Anda di halaman 1dari 15

PORTOFOLIO

VULNUS MORSUM
SERPENTIS A/R
GASTROCNEMIUS DEXTRA
DISUSUN OLEH:
DR. ZUL QODRI GINTING
PEMBIMBING:
DR. SUJITO

SUBJEKTIF
Pasien laki-laki, 46 tahun datang dengan

keluhan terdapat 2 buah luka robek di betis


kaki kanan terkena gigitan ular saat sedang
bekerja di kebun kira-kira 30 menit SMRS.
Tidak terdapat perdarahan aktif di sekitar
luka. Pergerakan kaki kanan aktif. Tidak
terdapat keluhan mual ataupun muntah.
Namun pasien mengeluh sedikit nyeri kepala
dan lemas. Penurunan kesadaran disangkal
pasien. BAB dan BAK dbn.

OBJEKTIF
Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum / Kesadaran : tampak sakit
sedang / compos mentis
Tekanan darah : 100/70 mmHg
Frekuensi nadi : 62 x/mnt
Frekuensi nafas : 20 x/mnt
Suhu : 36,7 oC

Status lokalis a/r gastrocnemius dextra: terdapat dua

buah luka robek bekas gigitan ular. Masing masing


berdiameter kurang lebih 0,5cm dan 0,3cm.
Perdarahan aktif (-), nyeri tekan (+), edema (-),
hiperemis (-), pergerakan aktif (+).
Status Generalis
Mata : konjungtiva anemis (-/-), skela ikterik (-/-), pupil

bulat isokhor,
Hidung : pernafasan cuping hidung (-)
Jantung : BJ I II murni regular, murmur (-), gallop (-)
Paru : suara nafas vesicular (+/+), rhonki (-/-), wheezing
(-/-)
Abdomen : bising usus (+) normal
Ekstremitas : Akral hangat, perfusi baik CRT < 2 , edema
(-).

DIAGNOSIS
Vulnus Morsum Serpentis a/r
Gastrocnemius Dextra

PENATALAKSANAAN
O2 3-4 liter/menit
Injeksi SABU 1 ampul sesuai protap
Observasi 1 jam
Jika kondisi baik boleh pulang dengan terapi

oral:
Amoxicillin tablet 3x1 (po)
Paracetamol tablet 3x1 (po)

PROGNOSIS
Quo ad vitam : ad bonam
Quo ad fungsionam : ad bonam
Quo ad sanationam : ad bonam

ASSESMENT

DEFINISI
Luka adalah suatu keadaan

ketidaksinambungan jaringan.
Vulnus morsum serpentis adalah luka robek
karena gigitan ular.

ETIOLOGI
Gigitan ular dapat disebabkan oleh gigitan

ular berbisa ataupun tidak berbisa.


Sebenarnya sampai saat ini belum ada acuan
pasti untuk menentukan apakah luka gigitan
ular tersebut disebabkan oleh gigitan ular
berbisa atau tidak berbisa apabila hanya
dilihat dari bentuk dan jenis luka.
Oleh kerena itu setiap pasien yang terkena
gigitan ular wajib diberi SABU.

MANIFESTASI KLINIS
Pada kasus gigtan ular tidak berbisa keluhan yang muncul

biasanya hanya berupa nyeri minimal disekitar luka.


Keluhan dan gejala tergantung pada jenis ular :

-Pada gigitan ular family elapidae keluhan dan gejala berupa


nyeri, edema,
pitosis, sengau, kelumpuhan lidah dan faring, mual, muntah, salivasi,
hematuri, melena,kelumpuhan leher dan kelumpuhan anggota
gerak serta pernafasan
-Gigitan ular family viperdae, keluhan dan gejalanya berupa nyeri,
ekimosis,
gagal ginjal akut, sputum bercampur darah
-Gigitan ular hydrophydae, keluhan dan gejala berupa nyeri,
kekakuan otot,

Klasifikasi keracunan akibat gigitan ular berbisa:

-Derajat 0: Dengan tanda-tanda tidak keracunan, hanya ada


bekas taring dan gigitan ular, nyeriminimal dan terdapat
edema dan eritema kurang dari 1 inci dalam 12
jam,padaumumnya gejala sistemik yang lain tidak ada
-Derajat 1 Terjadi keracunan minimal, terdapat bekas taring dan
gigitan, terasa sangat nyeri danedema serta eritema seluas 1-5
inci dalam 12 jam, tidak ada gejala sistemik
-Derajat 2 Terjadi keracunan tingkat sedang terdapat bekas
taring dan gigitan, terasa sangatnyeri dan edema serta
eritemayang terjadi meluas antara 6-12 inci dalam 12 jam.
Kadangkadang dijumpai gejala sistemik seperti mual,
gejalaneurotoksi, syok,pemesaran kelenjar getah
beningregional

Derajat 3 Terdapat gejala keracunan yang

hebat, bekas taring dan gigitan, terasa


sangat nyeri,edema dan eritema yang terjadi
luasnya lebih dari 12 inci dalam 12 jam. Juga
terdapatgejala sistemik seperti hipotensi,
petekhiae, dan ekimosis serta syok
Derajat4Gejala keracunan sangat berat,

terdapat bekas taring dan gigitan yang


multiple,terdapat edema dan lokal pada
bagian distal ekstremitas dan gejala sistemik
berupagagal ginjal, koma sputum berdarah.

PENETALAKSANAAN
Cegah penyebaran bisa dari daerah gigitan dengan Pasang tourniquet

didaerah proksimal daerah gigitan atau pembengkakan untuk


membendung sebagian aliran limfe dan vena
-Letakkan daerah gigitan lebih rendah dari tubuh
-Boleh diberikan kompres es local
-Usahakan penderita setenang mungkin, bisa diberikan petidine 50
mg im untukmenghilangkan nyeri
Perawatan luka

-Hindari kontak luka dengan larutan asam KmnO4, yodium, atau


benda panas
-Zat anestetik disuntikkan disekitar luka, jangan kedalam luka
bila perlupengeluaran dibantu dengan penghisapan melalui breast
pump
Terapi utama: SABU 1 ampul IM sesuai protap

DAFTAR PUSTAKA
1.

2.
3.
4.
5.

6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.

13.

Aziz (2006). Pengantar Ilmu Keperawatan Anak.Salemba Medika : Jakarta


Brunner and suddarth. 2002. Buku ajar keperawatan medikal bedah. Edisi 8.
Volume 1.
Jakarta : EGC
Cecily. L. Betz (2002). Buku Saku Keperawatan pediatrik. Edisi 3. Jakarta : ECG
Corwin. J. Elizabeth (2001). Buku Saku Patofisiologi. Jakarta : EGC
Donna L Wong (2003). Pediatrik. Edisi 4. Jakarta : EGC
Gallo and hudak. 1997. Pendekatan holistik jilid 1. Jakarta : EGC
......................... 1997. Halloway. Brenda. 2003. Rujukan Cepat Keperawatan Klinis.
EGC : Jakarta
EGMansjoer. Arif. 2000. Kapita selekta kedokteran. Edisi 3. Jakarta : EGC
Nelson (1999). Ilmu Kesehatan Anak.Edisi 14. Jakarta : EGC
Ngastiyah (2005). Perawatan Anak Sakit. Jakarta : EGC
Oman. Kathleen.2008. Panduan Keperawatan Emergensi. Jakarta : EGC
Purwandianto.Agus. 1979. Kedaruratan Medik Pedoman Penatalaksanaan praktis
edisi 3.PT Bina Rupa Aksara: Jakarta
Sumiardi. 1995. Bedah Minor. Hipocrates: Jakarta
Sylvia. A. 1997. Patofisiologi konsep klinis proses-proses penyakit. Jakarta : EGC
Tambunan. 1990. Buku panduan penatalaksanaan gawat darurat. Fakultas
kedokteranuniversitas indonesia. Jakarta
Tantowo. 2007. Keperawatan medikal bedah, gangguan sistem pernafasan.
Sagung seto.Jakarta