Anda di halaman 1dari 8

Siapakah Yang Sampah? Komunisme atau Fasisme?

Jawaban untuk Sastro Al-Ngatawi


KAOEM IGAMA! Partij Komunis Indonesia tidak memoesoehi Igama jg. Bagaimanapoen
bentoeknja. Djangan pertjaja kepada Provocatie dari imperialis-Belanda dan fascist
Djepang demikianlah salah satu bunyi Makloemat Partij Komunis Indonesia ke-4.[1]

Meskipun begitu, hingga sekarang kaum fasis masih saja memanipulasi kenyataan ini.
Komunisme distigma sebagai anti agama dan anti Pancasila. Malah belakangan, setelah
diselenggarakannya Simposium 65, propaganda anti komunisme kaum fasis makin gencar
dan brutal. Seorang pemuda dipukuli di pinggir jalan hanya karena memakai pin
berlambang palu arit; perjuangan para petani melawan perampasan tanah dan perusakan
lingkungan distigma sebagai musuh negara; seorang aktivis lingkungan memakai kaos
belambang palu arit dalam sebuah peringatan May Day 1 Mei 2016 dituduh melawan
Pancasila; beberapa penerbit buku di Yogyakarta digeledah oleh aparat karena
menerbitkan buku-buku kritis; dan terakhir razia atau sweeping terhadap buku-buku kiri
yang terjadi di beberapa kota.
Mulai kapan Pancasila anti terhadap KOM? Bukankah dalam pidatonya di bulan Desember
1965, Soekarno mengatakan Pancasila tidak anti KOM? Sikap anti KOM ini tidak tiba-tiba
turun dari langit, melainkan diciptakan oleh sebuah rezim melalui berbagai rupa
propaganda dan teror. Anehnya, polanya selalu sama: Membenturkan sesama rakyat agar
saling tikam di antara mereka. Sementara sang tuan fasis dan tuan kapitalis sendiri sambil
meminum kopi dan menghisap cerutu tinggal menunggu hasilnya.
Benarkah PKI bangkit lagi? Saya tak akan langsung menjawabnya. Melainkan
mengelaborasi prasangka dan fitnah yang dipropagandakan kaum fasis itu sendiri, sembari
mengajak semua pihak untuk menengok kembali selintas sejarah perjuangan kaum
pergerakan di Zaman Bergerak.
Kalau kita baca kajian mengenai Marxisme dan gerakan komunis di Indonesia yang ditulis
dengan tujuan sebagai propaganda fasis anti komunis dan sayap kanan pro kapitalis,
hampir sebagian besar kajian tersebut gagal memahami butir-butir utama pemikiran
Marxismekarena memang tidak langsung membaca teks-teks kunci Marx dan Engels
maupun para pemikir Marxis lainnyasehingga bermuara pada reduksionisme. Intinya,
sulit kita temukan ulasan tentang Marxisme dan komunisme yang ditulis dengan semangat
anti Komunisme, berangkat dari sumber pertama atau dari komentator-komentator yang
otoritatif.
Pertanyaannya kemudian, bagaimana mungkin seseorang yang tidak mengerti suatu hal
(marxisme/komunisme), mengritik atau menghujat hal tersebut dan menganggapnya
sebagai sampah? Kata sampah ini juga yang dipakai oleh Sastro Al-Ngatawi, salah
seorang pegiat acara-acara seni, dalam menanggapi beredarnya foto Pius Ginting,
seorang aktivis lingkungan yang memakai kaos palu arit pada peringatan May Day 2016.

Apa bangsa ini gemar menampung sampah ya? Komunis sudah jadi sampah di tempat
lain, di sini dikagumi para aktivis. Hizbut Tahrir yang sudah dibuang dan dilarang di tempat
asalnya, di sini malah dipuja-puja demikian ujarnya. Benarkah Komunisme sampah di
tempat lain? Tempat lain yang mana? Dimanakah letak ke-sampah-an komunisme?
Sepertinya ia tak tahu kalau Partai Komunis Palestina menjadi partai terbesar kedua di
Palestina, yang turut memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Atau lupa bahwa
komunisme menyumbang banyak pada kemerdekaan Indonesia dibanding Soeharto dan
jenderal-jenderal lulusan KNIL. Baiklah, anggap saja Marxisme dan Komunisme sebagai
sampah. Yang jelas kader-kader PMII dan HMI tak akan bisa bicara teori Hegemoni tanpa
terlebih dulu membaca Antonio Gramsci yang komunis. Bahkan mereka tak akan mampu
bicara apa-apa mengenai dunia hari ini (baca: realitas Late Capitalism) tanpa membaca
kembali traktat barisan para pemikir Marxis/komunis.
Tentu saja kalau ia membaca marxisme dengan baik, akan mengajukan kritik yang agak
serius semacam Ali Syariati,[2] atau minimal menulis esai pendek semacam Gus Dur,
ketimbang menumpahkan kebencian (terhadap komunisme), dengan menganggap sampah
suatu gagasan. Saya juga menduga yang bersangkutan tidak pernah membaca secara
sistematis tiga jilid Das Kapital Marx, yang lumayan memusingkan kepala manusia dengan
kecerdasan pas-pasan semacam saya. Atau pernah selesai membaca satu saja karya
Marx dan membuat catatan kritis atasnya.
Mengenai karyanya yang rumit tersebut, Marx sendiri mengingatkan sahabatnya, Ludwig
Kugelmann, Tolong beri tahukan istrimu, bahwa bab tentang Hari Kerja, Koperasi,
Pemilahan antara Tenaga Kerja dan mesin, dan terakhir mengenai Akumulasi Primitif
adalah yang paling langsung bisa dibaca. Kau harus menjelaskan terminologi yang tak
dipahami untuknya. Kalau ada poin-poin yang meragukan, aku siap membantu.[3] Pesan
Marx sepertinya tak hanya berlaku bagi istrinya Kugelmann, melainkan kita semua yang
hendak membaca Das Kapital. Nah, karena Marx sudah tidak ada, komentatorkomentatornya yang otoritatif lah yang akan membantunya. Misal, untuk mempermudah
baca Das Kapital, kita bisa terlebih dulu membaca Reading Capital-nya Luis Althusser dll.
Fatalnya lagi, karena minimnya belajar banyak orang dengan gegabah menyamakan
komunisme yang memperjuangkan politik kelas dengan Islam Politik semacam HTI yang
memperjuangkan politik identitas. Jadi, dimanakah kesamaan komunisme dan Hizbut
Tahrir? Ini harus didudukkan secara jernih. Menganggap diktatur proletariat sebagai sama
sebangun dengan Khilafah Islam merupakan kesalahan fatal. Dan lebih fatal lagi,
menganggap diktatur proletariat sebagai Stalinisme dan menuding Komunisme sebagai
anti keragaman dan anti demokrasi. Mengenai demokrasi dalam sosialisme, saya sarankan
mereka, khususnya Sastro, membaca karya Marx,The Civil War in France, 1871 mengenai
Komune Paris atau pemerintahan Komunis yang dijalankan secara demokratis pertama kali
oleh kelas pekerja Paris pada 1871.[4] Bahkan, untuk hal ini Nicos Poulantzas
mengatakan bahwa sosialisme harus menjadi demokratis atau tidak menjadi apa-apa sama
sekali.[5] Dengan demikian, logika berpikirnya mestinya begini: Karena dalam sejarah
Islam pernah ada targedi Mihnah yang memalukan dan menjijikkan, tidak otomatis Islam
menjadi sampah; karena saat ini banyak orang gemar gembar-gembor Islamrahmatan lil
alamin tapi tak mau membela TKI-TKI yang diperkosa, tak mau membela petani yang

dirampas tanahnya, dan membiarkan perusakan lingkungan terjadi di mana-mana, tidak


otomatis Islam menjadi sampah. Demikian juga dengan Marxisme. Mudah sekali kan?
Sementara mengenai politik kelas Marxisme/komunisme, saya tak akan mengutip dari
dasar pikiran Marx yang rumit. Agar lebih mudah dicerna, izinkan saya mengutip kembali
lanjutan Makloemat Partij Komunis Indonesia ke-4 sebagaimana dimuka dengan lebih
lengkap,
KAOEM TIONGHOA, ARAB, PERANAKAN dari segala bangsa dan lain2 Bangsa-Asing!
P.K.I Komintern dan Komunisme tidak memoesoehi dan membentji bangsa lain. P.K.I.
Komintern dan Komunisme memoesohi dan membentji KEKEDJAMAN dan
KETIDAKADILAN. Pertegoehkanlah barisan toean2 oentoek membantoe oesaha
KEMERDEKAAN. Djangan menghalang-halangi oesaha Rakjat Indonesia oentoek
menoentoet HAK2NJA. KAOEM BOEROEH dan TANI seloeroeh Indonesia
Pertegoehkanlah BARISAN dan BENTENGMOE. KAMOELAH jg mendjadi TOELANGPOENGGOENG Kemerdekaan Indonesia
Terang sudah bahwa sejak semula fondasi perjuangan Komunisme adalah politik
kelas, bukan politik identitas. Tanpa politik kelas, ambruklah seluruh narasi
emansipatoris Komunisme. Pada titik ini, justru internasionalisme Komunisme selaras
dengan visi pembebasan Islam yang rahmatan lil alamin, rahmat bagi seluruh alam yang
meliputi aspek pemakmuran bumi (alimarah), pemeliharaan (ar-riayah), dan perlindungan
(alhifzh) dari segala ancaman yang hendak merusaknya. Bukan rahmatan lil muslimin,
apalagi sekedar lin Nahdliyin? Perjuangan pembebasan komunisme yang melampaui
sekat-sekat agama, dan etnis inilah, menyebabkan Komunisme dan Islam secara
aksiologis berkesesuaian. Keduanya memoesohi dan membentji KEKEDJAMAN dan
KETIDAKADILAN. Ini jugalah yang menjadi saripati Pancasila yang berulangkali
diungkapkan Bung Karno. Jadi, kalau ada komunis yang menganjurkan kekejaman dan
ketidakadilan maka bukan komunis namanya. Demikian juga dengan Islam. Tapi, ada
catatan: jangan sekali-kali pernah menggeneralisir Marxisme dan Komunisme sebagai
Stalinisme dan jangan pula menggeneralisir Islam sebagai Usamah bin Laden, atau Yazid
bin Muawiyah yang despot dan kejam. Pendeknya, komunisme memperjuangkan politik
kelas bukan politik identitas. Komunisme melawan kapitalisme dan feodalisme, bukan
melawan agama.
***
Bermula dari kegagalan membaca Marx dan Marxisme, kekeliruan yang dibumbui dengan
kelicikan dan penipuan direproduksi oleh para demagog orde baru yang fasistis. Karena
ketidakmampuannya membaca dengan teliti dan jernih jalinan konseptual Marx yang rumit,
kemudian dengan mudah dipukulnya sebagai sampah.
Bisa jadi memang kaum fasis dan kapitalis sangat takut dengan PKI, karena sejarah
mencatat partai ini memiliki disiplin dan moral partai yang belum ada bandingannya dalam
sejarah politik Indonesia modern, apalagi jika dibandingkan dengan partai-partai yang ada
saat iniyang semuanya mengaku relijius, namun isinya sebagian besar perampok

jaraknya baina al-sama wa al-ardli (antara langit dan bumi). Bahkan, konon kata Prajurit
yang berasal dari bahasa Jawa Prasaja+Jujur+Irit, sebagaimana kita kenal selama ini,
seringkali disematkan pada pengurus dan kader partai ini untuk menunjukkan kualitas
pribadi dan komitmen perjuangannya. Bayangkan saja, untuk membikin kongres, berbeda
dengan partai dan ormas-ormas sekarang yang mengandalkan dana Bansos, dana APBD,
dan sedekah dari perusahaan-perusahaan, mereka justru iuran dan mewajibkan setiap
kader dan anggota partai untuk mengurangi jatah rokoknya untuk menjaga independensi
dan kosistensi perjuangannya. Dengan inilah mereka berani mengatakan tidak pada segala
rupa penindasan dan konsisten berjuang membela kaum lemah.
Bukan bermaksud melebih-lebihkan, ketika bergabung dengan partai, sejak semula
mereka telah siap dengan segala resiko yang terjadi dalam melawan kolonialisme,
kapitalisme dan fasisme. Sebagaimana tampak dalam catatan Soeryana, menunjukkan
bahwa partai ini memang mempunyai kader-kader yang tidak mudah goyang karena
kesengsaraan-kesengsaraan fisik, moril, dan materiil. Mereka semenjak semula masuk
Partai sudah diberikan perlengkapan persiapan pikiran untuk tiga B, yaitu Bui, Buang,
Bunuh artinya dipenjara, diinternir atau diasingkan, dan mati dalam perjuangan.[6]
Militansi ini yang tidak dimiliki oleh kebanyakan aktivis hari ini yang sekedar cari makan
dan kedudukan sendiri. Ketakutan ini wajar bagi mereka yang fasis, anti rakyat dan pro
pasar, karena Komunisme tak hanya memiliki analisis yang jitu tapi juga konsistensi
perjuangan yang tiada bandingnya.
Lebih lanjut Soeryana mengatakan, para kader PKI ini, terutama yang berasal dari
Angkatan 26 (Digulis), militansinya tercermin dalam kehidupan sehari-hari mereka di dalam
penjara. Kesengsaraan yang menimpa diri mereka, kadang-kadang diromantisir dengan
ungkapan kata, guna membangun vitalitetnya sendiri. Seperti mereka senantiasa katakan
Kesengsaraan akan terus menimpa kita, akan tetapi selama partai ada, kita akan tetap
mencari jalan keluar untuk mengatasinya. Bahkan secara diam-diam atau bi al-sirri
(sembunyi-sembuyi) mereka mengorganisir di dalam penjara dengan mengadakan:
pendidikan teori dengan kursus-kursus politik dan agitasi dan propaganda.[7] Militansi ini
tak jauh beda dengan perjuangan nabi Muhammad SAW dan para sahabat pada masa
pembentukan Islam awal dalam menghalau teror kaum kafir Quraisy.
Namun yang menggelikan, rupanya banyak pula, mereka yang mengaku intelektual, atau
setidaknya selama ini dianggap demikian, mengidap paranoia dengan lambang Palu Arit
dan phobia terhadap KOM. Padahal lambang palu dan arit merupakan simbol kelas
pekerja, simbolnya mayoritas umat manusia yang dihisap oleh modus produksi kapitalisme.
Padahal dari pekerjaan merekalah kita semua bisa menikmati hidup. Merekalah produsen
sesungguhnya dari apa yang selama ini kita konsumsi. Dengan itu, mereka terasing dari
diri dan karyanya sendiri. Kelak bisa saja simbol itu diubah menjadi gergaji, bor kayu, atau
cangkul yang di atasnya ada gambar Kabah atau Al-Quran untuk meneguhkan bahwa
kelas pekerja yang sedang berjuang membebaskan dirinya dari keterasingan dan meraih
keadilan, juga beragama dan membaca Al-Quran selain membaca Das Kapital dan
Manifesto Komunis.

Paranoia juga telah menjadikan seseorang gampang emosi dan tidak jernih melihat
persoalan. Kegaduhan dan reaksi terhadap HTI, membuktikan hal ini. Sikap reaktif Islam
moderat terhadap HTI, sebenarnya tak hanya dipicu oleh tak berkesudahannya perdebatan
tafsir Islam di antara mereka, melainkan juga rasa frustasi Islam moderat menghadapi
militansi HTI (dan tentu juga PKS) dalam mengorganisir umat Islam. Ini menyedihkan,
karena tak sepakat dengan HTI, kelompok beberapa pihak, atas dukungan militer,
menganjurkan untuk merobek bendera HTI. Saya kuatir, setelah dengan enteng merobek
bendera, selangkah lagi mereka akan merobek dada orang. Tentu saja saya tidak
bermaksud membela HTI, karena saya sendiri tak setuju dengan HTI. Tapi bukan dengan
cara-cara brutal menyikapinya, melainkan melalui kesanggupan kita berkontestasi secara
fair, dengan beradu argumen dan strategi.
Belajar dari Lenin, HTI dan PKS berpolitik secara realis. Mereka kembali kepada problem
yang dihadapi massa rakyat di mana mereka berpijak. Mereka membikin sel-sel
pengkaderan, menjadikan masjid sebagai basis perjuangannya, membikin koran-koran dan
buletin yang disebarkan di hampir semua masjid, dan mampu mengelola dana amal yang
luar biasa besar dengan amanah dan professional. Inilah yang tak dilakukan oleh kelompok
Islam moderat. Mereka membicarakan Islam damai tapi memunggungi massa rakyat.
Berdiskusi di hotel-hotel. Tidak mengorganisir massa rakyat, melainkan mengerjakan
kegiatan pemberdayaan berbasis program-program donor yang akan habis ketika dana
donor habis. Cuek saja dengan kenaikan BBM, membiarkan buruh dan petani berjuang
sendiri. Dan mohon maaf, kaum kelas menengah penganjur Islam rahmatan lil alamin di
perkotaan ini tidak saleh-saleh amat dalam beragama. Malah sering saya dapati mereka
jarang shalat, atau malah meremehkan ibadah mahdlah yang sangat fundamental bagi
umat Islam. Kalaupun ada yang rajin ke masjid, seperti kader-kader IPNU dan IPPNU
contohnya, lagi-lagi tidak realis. Kegiatannya tidak menyasar problem nyata yang dihadapi
umat. Mereka tergagap-gagap dengan situasi zamannya. Tercerabut dari lingkungannya.
Disinilah pentingnya belajar pada komunisme. Jangan-jangan, HTI dan PKS ini justru
sudah baca What is To be Done-nya Lenin sebagai bahan ajar strategi perjuangan mereka.
Sementara kita, Tidak.
***
Kembali ke persoalan Komunisme. Sekarang, kaum fasis anti rakyat, anti umat, anti
demokrasi (pseudo demokrat) takut melihat gerakan rakyat, terutama gerakan Petani
melawan perampasan tanah yang disebut Marx sebagai primitive accumulation dan
perusakan lingkungan, dan gerakan buruh yang makin menunjukkan posisi politiknya.
Ketakutan tersebut tak lain karena selama ini mereka memunggungi rakyat. Tidak pernah
terlibat dalam memperjuangkan nasib para buruh dan petani. Mereka, kaum fasis dan
kapitalis berkolaborasi dalam menghancurkan Indonesia. Maka itu, di tengah malapetaka
sosial negeri ini, umat Islam tidak boleh ikut-ikut menjadi fasis. Sangat disayangkan pegiat
seni sekelas bung Sastro, ikut-ikut melontarkan statemen, yang menurut saya, gegabah
dan berlebihan. Justru kondisi karut marutnya Indonesia ini harusnya bisa dijadikan
sebagai ladang perjuangan bagi kita umat Islam untuk menerjemahkan visi rahmatan lil
alamin di kehidupan nyata. Fastabiqul khairat, bahu membahu membela yang dilemahkan.
Bukan malah justru turut dalam pusaran permainan militer, atau mendiamkan

penghancuran ruang hidup oleh kapitalisme. Sayangnya, bagi sebagian agamawan, alihalih membela saudaranya yang papa dan dirampas tanahnya, Islam hanya ditafsirkan
sekadar sebagai solidaritas pada mereka yang telah mati saja, tidak pada mereka
yang masih hidup dan menanggung derita.
Oleh karena itu, ketimbang menyampahkan suatu gagasan, lebih baik menyumbang
gagasan di tengah pesatnya proses de-peasantization di Indonesia saat ini, yaitu suatu
proses penghancuran petani sebagai produsen dan unit ekonomi mandiri yang disebabkan
oleh gagalnya reforma agraria, dan maraknya perampasan tanah (land grabing). Dan ingat,
mereka saudara kita. Mereka syahadat, shalat, dan puasa yang sama dengan kita.
Baiklah, agar memori sejarah kita terhadap perjuangan Indonesia tak segera lapuk
dimakan hama fasisme, perlu kiranya kita ingat kembali yang dikatakan Milan Kundera,
bahwa perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan
lupa.[8] Penting kiranya kita baca kembali perjuangan para ksatria Komunis di Zaman
Bergerak. Nah, di antara Kesatria tersebut adalah Haji Misbach, seorang Kiai Komunis dan
jurnalis dari Surakarta yang konsisten di garis massa rakyat Hindia Belanda merebut
kemerdekaanya. Seorang saleh yang fasih dalam ilmu Islam tersebut mengatakan,
Hai saudara2! Ketahoeilah! Saja seorang yang mengakoe setia pada Igama, dan djoega
masoek dalam lapang pergerakan kommunis, dan saja mengakoe djoega bahoea tambah
terbukanja fikiran saja di lapang kebenaran atas perintah agama Islam itoe, tidak lain jalah
dari sasoedah saja mempeladjari ilmoe kommunisme..!.
Ia terang-terangan menemukan Islamnya melalui Komunisme.
Di tengah para agamawan yang mengajak rakyat Hindia Belanda menerima dengan sabar
kemalangan hidupnya sebagai takdir yang sudah digariskan oleh Allah swt, ia dengan
lantang menggugatnya,
Sebagai di Hindia ini, semasa kaoem boeroeh dan rakjat jang miskin ini bergerak akan
melawan tindasan yang dideritanja, maka matjam-matjamlah usaha akan melemahkan
pergerakan rajat jang tertindas itoe. Adalah jang dengan djalan mengembangkan agama
Islam dengan menjoeroeh rajat itoe nerima kaloe ditindas, sebab itoe toch kodrat Toehan,
nanti akan dapat balasan di achirat.
Persis seperti saat ini, sebagian besar agamawan kita gemar gembar gembor
Islam rahmatan lil alamin tapi tak mampu menolong kemalangan saudara-saudaranya,
mereka tak mampu membaca realitas yang timpang dan tidak berkeadilan, justru sibuk
bikin acara parade-parade-an dan musik-musikan yang jauh dari derita dan air mata umat
Islam yang ditindas di pabrik-pabrik, diperkosa dan dilecehkan di Arab Saudi, atau yang
dirampas tanahnya.
Pada masa Zaman Bergerak, keteguhan memegang iman, tak hanya diwujudkan dengan
tenggelam dalam ibadahmahdlah yang mempertontonkan kesalehan pribadi sebagaimana
kebanyakan hari ini, melainkan dalam perjuangan pembebasan melawan kolonialisme

Belanda. Bahkan, bisa jadi pada saat pemberontakan PKI 1926/27 terhadap Belanda
meletus di Banten dan Silungkang Sumatra Barat, yang kita tahu sebagai basis Islam yang
kuat, pekik takbir, sholawat dan lagu internationale, dikumandangkan beriringan sebagai
pemompa daya juang di hadapan tiran. Karena dari banyak sumber sejarah mengatakan
bahwa para santri tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah, yang dalam hatinya senantiasa
digenangi oleh rasa cinta pada Allah dan selalu istiqamah merapalkan: ilahi anta maqshudi
wa ridhaqa mathlubi atini mahabbataka wa marifatak (Ya Allah hanya Engkaulah yang
hamba maksud, Ridha-Mu yang hamba dambakan, berikanlah hamba kemampuan untuk
dapat mencinta-Mu dan bermakrifat kepada-Mu) juga terlibat dalam pemberontakan
terhadap Belanda tersebut.
Para ulama yang bergabung dengan PKI Banten antara lain Tubagus KH Achmad Chatib,
Tubagus H Abdulhamid, KH Mohammad Gozali, Tubagus KH Abdul Hadi, Puradisastra
(kakak Sukaesih), Alirachman (Aliarcham), dan Tubagus Hilman. Para Kiai Komunis dalam
pemberontakan Banten banyak yang menjadi syuhada. Setelah pemberontakan,
setidaknya ada 99 orang dibuang ke Boven Digul, 29 di antaranya sudah bergelar haji, 17
di antaranya bahkan pernah tinggal di Makkah. Sedang 11 orang lainnya tercatat sebagai
guru agama. Beberapa ulama yang dibuang ke Boven Digul adalah H Chatib, H Asgari, H
Emed, H Mohammad Arif, H Abdul Hamid (adik H Chatib), H Artadjaja, H Soeeb, H Abdul
Hadi, H Akjar, dan H Sentani.[9]
Di tengah kejumudan dan kepicikan berpikir, Sastro yang lain, Sastro Anwar makruf,
seorang pemimpin Konfederasi Pergerakan Rakyat Indonesia dan aktivis buruh, dalam
salah satu wawancara IndoPROGRESS dengannya, mengenai apa yang sedang
diperjuangkannya dengan organisasinya, ia mengatakan,
Secara material dan spiritual, kami ingin mewujudkan surga dunia dan akherat. Surga
dunia berarti dunia yang damai, bahagia, sejahtera, setara dan sentausa bagi seluruh umat
manusia, juga dengan semesta alam yang indah, lestari dan terjaga. Hal tersebut akan
terjadi jika dunia bebas dari penghisapan dan penindasan. Jika surga dunia terwujud, maka
dengan sendirinya surga akherat akan mengikuti.[10]
Sekali lagi, anti KOM bukanlah tiba-tiba turun dari langit, melainkan dipropagandakan.
Pancasila yang tidak pernah anti KOM hari ini justru ditafsir dan ditampilkan secara fasistis
dan anti rakyat. Di hadapan mara bahaya dan fitnah kaum fasis dan manuver sayap kanan,
jangan pernah takut dan gentar. Kuncinya, bagi yang beriman, kata ibu saya: Jangan lupa
sholat dan perbanyak sholawat.
Terhadap berbagai kebohongan fasisme selama ini, mari kita bertanya padanya
sebagaimana seringkali Al-Quran bertanya: Hatu burhanukum in kuntum
shadiqien (tunjukkanlah bukti-bukti kalian kalau kalian itu benar).[11]Wallahualam. ***

Penulis adalah santri Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah


[1] Anton Lucas (ed.), Radikalisme Lokal Oposan dan Perlawanan terhadap Pendudukan
Jepang di Jawa (1942-1945), Yogyakarta: Syarikat Indonesia, 2012, hlm. 484.
[2] Mengenai kritik Ali Syariati terhadap Marxisme lih. Ali Syariati, Marxism and Other
Western Fallacies, Berkeley: Mizan Press, 1980. Kelak kritik Ali Syariati ini ditanggapi oleh
Assef Bayat melalui esainya, Shariati and Marx: A Critique of an Islamic Critique of
Marxism.
[3] Francis Wheen, Das Kapital Kisah Sebuah Buku yang Mengubah Dunia, Tangerang
Selatan: Marjin Kiri, 2012, hlm.
[4] Lebih lanjut bisa dibaca, Karl Marx, The Civil War in France, 1871. Juga komentarkomentar lain terhadap Komune Paris seperti: V. I. Lenin, The Paris Commune, New York:
International Publishers, 1934. Donny Gluckstein, The Paris Commune A Revolution in
Democracy, London: Bookmarks Publications Ltd, 2006 dll.
[5] Lihat. Nicos Poulantzas, State, Power, Socialism, London: New Left Books, 1978, hlm.
256.
[6] Opcit, Anton Lucas (ed.), hlm. 281.
[7] Ibid, hlm. 283.
[8] Lihat. Milan Kundera, Kitab Lupa dan Gelak Tawa (The Book of Laughter and
Forgetting), Yogyakarta: Bentang, 2000, hlm. 4.
[9] Sejarah singkat keterlibatan para Kiai dalam pemberontakan Banten bisa dibaca
disinihttp://daerah.sindonews.com/read/927823/29/mengenang-pemberontakan-ulama-dibanten-1926-bagian-i-1416663749
[10] Lihat. Wawancara dengan Sastro Anwar makruf
di http://indoprogress.com/2015/06/anwar-sastro-maruf-gerakan-sosial-harus-membangunpartai-politik-sendiri/
[11] Al-Quran 2: 111, 21: 24, 27: 64, 28: 75.

http://indoprogress.com/2016/05/siapakah-yang-sampahkomunisme-atau-fasisme/