Anda di halaman 1dari 10

Nama

: Dwi Sri Yani Purwanti

NIM

: P07134014038

Semester

: IV (Empat)
CRP (C-REACTIVE PROTEIN) TEST

Tanggal

: Kamis, 17 maret 2016

Tempat: Lab. Imunologi JAK Poltekkes Dps

I. TUJUAN
Untuk determinasi kualitatif dan semi-kuatitatif adanya CRP (C-Reaktive Protein)
dalam sampel serum secara aglutinasi lateks.
II. METODE
Slide aglutinasi secara kualitatif dan semi-kuantitatif.
III. PRINSIP
Berdasarkan reaksi aglutinasi secara imunologis antara CRP dalam serum sebagai
antigen dengan partikel lateks yang telah dilapisi Anti CRP sebagai antibodi.
IV. DASAR TEORI
Test C-Reaktive Protein (CRP) pertama kali ditemukan sebagai bahan dalam
serum pasien dengan peradangan akut yang bereaksi dengan polisakarida C-(kapsuler)
dari pneumococcus. Ditemukan oleh Tillet dan Francis Pada tahun 1930. Pada awalnya
diperkirakan bahwa CRP adalah sekresi pathogen seperti peningkatan CPR pada orang
dengan berbagai penyakit termasuk kanker. Disintesis oleh hati bila terjadi interaksi
akan melepaskan sitokin tersebut interleukin-6 (IL-6), interleukin-1 (IL-1), dan
tumor necrosis factor- (TNF-). Namun penemuan sintesis hati menunjukan bahwa
CPR adalah protein asli. Gen CRP terletak pada pertama kromosom (1q21-Q23). CRP
adalah protein 224-residu dengan massa molar dari monomer 25.106 Da. Protein ini
merupakan disc pentametric annular dalam bentuk dan anggota dari kecil family
pentraxins (Aqbal, Daliha. 2013).

C-Reaktive Protein (CRP) adalah protein yang ditemukan dalam darah yang
meningkat sebagai respon terhadap peradangan. Peran fisiologinya adalah untuk
mengikat fosfokolin yang di ekspresikan pada permukaan sel-sel mati atau sekarat
(dan beberapa jenis bakteri) untuk mengaktifkan system pelengkap melalui kompleks
C1q (S, Black. 2014)
CRP merupakan anggota dari kelas fase akut reaktan, sebagai tingkat yang
meningkat secara dramatis selama proses inflamasi yang terjadi dalam tubuh.
Kenaikan ini disebabkan oleh kenaikan konsentrasi plasma IL-6, yang diproduksi
terutama oleh makrofag serta adipocytes. CRP mengikat fosfokolin pada mikroba yang
berguna untuk membantu dalam melengkapi mengikat sel-sel asing dan rusak dan
meningkatkan fagositosis oleh makrofag (opsonin fagositosis dimediasi), yang
mengekspresikan reseptor untuk PRK. Hal ini juga diyakini memainkan satu peran
penting dalam kekebalan bawaan, sebagai sistem pertahanan awal terhadap infeksi.
CRP naik sampai 50.000 kali lipat dalam peradangan akut, seperti infeksi (Salasar,
Juan, dkk. 2014).
V. SAMPEL
Sampel yang digunakan adalah serum (bila tidak segera diperiksa maka serum dapat
disimpan pada suhu 2-8C sampai 48 jam atau suhu -20C sampai 4 minggu. (Sampel
tidak dapat digunakan jika hemolisi, lipemik, dan kontaminasi bakteri).
VI. ALAT DAN BAHAN
a. Alat
1. Mikropipet 100 l dan 50 l
2. Yellow tip
3. Petak slide berwarna hitam
4. Pengaduk disposible
5. Tabung serologis
6. Rak tabung
b. Bahan
1. CRP latex
2. Kontrol serum positif
3. Kontrol serum negative
4. Buffer Glisin Saline
VII. CARA KERJA
a. Kualitatif (screening test)

1. Alat dan bahan disiapkan di meja praktikum. (semua komponen pemeriksaan


didiamkan pada suhu ruangkan terlebih dahulu 30 menit).
2. Serum dipipet sebanyak 50 l dan diletakkan pada slide test warna hitam.
3. Serum ditambahkan 1 tetes reagen CRP latex.
4. Serum dan reagen diaduk selama 5 detik dengan tusuk gigi dan goyangkan slide
selama 2 menit. Lalu amati hasilnya, bandingkan dengan control positif dan negative.
Serum dengan hasil positif pada acara kualitatif (screening test) harus dilakukan titrasi test
(semi kuantitatif test) untuk mengetahui titer antibody dalam sampel.

b. Semi-kuantitatif
1. Siapkan 4 buah tabung serologis dan masing-masing diisi dengan buffer saline
sebanyak 100 l.
2. Buat pengenceran 1:2, 1:4, 1:8, dan 1:16. Dengan cara memiper 100 l serum dan
sakukkan ke tabung pertama (1:2).
3. Dari tabung pertama dipipet sebanyak 100 l campuran dan masukkan ke tabung
kedua (1:4).
4. Dari tabung kedua dipipet sebanyak 100 l campuran dan masukkan ke tabung ketiga
(1:8).
5. Dari tabung ketiga dipipet sebanyak 100 l campuran dan masukkan ke tabung
keempat (1:16).
6. Dari tabung keempat dipipet sebanyak 100 l campuran dan dibuang.
5. Dari masing masing tabung pengenceran dipipet sebanyak 50 l dan diletakkan pada
slide test warna hitam.
6. Serum ditambahkan 1 tetes reagen CRP latex.

7. Serum dan reagen diaduk selama 5 detik dengan tusuk gigi dan goyangkan slide
selama 2 menit.
Tentukan hasil akhir / titer yaitu pengenceran tertinggi yang masih menunjukkan adanya
aglutinasi (positif).

VIII. INTERPRETASI HASIL


Test negatif : bila tidak terjadi aglutinasi (< 6 mg/L)
Test positif : bila terjadi aglutinasi (gumpalan) latex.
IX. HASIL PENGAMATAN
Data Probandus :
Nama
: Dwi Sri Yani Purwanti
Jenis Kelamin
: Perempuan
Unur
: 19 Tahun
Sampel
: Serum
Hasil
:
- Kualitatif
= (+) positif
- Semi Kuantitatif =
-

1/2 = (+) positif


1/4 = (+) positif

1/8 = (+) positif


1/16 = () negatif

- Kualitatif
Kontrol
Kontrol
positif
X.
-

Terjadi aglutinasi (+)

XI.
XII.
-

Kuantitatif

1/1
6

1/8

1/4

1/2

XIII. PEMBAHASAN
-

Peningkatan kadar CRP>6 mg/L menandai adanya infeksiatau peradangan akut

karena CRP akan dihasilkan oleh interleukin pada sel parenkimhati ketika terjadi
peradangaan atau infeksi akut. Sehingga, CRP ini dijadikan sebagaiindikator terjadinya
infeksi akut akibat bakteri maupun virus. Kadar CRP yang berlebih merupakan tanda
adanya peradangan

akut.

Respon

peradangan

berhubungan

dengan

vasodilatasi,

peningkatan permeabilitas pembuluh darah, pembentukan sel-sel peradangan (terutama


neutrofil pada peradangan akut), pelepasan mediator peradangan seperti amina vasoaktif,
prostanoiddan intermedier oksigen reaktif dan pelepasan sitokin. Sitokin Interleukin-1 (IL1) dan Interluekin-6 (IL-6) terutama dihasilkan sebagai respon akut, suatu perubahan
produksi protein plasma oleh sel-sel hati. Peningkatan CRP di sel-sel parenkim hati diduga
dicetuskan oleh IL-1, yang berasal dari makrofag yang testimulir. Tingkat normal CRP
dapat ditemukan pada orang dewasa dan anak-anak yang dalam kondisi sehat. Tingkat CRP
dapat meningkat secara signifikan (> 10 kali lipat) di atas nilai normal dengan timbulnya
stimulus inflamasi substansial (Saxtad et al.,2012)
-

PFA (protein fase akut) merupakan bahan bahan anti mikrobial dalam serum

yang meningkat dengan cepat setelah sistem imun nonspesifik diaktifkan. Protein yang
meningkat atau menurun selama fase akut juga disebut APRP yang berperan
dalam pertahanan dini. Macam macam protein fase akut yaitu C-Reactive Protein (CRP),
Lektin, 1-anti-tripsin, amiloid serum A, haptoglobin, C9, faktor B dan fibrinogen yang
juga berperan dalam peningkatan laju endap darah akibat infeksi, namun dibentuk jauh
lebih lambat dibandingkan dengan CRP (Kapur, Rick. 2015).
-

Pada praktikum ini dilakukan pemeriksaan kadar C-Reaktif Protein (CRP) pada

sampel serum. Pemeriksaan ini dilakukan dengan dua metode yaitu metode kualitatif dan
metode semi-kuantitatif. Pada setiap pemeriksaan imunoserologi, semua sampel harus
dianggap infeksius dan praktikan harus menggunakan alat pelindung diri (APD) demi
menjaga keamanan dan kesehatan pemeriksa dari risiko terjadinya kecelakaan kerja di
Laboratorium.
-

Sebelum pemeriksaan dilakukan, mula-mula sampel dan reagen yang akan

digunakan harus dikondisikan pada suhu ruang (18-390C). Hal tersebut dikarenakan adanya
antigen dalam sampel serum dan dari antibodi pada reagen. Antibodi tersusun dari molekumolekul protein, dimana protein dapat bereaksi optimal pada suhu ruang. Oleh karena itu,
sampel dan reagen harus dikondisikan pada suhu ruang dahulu sebelum digunakan.
-

Penghomogenan reagen CRP latex bertujuan untuk memastikan bahwa

partikel-partikel pada reagen tersebar secara merata. Jika tidak dihomogenkan,

dikhawatirkan reagen yang terpipet hanya mengandung sedikit partikel latex, sehingga
beresiko mendapatkan hasil pemeriksaan yang palsu.
-

Pada saat meneteskan reagen, CRP latex ada beberapa hal yang perlu

diperhatikan yaitu :
a. Diteteskan sebanyak 1 tetes dengan posisi pipet yang tegak lurus. Jika dimiringkan,
dapat berpengaruh pada volume penetesan (volume penetesan berkurang/berlebih)
b. Saat meneteskan reagen, posisi ujung pipet tidak menyentuh slide test, hal tersebut
untuk menghindari kontaminasi pada seluruh reagen apabila pipet yang terkontaminasi
dimasukkan kembali ke dalam botol reagen
c. Reagen lebih baik diteteskan terlebih dahulu, baru kemudian diteteskan serum. Hal ini
bertujuan untuk menghindari terjadinya kontaminasi
d. Reagen diteteskan di bagian pinggir dalam lingkaran slide test dan diusahakan saat
meneteskan serum tidak langsung bercampur dengan reagen, karena akan
mempengaruhi waktu inkubasi, dimana waktu inkubasi harus dimulai bersamaan
sehingga reaksi yang terjadi lebih awal.
-

Penggunaan serum kontrol positif dan serum kontrol negative digunakan untuk

memverifikasi hasil pemeriksaan serta kontrol terhadap reagen. Apabila hasil pemeriksaan
pada serum control tidak sesuai dengan yang diharapkan, maka hasil pemeriksaan tidak
valid karena ada kesalahan pada reagen. Pada pemeriksaan kualitatif terhadap sampel
serum , diperoleh hasil positif yang ditandai dengan terbentuknya butiran seperti pasir
berwarna putih dan diamati pada tempat yang terang agar terlihat jelas. Selain itu, tujuan
dari penggoyangan slide test selama 2 menit adalah untuk mengoptimalkan reaksi
imunologis antara antigen pada sampel dengan partikel latex pada reagen CRP.
-

Pada pemeriksaan kualitatif didpatkan hasil positif maka di lanjutkan ke

semikuantitatif.

Pada

pemeriksaan

semi-kuantitatif

diperoleh

hasil

positif

pada

pengenceran 1/2, 1/4, dan 1/8, maka dapat ditentukan kadar CRP pada sampel serum
pasien adalah 48 mg/l. Apabila dibandingkan dengan nilai normal kadar CRP pada serum
( < 6 mg/l), maka pasien mengalami peningkatan kadar C-Reaktif Protein (CRP).

Hasil titer antigen CRP positif 48 mg/L pada sampel serum Dwi Sri Yani

dikarenakan terjadinya peradangan/alergi/infeksi yang didukung dengan pemeriksaan darah


lengkap yang telah dilakukan beberapa hari setelah praktikum dilakukan. Dari pemeriksaan
DL

tersebut

jumlah

leukositnya

diatas

normal

yang

menandakan

adanya

peradangan/alergi/infeksi yang terjadi sehingga menyebabkan hasil pemeriksaan CRP-nya


positif.
-

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemeriksaan CRP latex, yakni


a. Slide test yang digunakan harus bersih, bebas dari kotoran, sehingga tidak
mengganggu pengamatan aglutinasi.
b. Sebelum digunakan, reagen dan sampel harus dikondisikan pada suhu ruang
dan dihomogenkan. Hal ini penting dilakukan untuk mengoptimalkan reaksi
antara antigen pada sampel serum yang diperiksa dan antibodi CRP pada
reagen lateks.
c. Reagen yang tersedia telah siap untuk digunakan, sehingga tidak diperlukan
pengenceran lebih lanjut.
d. Serum yang digunakan harus jernih (tidak liparmic, ikterik, lisis) sehingga
tidak akan mengganggu pengamatan aglutinasi. Sebelum diteteskan, serum
dihomogenkan terlebih dahulu untuk meratakan penyebaran partikel-partikel
sampel serum tersebut, sehingga reaksi antigen dalam serum dan antibodi antiCRP dalam reagen lateks dapat terjadi dengan optimal.
e. Penetesan reagen maupun sampel serum dilakukan secara vertikal agar tetesan
benar-benar satu tetes penuh. Petugas/praktikan yang meneteskan reagen dan
sampel untuk setiap pengujian harus orang yang sama agar hasil penetesan dari
awal sampai terakhir stabil sebab tekanan setiap orang berbeda-beda.
f. Ujung pipet penetes tidak boleh menyentuh slide test untuk mencegah
terjadinya kontaminasi. Apabila reagen lateks terkontaminasi oleh serum
dengan CRP positif, maka reagen akan rusak dan akan menimbulkan reaksi
yang palsu untuk pemeriksaan selanjutnya.

g. Pada saat menggoyang-goyangkan slide test untuk tujuan homogenisasi,


diusahakan agar campuran tidak keluar dari garis lingkaran, sehingga tidak
tercampur dengan sampel lainnya pada satu slide test.
h. Pembacaan hasil dilakukan tidak kurang dan tidak lebih dari 2 menit. Bila
waktu inkubasi kurang, kemungkinan antibodi anti-CRP pada reagen lateks
belum berikatan dengan antigen CRP di dalam sampel serum yang diperiksa.
Sedangkan jika pembacaan dilakukan lebih dari 2 menit, maka kemungkinan
antigen lain di dalam sampel serum yang seharusnya tidak bereaksi dengan
antibodi anti CRP di dalam reagen lateks akan bereaksi, sehingga terjadi
aglutinasi. Kedua hal ini akan menyebabkan hasil palsu.
i. Kontrol positif dan negatif harus diperiksa dalam waktu yang bersamaan.
j. Reagen kontrol positif dan negatif tersedia dalam keadaan siap untuk
digunakan dan tidak memerlukan pengenceran lebih lanjut.
k. Pembacaan hasil sebaiknya dilakukan pada pencahayaan terang, sehingga
aglutinasi dapat diamati dengan jelas.
l. Setelah selesai digunakan, slide tes harus dibilas bersih menggunakan aquadest,
dikeringkandan dilap dengan tissue untuk mencegah kontaminasi pada
pemeriksaan selanjutnya.
XIV. KESIMPULAN
-

Dari praktikum pemeriksaan CRP pada serum probandus atas nama Dwi Sri

Yani Purwanti jenis kelamin perempuan didapatkan hasil titer antigen positif 48 mg/L.
XV. DAFTAR PUSTAKA

Aqbal, Daliha. 2013 . The Role of C- Reactive Protein in Inflammatory Bowel


Disease. [online]. tersedia : https://blogs.commons.georgetown.edu/journal-ofhealth-sciences/issues-2/previous-volumes/vol-4-no-1-march-2007/the-role-of-c-

reactive-protein-in-inflammatory-bowel-disease/ Diakses 01 April 2016


Kapur, Rick. 2015. C-reactive protein enhances IgG-mediated phagocyte
responses and thrombocytopenia. [online]. tersedia :
http://www.bloodjournal.org/content/125/ 11/1793?sso-checked=true Diakses : 01

April 2016
Ribeiro, M.A . 20-. Levels of C-reactive protein in serum samples from healthy
children and adults in So Paulo, Brazil. [online]. tersedia :
http://www.scielo.br/scielo. php?script=sci_arttext&pid=S0100-

879X1997000900002 Diakses : 01 April 2016


Salasar, Juan, dkk. 2014. C-Reactive Protein: Clinical and Epidemiological
Perspectives. [online]. tersedia :

http://www.hindawi.com/journals/crp/2014/605810/. Diakses : 01 April 2016


Saxtad J, Nilsson LA and Hanson LA 2012. C-Reactive Protein (CRP) Latex Test.
[online]. tersedia : http://webcache.googleusercontent.com/search?
q=cache:2jkzBsO5bAJ:
www.pulsescientific.com/downloads/CRP.pdf+&cd=3&hl=id&ct=clnk&gl=id

Diakes 03 April 2016


S, Black. 2014 . C-reactive Protein. [online]. tersedia :
http://www.jbc.org/content/279/ 47/48487.full Diakses : 01 April 2016