Anda di halaman 1dari 17

MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK INDIVIDU

DAN MAKHLUK SOSIAL


1. Pengertian Individu dan Masyarakat
Pada dasarnya manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna
kejadiannya. Manusia diciptakan oleh Allah dengan berbagai perangkat kelengkapannya yang
kompleks. Kesempurnaan kejadian manusia difirmankan oleh Allah dalam Surat At Tiin ayat
5, yang artinya: Sungguh Kami ciptakan manusia itu dalam bentuk yang sebaik-baiknya.
Harus diakui dan disyukuri bahwa kejadian manusia dilihat dari dimensi apapun
apabila dibandingkan dengan makhluk lain ciptaan Allah, maka keberadaan wujud manusia
sungguh teramat baik. Selain itu keberadaan fisik manusia juga mengandung unsur-unsur
keindahan. Meurut teori keindahan suatu benda dikatakan indah kalau mengandung
setidaknya 3 unsur, yaitu contrast (pertentangan), simetry (keserasian), dan balance
(keseimbangan)
Manusia sebagai makhluk ciptaan Allah memenuhi semua unsur tersebut. Secara
anatomis mulai dari bentuk dan ukuran kepala badan, tangan dan kaki tidak ada yang terlepas
dari unsur-unsur keindahan tersebut. Kepala dengan ukuran yang tentatif bagi setiap orang
mengandung ketiga unsur keindahan, sehingga dapat menampakkan wajah seseorang
memiliki daya tarik pada orang lain. Unsur kontras atau pertentangan ditampakkan antara lain
dalam: rambut, mata, gigi, bahkan bentuk wajah. Sedangkan simetri dan keseimbangan
terdapat pada keberadaan mata, telinga, hidung, dan lainnya.
Bentuk kontras dari rambut misalnya, masing-masing rambut yang tumbuh di tubuh
manusia ternyata memiliki tingkat pertumbuhan yang kontras antara satu dan lainnya. Rambut
di kepala ternyata bisa tumbuh dengan subur dan bisa memanjang. Sementara rambut lainnya
seperti, alis, bulu mata, kumis, dan jenggot tidak bisa tumbuh memanjang sebagaimana
rambut di kepala. Hal ini merupakan indikator dari kekontrasan rambut manusia, sehingga
membuat penampilan manusia menjadi indah. Kita bisa bayangkan seandainya rambut alis,
bulu mata bisa memanjang seperti rambut di kepala, maka hal ini tentu akan mengurangi
kualitas keindahan manusia sebagai makhluk ciptaan Allah.
Mata manusia mengandung unsur kekontrasan pula, yaitu dengan bola mata yang
berwarna-warna. Manusia Indonesia dianugerahi oleh Allah bola mata berwarna putih dan
hitam. Dengan kekontrasan warna bola mata seperti ini menjadikan penampakan wajah
manusia menjadi indah pula. Bisa dibayangkan bagaimana seandainya bola mata manusia itu
tidak mengandung kekontrasan, misalnya hanya berwarna hitam saja, atau sebaliknya hanya
berwarna putih saja ?. Kalau ada manusia yang memiliki bola mata dengan hanya satu warna
1

saja, maka penampilannya tidak lagi akan memiliki nilai keindahan, mungkin sebaliknya yaitu
bisa menakutkan kepada manusia lainnya.
Nilai keindahan seperti dicontohkan di atas akan menjadi lebih konkrit jika
ditambah dengan adanya unsur simetri dan keseimbangan. Bola mata ada dua biji, telingga
juga dua bagian seimbang dan simetry, hidung walaupun satu tetapi lobangnya dua dan
menghadap ke bawah, kesemuanya melengkapi betapa manusia diciptakan oleh Allah dalam
bentuk yang indah. Keberadaan tangan dan kaki juga demikian. Unsur keindahannya berupa
kontras sangat tampak sekalipun banyak manusia yang kurang menyadari. Coba perhatikan
bagaimana pertentangan yang terjadi antara langkah kaki dan ayunan tangan ketika seseorang
sedang berjalan?. Ketika kaki kanan melangkah ke depan, ternyata secara reflektif diikuti oleh
ayunan tangan kiri yang ke depan, dan sebaliknya. Dengan gerakan reflektif seperti ini
menjadikan penampilan manusia dalam berjalan tampak serasi dan indah.
Manusia Sebagai Makhluk Individu
Manusia sebagi makhluk individu memiliki identitas tersediri yang berbeda dengan
manusia lainnya. Perbedaan ini meliputi berbagai aspek kehidupan yang melekat kepadanya.
Mulai dari ukuran bentuk fisik, wajah, sifat, sampai pada identitas yang paling umum yaitu
nama. Kalau ada nama yang sama antara satu individu dengan individu lainnya itu bukan
berarti bahwa di antara kedua manusia tersebut benar-benar sama atau identik. Nama yang
sama yang dimiliki oleh masing-masing individu sifatnya hanyalaha kebetulan saja.
Adakalanya seseorang agak sulit membedakan di antara dua orang yang kembar
siam. Mana yang lebih tua atau sebaliknya. Sepintas kalau diamati mungkin di antara
keduanya sepertinya tidak terdapat suatu perbedaan yang signifikan. Namaun sebagai
makhluk individu yang merupakan sunnatullah, pasti di antaranya memiliki perbedaan.
Kondisi seperi ini sebenarnya sekaligus juga mengingatkan kepada manusia bahwa Allah itu
betapa maha kuasa, maha besar, maha pencipta makhluk yang takkan pernah kehabisan
bentuk-bentuk wajah baru. Bisa dibayangkan manusia di dunia yang sudah hampir mencapai
dua milliard, tidak ada satupun yang memiliki wajah sama, baik di antara sesam lelaki
maupun perempuan. Ketidak samaan tersebut juga sebagai kodrati yang membuat kehidupan
manusia menjadi harmoni dan serasi dalam keseimbangan. Bagaimana kira-kira kehidupan di
dunia ini seandainya ada manusia yang benar-benar sama antara satu dengfan lainnya, terlebih
lagi jika berjumlah banyak. Mungkin bisa terjadi istri orang akan diakui sebagai istrinya, dan
sang istripun tidak menolak karena yang mengaku tersebut benar-benar identik dengan suami
yang sedang tidak berada di sampingnya.

Manusia Sebagai Makhluk Sosial


Manusia pada umumnya, dilahirkan seorang diri; namun demikian mengapa hidupnya
harus bermasyarakat? Seperti diketahui, maka manusia pertama yaitu Adam telah ditakdirkan
untuk hidup bersama dengan manusia yang lain yaitu istrinya yang bernama Hawa. Banyak
cerita-cerita tentang manusia yang hidup menyendiri seperti misalnya cerita Robinson
Crousoe yang diceritakan sebagai manusia yang hidup sendiri. Akan tetapi pengarangnya tak
dapat membuat suatu penyelesaian tentang hodup seorang diri tadi, karena kalau dia mati
maka berarti bahwa riwayatnya pun akan habis pula. Maka kemudian muncullah tokoh
Friday sebagai teman Robinson Crousoe. Walaupun temannya pria itu juga, namun hal itu
membuktikan bahwa pengarang sudah mempunyai perasaan tentang kehidupan bersama antar
manusia. Begitu pula tokoh tarzan di dalam film yang diberi pasangan seorang wanita sebagai
teman hidupnya, yang kemudian berketurunan pula, dan seterusnya.
Apabila kita membaca cerita-cerita dari dunia wayang maka tokoh-tokoh seperti
arjuna yang sering bertapa dan menyendiri pada akhirnya akan kembali pada saudarasaudaranya. Bertapa dan menyendiri itu, hanyalah untuk semntara waktu saja, dan bersifat
temporer.
Memang apabila manusia dibandingkan dengan makhluk-makhluk hidup yang lainnya
seperti misalnya hewan, dia tak akan dapat hidup sendiri. Seekor anak ayam misalnya,
walaupun tanpa induknya, mampu untuk mencari makan sendiri; demikian pula hewan-hewan
lainnya seperti kucing, anjing, harimau, gajah, dan sebagainya. Manusia tanpa manusia
lainnya pasti akan mati. Bayi misalnya, harus diajar makan, berjalan, bermain-main, dan lain
sebagainya; jadi sejak lahirnya, manusia berhubungan dengan manusia lainnya. Lagi pula,
manusia tidak dikaruniai Tuhan dengan alat-alat fisik yang cukup untuk dapat hidup sendiri.
Harimau misalnya, diberi kuku dan gigi yang kuat untuk mencari makan sendiri; burung
diberi sayap untuk dapat terbang jauh. Katak diberi alatalat khusus untuk hidup di darat
maupun di tempat-tempat berair; ikan diberi alat-alat khusus untuk dapat hidup di air. Akan
tetapi manusia tidak demikian; alat-alat fisiknya tidak sekuat hewan, akan tetapi dia diberi
alat-alat untuk bertahan yang sangat ampuh dan istimewa yakni jauh lebih sempurna daripada
alat-alat fisik hewan, yaitu fikiran. Fikiran tadi tak dapat secara langsung digunakan sebagai
alat hidup, akan tetapi dapat dimanfaatkan untuk mencari alat-alat materiil yang diperlukan
untuk kehidupan.
Hewan-hewan seperti sapi, kedelai, kuda sanggup hidup di udara dingain tanpa
pakaian. Manusia tak mungkin kan tahan sehingga dengan mempergunakan daya fikirannya
dia menciptakan pakaian untuk melindungi diri terhadap terik matahari, hujan dan uadar
3

dingin. Dalam menghadapi alam sekeliling, manusia harus hidup berkawan dengan manusiamanusia lain dan pergaulan tadi mendatangkan kepuasan bagi jiwanya. Pabila manusia hidup
sendirian, misalnya dalam keadaan terkurung di dalam sebuah ruangan yang tertutup sehingga
dia tidak dapat mendengarkan suara orang lain atau tidak dapat melihat orang lain, maka
terjadi gangguan dalam perkembangan jiwanya. Naluri dari manusia untuk selalu hidup
dengan orang lain, disebut gregariousness dank arena itu manusia disebut juga social animal
(=hewan social, hewan yang mempunyai naluri untuk senantiasa hidup bersama).
Di dalam hubungan antara manusia dengan manusia lain, yang agaknya paling penting
adalah reaksi yang timbul sebagai akibat-akibat hubungan tadi. Reaksi tersebutlah yang
menyebabkan tindakan seseorang menjadi bertambah luas. Misalnya, kalau orang menyanyi
dia perlu reaksi, entah yang berwujud pujian atau celaan yang merupakan dorongan bagi
tindakan-tindakan

selanjutnya.

Di

dalam

memberikan

reaksi

tersebut

ada

suatu

kecenderungan manusia untuk memberikan keserasian dengan tindakan-tindakan orang lain.


Mengapa? Oleh karena sejak dilahirkan, manusia sudah mempunyai dua hasrat atau keinginan
pokok yaitu:
1.

Keinginan untuk menjadi satu dengan manusia lain disekelilingnya (masyarakat)

2.

Keinginan untuk menjadi satu dengan suasana alam disekelilingnya


untuk dapat menghadapi dan menyesaikan diri dengan kedua lingkungan tersebut di

atas, manusia mempergunakan fikiran, perasaan, atau kehendaknya. Di dalam menghadapi


alam sekelilingnya seperti udara yang dingin, alam yang kejam dan lain sebagainya, maka
manuia menciptakan rumah, pakaian, dan lain-lain. Manusia juga harus makan, agar badannya
tetap sehat, untuk itu dia dapat mengambil makanan sebagai hasil dari alam sekitar, dengan
mempergunakan akalnya. Di laut, manusia akan menjadi nelayan untuk menangkap ikan;
apabila alam sekitarnya hutan, maka manusia akan berburu untuk mencari makanannya.
Kesemuanya itu menimbulkan kelompok-kelompok social atau social-group di dalam
kehidupan manusia ini, karena manusia tak mungkin hidup sendiri. Kelompok-kelompok
social tersebut merupakan himpunan atau kesatuan-kesatuan manusia yang hidup bersama,
oleh karena adanya hubungan antara mereka. Hubungan tersebut antara lain menyangkut
kaitan timbale-balik yang saling pengaruh-mempengaruhi dan juga suatu kesadaran untuk
saling tolong menolong.

akan tetapi timbul satu pertanyaan, yaitu apakah setiap himpunan

manusia dapat dinamakan kelompok social? Untuk itu diperlukan beberapa persyaratan
tertentu, antara lain:
1. Setiap anggota kelompok tersebut harus sadar bahwa dia merupakan sebagian dari
kelompok yang bersangkutan.
4

2. ada hubungan timbale balik antara anggota yang satu dengan anggota yang lainnya, dalam
kelompok itu.
3. ada suatu factor yang dimiliki bersama oleh anggota-anggota kelompok itu, sehingga
hubungan antara mereka bertambah erat. Factor tadi dapat merupakan nasib yang sama,
kepentingan yang sama, tujuan yang sama, ideology politik yang sama, dan lain-lain.
Tentunya factor mempunyai musuh bersama misalnya, dapat pula menjadi factor
pengikat/pemersatu.
4. berstruktur, berkaidah, dan mempunyai pola perilaku.
2. Fungsi Manusia Sebagai Makhluk Individu dan Sosial
Sepanjang peradaban manusia, tidak dapat dibuktikan bahwa manusia dapat hidup
sendiri, tanpa kawan, tanpa komunikasi. Pada dasarnya terdapat dua keinginan pokok yang
mendorong manusia untuk hidup mengelompok yaitu keinginan untuk menjadi satu dengan
manusia lain dan keinginan menjadi satu dengan suasana alam sekelilingnya.
Individu keluarga lembaga komunitas masyarakat Negara dunia.
Dalam kehidupan bermasyarakat, seorang individu dalam bertingkah laku menurut
pola pribadinya ada tiga kemungkinan :
1)

menyimpang dari norma kolektif ; terjadi bila kepribadian individu tidak dominan
sedangkann dia tidak mampu atau tidak mau menyesuaikan diri dengan
lingkungannya.

2)

Kehilangan individualitasnya (resesif) ; terjadi bila kepribadian individu tersebut


lemah dan takluk terhadap lingkungannya.

3)

Mempengaruhi masyarakat (dominan) ; terjadi bila kepribadian individu kuat dan


mampu mempengaruhi dan menaklukkan lingkungannya.
Satuan terkecil dari kehidupan sosial individu adalah keluarga, yang juga

merupakan unsur terpenting pembentuk masyarakat. Keluarga merupakan salah satu cermin
peran dimana manusia merupakan individu yang juga memiliki tanggungjawab sekaligus
fungsi sebagai makhluk sosial.
Keluarga merupakan satuan sosial terkecil yang dimiliki manusia sebagai makhkluk
sosial, yang ditandai adanya kerjasama ekonomi. Fungsi keluarga menurut Willian J Goode :
1) pengaturan seksual
2) reproduksi

3) sosialisasi [Charlotte Buchler] : proses yang membantu individu melaslui belajar dan
menyesuaikan diri bagaimana cara hidup dan bagaimana cara berfikir kelompoknya, agar
ia dapat berfungsi dan berperan dalam kelompoknya.] karena manusia dalam evolusinya
lebih tergantung pada kebudayaan dan bukan pada naluri atau insting.
4) pemeliharaan
5) penempatan anak di dalam masyarakat
6) pemuas kebutuhan perseorangan
7) kontrol sosial yang berfungsi dalam mempertahankan dan melestarikan nilai-nilai
masyarakat melalui peran sosial anggota keluarga, berupa ketidaksediaan anggota
keluarga untuk bergaul dengan orang yang mereka anggap telah melanggar norma-norma
masyarakat
Seiring perkembangan jaman, nilai-nilai ideal keluarga mengalami perubahan.
Modernisasi, industrialisasi, kemamkmuran dalam system kapitalisme liberal merupakan
factor yang mempengaruhi perubahan nilai keluarga dalam masyarakat. Masri singarimbun
(1993) mengingatkan bahwa mobilitas penduduk yang semakin tinggi, nilai-nilai yang
berubah, kontrak sosial yang longgar, manusia yang semakin individualistic, meripakan
tantangan bagi keluarga masa kini dan yang akan datang.
3. Hak dan Kewajiban Manusia Sebagai Makhluk Individu dan Sosial
Kolektivitas pada manusia disamping bersifat rohaniah, juga karena nalar,
menimbulkan kesadaran berbagi peranan dalam hidup berkelompok sehingga perjuangan
hidup menjadi ringan. Menurut Durkheim kebersamaannya dapat dinilai sebagai mekanistis,
merupakan solidaritas organis yaitu atas dasar saling mengatur. Selain kepentingan individu,
diperlukan suatu tata hidup yang mengamankan kepentingan komunal demi kesejahteraan
bersama, yang disebut sebagai pranata sosial atau abstraksi yang lebih tinggi lagi dinamakan
kelembagaan/institusi.
Pranata sosial (Sumner) : perbuatan, cita-cita, sikap dan perlengkapan
kebudayaan, bersifat kekal seta bertujuan untuk memenuhi kebutuhankebutuhan masyarakat.
Pada intinya lembaga kemasyarakatan adalah himpunan norma-norma dari segala tingkatan
yang berkisar pada suatu kebutuhan pokok di dalam kehidupan masyarakat. Wujud kongret
lembaga kemasyarakatan adalah asosiasi.
Tipe-tipe lembaga kemasyarakatan :
a.

dari sudut perkembangannya :

Crescive institutions : lembaga-lembaga primer, misal hak milik, perkawinan.

Enacted institutions : lembaga yang sengaja dibentuk untuk memenuhi kebutuhan


tertentu, misal lembaga utang piutang, lembaga pendidikan

b.

dari sudut sistem nilai yang diterima masyarakat :

basic institutions : lembaga kemasyarakatan yang sangat penting untuk memelihara


dan mempertahankan tata tertib dalam masyarakat, misal keluarga, sekolah, negara.

Subsidiary institutions : lembaga kemasyarakatan yang dianggap kurang penting,


misal kegiatan-kegiatan rekreasi.

c.

dari sudut penerimaan masyarakat :

sosial sanctioned institutions : lembaga yang diterima masyarakat, misal lembaga


dagang, sekolah.

sosial unsanctioned institutions : lembaga yang ditolak oleh masyarakat, misal


kelompok penjahat, pencuri

d.

dari sudut penyebarannya :

general institutions, dikenal oleh semua masyarakat dunia, misal agama

restricted institutions, dianut oleh masyarakat tertentu,misalnya Islam, Kristen.

e.

dari sudut fungsinya :

operative institutions : berfungsi sebagai lembaga yang menghimpun pola-pola atau


tata cara yang diperlukan untuk mencapai tujuan lembaga yang bersangkutan, misal
lembaga industri

regulative institutions : berfungsi untuk mengawasi adat istiadat atau tata kelakuan
yang tidak menjadi bagian mutlak lembsaga itu sendiri, misal kejaksaan, pengadilan.

Tiga asumsi berkaitan dengan perilaku manusia :


1)

Pandangan tentang sebab akibat (causalitas), bahwa perilaku manusia itu ada sebabnya,
sebagaimana perilaku benda-benda alam yang disebabkan oleh kekuatan yang bergerak
pada benda-benda tersebut.

2)

Pandangan tentang arah atau tujuan (directedness), yaitu bahwa perilaku manusia tidak
hanya disebabkan oleh sesuatu, tetapi juga menuju ke arah sesuatu, atau mengarah pada
tujuan tertentu.

3)

Konsep tentang motivasi (motivation), yang melatarbelakangi perilaku, yang dikenal


sebagai suatu desakan atau keinginan atau kebutuhan, atau dorongan.

Manusia lahir dengan kebutuhan-kebutuhan fisik. Mereka kemudian memperoleh


dan mengembangkan sejumlah besar kebutuhan lain yaitu kebutuhan sosial dan egoistis.
Kebutuhan psikologis yang baru timbul ini dapat dianggap perkembangan dari :
1) Kebutuhan-kebutuhan fisik
2) Sistem syaraf dan tubuh
3) Ketergantungan kepada orang lain.
Anak bergantung pada orang-orang dewasa. Orang-orang dewasa dapat membuat
ketergantungan itu cenderung memuaskan atau justru cenderung menimbulkan frustasi.
Kepuasan mengembangkan kebutuhan akan rasa aman dan kebutuhan sosial, sedangkan
frustasi mengembangkan kebutuhan-kebutuhan akan rasa tak aman, permusuhan dan
egoistis.tetapi kebutuhan yang berlangsung pada orang dewasa mungkin berbeda, karena ada
kecenderungan untuk membentuk suatu hierarkhi, dengan kebutuhan fisik mengambil tempat
utama apabila mereka sangat terancam. Tetapi apabila secara fisik kita merasa aman, maka
kebutuhan sosial diikuti oleh kebutuhan egoistis, dan kemudian diikuti oleh kebutuhan
aktualisasi diri, akan menjadi kebutuhan-kebutuhan yang harus dipuaskan.
Beberapa teori yang menjelaskan latar belakang perilaku individu diantaranya :
1)

Teori Stimulus-Respon (Watson) menyatakan bahwa obyektifitas perilaku individu


hanya berlaku pada perilaku yang nampak. Setiap perilaku pada hakekatnya merupakan
tanggapan atau balasan terhadap rangsang, karena itu rangsangan mempengaruhim
tingkah laku, bahkan menentukan tingkah laku tersebut.

2)

Teori sikap, dalam hal ini sikap merupakan kecenderungan seseorang untuk
bertingkahlaku tertentu kalau mendapatkan rangsangan tertentu. Disini individu memiliki
potensi berupa Kognisi sosial (pengetahuan), Persepsi sosial, nilai dan konsep.

3)

Teori peran, beranggapan bahwa peranan seseorang itu merupakan hasil interaksi dari
diri sendiri dengan posisi (status) dengan perannya (menyangkut norma dan nilai)

4)

Teori medan, beranggapan bahwa ruang kehidupan merupakan penentu dari perilaku
seseorang. Ruang kehidupan ini merupakan interkasi manusia dengan lingkungannya.

4. Interaksi Sosial
Seorang sosiolog, di dalam menelaah masyarakat manusia akan banyak berhubungan
dengan kelompok-kelompok social, baik yang kecil seperti misalnya kelompok keluarga,
kelompok siswa-siswa di sekolah, ataupun kelompok-kelompok yang benar seperti
umpamanya masyarakat desa, masyarakat kota, bangsa, dan lain. Sebagai sosiolog, sekaligus
dia merupakan salah satu anggota salah satu kelompok social tesebut.maupun sebagai seorang
yang meneliti kehidupan kelompok tersebut secara ilmiah. Semakin mendalam penelitiannya
8

tadi, semakin timbul kesadarannya bahwa sebagian dari kepribadiannya terbentuk oleh
kehidupan berkelompok tersebut dan bahwa dia hanya merupakan unsure yang mempunyai
kedudukandan peranan yang kecil.
Hampir semua manusia, pada awalnya merupakan anggota kelompok social yang
dinamakan keluarga. Walaupun anggota-anggota keluarga tadi selalu menyebar, pada waktuwaktu tertentu mereka pasti akan berkumpul seperti misalnya pada makan pagi, siang, dan
malam. Setiap anggota mempunyai pengelaman-pengalamannya masing-masing, karena
hubungannya dengan kelompok-kelompok social lainnya di luar rumah dan bila mereka
berkumpul terjadilah tukar-menukar pengalaman di antara mereka. Pada saat demikian,
tidaklah semata-mata terjadi pertukaran pengalaman-pengalaman, akan tetapi para anggota
keluarga tersebut mungkin mengalami perubahan-perubahan sebagai akibat pertukaran
pengalaman-pengalaman tersebut, walauapun sering kali hal itu sama sekali tidak disadarinya.
Saling tukar-menukar pengalaman tersebut, yang disebut social-experiences

di dalam

kehidupan berkelompok, mempunyai pengaruh yang besar di dalam pembentukan kepribadian


orang-orang yang bersangkutan. Penelitian terhadap social-experiences tersebut sangat
penting untuk mengetahui sampai sejauh mana pengaruh kelompok terhadap individu dan
bagaimana reaksi sejauh mana pengaruh kelompok terhadap individu dan bagaimana reaksi
individu terhadap pengaruh tadi dalam proses pembentukan kepribadian.
Suatu kelompok social cenderung tidak merupakan kelompok yang statis, akan tetapi
selalu berkembang serta mengalami perubahan-perubahan baik dalam aktivitas maupun
bentuknya. Kelompok tadi dapat menambahkan alat-alat perlengkapan untuk dapat
melaksanakan fungi-fungsinya yang baru di dalam rangka perubahan-perubahanyang
dialaminya atau bahkan sebaliknya dapat mempersempit ruang lingkupnya.
Sesuatu aspek yang menarik dari kelompok social tersebut adalah bagaimana caranya
mengendalikan anggota-anggotanya. Para sosiolog akan tertarik oleh cara-cara kelompok
social tersebut dalam mengatur tindakan-tindakan anggota-anggotanya, agar supaya tercapai
tata tertib di dalam kelompok yang bersangkutan. Yang agaknya penting adalah bahwa
kelompok tersebut merupakan tempat kekuatan-kekuatan social berhubungan, berkembang
mengalami disorganisasi, memegang peranan dan selanjutnya.
Macam-Macam Kelompok Sosial:
a.

Klasifikasi tipe-tipe kelompok social


Tipe-tipe kelompok-kelompok social dapat diklasifikasikan dari beberapa sudut atau atas

dasar pelbagai criteria ukuran.

Seorang sosiolog Jerman yaitu Georg Simmel mengambil

ukuran besar-kecilnya jumlah anggota kelompok, bagaimana individu mempengaruhi


9

kelompoknya serta interaksi social dalam kelompok tersebut. Dalam analisanya mengenai
kelompok-kelompok social, Georg Simmel mulai dengan bentuk terkecil yang terdiri dari satu
orang sebagai focus hubungan social yang dinamakannya monad yang kemudian
diperkembangkan dengan meneliti kelompok-kelompok yang terdiri dari dua atau tiga orang
yaitu dyad serta triad dan kelompok-kelompok kecil lainnya. Di samping itu sebagai
perbandingan, ditelaahnya kelompok-kelompok yang lebih besar. Analisanya tersebut
kemudian dikembangkan lebih jauh Leopold Van Wiese dan Howard Betchker. 4
Ukuran lain yang diambil adalah atas dasar derajat interaksi social dalam kelompok social
tersebut. Beberapa sosiolog memperhatikan pembagian atas dasar kelompok-kelompok di
mana anggota-anggotanya saling kenal mengenal (face to face groupings), seperti misalnya
keluarga, rukun tetanggda dan desa, dengan kelompok-kelompok social seperti kota-kota,
korporasi, dan Negara, di mana anggota-anggotanya tidak mempunyai hubungan yang erat..

Ukuran tersebut di atas, kemudian oleh sosiolog-sosiolog lainnya seperti umpamanya F. Stuart
Chapin, diperkembangkan lebih lanjut dengan memperhatikan tinggi rendahnya derajat
eratnya hubugan antara anggota-anggota kelompok social tersebut.
Suatu ukuran lainnya adalah ukuran kepentingan dan wilayah. Suatu community
(masyarakat setempat) misalnya merupakan kelompok-kelompok atau kesatuan-kesatuan atas
dasar wilayah yang tida mempunyai kepentingan-kepentingan yang khusus/tertentu. Suatu
association sebagai suatu perbandingan, justru dibentuk untuk memenuhi kepentingan yang
tertentu. Sudah tentu anggota-anggota community maupun association sedikitnya sadar akan
adanya kepentingan-kepentingan bersama walaupun hal itu tidak dikhususkan secara terinci
atau dijabarkan lebih lanjut.
Berlangsungnya suatu kepentingan, merupakan ukuran lain bagi klasifikasi tipe-tipe
social. Suatu kerumunan misalnya, merupakan kelompok yang hidupnya sebentar saja, oleh
karena kepentingannyapun tidak berlangsung dengan lama. Lain halnya dengan kelas atau
community yang kepentingan-kepentingannya yang secara relative bersifat tetap (permanent).
Selanjutnya dapat dijumpai pula klasifikasi atas dasar ukuran derajat organisasi. Kelompokkelompok social terdiri dari kelompok-kelompok yang terorganisir dengan baik sekali
misalnya Negara,
sampai pada kelompok-kelompok yang hampir-hampir tak terorganisir seperti misalnya
suatu kerumunan. Dasar yang akan diambil sebagai salah satu alternative untuk mengadakan
klasifikasi tipe-tipe kelompok social tersebut adalah jumlah atau derajat interaksi social atau
kepentingan-kepentingan kelompok, atau oragnisasinya maupun kombinasi dari ukuranukuran tersebut. Sistematik di bawah ini6 menggambarkan klasifikasi tipe-tipe terpenting dari
10

kelompok-kelompok social yang terutama didasarkan pada kepentingan dan derajat organisasi
kelompok tadi, sebagai salah satu alternative. Sistematik di bawah ini didasarkan pada
struktur social dan merupakan hasil analisa secara structural.
Sistematika Kelompok-Kelompok Terpenting Dalam Struktur Sosial
Kelompok atau Organisasi (individu dalam hubungan dengan individu lainnya)
1. Kategori utama: Kesatuan-kesatuan
Wilayah.
Tipe Umum: community
Tipe Khusus: suku, bangsa, daerah,
kota, desa, rukun tetangga.
2. Kategori Utama: Kesatuan-kesatuan
atas dasar kepentingan yang sama,
tanpa organisasi yang tetap

1. Kriteria Utama:
1) Kepentingan
2) Tempat tinggal di suatu wilayah
yang tertentu

1) a. Tipe Umum: kelas


b. Tipe khusus: kasta, elit, kelas
dasar persaingan, kelas atas
dasar kerjasama.

Kriteria tambahan untuk tipe-tipe


khusus:
1)
Kemampuan untuk berpindah
dari
satu
kelompok
ke
kelompok lainnya (mobilitas)
2)
Perbedaan dalam kedudukan,
prestise,
kesempatan,
dan
tingkat ekonomis.

2. Kriteria Utama:
1) Sikap yang sama dari anggotaanggota
kelompok
yang
bersangkutan.
2) Organisasi social yang tidak
tetap

2)a. Tipe umum: kelompok etnis


dan ras
b. Tipe khusus: kelompok atas
dasar perbedaan warna kulit,
kelompok-kelompok imigran,
kelompok-kelompok nasional.

Kriteria tambahan untuk tipe-tipe


khusus:
Asal kelompok, golongan (stock),
luas wilayah tempat tinggal, cirri-ciri
badaniyah.

3)a. Tipe umum: kerumunan


b.Tipe khusus: kerumunan dengan
kepentingan yang sama dan
dengan kepentingan umum.

Kriteria tambahan untuk tipe-tipe


khusus:
1) Kepentingan-kepentingan yang
sementara
2) Sifat kelompok sementara

3. Kategori utama: kesatuan-kesatuan


atas dasar kepentingan yang sama
dengan organisasi yang tetap,
associations.
a. Tipe umum: primary group
Tipe
khusus:
keluarga,
kelompok permainan, clique,

Kriteria utama:
1) Kepentingan-kepentingan yang
terbatas
2) Organisasi social yang tertentu
Kriteria
khusus:
11

tambahan

untuk

tipe-tipe

club.

1) Jumlah
keanggotaan
yang
terbatas
2) Organisasi yang formal
3) Pentingnya hubungan-hubungan
yang tidak bersifat pribadi
4) Jenis kepentingan yang dikejar.

b. Tipe umum: Association yang Kriteria tambahan untuk tipe-tipe


besar
khusus:
Tipe khusus: Negara, gereja,
1) Jumlah
keanggotaan
yang
perkumpulan
atas
dasar
relative terbatas
ekonomi, persatuan buruh, dan
2) Organisasi social yang formal
sebagainya.
3) Pentingnya hubungan-hubungan
tidak bersifat pribadi
4) Jenis kepentingan yang dikejar
Adakalanya dasar untuk membedakan kelompok-kelompok social, adalah factor-faktor
sebagai berikut:
1.

kesadaran akan jenis yang sama,

2.

adanya hubungan sosial,

3.

orientasi pada tujuan yang sudah ditentukan.


Dengan demikian, tipe-tipe umum dari kelompok-kelompok social adalah sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.

1
+
+

Kategori Statistik
Kategori sosial
Kelompok sosial
Kelompok tak teratur

2
+

3
-

5.
Organisasi formal
+
+
+
Penjelasan: (tanda + berarti ada factor seperti disebut di atas sedangkan tidak ada)
1.

kategori statistic adalah pengelompokan oleh ilmuwan atas dasar cirri tertentu yang
sama, seperti misalnya, kelompok umur

2.

kategori social merupakan kelompok individu-individu yang sadar akan cirri-ciri yang
dimiliki bersama, umpamanya, Ikatan Dokter Indosnesia

3.

kelompok social, seperti misalnya, keluarga batih

4.

kelompok tak teratur, yakni berkumpulnya orang-orang disatu tempat pada waktu
yang sama, karena pusat perhatian yang sama. Contohnya orang-orang antri karcis kereta
api

5.

organisasi formal, yang merupakan setiap kelompok yang sengaja dibentuk untuk
mencapai tujuan-tujuan tertentu yang telah ditentukan terlebih dahulu. Contohnya,
birikrasi.

12

Dalam membicarakan kelompok-kelompok social, seharusnya dihindari faham a priory,


bahwa kelompok-kelompok social merupakan lawan daripada individu; kedua-duanya hanya
dapat dimengerti bila dipelajari did ala hubungan yang satu dengan yang lain (yakni sebagai
pasangan). Pengertian tersebut sangatlah penting untuk mencegah terjadinya pendapatpendapat yang menyatakan bahwa bentuk-bentuk kelompok-kelompok social tertentu seperti
misalnya public dan kerumunan merupakan ancaman terhadap kesejahteraan individu. Juga
harus dihindari suatu prasangka bahwa kelompok-kelompok social semata-mata ditimbulkan
karena naluri manusia untuk selalu hidup dengan sesamanya; kelompok-kelompok social
tersebut juga merupakan bentuk kehidupan yang nyata. Selain daripada itu, terdapat pula
pendapat-pendapat ekstrim yang menyatakan bahwa tak ada perilakuan kelompok, semuanya
harus dilihat dari sudut bahwa gejala-gejala social merupakan hasil daripada perilakkuanperilakuan individu-individu yang khusus. Pendapat yang mungkin tak benar ini harus pula
dihindari, apabila kelompok social hendak ditelaah dengan senetral mungkin, tanpa
prasangka;
b. Kelompok-kelompok Sosial Dipandang dari Sudut Individu
Seorang warga dari masyarakat yang masih sederhana susunannya, secara relative
menjadi anggota pula dari kelompok-kelompok kecil secara terbatas. Kelompok-kelompok
social termaksud biasnya adalah atas dasar kekerabatan, usia, sex, dan kadang-kadang atas
dasar perbedaan pekerjaan atau kedudukan. Keanggotaan masing-masing kelompok social
tadi, memberikan kedudukan atau prestise tertentu yang sesuai dengan adat istiadat dan
lembaga pemasyarakatan di dalam masyarakat; namun suatu hal yang penting adalah
bagaimana keanggotaan pada kelompok-kelompok social (termasuk, pada masyarakatmasaarakat yang masih sederhana) tidak selalu bersifat sukarela.
Dalam masyarakat yang sudah kompleks, individu biasanya menjadi anggota dari
kelompok-kelompok social tertentu sekaligus, misalnya atas dasar sex, ras, dsb. Akan tetapi,
dalam hal lain seperti dibidang pekerjaan, rekreasi dan sebagainya keanggotaannya bersifat
sukarela. Dengan demikian maka terdapat derajat tertentu serta arti tertentu bagi individuindividu tadi, sehubungan dengan keanggotaan kelompok social yang tertentu, sehingga bagi
individu terdapat dorongan-dorongan tertentu pula sebagai anggota kelompok social. Suatu
ukuran lainnya bagi si individu adalah bahwa dia merasa lebih tertarik oleh kelompokkelompok social yang dekat seperti kehidupan keluarga, kelompok kekerabtan, dan rukun
tetangga, daripada misalnya dengan suatu perusahaan besar atau Negara. Apabila kelompok
social di anggap sebagai kenyataan dalam kehidupan manusia atau individu, juga harus di

13

ingat pada konsep-konsep dan sikap-sikap individu terhadap kelompok-kelompok social


sebagai kenyataan subyektif yang penting untuk memahami gejala kolektivitas
c. In-group dan Out-grup
Dalam proses socialization, orang mendapatkan pengetahuan kami-nya dengan
mereka-nya dan bahwa kepentingan-kepentingan suatu kelompok social serta sikap-sikap
yang mendukungnya terwujud dalam pembedaan kelompok-kelompok social tersebut yang
dibuat oleh individu. Kelompok-kelompok social dengan mana individu mengidentifikasikan
dirinya merupakan in-group-nya.8 Jelas, bahwa iapabila suatu kelompok social merupakan
in-group atau tidak bagi individu, bersifat relative dan tergantung pada situasi-situasi social
yang tertentu. Out-group diartikan oleh individu sebagai kelompok yang menjadi lawan ingroup-nya yang sering dihubungkan dengan istilah-istilah kami atau kita dan mereka
seperti misalnya kita warga R.T 001 sedangkan mereka warga R.T 002, kami mahasiswa
fakkultas hukum sedangkan mereka mahasiswa Fakultas Ekonomi, kami pegawai negeri
dan mereka pedagang.
Sikap-sikap in-group pada umumnya didasarkan pada factor simpatidan selalu mempunyai
perasaan dekat dengan anggota-anggota kelompok.
Sikap-sikap in-group selalu ditandai dengan kelainan yang berwujud suatu antagonisme atau
antipati. Perasaan in-group dan out-group atau perasaan dalam serta luar kelompok dapat
merupakan dasar suatu sikap yang dinamakan etnocentrisme.

Anggota-anggota suatu

kelompok social tertentu, sedikit banyaknya akan mempunyai suatu kecenderungan untuk
menganggap bahwa segala sesuatu yang termasuk kebiasaan-kebiasaan kelompoknya sendiri
sebagai sesuatu yang terbaik apabila dibandingkan denga kebiasaan-kebiasaan kelompok
lainnya. Kecenderungan tadi disebut etnocentrisme, yaitu suatu sikap untuk menilai unsureunsur kebudayaan lain dengan mempergunakan ukuran-ukuran kebudayaan sendiri.

10

Sikap

etnosentris tadi sering disamakan dengan sikap mempercayai sesuatu, sehingga kadangkadang sukar sekali bagi yang bersangkutan untuk mengubahnya, walaupun dia menyadari
sikapnya itu salah. Sikap etnosentris termaksud, melalui proses socialization diajarkan kepada
anggota-anggota suatu kelompok social, baik secara sadar maupun secara tidak sadar,
bersama dengan nilai-nilai budaya. Di dalam proses tersebut seringkali dipergunakan
stereotypen yakni gambaran-gambaran atau anggapan-anggapan yang bersifat mengejek
terhadap suatu objek yang tertentu. Keadaan demikian seringkali dijumpai dalam sikap suatu
etnic-group terhadap etnic group lainnya seperti misalnya golongan orang-orang berkulit
putih terhadap orang-orang negro di Amerika Serikat. Sikap yang demikian ini mempunyai
aneka macam dasar yang saling berhubungan atau bahkan kadang-kadang berlawanan satu
14

dengan lainnya. Misalnya seseorang yang tergolong ke dalam etnic group tertentu, sikapnya
mungkin berbeda dengan sikap kelompoknya sendiri, oleh karena dia memeluk agama
lainatau mungkin pula daerah kelahirannya berbeda.
In-group dan out-group dapat dijumpai disemua masyarakat, walaupun kepentingankepentingannya tidak selalu sama satu dengan lainnya. Dalam masyarakat-masayarakat yang
sederhana, mungkin jumlahnya tidak banyak apabila dibandingkan dengan masyarakatmasyarakat yang kompleks, walaupun dalam masyarakat-masayarakat yang sederhana tadi
pembedaan-pembedaannya tak begitu tampak dengan jelas. Dengan demikian dapatlah
dikatakan bahwa setiap kelompok social, merupakan in-group bagi anggota-anggotanya.
Konsep tersebut dapat diterapkan baik terhadap kelompok-kelompok social yang relative
kecil samapi yang terbesar, selama para anggotanya mengadakan identifiasi dengan
kelompoknya.
d. Primary Group dan Secondary Group
Dalam klasifikasi kelompok-kelompok social, pembedaan yang luas dan fundamental
adalah pembedaan antara kelompok-kelompok kecil di mana hubungan antara anggotaanggotanya rapat sekali di satu pihak, dengan kelompok-kelompok yang lebih besar di pihak
lain. Sejalan dengan pembedaan tersebut, Charles Horton Cooley mengemukakan pendapat
antara

Primary Group dengan Secondary Group yang ditulisnya dalam karyanya yang

berjudul Social Organization pada tahun 1909. Primary Group dan Secondary Group mungkin
juga dapat diterjemahkan dengan istilah kelompok utama dan kelompok sekunder. 11
Menurut Cooley, primary groups adalah kelompok-kelompok yang ditandai ciri-ciri kenalmengenal antara anggota-anggotanya serta kerja sama erat yang bersifat pribadi. Sebagai
salah satu hasil hubungan yang erat dan bersifat pribadi tadi, adalah peleburan daripada
individu-individu dalam satu kelompok-kelompok, sehingga tujuan individu menjadi juga
tujuan kelompoknya. Dari apa yang dikemukakan oleh Cooley tersebut, dua hal yang penting,
yaitu pertama-pertama bahwa dia bermaksud untuk menunjuk pada suatu kelas yang terdiri
dari keompok-kelompok yang konkrit seperi misalnya keluarga, kelompok-kelompok
sepermainan, rukun tetangga dan lain-lain; serta kedua adalah istilah saling kenal- mengenal
di mana Cooley terutama menekankan pada sifat hubungan antar individu seperti simpati dan
kerjasama yang spontan. Kelompok-kelompok tersebut mempunyai makna utama dalam
pelbagai arti, terutama bahwa kelompok-kelompok tersebut sangat penting bagi pembentukan
ataupun perwujudan cita-cita social daripada individu. Hasil daripada hubungan timbal balik
antara anggota kelompok tersebut secara psikologis, sama dengan adalah peleburan individu
dengan cita-citanya masing-masing, sehingga tujuan dan cita-cita individu juga menjadi
15

tujuan serta cita-cita kelompoknya. Sudah tentu secara mutlak tak dapat dikatakan bahwa
kehidupan serta hubungan antara anggota-anggota kelompok tersebut selalu harmonis. Tentu
ada kalanya terjadi perbedaan-perbedaan faham, bahkan pertentangan-pertentangan; namun
kesemuanya itu untuk kepentingan kelompoknya juga. Secara singkat dapatlah dikatakan
Primary Group adalah kelompok-kelompok kecil yang agak langgeng (permanent) dan yang
berdasarkan kenal-mengenal secara pribada antara sesame anggota kelompoknya. 12
Teori Cooley tersebut di atas, dapat menyebabkan suatu kebingungan pada mereka
yang mempelajarinya. Suatu kenyataan yang tak dapat disangkal adalah bahwa setiap
kelompok social sampai suatu derajat tertentu, pasti akan memiliki perasaan sebagai kesatuan,
hal mana untuk perlu mempertahankan kesatuan kelompok tersbeut. Apabila kenyataannya
demikian maka tidak ada alas an untuk membedakan primary group dari secondary group.
Lagipula secara mutlak tak dapat dikatakan bahwa anggota-anggota suatu kelompok kecil
selalu saling kenal-mengenal (face to face relation). Ada hubungan-hubungan persahabatan
yang akrab tanpa adanya hubungan yang langsung, seperti misalnya hubungan antara dua
orang sarjana dari dua Negara yang berlainan, hubungan langsung yang bersifat formal seperti
misalnya apabila seseorang anggota Angkatan Bersenjata memberi hormat kepada aasannya
dan seterusnya. Agar dapat memperoleh gambaran yang jelas mengenai teoti cooley tersebut,
maka terutama akan dibicarakan hal-hal sebagai berikut: 13
1.

kondisi-kondisi fisik dari primary group

2.

sifat hubungan-hubungan primer,

3.

kelompok-kelompok yang konkrit dan hubungan-hubungan primer


Konsep Cooley mengenai hubungan saling kenal mengenal, belum cukup untuk

menerangkan persyaratan yang penting bagi adanya suatu primary group. Syarat-syarat yang
sangat penting adalah pertama-pertama bahwa anggota-anggota kelompok tersebut secara
fisik berdekatan antara satu dengan lainnya. Kedua, bahwa kelompok tersebut adalah kecil,
yang ketiganya adalah adanya suatu kelanggengan daripada hubungan antara anggota-anggota
kelompok yang bersangkutan. Supaya terjadi hubungan yang akrab individu-individu yang
bersangkutan mau tak mau secara fisik harus saling kenal mengenal. Saling berbicara dan
saling melihat merupakan saluran utama untuk pertukaran pikiran, cita-cita, maupun perasaan.
Makan bersama, jalan-jalan bersama, belajar bersama, main-main bersama, merupakan
perwujudan suatu persahabatan, walaupun hal-hal tersebut dapat juga bersifat formal seperti
misalnya apabila seorang penunjuk jalan mengantarkan seorang wisatawan berjalan-jalan.
Kenal-mengenal secara fisik, memberi kemungkinan terbentuknya primary group, akan tetapi
hal itu tergantung dari kemungkinan-kemungkinan yang ditentukan oleh kebudayaan
16

masyarakat yang bersangkutan. Setiap masyarakat mempunyai norma-norma yang mengatur


hubungan fisik antara anggota-anggotanya yang kadang-kadang dapat merupakan penghalang
bagi terjadinya hubngan tersebut seperti misalnya hubungan antara orang-orang dari kastakasta yang berbeda derajatnya, dalam masyarakat yang mempunyai system pelapisan
masyarakat yang tertutup (misalnya di India.). akan tetapi hubugan antara mereka di tempattempat umum, misalnya di loket karcis kereta api tidak dilarang. Dalam keadaan demikian,
norma-norma masyarakat seolah-olah memberikan suatu kelonggaran. Kecilnya kelompok
juga merupakan salah satu syarat yang penting, oleh karena tidak mungkin seseorang pada
waktu yang tertentu berhubungan dengan banyak orang sekaligus. Memang dalam keadaankeadaan tertentu hal itu mungkin terjadi, misalnya apabila seorang guru memberikan
pelajaran kepada murid-muridnya. Akan tetapi ternyata kemudian bahwa semakin kecil kelas
yang bersangkutan, semakin akrab pula hubungan antara guru dengan murid-muridnya.
Dalam suatu kelompok yang kecil, seorang anggota, secara pribadi, dapat ikut serta
mengambil bagian dalam membentuk keputusan-keputusan kelompok tersebut. Selanjutnya,
suatu sifat kelompok dan keakraban kelompok juga lebih mudah terwujud. Keakraban dalam
hubungan antar individu, sebetulnya tergantung dari serinnya individu-individu yang
bersangkutan berhubungan dan mendalamnya hubungan tadi. Semakin lama mereka
berhubungan satu sama lain, semakin akrab pula hubungan tersebut. Walaupun misalnya
sepasang suami istri yang telah berumah tangga selama 10 tahun seringkali bertengkar, namun
sangat sukar bagi masing-masing untuk hidup lepas satu sama lainnya. Jadi suatu
kelanggengan tertentu merupakan pula suatu faktor dalam pembentukan primary group.

17