Anda di halaman 1dari 27

PROSEDUR

ANALITIS

1. GAMBARAN UMUM (1)


Pengertian Prosedur Analitis
Merupakan evaluasi terhadap informasi keuangan yang
dibuat dengan mempelajari hubungan yang masuk akal
antara data keuangan yang satu dengan data keuangan
lainnya atau antara data keuangan dengan data non
keuangan.
Tahapan Pelaksanaan Prosedur Analitis
-Pemahaman hubungan keuangan yang dapat diperoleh dengan
pemahaman tentang auditee dan proses bisnis utama dari auditee
-Mengembangkan ekspektasi (develop expectation) atas pola
hubungan yang seharusnya terjadi antar data terkait;
-Membandingkan hasil analisis data sesungguhnya dengan ekspektasi
atas pola hubungan yang seharusnya terjadi, serta menelusuri
penyebab penyimpangan signifikan yang terjadi.
2

2. TUJUAN PROSEDUR ANALITIS


Pada Tahap Perencanaan Pemeriksaan
Untuk membantu dalam memahami entitas (termasuk transaksi
dan kejadian pada tahun berjalan), membantu perencanaan
sifat, saat, dan lingkup prosedur pemeriksaan dalam
menentukan rencana, desain, dan pengujian materialitas.

Pada Tahap Pelaksanaan Pemeriksaan


Untuk memperoleh bukti tentang asersi tertentu yang
berhubungan dengan saldo akun atau jenis transaksi. Prosedur
analitis dilakukan dengan analisis data pendukung laporan
keuangan.

Pada Tahap Pelaporan


Untuk reviu menyeluruh atas informasi keuangan, untuk
memastikan bahwa akun-akun dalam LK sudah sinkron dan
tidak diperlukan lagi bukti tambahan.
3

Perubahan Prosedur Analitis


dengan Panduan Sebelumnya
1.Pemanfaatan data pada portal e-audit
untuk pelaksanaan prosedur analitis
2.Penghapusan sebagian analisis vertikal
neraca
3.Penyesuaian terminologi laporan arus kas
sesuai sap basis akrual
4.Penambahan analisis vertikal LO, LPE,
dan LP SAL
5.Penambahan analisis horisontal terkait
LO, LPE, & LPSAL
4

Contoh
Pengembangan
Ekspektasi
atas
Pola
Hubungan
yang
Seharusnya
Terjadi
dengan
Menggunakan Data Laporan Keuangan Akrual Basis

Akun

Pendapatan
Pajak

Data yang
digunakan

LO, Neraca

Belanja
LO, Neraca
Barang Jasa
Persediaan
dan Beban
Persediaan

Ekspektasi yang
dikembangkan
Risiko salah saji

Risiko salah
saji

Pendapatan Pajak (LO) =Lebih/kurang


Pendapatan Pajak (LRA) saji
akun
Saldo Piutang Pajak Awal TahunPendapatan
+ Saldo Piutang Pajak Akhir Pajak
Tahun

Beban Persediaan (LO) =Lebih/kurang


Belanja
Barang
dan
Jasasaji
akun
Persediaan (LRA) + SaldoBelanja Barang
Persediaan Awal Tahun SaldoJasa

Persediaan Akhir Tahun


Persediaan dan
Beban
Persediaan
5

PENDAPATAN - LO
Pendapatan LRA TA ybs penerimaan pelunasan
Piutang tahun lalu + Piutang baru TA ybs.

1. Penerimaan kas dari pelunasan Piutang tahun lalu bukan


merupakan bagian pendapatan akrual tahun berkenaan, oleh
karena itu tidak diakui sebagai bagian Pendapatan LO;
2. Bagian pendapatan yang belum diterima kasnya pada tahun yang
berkenaan dan masih menjadi piutang akhir tahun berkenaan
merupakan bagian Pendapatan LO.
3. Pendapatan-LO menunjukkan kinerja bagian penetapan di Dinas
Pendapatan sedangkan Piutang menunjukkan kinerja bagian
penagihan di Dinas Pendapatan
4. Pendapatan Pajak/Retribusi Daerah yang menjadi hak pemda
dihitung berdasarkan nilai seluruh SKPD/SKRD yang diterbitkan
selama tahun anggaran yang diaudit bukan nilai kas yang diterima

BEBAN PERSEDIAAN - LO
Beban
Persediaan
(LO)
=

Saldo Persediaan Awal Tahun (Neraca) +


Belanja Barang dan Jasa Persediaan (LRA)
Saldo Persediaan Akhir Tahun (Neraca)

1. LK basis CTA tidak mencatat Beban Persediaan. LK hanya


mencatat saldo persediaan akhir tahun di Neraca berdasar
stock opname
2. LK Basis Akrual mencatat penggunaan persediaan pada LO
sebagai Beban Persediaan. Pada akhir tahun, catatan
persediaan disesuaikan dengan hasil inventarisasi fisik dan
mencatat saldo persediaan akhir tahun di Neraca
3. Beban Persediaan menunjukkan kinerja pengelola barang
dalam menatausahakan administrasi mutasi barang serta
menunjukkan kinerja bagian penganggaran dan pengadaan
barang dalam mengadakan barang yg efektif.
7

3. PELAKSANAAN PROSEDUR
ANALITIS
1) Analisis Data
2) Teknik Prediktif
3) Analisa Rasio & Trend

MEMANFAATKAN DATA DARI


PORTAL E - AUDIT

ANALISIS DATA (1)


Pengertian
Analisis data dilakukan dengan menguji
ketepatan penjumlahan antar akun dan
kecukupan pengungkapannya
Jenis Analisis Data
- Analisis Vertikal
- Analisis Horizontal
10

ANALISIS DATA (3)

11

ILUSTRASI ANALISIS VERTIKAL

12

KETERKAITAN LAPORAN KEUANGAN


Laporan Operasional
Pendapatan
500
Beban
(200)
Surplus/Defisit Opr
300
Kegiatan non
operasional
60
Surplus/Defisit LO
360
Laporan Perubahan
Ekuitass
Ekuitas Awal
1.000
Surplus/Defisit LO
360
Ekuitas Akhir
1.360

Aset
Kewajiban
Ekuitas

Neraca

LRA
Pendapatan
Belanja
Surplus/(defisit)
Pembiayaan
SILPA

450
(0)
450
1.000
1.450

Laporan Perubahan SAL


SAL Awal
Penggunaan SAL
SILPA
SAL Akhir

100
(30)
1.450
1.520

2.000
640
1.360
13

ILUSTRASI ANALISIS HORIZONTAL


LRA DENGAN LP SAL

14

ILUSTRASI ANALISIS HORIZONTAL


LO, LPE, NERACA

15

ILUSTRASI ANALISIS HORIZONTAL


LO, LRA DAN NERACA

16

TEKNIK PREDIKTIF
Pengertian:
Dilakukan dengan membandingkan realisasi dan
anggaran akun-akun di laporan realisasi anggaran.
Perbedaan signifikan yang terjadi bisa menjadi
indikasi permasalahan yang seharusnya diungkapkan
pada catatan atas laporan keuangan.
Contoh:
Memprediksi (memperkirakan) belanja pemeliharaan
kendaraan dinas tahun berjalan, dengan melihat data
dan jumlah kendaraan tahun-tahun sebelumnya.
17

TEKNIK PREDIKTIF
BELANJA PEMELIHARAAN KENDARAAN
BELANJA PEMELIHARAAN
KENDARAAN
TREN
REALISASI
SELAMA
3 TH

ANGGARA
N TA
DIAUDIT

VS

TREN JUMLAH
KENDARAAN SELAMA
3 TH

ADA
HUBUNGAN
YG TIDAK
LOGIS?

DALAMI
BELANJA
PEMELIHARAA
N
KENDARAAN:
-Penyimpanga
n realisasinya
-Salah saji
-Mungkin
bdampak
pada akurasi
beban
persediaan
(spare part
kendaraan)
18

ANALISIS TREND
Dilakukan dengan membandingkan akun yang sama
untuk periode lebih dari dua tahun, sehingga
diperoleh gambaran mengenai kecenderungan dari
suatu akun dalam laporan keuangan pemerintah
daerah.
Contoh: Prediksi pencapaian pajak daerah pada
tahun yang diperiksa berdasarkan data atau informasi
kecenderungan pencapaian pajak daerah beberapa
periode yang lalu.
19

ANALISIS TREN
PENDAPATAN DAN PIUTANG PAJAK

VS

PENDAPATAN LO
DAN PIUTANG PAJAK
DAERAH

ADA
HUBUNGAN
YG TIDAK
LOGIS?

DALAMI
PENDAPATAN
LO DAN
PIUTANG
PAJAK
DAERAH:
-Penyimpanga
n penerimaan
pajak
-Kesalahan
penetapan
pajak
-Perubahan
regulasi - PBB
-Salah saji
-Mungkin
bdampak
pada akurasi
20
penerimaan

PENYIMPANGAN DARI EKSPEKTASI


YANG BISA DITERIMA
PENYIMPANGAN DARI EKSPEKTASI BELUM TENTU MENUNJUKKAN ADANYA
PROBLEM:

Pada LRA terdapat pengakuan pendapatan non-cash sehubungan


adanya transaksi pendapatan hibah dalam bentuk barang
SEHINGGA hubungan antara arus masuk kas di LAK dengan
pendapatan di LRA kurang logis ;
Dalam hal terdapat pengembalian belanja (contra post), LAK
mungkin menyajikan arus kas secara bruto sedangkan LRA
menyajikan belanjanya secara netto.
Perubahan regulasi tentang transfer BOS dari APBN yang tadinya
melalui Pemkab/Pemkot menjadi melalui Pemprov sehingga tren
Belanja Hibah di Pemprov meningkat tajam sedangkan tren Belanja
Barjas di Pemkab/Pemkot menurun.
Perubahan regulasi Pendapaan PBB menjadi PAD Pemkab/Pemkot
akan memicu tren kenaikan Pendapatan dan Piutang PBB yng tidak
logis di masa peralihan
SEHINGGA PERLU ANALISIS LEBIH LANJUT UNTUK MEYAKINI KEBERADAAN PROBLEM/SALAH SAJI

21

PENYIMPANGAN DARI EKSPEKTASI


SALAH SAJI
PROBLEM
Perbedaa
n
dengan
ekspekta
si

PEMBATASAN
N LINGKUP
1.

BISA
DITERIMA

Hubungan LRA dg LAK


tidak logis krn ada
pendapatan noncash di LRA
dan pengembalian belanja
2. Tren belanja hibah
Pemprov tidak logis krn
perubahan regulasi
transfer dana BOS ke
Pemprov
3. Tren pendapatan dan
piutang pajak tidak logis
karena beralihnya
pendapatan PBBke Pemda
22

STUDI KASUS
Studi kasus analisis LKPD
Kabupaten Gemah Ripah
Tahun Anggaran 2014

23

MAPPING AKUN BELANJA LRA DAN BEBAN LO


LRA (Cash Basis)
Pendapatan Asli Daerah - LRA
Pendapatan Dana Perimbangan -LRA
Lain-lain Pendapatan yang Sah -LRA

Belanja Operasi
- Belanja Pegawai
-Belanja Barang/ Jasa
-Belanja Bunga
-Belanja Subsidi
-Belanja Hibah
-Belanja Bantuan Sosial
Belanja Modal
Belanja Modal Tanah
Belanja Modal Peralatan dan Mesin
Belanja Modal Jalan, Irigasi dan
Jaringan
Belanja Modal Aset Tetap Lainnya
Belanja Modal Aset Lainnya
Belanja Tak Terduga
Belanja Transfer
Bagi Hasil Pajak dan Retribusi Daerah
Bantuan Keuangan kepada Desa
Bantuan Keuangan kepada Partai
Politik
Pembiayaan
(+) Penerimaan Pembiayaan
(-) Pengeluaran Pembiayaan
SILPA LRA

LO (Akrual Basis)
Pendapatan Asli Daerah LO
(Akrual)
Pendapatan Dana Perimbangan - LO
Lain-lain Pendapatan yang Sah - LO
Pendapatan yg di luar APBD (Hibah,
BOS)*)
Beban
Beban Pegawai (Akrual)
Beban Persediaan (Akrual)
Beban Jasa (Akrual)
Beban Perjalanan Dinas
Beban Bunga (Akrual)
Beban Subsidi
Beban Hibah
Beban Bantuan Sosial
Beban Bantuan Keuangan
Beban Penyusutan *)
Beban Transfer
Beban Tidak Terduga
Beban Penyisihan Piutang *)
Beban Penghapusan Aset *)
Beban Dana BOS
Beban Barang dan Jasa BLUD
(Akrual)
Beban Hibah
Beban Biaya Dibayar di Muka
Beban lain-lain

SURPLUS LO

MAPPING AKUN BELANJA LRA DAN BEBAN LO


(LANJUTAN)
Beban yg tidak diakui secara
akural (LRA dan LO sama)
Beban Perjalanan Dinas
Beban Bunga
Beban Subsidi
Beban Hibah
Beban Bantuan Sosial
Beban Bantuan Keuangan
Beban Transfer
Beban Tidak Terduga

Beban LO yang tidak ada di


LRA *)
Beban Penyusutan
Beban Penyisihan Piutang
Beban Penghapusan Aset
Beban Dana BOS (di luar
mekanisme APBD)
Beban Hibah Aset
Beban Biaya Dibayar di Muka

Beban Akrual: Realisasi Belanja LRA yang penyesuaian/


adjusment di LO (tergantung kebijakan Pemda) misalnya:
Beban Pegawai
Jenis beban perlu disesuaikan atas item berikut ini :
1.Tambahan Penghasilan dibayar tahun berikutnya
2.Tunjangan Profesi Guru dibayar tahun berikutnya
Beban Persediaan
Selain karena saldo persediaan awal dan akhir bahan material dan
bahan pakai habis, beban persediaan perlu disesuaikan, misalnya:
1.Penambahan beban yang berasal dari pengadaan belanja modal
yang masuk ke dalam extracomptable
2.Pengurangan dari hasil pengadaan belanja barang dan jasa yang
dikapitalisasi ke aset tetap
3.Penambahan dari realisasi belanja modal/barang jasa untuk
dihibahkan
Beban Jasa
Adanya beban jasa yang baru dibayar tahun berikutnya
Adanya belanja barang dan jasa yang dikapitalisasi ke belanja
modal
Beban Barjas BLUD
Dari angka realiasasi pada LRA dilakukan pemisahan antara beban
persediaan dengan beban beban lainnya

MAPPING AKUN LRA-LPSAL, LO-LPE & NERACA


SILPA LRA
1.Kenaikan kas dari pendapatan
2.Penurunan kas karena belanja dan transfer
(termasuk belanja modal)
3.Kenaikan kas dari penerimaan pembiayaan
4.Penurnan kas dari pengeluaran pembiayaan

Surplus LO:
1.Kenaikan pendapatan (kas dan piutang)
2.Persediaan yang belum digunakan
3.Investasi
4.Aset Tetap yang belum disusutkan

SILPA LRA
KAS

SILPA akan dilaporkan ke


Laporan Perubangah
Saldo Anggaran (LP SAL)
LPSA
L

SURPLUS LO
Ka
s

NERACA
Aset
Kas
Piutang
Persediaan
Investasi
Aset Tetap
Kewajiban
Ekuitas
SILPA
Cadangan Aset Lancar
Cangangan Investasi

Piuta
ng

Persedia
an

Invest
asi

Aset
Tetap

TOTAL SURPLUS LO Tersebut


merupakan penambahan ekuitas
yang akan dilaporkan di
Laporan Perubahan Ekutitas
LPE
(LPE)

27