Anda di halaman 1dari 3

PERAWATAN LUKA

PEMERINTAH
KABUPATEN
JEMBRANA

Ditetapkan Oleh
:
Kepala
Puskesmas I
Jembrana
1. Pengertian
2. Tujuan

NO.DOKUMEN
S NO. REVISI
TGL. TERBIT
O
HALAMAN
P

:
:
:
:

PUSKESMAS I
JEMBRANA
I Nengah Suparta,
SKM, M.Kes
NIP. 19690906 199203 1
018

Tindakan medis untuk membersihkan luka sehingga terhindar dari infeksi dan
mempercepat kesembuhan luka
1. Melakukan penatalaksanaan luka
2. Mencegah komplikasi

3. Kebijakan
4. Referensi
5. Prosedur
6. Langkah-langkah

1. Perhatikan ABC (Airway, Breathing, Circulation)


2. Periksa tanda vital (tekanan darah, frekuensi nadi, frekuensi nafas dan
suhu)
3. Gambaran klinis :
a. Ekskoriasi atau luka lecet atau luka gores, cedera pada permukaan
epidermis akibat bersentuhan dengan benda berpermukaan kasar
atau runcing
b. Vulnus scissum atau luka sayat atau luka iris, tepi luka berupa
garis lurus dan beraturan
c. Vulnus laceratum atau luka robek, tapi luka tidak beraturan atau
compang camping biasanya karena tarikan atau goresan benda
tumpul
d. Vulnus pungtum atau luka tusuk, biasanya kedalaman luka lebih
daripada lebarnya. Luka ini akibat tusukan benda runcing
e. Vulnus morsum, luka karena gigitan binatang
f. Vulnus combutio atau luka bakar
4. Pentalaksanaan
a. Evaluasi luka
Anamnesa , penting untuk menentukan cara penanganan
dengan menanyakan bagaimana, dimana dan kapan luka
terjadi. Hal ini dilakukan untuk memperkirakan
kemungkinan terjadinya kontaminasi dan menentukan
apakah luka akan ditutup secara primer atau dibiarkan
terbuka
Pemeriksaan fisik
Lokasi, penting sebagai petunjuk kemungkinan

b.

c.

d.

e.

f.

g.

h.

adanya cedera pada struktur yang lebih dalam


Eksplorasi, dikerjakan untuk menyingkirkan
kemungkinan cedera pada struktur yang lebih
dalam, menenmukan benda asing yang mungkin
tertinggal pada luka serta menemukan adanya
jaringan yang telah mati
Tindakan antisepsis
Daerah yang disucihamakan harus lebih besar dari ukuran luka.
Prinsip saat mensucihamakan kulit adalah mulai dari tengah dan
bekerja ke arah luar, dengan pengusapan secara spiral, dimana
daerah yang telah dibersihkan tidak boleh diusap lagi
menggunakan kasa yang telah digunakan tersebut. Larutan
antiseptic yang dianjurkan adalah povidone iodine 10% atau
klorheksidine glukonat 0,5%
Pembersihan luka
Irigasi sebanyak-banyaknya dengan tujuan untuk
membuang jaringan mati dan benda asing (debridement)
sehingga akan mempercepat penyembuhan.
Irigasi dilakukan dengan menggunakan cairan garam
fisiologis atau air bersih. Lakukan secara sitematis dari
lapisan superfisial ke lapisan yang lebih dalam
Hilangkan semua benda asing dan eksisi semua jaringan
mati. Tepi yang compang-camping sebaiknya dibuang
Berikan antiseptic
Bila perlu tindakan ini dilakukan dengan pemberian
anastesi lokal
Penjahitan luka
Luka bersih dan diyakini tidak mengalami infeksi serta berumur
kurang dari 8 jam boleh dijahit primer. Sedangkan luka yang
terkontaminas berat dan atau tidak berbatas tegas dibiarkan
sembuh per subcundam atau per tertiam
Penutupan luka
Mengupayakan kondisi yang baik pada luka sehingga proses
penyembuhan berlangsung optimal. Pada penutupan luka
digunakan kasa sampai luka menutup
Pembalutan
Pertimbangan dalam menutup dan membalut luka sangat
tergantung pada penilaian kondisi luka. Luka sayat, bersih,
ukuran kecil yang dapat mengalami proses penyembuhan per
primam tidak memerlukan penutup atau pembalut. Sebaliknya
pada luka luas dengan kehilangan kulit atau disertai eksudasi dan
produk lisis jaringan memerlukan penggantian balutan sampai 5-6
kali sehari
Pemberian antibiotic dan ATS
Pada luka bersih tidak perlu pemberian antibiotic dan pada luka
terkontaminasi atau kotor maka perlu diberikan antibiotic. Lukaluka yang merupakan media yangbagi berkembangbiaknya
bakteri-bakteri anaerob (luka tusuk, luka menggaung,
terkontaminasi karat, kotoran kuda) memerlukan ATS
Pengangkatan jahitan
Jahitan diangkat bila fungsinya sudah tidak diperlukan lagi,
secara klinis tampak luka sudah menutup

7. Hal-hal yang
perlu diperhatikan
8. Unit Terkait
9. Dokumen Terkait