Anda di halaman 1dari 26

7

BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Konsep Dasar Persalinan Patologi
1. Persalinan pada Kehamilan Lewat Waktu
a. Pengertian
Kehamilan lewat tanggal (postdate) ialah kehamilan yang
berlangsung lebih dari perkiraan hari taksiran persalinan yang
dihitung dari hari pertama haid terakhir (HPHT). Kehamilan
lewat waktu merupakan salah satu kehamilan yang beresiko
tinggi, dimana dapat terjadi komplikasi pada ibu dan janin
(Prawiroharjo, 2008).
Kehamilan umumnya berlangsung 40 minggu atau 280 hari
dari hari pertama haid terakhir. Kehamilan yang terjadi dalam
jangka waktu >40 minggu sampai dengan 42 minggu disebut
kehamilan

lewat

tanggal

atau

postdate

pregnancy

(Prawiroharjo, 2008).
b. Etiologi
Penyebab pasti kehamilan lewat waktu sampai saat ini
belum kita ketahui.Diduga penyebabnya adalah siklus haid yang
tidak diketahui pasti, kelainan pada janin (anencefal, kelenjar
adrenal

janin

pertumbuhan

yang
tulang

fungsinya

kurang

janin/osteogenesis

baik,

kelainan

imperfecta;

atau

kekurangan enzim sulfatase plasenta).


Menurut dr. Bambang Fadjar, SpOG dari Rumah Sakit Asih,
Jakarta Selatan, penyebab kehamilan lewat waktu adalah
kelainan pada janin sehingga tidak ada kontraksi dari janin
untuk memulai proses persalinan. Kelainan janin tersebut antara

lain anensephalus, hipoplasia, kelenjar supra renal janin, dan


janin tidak memiliki kelenjar hipofisa, kelainan pada plasenta
yang berupa tali pusar pendek dan kelainan letak kehamilan.
Beberapa faktor penyebab kehamilan lewat waktu adalah
sebagai berikut :
1) Kesalahan dalam penanggalan, merupakan penyebab yang
paling sering.
2) Primigravida dan riwayat kehamilan lewat bulan.
3) Defisiensi sulfatase plasenta atau anensefalus, merupakan
penyebab yang jarang terjadi.
4) Jenis kelamin janin laki-laki juga merupakan predisposisi.
5) Faktor genetik juga dapat memainkan peran.
Jumlah kehamilan atau persalinan sebelumnya dan usia juga
ikut mempengaruhi terjadinya kehamilan lewat waktu. Bahkan,
ras juga merupakan faktor yang berpengaruh terhadap
kehamilan lewat waktu. Data menunjukkan, raskulit putih lebih
sering mengalami kehamilan lewat waktu ketimbang yang
berkulit hitam. Di samping itu faktor obstetrik pun ikut
berpengaruh. Pada pemeriksaan kehamilan yang terlambat atau
tidak adekuat (cukup), kehamilan sebelumnya yang lewat waktu,
perdarahan pada trisemester pertama kehamilan, jenis kelamin
janin (janin laki-laki lebih sering menyebabkan kehamilan lewat
waktu ketimbang janin perempuan), dan cacat bawaan janin.
Selain itu ada beberapa teori yang diajukan untuk menyatakan
penyebab dari kehamilan posterm ini. Teori-teori tersebut antara
lain :
1) Teori progesteron

Penurunan hormon progesteron dalam kehamilan


dipercaya merupakan kejadian perubahan endokrin yang
penting

dalam

memacu

proses

biomolekular

pada

persalinan dan meningkatkan sensitivitas uterus terhadap


oksitosin. Berdasarkan teori ini, diduga bahwa terjadinya
kehamilan postterm adalah karena masih berlangsungnya
pengaruh progesteron melewati waktu yang semestinya.
2) Teori Oksitosin
Rendahnya pelepasan oksitosin dari neurohipofisis Ibu
hamil pada kehamilan lanjut diduga sebagai salah satu
faktor penyebab terjadinya kehamilan postterm.
3) Teori Kortisol/ACTH janin
Dalam teori ini diajukan bahwa sebagai pemberi tanda
untuk dimulainya persalinan adalah janin, diduga akibat
peningkatan
Kortisoljanin

tiba-tiba
akan

kadar

kortisol

mempengaruhi

plasma

plasenta

janin.

sehingga

produksi progesteron berkurang dan memperbesar sekresi


estrogen, selanjutnya berpengaruh terhadap meningkatnya
produksi prostaglandin. Pada cacat bawaan janin seperti
anensefalus, hipoplasia adrenal janin dan tidak adanya
kelenjar hipofisis pada janin akan menyebabkan kortisol
janin tidak diproduksi dengan baik sehingga kehamilan
dapat berlangsung lewat bulan.
4) Teori saraf uterus

10

Tekanan pada ganglion servikalis dari pleksus


frankenhauser akan membangkitkan kontraksi uterus pada
keadaan dimana tidak ada tekanan pada pleksus ini, seperti
pada kelainan letak, tali pusar pendek, dan bagian bawah
masih tinggi ke semuanya diduga sebagai penyebab
terjadinya kehamilan postterm.
5) Teori heriditer
Pengaruh heriditer terhadap insidensi kehamilan
postterm

telah

dibuktikan

pada

beberapa

penelitian

sebelumnya. Hasil penelitian menemukan bahwa seorang


ibu yang pernah mengalami kehamilan postterm pada
kehamilan berikutnya akan memiliki resiko lebih tinggi
untuk mengalami kehamilan postterm pada kehamilan
berikutnya. Hasil penelitian ini memunculkan kemungkinan
bahwa kehamilan postterm juga dipengaruhi faktor genetik.
c. Diagnosa
Menurut Mochtar (2013), walaupun kemungkinan
kehamilan postterm dapat dideteksi pada 4-19% dari seluruh
kehamilan, sering kali diagnosis kehamilan postterm mengalami
kekeliruan disebabkan salah menentukan usia kehamilan.
Oleh karena itu, sangat penting sekali untuk mengetahui usia
kehamilan dalam menegakkan diagnosis kehamilan postterm.
Karena semakin lama janin atau neonatus ini berada di dalam
uterus, maka kemungkinan perubahan morbiditas dan mortilitas
semakin besar. Namun, penentuan intervensi/terminasi secara

11

terburu-buru juga dapat menimbulkan kerugian bagi Ibu maupun


janin.
1) Riwayat haid
Sangat penting untuk memastikan bahwa kehamilan
sebenarnya postterm atau tidak. Idealnya, usia kehamilan
yang akurat ditentukan di awal kehamilan. Diagnosis
kehamilan postterm tidak sulit untuk ditegakkan bilamana
HPHT diketahui secara pasti. Ditentukan beberapa kriteria :
a) Penderita harus yakin betul dengan HPHT-nya
b) Siklus 28 hari dan teratur
c) Tidak minum pil antihamil setidaknya 3 bulan terakhir
Selanjutnya diagnosis ditentukan dengan menghitung
menurut rumus Naegele. Berdasarkan riwayat haid, seorang
penderita yang ditetapkan sebagai kehamila possterm
kemungkinan adalah:
a) Terjadi kesalahan dalam menentukan tanggal haid
terakhir atau akibat menstruasi abnormal.
b) Tanggal haid terakhir diketahui jelas, tetapi terjadi
kelambatan ovulasi.
c) Tidak ada kesalahan menentukan haid terakhir dan
kehamilan memang berlangsung lewat bulan (keadaan
ini sekitar 20-30% dari seluruh penderita yang diduga
kehamilan postterm)
2) Riwayat pemeriksaan Antenatal
a) Tes kehamilan, bila pasien melakukan tes pemeriksaan
tes imunologik sesudah terlambat 2 minggu, maka dapat
diperkirakan kehamilan memang telah berlangsung 6
minggu.

12

b) Gerak janin atau quickening pada umumnya dirasakan


Ibu pada pada umur kehamilan 18-20 minggu. Pada
Primigravida dirasakan sekitar umur kehamilan 18
minggu, sedangkan pada Multigravida sekitar 16
minggu. Petunjuk umum untuk menentukan persalinan
adalah quickening ditamba 22 minggu pada Primigravida
atau ditambah 24 minggu pada multiparitas.
c) Denyut jantung janin (DJJ) dengan stetoskop Leanec DJJ
dapat didengar mulai umur kehamilan 18-20 minggu,
sedangkan dengan Doppler dapat terdengar pada usia
kehamilan 10-12 minggu. Kehamilan dapat dinyatakan
sebagai kehamilan postterm bila didapat 3 atau lebih dari
4 kriteria hasil pemeriksaan:
(1) Telah lewat 36 minggu sejak tes kehamilan positif
(2) Telah lewat 32 minggu sejak DJJ pertama terdengar
dengan doppler
(3) Telah lewat 24 minggu sejak dirasakan gerak janin
pertama kali
(4) Telah lewat 22 minggu sejak terdengarnya DJJ
pertama kali dengan stetoskop Leanec
3) Tinggi Fundus Uteri
Dalam trimester pertama pemerikasaan tinggi fundus
uteri serial dalam sentimeter dapat bermanfaat bila
dilakukan pemeriksaan secara berulang tiap bulan. Lebih
dari 20 minggu, tinggi fundus uteri dapat menentukan umur
kehamilan secara kasar.
4) Pemeriksaan Ultrasonografi (USG)

13

Ketetapan usia gestasi sebaiknya mengacu pada hasil


pemeriksaan USG pada trimester pertama. Kesalahan
perhitungan dengan rumus Naegele dapat mencapai 20 %.
Bila telah dilakukan pemeriksaan Ultrasonografi serial
terutama sejak trimester pertama, hampir dapat dipastikan
usia kehamilan. Pada trimester pertama, pemeriksaan
panjang

kepala-tungging

(crown-rump

length/CRL)

memberikan ketepatan kurang lebih 4 hari dari taksiran


persalinan.
Pada umur kehamilan sekitar 16-20 minggu, ukuran
diameter biparietal dan panjang femur memberikan
ketepatan sekitar 7 hari dari taksiran persalinan. Selain
CRL, diameter biparietal dan panjang femur, beberapa
parameter dalam pemeriksaan USG juga dapat dipakai
seperti lingkar perut, lingkar kepala, dan beberapa rumus
yang

merupakan

perhitungan

dari

beberapa

hasil

pemeriksaan parameter tersebut di atas. Sebaliknya,


pemeriksaan sesaat setelag trimester III dapat dipakai untuk
menentukan berat janin, keadaan air ketuban, ataupun
keadaan plasenta yang sering berkaitan dengan kehamilan
postterm, tetapi sukar untuk memastikan usia kehamilan.
5) Pemeriksaan Radiologi
Umur kehamilan ditentukan dengan melihat pusat
penulangan. Gambaran epifisis femur bagian distal paling

14

dini dapat dilihat pada kehamilan 32 minggu, epifisis tibia


proksimal terlihat setelah umur kehamilan 36 minggu, dan
epifisis kuboid pada kehamilan 40 minggu. Cara ini
sekarang jarang dipakai selain karena dalam pengenalan
pusat penulangan seringkali sulit, juga pengaruh radiologik
kurang baik terhadap janin.
6) Pemeriksaan Laboratorium
Kadar Lesitin/spingomielin. Bila Lesitin/spingomielin
dalam cairan amnion kadarnya sama, maka umur kehamilan
sekitar 22-28 minggu, lesitin 1,2 kali kadar spingomielin:
28-32 minggu, pada kehamilan genap bulan rasio menjadi
2:1. Pemeriksaan ini tidak dapat dipakai untuk menentukan
kehamilan

postterm,

tetapi

hanya

digunakan

untuk

menentukan apakah janin cukup umur/matang untuk


dilairkan yang berkaitan dengan menrcegah kesalahan
dalam tindakan pengakhiran kehamilan.
Aktivitas tromboplastin cairan amnion (ATCA).
Hastwell berhasil membuktikan bahwa cairan amnion
mempercepar

waktuoembekuan

darah,

aktivitas

ini

meningkat dengan bertambahya umur kehamilan pada umur


kehamilan 41-42 minggu ATCA berkisar antara 45-65 detik,
pada umur kehamilan lebih dari 42 minggu didapatkan
ATCA kurang dari 45 detik. Bila didapat ATCA antara 4246 detik menunjukkan bahwa kehamilan berlangsung lewat
waktu.

15

Sitologi cairan amnion. Pengecatan nile blue sulphate


dapat melihat sel lemak dalam cairan amnion. Bila jumlah
sel yang mengandung lemak melebihi 10 %, maka
kehamilan diperkirakan 36 minggu dan apabila lebih dari
50, maka umur kehamilan 39 minggu atau lebih.
Sitologi Vagina. Pemeriksaan sitologi vagina (indeks
kariopiknotik >20 %) mempunyai sensitivitas 75 %. Perlu
diingat bahwa kematangan serviks tidak dapat dipakai untuk
menentukan usia gestasi.
d. Masalah pada Kehamilan Postdate
Kehamilan postterm mempunyai resiko lebih tinggi daripada
kehamilan atterm, terutama terhadap kematian perinatal
(antepartum, intrapartum, dan postpartum) berkaitan dengan
aspirasi mekonium dan asfiksia. Pengaruh kehamilan postterm
antara lain sebagai berikut.
1) Perubahan pada Plasenta
Disfungsi plasenta merupakan faktor penyebab terjadinya
komplikasi pada kehamilan postterm dan meningkatnya
risiko pada janin. Penurunan fungsi plasenta dapat
dibuktikan dengan penurunan kadar estriol dan plasental
laktogen. Perubahan yang terjadi pada plasenta sebagai
berikut:
a) Penimbunan kalsium. Pada kehamilan postterm terjadi
peningkatan penimbunan kalsium pada plasenta. Hal ini
dapat menyebabkan gawat janin dan bahkan kematian
janin intrauterin yang dapat meningkat sampai 2-4 kali

16

lipat. Timbunan kalsium plasenta meningkat sesuai


dengan progesivitas degenerasi plasenta. Namun,
beberapa vili mungkin mengalami degenerasi tanpa
mengalami klasifikasi.
b) Selaput vaskulosinsisial menjadi tambah tebal dan
jumlahnya berkurang. Keadaan ini dapat menurunkan
mekanisme transpor plasenta.
c) Terjadi proses degenerasi jaringan plasenta seperti
edema, timbunan fibrinoid, fibrosis, trombosis intervili,
dan infark vili.
d) Perubahan Biokimia. Adanya insufisiensi plasenta
menyebabkan protein plasenta dan kadar DNA di
bawah normal, sedangkan konsentrasi RNA meningkat,
transpor kalsium tidak terganggu, aliran natrium,
kalium dan glukosa menurun. Pengangkutan bahan
dengan berat molekul tinggi seperti asam amino, lemak,
dan gama globulin biasanya mengalami gangguan
sehingga dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan
janin intrauterin.
2) Pengaruh pada janin
Pengaruh kehamikan postterm terhadap janin sampai
saat ini masih diperdebatkan. Beberapa ahli menyatakan
bahwa kehamilan postterm menambah bahaya pada janin,
sedangkan beberapa ahli lainnya menyatakan bahwa bahaya
kehamilan postterm terhadap janin terlalu dilebihkan.
Kiranya kebenaran terletak di antara keduanya. Fungsi

17

Plasenta mencapai puncak pada kehamilan 38 minggu. Dan


kemudian mulai menurun terutama setelah 42 minggu.
Hal ini dapat dibuktikan dengan penurunan kadar estriol
dan

plasental

laktogen.

Rendahnya

fungsi

Plasenta

berkaitan dengan peningkatan kejadian gawat janin resiko 3


kali. Akibat dari proses penuaan plasenta, pemasokan
makanan dan oksigen akan menurun di samping adanya
spasme arteri spiralis. Sirkulasi utero plasenter akan
berkurang dengan 50 % menjadi hanya 250 ml/menit.
Beberapa pengaruh kehamilan postterm terhadap janin
antara lain sebagai berikut :
a) Berat Janin. Bila terjadi perubahan anatomik yang besar
pada plasenta, maka terjadi penurunan berat janin. Dari
penelitian vorherr tampak bahwa sesudah umur
kehamilan 36 minggu grafik rata-rata pertumbuhan
janin mendatar dan tampak adanya enurunan sesudah
42 minggu. Namun, seringkali pula plasenta masih
dapat berfungsi dengan baik sehingga berat janin
bertambah terus sesuai dengan bertambahnya umur
kehamilan. Zwerdling menyatakan bahwa rata-rata
berat janin >3.600 gram sebesar 44,5 % pada
kehamilan postterm, sedangkan pada kehamilan genap
bulan (term) sebesar 30,6 %. Resiko persalinan bayi
dengan berat lebih dari 4000 gram pada kehamilan

18

postterm tingkat dua sampai 4 kali lebih besar dari


kehamilan term.
b) Sindroma postmaturitas. Dapat dikenali pada neonatus
dengan ditemukannya beberapa tanda seperti gangguan
pertumbuhan, dehidrasi, kulit kering, keriput seperti
kertas, atau hilangnya lemak subkutan, kuku tangan dan
kaki panjang, tulang tengkorak lebih keras, hilangnya
verniks kasiosa dan lanugo, maserasi kulit terutama
daerah lipat paha dan genital luar, warna coklat
kehijauan atau kekuningan pada kulit dan tali pusat,
muka tampak menderita dan rambut kepala banyak atau
tebal. Tidak seluruh nenonatus kehamilan postterm
menunjukkan tanda postmaturitas tergantung fungsi
plasenta. Umumnya didapat sekitar 12-20 % neonatus
dengan tanda postmaturitas pada kehamilan postterm.
Berdasarkan derajat insufisiensi plasenta yang terjadi,
tanda postmaturitas ini dapat dibagi dalam 3 stadium:
(1) Stadium I: kulit menunjukkan kehilangan verniks
kasiosa dan maserasi berupa kulit kering, rapuh,
dan mudah mengelupas. Tidak ada pewarnaan
mekonium. Keadaan umum menunjukkan adanya
kegagalan plasenta untuk menunjang pertumbuhan
yang normal sehingga bayi terlihat kurang gizi,
wajah tua dan selalu waspada.

19

(2) Stadium II: Gejaala di atas disertai pewarnaan


mekonium (kehijauan) pada kulit.
(3) Stadium III: disertai pewarnaan kekuningan pada
c)

kuku, kuit dan tali pusat.


Gawat janin atau kematian perinatal.
Menunjukkan angka meningkat setelah kehamilan 42
minggu atau lebih, sebagian besar terjadi intrapartum.
Umumnya disebabkan oleh makrosomia yang dapat
menyebabkan terjadinya distosia pada persalinan,
fraktur klavikula, palsi Erb-Duchene, sampai kematian
bayi,

dan

Insufisiensi

plasenta

yang

berakibat

terhambatnya pertumbuhan Janin terhambat


d) Oligohidramnion : Terjadi kompresi tali pusat, keluar
mekonium yang kental, perubahan abnormal jantung
janin.
e) Hipoksia janin
f) Keluarnya mekonium yang berakibat dapat terjadi
aspirasi mekonium pada janin.
g) Cacat bawaan pada janin terutama akibat hipoplasia
adrenal dan anensefalus
h) Kematian Janin akibat kehamilan postterm terjadi pada
30 % sebelum persalinan, 55 % dalam persalinan dan
15 % pasca natal.
i) Komplikasi yang dapat dialami oleh bayi baru lahir
ialah suhunya tidak stabil, hipoglikemi, polisitemi dan
kelainan neurologik.
e. Resiko pada Kehamilan Postdate
Risiko kehamilan lewat waktu antara lain adalah gangguan
pertumbuhan janin, gawat janin, sampai kematian janin dalam

20

rahim. Resiko gawat janin dapatterjadi 3 kali dari pada


kehamilan aterm. Kulit janin akan menjadi keriput, lemak di
bawah kulit menipis bahkan sampai hilang, lama-lama kulit
janin dapat mengelupas dan mengering seperti kertas perkamen.
Rambut dan kuku memanjang dan cairan ketuban berkurang
sampai habis. Akibat kekurangan oksigen akan terjadi gawat
janin yang menyebabkan janin buang air besar dalam rahim
yang akan mewarnai cairan ketuban menjadi hijau pekat.
Pada saat janin lahir dapat terjadi aspirasi (cairan terisap ke
dalam saluran napas) air ketuban yang dapat menimbulkan
kumpulan gejala MAS (meconeumaspiration syndrome).
Keadaan ini dapat menyebabkan kematian janin. Komplikasi
yang dapat mungkin terjadi pada bayi ialah suhu yang tidak
stabil, hipoglikemia, polisitemia, dan kelainan neurologik.
Kehamilan lewat bulan dapat juga menyebabkan resiko
pada ibu, antaralain distosia karena aksi uterus tidak
terkoordinir, janin besar, dan moulding (moulage) kepala
kurang. Sehingga sering dijumpai partus lama, kesalahan letak,
inersia uteri, distosia bahu, dan perdarahan postpartum.
f. Penatalaksanaan
1) Setelah usia kehamilan lebih dari 40-42 minggu yang
penting adalah monitoring janin sebaik-baiknya.
2) Apabila tidak ada tanda-tanda insufisiensi plasenta,
persalinan spontan dapat ditunggu dengan pengawasan ketat
dan

melakukan

kandungan.

kolaborasi

dengan

dokter

spesialis

21

2. Induksi Persalinan
a. Definisi
Induksi persalinan ialah usaha agar persalinan mulai
berlangsung sebelum
bulan

dengan

atau

sesudah

kehamilan

cukup

jalan merangsang timbulnya his. Induksi

persalinan merujuk dimana kontraksi uterus diawali secara


medis maupun bedah sebelum terjadinya partus spontan.
(Prawirohardjo, 2007; Mochtar, 2012). Referensi

lain

memberikan definisi Induksi persalinan merupakan suatu


tindakan

buatan

atau

merangsang kontraksi
dilatasi

progresif

memberikan
uterus

yang

perlakuan

untuk

dilanjutkan

oleh

dan pendataran dari serviks kemudian

diakhiri dengan kelahiran bayi (Wannmacher, 2006).


b. Indikasi
Induksi diindikasikan apabila manfaat bagi ibu atau janin
melebihi manfaat apabila persalinan dibiarkan berlanjut.
Indikasi-indikasi

penting

dilakukannya

antara

lain

postmaturitas, hipertensi apapun sebabnya, pada kehamilan


lebih

dari

37

minggu.

Disamping

itu, induksi dapat

dilakukan pada rhesus antagonimus, diabetes mellitus, ketuban


pecah dini tanpa timbulnya his, preeklamsi, insufisiensi
plasenta,

suspek

terjadi

retardasi

pada

perkembangan

intrauterin (Prawirohardjo, 2007; Decherney, 2014).

c. Kontraindikasi

22

Sejumlah kondisi di uterus, janin, atau ibu merupakan


kontraindikasi induksi persalinan. Kontraindikasi ini serupa
dengan yang meniadakan kemungkinan persalinan spontan.
Kontraindikasi pada uterus terutama berkaitan dengan riwayat
cidera uterus misalnya insisi seksio sesarea klasik atau bedah
uterus. Plasenta previa juga tidak memungkinkan terjadinya
persalinan spontan. Kontra indikasi pada janin antara lain
makrosomia

yang cukup besar,

beberapa anomali janin

misalnya hydrocephalus, malpresentasi. Kontraindikasi pada


ibu berkaitan dengan ukuran ibu, anatomi panggul, dan
beberapa penyakit medis misalnya herpes genetalia aktif
(Chunningham, 2005).
Pada beberapa sumber membagi kontraindikasi induksi
persalinan menjadi kontraindikasi absolut yaitu disproporsi
kepala panggul, plasenta previa, plasenta yang prolaps, struktur
pelvis yang abnormal, infeksi herpes pada genital, kanker
serviks yang invasif, bekas luka pada uterus karena seksio
sesarea,

miomektomi,

histerektomi,

insisi

uterus

atau

miometrium yang memasuki rongga uterus. Dan kontraindikasi


relatif

yaitu

polihidramnion,

kehamilan

ganda,

grande

multipara, kehamilan prematur, breech presentation, penyakit


jantung kongenital (Decherney, 1994; Harman, 1999).
d. Resiko Induksi
Risiko induksi persalinan yang mungkin terjadi diantaranya
adalah :

23

1)

Adanya kontraksi rahim yang berlebihan. Itu sebabnya


induksi harus dilakukan dalam pengawasan yang ketat
dari dokter yang menangani. Jika ibu merasa tidak tahan
dengan rasa sakit yang ditimbulkan, biasanya proses

induksi dihentikan dan dilakukan operasi caesar.


2) Janin akan merasa tidak nyaman sehingga dapat
membuat bayi mengalami gawat janin (stress pada bayi).
Itu sebabnya selama proses induksi berlangsung, penolong
harus memantau gerak janin. Bila dianggap terlalu
berisiko menimbulkan gawat janin, proses induksi harus
dihentikan.
3) Dapat merobek bekas jahitan operasi caesar. Hal ini bisa
terjadi pada yang sebelumnya pernah dioperasi caesar,
lalu menginginkan kelahiran normal.
4) Emboli. Meski kemungkinannya sangat kecil sekali
namun tetap harus diwaspadai. Emboli terjadi apabila air
ketuban yang pecah masuk ke pembuluh darah dan
menyangkut di otak ibu, atau paru-paru. Bila terjadi, dapat
merenggut nyawa ibu seketika (Israr, Christopher, 2009).
e. Metode Pematangan Serviks
dan Induksi Persalinan
Secara Farmakologi
1) Prostaglandin
Prostaglandin bereaksi pada serviks untuk membantu
pematangan serviks melalui sejumlah mekanisme yang
berbeda. Ia menggantikan substansi ekstraseluler pada
serviks, dan PGE2 meningkatkan aktivitas kolagenase pada

24

serviks.

Ia

menyebabkan

peningkatan

kadar

glikosaminoglikan dan asam hialuronat pada serviks.


Relaksasi pada otot polos serviks menyebabkan dilatasi.
Pada akhirnya, prostaglandin menyebabkan peningkatan
kadar

kalsium

intraseluler,

sehingga

menyebabkan

kontraksi otot miometrium (wittler, 2000)


Prostaglandin E2 dan PGF 2 yang dioleskan langsung
ke serviks menginduksi perubahan-perubahan pematangan
kearah perlunakan serviks yaitu perubahan kolagen dan
perubahan

konsentrasi

Supositoria

prostaglandin

relatif
yang

glikosaminoglikan.
dipasang

intravagina

didekat serviks digunakan secara klinis untuk menimbulkan


perlunakan serviks dan digunakan untuk mempermudah
induksi persalinan (Cunningham et al., 2005).
2) Mifepristone
Mifepristone (Mifeprex) adalah agen antiprogesteron.
Progesteron menghambat kontraksi uterus, sementara
mifepristone

melawan

aksi

ini.

Agen

ini

menyebabkan peningkatan asam hialuronat dan kadar


dekorin pada serviks. Dilaporkan Cochrane, ada 7
percobaan

yang

melibatkan

594

wanita

yang

menggunakan mifepristone untuk pematangan serviks.


Hasilnya menunjukkan bahwa wanita yang diterapi
dengan mifepristone cenderung memiliki serviks yang
matang dalam 48 sampai 96 jam jika dibandingkan dengan

25

plasebo. Sebagai tambahan, para wanita ini cenderung


melahirkan dalam waktu 48-96 jam dan tidak dilakukan
seksio sesaria. Namun demikian, hanya sedikit informasi
yang tersedia mengenai luaran janin dan efek samping
pada

ibu,

sehingga

tidak

cukup mendukung bukti

keamanan mifepristone dalam pematangan serviks (Tenore,


2003).
3) Relaksin
Hormon relaksin merupakan hormon polipeptida yang
diproduksi oleh beberapa jaringan

diantaranya korpus

luteum dan decidua yang efektif untuk pematangan serviks.


Relaksin mengaktifkan proses kolagenasi pada serviks dan
menghambat

kontraksi

uterus

yang

pematangan serviks tanpa hiperstimulasi


Berdasarkan

evaluasi

menyebabkan
(Arias,

1993).

telaah Cochrane mengenai hasil

dari 4 penelitian yang melibatkan 267 wanita disimpulkan


bahwa kurangnya dukungan dalam penggunaan

relaksin

saat ini, sehingga masih dibutuhkan.


4) Oksitosin
Oksitosin merupakan hormon yang dikeluarkan
neurohipofise yang merangsang secara langsung jaringan
miometrium.

Mekanisme

oksitosin terjadi
oksitosin

secara

pematangan
tidak

serviks

langsung

oleh
dimana

merangsang decidua untuk memproduksi

prostaglandin E dan prostaglandin F. Prostaglandin

26

meningkatkan

degradasi

kolagen,

asam hyaluronik

hidrofilik, dilatasi pembuluh darah kecil di serviks,


sedangkan

PGF

meningkatkan

glikosaminoglikan

sehingga serviks menjadi lunak. Pada sel miometrium,


oksitosin meningkatkan aktifitas phospodiesterase yang
menyebabkan

pengeluaran

kalsium

dari

retiulum

endoplasmik. Peningkatan konsentrasi kalsium intraseluller


mengaktifkan mekanisme kontraksi otot (Arias, 1993).
5) Misoprostol
Misoprostol merupakan analog prostaglandin E1
yang

telah diterima oleh Food and Drug Administration

(FDA) yang diberikan oral untuk mencegah dan mengobati


ulcus

peptic

yang

diinduksi

oleh

obat

NSAID.

Prostaglandin (PG)E2 dan PGE1 adalah prostaglandin


utama yang disintesis oleh mukosa gastrik. Senyawa ini
menghambat produksi asam dengan cara berikatan dengan
reseptornya
mencegah

pada

sel-sel

terjadinya

parietal.

luka

PGE

lambung

juga dapat
berkat

efek

sitoprotektifnya yang meliputi stimulasi sekresi musin dan


bikarbonat serta peningkatan aliran darah mukosa. Namun,
efek supresi asam tampaknya merupakan efek yang paling
penting.

Karena

NSAID

menghambat

pembentukan

prostaglandin, maka prostaglandin sintetik memberikan

27

sebuah pendekatan rasional untuk mengurangi kerusakan


akibat NSAID (Goodman, 2008; Goldberg, 2001).
Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan,
misoprostol menjadi salah satu obat penting dalam
bidang

ilmu

kandungan

misoprostol

memiliki

pematangan

serviks

bekerja

dengan

dan kebidanan

efek

uterotonik

(Goldberg,

2001).

karena
dan

efek

Misoprostol

jalan meningkatkan kalsium bebas

intraseluller. Pada saat yang sama terjadi gap junction


miometrium yang memudahkan kontraksi pada uterus.
Pematangan serviks
hialuronidase

terjadi

dan

cairan

akibat

kenaikan

serta penurunan

asam

dermatan

sulfat dan kondrotin sulfat yang merupakan bahan dasar


pembentuk kolagen (Dwijanto, 2003). Misoprostol juga
menstimulasi aktivitas
(MMP)

yang

Matriks

berpengaruh

Metalloprotease

pada penelitian lebih

lanjut mengenai agen-agen induksi persalinan (Tenore,


2003).
Misoprostol dapat digunakan diantaranya sebagai aborsi
medis, pematangan serviks sebelum tindakan operasi
aborsi, evaluasi uterus pada kasus embrionik atau
kematian fetus dan induksi persalinan. Misoprostol juga
dapat digunakan untuk mengatasi perdarahan postpartum
(Goldberg, 2001).
a) Efek Misoprostol

28

Efek misoprostol pada saluran reproduksi


meningkat dan efek pada gastrointestinal menurun bila
misoprostol diberikan secara pervaginam. Ketika tablet
misoprostol ditempatkan pada forniks posterior dari
vagina, konsentrasi plasma dari asam misoprostol
mencapai puncaknya dalan satu sampai dua jam dan
kemudian menurun secara perlahan (Goldberg, 2001).
Misoprostol yang diberikan pervaginam atau secara
oral dapat memberikan efek pematangan serviks
sebelum induksi persalinan dengan menggunakan
oksitosin. Misoprostol sendiri juga efektif untuk
induksi persalinan. Dalam penelitian yang telah
dilakukan

pada

tahun

1997,

difokuskan

pada

pematangan serviks dan induksi persalinan, total 488


wanita yang menerima misoprostol dan 478 kontrol
(menerima gel prostaglandin E2) waktu dari induksi
sampai terjadinya kelahiran memperlihatkan 4,6 jam
lebih cepat dan tingkat kejadian kelahiran dengan
seksio sesarea menurun pada kelompok misoprostol
(Goldberg, 2001).
Efek samping

yang

paling sering terjadi pada

penggunaan misoprostol diantaranya nausea, muntahmuntah, nyeri pada perut, menggigil, dan demam.
Meskipun jenis prostaglandin lain (Prostaglandin E2

29

dan Prostaglandin F2) dapat menyebabkan infrak


myocardial

dan

brokospasme,

misoprostol

tidak

memberikan efek serupa (Goldberg, 2001).


b) Dosis Misoprostol
Misoprostol pervaginam (25 sampai 100 g) lebih
efektif

dibandingkan

penggunaan

oksitosin

atau

prostaglandin E2 untuk induksi kelahiran pervaginam


dalam 24 jam. Hiperstimulasi uterus dan perubahan
denyut jantung fetus lebih sering terjadi pada wanita
yang
wanita

menerima

misoprostol

dibandingkan

pada

yang menerima oksitosin atau prostaglandin

E2. Frekuensi terjadinya meconium-stained amniotic


fluid

lebih

besar

pada

kelompok

misoprostol

dibandingkan dengan kelompok prostaglandin E2,


meskipun tidak lebih tinggi dibandingkan dengan
kelompok oksitosin (Goldberg, 2001).
Usaha selanjutnya untuk menemukan dosis yang
efektif

penggunaan

meningkatkan

misoprostol

frekuensi

yang

hiperstimulasi

tidak
uterus,

penelitian akhir-akhir ini memfokuskan pada dosis


rendah misoprostol. Pada penelitian ini 522 wanita
diberikan dosis 25g misoprostol pervaginam setiap
tiga jam ( untuk 8 dosis maksimum) atau 25 g setiap
6 jam (untuk 4 dosis maksimum), regimen dengan

30

interval yang lebih lama memberikan

hasil waktu

melahirkan yang lebih lama dan kebutuhan tambahan


oksitosin. Diantara kedua kelompok tersebut tidak ada
perbedaan yang berarti dalam respek hiperstimulus
uterus

dengan perubahan denyut jantung fetus,

meconium passage, kelahiran dengan seksio sesarea,


dan nilai APGAR (Goldberg, 2001).
f. Paritas dan Keberhasilan Induksi
Karakteristik
wanita (berat badan, tingi badan,
paritas)

dan beberapa komponen seperti skor bishop

merupakan beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan


induksi persalinan menggunakan

misoprostol Crane et al.,

2004). Karakteristik maternal seperti Body Mass Indeks


(BMI), paritas, ras dan berat janin neonatus merupakan
variabel penting untuk
induksi

persalinan

memperkirakan

(Pevzner

keberhasilan

et. al.,2009). Karakteristik

klinis seperti paritas, dilatasi serviks, dan umur kehamilan


merupakan faktor-faktor yang dapat memprediksi keberhasilan
kematangan

serviks

dan

induksi

dengan

misoprostol

pervaginam (Wing et al., 2002).


Hasil penelitian berjudul Efektifitas Dan Efek Samping
Misoprostol

Dosis

25g

Pervaginam

Untuk

Induksi

Persalinan yang dilakukan oleh Elasari, didapatkan hasil


bahwa

terdapat

perbedaan bermakna secara statistik nilai

serviks awal antara kelompok primigravida dan multigravida.

31

Pada kelompok primigravida dengan nilai serviks <5 rata- rata


waktu persalinan lebih lama (11,22 jam) sedangkan pada
multigravida 10,71 jam (p=0,017) (Elasari, 2009).
Analisis global mengenai penelitian variabel yang
berpengaruh pada

keberhasilan

induksi

menggunakan

statistik, paritas merupakan faktor yang sangat berpengaruh.


Keberhasilan induksi persalinan pada nullipara

adalah

sebesar 50,77% sedangkan pada multipara keberhasilannya


mencapai 83,33% (Bueno et. al., 2004 ).
Pada wanita yang sudah pernah melahirkan memiliki
kandungan NO metabolit (NOx) lebih tinggi dibandingkan
dengan wanita yang belum pernah melahirkan (nullipara). NO
dapat mengaktivasi MMPs yang berpengaruh pada proses
pematangan serviks (Tommiska, 2006).
Uterus pada nullipara dewasa memiliki panjang 6-8 cm
dan berat rata-rata 50-70 gram, sedangkan pada multipara,
panjang uterusnya 9-10 cm dan beratnya mencapai 80 gram
(Radulvic, 2009). Pada nullipara masuknya kepala janin ke
pintu asal panggul telah tercapai sebelum persalinan mulai,
dan penurunan janin lebih jauh tidak akan terjadi sampai akhir
persalinan. Pada multipara masuknya kepala janin ke pintu
panggul tidak begitu sempurna, penurunan lebih jauh terjadi
pada kala I persalinan. Penurunan aktif biasanya terjadi setelah
dilatasi serviks sudah maju untuk beberapa lama (Cunningham
et al., 2005).

32

Pendataran pada wanita primigravid (nullipara), kanal


serviks mengalami pendataran maksimal sebelum dilatasi
serviks dimulai. Pendataran yang maksimal menjadikan
serviks menjadi sangat tipis. Ostium eksterna pada kala I
primigravid hampir tertutup. Dengan adanya fakta bahwa
pendataran dari kanal serviks terjadi sebelum dilatasi dari
ostium eksterna yang hampir tertutup sehingga memerlukan
dilatasi yang lebih, yang akan mengakibatkan waktu kala I
yang lebih lama pada nullipara (Sellers, 2001).
Pada wanita multipara kala I ostium eksterna biasanya
sudah dilatasi,

karena

telah

dilewati

oleh

fetus

sebelumnya dan tidak dapat kembali ke ukuran yang aslinya.


Pembukaannya 2-3 cm lebih lebar. Serviksnya tebal, karena
kanal serviksnya belum mengalami pendataran sacara lengkap
(Sellers, 2001).