Anda di halaman 1dari 14

Pengelolaan Hara pada Tanaman Jagung

Syafruddin, Faesal, dan M. Akil


Balai Penelitian Tanaman Serealia, Maros

PENDAHULUAN
Upaya peningkatan produksi jagung, baik melalui intensifikasi maupun
ekstensifikasi, selalu diiringi oleh penggunaan pupuk, terutama pupuk
anorganik, untuk memenuhi kebutuhan hara tanaman. Pada prinsipnya,
pemupukan dilakukan secara berimbang, sesuai kebutuhan tanaman
dengan mempertimbangkan kemampuan tanah menyediakan hara secara
alami, keberlanjutan sistem produksi, dan keuntungan yang memadai bagi
petani.
Pemupukan berimbang adalah pengelolaan hara spesifik lokasi,
bergantung pada lingkungan setempat, terutama tanah. Konsep
pengelolaan hara spesifik lokasi mempertimbangkan kemampuan tanah
menyediakan hara secara alami dan pemulihan hara yang sebelumnya
dimanfaatkan untuk padi sawah irigasi (Dobermann and Fairhurst 2000,
Witt and Dobermann 2002). Konsep serupa juga digunakan untuk
rekomendasi pemupukan yang baru pada tanaman jagung di Nebraska
(Amerika Serikat), dengan penekanan khusus pada pemahaman potensi
hasil dan senjang hasil sebagai dasar perbaikan rekomendasi pengelolaan
hara yang bersifat spesifik lokasi (Dobermann et al. 2003). Pengelolaan hara
spesifik lokasi berupaya menyediakan hara bagi tanaman secara tepat, baik
jumlah, jenis, maupun waktu pemberiannya, dengan mempertimbangkan
kebutuhan tanaman, dan kapasitas lahan dalam menyediakan hara bagi
tanaman (Makarim et al. 2003)
Pengapuran masih cukup relevan dalam upaya ameliorasi lahan kering
yang bereaksi masam dengan kandungan Al yang tinggi dan pada lahan
pasang surut sulfat masam untuk menetralisasi keracunan Al maupun Fe.
Tidak tersedianya kapur pada saat yang tepat dan biaya pengapuran yang
mahal sering menjadi kendala dalam upaya peningkatan produktivitas lahan
melalui pengapuran.
Penggunaan bahan organik perlu mendapat perhatian yang lebih besar,
mengingat banyaknya lahan yang telah mengalami degradasi bahan organik,
di samping mahalnya pupuk anorganik (urea, ZA, SP36, dan KCl). Penggunaan pupuk anorganik secara terus-menerus tanpa tambahan pupuk
organik dapat menguras bahan organik tanah dan menyebabkan degradasi
kesuburan hayati tanah.

Syafruddin et al.: Pengelolaan Hara pada Tanaman Jagung

205

KEBUTUHAN HARA PADA TANAMAN JAGUNG


Tanaman jagung membutuhkan paling kurang 13 unsur hara yang diserap
melalui tanah. Hara N, P, dan K diperlukan dalam jumlah lebih banyak dan
sering kekurangan, sehingga disebut hara primer. Hara Ca, Mg, dan S
diperlukan dalam jumlah sedang dan disebut hara sekunder. Hara primer
dan sekunder lazim disebut hara makro. Hara Fe, Mn, Zn, Cu, B, Mo, dan Cl
diperlukan tanaman dalam jumlah sedikit, disebut hara mikro. Unsur C, H,
dan O diperoleh dari air dan udara.
Beberapa faktor yang mempengaruhi ketersediaan hara dalam tanah
untuk dapat diserap tanaman antara lain adalah total pasokan hara,
kelembaban tanah dan aerasi, suhu tanah, dan sifat fisik maupun kimia
tanah. Keseluruhan faktor ini berlaku umum untuk setiap unsur hara (Olson
and Sander 1988). Kandungan hara pada tanaman jagung yang memberi
hasil 9,45 t biji/ha dapat dilihat pada Tabel 1.
Pola serapan hara tanaman jagung dalam satu musim mengikuti pola
akumulasi bahan kering sebagaimana dijelaskan oleh Olson dan Sander
(1988). Sedikit N, P, dan K diserap tanaman pada pertumbuhan fase 2, dan
serapan hara sangat cepat terjadi selama fase vegetatif dan pengisian biji.
Unsur N dan P terus-menerus diserap tanaman sampai mendekati matang,
sedangkan K terutama diperlukan saat silking. Sebagian besar N dan P
dibawa ke titik tumbuh, batang, daun, dan bunga jantan, lalu dialihkan ke
biji. Sebanyak 2/3-3/4 unsur K tertinggal di batang. Dengan demikian, N dan
P terangkut dari tanah melalui biji saat panen, tetapi K tidak.
Tabel 1. Kandungan hara tanaman jagung dengan hasil biji 9,45 t/ha.
Kandungan hara (kg/ha)
Unsur hara

N
P
K
Ca
Mg
S
Cl
Fe
Mn
Cu
Zn
B
Mo

Biji

Batang

129
31
39
1,5
11
12
4,5
0,11
0,06
0,02
0,19
0,05
0,006

62
8
157
39
33
9
76
2,02
0,28
0,09
0,19
0,14
0,003

Sumber: Barber dan Olsen (1968) dalam Olson dan Sander (1988).

206

Jagung: Teknik Produksi dan Pengembangan

Tabel 2. Batas kritis kekurangan hara dalam daun ke-5, 6, 7,


dan saat silking.
Hara

tanaman

Batas kritis kekurangan hara

N
P
K
S
Ca
Mg
Fe
Zn

1,40%
0,16%
2,00%
0,12%
0,50%
0,30%
200 ppm
15 ppm

Sumber: Fathan et al. (1988).

Kadar hara kritis dalam tanaman perlu diketahui sebagai dasar pemberian pupuk. Tanaman akan tanggap terhadap pupuk jika kadar hara
berada di bawah titik kritis. Batas kritis kekurangan hara pada daun tanaman
jagung saat silking berdasarkan penelitian di daerah pengembangan jagung
di Jawa disajikan pada Tabel 2.

PEMUPUKAN N, P, K, DAN S
Pupuk yang diberikan pada tanaman jagung di Indonesia umumnya mengandung hara makro N, P, K, dan S, tetapi belum mengandung hara mikro,
karena belum ada sentra-sentra pengembangan jagung yang berindikasi
kekurangan hara mikro.

Takaran Pupuk N P, K, dan S


Tidak semua pupuk yang diberikan ke dalam tanah dapat diserap oleh
tanaman. Nitrogen yang dapat diserap hanya 55-60% (Patrick and Reddy
1976), P sekitar 20% (Hagin and Tucker 1982), K antara 50-70% (Tisdale and
Nelson 1975), dan S sekitar 33% (Morris 1987). Tanggapan tanaman terhadap
pupuk yang diberikan bergantung pada jenis pupuk dan tingkat kesuburan
tanah. Karena itu, takaran pupuk berbeda untuk setiap lokasi. Metode untuk
menentukan kebutuhan pupuk didasarkan pada persamaan yang
dikembangkan oleh Dobermann dan Cassman (2002):
Fx = (kg /ha) = (Htarget Hox)/REx
di mana:
Fx
= Takaran pupuk N, P, K, atau S yang direkomendasikan (kg/ha)
REx
= efisiensi recovery N, P, atau K (kg pupuk yang dimanfaatkan
per kg pupuk yang diaplikasikan)

Syafruddin et al.: Pengelolaan Hara pada Tanaman Jagung

207

Htarget = serapan hara pemupukan lengkap NPKS (kg hara/ha)


berdasarkan prediksi target hasil maksimum
Hox
= Pasokan hara alami, yaitu serapan hara N, P, K atau S jika
tanpa pemberian N, P, K, atau S (kg/ha)
Jika sulit dianalisis kandungan hara N, P, K, atau S, pendekatan lain yang
dapat digunakan adalah berdasarkan target hasil dan efisiensi agronomis
di suatu lokasi:
Fx = (Ytarget Yox)/EAx ... +/- faktor koreksi
di mana
Ytarget = hasil biji target yang akan dicapai (80-95% dari hasil
maksimum yang pernah dicapai di lokasi tersebut) (kg/ha)
Yo x
= hasil biji tanpa pupuk N, P, K atau S (t/ha)
EAx
= efisiensi agronomis N, P, K, atau S (kg hasil biji yang diperoleh
per kg pupuk yang diberikan)
Hasil penelitian pengelolaan hara spesifik lokasi pada berbagai jenis
tanah di Indonesia telah disimpulkan oleh Witt (2007). Takaran pupuk N
berdasarkan efisiensi agronomis dan kenaikan hasil jika diberi N dibanding
tanpa pemberian N dapat dilihat padaTabel 3. Takaran pemberian P dan K
berdasarkan target hasil dan kenaikan hasil jika diberi pupuk P, atau K
disajikan pada Tabel 4 dan 5.

Tabel 3. Rekomendasi pemupukan N pada tanaman jagung berdasarkan efisiensi


agronomik N dan kenaikan hasil jika dipupuk N dibanding tanpa N.
Efisiensi
Kenaikan hasil
dibanding tanpa N
(t/ha)

Rendah
(25 kg/kg)

agronomik

Sedang
(29 kg/kg)

Tinggi
(33 kg/kg)

...................................Takaran N (kg/ha)...................................
1
2
3
4
5
6
7
8
Sumber:

208

80
120
160

105
140
175

120
150
180
210
240

Witt (2007).

Jagung: Teknik Produksi dan Pengembangan

Tabel 4. Rekomendasi pemupukan P pada tanaman jagung


berdasarkan target hasil dan kenaikan hasil jika
dipupuk P dibanding tanpa P.
Kenaikan hasil
dibanding tanpa P
(t/ha)

0
0,5
1,0
1,5
2,0
2,5

Target hasil
5-8 t/ha

9-12 t/ha

...................Takaran P 2O5 (kg/ha)...............


5-10
10-15
25-30
30-35
45-50
50-55
65-70
70-75
85-90
90-95
105-110
110-115

Tabel 5. Rekomendasi pemupukan K pada tanaman jagung berdasarkan


target hasil dan kenaikan hasil jika dipupuk K dibanding tanpa K.
Kenaikan hasil
dibanding tanpa K
(t/ha)

0
0,5
1,0
1,5
2,0
2,5

Target hasil
4-7 t/ha

7-10 t/ha

10-12 t/ha

......................Takaran K 2O (kg/ha)..............................
20-30
30-40
40-50
40-50
50-60
60-70
60-70
70-80
80-90
80-90
90-100
100-110
100-110
110-120
120-130
120-130
130-140
140-150

Pemupukan N Berdasarkan Klorofilmeter/Soil Plant Analisis


Developmentt (SPAD) dan Bagan Warna Daun (BWD)
Gejala kekurangan atau kelebihan N pada tanaman jagung dapat
diidentifikasi melalui warna daun. Kekurangan N mengakibatkan klorosis
pada daun (berwarna kuning pada daun). Sebaliknya, kelebihan N membuat
daun berwarna hijau gelap. Pengukuran klorofil daun menggunakan
klorofilmeter dan pengukuran warna daun menggunakan BWD berkorelasi
positif dengan kadar N daun (Syafruddin et al. 2007).
Metode klorofilmeter mempunyai akurasi yang sama dengan metode
analisis N secara destruktif pada bagian tanaman untuk menentukan
kecukupan hara N pada beberapa tanaman, antara lain tanaman padi
(Balasubramanian et al. 2000, Hussain et al. 2000), gandum (Follet et al.
1992), kapas (Wood et al. 1992), dan jagung (Syafruddin et al. 2006).

Syafruddin et al.: Pengelolaan Hara pada Tanaman Jagung

209

Klorofilmeter tidak tepat digunakan pada fase awal tanaman untuk


memprediksi takaran pupuk yang dibutuhkan tanaman, tetapi cocok untuk
pengukuran dalam fase V6-VT sebagai pupuk susulan (kedua atau ketiga)
setelah pemberian pupuk dasar. Hal tersebut disebabkan karena korelasi
antara nilai SPAD dengan kadar N dan hasil biji tidak nyata pada pengukuran
SPAD sebelum V6 (Syafruddin et al. 2006). Umumnya tanah-tanah di daerah
tropis basah kekurangan N untuk pertumbuhan tanaman jagung, sehingga
pupuk N perlu diberikan. Agar efisien, pemupukan N pada jagung dilakukan
dua atau tiga tahap selama pertumbuhan tanaman, yaitu pada awal tanam
dan dalam fase V6-VT. Karena itu pemantauan kecukupan N pada tanaman
jagung berdasarkan nilai SPAD untuk pemupukan susulan (aplikasi pupuk
kedua atau ketiga) dilakuan pada fase V6-VT. Pemupukan N pada awal tanam
(5-7 hari setelah tanam) dengan takaran 50 kg N/ha, membuat tanaman
tidak kekurangan N pada awal pertumbuhan.
Untuk mendapatkan hasil jagung yang optimal, nilai SPAD (pengukuran
klorofilmeter) tanaman mulai dari V6 sampai VT harus >53 unit pada varietas
hibrida, sedangkan pada varietas komposit adalah >51,5. Tanaman jagung
diberi pupuk hanya jika nilai SPAD < 53,5 unit untuk varietas hibrida dan
<51,5 unit untuk varietas komposit. Takaran pupuk N yang diberikan
bergantung nilai SPAD pada fase V6-VT dan varietas yang ditanam, hibrida
atau bersari bebas (Tabel 6).
Klorofilmeter relatif mahal, sehingga sulit diterapkan petani/kelompok
tani, tetapi diperlukan penyuluh pertanian, konsultan, atau peneliti untuk
menetukan pemupukan N dalam skala luas. Untuk petani, pemantauan

Tabel 6. Perkiraan tambahan pupuk N berdasarkan nilai SPAD (pembacaan klorofilmeter)


pada setiap fase tumbuh tanaman jagung varietas hibrida dan bersari bebas.
Tambahan pupuk (kg N/ha)*
Fase tumbuh

V6

V10-V12

VT

Nilai SPAD
(unit)

Hibrida

Bersari bebas (OPV)

>53
51,5-53
50-51,5
<50
>53
51,5-53
50-51,5
<50
>53
51,5-53
50-51,5
<50

100
100-125
125-150
75
75-100
100-125
50
50-75
75-100

100
100-125
75
75-100
50
50-100

Sumber: Syafruddin et al. (2006).

210

Jagung: Teknik Produksi dan Pengembangan

kecukupan hara N dapat dilakukan dengan menggunakan bagan warna


daun (BWD) meskipun hasilnya tidak seakurat klorofilmeter. BWD yang
berasal dari IRRI mempunyai skala warna 2-5 (warna kuning-kehijauan
sampai hijau tua) dan sudah dikembangkan untuk pemupukan N tanaman
padi.
Titik kritis kecukupan hara N berdasarkan nilai BWD bergantung pada
varietas dan tanaman. Titik kritis kecukupan hara N varietas hibrida pada
fase V6-V10 adalah pada skala 4,55 dan fase V12-VT adalah pada skala 4,65,
sedangkan untuk varietas komposit adalah skala 4,45 pada fase V6-V12 dan
skala 4,5 pada fase VT. Hasil jagung yang tinggi akan diperoleh jika
pengukuran warna daun mempunyai nilai BWD >4,5 sejak umur V6-VT
(Syafruddin et al. 2007).
Berbeda dengan penggunaan klorofilmeter, pemupukan N berdasarkan
BWD hanya akurat pada fase V10-VT. Karena itu penggunaan BWD dilakukan pada fase V10-VT. Pemupukan N pada tanaman jagung sebaiknya
dilakukan tiga kali, yaitu pada umur 7 HST 50 kg N/ha, pada umur 30-35 HST
(V6) 75 kg N/ha, kemudian pada umur 45-50 HST (V12-V14) berdasarkan
pemantauan BWD. Perkiraan kebutuhan pupuk N (susulan ketiga) berdasarkan BWD pada umur 45-50 HST (V12-V14) dapat dilihat pada Tabel 7.
Kesesuaian takaran pupuk yang diberikan dengan pengukuran hara N
menggunakan klorofilmeter atau BWD bergantung pada tingkat akurasi
pengukuran. Untuk mendapatkan akurasi yang tinggi, maka metode
pengukuran dengan SPAD dan BWD adalah sebagai berikut: 1) pengamatan

Tabel 7. Perkiraan tambahan N berdasarkan skor BWD pada


tanaman jagung fase V12-VT.
Takaran N (kg/ha)
Skor BWD

3,5
36
3,7
3,8
3,9
4,0
4,1
4,2
4,3
4,4
4,5
4,6

Hibrida

Bersari bebas

99
95
89
84
77
71
64
56
46
34
14
-

85
80
74
69
63
56
49
41
28
8
-

Sumber: Syafruddin et al.(2007).

Syafruddin et al.: Pengelolaan Hara pada Tanaman Jagung

211

dilakukan pada 1/3 bagian dari ujung daun, minimal tiga kali; 2) daun yang
diamati adalah daun ketiga dari atas yang telah terbuka sempurna jika
tanaman belum mencapai fase VT, atau daun yang terletak di bakal tongkol
jika tanaman sudah mencapai fase VT; 3) jumlah sampel minimal 20 tanaman
yang ditentukan secara acak (kemudian dirata-ratakan) yang mewakili
kelompok wilayah/areal yang dinilai seragam kondisinya; 4) pengukuran
dilakukan pada pagi hari tanpa tenggang waktu antara sampel yang diamati;
5) tanaman tidak dalam kondisi cekaman kekeringan; dan 6) tanaman tidak
kekurangan hara lain sehingga pemupukan selain N harus optimal.

Sumber Pupuk N, P, K, dan S


Berkaitan dengan sifat tanah, bentuk pupuk menentukan efisiensi dan
efektivitas pemupukan. Pada tanah masam dengan kandungan Al tinggi,
fiksasi hara (P) akan tinggi, sedangkan pada tanah basa (kapuran)
persaingan serapan oleh Ca akan tinggi pula. Karena itu, pupuk yang cocok
untuk kedua kondisi tersebut adalah yang dapat melepaskan hara secara
perlahan (slow release) atau pupuk yang mempunyai kandungan yang dapat
menetralisasi kondisi tersebut.
Hara N yang bersumber dari urea tidak berbeda dengan yang bersumber
dari ZA untuk tanaman jagung pada tanah dengan pH <6 (Fadhly et al.
1993, Gunarto 1986, Subandi et al. 1990). Pada tanah kapuran di Sinjai,
Sulawesi Selatan, pupuk ZA memberikan kadar N daun, panjang tongkol,
dan hasil yang lebih tinggi dibanding urea (Gunarto et al. 1986). Hal tersebut
disebabkan karena tanah kapuran tanggap terhadap hara S, sehingga ZA
lebih efektif dibanding urea.
Pemberian hara P dalam bentuk fosfat alam pada lahan sulfat masam
relatif lebih baik dibanding pemberian dalam bentuk TSP (Raihana 1993).
Sebaliknya pada tanah kapuran, pemberian P dalam bentuk TSP lebih baik
dibanding fosfat alam (Sudaryono 1998).
Pemberian hara P pada tanah Ultisol dalam bentuk SP36 sama baiknya
dengan TSP, walaupun kadar P 2 O 5 pada SP36 (36%) lebih rendah dibading
TSP (46%). Hal yang sama juga terjadi pada tanah sulfat masam (Noor dan
Ningsih 1998).
Pupuk Phosmag plus sebagai sumber P lebih efisien dibanding SP36
dilihat dari kenaikan hasil biji pada setiap pemberian 1 kg P 2O 5. Pada takaran
pupuk SP36 50-200 kg/ha efisiensi pemupukan adalah 62,8-105,5 kg biji/kg
P 2 O 5 . Untuk pupuk Phosmag plus pada takaran 90-360 kg/ha efisiensi
pemupukan adalah 87,6-119 kg biji/kg P 2 O 5 (Subandi et al. 1999).

212

Jagung: Teknik Produksi dan Pengembangan

Pemupukan K dalam bentuk ZK memberikan hasil yang sama dengan


K dalam bentuk KCl pada tanah kapuran. Pemberian S dalam bentuk ZK
cenderung lebih baik dibanding S dalam bentuk belerang pada tanah yang
sama.

Waktu dan Cara Pemberian Pupuk


Selain takaran dan bentuk pupuk, waktu dan cara pemupukan juga berperan
penting dalam meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk. Waktu dan cara
pemberian pupuk berkaitan erat dengan laju pertumbuhan tanaman di
mana hara dibutuhkan oleh tanaman dan kehilangan pupuk (dapat terjadi
melalui proses pencucian, penguapan, dan fikssasi). Hara N banyak
menguap dan tercuci, hara K banyak tercuci, sedangkan hara P terfiksasi di
dalam tanah.
Untuk mengurangi kehilangan N, pemberian pupuk N harus dilakukan
secara bertahap. Hasil penelitian Tirtoutomo et al. (1991) menunjukkan
bahwa pemberian N 1/3 bagian pada saat tanam dan 2/3 bagian pada 30
HST atau 1/3 bagian pada waktu tanam, 1/3 bagian pada 30 HST, dan 1/3
bagian pada 45 HST relatif lebih baik dari segi hasil maupun efisiensi serapan
N, dibanding dengan pemberian seluruhnya pada saat tanam atau 2/3
takaran pada waktu tanam dan 1/3 takaran pada 30 HST (Tabel 8). Hal yang
sama juga dilaporkan oleh Gunarto (1986), di mana pemberian N 1/2 bagian
awal tanam dan 1/2 bagian pada saat 30 HST memberikan hasil dan serapan
hara yang lebih tinggi dibanding jika pupuk N diberikan seluruhnya pada
saat tanam. Pemberian N secara tugal atau larik lebih hemat 55-66%
dibanding cara sebar atau siram (urea dilarutkan). Pemberian 45 kg N/ha
secara tugal atau larik memberikan hasil yang setara dengan pemberian 90
kg N/ha secara sebar atau disiram (Fadhly et al. 1993).
Pupuk P sebaiknya diberikan semuanya pada awal tanam, karena
memberikan hasil yang sama dengan pemberian secara bertahap (Sutoro
Tabel 8. Pengaruh pemberian N terhadap hasil biji dan efisiensi
serapan N tanaman jagung.
Pemberian N

Efisiensi serapan N
(%)

0 HST

30 HST

45 HST

1
2/3
2/3
1/3

0
1/3
2/3
1/3

0
0
0
1/3

16,5
19,5
26,3
48,3

Sumber: Tirtoutomo et al. (1991).

Syafruddin et al.: Pengelolaan Hara pada Tanaman Jagung

213

et al. 1988). Pemberian P secara larik lebih efektif dibanding secara tugal.
Pemberian 60 kg P 2 O 5 /ha secara larik memberikan hasil yang setara dengan
120 kg P 2O 5 secara tugal (Subandi et al. 1990).
Pada tanah Ultisol, pupuk K lebih baik diberikan secara bertahap, yaitu
1/2 takaran pada awal tanam dan 1/2 takaran pada 45 HST, dibanding diberikan seluruhnya pada awal tanam. Pada tanah kapuran justru sebaliknya,
seluruh pupuk K lebih baik diberikan pada awal tanam (Syafruddin et al.
1997). Pada tanah kapuran, Ca menghambat serapan K. Jika pupuk K
terlambat diberikan maka Ca akan dominan diserap lebih awal yang akan
menghambat serapan K.

Pemberian

Kapur

Pada lahan kering bereaksi masam, khususnya tanah Oxisol dan Ultisol,
masalah utama pada pengembangan jagung dan palawija lain adalah kadar
Al yang tinggi. Pada tanah sulfat masam, masalah tersebut ditambah lagi
dengan kadar Fe yang tinggi yang dapat meracuni tanaman, termasuk
jagung. Pemberian kapur dapat menetralisasi kedua unsur tersebut. Selain
itu, pengapuran juga dapat meningkatkan pH tanah yang menyebabkan
ketersedian hara menjadi lebih baik.
Tanaman jagung umumnya toleran terhadap keracunan Al sampai
kejenuhan 40%, sehingga pemberian kapur tidak diperlukan. Pada tanah
Ultisol di Jasinga, Bogor dengan kejenuhan Al 68,5%, tanpa kapur, tanaman
jagung tidak menghasilkan biji. Pemberian kapur secara larik dapat
meningkatkan hasil jagung di lokasi ini. Pemberian kapur dengan takaran
25% Ca + memberikan hasil tertinggi, yaitu 3,8 t/ha (Muhadjir et al. 1989).
Pada tanah sulfat masam, pemberian kapur sangat berperan dalam
meningkatkan hasil jagung. Di Unit Tatas Kalimantan Tengah, pemberian
kapur juga meningkatkan hasil jagung. Peningkatan takaran kapur dari 1 t
menjadi 3 t/ha meningkatkan hasil sebesar 30% (Raihana 1993).

Penggunaan Bahan Organik


Untuk ameliorasi tanah, kapur memerlukan biaya mahal dan adakalanya
tidak tersedia di lokasi. Bahan organik relatif lebih mudah didapatkan petani.
Pemberian pupuk hijau Gliricidiae atau kotoran sapi pada tanah Ultisol dapat
mengurangi pemakaian pupuk N-urea sampai 75% dari total N yang diperlukan. Penggunaan Sesbania rostrata dapat meningkatkan hasil jagung 42%
pada tanah Ultisol Jawa Barat. Menurut Tilo dan San Valentine (1984),
pemberian 50% N-urea + 50% N-kotoran sapi memberikan hasil yang sama
dengan pemberian 100% N-urea. Hasil penelitian Ogboona (1983 dalam

214

Jagung: Teknik Produksi dan Pengembangan

Cosico 1985) menunjukkan bahwa pemberian Stylosanthes sebagai


suplemen pupuk buatan mampu menghemat N-urea sampai 60 kg N dari
total pemberian 90 kg N.
Pemberian pupuk kandang pada tanah Ultisol di Bumi Asih sampai
takaran 10 t/ha dapat meningkatkan hasil jagung dari 0,76 t menjadi 3,47 t
pipilan kering/ha (Supriyono et al. 1998). Produktivitas jagung di tanah kapur
dapat ditingkatkan dengan pemberian kotoran ayam atau kotoran sapi.
Sebagai bahan organik, kotoran ayam lebih baik daripada kotoran sapi
(Sudaryono 1998).
Inkubasi TSP dengan menggunakan kotoran sapi meningkatkan efiisensi
penyerapan P dan hasil jagung (Yasin et al. 1997, Erdiman dan Syafei 1994).
Pemberian pupuk kandang 2,5-5 t/ha, setara dengan 0,90-1,08 kg P, pada
tanah sulfat masam meningkatkan ketersediaan P tanah dari 61,65 ppm
menjadi 130,20 ppm. Pemberian bahan organik mempunyai pengaruh
residu terhadap peningkatan ketersedian hara P (Balitra 1998). Pemberian
kotoran ayam 5 t/ha + 50 kg TSP memberikan serapan hara N, P, dan K yang
sama baiknya dengan pemberian 100 kg TSP tanpa pupuk kandang
(Djamaluddin 1985).

DAFTAR PUSTAKA
Balasubramanian, V., A.C. Morales, R.T. Cruz, T.M. Thiyagarajan, R. Nagarajan,
M. Babu, S. Abdulrahman, and L.H. Hai. 2000. Adaptation of chlorophyll
meter (SPAD) technology for real-time N management in rice: A review:
Int Rice Res. Notes 25(1):4-8.
Balitra. 1998. Laporan Tahunan Balitra tahun 1996/1997. Balai Penelitian
Tanaman Rawa. Banjar Baru.
Cosico, W.C. 1985. Organic fertilizers: their nature, properties and use. A
Publ. Farming Syst. Soul Resource Inst. Coll. Agric. Philipp. Los Banos.
Coll., Laguna. 126 p.
Djamaluddin. 1985. Pemberian pupuk kandang dan fosfat serta pengaruh
residualnya terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman jagung
(Zea mays L.) di daerah transmigrasi Luwu Utara, Sulawesi Selatan.
Disertasi Doktor pada Fakultas Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor.
200 p.
Dobermann, A. and K.G. Cassman. 2002 Plant nutrient management for
enhanced productivity in intensive grain production system of the
United State and Asia. Plant and Soil. 247:153-172.

Syafruddin et al.: Pengelolaan Hara pada Tanaman Jagung

215

Dobermann, A. and T. Fairthurts. 2000. Rice nutrient disorders and nutrient


management. Internasional Rice Research Institute (IRRI). Los Banos.
192p.
Dobermann, A., T. Arkebauer, K.G. Cassman, R.A. Drijber, J.L. Lindquist, J.E.
Specht, D.T. Walters, H. Yang, D. Miller, D.L. Binder, G. Teichmeier, R.B.
Ferguson and C.S. Wortmann. 2003. Understanding corn yield
potential in different environments. p. 67-82. In: L.S. Murphy (Ed.).
Fluid focus: the third decade. Proceedings of the 2003 Fluid Forum,
Vol. 20. Fluid Fertilizer Foundation, Manhattan, KS.
Erdiman dan Syafei. 1994. Pengaruh inkubasi fosfat (TSP) dengan bahan
organik dan kapur terhadap pertumbuhan dan produksi jagung pada
tanah PMK Sitiung. p.67-76. Dalam Risalah Seminar Balitan
Sukamandi. Vol V.
Fadhly, A.F. A.S. Wahid, M. Rauf, dan Djamaluddin. 1993. Pengaruh sumber
dan takaran nitrogen terhadap pertumbuhan dan hasil jagung. Titian
Agronomi. 5:69-75.
Fathan, R. M. Raharjo, A.K. Makarim. 1988. Hara tanaman jagung. Dalam:
Jagung. Subandi et al. (Eds.). Puslitbangtan. Bogor. p. 49-66.
Follet, R.H., R.F. Follet, and A.D. Halvorson. 1992. Use of a chlorophyll meter
to evaluate the nitrogen status of dryland winter wheat. Commun.
Soil Sci. Plant Anal. 23 (7 and 8):687-697.
Gunarto, L. 1986. Studi pemupukan jagung pada tanah Aluvial berkapur di
Wolangi. Laporan Tahunan Hasil Penelitian Kelti Tanah/Kesuburan.
p.20-23.
Hagin, J. and B. Tucker. 1982. Fertilization of dry land and irrigated soil.
Springer-Verlag. Berlin Heidenberg.p.70-95
Hussain, F., K.F. Bronson, Yadvinder-Singh, Bijay-Singh, and S. Peng.2000.
Use of clorophyll meter sufficiency indicates for nitrogen
management of irrigated rice in Asia. Agron. J. 92:875-879.
Ma, B. L. , K.D. Subedi and C. Costa. 2005. Comperison of crop based indicator
with soil nitrate test for corn nitrogen requirement. Agron. Vol. 97 no.
2 (462-471).
Makarim, A. K., I.N. Widiarta, S. Hendarsih, dan S. Abdurachman. 2003.
Panduan teknis pengelolaan hara dan pengendalian hama penyakit
tanaman padi secara terpadu. Puslitbangtan. 37 p.
McCaulay, A., C. Jones, J. Jacobsen. 2003. Plant Nutrien Function and
Defisiensi and Toxicity Symptoms. Montana State Univ. Extension
Service. p. 1-16.

216

Jagung: Teknik Produksi dan Pengembangan

Morris, R.J. 1987. The importance and need for sulfur in crop production in
Asia and the Pacific Region. In Proceding of Symposium on Fertilizer,
Sulphur Requrements and Sources in Developing Countries of Asia
and Pacific. Bangkok.
Muhadjir. F., R.Fathan, dan M. Raharjo. 1989. Emeliorasi lahan kering untuk
meningkatkan hasil jagung. Dalam: Prosiding Lokakakrya Penelitian
Komoditas dan Studi Khusus. AARP. p.189-204.
Noor, A., R.D. Ningsih. 1998 Efektifitas pemupukan P dari TSP dan SP36 pada
tanaman jagung di lahan pasang surut sulfat masam. Dalam: Prosiding
Seminar dan Lokakarya Nasional Jagung. Balitjas. Maros.p.450 - 456.
Olson, R.A. and D.H. Sander. 1988. Corn production. In Monograph Agronomy
Corn and Corn Improvement. Wisconsin. p.639-686.
Patrick, W. H., JR and K.R. Reddy. 1976. Rate of fertilizer nitrogen in a flooded
soil. Soil. Svi. Soc. Proc. 40:678-681.
Raihana, Y. 1993. Pengaruh pemberian kapur dan fosfat alam pada tanaman
jagung di lahan pasang surut sulfat masam. Dalam: Risalah Seminar
Hasil Penelitian Tanaman Pangan. Balitan Malang. Malang. p.183-188.
Subandi, Djamaluddin, S. Saenong, dan A. Hasanuddin. 1990. Efisiensi
pemupukan pada padi dan palawija. Puslitbangtan. Bogor. 23p.
Subandi, A.F. Fadhly, dan Djamaluddin. 1999. Penggunaan pupuk Phosmag
plus untuk tanaman jagung. Risalah Penelitian Jagung dan Serealia
Lain. 3:15-22.
Sudaryono. 1998. Teknologi produksi jagung. Dalam: Prosiding Seminar
dan Lokakarya Nasional Jagung. Balitjas. Maros. p.137-158.
Supriyono, A., R. Sutanto, dan S. Raihan. 1998. Pengelolaan bahan organik
untuk keberlanjutan produktivitas tumpanggilir jagung-kacang tanah
pada lahan kering masam. Dalam: Prosiding Seminar dan Lokakarya
Nasional Jagung. Balitjas. Maros. p.412 - 423.
Sutoro, Y. Soeleman, dan Iskandar. 1988. Budi daya tanaman jagung. Dalam:
Jagung. Subandi et al. (Eds.). Puslibangtan. Bogor. p. 49-66.
Syafruddin, Sania Saenong, A.F. Fadhly. 1997. Keragaan pemupukan N, P, K,
dan S pada tanaman jagung di Sulsel. Dalam: Prosiding Seminar dan
Lokakarya Nasional Jagung. Balitjas. Maros. p.478-489.
Syafruddin, S. Saenong, dan Subandi. 2006. Pemantauan kecukupan hara N
berdasarkan klorofil daun. pada tanaman jagung Dalam: Proseding
Seminar Nasional Jagung. p. 296-302.

Syafruddin et al.: Pengelolaan Hara pada Tanaman Jagung

217

Syafruddin, S. Saenong, dan Subandi. 2007. Pemantauan kecukupan hara N


berdasarkan bagan warna daun. (BWD) pada tanaman jagung
(belum dipublikasi).
Tilo, S.N. and G.O. San Valentine. 1984. Crop residues/Farm manures. Mimeog.
Report. Farming systems and soil res. Inst. UPLB.
Tirtoutomo, S. S. Solehuddin, C. Soepardi, dan H. Taslim. 1991. Pengaruh
macam dan waktu pemberian pupuk nitrogen terhadap efisiensi
pengambilan nitrogen oleh tanaman jagung. Media Penelitian
Sukamandi. 9:5-10.
Tisdale, S.L. and W.L. Nelson. 1975. Soil Fertility and Fertilizers. MacMilan
Publishing Co. Inc., New York.
Witt, C. and A. Dobermann. 2002. A site-specific nutrient management
approach for irrigated lowland rice in Asia. Better Crops Int. 16:20-24.
Witt, C. 2007. Site-specific nutrient management for maize in favorable
tropical environments. Power poin Seminar dan Lokakarya
Pengelolaan Hara Spesifik Lokasi untuk Tanaman Jagung. Lampung.
44 p.
Wood, C.W., P.W. Tracy, D.W. Reeves, and K.L. Edmisten. 1992. Determination
of cotton nitrogen status with hand-held chlorophyll meter. J. Plant
Nutr. 15:487-500.
Yasin, S., Yulanafatmawati, dan N. Hakim. 1997. Teknologi inkubasi TSP
dengan pupuk kandang untuk meningkatkan efisiensi pemupukan
jagung pada tanah masam. Stigma.V:129-135.

218

Jagung: Teknik Produksi dan Pengembangan

Anda mungkin juga menyukai