Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM GENETIKA
Persilangan Monohybrid pada Tanaman Kacang Panjang (Vigna
unguiculata subsp. sesquipedalis)

Disusun oleh :
1.
2.
3.
4.
5.

Nurhasanah
Mega Rin Puspita Sari
Maghfira Jihan Mahani
Gabriel Rian Geraldo
Furi Rahayu Marinta

(14304241011)
(14304241018)
(14304241034)
(14304244002)
(14304244004)

Pendidikan Biologi A/Semester IV

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2016
A. Judul

Persilangan monohybrid pada tanaman kacang panjang(Vigna unguiculata subsp.


sesquipedalis)
B. Tujuan
1. Menggunakan tanaman model untuk percobaan Mendel
2. Mengamati beberapa sifat yang berbeda antar 2 tetua lini murni
3. Menghasilkan populasi F1 dari persilangan dan menentukan dominansi beberapa sifat
pada tanaman kacang panjang
C. Alat & Bahan
Alat:
1. Peralatan bercocok tanam
2. Polibag 5 kg
3. Lanjaran bamboo
4. Gunting
5. Pinset
6. Alat tulis
Bahan:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Benih kacang panjang 2 varietas


Campuran tanah
Pupuk NPK
Alcohol 75%
Kantong plastic
Selotip
Label

D. Langkah Kerja

E. Hasil Pengamatan
Identitas tanaman tetua varietas kacang panjang:
Tanggal penanaman
: 16 Februari 2016
Jumlah biji perlubang
: 2 biji
Identifikasi biji
:

a. Petak barat : Biji berwarna merah


Bentuk melengkung
Ukuran panjang 12 mm
b. Petak timur : Biji berwarna belang hitam putih
Berbentuk melengkung
Ukuran panjang 10 mm
Tabel persilangan kacang panjang
No.
1.

Warna Kulit Biji Indukan

Belang
hitam
Merah
putih

Warna Kulit Biji F1


Belang hitam putih

Jumlah Biji dalam


satu polong
9

F. Pembahasan
Praktikum yang dilaksanakan sejak pertemuan awal saat penanamanya ini
bertujuan untuk menggunakan tanaman model untuk percobaan Mendel, mengamati
beberapa sifat yang berbeda antar 2 tetua lini murni, menghasilkan populasi F1 dari
persilangan dan menentukan dominansi beberapa sifat pada tanaman kacang panjang.
Persilangan

merupakan

upaya

memperbesar

keragaman

genetik

dengan

memadukan sifat tetua untuk mendapatkan varietas unggul atau varietas baru yang
diharapkan (Hidayat, 1989). Percobaan persilangan pertama kali dilakukan oleh Gregor
Mendel, seorang ilmuwan dari Austria. Persilangan ini dilakukan pada beberapa jenis
tanaman kapri (Pisum sativum) untuk mempelajari perbedaan sifat satu dengan lainnya.
Percobaan ini dilakukan selama 7 tahun (Victoria Henuhili, 2002:5).
Kegiatan ini dilatar belakangi percobaan yang dilakukan bapak genetika yaitu
Gregor Mendel dengan menggunakan kacang kapri (Pisum sativum). Praktikum kali ini
menggunakan kacang panjang (Vigna sesquipedalis) sebagai pengganti kacang kapri yang
digunakan mendel pada penelitiannya. Alasan mengapa menggunakan kacang panjang,
karena kacang panjang masih dalam satu family dengan kacang kapri yang ditandai
dengan bentuk bunganya yang sama, yaitu memiliki bunga yang berbentuk kupu-kupu.
Selain itu kacang panjang termasuk kedalam kategori model organism, karena mudah

tumbuh di daerah tropis Indonesia, memiliki keturunan yang banyak, dapat disilangkan
dengan dimodifikasi yang berbeda dan memiliki sifat yang mudah diamati.
Klasifikasi Kacang Panjang :
Kingdom

: Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)


Super Divisi

: Spermatophyta (Menghasilkan biji)

Divisi

: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas

: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)

Sub Kelas

: Rosidae

Ordo

: Fabales

Famili

: Fabaceae (suku polong-polongan)

Genus

: Vigna

Spesies

: Vigna unguiculata

Sub species

: sesquipedalis
(Sumber : www.plantamor.com)

Persilangan yang dilakukan yaitu persilangan monohybrid, yaitu persilangan yang


hanya membedakan salah satu cirri dari sifat tetuanya yang akan diturunkan pada
keturunannya. Ciri yang diamati pada praktikum kali ini yaitu warna pada biji yang
dihasilkan keturunan kacang panjang. Tetua untuk jantan yaitu biji kacang panjang yang
berwarna merah sedangkan betinanya biji yang berwarna hitam putih. Perbedaan yang
terlihat pada kedua biji tersebut yaitu, pada biji hitam putih berbentuk melengkung
dengan ukuran + 10 mm, sedangkan pada biji berwarna merah berbentuk melengkung
dengan panjang + 12 mm.
Tahap Hibridisasi
Menurut Nasir (2001) hibridisasi terdiri dari beberapa tahap diantaranya :
1. Persiapan
Persiapan untuk melakukan kastrasi dan penyerbukan silang meliputi
penyediaan alat-alat antara lain : pisau kecil yang tajam, pinset dengan ujung yang
runcing, jarum yang panjang dan lurus, alkohol (75-85%) atau spiritus dalam botol
kecil untuk mensterilkan alat-alat tersebut, wadah untuk tempat benang sari, sikat

kecil untuk mengeluarkan serbuk sari dari benang sari, kuas untuk meletakkan serbuk
sari di atas kepala putik. Penutupan bunga menggunakan kantong dari kain, kelambu,
kantong plastik yang telah diberi lubang-lubang kecil untuk pernafasan (peredaran
udara) atau isolatif, sesuai dengan ukuran bunga. Perlengkapan lain yang perlu
disediakan yakni label dari kertas yang tahan air.
2. Kastrasi
Kastrasi adalah kegiatan membersihkan bagian tanaman yang ada di sekitar
bunga yang akan di emaskulasi, dengan membuang mahkota dan kelopak.
3. Emaskulasi
Emaskulasi adalah kegiatan membuang alat kelamin jantan (stamen) pada tetua
4.

betina, sebelum bunga mekar atau sebelum terjadi penyerbukan sendiri.


Isolasi
Isolasi dilakukan agar bunga yang telah diemaskulasi tidak terserbuki oleh
serbuk sari asing. Dengan demikian baik bunga jantan maupun betina harus
dikerudungi dengan kantung. Kantung bisa terbuat dari kertas tahan air, kain, plastik,

selotipe dan lain-lain.


5. Penyerbukan
Penyerbukan buatan dilakukan antara tanaman yang berbeda genetiknya.
Pelaksanaannya terdiri dari pengumpulan polen (serbuk sari) yang viabel atau anter
dari tanaman tetua jantan yang sehat, kemudian menyerbukannya ke stigma tetua
betina yang telah dilakukan emaskulasi.
6. Pelabelan
Pada dasarnya label terbuat dari kertas keras tahan air, atau plastik. Pada label
antara lain tertulis informasi tentang: (1) Nomor yang berhubungan dengan lapangan,
(2) Waktu emaskulasi, (3) waktu penyerbukan, (4) Nama tetua jantan dan betina, (5)
Kode pemulia/penyilang.
7. Pendeteksian Keberhasilan Persilangan Buatan
Keberhasilan suatu persilangan buatan dapat dilihat kira-kira satu minggu
setelah dilakukan penyerbukan. Jika calon buah mulai membesar dan tidak rontok
maka kemungkinan telah terjadi pembuahan.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Hibridisasi
Internal :
Menurut Syukur (2009: 284 ) faktor internal yang mempengaruhi hibridisasi adalah:
Pemilihan Tetua
Ada lima kelompok sumber plasma nutfah yang dapat dijadikan tetua
persilangan yaitu: (a) varietas komersial, (b) galur-galur elit pemuliaan, (c) galur-

galur pemuliaan dengan satu atau beberapa sifat superior, (d) spesies introduksi
tanaman dan (e) spesies liar.
Waktu Tanaman Berbunga
Dalam melakukan persilangan harus diperhatikan: (1) penyesuaian waktu
berbunga. Waktu tanam tetua jantan dan betina harus diperhatikan supaya saat
anthesis dan reseptif waktunya bersamaan, (2) waktu emaskulasi dan
penyerbukan. Pada tetua betina waktu emaskulasi harus diperhatikan, seperti pada
bunga kacang tanah, harus pada pagi hari, bila melalui waktu tersebut polen telah

jatuh ke stigma.
Eksternal
Pengetahuan tentang Organ Reproduksi dan Tipe Penyerbukan
Dengan mengetahui organ reproduksi, kita dapat menduga tipe penyerbukannya,
apakah tanaman tersebut menyerbuk silang atau menyerbuk sendiri.
Cuaca Saat Penyerbukan
Cuaca sangat besar peranannya dalam menentukan keberhasilan persilangan
buatan. Kondisi panas dengan suhu tinggi dan kelembaban udara terlalu rendah
menyebabkan bunga rontok.
Pelaksana
Pemulia yang melaksanakan hibridisasi harus dengan serius dan bersungguhsungguh dalam melakukan hibridisasi, karena jika pemulia ceroboh maka
hibridisasi akan gagal.

Tanda Keberhasilan Hibridisasi


Menurut Syukur (2009) tanda keberhasilan hibridisasi adalah pada proses
perkembangan biji dapat dilihat pada hari 2-7 hari setelah penyerbukan. Jika pada bagian
petal telah mengering, namun pada bakal buah tetap segar selanjutnya bakal buah
membesar atau memanjang kemudian telah terjadi pembuahan. Bunga yang gagal
mengadakan fertilisasi biasanya gugur atau pada bagian kepala putiknya terlihat layu dan
bakal buah rontok.
Dalam melakukan persilangan harus diperhatikan: (1) penyesuaian waktu
berbunga. Waktu tanam tetua jantan dan betina harus diperhatikan supaya saat anthesis
dan reseptif waktunya bersamaan, (2) waktu emaskulasi dan penyerbukan. Pada tetua
betina waktu emaskulasi harus diperhatikan, seperti pada bunga kacang tanah, jadi harus

pagi hari, bila melalui waktu tersebut polen telah jatuh ke stigma. Juga waktu
penyerbukan harus tepat ketika stigma reseptif. Jika

antara

waktu antesis bunga

jantan dan waktu reseptif bunga betina tidak bersamaan, maka perlu dilakukan
singkronisasi. Caranya dengan membedakan waktu penanaman antara kedua tetua,
sehingga nantinya kedua tetua akan siap dalam waktu yang bersamaan. Untuk tujuan
sinkronisasi ini diperlukan informasi tentang umur tanaman berbunga (Syukur,
2009:284).
Berdasarkan tabel hasil dari persilangan kacang panjang jantan (merah) dan
kacang panjang betina (hitam putih) fenotip anakan yang muncul hanya satu jenis yaitu 9
buah biji kacang panjang dalam satu polongnya dan semuanya berwarna hitam putih. Hal
ini menandakan bahwa hasil persilangan antara kacang panjang betina hitam putih dan
kacang panjang jantan merah, lebih dominan kacang panjang warna hitam putih.

P:

HH

><

(Hitam Putih)
F1:

hh
(merah)

Hh
(Hitam Putih)
Selama praktikum persilangan praktikan mengalami kesulitan. Pada saat

persilangan yang pertama kali, buah sudah hampir siap dipanen namun cuaca tidak
mendukung (hujan terus-menerus) sehingga kacang busuk. Kemudian persilangan kedua
kacang panjang hilang. Selain dari kesalahan error praktikan hal ini juga mungkin
dipengaruhi oleh datangnya semut-semut yang menuju bunga yang akan disilangkan.
Karena kemungkinan semut juga membantu persilangan, sehingga bisa saja pesilangan
telah terjadi sebelum praktikan menyilangkan kacang panjang jantan dan kacang panjang
betina.
G. Kesimpulan

Tanaman model yang digunakan dalam praktikum ini yaitu tanaman kacang
panjang yang didapat berdasarkan kemiripan sifat dengan kacang ercis. Sifat dari
tetuanya yaitu dilihat dari warna bijinya masing-masing, untuk tanaman kacang panjang
jantan memiliki biji berwarna merah dan betina memiliki biji berwarna hitam-putih. Hasil
dari persilangan ini yaitu biji kacang panjang jantan merah dan kacang panjang betina
hitam putih menghasilkan 9 buah biji kacang panjang berwarna hitam putih . Dengan
adanya hal itu, dapat dikatakan bahwa sifat biji kacang panjang betina hitam putih lebih
dominan daripada jantan biji merah.
H. Diskusi
1. Berapa sifat yang dapat membedakan kedua tetua varietas kacang panjang yang
digunakan? Sebutkan !
Jawab:
Sifat yang dapat membedakan kedua tetua varietas kacang panjang tersebut ialah
warna yang tampak pada biji, bentuk biji, ukuran biji, bentuk daun, warna bunga,
warna polong atau buah, jumlah buah perpohon, dan jumlah biji perbuah. Namun,
pada percobaan ini, hanya menggunakan pembeda yaitu warna biji, bentuk biji, dan
ukuran biji, yakni indukan pertama memiliki biji berwarna merah, berbentuk
melengkung, dengan ukuran panjang biji 12 mm, sedangkan indukan kedua
memiliki biji berwarna belang hitam putih, berbentuk melengkung, dengan ukuran
panjang biji 10 mm.

2. Apakah kedua tetua yang digunakan dalam persilangan monohibrid (seperti Mendel)
harus merupakan lini murni? Jelaskan !
Jawab:
Tetua yang digunakan dalam persilangan monohibrid seperti Mendel harus
merupakan lini murni, karena jika tanaman yang disilangkan termasuk varietas galur
murni dan tanaman akan menyerbuk sendiri sehingga semua keturunannya akan
mempunyai varietas yang sama dengan induknya/parental.

3. Apakah hasil kesimpulan anda mengenai biji pada F1? Apakah hasilnya sama untuk
semua jenis persilangan? Jelaskan !
Jawab:

Kesimpulan mengenai biji hasil keturunan F1 yaitu memiliki fenotip biji dengan
warna merah bercak hitam pada kedua jenis persilangan tanaman kacang panjang
namun jumlah biji yang dihasilkan berbeda satu sama lain.

4. Pada percobaan ini telah dilakukan persilangan resiprok. Apa yang dimaksud dengan
persilangan resiprok? Hasil apa yang diperoleh?
Jawab:
Persilangan resiprok (tukar kelamin) adalah persilangan ulang dengan jenis kelamin
yang dipertukarkan, misalnya pada perkawinan persilangan monohibrid tanaman
jantan berbiji bulat dan tanaman betina berbiji keriput maka pada perkawinan
resiproknya adalah jantan berbiji keriput dengan tanaman betina berbiji bulat. Hasil
yang diperoleh tidak akan mempengaruhi hasil persilangan Mendel, karena gengen
yang dipilih Mendel adalah gengen yang tidak terpaut kelamin.

Genotip dan

fenotipe keturunannya tetap sama.


DAFTAR PUSTAKA
Hidayat, J.R. 1989. Teknik Persilangan dan Penanganan generasi lanjut pada kedelai.
Latihan Field Insfection and Maintanance of Varieties of Food
Legummes. Bogor. 1-12 P.
Nasir. M, 2001. Pengantar Pemuliaan Tanaman. Depatemen Pendidikan Nasional:
Jakarta.
Syukur, M., S. Sujiprihati, dan R. Yunianti. 2009. Teknik pemuliaan tanaman. Bagian
Genetika dan Pemuliaan Tanaman. Departemen Agronomi dan
Hotikultura IPB. Bogor. 284 hal.
Victoria Henuhili dan Suratsih. 2002. Genetika. Yogyakarta: Jurdik Biologi FMIPA
UNY.
www.plantamor.com/index.php?plant=2235 diakses pada tanggal 16 Mei 2016 pukul
14.27 WIB