Anda di halaman 1dari 6

Dermatitis Paederus

Pendahuluan
Paederus dermatitis yang dikenal juga sebagai dermatitis linearis
kumbang

[2]

[1]

atau dermatitis

adalah dermatitis kontak iritan yang ditandai dengan kulit eritematosa disertai

lesi bula dengan onset mendadak pada daerah tubuh. Penyakit ini disebabkan oleh serangga
yang memiliki genus Paederus. Serangga ini tidak menggigit atau menyengat tubuh manusia,
tetapi seringkali gerakan tubuh manusia yang tidak sengaja menghancurkan kumbang ini
diatas atas kulit sehingga memprovokasi pelepasan cairan selom serangga ini yang berisi
paederin, sebuah zat iritant kuat [3].
Etiopatogenesis
Genus Paederus merupakan anggota famili Staphyllinidae, ordo Coleoptae, kelas
Insecta dan terdiri dari lebih dari 622 spesies yang tersebar di seluruh dunia.
dikaitkan dengan wabah dermatitis di berbagai negara termasuk Australia,
Lanka,

[7]

Nigeria,

[8]

Kenya, Iran,

[2]

[5]

[2,4]

Paederus

Malaysia, [ 6] Sri

Afrika Tengah, Uganda, Okinawa, Sierra Leone,

Argentina, Brazil, Perancis, Venezuela, Ekuador dan India.

[10-12]

[9]

Paederus dewasa memiliki

panjang 7-10 mm dan lebar 0,5 mm, sehingga kira-kira memiliki ukuran sekitar satu setengah
kali ukuran nyamuk nyamuk. Paederus memiliki kepala hitam, perut bagian bawah dan
elytral (struktur yang meliputi sayap dan tiga segmen perut) dan dada berwarna merah dan
perut bagian atas.

[8,9]

Paederus merupakan jenis serangga yang hidup di daerah lembab

[13]

dan memakan remah-remah kayu. Meskipun serangga ini bisa terbang, mereka lebih memilih
untuk berjalan dengan sangat lincah. Mereka memiliki kebiasaan meringkukkan perutnya
ketika mereka berlari atau ketika mereka merasa terganggu.

[4]

Paederus meletakkan telur-

telurnya secara tunggal pada daerah lembab dan biasanya berkembang dalam 3-19 hari untuk
menjadi larva dan dewasa. Paederus kumbang bermanfaat bagi pertanian karena mereka
memakan hama tanaman. [9]
Pada umumnya spesies yang sering menyebabkan dermatitis paederus adalah
Paederus melampus di India , Paederus brasilensis di Amerika Selatan , dengan sebutan
umum Podo , Paederus colombius di Venezuela , Paederus fusipes di Taiwan dan Paederus
peregrinus di Indonesia . [ 13 ]
Paederus aktif pada malam hari dan tertarik dengan lampu pijar dan lampu neon
sehingga secara tidak sengaja datang ke dan mengalami kontak dengan manusia. [9]
1

Hemolymph (sistem peredaran darah) dari serangga ini mengandung paederine (latigaza)

[14]

yang dirilis pada saat manusia secara tidak sengaja menghancurkan serangga ke kulit karena
refleks menyeka serangga. Paederin (C25H45O9N) adalah amida dengan dua cincin
tetrahidropiran dan diproduksi sampai sekitar 0,025 % dari berat serangga (untuk P. fusipes).
Baru-baru ini, beberapa penelitian menunjukkan bahwa produksi paederin bergantung
pada kegiatan dari endosimbion (Pseudomonas spesies) di dalam Paederus. Paederin hanya
di produksi oleh serangga betina dewasa pada kebanyakan jenis serangga. Larva dan pejantan
hanya mendapatkan paederin dari maternal (yaitu, melalui telur) atau dengan menelan.

[15]

Paederin inilah yg menyebabkan bengkak dan blok mitosis pada tingkat serendah 1 ng/ml
dengan cara menghambat protein dan sintesis DNA tanpa mempengaruhi sintesis RNA.

[9]

Proses akantolisis pada kulit mungkin disebabkan oleh pelepasan protease epidermal. [2]
Gambaran Klinik
Dermatitis venenata dapat mengenai semua orang dari berbagai jenis kelamin, semua
usia, ras maupun kondisi sosial, tergantung dari aktivitas pasien dan habitat serangga. Daerah
terbuka akan memiliki resiko lebih besar untuk terkena. Insiden kasus dilaporkan meningkat
selama seperempat terakhir tahun ini, periode yang segera diikuti musim penghujan. Lesi
eritematosa dan edematosa yang linier, memberikan gambaran seperti cambuk. Vesikel
umumnya muncul di tengah plak. Kemudian sering vesikel ini berubah menjadi pustula.
Tanda-tanda ini muncul sekitar 24 sampai 48 jam setelah kontak dan butuh waktu seminggu
atau lebih untuk menghilang. Gambaran yang mencolok adalah adanya kissing lesion yang
kemungkinan terjadi setiap kali aposisi pada daerah kulit yang mengalami lesi ke kulit yang
sebelumnya sehat, misalnya pada lipatan siku, permukaan yang berbatasan dengan paha.
Lesi eritematosa dan deskuamatif difus yang lebih sering terjadi pada tubuh bagian
atas dan wajah telah dilaporkan dan beberapa kemungkinan penyebab dari atipikal varian dari
dermatitis venenata ini adalah:
1.
2.
3.
4.
5.

Kontak dengan spesies yang berbeda dari Paederus


Kontak berulang selama periode waktu yang singkat
Adanya gangguan yang mendasari seperti dermatitis atopik
Penggunaan secara sering sumber air alami untuk mencuci
Sebuah fenomena imunologi yang mengakibatkan pola reaksi eczema.

Komplikasi meliputi hiperpigmentasi post inflamasi, infeksi sekunder, dan pengelupasan


yang luas dan dermatitis ulserasi yang membutuhkan rawat inap.
Keterlibatan okular dan genital relatif biasa; hal itu terjadi sekunder pada pemindahan
bahan kimia toksik dari tempat lain pada kulit dengan jari. Namun, bagian mata mungkin
2

merupakan satu-satunya bagian yang terlibat. Keterlibatan mata biasanya ditunjukkan dengan
dermatitis periorbital unilateral, atau keratokonjungtivitis, yang dinamakan Nairobi eye.
Histopatologi
Lesi awal menunjukkan spongiosis neutrofilik yang mengarah pada vesikulasi dan
akhirnya degenerasi retikular dari epidermis. Hal ini diikuti dengan konfluen epidermal
nekrosis, biasanya dengan sel yang masih hidup pada sel suprabasal. Dapat juga terdapat sel
akantolitik yang tersebar. Banyaknya neutrophil intraepidermal, dikombinasikan dengan
daerah nekrosis konfluen dan degenerasi retikular, merupakan ciri khas. Lesi yang kronis
menunjukkan akantosis irregular dan keratinosit pucat superfisial, dengan derajat
parakeratotik di atasnya yang berisi eksudat neutrofilik.
Pada tahap awal vesikular, terdapat vesikel intraepidermal. Bagian atas vesikel
biasanya dibentuk oleh lapisan tanduk atau dengan satu atau dua baris sel gepeng. Bagian
dasar terdiri dari lapisan sel basal dan kadang-kadang satu atau lebih dari lapisan Malpighi.
Di dalam vesikel terdapat cairan dan pakan, yang dibentuk oleh sel epitel yang degenerasi
(ghosts). Selalu ada beberapa campuran sel polimorfonuklear. Lapisan sel basal bisa jadi
utuh atau tidak jelas dan bahkan mungkin ada kerusakan pada pertemuan demo-epidermal.
Pada dermis terlihat infiltrat perivaskuler, hal tersebut tampak lebih jelas pada papila dermis
dan lapisan letikuler dermis bagian atas.

Infiltrat tersebut terutama terdiri dari sel-sel

mononuklear, tetapi tampak juga beberapa sel polinuklear. Pada pemeriksaan mungkin bisa
ditemukan edema, terutama terlihat lebih jelas pada bagian dermis. Kemudian pada tahap
pustular, gambaran histologis diatas tampat terlihat lebih jelas. Vesikel akan berubah menjadi
pustul dengan isi neutrofil yang bermigrasi dari area sekitar epidermis dan papila dermis.
Infiltrat perivaskuler dan edema juga terlihat lebih jelas. Edema pada papila dermis bisa
memberikan gambaran yang salah karena tampak seperti vesicle subepidermal.
Dalam masa penyembuhan, pustul tersebut akan terdorong keatas oleh pembentukan
keratinosit baru kemudian gambarannya menjadi mirip dengan pustul spongiosis kogoj.
Lesi lebih lama akan menunjukan adanya akanthosis dan infiltrat perivaskular ringan.
Diagnosis Banding.
Gambaran klinis pada dermatitis paederus seringkali menyerupai penyakit lain seperti
pada herpes simpleks, herpes zoster, luka bakar cairan kimia, dermatitis kontak iritan dan
alergi pada fase akut, millipede dermatitis dan phytophoto dermatitis. Karakteristik berupa
gambaran lesi linier, tempat predileksinya pada area yang terbuka, tampak kissing lesion,
3

kemudian pada pemeriksaan histopatologi, patch test yang sesuai, dan karakteristik
epidemiologi (berupa kemunculan kasus yang sama pada area tempat tinggal, insidensi
musiman dan identifikasi serangga) akan

mampu membantu klinisi untuk menentukan

diagnosis yang tepat.


Terapi
Kasus ini diterapi sama seperti pada dermatitis kontak iritan, dimulai dengan
membersihkannya dengan mencuci area kontak menggunakan sabun dan air, kemudian
diberikan kompres basah dengan air dingin. Obat yang diberikan berupa steroid topikal dan
jika terjadi infeksi sekunder diberikan antibiotik.
Preventif
Mencegah terjadinya kontak antara manusia dengan kumbang paedderus merupakan
cara utama untuk mencegah timbulnya dermatitis venenata sebagai dasar penyebabnya. Cara
yang dapat kita lakukan antara lain :
1. Belajar mengenali serangga paederus, dan tidak menekan ataupun menggencet
serangga tersebut dengan area kulit yang terbuka.
2. Memastikan pintu selalu tertutup dan mengggunakan kain pelindung pada pintu.
Keduanya baik pintu maupun jendela harus dalam keadaan baik untuk

mampu

mencegah masuknya kumbang tersebut kedalam rumah.


3. Tidur didalam bed yang terdapat lapisan kelambu dan menggunakan permenthrin, hal
tersebut dapat mencegah kemungkinan serangga paederus akan jatuh ke kulit pada
malam hari.
4. Meletakan kelambu atau jaring di bawah lampu untuk mencegah serangga paederus
tersebut tidak menjatuhi orang.
5. Pasien disarankan untuk tidak menekan serangga pada area kulit yang terbuka, tidak
memanipulasi lesi primer serta menggosok mata setelah memegang lesi primer.
6. Apabila serangga menempel pada kulit, cobalah untuk menyingkirkan dengan hatihati ( contohnya dengan meniupnya, membuat serangga bejalan ke kertas yang
didekatkan ke serangga dan membuangnya). Mencuci area kulit yanng kontak dengan
serangga.
7. Memeriksa tempat dimana serangga tersebut sering ditemukan ( khususnya di dinding
dan langit-langit sekitar lampu) sebelum tidur. Jika menemukan serangga bisa kita
bunuh dengan insektisida kemudian disapu dan dibuang. Harus diperhatikan bahwa
serangga yag hidup atau mati bisa menyebabkan gejala oleh karena itu kita harus
menghindari memegang serangga itu secara langsung.
4

8. Membersihkan tumbuh-tumbuhan yang terlalu lebat di sekitar tempat tinggal yang


sering digunakan sebagai tempat tinggal serangga tersebut.
Kesimpulan
Dermatitis paederus merupakan penyakit yang sering ditemukan. Peningkatan
kesadaran masyarakat akan kondisi ini mampu menurunkan paparan dengan paederin.

Referensi
1. Morsy TA, Arafa MA, Younis TA, Mahmoud IA. Studies on Paederus alfierii Koch
(Coleoptera: Staphylinidae) with specialreference to the medical importance. J Egypt Soc
Parasitol 1996;26:337-51.

2. Zargari O, Asadi AK, Fathalikhani F, Panahi M. Paederus dermatitis in northern Iran: A


report of 156 cases. Int J Dermatol 2003;42:608-12.
3. Gelmietti C, Grimalt R. Paederus dermatitis: An easy diagnosable but misdiagnosed
eruption. Eur J Pediatr 1993;153:6-8.
4. Vegas FK, Yahr MG, Venezuela C. Paederus dermatitis. Arch Dermatol 1996;94:175-83.
5. Todd RE, Guthridge SL, Montgomery BL. Evacuation of an Aboriginal community in
response to an outbreak of blistering dermatitis induced by a beetle (Paederus australis).
Med J Aust 1996;164:238-40.
6. Mokhtar N, Singh R, Ghazali W. Paederus dermatitis among medical students in USM,
Kelatan. Med J Malaysia 1993;48:403-6.
7. Kamaladasa SD, Pereea WDH, Weeratunge L. An outbreak of Paederus dermatitis in a
suburban hospital in Srilanka. Int J Dermatol 1997;36:34-6.
8. George AO, Hart PD. Outbreak of Paederus dermatitis in southern Nigeria: Epidemiology
and dermatology. Int J Dermatol 1990;29:500-1.
9. Frank JH, Kanamitsu K. Paederus, sensu lato (Coleoptera: Staphylinidae): Natural history
and medical importance. J Med Entomol 1987;24:155-91.
10. Handa F, Pradeep S, Sudarshan G. Beetle dermatitis in Punjab. Indian J Dermatol Venerol
Leprol 1985;51:208-12.
11. Kalla G, Ashish B. Blister beetle dermatitis. Indian J Dermatol Venerol Leprol
1997;62:267-8.
12. Sujit SR, Koushik L. Blister beetle dermatitis in West Bengal. Indian J Dermatol Venereol
Leprol 1997;63:69-70.
13. Parasitic infestations stings and bites. In: Arnold HL, Odam RB, James WD, editors.
Andrews Diseases of the skin. 8th ed. WB Saunders: Philadelphia; 1990. p. 486-533.
14. Davalos AV. Epidemic dermatitis by paederus irritant in piura, Peru at 1999, related to EI
Nino Phenomenon. Rev Soc Bras Med Trop 2002;35:23-8.
15. Piel J. Polyketide synthesis-peptide synthetase gene cluster from an uncultured bacterial
symbiont of paederus beetles. PNAS 2002;99:14002-7.
16. Banney LA, Wood DJ, Francis GD. Whiplash rove beetle dermatitis in central
Queensland. Aust J Dermatol 2000;41:162-7.