Anda di halaman 1dari 5

Audit Eksternal

Economic Forces
Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia mengalami perkembangan perekonomian
yang cukup kuat, dan meskipun tingkat pertumbuhan sedikit menurun pada tahun 2014,
namun tetap tercatat di atas 5%. Pertumbuhan ekonomi yang konsisten ini telah memicu
kenaikan daya beli konsumen, terutama yang berada dalam kelas menengah. Menurut data
dari Biro Pusat Statistik 2010, 124,5 juta konsumen, atau 52,4% dari total populasi Indonesia,
memiliki pengeluaran bulanan dari Rp 0,7 juta hingga Rp 4,5 juta per kapita. Segmen
konsumen ini diidentifikasi sebagai penduduk kelas menengah. Selain itu, pangsa pasar
apparel di Indonesia adalah yang terbesar di Asia Tenggara, sekitar USD 11,7 miliar.
Dalam hal ini, Matahari berhasil mempertahankan posisinya yang unggul dalam
segmen department store di Indonesia, dengan pangsa pasar yang tumbuh menjadi 37,4% di
tahuun 2014.
Social, Cultural, Demographic, and Natural Environment Forces
Indonesia mengalami urbanisasi yang pesat, dan kota-kota skala menengah
diperkirakan akan tumbuh melampaui Jakarta dalam hal tingkat pertumbuhan penduduk dan
Produk Domestik Bruto (PDB). Tren ini mendorong peningkatan permintaan akan
pengembangan properti yang dilengkapi dengan pusat perbelanjaan berkualitas. Department
stores yang biasanya berlokasi di dalam pusat perbelanjaan memperoleh manfaat dari tren ini,
khususnya Matahari sebagai peritel department store yang menargetkan segmen konsumen
berpendapatan menengah akan mendapatkan keuntungan paling banyak dari ekspansi ini. Per
tanggal 31 Desember 2014, gerai Matahari yang ke-131 di 62 kota di seluruh Indonesia
menjadikannya jaringan department store terbesar di Indonesia. Dan pada akhir tahun 2014,
gerai-gerai Perseroan menempati luas 853.679 meter persegi.
Namun di sisi lain, prospek pertumbuhan dan tren domografi yang positif di
Indonesia juga menarik sejumlah peritel internasional ke Jakarta dan kota-kota besar lainnya,
termasuk Lotte Department Store, serta beberapa specialty store retailers seperti Uniqlo,
H&M, Bershka, Stradivarius dan Payless. The Parkson Retail Group juga telah masuk
Indonesia melalui akuisisi Centro, sementara Central Retail Corporation telah membuka gerai
pertamanya di tahun 2014 di Jakarta Pusat dan gerai keduanya dijadwalkan akan dibuka di
Jakarta Barat.

Selain itu, dengan peningkatan kesejahteraan, konsumen Indonesia menginginkan


produk berkualitas tinggi dan produk yang dapat memenuhi gaya hidup mereka. Merekmerek eksklusif yang ada di department store terkemuka akan menjadi semakin populer saat
memenuhi aspirasi perilaku belanja mereka. Matahari department store sendiri memiliki
merk-merk eksklusif dengan harga yang terjangkau, seperti Nevada, Cole, Little M, dan
Connexion. Nevada berada pada posisi nomor satu diantara 10 besar merek pakaian modis
yang terjangkau atau fashionable affordable clothing brands yang terpopuler di Indonesia,
sementara Cole, Little M, dan Connexion juga berada dalam 10 merek terpopuler.
Political, Governmental, and Legal Forces
Isu politik memiliki pengaruh terhadap kegiatan bisnis. Di Indonesia, regulasi
pengupahan pada dasarnya dibagi menjadi dua, yaitu regulasi terkait mekanisme penetapan
upah dan regulasi terkait perlindungan upah. Dimana untuk meningkatkan kesejahteraan
buruh, upah minimum senantiasa meningkat setiap tahun, dan pengusaha dilarang membayar
upah lebih rendah dari upah minimum. Kenaikan minimum yang diterapkan pada tahun 2013
pada awalnya memberi tekanan pada pengeluaran operasional PT Matahari Department Store
Tbk., namun pada akhirnya menguntungkan karena meningkatkan disposable income dan
mengambangkan pangsa pasar segmen berpenghasilan menengah.
Selain itu, dalam rangka menghadapi persaingan global, Indonesia berupaya
meningkatkan kemandirian perekonomian nasional dengan cara meluncurkan paket kebijakan
yang mendukung pengembangan wirausaha, seperti program pelatihan kewirausahaan dan
bantuan dana usaha, Kredit Usaha Rakyat (KUR), program kemitraan dan bina lingkungan,
serta program pembiayaan melalui CSR yang dananya berasal dari BUMN. Oleh karena itu
semakin banyak wirausaha dengan produk lokalnya yang bersaing khususnya dalam hal
penjualan baju dan sepatu yang juga merupakan produk yang ditawarkan oleh Matahari
department store.
Untuk menumbuhkembangkan usaha ritel di Indonesia, pembinaan dan penataan
Pasar Modern diatur melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Perindustrian dan
Perdagangan dan Menteri dalam Negeri Nomor 145/MPP/Kep/5/1997 dan No. 57 tahun 1997
tentang Penataan dan Pembinaan Pasar dan Pertokoan, dimana pemerintah daerah
bertanggung jawab mengatur mengenai Rencana Tata Ruang Wilayah Kota termasuk
pengaturan wilayah bagi pengembangan pasar tradisional, pertokoan, ritel skala kecil,
maupun skala besar.

Technological Forces
Bagi industri ritel, perkembangan teknologi khususnya teknologi informasi dan
komunikasi sangat berpengaruh dalam proses operasionalnya menjadi lebih efisien, cepat,
dan seringkali lebih murah. Keunggulan teknologi yang digunakan dalam bisnis ritel antara
lain dengan menerapkan sistem Efficient Consumer Response (ECR) yang ditunjang dengan
Electronic Data Interchange (EDI).
Sedangkan internet dalam hal perkembangan teknologi, dimanfaatkan oleh banyak
pengusaha dalam mempromosikan produknya, sehingga banyak bermunculan khususnya
penjualan baju dan sepatu berbasis online serta bentuk ritel atau berbelanja baru seperti retail
online dan catalogue shopping.
Competitive Forces
Porters five-forces model:
1) Threat of new entrants
Threat of new entrants atau ancaman calon pendatang baru bersifat sedang, karena
pasar yang ada sekarang ini sudah demikian didominasi oleh banyak pemain besar baik
lokal maupun asing. Untuk dapat masuk ke dalam industri ini setidaknya dibutuhkan
modal, pengalaman, dan jaringan distribusi yang luas sehingga cukup menyulitkan bagi
calon pendatang baru.
2) Threat of substitute product or services
Threat of substitute product or services atau ancaman dari produk pengganti atau
substitusi bagi Matahari department store yang bergerak di industri ritel cukup kuat,
karena sudah hadir jauh sebelum adanya industri ritel yaitu berupa pasar dan toko
tradisional. Namun industri ritel modern menentukan segmennya sendiri yaitu kalangan
menengah ke atas. Selain itu ada produk pengganti lain yang mulai berkembang saat ini
yaitu sistem ritel dan berbelanja melalui telepon, internet, maupun catalogue shopping.
3) Bargaining power of suppliers
Bargaining power of suppliers atau kekuatan dari pemasok bersifat sedang,
disebabkan adanya saling ketergantungan dari posisi tawar menawar antara peritel dan
pemasok atau sebaliknya. Matahari melakukan integrasi ke belakang dengan membina
hubungan baik dengan beberapa pemasoknya melalui Matahari Suppliers Club (MSC)
dengan tujuan untuk dapat selalu menjaga kualitas produknya dan untuk dapat selalu
menjamin ketersediaan produknya sehingga dapat meninimalkan dan mengurangi
terjadinya kekurangan persediaan.

Selain itu, dengan adanya era perdagangan bebas, jumlah pemasok diperkirakan
akan terus bertambah sehingga ketergantungan antara peritel dengan pemasok menjadi
rendah dan semakin banyak produk yang dapat dijadikan pilihan alternatif.
4) Bargaining power of buyers
Bargaining power of buyers atau kekuatan tawar menawar pembeli bersifat kuat,
sebab para pembeli biasanya cenderung tidak loyal pada satu ritel tertentu dan dengan
mudahnya merubah pola kebiasaan berbelanjanya sesuai dengan keinginan mereka.
Ancaman konsumen berkaitan dengan perubahan pola berbelanja masyarakat yang
memengaruhi strategi masing-masing peritel.
Untuk menjaga hubungan baik dengan pelanggan setianya, Matahari department
store melakukan berbagai upaya seperti dengan program Matahari Club Card (MCC)
yang diarahkan untuk memberi kemudahan dan nilai tambah bagi konsumen.
5) Rivalry among existing firms
Rivalry among existing firms atau persaingan antar perusahaan yang terjadi dalam
bisnis ritel yaitu antara ritel tradisional dan modern, atau persaingan antara peritel lokal
dan asing, dapat dikatakan bersifat kuat. Meningkatnya daya beli, besarnya jumlah
penduduk, dan semakin stabilnya ekonomi makro dapat menarik minat calon pendatang
baru untuk masuk melakukan investasi di Indonesia, sehingga peritel asing semakin
banyak di Indonesia. Selain itu, persaingan dalam industri ritel juga ditandai dengan
hadirnya beragam bentuk ritel baru, seperti factory outlet, specialty store, dan retail
online.
External Factor Evaluation (EFE) Matrix PT Matahari Department Store Tbk.
No

Peluang (Opportunities)

Weight

Rating

Weighted Score

.
1.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang kuat

0.02

0.06

2.

dan berkelanjutan
Pangsa pasar apparel di Indonesia terbesar di

0.1

0.4

3.

Asia Tenggara
Luas ritel di Indonesia yang masih tergolong

0.06

0.24

4.

rendah penetrasinya
Munculnya mall dan pusat perbelanjaan baru

0.05

0.15

5.

di seluruh Indonesia
Regulasi masih memperbolehkan Matahari

0.07

0.21

6.

membuka gerai di tengah kota


Banyaknya kota/kabupaten di Indonesia

0.04

0.08

7.

yang belum tersentuh department store


Meningkatnya daya beli masyarakat

0.06

0.18

8.

Timbulnya kesadaran masyarakat tentang

0.08

0.16

9.

cara berpakaian yang mengikuti tren fashion


Tumbuhnya minat masyarakat terhadap

0.09

0.27

0.1

0.4

Weight

Rating

Weighted Score

produk fashion yang berkualitas dengan


10.

harga terjangkau
Meningkatnya jumlah permintaan produk

No

fashion menjelang hari raya


Ancaman (Threats)

.
1.
2.

Hadir beragam bentuk ritel baru


Beberapa produk yang dijual di Matahari

0.03
0.05

2
3

0.06
0.15

3.
4.

mulai membuka gerai sendiri


Masuknya peritel internasional
Ketergantungan dari posisi tawar menawar

0.01
0.05

2
2

0.02
0.10

5.

dengan pemasok
Pelanggan cenderung

0.08

0.16

tidak

loyal

dan

memiliki pola kebiasaan berbelanja yang


6.

senantiasa berubah
Tidak stabilnya nilai tukar rupiah terhadap

0.04

0.08

7.

mata uang asing.


Sikap
pemerintah

mendukung

0.03

0.03

8.
9.
10.

munculnya entrepreneur baru


Maraknya ritel berbasis online
Kenaikan UMR
Resistensi asosiasi pedagang

2
3
2

Total

0.01
0.02
0.01
1

0.02
0.06
0.02
2.85

yang

Berdasarkan penghitungan di atas, dapat diketahui bahwa nilai EFE PT Matahari


Department Store Tbk. Adalah 2.85. Hal ini menunjukkan bahwa PT Matahari Department
Store Tbk. memiliki daya tanggap yang baik terhadap peluang dan ancaman yang ada di
industri ritel. Dengan kata lain, strategi perusahaan sudah memanfaatkan peluang dan
kesempatan yang ada serta meminimalisasi efek negatif dari ancaman eksternal secara efektif.