusi, serta
pengawasan dan pengendalian terhadap tugas problem solving
Bhabinkamtibmas
2) Kapolres membentuk petugas perwira pendamping problem
solving Bhabinkamtibmas.
3) Kapolres beserta petugas perwira pendamping selalu hadir
dalam setiap kegiatan problem solving, untuk mengawasi,
membimbing, memberikan arahan, serta solusi dalam problem
solving.
4) Kapolres melakukan anev terhadap pelaksanaan problem
solving Bhabinkamtibmas.
d. Melakukan pendataan permasalahan-permasalahan yang perlu
problem solving.
1) Kapolres mengumpulkan semua informasi permasalahan yang
ada di wilayah Polres X melalui Kasat Intelkam, Kapolsek, dan
Bhabinkamtibmas.
2) Kapolres
mengklasifikasikan

permasalahan

permasalahan yang berat, sedang dan ringan.


3) Kapolres melakukan langkah-langkah pro
melaksanakan

problem

solving

terhadap

aktif

menjadi
dalam

permasalahan

tersebut.
e. Melakukan FGD dan problem solving terhadap permasalahanpermasalahan yang berpotensi ganggunan keamanan.

22

1) Setelah

melakukan

pendataan,

dilakukan

klasifikasi

permasalahan, yang terdiri dari permasalahan urgen, sedang


dan biasa
2) Kapolres melakukan
melaksanakan

langkah-langkah

problem

solving

pro

terhadap

aktif

dalam

permasalahan-

permasalahan yang telah dilakukan pendataan dan klasifikasi.


2. Action Plan Jangka Sedang
a. Jalin kerma dengan masyarakat untuk melaksanakan program
Pemolisian Masyarakat di setiap kampung, terutama di kampung
petugas Bhabinkamtibmas yang tugas rangkap.
1) Kapolres membentuk FKPM di setiap kampung.
2) Kapolres menyusun SOP pelaporan dan penanganan awal
perkara oleh FKPM.
3) Kapolres melakukan pelatihan SOP pelaporan dan penangan
awal perkara oleh FKPM.
4) Kapolres melalui Bhabinkamtibmas menjalin kerjasama kepada
FKPM

yang

Bhabinkamtibmasnya

rangkap

agar

dapat

melakukan SOP pelaporan dan penanganan awal perkara oleh


FKPM.
b. Menjadikan

tekhnologi

informasi

sebagai

kekuatan

untuk

mendukung tugas Bhabinkamtibmas agar professional.


Kapolres memanfaatkan perkembangan tekhnologi informasi untuk
mendukung

tugas

Bhabinkamtibmas

gadget/smartphone.
c. Melakukan program-program

Pemolisian

seperti

pemanfaatan

Masyarakat

kepada

masyarakat yang kurang memahami pentingnya keamanan.


1) Kapolres melakukan sambang/kunjungan kepada masyarakat
yang kurang memahami pentingnya keamanan dan kerjasama
antara olisi dengan masyarakat.
2) Kapolres melakukan kegiatan-kegiatan pemolisian masyarakat
dengan membentuk komunitas dan poskamling di tempat
warga yang kurang memahami pentingnya keamanan.
3) Kapolres
melalui
Kapolsek,
Kasat
Binmas
Bhabinkamtibmas

terus

melakukan

sosialisasi

dan
tentang

Kamtibmas.
3. Action Plan Jangka Panjang
a. Melakukan rapat kerja dengan stake holder.
1) Kapolres dalam rangka menjalin kerjasama dengan DPRD,
mengundang DPRD untuk melakukan rapat kerja untuk

23

membahas isu kamtibmas di wilayah Polres X, kemudian


meminta petunjuk solusinya dari para stake holder. Dengan
demikian stake holder merasa ikut bertanggung jawab terhadap
keamanan wilayah.
2) Dalam
rapat-rapat

kerja

selanjutnya,

Kapolres

mensosialisasikan tentang program-program kerja Polres X,


termasuk didalamnya adalah untuk mewujudkan kamtibmas di
wilayah Polres X melalui kegiatan problem solving yang pro
aktif sehingga dapat mengantisipasi gangguan kamtibmas.

24

BAB VII
PENUTUP
A.

Kesimpulan
Kondisi SDM saat ini di wilayah Polres X masih kekurangan dalam
kuantitas

serta

kualitas

petugas

Bhabinkamtibmas,

menyebabkan

pelaksanaan tugas Bhabinkamtibmas tidak optimal. Sehingga perlu dilakukan


pemenuhan kondisi SDM secara kualitas maupun kuantitas agar mencapai
kondisi ideal.
optimalisasi peran Bhabinkamtibmas melalui kegiatan problem solving
yang pro aktif dapat dilaksanakan karena Polres X memiliki kekuatan di dalam
internal Polres X, baik itu dari ketrampilan, sikap, dan pengetahuan dari
Kapolres dan perwiranya serta Bhabinkamtibmasnya.
Kelemahan internal yang ada di Polres X dapat dihadapi dengan
memaksimalkan peluang eksternal berupa dukungan dari lingkungan
pemerintah, stake holder, instansi terkait, dan komponen masyarakatnya.
Ancaman dalam pelaksanaan tugas Bhabinkamtibmas dapat dihadapi
dengan mengerahkan semua potensi kekuatan dan peluang yang dimiliki oleh
Polres X.
Optimalisasi peran Bhabinkamtibmas melalui kegiatan problem solving
yamg pro aktif dapat

diterapkan oleh Kapolres dalam pelaksanaan tugas

sambang/kunjungan dan problem solving, yang dalam pelaksanaanya


Kapolres

terlebih

permasalahan,

dahulu

kemudian

melakukan
Kapolres

identifikasi

beserta

dan

perwira

inventarisasi

yang

ditunjuk

membimbing, mengawasi, mendampingi, berkolaborasi, dan memberi solusi


terhadap

permasalahan

yang

dilakukan

problem

solving.

Dengan

dilaksanakannya problem solving yang pro aktif maka dapat mengantisipasi


gangguan kamtibmas di wilayah hukum Polres X.
B.

Rekomendasi
Terkait

dengan

kesimpulan

merekomendasikan beberapa hal, yaitu:

tersebut

di

atas,

penulis

25

1. Mengusulkan kepada Kapolda UP. Karo SDM agar memberikan


penambahan

personel

untuk

memenuhi

kuantitas

personel

Bhabinkamtibmas Polres X, dengan demikian Bhabinkamtibmas tidak


ada yang tugas rangkap.
2. Mengusulkan kepada Kapolda UP. Karo SDM agar memerintahkan
para Kapolres melakukan revolusi mental dan pelatihan pemolisian
masyarakat kepada seluruh Bahbinkamtibmas agar pelaksanaan tugas
Bhabinkamtibmas dapat lebih profesional.
3. Mengusulkan kepada Kapolda UP. Dir Binmas agar memerintahkan

para Kapolres untuk mempedomani Perkap no. 3 tahun 2015 tentang


pemolisian masyarakat dan melaksanakannya dengan pro aktif serta
berkolaborasi dengan masyarakat.