Anda di halaman 1dari 8

No. ID/ Nama Peserta : dr.

Zul Qadri Ginting


No. ID/ Nama Wahana : RSUD Sungai Dareh
Topik : Intoksikasi Jamur
Tanggal Kasus : 14 Desember 2015
Presenter : dr. Zul Qadri Ginting
Tanggal Presentasi : 22 Desember 2015
Pendamping : dr.Sujito
Tempat Presentasi : RSUD Sungai Dareh
Objektif Presentasi :
Tinjauan
Keilmuan
Keterampilan
Penyegaran
Pustaka
Diagnostik
Manajemen
Masalah
Istimewa
Bayi
Anak
Dewasa
Lansia
Bumil
Neonatus
Remaja
Deskripsi : Pasien laki-laki, 46 tahun datang dengan keluhan terdapat 2 buah
luka robek di betis kaki kanan terkena gigitan ular saat sedang bekerja di
kebun kira-kira 30 menit SMRS. Tidak terdapat perdarahan aktif di sekitar
luka. Pergerakan kaki kanan aktif. Tidak terdapat keluhan mual ataupun
muntah. Namun pasien mengeluh sedikit nyeri kepala dan lemas. Penurunan
kesadaran disangkal pasien. BAB dan BAK dbn.
Tujuan : Mendiagnosis dan menatalaksana yang tepat pada kasus Vulnus
Morsum Serpentis a/r gastrocnemius dextra.
Bahan
Tinjauan
Riset

Kasus

Audit

Bahasan
Cara

Email

Pos

Pustaka
Diskusi

Membahas
Diskusi
Data Pasien
Nama : Tn. I / 46 Tahun
Nama Wahana : RSUD Sungai Dareh
Data Utama untuk Bahan Diskusi :
Diagnosis / Gambaran Klinis :

Presentasi &

No. Registrasi :
Terdaftar Sejak : 14 -12- 2015

2 buah luka robek di betis kaki kanan. Masing-masing berdiameter kurang


lebih 0,5cm dan 0,2 cm.

Perdarahan aktif (-)

Pergerakan kaki kanan (+)

Mual dan muntah (-)

Nyeri kepala (+)

Penurunan kesadaran (-)

Lemas (+).

BAB dan BAK dbn.

Riwayat Penyakit Dahulu

Tidak ada riwayat HT, DM, Jantung, Asma, Alergi, Maag.

Riwayat Penyakit Keluarga


Tidak ada keluarga yang mengalami sakit serupa dengan pasien
Pemeriksaan Fisik

Keadaan Umum / Kesadaran : tampak sakit sedang / compos mentis

Tekanan darah : 100/70 mmHg

Frekuensi nadi : 62 x/mnt

Frekuensi nafas : 20 x/mnt

Suhu : 36,7 oC

Status lokalis a/r gastrocnemius dextra: terdapat dua buah luka robek bekas
gigitan ular. Masing masing berdiameter kurang lebih 0,5cm dan 0,3cm.
Perdarahan aktif (-), nyeri tekan (+), edema (-), hiperemis (-), pergerakan
aktif (+).

Status Generalis
o

Mata : konjungtiva anemis (-/-), skela ikterik (-/-), pupil bulat isokhor,

Hidung : pernafasan cuping hidung (-)

Jantung : BJ I II murni regular, murmur (-), gallop (-)

Paru : suara nafas vesicular (+/+), rhonki (-/-), wheezing (-/-)

Abdomen : bising usus (+) normal

Ekstremitas : Akral hangat, perfusi baik CRT < 2 , edema (-).

Pemeriksaan Penunjang
Diagnosis
Vulnus Morsum Serpentis a/r Gastrocnemius Dextra
Penatalaksanaan

O2 3-4 liter/menit

Injeksi SABU 1 ampul sesuai protap

Observasi 1 jam

Jika kondisi baik boleh pulang dengan terapi oral:


o

Amoxicillin tablet 3x1 (po)

Paracetamol tablet 3x1 (po)

Prognosis

Quo ad vitam : ad bonam

Quo ad fungsionam : ad bonam

Quo ad sanationam : ad bonam

Daftar Pustaka
1. Aziz (2006). Pengantar Ilmu Keperawatan Anak.Salemba Medika : Jakarta
Brunner and suddarth. 2002. Buku ajar keperawatan medikal bedah. Edisi 8.
Volume 1.
Jakarta : EGC
2. Cecily. L. Betz (2002). Buku Saku Keperawatan pediatrik. Edisi 3. Jakarta : ECG
3. Corwin. J. Elizabeth (2001). Buku Saku Patofisiologi. Jakarta : EGC
4. Donna L Wong (2003). Pediatrik. Edisi 4. Jakarta : EGC
5. Gallo and hudak. 1997. Pendekatan holistik jilid 1. Jakarta : EGC
......................... 1997.
6. Halloway. Brenda. 2003. Rujukan Cepat Keperawatan Klinis. EGC : Jakarta
7. EGMansjoer. Arif. 2000. Kapita selekta kedokteran. Edisi 3. Jakarta : EGC
8. Nelson (1999). Ilmu Kesehatan Anak.Edisi 14. Jakarta : EGC
9. Ngastiyah (2005). Perawatan Anak Sakit. Jakarta : EGC
10.Oman. Kathleen.2008. Panduan Keperawatan Emergensi. Jakarta : EGC
11.Purwandianto.Agus. 1979. Kedaruratan Medik Pedoman Penatalaksanaan
praktis edisi 3. PT Bina Rupa Aksara: Jakarta
12.Sumiardi. 1995. Bedah Minor. Hipocrates: Jakarta
13.Sylvia. A. 1997. Patofisiologi konsep klinis proses-proses penyakit. Jakarta :
EGC
Tambunan. 1990. Buku panduan penatalaksanaan gawat darurat. Fakultas
kedokteran universitas indonesia. Jakarta
14.Tantowo. 2007. Keperawatan medikal bedah, gangguan sistem pernafasan.
Sagung seto. Jakarta
15.Tim Training dan Tim Pengkaji Medis Internasional SOS. 2008. PPGD
(Pertolongan
Pertama Gawat Darurat) Level 2. International SOS Training Departement:
Jakarta

Hasil Pembelajaran

Menegakkan diagnosis Vulnus Morsum ec Snake Bite a/r Gastrocnemius


Dextra

Memberikan penatalaksanaan yang tepat terhadap kasus Vulnus Morsum ec


Snake Bite a/r Gastrocnemius Dextra

RANGKUMAN HASIL PEMBELAJARAN


1. SUBJEKTIF

Pasien laki-laki, 46 tahun datang dengan keluhan terdapat 2 buah luka


robek di betis kaki kanan terkena gigitan ular saat sedang bekerja di kebun
kira-kira 30 menit SMRS. Tidak terdapat perdarahan aktif di sekitar luka.
Pergerakan kaki kanan aktif. Tidak terdapat keluhan mual ataupun muntah.
Namun pasien mengeluh sedikit nyeri kepala dan lemas. Penurunan
kesadaran disangkal pasien. BAB dan BAK dbn.

2. OBJEKTIF

Keadaan Umum / Kesadaran : tampak sakit sedang / compos mentis

Tekanan darah : 100/70 mmHg

Frekuensi nadi : 62 x/mnt

Frekuensi nafas : 20 x/mnt

Suhu : 36,7 oC

Status lokalis a/r gastrocnemius dextra: terdapat dua buah luka robek bekas
gigitan ular. Masing masing berdiameter kurang lebih 0,5cm dan 0,3cm.
Perdarahan aktif (-), nyeri tekan (+), edema (-), hiperemis (-), pergerakan
aktif (+).

Status Generalis
o

Mata : konjungtiva anemis (-/-), skela ikterik (-/-), pupil bulat isokhor,

Hidung : pernafasan cuping hidung (-)

Jantung : BJ I II murni regular, murmur (-), gallop (-)

Paru : suara nafas vesicular (+/+), rhonki (-/-), wheezing (-/-)

Abdomen : bising usus (+) normal

Ekstremitas : Akral hangat, perfusi baik CRT < 2 , edema (-).

3. ASSESMENT ( Penalaran Klinis)


Definisi
Luka adalah suatu keadaan ketidaksinambungan jaringan. Vulnus
morsum serpentis adalah luka robek karena gigitan ular.

Etiologi
Gigitan ular dapat disebabkan oleh gigitan ular berbisa ataupun tidak
berbisa. Sebernarnya samapi saat ini belum ada acuan pasti untuk
menentukan apakah luka gigitan ular tersebut disebabkan oleh
gigitan ular berbisa atau tidak berbisa apabila hanya dilihat dari
bentuk dan jenis luka. Oleh kerena itu setiap pasien yang terkena
gigitan ular wajib diberi SABU.
Manifestasi klinis
Pada kasus gigtan ular tidak berbisa keluhan yang muncul biasanya
hanya berupa nyeri minimal disekitar luka.
Keluhan dan gejala tergantung pada jenis ular :
- Pada gigitan ular family elapidae keluhan dan gejala berupa
nyeri,

edema,

pitosis, sengau, kelumpuhan lidah dan faring, mual, muntah, salivasi,


hematuri, melena, kelumpuhan leher dan kelumpuhan anggota gerak
serta

pernafasan

-Gigitan ular family viperdae, keluhan dan gejalanya berupa nyeri,


ekimosis,
gagal ginjal akut, sputum bercampur darah
-Gigitan ular

hydrophydae,

keluhan dan gejala berupa nyeri,

kekakuan

otot,

nyeri pada otot sampai pada 1 jam setelah gigitan, kelumpuhan


otot,

oftalmoplegi,

disfagia, mioglobinuri (3 sampai 6 jam setelah gigitan)


Klasifikasi keracunan akibat gigitan ular berbisa:
-Derajat 0: Dengan tanda-tanda tidak keracunan, hanya ada bekas
taring dan gigitan ular,

nyeri minimal dan terdapat edema dan

eritema kurang dari 1 inci dalam 12 jam, pada umumnya gejala


sistemik yang lain tidak ada

-Derajat 1 Terjadi keracunan minimal, terdapat bekas taring dan


gigitan, terasa sangat nyeri dan edema serta eritema seluas 1-5 inci
dalam 12 jam, tidak ada gejala sistemik
-Derajat 2 Terjadi keracunan tingkat sedang terdapat bekas taring
dan gigitan,

terasa sangat nyeri

dan edema serta eritemayang

terjadi meluas antara 6-12 inci dalam 12 jam.


Kadang kadang

dijumpai

gejala

sistemik

seperti

mual,

gejalaneurotoksi, syok, pemesaran kelenjar getah beningregional


-Derajat 3Terdapat gejala keracunan yang hebat, bekas taring dan
gigitan, terasa sangat nyeri, edema dan eritema yang terjadi luasnya
lebih dari 12 inci dalam 12 jam. Juga terdapat gejala sistemik seperti
hipotensi, petekhiae, dan ekimosis serta syok
- Derajat 4 Gejala keracunan sangat berat, terdapat bekas taring
dan

gigitan

yang

multiple,

terdapat edema dan lokal pada bagian distal ekstremitas dan gejala
sistemik

berupa

gagal ginjal, koma sputum berdarah.


Penatalaksanaan
Cegah penyebaran bisa dari daerah gigitan dengan Pasang tourniquet
didaerah proksimal daerah gigitan atau pembengkakan untuk
membendung sebagian aliran limfe dan vena
- Letakkan daerah gigitan lebih rendah dari tubuh
- Boleh diberikan kompres es local
- Usahakan penderita setenang mungkin, bisa diberikan petidine 50
mg im untuk menghilangkan nyeri
Perawatan luka
-Hindari kontak luka dengan larutan asam KmnO4, yodium, atau
benda

panas

-Zat anestetik disuntikkan disekitar luka, jangan kedalam luka


bila

perlu

pengeluaran dibantu dengan penghisapan melalui breast pump


Terapi utama:

SABU 1 ampul IM sesuai protap


4. PLAN
a) Diagnosis: Vulnus Morsum Serpentis a/r Gastrocnemius Dextra
b) Penatalaksanaan :
Farmakologis

O2 3-4 liter/menit

Injeksi SABU 1 ampul sesuai protap

Observasi 1 jam

Jika kondisi baik boleh pulang dengan terapi oral:


o

Amoxicillin tablet 3x1 (po)

Paracetamol tablet 3x1 (po)

PROGNOSIS
Ad vitam

: ad bonam

Ad functionam : ad bonam

Ad Sanationam : ad bonam Pada hari ini tanggal 22 Desember

2015 telah dipresentasikan portofolio oleh :


Nama peserta : dr. Zul Qadri Ginting
Dengan judul

: Vulnus Morsum Serpentis a/r

gastrocnemius Dextra
Nama pendamping: dr. Sujito
Nama Wahana : RSUD Sungai Dareh
N
O
1
2
3
4
5
6

Nama Peserta

Tanda Tangan

1
2
3
4
5
6
Berita acara ini disampaikan sesuai dengan yang

sesungguhnya.

Sungai Dareh, 22 desember


2015
Pembimbing

(
)

dr.Sujito