Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH

Hemiplegic Gait

Di susun oleh :

WISDA NOVALANDA

(1503108)

AKADEMI FISIOTERAPI WIDYA HUSADA


SEMARANG
2015/2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat,
karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang
Hemiplegic gait ini dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya. Kami berterima
kasih pada Ibu Suci Amanati selaku Dosen mata kuliah Biomekanik Akademi Fisioterapi
Widya Husada Semarang yang telah memberikan tugas ini kepada kami.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta
pengetahuan kita mengenai Hemiplegic Gait. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di
dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami
berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di
masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang
membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya.
Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang
membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang
kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun dari Anda demi
perbaikan makalah ini di waktu yang akan datang.
Hemiplegic Gait | 2

Semarang, 17 Mei 2016


Penyusun

Daftar Isi

KATA PENGANTAR.................................................................................................................................II
Daftar Isi...................................................................................................................................................III

BAB I
PENDAHULUAN.......................................................................................................................................1
1.1 Latar Belakang..................................................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah...............................................................................................................................2
1.3 Tujuan Makalah..................................................................................................................................2

BAB II
KAJIAN TEORI.........................................................................................................................................3
2.1 Perawatan Pasien Stroke.....................................................................................................................3
2.2 Hemiparase.........................................................................................................................................3
2.3 Metode Terapi.....................................................................................................................................3
Hemiplegic Gait | 3

2.4 Definisi Jalan......................................................................................................................................4


2.5 Pola berjalan.......................................................................................................................................4

BAB III
PEMBAHASAN..........................................................................................................................................5
3.1 Definisi Hemiplegia............................................................................................................................5
3.1.1 ETIOLOGI..................................................................................................................................5
3.1.2 PATOFISIOLOGI........................................................................................................................5
3.1.3 TANDA DAN GEJALA.............................................................................................................11
3.1.4 TEST DIAGNOSTIK.................................................................................................................12
3.1.5 PENATALAKSANAAN............................................................................................................12
3.2.1

Elektro Terapi........................................................................................................................13

3.2.2

Terapi Manipulasi..................................................................................................................13

3.2.3

Exercises Therapy.................................................................................................................13

3.2.4

Latihan aktivitas sehari-hari..................................................................................................13

3.2.5 Pendekatan Motor Relearning Programme.................................................................................13

BAB IV
PENUTUP..................................................................................................................................................16
4.1 Kesimpulan.......................................................................................................................................16
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................................................17

Hemiplegic Gait | 4

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Stroke secara nyata menjadi penyebab kematian dan kecacatan di seluruh dunia. Stroke juga
merupakan penyebab utama kecacatan jangka panjang, dan memiliki dampak emosional dan
sosial-ekonomi besar pada pasien, keluarga, dan layanan kesehatan (Stein, et al., 2009). Stroke
merupakan sindrom klinis akibat gangguan pembuluh darah otak, timbul mendadak dan biasanya
mengenai penderita usia 45-80 tahun. Umumnya laki-laki sedikit lebih sering terkena dari pada
perempuan. Biasanya tidak ada gejala-gejala prodroma atau gejala dini, dan muncul begitu
mendadak (Rasyid & Soerti Dewi, 2007). Penyebab stroke diakibatkan oleh trombosis, embolisme
serebral, iskhemia, dan hemoragi serebral (Smeltzer, 2002). Stroke terjadi akibat adanya gangguan
suplai darah ke otak. Ketika aliran darah ke otak terganggu, maka oksigen dan nutrisi tidak dapat
dikirim ke otak. Kondisi ini akan mengakibatkan kerusakan sel otak mati (Diwanto, 2009).
Masalah-masalah yang ditimbulkan oleh stroke bagi kehidupan manusia sangat kompleks.
Adanya gangguan-gangguan fungsi vital otak seperti gangguan koordinasi, gangguan
keseimbangan, gangguan kontrol postur, gangguan sensasi, dan gangguan refleks gerak akan
menurunkan kemampuan aktivitas fungsional individu sehari-hari. Bagaimanapun, pasien stroke
hemiplegia atau hemiparesis akan mengalami kesulitan dalam melaksanakan ADL/Activity Daily
Livings (Irfan, 2010).
Pada pasien stroke, hal-hal yang berkaitan dengan fungsi sistem sensorik dan motorik
mengalami disfungsi dan akhirnya dapat membuat ROM terbatas, tonus otot menurun, gangguan
kognitif. Menurunnya fungsi gerak pada pasien stroke akan memberikan dampak pada ADL
(Activity Daily Livings). Hal itu mengarah pada kemunduran fisik dan membuat pasien menjadi
tergantung pada orang lain baik sebagian dibantu (dependent ringan atau sedang) maupun
ketergantungan seluruhnya (dependent total atau berat). Penderita stroke sangat tergantung kepada
keluarganya dalam meningkatkan kemampuan pasien untuk mandiri, meningkatkan rasa percaya
diri pasien, meminimalkan kecacatan pada stroke. Keluarga yang merupakan tumpuan utama harus
diberi konseling atau penerangan mengenai keterbatasan serta masalah yang dialami penderita
(Hendro Susilo, 2003). Pada pasien pasca stroke pada umumnya akan terjadi kerusakan mobilitas
fisik yang berhubungan dengan keterlibatan neuromuskuler, kelemahan, parestesia, paralisis
hipotoni (awal), paralisis spastis, serta kerusakan komunikasi verbal yang meliputi kehilangan
tonus/kontrol otot fasia/oral (Suryantika, 2011).
Fisioterapi berkonsentrasi pada gerakan yang benar pada anggota gerak dan tubuh yang
bertujuan untuk menolong penderita untuk memaksimalkan kemampuannya dalam mengerjakan
tugas sehari-hari, menambah tingkat kemandirian, dan kualitas hidupnya. (R Buckman, 2010)
Hemiplegic Gait | 1

Semua upaya terapi sangat dipengaruhi oleh kondisi psikologis penderita. Seorang terapis
harus mempertimbangkan status mental penderita dalam menentukan intervensi yang akan
dilakukan. Tujuan dari fisioterapi pada penderita hemiplegi akibat stroke adalah memandirikan
pasien dengan kapasitas fisik dan kemampuan fungsional yang dimilikinya. Tingkat kemandirian
ini dicapai apabila penderita kooperatif dan mengikuti terapi sesuai dengan waktu yang
diprediksikan oleh terapis.
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana perjalanan penyakit hemiplegia ?
Metode terapi apa saja yang digunakan dalam penyembuhan penyakit hemiplegia ?
1.3 Tujuan Makalah
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Biomekanik dan
untuk mengetahui tentang penjelasan Hemiplegic Gait pada pasien stroke.

BAB II

Hemiplegic Gait | 2

KAJIAN TEORI
2.1 Perawatan Pasien Stroke
Perawatan umum klien stroke terdiri dari perawatan 6 B (Breath, blood, brain, bowel, bladder,
bone) dan perawatan fungsi luhur. Tahap rehabilitasi bertujuan mengembangkan fungsi tubuh
secara utuh serta mencapai derajat kualitas seperti sebelum sakit. Mengetahui keadaan tersebut,
maka peran perawat bekerja sama dengan tim kesehatan lain sangat dibutuhkan baik masa akut,
atau sesudahnya. Usaha yang dapat dilaksanakan mencakup pelayanan kesehatan secara
menyeluruh, mulai promotif, preventif, kuratif sampai dengan rehabilitasi (Hendro Susilo, 2003).
2.2 Hemiparase
Hemiparese adalah kelemahan separuh badan dimana lengan dan tungkai sesisi lumpuh sama
beratnya ataupun tungkai sesisi lebih lumpuh dari lengan ataupun sebaliknya (Aras, 2003).
Kelemahan otot kaki, lutut dan pinggul dapat menyebabkan terjadinya gangguan keseimbangan
dinamis yang dikarenakan oleh tubuh tidak mampu mempertahankan posisi saat adanya gaya dari
luar. Jika gangguan keseimbangan dinamis tidak ditangani dengan cepat maka pasien akan sulit
untuk melakukan aktvitas fungsionalnya. Untuk menangani ganguan tersebut dibutuhkan
penanganan terpadu yang melibatkan berbagai disiplin ilmu mulai dari penanganan medis sampai
rehabilitasi medik (fisioterapi). Berdasarkan kemampuan yang dimiliki sesuai dengan
kewenangannya, maka untuk memulihkan pasien hemiparese seharusnya segera ditangani oleh
tenaga fisioterapis (Irfan, 2010).
2.3 Metode Terapi
Dalam intervensi fisioterapi metode yang paling sering digunakan untuk meningkatkan
keseimbangan dinamis pada pasien stroke hemiparese adalah metode konvensional tetapi menurut
beberapa literature dan penelitian Motor learning programme sangat baik diperuntukan pada
pasien stroke hemiparese untuk meningkatkan keseimbangan dinamis (Janet, 2004).
Metode konvensional adalah metode yang digunakan dengan pemberian Infra Red (IR), Micro
Waif Diatermy (MWD), dan terapi latihan menggunakan Range of Motion Exercise (ROM) yang
bertujuan untuk meningkatkan kekuatan otot. MRP merupakan suatu program yang diperuntukkan
untuk memperoleh kembali kontrol motorik melalui tugastugas motorik dengan prinsip latihan
pemahaman tentang kinematika dan kinetika gerakan normal (biomekanika), kontrol dan latihan
motorik (motor control and motor learning). Tujuan dari MRP yaitu untuk mengaktivasi otot-otot
fleksid dan menginhibisi otot yang overaktif melalui tugas-tugas motorik,
metode ini memberikan bukti/fakta bahwa pendengaran (auditory) atau penglihatan (visual) dapat
merangsang kontraksi otot (khususnya biofeedback) (Janet, 2004).

Hemiplegic Gait | 3

2.4 Definisi Jalan


Jalan merupakan gerak berpindah tempat atau memindahkan tubuh dari satu titik ke titik
lainnya dengan cara melangkah menggunakan kaki secara bergantian. Gerak tubuh yang kita
lakukan dalam berjalan didominasi oleh langkah kaki, meskipun gerak tangan, dan anggota badan
lainnya juga di perlukan tetapi gerak langkah kaki sebagai gerak utama.
Pada manusia ini dilakukan dengan cara bipedal (dua kaki). Dengan cara ini jalan
merupakan gerakan yang sangat tidak stabil. Meski demikian pada orang normal jalan hanya
membutuhkan sedikit kerja otot-otot tungkai. Pada gerakan ke depan sebenarnya yang memegang
peranan penting adalah momentum dari tungkai itu sendiri atau akselerasi. Kerja otot justru lebih
banyak pada saat deselerasi.
2.5 Pola berjalan
Dalam berjalan dikenal ada 2 fase, yaitu fase menapak (stance phase) dan fase
mengayun (swing phase). Ada pula yang menambahkan satu fase lagi, yaitu fase dua kaki di
lantai (double support) yang berlangsung singkat. Fase double support ini akan semakin singkat
jika kecepatan jalan bertambah, bahkan pada berlari fase double support ini sama sekali hilang,
dan
justru
terjadi
fase
dimana
kedua
kaki
tidak
menginjak
lantai.
Fase menapak (60%) dimulai dari heel strike atau heel strike, foot flat, mid stance, heel
off dan diakhiri dengan toe off atau ball off.
Sedangkan fase mengayun (40%) dimulai dari toe off, swing dan diakhir dengan heel
strike. Perry mengklasifikasikan fase jalan ini secara fungsional, yang terbagi atas fase menapak
(initial contact, loading response, midstance, terminal stance dan preswing) dan fase mengayun
( initial swing, midswing dan terminal swing).
Beberapa istilah dalam jalan:
Cadence: jumlah langkah per menit (irama jalan)
One gait cycle: dihitung dari heel strike sampai heel strike lagi pada kaki yang sama.
Step length: jarak (panjang) antara tumit kanan dan kiri saat melangkah
Stride width: jarak (lebar) antara tengah kaki kanan dan kiri saat melangkah
Stride length: jarak (panjang) antara tumit kanan ke tumit kanan berikutnya setelah
melangkah
Komponen-komponen penting dalam berjalan
Fase menapak
Ekstensi sendi panggul (hip)
Geseran ke arah horizontal lateral pada pelvis dan badan
Fleksi lutut sekitar 15o pada awal heel strike, dilanjutkan dengan ekstensi dan fleksi
lagi sebelum toe Off
Fase mengayun
Fleksi lutut dengan awalan hip ekstensi
Pelvic tilt kearah lateral bawah pada saat toe off
Fleksi hip
Rotasi pelvis ke depan saat tungkai terayun
Ekstensi lutut dan dorsifleksi ankle dengan cepat sesaat sebelum heel strike

Hemiplegic Gait | 4

BAB III

PEMBAHASAN
3.1 Definisi Hemiplegia
Hemiplegia adalah kelumpuhan total pada lengan, kaki, dan bagasi di sisi yang sama dari
tubuh. Hemiplegia Hemiplegia lebih berat dibanding dengan hemiparesis , dimana satu setengah
tubuh telah menandai kelemahan kurang.
Ketidakmampuan untuk menggerakkan sekelompok otot di satu sisi tubuh. Ketika hemiplegia
disebabkan oleh stroke, sering melibatkan otot-otot di wajah, lengan dan kaki.kelumpuhan yang
terjadi pada satu sisi anggota gerak
Pengendapan lemak yang lama-lama menebal dan menyubat pembuluh darah kemudian
mengganggu peredaran darah ke otak. Sehingga menyebabkan kepala kekurangan suplai O2 dan
darah.Apabila seseorang mengalami demikian menyebabkan sulit berbicara, mulut merot ke sisi
atau samping, mata sulit melihat, kesulitan berfikir, hilang kesadaran dan salah satu sisi muka atau
tubuhnya mengalami kelayuan. Kondisi seperti itu jika tidak di atasi dengan baik maka pembuluh
nadi bisa pecah, darah keluar mendesak otak dan akan mengakibatkan kelumpuhan.
3.1.1 ETIOLOGI
a)

Pada bayi :
Proses kehamilan
Pengaruh forseps atau trauma persalinan yang ,enyebabkan cidera otak
b)
Pada orang dewasa
Trauma
Perdarahan,
Infeksi otak
Kanker
Stroke (hipertensi, perokok)
c)
Disebabkan oleh beberapa penyakit :
Vascular: pendarahan otak , stroke
Infektif: ensefalitis , meningitis , abses otak
Neoplastik: glioma - meningioma
Demielinasi: sclerosis disebarluaskan , lesi ke kapsul internal
Trauma: laserasi otak, hematoma subdural jarang menyebabkan hemiplegia adalah
karena suntikan bius lokal diberikan intra-arterially cepat, bukan diberikan dalam
cabang saraf.
Bawaan: cerebral palsy
Disebarluaskan: multiple sclerosis
Psikologis: Parasomnia ( nokturnal hemiplegia)
3.1.2 PATOFISIOLOGI
Secara sederhana patofisiologi penyakit hemiplegia adalah sebagai berikut :
Etiologi
Kekurangan suplai oksigen
pada otak
Hemiplegic Gait | 5

Kematian neuron
saluran kortikospinal rusak

Cidera dimanefestasikan pada


sisi berlawanan tubuh
Hemiplegi dextra / hemiplegi
sinistra

Hemiplegic Gait | 6

Hemiplegia paling banyak terjadi karena adanya rupture arteri yang memperdarahi
korteks motorik primer. Darah yang seharusnya berada di dalam arteri merembes keluar
sehingga mengurangi suplai nutrisi terutama supai oksigen, hal itu memungkinkan sel saraf
untuk mengalami kematian yang dapat menyebabkan kelumpuhan sesisi.
Selain itu, darah yang keluar dari arteri meneken sistem piramidalis yang mengganggu
impuls saraf atau perintah yang di berikan oleh girus presentralis. Tekanan darah ini
mengganggu kapsula interna sebagai tempat di bentuknya jaras kortikospinalis dan
kortikobular di daerah genu sampai krus posterior, gangguan ini juga dapat menyebabkan
lesi di daerah kapsula interna sehingga kapsula interna ini tidak dapat meneruskan perintah
yang di berikan untuk sampai di kornu anterior dorsalis untuk di teruskan ke otot yang di
tujukan demi menghasilkan gerakan yang di inginkan
Hemiplegia yang di terjadi pada batang otak sesisi dinamakan hemiplegia alternans.
Hemplegia alternans mempunyai 3 jenis yang berbeda dan mempengaruhi saraf cranial yang
berbeda pula. Jenis-jenisnya adalah sebagai berikut,
1.

Sindrom hemiplegia alternans di mesensefal


Sindrom Benedik
Sindrom Benedik merupakan akibat tersumbatnya cabang-cabang penetrasian
arteri basilaris di otak tengah. Ini digambarkan sebagai suatu kelumpuhan Nervus
III (Okulomotorius) ipsilateral yang disertai oleh tremor kontralateral (cerebelar).
Sebuah tremor berirama (ritmik) pada tangan atau kaki bagian kontralateral yang
ditingkatkan oleh adanya gerakan mendadak atau tanpa disengaja, menghilang
ketika beristirahat. Merupakan akibat dari kerusakan pada nukleus red (nukleus
ruber.pen) yang menuju keluar dari sisi yang berlawanan pada hemisfer cerebelum.
Bisa

juga

terdapat

hiperestesia

kontralateral.

Sindrom Benedik terjadi bila salah satu cabang dari rami perforantes paramedial
arteri basilaris yang tersumbat, maka infark akan ditemukan di daerah yang
mencakup 2/3 bagian lateral pedunkulus cerebri dan daerah nukleus ruber. Maka
hemiparesis alternans yang ringan sekali tidak saja disertai oleh hemiparesis ringan
Nervus III, akan tetapi dilengkapi juga dengan adanya gerakan involunter pada
lengan dan tungkai yang paretik ringan (di sisi kontralateral) itu. Sindrom Benedik
Terjadi jika lesi menduduki kawasan nukleus ruber sesisi yang ikut rusak bersamasama radiks Nervus Okulomotorius ialah neuron-neuron dan serabut-serabut yang
tergolong dalam susunan ekstrapiramidal. Maka gejala yang muncul ialah paralisis
Nervus Olulomotorius ipsilateral, ataksia dan tremor pada lengan sesisi
kontralateral.3,4Sindrom benedik merupakan lesi pada area nukleus red memotong
saraf fasikuler dari Nervus III pada saat mereka melewati otak tengah bagian
ventral, beberapa lesi menyebabkan kelumpuhan okulomotorius, dengan diskinesia

(hiperkinesia, ataksia) kontralateral dan tremor yang menetap terjadi hanya pada
lengan.
Sindrom benedik (paramedial midbrain syndrome) merupakan hasil dari
penggabungan dan pelunakan fasikuler dari satu Nervus Okulomotor pada regio
nukleus red ipsilateral. Maka pasien akan mengalami kelumpuhan N.III tipe perifer
dengan diskinesia (hiperkinesia dan ataksia) kontralateral dan tremor yang menetap
pada lengan.1,4 Sindrom Benedik adalah bila pada otak tengah tingkat kerusakan
sampai di nukleus red atau di fasikulus Nervus III akan menyebabkan kelumpuhan
pada Nervus III yang komplit atau parsial; kerusakan sampai pada nukleus red
(diluar dari sisi lain hemisfer cerebelum) juga akan menyebabkan tremor
kontralateral.2,6 Sindrom Benedik adalah sindrom neurologi paralisis Nervus III
karena trauma pada Nervus Okulomotor dan nukleus red.12
Sindrom Weber
Sindrom Weber adalah suatu sindrom yang terdiri dari paralysis okulomotor
pada sisi yang sama dengan lesi, yang mengakibatkan ptosis, strabismus, dan
hilangnya refleks cahaya serta akomodasi, juga hemiplegi spastik pada sisi yang
berlawanan dengan lesi dengan peningkatan refleks-refleks serta hilangnya refleks
superfisial. Sindrom Weber disebut juga Alternating oculomotor hemiplegia atau
Webers paralysis atau hemiparesis alternans nervus okulomotorius.
Sindrom Weber dapat disebabkan oleh hal sebagai berikut:
1. Penyumbatan pembuluh darah cabang samping yang berinduk pada
ramus perforantes medialis arteria basilaris.
2. Insufisiensi peredarah darah yang mengakibatkan lesi pada batang otak.
3. Lesi yang disebabkan oleh proses neoplasmatik sebagai akibat invasi dari
thalamus atau serebelum. Lesi neoplasmatik sukar sekali memperlihatkan
keseragaman oleh karena prosesnya berupa pinealoma, glioblastoma dan
spongioblastoma dari serebelum.
4. Lesi yang merusak bagian medial pedunkulus serebri.
5. Stroke (perdarahan atau infark) di pedunkulus serebri.
6. Hematoma epiduralis.
7. Tumor lobus temporalis. (1,3,4)
Manifestasi yang ditimbulkan dapat dengan mudah dimengerti oleh karena setiap
gejala dan tanda mencerminkan disfungsi sistema sarafi yang terlibat alam lesi
tertentu. Lesi yang disebabkan oleh proses neoplasmatik dapat merusak bangunanbangunan mesensefalon sebagai akibat invasi dari thalamus atau serebelum. Oleh
karena proses tersebut berupa pinealoma, glioblastoma dan spongioblastoma dari

serebelum, maka tiap corakan kerusakan dapat terjadi, sehingga lesi neoplasmatik
sukar sekali memperlihatkan suatu keseragaman. Lesi unilateral di mesensefalon
mengakibatkan

timbulnya

hemiparesis

atau

hemiparesis

kontralateral

Lesi yang merusak bagian medial pedunkulus serebri akan menimbulkan


hemiparsis yang disertai paresis nervus okulomotorius ipsilateral. Kombinasi kedua
jenis kelumpuhan ini dikenal dengan nama hemiparesis alternans nervus
okulomotorius atau Sindroma dari weber. Lesi pada daerah fasikulus longitudinalis
medialis

akan

mengakibatkan

timbulnya

hemiparesis

alternans

nervus

okulomotorius yang diiringi juga dengan gejala yang dinamakan oftalmoplegia


interneklearis.
2.

Sindrom hemplegia alternans di pons


Sindroma Foville adalah suatu sindroma yang ditandai dengan defisit gerakan
abduksi, horizontal gaze dan kelemahan fasialis, kehilangan pengecapan,
analgesia fasialis, horner sindroma, ketulian ipsilateral.
Sindroma Raymond adalah suatu kombinasi parese N.VI dengan hemiplegi
kontralateral, sebagai akibat keterlibatan traktus piramidalis yang berdekatan
dengan N.VI.
Sindroma

Millard-Gubler

adalah

kombinasi

defisit

abduksi

hemiplegi

kontralateral, parese fasialis ipsilateral. Struktur yang dikenal adalah fasikulus


N.VI, piramidalis dan fasikulus N.VI.
3.

Sindrom hemiplegia alternans di medulla spinalis


Stroke terjadi di medula dan cerebellum. Medula mengontrol fungsi-fungsi
penting seperti menelan, artikulasi bicara, rasa, bernaas, kekuatan, dan sensasi.
Cerebellum penting untuk koordinasi. Suplai darah ke daerah-daerah ini adalah
melalui sepasang arteri vertebralis dan cabang, yang disebut arteri cerebellum
posterior inferior (Pica).
Awalnya, Pica dianggap sebagai arteri utama yang diblokir, namun hal ini
telah dibuktikan dari studi otopsi. Dalam delapan dari 10 kasus, arteri
vertebralislah yang tersumbat akibat penumpukan plak atau karena perjalanan
dari bekuan yang berasal dari jantung. Pada pasien yang lebih muda, diseksi
arteri vertebralis menyebabkan infark. Luas stroke hanya sekitar 0,39 dalam (1
cm) secara vertikal di bagian lateral medula dan tidak melintasi garis tengah.
Sepenuhnya 50% dari pasien melaporkan gejala-gejala neurologis sementara
selama beberapa minggu sebelumnya stroke. Selama 48 jam pertama setelah
stroke,

defisit

neurologis

berfluktuasi Pusing, vertigo, nyeri wajah,.penglihatan

berlangsung
ganda ,

dan

dan
kesulitan

berjalan adalah gejala awal yang paling umum.Rasa sakit wajah bisa sangat aneh

dengan jabs tajam atau sengatan sekitar mata, telinga, dan dahi. Pasien merasa
"mabuk laut" atau "off-balance" dengan mual dan muntah. Objek yang tampil
ganda, miring, atau bergoyang. Seiring dengan ketidakseimbangan gaya berjalan,
menjadi hampir mustahil bagi pasien untuk berjalan meskipun kekuatan otot yang
baik. Gejala lain termasuk suara serak, bicara cadel, hilangnya rasa, kesulitan
menelan, cegukan, dan sensasi diubah pada tungkai sisi yang berlawanan.
Mata pada sisi yang terkena memiliki kelopak mata sayu dan seorang murid
kecil.Para

goncang

mata

ketika

orang

bergerak

di

sekitar,

ini

disebut nistagmus . Ada penurunan rasa sakit dan persepsi suhu pada sisi yang
sama dari wajah. Anggota tubuh pada sisi yang berlawanan menunjukkan
penurunan persepsi sensorik .Gerakan sukarela dari lengan pada sisi yang terkena
yang canggung. Kiprah adalah "mabuk," dan pasien kesukaran dan mengarah ke
satu sisi.
Hemiplegi termasuk paralysis pada bagian sebelah tubuh dan menimbulkan
efek pada arm, leg, dan trunk. Yang paling utama yaitu pada limb dan trunk
dilihat dari posisi dan luas lesi, dan wajah yang terkena.
Hemiplegi adalah suatu keadaan spastik/flaccid paralysis lengan dan tungkai
separuh badan akibat gangguan kontralateral fungsi otak. Keadaan yang lebih
ringan dari penyakit ini disebut hemipharesis.
Penyebabnya antara lain:
1.

CVD = emboli, trombus, macam-macam tumor dan infeksi

2. CVA = trsums / perdarahan intracerebral dan subarachnoid sangat erat


kaitannya dengan faktor resiko seperti hipertensi , kolesterol, pola hidup
stress, diabetes dan kegemukan.
Proses patologi diawali oleh gangguan sirkulasi darah seperti perdarahan di
otak di daerah sirkulasi willici. Tempat-tempat yang sering mengalami
gangguan : capsula interna, corpus striatum, dan thalamus.
Hemiplegia umumnya terjadi pada usia >40 tahun, karena kualitas pembuluh
darah mulai menurun (degenerasi) bersamaan dengan pertambahan usia, dalam
hal ini tekanan intravusal cenderung meninggi sehingga pembuluh darah di otak
suatu saat pecah menyebabkan hemiplegia.
Pada penyumbatan peredaran darah di batang otak (pons) menyebabkan
kelumpuhan sekitar wajah sisi homolateral serta lengan dan tungkai sisi
kontralateral.
Berdasarkan tempat kerusakan, hemiplegia terbagi menjadi 3 jenis :
1.

Hemiplegi akibat hemilesi di cortex mototrik primer

2.

Hemiplegi akibat hemilesi di capsula interna

3. Hemiplegi Alternans akibat hemilesi di batang otak, dapat terjadi di


mesencephalon, Pons.
Pada penderita hemiplegi, reflex yang diperiksa adalah reflex patologi dan
fisiologi, seperti : refleks babinsky.
Posisi umum penderita hemiplegi:
1.
2.

Kepala penderita fleksi dan rotasi ke arah yg sakit. dan wajah miring ke
sisi yang sakit.
Lengan: scapula retraksi dan shoulder girdle depresi, shoulder tertarik ke
arah belakang dan bawah, elbow fleksi serta pronasi dari lengan bawah,
wrist joint fleksi serta ulnar deviasi, jari-jari fleksi dan adduksi, thumb

3.
4.

fleksi dan adduksi.


Vertebra : trunk berotasi ke belakang le sisi yang sakit disertai dengan
side fleksi ke arah yg sakit.
Pelvic rotasi ke arah belakang ke sisi hemiplegi, jika terjadi kompressi
saat
berjalan yang mengganggu tubuh yang sehat dapat menimbulkan

5.

skoliosis.
Tungkai: hip adduksi dan internal rotasi, knee ekstensi, kaki plantar dan
inversi, jari-jari kaki fleksi dan adduksi (kadang-kadang ekstensi yang
membuat suatu gejala babinskys sign positif).

Stadim hemiplegi terdiri dari 3 tingkatan, yaitu:


1.

Stadium akut

Gejala ditandai dengan hilangnya kesadaran secara tiba-tiba atau apoflasic


yang diawali dengan sakit kepala, pusing tapi kadang-kadang tidak disertai
kelelahan, nafas bersuara berat karena saluran nafas terhalang oleh lidah
yang paralysis. Semua refleks hilang dan bola mata berputar ke arah sisi
yang rusak. Wkatunya 2-3 minggu (lumpuh total).
2.

Stadium recovery/flaccid :
Gejalanya nadi cepat, penderita sadar, tidak dapat tidur, suhu tubuh naik,
mudah terkejut, sistem reflex mulai ada sedikit, otot yang terkena flaccid
dalam waktu 2-3 minggu akan kembali utamanya pada lengan dan jari-jari.
Di dalam tubuh ada 2 otot yang paling berfungsi pada penderita hemiplegi
yaitu M.latissimus dorsi dan M.gluteus maximus.

3.

Stadium residual spastik :


Otot dan refleks pada stadium residual spastik mulai kembali. Refleks
kembali akan tetapi hyperrefleks, kemudian akan timbul ankle clonus dan
babinskys sign. Perasaan penderita tidak stabil, selalu khawatir akan jatuh,
pada saat berjalan tubuh yang sehat akan menyangga berat badan sehingga
akan terjadi imbalance muscles. Cara berjalannya condong ke arah sisi

yang sehat dan pada saat berjalan tungkainya membentuk pola setengah
lingkaran karena bantuan dari M.latissimus dorsi dan M. gluteus maximus
yang berfungsi mengangkat pelvic dan mengekstensikan hip joint.
Apoxia sensorik dan motorik terjadi gangguan bicara karena terkenanya
area broca atau area-44 yang terletak di samping kanan. Sensasi mengalami
gangguan terutama rasa kinestetik.
Komplikasi yang dapat terjadi antara lain : statik pneumonia chest terjadi
karena immobilisasi misx slama 2-3 minggu, kontraktur, frozen shoulder,
drop foot, scoliosis, drop hand, atropi otot, gangguan psikis, decubitus, dan
gangguan perkemihan.
3.1.3 TANDA DAN GEJALA
Hemiplegia berarti kelemahan parah dari anggota badan pada satu sisi tubuh tetapi fitur
tertentu dapat sangat bervariasi dari orang ke orang. Masalah bisa meliputi:
Kesulitan dengan kiprah pola gerakan dari anggota badan hewan,
termasuk manusia , selama gerak atas substrat padat
Kesulitan dengan saldo sambil berdiri atau berjalan
Memiliki kesulitan dengan motor kegiatan seperti memegang, menggenggam atau
menjepit
Peningkatan kekakuan otot
Otot kejang
Kesulitan berbicara (afasia)
Kesulitan menelan makanan
Keterlambatan yang signifikan dalam mencapai tahap perkembangan seperti berdiri,
tersenyum, merangkak atau berbicara
anak yang menderita hemiplegia juga memiliki perkembangan mental yang abnormal
Perilaku masalah seperti kecemasan, kemarahan, lekas marah, kurang konsentrasi
atau pemahaman
Emosi-depresi
Mati rasa
Perasaan kesemutan
Nyeri
Perubahan penglihatan
Masalah keseimbangan
Gangguan metabolisme
3.1.4 TEST DIAGNOSTIK
Pemeriksaan klinis untuk mengidentifikasi ketidaknormalan tonus, seringnya terjadi
hipotonik yang diikuti dengan hipertonik, ketidaknormalan postur dan keterlambatan
perkembangan motorik.
Ultrasonografi kranial untuk mendeteksi hemoragi dan iskemik hipoksik.
CT scan untuk mendeteksi lesi-lesi susunan saraf pusat
Tomografi emisi positron dan tomografi terkomputerisasi emisi foton tunggal untuk
melihat metabolisme dan perfusi otak.

MRI untuk mendeteksi lesi-lesi kecil.


3.1.5 PENATALAKSANAAN
1. Pengobatan harus didasarkan pada penilaian oleh para profesional kesehatan yang
relevan, termasuk :
Obat dapat digunakan untuk mengobati masalah-masalah yang berkaitan dengan
tubuh. Obat seperti Librium atau Valium dapat digunakan sebagai suatu relaksan.
Obat-obatan juga diberikan kepada individu yang mengalami kejang berulang,

yang mungkin menjadi masalah tersendiri tetapi terkait setelah cedera otak .
Pembedahan mungkin digunakan jika individu mengembangkan masalah
sekunder contracture , dari ketidakseimbangan parah aktivitas otot. Dalam kasus
seperti ini, ahli bedah dapat memotong ligamen dan meringankan kontraktur
sendi. Individu yang tidak mampu menelan mungkin memiliki tabung dimasukkan
ke dalam perut. Hal ini memungkinkan makanan yang akan diberikan langsung ke
dalam perut. Makanan dalam bentuk cair dan ditanamkan pada tingkat rendah.
Beberapa individu dengan hemiplegia akan mendapatkan keuntungan dari
beberapa jenis prostetik perangkat.. Ada banyak jenis kawat gigi, dan splints
tersedia untuk menstabilkan sendi, membantu dengan berjalan dan menjaga tubuh

bagian atas tegak.


Rehabilitasi adalah pengobatan utama dari individu dengan hemiplegia. Dalam
semua kasus, tujuan utama dari rehabilitasi adalah untuk mendapatkan kembali
fungsi maksimum dan kualitas hidup. Baik fisik dan terapi okupasi secara
signifikan dapat meningkatkan kualitas hidup. Terapi fisik dapat membantu
meningkatkan kekuatan otot, mobilitas seperti berdiri dan berjalan, dan fungsi fisik
lainnya. terapi Kerja dapat membantu individu kereta kegiatan hidup sehari-hari
seperti menyikat gigi, menyisir rambut atau dressing.

3.1.6 KOMPLIKASI
sulit berbicara
mulut merot ke sisi atau samping
mata sulit melihat, kesulitan berfikir
hilang kesadaran
salah satu sisi muka atau tubuhnya mengalami kelayuan.
pembuluh nadi bisa pecah darah keluar mendesak otak dan akan mengakibatkan
kelumpuhan.
3.2 Metode Fisioterapi yang dilakukan dalam

3.2.1

Elektro Terapi

Elektro terapi yang digunakan pada kondisi ini adalah Continuous Electro
Magnetic 27 MHz (CEM). Merupakan arus AC dengan frekuensi terapi 27 MHz
yang memproduksi energi elektromagnetik dengan panjang gelombang 11,6
meter, di gunakan untuk menimbulkan berbagai efek terapeutik melalui suatu
proses tertentu dalam jaringan tubuh. Arus CEM ini menghasilkan energi
internal kinetika di dalam jaringan tubuh sehingga timbul panas; energi ini akan
menimbulkan pengaruh biofisika tubuh misalnya pada thermosensor lokal
maupun sentral (kulit dan hipotalamus) dan juga terhadap struktur persendian.
Tujuan yang diharapkan dan arus CEM ini adalah menurunkan aktifitas noxe
sehingga nyeri berkurang, meningkatkan elastisitas aringan dan sebagai
pendahuluan sebelum exercises.

3.2.2

Terapi Manipulasi

Terapi manipulasi yang diberikan adalah gerakan roll dan slide pada gerakangerakan sendi bahu yang mengalami keterbatasan. Tujuan metode ini adalah
membebaskan perlengketan pada permukaan sendi, sehingga jarak gerak sendi
akan bertambah. Dasar teknik ini adalah memperhatikan bentuk kedua
permukaan sendi dan mengikuti aturan Hukum Konkaf dan Konveks suatu
persendian.
3.2.3

Exercises Therapy

Exercises therapy yang diberikan pada kondisi tersebut adalah latihan


Resistance Exercises dan Metode Proprioceptive Neuromuscular Facilitation
(PNF) yang bertujuan meningkatkan kekuatan otot daerah bahu baik manual
maupun dengan menggunakan beban. Selain itu juga dapat diberikan
latihan dengan teknik Hold Relax yang bertujuan untuk mengulur otot -otot
yang memendek pada daerah bahu.
Latihan tersebut sebaiknya dilaksanakan setelah penderita mendapatkan
modalitas elektro terapi.
3.2.4

Latihan aktivitas sehari-hari

Bentuk aktivitas yang bermanfaat bagi penderita frozen shoulder adalah


menyisir rambut, mengambil sesuatu yang tinggi, mengambil dompet, memutar
lengan, dan mengangkat beban yang kecil-kecil.
3.2.5 Pendekatan Motor Relearning Programme pada gangguan jalan pasca stroke

Langkah 1 Analisa jalan

Problem utama jalan pada pasien stroke

o
o
o
o
o

Fase menapak tungkai sisi sakit


Terbatasnya ekstensi hip dan dorsifleksi ankle
Terbatasnya kontrol fleksi-ekstensi lutut pada lingkup gerak sendi 0-15 (dapat
berupa hiperekstensi lutut atau fleksi lutut yang berlebihan)
Terlalu besarnya (atau terbatasnya) geseran horizontal lateral pelvis
Terbatasnya plantarfleksi ankle saat toe off
Terlalu besarnya gerakan pada sisi sehat berupa pelvis tilt kearah bawah dan
geseran horizontal lateral kearah sisi sakit.
Fase mengayun tungkai sisi sakit
Terbatasnya fleksi lutut saat mau mengayun (toe off)
Terbatasnya fleksi hip
Terbatasnya ekstensi lutut dan dorsifleksi ankle saat heel strike
Menurut Knuttson dan Richards, 1979, ada 3 tipe jalan penderita hemiplegia,
yaitu:
Type I
Hiperaktif stretch reflex
Gangguan jalan sedang
Hiperekstensi lutut saat fase menapak
Mampu berjalan cukup jau
Type II
Sangat minim aktivasi kontrol motorik
Hiperekstensi lutut yang ekstrim
Terbatasnya fleksi lutut
Tidak adanya aktivitas otot calf dan tibialis anterior
Kemampuan jalannya bervariasi
Kebanyakan memerlukan splint
Type III
Sangat berlebihan (ngoyo), stereo type
Disorganisasi pada fase menapak dan mengayun
Adaptasi jalan sekunder:
Berkurangya amplitudo gerakan
Berkurangnya dan atau tidak seimbangnya step length dan stride length
Bertambahnya stride width
Berkurangnya kecepatan atau meningkatnya waktu tempuh
Meningkatnya pemanfaatan lengan sebagai support dan keseimbangan
(misalnya memakai alat bantu)
Langkah 2 Latihan komponen yang hilang

1. Fase menapak
a. Melatih ekstensi hip selama fase menapak
b. Melatih kontrol lutut untuk fase manapak
c. Melatih geseran ke arah horizontal-lateral pelvis
2. Fase mengayun
a. Melatih fleksi lutut pada awal fase mengayun
b. Melatih ekstensi lutut dan dorsifleksi kaki pada saat heel strike

Langkah 3 Latihan jalan


1. latihan jalan itu sendiri
2. Meningkatkan kompleksitas latihan
Langkah 4 Mentransfer latihan ke kehidupan sehari-hari
Pasien diberikan motivasi untuk banyak berjalan dn melaksanakan aktivitas
kehidupan sehari-harinya. Meski demikian pemakaian alat bantu jalan tidak
dianjurkan.

BAB IV

PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Hemiplegia adalah kelainan paling sering yang terjadi setelah stroke dan berperan
signifikan dalam mengurangi kemampuan pola jalan. Walaupun mayoritas pasien stroke dapat
berjalan secara independen namun banyak yang tidak dapat mencapai level berjalan yang mampu
membuat mereka menjalani aktivitas sehari-hari. Pemulihan pola berjalan adalah tujuan utama
program rehabilitasi pasien stroke. Oleh karena itu, pola berjalan hemiplegik telah menjadi objek
penelitian

untuk

perkembangan

metode

analisis

gait

dan

rehabilitasi

pasien

stroke

selama bertahun-tahun.
Gangguan pola berjalan setelah stroke disebabkan karena kerusakan otak akibat
pecahnya pembuluh darah otak. Jika kerusakannya mengenai bagian otak yang mengatur fungsi
motorik atau sensasi di salah satu atau kedua tungkai maka akan mempengaruhi kemampuan
berjalan pasien. Penyebab lainnya adalah atrofi. Otot kehilangan kekuatan dan tonus jika tidak
digunakan dalam jangka waktu yang lama. Penyebab ketiga gangguan pola jalan pasien stroke
adalah

keseimbangan.

Kehilangan

sensasi

pada

tungkai

serta

yang mengatur keseimbangan dapat menganggu keseimbangan pasien.

rusaknya

bagian

otak

DAFTAR PUSTAKA
https://materipenjasorkes.blogspot.co.id/2014/10/pengertian-perbedaan-jalan-dan-lari.html
http://dokumen.tips/documents/pola-jalan-pasien-stroke.html
http://dewiakfis.blogspot.co.id/2014/06/hemiplegia.html
http://gabriel-tumiwan.blogspot.co.id/2011/10/hemiplegia.html
http://zahstraces.blogspot.co.id/2012/03/hemiplegia.html
http://eprints.umpo.ac.id/874/2/BAB%201.pdf
http://repository.unhas.ac.id:4001/digilib/files/disk1/179/--joshuachri-8946-1-11-joshu-a.pdf
https://wisuda.unud.ac.id/pdf/1302315014-2-BAB%20I.pdf
http://digilib.esaunggul.ac.id/public/UEU-Journal-3891-Irfan.pdf