Anda di halaman 1dari 6

Death and Dying Preparing

For The Worst with Excellency


Teddy Hidayat
The therapist who decides to involve himself in the treatment of a dying person must commit
himself to utilize all his effort in behalf of the patients welfare
The patient must understand this clearly and also know that the therapist will be constant
available and reliable figure for the patient
The psychodynamic evidence is that the fear of abandonment occupies a central position in the
mind of the dying person
(Schwartz & Karasu )

Pendahuluan
Seorang dokter karena profesinya tidak jarang harus berhadapan dengan
pasien-pasien yang akan meninggal karena penyakit. Sebaiknya dokter memahami
kematian menurut budaya dan kepercayaan pasien sehingga akan dengan baik
dapat membantu mengelola pasien-pasien yang tengah menghadapi akhir hayatnya
- dan agar mereka dapat melaluinya dengan tenang.
Proses kematian adalah suatu krisis yang menyerap banyak energi dan
pikiran tidak saja pasien dan keluarga, tetapi juga pada semua yang merawat yang
berusaha agar pasien tersebut meninggal dalam damai dan iman. Umumnya ada
keengganan dokter merawat pasien pasien yang akan meninggal, karena masih
banyak pendapat sumbang dan mitos yang mengatakan Dokter itu bodoh bila
pasien yang dirawatnya selalu meninggal. Begitu pula adanya ketegangan dan
kecemasan dalam menjalani proses kematian. Oleh karena itu diperlukan
persyaratan pada mereka yang bertugas merawat pasien-pasien yang akan
meninggal yaitu memiliki kepribadian yang mature, memiliki dedikasi tinggi
dalam mendahulukan kepentingan pasien dan mampu bekerja. Disini diperlukan
kemampuan dan kemauan.
Dalam tulisan berikut kata untuk dying yang digunakan ialah meninggal
yang merujuk pada keadaan dan proses menuju akhir hayat dan mati adalah
terjemahan dari death. Bagaimana dokter sampai bertemu dan terlibat dengan
pasien dalam keadaan menjelang akhir hayat, jauh lebih beraneka warna
dibandingkan situasi pertemuannya dengan pasien-pasiennya lain yang berada
dalam terapi. Situasinya biasanya dikaraterisasi oleh pasien yang sebelumnya
cukup sehat tetapi sekarang menderita penyakit yang mengurangi kekuatan
fisiknya atau menyebabkan hendaya jelas dan akan membawa maut dalam waktu
dekat. Dokter dapat dipanggil oleh pasien sendiri atau keluarganya atau teman
sejawat yang mengobati pasien karena keadaan mental pasien dalam keadaan
depresi, ketakutan, keputusasaan, yang sering juga menyulitkan perawatannya oleh
karena kegelisahannya, tidak mau makan, menolak minum obat dan sebagainya.
Bantuan spiritual dan penghiburan oleh keluarga juga dirasa masih kurang berhasil

menenangkan pasien. Dalam gambaran tadi dokter dilihat perannya untuk


meringankan depresi, menyembuhkan dari gejala-gejala mental-emosional yang
membuatnya tertekan, bingung dan menderita, sehingga pasien bisa meninggal
dengan tenang, wajar, tanpa takut, suatu kematian yang layak ( an appropriate
death,a good death). Dokter disini turut serta dan memberi sumbangan dalam
end of care
Dalam tulisan ini akan diuraikan terlebih dahulu mengenai perubahan
psikologis yang terjadi pada penderita yang mengetahui penyakitnya dalam
stadium terminal dan tindakan dokter yang sebaiknya dilakukan dari sudut
pandang psikiatri.
Perubahan psikologis pasien yang akan meninggal
Kubler dan Ross meneliti reaksi 200 pasien yang akan meninggal,
menemukan ada 5 stadium yang merupakan reaksi dinamik dari suatu kehilangan
(loss) ;
Stadium 1 Shock dan Denial
Reaksi pertama setelah pasien mengetahui keadaan sakitnya adalah syok. Pasien
terlihat bingung dan kemudian tidak mempercayai diagnosa dokter atau mungkin
menyangkal serta menyatakan semuanya itu tidak benar. Beberapa pasien mungkin
tetap ada dalam stadium ini, ia akan mengunjungi satu dokter kemudian berpindah
ke dokter yang lain untuk mendapatkan dukungan yang terdahulu itu keliru.
Stadium 2 Anger
Pasien menjadi frustasi, mudah tersinggung dan marah, kenapa sampai sakit seperti
ini. Ia menyalahkan dan marah pada Tuhan, pada nasibnya, pada teman-teman dan
anggota keluarganya. Kemarahan mungkin juga tertuju pada dokter atau perawat
yang mengobatinya yang dianggap tidak sanggup mengobati penyakitnya.
Stadium 3 Bergaining
Pasien kembali ingin bekerja sama dengan dokter yang pernah merawatnya,
dengan teman-temannya dan mulai mendekati Tuhan. Ia menduga punya harapan
hidup
50 %. Sehingga dalam permohonannnya kalau dikabulkan oleh Tuhan,
maka ia akan memenuhi beberapa janji ; memberi derma pada panti asuhan secara
teratur, pindah agama dan sebagainya.
Stadium 4 Depresi
Pasien mengalami depresi, menarik diri dari pergaulannya, psikomotor menurun,
mengalami gangguan tidur, merasa tidak ada harapan dan mungkin ada pikiran
bunuh diri.
Stadium 5 Acceptance
Pasien mulai berpikir secara realistik bahwa kematian tidak dapat dielakkan dan
menerima sebagai pengalaman universal. Pasien dengan tabah menerima
kenyataann ini dan dapat menceritakan pengalaman yang dialami dalam

menyongsong kematian yang tidak pasti datangnya, entah besok atau lusa. Pasien
yang punya kepercayaan yang kuat pada agama yang dianutnya yang memandang
kehidupan sesudah kematian adalah lebih baik, tidak mengalami ketakutan dan
penantian.
Perawatan dan terapi
Pertolongan pada pasien yang akan meninggal sangat diperlukan terutama
dalam menyelesaikan masalah-masalah yang belum terselesaikan, membantu
memenuhi beberapa keinginan yang belum terpenuhi. Weismann mencatat
beberapa keadaan yang diperlukan menjelang kematian :
a. Perasaan bebas dari rasa nyeri
b. Dapat berfungsi semaksimal mungkin dalam batas ketidakmampuannya
c. Dapat menyelesaikan konflik-konflik yang masih ada
d. Dapat memenuhi beberapa keinginan yang belum terlaksana
Beberapa petunjuk untuk dokter
Jujur terhadap pasien, terangkan diagnosis dengan kata-kata sederhana yang
mudah dimenegrti secara hati-hati. Jawablah pertanyaan secara langsung. Apabila
pasien tidak mengerti arti diagnosis walaupun telah diterangkan, sebaiknya
penjelasan ditunda karena mungkin pasien belum siap untuk menerima berita
bahwa dirinya menderita penyakit fatal. Pada kasus seperti ini jangan mencoba
menyadarkan pasien. Jika tampaknya kemudian pasien sudah siap, ia akan
menanyakan secara langsung tentang diagnosa dan pengobatannya atau ingin
mendiskusikan penyakitnya. Beberapa pasien mungkin menolak menyadari
keadaan penyakitnya yang serius sampai hari kematiannya, dalam hal ini terjadi
perlawanan atau penolakkan terhadap diagnosis.
Berikan perawatan yang terbaik pada pasien sehingga merasa aman dan sehat.
Jika dirawat di rumah sakit tanyakan apakah ingin ada teman sekamar. Cegah
pasien merasa diisolasi dari perawat dengan cara lebih sering melakukan
kunjungan dan berkomunikasi untuk membesarkan hatinya dan berdiskusi secara
terbuka.
Pada pasien yang tengah mengalami syok, frustasi dan tidak ada harapan
setelah mengetahui diagnosa penyakitnya, usahakan tidak membebaninya dengan
keharuan dokter akan keadaan ini.
Komunikasi sangat penting untuk pasien. Diharapkan dokter dan perawat
berperan sebagai pendengar aktif atau emphatic listening
yang dapat
menghargai keunikan pasien sebagai individu. Sebagian besar orang takut
meninggal, sehingga banyak petugas kesehtan yang segan mendiskusikan
pengalaman ini dengan pasien yang akan meninggal.

Perhatian dokter pada pasien dapat menolong dari rasa kesendirian dalam
menghadapi proses akhir hayatnya. Keberanian untuk menceritakan perasaannya
akan mengurangi tekanan akan meninggal dan perasaan terisolasi. Usahakan
diciptakan suasana yang menggembirakan sehingga akan mengurangi tegegangan
dan kemuraman.
Kunjungan tetap dokter, perawat, sahabat dan keluarga sangat besar manfaatnya
dalam mengurangi perasaan takut akan meninggal. Ikutkan keluarga dalam proses
diagnosa dan pengobatan. Apabila mereka enggan untuk diikutsertakan karena
takut terhadap proses duka cita, diskusikan secara terbuka pentingnya perhatian
keluarga untuk memberi dorongan terhadap pasien.
Beri kenyamanan pada pasien yang akan meninggal, menghilangkan nyeri,
misal dengan pemberian analgetik atau bahkan bagi yang telah toleran terhadap
analgetik dapat digunakan narkotika dosis adekuat, misal untuk pasien-pasien
penyakit kanker. Perhatikan hygiene dan menolong untuk menyegarkan kembali
pasien dengan memberi kesempatan untuk menghirup udara segar dan matahari.
Bila mungkin lakukan psikoterapi suportif sehingga pasien tidak merasa
sendirian atau takut. Pengertian agama mengenai hidup dan kematian dapat
diselipkan dalam psikoterapi tersebut sehingga pasien tidak merasa cemas dan
takut menghadapi peristiwa akhir hayat.
Apabila hal hal diatas dapat dilakukan dengan baik maka pasien yang
menhadapi akhir hayatnya mampu melakukan
1. Mempersiapkan diri menghadapi hari kematian
2. Pasien telah mengucapkan selamat tinggal pada orang-orang terdekat
3. Dapat berpikir realistik dan telah menerima kenyataan bahwa hidupnya akan
berakhir dan mungkin ada tugas yang belum terselesaikan
4. Mampu mengisi waktu penantian dengan hal yang positif
Catatan akhir
Perlu difahami bahwa menjelang kematian tidak selalu dan sendirinya
merupakan kondisi yang menekan, mengancam dan menakutkan sehingga
menimbulkan guncangan jiwa. Tampaknya ada pula yang orang yang menghadapi
saat maut justru dengan kegembiraan seperti mengekspetasi kebebasan, akan
mendapat hadiah kehidupan lanjutan yang indah ; apalagi ada kebanggaan
mengorbankan nyawanya demi satu tujuan yang luhur. Dengan demikian kematian
diglorifikasi dan memberi warna tersendiri pada emosi menantikan kematian (
misal bagi orang yang bertekad mengorbankan nyawanya, orang yang menyiapkan
bunuh diri dan orang yang menunggu eksekusi hukuman mati ).
Pendekatan kedokteran bagi pasien dalam keadaan akhir hayatnya biasanya
untuk sebagian besar atau praktis seluruhnya bersifat paliatif, yaitu segala usaha

untuk meniadakan atau mengurangi penderitaan pasien. Begitu juga gejala


kecemasan, putus asa, terisolasi, yang dari segi psikiatri ditolong dengan bantuan
penghiburan dan dukungan psikologis, bantuan spiritual, dan obat-obatan anti
kecemasan , anti depresi dan lain lain. Sejauh usaha itu berhasil meringankan
gejala-gejala, pertolongan itu tentu sangat berharga apabila diberikan dengan
sistematis dan terampil untuk memberikan kesempatan pada pasien meninggal
dengan baik. Meninggal dengan baik dapat dinilai dari luar, dari kelakuan dan
ucapan pasien, bahwa dirinya sadar, merasa terhibur dan damai, tidak takut dan
tidak nyeri.
Masih merupakan misteri apabila pasien yang tadinya dalam keadaan
ketakutan dan pergumulan batin, kemudian meninggal dalam keadaan damai,
sejauh mana hasil itu tercapai karena terapi yang diperolehnya, karena tepatnya,
spesifitas tindakan dan pengobatan professional yang telah dilakukan
Ada kalanya pasien pasien dalam keadaan akhir hayatnya telah diberikan
segenap bantuan medik, psikiatrik, spiritual yang tampaknya diperlukan olehnya
menjelang saat kematian yang secara klinis sudah dianggap pasti, akan tetapi
kemudian terhindar dari kematian. Diantara pasien pasien itu apabila ada yang
sempat ditanya ada yang mengaku bahwa meskipun menghargai segala upaya yang
telah dicurahkan pada mereka pada hari-hari atau jam-jam menjelang kematian
mereka merasa bahwa kata-kata yang mereka dengar tidak sungguh membuat
perubahan dalam batin . Mereka mengaku bahwa kedamaian hati, keberanian
dan kepasrahan menghadapi kematian dan penerangan spiritual itu bukan berkat
terapi itu. Bahwa mereka menunjukkan sikap dan kelakuan damai dan terhibur
adalah (kata mereka) justru untuk menenangkan hati orang-orang yang dilihat di
sekitarnya yang begitu sedih atau berduka. Bahkan ada yang mengaku mereka
sebenarnya terganggu oleh perhatian dan kata-kata penghibur yang dicurahkan
pada mereka, sekalipun dengan niat yang baik, pada saat-saat kegentingan jiwa itu.
Barangkali tidak banyak orang ( kalaupun ada ) dapat mengetahui dan
merasakan apa yang batiniah alami dan hayati oleh pasien itu. Kemampuan
berempati yang diperlukan untuk itu mungkin hanya diperoleh kalau diri
pernahnya berada dalam situasi yang sama atau menghadapi kematian atau dengan
cara lain berhasil meresolusi dan menyublimasi pelbagai konflik bersangkutan
dengan finalitas kehidupan. Schwartz dan Karasu mengemukakan bahwa
ketakutan akan ditinggalkan sendiri ( the fear of abandonment ) menempati posisi
sentral dalam jiwa orang yang meninggal. Kalau begitu hal yang esensial dalam
usaha pertolongan bagi orang yang akan meninggal adalah menanamkan atau
memperkuat perasaan padanya bahwa ia tidak perlu takut ; bahwa orang yang
mendampinginya itu ada disitu bersama dia dan untuk dia. Oleh karena itu sering
kali keberadaan keluarga, sanak saudara, teman yang mengenalnya akrab,
meskipun awam dalam pelayanan orang meninggal jauh lebih efektif untuk

membuat pasien damai, bahagia, dan bersyukur dalam hati sehingga pasien bisa
meninggal dengan tenang (setidak-tidaknya demikian kalau tidak ada komorbiditas
dengan suatu gangguan mental sebagai komplikasi). Mereka lebih efektif
dibandingkan dengan orang professional betapapun terampilnya menerapkan
teknik dan prosedur medik dan psikologis menurut keahliannya.Oleh karena itu
untuk menyamai dan sedapat-dapatnya melebihi efektivitas mereka, dokter atau
siapapun yang bertugas mendampingi orang dalam proses meninggal, sebaiknya
mempersiapkan dirinya untuk menemukan dampak kondisi pasien atas dirinya
sendiri. Untuk itu diperlukan bahwa dokter sudah cukup berhasil menyublimasi
konflikdan ketakutan sendiri mengenai finalitas untuk berempati dengan pasiennya
; untuk mencapai itu yang bersangkutan melatih diri atau harus pernah atau
berulang kali mengalami situasi mendekati maut dan dengan sukses mengatasi
kegamangan jiwa yang menyertainya.
Kepustakaan
1. Sadock BJ., Sadock V.A 2007 Death, Dying, and Bereavement in Kaplan & Sadocks
Comprehensive Textbook of Psychiatry , eds Benyamin J, Sadock, V.A Sadock 10 ed ,
Lippincott Williams & Wilkins, Philadelphia pp 2367
2. Marlina SM 2005Aspek Psikososial Penyakit Kanker dalam Majalah Paliatif Kanker,
Vol.I No 2, kelompok Perawatan Paliatif dan Bebas Nyeri . Tim Penanggulangan Kanker
RSUD Soetomo / FK Unair Surabaya
3. Donal L Patrick et al 2002 Pain, Depression, and Fatigue in Symptom Management in
Cancer, National Cancer Institute
4. Lubis D Bachtiar 2012 Kebutuhan Pasien Yang Akan Meninggal dalam Understanding
That Heals DIOMA Malang h 179 185
5. Luh Ketut Suryani Penderita Kanker Stadium Lanjut : Penanganan Psikiatri Yayasan
Kesehtan Jiwa Dharmawangsa h 7 15 Jakarta