Anda di halaman 1dari 19

Mekanisme dan Gangguan Menahan Kemih

Abstrak
Sistem urinaria adalah suatu sistem tempat terjadinya proses penyaringan darah sehingga darah
bebas dari zat-zat yang tidak dipergunakan oleh tubuh dan menyerap zat-zat yang masih dipergunakan
oleh tubuh. Pada tubuh terjadi proses pembentukan urin yang terdiri dari filtrasi (penyaringan),
reabsorpsi (penyerapan kembali), dan sekresi (zat telah dikeluarkan tapi masih dalam tubuh). Manusia
selalu belajar dari waktu dan pengalaman begitu pula hal ini. Saat masih kecil dulu bayi belum dapat
menahan kencing namun seiring berjalannya waktu terjadi proses belajar oleh medulla spinalis di
kontrol oleh sfingter urethra eksterna.
Kata kunci: sistem urinaria, kontrol, sfingter

Abstract
Urinary system is a system where the process of filtering the blood so that the blood is free from
substances which are not used by the body and absorbed substances are still used by the body. In the
body there is a process consisting of the formation of urine filtration (filtering), reabsorption (reabsorption), and secretion (substance has been removed but is still in the body). Humans always learn
from the experience of time and so is this. When I was young infants can not hold urine but over time
there is a process of learning by the spinal cord at the external urethral sphincter control.
Keywods: urinary system, control, sphincter.

Pendahuluan
Sistem urogenitalis dalam tubuh manusia merupakan suatu kesatuan fungsi yang kompleks
yang bertujuan untuk mengeluarkan hasil metabolisme tubuh yang mengalami kelebihan dan tidak
dipergunakan lagi oleh tubuh kita, dan tetap menyimpan nutrisi-nutrisi yang dibutuhkan dengan cara
reabsorpsi kembali melalui sistem-sistem yang ada. Sistem renal juga menyaring darah secara terus
menerus sehingga mempertahankan zat-zat di dalam tubuh kita tetap di kisaran yang memungkinkan
untuk melaksanakan fungsi tubuh manusia secara normal dan sehat.Setelah difiltrasi oleh sistem renal
maka sistem yang lain seperti ureter dan vesica urinaria akan membantu dalam proses pembuangan zat
sisa ini, tentunya dengan bantuan otot-otot yang ada di sekitar organ tersebut. Adanya kerusakan
terhadap organ ini dapat mengakibatkan hal yang sangat serius dan berbagai macam penyakit dapat
timbul,mulai dari penumpukan zat sisa sampai berakibat peningkatan tekanan darah yang signifikan
dan mengganggu organ tubuh yang lain dalam melaksanakan fungsi yang seharusnya.
Berdasarkan kasus skenario 1 yang menceritakan seorang wanita 50 tahun datang ke puskesmas
mengeluhkan sulit menahan kencing sejak 1 tahun terakhir. Dari anamnesa diketahui pasien tersebut
memiliki 7 orang anak. Pada makalah ini saya akan membahas mengenai sistem urinaria (berkemih)
normal pada manusia dengan memaparkan struktur dan jaringan organ-organ urinaria yang
berhubungan dengan kasus skenario, mekanisme pencernaan pada manusia, serta factor-faktor yang
mempengaruhinya. Saya berharap mahasiswa dpat lebih mengerti dan memahami mengenai
keseluruhan sistem urinaria pada manusia.

Struktur Makroskopis Traktus Urinaria


Ginjal
Ginjal adalah organ berbentuk seperti kacang merah tua, panjangnya sekitar 12,5 cm dan
tebalnya sekitar 2,5 cm (kurang lebih sebesar kepalan tangan). Setiap ginjal memiliki massa antara 125
sampai 175 gram pada laki-laki dan 115 sampai 155 gram pada perempuan. Ginjal terletak
retroperitoneal primer yaitu diantara peritoneum parietale dan fascia transversa abdominis,pada sebelah
kanan dan kiri columna vertebralis. Ginjal terdiri dari ginjal dekstra dan sinistra. Ginjal dextra Nampak
lebih rendah ketimbang ginjal sinistra. Ginjal sinistra terletak setinggi costa XI atau vertebra lumbal 23 ,sedangkan ginjal dekstra terletak setinggi costa XII atau vertebra lumbal 3-4. Jarak antara extremitas
superior ginjal dekstra dan sinistra adalah 7cm , sedangkan jarak antara extremitas inferior ginjal
2

dekstra dan sinistra adalah 11cm. Jarak ginjal dekstra ke crista illiaca adalah 3 cm, sedangkan ginjal
sinistra adalah 5 cm (Gambar 1).1
Ginjal terbagi atas tiga lapisan, kapsula fibrosa, kapsula adiposa, dan fasia renalis. Kapsula
fibrosa adalah membran halus transparan yang langsung membungkus ginjal dan dapat dengan mudah
dilepas. Kapsula adiposa terbungkus fasia ginjal. Jaringan ini membantali dan membantu organ tetap
pada posisinya. Fasia renalis adalah pembungkus terluar. Pembungkus ini melabuhkan ginjal pada
struktur di sekitarnya dan mempertahankan posisi organ.1
Ginjal memiliki dua facies, facies anterior dan posterior. Facies anterior ginjal lebih cembung
daripad facies posteriornya yang lebih pipih atau gepeng (Gambar 2). Ginjal memiliki dua margo,
margo lateralis dan medialis yaitu tempat hillus renalis. Ginjal juga memiliki ekstremitas superior dan
inferior dimana ekstremitas inferiornya lebih lancip daripada ekstremitas superiornya.1
Ginjal terdiri dari korteks diluar dan medula di dalam serta bermuara pada pelvis renalis. Hilus
ginjal terletak di medial dan dari depan ke belakang merupakan tempat lewat A.V renalis, pelvis ureter
dan pembuluh limfe serta nervus vasomotor simpatis. Pelvis renalis terbagi menjadi calyx major dan
calyx minor yang menerima urin dari piramid medula melalui papila renalis (Gambar 3).1

Gambar 1. Letak Ginjal1


Sumber: Snell RS. Anatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran. Edisi ke-6. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
2006.

Gambar 2. Facies Anterior Ren Sinister1


Sumber: Putz R, Pabst. Sobotta atlas of human anatomy. Munich: Urban and Fischer Veriag; 2006.

Ginjal diperdarahi oleh Arteri renalis kanan dan kiri Arteri renalis kanan dan kiri
dipercabangkan dari aorta abdominalis setinggi vertebra lumbal 1-2 .Arteri renalis kanan lebih panjang
dari arteri renalis kiri karena harus menyilang vena cava inferior di belakangnya. A renalis masuk ke
ginjal melalui hilus renalis dan berjalan ke arah depan dan belakang ginjal.kearah luar lebih panjang
karena bentuk ginjal yang lebih membulat disebelah luar dan kedua nya akan bertemu di lateral ginjal
yang dinamakan garis broedel. Pembedahan ginjal pada garis broedel dilakukan karena menghasilkan
pendarahan yang minimal. Arteri renalis berlanjut dan bercabang menjadi arteri interlobaris pada
perbatasan korteks dan medula dan akan bercabang lagi menjadi arteri arcuata/arciformis yang berjalan
mengelilingi korteks dan medula, dan akhirnya bercabang di permukaan korteks ginjal yang dinamai
arteri interlobularis yang akan mempercabangkan vassa afferen glomerulus dan keluar dari vassa
efferen glomerulus yang akan diteruskan ke vena interlobularis/ vena stellatae vena arcuata vena
interlobaris vena renalis vena cava inferior.1

Gambar 3. Alat Dalaman Ginjal dan Vaskularisasi Ginjal1


4

Sumber: Sumber: Putz R, Pabst. Sobotta atlas of human anatomy. Munich: Urban and Fischer Veriag; 2006.

Ureter
Ureter terdiri dari otot yang memanjang membentuk tabung dan

berjalan melalui

retroperitoneum dan menghubungkan pelvis ginjal dengan kandung kemih. Panjang ureter normal pada
dewasa adalah 28-30cm dan diameternya sekitar 5mm. Ureter menyalurkan urine dari pelvis ginjal
menuju kandung kemih dengan peristaltik aktif.2
Menurut letak kedudukan saluran ureter dibagi dua, yakni pars abdominalis ureteris dan pars
pelvina ureteris. Pars abdominalis ureteris. Perjalanan ureter pada cavum abdomen pada laki-laki dan
wanita tidak ada perbedaan. Pars abdominalis ureteris disisi ventral berbatasan dengan peritoneum,a.v.
coliaca, serta menyilang a.v. ovarica (pada wanita) dan a.v. sprematica (pada laki-laki). Pada sisi
dorsalnya, pars abdominalis ureteris sisi dextra dan sinistra disilang oleh m. Psoas dan n.
Genitofemoralis. Pars pelvina ureteris. Perjalanan ureter dalam cavum pelvis pada wanita dan laki-laki
berbeda dikarenakan perbedaan alat-alat panggul pada wanita dan laki-laki. Mula-mula pars pelvina
ureteris pada wanita dan laki-laki menyilang di apertura pelvis superior di ventra a. Iliaca communis,
kemudian berjalan ke arah dorsocaudal di ventral a. Iliaca interna menuju ke daerah spina ischiadica. 1
Dari spina ischiadica, pada laki-laki membelok ke ventral dan medial untuk bermuara ke dalam vesica
urinaria pada sudut lateral atasnya. Pada saat hendak memasuki vesica urinaria, pars pelvina ureteris
laki-laki menyilang ductus deferens disebelah lateral. Sedangkan pada wanita, setelah mencapai spina
ischiadica maka akan berjalan ventromedial di bawah ligamentum latum uteri dan menyilang A.
Uterina di sisi medial. Kemudian pars pelvina ureteris akan berjalan ke arah ventral, di sebelah lateral
fornix lateralis vagina, dan kemudian masuk ke dalam vesica urinaria.2

Vesica Urinaria
Vesica urinaria disebut juga bladder atau kandung kemih dan berfungsi sebagai reservior urine
dengan kapasitas 200-400 cc. 3
Bagian-bagian:
Pada anak-anak, vesica urinaria terletak diatas apertura pelvis superior. Setelah dewasa rongga
panggul akan membesar dan vesica urinaria turun ke dalam rongga panggul. Bila terisi bagian atas
vesica urinaria akan terletak didaerah hypogastrica dan berbentuk ovoid atau menyerupai telur.
Sedangkan vesica urinaria kosong , seluruhnya terletak di belakang symphisis ossis pubis dalam
rongga panggul dan berbentuk seperti limas, sehingga dapat dibedakan menjadi:3
5

1. Apex vesica urinaria


Apex matau puncak vesica urinaria terletak tepat dibelakang tepi atas symphisis ossis pubis.
Semasa janin apex dihunkan ke umbilicus oleh urachus (sisa kantong allantois). Setelah lahir
urachus menutup dan berubah menjadi lig. Umbilicalis medialis. Apex ditutupi

oleh

peritoneum dan berbatasan langsung dengan ileum dan colon sigmoideum.3


2. Dasar vesica urinaria
Dasar vesica urinaria dibentuk oleh permukaan dorsal dan berbentuk segi tiga. Pada sudut
laterosuperior dextra dan sinistra dapat dijumpai muara ureter, sedangkan pada sudut inferior
dapat dijumpai orificium urethrae internum.3
3. Dinding vesica urinaria
Dinding vesica urinaria terdiri dari 1 dinding superior dan 2 dinding lateroinferior. Dinding
lateroinferior berhubungan dengan m. Obturator internus di sebelah cranial dan m. Levator ani
di sebelah distal. Pertemuan kedua dinding lateroinferior di caudal disebut dengan cervix
vesicae.3
4. Collum vesica urinaria
Collum vesica urinaria pada laki-laki berbatasan dengan permukaan atas gl. Prostata. Collum
vesica urinaria difiksasi oleh lig. Puboprostatica pada laki-laki atau lig. Pubovesicale pada
wanita.3
Namun secara anatomis, vesica urinaria dapat dibedakan menjadi bagian-bagian berikut: apex,
corpus, fundus. Fundus berbentuk segitiga dan menghadap ke caudodorsal dan berhadapan dengan
rectum. Pada laki-laki, dinding posterior vesica urinaria dilekati oleh vesica seminalis dan ampulla
ductus deferens, sedangkan diantara vesica urinaria dan rectum dapat dijumpai lekukan peritoneum
yan disebut excavatio recto vesicalis. Pada wanita, fundus vesica urinaria dipisahkan dari rectum
oleh fornix posterior dan partio vaginalis cervisis uteri.4
Spatium para vesicale
Disekitar vesica urinaria dapat dijumpai ruang-ruang yang terbentuk karema posisi vesica
urinaria terhadap dinding panggul dan organ-organ panggul yang lain atau disebut juga spatium para
vesicalis, yang dapat dibedakan sebagai berikut :3,4
1. Spatium prevesicale (retzii) yaitu ruangan anatar symphisis ossis pubis dan vesica urinaria.
6

2. Excavatio rectovesicalis pada laki-laki


3. Excavatio vesicauterina pada wanita, dibentuk oleh permukaan dorsal (basis) vesica urinaria
dam uterus serta vagina.
Perdarahan
Vesica urinaria diperdarahi oleh:
1. Arteri vesicalis superior
Aa. Vesicalis superior merupakan cabang dari a. Umblicalis bagian proxmal. Sedangkan
a.umbilicalis bagian distal akan melanjut sebagai lig. Umbilicalis lateralis. Aa. Vesicalis
superior mendarahi fundus dan akhirnya neranastomosis dengan a. Epigastrica inferior.3
2. Arteri vesicalis inferior
Aa. Vesicalis inferior mendarahi bagian caudal dan lateral permukaan depan vesica urinaria serta glandula
prostata.5

3. Arteri obturatoria
4. Arteri glutea inferior
Pembuluh darah balik
Aliran pembuluh darah balik dari vesica urinaria bermuara ke plexura venosus vesicalis yang
berhubungan dengan plexus venosus prostaticus, dan kemudian darah dialirkan ke v. Iliaca interna.
Sedangkan aliran getah bening bermuara ke nnll. Iliaca interna dan nnll. Iliaca externa.3
L: plexus venosus vesicalis -> plexus venosus prostaticus. Plexus ini menerima darah dari v.
Dorsalis penis profunda dan bermuara melalui v.vesicalis inferior -> v. Iliaca interna.6
P :plexus venosus vesicalis menerima darah dari v. Clitoridis dan berhubungan dengan plexus
venosus vaginalis/ uterovaginalis dan bermuara melali v.uterina -> v.iliaca interna.6

Persyarafan
Vesica urinaria dipersyarafi oleh cabang-cabang plexus hypugastricus inferior yang berisi serabutserabut berikut :
1. Serabut-serabut post ganglioner simpatis gll.paravertebrale L1-2 pada truncus sympaticus
melalui plexus hypugastricus inferior ke vesica urinaria.3
7

2. Serabut-serabut preganglion parasimpatis dari medula spinalis segmen sacral 2,3,4 melalui n.
Splanchnicus dan plexus hypogastricus inferior akan mencapai dinding vesica urinaria. Pada
didnding vesica urinaria serabut preganglioner akan membentuk ganglion dan memberikan
serabut-serabut postganglioner untuk vesica urinara.3

Gambar 4. Vesica urinaria3

Urethra
Pada wanita uretranya pendek, panjangnya sekitar 4 cm. Urethra melintas dengan sedikit
melengkung ketika berjalan ke inferior melewati dasar pelvis ke dalam perineum, dimana urethra
berjalan melewati spatium perinei profundum dan membrana perinei sebelum bermuara pada
vestibulum vaginae yang terletak di antara kedua labium minus pudendi. Pendarahannya : a.pudenda
interna dan a. Vaginalis, pembuluh balik mengikuti arteri dan memiliki nama yang sama, persyarafan :
plexus sacralis dan n. Pudendus.5,6
Pada pria, memiliki urethra yang panjang, sekitar 20 cm dan membelok dua kali sepanjang
lintasannya. Pendarahannya : a. Rectalis media dan a. Vesicalis inferior, pembuluh balik vena dari dua
bagian proximal urethra bermuara ke plexus venosus prostaticus, persyarafannya: plexus prostaticus.5

Gambar 5. Urethra3

Struktur Mikroskopis Traktus Urinaria


Ginjal
Ginjal memiliki korteks luar yang membentuk lapisan merah-coklat pucat di bawah kapsul. Di
bawah korteks terdapat medulla yang lebih gelap, yang mengandung garis-garis berbentuk kerucut
yang disebut pyramid ginjal. Di apeks masing-masing pyramid, sebuah papilla membuka ke dalam
kaliks minor, yang terhubung dengan kalisks mayor dan pelvis ginjal berbentuk corong, yang melebar
untuk menampung urine.7
Ginjal menerima sekitar 25% dari curah jantung via arteri renalis. Sebagian besar dari drah ini
bukan untuk memasok jaringan ginjal sendiri, tetapi untuk diolah oleh unit fungsional ginjal, nefron
(Gambar 6). Karena itu, diperlukan volume darah yang besar untuk mempertahankan laju filtrasi
glomerulus (LFG) dan untuk memasok oksigen ke sel-sel aktif.7
Setiap ginjal mengandung sekitar satu juta nefron mikroskopik. Sebuah nefron terdiri dari satu
tubulus ginjal dan glomerulus, suatu simpul kapiler yang terletak di dalam ujng buntu invaginasi
tubulus. Tubulus, yang dilapisi oleh epitel kuboid, dibagi menjadi kapsul glomerulus (Bowman), yang
membungkus glomerulus, tubulus kontortus proksimal (TKP), ansa Henle, tubulus kontortus distal
(TKD), dan duktus koligens yang menerima urine dari beberapa nefron (Gambar 7).7
Tubulus Kontortus Proksimal. Epitel kuboid rendah (intinya bulat); lumennya tidak jelas, karena
tertutup Brush Border; warna sitoplasma asidophilic / kemerahan; inti sel terlihat berjauhan; letaknya
9

pada sisi kortex renis. Ansa Henle. Berada di daerah medulla renis; struktur berbentuk huruf U; terdiri
dari segmen tebal dan tipis descendens (Tubulus Rectus Proximalis), segmen loop Henle, serta segmen
tebal dan tipis ascendens (Tubulus Rectus Distalis); segmen Tebal Descendens memiliki inti yang
terletak berjauhan dan secara umum mirip dengan Tubulus kontortus Proksimal; segmen Tebal
Ascendens memiliki inti yang lebih rapat, sitoplasmanya jernih, dan secara umum mirip dengan
Tubulus Kontortus Distal. Tubulus Kontortus Distal. Epithelnya selapis kuboid rendah; lumennya jelas,
karena tidak memiliki Brush Border; inti lebih rapat / berdekatan; warna sitoplasma basofilik
(kebiruan); lumenya lebih lebar dari pada Tubulus Kontortus Proximalis; macula densa menempati
dinding epithel Tubulus Kontortus Distalis yang dekat dengan kutub vascular glomerulus. Tubulus dan
Ductus Colligentes. Epitelnya torak rendah / kubis (menjadi torak pada TKD sampai mencapai 200
um); sitoplasma pucat; batas selnya jelas. Ductus Papillaris Bellini. Duktus koligens berjalan dari
berkas medula menuju medula. Pada sisi tengah medula, beberapa duktus koligens bersatu untuk
membentuk duktus muara besar ke apeks papilla.7

Gambar 6. Nefron
Sumber: Fawcett DW. Buku ajar histologi. Jakarta: EGC; 2003.

10

Gambar 7. Tubulus Renalis


Sumber: Snell Sumber: Carneiro Jos, Carlos Luiz. Histologi Dasar. Penerbit Buku Kedokteran EGC.2005.

Ureter
Saluran keluar ginjal dimulai dari tempat muara papilla renalis dan masuk ke ureter, vesica
urinaria dan saluran kaluaran akhir/ urethra.2 Ureter mukosanya dilapisi oleh epitel transisional dengan
jaringan ikat jarang yang membentuk lamina propria dibawahnya. Tunika muskularis terdiri atas tiga
lapisan jaringan otot polos yaitu, lapis otot polos longitudinal (interna) , lapis otot polos sirkular
(tengah) dan lapis otot polos longitudinal (luar), sedangkan tunika adventisia merupakan jaringan ikat
jarang (Gambar 8).8

Gambar 8. Lapisan Ureter.


Sumber: Carneiro Jos, Carlos Luiz. Histologi Dasar. Penerbit Buku Kedokteran EGC.2005.

Vesika Urinaria
Kantong penamupung urine setelah melewati saluran ureter pars pelvina ialah vesica urinaria.

11

Mukosanya dilapisi epitel transisional dengan jaringan ikat jarang yang membentuk lamina propria di
bawahnya.4 Tunika muskularis terdiri atas berkas berkas otot polos tersusun berlapis dan arahnya
tidak beraturan sehingga dalam sediaan terlihat berkas otot polos yang terpotong dalam berbagai arah.
Di antara berkas berkas terdapat jaringan ikat jarang. Tunika adventisia terdiari dari jaringan ikat
jarang yang sebagian diliputi oleh peritoneum dan disebut tunika serosa (Gambar 9).8

Gambar 9. Struktur Mikroskopis Vesika Urinaria


Sumber: Carneiro Jos, Carlos Luiz. Histologi Dasar. Penerbit Buku Kedokteran EGC.2005.

Uretra
Saluran terakhir sebagai saluran pengeluaran ialah urethra. Urethra pada wanita dan laki-laki
pada kenyataannya adalah berbeda. Bila perbedaan pada ureter dikarenakan bentuk pelvis wanita dan
laki-laki berbeda, maka pada kejadian urethra dikarenakan jalur keluran organa genital antara wanita
dan laki-laki.2 Pada urethra laki-laki terdiri dari beberapa bagian, yaitu Pars prostatika (terdapat
verumontanum, yang menonjol ke bagian dalam urethra tersebut; terdapat juga utrikulus prostatikus
yang bermuara ke puncak verumontanum; ductus ejaculatorius bermuara pada sisi veromontanum;
cairan semen masuk ke dalam urethra proksimal melalui ductus ini; epitelnya adalah epitel
transisional), Pars membranosa (memiliki panjang 1 cm; dilapisi epitel berlapis / bertingkat silindris;
terdapat sfingter otot rangka, sfingter urethra eksterna; sfingter ini untuk menambah tekanan penutupan
yang telah ditimbulkan oleh sfingter urethra involunter), Pars bulosa dan Pars pendulosa (berlokasi di
korpus spongiosum penis; epitelnya berupa epitel bertingkat dan silindris dengan daerah gepeng dan
berlapis).2 Sedangkan saluran urethra wanita merupakan suatu tabung dengan panjang 4 5 cm, yang
dilapisi dengan epitel gepeng berlapis dan memiliki area dengan epitel silindris bertingkat. Bagian
tengah urethra dikelilingi sfingter lurik volunteer eksterna (Gambar 10).8

12

Gambar 10. Struktur Mikroskopis Uretra.


Sumber: Carneiro Jos, Carlos Luiz. Histologi Dasar. Penerbit Buku Kedokteran EGC.2005.

Proses Pembentukan Urin


Tiga proses dasar yang terlibat dalam pembentukn urin: filtrasi glomerulus, reabsorpsi tubulus,
dan sekresi tubulus.
Filtrasi glomerulus
Sewaktu darah mengalir melalui glomerulus, plasma bebas protein tersaring melalui kapiler
glomerulus ke dalam kapsul bowman. Dalam keadaan normal, 20% plasma yang masuk ke glomerulus
tersaring. Proses ini, dikenal sebagai filtrasi glomerulus, adalah langkah pertama dalam pembentukan
urin. Secara rerata, 125 ml filtrat glomerulus (cairang yang difiltrasi) terbentuk secara kolektif dari
seluruh glomerulus setiap menit. Jumlah ini sama denga 180 liter (sekitar 47,5 galon) setiap hari.
dengan mempertimbangkan bahwa volume rerata plasma pada orang dewasa adalah 2,75 liter, maka
hal ini bearti bahwa ginjal menyaring keseluruhan volume plasma sekitar 65 kali sehari. Jika semua
difiltrasi keluar sebagai urin, semua plasma akan menjadi urin dalam waktu kurang dari setengah jam.
Namun hal ini tidak terjadi karena tubulus ginjal dan kapiler peritubulus berhubungan erat di seluruh
panjangnya, sehingga bahan-bahan dapat dipertukarkan antara cairan di dalam tubulus dan darah di
dalam kapiler peritubulum.9,10
Reabsorpsi tubulus
Sewaktu filtrat mengalir melalui tubulus, bahan-bahan yang bermanfaat bagi tubuh
dikembalikan ke plasma kapiler perituulum. Perpindahan selektif bahan-bahan dari bagian dalam
tubulus (lumen tubulus ) kedalam darah ini disebut reabsorpsi tubulus. Bahan-bahan yang direabsorpsi
tidak keluar dari tubuh melalui urin tetapi dibawah oelh kapiler peritubulus ke sisitem vena dan
13

kemudian ke jantung untuk disirkulasi. Dari 180 liter plasma yang disaring per hari, sekitar 178,5 liter
direabsorpsi. Sisa 1,5 liter di tubulus mengalir kedalam pelvis ginjal untuk dikeluarkan sebagai urin.
Secara umum, bahan-bahan yang perlu dihemat oleh tubuh secara selektif direabsorpsi, sementara
bahan-bahan yang tidak dibutuhkan dan harus dikeluarkan tetap berada di urin.9,10
Sekresi tubulus
Proses ginjal ketiga sekresi tubulus adalah pemindahan selektif bahan-bahan dari kapiler
peritubulus ke dalam lumen tubulus. Proses ini merupakan rute kedua bagi masuknya bahan ke dalam
tubulua ginjal dari darah. Sedangkan yang pertama adalah melalui filtrasi glomerulus. Hanya sekitar
20% dari plasma yang mengalir melalui kapiler glomerulus difiltrasi ke dalam kaplusa bowman; sisa
80% mengalir melalui arteriol eferen ke dalam

kapiler peritubulus. Sekresi tubulus merupakan

mekanisme untuk mengeluarkan bahan dari plasma secara tepat dengan mengekstraksi sejumlah
tertentu bahan dari 80% plasma yang tidak terfiltrasi di kapiler peritubulus dan memindahkannya ke
dalam bahan yang sudah ada di tubulus sebagai hasil filtrasi.9

Ekskresi urin
Ekskresi urin adalah pengeluaran bahan-bahan dari tubuh ke dalam urin. Ini bukan merupakan
proses terpisah tetapi merupakan hasil dari tiga proses pertama di atas. Semua konstituen plasma yang
terfiltarasi atau disekresikan tetapi tidak direabsorpsi akan tetap di tubulus dan mengalir di pelvis ginjal
untuk diekskresikan sebagai urin dan dikeluarkan dari tubuh. Perhatikan bahwa semua yang filtrasi dan
kemudian direabsorpsi atau tisak difiltrasi sama sekali, masuk ke darah vena dari kapiler peritubulus
dan karenanya dipertahankan di dalam tubuh dan tidak diekskresikan di urin, meskipun mengalir
melewati ginjal.11

Inkontenesia Mikturasi
Inkontenesia urin atau ketidakmampuan mencegah keluarnya uring terjadi ketika jalur-jalur
descendes di medulla spinalis yang memperantarai kontrol volunteer sfingter eksternus dan diafragma
pelvis terganggu misalnya pada cedera medulla spinalis. Karena komponen-kom ponene lengkung
refleks berkemih masih utuh di medula spinalis bawah maka pengosongan kandung kemih diatur oleh
refleks spinal yang tidak dapat dikendalikan, seperti pada bayi. Derajat inkontenesia lebih rendah
ditandai dengan keluarnya urin sewaktu batuk atau bersin, ketika itu tekanan kandung kemih akan
14

meningkat mendadak secara transient. Hal ini juga sering terjadi pada wanita yang melahirkan dan pria
yang mengalami cedera sewaktu pembedahan prostat.11

Sistem kemih
Kontrol volunter berkemih
Selain memicu refleks berkemih, pengisiam kandung kemih juga mneyadarkan yang
bersangkutan akan keinginan untuk berkemih. Persepsi penuhnya kandung kemih muncul sebelum
sfingter eksternus secara refleks melemas, memberi peringatan bahwa miksi akan segera terjadi.
Akibatnya kontrol volunter berkemih, yang dipelajari selama toilet training pada masa anak-anak dini,
dapat mengalahkan refleks berkemih sehingga pengosongan kandung kemih dapat berlangsung sesuai
keinginan yang bersangkutan dan bukan ketika pengisian kandung kemih pertama kali mengaktifkan
reseptor regang. Jika waktu refkels miksi tersebut dimulai kurang sesuai untuk berkemih, maka yang
bersangkitan dapat dengan sengaja mencegah pengosongan kandung kemih dengan mengencangkan
sfingetr eksterneus dan fiafragma pelvis. Impuls eksitatorik volunter dari korteks serebri mengalahkan
sinyal inhibitorik refleks dari reseptor regang ke neuron-neuron motorik yang terlibat sehingga otot-oto
ini tetap berkontraksi dan tidak ada urin yang keluar. 9,10
Berkemih tidak dpaat ditrahan selamnya. Karena kandung kemih terus terisi maka sinyal
refleks dari reseptor regang meningkat seiring wakytu. Akhirnya sinyal inhibitorik refleks ke neuron
motorik sfingter eksternus menjadi sedemikian kuat sehingga tidak lagi dapat diatasi oleh sinyal
eksitatorik volunter sehingga sfingter melemas dan kandung kemih secara tak terkontrol
mengosongkan isinya.9
Berkemih juga dapat secara sengaja dimulai meskipun kandung kemih tidak teregang, dengan
secara sengaja melemaskan sfingter eksternus dan diafragma pelvis. Turunnya dassar panggul
memungkinkan kandung kemih turun, yang secara simultan menarik terbuka sfingter uretra internus
dan meregangkan dinding kandung kemih. Pengaktifan reseptor regang yang kemudian terjadi akan
menyebabkan kontraksi kandung kemih mulai refleks berkemih. Pengosongan kandung kemih secara
sengaja dibantu oleh kontraksi dinding abdomen dan diafragma pernapasan. Peningkatan tekanan
intraabdomen yag ditimbulkannya menekan kandung kemih ke bawah untuk mempermudah
pengosongan.9,10

15

Refleks berkemih
Miksi atau berkemih, proses pengosongan kandung kemih, diatur oleh dua mekanisme; refleks
berkemih dan kontrol volunter. Refleks berkemih terpicu ketika reseptor regang di dalam dinding
kandung kemih terangsang. Kandung kemih pada orang dewasa dapat menampung hingga 250-400 ml
urin sebelum tegangan di dindingnya mulai cukup meningkat untuk mengaktifkan reseptor regang.
Semakin besar tegangan melebihi ukuran ini semakin besar tingkat pengaktifan reseptor. Serat-serat
aferen dari reseptor regang membawa impuls ke medula spinalis dan akhirnya mellaui antarneuron,
merangsang saraf parasimpatis untuk kandung kemih dan menghambat neuron motorik kesfingter
eksternus. Stimulai saraf parasimpatis kandung kemih menyebabkan organ ini berkontraksi. Tidak ada
mekanisme khusus yang dibutuhkan untuk membuka sfingter internus; perubahan bentuk kandung
kemih selama kontraksi akan secara mekanis menarik terbuka sfinter internus. Secara bersamaan
sfingter ekstrenus melemas karena neuron-neuron motorik nya dihambat. Kini dua sfingter terbuka dan
urin terdorong melalui urethra oleh gaya yang ditimbulkan oleh kontraksi kandung kemih. Refleks
berkemih ini yang seluruhnya adlah refleks spinal , pengatur pemgosongan kandung kemih pada bayi.
Segera setelah kandung kemih teriei cukup untuk memicu refleks, bayi secara otomatis berkemih.4,9

Faktor yang Mempengaruhi Proses Urinasi


Proses pembentukan urin dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
a. Faktor Internal:
1) Hormon Antideuritik (ADH)
Hormon antideuritik dikeluarkan oleh kelenjar saraf hipofifis (neuroehipofisis).
Pengeluaran hormon ini ditentukan oleh reseptor khusus di dalam otak yang secara terus menerus
mengendalikan tekananan osmotik darah (kesetimbangan konsentrasi air dalam darah). Oleh
karena itu, hormon ini akan mempengaruhi proses reabsorpsi air pada tubulus kontortus distal,
sehingga permeabilitas sel terhadap air akan meningkat. Oleh karena cara bekerja dan
pengaruhnya inilah, hormon tersebut disebut sebagai hormon antideuritik.9,10
Jika tekanan osmotik darah naik, yaitu pada saat dalam keadaan dehidrasi atau kekurangan
cairan tubuh (saat kehausan atau banyak mengeluarkan keringat), konsentrasi air dalam darah akan
turun. Akibat dari kondisi tersebut, sekresi ADH meningkat dan dialirkan oleh darah menuju ke
ginjal. ADH selain meningkatkan permeabilitas sel terhadap air, juga mengkatkan permeabilitas
16

saluran pengumpul, sehingga memperbesar sel saluran pengumpul. Dengan demikian air akan
berdifusi ke luar dari pipa pengumpul, lalu masuk ke dalam darah. Keadaan tersebut akan
berusaha memulihkan konsentrasi air dalam darah. Namun akibatnya, urine yang dihasilkan
menjadi sedikit dan lebih pekat.9,10
2) Hormon Insulin
Hormon insulin adalah hormon yang dikeluarkan oleh pulau langerhans dalam pankreas.
Hormon insulin berfungsi mengatur gula dalam darah. Penderita kencing manis (diabetes mellitus)
memiliki konsentrasi hormon insulin yang rendah, sehingga kadar gula dalam darah akan tinggi.
Akibatnya terjadi gangguan reabsorpsi didalam urine masih terdapat glukosa.9,10
3) Saraf
Stimulus pada saraf ginjal akan menyebabkan penyempitan duktus afferen. Hal ini menyebabkan
aliran darah ke glomerulus menurun dan tekanan darah menurun sehingga filtrasi kurang efektif.
Hasilnya urine yang diproduksi meningkat.9
4) Tonus otot
Tonus otot yang memiliki peran penting dalam membantu proses berkemih adalah otot kandung
kemih, otot abdomen dan pelvis. Ketiganya sangat berperan dalam kontraksi pengontrolan
pengeluaran urine.9
5) Usia
Pengeluaran urine usia balita lebih sering karena balita belum bisa mengendalikan rangsangan untuk
miksi dan makanan balita lebih banyak berjenis cairan sehingga urine yang dihasilkan lebih banyak
sedangkan pengeluaran urin pada lansia lebih sedikit karena setelah usia 40 tahun, jumlah nefron yang
berfungsi biasanya menurun kira-kira 10% tiap tahun.9

b. Faktor Eksternal:
1) Zat-zat diuretik
Misalnya teh, kopi, atau alkohol dapat menghambat reabsorpsi ion Na+. Akibatnya ADH berkurang
sehingga reabsorpsi air terhambat dan volume urin meningkat.9
2) Suhu lingkungan
17

Ketika suhu sekitar dingin, maka tubuh akan berusaha untuk menjaga suhunya dengan mengurangi
jumlah darah yang mengalir ke kulit sehingga darah akan lebih banyak yang menuju organ tubuh, di
antaranya ginjal. Apabila darah yang menuju ginjal jumlahnya samakin banyak, maka pengeluaran
urin pun banyak.9
3) Gejolak emosi dan stress
Jika seseorang mengalami stress, biasanya tekanan darahnya akan meningkat sehingga banyak
darah yang menuju ginjal. Selain itu, pada saat orang berada dalam kondisi emosi, maka kandung
kemih akan berkontraksi. Dengan demikian, maka timbullah hasrat ingin buang air kecil.9
4) Jumlah air yang diminum
Jumlah air yang diminum tentu akan mempengaruhi konsentrasi air dalam darah. Jika meminum
banyak air, konsentrasi air dalam darah akan tinggi, dan kosentrasi protein dalam darah menurun,
sehingga filtrasi menjadi berkurang. Selain itu, keadaan seperti ini menyebabkan darah lebih encer,
sehingga sekresi ADH akan berkurang. Menurunnya filtrasi dan berkurangnya ADH akan
menyebabkan menurunnya penyerapan air, sehingga urine yang dihasilkan akan meningkat dan
encer.9
5) Kondisi penyakit
Kondisi penyakit dapat memengaruhi produksi urine, seperti diabetes melitus.9
6) Life Style dan aktivitas
Seorang yang suka berolahraga, urine yang terbentuk akan lebih sedikit dan lebih pekat karena
cairan lebih banyak digunakan untuk membentuk energi sehingga cairan yang dikeluarkan lebih
banyak dalam bentuk keringat.9

18

Kesimpulan
Perempuan yang berusia 50 tahun sulit menahan kencing berusia 50 tahun ini diketahui mempunyai
7 orang anak

disebabkan mungkin disebabkan terjadinya cedera pada medulla spinalis yang

diperantarai oleh kontrol volunter sfingter eksternus dan diafragma pelvis terganggu. Kesulitah
menahan kemih ini juga berpengaruh pada wanita yang melahirkan dimana dapat terjadi
kerenggangan pada otot-otot yang membantu proses perkemihan. Derajat inkontenesia urin lebih
rendah ditandai dengan keluarnya urin sewaktu batuk atau bersin. Inkontenesia juga tidak hanya
terjadi pada wanita yang melahirkan saja tetapi juga dapat terjadi pada pria yang mengalami cedera
sewaktu pembedahan prostat.

Daftar Pustaka
1. 1. Sloane E. Anatomi dan fisiologi untuk pemula. Jakarta: EGC; 2003.
2. Snell RS. Anatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran. Edisi ke-6. Penerbit Buku Kedokteran
EGC. 2006.
3. Kasim I. Buku ajar anatomi tractus urogenitalia. Jakarta: FK Ukrida; 2012.h.28-32
4. Pearce EC. Anatomi dan fisiologi untuk para medis. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Umum;
2009.h. 304-6.
5. Gould J D. Anatomi klinis. Jakarta: Buku Kedokteran EGC;2011.h.91-5.
6. Wibowo DS. Anatomi tubuh manusia. Jakarta : Grasindo;2008
7. Gunawijaya FA, Kartawiguna E. Penuntun praktikum kumpulan foto mikroskopik histologi
saluran cerna. Jakarta: Penerbit Universitas Trisakti; 2007.
8. Carneiro Jos, Carlos Luiz. Histologi Dasar. Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2005.
9. Drake RL, Vogl AW, Mitchell AWM. Dasar-dasar anatomi. Singapura: Elsevier.h.227-30.
10. Ganong WF. Buku ajar fisiologi kedokteran. Jakarta: EGC; 2005.
11. Guyton AC, Hall JE. Buku ajar fisiologi kedokteran. Edisi ke-11. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC; 2006

19