Anda di halaman 1dari 30

AL-ISLAM KEMUHAMMADIYAHAN II

MUHAMMADIYAH SEBAGAI GERAKAN PENDIDIKAN

OLEH :
KELOMPOK 7
ARBITYA TRIJULIAWAN (201210330311068)
PUTRI DERY CAHYANI (201210330311135)
AFINA FITRA FIRDAUS (201210330311167)

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2016

DAFTAR ISI

Halaman
DAFTAR ISI ........................................................................................................... i
BAB 1 PENDAHULUAN ..................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ........................................................................................ 1
BAB 2 PEMBAHASAN ........................................................................................ 3
2.1 Peran Muhammadiyah dalam Bidang Pendidikan .................................. 3
2.2 Konsep Dasar Pendidikan Muhammadiyah ........................................... 5
2.1 Tantangan yang Dihadapi Muhammadiyah dalam Bidang Pendidikan 11
2.2 Solusi Atas Tantangan yang Dihadapi Muhammadiyah dalam Bidang
Pendidikan .................................................................................................. 17
2.1 Program Pengembangan Muhammadiyah dalam Bidang Pendidikan,
Iptek, dan Litbang ....................................................................................... 20
2.1 Cita-Cita Pendidikan Muhammadiyah ................................................. 22
2.2 Pemikiran dan Praktis Pendidikan Muhammadiyah ............................. 24
BAB 3 PENUTUP ............................................................................................... 26
3.1 Kesimpulan .......................................................................................... 26
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 28

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Saat kolonial Belanda menjajah bumi nusantara, Pendidikan Islam telah

tersebar luas dalam wujud pondok pesantren, dimana islam diajarkan di


musholla/langgar/masjid.

Sistem

yang

digunakan

seperti

sistem sorogan,

bandongan, dan wetonan. Sorogan adalah sistem pendidikan dimana secara


perorangan menghadap kyai dengan membawa kitab, kyai membacakan dan
mengartikan kemudian sang santri menirukannya. Bandongan atau Wetonan
adalah sang kyai membaca, mengartikan dan menjelaskan maksud teks dari kitab
tertentu namun sang santri hanya mendengarkan penjelasan dari sang kyai.
Sistem pendidikan semasa itu hanya berorientasi pada hafalan teks semata,
sehingga tidak merangsang santri untuk berdiskusi. Cabang ilmu agama yang
diajarkan sebatas Hadits dan Mustholah Hadist, Fiqih dan Usul Fiqih, Ilmu
Tauhid, Ilmu Tasawuf, Ilmu Mantiq, Ilmu Bahasa Arab. Ini berlangsung hingga
awal abad ke-20. Sudah barang tentu di sekolah Belanda para murid tidak
diperkenalkan pendidikan Islam sehingga menjadikan cara berfikir dan tingkah
laku mereka banyak yang menyimpang dari ajaran Islam.
Melihat kenyataan ini K.H Ahmad Dahlan beserta para tokoh bertekad
untuk memperbaharui pendidikan bagi umat Islam. Pembaharuan yang dimaksud
meliputi dua segi, yaitu segi cita-cita dan segi teknik. Segi cita-cita adalah untuk
membentuk manusia muslim yang berakhlaqul karimah, alim, luas pandangan dan
paham terhadap masalah keduniaan, cakap, serta bersedia berjuang untuk
1

kemajuan agama Islam. Sedang dari Segi teknik adalah lebih banyak berhubungan
dengan cara-cara penyelenggaraan pendidikan modern terutama system/model
pembelajaran yang diterapkan selama pelaksanaan pendidikan.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1

Peran Muhammadiyah dalam Bidang Pendidikan


Setelah 1 abad Muhammadiyah berdiri, banyak yang telah Muhammadiyah

persembahkan, abdikan dan dedukasikan untuk negeri ini. Sejarah menunjukkan


bahwa Muhammadiyah sebagai gerakan Islam dalam rentang usia satu abad telah
berkiprah optimal untuk memajukan kehidupan umat Islam dan bangsa Indonesia,
yang memberi makna bagi kehidupan umat manusia pada umumnya.
Muhammadiyah telah berjuang melalui gerakan dakwah dan tajdid dalam usaha
pembinaan kehidupan beragama sejalan dengan Al-Quran dan Sunnah Nabi serta
melakukan

usaha-usaha

pembaruan

kemasyarakatan

melalui

pendidikan,

pelayanan kesehatan, pelayanan sosial, pemberdayaan masyarakat, peran politik


kebangsaan, dan sebagainya, yang merupakan perwujudan untuk membentuk
masyarakat Islam yang sebenar-benarnya dan menghadirkan Islam sebagai rahmat
bagi semesta alam.
Dalam bidang pendidikan hingga tahun 2010 Muhammadiyah memiliki
4.623 Taman Kanak-Kanak; 6.723 Pendidikan Anak Usia Dini; 15 Sekolah Luar
Biasa; 1.137 Sekolah Dasar; 1.079 Madrasah Ibtidaiyah; 347 Madrasah Diniyah;
1.178 Sekolah Menengah Pertama; 507 Madrasah Tsanawiyah; 158 Madrasah
Aliyah; 589 Sekolah Menengah Atas; 396 Sekolah Menengah Kejuruan; 7
Muallimin/Muallimat; 101 Pondok Pesantren; serta 3 Sekolah Menengah Farmasi.
Dalam bidang pendidikan tinggi, sampai tahun 2010, Muhammadiyah memiliki
40 Universitas, 93 Sekolah Tinggi, 32 Akademi, serta 7 Politeknik.
3

Muhammadiyah memang sudah berkomitmen sejak dulu untuk terus


mengembangkan dan memajukan pendidikan di Indonesia. Sejak awal pendirian
bahkan sebelum berdirinya Muhammadiyah, pendirinya yaitu kyai haji Ahmad
Dahlan memang sudah sangat peduli dan perhatian dengan pendidikan. Ia begitu
peduli dengan nasib ank-anak disekitar akuman yang tidak pernah mengenyam
pendidikan. Dengan kecerdasannya maka lambat laun ia mampu merintis sistem
pendidikan modern yang mengkombinasikan ilmu pengetahuan umum dan agama.
Hingga setelah ia mendirikan organisasi Muhammadiyah yang bergerak dibidang
Sosial, pendidikan dan kesehatan. Ia kemudian mendirikan sekolah madrasah
ibtidaiyah

diniyah

yang

pertama

di

Kauman.

Semangat

untuk

terus

mngembangkan dan memajukan pendidikan di Indonesia ini kemudian diteruskan


oleh para kader Muhammadiyah dengan terus mendirikan lembaga pendidikan
yang berkualitas dan memiliki infrastruktur yang bagus dan memadai. Sehingga
Muhammadiyah ikut membantu pemerintah dalam rangka mencapai masyarakat
yang berpendidikan yang bebas dari kemiskinan.
Dengan kuantitas lembaga pendidikan yang sudah dimiliki Muhammadiyah
tersebut, Muhammadiyah terus mengembangkan dan membentuk inovasi-inovasi
dalam bidang pendidikan ini agar peserta didiknya mampu menjawab tantangan
zaman. Saat ini sudah ada lembaga pendidikan yang sudah mapan, namun ada
juga yang belum. Untuk yang belum mapan inilah yang masih membutuhkan
perhatian lebih dari Muhammadiyah untuk terus mengembangkan dan
memajukannya.

2.2

Konsep Dasar Pendidikan Muhammadiyah


Secara umum konsep dasar pendidikan adalah suatu proses pembentukan

kemampuan dasar yang fundamental, baik menyangkut daya fikir (intelektual)


maupun daya perasaan (emosional). Pendidikan merupakan aktivitas yang
diorientasikan kepada pengembangan individu manusia secara optimal. Sementara
itu konsep dasar pendidikan Muhammadiyah menurut KH Ahmad Dahlan adalah
sebagai berikut :
2.2.1 Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan Islam tidak terlepas dari tujuan hidup manusia dalam
Islam, yaitu untuk menciptakan pribadi-pribadi hamba Allah yang selalu bertakwa
kepadaNya, dan dapat mencapai kehidupan yang berbahagia di dunia dan akhirat
(lihat QS. Az-Zariyat : 56; QS. Ali-Imron : 102).

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenarbenar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam
keadaan beragama Islam. (QS. Ali-Imron : 102).

Artinya : Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka
mengabdi kepada-Ku" (QS. Az-Zariyat : 56).
Tujuan Pendidikan yang digagas KH Ahmad Dahlan adalah lahirnya
manusia-manusia baru yang mampu tampil sebagai "ulama-ulama intelek" atau

"intelek ulama", yaitu sorang Muslim yang memiliki keteguhan iman dan Ilmu
yang luas, kuat jasmani dan rohani.
Adapun

tujuan

pendidikan

Muhammadiyah

mengacu

pada

tujuan

Muhammadiyah yaitu: (I) Pada waktu pertama kali berdiri tujuannya adalah
Menyebarkan ajaran Kanjeng Nabi Muhammad SAW kepada penduduk bumi
putera didalam residenan Yogyakarta menunjukan hal Agama Islam kepada
anggotanya, (II) Setelah Muhammadiyah berdiri dan menyebar keluar Yogyakarta
menjadi memajukan dan menggembirakan pengajaran dan memajukan Agama
Islam kepada sekutu-sekutunya.
Tujuan pendidikan yang demikian juga tercermin dalam sistem pendidikan
Muhammadiyah, terutama komponen bahan pelajaran, yang merupakan
kompromi antara ilmu-ilmu agama dengan ilmu pengetahuan yang datang dari
Barat.
Pada tahun 1977 dirumuskan tujuan pendidikan Muhammadiyah secara
umum berbunyi: (I) terwujudnya manusia Muslim yang berakhlak mulia cakap,
percaya pada diri sendiri, berguna bagi masyarakat dan negara. Beramal menuju
terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya; (ii) Memajukan dan
memperkembangkan ilmu pengetahuan dan keterampilan umtuk pembangunan
dan masyarakat negara Republik Indonesia yang berdasar Pancasila dan Undangundang Dasar 1945. Dengan demikian pendidikan perlu menentukan tujuan yang
ingin dicapai, sehingga mudah diarahkan dan dievaluasi sesuai dengan tujuan
yang ingin dicapai.

Dari tujuan tersebut, maka tujuan pendidikan formal Muhammadiyah


adalah:
a. Menegakan, berarti membuat agar tegak dan tidak tergoyahkan itu dengan
memegang teguh, mempertahankan, membela serta memperjuangkan ajaran
Islam.
b. Menjunjung tinggi berarti membawa di atas segala-galanya, yaitu dengan cara
anak didik supaya mengamalkan mengindahkan serta melaksanakan Ajaran
Agama Islam.
c. Agama Islam yaitu: Agama yang dibawa para Rasul sejak Nabi Adam sampai
Nabi Muhammad SAW. Segenap isi Ajaran Agama yang dibawa oleh para
Rasul tersebut, sudah tercakup dalam Syariat Islam yang dibawa oleh Nabi
Muhammad SAW berupa Al Qur'an Hadits. Maka siswa Muhammadiyah bisa
memegang teguh Agama Islam sebagai Agama Tauhid yang dibawa oleh
Rasul dan sudah sempurna sehingga dapat terbentuk insan-insan kamil.

2.2.2 Pendidik
Pendidik Secara etimologi berarti orang yang memberikan bimbingan.
Pengertian ini memberi kesan bahwa pendidik adalah orang yang melakukan
kegiatan dalam bidang pendidikan. Kata tersebut seperti teacher artinya guru
yang mengajar dirumah. Sedangkan secara secara terminologi adalah: Ahmad D
Marimba mengemukakan bahwa "Pendidik adalah sebagai orang yang memikul
tanggung jawab untuk mendidik" adapun menurut Muri yusuf yaitu "Pendidik
adalah individu yang mampu melaksanakan tindakan mendidik dalam situasi
pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan". Pengertian tersebut tidak berbeda
7

jauh dengan pengertian Pendidik menurut Muhammadiyah yaitu, Pendidik/guru


adalah setiap orang yang merasa bertanggung jawab atas perkembangan anak
didik dan mempunyai tanggungjawab menunaikan amanat Vertikal (Allah) dan
horizontal (kemanusiaan).
Dalam mendidik tidak sembarang orang bisa menjadi seorang pendidik dan
untuk menjadi seorang pendidik ada syarat yang harus dipenuhi. Menurut
Muhammadiyah secara umum syarat menjadi seorang pendidik yaitu harus
memiliki ilmu, memiliki kemampuan dalam ilmu jiwa, harus memiliki akhlak
teladan dalam kelasnya bahkan dalam kehidupan sehari-harinya. Dari beberapa
syarat terebut harus dilandasi oleh sikap mental terutama akhlak teladan yaitu,
siap menjalankan perintah Allah SWT, jiwa pengabdian, ikhlas beramal, serta
keyakinan dan kelurusan/kebenaran Agama Islam. Dengan demikian untuk
menjadi seorang pendidik menurut Muhammadiyah perlu memiliki persyaratanpersyaratan khusus, diantaranya:
Harus seorang Muslim artinya beragama Islam yang beriman dan bertaqwa.
Anggota / guru simpatikan Muhammadiyah atau aisyiah.
Mempunyai keteladanan yang mulia baik di sekolah maupun di dalam
kehidupan

sehari-hari.

Ikhlas.
Bertanggung jawab.
Mempunyai kemampuan istimewa dalam mendidik baik dalam menguasai
materi pelajaran maupun dalam program pelajaran seperti metode, pengelolaan
kelas, mengerti dan faham administrasi sekolah maupun dalam memahami
prinsip-prinsip dan menafsirkan hasil penelitian.
8

2.2.3 Peserta Didik


Peserta didik atau disebut juga Mutarabbi, hakikatnya adalah orang yang
memerlukan bimbingan. Secara kodrati, seorang anak memerlukan Pendidikan
dan bimbingan dari orang dewasa, paling tidak, karena ada dua aspek, yaitu aspek
pedagogis dan sosiologis.
Menurut Muhammadiyah peserta didik merupakan bahan mentah atau objek
dalam proses transformasi pendidikan. Ia mempunyai keragaman yang berbeda
dan sebagai makhluk Allah di muka bumi ini sebagai khalifah yang perlu dididik
dan dibina serta dikembangkan agar bisa mengelolanya dan kembali kepada
Khaliknya.
Dengan demikian maka anak didik merupakan suatu objek yang akan
menerima transformasi pendidikan, dan sebagai objek yang akan menerima
transformasi harus mempunyai syarat sebagai pelajar yang baik yaitu :
Mempunyai akhlak yang baik dan mulia.
Mempunyai sikap yang sopan dan santun baik kepada sesama maupun kepada
yang lebih tua dan muda.
Harus bisa meneruskan perjuangan.
Harus dapat dipercaya dan cinta damai.
Dan bersedia mentaati peraturan yang ada di Muhammadiyah.

2.2.4 Kurikulum
Menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU SISDIKNAS)
No 20 Tahun 2003 pasal 1 ayat 19 kurikulum adalah sebagai berikut: Kurikulum
adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan
9

pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan


pembelajaran untuk mencapai tujuan Pendidikan tertentu.
Kurikulum merupakan salah satu komponen yang sangat penting dalam
suatu sistem Pendidikan, karena kurikulum merupakan alat untuk mencapai tujuan
Pendidikan dan sekaligus sebagai pedoman dalam pelaksanaan pengjaran pada
semua jenis dan tingkat Pendidikan.
Kurikulum yang digunakan di Muhammadiyah merupakan kurikulum
gabungan antara kurikulum pelajaran pesantren dengan kurikulum modern dengan
mempelajari ilmu-ilmu dalam bidang umum. Adapun materi yang disajikan di
Pendidikan Muhammadiyah harus menyentuh berbagai aspek yaitu:
Aqidah akhlak
Hablumminallah.
Hablumminannas.
Bahasa dan Tarikh
Dengan demikian maka materi yang disampaikan pada pendidikan
Muhammadiyah adalah Pendidikan Agama yang mencakup mata pelajaran aqidah
akhlak, hadist, piqh, tarikh, bahasa, al-quran dan kemuhammadiyahan. Selain
pendidikan Agama di Muhammadiyah juga terdapat pendidikan umum yang
meliputi IPA, IPS Ilmu teknik, olah raga, matematika dll.
Bahan pelajaran di atas diberikan secara

berencana. Artinya bahan

pelajaran tertentu diberikan di kelas tertentu dengan waktu atau lama belajar di
setiap kelas yang telah ditetapkan. Di sekolah/pendidikan Muhammadiyah juga
telah diterapkan sistem ulangan, absensi Murid dan kenaikan kelas, dan
kecakapan murid dinilai melalui ulangan yang diberikan.
10

2.2.5 Metode
Metode mengajar adalah cara atau tekhnik untuk mencapai tujuan pelajaran,
Metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan oleh pendidik
dalam membelajarkan peserta didik saat berlangsungnya proses pembelajaran.
Kalau dalam sistem pendidikan Islam tradisional dikenal metode sorogan dan
weton, maka di lembaga pendidikan klasikal seperti yang dipraktekkan oleh
Muhammadiyah, metode pengajaran yang demikian tidak diterapkan lagi. Di
muhammadiyah murid tidak lagi hanya menerima dengan kritis dan dengan
perbandingan, terutama bagi kitab fikih yang mengajarkan pendapat Mujtahid
tertentu.
Adapun Metode yang digunakan di Muhammadiyah yaitu Metode ceramah,
diskusi, tanya jawab, pemberian tugas, metode kerja kelompok, demonstrasi,
latihan, sosiodrama, metode karya wisata/belajar di alam.

2.3

Tantangan yang Dihadapi Muhammadiyah dalam Bidang Pendidikan

2.3.1 Masalah Kualitas Pendidikan


Perkembangan amal usaha Muhammadiyah khususnya dalam bidang
pendidikan yang sangat pesat secara kuantitatif belum diimbangi peningkatan
kualitas yang sepadan, sehingga sampai batas tertentu kurang memiliki daya saing
yang tinggi, serta kurang memberikan sumbangan yang lebih luas dan inovatif
bagi pengembangan kemajuan umat dan bangsa.
Bahwa amal usaha Muhammadiyah dalam hal kualitas mengalami dua
masalah

sekaligus,

yaitu,

pertama,

terlambatnya

pertumbuhan

kualitas

dibandingkan dengan penambahan jumlah yang spektakuler, sehingga dalam


11

beberapa hal kalah bersaing dengan pihak lain. Kedua, tidak meratanya
pengembangan mutu lembaga pendidikan. Dalam sejumlah aspek banyak disoroti
kelemahan amal usaha khususnya di bidang pendidikan yang kurang mampu
menunjukkan daya saing di tingkat nasional apalagi internasional. Amal usaha
Muhammadiyah tidak mengalami proses inovasi yang merata dan signifikan,
sehingga cenderung berjalan di tempat, kendati beberapa lainnya mulai bangkit
mengembangkan ide-ide dan metode baru dalam peningkatan kualitas dan
keberadaan amal usaha Muhammadiyah.
Kedepan diperlukan peningkatan kualitas yang lebih inovatif, sehingga amal
usaha Muhammadiyah khususnya bidang pendidikan dapat lebih unggul serta
mampu mengemban misi dakwah dan tajdid Muhammadiyah. Dewasa ini
globalisasi sudah mulai menjadi permasalahan aktual pendidikan. Permasalahan
globalisasi dalam bidang pendidikan terutama menyangkut output pendidikan.
Seperti diketahui, di era globalisasi dewasa ini telah terjadi pergeseran paradigma
tentang keunggulan suatu Negara, dari keunggulan komparatif (comperative
advantage) kepada keunggulan kompetitif (competitive advantage).
Keunggulam komparatif bertumpu pada kekayaan sumber daya alam,
sementara keunggulan kompetitif bertumpu pada pemilikan sumber daya manusia
(SDM) yang berkualitas artinya dalam konteks pergeseran paradigma keunggulan
tersebut, pendidikan nasional akan menghadapi situasi kompetitif yang sangat
tinggi, karena harus berhadapan dengan kekuatan pendidikan global. Hal ini
berkaitan erat dengan kenyataan bahwa globalisasi justru melahirkan semangat
cosmopolitantisme dimana anak-anak bangsa boleh jadi akan memilih sekolahsekolah di luar negeri sebagai tempat pendidikan mereka, terutama jika kondisi
12

sekolah-sekolah di dalam negeri secara kompetitif under-quality (berkualitas


rendah). Inilah salah satu dari sekian tantangan yang harus dihadapi
Muhammadiyah dalam bidang pendidikan.

2.3.2 Permasalahan Profesionalisme Guru


Salah satu komponen penting dalam kegiatan pendidikan dan proses
pembelajaran adalah pendidik atau guru. Betapapun kemajuan taknologi telah
menyediakan berbagai ragam alat bantu untuk meningkatkan efektifitas proses
pembelajaran, namun posisi guru tidak sepenuhnya dapat tergantikan. Itu artinya
guru merupakan variable penting bagi keberhasilan pendidikan.
Menurut Suyanto, Guru memiliki peluang yang amat besar untuk
mengubah kondisi seorang anak dari gelap gulita aksara menjadi seorang yang
pintar dan lancar baca tulis yang kemudian akhirnya ia bisa menjadi tokoh
kebanggaan komunitas dan bangsanya. Tetapi segera ditambahkan: Guru yang
demikian tentu bukan guru sembarang guru. Ia pasti memiliki profesionalisme
yang tinggi, sehingga bisa di ditiru.
Itu artinya pekerjaan guru tidak bisa dijadikan sekedar sebagai usaha
sambilan, atau pekerjaan sebagai moon-lighter (usaha objekan). Namun kenyataan
dilapangan menunjukkan adanya guru terlebih-lebih guru honorer, yang tidak
berasal dari pendidikan guru, dan mereka memasuki pekerjaan sebagai guru tanpa
melalui system seleksi profesi. Singkatnya di dunia pendidikan nasional ada
banyak, untuk tidak mengatakan sangat banyak, guru yang tidak profesioanal.
Inilah salah satu permasalahan internal yang harus menjadi pekerjaan rumah
bagi pendidikan Muhammadiyah masa kini.
13

2.3.3 Masalah kebudayaan (Alkulturasi)


Kebudayaan yaitu suatu hasil budi daya manusia baik bersifat material
maupun mental spiritual dari bangsa itu sendiri ataupun dari bangsa lain. Suatu
perkembangan kebudayaan dalam abad moderen saat ini adalah tidak dapat
terhindar dari pengaruh kebudayan bangsa lain. Kondisi demikian menyebabkan
timbulnya proses alkulturasi yaitu pertukaran dan saling berbaurnya antara
kebudayaan yang satu dengan yang lainnya.
Dari sinilah terdapat tantangan bagi pendidikan-pendidikan islam yaitu
dengan adanya alkulturasi tersebut maka akan mudah masuk pengaruh negatif
bagi kebudayaan, moral dan akhlak anak. Oleh karena itu hal ini merupakan
tantangan bagi pendidikan islam untuk memfilter budaya-budaya yang negatif
yang diakibatkan oleh pengaruh budaya-budaya barat.

2.3.4 Permasalahan Strategi Pembelajaran


Menurut Suyanto era globalisasi dewasa ini mempunyai pengaruh yang
sangat signifikan terhadap pola pembelajaran yang mampu memberdayakan para
peserta didik. Tuntutan global telah mengubah paradigma pembelajaran dari
paradigma pembelajaran tradisional ke paradigma pembelajaran baru. Suyanto
menggambarkan

paradigma

pembelajaran

sebagai

berpusat

pada

guru,

menggunakan media tunggal, berlangsung secara terisolasi, interaksi guru-murid


berupa pemberian informasi dan pengajaran berbasis factual atau pengetahuan.
Dewasa ini terdapat tuntutan pergeseran paradigma pembelajaran dari
model tradisional ke arah model baru, namun kenyataannya menunjukkan praktek
pembelajaran lebih banyak menerapkan strategi pembelajaran tradisional dari
14

pembelajaran baru. Hal ini agaknya berkaitan erat dengan rendahnya


professionalisme guru.

2.3.5 Masalah Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi


Sebagimana telah kita sadari bersama bahwa dampak positif dari pada
kemajuan teknologi sampai kini, adalah bersifat fasilitatif (memudahkan).
Teknologi menawarkan berbagai kesantaian dan ketenangan yang semangkin
beragam.
Dampak negatif dari teknologi moderen telah mulai menampakan diri di
depan mata kita, yang pada prinsipnya melemahkan daya mental-spiritual / jiwa
yang sedang tumbuh berkembang dalam berbagai bentuk penampilannya.
Pengaruh negatif dari teknologi elektronik dan informatika dapat melemahkan
fungsi-fungsi kejiwaan lainya seperti kecerdasan pikiran, ingatan, kemauan dan
perasaan (emosi) diperlemah kemampuan aktualnya dengan alat-alat teknologielektronis dan informatika seperti Komputer, foto copy dan sebagainya.
Alat-alat diatas dalam dunia pendidikan memang memiliki dua dampak
yaitu dampak positif dan juga dampak negatif. Misalnya pada pelajaran bahasa
asing anak didik tidak lagi harus mencari terjemah kata-kata asing dari kamus,
tapi sudah bisa lewat komputer penerjemah atau hanya mengcopy lewat internet.
Nah dari sinilah nampak jelas bahwa pengaruh teknologi dan informasi memiliki
dampak positif dan negatif.

15

2.3.6 Tantangan era globalisasi terhadap pendidikan agama Islam di antaranya,


krisis moral.
Melalui tayangan acara-acara di media elektronik dan media massa lainnya,
yang menyuguhkan pergaulan bebas, sex bebas, konsumsi alkohol dan narkotika,
perselingkuhan, pornografi, kekerasan, liar dan lain-lain. Hal ini akan berimbas
pada perbuatan negatif generasi muda seperti tawuran, pemerkosaan, hamil di luar
nikah, penjambretan, pencopetan, penodongan, pembunuhan oleh pelajar, malas
belajar dan tidak punya integritas dan krisis akhlaq lainnya.

2.3.7 Dampak negatif dari era globalisasi adalah krisis kepribadian.


Diera globalisasi sekarang ini, bangsa Indonesia sedang mengalami sebuah
perubahan yang besar disegala sektor. Ini dibuktikan dengan kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi yang begitu cepat. Dengan kemajuan teknologi dan
informasi seperti televisi, komputer, internet, media cetak dan elektronik
mengakibatkan bangsa Indonesia dapat dengan mudah mengakses informasi baik
dari dalam negeri maupun luar negeri. Selain itu, dengan kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi juga dapat menimbulkan kemerosotan norma-norma
dalam kehidupan bermasyarakat, kebobokran akhlak (perilaku), serta bentuk
penyimpangan lainnya yang kini telah merebak dalam masyarakat Indonesia
khususnya generasi muda dalam hal ini pelajar atau mahasiswa. Mereka lebih
mementingkan urusan duniawi daripada urusan akhirat.
Dari semua bentuk penyimpangan ini membutuhkan suatu upaya yang
sangat serius untuk mengatasinya. Salah satu cara mengatasinya adalah melalui
pendidikan,

dalam

hal

ini

pendidikan

kemuhammadiyahan.

Dengan
16

kemuhammadiyahan dampak-dampak buruk dari kemajuan ilmu pengetahuan dan


teknologi bisa di minimalisir.
Jadi ini dapat disimpulkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi
yang begitu cepat telah memberikan dampak-dampak bagi kehidupan kita, baik
itu dampak positif maupun dampak negatif. Dampak tersebut

menyebabkan

bangsa Indonesia melakukan banyak penyimpangan. Di dalam pendidikan,


kemuhammadiyahan

adalah

salah

satu

upaya

yang

diperlukan.

Kemuhammadiyahan berperan aktif untuk mengelola dan memanage dampakdampak buruk yang disebabkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi
menjadi minimalisir.

2.4

Solusi Atas Tantangan yang Dihadapi Muhammadiyah dalam Bidang


Pendidikan
Menjawab tantangan yang dihadapi Muhammadiyah dalam bidang

pendidikan seperti yang disebutkan diatas, Achmad Charis Zubai Sekretaris II


Majelis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam PP Muhammadiyah periode
1995-2000 mengemukakan bahwa kendatipun jumlah umat islam mayoritas
(88,2%) di Indonesia namun kualitasnya cukup memprihatinkan dibanding umat
lain. Karena beberapa fakor seperti tidak mencerminkan homogenitas dalam
kualitas tetapi heterogenitas baik dalam kualitas, intensitas, maupun pahampaham dan persepsi keagamaannya. Selain itu, rendahnya kualitas sumber daya
umzt islam juga melatarbelakangi mengapa umat islam tidak memiliki peran yang
setaraf dengan kuantitasnya.

17

Menjawab tantangan yang dihadapi Muhammadiyah bahwa Kualitas


lembaga pendidikan yang dimiliki Muhammadiyah belum setara dengan
kuantitasnya yang senantiasa mengalami perkembangan yang spektakuler,
Muhammadiyah perlu melakukan upaya pengesyahan dan penghidupan kembali
Muhammadiyah sebagai gerakan pendidikan dan gerakan pengembangan dan
pengelolaan. Dalam aspek filosofik, Muhammadiyah perlu merumuskan kembali
ide dasar pendidikan Muhammadiyah sebagai matra keimanan dan ketaqwaaan
yang tercemin dalam relijiulitas serta akhlaq manusianya. Dalam aspek kebijakan
pengembangan dan pengelolaan, dilakukan dengan penyegaran dan perubahan
orientasi yang meliputi :
1. Dari orientasi status ke orientasi kompetensi
2. Dari orientasi Input ke output
3. Dari orientasi kekinian ke orientasi masa depan
4. Dari orientasi kuantitatif ke orientasi kualitatif
5. Dari orientasi kepemimpinan individu ke orientasi sistem
6. Dari orientasi ketergantungan ke orientasi kemandirian
7. Dari orientasi fisik ke orientasi nilai
Disamping itu perencanaan dan pengelolaan Muhammadiyah perlu
dikembangkan dengan wawasn keunggulan dengan memacu kreativitas disegala
bidang seperti iptek, kewirausahaan, seni, dan sebagainya. Sehingga dapat
meningkatkan daya saing umat dan bangsa dalam percaturan nasional dan bangsa.
Menjawab tantangan yang berkaitan dengan proses belajar mengajar
maupun yang berkaitan dengan sejauh mana sekolah-sekolah Muhammadiyah
mampu mengaktualisasikan misinya sebagai sekolah islam ditengah perubahan
18

dan globalisasi. Sehingga diperlukan proses belajar yang sejalan dengan dengan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tetapi juga membawa siswa
menyadari kebesaran Alloh Swt. Itu semua barangkali dapat digunakan sebagi
prinsip moral dan peningkatan kualitas pendidikan Muhammadiyah bagi
pengembangan kualitas sumberdaya manusia.
Tantangan Muhammadiyah yang kedua dalam bidang pendidikan adalah
masalah berkurangnya profesionalisme guru. Hal ini harus segera ditemukan
solusinya oleh Muhammadiyah untuk menghindari dampak negatif terhadap
kualitas peserta didik dengan terus meningkatkan kualitas Sumber daya pendidik
dan terus menanamkan etos keikhlasan kepada para pendidik dalam lembaga
pendidikan Muhammadiyah.
Selanjutnya, Muhammadiyah sebagai gerakan pendidikan juga harus
mampu menghadapi perubahan dan arus globalisasi yang ada terhadap
kemungkinan dampak buruk yang bisa dialami peserta didiknya. Dengan adanya
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat maka budaya
asing akan dengan mudahnya masuk ke dalam kebudayaan Indonesia.
Muhammadiyah harus dapat menjadi filter atau penyaring agar kebudayaan
asing yang bersifat negatif tidak ikut masuk dan pada kahirnya akan merusak
moral dan kepribadian pelajar Muhammadiyah. Salah satu yang perlu terus
dikembangkankan

adalah

dengan

terus

memberikan

materi

Al

islam

Kemuhammadiyahan yang diharapkan dapat menjadi pencerah bagi para pelajar


Muhammadiyah serta terus mengembangkan strategi pembelajaran yang kaya
materi namun juga kaya motivasi. Hal ini dikarenakan selama ini pendidikan di

19

Indonesia adalah pendidikan dimana peserta didik terus disuapi dengan seabreg
materi namun miskin motivasi.
Dengan pandangan Islam yang berkemajuan, sumberdaya manusia yang
berkualitas, kepercayaan masyarakat yang cukup tinggi, pengalaman sosial yang
panjang, dan modal sosial yang luar biasa Muhammadiyah akan mampu menjadi
kekuatan pencerahan di negeri ini. Kini dalam memasuki perjalanan abad kedua
tuntutannya ialah bagaimana segenap anggota terutama kader pimpinan
Muhammadiyah, memanfaatkan dan memobilisasi seluruh potensi dan sistem
gerakannya untuk tampil menjadi gerakan Islam modern yang unggul di segala
lapangan kehidupan salah satunya adalah untuk terus melakukan pengembangan
dan perbaikan dalam bidang pendidikan.
Transformasi di bidang pemikiran, pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan
usaha-usaha lain yang bersifat unggul dan terobosan, Muhammadiyah dituntut
untuk terus berkiprah dengan inovatif. Pembaruan gelombang kedua menjadi
keniscayaan bagi Muhammadiyah dalam memasuki fase itu.

2.5

Program Pengembangan Muhammadiyah dalam Bidang Pendidikan, Iptek,


dan Litbang
Dalam rangka menjawab kritikan dan untuk mengembangkan Pendidikan,

Iptek dan Litbang maka Muhammadiyah menetapkan Program Kerja dalam


bidang Pendidikan yang tertuang dalam Tanfidz Keputusan Muktamar Satu Abad
Muhammadiyah yang isinya sebagai berikut :

20

a.

Visi Pengembangan
Berkembangnya kualitas dan ciri khas muhammadiyah yang unggul, holistik

dan bertatakelola baik yang didukung oleh pengembangan Iptek dan litbang
sebagai wujud aktualisasi gerakan dakwah dan tajdid dalam membentuk manusia
yang utuh sebagaimana tujuan pendidikan Muhammadiyah.

b.

Program Pengembangan

1) Mengembangkan sistem pendidikan Muhammadiyah yang holistik atau


menyeluruh

sebagai

kelanjutan

dari

konsep

blueprint

pendidikan

Muhammadiyah menuju pencapaian pendidikan yang unggul dan utama


dimasa depan.
2) Menyusun Roadmap keunggulan pendidikan Muhammadiyah baik tingkat
dasar dan menengah maupun perguruan tinggi dalam berbagai aspeknya,
termasuk pemetaan sumberdaya insani, pusat-pusat keunggulan, fasilitas, tata
kelola, kepemimpinan, dan lain-lain yang mendukung pengembangan kualitas/
keunggilan pendidikan Muhammadiyah ditengah persaingan yang tinggi.
3) Meningkatkan peran dan fungsi Muhammadiyah sebagai lembaga pelayan
masyarakat dengan membuka dan memperluas akses dan kesempatan bagi
seluruh masyarakat tanpa memandang suku, bangsa, agama dan kelas sosial
untuk memperoleh pendidikan yang bermakna bagi diri, keluarga dan
masyarakat.
4) Mengembangkan model-model pendidikan Al Islam dan Kemuhammadiyahan
diseluruh jenjang pendidikan yang memberikan pencerahan paham islam dan
komitmen gerakan Muhammadiyah yang berkemajuan.
21

5) Mengembangkan kualitas kepemimpinan, tatakelola termasuk tatakelola


keuangan, peraturan-peraturan yang terpadu dan standar, pemanfaatan IT,
penjaminan mutu dan berbagai aspek penting lainnya yang mendukung
pengembangan keunggulan pendidikan Muhammadiyah ditingkat perguruan
tinggi maupun dasar dan menengah.
Itulah 5 dari 31 poin Program pengembangan pendidikan Muhammadiyah
yang tertuang dalam Tanfidz Keputusan Muktamar Satu Abad Muhammadiyah.
Semuanya

mengarah

pada

perbaikan

dan

pengembangan

pendidikan

Muhammadiyah.

2.6

Cita Cita Pendidikan Muhammadiyah


Sebagai gerakan dakwah Islam amar maruf nahi mungkar, Muhammadiyah

dituntut untuk mengkomunikasikan pesan dakwahnya dengan menanamkan


khazanah pengetahuan melalui jalur pendidikan.
Secara umum dapat dipastikan bahwa ciri khas lembaga pendidikan
Muhammadiyah yang tetap dipertahankan sampai saat adalah dimasukkannya
mata pelajaran AIK/lsmuba di semua lembaga pendidikan (formal) milik
Muhammadiyah. Hal tersebut sebagai salah satu upaya Muhammadiyah agar
setiap individu senantiasa menyadari bahwa ia diciptakan oleh Allah semata-mata
untuk berbakti kepada-Nya.
Usaha
pendidikan

Muhammadiyah
modern,

karena

mendirikan

dan

Muhammadiyah

menyelenggarakan
yakin

bahwa

Islam

sistem
bisa

menjadi rahmatan lil-alamin, menjadi petunjuk dan rahmat bagi hidup dan
kehidupan segenap manusia jika disampaikan dengan cara-cara modern. Dasarnya
22

adalah Allah berfirman: Wahai jamaah jin dan manusia, jika kalian sanggup
menembus (melintasi) pejuru langit dan bumi, maka lintasilah. Kamu sekalian
tidak

akan

sanggup

melakukannya

melainkan

dengan

kekuatan

(ilmu

pengetahuan)(QS. Ar-rahman : 33).

Muhammadiyah konsekwen untuk mencetak elit muslim terdidik lewat jalur


pendidikan. Ada beberapa tipe pendidikan Muhammadiyah:
1. Tipe Muallimin/Mualimat Yogyakarta (pondok pesantren)
2. Tipe madrasah/Depag; Ibtidaiyah, Tsanawiyah dan Aliyah
3. Tipe sekolah/Diknas; TK, SD, SMP, SMA/SMK, Universitas/ ST/ Politeknik/
Akademi
4. Madrasah Diniyah, dan lain-lain
Orientasi pembaharuan di bidang pendidikan menjadi prioritas utama yang
ingin dicapai oleh Muhammadiyah, hal ini tergambar dari tujuan pendidikan
dalam

Muhammadiyah,

untuk

mencetak

peserta

didik/lulusan

sekolah

Muhammadiyah, sebagai berikut:


1. Memiliki jiwa Tauhid yang murni
2. Beribadah hanya kepada Allah
3. Berbakti kepada orang tua serta bersikap baik terhadap kerabat
4. Memiliki akhlaq yang mulia
5. Berpengetahuan luas serta memiliki kecakapan, dan
6. Berguna bagi masyarakat, bangsa dan agama
23

Untuk mewujudkan hal tersebut, maka setiap lembaga pendidikan


Muhammadiyah

diwajibkan

memasukkan

mata

pelajaran

Al-Islam

Kemuhammadiyahan (AIK) sebagai bagian integral dari kurikulum dengan


harapan dapat mempengaruhi karakter para peserta didik baik selama proses
pendidikan berlangsung terlebih setelah mereka lulus.
Secara teoritik, ada tiga alasan mengapa pendidikan AIK perlu diajarkan:
1. Mempelajari AIK pada dasarnya agar menjadi bangsa Indonesia yang
beragama Islam dan mempunyai alam fikiran modern/tajdid/dinamis.
2. Memperkenalkan alam fikiran tajdid, dan diharapkan peserta didik dapat
tersentuh dan sekaligus mengamalkannya, dan.
3. Perlunya etika/akhlak peserta didik yang menempuh pendidikan di lembaga
pendidikan Muhammadiyah.

2.7

Pemikiran dan Praktis Pendidikan Muhammadiyah


Muhammadiyah

dikenal

sebagai

gerakan

Islam

yang

memelopori

pendidikan Islam modern. Salah satu latar belakang berdirinya Muhammadiyah


menurut Mukti Ali ialah ketidak efektifan lembaga pendidikan agama pada waktu
penjajahan Belanda, sehingga Muhammadiyah memelopori pembaruan dengan
jalan melakukan reformasi ajaran dan pendidikan Islam. Kini pendidikan
Muhammadiyah telah berkembang pesat dengan segala kesuksesannya, tetapi
masalah dan tantangan pun tidak kalah berat. Dalam sejumlah hal bahkan dikritik
kalah bersaing dengan pendidikan lain yang unggul. Pendidikan AIK pun
dipandang kurang menyentuh subtansi yang kaya dan mencerahkan. Kritik apapun
harus diterima untuk perbaikan dan pembaharuan.
24

Pendidikan Muhammadiyah merupakan bagian yang terintegrasi dengan


gerakan Muhammadiyah dan telah berusia sepanjang umur Muhammadiyah. Jika
diukur dari berdirinya Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah (1 Desember 1911)
Pendidikan Muhammadiyah berumur lebih tua ketimbang organisasinya. Sekolah
tersebut merupakan rintisan lanjutan dari sekolah (kegiatan Kyai dalam
menjelaskan ajaran Islam) yang dikembangkan Kyai Dahlan secara informal
dalam pelajaran yang mengandung ilmu agama Islam dan pengetahuan umum di
beranda

rumahnya.

Lembaga

pendidikan

tersebut

sejatinya

sekolah

Muhammadiyah, yakni sekolah agama yang tidak diselenggarakan di surau seperti


pada umumnya kegiatan umat Islam pada waktu itu, tetapi bertempat tinggal di
dalam sebuah gedung milik ayah KH Dahlan, dengan menggunakan meja dan
papan tulis, yang mengajarkan agama dengan cara baru, juga diajarkan ilmu-ilmu
umum.

25

BAB III
PENUTUP

3.1

Kesimpulan
Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa Muhammadiyah adalah

salah satu gerakan dakwah Islam yang berpengaruh dalam perkembangan


pendidikan di Indonesia. Salah satu buktinya Muhammadiyah membangun
pondok pesantren dengan sistem pembelajaran yang modern. Muhammadiyah
sampai saat ini tetap konsekuen untuk mencetak elit muslim terdidik lewat jalur
pendidikan.
Tantangan yang dihadapi Muhammadiyah diantaranya adalah Masalah
Kualitas Pendidikan, Permasalahan Profesionalisme Guru, Masalah kebudayaan
(alkulturasi), Permasalahan Strategi Pembelajaran, Masalah Kemajuan Ilmu
Pengetahuan dan Teknologi, Tantangan era globalisasi terhadap pendidikan
agama Islam di antaranya, krisis moral, Dampak negatif dari era globalisasi adalah
krisis kepribadian.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu cepat telah
memberikan dampak-dampak bagi kehidupan kita, baik itu dampak positif
maupun dampak negatif. Dampak tersebut

menyebabkan bangsa Indonesia

melakukan banyak penyimpangan. Di dalam pendidikan, kemuhammadiyahan


adalah salah satu upaya yang diperlukan. Kemuhammadiyahan berperan aktif
untuk mengelola dan memanage dampak-dampak buruk yang disebabkan oleh
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi minimalisir.

26

Adapun

strategi muhammadiyah yang digunakan dalam menjawab

tantangan era globalisasi saat ini adalah muhammadiyah harus memberi jawaban
terhadap arus-arus yang dibawa oleh gelombang globalisasi dan informasi.
Bagaimanapun Muhammadiyah harus berupaya untuk selalu up-to date, jangan
sampai

stagnan

bahkan

ketinggalan.

Khususnya

dalam

merealiasasikan

Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah amar maruf nahyi munkar perlu startegi
yang selalu baru, agar objek dari dakwah tersebut bisa lebih tepat sasaran.
Dengan program pengembangan yang telah ditetapkan Muhammadiyah
diharapkan akan mampu memperbaiki dan mengembangkan kualitas pendidikan
Muhammadiyah agar dapat bersaing dengan lembaga pendidikan swasta lainnya
dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat Indonesia.

27

DAFTAR PUSTAKA

AIK. 2012. Al-Islam Kemuhammadiyahan 3. UMM Press. Malang. pp. 119128.


Nashir, Haedar. 2011. Muhammadiyah Abad Kedua. Jogjakarta. Suara
Muhammadiyah.
Majelis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam. 2012. Tanfidz Keputusan
Muktamar Satu Abad Muhammadiyah. Jakarta. PP Muhammadiyah.
Zubair,

Achmad

Charris.

2000.

Peningkatan

Kualitas

Pendidikan

Muhammadiyah. Jakarta. PP Muhammadiyah.


http://www.google.co.id/proyeksidankondisipendidikanmuhammadiyah.html
<diakses tanggal 17 Mei 2016>.
http://www.google.co.id/konsepdasarpendidikanmuhammadiyah.html

<diakses

tanggal 17 Mei 2016>.


http://www.google.co.id/tantanganyangdihadapimuhammadiyahdalambidangpend
idikan.html <diakses tanggal 17 Mei 2016>.

28