Anda di halaman 1dari 23

Kelompok 1 | TL-4201 Analisis Mengenai Dampak

|
BANDUNG Lingkungan
MEDICAL
WASTE TREATMENT
CENTER

RENCANA KEGIATAN PENGOLAHAN LIMBAH B3 MEDIS DI KOTA


BANDUNG

Hadi Prabowo (15311032)


Dhimas Dwinandha (15312005)
Sandy Indriana (15312047)
Kridiona Lofty Alimin (15312049)
Sendi Aryadi (15312051)
Swietenia Puspa Lestari (15312059)
Zulfi Nadhia Cahyani (15312067)
Floriana Ayumurti (15312073)

PENDAHULUAN
Latar belakang
Rumah sakit merupakan institusi pelayanan kesehatan dengan inti kegiatan pelayanan
preventif, kuratif, rehabilitatif dan promotif. Kegiatan tersebut akan menimbulkan
dampak positif dan negatif. Dampak positif adalah meningkatnya derajat kesehatan
masyarakat, sedangkan dampak negatifnya antara lain adalah sampah dan limbah medis
maupun non medis yang dapat menimbulkan penyakit dan pencemaran yang perlu

perhatian khusus. Sampah atau limbah rumah sakit dapat mengandung bahaya karena
dapat bersifat racun, infeksius dan juga radioaktif. Oleh karena itu, limbah medis yang
dihasilkan dari rumah sakit digolongkan juga menjadi limbah berbahaya dan beracun
(B3)
Pengelolaan limbah medis sangat penting untuk dilakukan karena berkaitan erat dengan
potensi

bahayaterhadap lingkungan

dan

risiko terhadap kesehatan

manusia. Kota Bandung memiliki 41 rumah sakit dengan timbulan limbah medis sebesar
579,6

kg/hari.

Berdasarkan

hasil

survey,

aplikasi pengelolaan

limbah medis

di Kota Bandung masih bermasalah, baik pada saat pemilahan di sumber, pengangkutan,
penyimpanan sementara di TPS limbah medis, maupun pada saat pengolahan dilakukan.
Selain itu, belum terpadunya pengolahan limbah B3 medis menyebabkan adanya
pelanggaran pembuangan limbah B3 medis ke TPA.
Pada tahap pengolahan ataupun pemusnahan (disposal), salah satu alternatif yang dapat
dilakukan untuk menangani permasalahan limbah medis di Kota Bandung adalah dengan
mengintegrasikan pengolahan limbah medis dengan menggunakan instalasi pengolahan
limbah medis dengan proses insinerasi. Dengan adanya pusat pengolahan limbah medis
tersebut, maka dapat mengontrol pembuangan dan pengolahan limbah B3 medis sesuai
dengan ketentuan yang berlaku.
Perencanaan instalasi pengolahan limbah medis secara terpusat tersebut diberi nama,
Bandung Medical Waste Treatment Center (BMWTC). Instalasi pengolahan limbah
medis terpusat tersebut direncanakan akan melayani rumah sakit yang tidak memiliki
fasilitas pengolahan limbah medis sendiri. Pengolahan limbah yang dilakukan oleh
BMWTC terhadap limbah medis yang diterima, berupa pemusnahan dan pemanfaatan.
Pemusnahan yang dilakukan melalui proses sterilisasi dengan perangkat autoclave yang
disertai dengan insinerasi, sedangkan pemanfaatan yang dilakukan berupa solidifikasi
dari abu (ash) dari hasil pembakaran limbah medis dari proses insinerasi. Semua
pengolahan limbah medis dilaksanakan mengacu sesuai dengan peraturan berlaku dan
pengolahan ramah lingkungan, sesuai KepBapedal No. 3 tahun 1995 dan PP no. 101
tahun 2014 tentang pengelolaan limbah B3.

PAGE 1

Diharapkan dengan adanya pengolahan limbah medis yang tergolong limbah B3 dapat
diolah dengan baik tanpa adanya dampak buruk terhadap masyarakat dan lingkungan
hidup. Selain itu, diharapkan dapat menciptakan pula pengelolaan medis rumah sakit
yang terorganisir sehingga dapat meningkatkan pelayanan terhadap pasien rumah sakit
dan masyarakat umum baik terhadap kenyamanan maupun kesehatan lingkungan.
Deskripsi Kegiatan
Lokasi Bandung Medical Waste Treatment Center (BMWTC) berada di Kelurahan
Rancanumpang, Kecamatan Gedebage, tepatnynya di Jalan Cimencrang. Bandung
Medical Waste Treatment Center (BMWTC) akan didirikan di atas tanah seluas 10 ha.
Bagian utara dibatasi oleh Jalan Soekarno Hatta, bagian selatan dibatasi oleh Jalan Tol
Padaleunyi, bagian barat dibatasi oleh Jalan Gedebage, dan bagian timur dibatasi oleh
Jalan Cimencrang. Akses masuk proyek bisa melewati jalan arteri yaitu Jalan Soekarno
Hatta kemudian dilanjutkan masuk menuju Jalan Cimencrang. Lokasi proyek ditunjukkan
pada Gambar 1.

PAGE 2

Gambar 1. Peta lokasi kegiatan BMWTC


(Sumber: Google maps, 2016)

Kegiatan ini merupakan proyek sentralisasi pengelolaan limbah B3 medis rumah sakit di
kawasan Kota Bandung. Gedebage menjadi pertimbangan lokasi pembangunan terminal
karena wilayahnya baru sebesar 41,74% yang digunakan untuk pembangunan. Adapun
lingkupan fasilitas pengolahan limbah medis BMWTC ini berupa limbah padat dan
limbah cair medis yang dihasilkan dari seluruh rumah sakit-rumah sakit yang tidak

PAGE 3

memiliki pengolahan limbah medsinya sendiri yang berlokasi di Kota Bandung dan
sekitarnya.
Teknologi yang digunakan
Banyakanya jumlah rumah sakit yang ada di Kota Bandung yang tidak memiliki instalasi
pengolahan limbah B3 medis sendiri, mendrong pembangunan proyek BMWTC ini.
Limbah yaag diterima oleh BMWTC dapat berupa limbah padat maupun limbah cair
medis yang dihasilkan rumah sakt untuk selanjutnya dilakukan pengolahanny ayang
berupa:
-

Proses sterilisasi
Proses sterilisasi limbah medis dilakukan dengan tujuan untuk mencegah
penyebaran dampak negatid pada kesehatan yang bisa ditimbulkan oleh limbah

medis.
Proses pemusnahan (disposal)
Digunakan pengolahan pembakaran berupa proses insinerasi dengan suhu diatas
850 derajat celcius, untuk menghilangkan potensi bahaya limbah menjadi residu

berupa ash.
Proses pemanfaatan
Dipilih pemanfaatan berupa solidifikasi terhadap limbah yang dihasilkan oleh
insinerator untuk kebutuhan lain yang memiliki manfaat lain tanpa memperburuk

kualitas lingkungan.
Proses pengendalian
Dibutuhkan instalasi pengendalian terhadap dampak polusi udara yang bisa
ditimbulkan dari penggunaan insinerasi, yaitu emisi gas ataupun partikulat dengan
instalasi APC (Air Pollution Control) pada instalsi insinerator.

Berikut merupakan gambar denah proyek pembangunan Bandung Medical Waste


Treatment Center (BMWTC) yang siap untuk dikembangkan dan di-detaikan dengan
DED (Detailed Engineering Design) pada tahapan pra-konstruksi proyek ini.

PAGE 4

Gambar 2. Denah lokasi kegiatan BMWTC


(Sumber: Penyusun)

Lokasi kegiatan
Daerah atau lokasi kegiatan yang dipilih untuk dijadikan lokasi pembangunan BMWTC
sebagai pengolah limbah medis B3 terdapat di Jalan Cimencrang, Kelurahan
Rancanumang, Kecamatan Gedebage. Dimana pada lokasi ini merupakan lahan yang
sedang dimanfaatkan sebagai persawahan dan di sekitarnya masih sedikit permukiman.
Lokasi nya cukup mudah diakses muali dari jalan arteri (Jalan Soekarno Hatta) maupun
jalan tol Purbaleunyi. Selain itu pula kondisi jalan menuju lokasi masih sangat baik yang
sudah di-betonisasi yang dapat meningkatkan kelancaran dan kenyamanan dalam
pengangkutan atau transfer limbah medis dari sumbernya (rumah sakit) menuju
BMWTC.
Alasan pemilihan lokasi
Pemilihan lokasi proyek BMWTC di daerah Gedebage tepatnya di Jalan Cimencrang,
didasari bahwa kawasan Gedebage merupakan kwasan yang sedang dikembangkan
dengan masih banyaknya area kosong, dimana baru sebesar 41,74% yang digunakan
untuk pembangunan. Selain itu, area atau lokasi proyek pembangunan BMWTC sebagai

PAGE 5

pengelola limbah medis B3 didasarkan oleh persyaratan umum dan khusus. Dimana
persyaratan umum untuk pembangunan suatu proyek instalasi pengolah limbah B3 yaitu:

Daerah bebas banjir

Tidak terlalu padat akan permukiman

Jalur transportasi (mobil/truk) mudah

Luas area sepadan

Selain dari persyaratan umum pembangunan pengelola limbah B3 tersebut, perlu


diperhatikan terhadap persyaratan khusus yang berdasarkan Keputusan Kepala Bapdeal
No. 3 Tahun 1995 tentang persyaratan lokasi pengelola limbah B3 di luar penghasil yaitu
sebagai berikut:
a. Merupakan daerah bebas banjir;
b. Pada jarak paling dekat 150 meter dari jalan utama/jalan tol dan 50 meter untuk
jalan lainnya;
c. Pada jarak paling dekat 300 meter dari daerah pemukiman, perdagangan, rumah
sakit, pelayanan kesehatan atau kegiatan sosial, hotel, restoran, fasilitas
keagamaan dan pendidikan;
d. Pada jarak paling dekat 300 meter dari garis pasang naik laut, sungai, daerah
pasang surut, kolam, danau, rawa, mata air dan sumur penduduk;
e. Pada jarak paling dekat 300 meter dari daerah yang dilindungi (cagar alam, hutan
lindung dan lain-lainnya).
Urgensi
Pengelolaan limbah medis sangat berbeda dengan pengelolaan limbah industri
atau rumah tangga. Dikarenakan limbah medis memerlukan perlakuan khusus mengingat
limbah yang diolah adalah limbah rumah sakit yang cukup berbahaya seperti jaringan

PAGE 6

tubuh, alat kesehatan bekas pakai, sisa laboratorium, limbah farmasi obat kadaluarsa,
narkotika, racun, limbah kedokteran hewan, serta obat ilegal.
Namun di Kota Bandung sendiri, pada tahun 2013 dilaporkan BPLHD sebanyak
40 rumah sakit (RS) dari 50 yang ada di Kota Bandung belum memiliki tempat
penyimpanan sementara (TPS) Limbah B3 dan 22 di antaranya membuang langsung ke
parit dengan alasan mahalnya biaya pengelolaan.

Berdasarkan hasil pemeriksaan

terhadap sampel air limbah pada 30 rumah sakit di Kota Bandung pada 2008 pula
menyatakan 8,60 persen tidak memenuhi syarat secara fisika, 27,5 persen tidak
memenuhi syarat parameter amoniak, 15,5 persen tidak memenuhi syarat parameter
BOD, 17,24 persen tidak mem enuhi parameter COD dan 8,62 persen tidak memenuhi
syarat secara bakteriologi. Fakta mencengangkan lainnya bahwa penelitian yang
diterbitkan oleh media menyatakan hingga Agustus 2015, Institusi kesehatan (kini terdata
sebanyak 41 buah RS) yang menghasilkan limbah medis hanya terlayani 50% saja
pengelolaan limbah medis yang sesuai dengan standar dan Perda K3. Maka sangat
dibutuhkannya pengelolaan limbah B3 yang kompeten, bertanggung jawab dan
terintegrasi dengan sistem yang dapat memudahkan dan melayani seluruh institusi medis
di Kota Bandung sebanyak 100% agar tidak terjadi lagi kasus pengelolaan limbah medis
RS yang tidak bertanggung jawab di Kota Bandung.
Pengelolaan Limbah B3 BMWTC
Berdasarkan urgensi tersebut maka Perusahaan kami, Pengelolaan limbah B3 di
BMWTC memutuskan untuk merancang Perusahaan pengelolaan limbah B3 medis yang
dapat melayani seluruh 41 RS yang ada di Kota Bandung. Limbah B3 medis yang kami
layani adalah limbah medis jenis cair maupun padat yang akan diproses dengan
insenerator. Hal ini bertujuan untuk dapat bertanggung jawab dan mengolah seluruh
limbah B3 medis yang ada di Kota Bandung.

Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah

kawasan perusahaan yang memenuhi kriteria agar proses pengolahan dapat berjalan
dengan maksimal dan dampak negatif terhadap lingkungan menjadi seminimum
mungkin.

Kami

memutuskan

untuk

membangun

Perusahaan

kami

di

Jalan

Rancanumpang, Gedebage, Bandung. Alasan pemilihan lokasi tersebut adalah karena

PAGE 7

daerah bebas banjir, tidak terlalu padat atau dapat dibuat buffer zone, Jalur transportasi
pengangkutan dan sebagainya (mobil maupun truk) mudah, Luas area sepadan dengan
kebutuhan dan keharusan. Detail lokasi akan kami bahas lebih lanjut pada sub-bab
peraturan dan perundangan, dikarenakan lokasi yang kami pilih selain pertimbangan
sebelumnya yang telah dijabarkan namn kami juga harus menyesuaikan dan menaati
peraturan yang ada.
Peraturan dan Perundangan
Pemilik institusi kesehatan harus mematuhi aturan yang berlaku karena semenjak tahun
2013 di Kota Bandug, sudah diterapkan nbeberapa sanksi yang juga tertuang dalam
Peraturan daerah tentang Keindahan, Kebersihan dan Ketertiban (Perda K3 No. 11 tahun
2013). Setiap perusahaan atau industri yang menghasilkan limbah bahan berbahaya dan
beracun, wajib menyediakan prasarana dan sarana pengolah limbah. Jika mengabaikan
apalagi membuang atau memasukkan pada sumber air yang mengalir atau tidak dapat
dikenakan pembebanan biaya paksaan penegakkan hukum sebesar Rp 50 juta. Ini lebih
ringan dari ketentuan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup, pelaku perusakan lingkungan hidup, diancam pidana 1
tahun penjara dan denda minimal Rp 1 miliar. Apalagi sekarang telah diperbaharui pada
Peda K3 No. 11 tahun 2015 dan dinyatakan bahwa setiap limbah medis digolongkan
pada B3 dan setiap institusi yang menghasilkan limbah tersebut harus bertanggung jawab
untuk mengelolanya sesuai standar agar tidak mencemari lingkungan maupuny berbahaya
bagi masyarakat sekitar dengan sanksi yang sama bahkan lebih berat dibanding Perda
sebelum revisi.
Selain Perda K3 tersebut, kami juga menyesuaikan persyaratan yang ada pada
PermenLH No. 05 th 2012 tentang Wajib AMDAL menyatakan bahwa industri jasa
pengelohan limbah B3 yang melakukan kombinasi 2 (dua) atau lebih kegiatan meliputi:
pemanfaatan, pengolahan, dan/atau penimbunan limbah B3 wajib melaksanakan amdal
atau analisis mengenai dampak lingkungan. Peraturan dan perundangan lainnya yang
kami taati dan jadikan acuan selama proses adalah UU No. 32 th 2009 tentang
Perlindungan Lingkungan Hidup, PermenLH No. 18 th 2009 tentang Perijinan B3, PP

PAGE 8

No. 18 th 1999 tentang Pegelolaan B3, Lampiran PP18 tentang Kode Limbah B3, dan
juga KepBapedal No. 5 Tahun 1995 tentang Persyaratan Teknis Pengelolaan Limbah B3.
Didalam KepBapedal No. 03 Tahun 1995 tersebut, dinyatakan persyaratan lokasi
pengolaha limbah B3 di luar lokasi penghasil limbah B3 itu sendiri. Antara lain:
a. Merupakan daerah bebas banjir;
b. Pada jarak paling dekat 150 meter dari jalan utama/jalan tol dan 50 meter
untuk jalan lainnya;
c. Pada jarak paling dekat 300 meter dari daerah pemukiman, perdagangan,
rumah sakit, pelayanan kesehatan atau kegiatan sosial, hotel, restoran,
fasilitas keagamaan dan pendidikan;
d. Pada jarak paling dekat 300 meter dari garis pasang naik laut, sungai,
daerah pasang surut, kolam, danau, rawa, mata air dan sumur penduduk;
e. Pada jarak paling dekat 300 meter dari daerah yang dilindungi (cagar
alam, hutan lindung dan lain-lainnya).
Dari persyaratan diatas maka dapat disimpulkan lokasi yang kami nyatakan akan bangun
sebelumnya sebesar 3,5 Ha (Jalan Rancanumpang, Gedebage, Bandung) sesuai dengan
peratuan yang ada. Berikut layout lokasi dan gambaran buffer zone disekitarnya beserta
jarak ke pemukiman dan sumber air. Adapula lokasi perencanaan pembangunan adalah
yang berada di dalam kotak biru, jalan masuk yang direncanakan ada di garis warna
kuning, sedangkan garis warna putih menunjukkan jarak dari lokasi ke pemukiman dan
ke sumber air. Area Buffer Zone yang kami rencanakan adalah area yang saat ini
merupakan persawahan dan lahan kosong di sekitar kotak berwarna biru.

PAGE 9

Peta Lokasi
Pembangunan
BMWTC
Jar
Jalan Rancanumpang
ak
Gedebage,
Bandung
Keterangan:
Rencana area proyek
Jalur masuk area proyek
Skala 1:9000

ter
ha

da

pp

erm
u ki
ma
n

Gambar 2.1 Jarak Area Pembangunan BMTC dengan pemukiman

PAGE 10

Gambar 2.2 Jarak Area Pembangunan BMTC dengan Sungai

PERENCANAAN
1. Studi Kelayakan
Teknis
a. Pengelolaan limbah B3 medis
Pengelolaan limbah B3 medis secara umum meliputi beberapa tahap, yaitu:
i. Pemisahan dan penyimpanan
Limbah medis yang akan dibuang dari rumah sakit dipisahkan menggunakan
kantong plastik berwarna yang berlabel. Berikut adalah contoh warna kantong
menurut DepKes RI:
Kantong hitam : limbah umum
Kantong kuning : limbah yang harus diinsinerasi
Kantong kuning strip hitam : limbah yang sebaiknya diinsinerasi, tetapi dapat
dibuang ke landfill
Kantong biru muda : limbah yang harus disterilisasi
ii. Pengangkutan
Limbah medis yang sudah dipisahkan di tempat penyimpanan sementara diangkut
menggunakan armada pengangkut dengan kontainer tertutup untuk mencegah
adanya limbah yang tercecer dan mengurangi resiko kecelakaan saat pengiriman
limbah.
iii. Penanganan atau pengolahan
Pengolahan limbah B3 yang digunakan adalah pembakaran dengan menggunakan
insinerator (penjelasan lebih lanjut di bagian desain pengolahan). Abu hasil
pembakaran akan dilakukan proses solidifikasi sebagai bahan dasar beton,
genteng, dan lain-lain.
iv. Pembuangan
Limbah yang tidak dapat diolah seperti limbah radioaktif akan dibuang ke landfill.

PAGE 11

Skema proses pengelolaan limbah B3 medis yang akan diterapkan terdapat pada
Gambar 1.

Gambar 1. Skema proses pengelolaan.


b. Desain pengolahan
Pengolahan utama yang dilakukan adalah pembakaran (insinerasi) dengan
menggunakan incinerator tipe stocker yang berkapasitas 5,5 ton/hari. Kapasitas tersebut
didapat dari jumlah total timbulan limbah medis di kota Bandung yang berkisar 85-130
kg/rumah sakit/hari. Skema proses pengolahan yang dilakukan terdapat pada Gambar 2.

Gambar 2. Skema proses pengolahan.


Lamanya proses pengoperasian adalah sepanjang hari (24/7) karena untuk
menghidupkan dan mematikan incinerator dibutuhkan energi yang lebih tinggi
dibandingkan menjalankan sepanjang hari. Sebelum masuk incinerator, dilakukan
sterilisasi limbah terlebih dahulu menggunakan rotoclave (rotating autoclave) untuk

PAGE 12

menghilangkan kontaminasi. Tahapan sterilisasi dengan menggunakan rotoclave tertera


pada Gambar 3.

Gambar 3. Tahapan sterilisasi limbah B3 dalam rotoclave.


Abu (ash) yang dihasilkan akan dilakukan proses solidifikasi sehingga dapat
dimanfaatkan kembali menjadi beton, batako, genteng, dan lain-lain.
Karakteristik limbah medis rumah sakit
Limbah yang dapat dihasilkan oleh rumah sakit dan dapat idlayani oleh instalasi
pengolahan limbah B3 medis BMWTC, meliputi limbah medis padat maupun limbah
medis cair.brikut penggolongan dan atau karakteristik dari limbah medis B3 tersebut
berdasarkan Keputusan Menkes RI No. 1204 Tahun 2004:
a. Limbah padat medis
- limbah infeksius dan limbah patologi, penyimpanannya pada tempat
-

sampah berplastik kuning.


limbah farmasi (obat kadaluarsa), penyimpanannya pada tempat sampah

berplastik coklat.
limbah sitotoksis adalah limbah berasal dari sisa obat pelayanan
kemoterapi. Penyimpanannya pada tempat sampah berplastik ungu.

PAGE 13

Limbah medis padat tajam seperti pecahan gelas, jarum suntik, pipet dan

alat medis lainnya. Penyimpanannya pada safety box/container.


Limbah radioaktif adalah limbah berasal dari penggunaan medis ataupun
riset di laboratorium yang berkaitan dengan zat-zat radioaktif.
Penyimpanannya pada tempat sampah berplastik merah.

b. Limbah cair medis


Limbah cair Rumah Sakit adalah semua air buangan termasuk tinja yang berasal
dari kegiatan RS, yang kemungkinan mengandung mikroorganisme bahan
beracun, dan radio aktif serta darah yang berbahaya bagi kesehatan (Depkes RI,
2006). Penanganannya melalui IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah)
Lingkungan
Perlindungan terhadap lingkungan hidup dari rencana usaha kegiatan ditetapkan
melalui UU No. 23 tahun 1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup. Hal ini tercermin
bahwa setiap rencana usaha/kegiatan yang mempunyai dampak penting wajib dilengkapi
dengan suatu AMDAL. Di dalam Undang-undang lingkungan hidup dan pedoman
pelaksanaannya secara jelas belum nampak ketentuan perundangan terhadap analisis
dampak pada kesehatan masyarakat/ kesehatan lingkungan.
Hasil dari analisis mengenai dampak lingkungan dapat digunakan sebagai
pedoman untuk pengelolaan lingkungan yang meliputi upaya pencegahan, pengendalian
dan pemantauan lingkungan.Upaya pencegahan artinya Amdal digunakan untuk
mengantisipasi dampak yang kemungkinan muncul akibat aktivitas/kegiatan. Dengan
dapat diprediksinya dampak tersebut, maka dampak negatif dapat dihindari dan dampat
positif dapat dimaksimalkan. Oleh karena itu dapat dilakukan studi terhadap kelayakan
lingkungan.
Isu isu pokok terkait kelayakan lingkungan dsri studi kasus ini adalah :
a.

Kesehatan lingkungan akibat limbah pembuangan

b.

Dampak kegiatan terhadap air resapan pembuangan.

c.

Terganggunya ekosistem biota akibat limbah

PAGE 14

Studi kelayakan lingkungan terhadap pengelolaan limbah B3 medis juga


mempelajari dampak pada tiga aspek lingkungan yaitu pencemaran udara, pencemaran
tanah dan pencemaran air. Komponen lainnya yang ditelaah karena terkena dampak dari
aspek lingkungan meliputi :
1)

Iklim,meliputi komponen :

2)

a)

Temperatur dan kelembaban udara

b)

Kualitas udara

c)

Kebisingan

Fisiologi, meliputi komponen :

3)

a)

Topologi bentuk lahan, struktur geologi dan jenis tanah

b)

Indikator lingkungan hidup

c)

Keunikan, keistimewaan dan kerawanan bentuk lahan

Hidrologi, Meliputi komponen :


a)

Kondisi daerah resapan air permukaan dan air tanah disekitar lokasi

b)

Fluktasi, potensi dan kualitas air tanah

c)

Tingkat penyediaan dan kebutuhan air

Identifikasi Dampak Potensial Secara hipotetik, komponen lingkungan yang


potensial terkena dampak proyek adalah sebagai berikut :
1)

Komponen fisik kimia

Perubahan Bentang Lahan


Dampak terhadap komponen fisik kimia berupa perubahan bentang lahan

merupakan dampak primer yang disebabkan terutama akibat kegiatan pembukaan lahan

PAGE 15

untuk badan jalan angkut material, pembersihan dan pengupasan tanah. Perubahan
bentang lahan ini akan berdampak terhadap perubahan jenis dan fungsi ekosistem
(komponen biologi), dan peningkatan erosi.

Penurunan kualitas udara dan peningkatan kebisingan


Komponen udara akan mengalami dampak oleh aktivitas proyek, yang

menyebabkan perubahan dan penurunan kualitas udara, yaitu dengan meningkatnya


konsentrasi gas ambien, debu, maupun peningkatan kebisingan. Beberapa kegiatan yang
menimbulkan dampak terhadap komponen udara dan kebisingan antara lain terjadi saat
proses konstruksi berlangsung.

Transportasi
Komponen transportasi yang akan terkena dampak adalah peningkatan volume

lalu lintas akibat kegiatan konstruksi.

Sedimentasi dan erosi


Komponen erosi dan sedimentasi akan mengalami dampak oleh aktivitas proyek,

yang menyebabkan meningkatnya laju erosi dan sedimentasi.

Penurunan kualitas air sungai


Komponen perairan sungai yang akan terkena dampak adalah akibat

meningkatnya laju erosi dan sedimentasi dari kegiatan pengelolaan limbah B3 terutama
saat pembuangan hasil pengolahan limbah cair.
2)

Komponen biologi

Tergangunya biota darat


Komponen biota darat dijabarkan dalam kepadatan satwa dan vegetasi baik yang

dilindungi maupun tidak. Terganggunya biota darat terjadi akibat pembukaan lahan dan
proses konstruksi.

PAGE 16

Tergangunya produktivitas lahan pertanian dan perkebunan


Komponen produktivitas lahan ini merupakan aspek penting yang harus

diperhatikan terutama jika terdapat aktivitas pertanian dan perkebunan masyarakat


setempat. Dengan adanya kegiatan ini, dampak yang timbul terhadap komponen ini
adalah menurunnya produktivitas lahan pertanian dan perkebunan warga.

Terganggunya biota perairan


Terganggunya biota perairan berupa terganggunya kehidupan nekton di sungai.

Dampak yang ditimbulkan dari kegiatan penambangan ini adalah berupa menurunnya
kuantitas biota perairan tersebut.
Ekonomi
Rencana anggaran biaya pembanguan pengolahan limbah B3 medis ini diantaranya
sebagai berikut.
Pembebasan lahan
- Pembelian lahan
- Pengurusan izin-izin

Rp

20.000.000.000,00

bangunan Rp

40.000.000.000,00

- Perawatan armada angkut dan incinerator Rp


- Pelaksanaan solidifikasi untuk abu yang

5.000.000.000,00

Pembangunan
- Pra-konstruksi
- Konstruksi incinerator

dan

tambahan (kantor, dll)

Operasional dan Perawatan

terbentuk
Jumlah Total

Rp

65.000.000.000,00

PAGE 17

Sumber dana tersebut direncanakan berasal dari CSR Pemerintah Norwegia


2. Pra-konstruksi
Tahap pra konstruksi terdiri dari pembebasan lahan, survei, dan perencanaan
teknis.
a. Survei
Pada tahap ini, dilakukan observasi kondisi sosial-ekonomi-budaya masyarakat.
Setelah itu, dilakukan sosialisasi tentang perencanaan proyek terhadap masyarakat
setempat, baik manfaat proyek serta perencanaan teknis operasionalnya. Dampak yang
mungkin disebabkan dari kegiatan ini diantaranya isu sosial yang dapat menimbulkan
keresahan masyarakat (gangguan kamtibmas).
b. Pembebasan Lahan
Proses pembebasan lahan memiliki tingkat ekonomi yang sangat tinggi karena
pemilik proyek harus mengganti kerugian akibat pembebasan lahan. Selanjutnya
dilakukan pembelian lahan dari pemilik setelah didapatkan kesepakatan bersama antara
pemilik lahan dan pemilik proyek. Pemilik proyek juga harus mengurus perizinan lahan
yang akan digunakan kepada instansi terkait dan kepada pemilik lahan yang terkena
imbas proyek.
Pada tahap ini dilakukan kegiatan-kegiatan sebagai berikut.
- Kesesuaian ganti rugi lahan,
Kegiatan ini dapat menimbulkan dampak keresahan/ persepsi dari pemilik lahan.
- Perubahan kepemilikan lahan (alih fungsi lahan)
Kegiatan ini dapat menimbulkan dampak perubahan mata pencaharian masyarakat
setempat.

c.

Perencanaan Teknis
Pada tahap ini, teknis operasional proyek disusun secara sistematis, termasuk

perencanaan bangunan. Adapun gambar layout bangunan yang direncanakan ditunjukkan


Gambar xx.

PAGE 18

Gambar xx. Layout Perencanaan

PAGE 19

.
3. Konstruksi
Fase konstruksi memiliki beberapa tahap sebagai bagian dari kegiatan yang harus
dipenuhi agar kegiatan konstruksi dapat berjalan. Tahap-tahap tersebut adalah sebagai
berikut
a) Detailed Engineering Design (DED)
Tahap ini merupakan tahap yang paling awal untuk memperjelas kondisi
pembangunan yang akan dilakukan. Dokumen peta yang dibutuhkan pada tahap
ini membutuhkan keseluruhan informasi yang dapat memberikan informasi
mengenai pembangunan yang akan dilakukan. Jika semua dokumen peta
digabungkan, maka peta kasar bangunan akan dapat dimengerti. Beberapa contoh
dokumen peta yang akan dibutuhkan pada tahap ini adalah spesifikasi pada
jaringan perpipaan dan spesifikasi pada jaringnan air kotor.
b) Pengosongan lahan
Kepemilikan tanah merupakan hal yang palingpelak untuk dilakukan. Namun,
apabila urusan kepemilikan suda dilakukan, maka langkah yang yang perlu
dilaksanakan adalah mempersiapkan lahan tersebut untuk digunakan. Sebelum
pada akhirnya bangunan didirikan, kondisi lahan perlu dipersiapkan untuk dapat
nenampung kebutuhan bangunan yang akan dibangun.
c) Mobiliasasi alat berat
Tahap ini dilakukan hanya pada awal dan akhir pembangunan bangunan yang
akan digunakan. Untuk dapat memobiliasasi alat-alat berat tersebut perlu
dilakukan pembuatan jalan yang lebih solid untuk menuju lokasi rencana
pembangunan karena kondisi eksisting sekarng tidak ada jalur yang dilalui.
Dalam proses mobilisaasi ini juga akan diperhitungkan dampak lingkungan yang
akan terjadi saat perencanaan direalisasikan.
d) Konstruksi pengolahan
Tahap ini dilakukan jika semua persiapan sudah selesai dilaksanakan, dari
mendapatkan izin dan menyiapan lahan yang akan digunakan, serta pesertujuan
dari masyarakat sekitar. Untuk pembangungan instalasi pengolahan limbah ini,
waktu yang dibutuhkan diperkirakan sekitar 2 tahun untuk dibangun.

PAGE 20

4. Operasional dan Perawatan


a) Penyiapan armada pengangkut
Armada pengangkut yang akan digunakan berupa truk double box sebanyak 15
unit dengan jadwal ritasi yang akan diatur kemudian.
b) Peyerapan tenaga kerja
Untuk kepentingan perkerjaan diluar keahlian spesifik, perusahaan akan mencari
5% tenaga kerja yang dapat diserap dari waga sekitar area pembangunan.
c) Pengoperasian bangunan pengolah limbah
Waktu layan yang direncanakan untuk instalasi pengolahan ini adalah sekitar 20
tahun. Mengenai hal tersebut, kapasitas pengolahan yang direncanakan adalah
sekitar 55 ton/hari.
d) Pemantauan kualitas armada dan pembangunan
Upaya pemantauan kualitas armada yang akan dilakukan untuk kelangsugan
pembanguan proyek ini. Pengukuran kualitas lingkungan akan dilakukan setiap
hari dan aaudit lingkungan akan dilakukan setiap tiga tahun sekali untuk
mendapatkan informasi kualitas lingkungan.
e) Peninjauan dampak lingkungan yang terjadi selama operasional
Peninjauan dampak merupakan hasil kajian dari audit lingkungan yang dilakukan.
Jika sudah terlihat potensi pengaruh dampak yang tidak lazim, maka akan
dilakukan tindakan-tindakan preventif yang mungkin membingungkan bagi
sebagian orang
5. Pasca-operasi
Pada tahap ini kegiatan yang berlangsung adalah :
1. Pengerahan Tenaga Kerja
Dalam proses pembongkaran terminal membutuhkan tenaga kerja yang banyak
sehingga memerlukan pengerahan tenaga kerja yang cukup besar. Pada tahap pasca
operasi ini, perekrutan terhadap tenaga kerja masih dilakukan, baik untuk tenaga kerja
dengan skill, dan tenaga kerja tanpa keahlian khusus/unskilled. Penerimaan tenaga
kerja tidak hanya akan meningkatkan kesempatan kerja bagi masyarakat sekitar,
namun juga meningkatkan kesempatan berusaha masyarakat. Hal ini bisa menjadi
peluang usaha bagi masyarakat setempat untuk meningkatkan pendapatan.
2. Pembongkaran atau perapihan lokasi kegiatan

PAGE 21

3. Demobilisasi alat berat dan material


Demobilisasi alat berat dan material dilakukan dengan menggunakan sarana
transportasi bermuatan besar seperti truk, gerobak dll. Alat berat dan material yang
dimobilisasi meliputi alat berat dan material dari tahap pembongkaran atau perapihan
terminal. Pada saat mobilisasi alat diperkirakan komponen lingkungan yang terganggu
adalah penurunan kualitas udara dan peningkatan kebisingan yang membuat gangguan
kenyamanan masyarakat. Selain itu, transportasi material dari pembongkaran terminal
menyebabkan kemacetan lalu lintas. Kualitas udara dan kebisingan akan memberi
dampak jangka panjang pada kesehatan masyarakat.

4. Penggunaan lahan sesuai tata ruang


Fasilitas terminal yang telah dibongkar memungkinkan peralihan fungsi penggunaan
lahan dan harus sesuai tata ruang. Hal ini dapat berlangsung melalui tahap reklamasi,
restorasi dan rehabilitasi. Perlunya penggunaan lahan yang dapat meningkatkan
keanekaragaman hayati seperti flora dan fauna untuk mencegah terjadinya kelangkaan.

5. Pelepasan Tenaga kerja


Setelah proses pembongkaran dan perapihan terminal selesai, maka pekerjaanpun di
nilai sudah selesai dan para tenaga kerja perlu di lepas sebagai tanda berakhirnya
seluruh kegiatan pasca operasi selesai. Hal ini akan berdampak pada penurunan
kesempatan bekerja pada masyarakat yang berakibat pada penurunan pendapatan
masyarakat.

PAGE 22